Kali ini, yang paling membekas justru bukan hanya pertemuan dengan gajah-gajah Sumatera, tetapi juga cerita-cerita yang saya dengar dari para mahout.
Itulah sebabnya, ketika membaca kabar penutupan sementara kawasan wisata Way Kambas pada awal 2026, reaksi saya berbeda dari kebanyakan orang.
"Saya justru lega ketika Way Kambas
ditutup."
Kalimat itu mungkin terdengar aneh. Bukankah selama ini kita selalu berharap tempat wisata tetap buka, semakin ramai dikunjungi, lalu ekonomi masyarakat sekitar ikut bergerak?
Saya juga berpikir begitu.
Sampai akhirnya saya pulang dari Way Kambas pada September 2025.
Sejak saat itu, linimasa media sosial saya mulai dipenuhi video anak gajah. Ada yang diunggah wisatawan, ada pula yang berasal dari akun-akun promosi perjalanan. Awalnya saya senang. Artinya, semakin banyak orang kenal Way Kambas.
Lama-lama, perasaan itu berubah.
Beberapa video terasa lebih sibuk mengejar reaksi satwa daripada menghargai keberadaannya. Anak gajah dipanggil-panggil supaya menoleh ke kamera. Diajak bercanda. Disoraki ketika melakukan sesuatu yang dianggap lucu. Entah sejak kapan sebagian orang merasa setiap momen di alam harus berubah menjadi konten yang layak masuk FYP.
Puncaknya, saya berhenti menggulir layar ketika melihat seseorang menyodorkan pisang kepada seekor gajah... lengkap dengan tali plastik yang masih melilitnya.
Saya langsung membayangkan hal yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang yang merekam videonya.
Bagaimana kalau plastik itu ikut termakan?
Sejak melihat video itu, setiap kali muncul konten serupa di linimasa, pikiran saya selalu kembali ke adegan yang sama. Bukan lagi soal lucu atau tidak lucu, melainkan pertanyaan sederhana yang terus mengganggu: apakah kita masih datang ke alam untuk belajar menghargainya, atau justru sibuk menjadikannya latar belakang konten?
Mungkin karena itulah, ketika membaca kabar penutupan sementara kawasan wisata alam BTN Way Kambas pada 15 Januari 2026, reaksi saya berbeda dari kebanyakan orang.
Di saat banyak orang mengeluh karena tidak bisa berkunjung, saya justru berpikir, mungkin ini saatnya Way Kambas bernapas sejenak.
Kalau ingin membaca pengumuman resminya, saya sertakan tautannya di sini: TN Way Kambas Ditutup Sementara Untuk Kegiatan Wisata Alam.
Tentu saja, rasa lega itu murni pandangan pribadi saya. Sama sekali tidak berkaitan dengan alasan resmi penutupan yang disampaikan Balai Taman Nasional Way Kambas.
Berbagai peristiwa itu memang terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan. Namun saya tidak sedang mencoba merangkai teori konspirasi atau mencari hubungan sebab-akibat di antara semuanya. Zaman sekarang orang memang gemar menyambung titik-titik yang sebenarnya tidak saling terhubung. Kadang dua kejadian yang berdekatan memang... hanya kebetulan terjadi berdekatan.
Bagi saya, penutupan kawasan wisata itu memiliki makna yang lebih sederhana. Saya membayangkannya seperti sebuah rumah yang sesekali perlu ditutup pintunya agar penghuninya bisa beristirahat. Bedanya, penghuni rumah ini bukan manusia yang bisa mengeluh lewat kolom komentar, melainkan satwa liar yang selama ini terus berbagi ruang dengan para pengunjung.
Saya tentu berharap penutupan itu hanya sementara. Saya juga berharap masyarakat sekitar tetap memperoleh manfaat dari pariwisata, karena konservasi dan kesejahteraan masyarakat seharusnya bisa berjalan beriringan, bukan saling mengorbankan.
Hanya saja, di balik semua itu saya merasa ada hikmah yang mungkin luput dari perhatian banyak orang. Mungkin sesekali manusialah yang perlu mundur selangkah, agar alam punya kesempatan menjadi dirinya sendiri.
Dan cerita itu sebenarnya sudah dimulai beberapa bulan sebelumnya.
21 September 2025.
Hari itu Way Kambas masih menerima kunjungan wisatawan. Saya datang bersama suami dan beberapa teman suami. Sebagian besar baru pertama kali menginjakkan kaki di kawasan konservasi ini.
Ada kesenangan yang sulit dijelaskan ketika mengajak seseorang datang ke tempat yang kita sukai. Rasanya seperti memperkenalkan sahabat lama kepada lingkaran pertemanan baru. Dalam hati muncul harapan kecil, "Semoga kalian akur."
