Berkunjung ke Taman Mas Kemambang Purwokerto, Tempat Rekreasi Keluarga di Tengah Kota

Taman Mas Kemambang - Purwokerto 19 Juni 2022
  

Tak Jadi ke Batu Raden, ke Taman Mas Kemambang pun Bahagia

Dalam susunan kegiatan jalan-jalan di Purwokerto, saya menempatkan Batu Raden sebagai tujuan wisata pertama. Beberapa tempat sudah saya tandai, dan berharap dapat terwujud. Tetapi, situasi membuat rencana berubah. Kegiatan rekreasi akhirnya berlabuh di Taman Mas Kemambang dan Menara Teratai. 

Nama Taman Mas Kemambang mengingatkan saya pada nama taman di Palembang. Yakni Kambang Iwak. Ada kemiripan pada Kambang dan Kemambang. Kambang Iwak itu sendiri secara harfiah berarti kolam ikan. Apakah Kemambang berarti Kolam? Saya tidak tahu, tapi yang pasti sama-sama taman. Sama-sama punya kolam ikan.

Teman saya Pungky yang mengenalkan Taman Mas Kemambang. Katanya, kalau sore enak jalan ke sana aja. Tempatnya asyik buat nongkrong sambil menikmati cemilan dari pondok-pondok jajan. 

Kata-kata Pungky bagai mantra. Saya patuh, lantas memasukkannya dalam kegiatan sore di hari pertama di Purwokerto.  Taman macam apa Taman Mas Kemambang itu? 


Kesorean dan Kehujanan di Taman Mas Kemambang

Sabtu sore tgl. 18 Juni saya berencana ke Taman Mas Kemambang, tentunya bersama keluarga. Tapi apa daya, siang hingga sore itu kami istirahat saja di kamar Hotel Luminor. Memulihkan tenaga setelah semalaman berkendara dari BSD ke Purwokerto yang dilanjut kondangan. 

Setelah berenergi lagi, baru kami pergi. Tapi sudah kesorean. Cuaca cerah sedari pagi sampai siang pun telah berubah hujan tanpa ada tanda berhenti. 

Baca juga cerita kami Menginap di Hotel Luminor.

Namun, hujan tak bikin kami mundur, tetap maju terus ke Taman Mas Kemambang. Kami pergi meninggalkan hotel. Berkendara pelan di bawah langit berawan kelabu. Kota tampak redup seperti suasana selepas magrib. Diiringi hujan yang masih awet. Terasa begitu sendu, syahdu, dan basah. Pertanda bahwa: Ini bukan waktu yang cocok untuk main ke taman! 😅

Dalam remang petang, di bawah guyuran hujan, saya melihat gerbang Taman Mas Kemambang. Desainnya serupa gerbang-gerbang cluster perumahan di BSD. Tampak megah dan memesona.

Saya berpayung menuju loket. Menanyakan apakah masih buka. Katanya masih. Lalu petugas di loket berkata: "Bisa masuk bu, tapi hujan. Paling ibu keliling taman sambil payungan."

"Gak mas, besok aja saya balik lagi." wkwkw. Ya iyalah ngapain di taman hujan-hujanan. Mau foto-foto pun gak bakal dapet apa-apa. Ya udah kami mundur. Sebelum kami pergi, pak security memberitahu ada restoran seafood di belakang, di luar taman. Saya memang niat cari makan sore itu. Tapi arahan pak security saya lewatkan. Saya cari yang lain. Sempat singgah di beberapa rumah makan, dan akhirnya berhenti di Kosek Cak Kholiq, makan bebek ditemani pengamen yang senang sekali diminta nyanyi lagu-lagunya Padi 😂 

HARGA TIKET. Senin-Jumat Anak-anak & Dewasa Rp 10.000 / orang. Sabtu-Minggu & Hari Libur Nasional Anak dan Dewasa Rp 15.000 / orang. Buka jam 9AM - 10PM

Taman di Tengah Kota, Bukan Sekadar Tempat Rekreasi

Saya suka kini banyak taman di tengah kota. Di BSD tempat saya tinggal, sejak lama ada Taman Kota 1 dan Taman Kota 2. Tamannya bersih dan sehat. Selalu ramai dikunjungi warga untuk beragam aktivitas. Banyak pohon di dalamnya, tinggi-tinggi dan rindang. Ada jalan setapak buat berjalan kaki, alat bermain untuk anak, alat olahraga, sarana untuk bermain skate board, pondok jajan dalam satu area, tempat senam. Bahkan di Taman Kota 2, sungainya kini disulap menjadi pedestrian yang sangat indah, bagaikan suasana taman di pinggiran Sungai Cheonggyecheon di Seoul Korea Selatan.

Keberadaan taman kota amatlah penting, sebagai penjaga kualitas lingkungan kota. Gak hanya dalam skala kota, kini tiap cluster perumahan pun punya taman. Warga dalam cluster tak perlu ke taman kota lagi sekedar untuk menikmati suasana asri yang menyehatkan. Di perumahan saya pun ada taman hijau terawat ditumbuhi banyak pohon, bisa dinikmati untuk berolahraga atau duduk-duduk saja.

Berkat penghijauan yang dilakukan, taman menjadi paru-paru kota, penghasil O2. Dapat menyaring debu dan asap kendaraan bermotor, sehingga meminimalisir polusi udara. Dapat menyimpan air tanah, untuk mencegah erosi dan banjir, dan menjamin pasokan air tanah. Juga untuk kelestarian ekosistem, seperti burung.

Taman kota kini bagus-bagus. Termasuk Taman Mas Kemambang yang saya kunjungi. Biaya bikinnya pasti gak murah. Di balik pembuatannya tentu bukan untuk fungsi ekologis saja, tapi juga ada fungsi sosial sebagai tempat komunikasi sosial, bermain, berolahraga, dan rekreasi. 

Ada lagi selain itu, taman juga dapat menambah nilai estetika sebuah lingkungan sehingga menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan,  taman bisa menjadi landmark sebuah kota. Seperti Taman Mas Kemambang ini, bila namanya disebut, orang-orang akan langsung ingat Purwokerto. Dan bila ke Purwokerto, orang-orang akan mendatanginya sebagai bagian dari kegiatan city tour.

Gak heran kenapa Pungky merekomendasikan Taman Mas Kemambang kepada saya. Ternyata, setelah saya masuk dan berkeliling, memang recommended untuk dikunjungi!

