Travel

Hotel

Culinary

Recent Posts

Traveling ke Rangkasbitung, Ikhtiar Mencari Kesembuhan Lewat Pengobatan Herbal

23.24 42 Comments
Traveling ke Rangkasbitung untuk Pengobatan Herbal

Seberat apapun ujian mendera, aku tak pernah ingin menyerah dan putus asa...

Suamiku menderita sakit batu empedu, total hampir 20 hari dirawat di Rumah Sakit. Biaya  banyak keluar, namun tak jua dioperasi agar sembuh. Bukan mauku, bukan pula mau para dokter yang menangani untuk menunda, tapi ada kondisi di mana nilai lipase dan amilase yang sangat tinggi tak mau turun menjadi normal yang membuat semuanya ditunda. Nilai normal sangat penting supaya aman menjalani operasi. Berharap ada obat penurun yang bisa ditelan, sayangnya tak ada.

Apakah kami harus diam saja di rumah sakit tanpa kepastian kapan operasi bisa dilaksanakan? Tentu tidak. Argo RS jalan terus, amilase dan lipase stag selama 1 minggu, operasi tak jelas kapan bisa dilakukan. So? Kami keluar!

Jelang keluar dari rumah sakit aku mencari keberadaan Pak Reza, herbalis yang pernah menanganiku dan Alief saat sakit parah di masa lampau. Namun, nomor HP beliau yang dulu aku simpan sudah mati tak bisa dihubungi. Aku kehilangan kontak. Terakhir pernah kontak sewaktu bapak mertua mau berobat kaki, sebelum berangkat naik haji. Setelah itu tak pernah lagi, hingga akhirnya hilang tak pernah kucari.

Segala cara baik ingin kulakukan demi suami, membuatku mencari Pak Reza di internet. Kugunakan kata kunci Reza Herbalis Rangkasbitung dan Pengobatan Herbal Reza. Subhanallah ketemu! Nama, alamat, nomor HP bahkan jadwal periksa pun terpampang jelas di sebuah web. Aku langsung percaya orang yang kucari ada di web itu. 

Apa nama website pengobatan herbal yang telah aku kenal sejak 20 tahun lalu itu? Akan kuceritakan dalam tulisan ini. Lengkap dengan drama proses pendaftaran yang banyak gagalnya sampai bikin aku nangis sedih campur kesal. Simak terus, ya.


Perjalanan ke Rangkasbitung, Banten

Keluar Kota di Saat Pandemi

Di tengah wabah begini, aku gagal mengikuti anjuran pemerintah #DiRumahAja guna mencegah penularan Covid-19. Aku banyak keluar rumah pergi ke Rumah Sakit. Kulakukan itu sejak Mei (saat Ramadan) sampai sekarang bulan Juli. Aku bahkan bepergian keluar kota! 

Yak, segera setelah keluar dari RS dan aku berhasil mendaftar berobat ke herbalis Pak Reza, aku langsung membawa suamiku ke Rangkasbitung. Kami dapat nomor antrian 23, pukul 13.00. Teringat dulu belum pakai daftar online segala, tinggal datang kapan aja. Sistem geser, siapa yang duluan tiba dia yang duluan diperiksa. Pasien melimpah kadang sampai jam 1 dini hari keesokan pagi baru kelar diobati. Kini sistem daftar online. Siapa cepat dia dapat nomor antrian. Hanya terbatas untuk 30 orang perhari.

Tgl 16 Juni 2020, kami berangkat pukul 7 pagi. Aku membawa makan masakan sendiri, tak mau beli di luar. Suami masih dalam perawatan pencernaan, tak boleh makan sembarang. Diet protein hewani dan nabati, hanya makan nasi dan sayur, serta buah (bukan duren tentunya ya). Karena baru keluar RS, suami masih lemes dong, tapi mendadak sehat demi nyetir mobil. Katanya, lebih aman dia yang nyetir dari pada aku yang sok berani membelah tol Jakarta - Merak yang ramai.

