Travel

Hotel

Culinary

Recent Posts

Enjoy Bengkulu City Tour

16.49 3 Comments
Pantai Panjang Bengkulu hari itu panas bukan kepalang. Saya datangi di waktu pagi, kulit bagai ditusuk-tusuk jarum. Saya kunjungi siang apalagi, terik matahari seakan hendak membakar tubuh. Meskipun gerah luar biasa saya mencoba tetap kuat keliling kota, menunstaskan jalan-jalan singkat sebelum kembali ke Jakarta.
Pantai Panjang Bengkulu

Ke Bengkulu Untuk Acara ASUS Blogger Gathering

Saya hanya punya waktu 2 hari di Bengkulu. Berangkat Sabtu pagi (16/4/2019) pulang Minggu sore (17/4/2019). Jadi ini bukan acara khusus jalan-jalan, tapi acara Asus dulu, setelah itu baru jalan-jalan.

Seperti yang pernah saya ceritakan pada tulisan terdahulu, silakan baca di sini: ASUS ZenBook Blogger Gathering Bengkulu, saya berangkat bersama Anjas Maradita. Dari pergi sampai pulang, kami barengan. Jadi, semua kegiatan berwisata yang akan saya ceritakan di sini saya lakukan bersama Anjas, termasuk foto-foto, beberapa diambil oleh Anjas. 

Saya tidak berdua saja dengan Anjas karena ada Liem Dan, driver mobil yang kami sewa. Liem Dan ini masih muda, dia antar dan jemput kami pakai Honda HRV, sejak hari pertama sampai kami pulang. Orangnya baik dan nyenengin, kami jadi mudah akrab. Saya kenal Liem dari Dewi, salah satu blogger Bengkulu yang merekomendasikan mobil sewaan kepada saya.

Hari Sabtu kegiatan saya full untuk acara Asus. Tak ada waktu sedikitpun untuk acara lain. Kelar acara sudah malam, saya sudah lelah, sampai hotel langsung tidur. Sisa buat jalan-jalan hanya hari Minggu, sebelum kami balik ke Jakarta. Pergi ke mana saja di sedikit waktu yang ada? Sekarang saya ceritakan. 
Benteng Marlborough

Benteng Marlborough

Benteng tua peninggalan Inggris ini merupakan ikon wisata Bengkulu yang terkenal. Didirikan pada tahun 1714-1719 di bawah pimpinan Gubernur Joseph Callet, sebagai benteng pertahanan. Bangunan benteng menghadap ke Kota Bengkulu, dan memunggungi Samudera Hindia. Saya sangat tertarik pada fisik benteng yang masih lestari, serta nilai sejarah yang tersimpan di dalamnya. Karena itu, Benteng Marlborough saya pilih sebagai lokasi kegiatan ASUS Blogger Gathering Bengkulu.

Kami bukan menggelar acara di benteng, melainkan sekadar berkunjung sebagai bagian dari kegiatan. Acara blogger gathering dilakukan di Grage Hotel terlebih dahulu. Setelah pembukaan, perkenalan, dan presentasi, baru ke benteng rame-rame pakai kendaraan pribadi, sewa, dan beberapa taksi online.

Selama di benteng, kami melakukan sesi foto. Foto-foto itu untuk diikutkan kompetisi dengan cara diposting di media sosial masing-masing peserta. Kenapa harus di Benteng Marlborough? Idenya untuk mengenalkan laptop yang sedang kami promosikan dengan latar objek wisata Bengkulu. Sehingga, ketika media sosial Instagram ramai oleh hestek laptop #ZenBook, maka ramai pula oleh penampakan Benteng Marlborough. Sekali mendayung, dua pulau terlampaui. Sekali tampil di medsos, laptop dan benteng serentak terangkat.
Di benteng tua 3 abad

Cuaca di Bengkulu saat itu sangat panas. Kami datang ke benteng siang jelang sore. Matahari seperti tak kenal ampun, bersinar setajam-tajamnya, menyengat siapa pun yang melintas di bawahnya. 

