Kapal HDPE Miliki Banyak Keunggulan, Salah Satunya Ramah Lingkungan

12.57 Add Comment
KAPAL HDPE RAMAH LINGKUNGAN - Produk ramah lingkungan merupakan produk yang diupayakan tidak berdampak negatif pada manusia dan lingkungan. Di masa kini, hampir tiap saat manusia diingatkan mengenai betapa pentingnya menjaga lingkungan sebagai tempat kita melangsungkan hidup. Banyak orang yang sadar kemudian tergerak melakukan aksi nyata, namun tak sedikit yang belum memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

Lembaga pemerintah, non-pemerintah, dan industri sudah melakukan upaya memproduksi produk ramah lingkungan. Produk-produk tersebut bisa dijumpai di keseharian, misalnya produk rumah tangga seperti aneka barang elektronik hemat energi (AC, rice cooker, Kloset, Lampu, dll), kantong plastik degradable, kertas tissue, dan lain-lain. Bahkan, dunia fashion pun kini sudah membuat produk dengan konsep ramah lingkungan.

Industri kapal juga tak mau ketinggalan. Dengan menggunakan material HDPE, kini banyak kapal tangguh buatan anak bangsa dibuat dengan konsep ramah lingkungan. 

kapal patroli hdpe
KAPAL PATROLI HDPE  

Kapal HDPE 

Kapal HDPE merupakan kapal yang terbuat dari bahan HDPE (High Density Polyethylene).  

HDPE adalah bahan yang dikenal elastis, kuat, tahan benturan, tahan cuaca dan ramah lingkungan. HDPE diproduksi oleh industri petrokimia yang mengolah hidrokarbon (crude oil) yang menghasilkan produk nafta dan berlanjut menjadi HDPE. 

HDPE memiliki ketangguhan yang mumpuni sehingga ideal sebagai bahan pembuatan kapal. Aplikasi  penggunaan HDPE juga terdapat pada bumper mobil, pipa PDAM, dan road barrier.  

Dalam hal pembuatan kapal, ada sejumlah aspek yang harus jadi perhatian. Jika dikaitkan dengan aspek lingkungan dan manusia, pembuatan Kapal berbahan HDPE memiliki banyak keunggulan dibandingkan kapal yang terbuat dari bahan kayu, fiber, kayu kombinasi fiber, maupun aluminium.

Penggunaan bahan kayu pada kapal yang dilakukan secara terus menerus berdampak tidak baik terhadap kelestarian lingkungan. Ditambah bila penebangan kayu tidak disertai reboisasi yang benar. Lama-lama kayu akan habis dan menjadi langka, padahal menumbuhkan sebatang pohon butuh waktu puluhan tahun dan baru bisa dipanen setelah berumur 25-30 tahun. Pembuatan kapal tentu tidak bisa menunggu selama itu.

Saat kayu berkurang, industri kapal akan tersendat, padahal kebutuhan kapal dan perahu tidak pernah berhenti. Kayu-kayu yang tersisa akhirnya bernilai tinggi. Hal ini justru memberi peluang pada kelompok orang yang diam-diam melakukan pencurian dan akhirnya melakukan penebangan liar. 

Bahan fiber pun tak kalah berdampak pada kesehatan manusia. Pada saat pengerjaan, serbuk fiber dapat beterbangan mengenai pekerja maupun warga yang berada di sekitar lokasi pembuatan. Serat fiber mengandung bahan kimia berbahaya bagi kesehatan. Bila terjadi kontak dapat menyebabkan gatal di kulit, mata, hidung dan tenggorokan. Serat debu fiber yang terhirup dapat mengganggu saluran pernapasan, menyebabkan batuk dan mengeluarkan lendir berlebihan, kondisi ini disebut sebagai bronkitis. Kerusakan permanen pada paru-paru, atau kanker paru-paru bukan tak mungkin akan terjadi.

Oleh karena itu, pembuatan Kapal HDPE bisa menjadi solusi bijak dalam upaya menjaga manusia dan lingkungan.
kapal hdpe
Kapal Patroli HDPE di Raja Ampat

Kapal HDPE Ramah Lingkungan

Material HDPE merupakan material yang ramah lingkungan karena HDPE tidak bereaksi dengan zat kimia apapun. Dan apabila digunakan untuk menjadi Kapal HDPE, dimulai dari proses produksi sangat ramah lingkungan. 

Saat proses produksi, tidak terjadi pencemaran polusi udara dan debu seperti  yang terjadi apabila proses produksi kapal fiber. Selama proses produksi Kapal HDPE, pekerja tidak perlu menggunakan masker, karena tidak berbau sama sekali. 

Secara material usia HDPE bisa sampai 50 tahun. Ketika sudah menjadi Kapal HDPE, usia kapal bisa bertahan sampai 15 tahun. Setelahnya, HDPE bekas kapal tidak akan menjadi sampah karena dapat  di-recycle menjadi produk turunan lainnya.

Di Indonesia, Kapal HDPE ramah lingkungan diproduksi oleh PT. Iqra Visindo Teknologi.

Aplikasi penggunaan Kapal HDPE di antaranya untuk Ship Agencies, Diving Boat, Passenger Transportation, Harbour & Marina Services, Security, Health, Search and Rescue. 

Kapal HDPE PT Iqra Visindo Teknologi dapat dibuat sesuai pesanan. Sejauh ini, Kapal HDPE buatan PT Iqra Visindo Teknologi adalah kapal patroli HDPE yang digunakan oleh TNI AL, Korpolairud,  dan Sea Rider di Raja Ampat, Manokwari, dan Bintuni. 

Baca juga: Kapal HDPE, Solusi Unggul Transportasi Bahari Indonesia
kapal hdpe tahan lama
Kapal HDPE PT Iqra Visindo Teknologi hadir di Egypt Defence Expo 2-5 Desember 2018

Cintai Produk Lokal Ramah Lingkungan

Industri kapal HDPE oleh PT Iqra Visindo Teknologi didasari keprihatinan terhadap lingkungan yang semakin rusak serta keinginan untuk lebih peduli lagi terhadap konsumen dan lingkungan dengan memproduksi produk ramah lingkungan.

Di balik sifatnya yang ramah lingkungan, Kapal HDEP handal sebagai kapal ringan tapi kuat, tidak mudah bocor meski terkena tembakan senjata tajam, tidak mudah getas meski terkena sinar UV, tidak bereaksi meski terkena zat kimia, tidak mudah retak meski terjadi benturan, tidak menjadi sampah meski usianya sebagai kapal telah tamat, dan tidak tenggelam meski bila mengalami karam.

Dengan mengembangkan material selain fiber dan aluminium untuk membuat kapal, PT Iqra Visindo Teknologi menunjukan aksi nyata terhadap lingkungan. Selanjutnya ditunggu keberpihakan kita sebagai konsumen. 

Jika sekarang kita sudah mencintai produk-produk Indonesia, sekarang waktunya mencintai produk-produk ramah lingkungan Indonesia!

Mengenal Kapal HDPE Moda Transportasi Air Anti Tenggelam

16.06 1 Comment
kapal hdpe
Kapal Patroli HDPE

KAPAL HDPE ANTI-TENGGELAM - Hobi traveling membuat saya tidak asing dengan moda transportasi air bernama kapal. Ada sejumlah pengalaman naik kapal yang saya dapat saat melakukan kegiatan wisata bahari di beberapa daerah di Indonesia. Sebagian besar berupa pengalaman seru dan menyenangkan, sebagian kecil jadi pengalaman buruk dan mencekam.

Pengalaman paling menegangkan pernah terjadi saat mengikuti trip Gunung Anak Krakatau di Lampung pada tahun 2016. Pada suatu malam di musim gelombang tinggi, kapal kayu yang saya tumpangi bersama rombongan travel blogger mengarungi Selat Sunda hendak kembali ke daratan Pulau Sumatera. Di bawah hujan deras, kapal tersesat menjauhi tujuan. Kapal patroli polisi yang mendampingi perjalanan pada saat berangkat, tak lagi ada saat perjalanan pulang. Saya ketakutan, bagaimana bila kapal kehabisan bahan bakar, karam, tenggelam, dan akhirnya pulang tinggal nama? Beruntung berjam-jam kemudian kami berhasil diselamatkan. 
kapal hdpe
Naik Kapal di Labuan Bajo, Kegiatan Wisata Bahari di Perairan Indonesia Timur

Perahu nelayan berukuran kecil terbuat dari kayu pernah saya naiki beberapa kali saat tour lumba-lumba di Kiluan Lampung dan saat menyeberang dari Krui ke Pulau Pisang, Pesisir Barat Lampung. Jika diingat kembali, betapa enteng saya mengarungi lautan dengan perahu nelayan kecil yang dipastikan tenggelam bila karam. 