Ternyata pemirsa, jalan tol yang biasanya padat dan panjang hingga gerbang tol Cikupa, sepiii kayak kuburan. He he gak ding. Pokoknya nggak seramai kayak sebelum musim pandemi, perjalanan kami pun lancar jaya. Ada Google map yang menuntun dengan rute terpendek dan ternyata jalannya mulus banget kayak pipi Lee Min Ho. Pukul 9 kami sampai di Rangkasbitung. Hanya 2 jam perjalanan saja dari BSD. Tapi, jelas kami kepagian! 
Di bawah pohon beringin ini, drama mogok di Kota Rangkasbitung terjadi

Drama Mogok di Rangkasbitung

Kami menemukan Indomaret di Jalan Otista Raya, Cijoro Pasir, Rangkasbitung, Lebak. Klinik Pak Reza tinggal 2 km saja dari Indomaret tersebut. Di samping Indomaret ada Hotel Kharisma dan Kafe Kharisma. Tempat yang cocok buat istirahat. Aku beli minuman di Indomaret, biar nggak cuma numpang parkir. 

Jam 9 sampai 10 kami cuma duduk santai ngobrol macem-macem. Beberapa saat sama-sama sempat ketiduran. Jelang jam 11 mulai lapar akhirnya buka kotak bekal dan kami makan dengan lahap. Alhamdulillah bawa makanan, gak perlu sibuk kelayapan cari warung/restoran.

Kelar makan, rencana kami mau langsung lanjut jalan biar nanti pas salat zuhur bisa dilakukan di musala rumah pak Reza. Tapi anehnya mobil tiba-tiba gak mau di-starter. Aku dan suami langsung cari penyebabnya tapi nggak ketemu. Nggak mau sembarang utak-atik juga nanti malah tambah parah, akhirnya buka youtube cari tahu. Ada beberapa saran trik yang langsung kami praktekkan, tapi nggak berhasil hidup. Kenapa gak didorong lalu minta tolong orang lain untuk dijumper? Honda BRV yang kami bawa matic, mana bisa didorong. Sementara itu, layar headunit di dasboard berubah tampilan. Lalu mati.



Untung Ada Bengkel 

Tak jauh dari Indomaret ternyata ada bengkel. Suami langsung ke sana dan manggil orang buat periksa. Yah, ternyata masalah aki, abis! Ah, kenapa nggak kepikiran.

Kalau di BSD sih jika butuh aki tinggal telp shop & drive, bisa diantar ke rumah atau di lokasi kejadian, dan dipasang. Di manapun selama di wilayah Jabodetabek, Shop & Drive ini mudah dipanggil, ada di mana-mana. Tapi di Rangkasbitung nggak ada. Akhirnya aku gugling, dapat beberapa toko aki terdekat. Harganya beragam. Aki kering ada yang 700ribuan, aki basah 600ribuan. Di toko lain ada yang 600 dan 500ribuan. Gimana dengan bengkel si mas yang tadi bantu periksa? Ternyata ada. 

Nah, sebelum memutuskan beli, kami ajak orang bengkel periksa lagi mungkin ada hal lain penyebab mogok, katanya udah fix karena aki. Ah iya bener, pas aku periksa ulang tertulis jelas di aki ada tgl 4 Juni 2018. Itu artinya, umur si aki sudah 2 tahun, sesuai masa berlaku aki pada umumnya. Pantesan mati!

Akhirnya beli aki sama bengkel, cuma 450 ribu (aki kering), dan langsung dibantu pasang. Alhamdulillah setelah itu mobil bisa nyala lagi. 

Honda BRV mogok karena aki habis

Asyik Gak Jadi Nginap di Bawah Pohon Beringin

Sebelum mobil diperiksa dan dipasang aki baru, aku sempat menghubungi Mas Indra, asisten Pak Reza yang mengkoordinir para pasien harian yang akan berobat. Aku bilang ke dia kalau kami sudah berada di Kota Rangkasbitung, tinggal 2 kilometer lagi sampai tapi mobil mogok. Selain mengatakan bahwa kami bakal telat, kutanyakan juga apa klinik bisa dicapai dengan GOCAR, katanya bisa.

Sesaat merasa lega karena tetap bisa datang dengan naik taksi online. Tapi kemudian sadar, bagaimanapun mobil harus bisa jalan karena kami butuh buat balik ke BSD. Katakanlah aman ditinggal di depan Indomaret, kami pun bisa menginap dulu di hotel Kharisma, pulang esok hari sambil menunggu bantuan dari bengkel terpercaya. Tapi itu solusi terakhir. Masih ada solusi yang bisa diusahakan saat itu juga yaitu segera cari bengkel, mumpung masih pagi. Gak sangka ternyata lokasi kejadian dekat bengkel.

"Jangan sembarang bawa ke bengkel ya bu, nanti dimahalin. Tinggal aja di situ dulu mobilnya, ke sini naik Gocar," begitu pesan dari Mas Indra. Bener sih, tapi di kondisi butuh begini, kalau memang dimahalin ya tinggal dihadapi dan diatasi. Kalau bisa nego ya nego. 