Berapa tiket masuknya? Rp 10.000 (weekdays) Rp 15.000 (weekend dan libur nasional). Anak dan dewasa harganya sama. Murah banget kan?

REKREASI di Taman Mas Kemambang. Taman asri untuk rekreasi di tengah kota.

Gerbang Menawan

Taman Mas Kemambang terletak di Jalan Karang Nobar, Glempang, Bancarkembar, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas. Berjarak kurang lebih 2,4 kilometer dari Hotel Luminor yang kami inapi. Waktu tempuh dari hotel kurang lebih 10 menit saja. Sangat dekat dari alun-alun kota.

Gak sulit mencapai Taman Mas Kemambang. Perjalanan lancar. Orang-orang berkendara dengan tertib. Suasana kota juga nyaman, banyak bersihnya. Enak sekali dilihat. 

Saat menuju Taman Mas Kemambang, kami melewati Hotel Java Heritage Purwokerto. Hotel yang ingin saya inapi selama di Purwokerto. Sayangnya untuk tgl. 17 dan 18 Juni saat itu sudah penuh. Karena itu jadinya nginap di Hotel Luminor.

Bagian terdepan Taman Mas Kemambang itu lebar. Di sisi kanan gerbangnya bisa buat parkir mobil. Tapi hanya 1 baris. Di saat ramai pengunjung, saya yakin banyak yang gak kebagian parkir mobil. Ada juru parkir di sana. Begitu sampai kami diminta langsung bayar. Gak ada tarif khusus. Kami bayar saja 10.000,-

Gerbang tamannya cakep. Saya naksir dengan desainnya. Nama taman dibuat ngejreng pakai warna merah, dengan foreground tanaman hijau. Diperkaya dengan desain berbentuk bunga, dipadu padan dengan elemen besi secara seimbang. Sungguh mengundang untuk berfoto. 


Kamera DSLR Tertinggal di Gerbang Taman, TIDAK HILANG

Rasanya, belum afdol ke taman kalau belum berfoto di depan gerbang. Untuk berfoto selama di taman, saya mengandalkan realme 9 Pro+. Bawa kamera DSLR Canon EOS 70D juga sih. Tapi gak dipakai, hanya ditenteng oleh suami. 

Nah, terjadi sesuatu pada kamera DSLR. Tasnya tertinggal di gerbang, setelah kami berfoto. Entah gimana ceritanya sampai tertinggal. Suami melepaskannya dari pegangan, lalu masuk taman begitu saja.

Setelah melewati loket, di belakangnya langsung terpampang kolam ikan, sekaligus tempat bermain perahu bagi pengunjung. Di situ kami duduk-duduk sejenak, menikmati suasana, melihat-lihat ikan di kolam. Tiba-tiba suami berdiri dengan terkejut, sambil meraba-raba badannya. Mukanya serius dan tegang. Lalu berlari menuju gerbang, keluar taman.

"Tas kamera (beserta isinya) ketinggalan di luar," kata Alief. 

Saya terkejut. Tapi tak mau berkata-kata selain melihat ke mana suami berjalan saja. Sambil berharap semoga tas kamera masih ada. Tak lama suami kembali. Dibahunya kini tersandang tas kamera. Ya Allah ketemu. Gak hilang. Padahal di luar saat itu banyak orang lalu lalang dekat gerbang. Masih rejeki! Alhamdulillah.

Di sini belum sadar kalau tas kamera tertinggal di gerbang

Setelah tas kamera ditemukan 😄 Alhamdulillah gak hilang

Main Scooter Listrik 

Main scooter listrik di Taman Mas Kemambang jadi aktivitas paling seru yang dilakukan oleh anak saya Aisyah. Paling bikin dia senang. Paling bikin dia heboh. 

Hal yang paling Aisyah senangi di Taman Mas Kemambang, jadi hal yang paling saya ingat. Memang ya, kesenangan anak itu nomor satu. Karena itu,  di antara semua hal yang saya temui di Taman Mas Kemambang, saya akan cerita soal scooter listrik itu dulu. 

Tempat main scooter gak jauh dari pintu masuk utama. Dari loket ambil jalan di sebelah kanan setelah kolam ikan. Nanti keliatan ada lapangan kecil berbentuk lingkaran. Lapangannya tanpa peneduh. Tapi di pinggir lapangan itu ada beberapa pohon rindang. Paling ujung ada kios souvenir, kios jajan, dan tempat penyewaan scooter listrik. Nah, di situ tempat sewanya.

Harga sewa scooter listrik Rp 20.000 per 15 menit. Setelah 15 menit akan ada tanda berupa bunyi-bunyi di scooter-nya, berarti dayanya mau habis, lalu scooter pun mati. Itu saatnya scooter dikembalikan. Kalau masih mau main tinggal sewa lagi dengan harga yang sama.

Scooternya buat anak kecil sampai remaja. Aisyah dan Alief kan udah termasuk remaja nih, kata mas yang jaga masih boleh pakai. Kalau saya udah gak remaja, udah mama-mama yang udah cocok jadi nenek, tapi aman kalau saya naiki, karena body saya masih kayak remajaaa haha

 

Heboh Scooteran!

Hanya Aisyah yang main scooter. Alief mencoba pakai sesaat, lalu stop. Mungkin merasa udah bukan mainannya lagi. Iya lho udah bujang setinggi 174cm, masa masih main scooter anak 😆

Kami bertiga jadi penonton. Nonton Aisyah yang kegirangan bermain scooter. Mainnya keluar lapangan. katanya gak seru kalau muter-muter di lapangan itu saja. Dia pengen meluncur di sepanjang setapak dalam taman, mengitari kolam. Lalu, heboh sendiri selama scooteran.

"Allahu akbar... allahu akbaaaaar," teriak Aisyah. Tiap meluncur di turunan, pasti teriak gitu. Kenceng banget pula. Pengunjung lain pada nengok liatin Aisyah, dikira kenapa-kenapa. Padahal ya gak ada apa-apa. Mukanya Aisyah dipenuhi rasa senang, tawanya lebar. Dia mentertawakan ketegangan yang dirasakannya.

"Dek, ga usah teriak-teriak kayak gituuu..." kata saya.

"Gapapa Ma, itu ekspresi dia antara senang dan takut jatoh. Bagus dia mengucapkan Allahu Akbar, bukan kata-kata....." ucapan suami saya terputus dipotong Alief.

"Iya daripada nyebut anjay, buseeeet, gilaaaak..." sambung Alief.