Syukurlah, sejak awal antusiasme mereka sudah terlihat. Belum juga turun dari mobil, kepala mereka sibuk menoleh ke kanan dan kiri, seolah takut ada gajah yang tiba-tiba lewat begitu saja. Padahal kami baru sampai. Gajah juga tidak punya kebiasaan menyambut tamu di gerbang sambil mengucapkan, "Selamat datang di Way Kambas."
Seluruh kegiatan wisata hari itu berlangsung di kawasan Pusat Latihan Gajah (PLG) Way Kambas yang kini dikenal sebagai Pusat Konservasi Gajah. Di sinilah sebagian besar aktivitas edukasi dan interaksi pengunjung dengan gajah dilakukan di bawah pendampingan para mahout.
Mungkin karena itulah saya tidak pernah datang dengan target harus bertemu gajah tertentu.
Kalau tujuan kita ke kebun binatang, mungkin masih masuk akal mencari kandang satwa tertentu karena mereka memang tinggal di tempat yang sudah ditentukan. Namun di kawasan konservasi, saya merasa logikanya berbeda. Satwa bukan aktor yang menunggu panggilan syuting, lalu muncul tepat saat kamera mulai merekam.
Yang membuat saya selalu ingin kembali justru ketidakpastian itu. Saya tidak pernah tahu cerita apa yang akan saya bawa pulang. Kadang tentang seekor gajah. Kadang tentang seorang mahout. Kadang malah tentang diri saya sendiri yang pulang dengan cara pandang yang sedikit berubah dibanding saat berangkat.
Belakangan saya melihat fenomena yang cukup mengganggu.
Media sosial perlahan membuat satu nama jauh lebih dikenal dibanding
gajah-gajah lainnya. Banyak orang datang dengan harapan bertemu gajah yang
sedang viral.
Saya bahkan sempat menemukan promosi perjalanan yang kurang
lebih berbunyi,
"Kalau tidak ikut trip kami, kamu tidak akan bisa
bertemu Gajah Nisa."
Saya membacanya dua kali.
Lalu tiga kali.
Bukan karena kalimatnya sulit dipahami, melainkan karena
terdengar seperti sedang menawarkan akses eksklusif bertemu artis, bukan satwa
liar di kawasan konservasi.
Bukan berarti saya tidak menyukai Nisa. Justru saya senang
seekor gajah bisa membuat semakin banyak orang mengenal Way Kambas. Yang
mengganjal adalah kesan bahwa pertemuan dengan gajah tertentu bisa dijanjikan
begitu saja. Padahal, di kawasan konservasi tidak ada jadwal tampil. Semua
bergantung pada kondisi di lapangan, aktivitas satwa, serta pertimbangan para
mahout dan pengelola.
Kalimat itu membuat saya berpikir, jangan-jangan ada orang
yang datang dengan ekspektasi terlalu tinggi, lalu pulang kecewa hanya karena
tidak bertemu satu gajah yang sedang populer.
Saya sendiri sempat bertanya kepada Pak Mad apakah hari itu
Nisa berada di sekitar area pemandian dekat pengunjung.
"Enggak tentu."
Jawabannya sesingkat itu.
Dan justru itulah jawaban yang paling masuk akal.
Kalau bertemu, alhamdulillah. Kalau tidak, ya tidak apa-apa. Toh saya datang ke Way Kambas untuk bertemu alam, bukan mengejar daftar hadir selebritas.
![]() |
| Pak Ahmad Rokhani telah lebih dari 30 tahun mengbadi di TN Way Kambas sebagai bagian dari tim pelestari Gajah Sumatera. |
Sejak itu saya semakin yakin, tujuan datang ke Way Kambas memang bukan mengejar satu nama. Yang selalu saya tunggu justru kejutan-kejutan kecil yang tidak pernah sama di setiap kunjungan.
Dulu saya juga mengira Way Kambas identik dengan gajah. Rupanya saya tidak sendirian. Banyak orang mengenal tempat ini hanya dari penghuni yang paling sering muncul di media sosial, seolah penghuni lain belum memenuhi syarat untuk masuk algoritma.
Padahal, Way Kambas juga menjadi rumah bagi badak Sumatera.
Lucunya, saya baru benar-benar menyadari hal itu setelah beberapa kali berkunjung. Di akhir tulisan ini nanti saya akan bercerita tentang pertemuan dengan Mas Bio, putra Pak Mad, yang menjadi salah satu mahout badak di Way Kambas.
