Travel

Hotel

Culinary

Recent Posts

Bin House, Kafe Kekinian yang Tersembunyi di Tepi Jalan Margonda Raya Depok

Kafe estetik di tepi jalan Margonda Raya ini bernama Bin House. Namanya bikin saya jadi ingat Hyun Bin, pemeran utama drakor Crash Landing on You. Ada hubungannya kah? Gak ada! Mirip aja gitu, walau cuma sama Bin nya😆

Terletak di pinggir jalan Margonda Raya, Beji DEPOK. Gak jauh dari stasiun Pondok Cina. Saya menemukannya saat mencari "kafe instagramable di Margonda" di Google. Lalu, Bin House muncul dalam daftar.

Saya secara spesifik menulis Margonda karena memang sedang ada keperluan rawat jalan suami di RS Bunda Margonda. Hari itu Minggu, tanggal 15 Mei 2022. Tepat 1 minggu sejak suami keluar dari RS Bunda Margonda setelah dirawat selama 7 hari karena masalah batu empedu.

Heran gak kenapa dokter dokter spesialis penyakit dalam suami buka praktek di poli pada hari Minggu?

Saya awalnya heran. Kemudian tidak lagi. Dokternya bilang gini: "Jalan Margonda Raya Depok itu kan terkenal macet. Pasien saya sering ngeluh kalau saya praktek hari Senin-Sabtu. Pada stress di jalan. Akhirnya saya buka di hari Minggu, khusus buat pasien saya (yang pernah rawat inap)."

Dokternya baik banget. Rela kerja hari Minggu, demi pasien. Alasannya pun benar adanya. Sebagai orang yang cukup sering melintasi jalan Margonda Raya untuk mengunjungi bapak (kini almarhum) dan ibu mertua yang tinggal di Cimanggis Depok, saya adalah saksi betapa jalan Margonda itu lumayan ngeselin 😁

RSU Bunda Margonda. Kiri: Gedung RS tempat suami rawat inap. Kanan: Atlanta Residence, poli tempat dokter praktek ada di lantai 1-5

Hari Minggu sebetulnya jalan Margonda gak terlalu lengang juga, tapi agak mendingan ketimbang weekdays dan Sabtu. 

Kami berangkat sekeluarga. Jarak dari rumah saya di BSD ke Margonda Depok gak dekat-dekat amat. Berangkat jam 7, sampai jam 9. Harusnya 45 menit saja sampai. 

Waktu tempuh jadi lama karena situasi di jalan sedang padat. Sampai di RS antrian sudah panjang. Suami dapat nomor antri gede. Menurut suster, kemungkinan akan dipanggil setelah Dzuhur. Alamaaak datang pagi tetep aja diperiksa siang 😅

Untuk itulah saya mencari tempat makan. Biar bertenaga buat hadapi antrian panjang. Maunya makan dekat RS, yang tempatnya nyaman buat duduk agak lamaan, dan makanannya cocok buat sekeluarga. 

Akhirnya, ketemu sama Bin House ini, yang ternyata memang deket banget dari RS. Saya happy!

Atlanta Residence Depok: gedung poli, tempat praktek dokter. Laboratorium Diagnosis RSU Bunda Margonda: Gedung utama tempat rawat inap pasien. Bin House Margonda: yang lagi saya ceritakan di sini 😁

Sudah Tahu Dekat, Malah Naik Mobil

Gedung RSU Bunda Margonda itu letaknya di pinggir jalan persis. Bisa keliatan dari jalan. Tapi, yang keliatan itu bukan gedung poli tempat para dokter praktek melayani pasien rawat jalan. Melainkan gedung yang di dalamnya terdapat IGD, pendaftaran, administrasi, kamar rawat inap, lab, dan lainnya. 

Ruang poli ada di gedung terpisah, namanya Atlanta Residence Depok (lihat gambar di peta). Ga nempel sama gedung RS. Ada jarak yang harus ditempuh dengan jalan kaki untuk ke sana. Saya pun nggak nyangka kalau poli ada di sana. Kirain apartemen saja. Ternyata lantai 1-5 dipakai oleh RS.

Atlanta itu kan agak masuk ke dalam. Jalannya mayan juga kalau dari depan. Ini juga yang bikin penampakan Bin House di app Google Maps terlihat agak jauh. Makanya kami mobilan ke Bin House. 

Eh ternyataaaa, bukannya cepat sampai, malah makan waktu sampai 30 menit. Karena pas keluar dari RS itu, mobil harus belok kiri dulu, lalu di depan sana muter balik ke arah UI. Abis itu muter balik lagi ke arah RS sesuai petunjuk G Maps. 

Pas udah dekat dengan titik lokasi, mobil dipelanin, saya memperhatikan pinggir jalan. Lalu shock sendiriiiii....ternyata Bin House itu samping-sampingan sama RS wkwkwk. Gubrak dah. Ngapain coba mobilan. 