Karam di lautan menjadi momok terbesar saat rekreasi di perairan. Tetapi, kapal karam yang tenggelam jauh lebih mengerikan. Kekhawatiran terhadap hal tersebut kerap menghantui, bahkan ketika tetap bepergian dengan kapal saat berwisata di Belitung, Bali, Labuan Bajo dan seluruh perairan di Taman Nasional Komodo, Ternate, hingga Tidore. Sejauh ini memang aman dan selamat, tetapi di tempat yang sama hal buruk pernah terjadi pada orang lain.

Satu hal yang pasti, ada pertanyaan yang tak pernah jera tinggal dalam benak saya sebagai seorang wanita yang gemar bertualang; Adakah kapal anti tenggelam yang aman untuk kegiatan wisata bahari?
kapal patroli hdpe
Kapal Patroli  Wisata Pulau Tangkil Lampung


Mengenal Kapal HDPE 

Rasa penasaran saya terhadap kemungkinan adanya kapal anti tenggelam akhirnya menemukan jawaban. Ini ceritanya....

Dalam sebuah pertemuan santai di Mall Cilandak Town Square, Jakarta Selatan (Kamis 13/2/2020), saya mendapatkan pengetahuan mengenai dunia perkapalan. Kapal yang dibahas adalah Kapal HDPE produksi PT. Iqra Visindo Teknologi.

Hal pertama yang terlintas di benak saya ketika mendengar "Kapal HDPE" adalah jenis kapal. Padahal, HDPE adalah jenis bahan kapal.

Hadir dalam pertemuan Mas Baharika Dicky selaku engineer PT. Iqra Visindo Teknologi. Kepada saya dan dua rekan blogger kawakan yaitu Mas Amril Taufik Gobel dan Mas Kamaruddin Azis, Mas Dicky memaparkan tentang Kapal HDPE. Penjelasannya berhasil membuat saya tercerahkan. Ternyata, ada lho kapal anti tenggelam yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan di laut, termasuk bila diperuntukkan kegiatan wisata bahari.

Bahasan tentang Kapal HDPE sangat menarik. Karena itu saya ingin berbagi di blog Travelerien.com ini mengenai apa yang sudah saya ketahui. Selain untuk disimpan sendiri, juga sebagai pengetahuan bersama yang semoga bermanfaat untuk siapa pun yang membutuhkan informasi Kapal HDPE. Jadi, mari sama-sama mengenal Kapal HDPE. 

Baca juga: Kapal HDPE PT. Iqra, Alternative Wahana Transportasi Wilayah Terluar Indonesia (klik)
kapal hdpe
Kapal Patroli HDPE
Produk Berbahan HDPE

Pertama, yang perlu diketahui dari Kapal HDPE adalah HDPE itu sendiri. Setelah mengetahui apa itu HDPE, selanjutnya jadi mudah untuk mempercayai keunggulan dari kapal HDPE. So, mari simak.

HDPE (High Density Polyethylene) merupakan produk turunan dari pengelolaan Minyak Bumi, Gas Alam, dan Batu Bara. Perpaduan antara Density, Strenght, Ductility, dan Elongation membuat HDPE memiliki karakteristik yang unik.

Sederhananya, HDPE adalah jenis bahan pembuat kapal yang selama ini beda dari yang pernah saya (mungkin juga Anda yang baca tulisan ini) lihat. Selama ini, kapal yang pernah saya naiki terbuat dari kayu, fiber, kombinasi kayu dan fiber, serta baja. Nah, HDPE ini bahan lain selain bahan tersebut.

Asal-usul HDPE bermula dari Minyak Bumi yang kemudian diekstraksi menjadi Gas/LPG, Nafta, Solar, Kerosine, dan Residu. Dari Nafta diolah lagi menjadi Premium dan ThermoPlastic. Turunan dari Thermoplastic kemudian menjadi Granule HDPE. Selanjutnya, HDPE Granules diolah menjadi pelat, pipa, kubus apung, dll. Produk inilah yang kemudian dapat dirangkai menjadi kapal.

Pernahkah saya melihat produk berbahan HDPE? Kemungkinan pernah. Contohnya banyak di sekitar saya, seperti botol kemasan, jerigen, container box, drum, pipa PDAM, dan lain-lain. Biasanya pada produk tersebut terdapat logo berbentuk segitiga dan ada tulisan HDPE. 





Contoh produk berbahan HDPE


Kapal HDPE

Beberapa produk berbahan HDPE di atas di antaranya sudah pernah saya jumpai. Namun, belum pernah dalam bentuk kapal. Atau, bisa jadi saya pernah lihat tapi tidak menyadarinya dikarenakan belum memiliki pengetahuan tentang produk Kapal HDPE.

Memang penting mengetahui apa itu Kapal HDPE. Saya yang cuma pengguna kapal untuk urusan wisata saja merasa perlu naik kapal yang tingkat safety-nya mumpuni, apalagi bagi mereka yang sehari-harinya bekerja di perairan seperti nelayan, petugas patroli, petugas kesehatan, dan lainnya.

Kebutuhan untuk memiliki, mungkin masih sebatas mimpi. Tapi, dengan pengetahuan yang ada, setidaknya saya bisa merekomendasikan kepada para pengusaha wisata yang saya kenal tentang adanya Kapal HDPE yang bisa digunakan sesuai kebutuhan. Bukan tak mungkin juga dari sana informasi bisa diteruskan ke perusahaan lebih besar yang membutuhkan kapal HDPE untuk berbagai keperluan sesuai jenis kapal HDPE yang tersedia.

Aplikasi penggunaan Kapal HDPE meliputi:
- Ship Agencies
- Diving Boat
- Passenger Transportation
- Harbour & Marina Services
- Security
- Health
- Search and Rescue

rescue boat
Patrol & Rescue Boat

Keunggulan HDPE

"Rata-rata kapal di Indonesia terbuat dari bahan kayu, fiber, dan aluminium. Ketiga bahan tersebut memiliki kelemahan dan kelebihan. Oleh karena itu, HDPE hadir untuk mengatasi kelemahan yang ada," ujar Mas Dicky.

Sekilas, Kapal HDPE tampak seperti kapal plastik, kerap disebut dengan "kapal ember". Dalam bayangan saya, kapal ember jelas tidak aman. Boleh jadi dia ringan, tapi berbahaya sebab bakal meleleh bila terkena api, mudah terbalik, dan mudah rusak karena jadi getas akibat terlalu lama kena sinar UV.

Anggapan saya terhadap Kapal HDPE tidak aman ternyata keliru. Meskipun elastis, HDPE bukanlah plastik.  Jadi, mari kenali keunggulan HDPE, sebagai berikut:
- Bisa di recycle
- Tahan lama
- Tahan Sinar UV
- Tahan Zat Kimia
- Berat jenis ringan (0,93-0,96)
- Dapat dibentuk menjadi bervariasi produk

Kapal HDPE

Bisa di Recycle dan Tahan Lama

Kehebatan HDPE dimulai dari "bisa direcycle" dan "tahan lama". Artinya Kapal HDPE bisa berumur panjang hingga mencapai 15 tahun. Bagi pengguna, produk tahan lama bisa menghemat  biaya. 

Secara material, umur HDPE bisa digunakan hingga 50 tahun. Ketika Kapal HDPE tidak lagi dapat digunakan, HDPE masih bernilai ekonomi dengan cara direcycle menjadi produk turunan, seperti botol kemasan untuk wadah sabun, sampho, jerigen, dll. 

Kenapa HDPE tidak didaur ulang lagi menjadi kapal? 

"Setelah proses recycle, kekuatan struktur HDPE sudah menurun. Tidak bisa digunakan untuk membuat kapal baru," ujar Mas Dicky. 

Jika tahan lama, bukankah akan menahan arus penjualan? 

"Kekhawatiran akan hal itu sama sekali tidak ada. Sebab, lautan Indonesia sangat luas. Kebutuhan akan kapal tidak pernah berhenti. Jadi, produksi kapal akan terus berjalan," imbuh Mas Dicky.

