Anak-anak sudah besar semua. Masing-masing punya kesibukan. Yang satu kerja, yang satu kuliah. Kini, mencari waktu untuk bisa pergi bersama rasanya tidak semudah dulu. Jadi, ketika akhirnya ada kesempatan untuk berkumpul dan liburan bersama, rasanya ingin menyimpan momen itu baik-baik.
Lewat foto, lewat tulisan. Karena
begitulah cara saya menyimpan waktu.
ASTON Bogor menjadi salah satu tempat yang membawa kami kembali pada masa ketika anak-anak masih kecil.
Sembilan Tahun Kemudian di ASTON
Bogor
Waktu itu anak-anak masih bocil.
Menginap di hotel bagi mereka rasanya seperti mendapat hadiah. Begitu masuk
kamar, langsung loncat-loncat di kasur, lari-larian, dan begitu melihat kolam
renang, langsung minta berenang. Kalau sudah jebar-jebur di air, hebohnya bukan
main. Makan pun masih berantakan, dan taman hotel rasanya seperti lapangan
bermain yang tidak ada habisnya.
Yang paling pecicilan tentu saja
si anak perempuan. Kakaknya waktu itu sudah mulai agak kalem. Jadi kalau ada
suara anak lari-lari, teriakan, atau bunyi kaki kecil yang entah sedang
mengejar apa, kemungkinan besar sumbernya ya adiknya.
Sembilan tahun kemudian, kami
kembali lagi ke tempat yang sama.
Anak-anak sudah besar. Sudah
jangkung. Sudah bisa diajak ngobrol macam-macam. Si anak perempuan yang dulu
paling heboh kalau melihat kolam renang sekarang malah santai saja. Tidak ada
lagi acara buru-buru ganti baju lalu minta jebar-jebur.
Baca juga: Liburan longweekend di ASTON Bogor
![]() |
| 2017 di taman ASTON Bogor |
![]() |
| 2026 di taman yang sama di ASTON Bogor |
Saya jadi banyak melihat-lihat.
Bukan cuma hotelnya, tetapi juga
anak-anak yang sekarang berjalan di tempat yang sama dengan versi mereka yang
sudah berbeda. Rasanya aneh juga. Taman yang dulu seperti arena bermain,
sekarang dilewati begitu saja. Kolam renang yang dulu susah sekali ditolak,
sekarang tidak menjadi tujuan utama.
Dan saya masih ingat semuanya.
Ada beberapa sudut yang rasanya
seperti tombol pemutar waktu. Begitu melihatnya, kepala saya langsung membawa
kembali potongan kejadian sembilan tahun lalu. Saya teringat mereka berlarian
di taman, bermain, berenang, lalu berpindah lagi ke tempat lain dengan energi
yang seolah tidak pernah habis.
Oh, dulu di sini.
Kalimat itu beberapa kali muncul sendiri di kepala saya.
![]() |
| Di Bale-Bale ASTON Bogor 2017 |
![]() |
| Di Bale-Bale yang sama tahun 2026 |
Saya kemudian membuka foto-foto lama. Mencari foto yang diambil di tempat yang sama, melihat wajah anak-anak ketika masih kecil, lalu menengok ke sekitar untuk mencari sudut yang kira-kira masih serupa. Kadang ketemu. Kadang tidak. Tapi justru di situlah serunya, karena saya seperti sedang mempertemukan dua waktu dalam satu tempat.
Dulu saya sibuk memastikan mereka
tidak jatuh ke kolam. Sekarang malah sibuk mencari foto lama dan
mengabadikan anak-anak yang sudah besar.
Lucu juga.
Tempatnya mungkin tidak banyak
berubah, tetapi cara saya melihatnya sudah berbeda. Dulu saya datang sebagai
ibu yang sibuk mengurus dua anak kecil. Sekarang saya datang bersama dua anak
yang sudah punya kesibukan dan kehidupannya masing-masing.
Mungkin itu yang membuat
kunjungan kali ini terasa begitu personal.
Bukan karena saya ingin kembali
ke masa ketika mereka masih kecil. Masa itu sudah lewat, dan memang seharusnya
begitu. Anak-anak tumbuh, lalu perlahan punya dunia sendiri. Yang dulu setiap
diajak pergi hampir selalu bisa, sekarang harus mencari celah di antara
pekerjaan, kuliah, dan kesibukan masing-masing.
| 2017. Di jembatan penghubung antara lobi dan tower kamar hotel ASTON Bogor, di atas Sungai Cipinang Gading |
![]() |
| 2026. Di jembatan yang sama, sembilan tahun kemudian |
Jadi ketika akhirnya kami bisa pergi bersama lagi, saya rasanya ingin menyimpan semuanya. Foto sebanyak-banyaknya. Tulisan juga, tentu saja. Biar nanti kalau sembilan tahun lagi saya kembali membaca cerita ini, siapa tahu saya kembali berkata dalam hati, “Oh, dulu di sini.”
Dan semoga saat itu, anak-anak
masih mau diajak liburan bersama.
Saya jadi mellow.
Bukan mellow karena masa kecil
mereka hilang, tetapi karena saya pernah memilikinya. Pernah menyaksikan mereka
tumbuh dari anak-anak yang pecicilan, berlarian, berebut ingin berenang, sampai
menjadi dua manusia dewasa yang sekarang sudah punya kesibukan dan jalan
hidupnya sendiri.