Letaknya sangat strategis. Di pinggir jalan persis. 

Meskipun di pinggir jalan, keberadaan Bin House gak langsung keliatan dari jalan. 

Beda dengan Warunk Upormal yang ada di sebelahnya. Gedungnya kentara, dan orang-orang bisa langsung melihatnya dari jalan. Sedangkan Bin House agak ke dalam. Ketutup pohon-pohon dan dua bangunan kecil di depannya. 

Pantesan pas saya posting di IG dan FB, teman-teman blogger yang tinggal di Depok pada nggak tahu ada Bin House di pinggir jalan Margonda. Karena memang kayak tersembunyi.

Memang sih ada signage Bin House, tapi ukurannya kecil. Perlu dilihat lebih dekat baru keliatan. 

Parkir motor dan mobil ada di dalam. Jadi nggak di luar atau makan jalan. Saya termasuk orang yang gak bisa makan dengan tenang kalau meninggalkan mobil di jalan. Kayak tega merampas hak pengguna jalan raya gitu.

Saya suka di Bin House parkirnya masuk. Hanya saja, kalau tempat ini sedang full pengunjung, kayaknya space parkirnya gak muat. Solusinya, cari parkir di tempat lain, atau datang saja pakai taksi online atau ojol. Bebas ribet.



Konsep Glass House dan Area Outdoor yang Luas

Dari jalan raya emang gak begitu keliatan ada kafe estetik, tapi pas ke dalem, beda lagi cerita.

Mengusung konsep industrial, Bin House identik dengan perpaduan warna putih dan unsur kayu yang bikin suasana unik. 

Dari luar saja udah keliatan Bin House ini tempatnya asik banget buat WFC, cukup luas dan lega. Banyak space seating-nya untuk indoor dan outdoor

Kalau di dalam sejuk pakai AC, di luar sejuk pakai AC alami alias angin sepoi-sepoi. Di luar saya lihat ada asbak-asbak. Memang tempatnya di luar buat yang merokok. Yang ga tahan asap rokok seperti saya, sudah jelas gak akan duduk di luar. Selain itu, kalau siang terik, udara di luar lumayan panas. 

Tapi desain outdoor-nya cakep. Cakep buat foto-foto OOTD.

Aesthetic beach vibes gitu gak sih tempat duduk outdoor-nya? 😀



Buka Jam 10, Makanan Baru Ready Jam 12

Kejadian shock karena bermobil dari RSU Bunda ke Bin House itu percuma, berujung dengan prank.

Yessss berasa kayak kena prank. Saya liat di IG @binhouse_ jam buka 10:00 - 22:00 WIB. Jam 10.30 kami sampai sana. Di parkiran belum ada mobil lain. Hanya ada beberapa motor. Karena kafe nya rumah kaca, saya jadi bisa melihat ke dalam. Saat itu sudah ada 3 orang. Perempuan semua. Satu orang duduk. Dua orang mondar-mandir. Di luar ada satu laki-laki. 

Karena sudah ada orang, saya mengira kafenya sudah buka dan siap terima orderan. Tapi ternyata, setelah saya masuk dan bertemu seorang mbak-mbak muda, katanya kafe sudah buka tapi makanan baru ready jam 12. 

Hyaaah masih lama dong. Kami datang ke sana kan niatnya biar bisa duduk-duduk nyaman sambil makan dan minum. Kalau duduk saja belum ada yang bisa dipesan, mending nunggu di ruang tunggu pasien aja hihi

Tapi mbaknya baik, kami boleh duduk aja gapapa, walau belum bisa pesan apa-apa. Tapi kan, saat itu kami haus dan pengen ngemil sesuatu. 

Akhirnya kami keluar kafe, balik lagi ke RS. Markirin mobil, trus jajan ke Indomaret yang ada di lantai dasar Atlanta. Di sebelah Indomaret ada kafe, tapi sejak saya masih menemani suami dirawat sampai suami saya udah keluar, itu kafe belum buka juga. 

Ya sudah jajan minuman dan makanan di Indomaret saja. Setelah haus dan laper terobati, kami balik lagi ke Bin House. Tapi kali ini jalan kaki. Kapok naik mobil malah tambah jauh dan lama😂



Untuk Semua Segment

Bin House punya space yang luas, mencakup semua segment. Buat nongkrong, kerja, ataupun kumpul keluarga.

Suasana di dalam dan di luar sama nyaman, bersih, instagramable. Cocok buat nongkrong agak lamaan. Cocok buat yang suka foto-foto OOTD.

Saat kami di sana, kebanyakan anak muda yang datang dengan kelompoknya. Ada yang datang untuk ngobrol-ngobrol panjang, ada yang sambil bekerja, ada yang duduk tenang bersama pasangannya. 

