Liburan ke Bandung, Naik Kereta Rombongan

Naik Kereta Liburan ke Bandung - Event peluncuran produk laptop ASUS di sebuah hotel di Jakarta pada pertengahan bulan Juli lalu menjadi momen bertemu dan berkumpul dengan sejumlah blogger dari berbagai daerah di Indonesia. Saya dan para blogger yang hadir kebetulan berada dalam satu komunitas, jadi kami biasa bertemu bila brand laptop tersebut mengadakan event. Nah, momen bertemu dan berkumpul inilah yang sering kami manfaatkan untuk melakukan kegiatan bersama yang sifatnya untuk hiburan. Kadang kami kulineran dan belanja bareng di sela-sela kegiatan, kadang pergi liburan bareng setelah event selesai. 
Liburan Bandung

Liburan Bareng ke Bandung

Liburan ke Bandung sudah kami rencanakan beberapa minggu sebelum event di Jakarta dilaksanakan. Beberapa teman yang bergabung berasal dari kota yang jauh di daerah. Sebut saja Bai dari Aceh, Febri dari Jambi, Vina dari Pekanbaru, Ima dan Afit dari Jogja, Dedew dari Semarang, Dian dari Surabaya, Kang Didno dari Indramayu, Deddy dari Palembang, serta Mas Eko, Bang Emmet dan Tyar dari Jakarta. 

Masih ada banyak blogger lainnya dalam komunitas kami, tapi yang bisa gabung hanya segelintir itu saja karena nggak semua bisa punya waktu luang yang panjang. 

Ngapain aja selama di Bandung? Pastinya, jajan-jajan dan jalan-jalan. Kegiatan menyenangkan apa lagi selain itu ya kan? Nah, untuk berangkat ke Bandung teman-teman sepakat naik kereta. Jarak Jakarta ke Bandung kan cukup dekat, waktu tempuh kurang lebih 4 jam saja. Selain tidak terlalu lama, kami juga bisa menikmati perjalanan dengan santai tanpa disebalkan oleh urusan macet seperti bila perjalanan dilakukan dengan mobil.
Pose dulu bareng Bang Emmet di Stasiun Gambir - Jakarta 😂

Untuk keperluan membeli tiket kereta, saya mencari di OTA langganan saya Traveloka. Akhirnya, 12 tiket saya dapatkan, tapi hanya Tyar yang jadwalnya nggak sama. Kami semua berangkat siang, dia berangkat malam. 

Kami naik kereta Argo Parahyangan dari Gambir, sama seperti kereta yang saya naiki ke Bandung bersama Anjas Maradita saat ASUS Roadshow di bulan April. Di Stasiun Gambir ini banyak sekali kereta dengan tujuan ke berbagai daerah di Jawa termasuk ke Surabaya. Tahun lalu saya pernah beli tiket ke Surabaya, tapi berangkat dari Stasiun Senen. 

Sayangnya tiket yang sudah dibeli terpaksa saya batalkan karena mendadak harus berangkat lebih cepat naik pesawat. Waktu itu saya pesan tiket KA Gumarang di sini, dan karena batal tiket saya di-refund, cair satu bulan kemudian langsung masuk rekening. 
Trip Republic of Gamers 😁

Naik Kereta Rombongan

Jumat tgl. 12 Juli 2019 kami berangkat dari Pullman Central Park Jakarta ke Stasiun Gambir. Jadwal kereta ke Bandung pukul 12.35 WIB. Sebetulnya, jadwal tersebut kurang cocok jika buat berangkat di hari Jumat, bikin teman muslim jadi nggak bisa salat Jumat. 

Ada pilihan lain berangkat jam 11 malam, tapi terlalu malam. Cocoknya buat Tyar, karena dia nggak cuti, harus kerja dulu baru bisa berangkat. Sementara itu, Deddy sudah berangkat lebih awal, sebelum jam 12 dia sudah di Bandung. Dia memang beda, menyendiri demi mencoba gerbong priority.

Perjalanan naik kereta jadi momen pertama buat Bai dan Vina. Bandung pun jadi destinasi yang baru pertama kali mereka kunjungi, termasuk buat Febri. Saya senang bisa bersama mereka di momen serba pertama. 

Dari cerita Bai di blognya, saya jadi tahu ternyata dia sempat tegang, deg-degan, bahkan pusing ketika di kereta. Bukan maksud hati hendak mentertawakan, tapi Bai memang lucu. Duduk di bangku kereta berasa naik pesawat, dikira ada seat belt, dia cari-cari dah itu sabuk pengaman. Tapi Afit memang jahil, Bai dikerjain sedemikian rupa.  
Kereta Argo Parahyangan

Bukan Bai, Vina, dan Febri saja mendapat pengalaman serba baru, saya juga dapat. Apa yang baru buat saya? Makan di restoran dalam kereta. Jadi gini ya, saya tuh jarang banget bepergian dengan kereta untuk tujuan yang jauh antar provinsi gini. Paling keretaan dalam kota, naik KRL dari BSD ke Jakarta. Kalau keluar daerah bisa dihitung jari, paling cuma 1 kali dalam setahun. Itu pun belum tentu. 

Di dalam kereta saya jarang beranjak dari tempat duduk, bahkan untuk ke toilet pun enggak, kecuali sudah mendesak sekali. Waktu ke Bandung malam hari bersama Anjas, sama sekali nggak kemana-mana, duduk saja sejak berangkat hingga sampai tujuan. Makanya, pas ke Bandung kali ini, senang sekali pas tahu ada resto segala. Pastinya, saya langsung melipir mencoba duduk dan beli makanan. Ternyata sensasinya menyenangkan.  
Salah satu menu di gerbong resto kereta

Perjalanan berkereta di siang hari cukup menyenangkan, bisa lihat-lihat pemandangan di luar. Kalau ingin mengisi waktu di kereta dengan bekerja di laptop pun nyaman, ada meja kecil buat meletakkan laptop di depan badan, dan ada soket bila laptop perlu diisi daya. Kalau bosan di bangku tinggal jalan aja ke gerbong resto, bersantai di sana sambil makan atau minum. 

Saking asyiknya menikmati perjalanan, nggak terasa kereta sudah sampai tujuan. Waktunya lebih lama sedikit dari jadwal yang tertera di tiket. Mungkin ada faktor tertentu yang bikin telat. Tak apalah, yang penting sore itu saya dan kawan-kawan tiba dengan selamat, siap menjelajah Bandung sampai 2 hari ke depan. Nah, cerita liburan di Bandung bisa dibaca pada tulisan berikutnya, segera di blog Travelerien.com ini juga.

Youtuber Onedox, Remaja Santuy Nggak Anti ROG

Onedox in Travelerien -  Mendadak menulis tentang anak di blog, mungkin ini dianggap sesuatu yang tumben. Memangnya apa pasal? Nggak ada pasal serius, cuma karena ada beberapa kebetulan saja. Salah satunya kebetulan bulan September ini bulan kelahiran si anak 😅

Al as Onedox  

Fakta Onedox

Sebut saja namanya Al, seorang remaja laki-laki siswa SMU kelas 11 jurusan IPA. September ini usianya memasuki 16 tahun. Ia anugerah sangat indah dalam hidup saya. Mendapatkannya mudah, mengandungnya berat. Saat dikandung, 9 bulan saya menderita sakit dan merasakan kepayahan. Trimester pertama hampir keguguran, sampai harus disuntik penguat selama 1 bulan biar nggak kejadian. Lahirnya pun tak kalah susah, selain terlilit tali pusar, ia mesti dibantu lahir dengan cara diinduksi dan divakum oleh Dr MT, SPoG di RS PD BSD. 7 bulan setelah lahir ada masalah dengan isi kepalanya. Masalah itu terlihat dari lingkar kepalanya yang meningkat tak normal, naik terlalu cepat. Saya stress tiap kali membaca angka pada meteran kain yang saya pakai buat mengukur lingkar kepala.

