Nikmati Hidup Bebas Khawatir dengan Asuransi Syariah

16.51

Bangun Keluarga Tangguh Secara Finansial dengan Asuransi Syariah

Hidup Ini Penuh Rahasia dan Kejutan, Kita Tak Pernah Tahu Apa yang akan Terjadi Pada Kita 

Tahun 2020 belum terlalu lama berlalu. Beberapa peristiwa duka yang menimpa keluarga kami di tahun itu masih sangat jelas dalam ingatan saya, hingga detik ini.

Awal tahun bapak mertua meninggal dunia setelah lebih dari setengah tahun menderita sakit dan dirawat dalam waktu lama di rumah sakit. Keluarga telah berusaha mengobati bapak, namun Allah berkehendak lain, Bapak akhirnya pergi untuk selamanya. Cerita tentang kepergian Bapak bisa dibaca di sini: Selamat Jalan Bapak

Pada pertengahan tahun suami mengalami sakit batu empedu disertai gangguan sumbatan pada saluran cerna yang menyebabkan operasi tak bisa dilakukan dengan segera sehingga  harus dirawat lama di rumah sakit. 

Belum sembuh betul suami dari sakitnya, anak saya Alief mengalami kecelakaan motor, badannya luka-luka hingga patah tulang tangan kanan dan harus dioperasi.

Kematian bapak, kesehatan suami yang terganggu, dan kecelakaan yang terjadi pada Alief di tahun 2020 itu adalah rahasia Allah yang datang secara mengejutkan di tengah pandemi. Tak seorang pun dari kami tahu, tak pula bisa menghindar.

Rahasia dan kejutan dalam hidup

Kekhawatiran Itu Sungguh Nyata 

Selama sakit, suami saya menjalani perawatan di rumah sakit swasta. Ia dirawat sampai dua kali dan lama. Tak ayal total biaya yang dihabiskan mencapai seratus juta lebih. Dompet pun bergetar. Syukur alhamdulillah sebagian biaya ditanggung oleh perusahaan asuransi (swasta). Tiga tulisan tentang suami sakit bisa dibaca di sini: Sakit Batu Empedu, Dirawat di Masa Pandemi, Operasi Ditunda

Pada saat Alief celaka, saya membawanya ke rumah sakit yang sama di tempat suami dirawat, kebetulan RS tersebut paling dekat dari lokasi kecelakaan. Saat itu saya tak memikirkan soal biaya, yang penting Alief segera diselamatkan.

Saya mulai memikirkan biaya ketika perusahaan asuransi tidak menanggung biaya perawatan dan tindakan operasi pada Alief karena suatu alasan. Akhirnya, setelah segala drama yang pernah saya tulis di sini: Alief Kecelakaan Motor, Alief dioperasi dan dirawat sampai sembuh dengan biaya sendiri. Baru pada enam bulan kemudian saat Alief operasi lepas pen, perusahaan asuransi menanggung penuh seluruh biaya.

Penyakit di tubuh suami dan kecelakaan yang menimpa Alief, serentak merenggut ketenangan hati. Saya disergap beribu kekhawatiran. Terlebih atas sakitnya suami, tulang punggung keluarga kami. Bagaimana jika ia sakit lama, atau yang paling buruk meninggalkan kami? 

Ketika musibah melanda

Hal-Hal yang Disyukuri Setelah Badai Berlalu 

Badai telah berlalu. Kesehatan suami membaik, dan Alief selamat. Kini keduanya telah sehat kembali berkat pertolongan Allah SWT.

Saya banyak belajar dari kejadian yang menimpa bahwa kesehatan itu sangat berharga, dan keselamatan adalah hal utama. Yang namanya sakit, apalagi parah, mau tak mau menimbulkan beban di hati, pikiran, dan rekening.

Bukan apa-apa, di mana ada masalah kesehatan akibat penyakit atau kecelakaan, di situ keuangan berguncang, bila dompet keluarga tidak stabil. Sebab biaya rumah sakit bukan seharga semangkok bakso. Ratusan juta buat biaya kesembuhan, isi tabungan laksana diterjang gelombang. Bersyukur saya tidak sampai lemas diseret ombak tagihan rumah sakit, karena ada asuransi kesehatan yang meringankan biaya-biaya.

Betapa bermanfaatnya asuransi pada situasi yang kami alami saat itu. Baik asuransi pemerintah yang telah membiayai seluruh pengobatan bapak, maupun asuransi swasta yang telah menanggung biaya perawatan suami dan anak saya selama di rawat di rumah sakit swasta yang total biayanya bikin lemas.

Dari sini saya ingin mengatakan bahwa memiliki asuransi kesehatan dan asuransi jiwa, pernah menyurutkan tingginya kekhawatiran saya sebagai seorang menteri keuangan dalam rumah tangga. 

Ketika badai berlalu

Pilih Anti atau Berkawan dengan Asuransi? 