Hanya kami saja pelanggan yang datang bersama keluarga 😁

Orang-orang yang pernah datang ke Bin House bilang makanan di sini enak-enak, dan paling direkomendasikan buat mereka yang pengen kulineran di Depok. 

Mungkin karena itulah Bin House sering dapat penilaian positif dari segi rasa, kenyamanan, harga, pelayanan, dan kebersihan.

 

Dari daftar menu yang ada, saya lihat produk yang disajikan terdiri dari makanan berat, snack, gelato, minuman kopi dan non kopi, semua ada. 

Cukup lengkap sih. Jadi gak kebingungan kalau ke sini mau pesen apa.

Menurut yang saya baca, biasanya orang ke sini buat minum kopi dan memesan pasta. 

Spaghetti aglio olio dan cumi tepungnya jadi favorit banyak pelanggan. Jika gak ngopi dan gak doyan pasta, masih ada pilihan menu lainnya.

Untuk menu dan harga, bisa dilihat pada gambar yang saya pinjam dari highlight MENU di Instagram @binhouse_

Terlihat beragam dan menggiurkan, bukan? Warna-warni minumannya juga cakep. Terlihat manis dan menyegarkan.







Saya bersama suami dan dua anak saya memesan tiga macam menu saja.

Taichan Kulit (35K), Chicken Teriyaki Rice Bowl (35K), Beef Mentai Rice Bowl (45K), plus 1 Nasi Putih (8K). 

Untuk minumannya kami memesan Taro (27K), Matcha Coffee (29K), Es Kopi Bin (25K), dan Earl Grey Milk Tea (27K).

Harga makanan di sini sangat ramah di kantong. Cocok untuk jajan anak muda yang masih minta uang sama orang tua 😁

Di sekitar sana kan ada kampus, cocok dengan kantong mahasiswa. 

Oh ya mengenai rasa makanannya, enak-enak semua, tapi bukan istimewa. Kalau minumannya, saya suka semua. Rasanya sesuai harapan. Disajikan dalam water jar besar, tapi ga hambar. Manisnya pas, rasanya menyegarkan. 

Semua penyajiannya cakep. Enak dilihat. Menarik untuk difoto. 





Nah, pas tahu di Bin House ini menunya beragam, harganya juga asyik, saya tuh asli kesel banget. Keselnya karena baru tahu. 

Padahal selama enam hari menemani suami dirawat, saya belanja makannya online mulu. Setiap buka aplikasi ojol food, resto yang muncul jaraknya minimal 1 kilometer semua dari RS. Pilihannya pun gak banyak yang sesuai selera. 

Seolah di sekitar RS itu gak ada tempat makan. 

Padahal, di samping kiri dan kanan, bahkan di seberang RSU Bunda itu bederet tempat makan enak-enak. Selain Bin House ada rumah makan Padang, ada warunk Upnormal, Oh My Grill, Sate Kambing Pak Kumis, dan lainnya. 

Itulah akibat males keluar, jadi gak tahu kalau di samping RS ada Bin House. Tempat nyaman buat makan dan minum enak-enak, cocok untuk sejenak melepas penat setelah banyak begadang menjaga suami sakit. 

Tapi ya udahlah, udah jadi rejekinya rumah makan lain, dan rejekinya ojol. Ga baik juga ngeluh dan kesel. Lain kali mesti rajin-rajin cek kiri kanan. Siapa tahu yang dicari tinggal loncat ke sebelah yang jaraknya cuma selemparan kolor.


 

So far, experience ke Bin House ini menyenangkan. Saya sangat menikmati kunjungan.  

Kalau misal sedang terjebak macet di jalan Margonda yang memang jarang lengang itu, bolehlah mampir ke sini dulu. 

Di sini makanan dan minumannya enak-enak. Servisnya juga oke. 

FYI aja, yang melayani gak banyak. Waktu saya di sana cuma dua orang saja. Tapi mereka cekatan. Mondar-mandir gantian antar pesanan, kadang mengurus mesin kasir, kadang mencatat pesanan, kadang memberi perintah ke juru masak. Abis itu saya lihat ada satu orang lagi. Jadinya bertiga. Semuanya masih muda-muda. Entah juga memang bertiga, atau ada yang lain tapi gak keliatan.


 

Buat teman-teman yang suka keliling cari tempat makan enak buat dicobain, yang asyik buat nongkrong, jangan sampai pas ke Depok nggak tahu ada Bin House ini. Memang kayak gak ada karena kurang keliatan dari jalan, tapi sebenarnya ada.