Bener sih. Semestinya begitu, dan udah bagus begitu. Saya sebenarnya bukan protes ucapan Allahu Akbarnya, tapi suaranya, minta diturunin dikit volumenya. Gimana kalau bermain ski di meluncur di atas salju ya, bisa membahana teriakannya😁 

Saya lihat cuma Aisyah yang scooteran di taman. Yang lainnya di area bermain scooter saja, di lapangan dekat penyewaan. Aisyah mainnya gak mau sebentar. Kami biarkan dia berlama-lama, hanyut dalam keasyikan bermain scooter.

Alief duduk-duduk santai. Suami sibuk motret Aisyah. Saya motret mereka dan suasana di taman.



Musala di Tengah Taman

Saya selalu kagum sama pengelola hotel/mall/fasilitas publik yang meletakkan musala di tempat yang baik. Di Teras Kota BSD, dulu musalanya berada di lantai dasar mall, satu deret dengan resto-resto ternama. Desain dan fasilitas musalanya pun bagus. Sangat bersih & nyaman. Bahkan mendapat penghargaan sebagai mushola mall terbersih di Tangsel. 

Padahal Teras Kota itu bukan mall besar. Tapi pengelola menempatkan musala di tempat yang baik. Bukan di basement, atau malah di lantai teratas di pojokan sempit dan gelap. Sekarang, Teras Kota punya masjid di lantai 3, persis di samping bioskop CGV. Luasnya hampir seperempat lantai 3 gedung Teras Kota. Sederet sama bioskop lho. Bukan di pojokan bioskop.

Saya pernah menginap di Edensor Hills Villa & Resorts. Musalanya justru paling depan. Depan resto, dekat front office. Ukurannya cukup besar, bisa salat berjamaah 3-4 saf. Kondisinya sangat bersih dan nyaman. Mudah diakses dari luar maupun dalam.

The Brezee BSD juga menempatkan musala di tengah, pada suatu gedung yang dikelilingi restoran-restoran ternama. Luas, bersih, dan sangat nyaman. Bukan di belakang di pojokan sepi dan jauh.

Di ibukota negara, hotel bintang 4 dan 5 bergedung megah dan menjulang, masih ada yang menempatkan musala di basement yang pengap. Atau di lantai tinggi yang jauh. Untuk mencapainya mesti muter lorong sana sini dengan penerangan yang minim. 

Nah, di Taman Mas Kemambang ini saya acung jempol sama desainer taman. Musala diletakkan di tengah taman. Bangunannya gak megah dan mewah tapi menonjol. Mudah dilihat dari sudut mana pun. Berdinding kaca sehingga terang benderang. Terbuka di bagian atas sehingga sirkulasi udara sangat bagus gak bikin pengap dan kepanasan. Tinggal ditutupi dikit tempat wudhunya, supaya perempuan bisa wudhu tanpa repot menutupi aurat.


Kios Jajan Penambah Estetika 

Orang-orang kalau main ke taman seringnya pengen sambil makan dan minum. Duduk-duduk santai sambil menikmati cemilan yang dibawa. Tapi di sini, dilarang bawa makanan dan minuman dari luar. Kalau butuh cemilan tinggal beli di dalam. Ada banyak kios jajan yang bisa dituju untuk belanja cemilan.

Buat saya, aturan macam itu sangat bagus. Di beberapa fasilitas rekreasi yang pernah saya datangi di kota lain, aturan ini diberlakukan ketat. Tujuannya bukan buat menyusahkan pengunjung. Tapi ada guna lain untuk kepentingan bersama.

Ntar kalau bebas bawa makanan, bisa-bisa ada yang bawa rantang sambil gelar tikar makan di taman. Ada kemungkinan jadi kotor, ganggu orang berkegiatan di taman, dan pastinya mengurangi keindahan dan estetika taman. Udah paling bener jajan aja di taman, buat bantu ekonomi pedagang juga kan.

Pengelola taman tak sembarang menyediakan kios jajan. Tampak betul dirancang dengan baik. Pondok jualan didesain menarik dengan warna-warni ngejreng, bak bathing box di Brighton Beach Melbourne.




Jajan Makanan dan Souvenir

Aktivitas yang bisa dilakukan di Taman Mas Kemambang ini terbilang lengkap. Saya merasa benar-benar diajak rekreasi. Selain nyaman untuk bersantai, mengenyangkan untuk jajan, juga menyenangkan untuk bermain dan belanja-belanji souvenir. 

Makanan dan minuman kemasan pabrik tersedia. Kuliner khas daerah pun ada. Makanan ringan maupun agak berat juga bisa didapat. Harganya standar kok, sama kayak di minimarket. Gak ada dimahal-mahalin aji mumpung mentang-mentang di tempat rekreasi. Jadi gak ada alasan untuk menolak aturan tidak boleh bawa makanan dan minuman dari luar.

Untuk souvenir khas di sini kita bisa beli produk kerajinan sulam, rajut, ecoprint, tas kanvas, homedecor, hingga kerajinan lukis. Buat apa beli produk itu di taman? Buat saya sebagai pendatang gini, ya buat oleh-oleh bisa, buat kenang-kenangan dipakai sendiri bisa, buat bantu perekonomian dan UMKM juga bisa. Bermanfaat kok.

Saya selalu memandang positif pedagang yang berjualan di taman. Selama pengelola taman memfasilitasi tempat yang baik untuk mereka. Gak akan membuat taman jadi kumuh dan berantakan. Seperti di Taman Mas Kemambang ini, kios belanja malah jadi elemen yang berguna untuk menambah estetika dan fungsi ekonomi.  





Puluhan Ribu Ikan di Kolam, Sebuah Tips Untuk Bahagia

Konon, bila ingin merawat kesehatan mental, salah satunya dengan rutin melihat ikan berenang. 

Beberapa studi menemukan fakta bahwa melihat ikan berenang di akuarium dapat mengurangi stres dan perasaan cemas, menenangkan diri, dan menurunkan denyut jantung serta mengendurkan ketegangan otot.

Semakin banyak ikan, maka semakin membaik suasana hati orang yang melihatnya, dan orang-orang tersebut menjadi bahagia. Seberapa banyak ikan di Taman Mas Kemambang? Puluhan ribu!