Saya sebut anti karena memang ada orang yang menganggap asuransi itu bikin rugi. Hal itu terjadi karena yang bersangkutan keukeuh menganggap asuransi adalah tabungan, bahkan sebagai tempat untuk mencari keuntungan. Jadi, mau dijelaskan sampai bibir kita keriting pun, dia tidak akan ngerti. 

17 tahun lalu, saat pertama kali saya membeli asuransi jiwa untuk suami maupun asuransi pendidikan untuk anak, ada satu hal yang saya sadari betul bahwa dalam hidup ini ada rahasia Tuhan yang bisa "terbuka" kapan saja. Entah itu sakit, celaka, maupun kematian. 

Jika terjadi sesuatu dengan suami saat saya masih muda, saat anak-anak masih kecil belum pada mandiri dan mapan, apa jadinya kapal yang tak lagi dinahkodai oleh tulang punggung keluarga? Dari sanalah saya pilih berasuransi agar bila terjadi gangguan kesehatan, kecelakaan, dan kematian tidak memberatkan keluarga.

Lain cerita kalau saya ini tajir melintir punya simpanan sampai ratusan milyar bahkan trilyunan yang duitnya cukup untuk 7 turunan, nggak perlu khawatir kapal besar berisi istri dan 2 anak yang masih jadi tanggung jawab ini bakal oleng. 

Pilih Belajar Literasi Keuangan Dulu, Lalu Pahami Literasi Asuransi

Saya merasa penting jadi wanita yang terampil mengelola uang suami, berapa pun penghasilan yang suami dapat. Prinsip saya, kalau nggak pinter cari duit, harus pinter mengelola duit suami. Begitchuuu....!

Nah, buat jadi pinter itu ada yang memang sudah bawaan orok, ada yang karena belajar. Kalau saya perpaduan keduanya. #uhuukss! Memuji terang-terangan itu HALAL lho ya 😂

Tapi tentu saja saya dilarang merasa sudah pintar, apalagi sok pintar dan merasa sempurna. Karena, sepandai-pandainya saya mengelola keuangan (versi saya), atau udah paham soal asuransi yang saya butuhkan, tetap saja akan ada kurang tahunya juga. Misalnya nih, dulu belum tahu ada asuransi Syariah, eh kemudian ada. Nggak paham kan apa itu asuransi syariah? Makanya perlu belajar dan paham.

Membangun Keluarga yang Tangguh Secara Finansial Melalui Asuransi

Selasa tgl. 26 Oktober 2021 lalu, Kumpulan Emak Blogger dan Prudential Indonesia mengadakan acara virtual Blogger Gathering 2021 bertajuk "Membangun Keluarga yang Tangguh Secara Finansial Melalui Asuransi". Acara yang dihelat masih dalam rangka Bulan Inklusi Keuangan 2021 ini menghadirkan narasumber: 

  • Luskito Hambali - Chief Marketing and Communications Officer Prudential Indonesia
  • Bondan Margono - Head of Sharia Strategic Development Prudential Indonesia
  • Aliyah Natasya - Financial Advisor
  • Lidya Fitrian - Blogger & Anggota KEB

Kurang lebih 40 Emak Blogger anggota KEB hadir di acara Zoom Meeting yang menampilkan host Mak Elly Nurul, Ketua KEB. 

Acara berlangsung akrab dan interaktif, terlihat dari obrolan seru di kolom chat, dan banyaknya pertanyaan seputar tema yang disampaikan kepada narasumber. Ada kuis Menti berhadiah menarik dan pastinya ada bahasan bermanfaat tentang Asuransi Syariah dan Financial Planning.

Tak hanya cocok buat yang belum pernah belajar literasi keuangan, acara ini juga menambah pengetahuan dan wawasan bagi yang sudah pengalaman dalam mengelola keuangan dan telah berasuransi sejak lama. Kalau saya pribadi, paling tertarik dengan bahasan asuransi syariah-nya. Pasalnya, selama ini saya masih menggunakan asuransi konvensional saja. Nah!


Peran Penting Emak-Emak Dalam Menjaga Keuangan yang Sehat

Kita para istri sekaligus ibu adalah menteri keuangan dalam keluarga masing-masing. Yang namanya menteri bukan sekedar jabatan, tapi yang paling penting bertanggung jawab penuh atas pengelolaan keuangan keluarga. Sayangnya, masih sedikit para menteri keuangan dalam keluarga yang melek literasi keuangan.

Pak Luskito Hambali, Chief Marketing and Communications Officer Prudential Indonesia, yang akrab dipanggil Pak Kiki menyampaikan data sbb:

  • Literasi keuangan perempuan saat ini hanya 36,13%
  • 50% perempuan yang berstatus istri sekaligus ibu tidak yakin dengan keputusan finansial yang diambil
  • 62% bingung merencanakan keuangan jangka panjang

Dari data tersebut bisa dibilang para istri/ibu butuh bantuan informasi yang sesuai dengan profile keluarga masing-masing. Karena itu perlu dibekali dengan pengetahuan keuangan yang cerdas supaya paham rencana keuangan apa yang tersedia dan target apa yang hendak dicapai.