Saya sangat tidak betah, tetapi kegiatan harus terus berjalan sampai selesai. Badan mandi keringat, mata memicing menahan silau, saya sungguh tidak bisa menikmati kunjungan. Jangankan santai menilik sejarah yang ada, untuk berfoto pun susah payah.

Meski tidak mendapatkan satu pun cerita dari guide, atau pun petugas jaga museum, saya masih bisa menikmati kebersamaan dengan rekan-rekan blogger. Perkara sejarah, saya lanjutkan dengan membaca artikel-artikel yang bertebaran di internet. Nah, kamu pun bisa membacanya, salah satu sumber yang bisa dibaca ada di Wikipedia Benteng Marloborough

Di antara banyak hal yang saya sukai dari benteng ini adalah kebersihannya yang sangat terjaga. Membuat mata begitu nyaman untuk melihat-lihat. Meskipun terik, namun angin rajin bertiup. Hembusannya lembut menyapu wajah, seakan hendak menahan agar saya tak lari buru-buru meninggalkan benteng. 

Jika tak terik, bangku-bangku yang tersusun rapi di atas hamparan rumput hijau taman, akan terasa menyenangkan sekali diduduki. Saya membayangkan berada di sana saat teduh, menatap barisan meriam yang masih terpancang di tempatnya, lalu terlempar ke masa lalu, dan melihat apa yang terjadi 3 abad silam.
Menyimpan banyak sejarah
Wajib dilestarikan

Rumah Fatmawati di Bengkulu
Saksi Sejarah Merah Putih 

Nama Bengkulu terukir indah dalam kisah-kisah bersejarah bangsa Indonesia. Selain memiliki benteng peninggalan kolonial Inggris, juga terdapat peninggalan Soekarno semasa diasingkan di Kota Bengkulu yaitu Rumah Fatmawati dan Rumah Pengasingan Bung Karno. Saya akan mulai dari Rumah Fatmawati.

Liem Dam menanyai saya akan kemana dulu, saya bilang mampiri yang paling dekat, atau yang bakal dilewati jika akan menuju ke tempat paling jauh. Nah, Rumah Fatmawati adalah jarak terdekat setelah kami meninggalkan Grage Hotel. Enaknya sewa mobil begitu ya, kita bebas minta diajak kemana dulu. Jika dengan kendaraan umum, kita yang harus menyesuaikan rute. Oh ya, harga sewa mobil di Bengkulu Rp 350 ribu per 12 jam. Kalau hanya 2-3 jam saja, tentu bisa dapat harga lebih murah. 

Terus terang selama di Kota Bengkulu saya tidak melihat ada angkot atau bis melintas. Boleh jadi saya tidak memperhatikan, tapi keberadaan trasportasi umum memang tidak mudah saya jumpai di kota ini. Ojek online dan taxi online jelas sangat berguna, meski saya dengar saat itu antara ojol maupun taxi online dengan angkutan umum dan ojek biasa tidak akur. Bahkan, mereka ribut.

Saya pun, saat dijemput di bandara diminta untuk tidak berlagak seperti pelanggan taksi online, tapi bersikap seolah dijemput oleh keluarga sendiri. Anjas sampai harus duduk di depan, supaya terlihat seperti berkerabat. Kenapa? Biar tidak dicurigai oleh taksi-taksi konvensional. Situasi begini terjadi tahun lalu, April 2019. Entah kalau sekarang, mungkin sudah berbeda.
Rumah Panggung Unik dan Artistik

Rumah Fatmawati terletak di Jalan Fatmawati, Penurunan, Kec. Ratu Samban, Kota Bengkulu. 

Rumah mungil namun kokoh, berbentuk panggung dengan tiang semen berukuran pendek. Tangga semen lebar di bagian depan buat naik rumah, berlapis keramik warna putih terang. Kontras dengan lantai dan dinding rumah yang materialnya full kayu, termasuk pagar teras dan tiang-tiang penyangga. 