Rasanya seperti mendapat
kesempatan melihat album kehidupan dalam keadaan hidup.
Saya tinggal membalik halamannya pelan-pelan.
| Suamiku pada tahun 2017 di taman Hotel & Resort ASTON Bogor |
![]() |
| Suami yang sama (ya iya dooong haha) di masa kini 2026, di ASTON Bogor. Tetep ganteng Bapak!!! 😂 |
Mengapa ASTON Bogor Bikin Betah?
Kalau ditanya apakah saya mau
menginap di sini lagi, jawabannya tentu saja mau. Ada hotel yang sekali datang
rasanya sudah cukup. Tapi ASTON Bogor bukan salah satunya.
Dari pengalaman saya, hotel ini
memang menyenangkan untuk liburan bersama keluarga. Tidak harus punya banyak
agenda di luar hotel. Karena kalau mau menghabiskan waktu di dalam kawasan
saja, sudah cukup banyak yang bisa dilakukan.
Yang paling terasa sejak datang
adalah suasananya. Kawasannya luas, banyak pepohonan dan ruang terbuka,
sehingga meskipun ini hotel dan resort, rasanya tidak seperti sedang berada di
bangunan hotel yang padat.
![]() |
| Kawasan ASTON Bogor (Sumber gambar: website ASTON Bogor) |
Untuk keluarga yang membawa
anak-anak, ada kolam renang, playground, taman, dan berbagai fasilitas lain
yang bisa membuat mereka betah. Anak-anak bisa sibuk sendiri. Orang tua pun
bisa bernapas sedikit.
Sedikit saja.
Karena punya anak tetaplah punya
anak.
Untuk orang dewasa, suasananya juga enak untuk santai. Ada taman yang teduh, suara air yang mengalir, sungai di tengah kawasan, serta bebek-bebek putih yang sesekali terlihat bermain di pinggirnya. Mau duduk-duduk bisa. Jalan kaki bisa. Makan bisa. Bengong juga bisa.
Kadang liburan memang tidak perlu
terlalu banyak agenda. Bisa duduk sambil melihat air mengalir selama lima belas
menit tanpa merasa harus buru-buru pindah tempat pun sudah merupakan kemewahan
tersendiri.
Dan karena lokasinya berada di
dalam kawasan Bogor Nirwana Residence, suasananya cukup tenang. Jauh dari
keramaian jalan utama. Rasanya seperti benar-benar sedang pergi berlibur,
meskipun sebenarnya masih berada di Kota Bogor.
![]() |
| Area depan dan pintu masuk hotel ASTON Bogor (Sumber gambar: website ASTON Bogor) |
Baru Masuk, Sudah Terasa Luas
ASTON Bogor berdiri di atas lahan
sekitar 3 hektar, dengan empat tower dan total 223 kamar. Di dalam kawasan ini
juga terdapat restoran, kolam renang, ruang pertemuan, taman, dan berbagai
fasilitas lainnya.
Kesan luas itu bahkan sudah
terasa sejak pertama masuk. Area parkirnya outdoor dan sangat lega. Saya malah
suka model parkir seperti ini. Tidak terasa sumpek dan tidak langsung membuat
hati deg-degan mencari tempat kosong.
Tahu kan rasanya masuk hotel saat
musim liburan, lalu melihat parkiran penuh dan mulai menghitung kemungkinan
harus parkir di kabupaten sebelah? Nah, di sini kesan pertamanya tidak seperti
itu.
Lobby dan area resepsionisnya
juga terbuka. Dan ada satu hal menarik yang baru saya sadari kembali ketika
berada di sini: area yang menjadi pintu masuk utama dari jalan raya sebenarnya
adalah lantai 3.
Bukan karena bangunannya berdiri setinggi tiga lantai dari permukaan jalan, tetapi karena kontur tanah di kawasan ini memang menurun. Jadi lantai 3 berada sejajar dengan jalan raya. Semakin turun ke bawah, baru kita menemukan lantai 2 dan lantai 1. Dan di bagian paling bawah kawasan hotel itu mengalir sebuah sungai, Sungai Cipinang Gading namanya.
![]() |
| Dari kiri: Dua jembatan penghubung ke tower kamar, Tower lobi, Restoran Batu Tulis tempat tamu menikmati sarapan. |
![]() |
| Dari kiri: Tower 3, Tower 2, dan Tower 1, seluruhnya merupakan tower kamar tamu ASTON Bogor. |
![]() |
| Dua jembatan penghubung antara tower lobi dan tower 1. |
![]() |
| TOWER 2. Di tower inilah kamar Condotel kami berada. Tapi sayangnya kamar kami nggak menghadap kolam renang 😂 |
Ada Sungai di Tengah ASTON Bogor
Sungai inilah yang menurut saya
membuat tata kawasan hotel terasa berbeda. Sungainya bukan sekadar berada di
belakang hotel sebagai pemandangan. Ia justru mengalir di tengah-tengah
kawasan.
Karena sungai ini membelah area
hotel, bangunannya berada di dua sisi. Di sisi pertama ada area masuk, mulai
dari parkiran, lobby, restoran, dan taman. Sementara di seberang sungai
terdapat Tower 1, Tower 2, dan Tower 3 yang menjadi area kamar.
Jadi kalau mau menuju kamar, kita
seperti menyeberangi sungai. Tentu saja bukan menyeberang sambil menggulung
celana dan menjinjing sandal. Hehe.