Tempat parkir ada, toilet dan musala juga ada. Yang ga ada cuma Song Joong Ki. Ga dijual dan gak ada dalam daftar menu 😂 

Kalau butuh pasangan buat nemenin duduk, bawa pasangan sendiri aja (ya iyalah masa pasangan orang dibawa 😛). Atau bawa bestie mu buat temen ngobrol sambil ngabisin kopi kesukaan.

Kalau aku, kemarin bawa keluarga. Foto pasangannya ya sama suami. Yuuhuuu 😍😁


Jadi gimana, Bin House ini cocok kan kalau dijadikan list tempat nongkrong kalian?

Terima kasih sudah membaca 💖

🍴 BIN HOUSE

⏰  Setiap hari, pukul 10.00-22.00 WIB.

💰 Sate Taichan Kulit Rp 35.000 | Beef Mentai Rice Bowl Rp 45.000

🎤🎸Live music everyday

📍Jl. Margonda Raya No.35, RW.3, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

Indahnya Etika Bertemu, Senangnya Berjumpa denganmu!


Mbak Savitry "Icha" Khairunnisa dari Norwegia sedang mudik ke Indonesia sejak bulan Juni sampai Agustus 2022. Baru-baru ini saya bertemu dengannya di Plaza Senayan, Jakarta (2/8).

Pertemuan kami singkat saja, namun menyenangkan, istimewa, dan agak "langka". Karenanya, saya jadi ingin mengabadikannya di blog ini, sebagai kenangan.

Namun sebelum itu...

Saat hendak menuliskan cerita pertemuan dengan Mbak Icha di sini, ada satu ingatan yang tiba-tiba muncul dalam benak saya. Tentang ajakan bertemu yang pernah tak berkenan di hati. Ceritanya begini.....

Beberapa tahun silam, pada suatu siang. Seorang kenalan blogger mengirim pesan melalui Whatsapp. Isinya singkat saja. Intinya dia memberitahu saya sedang berada di suatu tempat di BSD, dan meminta saya datang untuk bertemu saat itu juga.

Tidak ada yang salah dengan ajakan itu, saya hanya jadi agak kaget karena ajakan bertemu tersebut sangat mendadak dan harus saat itu juga.

Saya mencoba mengingat kapan kami pernah membicarakan janji temu. Namun, sekeras apapun saya berusaha, ingatan soal janji temu itu tak ditemukan, karena memang tak pernah ada. 

Kami sebenarnya bukanlah kawan dekat. Hanya saling tahu dan pernah berinteraksi di medsos saja, itu pun sesekali.

"Mohon maaf banget tidak bisa sekarang. Saya sedang kurang sehat, baru haid. Badan lemas, mual, mulas, dan kepala pusing."

Saya menjelaskan kondisi diri sesuai fakta. Meskipun ada fakta lainnya seperti sedang ada kerjaan di rumah, sebentar lagi mau jemput anak pulang sekolah, dan lainnya. Namun fakta lain itu saya sembunyikan. Cukup hal paling gawat saja yang terinfo, soal sakit itu.

Ketidakbisaan saya untuk bertemu direspon dengan datar. Kemudian yang luar biasa, saya distatusin di Facebook! 😱 Aneh juga sih. Kan katanya dia lagi ada acara di BSD. Ketemu saya itu cuma sambilan. 

Kenapa kesalnya sebegitunya, ditumpahin di tempat umum pula 😂 Jujurly, saya paling gak suka sama orang yang bila ada masalah diomongin di belakang, atau malah di statusin di medsos dengan tujuan ngajak orang mendukung emosi pribadinya dia. Kalau ada masalah dikelarin, bukan dipanjangin wkwk.


Ketika Saya Mengajak Bertemu 

Saat saya punya rencana datang ke suatu kota, dan punya waktu untuk bertemu dengan teman-teman yang ada di kota itu, tapi waktunya terbatas, saya biasanya akan bilang begini:

"Insha Allah hari Jumat saya ke Surabaya. Saya punya waktu luang hari Sabtu, jam 4 sore. Kalau ada waktu, ketemuan bareng-bareng yuk di Mall Tunjungan Plaza. Lokasinya dekat dari hotel tempat saya nginap. Biar gak jauh. Soalnya saya punya waktu 2 jam-an saja buat ketemu."

Dengan cara begini, saya menawarkan kesempatan, tapi tidak memaksa. Yang bisa ayo mari ketemu, yang gak bisa gapapa. 

Penting bagi saya memberi info yang jelas dan rinci. Untuk mempermudah orang lain membuat keputusan apakah bisa bertemu atau tidak. Karena yang sibuk bukan saya saja, orang lain juga sibuk.

Saya ada sebut "bareng-bareng", tujuannya supaya bisa dilakukan di satu tempat, pada satu waktu. Selain untuk efisiensi waktu, juga biar hemat biaya, dan meminimalisir kerepotan. 

Balik lagi ke soal bertamu ke suatu kota, lalu ngajak ketemu...