Tapi syukurlah masalah ketemu dan ada solusi. Nggak jadi deh naik GOCAR. Nggak jadi juga mobil diinapkan di bawah pohon beringin yang aku yakin banget kalau malam aura horornya keluar he he.

Kejadian ini sebetulnya agak bikin jengkel. Bawa suami sakit, perjalanan jauh, eeeh si aki tiba-tiba mati nggak ngabarin dulu. Dasar aki-aki! haha

Padahal sebetulnya banyak sekali yang bisa disyukuri saat itu. Mogok di depan Indomaret, kalau butuh makan minum mudah tinggal masuk dan beli. Samping Indomaret ada hotel, kalau kemalaman ada tempat nginap. Cari toko aki yang bisa anter, ketemu beberapa di internet dan mudah dihubungi. Cari bengkel ternyata ada dan dekat banget. Banyak kemudahan toh di balik drama mogok? Jadi, buat apa jengkel dan marah-marah. Setiap ada kesulitan ada kemudahan menyertai. Masya Allah.
Perjalanan ke Rangkasbitung ini jauh, periksa kendaraan sebelum berangkat, bawa bekal makan buat jaga-jaga selama di jalan

Klinik Herbal Reza Palaton

Ini bagian yang ditunggu-tunggu para pembaca tulisan ini. Betul apa betul? he he. 

Pukul 12 lewat beberapa menit kami tiba di rumah Pak Reza. Rumah tersebut sekaligus  merupakan klinik dan kafe yang beliau kelola. Letaknya di Komplek BTN Palaton. Kalian bisa temukan lokasinya pada map yang ada di web www.rezapalaton.comCek sendiri ya!

Awal mula kenal Pak Reza tahun 2002, saat aku masih gadis. Setelah menikah, aku punya masalah pada rahim, ada kista berukuran cukup besar, penyebab sakit haidku selama ini. Aku sudah periksa ke dokter kandungan di RS Siloam di Karawaci, dengan dokter Christapora SpOG, dan dianjurkan untuk operasi. Karena takut operasi, aku berobat ke Pak Reza. Setelah diperiksa dengan hasil pemeriksaan yang sama persis dengan pemeriksaan kedokteran, aku diberi resep untuk diminum selama 14 hari.

Aku masih ingat beberapa resep itu terdiri dari akar alang-alang, benalu teh, dan yang lainnya aku lupa. Paling sulit dicari benalu teh. Dulu aku nitip sama teman yang tinggal di puncak, alhamdulillah dapat. Resepku harus diminum rutin tak boleh putus, dan hanya diminum sebelum datang haid. Aku patuh pada saran Pak Reza, kuikuti semua sesuai petunjuk.

Hingga kemudian aku haid, sesuatu terjadi. Kotoran haidku berwarna kehitaman dan sangat kental. Ada semacam gumpalan darah yang tidak biasa. Tapi aku tidak merasa sakit. Kelar haid aku ke dokter lagi, periksa lagi. Setelah di USG ternyata kista di rahimku sudah tak ada. Dokter sempat bertanya, lalu aku jelaskan bahwa aku minum herbal.

Setelah kejadian itu, bulan depan aku tidak haid lagi, subhanallah ternyata aku hamil. 

Inilah pengalaman pertamaku berobat dengan pak Reza yang selalu kuingat dalam hidupku. 
Lapangan kecil di komplek rumah Pak Reza jadi tempat parkir tamu

Pengalamanku Berobat Herbal

Pengalamanku berobat herbal dengan Pak Reza berlanjut ketika aku memiliki Alief. Dulu, di usianya yang belum mencapai 1 tahun, Alief pernah punya masalah dengan kepalanya. Ada cairan berlebih di kepala, menyebabkan perenggangan pada otak, dan kepala membesar tak wajar. Bukan hydrocepalus ya, beda. 

Alief kami bawa ke dokter bedah syaraf di RS Siloam Karawaci. Aku masih ingat nama dokternya Dr Eka. Berdasarkan hasil MRI saat itu, Alief memang harus menjalani operasi bedah kepala guna pemasangan selang untuk membuang cairan di kepala pindah ke perut. Dan itu maksimal dilakukan sebelum usianya 3 tahun.

Bagai disambar geledek, anak kesayangan kami punya penyakit semacam itu, harus operasi pula. Sudah tak terkira banjirnya air mata, tiap malam tumpah di atas sajadah, di sprei ranjang, dan di mana-mana. Sedih bukan kepalang.

