Travel

Hotel

Culinary

Recent Posts

Menginap di Swiss-Belcourt Bogor, Niatnya Cuma Pindah Tidur dan Kulineran

"Effortless and Convenient Getaway in Bogor"

Begitu slogan Swiss-Belcourt Bogor. Dan memang kurang lebih begitu alasan kami menginap di sini. Gak ada rencana liburan yang disusun jauh-jauh hari, gak ada tempat wisata yang sedang kami kejar, bahkan gak ada keperluan khusus. Niatnya cuma mau pindah tidur, makan enak, lalu pulang. Tapi ternyata yang nyaris tanpa agenda begini pun tetap aja ada dramanya. 


Ini pengalaman pertama keluarga kami menginap di Swiss-Belcourt Bogor. Kalau Swiss-Belcourt di kota lain sih sudah pernah, tepatnya Swiss-Belcourt Cikande. Pengalaman menginap di sana cukup bagus, jadi nama Swiss-Belcourt sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru buat kami.

Tapi kalau yang di Bogor, ini pertama kalinya. Dan sebenarnya gabut banget nginep di sini, karena cuma mau numpang pindah tidur aja, nyobain menu sarapannya, sekalian kulineran di Bogor dan sekitarnya. Gak ada keperluan khusus, gak ada pula agenda wisata yang sudah disiapkan.

Mungkin memang ada masanya pergi itu gak harus punya agenda. Rumah lagi baik-baik saja, kami juga gak sedang butuh healing dari apa-apa. Cuma pingin keluar rumah, makan di tempat lain, lalu tidur di tempat lain. 

Gak pula ada rencana mau review hotel.

Kalau sampai akhirnya saya tulis, ya karena pingin nulis aja. Walau fotonya seadanya dan banyakan bukan foto landscape, sebagaimana idealnya foto untuk blog. Jadi kalau nanti fotonya ada yang berdiri tegak sendirian di tengah tulisan, harap maklum. Waktu motret memang belum tahu kalau mereka bakal dapat pekerjaan tambahan jadi ilustrasi artikel. 

Swiss-Belcourt Bogor
Foto: swiss-belhotel.com
 

Libur Sekolah, tapi Gak Punya Rencana Liburan

Kami menginap saat musim libur sekolah. Tapi liburnya sendiri waktu itu sudah berjalan lebih dari seminggu. Aisyah masih sekolah dan ini adalah libur kenaikan kelasnya menuju kelas 12, tahun lalu, 2025.

Nah, kami tuh memang gak pergi ke mana-mana. Sama sekali gak bikin rencana mau liburan ke mana.

Soalnya udah hafal banget kalau pergi berwisata di musim libur itu banyak dramanya, terutama drama macet yang banyakan capeknya daripada menikmati wisatanya. Tempat wisatanya mungkin cuma dinikmati beberapa jam, perjuangan pergi dan pulangnya bisa jadi acara utama. 

Jadi, gak ke mana-mana saat liburan bukan hal menyedihkan buat kami. Malah momen terenak buat di rumah aja. Dalam kota pun biasanya lebih lengang, rasanya santai dan tenang.

Toh liburan gak selalu harus dibuktikan dengan pergi jauh. Kadang bisa bangun tanpa buru-buru, gak terjebak macet, dan menikmati kota yang mendadak lebih sepi saja sudah enak.

Tapi rupanya setelah lebih dari seminggu menikmati ketenangan itu, muncul juga keinginan keluar rumah.

Bukan mau liburan jauh.

Mau makan. 😄

 
Dari Mau Kulineran Seharian, Malah Cari Hotel

Ide menginap di Swiss-Belcourt Bogor ini sebenarnya dadakan aja.

Awalnya cuma mau ngajak keluarga nyari tempat makan di Bogor yang belum pernah kami coba. Bogor ya, bukan Puncak. Bisa ke Sentul, bisa juga di Kota Bogornya.

Apalagi dari BSD sekarang gampang banget ke sana sejak ada Tol Cinere yang tembus ke Jagorawi. Kalau dulu ke Bogor bisa 2 jam lebih, sekarang sekitar 55 menit aja udah sampai.

Rencana awalnya kami mau kulineran seharian. Makan dari pagi, siang, sore, sampai malam, lalu pulang.

Kedengarannya menyenangkan sampai kami mulai menghitung waktunya.

Kalau pergi pagi dan pulang setelah makan malam, waktunya mungkin bakal banyak habis di jalan. Belum lagi kalau ketemu macet. Niatnya mau santai nyobain beberapa tempat makan, malah bisa jadi seharian sibuk mengejar waktu supaya berangkat cukup pagi dan pulang gak terlalu malam.

Makanya muncul ide, gimana kalau nginep aja?

Akhirnya semua setuju.

Begitulah rencana yang awalnya cuma mau makan-makan di Bogor mendadak punya biaya kamar hotel. 

Swiss-Belcourt Bogor
Foto: swiss-belhotel.com

Ternyata Ada Tiga Swiss-Bel di Bogor

Saya pun mulai nyari hotel. Pastinya cari yang bukan ke Bogor atas alias naik-naik terus ke Puncak yang selalu macet itu.

Lalu saya keinget Swiss-Bel yang hotelnya ada di berbagai kota, termasuk Bogor. Nah, ajaibnya nih, ternyata ada tiga jaringan Swiss-Bel di Bogor, tapi beda-beda merek. Ada Swiss-Belinn Bogor si hotel bintang tiga, Swiss-Belhotel Bogor yang bintang empat, dan Swiss-Belcourt Bogor yang budget friendly.

Pilihan saya jatuh ke Swiss-Belcourt Bogor yang beralamat lengkap di Jl. Raya Baru No. 1, Bukit Cimanggu City, Bogor, Indonesia 16320.

Hotel ini memiliki 220 kamar dengan sejumlah fasilitas seperti Sky Ballroom, ruang pertemuan, Swiss-Bistro, bar & lounge, kolam renang, dan gym. Lumayan lengkap untuk hotel yang membawa konsep budget friendly, walaupun selama dua malam menginap kami gak sampai mencoba semuanya. Wong tujuan awalnya aja cuma pindah tidur dan cari makan. 