Setelah melalui serangkaian pemeriksaan oleh dokter ahli, penyakitnya diketahui bernama Cerebral Atrophy, kemungkinan buah dari virus Toxoplasma yang saya punya sebelum dan saat hamil. Sewaktu hamil muda, virus Toxo itu memang terdeteksi, dan dokter kandungan sudah memberi obat. Tapi ternyata dampaknya tetap ada pada anak yang dikandung dan baru kelihatan sekian bulan kemudian setelah ia lahir. *Catatan buat ibu-ibu, pastikan bebas toxo sebelum hamil ya.

Vonis paling pahit yang saya dengar dari Dokter E, seorang profesor ahli syaraf di RS Siloam Karawaci waktu itu adalah anak saya akan mengalami banyak masalah keterlambatan dalam pertumbuhan. Lambat bicara, lambat jalan, lambat mikir, lambat segalanya. Tahu kan maksudnya? Saya merasa terlalu kasar kalau harus menyebut anak saya jadi kehilangan otak gara-gara penyakit itu..hufftt...

Intinya: anak saya tidak akan tumbuh normal seperti anak-anak lain. Solusinya, anak ini harus dioperasi supaya cairan yang berlebihan di kepalanya bisa dikeluarkan. Jadwalnya pada usia 3 tahun. Ha? 3 tahun? Apa nggak tambah besar kepalanya di usia tersebut? Entahlah, saya tak paham. Yang jelas dalam 2 tahun 5 bulan ke depan kepalanya harus dibedah, dipasangi selang dalam kepala hingga badan supaya cairan di otaknya bisa keluar. Bisa dibayangkan?

Al yang terbebas dari Cerebral Athropy
Percayalah, Keajaiban Itu Ada

Sebagai ibu muda baru punya anak satu yang mengandung dan melahirkan anaknya dengan segala kesakitan, saya harus menerima fakta sangat pahit. Sedih dan kecewa itu pasti. Tapi satu hal yang tidak hilang dari diri saya saat itu adalah semangat dan harapan bahwa anak saya bisa sembuh bila saya mau berusaha dan tak putus berdoa. 

Singkat cerita, lewat ipar saya dipertemukan dengan ahli pengobatan herbal lulusan S2 Pharmasi UI yang memiliki pengalaman segudang di bidangnya. Pasiennya banyak, bahkan ia mengobati orang sakit sampai ke luar negeri. Pak R namanya, seorang pegawai yang tak materialistis. Tak sepeserpun ia meminta bayaran setiap kali pasien datang berobat. Setiap mau diberi uang ia bilang simpan saja buat cari obat-obat herbal yang dia resepkan. Masya Allah.

Saya terapi Al padanya selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, padahal rumahnya jauh. Saya mesti datang siang dan kadang pulang pagi karena antre. Atas kuasa Allah juga segala kesabaran berbuah keajaiban, Al sembuh! Jadwal operasi yang katanya akan dilaksanakan di usia 3 tahun itu akhirnya musnah. Al dibawa lagi ke lab, kepalanya diperiksa, dan tidak ada lagi cairan yang bikin resah itu. Semua seperti hilang ditelan doa.

Kamu tahu rasanya melihat fakta sakit parah anakmu bisa sembuh? Senang tak terkira! Semua lelah badan, materi dan waktu yang habis saat pengobatan seperti tiada artinya lagi, berganti bahagia dan lega tiada tara.

(Penasaran dengan detail penyakit dan pengobatan anak yang saya lakukan selama hampir 3 tahun? kapan-kapan akan saya tuliskan jika diminta)

Ananda dan bunda

Tumbuh Dengan Otak Sehat

Al tumbuh menjadi anak laki-laki tampan berkulit putih, bermata bulat, beralis tebal, dan berbadan tinggi. Ia rajin sekolah, sederet piala di rak menjadi simbol prestasi. Al jadi anak paling aktif saat playgroup sampai TK, dan punya energi besar yang kata gurunya mesti disalurkan lewat kegiatan positif seperti olah raga dan seni (misalnya seni bela diri). Maka, Al ikut latihan taekwondo, sampai lulus SD, sampai dapat sabuk hitam. 

Selama SD ia jadi salah satu penghafal terbaik surat-surat Juz 30, nggak pernah absen jadi ketua kelas, alhamdulillah selalu 5 atau 7 besar rangking kelas. Yang mengejutkan, nilainya terbaik di pelajaran bahasa Arab (tanpa kursus) dan selalu bisa mencapai 99 (gak ada nilai 100 di sekolah). Saat wisuda SD dan SMP, namanya nyempil sebagai salah satu anak berprestasi, baik dibidang akademik maupun yang berkaitan dengan karakter pribadinya. "Al putra bapak anu dan ibu anu meraih prestasi sebagai bla...bla..." Berkaca-kaca mata ini melihat anak yang dulunya divonis bakal "nggak punya otak" itu maju ke depan di deretan siswa berprestasi.

Al memang bukan yang terbaik di antara teman-temannya, bukan peraih nilai tertinggi, tapi ia selalu ada dalam deretan anak-anak yang membuat orang tuanya meneteskan air mata haru dan bangga. 

Mengingat penyakit yang dideritanya dulu pernah bikin saya lara hati hingga sering nangis, saya kini bangga seperti apapun Al saat ini. 
Sewaktu Wisuda SMP

Memimpin pembacaan surat-surat saat khotmil Quran SMP

Youtube dan Dunia Game

Saya lupa kapan tepatnya Al mengenal game online dan dunia per-youtube-an. Yang jelas sejak masih SD. Suka nge-game iya, tapi bukan anak yang bila main game sampai lalai waktu. Jika adzan dia berhenti, pergi salat ke musala dekat rumah, bersama bapaknya. Boleh tanya sama tetangga saya soal ini, mereka adalah saksi hidup yang melihat dan bisa dimintai keterangan. Nah, kalau sudah kelar urusan salat, makan, dan mandi, baru Al lanjut main game lagi. Aslinya Al itu agak keras, tapi nggak menolak bila diingatkan.

Main game di laptop bapaknya, bukan di HP, bukan pula di komputer. Yang namanya merengek minta PS 4, HP dan komputer pasti pernah lah, tapi belum kami beri. Rencananya kalau sudah SMP baru kami belikan.

Sewaktu SD Al bikin channel pribadi. Video yang diupload adalah video dia main game, tepatnya cara main suatu game. Dia bikin semacam tutorial gitu. Nah, seingat saya, dia pernah bilang channel-nya dapat teguran dari Youtube. Entah apa alasan tepatnya saya lupa, pokoknya dianggap melakukan pelanggaran. Sejak itu dia berhenti bikin video main game dan berhenti meng-upload di channel. Kebetulan waktu itu dia memang harus fokus dulu untuk ujian lulus SD. Momen stop youtube-an itu pas.
Generasi Milenial

Videografi dan Sinematografi

Ketika SMP Al aktif jadi pengurus OSIS, ikut pramuka, ekskul futsal dan ekskul catur, serta les di bimbel. Oh ya, sejak SD dan SMP Al bersekolah di sekolah Islam swasta. Di sekolah pelajaran baca Quran sudah ada, jadwalnya beberapa kali dalam seminggu, jadi dia tidak belajar lagi di luar. Waktu belajarnya banyak di sekolah. Soal baca Quran, Al memang bukan yang terbaik, tapi bacaannya cukup baik ketimbang saya. Di rumah baca Quran bareng bapaknya, kalau nggak pas Subuh, ya pas Isya. 