Menurut informasi yang saya dapat di akun IG resmi @tamanmaskemambang,  puluhan ribu ikan nila yang ada di kolam ikan Taman Mas Kemambang seluas 4 hektar ini, bibitnya ditabur oleh bapak bupati Banyumas, Ir. Achmad Husein @ir_achmadhusein dan kepala dinas perikanan dan peternakan kab. Banyumas, Ir. Sulistiono M.Si.

Ikan sebanyak itu tersebar di kolam paling depan, sampai kolam paling belakang. Mau lihat tinggal mendekat. Cukup berdiri di pinggir kolam. Gak usah pakai nyebur. Ya kali mau berenang bareng ikan wkwk. Kami tentu tak melewatkan liat-liat ikan. Meskipun cuaca sedang terik, matahari sedang garang-garangnya, keasyikan kami menonton ikan-ikan berenang tak terusik.

Keren banget kan Taman Mas Kemambang ini. Tawaran untuk sehatnya bukan cuma untuk badan tapi juga untuk mental dan pikiran. Lewat beragam fasilitas, termasuk ikan-ikan di kolam.

Saya suka melihat ikan berenang. Bukan karena sakit mental, tapi karena memang ada keindahan yang bisa ditemukan di sana. Melihat yang indah-indah itu menyenangkan. Rasa senang bikin bahagia. Kalau udah bahagia, apa aja yang dilakukan jadi serba positif. 

Apa cuma di akuarium dan kolam buat liat ikan? Gak lah ya, di laut juga bisa. Makanya saya kalau main ke pulau gak melewatkan snorkeling, karena memang semenyenangkan itu liat ikan berenang. Apalagi langsung di habitatnya. Luar biasa, double bahagia.

Pondok Istirahat Tempat Berteduh

Dari tadi saya banyak sebut panas, karena siang itu cuaca memang panas banget. Saya saranin banget kalau ke Taman Mas Kemambang bawa payung atau pakai topi. Kalau nggak mau silau pakai kaca mata hitam juga. 

Nggak peduli datang jam berapa, pokoknya bawa kalau mau selamat dari sengatan matahari. Pakai sunblock bukan cuma buat ke pantai. Ke tempat mana pun di siang hari, apalagi outdoor juga kudu pakai. Senang-senang boleh, tapi jangan sampai kulit jadi bermasalah.

Jam 8 pagi saja sudah terang benderang dan panas. Apalagi siang sampai sore. 

Pohon tinggi dan rindang banyak di bagian depan. Kita bisa duduk-duduk tanpa kepanasan. Tapi kalau sudah berjalan ke belakang, di sana masih kurang pohonnya. Saya lihat sudah ada pohon ditanam tapi belum tinggi karena masih baru.

Tapi tenang, taman ini sudah dirancang untuk bikin pengunjung betah. Pondok-pondok untuk berteduh sudah disediakan. Semuanya gratis. Silakan duduk di mana saja asal tidak rebutan dan bikin kotor.

Ada satu gazebo besar dengan banyak bangku di dalamnya. Selama bangku-bangku itu kosong bebas diduduki oleh siapa saja. Ada tujuh gazebo kecil bederet menghadap taman. Di dekatnya ada kios-kios jajan. Selama duduk di situ kita bisa sekalian menikmati suasana ditemani aneka cemilan beli di kios.

Ada pula deretan pondok mirip cottage. Saya kira tadinya itu penginapan. Tapi kata Pungky bukan. Nantinya sih akan ada. Bagus juga kalau ada ya. Jadi ada pilihan baru buat menginap di Purwokerto, menginap dalam taman. Kan keren tuh segala fasilitasnya udah ada. Udah berasa kaya di villa.

Saya selama di sana gak duduk-duduk lama di gazebo. Sibuk jalan liat anak main scooter, dan liat isi taman sambil foto-foto.  Pastinya pakai topi, biar muka gak gosong 😃





Semoga Keindahan Taman Terjaga

Taman Mas Kemambang ini masih baru. Saat saya ke sana pada bulan Juni umurnya baru dua bulan. Sama muda dengan Menara Teratai yang saya kunjungi berikutnya.

Banyak kesan baik yang saya dapat. Soal kebersihannya, sangat membuat nyaman. Sejak dari depan gerbang, sampai masuk hingga ke belakang. Seluruhnya bersih. 

Bisa bersih, tentunya berkat semua orang, para pengelola dan kesadaran para pengunjung. Semoga selalu seperti itu. Bukan hanya karena masih baru. 
Tempat sampah bagus sudah bederet, semoga taman senantiasa bersih

Tempat sampah banyak, ada di beberapa titik strategis. Wastafel pun mudah ditemui. Ada di tiap kios jajan. Abis jajan bisa langsung cuci tangan, sebelum pegang makanan dan minuman. Air di toilet lancar. 

Taman bersih dan rapi pasti disukai. Hal paling penting untuk dimiliki. Meskipun tiketnya murah, semoga gak menurunkan kualitas yang sudah dimiliki. Seringkali orang rela bayar mahalan, asalkan nyaman. 

Tapi tentu, penting juga buat pengunjung. Jangan mentang-mentang tiket masuknya murah, lantas semaunya gak mau ikut merawat dan menjaga. Jangan tinggalkan apapun di taman kecuali kenangan. Jangan ambil apapun kecuali gambar.  


Saya senang mengunjungi Taman Mas Kemambang ini. Mengetahui keberadaannya, menambah kekaguman saya pada Purwokerto. Kota yang membuat saya betah sejak pertama kali menjejakkan kaki.

Semoga bila saya kembali ke Purwokerto, Taman Mas Kemambang tetap seindah yang pernah saya lihat. Syukur-syukur bila kelak lebih indah lagi. Lebih teduh, dan sudah ada kafe/resto, serta penginapan 😁

Terima kasih telah membaca. 

Sampai bertemu lagi di tulisan Purwokerto lainnya, tentang kuliner dan Menara Teratai 💚

Kondangan Sambil Jalan-Jalan di Purwokerto, Menginap di Hotel Luminor

Hotel Luminor Purwokerto

Bulan Juni 2022, untuk pertama kali saya berkunjung ke Purwokerto, Jawa Tengah. Tujuan utama ke sana buat kondangan, tapi kemudian sekalian sambil jalan-jalan.

Yang nikahan rekan satu tim suami di kantor. Anak buah sih sebenarnya, tapi saya selalu kurang nyaman sebut anak buah. Anak atau rekan saja sebutnya. Nah, suami saya sebagai "bapaknya anak-anak", kondangan ke tempat jauh pun dijabanin. Buat mendoakan langsung si anak, katanya.