Ada jembatan utama yang
menghubungkan kedua sisi kawasan dan jembatan ini berada di dalam bangunan.
Jadi mau hujan atau panas, tetap aman untuk dilewati.
Saya justru suka bagian ini. Ada
sensasi kecil seperti sedang berpindah area setiap kali menuju kamar. Dari
lobby dan taman, kemudian melewati jembatan, lalu masuk ke kawasan tower tempat
kamar-kamar berada.
![]() |
| Sungai Cipinang Gading di dalam kawasan hotel ASTON Bogor |
![]() |
| Sungai Cipinang Gading di bagian tengah kawasan hotel |
![]() |
| Jembatan penghubung ke kamar hotel, di atas Sungai Cipinang Gading |
![]() |
| Seringkali jembatan ini jadi spot foto favorit para tamu |
Condotel 1 Bedroom yang Serasa Apartemen
Kali ini kami tinggal di kamar di
lantai 5 Tower 2, tepatnya tipe Condotel 1 Bedroom. Di website ASTON Bogor,
kamar ini dibanderol Rp1.227.330 nett. Luasnya 42 m² dan tata ruangnya lebih
menyerupai apartemen kecil daripada kamar hotel biasa.
Buat keluarga, model seperti ini
menurut saya menyenangkan. Itu sebabnya saya memilihnya.
Di dalam kamar terdapat satu kamar tidur, ruang untuk menonton, meja makan, pantry, kulkas, microwave, dan kamar mandi. Jadi tidak semua kegiatan harus dilakukan di area tempat tidur. Mau makan bisa di meja makan. Mau duduk-duduk santai bisa di ruang tengah.
Kulkasnya juga bukan kulkas mini
yang biasanya ditemukan di kamar hotel. Tapi kulkas satu pintu ukuran sedang,
sehingga cukup banyak barang yang bisa dimasukkan. Buat keluarga yang membawa
makanan atau minuman sendiri, ini lumayan membantu.
Apalagi kalau membawa anak. Entah kenapa urusan makanan dan minuman anak kalau bepergian itu kadang seperti sedang membuka cabang minimarket pribadi.
Ada pula balkon dengan dua kursi dan sebuah meja kecil.
Sayangnya, kamar kami tidak mendapatkan pemandangan ke
arah taman atau kolam renang. Balkon menghadap ke luar kawasan hotel, dengan
pemandangan rumah dan jalan.
Mungkin itu juga yang membuat
kami akhirnya jarang duduk di balkon. Bukan karena balkonnya tidak nyaman.
Hanya saja, setiap kali sedang santai, kami malah lebih sering keluar kamar.
Jalan-jalan di taman, melihat fasilitas-fasilitas, duduk di lobby, atau sekadar
berkeliling melihat suasana hotel terasa lebih menarik.
![]() |
| Ada pemandangan apa di luar jendela? |
![]() |
| Oh adanya ini 😁 |
Tak Ada Botol Air di Kamar
![]() |
| Area makan dengan kitchenette kecil yang dilengkapi wastafel, microwave, kulkas, dan perlengkapan untuk membuat minuman. |
Nyaman untuk Liburan Keluarga?
Selama menginap, saya cukup
sering berpapasan dengan tamu lain yang menuju lantai 5. Rata-rata datang
bersama keluarga. Ada yang membawa anak-anak kecil, ada pula yang anaknya sudah
lebih besar seperti anak-anak saya.
Melihat ukuran dan tata ruangnya,
saya ngerti kenapa tipe kamar ini cukup menarik untuk keluarga. Luas 42 m²
membuat kami masih bisa berkumpul tanpa merasa terlalu sempit.
Hanya saja, kalau datang berempat
seperti kami, urusan tempat tidur memang perlu sedikit diperhitungkan karena
kamar ini pada dasarnya memiliki satu tempat tidur utama.
Kalau anak-anak masih kecil,
tempat tidur yang ada sebenarnya masih bisa dipakai bertiga. Satu orang dewasa
bisa menggunakan sofa di ruang menonton. Bantalan sofanya dapat dilepas dan
disusun sehingga bentuknya menyerupai tempat tidur, dan menurut saya cukup
nyaman kalau digunakan untuk tidur.
Kalau ingin lebih lega, bisa
memesan extra bed. Tarifnya Rp588.000 per malam dan sudah termasuk sarapan
untuk satu orang.
Kalau melihat angkanya memang
lumayan juga. Kurang lebih sudah seperti separuh harga kamar Superior, hehe.
Tetapi karena sudah termasuk sarapan satu orang, masih bisa dipertimbangkan
kalau memang ingin semua anggota keluarga tidur lebih nyaman.
Untuk additional adult atau
tambahan sarapan, tarifnya Rp218.000 nett. Anak usia 6–11 tahun dikenakan
Rp109.000 per orang nett, sedangkan anak usia 1–5 tahun gratis.
Kebetulan saat kami datang,
sepanjang bulan Agustus juga ada promo diskon 20%, jadi biaya tambahan sarapan
menjadi lebih ringan.
Kalau anak masih kecil, menurut
saya tidak harus buru-buru memesan extra bed. Satu anak bisa tidur bersama
orang tua, sementara satu lagi bisa menggunakan sofa. Tapi kalau anak-anak
sudah besar seperti punya saya, extra bed tentu lebih masuk akal supaya semua
bisa tidur dengan nyaman.