Kegemaran Al bermain game berlanjut saat SMP. Malah makin gencar. Tapi di waktu yang sama Al mulai memiliki hobi baru yaitu membuat video. Beda dengan waktu SD dia bikin video games, saat SMP dia bikin video kegiatan sekolah. Dengan jabatannya sebagai pengurus osis, dia kadang dengan sengaja melibatkan diri sebagai seksi dokumentasi di beberapa acara sekolah. 

Sebagai ibu blogger yang suka dengan dunia fotografi, saya tahu Al butuh perangkat memadai. Saya mendukung hobinya. Maka saya bekali dia dengan HP ASUS ZenFone 4 Selfie Pro dan Kamera Canon DSLR EOS70D. HP Zenfone buat dia pakai sehari-hari, kalau kamera sekedar saya pinjami saja. Tak hanya itu, saya belikan juga laptop Lenovo (AMD) murah meriah seharga 3 juta saja untuk dia gunakan edit foto dan video, serta tugas-tugas di sekolahnya. 

Seingat saya di sekolahnya ada ekskul fotografi. Saya lupa dia waktu itu ikut atau gak. Yang jelas, sewaktu laptopnya dibawa pertama kali ke sekolah, pulangnya sudah terpasang aplikasi Photoshop. Katanya dipasangi oleh gurunya. Tak lama setelah itu dia juga instal Sony Vegas Pro 13 buat edit-edit video. Kalau ini beli, bapaknya yang bayar.

Dulu saya pernah numpang pakai laptop Al buat edit video jalan-jalan. Sayangnya saya lelah dengan aplikasi yang dia pakai, ribet dan terlalu canggih. Akhirnya saya kembali edit-edit video pakai aplikasi Filmora di Android. Lebih gampang. 
Nge-game buat hiburan

Rencana Serius 

Saya masih ingat saat Al baru masuk SMU dia diminta oleh guru BK mengisi form. Salah satu kolom yang harus diisi adalah minat dan cita-cita. Kalau tak salah form itu untuk keperluan pemilihan jurusan. Di situ Al menulis menyukai dunia IT, dan dia menyebut Videography dan Cinematography.

Ada beberapa minat lain juga yang dia tulis, saya lupa apa saja, masih berkaitan dengan dunia informasi teknologi. Plan yang Al tulis belajar IT di ITB dulu untuk S1, setelah itu lanjut S2 di Jerman (aminkan yaaaa). Saya senang Al sudah bisa membuat rencana, bahkan sudah tahu nanti akan menimba ilmu di mana. 

Sejak SD saya tidak pernah melarang Al main game, kami hanya memantau dan membatasi bila berlebihan. Begitu pula saat SMP mulai punya hobi pada dunia fotografi dan videografi, saya tak melarang (lagian apa yang perlu dilarang? haha), malah saya dukung dengan memberi sejumlah perangkat yang dibutuhkan. Walau bukan produk canggih dan mahal, setidaknya bisa digunakan buat memperlancar aktivitasnya.

Saat kelas 9 mulai minta PC karena kemampuan laptopnya terbatas. Alhamdulillah ada rejeki, PC saya belikan. Nah, kelak saat SMU dengan PC itulah dia mengerjakan pembuatan video untuk dimuat di channel terbarunya yang bernama Onedox.
Perangkat harian AL di rumah, untuk hobi dan keperluan sekolah. Masih pakai laptop Lenovo murah yang kemampuannya sudah sangat terbatas tapi masih bisa membantu Al berkarya.

Inspirasi dari ASUS 

Saya jadi pengguna produk ASUS mulai tahun 2016, sejak Al masih SMP kelas 8. Saya juga kerap menang lomba berhadiah HP ASUS, maka Al pun kebagian. Al menyukai kegiatan saya menulis tentang produk ASUS. Tak jarang ia bertanya kepada saya mengenai "daleman" dari produk-produk ASUS terbaru, bahkan lembaran press release yang saya dapat di acara dia baca sampai habis. Cerita-cerita saya tentang content creator pengguna ASUS dia simak. Dari sanalah dia tercerahkan sedikit demi sedikit tentang perlunya gadget mumpuni untuk keperluan membuat konten.

Sebutan Republic of Gamers Al ketahui pertama kali dari saya. Momen-nya saat peluncuran HP Gaming ASUS ZenFone Max Pro M1 bulan April 2018. Waktu itu saya dapat hadiah ZenFone Max Pro M1, hp nya dia pinjam. Saya juga dapat baju kaos ROG, bajunya dia pakai.

Bagi Al, nama ROG (Republic of Gamers) terdengar gagah, dan terkesan sangat milenial. Karena itu ia bangga mengenakan atribut ROG, meski cuma baju kaos.
HP Gaming ASUS ZenFone Max Pro M1

Bangga dengan atribut ASUS ROG meski cuma kaos

Belajar Berorganisasi

Tahun pertama di SMU Al lebih banyak beradaptasi dengan lingkungan baru dan teman-teman barunya. Saya bisa maklum, selama ini sejak SD sampai SMP dia sekolah di yayasan yang sama, lingkungan yang sama, dan selama 9 tahun ketemu dengan temannya yang itu-itu saja. Saat SMU baru deh ketemu dengan orang-orang baru, hanya segelintir saja yang dulu pernah satu sekolah di SD dan SMP.

Masuk SMU umur 15 tahun, usia di mana saya melihat ia makin punya rasa tanggung jawab terhadap banyak hal. Termasuk tanggung jawab sebagai seorang pelajar. Aktivitas bermain game berkurang, berganti dengan kegiatan belajar dari pagi di sekolah sampai sore di tempat les. Sisanya, kadang dia gunakan untuk berorganisasi, menjadi pengurus OSIS.

Seringkali kegiatan OSIS membuatnya pulang jelang magrib. Ada saja yang dilakukan di sekolah, entah itu rapat maupun acara. Saya lihat dia sibuk luar biasa. Saya sempat khawatir, kadang tak percaya sampai jadi kepo, apa iya berkegiatan di sekolah? Saya tanyakan ke gurunya dan saya telpon teman-temannya. Ternyata, memang benar rapat, dan memang benar sedang berkegiatan. Alhamdulillah berarti Al nggak bohong. Malah gurunya yang meyakinkan saya, "Percaya bunda, Al jujur kok." Hehe saya jadi malu sendiri. Sejak saat itu saya berhenti kepo.

Terakhir saya lihat Al dan rekan-rekannya di OSIS sukses menggelar konser musik DubScription 2019 yang mendatangkan Fiersa Besari, Souljah, Feel Koplo di Summerecon Digital Center Serpong, dengan tiket yang terjual habis, bahkan harus mencetak tiket baru karena permintaannya tinggi.

Al itu memang suka berorganisasi. Suka jadi pemimpin. Sejak SD jadi ketua kelas, SMP juga begitu. Anaknya memang supel, banyak temannya, guru-guru pun akrab dengannya. Nggak nyangka aja sih ia pandai bergaul. Bagi orang lain ini mungkin hanya hal kecil, tapi bagi saya yang anaknya pernah divonis dokter "nanti ga punya otak", saya bangga pada Al.



