Pengalaman Dirawat di Rumah Sakit di Saat Pandemi

16.27
Sakit dan dirawat di Rumah Sakit di saat pandemi, bukan hal yang enak untuk dialami. Dalam situasi normal saja tak nyaman, apalagi saat wabah. Rasa cemas berlipat-lipat, ketakutan menggunung. Jika bisa meminta, tolong jangan sakit dulu, apalagi sampai dirawat. Namun, bila sudah jadi kehendak Tuhan, tak mungkin menghindar, mau tak mau dihadapi dan berjuang untuk meraih kesembuhan. Lantas, pengalaman seperti apa yang saya dapat ketika berada di pusatnya orang-orang sakit? 

Minggu lalu, suami saya mengeluh nyeri di ulu hati. Tanda-tanda yang tampak persis seperti menderita sakit maag. Perut kembung, susah buang angin, ulu hati sakit, dan berbagai rasa tidak nyaman di perut. Saya dan suami sama-sama mengira maag, lalu minum obat maag yang memang selalu sedia di rumah, namun tak jua sembuh meski 1 jam berlalu. Karena kondisi tak kunjung baik, saya bawa ke UGD di Eka Hospital BSD. 

Pemeriksaan pertama: LAB dan USG

Sampai di UGD seluruh petugas medis yang saya temui mengenakan APD lengkap. Saya senang melihatnya namun di sisi lain membuat saya diselimuti cemas. Kecemasan pertama, ini adalah tempat pertama di mana orang-orang sakit datang dalam kondisi darurat, bisa saja di antara yang pernah datang adalah pasien pengidap Covid-19. Berarti saya memasuki area berbahaya bukan? Kedua, jawaban dokter K atas pertanyaan apakah di RS ada pasien Covid, membuat saya seperti sedang terjebak di sarang penyakit yang sedang mendunia itu!

Di ruang UGD hari itu, sekitar pukul 10 pagi, masih sepi. Hanya ada 1 pasien lain selain suami, deretan ranjang tampak kosong. Meski demikian, saya tak berani menyentuh apapun, kalau pun menyentuh dokumen yang harus ditanda tangan saat masuk, saya langsung cuci tangan, berkali-kali. 

Suami langsung mendapat penanganan dari dokter dan perawat. Pertanyaan berkaitan Covid-19 sudah tentu ada, dan untuk gejala yang dialami, suami langsung diperiksa lab dan mesti USG.


Pemeriksaan kedua: Rapid Test dan CT Scan Low Dose

Perlu waktu sekitar 2 jam bagi saya untuk menunggu hasil pemeriksaan Lab dan USG. Hasil lab menjelaskan beberapa item pemeriksaan terhadap suami saya dikategorikan parah. Begitu juga dengan hasil USG, ternyata ada batu di kantong empedu. Dari dua hasil pemeriksaan inilah suami dinyatakan harus dirawat.

Nah, di sinilah kemelut itu terjadi.

Sudah jadi aturan pemerintah agar diterapkan oleh seluruh Rumah Sakit baik pemerintah maupun swasta bila ada pasien dirawat wajib Rapid test dan Swab. Penjelasan ini saya terima dari dokter yang saat itu bertugas di UGD. Saya diberi rincian tertulis mengenai pemeriksaan apa saja yang harus dilakukan;

- Lab
- USG
- Rapid Test
- CT Scan Low Dose

Sesuai prosedur rawat inap sudah tentu suami wajib menjalani pemeriksaan Rapid Test dan CT Scan Low Dose. Kedua pemeriksaan tersebut terkait Covid-19. Penting bagi RS tahu pasien negatif atau positif karena akan menentukan di mana nanti pasien dirawat dan bagaimana cara perawatan. 
Jangan sampai sakit, jangan sampai dirawat saat pandemi

Ketakutan yang Membuncah

Sembari menunggu hasil Rapid Test dan CT Scan Low Dose, pikiran saya tidak tenang, bahkan dilanda kesedihan mendalam. Kami merasa selama ini sudah sangat taat terhadap langkah-langkah pencegahan Covid-19, tapi bagaimana bila nanti hasil tes suami positif? Apakah di UGD ini akan jadi momen terakhir saya membersamainya? Bukankah bila positif, pasien tak boleh dijaga dan dikunjungi oleh siapapun? Memikirkan itu, mata saya memanas, dan akhirnya basah. Perasaan sedih itu tak terkendali, saya sungguh tidak mau berpisah dari suami dengan cara seperti ini. 