Toh, kami juga tidak terlalu lama
berada di kamar.
![]() |
| Kalau beruntung, bisa dapat kamar yang menghadap ke kolam seperti ini. |
Dulu Berebut Berenang di ASTON Bogor
Kalau bicara tentang ASTON Bogor
dan anak-anak, saya jadi ingat kolam renangnya. Bukan cuma karena kolamnya
memang salah satu fasilitas yang menarik perhatian anak-anak, tetapi karena di
sinilah perbedaan antara kunjungan kami dulu dan sekarang terasa paling nyata.
Pada 2017, kami punya waktu tiga
hari dua malam untuk menikmati hotel. Sekarang hanya dua hari satu malam.
Ritmenya tentu berbeda.
Dulu, kolam renang adalah salah
satu tempat yang paling ditunggu. Saya masih punya foto anak perempuan saya
sedang berenang di sini. Waktu itu tubuhnya masih kecil, rambutnya masih
dikuncir, dan ekspresinya benar-benar menunjukkan betapa senangnya dia berada
di air.
| Aisyah 2017 |
| Dulu berenang |
| 2017, selama tiga hari di hotel berenang teruuus |
Tahun ini kami kembali ke kolam yang sama. Bedanya, tidak ada lagi anak kecil yang buru-buru mengganti baju lalu minta berenang. Anak perempuan saya malah lebih banyak berada di kamar, atau ikut berjalan-jalan melihat suasana hotel.
Kolamnya masih ada. Airnya masih
sama-sama basah, tentu saja.
Tapi anak yang dulu begitu
bersemangat menceburkan diri ke dalamnya, sekarang sudah bisa duduk santai dan
melewatkannya begitu saja.
Dan saya?
Malah mencari foto
sembilan tahun lalu. Mencari foto anak kecil yang dulu berlari-lari di tempat
ini, lalu membandingkannya dengan perempuan muda yang sekarang berdiri di
tempat yang sama.
Ternyata begini ya rasanya
kembali ke tempat yang sama setelah sembilan tahun. Yang berubah bukan cuma
usia anak-anak. Yang berubah juga cara saya melihat semuanya.
Tiba di ASTON Bogor Saat Malam Hari
Saya nggak nyangka, ternyata kali
ini kami kembali ke ASTON Bogor di bulan Agustus yang sama dengan sembilan
tahun lalu. Dulu kami datang tanggal 18 Agustus, dan menginap tiga hari dua
malam. Sekarang tanggal 22 sampai 23 Agustus, cuma semalam. Bulannya sama,
tempatnya sama, tapi ceritanya sudah berbeda.
Padahal semua itu tidak pernah
direncanakan. Sepertinya memang sudah Allah atur, supaya staycation rasa napak
tilas ini punya cerita sendiri.
Cara kami datang kali ini juga
benar-benar jauh dari kesan orang yang sedang mau liburan. Pagi-pagi saya masih
ke rumah sakit menyelesaikan urusan kontrol rutin keluarga, lalu makan siang di
rumah, salat Zuhur, dan baru setelah itu mulai berkemas. Santai sekali. Toh
cuma ke Bogor dan menginapnya juga cuma semalam. Rasanya nggak perlu packing
tujuh hari tujuh malam seperti hendak pindah kewarganegaraan. 😄
Kami baru berangkat selepas
Ashar. Di perjalanan masih sempat mampir makan malam yang kesorean, beli jajanan, lalu lanjut
lagi setelah urusan perut selesai. Sampai ASTON Bogor sudah selepas Isya,
hampir jam delapan malam. Masuk kamar, duduk sebentar, lalu tidur.
Benar-benar staycation dalam arti
yang paling sederhana: pindah tidur.
Tapi ada satu hal yang baru saya
ketahui setelahnya. Waktu sedang melihat-lihat foto lama, saya iseng mengecek
tanggal kedatangan kami sembilan tahun lalu.
Tanggal 18 Agustus 2017.
Dan ternyata, kami juga sampai
malam.
Bisa sama begitu, ya?
Saya sampai merasa sedang melihat pengulangan kecil yang entah sengaja atau tidak sedang dimainkan waktu. Tempat yang sama. Bulan yang sama. Tiba malam hari juga.
Parkiran ASTON Bogor Penuh, Kirain Ada Kondangan
Sampai di hotel, saya sebenarnya
sudah lupa-lupa ingat seperti apa bagian depannya. Begitu masuk, bukannya
langsung bertemu lobby, kami malah masuk ke area parkir yang luas sekali. Dan
malam itu parkirannya penuh.
Penuh banget.
Saking banyaknya mobil, saya
sampai berpikir, “Ini di dalam sedang ada resepsi pernikahan, ya?” Dalam
pikiran saya, mungkin mobil sebanyak itu milik tamu kondangan yang sedang
datang ke pesta. Ternyata bukan.
Semuanya tamu hotel.
Masya Allah. Seramai itu.
![]() |
| Foto parkirannya gak jelas banget haha. Kameranya oleng kawan! 😂 |
Maklum, kami datang saat weekend. ASTON Bogor memang banyak dipilih untuk liburan keluarga, apalagi lokasinya juga dekat dengan The Jungle Waterpark Bogor.
Jadi saya tidak terlalu heran kalau akhir pekan begini tamunya ramai. Yang saya herankan cuma satu: kok bisa parkirannya sampai sebegitu penuhnya.