Tahan Zat Kimia & Tahan Sinar UV

Di masa kini pipa PDAM sudah menggunakan HDPE karena aman dari reaksi kimia. Penting sekali pipa PDAM memiliki spesifikasi tahan zat kimia, sebab pipa menjadi tempat lewat air yang akan digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga seperti mandi, mencuci, bahkan memasak. Bisa kebayang dampaknya kalau pipa PDAM mudah bereaksi terhadap zat kimia. Air yang sampai ke rumah kita sudah tercemar dan tak bisa digunakan lagi.

Ringan dan Kuat

Spesifikasi paling menarik dari HDPE adalah jenis materialnya yang ringan. Meskipun ringan, ketika sudah menjadi kapal, beratnya bisa hampir sama dengan kapal aluminium. Saat dibangun, konstruksi kapal HDPE harus lebih rapat dan lebih tebal dibandingkan aluminium. Jadi secara total kalau sudah menjadi kapal, stabilitas kapal masih terpenuhi. 

Nah, metode inilah yang akhirnya membuat saya berhenti menganggap Kapal HDPE mudah terbalik. Seandainya pun sampai terjadi terbalik, kapal tidak akan tenggelam sehingga penumpang masih bisa berpegangan pada kapal sambil menunggu penyelamat datang. 




Kapal HDPE Tidak Dapat Tenggelam

Tidak dapat tenggelam merupakan bagian paling menarik dari Kapal HDPE. Pendapat ini tanpa mengesampingkan keunggulan lainnya lho ya.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Faktor kapal tidak dapat tenggelam berasal dari material HDPE yang memiliki masa jenis 0,96 g/cm3 saja, lebih ringan dari masa jenis air 1 g/cm3. 

Kemudian, dalam pembuatannya, PT. Iqra Visindo Teknologi mendesain bagian lambung (Hull) secara khusus dan sedemikian rupa sehingga ketika terjadi kebocoran atau air melimpas ke dalam kapal, Kapal Tidak Dapat Tenggelam (Unsinkable).

Sebagai penikmat wisata yang kerap melakukan perjalanan di laut, kapal tenggelam memang jadi momok paling menakutkan. Perasaan seperti ini bukan milik saya sendiri. Banyak teman saya yang pandai berenang sekalipun, memiliki ketakutan yang sama. Bahkan di antara mereka sulit sekali diyakinkan ketika diajak traveling dengan kegiatan naik kapal. 

Memang sih, jika pakai jaket pelampung, masih aman dari tenggelam. Tapi dengan tetap berada di kapal yang mengapung, keberadaan diri kita saat karam di laut, jadi lebih tertolong. 

Tentu saja, bukan cuma wisatawan macam saya saja yang bakal senang dengan keunggulan kapal HDPE yang tidak dapat tenggelam. Mereka yang sehari-hari banyak bekerja di laut, seperti nelayan, petugas patroli, atau pun orang-orang di dinas perikanan dan kelautan, pasti menyukai kelebihan yang dimiliki kapal HDPE.

perahu hdpe
Perahu Nelayan HDPE di Papua

Kapal HDPE Cocok Untuk Unit Search dan Rescue SAR

Indonesia adalah salah satu negara dengan perairan terluas di dunia. 50% lebih wilayahnya adalah lautan. Secara otomatis negara butuh banyak armada laut untuk tugas yang berkaitan dengan patroli dan pengawasan. 

Saat ini, Kapal patroli HDPE buatan Pt Iqra Visindo Teknologi sudah digunakan di Manokwari Sea Rider. Salah satu keberhasilan Sea Rider HDPE adalah mengurangi penyelundupan miras di Manokwari. Informasinya dapat di baca di sini (klik) : Sea Rider Tangkap Penyelundup Ratusan Liter Miras. 

Speed Inov HDPE juga sudah hadir mengamankan laut Manokwari. Beritanya bisa dibaca di sini (klik): Speed Inov Hadir, Keamanan Laut Manokwari Diperketat.

Uji coba Inov oleh Gubernur Papua Barat dan Kapolda Papua Barat 

Kehadiran Kapal HDPE dapat menjadi solusi terbaik bagi upaya pemberdayaan transportasi bahari khususnya di perairan wilayah pesisir, danau, sungai dan wilayah pedalaman di Indonesia. 

“Ini semua merupakan ikhtiar luhur kami untuk membangun dan mengembangkan industri maritim di negara kita melalui kapal HDPE, tentu dengan menggunakan sumber daya dari bangsa sendiri. Semoga kedepan, bersama segala keunggulannya, penggunaan kapal HDPE semakin banyak digunakan dalam beragam aplikasi di Indonesia!”, ujar Muhammad Asdin, Direktur PT.Iqra Visindo Teknologi.

Sebagai informasi, Kapal HDPE merupakan karya asli anak bangsa yang keseluruhan pembuatannya dikerjakan di Indonesia. Saya masih memiliki informasi lebih mengenai hal membanggakan tersebut, Insha Allah akan saya sajikan pada tulisan berikutnya. 

Satu hal lagi, Kapal HDPE sangat ramah lingkungan, sejak kapal dibuat hingga sudah jadi dan digunakan dalam waktu lama. Tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai hal tersebut? Simak pada tulisan saya berikutnya.



PT Iqra Visindo Teknologi

Tower 88, 38th floor Kota Kasablanka
Jl. Kasablanka Kav. 88
Jakarta Selatan, 12870.
Telp.: 021-29636772
Fax: 021-29638088


Dunia Darurat Virus Corona, Haruskah Kamu Egois?

10.05 Add Comment
hoax virus corona
Dunia darurat virus corona


Dunia Masih Darurat Virus Corona?

Saya teringat saat ke Bali tahun 2017, Gunung Agung kala itu sedang erupsi. Saya dan suami dihantui kecemasan, terlebih penerbangan beberapa kali distop untuk masuk dan keluar Bali. Apakah aman? 

Semburan material akibat letusan tidak mengenai seluruh Bali. Jadi, kami tetap berangkat ke Bali. Lagipula, belum ada larangan dari pemerintah untuk mengunjungi Bali. Bahkan Presiden Jokowi sempat nge-vlog di tengah kerumunan wisatawan di Bali. 

Resiko yang ada paling nggak bisa pulang sesuai jadwal jika penerbangan ditunda. 

Erupsi Gunung Agung adalah bencana. Virus Corona juga bencana. Namun, Virus Corona bukanlah gunung yang menetap pada satu tempat. 

Apapun yang disemburkan oleh gunung yang sedang erupsi akan mengenai orang di dekatnya saja yang saat itu berada dalam jarak tidak aman. Bukan mengenai satu orang lalu bisa berpindah mengenai orang lain di tempat lain yang berada dalam jarak aman. 

Tak mungkin juga ada orang yang kena abu vulkanik, gas vulkanik, atau apapun itu, dengan sengaja membawa semua material itu ke tempat lain dan membuat orang lain ikut kena. 

Karena itu, belum pernah terjadi ada korban erupsi gunung berapi dilarang pergi ke mana saja dan bertemu dengan siapa saja dengan alasan nanti bisa membuat orang lain tertular kena semburan. Yang ada, semua orang dilarang mendekati gunung yang sedang erupsi, supaya tidak kena semburan.

Corona bukan material dari perut bumi. Corona adalah virus berbahaya yang bisa menular. Dan kita tidak tahu ia sedang menjangkiti siapa di sekitar kita.

Corona bukan hoax. Beritanya mungkin saja ada yang hoax. Tapi banyak berita tidak hoax beredar yang bisa kita ketahui dengan benar, bukan untuk menakuti tetapi memberitahu agar setiap orang waspada. Kalau ingin tahu mana yang hoax dan tidak, kenali lewat info yang dipublikasi oleh Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika dalam Laporan Isu Hoaks. 

Banyak kok cara untuk mengenali mana berita hoax dan tidak, yang penting tidak asal menyebut hoax demi suatu kepentingan, terlebih pada berita yang sesungguhnya akurat dan terpercaya. 

Kepentingan seperti apa? Nih contohnya, kepentingan pribadi dan perusahaan supaya jualan tripnya laku!

Yang terjadi, memang banyak orang jadi batal bepergian ke suatu kota atau negara. Teman saya pun, yang tiap minggu melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, salah satu negara tujuannya adalah Singapore, membatalkan semua agendanya keluar negeri. Kamar-kamar hotel yang sudah ia booking, ia gratiskan ke siapa saja yang butuh. 

Benar terjadi banyak usaha perjalanan mengalami penurunan omset. Bahkan mengalami tak ada omset sama sekali dari semua produk yang dijual. Pengusaha bisnis perjalanan yang saya kenal pun mengalami hal tersebut. Beberapa dari mereka sabar, paham bahwa kondisi sedang tak aman. Keselamatan orang-orang lebih penting ketimbang keuntungan. Maka ia menunda penjualan. Bahkan, terang-terangan menghimbau orang lain untuk tidak banyak bepergian. 