Dari beliaulah saya baru tahu bahwa badak juga memiliki mahout yang merawat dan mendampinginya. Selama ini saya lebih sering mendengar kisah para mahout gajah, sementara kehidupan para mahout badak nyaris tak pernah terdengar. Mungkin karena badak memang tidak pernah seramai gajah di media sosial. Padahal, perannya dalam konservasi sama pentingnya.
Pikiran saya kemudian melayang ke satwa-satwa lain di Lampung. Belum lama ini publik dihebohkan oleh kasus seekor tapir yang dibunuh warga di Mesuji. Peristiwa itu kembali mengingatkan saya bahwa persoalan konservasi tidak pernah sesederhana hitam dan putih.
Mungkin masih ada orang yang benar-benar tidak tahu bahwa tapir merupakan satwa yang dilindungi. Saat bertemu di alam, mereka menganggapnya sama seperti satwa liar lainnya. Namun bisa juga sebaliknya. Mereka sudah tahu, tetapi tetap memilih mengabaikannya. Manusia memang punya bakat luar biasa untuk membenarkan keputusan yang sebenarnya sudah tahu itu keliru.
Apa pun alasannya, kejadian seperti ini membuat saya semakin percaya bahwa konservasi tidak cukup dijaga dengan patroli dan penegakan hukum. Edukasi sama pentingnya. Sebab orang cenderung lebih menghargai sesuatu yang mereka kenal. Sulit berharap seseorang peduli pada satwa yang keberadaannya saja baru mereka sadari setelah menjadi berita.
![]() |
| Sumber: IG @natgeoindonesia |
Mungkin karena itu saya lebih menikmati cerita-cerita yang jarang muncul di media sosial.
Bukan hanya tentang gajah, tetapi juga tentang badak Sumatera, tapir, maupun satwa lain yang hidup di Way Kambas. Cerita dari para mahout, tim Balai Taman Nasional Way Kambas, peneliti, atau siapa pun yang sehari-hari bekerja di lapangan sering kali jauh lebih membuka wawasan daripada sekadar video berdurasi tiga puluh detik.
Saya tentu tidak keberatan jika pengunjung mengabadikan momen lalu membagikannya di media sosial. Saya pun melakukannya. Akan tetapi, akan lebih menyenangkan jika semakin banyak konten yang tidak hanya mengejar perhatian, tetapi juga menyampaikan pengetahuan.
Padahal, bagi saya, konten yang paling menarik justru memperlihatkan satwa apa adanya, disertai cerita dan informasi yang membantu kita memahami kehidupan mereka di alam.
![]() |
| Pak Ahmad Rokhani (pakai baju kaos biru) |
Cerita hari itu dimulai tepat pukul 12.05 WIB.
Sesampainya di kawasan Pusat Latihan Gajah Way Kambas, saya langsung melihat sosok yang tidak asing lagi: Pak Achmad Rokhani, atau yang lebih akrab dipanggil Pak Mad.
Sudah lebih dari tiga puluh tahun beliau menjadi mahout. Kalau pengalaman bisa diwariskan lewat tatapan mata, mungkin Pak Mad sudah tidak perlu banyak bercerita lagi.
Begitu kami turun dari mobil, beliau langsung menyambut dengan senyum.
"Mau langsung keliling, atau lihat-lihat dulu?"
Saya hanya tersenyum.
Toh gajah tidak sedang mengejar jadwal rapat. Mereka tidak akan protes hanya karena kami berhenti salat beberapa menit. Jadi tidak ada alasan untuk terburu-buru.
Musala di kawasan Pusat Latihan Gajah cukup besar. Air wudhunya melimpah, jernih, dan terasa sangat segar setelah perjalanan panjang dari Gisting menuju Lampung Timur yang sejak pagi ditemani hujan. Membasuh wajah dengan air dingin saat itu rasanya seperti menekan tombol refresh setelah berjam-jam berada di jalan.
Meski begitu, ada beberapa hal yang masih bisa ditingkatkan. Area di dalam maupun sekitar musala terlihat agak berdebu, sementara beberapa sudut tempat wudhu mulai ditumbuhi lumut.
Yang paling mengganggu justru aroma pesing dari toilet. Bahkan sebelum benar-benar mendekat, hidung kami sudah lebih dulu menerima sambutannya.
![]() |
| Toilet dan tempat wudhu |
Fasilitas umum memang akan jauh lebih nyaman kalau sama-sama dijaga. Air di sini melimpah. Rasanya tidak sulit menyiram toilet hingga benar-benar bersih sebelum keluar.
Hal seperti itu mungkin terdengar sepele. Padahal, perbedaan antara toilet yang nyaman dan yang membuat orang buru-buru keluar sering kali hanya soal lima detik tambahan untuk menekan tombol flush.