Swiss-Belcourt Bogor
Foto: swiss-belhotel.com

Slogannya Effortless and Convenient Getaway in Bogor. Sementara konsepnya budget friendly.

Tapi kamarnya gak budget tuh. Haha.

Saya pesan dua malam family room, totalnya sekitar Rp1,6 jutaan lewat Agoda, gak ada diskonnya. Kalau lewat hotel langsung malah lebih mahal lagi.

Ya sudah. Mungkin definisi budget friendly kami memang sedang tidak berada di rapat yang sama. 

Pesan lewat Agoda dapat harga 1,6 jutaan untuk 2 malam
 
Sebetulnya tiga hotel Swiss-Bel yang beda merek itu lokasinya masih cukup dekat. Jarak Swiss-Belcourt ke Swiss-Belinn sekitar 5,2–5,7 kilometer, sedangkan ke Swiss-Belhotel sekitar 6,6 kilometer.

Jarak yang saat itu kelihatannya gak penting-penting amat. Toh saya sudah tahu hotel mana yang saya pesan. Saya tahu namanya, saya tahu alamatnya, saya bahkan sudah bayar.

Apa yang mungkin salah?

Ternyata, pengetahuan itu hanya berlaku sampai saya pesan makanan lewat GrabFood. 

Nanti saya ceritain.

Swiss-Belcourt Bogor
Foto: swiss-belhotel.com

Dua Malam di Family Suite Swiss-Belcourt Bogor

Kami menginap dua malam, mulai tanggal 3 sampai 5 Juli 2025. Karena semua mau ikut, saya pesan Family Suite seluas 47 meter persegi dengan dua kamar tidur.

Saya kan pesennya yang pemandangan kota. Ternyata dikasihnya pemandangan kolam renang.

Mau lihat cowok-cowok mandi? Ya kali dari lantai 11 bisa kelihatan. 😂

Family Suite-nya cukup luas. Ada living room dengan sofa two-seater, meja, TV, meja makan, dan dapur kecil. Ada balkon juga, serta pintu dan jendela kaca menghadap keluar sehingga ruangan terasa lebih terbuka.

Meski ya, pemandangan dari kamar kami sebagian besarnya ke tower residence Swiss-Bel.

Pemandangan gedung Swiss-Belcourt Bogor dari jendela kamar yang kami tempati di lantai 11
Foto: dokumentasi pribadi.
 
Masing-masing kamar tidur punya TV, lemari baju, dan meja kerja. Kamar utama menggunakan queen bed dan punya jendela menghadap keluar, sedangkan kamar satunya menggunakan single bed dan gak ada jendela.

Saya dan suami di kamar utama, Aisyah di kamar satunya. Alief nantinya bisa tidur di sofa.

Malam pertama Alief gak ikut menginap karena masih ada kegiatan di kampus sampai malam. Katanya udah capek kalau harus nyusul ke Bogor malam-malam. Jadi kami baru komplet berempat di malam kedua.

Dengan dua kamar tidur dan ruang tengah yang cukup lega, ukuran 47 meter persegi ini terasa pas buat kami. Ada ruang untuk kumpul, tapi kalau masing-masing mau masuk kamar dan punya ruang sendiri juga bisa.

Apalagi tujuan menginap kami memang sesederhana itu: punya tempat buat tidur setelah keliling cari makan.

Walaupun pada akhirnya, malam pertama kami bahkan belum sempat keliling ke mana-mana.

Family Suite Room Swiss-Belcourt Bogor
Foto: swiss-belhotel.com

Kamar utama family suite yang kami tempati di Swiss-Belcourt Bogor
Foto: dokumentasi pribadi

Kamar kedua family suite yang kami tempati di Swiss-Belcourt Bogor
Foto: dokumentasi pribadi

Living room di family suite Swiss-Belcourt Bogor yang kami tempati
Foto: dokumentasi pribadi

Check-in Jam 9 Malam, Besok Suami Malah Kerja

Sebetulnya gabutnya saya mesen hotel ini mayan parah sih.

Sampai hotel tuh udah jam 9 malam. Haha.

Kami nungguin suami pulang kerja dulu baru berangkat. Udah gitu, di jalan ternyata macet karena memang masih weekdays dan kami jalan pas jam pulang kerja.

Karena sudah masuk jam makan malam, kami akhirnya makan dulu di luar. Setelah itu baru ke hotel.

Sampai hotel udah capek. Masuk kamar, terus tidur.

Selesai.

Family suite dengan 2 kamar

Malam pertama dari dua malam menginap sudah terpakai hanya untuk pindah lokasi tidur. Jadi kalau dari awal saya bilang tujuan menginap ini memang cuma “pindah tidur”, saya gak sedang merendah. Memang kejadian. 😂

Besok paginya saya nemenin suami sarapan lebih awal karena beliau mau berangkat kerja.

Iya, kerja.

Kami lagi nginep di hotel, beliau tetap berangkat kerja. Mungkin inilah bentuk effortless getaway versi keluarga kami: istrinya staycation, suaminya stay sebentar lalu berangkat kerja. 

Setelah nemenin suami sarapan, saya balik ke kamar jemput Aisyah buat ngajak sarapan.

Laptopan di meja makan


Laptopan di living room

Laptopan terossss

Sarapan yang Memang Sudah Saya Incar

Nah, kalau yang satu ini memang sudah saya niatin dari awal. Saya pengen nyobain sarapan Swiss-Belcourt Bogor, pengen tahu ada apa aja dan kayak mana rasanya.

Buat saya, salah satu bagian paling menyenangkan dari staycation memang sarapannya. Apalagi kalau niatnya santai dan menikmati fasilitas hotel, bagian ini hampir selalu masuk agenda utama. Tinggal turun ke restoran dan melihat ada makanan apa saja yang bisa dicoba tanpa perlu mikirin mau masak atau pesan dari mana.

Waktu menginap tiga hari dua malam di Swiss-Belcourt Bogor, saya pilih kamar family yang sudah termasuk sarapan untuk tiga orang. Sementara kami datang berempat, jadi saya putuskan untuk tambah satu porsi lagi. Harganya Rp100 ribu per orang.