Seorang teman dokter melalui Whatsapp menenangkan saya. Katanya, Insha Allah suami saya negatif, dan nanti bisa fokus menjalani pengobatan pada perutnya. Lagipula, kalau misal Rapid Test positif, jangan langsung panik dan stres, bisa jadi tidak akurat, dan masih bisa dibuktikan dengan Swab. Karena, bisa saja saat Swab malah negatif. Membaca pesan itu, kecemasan saya mulai berkurang. Saya lanjut berdoa semoga pemeriksaan covid-19 suami saya negatif.

Saat hasil Rapid Test keluar, dokter di UGD sudah berganti, tadinya Dr K (laki-laki), sekarang dokter S (perempuan). Alhamdulillah Rapid Test hasilnya Non Reaktif. Bagaimana dengan CT Scan Low Dose? Pemeriksaan satu ini biayanya lebih mahal dari SWAB. Kenapa lebih mahal? Mungkin saja hasilnya lebih akurat. Ya, hasil panorama menunjukkan Mas Arif bebas corona. Paru-parunya bersih dan aman. ALHAMDULILLAH.

Biaya Pemeriksaan Covid-19 Tidak Ditanggung Asuransi dan Pemerintah!

Segala biaya perawatan suami selama di RS ditanggung oleh pihak asuransi (swasta), namun untuk biaya pemeriksaan terkait Covid-19 ditanggung pribadi. Hal tersebut berlaku untuk pasien manapun dengan asuransi apapun, baik asuransi swasta maupun pemerintah (BPJS). Nah, bila positif Covid-19, maka seluruh biaya perawatan ditanggung oleh pemerintah. 

Jadi, buat yang ingin Rapid Test maupun swab, bisa saja dilakukan tapi bayar sendiri. Biaya Rapid Test masih termasuk murah, hanya 400ribuan saja. Yang mahal Swab. Lebih mahal lagi jika dengan CT Scan Low Dose. Kemarin suami hanya menggunakan cara Rapid Test dan CT Scan Low Dose. Total keduanya 4,3 jutaan.

Dengan biaya tidak murah itu, apa iya masyarakat yang secara ekonomi lemah mau tes dan periksa? Dalam kondisi seperti sekarang, urusan makan saja sedang banyak yang susah, bagaimana mau mengurus tes covid-19 segala?

Suami pun, jika bukan karena sakit (batu empedu) dan harus dirawat, mungkin tidak akan menjalani pemeriksaan macam ini. Selama ini, saya dan suami hanya berpikir positif bahwa kami bebas dari Covid-19, jadi belum pernah merasa perlu untuk tes covid-19. Jika pun ingin, yang ada malah takut jika harus periksa, nanti malah kepikiran. Lagian, takut juga mendatangi RS buat periksa, seakan kalau datang ke RS malah menjemput penyakit.

Saya jadi berpikir begini, mungkinkah jika di suatu wilayah no case karena no test? Hmm...
Lift ini lebih sering kosong saat saya turun dan naik. Sesekali saja berpapasan dengan petugas medis atau pun pekerja dan pengunjung lainnya di RS. Kamu tahu? Lift adalah bagian yang paling saya takuti selama di RS, meskipun tiap 1 jam lift ini dibersihkan dengan desinfektan

SUPER HATI-HATI

Berada di rumah saja saya sangat hati-hati, apalagi berada di luar rumah misal saat ke tukang sayur, atau ke minimarket depan komplek, sudah pasti saya pakai masker, cuci tangan di manapun air dan sabun tersedia, pakai hand sanitizer bila tak ada sabun dan air, dan selalu menjaga jarak bila bertemu siapa pun.

Bagaimana bila di rumah sakit? Sudah pasti melakukan hal yang sama namun dengan kehati-hatian yang ekstra. Sebagai pasien, suami saya sudah pasti wajib pakai masker selama berada di kamar perawatan, terutama bila dokter dan perawat visit. Dokter dan perawat jangan ditanya, mereka selalu pakai seragam APD lengkap, berjam-jam. Kebayang panasnya.

Sebelum masuk kamar perawatan, kamar disteril ulang, setelah siap, suami baru masuk. Oh ya, kami masuk UGD sekitar jam 10 pagi, setelah melewati berbagai pemeriksaan yang panjang, pendaftaran rawat inap, dan lain-lain, jam 8 malam baru masuk kamar perawatan. Lama ya :))

Saya mondar mandir dari UGD, ruang tunggu radiology, ruang admin rawat inap mengurus dokumen, hingga ke lantai 7 kamar perawatan, bertemu beberapa orang, dan pastinya berkali-kali memegang gagang setiap pintu yang dimasuki, tombol lift, pulpen buat tanda tangan. 