Tapi Allah selalu memberi petunjuk, digerakannya langkah kami ke Pak Reza, berikhtiar di sana. Hasil pemeriksaan Pak Reza sama dengan hasil pemeriksaan alat-alat canggih kedokteran. Bedanya, Alief diusahakan tidak operasi. Kami diberi resep herbal yang harus diminum rutin, dan harus sering kontrol. Maka, hampir tiap 2 minggu kadang tiap 1 bulan selama 2 tahun kami ke Pak Reza untuk mengobati Alief. Bolak-balik dari BSD ke Rangkasbitung. Capek tak lagi dirasa, hanya ada kobaran semangat berobat agar Alief sembuh.

Tuhan Maha Besar, usaha kami tak sia-sia. Lingkar kepala Alief berhenti membesar, dan ketika diperiksa kembali ke dokter, cairan di kepala sudah tidak ada. Allah yang mengalirkan cairan itu ke perut Alief tanpa operasi melalui Pak Reza dan tanaman obat yang diminum Alief. 

Ada yang bisa bayangkan bagaimana cara Alief kecil minum ramuan herbal? Pakai botol dot. Bayi 7 bulan sampai 2 tahun hanya tahu rasa susu dari botol dot. Tapi Alief tahu rasa ramuan herbal dari botol dot nya. Mudah kah? Allah yang memudahkan.
Rumah Pak Reza merangkap klinik pengobatan herbal dan kafe DeumDee

Daftar Berobat Herbal di www.rezapalaton.com

Dulu, Pak Reza praktek sore hingga malam hari, selepas ia bekerja di Kantor Pos. Tidak ada nomor antrian. Hanya sistem geser. Siapa duluan tiba, duluan diperiksa. Pengobatan tidak dilakukan di ruang tertutup. Jadi, kami bisa melihat ketika pasien lain diobati. Jumlah pasien tidak dibatasi. Pernah sampai jam 12 malam kami baru kebagian giliran. Pulang ke rumah sudah subuh. Begitu terus selama 2 tahun mengobati Alief. 

Kini jumlah pasien dibatasi hanya 30 orang perhari. Pak Reza juga sudah pensiun dari kantor pos. Prakteknya kini tiap hari kerja dari jam 7 sampai 16 sore saja. Sabtu dan Minggu libur. 

Pasien berobat herbal harus melakukan pendaftaran di website https://rezapalaton.com/ Tidak bisa datang begitu saja ke rumahnya untuk berobat. Harus punya nomor antrian yang didapat via website, dan harus menerima konfirmasi dari satu-satunya nomor yang digunakan untuk konfirmasi. Tanpa itu semua, jangan pura-pura nggak ngerti lalu ujug-ujug datang berharap belas kasihan supaya kedatangan diterima dan diobati. Gak akan!

Cara mendaftar pengobatan Reza Palaton:

Pertama,
Buka website https://rezapalaton.com/ Saat terbuka tampilannya akan seperti ini (lihat gambar di bawah). Muncul informasi sbb:
  • Pastikan nomor telepon yang didaftarkan adalah nomor telepon yang aktif 
  • Bagi yang mendapatkan nomor antrian, akan dilakukan verifikasi panggilan ke nomor telepon yang didaftarkan 
  • Verifikasi panggilan HANYA dilakukan melalui Nomor Resmi Reza Palaton: 0877-7272-3339 (Hati-hati penipuan!) 
  • Apabila saat diverifikasi panggilan nomor tidak aktif atau tidak merespons, maka nomor antrian tidak berlaku 
  • Pasien yang ingin berobat harus menggunakan namanya sendiri, jika masih menggunakan nama orang lain maka antrian tidak bisa digunakan
Tampilan awal website www.rezapalaton.com 

Kedua,
Tutup text box / text alert, lakukan pengisian data sebagai pasien. Jika baru, tinggal pilih PASIEN BARU. Kita hanya perlu mengisi nomor telpon, nama, dan alamat, lalu simpan. 

Kenapa harus disimpan? Supaya memudahkan saat melakukan pendaftaran berobat. Bagian pengisian data pasien ada di sini. Kalau nggak ketemu, scroll down saja layar utama halaman website. Ada di pojok kanan bawah di atas Google Map alamat rumah Pak Reza.