Menurut saya masih tergolong ekonomis, apalagi yang ikut tambahan ini makannya memang sudah setara porsi dewasa. Jadi rasanya juga gak mungkin lagi pura-pura dihitung sebagai anak kecil demi harga lebih murah. 😄

Paling menarik perhatian

Gemblong Pekalongan

Bakery & pastry station. 
Foto: dokumentasi pribadi

Dari segi pilihan menu, cukup beragam. Ada beberapa makanan tradisional khas Indonesia yang langsung menarik perhatian saya seperti gemblong Pekalongan, ketoprak, nasi liwet, pukis laba-laba, sampai cake tape ketan pisang.

Nah, yang terakhir ini jadi favorit saya. Teksturnya lembut, rasa manis-asinnya pas, gak terlalu kuat, tapi justru itu yang bikin enak. Tipe makanan yang awalnya cuma mau dicicip sedikit, lalu beberapa menit kemudian kepikiran lagi.

Gemblong Pekalongan dan cake tape ketan pisang juga termasuk makanan yang jarang saya temui di Pasar Modern BSD. Jadi senang aja bisa nemu dan nyobain di sini.

Secara keseluruhan, pilihan menu sarapan Swiss-Belcourt Bogor cukup mewakili berbagai selera. Mau yang berat ada, yang tradisional ada, yang manis juga ada. Tapi kalau bicara soal rasa, saya kasih nilai 7,5 dari 10.

Masih tergolong enak, hanya belum sampai tahap yang bikin saya otomatis ambil piring kedua karena takut keburu habis. Ini tentu penilaian pribadi ya, karena urusan rasa memang wilayah yang susah diajak musyawarah. Lidah orang beda-beda. 

Suasana di tempat sarapan dan menu-menu dalam hidangan sarapan saya dokumentasikan dalam bentuk video, dapat ditonton pada reels berikut: 

Ada Jamu, Saya Langsung Senang

Satu hal yang selalu saya cari saat sarapan di hotel berbintang adalah jamu. Untungnya di sini ada. Jamunya diracik sendiri oleh resto dan disajikan dalam keadaan segar. Rasanya ringan dan enak diminum pagi-pagi, apalagi suasana Bogor waktu itu cukup adem.

Buat saya, keberadaan jamu kecil-kecilan seperti ini justru bikin meja sarapan terasa lebih dekat dengan keseharian kita. Di tengah deretan roti, telur, kopi, dan berbagai menu hotel, ada sesuatu yang rasanya familiar.

Dan ya, saya senang kalau hotel berbintang masih memberi ruang untuk minuman tradisional seperti ini.

Menu Sarapannya Hampir Sama di Hari Kedua

Menu yang saya temui saat sarapan pertama ternyata kurang lebih tetap sama ketika kami sarapan lagi di hari kedua. Saya yang sudah jatuh suka pada cake tape ketan pisang tentu saja nyoba lagi.

Gak perlu sok eksploratif kalau sudah ketemu yang enak. 

Sarapan kedua ini kami sudah lengkap berempat. Hari itu Sabtu dan suami juga libur kerja, jadi gak ada lagi adegan habis sarapan langsung berangkat kerja. Akhirnya formasi keluarga lengkap benar-benar terjadi di meja sarapan, justru menjelang kami pulang.

Kalau dipikir-pikir, memang begitulah menginap kami kali ini. Dua malam, tapi ritmenya tetap mengikuti kehidupan biasa. Ada yang kerja, ada yang punya kegiatan kampus, ada yang di hotel saja. Bukan liburan yang semua orang mendadak bebas dari urusan masing-masing.

Mungkin itu juga yang membuat pengalaman ini terasa santai. Gak ada agenda yang harus dituntaskan. Siapa yang ada, ya makan bareng. Siapa yang punya urusan, ya jalan dulu.

Swiss-Bistro di Swiss-Belcourt Bogor
Foto: swiss-belhotel.com


Play Ground di Swiss-Belcourt Bogor
Foto: swiss-belhotel.com

Seharian di Hotel, Akhirnya Pesan Makan ke Kamar

Cerita soal makan belum selesai. Di hari kedua kami kan gak ke mana-mana. Suami kerja, Alief pun belum ke hotel. Jadi saya sama Aisyah saja yang tinggal di hotel. Mau keluar juga males.

Akhirnya untuk makan siang kami pesan makanan lewat layanan kamar. Di Swiss-Belcourt Bogor ada restoran bernama Swiss-Bistro. Sebenarnya bisa makan langsung di sana, tapi waktu itu kami pilih pesan ke kamar saja. Lebih praktis, tinggal duduk dan nunggu makanan datang.

Nah, menunya ternyata banyak banget. Ada hidangan pembuka dan camilan seperti salad, lumpia, dan gado-gado. Ada aneka sup mulai dari sup buntut, soto kuning Bogor, laksa Singapura, sup krim jamur, sup pangsit, sup asparagus, sampai tom yum. Pilihan pasta dan burger juga ada.

Lalu ada menu Warisan Nusantara seperti ayam geprek sambal bawang, nasi goreng, gurame saus asam manis, sate ayam, mie goreng Djawa, dan tongseng kambing. Makanan pendampingnya juga panjang daftarnya: kentang goreng, tahu pedas, tempe mendoan, pangsit goreng, tahu telur asin, tahu lada garam, sampai jamur lada garam.

Belum lagi menu Asia seperti mie kuah pangsit, sapi lada hitam, fuyung hai, dan masih banyak lagi.

Panjang deh kalau disebutin semua. Intinya, pilihan makanannya banyak. Dan yang lebih penting, setelah nyobain sendiri, saya justru merasa rasa makanan dari Swiss-Bistro ini jauh lebih berkesan dibanding sarapannya.

Kalau gak pesan dan nyobain, saya mungkin gak akan tahu kalau makanan dari restonya ternyata seenak itu.



Mencoba Menu Swiss Bistro

Waktu itu saya pesan nasi sapi lada hitam, nasi goreng, tahu telur, dan minumannya saya sudah lupa apa. Jujur, saya gak sempat foto. Bukan karena tampilannya gak bagus, tapi karena saat makanan datang, saya sudah lapar banget. 