Melalui acara inilah Pak Kiki berharap supaya emak-emak blogger yang hadir --pastinya emak-emak di luar sana juga dong yaa-- punya pengetahuan keuangan yang baik, dapat menikmati edukasi yang diberikan sebagai cara untuk membantu para emak tetap sadar akan kebiasaan belanja, melacak pengeluaran, mengelola tagihan, membuat anggaran dan membuat rencana untuk menabung untuk tujuan jangka panjang dan pendek

Siapa lagi yang berperan penting untuk menjaga keuangan keluarga kalau bukan kami para istri? Karena pada akhirnya, dengan keuangan yang sehat, maka dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. 


Kenapa Asuransi Dibutuhkan?

Di mana ada potensi mendapatkan, di situ ada risiko kehilangan. Kata-kata ini berseliweran di benak saya tatkala saya menikah dan kemudian punya anak. Ada kata "mendapatkan" di sana, yaitu suami dan anak. Lalu ada kata "kehilangan" di sana, yang berangkat dari takdir manusia pasti mati, artinya saya bakal kehilangan mereka, hanya tak tahu kapan. Apakah setelah tua di masa pensiun, atau ketika masih di usia produktif.

Dulu, dari sanalah kesadaran saya untuk berasuransi tumbuh seiring bertambahnya tanggung jawab yang dipikul. Utamanya untuk suami saya ya, karena dia tulang punggung keluarga, ada anak-anak yang harus dipenuhi kebutuhan hidupnya, pendidikannya, dan lainnya. Makanya asuransi jiwa jadi prioritas untuk suami.  Sedangkan anak-anak saya belikan asuransi kesehatan dan pendidikan.

Pak Bondan Margono memberikan penjelasan mengapa asuransi dibutuhkan, yaitu sbb:

Perlindungan Pendapatan. Ketika suami yang jadi tulang punggung kita sakit atau terkena musibah, pendapatan dapat terus berjalan hingga bisa bekerja kembali atau hingga mencapai masa pensiun. Manfaat ini bahkan masih ada ketika tulang punggung keluarga telah tiada. Naudzubillah min zalik ya, semoga Allah memberi umur panjang dan kesehatan yang baik pada suamiku. 

Dana Darurat. Dana buat jaga-jaga supaya terhindar dari kebingungan mencari uang tunai dalam jumlah besar bila terjadi suatu kondisi mendadak seperti kehilangan pekerjaan, atau bila mendadak jatuh sakit. Seperti kejadian sakit yang menimpa suami dan anak saya, meski sudah ada proteksi kesehatan dari asuransi, ternyata ada biaya yang mesti dikeluarkan sendiri, maka dana darurat bisa dipakai untuk ini. Di masa pandemi ini juga banyak orang kehilangan pekerjaan, maka dana darurat dibutuhkan pada situasi tersebut.

Perlindungan Kesehatan. Nah ini persis seperti yang terjadi pada keluarga saya tahun lalu (sudah saya ceritakan di atas). Biaya operasi, rawat inap, hingga rawat jalan suami dan anak di rumah sakit jadi serba ringan berkat asuransi. Bukan baru tahun lalu saja sih saya merasakan manfaatnya, sebelumnya suami sudah dua kali masuk RS dengan biaya besar yang juga ditanggung oleh asuransi. 

Warisan. Apabila tertanggung meninggal dunia, manfaat proteksi dan nilai investasi yang terbentuk dapat diberikan kepada ahli waris. Jadi kalau terjadi sesuatu, ada dana yang diterima supaya keuangan keluarga nggak mendadak runtuh karena kehilangan tulang punggung. 

Dana Pensiun. Ini salah satu alasan diawal saya memilih berasuransi, buat persiapan di masa tua supaya tetap punya kesinambungan penghasilan meski telah pensiun. 

Perlindungan Dana Pendidikan. Dengan asuransi anak-anak punya kepastian pendidikan. Dulu saya ambil asuransi ini pas Alief baru lahir. Saya pikir semakin awal saya membeli produk asuransi pendidikan ini, semakin murah premi yang saya bayarkan, dan semakin mudah saya menyiapkan dana untuk tiap jenjang pendidikan anak. Jika terjadi sesuatu dengan suami, pendidikan dan masa depannya tetap cerah. Kebetulan pilihan saya waktu itu Prudential. 

Intinya, asuransi berguna untuk meminimalisir dampak finansial bila terjadi risiko.

