Pengiriman Lancar, Promosi Produk Kian Gencar

17.08 1 Comment
Telah lima bulan wabah virus corona merebak di Indonesia. Menjangkiti tanpa kenal bulu. Siapapun yang lemah, akan diterjang. Dampaknya ke banyak orang, di setiap lapisan masyarakat, dan ke berbagai sektor industri. Tak terkecuali nasib saya sebagai content creator, semua kegiatan offline ditunda sampai waktu yang tak bisa ditentukan.
Nasib Content Creator di Tengah Pandemi 😃

Awal tahun 2020, sejumlah jadwal kegiatan offline untuk bulan Januari sampai April sudah saya kantongi. Sebagian besar event pariwisata, di antaranya undangan staycation untuk promosi resort di Bintan Kepri, staycation untuk promosi villa di Bali, event promosi wisata Korea di Jakarta, event wisata di Jawa Timur, event promosi kuliner dan tempat wisata di Kota Tangerang, workshop travel blog/vlog di tiga kota, dan beberapa event blogger lainnya di luar pariwisata, semua dibatalkan tanpa tapi.

Seperti yang kita tahu, dunia pariwisata merupakan salah satu sektor yang paling terdampak, hancur meski tak lebur. Sebagai salah satu influencer kecil yang cukup rutin mendapat job di bidang tersebut, saya ikut merasakan bahwa bisnis ini sedang mati suri. Job saya di sana juga ikut sunyi.

Dunia pariwisata suram, tapi dunia gadget tidak. Justru, di saat orang banyak di rumah saja, penggunaan gadget meningkat. Laptop dan HP jadi barang berharga yang paling diakrabi selama masa social distancing. Orang-orang butuh perangkat memadai untuk tetap bisa bekerja, berkomunikasi, dan menikmati hiburan dari rumah. Anda tahu? Ketika gadget amat dibutuhkan, kami para influencer dari kalangan blogger juga dibutuhkan untuk menggencarkan promosi. Maka, nafas saya sebagai content creator dapat terus berhembus.

Bicara tentang gadget, Anda tentu telah mengenal saya sebagai anggota Komunitas Blogger Asus (BLUS) di mana kegiatan saya sebagai anggota adalah rutin berbagi pengalaman menggunakan produk-produk dari merek tersebut, di antaranya HP dan laptop. Setiap ada produk terbaru, saya dan para anggota akan mencobanya, lalu menuliskannya di blog dan membagikannya ke seluruh channel digital yang kami punya. 

Sejak Januari 2020, telah beberapa kali event peluncuran produk digelar, semuanya online. Jika tak ada wabah, acara tentu sudah digelar secara offline, kami bisa menyaksikan acara peluncuran, melihat dan mencoba produk secara langsung. Sayangnya, wabah membuat semuanya serba terbatas, kecuali satu hal: kami tetap menerima dan menggunakan produk secara langsung.
Seperangkat ASUS ROG beserta aksesoris bermain game dalam ROG Superpack yang dipacking kayu

Ya, dari dulu Brand Asus sangat percaya pada media rekanan mereka untuk menggunakan produk Asus dalam kegiatan sehari-hari, secara gratis. Jika ada 1000 media rekanan, maka ada 1000 produk yang dikirim untuk tujuan personal experience. Alamat pengiriman tersebar dari Aceh sampai Bali lho. Pokoknya se-Indonesia Raya. Nah, bagaimana cara ASUS mengirim produk bernilai tinggi mereka ke kami? Pastinya pakai kurir terpercaya, JNE.

Laptop dan HP bukan barang murah. Proses kirimnya tentu sangat hati-hati. Bukan hanya soal kepercayaan bahwa barang pasti sampai, tapi juga soal keselamatan si barang, apakah akan sampai di tangan penerima dalam keadaan utuh tanpa lecet, atau kah rusak dan jadi hancur.

Baca juga (klik): Sekotak Asa Dalam Kiriman Doa, Semangat Bertahan di Tengah Wabah
Paket ASUS ROG Sling bag

Jauh sebelum wabah melanda, arus pengiriman barang dari brand ke rumah saya lancar jaya tanpa kendala. Tidak pernah ada kejadian gagal apalagi rusak total. Kalau agak telat pernah satu atau dua kali. Sisanya, sangat jarang terlambat, apalagi lama sampai berabad-abad. 

Seringnya, saya justru heran, brand satu ini terkenal sangat cepat dalam pengiriman. Termasuk produk-produk yang jadi hadiah untuk event lomba. Hari ini pengumuman pemenang, besok pengiriman, lusa sudah sampai di tangan penerima. Anda yang sudah pernah merasakan menang pada lomba-lomba Asus yang saya pegang, tentu punya pengalaman menyenangkan itu bukan?