Isi data di sini

Ketiga,
Setelah mengisi data, mulai melakukan pendaftaran. Nah, yang perlu diketahui adalah jadwal mendaftar hanya bisa dilakukan hari Minggu sampai Kamis. Jika berencana berobat hari Senin, berarti harus mendaftar hari Minggu. Kalau mau berobat hari Selasa, mendaftarlah di hari Senin. Begitu seterusnya. Jadi, hari saat mendaftar adalah untuk pengobatan esok hari. Di website tidak menyediakan pilihan hari yang bisa kita pilih sesuka hati.

Hari Jumat kolom pendaftaran ditutup karena tidak ada praktek di hari Sabtu. 

JAM DAFTAR hanya bisa dilakukan mulai pukul 17. Artinya, tepat jam 5 sore kamu harus standby di website Reza Palaton. Berdasarkan pengalaman saya nih, baru 1 detik langsung full.

Kotak merah itu hanya akan berubah jadi kolom pendaftaran setiap hari Minggu-Kamis hanya pada pukul 17.00WIB

TRIK ANTI GAGAL DAFTAR

Aku pernah mendaftarkan suamiku selama 6 hari berturut-turut, tapi hasilnya gagal terus. Padahal sudah mantengin website sejak 30 menit sebelum pukul 17. Internet kencang. Tapi, baru sampai pada tahap ke 2 pendaftaran website langsung kayak hang, pas jalan lagi tahu-tahu sudah full 30! Aku pernah sampai nangis lho gara-gara itu haha. Daftar ke-7 kali baru berhasil. Kok bisa?

Begini, biasanya saat mendaftar aku buka web pakai HP. Yang mendaftar hanya aku. Sekarang ubah strategi, gak sendiri saja tapi bertiga dengan Alief dan suami, pakai laptop masing-masing. Alhamdulillah berhasil. Ternyata harus diserbu bertiga. Buka web pakai laptop ternyata membantu. Mungkin karena prosesnya lebih cepat.

Teknik anti gagal lainnya:
Sebelum jam 5, posisikan kotak merah (seperti pada gambar di bawah) tampil di layar. Karena letaknya di bawah, jadi silakan scroll ke atas.

Tepat jam 5 website di-refresh. Tutup text box secepat mungkin.

Ingat, tepat jam 5 kotak merah ini sudah berubah putih dan di situ ada pilihan DAFTAR Sekarang. Jadi, jangan kaget kalau kotak merah menghilang. Justru mata harus fokus ke kotak yang sudah berubah putih itu.

3 langkah di atas kelihatannya sepele tapi sangat menghemat waktu di tahap awal. Selanjutnya, jika kita berhasil, akan dapat pemberitahuan berhasil. Tinggal ikuti cara selanjutnya sesuai tampilan di website yang mengarahkan kita ke data pribadi. 

Jika berhasil pada tahap terakhir, kita akan mendapatkan nomor dan jam antrian. 
Text Box merah ini akan berganti warna dan isi tepat jam 5 sore. Di sinilah tempat melakukan pendaftaran. Biasanya dalam hitungan 1-2 detik langsung full. Jika sudah full, akan berganti warna ke merah lagi.

Berapa tarif Pengobatan Herbal Reza Palaton?

Sejak pertama kali berobat tahun 2002 lalu, hingga berkali-kali berobat kemudian sampai sekarang, aku tidak pernah melihat Pak Reza meminta bayaran. Ketika ada yang memberikan uang ke tangannya, ditolak dengan halus oleh beliau. Katanya, pakai buat beli resep ramuan saja. 

Namun, orang-orang tetap memberikan amplop. Nilainya, tentu saja hanya si pasien dan Allah yang tahu. Tidak ada tarif, tidak pula ada petunjuk di mana meletakan amplop. Kebanyakan pasien meletakkan amplop diam-diam, entah dekat meja, kursi, atau di lantai tempat pak Reza duduk.

Itu dulu. Bagaimana dengan sekarang, setelah 18 tahun berlalu?

Masih sama. Aku tanya Mas Indra, katanya kalau mau sedekah taruh saja dekat kotak tisu di atas meja tempat Pak Reza bertemu pasiennya. Kalau diberikan langsung, gak akan diterima. 

Aku sendiri selalu mengisi amplop sesuai kemampuan dan keikhlasan. Nilainya aku samakan dengan biaya konsul ke dokter spesialis, seringkali bahkan aku lebihkan. Aku menghargai keilmuannya, juga waktu dan konsultasi bergizi yang diberikan. 

Jadi, buat yang mau berobat ke Pak Reza, jangan mentang-mentang beliau tidak pasang tarif, lantas belagak miskin hanya memberi selembar 10 ribuan saja dalam amplop. Jangan ya!