Perhatian dan sayangnya suami ke rekan kerja bukan pada satu orang saja. Kepada yang lainnya juga. Kebetulan di bulan Juni itu ada dua karyawan yang menikah. Satunya di Purwokerto, satunya lagi di Cilegon. Waktunya cuma beda seminggu. Keduanya semua sama didatangi. Cerita kondangan edisi Cilegon bisa dibaca di sini: Ada Taman Rusa di Sari Kuring Indah, Tempat Pernikahan di Cilegon.

Kondangan dua pernikahan di bulan Juni. Bulan di mana saya dan suami juga pernah di kondangi, 20 tahun yang lalu. Mungkin kenangan akan indahnya Juni bagi kami, membuat suami jadi lebih bersemangat untuk hadir. Mungkin yaaa. Saya nggak nanya. Tapi suami memang keliatan happy. Wajahnya berseri-seri saat hendak mengajak serta saya dan anak-anak ke Purwokerto. 

Alhamdulillah semua setuju. Semua berangkat ke Kota Purwokerto. Kota yang mengingatkan saya pada seorang mantan pacar asal Purwokerto, saat saya berusia 20an wkwkw. Duh!

Selamat menikah 😍

Hotel Luminor Purwokerto

Acara pernikahan diadakan hari Sabtu tgl. 18 Juni 2022. Kami berangkat sejak Jumat tgl. 17 Juni. Saya memesan kamar di hotel Luminor Purwokerto untuk 3 hari 2 malam. 

Luminor merupakan salah satu dari lima hotel bintang empat di Purwokerto. Kata Pungky tak ada bintang 5 di sana. Bintang 4 udah paling tinggi. Oh begitu. Ok!

Mulanya Pungky merekomendasikan Java Heritage Hotel dan Aston Imperium. Setelah ceki-ceki, saya sreg dengan Java Heritage, kamarnya begitu mewah dan elegan. Sayangnya untuk tanggal yang saya pilih sudah full booked. Pungky juga merekomendasikan hotel Wisata Niaga Campus. Semua yang direkomendasikan Pungky saya cek. Tapi akhirnya malah jatuh hati pada Luminor Hotel, yang ternyata Pungky sendiri pernah jadi model untuk promosi hotel itu. Tapi malah kelewat direkomendasikan ke saya haha.

Btw, Pungky blogger, rekan saya dalam satu komunitas BLUS. Tinggal di Purwokerto. Karena itu saya menghubunginya untuk keperluan selama di Purwokerto. Mulai dari nanya info hotel, tempat makan, dan tempat wisata. Pungky memang tepat buat tempat bertanya, karena pekerjaannya saat ini bergelut di bidang wisata. Udah jadi influencer pariwisata, kerjanya juga seputar wisata. Top banget kan. Saya bangga pada Pungky. Dukung Pungky untuk 2024 yang cemerlang! #lho 😅

Sebelum saya cerita soal hotel Luminor, saya cerita dulu mengenai perjalanan kami ke Purwokerto. 

Luminor Hotel Purwokerto
  

Berangkat Malam, Alief Menyetir

Rencananya, kami akan berangkat dari BSD Jumat pagi tgl. 17 Juni. Supaya Jumat sore sudah berada di Purwokerto. Saya sudah menyusun jadwal untuk malam harinya. Makan di mana, dan ngapain aja. Tetapi, mendadak suami ada pekerjaan penting yang tidak bisa diundur. Sehingga jadwal perjalanan kami lah yang harus diundur. Akhirnya kami berangkat Jumat pukul 10 malam.

Perkiraan waktu tempuh kurang lebih 7 jam. Subuh sudah sampai di hotel. Ternyata, hampir 10 jam perjalanan dan kami tiba keesokan pagi. 

Perjalanan berkendara mobil dari BSD ke Purwokerto memang tidak dekat. Alhamdulillah ada jalan tol yang memudahkan sehingga lebih cepat. Suami menyetir santai, bergantian dengan Alief bila mengantuk.

Yak, saya senang kali ini suami sudah ada supir pengganti. Biasanya selalu nyetir sendiri. Meskipun saya bisa nyetir, tapi untuk perjalanan jauh luar kota saya belum berani buat menggantikannya. Kalau dalam kota saja masih ok. 

Kali ini ada Alief yang sudah 2 tahun lihai menyetir. Walau SIM A nya baru ada tahun lalu, saat usia 18 tahun. Alief memang kami kasih bertahap untuk urusan SIM. Sim C pas umur 17 tahun. SIM A pas umur 18 tahun. Dengan SIM nya itu, serta pengalamannya sudah nyetir ke banyak tempat di Jabodetabek, dia sudah bisa diandalkan buat gantikan papanya nyetir. 

Perjalanan nyetir jauh pertama Alief waktu kami mudik ke Palembang bulan Mei. Dia nyetir Honda BRV di jalan tol Lampung sampai Palembang. Yang kedua ya pas ke Purwokerto ini, pakai Avanza. Waktu kami mudik Januari 2021 pakai Inova, Alief sudah bisa nyetir. Tapi saat itu belum punya SIM A. Jadi tidak kami ijinkan, sesuai aturan mengemudi. 

Beda kota tujuan beda pula kendaraan yang dipakai bukan tanpa maksud, melainkan untuk memperkaya pengalaman Alief nyetir. Di usia kami yang makin tua dengan tenaga yang gak akan selamanya prima,  Alief akan kami andalkan untuk membawa kami jalan ke mana-mana.

Pemandangan pagi di Brebes, Jawa Tengah. Memotret dari dalam mobil yang terus melaju. 

Salat Subuh dan Makan Ayam di Rest Area 

Berkendara malam membuat saya tak bisa menyaksikan pemandangan yang dilalui selama perjalanan. Tetapi keindahan tetap ada meski gelap menyembunyikannya. Setidaknya masih ada cahaya lampu di gedung-gedung kota, di pinggir jalan tol, di pedesaan sunyi, dari mobil-mobil yang bergerak beriringan, bahkan kerlip bintang di langit tinggi yang tak terjangkau, yang bisa dinikmati mata selagi belum terpejam dikalahkan kantuk. 

Kami baru berhenti saat salat subuh. Di sebuah rest area yang sangat ramai. Saya tidak ingat lokasi rest area itu di mana. Tapi yang pasti sudah berada di Jawa Tengah. 