Selama wabah, promosi Laptop Asus semakin gencar. Laptop-laptop terbaru yang mendukung untuk bekerja, bermain dan hiburan hadir di saat yang tepat. Otomatis, gencar pula kegiatan kami dalam membantu penyebaran informasi. Tentunya, produk terbaru tersebut juga berdatangan ke rumah kami.
Di depan rumah tetangga

Seperti biasa, jika telah puas dipakai, dicoba, ditulis, dan diposting di semua di channel digital, produk akan dikembalikan. Nah, jika proses terima barang amatlah mudah, bagaimana dengan proses pengembalian? Oh, mengembalikan semudah menerima. Barang tinggal saya masukkan lagi ke dalam dus produk, lalu saya hubungi pihak ASUS. Nanti mereka yang telpon JNE untuk datang jemput barang ke rumah saya. Bisa juga dengan langsung datang ke counter terdekat, tinggal serahkan barang dan berikan instruksi sesuai prosedur.

Saran saya nih, buat teman-teman yang akan kirim gadget, laptop dll, saya tekankan pentingnya pakai kayu. Caranya? Tidak perlu repot bungkus sendiri, tapi cukup minta JNE yang kerjakan. Kalau antara saya dan Asus, JNE nya bisa diminta ke rumah buat ambil barang. Urusan packing kayu dikerjakan oleh JNE di kantor. Biasanya laporan packing dikirim via foto melalui pesan Whatsapp. Jika kita antar ke counter, yang packing  mbak/mas di counter nya. Kita nggak perlu repot pegang kayu, palu, dan paku he he. 

Ingat ya, kiriman gadget seperti yang sering saya terima dan kirim ini adalah high value, jadi jangan pernah lupa uuntuk pakai asuransi. Tidak mahal, hanya 0,2% dari harga barang dan lagi-lagi cukup diinformasikan pada saat kita datang ke counter JNE. 
Ini paketnya...... Paket hadiah Giveaway untuk para pemenang dari 4 kota 
Ini tempat kirimnya 😍

Wabah nggak wabah, proses pengiriman masih sama lancar. Brand tetap kirim-kirim barang, kurir tetap siap sedia mengantarkannya.

JNE memang tak ada matinya, job saya pun tak ada matinya.

Sabar Tak Terbilang, Syukur Tak Berujung

17.07 1 Comment
ulang tahun pernikahan
18 tahun bersama dalam suka dan duka

Setiap bertemu Juni, hati selalu gembira. Sebab Juni bagiku adalah bulan Cinta. Ada peristiwa kelahiran dan pernikahan dalam hidupku. Bulan di mana dari cinta kasih kedua orang tuaku maka lahirlah aku. Bulan di mana terikatnya cinta kasihku dengan suamiku, maka lahirlah anak-anakku.

Aku dan suami sangat suka mengenang peristiwa indah dalam hidup kami, lalu memperingatinya dengan cara sederhana. Saat HUT perkawinan ke-16 dua tahun lalu misalnya, pagi-pagi sekali aku dan suami membawa anak-anak mengunjungi Masjid Ramli Musofa, beribadah sekaligus berwisata religi. Masjid Ramli itu tempat wisata religi murah meriah karena gratis, letaknya pun dekat, masih di Jakarta. Setelah dari masjid, kami makan siang di KFC, lalu pulang. 

HUT ke-17 aku pergi berdua dengan suami, naik kereta dan bus, makan di restoran tempat dulu acara pernikahan kami digelar. Di restoran yang terletak di Matraman Jakarta itu, kami hanya memesan 3 menu sederhana, salah satunya gado-gado kesukaan suami. 

Begitu saja cara kami memperingati hari penikahan. Nggak pakai acara liburan ke luar negeri, atau memesan tempat di restoran mahal untuk makan bersama dengan banyak orang. Nggak ada.

Nggak pula ada acara tukar-tukaran kado atau beli sesuatu yang mahal luar biasa menurut ukuran kami. Paling, Mas Arif membelikanku bunga mawar merah satu tangkai, tanpa puisi, tanpa kata-kata cinta lebay yang bikin terharu hingga nangis bombay. 

Mas Arif bukanlah laki-laki romantis, mulutnya tidak bertabur kata cinta, bikin puisi saja tak bisa, tapi aku tahu, dia punya cinta yang suci dan sangat setia dengan orang yang dicintainya. 

Buatku, anugerah terindah dalam perkawinanku, selain anak-anakku tentunya, adalah Mas Arif itu sendiri. Tak mudah mencari lelaki sepertinya. Selain sangat taat beribadah, ia sosok yang sangat setia dan senantiasa sabar dalam setiap hal. Sebagai orang yang telah 18 tahun mendampinginya, aku sangat mengenalnya, luar dan dalam. Tentu saja aku akan rugi, jika tak bersyukur memiliki suami sepertinya 💗

Alhamdulillah

Bagaimana dengan HUT perkawinan k-18 yang jatuh di tahun 2020?

Sejak bulan Mei sampai Juni aku banyak berada di rumah sakit. Pertama, menemani suami dalam perawatan karena sakit Batu Empedu. Kondisi pankreas dengan amilase dan lipase yang tak kunjung berada dalam nilai normal, membuat operasi Mas Arif terus ditunda. 

Belum pulih suami dari sakitnya, musibah itu datang lagi. Kali ini Alief, anak kesayangan mengalami kecelakaan tunggal. Luka-luka dan patah tulang tangan kanan sehingga harus dioperasi.