Kalau sudah terinfo, harapannya gak ada lagi teman yang ngomong: "Ih ke Surabaya ga bilang-bilang. Kok ga ngabarin? Kok gak ajak-ajak ketemu? Sombong amat diem-diem aja ke Surabaya"

Hadeuh 😅

Saya suka mengajak teman bertemu. Bukan untuk merepotkan, tapi untuk merawat hubungan, supaya silaturahmi senantiasa baik dan terjaga. 

Kepada kawan dekat, biasanya langsung saya japri seperti ini:


Ketika Saya Mengajak Mbak Icha Bertemu

Mbak Icha adalah seorang penulis. Beliau berasal dari Surabaya. Pernah tinggal di Inggris, Malaysia, dan sekarang sudah belasan tahun di Norwegia bersama keluarganya. 

Mbak Icha punya blog, tapi sudah lama belum diupdate. Katanya sibuk dan ada prioritas lain.  Tetapi kegiatan menulisnya jalan terus, terbukti dari adanya karya berupa buku-buku solo yang diterbitkan oleh Gramedia dan dapat dibaca oleh penggemarnya di Indonesia.

Selain menulis buku, Mbak Icha aktif di media sosial; Facebook dan Instagram. Di FB Mbak Icha menulis beragam topik. Kadang tentang keluarga, kegiatan harian di rumah, traveling, parenting, aktivitas putranya di sekolah (pendidikan di Norwegia), kuliner dan masakan, pertemanan, politik, dan agama pun ada. 

Saya suka baca tulisan-tulisannya yang berbobot. Saya suka dengan pandangan-pandangannya yang dewasa dan bijaksana. Saya suka buah pikirannya yang cerdas. Selalu ada hal menarik yang bisa diketahui, dan ada saja pelajaran yang bisa dipetik. 

Lewat tulisan-tulisannya itulah kami berinteraksi. Berbalas komen dengannya terasa menyenangkan. Hal seperti inilah yang membuat saya nyaman, betah dan jadi ingin jumpa.

Pada minggu terakhir bulan Juni lalu saya melihat postingan mbak Icha di Instagram. Ada foto Mbak Icha sedang di Jakarta. Ternyata Mbak Icha dan keluarganya sedang mudik ke Indonesia.

Lantas bagaimana dengan saya, ada rasa pengen ketemu? Oh itu pasti.

Tapi saya sangat mengerti. Orang baru datang dari benua jauh, telah 2 tahun tak bisa mudik karena pandemi, saat mudik tentu sudah punya prioritas bersama keluarganya.

Untuk mengajak Mbak Icha bertemu, tentu saya perlu menyusun kata setepat mungkin supaya tidak menjadi bebannya, dan tidak mengganggu jadwal kegiatannya.


Pada saat saya menulis:

"Masya Allah 😍😍 Selamat menikmati hari² selama di Indonesia ya mbak. Lumayan agak lamaan di Indonesia-nya ya sampai awal Agustus. Sekiranya sedang papasan waktu dan tempat, senang sekali jika dapat berjumpa. Jumpa sama panutankuuu 😚😘"

Lalu Mbak Icha membalas: 

"insyaallah nanti setelah aku kembali dari Surabaya, semoga kita ada rezeki ketemuan, ya Mbak Erien ❤️" 

Ungkapan mengajak bertemu hanya sekali itu saja. Setelah itu saya tidak mengulanginya lagi. Saya tidak ingin membuat Mbak Icha jadi terbebani waktu. Sebab saya pun sama, kalau sedang bepergian ke suatu tempat, semisal ada yang menagih pertemuan, rasanya tak tenang. Sayanya jadi sibuk mencari waktu, bahkan menggeser jadwal sana sini. Karena itulah, saya pun ingin pengertian terhadap orang lain.

Hingga suatu hari Senin tgl. 1 Agustus 2022.....



Ketika Mbak Icha Mengajak Saya Bertemu 

Masya Allah. Niat tulus menjalin silaturahmi dimudahkan Allah. Rejeki waktu dan kesempatan itu akhirnya datang. 

Tanpa saya duga tepat di hari pertama bulan Agustus, Mbak Icha menghubungi saya lewat DM IG. Saya diajak bertemu hari Senin tgl. 8 Agustus di Citos, Jaksel. Waktunya tepat satu hari sebelum keberangkatan kembali ke Norwegia pada Selasa 9 Agustus 2022.

Tanpa menawar, saya langsung setuju. Sebab di sini yang sibuk adalah Mbak Icha. Waktunya berada di Indonesia terbatas. Jadi, saya biarkan Mbak Icha yang mengatur waktu dan tempat. Saya tinggal mengikuti dengan senang hati.

Termasuk ketika tiba-tiba Mbak Icha mengubah jadwal ketemuan dengan memajukannya menjadi Selasa tgl. 2 Agustus. Saya tetap setuju, tetap dengan senang hati.