Asuransi Bukan Tabungan. Asuransi Bukan Untuk Mendapatkan Keuntungan

Sebelum memilih berasuransi, penting untuk memahami konsep dasar asuransi supaya nanti tidak mencak-mencak bila di tengah jalan kesal dengan nilai investasi yang terbentuk cuma segitu aja atau merasa nggak pernah mengambil manfaatnya karena belum pernah sakit. Ha? Belum pernah sakit? Emangnya pengen sakit? Iiiih amit-amit 😂

Menurut saya pantang banget berpikir membeli asuransi itu biar ada keluarga yang sakit dan meninggal. Justru kita ini harus banyak berpikir dan berbuat yang terbaik supaya keluarga sehat, panjang umur, dan bahagia. 

Tentu saja hampir semua orang menginginkan hal tersebut. Namun, sebagai manusia kita pun tidak bisa memprediksikan apa yang akan terjadi di masa depan. Untuk bisa menghindari risiko-risiko tersebut, kitanya yang harus memiliki solusi dan mengambil keputusan yang tepat.

Pak Bondan Margono dalam penjelasannya mengajak kita semua agar memahami dengan baik apa yang menjadi konsep dasar asuransi, tentang bagaimana orang menghadapi risiko dalam hidup, yaitu:

  • Menghindari Risiko
  • Meminimalisir Risiko
  • Berbagi Risiko
  • Mengalihkan Risiko
  • Menerima Risiko

Lima hal inilah yang perlu dipahami oleh siapa saja yang hendak berasuransi. Karena pada prinsipnya asuransi adalah salah satu cara untuk memanage risiko. 

Nah, terkait dengan risiko tersebut, maknanya akan berbeda bila dipandang dari sisi syariah dan konvensional. Apa tuh bedanya?


Mengenal Asuransi Syariah

Apa yang pertama muncul di benak bila bicara tentang bank syariah? Bebas riba. Sesederhana itu pemahaman saya. Lalu ada produk asuransi jiwa syariah, apakah hanya sebatas riba? Ternyata tidak.

Adanya asuransi jiwa syariah karena beberapa elemen pada asuransi jiwa konvensional tidak bisa memenuhi syarat-syarat syariah.

Berdasarkan fatwa Dewan Syari'ah Nasional No. 21/DSN- MUI/X/2001, bahwa asuransi syari'ah (ta'min, takaful, tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong di antara sejumlah orang melalui investasi dalam bentuk aset-aset dan atau tabarru', yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu menggunakan akad yang sesuai dengan syariah

Jika digaris bawahi ada tiga hal penting dalam asuransi syariah,  yaitu:

  1. Saling melindungi, yakni berbagi risiko dengan cara tolong menolong
  2. Tabarru, yakni tolong menolong
  3. Harus sesuai dengan syariah

Quote dari Rumi ini relate ya dengan konsep asuransi syariah
 

Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional

Konsep dasar asuransi konvensional adalah transfer/mengalihkan risiko, sedangkan pada asuransi syariah adalah berbagi risiko.

Pada asuransi konvensional jika ada seorang tertanggung/individu ingin memproteksi diri ataupun keluarganya, caranya dengan membeli proteksi dari perusahaan asuransi (tertanggung). Jadi di sini dia akan mengeluarkan premi sebagai gantinya. Misalkan terjadi sesuatu dengan si tertanggung maka perusahaan asuransi yang akan membayar klaim.

Dalam asuransi syariah transaksinya bukan jual beli tapi tolong menolong. Jadi ada sekumpulan orang yang memang memiliki kesamaan kebutuhan, mereka ini ingin diproteksi bila terjadi sesuatu dengan dirinya, maka dia akan menyisihkan sebagian uang mereka untuk membantu dana tabarru. 

Dengan dana tabarru tersebut, misalkan salah satu dari mereka terjadi risiko maka akan diambil sejumlah uang untuk membayar klaim ke orang tersebut. Jadi yang membayar klaim di asuransi syariah bukan perusahaan asuransi, melainkan hasil tolong menolong dari peserta asuransi. Makanya dalam asuransi syariah tidak disebut tertanggung tapi disebut peserta.


Peran Perusahaan Asuransi Dalam Produk Asuransi Syariah

Perusahaan asuransi adalah sebagai operator, hanya mengelola dana tabarru. Jadi, dana tabarru itu bukan punya perusahaan asuransi, tapi punya peserta. Jika ada klaim, mereka hanya membantu membayarkan.

Bukan hanya mengelola, perusahaan asuransi juga mengusahakan agar banyak orang yang ikut dalam kegiatan tolong menolong supaya dana tabarru makin besar dan bisa membawa maslahat yang lebih besar kepada peserta.

Esensi Akad dalam Asuransi Syariah

Dalam asuransi jiwa syariah akad antara peserta adalah hibah iuran tabarru. Sedangkan asuransi jiwa konvensional akad antara tertanggung dan penanggung adalah jual beli.

Asuransi konvensional hanya ada 1 kontrak jual beli, sedangkan di syariah ada 2 kontrak yaitu:

1. Akad antara peserta adalah hibah iuran tabarru, artinya peserta merelakan uangnya untuk membentuk iuran tabarru.

2. Akad antara sekumpulan peserta/orang-orang yang setuju dengan perusahaan asuransi (wakala bil ujrah). Kumpulan orang tersebut mewakilkan/mempercayakan pengelolaan dana tabarru tersebut kepada perusahaan asuransi. Sebagai gantinya, perusahaan asuransi menerima upah atas jasa yang mereka berikan dalam mengelola asuransi jiwa syariah tersebut.