Baca juga: Kecelakaan Motor, Ujian di Tengah Ujian
Baca juga: Suami Sakit Batu Empedu, Operasi Ditunda Melulu

Tepat di hari ulang tahun pernikahan itu...

Aku menemani suami kontrol ke dokter spesialis penyakit dalam di Eka Hospital BSD. Siangnya, mengantar anak ke sebuah klinik buat ganti perban luka. Sorenya, mengurus motor di kantor polisi. Inilah kegiatanku di HUT pernikahan.

Sedih? Kecewa? 

Begini....

Dulu pernah suatu hari tasku disilet di bus jurusan Tanah Abang ke Lebak Bulus, hilang dompet beserta isinya. Pernah menghilangkan buku orang sampai harus ganti seharga buku baru. Pernah lalai makan dan kecapekan parah lalu kena tipes sampai dirawat keluar biaya sekian. Pernah ditipu dan dikerjai seorang teman dan teman-temannya, lalu dipermalukan dengan sengaja. Pernah ini itu yang aku sebut hari sial, momen sial, kejadian sial, dan sial-sial lainnya.

Lalu pada suatu titik, aku berhenti menyebutnya kesialan.

Hilang duit sedikit atau banyak: "oh aku kurang sedekah".

Hilang kawan satu atau sekelompok orang: "oh aku kurang baik sama orang".

Abis duit banyak karena sakit dan berobat: "oh aku kurang berbagi."

Dan oh oh oh yang lainnya.

Sebanyak apapun aku kehilangan sesuatu, atau sedih karena sesuatu, sebanyak itu juga aku menyadari bahwa aku belum/kurang/tidak banyak melakukan kebaikan. 

Aku belum lama banget berhenti menyebut sial atau menyalahkan orang lain atas setiap kejadian tak enak, mungkin sekitar 7-8 tahun terakhir sejak ada suatu kejadian. Tapi kata suami; Yang penting kamu belum terlambat untuk menjadi tunas baru yang baik 🌿 yang fokus saja pada air yang sejuk, matahari yang hangat, udara yang bersih, dan pada tangan terampil yang merawat dengan hati sehingga bisa membesar dan menua dengan bahagia.


💗💗💗💗

Tahun perkawinan bisa dihitung dengan angka-angka, tapi rasa untuk terus bersama laki-laki yang mencintaiku dengan baik, tak terbilang angka-angka....

Cinta bukan soal tebal atau tipis, tapi sejauh mana ia bisa tetap hangat meski pada kondisi sangat dingin sekalipun. Cinta bukan soal siapa yang paling kuat atau rapuh, tapi sejauh mana ia tetap ada dan bertahan meski badai paling dahsyat sekalipun menerpa.

Aku sungguh ingin menjadi seperti suami yang bisa mencintaiku sebanyak yang ia mau...

Semoga Allah memberikan kami umur panjang, senantiasa sehat di sepanjang sisa usia, dan menua bersama dengan bahagia. 💗💗









. . Kemarin, obrolan di WAG Travel Blogger Tidore berisi doa² indah untuk Mbak @emakmbolang dan @emmy.yr (istrinya @papanpelangi ) yang berultah. Gak lama lagi, doa itu juga akan ditujukan buat @omnduut. cc Mas @dwisetijowidodo yuk @annie_nugraha @deddyhuang @tatisuherman 😀 Ah iya, ini Juni, bulan cinta bagiku. Ada peristiwa kelahiran dan pernikahan dalam hidupku. Bulan di mana dari cinta kasih kedua orangtuaku, lahirlah aku. Bulan di mana terikatnya cinta kasihku dengan suamiku, maka lahirlah anak²ku ❤️ . Belum sampai pada tgl nya sih, tapi suasana bahagia sudah merebak sejak awal Juni. Dan kemarin siang, aku dan suamiku lagi santuy, pingin asyik mengisi waktu dari kamar rawat, lalu muncullah ide buat videoan momen saat ini: "tetap bahagia di tengah sakit" 😀 Maksudnya, bukan mau bilang bahwa sakit ini enak lho ya, tapi kami memilih menghadapi sakit ini dengan cara yang lebih manis penuh rasa optimis yakni dengan sabar, ikhlas, tabah, dibawa tenang dan ceria, dan yakin sembuh. Daripada dibawa sedih dan mengeluh yaaa kan? 💪 Juni. Ada puisi Hujan di Bulan Juni Sapardi Djoko Damono. Ada June Afternoon Roxxete. Ada apa lagi ya? 😀 Kalau kamu, punya momen spesial apa di bulan Juni? . . . 🎥 ROG Phone 2 📍 @eka_hospital PS: Videoan di kamar rawat boleh saja asal bukan aktivitas medis yang dilakukan oleh dokter / perawat dan tidak menampakan keberadaan mereka 🙂 #June2020 #June #Travelerien #EkaHospitalBSD #ROGPhone2
A post shared by Katerina S. | Travel Blogger (@travelerien) on

Kecelakaan Motor, Sebuah Ujian di Tengah Ujian

16.01 16 Comments
Alief Ikhwan "Onedox"


Allah SWT Maha Berkehendak Atas Segala Sesuatu

Kecelakaan tunggal dialami oleh Alief Onedox anakku pada hari Minggu tgl. 21 Juni 2020. Kejadian sekitar pukul 6 pagi ketika berkendara motor YAMAHA R15 di jalan Rawa Buntu menuju perempatan German Center, tepatnya di depan gerbang Cluster The Green BSD.