Tidak ada keadaan yang membuat saya mesti menolak, terlambat datang, atau pun merasa malas menempuh jarak panjang dari BSD ke Plaza Senayan. 

Saya sangat bersemangat. Alhamdulillah semuanya lancar, semuanya aman. Kami pun berjumpa.


Bertiga di Monologi, Plaza Senayan

Hari itu, Mbak Icha juga janjian dengan Mbak Mia, seorang business woman mumpuni yang merupakan adik angkatan kuliah adiknya Mbak Icha. Kami ketemu bertiga di waktu yang sama. Alhamdulillah saya jadi punya teman baru.

Nah, Mbak Mia itu ternyata pernah tinggal di BSD, di komplek yang sama dengan saya. Gak nyangka kami pernah tetanggaan, bahkan satu blok. Lucunya, selama bertetangga kami belum pernah ketemu. Ketemu dan kenalannya baru hari itu, di Plaza Senayan,  setelah udah gak tetanggaan lagi.

Dunia memang sesempit itu 😁 

Drama Hilang HP yang Ditemukan Kembali

Obrolan siang itu mengalir lancar, sambung menyambung, dan ada saja yang bisa diceritakan. Suasana terasa hangat dan akrab. Saya merasa seperti bertemu kawan lama yang sudah lama tak jumpa. 

Sampai kemudian obrolan terhenti saat Mbak Icha sadar dua buah HP nya tidak ada. Kalau tak salah, saat itu Mbak Icha mau menghubungi suami dan anaknya, ternyata kedua hapenya hilang!

Ada satu tempat yang langsung terlintas di pikiran saya saat itu, yakni musala. Tempat saya dan Mbak Icha pertama bertemu, saat sama-sama menunaikan salat Zuhur.

Dan benar saja, HP memang ketinggalan di musala. Ditemukan di rak sepatu oleh akhwat yang jaga musala, lalu dititipkan di pos keamanan tempat pengambilan barang ketinggalan. Saya jadi ingat, ketemu mbak Icha di musala saat sedang pasang sepatu. Kemungkinan tertinggalnya saat itu. 

Alhamdulillah HP sudah ketemu. Mbak Icha lega, saya juga turut lega. Masih rejeki. Masih Allah jaga. 

Selama ngobrol di Monologi itu kami memang sama sekali gak pegang HP. Semua abai pada gawai. Sebuah etika juga, lepaskan HP ketika duduk berjumpa kawan. Kami baru pegang HP lagi saat mau foto bareng.

Buku Kelana Rasa Mancanegara karya Mbak Icha, terbitan Gramedia. Thanks bukunya, mbak!

Tak lama setelah HP ketemu, kami menyudahi pertemuan. Karena Mbak Icha masih ada janji temu lagi dengan orang lain, masih di sekitaran Senayan juga. Dan ternyata terjadi drama kedua di Mbak Icha, orang yang hendak mereka temui kemudian ternyata ada di gedung seberangnya wkwk.

Udah selesai? Belum. 

Masih ada sesi singkat saya ketemu Fatih, anaknya mbak Icha yang sore itu menyusul ke Plaza Senayan bersama suaminya.

Walau sesaat tapi saya senang bisa bertemu keluarga Mbak Icha lengkap. Ngobrol sedikit sama Fatih, yang ternyata bahasa Indonesianya bagus sekali. Kata Mbak Icha, bahasa Ibu tetap diajarkan dikeseharian, makanya Fatih lancar berbahasa Indonesia. Malah ada aksen Jawa nya.



Terima kasih Mbak @ichasavitry untuk pertemuan yang hangat ini. Untuk obrolan yang bersahaja. Untuk buku Kelana Rasa Mancanegara yang menggugah selera dan mengajak untuk "Ayo praktekkan". Untuk kesempatan berjumpa dengan Fatih, anak soleh yang manis sekali sikapnya.

Selamat bersiap kembali ke Norwegia, mbak Icha.

Semoga kita sehat selalu, umur panjang, dan berjumpa lagi di lain waktu.

Indahnya berteman 😍



Terakhir, saya unggah poster KEB Ngobrol. Saat Mbak Icha jadi narasumber untuk obrolan bertema: Catatan Seorang Ibu Tentang Pendidikan di Norwegia.

Instagram Mbak Icha @ichasavitry

Saya sangat suka dengan persahabatan yang sehat. Saling memberi dampak positif, kekuatan, dan kedamaian hati, satu sama lain ✨❤️

Mencicipi Croffle Croffory dan Minuman Neocha di Kumulo, The Breeze BSD City

 
Blogpost pertama bulan Agustus, cerita jalan dan jajan di Kumulo, BSD. Berdua suami saja. Cuci mata lihat Kumulo Market. Foto-foto. Makan croffle Croffory. Minum Neocha. Belanja oleh-oleh. Lalu pulang.