Rest area nya luas. Tapi parkirannya saat itu penuh. Tempat salat penuh. Tempat wudhu dan toilet penuh. Mengeluh karena penuh? Oh tentu tidak. Justru senang. Penuhnya masjid dan tempat wudhu itu mengagumkan. Indah rasanya melihat orang-orang tidak meninggalkan salat, meski dalam perjalanan yang melelahkan. 

Usai salat terbitlah lapar. Ada banyak pilihan resto di sana. Kafe dan warung kecil pun bederet. Tapi anak-anak maunya makan ayam. Suami pergi ke restoran ayam terkenal. Dibelinya 4 paket nasi+ayam. Kami makan saat itu juga, bekal tenaga untuk perjalanan yang masih lama sampainya. Kok lama? Yak, dari aplikasi Google Maps, tujuan kami masih perlu waktu kurang lebih 4 jam lagi untuk sampai, udah sama kayak menempuh jarak dari BSD ke Bandung😅

Di sini jalannya tidak mulus. Berlubang dan berbatu. Padat dan agak tersendat. Banyak truk. Untunglah pemandangan kiri dan kanan jalan seperti ini. Jadi nggak membosankan

Saat foto ini diambil, kami sudah di wilayah Purwokerto

Matahari Terbit dan Pesona Pagi

Matahari pagi terbit dengan begitu indah. Posisinya di depan agak ke samping kiri mobil. Membuat kami seolah berkejaran dengan si bulat yang mulai memerah. 

Masih di jalan tol saat itu. Pemandangan sawah berlatar bukit-bukit yang seolah bertumpuk, dengan matahari yang bersinar mulai naik, indah bagai lukisan. Saya sungguh terpesona. Hingga lupa memotretnya. Memang, ada kalanya mata dan hati khusyuk saja menikmati, abai pada urusan foto. Di lain waktu, sibuk motret, dengan kenikmatan yang berbeda. 

Keindahan pagi itu terekam dalam memori jiwa, dari dalam mobil yang terus bergerak.

Setelah berjam-jam berkendara di jalan tol, akhirnya kami keluar dan menyusuri jalan biasa. Bertemu dengan jalan yang gak selalu mulus. Kadang berbatu, berlobang, dan sempit penuh debu. Melewati sawah dan ladang, serta pedesaan yang asri, kadang gersang. 

Sepertinya, berkendara dengan kondisi seperti itu, memicu rasa lapar. Meski sudah sarapan di rest area, perut rasanya minta diisi lagi. Bekal cemilan yang sudah berkali-kali dimakan akhirnya habis. Harapannya tentu saja, sampai hotel nanti langsung sarapan sampai kenyang. 

Hotel Luminor Purwokerto

Bayar 2 Malam, Diinapi 1 Malam

Alhamdulillah Allah mudahkan perjalanan kami, sehingga bisa sampai dengan selamat di Hotel Luminor Purwokerto dalam keadaan sehat semua. Meskipun durasi perjalanan jadi begitu panjang, hampir 10 jam lamanya, tak jadi masalah. Namanya perjalanan, gak selalu sesuai rencana.

Dari awal juga udah meleset dari jadwal. Harusnya berangkat Jumat pagi, baru berangkat Jumat malam. Harusnya bisa tiba di hotel subuh, sampainya udah jam setengah sembilan lewat. 

Akibat meleset dari jadwal inilah kamar yang saya pesan buat 2 malam, akhirnya 1 malam gak ditiduri. Kamarnya bayar doang tapi gak dipakai haha. 

Saya pesan Deluxe Family Room yang luasnya 21 sqm. Ada tipe suite yang lebih luas berukuran 39 sqm, bisa buat berempat, tapi kamar mandinya terbuka. Masa iya sama anak-anak di kamar seperti itu. Ini bukan acara honeymoon beb haha. 

Tarif Deluxe Family Room Rp 580.000 permalam. Saya tadinya mau pesan hotel berbeda untuk malam berikutnya. Makanya pesan 1 malam saja di Luminor. Eh abis itu berubah pikiran, mau di Luminor saja biar gak pindah-pindah. Makanya di Traveloka pesanan saya jadi 2 kali. Yang satu kali saya beli pakai voucher, lumayan dapat potongan 300 ribu. Nah, pas gak jadi ditempati 1 malam, gak merasa rugi-rugi amat karena bayarnya cuma 280 ribuan haha.

Pesan kamar 2 malam tgl. 17 & 18 Juni di Luminor Hotel via Traveloka. Hanya 1 malam ditempati 😂

Datang Langsung Sarapan

Saya aktif berkomunikasi dengan pihak hotel untuk mengabarkan waktu kedatangan. Supaya mereka tahu posisi kami sudah di mana. Supaya bisa menyiapkan keperluan kami setibanya di hotel. Misalnya untuk sarapan dan check-in.

Alhamdulillah sampai di hotel security di depan langsung sigap membantu. Proses check-in juga sangat mudah dan cepat. Setelah itu kami pun langsung dipersilakan ke restoran untuk sarapan. 

Saya tuh ya, jalan ke Purwokerto cuma berempat, dan hanya tiga hari dua malam. Tapi bawaannya banyak! Kayak udah mau nginep seminggu haha. Makanya pas sampe, kebantu banget sama bapak security yang langsung sigap nurunin semua barang.


Menu Sarapan Beragam dan Banyak!

Saya kira bakal tiba di hotel selepas jam sarapan tutup. Yakni jam 10. Alhamdulillah ternyata waktu satu setengah jam lagi. Kami masih sempat sarapan di hotel. 

Seandainya telat pun, pihak hotel yang berkomunikasi dengan saya via Whatsapp mengatakan mereka akan bantu menyiapkan sarapannya dengan cara diantar kamar. Jadi kami tetap akan dapat sarapan. Ya iyalah ya, kamar udah gak ditempati, masak gak kebagian sarapan juga haha. 

Misalnya gak kebagian pun, ya sudahlah. Anggap saja belum rejeki. Tinggal pergi sarapan keluar. Dekat hotel banyak tempat makan. Malu lah ribut ama hotel cuma masalah sarapan wkwk. Tapi orang di hotelnya baik kok. Gak sampai kayak gitu. Kami yang baru tiba dengan segala rasa lelah, jadi senang mendapatkan keramahan para staf yang menyambut.

Saya sempat mengira Luminor itu masih hotel bintang 3 dengan menu sarapan yang masih terbatas. Ternyata, wow menunya banyak dan lengkap. Udah sama kayak di hotel bintang 4. Ternyata setelah saya cek Luminor memang sudah bintang 4 euy. Pantesan menu sarapannya beragam dan melimpah. Bikin sarapan di Luminor jadi puas.