Pamit Isi Bensin

Alief pamit ke saya untuk isi BBM di SPBU yang ada Pertamax Turbo. SPBU yang menyediakan Pertamax Turbo paling dekat dari rumah kami berada di SPBU dekat Stasiun Rawa Buntu dan SPBU dekat German Center. Alief menuju salah satunya. Dalam perjalanan ke lokasi SPBU yang berjarak +/- 3 KM dari rumah inilah Alief celaka. 

Alief: "Ma, aku isi bensin bentar ya."

Saya: "Pagi sekali, belum jam 6 ini. Abis itu mau kemana?"


Alief: "Mumpung jalan masih sepi. Jalan bentar, sekitaran sini aja, trus pulang."


Suami: "Papa buatin nasi goreng ya, Alief, buat sarapan."


Alief: "Iya, pa. Assalamu'alaikum."


Itu komunikasi langsung kami pagi itu, seusai subuh. Saya sedang di dapur ketika dia berangkat. Sempat lihat dia pasang helm, pakai jaket, ambil kunci, dan tak lama suara motornya menderu kencang, lalu hilang.


Lubang di Tengah Jalan 

Berdasarkan keterangan polisi di TKP, security The Green, dan beberapa pria di lokasi, penyebab kecelakaan karena motor masuk lubang dan kehilangan kendali. 

Hanya karena masuk lubang, oleng, lalu jatuh, tapi bisa celaka parah, kenapa?

Minggu pagi jam 6 suasana jalan biasanya masih sepi. Mungkin juga belum terlalu terang jadi nggak lihat lubang. Padahal tiap berangkat sekolah lewat jalan yang sama dan selama ini aman-aman saja, lalu kok bisa? Karena kehendak Allah, Bu! Atau, apakah Alief agak ngebut? Saat saya tanya apa dia ngebut, dia tak bisa jawab karena tak ingat apa-apa atas semua kejadian. 


Dari mulut beberapa orang yang mengomentari kejadian kecelakaan Alief, lubang di jalan tersebut, dan sekitarnya, sudah sangat sering makan korban. 


Wahai Pemkot Tangsel...tolong perhatikan itu!


Telpon Darurat dari HP Alief yang Terkunci


Kabar kecelakaan hanya sekian belas menit sejak ia pamit. Seorang pria menelpon suami , katanya dia security The Green. "Anak bapak kecelakaan di depan The Green." Kalimat itu saja yang saya dengar dari suami, persis seperti yang dikatakan bapak penelpon.


Pak Security The Green menelpon ke hp suami pakai HP Alief. Kok bisa?

Setahu saya, sistem kunci layar ROG Phone 2 Alief pakai kunci Layar Pola (pattern) dan  Face Unlock. Lantas bagaimana si bapak membuka HP Alief? Saat tiba di lokasi saya tidak terpikir untuk menanyakan hal tersebut. Saya hanya berpikir bagaimana secepatnya menyelamatkan Alief dengan membawanya ke RS terdekat.

Saat saya tanya Alief, sejak kejadian sampai hari ini dia tidak ingat bagaimana cara si Bapak Security bisa membuka hp nya. 


Yang memungkinkan, bisa jadi begini:
- Saat kecelakaan Alief sadar, mungkin sempat memberitahu letak HP (tersimpan dalam Sling Bag ROG)

- Lalu security tanggap bahwa Alief minta bantu menelpon kami. Nah, bisa jadi Alief sempat melakukan ini: Minta tolong dibukakan helm, minta tolong HP didekatkan ke wajah supaya layar terbuka, lalu minta tolong telpon dengan nama kontak "Papa".
- Bisa jadi juga dibuka pakai kunci pola (pattern) pakai tangan kiri. Tangan kanan nggak mungkin, karena kondisinya patah.

Alhamdulillah saat kecelakaan sampai saya dan suami tiba di lokasi Alief masih sadar. Sehingga orang-orang di lokasi kejadian bisa menghubungi kami dan kami pun bisa cepat tiba di lokasi. Alief jadi cepat tertolong.

HP, kunci motor, dan Jam yang dipakai saat kejadian. Dari HP yang terkunci inilah pak security The Green menghubungi kami untuk melaporkan kondisi Alief


HELM Erat Tidak Lepas dan Sadar


Ibu mana yang tidak terguncang mendapat kabar anaknya kecelakaan di jalan. Saya menangis sepanjang perjalanan menuju TKP. Di tengah rasa khawatir sangat luar biasa itu, saya terus berdoa semoga Alief masih bisa diselamatkan. Tak ada nama lain yang saya sebut selain Allah SWT, Sang Maha Penyelamat. 