Saya senang. Maka, saya menuliskannya di sini, di blog.

----###------

Kadang ada yang suka nanya begini ke saya...

"Ngapain sih apa aja ditulis di blog, emang masih ada orang mau baca blog? Emang masih ada yang cari info jalan-jalan, kulineran, belanja, dan semua hal tentang gaya hidup di blog? Emang masih ada yang nawarin kerjasama di blog, lalu ngasih barang dan duit? Emang blog kamu isinya apaan? Tuh, orang kalau butuh apa-apa buka tiktok dan reel, bukan blog. Udahlah tinggalin lah blog, gak guna lagi saat ini" 😱

....sit down

be humble....

Begitu isi tulisan di dinding @croffory.id @neocha.id yang saya mampiri.

Memang, rasanya tiba-tiba jadi pengen cerita tentang banyak hal jika ada yang tanya-tanya seperti itu. 

Cerita tentang hal-hal positif yang banyak didapat dari kegiatan ngeblog, sejak 14 tahun lalu. Hal positif bagi diri, dalam berbagai bentuk, yang terlihat dan bisa disentuh, maupun yang hanya bisa dirasakan.

Tapi, ah sudahlah...

Mari duduk tenang saja. Menikmati makanan lezat, menyeruput minuman kesukaan, berbincang dengan orang tersayang, dan melakukan hal-hal baik yang disukai, sembari tak henti bersyukur.

 

Saya suka punya waktu yang baik. Waktu untuk duduk santai depan laptop, buka blog. Menulis hal-hal positif yang dilakukan, lagi baik dan menyenangkan. 

Mengabadikan sesuatu atau bermacam hal di blog, menjadikannya kenangan, dalam rangkaian kata dan foto-foto yang diambil dengan sukacita.

Karena blog, tempatnya pikiran bahagia. Milik mereka dan saya, yang menjadikannya rumah, teman sejiwa tempat di mana hati berada. 

Tak peduli masih jadi tren atau sudah berlalu, dibaca atau sudah tidak lagi, dibutuhkan lalu dibayar atau tidak sama sekali, diingat dan dicari atau ditinggalkan lalu dilupakan, blog tetaplah rumah, akan selalu ditempati dan diisi.

Kalau masih tak mengerti, duduk sini kita bicara dengan pikiran bahagia 😍🤗

 

Biar gak kaku, mari berbincang sambil makan Salmon Mentai Croffle dan Smoked Beef BBQ Croffle, ditemani minuman Rose Thai Pearl Genmaicha dan Hojicha Milk Tea. 

Tempatnya sudah saya sebut di awal. Yakni di Croffory dan Neocha, di Kumulo BSD. Ini tempatnya bukan terpisah, melainkan satu.

Kumulo terletak di The Breeze BSD City. Mall without walls, sebutan untuk The Breeze, salah satu tempat hangout terbaik di BSD. Khusus untuk memanjakan perut. Laksana taman, ini adalah taman jajan kelas premium di BSD.

Gak cuma jajan-jajan gembira, di sini bisa sekadar jalan menikmati suasana taman di pinggir danau, nonton bioskop, dan bahkan belanja.

Saya sering ke The Breeze bersama keluarga, tapi baru November tahun 2021 lalu mau masuk Kumulo. Eh ternyata masuknya bayar Rp 15.000. Berhubung waktu itu cuma mau survey untuk tempat kumpul bareng temen-temen AII, saya dan teman ga jadi masuk. Ga recommended juga kalau buat kumpul rame. Karena rumah modular atau prefab di dalam Kumulo itu kecil-kecil. Kalau dimasuki bareng bakal sesak.

Ternyata sekarang masuk Kumulo gratis!

 

Banyak croffle enak di luar sana, salah satu yang disajikan oleh Croffory ini, termasuk yang recommended untuk dicoba. Khususnya, bagi mereka penggemar croffle, yang tinggal di BSD dan sekitarnya. 

Croffory memiliki tempat berukuran kecil saja, tapi Instagrammable dengan interior simpel dan elegan. Selain croffle, di sini bisa menyantap menu lainnya.

Ada menu Brunch, Savory Croissant, Sweet Croffles, dan Beer. Aiih bir...

Harga menu brunch: Big breakfast (50K), Omelette (30K), Parisian Breakfast  (35K), Eggs Benedict (40K), Avo Toast (40K).

Harga menu Savory Croissant: Salmon Mentai Croffle (35K), Beef Floss Menti Croffle (25K), Smoked Beef BBQ Croffle (25K), Sausage Marinara Croffle (25K), Mozarella Marinara Croffle (25K).