Check-in Cepat, Dapat Voucher Liburan Sekalian
Check-in-nya pun gampang. Tidak
pakai ribet dan prosesnya cepat. Informasi yang disampaikan juga jelas,
sehingga kami tidak perlu berdiri lama-lama di depan meja resepsionis sambil
menunggu petugas mencari-cari data reservasi.
Mas-mas dan mbak-mbak di
resepsionis juga masih ramah dan kelihatan segar, meskipun malam sudah cukup
larut dan tamu yang baru datang masih ramai. Saya membayangkan kalau saya yang
berdiri di sana dari sore sampai malam, mungkin senyum saya sudah masuk kategori
dekorasi lobi.
Sarapan di ASTON Bogor yang Bikin Saya Mau Kembali
Pagi hari, agenda kami sebenarnya sederhana saja: sarapan dengan santai. Tapi sarapan di ASTON Bogor bukan perkara sederhana buat saya. Saya masih ingat betul pengalaman sarapan sembilan tahun lalu.
Pilihan makanannya banyak dan beragam. Menu untuk anak dan dewasa
tersedia lengkap, dari makanan Indonesia sampai hidangan mancanegara. Dulu saya
benar-benar puas mencoba macam-macam.
Mungkin karena waktu itu kami
menginap tiga hari dua malam, jadi ada kesempatan sarapan dua kali. Bisa
mencoba lebih banyak menu tanpa harus merasa dikejar waktu. Dan sampai
sekarang, pengalaman sarapan itu masih saya ingat.
Saya termasuk orang yang cukup
pelit memberi predikat “istimewa” untuk sarapan hotel. Bukan berarti saya tidak
suka sarapan hotel, ya. Banyak yang enak. Banyak juga yang lengkap. Tetapi
biasanya ada satu atau dua makanan yang benar-benar menarik perhatian saya,
sementara yang lainnya biasa saja.
Nah, kalau di ASTON Bogor, saya
malah bingung mau memilih. Hampir semua yang saya coba enak, dan rasanya sayang
kalau dilewatkan.
Kalau sampai saya memberikan pujian seluas dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau, berarti memang ada sesuatu.
Hotel besar dan ternama memang wajar kalau punya standar yang baik. Tapi urusan sarapan, buat saya tidak cukup hanya dengan banyak pilihan dan nama hotel yang sudah terkenal. Ada yang kelihatannya lengkap, tetapi selesai makan ya sudah. Tidak sampai membuat saya kepikiran ingin makan lagi.
Nah, sarapan di ASTON Bogor
memang meninggalkan kesan tersendiri buat saya. Sampai sembilan tahun kemudian,
saya masih ingat rasanya dan bahkan punya alasan untuk kembali.
Iya. Salah satunya demi sarapan.
Kami pindah tidur semalam, yang
dicari malah makan pagi.
Yang lain? Bonus. Hahaha.
Tapi maaf, kali ini saya tidak banyak memotret makanan-makanan yang kami santap. Tadinya makanan yang dimakan oleh suami, Alief, dan Aisyah mau saya foto, buat melengkapi cerita kali ini. Tapi ketika saya selesai ambil makanan, dan kembali ke meja, mereka sudah menyelesaikan separuh makanannya. Penampakan isi piringnya sudah tak lengkap lagi di kamera. Makanan yang pertama saya makan pun tak pula saya foto. Hanya sempat memotret bubur ayam, serta roti dan muffin glutten-free ini saja. Ya udahlah ya... foto seadanya ini saja he he.
![]() |
| Sarapan saya pagi itu |
![]() |
| Serba glutten-free |
Dulu Mengurus Anak, Sekarang Mengurus Bapaknya
Hal yang paling berbeda pagi itu
tentu saja bukan cuma menu sarapannya. Anak perempuan saya yang dulu paling
pecicilan sekarang sudah duduk tenang di meja makan. Tidak ada lagi acara minta
ini, minta itu, ambil ini, ambil itu seperti dulu, ketika melihat meja buffet
rasanya semua makanan harus dicoba sebelum waktu sarapan habis.
Sekarang dia mengambil makanan
yang memang ingin dimakan. Duduk, ngobrol sedikit, lalu menikmati sarapannya
pelan-pelan. Tidak buru-buru. Tidak lapar mata. Buffet hotel rupanya sudah
tidak lagi dianggap sebagai kesempatan terakhir umat manusia untuk makan wkwk...
Saya pun sudah tidak perlu ikut
mondar-mandir bersamanya. Tidak perlu menemani mengambil makanan, tidak perlu
melihat-lihat isi piringnya, apalagi memastikan apakah semuanya habis. Dia
sudah bisa mengurus dirinya sendiri.
Ada rasa lega melihatnya tumbuh
seperti itu. Anak yang dulu ke mana-mana harus ditemani, sekarang sudah punya
dunianya sendiri. Tapi di balik rasa lega itu, tetap ada sedikit rasa kangen
pada masa ketika urusan sarapan saja bisa menjadi cerita panjang.
| 2017. Sarapan dengan para bocah |
![]() |
| 2017. Ketika anak-anak sarapan masih harus diawasi dan ditemani |
| Restoran Batu Tulis 2017 |
Dulu saya sibuk mengurus
anak-anak.
Sekarang malah sibuk mengurus
bapaknya. 😂
Masa memang berganti. Yang perlu
diperhatikan sudah berganti orang juga.