Tidak ada hijab doa seorang ibu untuk anaknya, bukan? Saya memohon kepada Allah, selamatkan Alief dari kemungkinan terburuk. Saya ingin menjumpainya dalam keadaan masih bisa tertolong. 


Beruntung masih di kawasan BSD, lokasi kecelakaan sekitar 2-3 kilometer saja dari rumah, saya cepat sampai di TKP. 


Alief terbaring telentang di atas rumput di pinggir jalan, dikelilingi security, polisi, dan para pria dewasa yang diam saja hanya melihat prihatin. Kecemasan saya membubung tinggi, saya tadinya sempat membayangkan berjumpa kondisi sangat buruk, ternyata Alhamdulillah Alief sadar dengan luka-luka sekujur kaki. Wajah dan kepalanya selamat. 

Helm, Jaket, dan Tas yang dipakai saat kejadian

Menurut pak security bernama Usman (beliau yang menelpon suami): "Saat celaka, helm tetap erat di kepala. Tidak lepas."


Polisi juga menambahkan bahwa Alief tidak ditabrak dan tidak menabrak, dalam artian bukan korban, dan tidak mengakibatkan korban lain. Hanya itu keterangan sementara yang saya dapat di lokasi. Sisanya saya hanya fokus ke Alief, minta tolong orang-orang membantu saya dan suami memasukannya ke dalam mobil. Sebelum melaju cepat ke IGD Eka Hospital (RS terdekat dari lokasi kejadiaan saat itu), saya lihat motor masih berdiri tegak. Saya titipkan pada security beserta kuncinya. Saya minta tolong ke pak polisi bantu urus motornya, karena yang paling penting saat itu Alief harus segera dapat penanganan medis. 

Alhamdulillah berkat Pertolongan ALLAH SWT, helm ini erat di kepala, tidak lepas, dan menyelamatkan kepala Alief dari benturan hebat di kepala kanan saat membentur kerasnya aspal. Baret tapi kaca helm tidak sampai lepas. Setelah CT Scan kepala, alhamdulillah tidak ada perdarahan.


Teriakan Sakit dan Minta Maaf


Saya berhenti menangis ketika Alief sudah berada di mobil. Saya berulangkali berkata begini: "Sabar ya sayang, kita sedang menuju RS, sebentar lagi sampai, nanti diobati semuanya di sana."

Lalu....


"Maaaaamaaaa MAAAF.....MAAF Mamaaaaa..."


Pilu. Piluuuuu sekali saya mendengar teriakan itu. Saya tahu Alief menyesal atas kejadian yang menimpanya. Suaranya, tangisannya, permintaan maafnya...adalah sebuah penyesalan yang disampaikan secara sadar. Anak ini tidak ingin menyakiti hati mamanya, tidak ingin membuat mamanya sedih, tidak ingin mamanya jadi marah... Ah, Nak. Mama sama sekali tidak seperti yang kamu pikirkan.


Sepanjang perjalanan hingga tiba di depan pintu IGD, kata-kata itu terus keluar dari mulut Alief.


Dan saya, berulang-ulang mengatakan: "Iya mama maafkan. Mama tidak marah sama Alief. Sudah ya, jangan nangis. Mama sayang Alief. Ini mama bawa Alief ke RS biar Alief diobati dulu semua lukanya. " Itu saja yang terus saya ulang. 


Kata-kata maaf masih terus diulang Alief sampai dia sudah diletakkan di atas bed. Air mata saya? Sudah tak ada. Saya menangis, tapi dalam hati. Saya tidak ingin Alief semakin merasa bersalah jika melihat air mata saya. Saya ingin dia tahu bahwa saya menerima musibah ini dengan lapang dada, dan bersyukur nyawanya masih ada. Alhamdulillah.

Celana, sepatu, dan jaket yang dipakai saat kejadian

IGD Eka Hospital BSD


Penanganan cepat dilakukan oleh petugas medis di IGD sejak Alief tiba sampai masuk kamar IGD. Ada 2 security yang menjemput di pintu mobil dan 4 orang perawat yang datang dengan sebuah bed canggih untuk pasien kecelakaan yang serba tidak memungkinkan untuk berjalan dan duduk. Semua bergerak cepat memindahkan Alief dari mobil ke atas bed.


Tadinya, kalau lambat dan bertele-tele, saya akan lakukan sesuatu supaya mereka bekerja cepat sesuai prioritas dan kondisi kritis pasien. Ternyata tidak perlu. Alief langsung dapat penanganan yang baik.


Dokter melakukan banyak pemeriksaan, terutama pada tangan kanan yang saat itu terlihat kaku, telapak tidak bisa dibuka, serta jari-jari yang diam saja tak bergerak. Setelah di rontgen, ternyata tulang tangan kanan (antara pergelangan dan siku) patah. Sebelum dirontgen, semua luka Alief dibersihkan, diobati, dan dibalut. Sampai di sini, rasa khawatir level 100 mulai turun jadi 80.