Transaksi yang Dihindari Dalam Asuransi Syariah

Ada 3 hal pokok yang dihindari dalam asuransi syariah, yaitu:

  • Gharar adalah kondisi ketidak jelasan yang tidak diperbolehkan jika terjadi pada kontrak komersial atau jual beli. "Kapan uang pertanggungan akan dibayar?"
  • Riba merupakan tambahan yang terjadi pada transaksi hutang atau jual beli yang tidak memenuhi ketentuan syariah. "Beli uang kecil dapat uang besar."
  • Masyir adalah taruhan yang menempatkan keuntungan pada salah satu pihak yang menyebabkan kerugian pada pihak lain yang diakibatkan oleh transaksi tersebut. Biasa disebut judi/taruhan.

Nah dari penjelasan inilah saya jadi tahu, bahwa yang disebut syariah dalam keuangan tidak hanya soal riba, tapi di situ juga ada gharar dan masyir. 

Sip, sekarang jadi tahu!

Dalam Islam sebuah transaksi jual beli ada tiga hal yang harus dipenuhi yaitu: Harga harus jelas, Apa yang didapat harus jelas, dan Kapan jasa/klaim didapatkan harus jelas.
Temukan 5 alasan kenapa pilih asuransi jiwa syariah

Alasan Memilih Asuransi Syariah

Asuransi jiwa syariah adalah salah satu bentuk ikhtiar dalam menghadapi risiko. Ada lima hal pokok yang bisa menjadi alasan kenapa memilih asuransi jiwa syariah, sebagai berikut:

  1. Nilai tolong menolong
  2. Bersifat Universal (syariah untuk semua)
  3. Sesuai prinsip syariah (bebas dari gharar, masyir, dan riba)
  4. Keadilan
  5. Transparansi Keuangan

Nilai Tolong Menolong. Dalam asuransi syariah, selain memproteksi diri sendiri, kita juga membantu orang lain. Jadi, bila suatu hari pernah "merasa lelah" membayar premi, ingatlah bahwa kita sedang "iuran" untuk menolong orang, dan orang lain juga sedang iuran untuk menolong kita di saat terjadi sesuatu yang menimpa.

Dengan tolong menolong insha Allah hidup jadi lebih bermanfaat dan berkah.

Dalam hal kedermawanan dan menolong orang, jadilah seperti sungai - Rumi.

Seperti laut, sungai dengan unsur air memberi analogi pemberian kesegaran yang tak terbatas. Air akan mengalir tak henti. Rumi pun mengajarkan agar manusia mau mencontoh sikap kedermawanan dan menolong orang tiada henti seperti air sungai yang tak henti mengalir dari hulu ke hilir.

Bersifat Universal. Fungsi proteksi dan sosial dalam asuransi syariah relevan untuk semua agama karena prinsipnya tolong menolong.

Keadilan. Masing-masing pihak memiliki hak dan tanggung jawab. Peserta dapat hak bila berkontribusi dan perusahaanasuransi dapat upah/ujrah atas jasanya.

Transparansi Keuangan. Kantong-kantong untuk klaim dan untuk perusahaan semua jelas. Kalau di konvensional semuanya dimiliki oleh perusahaan asuransi.

Keunikan unit syariah Prudential adalah menjunjung tinggi prinsip asuransi untuk semua, keadilan, transparansi, dan saling melindungi. 

"Diharapkan dengan prinsip tersebut dapat diterima oleh seluruh masyarakat Indonesia, tanpa memandang agamanya apa," ujar Pak Luskito Hambali.

Aliyah Natasya - Financial Advisor

Finansial PlanningJourney

Siapa orang yang nggak ingin bisa bersenang-senang di usia muda, dan tetap berinvestasi untuk hari tua? Kayaknya hampir tiap orang mendambakan kondisi keuangan seperti itu ya. Namun, apakah bisa menjalankan kondisi keuangan ideal seperti itu, meski kebutuhan yang kian hari kian mahal? Ternyata bisa, asalkan kita  memiliki perencanaan keuangan yang baik dan matang untuk saat ini, masa depan, termasuk perencanaan biaya tak terduga seperti dana darurat.

Masalahnya, masih banyak orang, khususnya para emak-emak ya, belum melakukan perencanaan keuangan dan telat melakukannya. Kenapa bisa demikian? Menurut Mbak Aliyah Natasya, hal tersebut karena masih banyak orang percaya dengan mitos keuangan. Contohnya:

Mitos: Penghasilan besar jaminan ketahanan finansial. Padahal, berapapun jumlah penghasilan jika tidak dikelola dengan baik akan mencelakakan hidup.