Kalau punya teman pengusaha macam itu jelas saya kagum. Ia tidak memaksakan diri agar orang-orang yang telah membeli paket perjalanannya tetap melanjutkan traveling. Justru ia meminta tamu-tamunya untuk menunda perjalanan sampai waktu yang ditentukan.

Namun, ada juga yang berbuat sebaliknya, gencar mengatakan semua berita tentang corona adalah hoax. Ia benci corona telah membuatnya kehilangan banyak tamu, sehingga ia tetap mengatakan bahwa traveling kemanapun tetap aman, tidak ada masalah, tetap bisa selamat dan sehat.

Bagaimana mungkin kita bisa mengatakan aman bila korban sudah ribuan?? Yang meninggal ribuan. Yang dirawat juga ribuan. Sudah nonton berita di TV belum? Sudah baca koran? Coba deh tonton dan baca, jangan cuma baca laporan penjualan tok!

Ribuan orang melakukan perjalanan tiap harinya. Kita tidak tahu ia ke mana dan telah bertemu siapa saja. Bisa jadi si penular dan yang tertular pernah melintasi tempat-tempat yang biasa kita lewati. Bisa saja ia bertemu dengan orang-orang yang kita temui di bandara, pasar, mall, kantor, dan di mana pun. 

Apakah virus corona bisa kita lihat seperti abu dan gas vulkanik gunung berapi? Tidak. Ia hanya bisa dikenali melalui kondisi korbannya, itupun pakai alat dan waktu, dan oleh orang-orang medis. Bisakah orang awam macam kita dapat mengenalinya hanya dengan sepintas lalu? Lalu, buru-buru menghindar? Bah!

Saya prihatin dengan para korban virus corona, prihatin juga dengan apapun dan siapapun yang kena dampaknya, termasuk kalian para pengusaha bisnis perjalanan. Tapi tolonglah, jangan mengatakan corona itu hoax, semua berita tentang corona di TV, Radio, Koran, dan di internet itu hoax. Kalau mau bepergian, silakan bepergian saja, tanpa harus menyangkal sesuatu yang sudah menjadi fakta.

Coba deh baca berita-berita yang diturunkan oleh media terpercaya. Ada berita dari Malaysia, Singapura, Korea, Jepang, Cina, dan negara-negara lain mengenai korban-korban yang dirawat, meninggal, terinfeksi, melakukan perjalanan ke beberapa negara, dan bahkan ada yang ke Indonesia. Cari deh, cari, dan baca.

Benar bahwa kalau sudah sakit ya sakit aja, Tuhan akan kasih kita sakit dengan cara apapun. Kalau enggak, ya enggak. Kita akan tetap sehat meski ketemu dan bersentuhan dengan si penderita. Tapi kita tidak yakin kapan itu akan terjadi dengan kita bukan? Karena Tuhan tidak memberi pengumuman pada kita. Jadi, kita tidak tahu pasti apa akan selalu diberi sakit atau sehat. Jadi, paling baik adalah berupaya mencegah dan menghindarinya. Insha Allah sehat dan selamat.

Semoga tetap bijaksana dalam kondisi apapun. Singkirkan egois dalam diri.

Tetap semangat, rejeki nggak akan kemana, meski Corona melanda. 


Sail Komodo Pulau Rinca, Jumpa Komodo di Sarangnya

18.11 1 Comment
Dalam laporan bertajuk Lonely Planet's Best in Travel 2020, Nusa Tenggara Timur, Indonesia meraih peringkat 1 dalam Top 10 Best-Value Destination atau 10 Destinasi dengan Harga Terbaik untuk dikunjungi pada tahun 2020. 

Kabar manis itu membuat saya jadi semangat untuk melanjutkan cerita pengalaman menjelajah Nusa Tenggara Timur. Maka, postingan kali ini akan menjadi Part 2 Sail Komodo 2019. Semoga belum basi, meski setelah 1 tahun dari sana baru bisa lanjut nulis lagi.


Cerita Sail Komodo diawali dari sini, silakan baca dulu di: Live on Board Komodo, Pengalaman Seru Naik Kapal Phinisi di Labuan Bajo

best in travel 2020
Komodo di Pulau Rinca, Nusa Tenggara Timur
Why you should visit East Nusa Tenggara in 2020?

These Indonesian islands offer idyllic beaches and wide open exploration for less than you might think (Lonely Planet)


Dalam artikel Top 10 Best-Value Destination Lonely Planet, Nusa Tenggara Timur (NTT) ditampilkan dengan indah lewat video berdurasi 1 menit 37 detik. Semua orang bisa lihat betapa memesona NTT dengan keajaiban alamnya yang luar biasa. Salah satunya terdapat Taman Nasional Komodo (TNK) atau Komodo National Park, tempat di mana komodo hidup di habitatnya dan menjadi ikon wisata Indonesia yang mendunia.


Nusa Tenggara Timur adalah tentang pulau-pulau memesona dengan pantai-pantai nan indah memanjakan mata, serta laut dengan air jernih berisi beragam kekayaan hayati yang sangat menakjubkan untuk diselami. 


Benar kata orang. Sebagai orang Indonesia, setidaknya pernah satu kali ke Nusa Tenggara Timur. Pernyataan ini tidak berlebihan, khususnya buat penggemar wisata petualangan. Dan memang, menjelajah NTT jadi pengalaman paling mengesankan sependek saya pernah keliling Indonesia untuk berwisata.


Saya juga ingin suatu hari nanti pergi ke Labuan Bajo lagi bersama suami dan anak-anak, agar mereka tak sekadar bangga pada peringkat istimewa yang diberikan oleh situs perjalanan terkemuka dunia itu saja, tapi benar-benar pergi menjelajah. Meski saya tidak tahu, apakah biaya masuk Taman Nasional Komodo nanti akan sama terjangkau seperti ketika saya ke sana tahun 2019 lalu. Kenapa?


Kabar wisata Labuan Bajo bakal jadi wisata ekslusif berbiaya mahal, bikin traveler tidak tajir macam saya jadi pikir-pikir! Sobat traveler sudah tahu belum tentang hal tersebut?
best destination travel 2020
Pulau Padar, Komodo National Park, Nusa Tenggara Timur

Jurassic Park akan Dibangun di Labuan Bajo

Dalam 2 tahun terakhir, Kawasan Pariwisata Super Prioritas Taman Nasional Komodo (TNK) punya kabar cukup menghebohkan dunia pariwisata. Menurut saya sih heboh ya kalau beritanya begini:

Diawali pada bulan Agustus 2018, api menghanguskan 10 hektar padang rumput Gili Lawa yang terletak di TNK. Diduga akibat puntung rokok dan kembang api, tapi hal itu tak terbukti. Lalu, netizen bersuara, pro dan kontra. Yang pro minta ditutup biar segenap isi TNK aman. Yang kontra minta tetap dibuka biar wisatawan tetap bisa ke sana dan pelaku wisata tetap hidup.

Bulan April 2019, Presiden Jokowi menyetujui penutupan sementara Pulau Komodo dan penutupan akan dimulai pada tahun 2020 untuk penataan ulang. (Gub NTT sebut Jokowi setuju Pulau Komodo ditutup - regional.kompas.com 9/4/2019)

Bulan Oktober 2019, Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut B Panjaitan membantah isu penutupan Pulau Komodo. Yang ada, Pulau Komodo tidak akan ditutup namun akan dijadikan wisata eksklusif. Tiket masuknya 14 juta! (hipwee.com 2/10/2019).

Kabar terbaru di awal tahun 2020, nantinya pemerintah akan menata Taman Nasional Komodo dengan pendekatan geopark berkelanjutan mirip dengan tema Jurassic Park. Perancangnya Yori Antar Anwar, seorang ahli lingkungan, alam dan budaya Nusantara. (goodnewsfromindonesia.id 26/1/2020). 

The Jakarta Post (5/2/2020) dalam artikel berjudul Komodo Island eyes 50,000 tourists after premium membership system introduced menyebutkan "Entry tickets to the destination will be set at US$1,000 per year per person." 


Bagaimana menurut kamu? 
pengalaman sail komodo labuan bajo
Kapal-kapal Wisata di Labuan Bajo

Sail Komodo Pasti Seru

Di Taman Nasional Komodo terdapat 3 pulau besar, yaitu Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar. Pulau yang akan dibangun dengan konsep Jurassic Park adalah Pulau Rinca, pulau yang saya datangi tahun lalu. Kamu bisa tonton video saya jumpa komodo di Pulau Rinca di channel saya berikut ini (klik) --> Berjumpa 13 Komodo di Sarangnya.