Kehilangan Memori Jangka Pendek


Saya dan suami tidak pernah pergi dari kamar tempat Alief ditangani. Saya ingin terus melihat dan berkomunikasi dengan Alief karena dengan cara itu saya bisa menjadi tenang dan semakin tenang.


Ada 4 pertanyaan yang terus diulang oleh Alief:
- Aku ga nabrak orang kan, Ma?

- Jam berapa aku jatoh?
- Aku jatoh di mana?
- Emang aku mau kemana tadi?


Sebanyak apapun dia bertanya, sebanyak itu pula saya menjawab. Kata suami, total ada 38 kali pertanyaan yang sama diulang. Selain itu, Alief tidak ingat apa saja yang terjadi di IGD sejak masuk, seperti saat disuntik, dipasang infus, diperban, dibersihkan luka, di rontgen, sama sekali tidak ada yang diingat. 

"Kapan aku dipasangin infus? Kapan disuntiknya? Kapan diperbannya? Kapan dirontgennya?"


Apakah sesuatu telah terjadi di kepalanya? Dokter di IGD lalu mengkonsultasikan hal tersebut ke dokter spesialis bedah syaraf Dr. dr. Budi Mangaittua Silitonga, Sp. BS. Selanjutnya Alief menjalani CT Scan kepala. Saya kembali tak tenang, khawatir terjadi gegar otak.


Alhamdulillah hasil CT Scan bagus. Tidak ada perdarahan di kepala, insha Allah kepala aman. Demikian penjelasan dokter Budi yang disampaikan oleh dokter IGD kepada saya. Hari itu dokter spesialis bedah saraf tidak masuk karena Minggu poli libur. Informasi dan semua hasil pemeriksaan di radiology dan dokter IGD ia terima melalui pesan digital. Minggu malam baru ke RS dan langsung menemui Alief di kamar rawat. Kepada kami beliau meyakinkan bahwa memang tidak terjadi apa-apa dengan kepala Alief. Alhamdulillah.


Perihal banyak bertanya dan banyak lupa yang dialami Alief di hari kejadian merupakan kondisi shock yang biasa dialami oleh pasien korban kecelakaan. Kondisi ini kembali normal di hari ke-2. Semua ingatan kembali berfungsi normal.

Alhamdulillah bisa cepat di bawa ke IGD di RS terdekat

Operasi Patah Tulang


Ada banyak luka di badan Alief di antaranya kedua lutut, pergelangan kaki kiri, pinggul, punggung, dagu, tangan kanan, dan bahu kanan. Alhamdulillah luka-luka itu tidak terlalu dalam, terdiri dari lecet ringan, lecet sedang, dan lecet berat. Luka di kaki kanan yang dirasa Alief paling sakit dan perih, menyebabkan dia tak bisa berjalan tegap untuk sementara.


Cedera paling berat ada pada lengan kanan, tulangnya sampai patah. Dokter ortopedi hari itu juga tak masuk karena Minggu, kondisi Alief dikonsultasikan dari jarak jauh (via pesan digital) oleh dokter IGD ke dr. Widyastuti Srie Utami, Sp. OT (K). Dari hasil rontgen yang ada, tindakan yang diperlukan adalah operasi. 


Hari itu Minggu, untuk operasi yang sifatnya emergency (SITO), biayanya lumayan mahal. Dari estimasi yang saya terima dari pihak admision totalnya 63 jutaan. Tindakan operasi bisa digeser ke Senin jika mau, dan biayanya jadi 55 jutaan. Namun ternyata biaya RS Alief sama sekali tidak dicover oleh asuransi kami (asuransi swasta). Wah berarti harus keluar duit pribadi.


Sampai di situ saya mulai mencari cara lain supaya Alief tetap operasi namun dengan biaya yang tidak terlalu berat. Pasalnya, suami kan baru-baru ini habis sakit, dirawat lama di Eka Hospital hampir 20 hari. Jangan tanya soal biaya rumah sakit, kalau saya sebut totalnya abis 100 juta (sakit sejak Ramadan sampai abis lebaran), mungkin Anda tidak percaya. Tapi itulah yang terjadi...

Biaya RS tidak dijamin asuransi


Biaya RS tidak dicover oleh asuransi karena alasan kecelakaan tunggal. Ok, berarti jalan di sana buntu.


Saya cari jalan lain pakai BPJS. Hari kedua saya bawa Alief keluar dari Eka. Kondisi Alief sewaktu keluar dari Eka cukup baik, dalam artian dia sadar, bisa makan seperti biasa (tidak mual dan muntah), luka-luka sudah diperban, tangan sudah dipasang spalk agar aman sebelum operasi. Tadinya mau saya bawa pakai ambulance, tapi Alief bisa duduk, asalkan bersandar dan kaki diluruskan. 


Akhirnya saya bawa Alief pakai mobil sendiri, pergi ke RS lain rujukan BPJS (namanya rumah sakit anu, gitu aja ya). Ternyata, pasien sakit karena kecelakaan harus membuat surat keterangan kecelakaan di kepolisian untuk kemudian diajukan ke Jasa Raharja. Urusan surat ini tak cepat, kami hanya dapat surat sementara tanpa nomor. Dibantu oleh pihak RS, surat sementara itu dikirim ke Jasa Raharja. Hasilnya? GAGAL alias penjaminan ditolak.