Dua kali datang. Juni berdua suami saja. Juli bertiga dengan Alief. 

Lulusan S2 Parmasi UI

Aku dapat informasi ini dari adik iparku. Adikku lebih dulu kenal Pak Reza. Dulu bosnya adik tinggal di Puspita Loka BSD, sering berobat ke Pak Reza. Pasien pak Reza dari dulu bukan hanya dari dalam kota, tapi luar kota, luar pulau, bahkan luar negeri. Mereka dari kalangan mampu dan tidak mampu semua diterima dan diobati.

Pak Reza bekerja di Kantor Pos, istrinya bekerja di bank. Tentunya, beliau bukan orang yang kekurangan. Kini Pak Reza sudah pensiun. Aku tidak tahu bagaimana dengan istrinya, tak punya informasi. 

Kehebatan beliau dalam memberikan resep herbal ternyata bukan sembarangan, sebagai lulusan S2 Parmasi UI, beliau memiliki ilmunya, insha Allah berkompeten dalam mengobati.
Kafe Deum Dee

Klinik dulu dan kini, ada Kafe Deum Dee

Dulu, fasilitas untuk pasien dan pengantar yang disediakan oleh Pak Reza berupa toilet dan musala saja. Kini ada tempat parkir dan kafe. Kafe Deum Dee namanya. Kafe ini ada di lantai dasar dan dua. Paling luas di lantai 2, di atas klinik.

Aku masih ingat betul dulu kalau mau berobat selalu bawa bekal makan. Sudah sangat biasa tiba di Rangkasbitung itu selalu malam. Antrian lama, tempat makan tidak ada, perut lapar tak ada makanan. Ada sih tempat makan lain, tapi jauh dari klinik. Kalau ditinggal, berarti antrian akan disalip pasien lain.

Kini ada Kafe Deum Dee. Ada bermacam makanan dan minuman kekinian bisa dipesan di sana. Nggak ada beda lah dengan menu-menu enak ala kafe-kafe di mall.

Kafenya bersih dengan interior bernuansa modern. Bisa duduk di ruang ber-AC, bisa juga di ruang terbuka dengan kipas angin saja, atau dengan AC alami dari angin yang bertiup. Buat pasien yang datang dari jauh luar kota, kafe ini akan berguna sekali sebagai tempat beristirahat sebelum dapat giliran periksa.

Santai di kafe Deum Dee

Dulu nggak ada yang jaga klinik dan atur-atur antrian pasien. Sekarang ada, ya si mas Indra itu. Kalau kita sudah datang, baiknya langsung lapor, bisa lewat WA. Biar dia tahu. Trus duduk deh di kafe leyeh-leyeh nunggu antrian. 

Dulu pasien, pengantar, dan Pak Reza duduk di lantai rumah. Sesi pengobatan pun duduk di lantai. Ruangan terasa sesak karena banyak pasien masuk sekaligus. Meskipun ada AC udara tetap terasa panas. 

Kini pasien dibatasi 30 orang saja lewat pendaftaran online. Ada ruang tunggu ber-AC dengan bangku panjang yang nyaman buat duduk. Ada tempat wudhu, toilet, dan musala. Ruang praktek Pak Reza layaknya ruang praktek dokter. Ada meja dan bangku-bangku yang nyaman untuk pemeriksaan dan konsultasi. Sang herbalis dan pasien tidak lagi duduk di lantai seperti dulu. 
Ruang tunggu antrian pasien

Pak Reza seorang muslim. Seringkali saya lihat jika sudah tiba waktu salat beliau berhenti dan minta pasien menunggunya sebentar untuk salat.

Dulu pengalamanku berobat kista dan toxo pemeriksaan selalu lewat telapak kaki. Kini semua pasien diperiksa lewat tangan saja (di pergelangan). Pemeriksaan oleh Pak Reza layaknya pemeriksaan lewat MRI/USG/Lab/Rontgen. Durasinya kadang 5-10 menit, kadang 15 menit. 