Masalahnya, durasi antara pesan dan makanan diantar lumayan lama. Saya sampai dua kali reminder ke resto. Kesalahan saya juga sebenarnya sederhana: saya pesan makanan saat kondisi sudah lapar.

Harusnya jangan. 

Karena kalau pesan makanan ketika masih santai, menunggu 30 menit mungkin terasa biasa. Tapi kalau perut sudah protes, lima menit bisa terasa seperti layanan sedang menjalani proses tender nasional. 

Saya pun sempat ngegas karena makanannya lama diantar. Untunglah begitu makanan datang dan mulai dicoba, emosinya ikut turun.

Nasi sapi lada hitamnya enak. Nasi gorengnya juga enak. Tahu telurnya pun saya suka. Jelas terasa beda jauh dengan sarapan hotel yang menurut saya cenderung lebih aman rasanya. Makanan dari Swiss-Bistro justru lebih kuat dan lebih nendang.

Porsinya memang gak sebesar dan sebanyak yang saya bayangkan, tapi sebenarnya pas. Mungkin karena waktu itu saya sudah lapar, jadi makanan yang porsinya harusnya cukup terasa kurang.

Kalau lapar memang cara mikir bisa berubah ya. Haha.

Yang jelas, pengalaman makan siang itu menyelamatkan kesan saya soal makanan di hotel ini. Sarapan boleh saya kasih 7,5. Tapi Swiss-Bistro berhasil bikin saya berpikir, “Oh, ternyata dapurnya bisa juga nih.”


Gara-Gara Ada Tiga Hotel Swiss-Bel di Bogor

Nah, malam harinya kami pesan makanan lewat GrabFood. Ini dia nih yang ternyata jadi akibat dari adanya tiga hotel Swiss-Bel di Bogor.

Waktu memilih lokasi penerima, saya cari "Swiss-Bel". Tanpa sadar saya cuma melihat nama depannya saja, gak memperhatikan ujungnya itu Swiss-Belcourt, Swiss-Belinn, atau Swiss-Belhotel.

Padahal sebelumnya saya sendiri sudah tahu kalau di Bogor ada tiga hotel Swiss-Bel. Ironis ya. Udah tahu, eh tetap aja kena. 😄

Beberapa saat kemudian saya mulai heran. Kok drivernya gak nyampe-nyampe? Di aplikasi kelihatan sudah dekat, tapi makanan gak datang juga. Saya tunggu beberapa menit lagi, tetap gak muncul.

Akhirnya kami teleponan. Saya sendiri waktu itu sudah mulai kepikiran mau protes karena kok lama banget. Eh, ternyata kata drivernya, makanan sudah sampai dan sudah dititipkan ke satpam hotel.

Lho?

Saya langsung cek ke satpam. Saya tanya, gak ada. Bolak-balik saya cek, tetap gak ada. Saya balik lagi memastikan ke driver sampai akhirnya setelah sama-sama cek, baru ketahuan penyebabnya.

Ternyata makanannya diantar ke hotel Swiss yang lain.

Astaga... 😂


Jadi ini memang murni salah saya. Waktu memilih lokasi penerima di aplikasi, saya salah pilih hotel. Drivernya justru sudah mengantar ke alamat yang memang saya kirim. Mau protes juga salah alamat. Secara harfiah. 

Akhirnya saya minta tolong sama drivernya supaya makanannya diambil lagi lalu diantar ke hotel yang benar. Saya bilang nanti saya ganti bensinnya dan saya kasih tip. Untunglah drivernya mau.

Di tengah urusan itu, beliau sempat minta tambah lagi buat rokok. Nah, yang ini saya gak langsung iyakan. Bukan pelit ya, tapi saya juga gak mau niat ngasih tip malah berubah jadi ikut nyumbang kerusakan kesehatan orang lain. 

Saya bilang nanti saya tambahin ongkos jalannya aja. Dah, gitu aja.

Alhamdulillah, setelah drama salah antar itu, pesanan akhirnya sampai juga ke Swiss-Belcourt Bogor.

View malam dan siang dari jendela kamar Swiss-Belcourt Bogor
Foto: dokumentasi pribadi

Dua Kali Kelaparan dalam Sehari

Kalau dipikir-pikir, hari itu saya dua kali diuji kesabaran oleh urusan makan. Siang harinya makanan dari layanan kamar lama diantar sampai saya dua kali reminder. Malamnya, giliran makanan dari GrabFood yang malah jalan-jalan dulu ke hotel lain. 

Tentunya ini jadi kisah kedua kelaparan karena kelamaan nunggu pesanan. Udah makan siangnya lama diantar, makan malam pun pakai salah antar sehingga telat makan pula.

Padahal niat menginap ini sesederhana pindah tidur dan pindah tempat makan siang dan malam. Tidurnya sih pindah. Makannya juga dapat.

Cuma ternyata untuk sampai ke makanannya butuh perjuangan. 

Untungnya semua berakhir baik. Makanan sampai, perut kenyang, emosi turun lagi. Memang ada beberapa kejadian yang baru terasa lucu setelah semuanya selesai. Waktu kejadian sih gak ada lucu-lucunya. Yang ada cuma lapar.

Kiri: Kolam renang anak. Foto kanan: Gedung residence yang bagian paling bawahnya adalah kolan renang anak itu. 
Foto: dokumentasi pribadi

Check-out, Lalu Makan Lagi

Sabtu, 5 Juli 2025, kami check-out dari Swiss-Belcourt Bogor. Tapi tentu saja perjalanan ini belum selesai sebelum makan lagi. 

Kami meluncur ke Bumi Aki Signature di Sentul. Tadinya mau ke yang di Bogor saja, tapi karena sudah pernah, kami cari tempat lain. Ya, ke Sentul itu.

Alhamdulillah suka sih sama tempatnya. Bagus dan nyaman banget. Kalau makanannya ya gak usah ditanya lagi kualitas dan cita rasanya. Buat kami, juara lah.

Setelah dua hari sebelumnya urusan makan sempat diwarnai acara menunggu dan salah alamat, setidaknya makan terakhir sebelum pulang berlangsung damai. Gak ada reminder, gak ada makanan nyasar ke hotel lain. Tinggal duduk dan makan. 