Dari segi ukuran, rumah yang menjadi saksi sejarah merah putih ini terbilang kecil. Tapi tentu saja punya sejarah besar bagi bangsa.

Saat masuk, seorang bapak tua meminta pembayaran, semacam tarif masuk mungkin ya. Saya bayar saja, per orang Rp 10,000. Sebenarnya, menurut keterangan teman-teman blogger Bengkulu, masuk rumah ini gratis. Kalau diminta bayaran, ya seikhlasnya saja. Karena memang tidak ada tarif tertentu.

Mengetahui fakta sejarah Rumah Fatmawati Soekarno telah menambah khazanah pengetahuan saya tentang sejarah bendera merah putih yang berawal dari Kota Bengkulu. Tanpa jasa seorang Fatmawati, bendera merah putih tidak akan berkibar dengan gagah sampai saat ini. 
Foto dan lukisan Fatmawati terpampang di ruang tamu, beserta mesin jahit dan selembar bendera sebagai pelengkap
Di salah satu kamar terdapat mesin jahit kuno yang dipakai Fatmawati menjahit bendera pusaka yang dikibarkan pertama kali pada tgl. 17 Agustus 1945. Di dinding kamar terpajang foto-foto bersejarah pada masanya
Foto Soekarno yang kharismatik terpajang di ruang tamu. Lantai dan dinding kayu rumah tampak mengkilap, berhiaskan ornamen cantik, suasana rumah yang tenang, membawa kita ke masa lampau.
Kamar Fatmawati dengan ranjang besi serta kelambu dan sarat kesan vintage


Rumah Pengasingan Bung Karno

Rumah bersejarah ini sudah lama ingin saya kunjungi. Maka, ketika kesempatan ke Bengkulu ada, saya langsung memasukkannya ke dalam daftar wajib kunjung.

Saya suka mengenal sejarah yang berkaitan dengan kemerdekaan bangsa. Di antaranya sejarah Presiden pertama RI Soekarno sebagai sosok paling berjasa bagi negara ini karena membawa Indonesia merdeka seperti sekarang.

Karena itu, setelah Rumah Fatmawati, mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno yang terletak di Anggut Atas, Kec. Ratu Samban, Kota Bengkulu membuat kegiatan saya berwisata sejarah di Kota Bengkulu jadi lebih afdol.

Berbeda dengan Rumah Fatmawati yang berhalaman sempit dan tak punya area parkir yang aman, di Rumah Pengasingan Bung Karno justru sebaliknya. Bila datang dengan kendaraan pribadi, bisa parkir dengan leluasa di bagian depan.  
Rumah Pengasingan Bung Karno
1938-1942
Cuaca terik tak berubah sedikitpun. Begitu keluar mobil, udara dingin langsung berganti panas. Tak ada payung dan topi yang bisa saya gunakan untuk melindungi diri. Dari  luar pagar, sambil menahan panas, saya memandangi Rumah Pengasingan Bung Karno, tampak kecil bila dibandingkan dengan halamannya yang luas. 

Di tengah cuaca sangat panas, rumah itu jadi terasa jauh untuk dicapai. Sebab, tak ada satupun pohon tinggi dan rindang yang dapat membuat teduh jalan setapak. Berjalan menuju rumah, bagai hendak melewati lautan api. Saya sampai berlari-lari kecil kepanasan. Coba  ada pohon besar dan rindang, bukan hanya jadi asri, tapi juga jadi teduh dan bikin nyaman ya kan? 😃

Ada tiket masuk yang harus dibayar, per orang Rp 3.000. Saat masuk kami harus lepas sepatu. Berbeda dengan Rumah Fatmawati, rumah satu ini bukan panggung. Arsitektur rumah memiliki sentuhan gaya Eropa di bagian depan. Warna cat putih mendominasi keseluruhan bidang bangunan. Lantainya ubin mengkilap. Material dinding rumah bagian dalam berupa semacam pelat baja yang dilapisi tembok yang keras. 