Pagi itu saya sibuk makan. Bukan sibuk foto-foto. Baru sampe lho. Mana ada mikir foto-foto wkwk. Sarapan hari kedua baru sempet motret. Itu pun motret punggung tamu lain yang sedang makan haha. Gak mikirin foto-foto makanan lagi, berburu waktu soalnya, mau pergi jalan-jalan ke Taman Mas Kemambang dan Menara Teratai. Soal ini nanti saya ceritakan di lain tulisan.

Suasana saat sarapan. Maaf cuma motret punggung orang lagi makan wkwk

Kamar Nyaman Tanpa Pemandangan

Usai mengobati lapar dan dahaga, saya dan suami bersegera ke kamar. Mau mandi dan bersiap untuk pergi kondangan. 

Alief dan Aisyah minta istirahat. Tidak ikut kondangan. Ok, saya nggak maksa. Jadi tak apa kalau mereka tak ikut. Toh yang penting suami yang hadir. 

Kamar kami di lantai 8. Paling tinggi. Seharusnya bisa lihat suasana kota, tapi ternyata jendela kami menghadap ke punggung mall wkwkw. Ketutup sudah pemandangan lainnya. Saya kemudian jadi tak tertarik lagi melihat keluar. 

Berikut penampakan kamar Deluxe Family yang saya tempati. Cukup bagus, bersih, dan lengkap. Standar bintang 4 lah ya. Walau suara-suara dari sebelah dan luar (orang berjalan/bicara di lorong) kedengaran. Dengan king size bed, masih ada space yang cukup luas buat salat berjamaah berdua. Masih muat pula buat 1 extra bed.
KUNCI KAMAR. Manis sekali bunga-bunga

Deluxe Family Room Hotel Luminor 

View Menara Teratai

Di luar kamar di ujung lorong dan depan lift ada dinding kaca, bisa buat liat view. Tapi ya itu tadi, view-nya cuma rooftop dan punggung gedung yang lebih pendek dari Luminor.

Lalu ada yang saya sesali di hari terakhir di hotel, ternyata di ujung lorong arah berlawanan menuju lift itu ada pemandangan Menara Teratai! 

Wuaaaah saya kesel banget tahunya telat. Padahal ya, kalau mau lihat cantiknya Menara Teratai itu justru di malam hari. Indah karena warna-warni cahaya lampunya. Dan itu bisa disaksikan dari lorong kamar lantai 8 tempat kamar saya berada. Huhuhu mau garuk-garuk tembok rasanya. Kesel bener wkwk.

Masa mesti nambah satu malam lagi cuma demi liat Menara Teratai di malam hari dari ketinggian? Ya gak lah. Ada yang lebih penting dari pada itu. Yakni suami Senin masuk kerja. Makanya harus pulang. Bye ajalah view Menara Teratai haha.

Kembali ke acara kondangan...

Saya bergerak cepat menyiapkan baju kondangan. Suami mandi dengan cepat, mengikuti irama gerakan saya yang was wus was wus. Selagi suami mandi, saya selesai menyeterika 1 celana panjang, 1 kemeja, 1 kulot panjang, 1 outer. Semua hasil setrikaan saya gelar di atas kasur, siap untuk dipakai.

Keluar kamar mandi suami terperangah: "Mama bawa setrikaan?" wkwkw. Kayak gak hafal aja kalau istrinya ini serba siap dalam hal apa saja.

Dinding kaca di ujung lorong kamar. View Menara Teratai. Nyesel baru tahu pas mau check-out 😂

MENARA TERATAI. Difoto dari lantai 8 Luminor Hotel. Lantai tempat kamar kami berada. Sayang banget telat tahu. Padahal buat ambil foto malam bagus di sini.

Bahasa Jawa dan Petunjuk Arah Pakai Mata Angin

Kami berdandan serapi mungkin. Melenyapkan kekusutan yang didapat setelah 9 jam lebih perjalanan. Berganti kinclong, kelimis, dan amat manis hihi. 

Anak-anak kami tinggalkan di hotel. Berdua saja kami meluncur ke lokasi acara yang ternyata kurang lebih 3-4 kilometer saja dari hotel. Dekat amat ya. Mana jalannya gak macet, jadi cepat.

Tapi, pas masuk-masuk jalan kecil, kami mulai kebingungan. Mbak-mbak di aplikasi Google Maps gak bisa diajak bicara. Bisanya cuma ngomong sendiri nyuruh belok kanan belok kiri padahal jalan buntu hahaha. Ya udah akhirnya nanya sama penduduk. Petunjuknya pakai nama arah mata angin, dan pakai bahasa Jawa. Wadauuuu...saya tidak paham. Untungnyaaa punya suami ngerti bahasa Jawa karena memang orang Jawa.

Kalau di bahasa Indonesia-kan kira-kira gini artinya:
"Dari sana itu belok kiri, lurus terus arah utara, trus belok kiri, rumahnya sebelah timur.."

Bapak dan ibu mertuaku memang asli Jawa, asal Kebumen, Jawa Tengah. Walau suamiku dan adik-adiknya lahir di Padang, besar di Jakarta, suami pernah kuliah di Palembang, bahasa Jawa itu kadang masih diucapkan oleh ibu dan alm bapak. Jadi, dikit-dikit suami masih ngerti. Menimpali pun masih bisa, pakai bahasa Jawa halus. Emang Jawa kasar kayak mana? 🤔 
PAYUNGAN DI KONDANGAN. Payungan di depan venue acara pernikahan. Saking panasnya!

Matahari benar-benar terik. Keluar dari tempat acara langsung payungan

Hari Itu Purwokerto Panas Sekali

Alhamdulillah kegiatan utama ke Purwokerto, yakni kondangan, dapat terlaksana. Saya dan suami bisa hadir menemui pengantin. Lega rasanya. 

Di bawah tenda cantik bertabur hiasan bunga, di pelaminan yang didekorasi dengan indah, sepasang pengantin sumringah menyambut para tamu. Kedua orang tua pengantin tak kalah bahagia, senyum teruntai tiada henti, sembari mengucap terima kasih karena telah turut mendoakan pernikahan putra putri mereka. 