Pemandangan Kota Bogor dilihat dari lantai 11 Swiss-Belcourt Bogor
Foto: dokumentasi pribadi

Niatnya Cuma Pindah Tidur

Kalau diingat-ingat lagi, sebenarnya tujuan menginap ini sederhana banget. Cuma pengen pindah tidur, sekalian pindah tempat makan siang dan makan malam. 

Tapi dari rencana yang sesederhana itu, ternyata tetap ada ceritanya. Ada suami yang tetap berangkat kerja meski lagi menginap di hotel. Ada saya yang jatuh cinta sama cake tape ketan pisang. Ada makan siang yang datangnya bikin saya mulai kehilangan kesabaran. Ada juga drama salah pilih hotel sampai makanan nyasar beberapa kilometer dari tempat saya menunggu.

Kalau semuanya berjalan mulus, mungkin kami cuma pulang dengan cerita pernah menginap dua malam di Swiss-Belcourt Bogor. Selesai.

Tapi perjalanan memang sering begitu. Yang paling lama diingat justru bukan bagian yang sudah direncanakan, melainkan kejadian-kejadian kecil di sela-selanya. Waktu kejadian mungkin bikin kesel, begitu sudah lewat malah jadi bahan ketawa.

Jadi ya sudah, misi pindah tidur dan pindah tempat makan di Bogor sudah terlaksana. Dapat bonus latihan sabar nunggu makanan dan pelajaran penting untuk selalu membaca nama hotel sampai huruf terakhir. 

Lumayan. Pulang gak cuma bawa cucian kotor, tapi juga bawa cerita. 

Pertama Kali ke Gresik: Menginap di Hotel Front One, Bertemu Teman, dan Sebuah Kejutan

Penginapan di Gresik

"Maaaaas, kenapa ada alat PERISAI KEJANTANAN di sini???"

Pertanyaan itu spontan keluar dari mulut saya pagi-pagi. Kaget, bingung, dan sedikit bergidik karena sungguh tak pernah terpikir akan menemukan benda yang kemudian, demi kepentingan humor, saya beri berbagai nama: Tameng Hidup, Benteng Intimasi, Armor Cinta, Pelindung Takdir, Penjaga Generasi, sampai Barikade Nafsu. Wkwk.

Silakan pilih mana yang terdengar paling gagah.

Tapi kalau semua nama itu malah bikin bingung, ya sudah, kita sebut saja dengan nama yang dipahami semua orang: KONDOM.

Tepatnya, kemasan kondom bekas. Kosong.

Bagaimana ceritanya benda itu bisa berada di kamar tempat kami menginap?

Nah, sabar.

Ceritanya bermula dari perjalanan pertama saya ke Gresik.  

 
Pertama Kali ke Gresik

Tanggal 27 Februari 2024, saya dan suami berangkat dari BSD, Tangerang Selatan, menggunakan mobil dan menyetir sendiri. Tujuan utama perjalanan ini memang bukan liburan. Suami memiliki agenda kerja, sedangkan saya ikut menemaninya.

Perjalanan dibuat santai karena jadwal suami baru dimulai keesokan harinya. Saking santainya, berangkat pagi dari BSD, kami baru tiba di Gresik pukul 23.30 WIB. Tinggal setengah jam lagi sudah ganti tanggal. Untung hotelnya masih di Gresik, bukan ikut berganti kota.

Malam itu Gresik terasa tenang. Sesekali truk-truk besar melintas, mengingatkan bahwa kami sedang berada di kota industri. Memang bukan kota yang langsung sibuk memamerkan tempat wisata di depan mata. Justru kesan itulah yang saya suka. Rasanya seperti bertemu orang pendiam yang ternyata menyimpan banyak cerita.

Hotel Front One Gresik

Menginap di Hotel Front One Gresik

Selama berada di Gresik, kami menginap di Front One Hotel Gresik yang berada di Jalan Veteran, salah satu ruas jalan utama di Gresik. Hotel ini memiliki beberapa pilihan kamar, mulai dari Superior, Deluxe, hingga Executive. Kami memilih kamar Deluxe Queen.

Tiba menjelang tengah malam membuat standar kebutuhan kami saat itu sebenarnya sederhana saja: kamar bersih, kasur nyaman, mandi, lalu tidur. Tidak ada energi tersisa untuk inspeksi ala hotel reviewer

Kesan pertama cukup baik. Stafnya ramah. Saya juga suka mendengar bahasa dan intonasi Jawa yang mereka gunakan. Halus sekali. Rasanya seperti sedang disambut di lingkungan keraton. Bedanya, tidak ada prajurit membawa tombak. Yang ada resepsionis dengan senyum ramah.

Hotel Front One Gresik

Masuk ke kamar, kondisinya bersih dan cukup nyaman. Kamar Deluxe Queen yang kami tempati luasnya sekitar 20 meter persegi. 

Tempat tidurnya nyaman, kamar mandinya lega, tersedia AC, televisi, air panas, perlengkapan mandi, air mineral, serta teko untuk membuat kopi atau teh. Fasilitas yang sebenarnya standar, tetapi justru itulah yang dibutuhkan setelah seharian di perjalanan.

Ada pula meja kecil di samping tempat tidur. Di atasnya diletakkan hospitality tray berisi air minum kemasan, teh, kopi, gula, dan dilengkapi dengan kettle.

Meja yang kelihatannya biasa saja.

Nampannya juga biasa saja.

Setidaknya, begitulah pikiran saya malam itu.

Besok paginya, pendapat saya tentang nampan itu sedikit berubah.

Tapi nanti kita sampai ke sana. 😄

Kamar hotel front one gresik



Jendela kamar menghadap ke area pabrik Semen Gresik. Memang bukan tipe pemandangan yang membuat orang spontan berkata,  "Mas, jangan tutup gordennya, aku mau foto buat wallpaper." 

Tapi pemandangan itu justru seperti memberi pengingat kecil bahwa kami sedang berada di Gresik, kota yang denyut kehidupannya memang lekat dengan industri.

Dan kesan sebagai kota industri itu makin terasa keesokan paginya.

hotel nyaman di gresik
 

Sarapan di Tengah Para Pekerja

Waktu pertama kali turun untuk sarapan, saya cukup kaget.

Ramai.