Saya sudah terbiasa mendapatkan hasil pemeriksaan Pak Reza sama dengan hasil pemeriksaan di RS. Buat yang baru pertama, mungkin akan heran, gimana caranya kok bisa sama dengan pemeriksaan di RS? Misal, melalui USG di Radiologi RS ukuran kista 5cm, melalui pemeriksaan pak Reza juga 5cm. Contoh terbaru nih, nilai lipase suamiku 400 melalui cek lab di RS (cek lab 1 minggu sebelum datang ke Pak Reza). Nah, saat dicek Pak Reza sudah 350. Perbedaan karena ada jeda 7 hari ya. Tapi pada intinya saya mau bilang bahwa hasil pemeriksaan manual ("scan" pergelangan tangan) itu adalah metode pemeriksaan ala Pak Reza. Hanya orang tertentu yang punya keahlian begini ya. Masya Allah.

Kira-kira begitu gambaran pengobatan di Pak Reza. Kita akan menjalani pemeriksaan dan pengobatan melalui resep tanaman herbal yang tentu saja harus rutin dan sabar jika mau mendapatkan hasil yang diharapkan. Jangan lupa, yakini bahwa Allah yang menyembuhkan, dan kita berusaha lewat semua jalan baik.
Santai di Kafe Deum Dee

Resep Ramuan Herbal

Nah, soal resep ramuan tanaman herbal ini tidak pernah sama antara pasien yang satu dengan yang lain meskipun penyakitnya sama. 

Misalnya nih, aku punya kista. Dikasih resep herbal akar alang-alang, benalu teh, dan lain-lain. Lalu, orang lain dengan kista juga mau coba resepku. Itu nggak boleh lho. Karena kondisi tubuh seseorang berbeda dengan orang lain. Misalnya nih, saat aku punya kista aku juga menderita maag, ada alergi, radang di tenggorokan, dan anemia segala....nah, herbal-herbal yang diresepkan itu akan disesuaikan dengan sakit-sakit lain selain kista itu.

Dosisnya pun tidak akan sama. Misal, di aku akar alang-alangnya harus 5 batang dalam sekali rebus, bisa jadi orang lain cukup 2 batang saja. Tergantung kebutuhan tubuhnya.

Jadi, jangan tanya resep ke pasien lain untuk diterapkan pada tubuhmu meskipun penyakitnya keliatan sama. Lakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Jika sudah periksa ke dokter, bawa saja hasilnya. Misal hasil rontgen. Meskipun nanti saat jumpa Pak Reza akan diperiksa lagi sih. 
Ini adalah tanaman herbal obat suamiku. Ada yang bisa sebutkan namanya apa saja?

Warung  Tanaman Herbal di Rangkasbitung

Selama ini, semua resep yang aku terima bisa aku dapatkan. Ada yang mudah, ada yang sulit. Dulu, aku pernah cari tanaman pegagan sampai ke Bogor dan Bekasi. Eeeh ga tahunya di lapangan kosong dekat rumah ada banyak. Trus pernah juga cari meniran sampai ke Pamulang, gak tahunya depan rumah banyak banget. 

Seperti sekarang nih, salah dua tanaman herbal yang dipakai untuk suamiku adalah meniran dan tapak liman. Aku beli di Rangkasbitung banyak banget, gak tahunya di komplekku bejibun tumbuh liar.

Dulu susah cari tanaman herbal. Sekarang enggak lagi. Dekat rumah Pak Reza, ada tetangganya kini buka warung herbal. Bermacam herbal yang diresepkan Pak Reza bisa kudapatkan di sana. Ada Warung Wildan dekat lapangan tempat parkir di Komplek BTN Palaton, sekitar 50 meter saja dari rumah Pak Reza. Warung herbal lainnya Warung Jamu Bu Neneng. Lokasinya sekitar 3 km dari rumah Pak Reza. 

Aku awalnya beli di Warung Wildan dulu. Kalau ada yang kurang atau gak ada, baru ke Warung Jamu bu Neneng. Alhamdulillah semua yang aku cari ada di dua warung tersebut. Jadi nggak perlu kemana-mana lagi. 
Berbagai jenis tanaman herbal segar dan kering ada di sini

Tanaman herbal segar lebih banyak di sini

Jangan Pernah Menyerah dan Berputus Asa!

Aku dan keluargaku sudah dari dulu melakukan pengobatan herbal Pak Reza Palaton. Bapak dan ibu mertua, tanteku dari Palembang, suami dan anakku, adik iparku, hingga kerabat lainnya yang tinggal di tempat jauh semua sudah pernah menjalani. Namun, karena lama tidak pada sakit lagi, pun Pak Reza sudah ganti nomor HP sehingga sulit dihubungi, kami cukup lama tak lagi berkunjung sebagai pasien. Jika ada yang sakit ya pergi ke dokter, berobat di rumah sakit.