ASUS ROG Phone

Pada suatu hari di bulan Juli, setelah dia menjadi siswa kelas 11, Al minta beberapa barang ke saya. Mulai dari clip on, tripod, mouse, hingga RAM buat PC. Saya belikan dia RAM (beli online di Tokopedia), saya pinjami mouse gaming, saya kasih dia tripod (kebetulan punya 2).  Entah kenapa, sejak itu dia jadi makin sore pulang sekolah. Al juga stop les di bimbel tempat biasa les, ganti les online di Ruang Guru. Main game nya sudah sangat jarang. Seminggu paling hanya 1 kali. Saking sibuknya di luar rumah.

Di bulan yang sama saya hadir di acara ASUS ROG Be Unstoppable. Kelar acara saya bawa pulang ROG Phone ke rumah, HP gaming mahal serba bisa. Jujur, bawa hp itu bikin saya pening mikir konten dan tulisan. Lain halnya dengan Al, dia malah girang dan nyerocos mengutarakan ide-ide. Tahu nggak idenya apaan? Katanya, dia akan gunakan untuk membuat beberapa video, salah satunya bikin video review ROG. Nanti videonya akan diupload di channel-nya! Ha? Sejak kapan dia punya channel lagi? Sejak 10 Juli 2019! Tepat saat saya pergi ke Pullman untuk acara ASUS ROG Be Unstoppable.
Channel Onedox

Anti Games

Tidak lagi gencar main games bukan berarti Al tak lagi terpesona pada ROG. Ia masih kagum dan bangga. Cerita saya tentang laptop-laptop ROG terbaru di acara ROG Be Unstoppable membuatnya berdecak. Tapi sebatas itu saja, tanpa ada pembicaraan lanjutan soal beli dan memiliki. Mungkin Al sadar harganya ketinggian, mamanya pasti keberatan. Ya, anak lanang ini makin besar tambah dewasa, tak lagi memaksakan kehendak seperti waktu masih SMP.

Tiap hadir di event ROG saya dapat baju kaos ROG, sampai saat ini jumlahnya ada 5. Empat kaos diminta oleh Al semua. Dipakainya dengan bangga. Kadang jadi dalaman baju sekolah, selebihnya dipakai ketika bepergian dengan teman-temannya. Kesan negatif yang kerap tersemat pada anak gamers sama sekali tak membuatnya gentar mengenakan atribut ROG.

Saya paham sebagai orang tua pastinya menginginkan anak usia sekolah fokus saja pada aktivitas belajar. Jadi saya tak heran jika menemukan beberapa orang tua anti pada games. Bahkan ada yang menganggap games hanya menghambat prestasi.

Hingga pada suatu hari, saya melihat komik "anti ROG" di ruang WAG Blus, dishare oleh Om Yahya. Komik yang menggelitik, seakan gamers dicitrakan tidak baik. Beli laptop gaming menyebabkan anak tak berprestasi, bikin anak pakai laptop cuma buat nge-game saja.

Menurut saya, jadi bermasalah atau berprestasi bisa disebabkan oleh berbagai kemungkinan. Bukan semata pada laptop atau games, bisa jadi pada si pengguna. Tergantung pada orangnya dan orang yang sehari-hari bersamanya.

Al juga gamers. Ia memakai hp gaming ZenFone Max Pro M2 dan banyak memakai PC buat bermain games. Sekarang malah sedang numpang pakai HP ROG saya buat videoan dan edit-edit gambar. Apakah Al bermasalah akibat games dan atribut ROG? Sama sekali tidak. Nilai raportnya bagus, dia berorganisasi, ibadahnya tidak lalai, guru-gurunya mendukung, dan sekarang malah jadi youtuber (pemula) dengan 6000an subscriber hanya dalam waktu 2 bulan sejak videoan pakai HP ROG!




Review ASUS ROG Phone

Ketika saya mendukung apapun kegiatan positif Al, bisa jadi dianggap karena saya pernah trauma dengan masa kecilnya sakit-sakitan, sehingga meloloskan apapun yang diminta, dan mengiyakan saja apa-apa yang menjadi kesukaannya. Saya tidak membenarkan dan tidak menyalahkan anggapan tersebut. Pada prinsipnya, saya akan melakukan yang terbaik untuk anak. Tidak memaksa, tidak pula membiarkan saja. Selama hobi positifnya baik dan bermanfaat, respon saya pada anak akan  positif.

Setelah sekian tahun berlalu, tahun ini Al kembali membuat channel. Video pertamanya di-upload tgl. 10 Juli 2019. Dalam bulan Juli itu ia meng-upload 4 video. Salah satu videonya "Anti Culun" di-view lebih dari 300 ribu kali dengan 8000an like dan 3800an unlike. Sebagai channel berumur 1,5 bulan, bagi saya hal itu sangat fantastis!

Video Review ROG yang Al buat di-upload tgl 7 Agustus 2019. Video itu asli buatannya sendiri. Tak ada campur tangan saya sama sekali dalam pembuatan maupun editing. Sebelum bikin video Al cuma bertanya soal spek dan saya kasih dia link ke web Asus. Satu minggu kemudian tahu-tahu sudah jadi. Cepat atau lambat jadi dalam seminggu? Kalau kata saya sih cepat. Al itu sangat sibuk. Cari ide, bikin konsep, mengumpulkan data, menyiapkan waktu, syuting, editing, upload,...emang bisa cepat? Saya sih enggak.

Pada saat upload video review HP ROG, subscriber-nya masih 90-an. Saya membagikan link videonya kepada teman-teman di WAG YS, alhamdulillah terbantu naik dan bisa mencapai 100 subscriber. Saya cukup intens memantau video Review ROG, supaya bila ada yang tanya-tanya soal HP  saya bisa segera bantu jawab. Saat ini video HP ROG telah ditonton sebanyak 2000-an kali.

Buat yang ingin tahu lebih lanjut mengenai ASUS ROG Phone bisa kunjungi channel OneDox berikut --> Review ASUS HP ROG  atau ulasan di Blog Om Yahya --> Apakah ROG Phone cocok untuk non gamers? dan bisa juga dilihat pada 2 post saya di instagram @travelerien di sini dan di sana.
Review HP ROG

Onedox, Channel 6000 Subscriber dalam 2 Bulan

Saya sedang di Balikpapan (8/9) ketika Al bercerita kepada saya soal subscriber channel-nya yang melejit menjadi 1000. Ha? Bagaimana bisa? Saya main youtube sudah 7 tahun sejak tahun 2012 sampai sekarang subscriber belum sampai 1000. Masih di angka 900an.

Belum kelar saya heran, besoknya tgl. 9 Sept Al dapat email dari youtube soal monetize. Diladeni dong sama Al. 3 hari kemudian tgl. 12 Sept channel-nya resmi dimonetize oleh Google. Ha??? Secepat itu? Apa pasal bisa demikian?

Saya kepo sendiri, lalu saya amati satu persatu semua video yang di-upload. Ketemu! Ternyata ada video yang memang bullyable, mudah mengundang remaja seumuran dia untuk menonton dan komentar. Hanya saja komentar yang masuk bentuknya kasar dan jahat, bahasa tidak terpelajar.

Saya sempat merasa cemas, khawatir Al stress baca komentar orang-orang itu, lalu marah dan berhenti berkarya. Saya bilang sama Al jangan ambil hati, cuekin saja, jangan pernah ladeni, nanti malah makin ramai dan kasar.