Pagi-pagi, area restoran yang menyatu dengan lobi dan resepsionis sudah dipenuhi tamu. Dari pakaian beberapa orang yang mengenakan wearpack, saya menduga sebagian adalah pekerja dari kawasan industri di sekitar Gresik, mungkin juga dari kawasan JIIPE Manyar.

Kebetulan, salah satu perusahaan yang beroperasi di kawasan itulah yang menjadi tujuan suami untuk bertemu dengan beberapa orang selama kunjungan kerja kali ini.

Melihat suasana pagi itu, saya jadi berpikir, jangan-jangan hotel ini memang cukup populer di kalangan tamu perjalanan bisnis dan pekerja industri. Saya datang menemani suami bekerja, lalu turun sarapan dan bertemu banyak orang dengan "seragam tempur" masing-masing. Bedanya, mereka siap berangkat ke lapangan. Saya siap menghadapi piring sarapan. Sama-sama perjuangan, hanya beda medan. 

Nah, soal sarapan ini saya justru menemukan kejutan lain.

Tenang.

Bukan "kejutan" yang ada di bawah nampan itu.

Yang ini bisa dimakan. 🤣

 

Menu sarapannya cukup beragam dan terasa autentik. Ada Nasi Kemangi Teri, Oblok Daun Singkong, dan beberapa hidangan lain yang menjadi pengalaman kuliner baru buat saya. Beberapa bahkan belum pernah saya coba sebelumnya, dan ternyata saya menyukai cita rasanya.

Buat saya, keberanian menyajikan menu seperti ini menarik. Sebab, kadang menginap di hotel dengan kelas lebih tinggi pun sarapan paginya masih berputar-putar di lingkaran pertemanan yang sama: nasi goreng ketemu mi goreng, mi goreng ketemu nasi goreng.

Aman memang.

Tapi hidup juga butuh sedikit variasi, ye kan? 

Makanya, menemukan Nasi Kemangi Teri dan Oblok Daun Singkong di meja sarapan menjadi kejutan kecil yang menyenangkan. Selain mengisi perut sebelum memulai aktivitas, saya sekalian bisa mencicipi rasa yang sebelumnya belum pernah saya kenal.



 
 
Di luar jam sarapan, tamu masih bisa memesan minuman dan makanan sederhana seperti mi instan. Tinggal request kalau mau ditambah telur, cabai rawit, dan daun sawi. Lumayan kan kalau malam-malam perut tiba-tiba protes, sementara badan sudah telanjur mager keluar hotel.

Dalam kondisi begitu, idealisme kuliner biasanya runtuh dengan sendirinya. Tidak perlu fine dining. Semangkuk mi instan panas dengan telur dan cabai rawit sudah cukup membuat hidup kembali terasa punya arah. 🤣

Dekat hotel ada beberapa tempat makan yang bisa dituju, tapi kalau lagi males, andalannya pesen indomie di hotel saja lebih mantep hahaha.

Fasilitas yang Praktis untuk Tamu Bisnis

Semakin lama menginap, saya merasa Front One Hotel Gresik memang menawarkan fasilitas yang lebih mengarah pada kebutuhan praktis tamu. Ada Wi-Fi, area parkir, lift, restoran, layanan resepsionis 24 jam, serta fasilitas pertemuan. Tidak ada kolam renang atau fasilitas rekreasi yang membuat kita tergoda menghabiskan waktu seharian di hotel, tetapi kebutuhan utama untuk beristirahat dan bekerja tersedia.

Buat kami yang datang karena urusan pekerjaan, justru itu yang dibutuhkan.

Kebetulan, tanggal 29 Februari 2024, saya punya jadwal menjadi pembicara melalui Zoom dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh salah satu perguruan tinggi negeri. Saat itu saya diundang untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan seputar dunia blogging, termasuk perjalanan saya menulis tentang travel dan pariwisata. Jadi, di sinilah kualitas Wi-Fi hotel benar-benar saya buktikan. Koneksi internet yang stabil jelas menjadi kebutuhan utama, dan syukurlah selama acara berlangsung semuanya lancar tanpa kendala berarti. Dalam perjalanan kerja, Wi-Fi stabil memang punya kasta tersendiri. View bagus boleh saja, tetapi kalau Zoom putus-putus saat kita sedang bicara, pemandangan secantik apa pun mendadak tidak ada gunanya. 😄

Ada lift juga. Kelihatannya sepele, sampai suatu hari kita harus menyeret koper ke lantai atas lewat tangga. Pada titik itu, keberadaan lift bisa terasa seperti salah satu pencapaian terbaik peradaban manusia.

Secara keseluruhan, pengalaman menginap kami cukup nyaman. Kamar bersih, tidur nyaman, kamar mandi lega, sarapan menyenangkan, dan internet bisa diandalkan. Hal-hal sederhana yang justru paling dibutuhkan ketika sedang bepergian.

Sampai di sini semuanya berjalan normal.

Hotel nyaman. Sarapan enak. Wi-Fi lancar.

Tidak ada yang aneh.

Sampai keesokan paginya, saya mengangkat nampan berisi teko dan gelas yang sejak malam sebelumnya berada di sana.

Dan...

Nah.

Di situlah cerita tentang Perisai Kejantanan yang saya sebut di awal artikel benar-benar dimulai. 🤣


Sebuah Temuan Tak Terduga

Karena tiba larut malam, kami langsung beristirahat.

Esok paginya saya mulai merapikan barang bawaan dan menata perlengkapan kerja suami. Di kamar hanya ada satu meja kecil di samping tempat tidur. Di atasnya diletakkan nampan berisi teko, dua gelas, serta air minum kemasan yang disediakan hotel.

Kebetulan meja itu akan kami gunakan untuk meletakkan laptop dan perlengkapan kerja. Jadi, nampannya saya angkat untuk dipindahkan.

Nah, inilah detik-detik saya menemukan sesuatu yang tak terduga.

Begitu nampan diangkat, ada satu benda tergeletak di bawahnya. Warnanya cukup mencolok sehingga langsung terlihat.

Tiga bungkus kondom! Sebungkus kemasan kondom bekas, dua bungkus belum terpakai. 

Saya langsung melongo.

"Hah... apa itu?"