Banyak teman dekat ingin pergi melihat Komodo di Taman Nasional Komodo. Pertanyaan yang paling sering diajukan ke saya adalah "Perlu berapa lama agar puas menjelajah Taman Nasional Komodo?"


Kadar kepuasan tiap orang berbeda. Jika sekadar jumpa komodo, seharian saja cukup. Buat saya yang amat penakut pada reptil, 10 menit bertemu komodo rasanya seperti setahun! Bukanlah hal menarik berlama-lama di sarang komodo. Lain halnya jika memang ingin lama-lama mengamati perilaku komodo, memotret atau membuat video komod sejak pagi sampai ketemu pagi lagi, setidaknya seminggu baru puas. 


Waktu ideal keliling kawasan Taman Nasional Komodo minimal 3 hari. Dalam waktu 3 hari 2 malam, wisatawan sudah bisa mencicipi berlayar di Taman Nasional Komodo. Naik kapal keliling dari satu pulau ke pulau lain, menjelajah daratan, bermain di pantai, dan melakukan kegiatan berenang, snorkeling, dan diving di spot-spot pilihan.


Di Labuan Bajo ada banyak penjual paket wisata Sail Komodo. Kamu tinggal pilih sreg dengan penjual yang mana. Kalau saya, tahun lalu pilih pakai Gamanesia Holiday (IG @gamanesia.id). Jasa tour Labuan Bajo satu ini sudah saya kenal dengan baik, saya pun sudah merasakan bagaimana pelayanan baik mereka terhadap tamu.


Berapa lama waktu yang harus diluangkan jika ingin sail komodo? Untuk seorang karyawan, setidaknya perlu cuti 5 hari. Hari pertama berangkat ke Labuan Bajo, lalu menginap dulu 1 malam sebelum berangkat sail di hari ke-2. Buat yang ingin menginap dengan gaya mewah bisa pesan room di AYANA Komodo Resort, atau yang agak sederhana tapi nyaman dan berpemandangan mewah bisa di Escape Bajo. Tinggal pilih sesuai selera dan isi kantong. Kalau nggak mau repot urusan hotel, serahkan saja pada tour operator yang kita pakai.


Hari kedua sampai ke empat mulai sail. Setelah sail menginap lagi 1 malam sebelum kembali ke kota asal. Bisa saja hanya 3 hari tanpa menginap dulu di Labuan Bajo, langsung sail, tapi pastikan dapat penerbangan paling pagi untuk berangkat dan penerbangan paling malam untuk pulang.


Dengan berlayar ada banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi dan banyak aktivitas seru yang bisa dilakukan. Untuk tahu aktivitas apa saja yang bisa dilakukan saat sail komodo di Labuan Bajo, silakan baca di artikel saya berikut ini: Sail Komodo 3D2n Labuan Bajo 
cara keliling taman nasional komodo
Keliling Taman Nasional Komodo Naik Kapal Semi Phinisi Lamburajo

Berlayar di Taman Nasional Komodo Itu Istimewa

Bagi saya, Sail komodo punya cita rasa tersendiri yang berbeda dengan petualangan di tempat wisata lainnya. Sesedikit pengalaman saya pernah keliling Indonesia untuk berwisata, belum pernah terjadi saya berlayar seperti di Labuan Bajo. 


Sail komodo bukan semata tentang menaklukkan rasa takut bertemu langsung dengan komodo mematikan, tapi juga aktivitas berlayar yang sangat mengesankan. Sebuah kesenangan berisiko, namun jadi pengalaman berharga, bahkan bagi seorang turis yang dianggap manja dan alay.


Dulu pernah keliling Kepulauan Derawan di Kalimantan Timur, menjelajah pulau-pulau pakai kapal, tapi bukan menginap di kapal, melainkan di cottage di Pulau Derawan dan di home stay di Desa Bohe Silian di Pulau Maratua. 

Naik kapal serupa yang saya naiki di Labuan Bajo mungkin bisa di mana saja, malah tidak akan ada apa-apanya bila dibanding naik kapal pesiar mewah. Tapi, berlayar di Taman Nasional Komodo tidak akan ada dua di tempat lain. Karena itu trip Komodo akan lebih afdol bila dengan sail. 


Wisatawan di Labuan Bajo bisa saja pergi ke Pulau Rinca, atau ke Pulau Komodo tanpa harus menginap di kapal. Hanya datang dan pergi ke Labuan Bajo lagi. Tapi bagi saya rasanya sungguh tak akan semengesankan bila bermalam beberapa hari di dalam kapal.
Di sini kami bermalam, di sebuah teluk dekat Pulau Rinca


Komodo Masuk Kapal 

Perjumpaan saya dengan komodo terjadi di Pulau Rinca, pulau tak berpenduduk dan dikenal sebagai sarangnya komodo. Pulau lain tempat untuk berjumpa komodo yaitu Pulau Komodo. Di sana ada perkampungan, kita bisa berinteraksi dengan warga lokal, bahkan menumpang bermalam.


Saya akan memulai cerita ini pada suatu sore, di hari Sabtu (16/3/2019). Setelah menyaksikan ribuan kelelewar terbang di bawah langit petang yang kelabu, kapal kami bergerak mendekati Pulau Rinca. Namun, kapal tidak bersandar di dermaga, tetap di perairan, pada sebuah teluk. Di sanalah kami akan bermalam. 

Berada di perairan Pulau Rinca membuat saya teringat ucapan Pak Deddy guide tentang komodo bisa berenang. Bagaimana jika komodo itu menyeberang masuk kapal saat kami sedang tidur? Saya agak cemas, tapi karena tak ingin berpikir yang tidak-tidak, saya bergegas menyibukkan diri dengan bergegas mandi, makan, dan kemudian pergi tidur. Tapi tetap saja, letih badan membuat benak kembali dipenuhi bayangan komodo berenang mendekati kapal, naik dari pinggiran dek terbawah dekat deretan kamar tidur, membuat heboh. Alangkah ngerinya jika itu benar-benar terjadi. 

Malam itu, setelah Katharina (teman satu kamar) naik ke ranjangnya, pintu kamar saya tutup rapat-rapat. Saya pastikan kunci terpasang kuat. Setelah beberapa saat mata sulit terpejam, akhirnya saya bisa tidur. Buaian ombak yang membuat badan kapal sesekali bergoyang pelan, sepertinya telah membantu membawa saya pergi ke alam mimpi. Apa yang dikhawatirkan tentang komodo tak terjadi, dan saya dengar hal itu memang tak pernah terjadi.

Keesokan pagi, saat alam raya mulai benderang, saya bisa lihat betapa dekatnya kapal kami dengan Pulau Rinca. Dengan jarak sedekat itu, maka dekat pula kami dengan komodo liar, bukan? Saya kembali bergidik.
Kapal di belakang adalah kapal kami, hanya beberapa ratus meter saja dari dermaga Pulau Rinca

Merasa Cinta di Dermaga Pulau Rinca

Terbangun di hari Minggu pagi (17/3/2019), saya mendapati suasana yang begitu tenang. Tak ada berisik deru angin. Tak ada ribut suara burung. Tak ada ombak yang mengayun badan kapal. Apakah pagi di tempat ini selalu setenang ini? 

Di bawah matahari yang mulai berbagi kehangatan, di bawah langit biru yang memayungi lautan, saya terpaku di anjungan kapal selama hampir 30 menitan, menikmati keelokan alam. Sebuah pagi di tempat tak biasa, yang tidak tiap hari bisa saya jumpai. Rasanya saya ingin mematung di sana berlama-lama. Namun, mandi dan sarapan harus disegerakan. Komodo di Pulau Rinca sudah menunggu untuk dijumpai. Setelah makan dan dandan, sekoci berkapasitas terbatas meluncur cepat meninggalkan kapal, membawa kami menyeberang bergantian.

Hanya perlu waktu kurang dari 6 menit bagi sekoci untuk merapat di jetty. Suasana dermaga tampak masih sepi. Sepertinya, kami jadi pengunjung pertama. Hari itu, memang tak ada kapal lain selain kami yang bermalam di perairan Pulau Rinca. Wajar jika bisa datang paling awal.