Apa yang saya rasakan?? Seakan diserbu Covid-19 dimana-mana. Berada di RS bikin saya jadi sangat parnoan. Tiap bebeberapa belas menit saya cuci tangan, kulit tangan sampai kering dan terasa panas. Belum 24 jam di RS, kulit tangan sudah mengeriput :))
Tanda bulat warna orange yang ditempel di baju adalah tanda sudah discreening oleh petugas RS sebelum masuk RS. Tiap hari diperiksa dan warnanya tiap hari ganti. 

Prosedur Pencegahan Covid-19 Untuk Pasien Rawat Inap

Di saat pandemi, Rumah Sakit menerapkan aturan ketat demi pencegahan penularan Covid-19. Ini yang terjadi di EKA Hospital tempat suami saya dirawat:

- Pasien hanya dijaga/ditemani oleh satu orang saja
- Tidak diperbolehkan dikunjungi oleh siapa pun
- Tidak ada jam besuk
- Setiap keluar kamar harus pakai masker
- Tetap pakai masker di kamar bila dokter/perawat visit
- Semua aturan tersebut disampaikan beberapa kali dalam sehari lewat pengumuman ke seluruh area RS

Saya sebagai satu-satunya orang yang menemani suami selama dirawat, tidak bisa bebas keluar masuk, selalu harus melalui pemeriksaan ketat. Pintu keluar dan masuk kini hanya dibuat satu pintu. Masuk dari pintu utama di depan, keluar hanya melalui pintu belakang. Akses lainnya ditutup guna pengetatan aturan masuk. 

Tiap petang anak saya Alief mengantar makanan untuk saya berbuka. Saya tidak perkenankan dia masuk kawasan RS. Saya hanya minta dia mengantar di depan gerbang, dan saya menemuinya di luar. Setelah itu saya suruh dia cepat pulang ke rumah. Hal ini terjadi setiap hari selama saya menemani suami dirawat. 

Saya tidak berani memesan makanan dari luar lewat aplikasi online, atau ke restoran yang ada di area lobi RS. Selain khawatir pada pembuatnya, juga pada pengantarnya. Maafkan saya ya para resto dan pengemudi layanan pesan antar. Di kondisi saya harus sehat demi menjaga yang sakit, saya harus hati-hati terhadap apa yang saya makan dan siapa yang saya temui. Semoga rejeki kalian tetap hadir dari arah manapun meski tidak lewat saya.

Alief tiap hari terpaksa harus keluar rumah pakai motor ke RS, mengantar makanan dan pakaian buat saya. Saya perintahkan hanya di luar saja, tidak perlu masuk dan parkir di dalam. Biar dia aman dan tidak ketemu orang-orang di RS.

Pagi hari mengambil pakaian kotor dan mengantar pakaian bersih, sore jelang buka mengantar makanan buat saya berbuka. Saya foto dia buat kenang-kenangan, bahwa selama pandemi, pernah terjadi hal seperti ini 😃 

Jaga Kesehatan, Jaga Keuangan

Hampir satu minggu suami dirawat, alhamdulillah dari hari ke hari kondisinya membaik. Rangkaian pemeriksaan tidak hanya sebatas 1 kali lab, USG, Rapid Test, dan CT Scan Low Dose. Namun, dilanjut dengan MRCP dan 2 kali lab lagi.

Pemeriksaan dan pengobatan batu empedu memang tidak simple. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui dan itu tidak selesai hanya dalam hitungan 1 atau 2 hari. Bukan hanya badan yang harus sabar, kantong juga harus sabar karena pengobatan dan rangkaian pemeriksaan memakan biaya tidak sedikit. 

Di masa-masa sulit di mana semua sektor terdampak, oang-orang mencemaskan kondisi keuangan. Saat ini, bila dalam keadaan berpunya, duit harus dijaga baik-baik supaya bisa bertahan untuk waktu yang lama, karena kita tidak tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Masuk RS tidak murah, apalagi bila sakit parah. Memang masih bisa lega bila ada asuransi seperti kami, tidak pusing memikirkan biaya karena ada yang menanggung. Bagaimana bila tak punya asuransi? Atau bagaimana bila ada asuransi tapi limitnya kecil, biaya-biaya tak bisa ditanggung penuh oleh asuransi, otomatis keluar biaya pribadi.

Ada BPJS kan? Iya, itu bisa dipakai di rumah sakit rujukan sesuai ketentuan per wilayah. Tapi biaya Rapid Test dan Swab, tetap harus ditanggung pribadi. Masuk RS pun ada tahapannya, mesti ke faskes 1 dulu, dirujuk ke RS tipe berikutnya, baru ke RS yang dinyatakan bisa melakukan tindakan dalam rangka penanganan penyakit, misal untuk operasi. Kalau asuransi swasta mah bebas, bisa masuk RS mana saja asal bekerja sama dengan asuransi yang dipegang.