Kenapa Jasa Raharja?


Karena biaya RS pasien kecelakaan ditanggung oleh Jasa Raharja. Biayanya dijamin hingga 20 juta dengan syarat kecelakaan bukan tunggal. Sedangkan Alief? Bukan ditabrak/diserempet oleh pengendara lain. Saya garis bawahi ya, kecelakaan tunggal tidak dijamin.


Nah setelah ditolak oleh Jasa Raharja, baru dijamin oleh penjamin kedua yaitu BPJS. Tetapiiiiiii....setelah saya konsul ke dokter ortopedi yang hari itu praktek di RS anu itu, katanya pasien BPJS punya jadwal sendiri. Tidak bisa pas masuk langsung operasi. Misal, saya daftarkan Alief di hari Selasa, maka dapat jawal tindakannya Selasa depan. Itu juga tidak langsung operasi. Ada stepnya. Selasa pemeriksaan lab dan rontgen dulu. Rabu diperiksa dokter anestesi dulu. Kamis mungkin tes covid dulu dan persiapan lain-lain. Kemungkinan Jumat baru tindakan. Kenapa tes dan pemeriksaan per hari 1 saja bukannya sekaligus? Karena BPJS menanggung biaya maksimal sekian perhari, jadi nggak bisa sekaligus semua pemeriksaan bisa dilakukan dalam sehari karena biayanya melebih jatah. Hah! Apa cuma saya yang baru tahu soal ini?


10 hari sejak daftar operasi via BPJS baru bisa dioperasi???? Wow lama sekali. Alief keburu sakit-sakitan dong kalau harus menunggu selama itu! Apa iya prosedurnya serumit itu? Bagaimana jika si pasien kritis??


Fix saya tidak akan ambil operasi dengan BPJS di rumah sakit itu. Saya pergi ke Medika BSD, daftar ke poli tanpa bawa Alief, hanya bawa semua data medis (lab, rontgen, resume medis, CT Scan, dan dokumen penunjang lainnya). Alhamdulillah dipertemukan dengan dr. A. Arya Abikara, SP. OT. Nah, baru bertemu sekali saya langsung sreg.

RS Permata Pamulang

Operasi Biaya Sendiri di RS Permata Pamulang


Setelah bertemu dokter Abi (nama panggilan dr A. Arya Abikara, SP. OT), saya mendapatkan estimasi biaya operasi yang bervariasi, mulai 40 juta hingga 45 jutaan. Beda 10 jutaan dengan Eka Hospital.


Untuk kondisi patah tulang Alief, operasi bisa ditunda, yang artinya bila tidak saat itu juga dilakukan tidak terlalu bahaya. Sewaktu di Eka sempat dapat pesan dari dokter Uut bahwa operasi paling lambat 14 hari setelah kecelakaan masih aman. Tetapi, lebih cepat lebih baik.


Itu kenapa saya punya waktu buat cari dokter bagus tapi di rumah sakit yang cocok dari segi biaya. Ya, di kondisi seperti sekarang, suami abis sakit menghabiskan banyak biaya, tiba-tiba Alief kecelakaan dan butuh biaya besar, tentu saja saya mencari cara agar anak tetap sehat selamat tapi biaya nggak sampai habis-habisan banget.


Setelah cek ke beberapa RS di Tangsel dan Tangerang (via telpon dan online), saya menemukan informasi dokter Abi praktek di RS Permata Pamulang. Saya cek biaya operasi di sana lebih ekonomis dari biaya di RS lain. Untuk memastikan, saya datang langsung ke RS Permata Pamulang, lihat-lihat dan tanya-tanya. Alhamdulillah banget saya langsung sreg.


Rumah sakitnya luas, fasilitas lengkap dan memadai. Dari luar sampai dalam, terlihat bersih dan nyaman. Ruang tunggu, ruang pendaftaran, lorong, lift, bahkan kamar rawat pasien (saya diijinkan lihat-lihat sebelum memutuskan untuk check-in), semua bersih, enak dilihat. Para staf sangat ramah, informatif, dan sangat komunikatif. Seorang perawat, yang katanya perawat di poli dr Abi, memberi saya nomor HP untuk dihubungi kapan saja terkait pelaksanaan operasi. Baik banget kan? Dengannya saya jadi leluasa menanyakan apa saja soal kondisi Alief dan persiapan operasi. Di RS ini dokter spesialisnya juga banyak. 


Mungkin memang jodoh ya, masuk RS Permata Pamulang itu saya merasa tenang, adem, dan insha Allah percaya Alief bisa ditangani dengan baik. Padahal, sudah cek RS lain dengan tipe RS yang sama, saya merasakan hal sebaliknya, gak cocok!