Kami tak diburu-buru meninggalkan jetty. Ada waktu untuk sesaat menikmati keelokan pagi dari dermaga. Saya ter-wow-wow, antara norak dan takjub dengan panorama alam yang yang tersaji indah ke mana pun mata memandang. Hanya ada laut tenang dan daratan sunyi yang diselimuti kedamaian. Masihkah saya di bumi?


Bukankah tempat seperti ini terlalu romantis jika dilewatkan tanpa bercumbu? 


Bercumbu dengan pancaran sinar sang mentari, dengan sapuan angin yang menghembuskan kesegaran laut, dengan pemandangan yang tersaji nun jauh di horison, dengan panorama barisan bukit yang hanya dihuni oleh hewan dan tumbuhan, dengan laut yang sedang bermusuhan dengan gelombang, dengan udara bersih yang menyegarkan paru-paru, dengan segala hal yang membuat hati merasa cinta.


Seringkali kurasakan, tempat sedamai dan sesehat ini seumpama obat, mampu membunuh segala gundah dan resah, menikam rasa kecewa dan sedih, dan meringankan segala beban yang menggelayuti pundak. Mengibaratkan keindahan sebagai obat, meskipun jiwa raga sedang tidak sakit, adalah cara mudah merawat sehat...
Pemandangan pagi dari jembatan dermaga Pulau Rinca

Para Ranger di Dermaga

Di dermaga sudah ada beberapa pria pemandu (ranger) yang telah siap untuk diajak menemani trekking keliling Pulau Rinca. Untuk jumlah kami bertiga belas, kami mendapatkan dua ranger


Setiap ranger ada biaya. Saya tidak tahu berapa biaya ranger kami saat itu, karena segala urusan pembayaran sudah diurus oleh Gamanesia. Kami tinggal masuk dan jalan saja. Saya juga tidak tergerak untuk mencari tahu dengan bertanya langsung ke ranger


Jadi, untuk melengkapi tulisan ini, saya mencari tahu di internet, dan inilah biaya masuk Taman Nasional Komodo yang berlaku pada tahun 2019:


- Karcis Masuk Taman Nasional Komodo Rp 5000 / orang

- Jasa Pemandu Rp 80.000 / grup (5 orang)
- Snorkeling Rp 15.000 / orang
- Kegiatan Pengamatan Hidupan Liar Rp 10.000 / orang 
- Kegiatan Wisata Alam Penelusuran Hutan (trekking) Rp 5000 / orang
- Karcis masuk kendaraan air (kapal) 100-500PK Rp 150.000 / hari
- Tiket TN Komodo & Retribusi Daerah (excl. diving) Rp 265.000 / orang (wisatawan Nusantara) dan Rp 460.000 / orang weekdays (wisatawan mancanegara)

Sumber informasi harga tiket (klik) --> Tiket Masuk Taman Nasional Komodo 

Para ranger sudah menunggu di sini

Komodo Mengincar Wanita Haid. Benarkah?

Setelah mendapatkan ranger, kami berangkat jalan kaki menuju kantor TNK yang berjarak kurang lebih 100 meter dari dermaga. Tadinya, sebelum perjalanan dimulai, saya berharap ranger memberi petunjuk keselamatan tentang bagaimana bila terjadi sesuatu saat bertemu komodo di tengah jalan. Sekilas pun tak apa. Tapi ternyata semua informasi akan diberikan kemudian, di kantor TNK.


Saya jadi agak gentar. Meski diberitahu dalam 100 meter itu keadaan aman, namun siapa yang bisa menjamin tak akan ada komodo liar tiba-tiba datang dan lewat? Bukankah jalan menuju kantor aksesnya terbuka ke arah manapun?


Ketakutan terbesar saya berasal dari kondisi sedang haid. Bukan hal baru bagi saya mendengar wanita haid dapat ancaman komodo. Sebelum ke TNK, pernah ada dua cerita yang saya dengar soal kejadian wanita haid dibuntuti komodo. 


Pertama, cerita wanita haid masuk toilet. Di luar pintu, seekor komodo sudah menunggu. Cerita kedua, ada turis wanita Jepang mendadak haid di lokasi, darahnya menodai celana dan berceceran. Seekor komodo terus menerus mengikutinya, bahkan hingga si wanita dipaksa kembali masuk kapal, si komodo juga membuntuti hingga ke kapal. Cerita horor itu sangat menghantui dan saya semakin dihantui ketika sudah berada di Pulau Rinca.


Saya memberitahu ulang Pak Deddy mengenai keadaan saya sedang haid, dan memintanya jangan membuat jarak. Pak Deddy mengerti, ia menenangkan saya. Katanya jangan khawatir, ikuti saja dia dan ranger, dan "jangan bikin ulah". 


Salah seorang teman jalan cerita, kalau tak salah ingat Ve, saat itu dia seharusnya sedang haid. Tapi, karena mau berjumpa komodo, dia menunda haidnya dengan minum obat penunda haid. Saya pikir, cara ini boleh juga dicoba demi keamanan diri.


Dengan tidak adanya sekilas info cara menyelamatkan diri dari komodo, yang seharusnya langsung diberikan diawal sejak dari dermaga, menjadi alasan kenapa saya was-was. Lain waktu, jika kamu ke sini, tidak usah menunggu ranger bicara soal keselamatan, langsung saja tanyakan. Atau, bekali saja diri sendiri dengan informasi yang bisa dicari diinternet tentang bagaimana seharusnya ketika mulai memasuki Pulau Rinca. Tidak usah menunggu sampai briefing di kantor.
Jalan yang menghubungkan dermaga dengan lokasi kantor dan rumah penjaga TNK di Pulau Rinca






Jalan Setapak Menuju Komodo

Di Pulau Padar, pengunjung dapat berjalan kaki di atas jalan setapak berbatu yang tebal, rapi, dan cukup nyaman. Di Pulau Rinca, jalan setapak yang kami lewati berupa tanah mengandung lumpur dan pasir. 


Permukaan jalan setapak tidak mulus, beberapa agak basah dan licin, beberapa lainnya berlubang berisi genangan air. Tanah basah mengandung pasir dan lumpur itu mudah menempel di sepatu, susah dibersihkan. Jalan di sini cocoknya pakai boot yang kuat tapi ringan dan bisa menutup kaki sampai betis. Selain agar tidak basah, juga menjaga kaki aman dari goresan semak dan alang-alang saat trekking sampai jauh ke perbukitan.


Kami berjalan beriringan, mengikuti jalan yang berkelok. Bukit di sebelah kiri jalan, menyerupai dinding alam yang menampakkan tanah tebal bercorak coklat kehitaman. Tak ada pohon tinggi dan rindang, hanya mangrove saja di sebelah kanan jalan. Setahu saya, kadal, biawak, ular, sangat suka tinggal di hutan bakau. Tentu saja, komodo juga ada di sana. Perjalanan pendek itu terasa jadi menyeramkan. Mata saya jadi liar memandang, penuh rasa was-was. 


Sejumlah papan petunjuk dan peringatan untuk para wisatawan terpasang di beberapa tempat di sisi jalan. Bisa dibaca sebagai pengganti ketiadaan penjelasan dari ranger. Beberapa tempat sampah juga bisa ditemui di jalur yang dilewati. Kalau punya sampah, tinggal taruh di situ. Kalau punya mantan, juga bisa dibuang di situ he he.


Di sisi jalan setapak terdapat beberapa lampu jalan, bertiang pendek. Lampu-lampu itu pasti berguna ketika lewat di malam hari. Saya sih nggak kepikiran jalan di sana pada malam hari ya. Jalan siang hari saja banyak seramnya.


Kurang lebih 50 meter setelah belokan bukit, kami sampai di sebuah gerbang yang di sisi kiri dan kanannya terdapat patung komodo dalam posisi tegak. Pada bagian atas gerbang terpampang banner bertuliskan "Welcome to Loh Buaya, Komodo National Park". Seandainya tulisan itu dibuat di atas material permanen bernuansa alam, tentu akan matching dengan keadaan sekitar.  


Jalan setapak tanah berakhir di gerbang itu, selanjutnya semen yang kasar. Sayangnya, jalan semen itu hanya beberapa meter saja. Selebihnya tanah lagi. Nanggung sekali fasilitas jalan kaki di tempat ini. Kalau tidak bisa buat bagus, mending tidak buat sama sekali. Biar semua orang jalannya di tanah saja sejak awal sampai akhir.



Hei, ada komodo!