Dulu saya sering berpikir,
“Bapaknya kan sudah gede. Anak-anak lebih perlu diawasi.” Sekarang anak-anak
sudah gede, eh, bapaknya malah mulai menunjukkan gejala ingin diperlakukan
seperti bocil.
Ya sudah.
Sekarang gantian. Wkwk.
![]() |
| 9 tahun kemudian, sarapannya udah sendiri-sendiri gak perlu diawasi |
![]() |
| Restoran Batu Tulis 2026 |
Pagi di ASTON Bogor, Menikmati Suasana dari Ketinggian
Pagi itu kami tidak buru-buru ke
mana-mana. Dari balkon restoran Batu Tulis ASTON Bogor di lantai 3, saya
menikmati udara pagi Bogor sambil melihat kawasan hotel yang mulai hidup. Di
bawah sana ada sungai yang mengalir, pepohonan yang memenuhi taman, kolam
renang, dan deretan tower hotel yang terlihat di antara hijaunya kawasan.
Enak juga ternyata sarapan sambil
melihat pemandangan seperti ini. Tidak perlu pemandangan laut, tidak perlu
gedung tinggi, tidak perlu sesuatu yang heboh. Udara Bogor yang masih segar,
suara air dari sungai, dan suasana hotel yang perlahan mulai ramai sudah cukup
membuat pagi terasa menyenangkan.
Kami duduk cukup lama. Makan
pelan-pelan, ngobrol, sesekali melihat ke bawah. Tidak ada agenda yang harus
dikejar pagi itu.
Dan mungkin memang itu yang
paling saya suka dari pagi di ASTON Bogor kali ini. Bukan cuma makanannya,
tetapi kesempatan untuk duduk tenang dan menikmati suasana tanpa harus
buru-buru ke mana-mana.
Pagi Santai, Berdua Mengelilingi ASTON Bogor
Seusai sarapan, rencananya kami mau menjalani pagi dengan agenda masing-masing. Alief dan papanya tadinya mau ke gym, sementara Aisyah ingin berenang.
Saya sendiri bebas saja, mau ikut
siapa pun. Kecuali berenang, tentu. Sedang haid soalnya. 😄
Jadi cukup jadi penonton dari pinggir kolam.
Ternyata rencana suami berubah.
Bukannya ke gym, beliau malah mengajak saya turun ke area paling bawah kawasan
hotel, tempat berbagai aktivitas tamu berlangsung. Saya ikut saja. Toh, pagi
itu tidak ada agenda penting. Staycation memang enaknya begitu. Tidak harus
buru-buru mengejar apa-apa.
Di area bawah ini ternyata cukup ramai oleh berbagai fasilitas. Ada kolam renang, tempat fitness, jogging track, Bale Sawarga, Kids Club, mini golf, rumah kelinci, kolam ikan, Annathaya Spa, sampai bird cage.
Mini golf letaknya cukup dekat dari Tower 2 tempat kami menginap. Tinggal turun sampai area drop-off tower, lalu jalan kaki beberapa langkah. Di lobby juga ada meja biliar, meskipun pagi itu kami tidak tertarik main. Suami sudah punya tujuan lain, kolam renang.
Pagi yang Ramai di Kolam Renang ASTON Bogor
Begitu sampai di area kolam,
ternyata suasananya sedang ramai sekali. Ada Kids Carnival. Anak-anak bermain
games, ada hiburan, dan yang paling menarik perhatian pagi itu tentu saja pesta
busa.
Suami saya langsung senang
melihatnya. Entah kenapa, melihat anak-anak mandi busa ternyata bisa membuat
bapak-bapak ikut bahagia. Beliau malah sibuk memotret keseruan mereka bermain.
Saya memperhatikan dari samping sambil senyum-senyum sendiri.
Mereka bukan anak kami. Tapi
melihat anak-anak kecil yang berlarian, tertawa, dan bermain air pagi itu, saya
jadi teringat Aisyah dan Alief sembilan tahun lalu.
Apalagi dulu Aisyah juga pernah
ikut Little Chef Cooking Class di sini. Saya masih punya fotonya.
Lucu juga melihatnya sekarang. Dulu dia masih kecil, ikut bermain masak-masakan dengan serius sekali. Sekarang sudah kuliah. Entah kalau dikasih kesempatan ikut cooking class lagi masih mau atau tidak. Jangan-jangan malah bilang, "Ma, aku mau tidur aja."
| 2017. Little Chef Cooking Class |
Event Kids Carnival hari itu sangat meriah.
Menyusuri Pinggir Sungai di ASTON Bogor
Setelah cukup lama melihat
keramaian di kolam, saya dan suami berjalan menuju area sungai. Suaranya
langsung berbeda. Dari yang ramai oleh suara anak-anak dan kegiatan pagi, kami
masuk ke bagian yang lebih sepi.
Ada bebek-bebek putih yang
terlihat bermain di pinggir sungai. Tamu memang tidak diperbolehkan turun ke
sungai. Jadi cukup dilihat dari atas.
Padahal pagi itu airnya sedang
dangkal dan dasar sungainya juga terlihat. Tapi ya sudah, aturan tetap aturan.
Mungkin demi keamanan. Kami juga tidak perlu sok berani turun ke sungai hanya
untuk membuktikan bahwa airnya dangkal.
Kami berjalan pelan sambil
melihat-lihat. Suami sempat menengok ke gym. Katanya sedang ramai juga.