Meskipun tidak besar, namun rumah memiliki ruangan inti yang lengkap, terdiri atas lima ruangan, yaitu 1 ruang kerja di bagian depan, 1 ruang tamu, 1 kamar tidur tamu, dan 2 kamar tidur keluarga. 
Di rumah inilah, sang proklamator untuk pertama kali bertemu dengan Fatmawati


Kami datang ke rumah ini hari Minggu. Penjaga rumah yang biasanya bertugas memberi penjelasan ke pengunjung sedang pergi, katanya tak lama. Kami ditemani oleh yang lain, namun ybs minim informasi. Jadi saya tak mendapatkan banyak informasi penting yang bisa saya bawa pulang. Karena itu, untuk melengkapi tulisan ini saya mengutip dari artikel yang saya baca di travel Kompas. 

Dikatakan bahwa, Bung Karno menjejakkan kaki di Bengkulu pada 14 Februari 1938. Sebelumnya, ia bersama istrinya, Inggit Garnasih, anak angkatnya, Ratna Djuami, Bung Karno berlayar dari tempat pembuangannya di Flores ke Pulau Jawa. Ketika tiba di Bengkulu, Bung Karno hanya seorang diri. Keluarganya baru menyusul beberapa minggu kemudian. Sementara waktu sambil menunggu rumah pengasingannya diperbaiki, Bung Karno ditempatkan di Hotel Centrum. Hotel itu kini sudah tidak ada lagi. Posisi hotel itu diketahui berada tepat di seberang kantor Bank Indonesia Bengkulu.

Rumah pengasingan yang ditempati Bung Karno sekeluarga adalah milik pedagang keturunan Tionghoa, Tjang Tjeng Kwat. Pada tahun 1940-an, rumah dengan dua kamar tidur itu berada agak di pinggir kota. Dahulu, Bengkulu dipilih sebagai lokasi pengasingan Bung Karno karena aksesnya yang sulit dan terpencil. Namun, kini seiring perkembangan kota, rumah pengasingan itu persis berada di jantung Kota Bengkulu.

Suatu saat, di rumah pengasingan itu, Bung Karno bersama Inggit Garnasih menjamu keluarga Hassan Din, tokoh Muhammadiyah asal Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Ketika itulah, untuk pertama kali Bung Karno melihat gadis belia putri Hassan Din, Fatmawati, yang sengaja dibawa.

Di rumah itu juga pada akhirnya Fatmawati ikut menumpang. Tak perlu waktu lama, Fat, begitu ia dipanggil, menjadi sahabat Ratna Djuami. Tak hanya tidur di kamar yang sama, mereka juga sama-sama sekolah di RK Vakschool Maria Purrisima yang merupakan sekolah tertinggi di Kota Bengkulu milik sebuah yayasan Katolik.

Singkat cerita, Bung Karno pun menaruh hati pada Fatmawati dan akhirnya menikahi Fatmawati. Dari pernikahan itu Bung Karno dikaruniai 2 putra dan 3 putri, yakni Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra. 

Waktu terus berjalan dan sejarah pun terus terukir. Megawati menjadi Presiden Ke-5 RI. Sementara rumah pengasingan yang pernah ditempati kedua orangtua Megawati masih begitu-begitu saja. 

Silakan baca penjelasan lengkapnya di link berikut ya: Rumah pengasingan, Saksi Bisu Cinta Soekarno
Foto bersejarah yang terpajang di ruang kerja Soekarno 

Ruang Kerja sebelah kanan, Ruang Tamu sebelah kiri
Kursi dan meja tamu sejak Soekarno masih ada
Di papan berkaca ini ada penjelasan tentang Rumah Pengasingan Bung Karno yang bisa dibaca sebagai bahan informasi

Sepeda Bung Karno

Pantai Panjang Bengkulu

Saya dan Anjas akhirnya sampai di Pantai Panjang yang ada tulisan "PANTAI PANJANG". Kata teman-teman di Bengkulu, baru sah ke Pantai Panjang kalau singgah di tempat ini. Di sini banyak tempat jajan, jualan souvenir, dan orang-orang yang piknik.