Mitos: Berinvestasi ketika uang sudah banyak dan mencapai hal-hal tertentu. Faktanya, semakin dini mulai berinvestasi semakin banyak waktu untuk membuat uang bertumbuh.

Mitos: Mengelola uang pribadi adalah hal yang sulit. Padahal, hidup akan lebih sulit dan dipenuhi penyesalan jika tidak mengendalikan dan mengelola keuangan.

Mbak Aliyah Natasya dalam penjelasannya mengatakan bahwa dalam perencanaan keuangan hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat budget yakni budget yang digunakan dan budget untuk disimpan. Budget untuk digunakan 60%, proteksi 10%, self rewards 10%, investasi 15%, dan charity 5%. Kemudian miliki proteksi kesehatan dan keuangan, serta perlindungan terhadap penghasilan.

Nah sampai di sini jelas ya kalau asuransi merupakan bagian dalam financial planning. 

Langkah-langkah ini bisa dilakukan biar nggak bingung ketika akan mulai berasuransi

Perempuan Mandiri Finansial

Dari penjelasan Mbak Aliyah tentang perempuan mandiri finansial saya menyimpulkan bahwa perempuan harus mandiri dalam membuat keputusan keuangan terutama yang nilainya besar seperti membeli rumah, mobil, dan aset berharga lainnya.

Mbak Aliyah menceritakan hasil riset CNBC di Amerika sebanyak 75% perempuan telah memiliki kemandirian finansial. Yang artinya, jumlah perempuan yang mampu membuat keputusan dalam perencanaan keuangan sudah cukup banyak. Hasil tersebut lebih tinggi dibanding data dari Pak Kiki 50% perempuan masih ragu dalam mengambil keputusan. Mungkin risetnya beda negara ya. Nah, saya tampaknya termasuk dalam 50% yang tidak ragu dan sudah mandiri dalam membuat keputusan keuangan. Contohnya waktu beli rumah yang kami tempati sejak anak pertama kami lahir ini, merupakan hasil keputusan saya. Kalau uangnya memang dari penghasilan suami, tapi yang memutuskan beli adalah saya. Begitu juga dengan mobil-mobil yang pernah kami beli, saya yang secara mandiri membelinya. Bukan hanya rumah dan mobil, asuransi jiwa suami, asuransi pendidikan anak, dan asuransi lainnya termasuk kesehatan dan kendaraan juga hasil keputusan saya. Lantas suami saya ngapain? Suami cari duit saja hihi. 

Intinya sih, saya dukung suami giat bekerja mencari penghasilan, urusan mengatur uang untuk berbagai keperluan rutin, target masa depan, dan proteksi untuk berbagai risiko tak terduga, saya yang putuskan. 


Ada risiko dan biaya untuk bertindak. Tetapi, itu jauh lebih kecil daripada risiko jangka panjang dari kenyamanan tidak melakukan tindakan.

Tidak ada orang yang ingin sakit, tidak pula ada yang ingin dirinya dan keluarganya meninggal cepat, apalagi masih diusia produktif. Maunya semua sehat, bahagia dan berumur panjang.

Namun, sebagai manusia kita tidak bisa memprediksikan apa yang akan terjadi di masa depan. Untuk bisa menghindari risiko-risiko tersebut, kita sudah harus memiliki solusi dan mengambil keputusan yang tepat. Sebab risiko bukan untuk ditakutkan, tapi diperhitungkan.

Memiliki perencanaan keuangan membuat kita lebih mudah dalam melangkah mencapai tujuan di masa depan. Untuk mencapai tujuan perlu proses dan waktu yang panjang, karenanya perencanaan keuangan harus matang. Harus tahu seni dan ilmunya. Makanya perlu terus menerus belajar.

Asuransi merupakan bagian dalam perencanaan keuangan. Manfaatnya banyak. Kita tinggal pilih produk asuransi yang sesuai dengan tujuan keuangan keluarga kita. Pastinya, pilih asuransi yang sesuai dengan profil kita, jika seorang muslim, maka asuransi syariah paling tepat.

Demikian ya mak.

Tidak harus menunggu kaya raya untuk membuat perencanaan keuangan. Kelola keuangan kita dari berapapun yang kita punya. Pastikan kita punya keberanian dalam membuat keputusan keuangan. Jika ragu, langkah kita akan terhenti sebelum perjalanan mencapai tujuan dimulai.

Keluarga tangguh secara finansial, dimulai dari perencanaan keuangan yang baik bukan? 

Nikmati hidup, kita dapat mati kapan saja - Hans C. Andersen


Share this

A mother of two who loves travel and enjoy to share my journey and valuable experiences

Related Posts

Previous
Next Post »

34 Comments

  1. Biasanya orang akan sadar pentingnya asuransi setelah mengalami risiko, semacam gak percaya gitu kalau belum kejadian.