Tahu apa jawaban Al? "Aku malah ga peduli Ma, lagian juga gak sempat bacain komennya satu-satu, sibuk, banyak urusan di sekolah. Ini aja belum sempat-sempat bikin video, ada LDKS, bikin konser, ada paskibra sejawa, dll. Lagian videoku kan buat hiburan semata, kalau dilihat pakai kaca mata serius, jadinya ya emosi. Santuy aja, Ma."

Hiahahaha....malah saya yang dinasehati supaya santai! Oke baiklaaah.

Sementara itu, subscriber sudah bergerak di angka 5000. Dan detik ini sudah lebih dari 6000! Uwow. Video "Anti Culun" itu sesuatu ya! 😂






Vlogger Academy

Satu kejutan lagi datang di bulan September. Jumat tgl. 20 Sept 2019 pihak IDN Times menghubungi saya dan menyatakan bahwa Al terpilih jadi peserta D Vlogger Academy (DVA). Alhamdulillah saya senang bukan main mendapat kabar itu. Mas K yang telpon berjanji akan mengirim informasi detail kegiatan lewat WA. Saya lalu mengabari Al yang saat itu sedang berada sekolah, juga bapaknya yang sedang bekerja. Saya berkoordinasi dengan mereka supaya malam itu bersiap sebab besok pagi hari Sabtu dan Minggu Al mesti berangkat ke Jakarta untuk mengikuti kegiatan.

Malam itu Al bermalam di Gunung Sindur diundang oleh pembina OSIS dari SMP nya dulu sebagai  tamu alumni dan mengisi kegiatan bersama adik-adik tingkat. Sementara saya menyiapkan barang keperluannya seperti kamera, laptop, hp, segala charger, hingga pakaian yang pantas untuk dipakai di acara. Lalu berita itu datang, Mas K dari IDN Times mengatakan Al batal diikutkan karena alasan usia tidak sesuai syarat, mestinya 18 tahun.

Saya penasaran dengan syarat usia, lalu mengecek ulang form pendaftaran online yang dulu pernah di-share. Di situ disebut syarat usia 15-35 tahun. Secara administrasi, usia Al sudah sesuai syarat. Lalu apa masalahnya? Saya berhasil menghubungi pihak penyelenggara, dan mendapatkan penjelasan yang berbeda.

Ok, tak ingin menjelaskan lebih panjang lagi soal itu, singkat cerita Al batal ikut. Saya kecewa? Pasti ada. Malam itu saya berusaha sebisa mungkin mengabari Al yang sedang berada di lokasi LDKS di Gunung Sindur. Dengan hati-hati saya ceritakan, dan Al cuma membalas singkat; "Tidak apa Ma, berarti besok aku malah bisa lanjut kerjakan video terbaruku."

Alamaaaak anaknya santai bangeeeet! Tahu nggak video terbaru yang dia maksud itu apa? Video "Santuy Hadapi Haters" Haiyaaaaah 😂

Screenshot S&K di form pendaftaran DVA

Anti Goyang, Fokus Berkarya

Al bilang, channel Onedox itu semata buat hiburan, sekaligus wadah tempat ia menyimpan ide-ide kreatif dalam bentuk video. Isinya mungkin saja bakal gemesin, nyenengin, ngeselin, atau bahkan nyebelin. Tergantung sudut pandang penonton saja.

Selama ini Al belajar editing video dari youtube, tidak ada guru khusus. Saya mendaftarkannya ikut vlogger academy supaya ia dapat ilmu. Belajar dari nol pada ahlinya sambil bertemu orang-orang satu hobi. Salah satu mentor dalam academy itu Mas GoenRock, saya tak tahu dia siapa, tapi Al tahu. Berarti di dunia pervloggeran, atau sinematography, Al lebih tahu daripada saya. Ya, saya memang bukan vlogger sih, tapi blogger, dan nggak ada minat jadi film maker pun.

Saya bilang sama Al, jumlah subscriber bukan prestasi. Apalagi bila channel rame karena hal negatif, mana enak melejit dengan cara seperti itu? Melejit karena hal positif baru OKE. Tapi, kalau dipikir-pikir, bagian mana dari video Al yang mengajak pada keburukan? Video yang ramai itu mengajak untuk "tampil gak culun" walau dia sendiri bagi orang lain masih terlihat culun 😂

Ada sih di video lain dia menampilkan adegan seolah merokok. Saya sudah tegur, meskipun itu cuma pura-pura demi bagian dari adegan, tetap saja sebaiknya tidak pakai cara tersebut. Al nggak pernah marah atau jadi tersinggung tiap kali saya kasih kritik dan saran, semua pesan saya ia dengar, dan dia serap baik-baik. Nggak baperan lah pokoknya.

Seperti video terakhir yang dia upload, video "Anti Goyang", seolah dia ingin bilang ke penontonnya, jangan mudah baper, jangan sampai jadi goyang hanya karena komentar nggak enak, tetap tenang, dekatkan diri pada Tuhan, dan terus saja berkarya lebih baik.

Santuy Anti Goyang

Belajar Tentang Kehidupan 

Saya tidak pernah mengarahkan Al jadi youtuber, apalagi mendorongnya cari uang lewat Youtube. Saya pun tidak membujuknya menyukai apa yang saya sukai. Apa yang Al minati berasal dari dirinya sendiri, bukan ikut-ikutan saya yang sudah lebih dulu jadi content creator. Membiarkannya punya channel supaya ia  punya wadah buat menyimpan dan menampilkan karya-karya.

Melalui hobinya Al jadi mempelajari bermacam hal, bukan hanya soal ilmu editing, tapi juga ilmu tahan banting alias melatih mental. Dunia maya dihuni oleh milyaran orang dengan berbagai karakter, ia harus kuat menghadapi tipe-tipe orang, ada yang kejam, kasar, dan tukang bully, ada pula yang manis, suka memuji, suka PHP, suka bohong, dan segala macam sifat yang ngeselin maupun nyenengin.

Al baru 2 bulan main youtube sudah bertemu ribuan likers dan haters, ia pun mendadak terpilih jadi vlogger academy. Bahkan, menurut keterangan pihak penyelenggara (Mbak C), channel Al masuk top 5 dari 400-an pendaftar! Kalau saya yang terpilih ya wajar, wong saya sudah punya segambreng pengalaman sebagai blogger. Pingin koprol gak lo pas tahu anakmu si youtuber pemula tiba-tiba terpilih acara beginian? Kalau saya sih iya, sayangnya karena suatu hal, Al batal masuk academy tersebut, saya pun batal koprol hehe.

Al masih seorang pelajar, jalannya masih panjang. Saya ingin saat ini dia lebih banyak belajar, ilmu apa pun, selama baik, saya dukung. Saya banyak berterima kasih pada orang-orang yang selalu mengawasi dan mendukung Al, keluarga, teman-temannya di sekolah, serta guru-gurunya sejak SD sampai SMU.

Anak yang dulu divonis bakal "nggak punya otak" itu ternyata berotak.

Kami

Percaya diri dan Percayalah Pada Tuhan


Dalam hidup, ujian selalu ada, baik ujian senang maupun ujian susah.

Tidak punya anak ujian. Punya anak juga ada ujiannya. Ujian tiap orang memang berbeda, beda pula cara menghadapinya. Apa pun itu semoga kita selalu bisa melaluinya dengan baik.

Saya bukan seorang ibu yang sempurna, tapi saya percaya diri untuk mengatakan bahwa saya adalah ibu yang selalu berusaha merawat anak dengan sebaik-baiknya.