Seseorang berteriak. Saya kaget, seketika deg-degan. Padahal, posisi komodo yang dimaksud tidak terlalu dekat. Jaraknya kira-kira 50 meter dari tempat kami berdiri. Saya langsung bergerak ingin merapat ke Pak Deddy, tapi Pak Deddy malah menjauh, mendekati komodo. Saya lihat tangannya dalam posisi siap memotret, menjadikan kami sebagai latar belakang komodo. Tak ada Pak Deddy, saya beralih mendekati mas ranger, cari aman.


Perjumpaan dengan komodo pertama terjadi tak berapa lama setelah kami melewati gerbang bertuliskan Selamat Datang. Agak tidak menyangka akan semudah itu bertemu komodo. Saya kira harus trekking sampai jauh baru bisa jumpa. 


Setelah melihat langsung, saya bisa menggambarkan bentuk komodo. Badan komodo persis seperti biawak, tapi berukuran raksasa, dan mematikan. 


Kata ranger, komodo yang muncul di sekitar gerbang biasanya keluar untuk berjemur, dan tentu saja sambil mencari makan. Kami tidak perlu terlalu khawatir karena komodo yang berada dekat kantor tidak seliar dan seganas yang berada di hutan dan perbukitan. 


Anggapan saya bahwa komodo ada di mana-mana itu benar. Bisa saja dalam 100 meter pertama perjalanan menuju kantor TNK, ada komodo berdiam dalam bakau, di balik batang dan akar-akar yang menyembul. Kata "aman" yang diucapkan ranger jangan dipercaya sepenuhnya. Kita harus tetap waspada dari segala kemungkinan yang terjadi.
Dipotret oleh Pak Deddy, pakai kameraku
Ini tampak depan si komodo
Dan itu Pak Deddy 😃


Kantor Taman Nasional Komodo

Setelah bertakjub ria jumpa komodo pertama, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju kantor TNK yang berjarak kurang lebih 50 meter dari gerbang. Di kanan jalan terhampar tanah lapang berselimut rumput hijau yang tebal. Sementara di belakangnya, bukit-bukit hijau berjajar sambung menyambung hingga jauh, tempat di mana komodo tinggal bersama kawanannya. Di sanalah kami akan trekking. Memandang bebukitan itu, saya disergap kengerian. Nyali saya ciut lagi.


Ranger kami dua orang. Di tangan kedua ranger tergenggam tongkat kayu denganujung bercabang berbentuk huruf V. Tongkat itu jadi senjata andalan untuk menghadapi komodo bila terjadi penyerangan terhadap wisatawan. Menurut cerita, bentuk V pada ujung tongkat punya sejarah sendiri. Sayangnya saya tidak mengorek lebih dalam. Hanya sempat heran, kenapa komodo begitu takut pada cabang kayu tersebut. 


Kami sampai di area kantor TNK. Ada beberapa bangunan kayu berbentuk panggung dengan tiang yang pendek, berdiri di beberapa tempat, berdekatan. Bangunan pertama merupakan kantor, biasa disebut balai. Di depannya, terpancang tiang tinggi dengan bendera merah putih yang tak henti berkibar. 


Di depan bangunan kantor terdapat papan nama bertuliskan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Balai Taman Nasional Komodo, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Komodo Wilayah 1 Pulau Rinca, dan Resor Loh Buaya. 


Selain balai, terdapat juga bangunan kafe, rumah tinggal (mess) karyawan, dapur, dan toilet umum. Kami diajak berkumpul di luar kantor, di bawah pohon besar yang tumbuh dekat kafe. Di sanalah ranger mulai memberi arahan kepada kami. 


Larangan Bertemu Komodo

Ranger utama bicara sangat banyak perihal aturan selama trekking. Dengan wajah sangat serius, suara tegas terdengar dingin, seolah hendak mengatakan bahwa ini bukan trekking main-main. Ia punya tanggung jawab besar terhadap keselamatan 2 jenis mahluk hidup, manusia dan komodo. 

Menurut mas ranger, dulu pernah ada turis asing yang cuek bebek mendekati komodo dari jarak sangat dekat. Karena sudah keluar batas aman, si ranger memperingatkan dengan keras. Tapi si bule tidak peduli, ranger jadi marah. Nah, kemarahan ranger rupanya bikin si turis kesal, ranger dianggap kasar pengunjung. Bahkan, si turis komplen lewat artikel, isinya mengesankan ranger TNK itu tidak sopan dan kurang ajar. Berita tersebut sampai ke TNK, ranger yang dimaksud diberi sanksi, dicopot dari pekerjaan. 

Kalau sudah begini yang kasihan rangernya. Padahal mereka juga serba salah. Sebetulnya apa susahnya ya patuh pada aturan. Toh semua demi keselamatan nyawa kita juga. Nggak mungkin ada ranger yang mau lihat wisatawannya mati digigit komodo. Kalau tiba-tiba galak, pasti karena kitanya ngeyel.

Segala macam aturan tentang apa yang dibolehkan dan dilarang, semua disampaikan. Tidak sembarang memberi makan komodo. Tidak terlalu dekat. Tidak memisahkan diri dari rombongan. Tidak mengayunkan tongkat/kayu/tongsis atau apapun berbentuk batangan yang dapat membuat komodo jadi merasa terancam. Tidak membuat gerakan tiba-tiba seperti berlari cepat, melompat tiba-tiba, dan semacamnya, sebab memancing komodo jadi mendekat. Tidak mengeluarkan suara-suara keras, berteriak atau memukul-mukul sesuatu. 

Pokoknya, semua hal yang berpotensi menimbulkan gangguan bagi si komodo, sangat dilarang. Jika sampai terjadi dikejar komodo, harus lari zig zag, sebab komodo bisanya lari lurus. Intinya, selama berada di kawasan TNK harus tenang, santai, tetap jaga jarak, dan selalu waspada. 


Kita takut komodo, komodo juga takut sama manusia. Sama-sama merasa terancam dan tidak mau diganggu. Bedanya, kalau salah satu panik dan terjadi gelut, komodo lebih kuat dan mematikan. 
Briefing di sini
Bersih enak dilihat

Berfoto dengan Komodo 

Penjelasan panjang lebar dari ranger mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama trekking, memberi saya bekal yang cukup untuk jadi percaya diri dan bernyali. Setidaknya saya sudah tahu apa yang bisa saya lakukan bila terjadi sesuatu. 


Perjalanan dimulai, kami melewati rumah inap, kemudian dapur. Dan, di sinilah komodo-komodo bermunculan, entah dari mana. Ketakutan itu kembali datang kawan....


Awalnya satu, lalu dua, tiga, dan seterusnya. Mereka bergerak lambat sambil menjauh. Mungkinkah terganggu oleh kedatangan kami? Komodo-komodo itu tidak seagresif yang saya kira. Tidak mendekat, apalagi menampakan sikap hendak menyerang. Mungkin mereka kenyang? 😃


Seekor komodo berbadan besar dengan panjang 3 meter muncul dari arah kanan jalan setapak. Ia bergerak maju ke arah dapur. Ranger memberi isyarat agar kami mengikuti si komodo. Apa yang akan kami lakukan?


Komodo itu berhenti. Kepalanya terangkat, bergerak tengok kiri dan kanan, seolah mengawasi sekeliling. Saya deg-degan takut. Melihatnya diam malah bikin ciut, saya sampai mundur beberapa langkah. 


Ranger dan Pak Deddy menyuruh kami berdiri di belakang komodo, sambil jaga jarak. Seakan mengerti, komodo itu diam di tempat, membiarkan kami berfoto. Sungguh momen ajaib, berfoto dengan komodo di sarang komodo, sebuah kejadian langka dalam hidup saya.


Setelah berfoto bersama, selanjutnya foto sendiri-sendiri bersama komodo, bergantian. Sebuah foto yang kemudian saya bangga-banggakan pada keluarga di rumah. Saya bilang ke anak, "ini lho ibumu yang sangat penakut sama reptil akhirnya berhasil foto sama komodo"


Sesungguhnya, saya sedang membunuh rasa takut dengan melakukan apa yang saya takutkan.  
Panjang 3 meter
Model utama dan figurannya

Rombongan Komodo di Bawah Dapur

Di antara rasa senang, terdapat rasa cemas yang tak mau pergi. Sesekali bernyali, selebihnya berada dalam ketegangan yang tak kunjung berakhir kecuali telah pergi dari Pulau Rinca. 


Puncak ketegangan terjadi ketika saya melihat rombongan komodo berkumpul dekat dapur. Mereka tampak sangat beringas, ribut berebut makanan yang dilempar oleh mas-mas di dapur. Gerakan gesit, lidah menjulur, mata berapi-api, dan mulut yang melahap habis daging merah yang dilemparkan, memenuhi pandangan mata. Saya bergidik.