Akhirnya batal.
Olahraga kalah.
Jalan-jalan menang. Hahaha.
Kami kemudian pindah ke sisi
lain sungai. Sebelum benar-benar menyeberang, kami berhenti di sebuah tempat
duduk untuk bersantai. Dari sana jembatan hotel terlihat cukup cantik sebagai
latar. Cahaya matahari pagi juga sedang bagus-bagusnya, membuat suasana di
sekitar sungai terasa hangat.
Ya sudah. Foto dulu.
Namanya juga blogger. Tempat bagus sedikit, kamera keluar.
Bale Sawarga, Taman, dan Pagi yang Tenang di ASTON Bogor
Dari sana kami berjalan lagi
menuju taman yang berada di bagian bawah, masih di pinggir sungai. Ada
bangku-bangku besi berwarna putih, bale-bale, dan dua kandang burung
punai.
Suami saya kembali menemukan
hiburannya.
Beliau berdiri mendekat ke kandang burung, lalu mulai bersiul-siul. Seolah-olah sedang mencoba mengajak burungnya ngobrol. Saya cuma melihat dari samping sambil berpikir, burung punai ini ngerti nggak sih disiulin begitu?
Tapi ya sudah. Biarin.
Namanya juga bapaknya
anak-anak. Hiburan pagi tidak selalu harus mahal. Kadang cukup burung, taman,
dan sedikit siul-siulan.
![]() |
| Kandang burung. Ya masa kandang sapi 😂 |
![]() |
| Ada lorong panjang semi tertutup di latar belakang, penghubung jalan ke taman Bale Sawarga dan taman di seberang sungai (yang ada kolam renangnya) |
![]() |
| Bangunan di belakang itu biasanya digunakan untuk tempat acara rombongan yang punya akses ke taman pinggir sungai. |
Setelah puas di sana, kami
berjalan lagi menuju taman yang lebih jauh dari area kolam. Banyak pohon tumbuh
di sekitarnya. Ada Bale Sawarga dengan bangunan bergaya kolonial yang terlihat
klasik dan anggun. Di sebelahnya terdapat deck yang menjorok ke arah sungai,
lengkap dengan tulisan ASTON Bogor.
Tapi yang membuat kami betah
bukan tulisan itu.
Pemandangannya.
Dari deck, sungai terlihat
mengalir di bawah. Suara gemericik air terdengar pelan. Udara pagi masih sejuk.
Area ini juga cukup jauh dari kolam renang dan kegiatan anak-anak, jadi
suasananya benar-benar tenang.
Kami duduk di sana cukup lama.
Ngobrol santai. Hal-hal ringan
saja. Tidak ada pembicaraan yang harus menghasilkan keputusan besar. Tidak ada
agenda yang harus dikejar. Cuma duduk, ngobrol, melihat air sungai, sesekali
melihat orang lewat.
Dan ternyata menyenangkan.
Dulu kami datang ke hotel
membawa dua anak kecil.
Sekarang anak-anak sudah besar
dan kami malah punya waktu untuk jalan berdua lagi.
Ya, begitulah. Kadang yang
berubah bukan tempatnya.
Kita saja.
Gratis Foto di ASTON Bogor, Membawa Pulang Satu Jejak Kenangan
Ternyata fasilitas yang kami
dapat di ASTON Bogor belum selesai sampai di situ. Sebelum check-out, kami
masih punya satu voucher foto gratis yang bisa digunakan untuk berfoto bersama
fotografer hotel. Lumayan. Pulang tidak cuma membawa tas dan oleh-oleh, tetapi
juga membawa foto keluarga yang nanti entah akan disimpan sampai berapa tahun.
Tapi voucher ini tidak bisa
langsung dipakai begitu saja. Kami harus mendaftar lebih dulu untuk mendapatkan
jadwal, karena rupanya cukup banyak tamu yang ingin ikut sesi foto.
Fotografernya juga lumayan, ada beberapa orang. Jadi tidak sampai harus antre lama buat difoto. Counter pendaftarannya berada di area lobby, di tempat khusus untuk sesi foto.
Saya memilih jadwal pukul
11.30. Anak-anak saya minta sudah siap sebelum jam tersebut karena sekalian
check-out. Jadi setelah meninggalkan kamar, kami tidak perlu naik lagi. Semua
barang sudah dibawa turun.
Ada satu permintaan khusus yang
saya sampaikan kepada fotografer.
Saya ingin beberapa foto dibuat
semirip mungkin dengan foto kami sembilan tahun lalu.
Alhamdulillah, kesampaian.
Bedanya, kali ini kami memilih
taman di bagian atas, di sekitar Bale Sawarga. Sembilan tahun lalu kami tidak
sampai ke area ini. Jadi sekarang kami punya foto keluarga dengan pose yang
kurang lebih sama, tetapi tempatnya berbeda.
Siapa tahu sembilan tahun lagi
bisa diulang lagi.
Entah nanti anak-anak masih mau diajak foto keluarga atau sudah sibuk dengan kehidupan masing-masing. Bisa jadi sudah bekerja, sudah menikah, atau malah sudah punya anak sendiri. Kalau masih diberi umur panjang dan kesempatan, siapa tahu nanti kami kembali lagi ke sini dalam formasi yang sudah bertambah.