Belum tahu kan rasanya diuji lewat anak sakit berkali-kali? Asal tahu saja, ujian punya Al itu bukan saat mengandung, melahirkan, dan saat ia menderita Cerebral Athropy saja, masih ada sakit parah lainnya yang terjadi saat dia SD. Kapan-kapan saya akan ceritakan 😃

Satu lagi, anak punya Channel Youtube juga merupakan ujian. Jangan kira saya senang-senang. Justru jadi ibunya saya kudu ekstra ketat menjaga dan mengawasi 😁😂


Youtube -- > Channel Onedox
Instagram --> @onedox

Selamat ulang tahun Al!
Panjang umur, sehat, cerdas, dan selalu taat pada Tuhan. Aamiin 💓
Onedox

Aston Hotel Balikpapan Menghadap Pantai, Suguhkan Panorama Ciamik

Aston Hotel & Residence Balikpapan memiliki pemandangan laut sebagai suguhan utama. Sebuah kelebihan yang membuat saya mudah untuk jatuh hati. Tapi tentu bukan panorama ciamik saja yang ia punya, hotel bintang empat ini juga mengedepankan kenyamanan, layanan prima, keramahan yang mengesankan, serta fasilitas lengkap untuk tamu yang datang dengan tujuan berlibur maupun bekerja dan berbisnis. Apa saja yang menarik dari Aston Balikpapan?
hotel balikpapan
Aston Hotel Balikpapan

15 Menit dari Bandara SAMS Sepinggan

Saya sudah cukup lama tidak berkunjung ke Balikpapan. Terakhir datang ketika bandara baru Balikpapan baru saja diresmikan dengan nama baru yaitu Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan.

Setelah penerbangan 2 jam dari Jakarta dengan Batik Air, Jumat sore (6/9/2019) saya tiba di Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan. Tak ada yang berbeda dengan bandara, masih seperti yang dulu pernah saya lihat, megah dalam balutan desain nan modern.

Sudah diketahui oleh banyak orang, bandara SAMS Sepinggan Balikpapan adalah bandara paling ciamik yang dimiliki Indonesia. Di dalamnya terdapat sejumlah fasilitas gratis yang bisa dinikmati para pengguna bandara, di antaranya  tempat rileksasi, reading corner, airport cinema, hingga toilet 3D! Bila sedang ada pekerjaan di Balikpapan, suami saya paling suka berfoto dengan fasilitas tersebut, lalu menunjukkannya pada saya. Bukan maksud suami bertingkah norak, melainkan bentuk bangga yang dibagi agar saya tahu bahwa Balikpapan punya bandara berfasilitas keren.

Akhirnya ASUS roadshow ke Balikpapan

Dari Jakarta saya membawa sejumlah barang seberat 27 kg terdiri dari banner, majalah ASUS Product Guide, souvenir, hingga koper berisi barang pribadi. Dari barang bawaan tersebut, sudah bisa ditebak kedatangan saya ke Balikpapan bukan untuk liburan, melainkan dalam rangka kegiatan ASUS Gathering bersama bloggers dan netizens Balikpapan.

ASUS Indonesia merupakan produsen laptop nomor satu di Indonesia, ia menjadi pendukung utama atas kegiatan saya ke Balikpapan. Bahkan, Account Manager ASUS Balikpapan, Mas David Windra sendiri yang melakukan penjemputan ke bandara, sekaligus mengantar saya ke Aston Hotel Balikpapan.

Waktu tempuh bandara ke hotel kurang lebih 15 menit saja. Cukup singkat, bukan? Memang sedekat itu jarak antara bandara dengan hotel, ditambah tanpa macet, bikin suka.
With David Windra, Account Manager ASUS Balikpapan. Loc. Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan

Lokasi Strategis di Jantung Kota Balikpapan

Sejumlah hotel berbintang berdiri megah di sepanjang tepi laut Kota Balikpapan. Beberapa di antaranya pernah saya masukkan dalam daftar pilihan tempat acara sekaligus menginap, tapi kemudian terhapus dengan sendirinya setelah hati menjadi condong pada Aston Hotel yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman No. 7 Klandasan Ilir, Kota Balikpapan.

Salah satu alasan sederhana atas kecenderungan saya pada Aston berasal dari keramahan dan kesabaran yang diberikan oleh Iin Hermawan dalam melayani berbagai permintaan pesanan saya yang segambreng. Ia informatif, komunikatif, dan aktif memberi masukan positif sejak pertama kali saya menghubunginya sehingga membuat saya jadi sreg. Tim sales hotel lain bisa jadi punya standar pelayanan yang sama, tapi rasa sreg akan menuju pada orang tertentu saja.

Setiap bikin acara saya selalu mempertimbangkan letak tempat acara karena sebisa mungkin lokasi yang dipilih dapat mempermudah kehadiran para undangan. Nah, Aston Hotel terletak di jantung Kota Balikpapan, lokasinya strategis mudah diakses dari mana pun dan pakai apa pun.

Prioritas saya di Balikpapan hanya untuk kesuksesan acara ASUS, jadi saya memilih tempat berdasarkan kebutuhan acara, bukan kebutuhan pribadi saya. Tempat acara, menu makan siang bloggers, serta lokasi yang mudah dijangkau dari banyak tempat adalah prioritas. Urusan kamar dan makanan untuk saya selama di hotel nomor sekian. Tapi, bukan ASUS namanya jika tak memberikan budget bagus untuk akomodasi. Jadi, saya bisa mendapatkan yang terbaik dari Aston Hotel Balikpapan baik untuk keperluan acara maupun untuk saya pribadi sebagai pelaksana acara.
Pemandangan Kota Balikpapan dari kamar di lantai 7 Aston Hotel Balikpapan

Awalnya Pesan Superior Room 

Afit BLUS seorang Digital Nomad dari Jogja menjadi partner saya selama berkegiatan di Balikpapan. Ia akan membantu saya presentasi product saat acara. So, saya perlu memesan 2 kamar di Aston.

Mulanya Iin menawarkan Superior Room, harganya di 500 ribuan saja. Tetapi di hari keberangkatan ke Balikpapan saya berubah pikiran. Saya melihat gambar Executive Room yang dikirim oleh Iin lewat Whatsapp memiliki ukuran lebih luas dengan desain dan fasilitas ala residence. Di dalamnya terdapat ruang duduk, dapur, 2 kamar mandi, 2 kamar tidur, dan ada balkon. Harga satuan kamar tipe ini memang lebih mahal, tapi jadi lebih murah ketimbang saya memesan 2 kamar Superior.

Saya anggap Executive Room lebih cocok buat kami. Selain mempermudah kami bertemu untuk berdiskusi mengenai persiapan acara, saya juga bisa mengajak teman blogger Balikpapan yang saya kenal untuk gabung di hotel, menemani saya menginap.

Superior Room Aston Hotel Balikpapan

Executive Room Kamar Lama

Jumat (6/9/2019) Afit tiba lebih pagi di Balikpapan, sedangkan saya baru sampai pada sore harinya. Ada sedikit miskomunikasi antara Iin dengan resepsionis hotel. Ketika check-in Afit diminta melakukan pembayaran tunai senilai harga kamar. Padahal saya sudah melakukan DP dari keseluruhan paket acara dan kamar, dan sesuai kesepakatan sisanya dilakukan di akhir saat saya check out. Jadi saat datang mestinya Afit check-in saja, tidak melakukan pembayaran apapun.