Bersambung... 😁







Kuliner Pindang 77

Citarasa istimewa membuat aneka menu pindang di Rumah Makan Pindang 77 begitu nikmat untuk dicecap. Saya dan Anjas Maradita memuaskan selera dengan makan siang menu Pindang Patin, Pindang Tulang, dan Tempoyak Patin. Sedapnya juara! 

Sebetulnya saya hampir kehilangan semangat untuk kulineran. Badan terasa sangat lelah paska acara ASUS di hari Sabtu yang digelar sejak siang sampai malam. Iya, lelah sekali hari itu. Begitu masuk kamar royal suite di Grage Hotel sudah tak ingin kemana-mana lagi selain tidur. Tapi ternyata, keesokan pagi di hari Minggu, semangat kulineran itu membara lagi. Pasalnya, Anjas menyebut ulang soal Pindang 77 di jam-jam rawan lapar. Auto semangat dong. Begitu GRAB yang dipesan Anjas datang, kami langsung meluncur ke Rumah Makan Pindang 77.

Bila melihat namanya, mungkin kita berpikir menu rumah makan Pindang 77 didominasi oleh pindang. Nyatanya tidak, ada 2 pindang saja yaitu Pindang Tulang dan Pindang Patin. Meski sedikit, saya yakin sekali inilah primadona di rumah makan ini.
Pindang 77 Bengkulu
Buku menu di rumah makan ini unik. Terbuat dari papan kayu berukuran sekitar 40 cm x 20 cm. Ketebalannya kira-kira 2 cm. Nama menu tertulis besar-besar di papan. Nah, ini dia menu khas Pindang 77: Pindang Patin, Pindang Tulang, dan Tempoyak Patin. Buat yang nggak suka patin (karena berlemak), ada Sop Buntut/Iga, Ayam/Nila Rica, Ayam/Nila Goreng, Nila Bakar, Ayam Bakar Madu, Tahu Ikan, dan Tempe Mendoan. Untuk sayurnya ada Cah Kangkung. Sedangkan untuk minumannya ada Es Teh/Jeruk dan aneka jus.

Ini nih yang penting banget buat diinformasikan. Rumah makan Pindang 77 halal. Jadi aman ya buat yang muslim. Insha Allah.

Kami makan enak di sini dengan harga yang cukup terjangkau. Oh ya, harga tidak tercantum dalam buku menu ya. Jadi kalau mau tahu harus tanya pelayannya. Nah, kemarin saya sempat cemas lho, jangan-jangan pas ditagih jumlahnya juta-jutaan he he. Jadi ingat makan di Anyer, makan 2 orang menu sederhana banget, bayarnya hampir sejuta. Anjas sempat minta saya buat cek dulu sih. Si mbaknya lalu ke kasir, cek harga. Pas disebut, ah legaaa tak ternyata tak seberapa.

Ini dia harga yang kami bayar untuk menu yang kami pesan:

Pindang Patin Rp25.000,-
Pindang Tulang Rp35.000,-
Tempoyak Patin Rp25.000,-
Cah Kangkung Rp15.000,-
Nasi putih Rp 7.000,-
Es Jeruk Rp12.000,-

Murah kan?? Banget! Tapi rasanya istimewa. 

Cerita kulineran di rumah makan Pindang 77 ini dapat dibaca pada tulisan berikut, klik di : Pindang 77 Kuliner Sedap di Bengkulu yang Wajib Dicoba

Sentra Oleh-Oleh Bengkulu

Ceritanya bersambung :D






Grage Hotel Bengkulu

Pengalaman saya menginap di Grage Hotel Bengkulu dapat dibaca di link berikut, klik : Mencicipi Royal Suite Room Grage Hotel Bengkulu.

Bersambung....









Nulisnya dicicil nih. Nanti disambung dan dilengkapi lagi tulisannya, kalau sudah sempat 😂😂