Ular kecil saja bikin saya ngeri, apalagi komodo. 

Sebetulnya, kata ranger, orang dapur tidak boleh memberi makan komodo seperti itu. Apa yang terjadi saat itu, memberi makanan, sangat jarang dilakukan. Mungkin, agar ada pertunjukkan yang bisa kami lihat, makanya dilakukan. Komodo pada umumnya jarang makan, jadwalnya malah bisa satu bulan sekali. Tapi sekali makan jumlahnya banyak. 

Di Pulau Rinca komodo bisa makan apa saja yang dijumpai, misal kerbau, rusa, bahkan kera. Bagian paling mematikan dari komodo adalah air liurnya. Bila terkena, harus segera mendapatkan penangan cepat. Dulu, korban gigitan komodo harus dibawa ke RS di Bali dan Singapore. Namun kini, obat racun komodo sudah tersedia di RS Siloam di Labuan Bajo. Informasi mengenai hal ini saya dengar dari ranger dan guide.

Saya berharap tidak ada satu pun wisatawan atau pun petugas TNK yang kena gigit komodo. Meskipun ada obatnya, lebih baik tidak sama sekali. Bila digigit di Pulau Rinca, perjalanan kembali ke Labuan Bajo tidak bisa cepat. Harus naik kapal dengan waktu kurang lebih 1 jam. Itu pun bila di laut sedang tenang, tidak ada badai, hujan, atau pun angin kencang. Bila ada helikopter ambulan, bisa lebih cepat sampai. Semoga nanti ada. 
Sosok mematikan
Ramai komodo di dapur

Telur Komodo

Setelah melihat banyak komodo di dapur, saya mulai ragu untuk meneruskan perjalanan ke hutan maupun ke bukit-bukit untuk mencari penampakan komodo liar di alam bebas. Jika di sekitar kantor saja sudah sebanyak itu, apalagi di hutan? Saya sungguh tidak siap jika terjadi apa-apa, apalagi harus lari menghindari kejaran komodo.


Namun, semua orang bersemangat dan punya keberanian. Haruskah saya tinggal dan menunggu saja di kafe, tidak ikut trekking? Setelah dipikir-pikir, rasanya sayang sudah jauh-jauh ke Pulau Rinca tak ikut menjelajah. Akhirnya saya beranikan diri untuk tetap ikut. Mas ranger dan pak Deddy guide saya tempel terus. Saya berusaha mencari aman dengan berada dekat mereka.

Di dalam hutan, belum begitu jauh sejak meninggalkan area dapur, kami diperlihatkan tempat telur komodo disimpan. Di bawah pohon-pohon, komodo menggali beberapa lubang. Telur hanya disimpan di salah satu lubang saja, lubang lainnya semacam buat pengalih perhatian supaya telur tidak dicuri hewan lain, seperti babi.

Masa pengeraman telur komodo 9 bulan, sama seperti usia kandungan anak manusia. Setelah sembilan bulan telur tersebut akan menetas dengan sendirinya. Biasanya bayi komodo baru menetas langsung pergi naik pohon, menghindari induknya atau komodo lain yang akan memangsanya. Bayi komodo akan tetap tinggal di pohon sampai berusia 3 tahun. Selama di pohon, bayi komodo makan reptil kecil seperti tokek, kadal, ular, dan burung.

Kadang pernah bayi komodo meloncat dari pohon, hinggap di badan orang yang sedang lewat. Nah, bayi komodo di bawah usia 3 tahun tidak berbahaya bila menggigit. Racun air liurnya belum ada. Setelah berusia 3 tahun anak komodo sudah berani tinggal di bawah. Karena badannya sudah besar dan sudah tidak lagi menjadi incaran komodo dewasa.

Komodo dewasa bisa memanjat pohon selama batangnya bisa dipeluk. Itu kenapa komodo kecil di pohon biasanya naik ke dahan paling tinggi dan kecil, supaya tidak bisa dicapai oleh komodo dewasa. 

Banyak pengetahuan yang saya dapat dari ranger ketika kami berada di tempat pengeraman telur komodo. Gambar tempat telur komodo di bawah ini:
Tempat penyimpanan telur komodo


Hujan Deras Gagal Trekking

Kami semakin masuk ke dalam hutan. Pada sebuah jembatan kayu yang di bawahnya ada semacam parit besar yang biasanya digenai oleh air yang mengalir, ranger mengajak berhenti. Ia melanjutkan cerita mengenai kehidupan komodo. Di parit itu, saat sedang berisi banyak air, biasanya komodo datang untuk berendam. Seperti halnya kerbau, mampir mandi dan minum, lalu pergi lagi.

Ketika sedang berada di jembatan tiba-tiba turun hujan. Mulanya gerimis, lalu makin lama makin deras. Saat itulah diputuskan untuk menghentikan perjalanan, kami diajak kembali ke kantor. Semua setuju. Saya bergegas memakai mantel hujan plastik. Lalu lari tunggang langgang bersama yang lain. 

Kami masih berharap hujan berhenti supaya bisa lanjut trekking, tapi tak ada tanda-tanda hujan akan reda, malah makin deras. Udara kian dingin, kaki basah, yang terpikir adalah minum teh hangat dan indomie pedas. Tak ada cara lain untuk mengatasi hal itu selain pergi ke kafe. Dengan berlarian di bawah hujan, akhirnya bisa duduk manis di kafe, bersama pengunjung lain. Mau tak mau cuma di kafe inilah kami bisa menghabiskan waktu kunjung, menunggu hujan reda dengan menikmati mie instan dan minum teh.

Meskipun tidak jadi trekking, kami tidak mengeluh. Mungkin, karena sudah jumpa 13 komodo di dapur dan di sekitar kantor, sudah cukup puas. Saya sendiri merasa lebih senang tidak jadi trekking. Karena jujur saja, nyali saya tidak cukup besar bila benar-benar sampai jumpa komodo di hutan sunyi, atau bukit yang sepi.

Saat makan indomie, komodo pun masih terlihat melintas di lapangan, di bawah hujan deras. Langka terjadi, menikmati semangkuk indomie sambil menonton komodo main hujan hehe. 
Kafe Komodo
Makan indomie di Kafe Komodo, ditemani komodo :D
Komodo di bawah hujan

Souvenir Komodo di Kafe Komodo
Pesan Ranger Komodo

Pada akhirnya hujan reda, tetapi waktu kami terbatas, tak bisa lagi melanjutkan trekking. Jika dilanjutkan, jadwal akan berantakan, sebab hari itu adalah hari terakhir trip Komodo, dan rombongan harus kembali ke Jakarta sesuai jadwal.


Komodo dekat kafe jadi komodo terakhir yang saya lihat di Pulau Rinca. Apakah saya puas? Untuk pengalaman bertemu komodo, jelas saya sangat puas. Total ada 13 komodo yang saya jumpai di pulau ini. Saya sudah melihat wujudnya secara langsung, melihat perilakunya, mendengar suaranya, dan sempat berfoto dengan pose sejuta umat.

Ketidakpuasan mungkin ada pada keinginan untuk menjelajah. Ya, walaupun saya hanyalah penjelajah amatiran, tetap saja yang namanya masuk lebih jauh ke hutan, pergi lebih lama menerjang semak dan ilalang di perbukitan, merasakan ketegangan jumpa komodo di alam liar, adalah kesenangan yang sudah lama jadi dambaan.

Namun, sekali lagi, kita harus lihat-lihat kondisi alam. Cuaca sedang tidak bersahabat, tentunya ada resiko yang harus dihadapi bila diteruskan. Jadi, batal trekking, lalu pulang, adalah pilihan terbaik. Batal trekking bisa jadi suatu tanda, bahwa suatu hari saya harus datang lagi untuk Sail Komodo. Dan saya tak mau sendiri bila ke Taman Nasional Komodo lagi. Saya mau ajak suami dan kedua anak saya. Supaya mereka pun bisa melihat langsung  "serpihan surga" yang jatuh di Nusa Tenggara Timur.

Ranger di dermaga berpesan, "setidaknya sekali seumur hidupmu, pergi sail Komodo. Datang ke Pulau Rinca, bertemu komodo di sarangnya."

Tentu saja, pesan paling menariknya adalah lindungi komodo dengan menjaga kelestarian alam yang menjadi habitatnya. Jangan sampai, hewan purba yang masih tersisa di dunia ini menjadi tinggal nama.
Sampai jumpa lagi Pulau Rinca!