Sesi fotonya sendiri
berlangsung sekitar 15 menit di area outdoor hotel. Setelah itu foto diproses
dan diedit terlebih dahulu. Untuk voucher gratis, kami mendapat satu foto cetak
ukuran 15 x 21 cm lengkap dengan bingkai. File digital tidak termasuk.
Kalau mau membawa pulang file
digitalnya, ada biaya tambahan mulai dari Rp150.000 per foto. Lumayan juga, ya.
Satu file Rp150 ribu. Tapi ternyata ada paket bundle
yang lebih hemat, dan saat itu saya memilih mengambil paket 10 file seharga
Rp200 ribu.
Saya rela.
Bukan karena saya tidak bisa
hidup tanpa sepuluh file foto itu. Tapi kesempatan mendapatkan foto keluarga
yang diambil fotografer dengan kamera yang bagus, di tempat yang punya cerita
sembilan tahun, rasanya sayang kalau dilewatkan. Foto seperti ini buat saya
bukan cuma soal hasil fotonya bagus atau tidak.
Ada kenangannya. Dan orang-orangnya.
Aisyah Belanja oleh-Oleh untuk Gurunya
Sebelum sesi foto, ada satu hal
lagi yang menarik perhatian kami. Di area depan restoran dekat lobby sedang ada
pameran UMKM yang menjual berbagai produk kerajinan.
Aisyah langsung tertarik.
Satu per satu stand didatangi.
Dilihat. Dipilih. Lalu dibeli. Beberapa barang dia beli untuk
dipakai sendiri, tetapi ada juga yang sengaja dibeli untuk diberikan kepada
gurunya ketika nanti bertemu.
Di salah satu stand, dia bahkan
sempat berfoto dengan ibu yang menjual produknya. Katanya, ibu itu membuatnya
teringat pada gurunya waktu SMA.
Jadi dibelilah sesuatu untuk
dibawa pulang.
Saya senang melihatnya. Bukan
karena anak saya belanja, tentu saja. Hahaha. Tapi karena ternyata di tengah
jalan-jalan dan melihat barang yang lucu-lucu, dia masih sempat memikirkan
gurunya.
Anak saya memang manis kalau
sedang begini.
Menunggu Foto Sambil Dikerjai Es Krim Turki
Setelah selesai berfoto, kami
kembali menunggu di lobby. Foto kami masih dalam proses cetak, kurang lebih
sekitar 20 menit, dan kebetulan ada es krim Turki gratis.
Ya sudah.
Nunggu sambil makan es krim.
Aisyah mendapat hiburan
tambahan. Cara mengambil es krimnya dibuat seperti penjual es krim Turki pada
umumnya. Cone sudah di depan mata, tetapi es krimnya tidak kunjung sampai ke
tangan. Diambil sedikit, ditarik lagi. Mau dipegang, ternyata masih dikerjain.
Aisyah ketawa.
Saya ikut ketawa.
Memang begitu rupanya. Es krim
Turki bukan sekadar makanan, tetapi juga ujian kesabaran kecil-kecilan yang bikin mamanya ini terhibur melihat anaknya dikerjai.
Sementara kami menunggu, foto
keluarga kami selesai dicetak. Satu foto sudah masuk ke dalam bingkai dan siap
dibawa pulang.
Selesai sudah.
Foto keluarga, es krim Turki,
sedikit belanjaan Aisyah, lalu barang-barang dari kamar yang sudah kami
masukkan ke mobil. Setelah itu kami meninggalkan ASTON Bogor.
Staycation dua hari satu malam
kami pun berakhir.
![]() |
| Tempat foto-foto dicetak. File foto dijual dengan harga paket. |
![]() |
| Sambil menunggu foto selesai dicetak dan file dikirim, kami duduk santai dulu di Katulampa Lounge & Bar. Ngobrol sambil minum, sebelum akhirnya benar-benar pamit dari ASTON Bogor. |
Agenda
kami memang sederhana sekali. Datang malam, tidur, sarapan, jalan-jalan,
melihat anak-anak bermain, berfoto, makan es krim, lalu pulang. Tidak ada
itinerary yang padat sampai harus melihat jam setiap beberapa menit.
Tapi justru itu yang saya suka.
Kami tidak sedang mengejar
banyak tempat. Kami cuma sedang menikmati waktu yang kebetulan bisa kami punya
bersama.
Sembilan tahun lalu kami datang
ke ASTON Bogor dengan dua anak yang masih kecil. Sekarang kami kembali lagi
dengan dua anak yang sudah besar, lalu membawa pulang satu foto baru untuk
disandingkan dengan foto lama.
Entah sembilan tahun lagi
bagaimana.
Mungkin anak-anak sudah punya kehidupan masing-masing. Bungsu kami Aisyah sudah bekerja, sudah menikah, atau mungkin malah sudah punya anak. Kalau masih diberi umur panjang dan kesempatan, siapa tahu nanti kami kembali lagi ke sini dalam formasi yang sudah bertambah.
Foto yang sekarang ini mungkin nanti akan jadi foto lama juga.
Dan saya membayangkan, suatu hari nanti saya akan membuka tulisan ini lagi, melihat wajah mereka yang sekarang, lalu bilang, “Oh, waktu itu masih begini rupanya.”
Ya ampun.
Cepat sekali.
Dari staycation yang sejenak ini...

.png)
.png)
.png)
.png)




.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

.jpg)



.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)


.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)
.jpg)




.jpg)
.jpg)
.jpg)