Biaya operasi tulang (kondisi seperti Alief) di RS Permata Pamulang mulai 25 juta - 35 juta. Berhubung biaya RS tak dijamin oleh asuransi, semua biaya di RS kami tanggung sendiri. Next time, saya mau lebih teliti lagi membaca polis :)

Tulang tangan kanan yang patah sebelum dioperasi

5 jam di kamar operasi


Operasi berlangsung pada hari Kamis 25 Juni 2020 pukul 14.00. Menurut keterangan perawat, pelaksanaan operasi sekitar 2 jam saja. Kenyataannya Alief berada di ruang operasi 5 jam. Masuk pukul 14 kurang, keluar pukul 19 lewat.


Saya dan suami duduk lama di ruang tunggu, sampai tertidur. Sejak pukul 16 saya mulai rajin melihat ke pintu ruang operasi, menunggu siapa yang keluar. Ada 3 kali pintu dibuka, tapi yang keluar selalu bukan Alief. Sampai pukul 18 Alief belum juga keluar, saya mulai tak tenang. Setiap ada suster yang keluar saya tanya, dan jawabannya selalu sama: "Tunggu ya ibu, ananda mungkin masih pemulihan, nanti kalau sudah sadar, baru kami bawa keluar".


Pukul 19 lewat, anak yang saya nanti-nanti itu akhirnya dibawa keluar. Matanya melihat ke saya, dan langsung saya tanya: "Gimana sayang?" Tahu dia jawab apa? "Keren, Ma!" Huaaaaa...


Alief tak langsung dibawa ke kamar perawatan tapi ke radiology untuk rontgen tangan lagi. Buat dokumentasi terbaru gambar posisi tulang dan pen kali ya.


Alhamdulillah, operasi lancar, tulang sudah diletakkan pada posisinya, dan pen sudah dipasang. 



Alhamdulillah operasi lancar

Karena Allah Sayang


Tahun 2020 ini Bapak mertua meninggal, kucing kesayangan mati, suami sakit, anak kecelakaan.


Sungguh, Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu,

Dan saat ini saya sedang menghadapi apa yang Allah kehendaki. 

Saya manusia, merasa sedih, shock, dan takut kehilangan. 


Manusiawi jika merasa seperti itu, termasuk bila ada rasa ingin menyalahkan diri sendiri, sesuatu atau seseorang. Tetapi saya adalah salah satu manusia yang tumbuh dengan pengalaman pernah sedih, kecewa, dan kehilangan. Saya hidup dengan kenangan itu, dan itu yang membuat saya telah lama menjadi lebih kuat, bersemangat, dan bisa menyesuaikan diri atas setiap keadaan yang menimpa. 


Saya sudah berhenti mempertanyakan kenapa Tuhan membuat saya mengalami kesedihan-kesedihan, kenapa ujian ini bertubi-tubi... saya sungguh tidak ingin mempertanyakan itu lagi. 


Saya hanya ingin semakin meyakini, setiap ada ujian, berarti dimampukan untuk menghadapinya, sesuai kadar ujian yang diberikan. Setiap diberatkan, berarti akan ada yang diringankan. Jika itu dosa, berarti semoga ini jadi jalan penggugur, maka seharusnya saya bersyukur, Allah masih sayang pada saya.  


Allah Maha Tahu atas segala sesuatu, bukan saya, kamu, atau kalian. Dan saya berdoa, semoga saja ringannya dosa dikabulkan Allah setelah semua yang berat ini saya lalui.


Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6).





Alhamdulillah dan Terima kasih 


Terima kasih tak terhingga kepada banyak orang yang telah membantu menolong Alief di saat kejadian; Polisi, Pengendara yang lewat, dan security The Green. Semua petugas medis di IGD Eka Hospital, dokter spesialis, dokter IGD, dan semua staf yang bertugas saat itu. 


Terima kasih kepada dokter Abi yang melakukan operasi untuk Alief. Seorang dokter yang tegas dan tak bertele-tele, sehingga Alief bisa dioperasi dengan cepat. Bagi saya, dokter ini menyenangkan. Terima kasih buat semua perawat dan security di RS Pamulang. Meski RS tipe C, tapi pelayanan RS ini layak saya beri nilai BAIK.


Terima kasih kepada keluarga saya di manapun berada, adik-adik Mas Arif, ibu, para sahabat dekat, para teman dekat, Yuk Annie, para tetangga, teman-teman Mas Arif alumni FIS62, rekan-rekan blogger di berbagai komunitas (komunitas Blogger Kekinian, KEB, Blogger Tangsel Tangerang, IDFB, Travel Blogger Tidore, teman-teman BLUS, dan semua follower IG) yang telah mendoakan untuk kelancaran operasi dan kesembuhan Alief maupun Mas Arif. Doa dari semuanya telah Allah kabulkan. Subhanallah..


Semoga kebaikan dan kemurahan hati semua orang yang tulus mendoakan dan mendukung, mendapatkan balasan sebaik-baiknya dari Allah SWT. Semoga Allah memberi umur yang panjang, kesehatan, dan rejeki yang berlimpah kepada semuanya. Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan dari saya. Semoga setelah ini, saya dan kita semua hidup sehat, panjang umur, dan bahagia.


Sungguh, ada kemudahan setelah kesulitan.


Masya Allah.