    Berkali-kali mendapat manfaat asuransi, nyesel juga kenapa gak bikin dari dulu-dulu. Memang harus dipahami, dikenali, dimiliki ya Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar Yuni. Berasuransi dimulai dengan pemahaman yang baik dulu.

      Hapus
  2. Memilih asuransi syariah ini juga merupakan salah satu tanda cinta kita untuk keluarga ya mbak, karena dengan begitu kita sudah memberikan proteksi untuk keluarga. Apalagi di saat ketidakpastian seperti sekarang ini, dimana kesehatan itu mahal harganya. Selain itu memang kita harus paham betul dengan produk asuransi yang kita pilih ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya benar, tanda cinta untuk orang-orang tercinta. Paham dulu, berasuransi kemudian.

      Hapus
  3. Sehat, selamat dan punya perlindungan. Setuju banget ini :) Memang ya urusan kesehatan, pendidikan anak2 dan sebagainya kita wajib dipenuhi. Untuk meminimalisasi faktor risiko di kemudian hari tentu kita kudu jaga2 semaksimal mungkin. Kini ada asuransi syariah yang bisa menjadi pilihan masyarakat dengan banyak kelebihannya. Acara virtual KEB dan Prudential ini bermanfaat buat kita2 terutama yang belum paham soal asuransi syariah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks Mbak Nurul. Asuransi syariah untuk keluarga tercinta kita :)

      Hapus
  4. Aku masih inget banget nih baca cerita Alief kecelakaan dan suami sakit di FB.
    Beneran deh hal-hal kaya gini tu datang tanpa bisa diprediksi. kalau bisa sih jangan sampai ya, mbak. Tapi namanya takdir. Makanya bener banget, perlu budget dan asuransi untuk meminimalisir resiko-resiko berat. Setidaknya kalau ada apa-apa, sudah ada asuransi yang meringankan beban kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kejadian yang memberi banyak pelajaran dan hikmah. Terima kasih masih mengingatnya, Ana. Semoga tidak ada kejadian lagi yang menimpa, sehat selamat kita semua ya.

      Hapus
  5. Saya termasuk ke dalam 62% perempuan yang bingung merencanakan keuangan jangka panjang nih. Membaca tulisan ini jadi tergerak juga untuk belajar tentang keuangan. Ternyata nggak cuma mikir supaya nggak besar pasak daripada tiang setiap bulannya, tapi ada investasi dan asuransi juga yang perlu dipelajari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, supaya target dan tujuan keuangan kelaurga tercapai.

      Hapus
  6. Wah jadi jelas banget nih tentang asuransi syariah dan perencanaan keuangan. Aku sebenarnya nasabah PruSyariah juga tapi jujur nggak tau sampai sedetail ini deh. Baru paham bgt setelah nyimak artikel ini, untunglah ternyata memang aku nggak salah pilih asuransi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Senang bisa tercerahkan bersama :)

      Hapus
  7. Benar banget hidup itu tak bisa diprediksi ya Mbak Rien. Kita tak pernah menginginkan hal-hal buruk terjadi pada keluarga. Kematian ayah mertua, suami sakit, dan anak kecelakaan adalah hal yang akan memporak-poransakan situasi batin, dan tentu saja situasi keuangan.

    Bagus kalau semua bisa dibayar oleh asuransi. Setidaknya menyangkut beban finansial kita sudah tak dibebani. Jadi memang harus pandai-pandai memilih asuransi. Kita tahu banget apa yang akan ditanggung dan yang tidak. Berasuransi bisa juga sekalin berinvestasi, agar kekayaan berkembang untuk masa depan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Evi. Ada perlindungan yang hendak diambil ketika memilih asuransi, buat jaga2 bila terjadi risiko menimpa keluarga. Sekaligus, bisa mencapai tujuan keuangan keluarga dengan berinvestasi

      Hapus
  8. Hidup selalu penuh dgn kejutan2 ya Mba Rien.
    Baik kejutan yg (menrut kita) indaaahh, maupun kejutan yg bikin hati gundah.
    Alhamdulillah 'alaa kulli haal, kita ttp bisa melakoni financial planning dgn baik, karena ada produk keuangan seperti Asuransi Syariah yg bagus bgt.
    Intinya, tema “Membangun Keluarga yang Tangguh Secara Finansial Melalui Asuransi" ini relevan bgt dgn kita semua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yes mbak, dan itu artinya saatnya menjadikan asuransi sebagai bagian dalam perencanaan keuangan :)

      Hapus
  9. Detail banget mbak artikelnya, kalau ditulis gini lebih masuk di kepala daripada pas baca surat2 ituu, hahah.. soalnya aku juga pakai Prudential yg Syariah, baca ini jadi makin tenang sih. udah jalan beberapa bulan ini :)

    BalasHapus
  10. Nah setuju dengan ungkapan asuransi bukan tabungan, bukan untuk mencari keuntungan. KArena ada banyak orang yang salah paham dengan prinsip asuransi.