Saat Afit check-in saya masih dalam penerbangan menuju Balikpapan. Setibanya di hotel hal tersebut langsung saya sampaikan ke Iin. Iin menanggapi dengan baik dan mengatakan akan segera mengembalikan pembayaran tunai yang dilakukan oleh Afit. Ok, sampai di situ kesalahpahaman selesai.

Executive Room yang saya pesan terletak di lantai 19, kamar nomor 1911. Kamar ini memiliki view ke kolam renang infinity dan laut yang bisa dilihat langsung dari balkon, maupun dari jendela yang terdapat di masing-masing kamar tidur. Saya suka!

Semua tampak baik ketika saya masuk. Namun kemudian saya merasa kurang sreg. Saya mendapati  tirai jendela tidak bisa dibuka, cahaya lampu minim sehingga kamar tidur agak gelap, serta cermin tua di kamar mandi yang terlihat seperti dikelilingi bercak-bercak. Sebagai perempuan dengan keberanian yang minim, apalagi suka membayangkan hal-hal horor, kamar ini membuat saya tidak nyaman.

Executive Room Aston Hotel Balikpapan tipe residence

Kamar Tak Cocok, Pindah Ganti Kamar

Bagi sebagian orang, alasan dari rasa tidak sreg yang saya alami mungkin hanya hal sepele. Tapi bagi saya hal itu mengganggu kenyamanan.

Di siang hari saya ingin ada cahaya alami masuk lewat jendela, tapi bagaimana bisa dibuka kalau gordennya macet? Mau menikmati pemandangan jadi nggak bisa. Di tambah cahaya lampu kamar redup, kondisi remang-remang bikin saya membayangkan hal yang tidak-tidak. Bercak-bercak yang muncul di permukaan cermin di kamar mandi penanda umurnya yang sudah tua, membuat saya tidak betah berlama-lama di kamar mandi. Kamar saya pun berada di pojok, makin tambah tak nyaman.

Saat makan malam di T East Restaurant, saya bertemu Iin dan Mas Agung, Executive Housekeeper Aston Hotel Balikpapan. Saya ceritakan keluhan saya, dan kemudian saya dijelaskan bahwa kamar yang saya tempati adalah kamar lama yang belum direnovasi. Jadi, Executive Room itu berjumlah 75 unit, hanya ada di lantai 7 dan 19. Nah, unit di lantai 7 adalah kamar-kamar yang sudah direnovasi dan memiliki tampilan lebih baru, segar, dan benderang. Sedangkan di lantai 19 belum. Pantes kok berasa "tua" banget suasana di kamarnya.

Menurut keterangan Mas Agung, sebetulnya saya sudah dipesankan Executive Room yang baru, tapi nampaknya ada miskomunikasi lagi dengan resepsionis sehingga saya dan Afit ditempatkan di kamar lama. Akhirnya, Mas Agung dan Iin memberikan solusi terbaiknya yaitu memindahkan kami ke kamar 707 di lantai 7, kamar baru yang kondisinya jauh lebih baik. Alhamdulillah kamarnya tersedia, dan malam itu juga kami pindah kamar. Ternyata, kamarnya memang jauh lebih bagus dari kamar sebelumnya.


Salah satu dari 2 kamar tidur yang ada di Executive Room

Pemandangan laut dan Kota Balikpapan dari jendela kamar di lantai 7

Dua Kamar di Kamar Executive 

Executive Room memiliki luas 68 sqm. Kebesaran jika sendirian, kecuali memang tipe orang yang suka dengan kamar besar dan luas. Executive Room ideal untuk tamu dengan keluarga, atau perorangan dengan beberapa teman. Kalau sendirian saja biasanya saya cukup di Superior Room. Kalau mau coba yang paling luas ada Royal Suite, kamar terbesar di Aston dengan layanan paling top.

Saya dan Afit satu kamar. Nah, jangan salah paham soal ini. Kami memang satu kamar, tapi dalam satu kamar besar yang di dalamnya ada kamar-kamar lagi. Jadi, tempat tidurnya terpisah dong. Iyalah, kamarnya saja terpisah, tempat tidurnya otomatis terpisah. Saya menempati kamar utama dengan kamar mandi di dalam, sedangkan Afit di kamar kedua dengan tempat tidur tunggal, dan kamar mandinya di luar.

Kamar utama yang saya tempati menyediakan setrika lengkap dengan mejanya, serta baju mandi/kimono. Saya selalu merasa gembira jika di kamar ada setrikaan. Sebuah kamar seakan tak sempurna tanpa setrikaan. Memang sih, barang macam ini biasanya cuma tersedia di kamar suite. Makanya kalau cuma bisa pesan kamar type standard kudu bawa setrikaan sendiri. Saya sih, kemanapun selalu bawa setrika traveling, nggak peduli nanti bakal di kamar suite atau bukan hehe.



Ditemani Menginap

Executive Room mempunyai ruang duduk dengan sofa dan meja, dilengkapi TV, serta meja kerja dan kursinya. Selain di ruang duduk, TV juga ada di kamar saya, namun tidak ada di kamarnya Afit. Di dapur tersedia alat masak seperti kompor dengan panci, wajan, piring, gelas, sendok garpu, dan air minum dalam dispenser. Untuk membuat minuman tamu bisa menyeduh teh/kopi yang disediakan gratis.

Pemandangan luar bisa dinikmati dari masing-masing kamar, dan juga dari balkon pribadi. Namun hotel mengunci pintu balkon secara permanen demi keselamatan dan suatu alasan. Sebab, kamar kami menghadap ke Kota Balikpapan dan laut, dan persis di bawah kamar ada pemukiman warga.

Lain halnya jika jendela/balkon kamar kami menghadap ke kolam renang, di sana tidak ada pemukiman warga, hanya laut dan kolam renang, maka balkon bisa dibuka, kuncinya selalu tergantung di pintu balkon, bisa dibuka kapan saja.

Tetapi, khusus untuk saya dan Afit, pintu balkon dibuka. Hore!
Tidur malam ditemani Rani (kerudung pink)

Teman-teman Bloggers Balikpapan main ke hotel : Kak Ros, Lidha, Mbak Fitri, Aisyah Dian, dan Rani

Aktivitas Liburan Ditelan Kesibukan

Pemandangan laut dan kolam renang infinity Aston Hotel Balikpapan sudah menggoda sejak awal, bahkan jauh hari sebelum saya berangkat ke Balikpapan. Terbayang bersantai di balkon menikmati senja hari dengan matahari terbenamnya, atau berendam manja di tengah udara Balikpapan yang belakangan lebih banyak panasnya ketimbang sejuknya, alangkah menyenangkan.

Tapi, saya tahu ke Balikpapan bukan untuk liburan. Jadi, saya tak berharap lebih dapat melakukan apa yang saya bayangkan. Meski demikian, saya tetap mempersiapkan baju renang, topi lebar, kaca mata hitam, dan kamera untuk berfoto-foto di dermaga Aston.

Lantai dua hotel memang memiliki daya tarik tersendiri. Di sana ada restoran di mana salah satu sisinya memiliki view ke arah kolam dan laut, lobi yang menghadap ke laut, dermaga menjorok ke laut, taman view laut, hingga kolam renang yang menghadap ke laut. Area ini bisa jadi tempat favorit, memiliki suasana berlibur yang kental sehingga kapan saja berada di sana akan terasa menyenangkan.

Sayangnya, kegiatan saya selama di Balikpapan sangat padat. Hari Sabtu seharian acara gathering dengan bloggers. Bersiap sejak pagi, dan kelar jelang magrib. Tak sempat lagi duduk-duduk santai, apalagi berenang. Waktu kosong yang ada malah saya gunakan untuk berkumpul dengan rekan bloggers Balikpapan yang main ke hotel, ketemu saya. Sisanya keluar hotel, kulineran di Nam Min dan Kepiting Dandito, dan jalan-jalan ke Mangrove Center Balikpapan.