Awalnya saya pikir mata belum sepenuhnya login karena baru bangun tidur. Saya mendekat lagi. Dilihat sekali. Dua kali.

Ternyata benar.

Suami yang saat itu sedang bersiap mengajak sarapan langsung saya panggil.

"Maaaaas, kenapa ada alat PERISAI KEJANTANAN di sini???"

Suami cuma menjawab kalem, "Ya udah, buang saja. Bersihkan mejanya pakai tisu basah. Terus cuci tangan."

Begitulah suami saya. Bukan tipe orang yang mudah ngegas.

Sedangkan saya beda lagi. Buang, bersihkan, lalu selesai rasanya belum cukup. Bukan karena ingin memperpanjang masalah, tetapi menurut saya kejadian seperti ini perlu disampaikan supaya tidak terulang kepada tamu berikutnya.


Tak lama kemudian saya menghubungi pihak hotel. Respons mereka cepat dan baik. Mereka langsung meminta maaf sekaligus berterima kasih karena sudah diberi tahu.

Setelah dipikir-pikir, mungkin memang ada dua kelalaian yang bertemu di pagi itu. Ada seseorang yang meninggalkan sesuatu di tempat yang bukan semestinya, lalu ada nampan yang terlalu setia berdiri di tempatnya sampai bagian bawahnya luput saat kamar dibersihkan.

Namanya manusia, kelalaian bisa terjadi.

Yang saya apresiasi, pihak hotel menerima laporan tersebut dengan terbuka dan meresponsnya secara profesional. Bagi saya, itu yang penting. Ketika ada sesuatu yang kurang tepat, disampaikan baik-baik, diterima baik-baik, lalu dijadikan evaluasi.

Karena itulah pengalaman ini saya tulis. Bukan untuk menyalahkan atau menjelekkan siapa pun. Setiap perjalanan memang selalu punya cerita yang tidak direncanakan, dan kebetulan perjalanan pertama ke Gresik memberi satu cerita yang level kejutannya agak berbeda.

Untung yang tertinggal cuma kemasannya.

Kalau yang tertinggal masih lengkap isinya....

Sudahlah. Imajinasi punya batas. Saya memilih berhenti di situ.

Di luar kejadian tersebut, pengalaman menginap di Hotel Front One Gresik tetap berjalan nyaman.

Hospitality tray. Masih di posisi semula, sebelum diangkat dan mengungkap sesuatu yang tak terduga di bawahnya.

Bahagia Bertemu Sahabat Lama

Kalau ada bagian yang paling menghangatkan hati selama berada di Gresik, jawabannya adalah bertemu teman-teman sesama blogger.

Salah satunya Mbak Zulfa, pemilik blog Emak Mbolang. Kami sudah saling mengenal cukup lama, bahkan pernah melakukan perjalanan bersama selama sembilan hari di Maluku Utara.

Sudah lama tidak bertemu, tetapi begitu berjumpa rasanya seperti melanjutkan obrolan yang hanya sempat dijeda, bukan diakhiri. Cerita mengalir begitu saja, diselingi tawa dan kenangan perjalanan dulu.

Yang membuat saya semakin senang, Mbak Zulfa datang ke hotel sampai dua kali. Pertama pada 28 Februari, kemudian datang lagi pada 1 Maret, sehari sebelum kami meninggalkan Gresik menuju Surabaya dan lanjut jalan-jalan ke Kediri.

Dibawakan makanan pula.

Masya Allah.

Padahal saya tidak membawa apa-apa untuk Mbak Zulfa. Beliau malah datang berkali-kali membawa makanan. Saya mulai curiga, jangan-jangan wajah saya memang terlihat seperti orang yang belum makan sejak berangkat dari BSD ha ha ha.

Mungkin beginilah bentuk persahabatan yang usianya sudah panjang. Tidak banyak basa-basi, tidak perlu acara yang dibuat-buat. Datang, mengobrol, tertawa, lalu pulang sambil meninggalkan rasa bahagia.

Sederhana, tetapi membahagiakan.

Terima kasih, Mbak Zulfa.

Mbak Zulfa www.emakmbolang.com

Dari Instagram Story, Akhirnya Bertemu Septi

Rasa hangat itu ternyata belum selesai.

Selama di Gresik saya sempat mengunggah beberapa Instagram Story. Rupanya story itu dilihat oleh Septi, seorang blogger yang tinggal di Gresik. Kami sama sekali tidak membuat janji sebelumnya. Tak lama kemudian ia menghubungi dan mengajak bertemu.

Tanggal 29 Februari, Septi datang ke hotel.

Membawa cake dan roti.

Jujur, saya senang sekali.

Kami belum pernah bertemu sebelumnya. Di media sosial pun tidak sering mengobrol. Tapi semangatnya untuk datang menemui saya benar-benar terasa. Septi masih muda, ramah, manis, dan menyenangkan diajak mengobrol.

Yang paling membuat saya tersentuh justru satu hal.

Ternyata dia mengenal saya lebih banyak daripada saya mengenalnya.

Kadang tanpa kita sadari, ada orang yang mengikuti perjalanan kita, membaca tulisan yang kita bagikan, lalu menyimpan kesan tertentu di hatinya. Kita mungkin tidak tahu siapa mereka sampai suatu hari ada kesempatan untuk bertemu.

Begitulah rasanya ketika bertemu Septi.

Dengan Septi


Sementara saya sendiri tidak menyiapkan apa-apa. Lha, memang awalnya nggak ada rencana mau ketemuan. Saya cuma posting Instagram Story kalau sedang berada di Gresik. Eh, yang melihat story malah benar-benar datang ke hotel sambil membawa cake dan roti. Sedangkan yang didatangi? Modal senyum lebar dan ucapan terima kasih. 

Untung setelah duduk dan ngobrol, urusan siapa bawa apa langsung terlupakan. Obrolan kami mengalir ke mana-mana. Padahal ini pertama kalinya kami bertemu langsung dan sebelumnya pun jarang ngobrol di media sosial. Anehnya, pas ketemu malah nggak terasa seperti baru pertama kali.

Saya jadi makin senang karena pertemuan yang tadinya sama sekali nggak direncanakan itu akhirnya benar-benar terjadi. Bermula dari satu Instagram Story, berlanjut dengan sebuah pesan, lalu tahu-tahu kami sudah duduk mengobrol bersama di hotel.