    Aku juga terbantu dengan asuransi dari pemerintah dan swasta saat suami dirawat di RS. Andai nggak ada asuransi dobel, entah lah mbak dari mana kami harus melunasi biayanya. Karena ruang ICU butuh duit nggak sedikit. Alhamdulillah suami dan Alief juga udah sehar sekarang yaa

    BalasHapus
  11. Bahagia banget ya kalau kita tetap sehat dan punya tabungan dana darurat, eh asuransi syariah dapat jadi pilihan yang tepat nih biar makin tenang

    BalasHapus
  12. Mbak, kalau asuransi syariah di Prudential bentuknya asuransi murni atau unitlink?
    Aku masih perlu belajar detail produk-produk asuransi supaya ga sampai salah pilih. Kalau udah bayar trus mandeg, hangus deh

    BalasHapus
  13. Asuransi syariah seperti jalan tengah ya kak.. Agar kita bisa berteman dengan asuransi..dan tetap nyaman berasuransi.. Bedanya cukup jelas dengan asuransi konvensional..

    BalasHapus
  14. Selama ini aku buta asuransi loh Mbak, dan belum punya asuransi swasta, karena pengalaman saudara yang tertipu ama agennya... Jadi lebih paham soal asuransi syariah...
    Dan emang sih, orang2 sekitar aku tuh berprinsip ikut asuransi biar untung, bahkan temenku yang jadi agen kalau ngajakin ya iming2 dananya ntar jadi segini. Padahal kan ya, asuransi buat jaga2, buat perlindungan

    BalasHapus
  15. Jaman sekarang perlu banget tiap keluarga utk memahami literasi keuangan dulu, baru mengerti asuransi dan memilih mau yg konvensional ato syariah.
    Aku mah mau berkawan dengan asuransi aja, soalnya udah berasa manfaatnya.

    BalasHapus
  16. Setuju mbak Rien, karena hidup selalu punya banyak rahasia dan kejutan, maka Penting banget ya buat punya asuransi
    dan saat ini asuransi syariah bisa jadi pilihan yang cukup menjanjikan ya mbak

    BalasHapus
  17. Bagi yang pernah melewati masa-masa berat, tentu menjadi penyemangat tersendiri untuk mencari tahu mengenai produk asuransi terbaik yang sesuai dengan kondisi keluarga.
    Semoga keluarga sehat terus dan doble bahkan berlapis-lapis proteksi perlu dilakukan seperti menamankan uang di asuransi syariah dan proteksi doa.

    BalasHapus
  18. benar mbak, kita tidak tahu apa yang terjadi pada kita besok atau masa depan. Karena itu semua misteri. Oleh karena itu penting sekali pengelolaan keuangan yang baik dan memiliki asuransi.

    BalasHapus
  19. berharap sama yang ga pasti memang bikin deg2an ya mbak apalagi ini termasuk yang urgent karena buat proteksi keluarga tersayang. yang penting jadi tahu kudu beli di mana produk asuransi syariah yang rekomen

    BalasHapus
  20. Pake asuransi syariah bikin tenang ya karena bebas riba. Jujur punya asuransi awalnya berat bayarnya tiap bulan setelah jalan bbrp tahun baru bisa legowo. Terasa berat krn merasa kayak buang uang heuheu

    BalasHapus
  21. Ya Allah Mba lengkap banget tulisannya, saya dapat banyak info baru seputar asuransi syariah yang sebelumnya saya gak tau. Keren banget Mba udah melek finansial dari awal menikah jadi gak keteteran pas ada suami sakit dan Alif kecelakaan. Saya kebetulan lagi nyari asuransi jiwa syariah buat suami saya. Prudential menjadi salah satu pertimbangan saya.

    BalasHapus
  22. Betul sekali. Saya merasakan betul kekhawatiran saat suami sakit. Apalagi di keluarga kami hanya suami yg memiliki penghasilan tetap. Bukan tidak percaya dengan pertolongan dari Allah, tapi yang namanya musibah bisa terjadi kapan saja, ntah siap atau enggak. Memiliki asuransi memang salah satu cara untuk meminimalisir kekhawatiran dan risiko yg mungkin terjadi kapan saja.

    BalasHapus
  23. Setujuuu, risiko bukan untuk ditakutkan, tapi diperhitungkan.Maka memiliki proteksi lewat asuransi adalah salah satu solusi.Kita enggak bisa prediksikan apa yang akan terjadi di masa depan maka berjaga-jaga dengan mengantisipasinya adalah yang utama

    BalasHapus
  24. Ternyata punya asuransi lebih menenangkan, ya. Apalagi kalau asuransi syariah. Jadi pingin tahu lebih jauh. Barang kali saya tertarik bergabung juga.

    BalasHapus
  25. Ya Allah harapan banget bisa bebas finansial dan punya asuransi pun berbasis syariah lega rasanya ya mba. Keluarga diberikan protkesi itu wajib banget juga. Makasih sharingnya kak

    BalasHapus

Leave your message here, I will reply it soon!