Jangankan orang susah, orang kaya pun saat ini sudah ada beberapa yang mulai kelimpungan dengan keuangan. Pernah baca kan ada artis yang cicilan rumahnya 250 juta perbulan mulai mengeluh ga bisa mencicil? Duh! Ada pula pengusaha yang harus jual mobil-mobil mewahnya demi membayar gaji dan THR karyawannya. 

Jadi, penting sekali jaga baik-baik kesehatan dan keuangan supaya bisa selamat di masa-masa sulit seperti sekarang.
Yakinlah, setelah gelap pasti ada terang

Alhamdulillah

Alhamdulillah kini suami sudah pulang ke rumah, kondisinya sudah sangat baik. Tak ada keluhan nyeri seperti yang terjadi saat masuk UGD. Minggu depan masih balik ke RS lagi buat kontrol, semoga sudah benar-benar baik.

Ohya terkait batu empedu suami, berdasarkan hasil MRCP dan penjelasan dokter internis, ukuran batu kecil-kecil seperti beras. Memang sempat ada gangguan sedikit karena sempat menyumbat, dan itu sudah diatasi. 

Saya suka dengan dokter internis yang menangani suami, penjelasannya selalu positif dan membuat kami optimis. Karena itu pula saya bisa membawa suami pulang dengan perasaan lega.

Selanjutnya, suami wajib jaga makan. Menghindari makanan berlemak dan hanya makan-makanan yang sehat buat tubuh, termasuk yang aman buat lambung. Saat ini suami sedang menjalani terapi jus apel hijau. Selama di RS, menu jus apel hijau selalu hadir di tiap jam makan suami. Dan ini saya teruskan setelah di rumah.

Dari pengalaman teman-teman suami maupun teman saya yang pernah punya batu empedu, jus apel hijau sering berhasil menghilangkan batu empedu yang masih bisa ditolerir, dalam artian untuk ukuran batu masih kecil dan belum membahayakan, masih bisa disembuhkan. Saya baca dan dengar, terapi apel hijau plus minyak zaitun dan garam inggris, dapat membantu mengeluarkan batu empedu lewat kotoran. Beberapa teman saya yang berprofesi sebagai dokter pun menganjurkan hal yang sama.

Kami sedang berusaha, semoga saja cara itu berhasil. 
Menuliskan pengalaman merawat suami di RS selama pandemi

Kita memang tidak bisa mengendalikan apa yang akan terjadi dalam hidup ini, namun kita bisa memilih bagaimana cara kita meresponnya ketika hal itu terjadi. Dengan menerima bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa kita kendalikan, kita bisa tetap positif dan tenang, serta mengandalkan kekuatan doa untuk perlindungan dan kedamaian hati.

Allah SWT akan bersama orang² yang berdoa, berusaha, dan tak putus asa. Tetap semangat dan optimis 💪

Terima kasih untuk semua sahabat, saudara, dan kenalan yang telah memberikan dukungan dalam bentuk doa dan support tiada henti, semoga semua yang mendoakan diberikan balasan yang baik, berupa kesehatan dan keuangan yang baik, serta hidup sehat sepanjang usia.

Aamiin YRA 🙏


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷



Semua foto dokumentasi pribadi.

Untuk teman-teman yang ingin mendokumentasikan aktivitas di RS, harap hati-hati ya. Ada yang boleh dan tidak boleh difoto/video. Umumnya aktivitas yang terjadi di rumah sakit seperti dokter atau perawat yang sedang bekerja, baik sedang menangani pasien atau pun tidak. Pasien lain baik yang rawat inap atau rawat jalan.

Terima kasih.

Share this

A mother of two who loves travel and enjoy to share my journey and valuable experiences

Related Posts

Previous
Next Post »

5 Comments

  1. Alhamdulillah sudah baikan. Semoga selalu sehat sekeluarga mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mbak. Aamiin. Sehat² juga buat Mbak Zulfa dan keluarga. Aamiin

      Hapus
  2. Alhamdulillah sudah sehat ya Mbak Katerina pak suami. Emang ke RS apalagi dirawat saat-saat seperti ini jadi ketakutan tersendiri ya. Kalau nggak sakit kepepet banget juga nggak ke RS

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, kalau nggak parah banget, lebih baik obati di rumah saja. Konsul via telp atau chat ke temen² dokter, atau aplikasi halodoc juga bisa. Ngeri masuk RS saat ini.

      Hapus
  3. Sayang banget sama kakak Alif pinter

    BalasHapus

Leave your message here, I will reply it soon!