Makasih ya, Septi. Sudah melihat story, menyapa duluan, lalu benar-benar meluangkan waktu untuk datang. Cake dan rotinya tentu dengan senang hati saya terima. Tapi yang paling saya ingat dari hari itu tetap pertemuan kita.

Cake cantik dari Septi

Mencicipi Kuliner Ayam Bakar Pak D di Gresik

Di sela agenda suami, kami sempat keluar untuk mencari makan. Pilihan kami jatuh pada Ayam Bakar Pak D cabang Jalan Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Kebomas, Gresik.

Namanya memang Ayam Bakar Pak D, tetapi pilihan menunya rupanya tidak berhenti pada ayam saja. Ada ayam, bebek, hingga aneka ikan dengan beberapa pilihan olahan. Kami sendiri malah memesan gurami dan bebek bumbu rujak. Ayamnya? Tidak dipesan. Begitulah manusia kalau sudah berhadapan dengan daftar menu. Niat awal kadang tidak punya kekuatan hukum tetap. 😄

Kedua menu yang kami pesan cocok di lidah. Apalagi disantap saat sedang lapar-laparnya. Gurami dan bebek bumbu rujak menjadi teman makan yang menyenangkan sekaligus salah satu pengalaman kuliner yang kami nikmati selama berada di Gresik.




Mampir ke Ayam Bakar Pak D juga menjadi kesempatan untuk menikmati waktu santai berdua di sela urusan pekerjaan. Perjalanan ke Gresik kali ini memang bukan agenda khusus wisata kuliner. Tidak ada daftar panjang tempat makan yang harus didatangi satu per satu, apalagi target lima tempat makan sehari. Perut juga punya jam kerja. 

Buat saya, mengenal sebuah kota memang tidak selalu harus dimulai dari tempat wisatanya. Kadang perkenalan itu terjadi begitu saja di meja makan. Lewat sepiring nasi hangat, lauk yang baru datang, dan obrolan tentang agenda berikutnya yang entah kenapa selalu terasa lebih ringan setelah perut kenyang.

Namanya juga perjalanan sambil menemani suami bekerja. Target utamanya memang bukan berburu kuliner. Tapi kalau di sela-selanya bertemu makanan enak, masa iya harus ditolak? Itu bukan menyimpang dari agenda. Anggap saja bagian dari riset lapangan. 😄

 
Bekerja dari Kamar Hotel

Tanggal 29 Februari, hampir seharian saya berada di kamar hotel karena harus menjadi pembicara dalam sebuah pertemuan melalui Zoom. Sejak pagi sudah bersiap, sementara suami berangkat visit ke site untuk menemui timnya yang sedang bertugas.

Rasanya cukup unik. Baru pertama kali datang ke sebuah kota, tetapi sebagian hari justru dihabiskan bekerja dari kamar hotel.

Untung koneksi Wi-Fi di hotel berjalan lancar. Acara Zoom bisa berlangsung tanpa kendala. Dalam kondisi seperti ini, barulah terasa betapa Wi-Fi yang stabil kadang jauh lebih membahagiakan daripada pemandangan kamar yang Instagramable.

Sempat Mampir ke Hotel ASTON Gresik

Di sela kegiatan, kami juga sempat mampir ke Hotel ASTON Gresik. Tujuannya bukan untuk menginap, melainkan karena suami ingin melihat langsung lokasi sekaligus memesan tempat untuk kegiatan seminar dan pelatihan yang rencananya akan diadakan pada kunjungan berikutnya.

Jadi, kunjungan ke ASTON kali ini semacam survei kecil-kecilan. Lihat tempat, cek kebutuhan acara, sekaligus memastikan semuanya cocok untuk kegiatan nanti. Kalau rencana itu terlaksana, kemungkinan besar kami akan kembali lagi ke Gresik dan mungkin sekalian menginap di sana.

Berarti, boleh jadi perjalanan pertama ini bukan sekaligus yang terakhir. Masih ada kemungkinan datang lagi ke Gresik dengan agenda berbeda dan menginap di tempat yang berbeda pula.

Siapa tahu, pada kunjungan berikutnya saya punya lebih banyak waktu untuk melihat sisi lain Gresik yang belum sempat dijelajahi kali ini. Sebab selama perjalanan pertama ini, waktu kami memang lebih banyak mengikuti agenda pekerjaan. Jadi, rasanya masih banyak bagian dari Gresik yang belum sempat saya kenal.






Oleh-Oleh Terbaik dari Gresik

Tanggal 2 Maret pagi, sekitar pukul enam, kami check out dan meninggalkan Gresik untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya, kemudian ke Pare, Kediri, sebelum akhirnya kembali ke BSD, Tangerang Selatan.

Kalau mengingat perjalanan pertama ini, tentu saya masih ingat kemasan kondom yang sempat membuat bengong di pagi pertama. Bagaimana tidak? Itu pengalaman yang bahkan tidak pernah masuk dalam daftar hal-hal yang mungkin saya temukan di kamar hotel. 😄

Tapi perjalanan ke Gresik tentu bukan hanya tentang kejadian itu. Ada Mbak Zulfa yang sampai dua kali datang menemui saya, Septi yang berawal dari melihat Instagram Story lalu menyempatkan diri datang ke hotel, obrolan-obrolan yang membuat waktu terasa cepat, gurami bakar dan bebek bumbu rujak yang kami nikmati di Ayam Bakar Pak D, serta hari-hari sederhana menemani suami bekerja di kota yang baru pertama kali saya datangi.

Ternyata perjalanan memang seperti membaca sebuah novel. Ada bagian yang mengejutkan, ada yang membuat tertawa, dan ada bagian-bagian sederhana yang justru paling lama tinggal dalam ingatan.

Begitu juga dengan perjalanan pertama saya ke Gresik.

Kejutan itu hanya satu halaman. Selebihnya adalah cerita tentang pertemuan, persahabatan, dan orang-orang baik yang membuat kota yang tadinya asing terasa lebih dekat.

Dan itulah oleh-oleh terbaik yang saya bawa pulang dari Gresik.

Sampai bertemu lagi.