Saya dan suami diajak foto bersama pengantin, diapit oleh orang tua mereka. Momen ini jadi penanda telah terjalinnya sebuah silaturahmi. Tak ada yang lebih menyenangkan selain bikin orang lain merasa senang. Senang karena dihadiri dan didoakan. 

Usai menikmati hidangan dan menyaksikan kebahagiaan kedua mempelai kami berpamitan. Orang tua pengantin berkali-kali mengucap terima kasih karena kami telah datang dari jauh. 

Dari perusahaan tempat pengantin laki-laki bekerja, memang cuma suami satu-satunya yang hadir. Tetapi bukan berarti yang lain tidak ikut mendoakan, karena ada papan bunga ucapan selamat menikah yang dikirim ke venue acara, simbol ucapan selamat dan doa untuk mempelai, dari perusahaan, mewakili segenap karyawan. 

Alun-Alun Purwokerto

Masjid Raya Purwokerto

Objek Wisata di Pusat Kota 

Cuaca sangat terik. Sinar matahari terasa amat tajam menusuk kulit. Cahayanya bikin silau. Saya tak bawa kaca mata hitam. Berkali-kali jadi memicingkan mata. Topi ada, tapi masa topian ke kondangan hihi. Jadi, saya hanya mengandalkan payung. Masuk venue acara payungan. Saat keluar langsung payungan lagi. 

Selepas kondangan kami kembali ke hotel Luminor. Kebetulan hotel dekat dengan alun-alun Purwokerto. Saat melewatinya kami berhenti. Beli makan dan bermaksud hendak foto. Di situ ada kedai ramen dan bento, saya beli buat Alief dan Aisyah. 

Karena kedainya menghadap alun-alun, jadilah saya berfoto sejenak. Meski cuaca sangat panas, saya coba bertahan. Demi foto wkwkw.

Dekat alun-alun ada masjid raya Purwokerto, saya sempat memotretnya, meski tidak mendekat, apalagi masuk.

Setelah itu kami kembali ke hotel. Tapi tak lama kami berhenti lagi saat melewati Jembatan Bung Karno. Kalau kata Pungky, masyarakat setempat sebutnya Jembatan Tesda. Nah, jembatan ini tuh unik, dari bentuknya yang gak biasa terlihat menarik dan ikonik. Saya jadi pingin foto di situ. 
Jembatan Proklamator
Menara Teratai

Foto Berduaan di Jembatan Proklamator

Lokasi Hotel Luminor yang saya inapi memang sangat strategis. Dekat alun-alun, masjid raya, mall, dan dekat pula dengan kawasan Bung Karno yang digadang-gadang bakal jadi ikon kota Purwokerto. Kenapa? 

Pasalnya di kawasan Bung Karno itu terdapat beberapa objek wisata yang pada tanggal 6 Juli 2022 lalu baru diresmikan oleh Ketua DPR Republik Indonesia, Ibu Dr. (H.C) Puan Maharani. Peresmian meliputi Menara Teratai, Convention Hall Putra Sang Fajar, Jembatan Proklamator, dan Madhang Maning Park.

Berarti waktu saya dan keluarga berkunjung ke Menara Teratai pada hari Minggu tgl. 19 Juni lalu, menaranya belum diresmikan. Wah, jadi enak nih duluan nganyari. Tapi memang keren sih menaranya. Kami naik sampai rooftop, bisa liat pemandangan kota Purwokerto dengan sudut pandang 360°. 

Saya dan suami juga sudah sempat foto-foto di Jembatan Proklamator. Ya, Proklamator nama jembatannya. Karena berdua saja, kami berfoto pakai tripod. Orang-orang yang lewat melihat ke arah kami. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka liat suami istri siang-siang di jembatan 😂

Foto duaan, mengenang Juni 20tahun yang lalu. Sebagaimana jembatan, menghubungkan dua tempat menjadi satu. Semoga pernikahan yang menjadikan dua orang bersatu dalam ikatan suci, bersama selamanya, dalam bahagia, sebumi seSurga-Nya. Aamiin.  


Dua hari saja di Purwokerto. Kami berkeliling kota. Makan dan berwisata, bahkan ketemu Pungky segala di Menara Teratai. Memang janjian sih. Tentunya sangat berterima kasih pada Pungky, sudah banyak bantu info soal hotel, objek wisata, tempat makan, sehingga kami bisa mengisi waktu dengan menyenangkan selama berada di Purwokerto. 

Saya tadinya pengen ajak keluarga jalan-jalan ke Baturaden. Makan di Taman Langit, dan pergi ke curug. Tapi situasi berubah, waktunya gak cukup karena sore kami harus segera berangkat pulang supaya tidak terlalu malam sampai BSD. Supaya Mas Arif bisa istirahat cukup di rumah sebelum kembali bekerja pada Senin hari.

Kegiatan kuliner kami makan bebek di Kosek Cak Kholig. Makan nasi rames di Warung Makan Mbak Neni. Makan soto Sokaraja di Raja Soto Lama. Masing-masing ada ceritanya, seru dan menarik untuk dituliskan.  

Untuk kegiatan city tour kami hanya berkunjung kedua tempat yang sama-sama masih baru, saat itu belum 2 bulan umurnya. Yakni Taman Mas Kemambang dan Menara Teratai. Kedua tempat itu sama asyik dan menyenangkan. Juga akan saya ceritakan pada tulisan berbeda.  
 


Kondangan dan jalan-jalan, sama bisa dilakukan. Tujuan utama terlaksana, keluarga pun bisa menikmati kegiatan bersama.

Beginilah punya suami yang liburnya cuma weekend. Saya mesti pandai-pandai lihat keadaan dan atur waktu. Biar kebersamaan tetap dapat dilakukan, meskipun disambi suatu urusan.

Saat suami tugas keluar kota pun saya sering diajak serta. Suami kerja, saya keliling kota. Jalan-jalan dan jajan-jajan. Kerja dapat, jalan-jalan dapat 😀

Pas ke Purwokerto ini suami bisa saja pergi bareng teman kantornya. Tapi suami pilih ajak kami,  keluarganya. Karena dia tahu, istri dan anak-anaknya menantikan waktunya untuk berkegiatan bersama. 

Jalan-jalannya memang singkat, cuma 3D2N. Itupun akhirnya cuma 2D1N wkwkw. Tapi yang singkat bisa berkualitas. Tergantung gimana cara bersamanya. 

Terima kasih telah membaca. Sampai ketemu di tulisan berikutnya: Kuliner dan Jalan-Jalan di Purwokerto.