Harga Sweet Croffles: Mint Ichigo Cream Croffle (25K), Mix Berries Cream Croffle (35K).

 

Karena sajian utamanya croffle, jadi saya dan suami akan makan croffle. Saya suka ikan, jadi saya memesan Salmon Mentai dan suami Smoked Beef BBQ. 

Karena prefabnya kecil, dan dapurnya terbuka, jadi saya bisa lihat mbaknya membuat croffle. 

Mbaknya sendiri, tiada teman. Tapi lincah membuat croffle dan minuman. Seru liat croffle dibuat,  "ditembak" pake api segala hihi. 

Saya suka Salmon Mentai Croffle. Lezatnya Salmon Mentai dalam perpaduan rasa dari gurihnya croissant dan manisnya wafle, terasa enak sejak gigitan pertama. 

Ukuran croffle nya pas buat saya. Kecil enggak. Besar banget juga enggak. Kalau saya makan 2 tampaknya akan kekenyangan. 

Salmon Mentai Croffle

Beef Smoked BBQ Croffle


Saya nggak nanya kenapa dalam 1 prefab ada Croffory dan Neocha. Apakah milik orang yang sama? Bisa jadi iya, bisa juga tidak. 

Croffory dan Neocha. Satunya makanan, satunya lagi minuman. Memang serasi. Karena orang makan biasanya butuh minum. Keduanya sedang sama viral. Jadi hits di kalangan coffee hunter.

Ada tiga macam menu minuman di Neocha, di antaranya: Fleur Family, Frut Family, Creme Family.

Minuman Fleur Family terdiri dari: Elderflower dill crysanthemum, Lavender rosemary asmanthus, Rose thai pearl genmaicha, Violet crystal genmaica.

Frut Family tediri dari: Lemon-lime-dill, Lychee rosemary genmaicha, Mixed berries tea, Peach passion rosemary, Reed kandis tea.

Creme Family terdiri dari: Hojicha milk tea, Matcha milk tea, Thai milk tea.
 

Nama-nama minumannya cantik, pakai nama- bunga-bunga. 

Sebelum liat minumannya saya sudah bayangin warna-warni cantik bunga dengan aroma yang wangi dan lembut. Makanya saya coba pesan Rose thai pearl genmaicha. Ternyata sesuai bayangan. 

Untuk minuman, pelanggan bisa memesan dengan pilihan gula & ice level normal, half, atau none. Sedangkan ukurannya tersedia small dan large. Harga minuman seragam. Ukuran small 31K dan large 36K.

Minuman disajikan dengan cup plastik. Makanan pakai kotak kertas. Semua sekali pakai.

Rice Bowl nya harus dicoba lain waktu

Saya suka ke Kumulo. Ide kafe dengan rumah prefab nya itu unik. Mungil tapi desainnya bikin nyaman banget, dan instagramable. Exterior-nya berasa ada beach vibes-nya, mungkin karena keberadaan pohon-pohon mirip palem. Tinggi kurus gak bercabang, berdaun di bagian puncak saja.

Croffory yang saya datangi paling muat 4-6 orang saja di dalam. Di depan bagian luar ada 4 bangku. Di samping ada 1 bangku muat berdua. Jadi kalau datang bersepuluh ke sini, bisa aja. Sebagian di dalam, sisanya di luar.

Pemilik prefab menyediakan hand sanitizer, tisu kering, sarung tangan plastik untuk memegang makanan di meja-meja. 

Pembayaran mudah, dengan uang tunai, OVO, Gopay, transfer, namun tidak debet.

Tempatnya bersih, nyaman, dan sejuk pakai AC. 

 
Saya mau cerita juga soal Kumulo Market nya. Tapi nanti di lain tulisan.

Kalau ada teman-teman yang berencana mengisi akhir pekan di Tangsel, coba datang ke The Breeze BSD City. 

Ada banyak pilihan tempat makan enak di The Breeze BSD. Buat jadi pilihan tempat bersantap bersama keluarga, teman, sahabat, rekan bisnis, semua cocok. 

Toilet dan tempat solat tersedia, bersih dan lapang. 

Soal kebersihan, hampir semua sudut The Breeze BSD itu bersih. Sangat nyaman buat berjalan-jalan di mall tanpa dinding. Cakep buat foto-foto.


Kalau datang ke The Breeze BSD,  jangan lupa mampir ke Kumulo. Tempatnya kecil saja, tapi bikin happy. 

Kamu mesti menyeberangi jembatan di atas danau untuk ke sini, dan pemandangan sekitarnya menarik buat dilihat. 

Kumulo buka tiap hari dari Senin sampai Minggu, jam 10am - 8pm

Buat yang ingin tahu lebih banyak soal Kumulo, bisa kunjungi IG @kumulo.bsd

Sampai jumpa di cerita berikutnya: Kumulo Market