Dermaga Aston Hotel Balikpapan

Dari sini bisa lihat matahari terbit dan terbenam

View dari lobby hotel

BBQ Time All You Can Eat, Makannya Sop Buntut Mantul

BBQ Time hadir tiap Jumat malam. Pas banget kami berada di Balikpapan mulai hari Jumat, jadi malamnya bisa BBQ-an. Paket makan all you can eat hanya Rp 75.000 / pax. Hidangan menunya memang tidak sebanyak paket dengan harga Rp 150.000,-/ pax, jadi saya bisa mengerti ketika tidak menemukan banyak pilihan.

Malam itu saya BBQ-an dengan cumi dan sosis bakar, didahului dengan makan makanan berat dalam porsi kecil. Sengaja tak terlalu kenyang supaya bisa makan banyak saat Afit sudah gabung makan malam. Iya, sore itu Afit kedatangan blogger yang ingin ngobrol private dengannya, jadi saya duluan masuk resto.

Saya dan Afit dinner dengan Sop Buntut Mantul, menu ala carte yang menurut saya cocok banget dinikmati malam hari. Sedap kuah sop buntut panas, tak hanya membuat perut jadi hangat, tapi juga mendatangkan rasa kenyang yang paten. Sesuai namanya, sop buntut ini memang mantul. Sayangnya porsinya terlalu besar buat perut kecil saya. Padahal sudah dibantu makan oleh Iin dan Afit, tetap sulit dihabiskan karena mereka juga sudah kenyang. Lain waktu jika sedang sangat lapar, saya jamin semangkuk besar sop buntut mantul akan saya lahap dalam sekejab!

Malam syahdu dengan deru angin dan debur ombak, diiringi lagu-lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi. Yak, Jumat malam Aston Hotel bukan hanya hadir dengan BBQ Time, tapi juga dengan live music yang bertempat di T East Restaurant.

3D2N tinggal di Aston, saya hanya 1 kali sarapan, itu pun terburu-buru. Variasi menu sarapan hotel cukup banyak, dan saya senang menu kesukaan saya yang ada di sini enak-enak.
BBQ Time Jumat Malam (6/9/2019)

Sop Buntut Mantul

Bubur Ayam, andalan sarapan kesukaan

ASUS Gathering Balikpapan

Iin memberikan perhatian yang baik pada acara saya, ia punya peran dalam membuat kegiatan ASUS Gathering di Balikpapan terselenggara dengan lancar dan sukses. Tentunya, kesuksesan acara tak lepas dari kehadiran teman-teman blogger Balikpapan yang asyik-asyik dan seru. Mereka lah yang membuat acara jadi meriah dan penuh warna.

Kehadiran Mas David Windra dan Afith melengkapi kemeriahan, membuat acara gathering jadi sempurna.

Makanan yang saya pesan untuk makan siang bloggers memiliki citarasa istimewa, jumlahnya pun tidak kekurangan, malah berlebihan. Pak Gatot Tri Cahyo, Executive Chef Aston Hotel Balikpapan piawai membuat kami menyukai semua makanan yang dihidangkannya.

Tempat acara berada di gedung yang berbeda dengan hotel yaitu Office Tower lantai 16. Gedungnya berjarak kurang lebih 20 meter dari lobby Aston Hotel. Awalnya saya kira beda kawasan, ternyata masih dalam satu komplek Aston. Di sini memang ada 3 tower yaitu hotel, office, dan residence. Jadi kalau ada acara tempatnya beda gedung.

Buat yang lebih suka mengadakan acara di gedung yang sama dengan hotel, mungkin di sini tidak cocok. Tapi percayalah, jarak antar gedungnya sangat dekat. Cukup mengayun langkah selama 1 menit dari lobi hotel sudah sampai di office tower.

Baca juga : ASUS Gathering Balikpapan

ASUS Gathering Balikpapan 7/9/2019
Gedung tinggi di depan sana adalah Office Tower. Foto diambil dari lobby Aston Hotel 
Kawasan Aston Hotel

Jadikan Aston Pilihan Menginap di Balikpapan

Menempati kamar yang memiliki pemandangan ke laut, membuat saya betah berlama-lama berdiri di jendela. Ada satu pemandangan yang cukup lekat dalam ingatan saya, sebuah kota di seberang lautan, namanya Kota Penajam, ibukota Penajam Paser Utara. Ia adalah kota yang belakangan santer dibicarakan sebagai calon ibukota negara RI yang baru.

Saya sudah sedekat ini dengan calon ibukota negara, lantas apa yang saya rasakan? Tak ada, selain muncul sebuah pertanyaan "Seberapa banyak biaya yang diperlukan untuk membangun kota tersebut hingga menjelma ibukota negara?"

Saya tak punya waktu untuk mencari jawaban tersebut. Meskipun ada, tentu akan lama sekali mendapatkan jawabannya. Jadi, saya lebih baik jalan-jalan menikmati Balikpapan. Mengunjungi apa yang belum dikunjungi, mencicipi apa yang belum saya makan, dan melihat apa yang belum saya lihat.

Sabtu malam (7/9) saya kulineran kepiting di Dandito, tempat makan kepiting terenak di Balikpapan. Dari dulu tiap kali ke Balikpapan suami saya tak pernah absen belanja kepiting matang di sini. Entah untuk dimakan di tempat atau untuk dibawa pulang jadi oleh-oleh. Jadi kalau saya sudah di Balikpapan, maka sebagai penggemar berat kepiting, saya akan mati-matian datang ke Dandito! 😂

Teman jalan-jalan di Balikpapan feat. Iin Hermawan tim sales & marketing Aston Hotel Balikpapan (kerudung hitam) 
Makan malam di Kepiting Dandito


Sarapan di Nam Min
Berwisata di Mangrove Center Balikpapan

Hari Minggu (8/9) saya kulineran di Nam Min, Warung kopi dan roti bakar legendaris di Balikpapan. Di sini saya sarapan bubur ikan, roti bakar, dan pastinya menyeruput es kopi susu dalam gelas besar. Nikmat tiada tara.

Siangnya jalan-jalan ke Mangrove Center, makan mie bakso di Depot Bakso, melintasi Kilang Minyak, dan sorenya baru balik ke Jakarta. Terasa sangat singkat karena waktu buat keluyuran cuma setengah hari. Memang harus lebih lama lagi, biar bisa pergi lebih jauh lagi. Bila perlu jalan-jalan sampai ke ibukota provinsi, Samarinda.

Nanti deh semoga bisa balik lagi dengan kegiatan lainnya. Extend lebih lama, biar lebih puas.

Jika suatu hari balik lagi ke Balikpapan, saya tak ragu untuk menginap lagi di Aston Hotel. Rencana berenang di kolam infinity dan duduk-duduk di dermaga menyaksikan matahari terbit/terbenam belum terwujud. Bersantai sembari menikmati makanan terbaik resto juga belum tuntas. Dan pastinya, saya kangen dengan keramahan orang-orangnya :)

Dermaga Aston Hotel Balikapapan
Aston Hotel & Residence Balikpapan


Aston Hotel & Residence Balikpapan
Jalan Jend. Sudirman No. 7
Klandasan Ilir, Kota Balikpapan
Kalimantan Timur
Telp: (0542) 733999

web: www.astonhotelsinternational.com