Dalam pikiran sederhanaku, Allah yang menuntunku menemukan Pak Reza, sebagai jawaban atas doa-doa dan usaha kerasku, juga doa dari banyak orang yang tahu sakitnya suamiku.

Di sini aku ingin bilang bahwa aku bukan orang yang menganggap bahwa "ini lho satu-satunya jalan untuk sembuh", tidak begitu ya. Aku cuma mau bilang bahwa ada banyak jalan menuju sembuh yang bisa diusahakan, asal berkemauan keras, optimis, dan tak kenal menyerah. 

Aku pribadi sudah menjalani proses pengobatan kedokteran, dan sangat berterima kasih pada tenaga medis di RS tempat suamiku dirawat. Aku pernah menuliskannya di blog ini. Sekarang giliran pengobatan herbal yang aku bahas. Keduanya sama-sama kubutuhkan.

Aku memerlukan pengobatan kedokteran dan herbal, karena keduanya baik. 

Pengobatan herbal suamiku sudah berjalan 1 bulan. Sedangkan Alief baru 1 minggu. Tadinya tidak ada kondisi yang membuat Alief harus dibawa ke Pak Reza. Operasi tulang tangan sudah selesai dan berjalan lancar, luka-luka sudah sembuh, Alief juga sudah sehat lagi. Namun, saat kontrol ke-3 paska operasi, kami mendapati Alief tidak bisa memutar telapak tangannya dengan baik, dokter ortopedi menyebutkan kemungkinan adanya saraf otot tangan yang bermasalah sehingga perlu penanganan lebih lanjutdengan  operasi.

Mendengar kata operasi, aku lunglai lagi. Belum lagi nanti operasi lepas pen (6 bulan lagi), eh sekarang harus operasi otot tangan. Nah karena alasan inilah aku bawa Alief ke Pak Reza buat diperiksa. Jadi, pas suamiku kontrol ke-2 kali kuajak sekalian.

Pak Reza bilang, dokter yang mengoperasi tulang tangan Alief pintar (bagus). Operasinya rapi dan bersih. Selain itu, terkait telapak tangan yang tak bisa diputar, sudah diperiksa oleh Pak Reza. Tak ada saraf yang putus. Otot tangan baik. Alief lalu dites dengan cara mengepalkan tangan, jika bisa berarti aman. Ternyata bisa. Alhamdulillah. Nanti kalau pen sudah dilepas, gerakan memutar telapak tangan akan kembali normal seperti semula. Insha Allah.
Tanaman herbal segar dan kering untuk obat suami dan anak

Pengobatan herbal itu baik

Saat ini kegiatanku setiap hari membuat ramuan herbal untuk suami dan anak. Untuk suami ramuan akan diminum selama 3 bulan. Sedangkan untuk Alief cukup 14 hari saja. Ada 2 rebusan di waktu pagi untuk suami, untuk diminum pagi, siang, dan malam. Ada 1 rebusan di waktu pagi untuk Alief, untuk diminum pagi dan malam. 

Aku akan menceritakan secara detail perihal tanaman herbal yang jadi obat suami dan anakku pada tulisan lain yang akan aku posting di lain waktu. Jika teman-teman tertarik membacanya, silakan nantikan di blog ini ya. Aku juga akan membahas tanaman-tanaman berkhasiat yang tumbuh liar di sekitar kita yang bisa dimanfaatkan untuk kesehatan.

Aku sudah melalui pengobatan kedokteran, dan sudah habis banyak uang. Jika aku kini berikhtiar pengobatan herbal, bukan karena aku tidak mempercayai pengobatan dokter lagi.

Seperti pernah kubilang, kami menemui jalan buntu untuk operasi batu empedu karena lipase dan amilase tak kunjung normal. Tak ada obat untuk menurunkan nilai keduanya. Jika dengan tanaman herbal bisa dilakukan, kenapa tidak? 

Ya, setelah satu bulan, lipase dan amilase suamiku sudah turun banyak. Nyeri hebat di perut yang berulangkali datang sepanjang Mei - Juni kini tak pernah muncul lagi. Tubuh suami juga sudah segar, kulitnya kini kemerahan, berisi, dan bugar lagi. Tidak pucat, lesu, dan kuyu seperti bulan lalu. 

Insha Allah, batu empedu nya pun semakin mengecil menuju tiada, kata Pak Reza. Yang artinya, tidak usah lagi memikirkan tentang operasi. Alhamdulillah.
"Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6).

Aku percaya kemudahan itu ada. 

Aku percaya ada pelangi selepas hujan.