Selesai salat, sempat muncul diskusi kecil.
"Makan dulu apa nanti?"
Perut sebenarnya sudah mulai mengajukan protes halus. Jam makan siang bahkan sudah lewat. Namun, rasa penasaran bertemu gajah rupanya jauh lebih keras suaranya daripada bunyi perut kami.
Akhirnya kami sepakat menunda makan siang.
Keputusan yang belakangan sama sekali tidak kami sesali. Lagi pula, kalau lapar masih bisa ditunda sebentar. Kesempatan bertemu gajah belum tentu datang dua kali di hari yang sama.
![]() |
| Musola |
Keliling Way Kambas Naik Shuttle, Cara Menjelajahi Pusat Latihan Gajah
Pak Mad kemudian mengajak kami menuju area kendaraan wisata. Di sanalah beliau menjelaskan bahwa kendaraan pribadi tidak diperbolehkan masuk ke kawasan inti taman nasional. Semua pengunjung harus memarkir kendaraannya di area yang telah disediakan, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan wisata.
Awalnya saya hanya mengangguk mendengar penjelasan itu. Namun semakin dipikirkan, aturan tersebut memang masuk akal. Jalan di dalam kawasan menjadi lebih tertib, suara mesin kendaraan tidak saling bersahutan, dan suasana tetap tenang.
Bagaimanapun juga, kami sedang berkunjung ke rumah mereka. Rasanya kurang sopan kalau tamu datang membawa keramaian, lalu berharap tuan rumah tetap merasa nyaman.
Saat itu tersedia dua pilihan transportasi. Shuttle bus berkapasitas sekitar sepuluh penumpang dengan tarif Rp20.000 per orang, atau jeep adventure seharga Rp400.000 yang dapat dinaiki maksimal tiga orang.
Karena rombongan kami berjumlah delapan orang, shuttle jelas menjadi pilihan paling praktis. Lagi pula, perjalanan seperti ini memang lebih seru kalau bisa dinikmati bersama. Toh tidak setiap hari kami punya kesempatan duduk satu kendaraan sambil berharap ada gajah yang tiba-tiba muncul di balik pepohonan.
Video naik shuttle keliling Pusat Latihan Gajah (PLG) Taman Nasional Way Kambas dapat ditonton pada Reels berikut ini:
Kendaraan yang kami gunakan ternyata bukan odong-odong seperti yang sering saya lihat di media sosial, melainkan mobil pickup yang telah dimodifikasi. Bagian belakangnya dipasangi bangku lengkap dengan atap, sehingga perjalanan tetap nyaman meski harus melewati jalan tanah dan padang rumput.
Begitu kendaraan mulai bergerak, angin langsung menerpa dari sisi kanan dan kiri yang terbuka. Sesekali roda menghantam jalan yang bergelombang hingga kami spontan berpegangan pada sandaran bangku. Tidak ada yang mengeluh. Justru guncangan kecil itulah yang membuat perjalanan terasa lebih nyata. Rasanya seperti diingatkan bahwa kami sedang melintasi kawasan konservasi, bukan jalan tol.
Pak Mad ikut duduk bersama kami. Kehadiran beliau membuat perjalanan ini terasa lebih dari sekadar berkeliling. Hampir setiap sudut kawasan memiliki cerita, dan hampir setiap cerita selalu berakhir pada nama seekor gajah atau pengalaman beliau selama menjadi mahout.
Sebelum kendaraan benar-benar melaju, saya memastikan empat sisir pisang yang kami beli dari ibu-ibu di dekat pintu masuk sudah ikut terbawa.
"Jangan sampai ketinggalan," celetuk salah seorang
teman.
Kami pun tertawa.
Hari itu, empat sisir pisang yang kami bawa ternyata menjadi "tiket perkenalan" dengan para gajah. Murah juga, pikir saya. Tidak sampai seratus ribu rupiah, tapi bisa membuka percakapan dengan penghuni paling besar di Way Kambas.
![]() |
| Jalur shuttle bus di kandang gajah |
Rezeki yang Datang dalam Bentuk Langit Cerah
Kalau ada satu hal yang paling saya syukuri siang itu, jawabannya adalah cuaca.
Sepanjang perjalanan menuju Way Kambas, hujan nyaris tidak berhenti. Dari Gisting hingga memasuki Lampung Timur, langit terus diselimuti awan kelabu. Berkali-kali saya membayangkan bagaimana kalau nanti kami harus berkeliling di bawah hujan deras. Bukan tidak bisa, hanya saja suasananya tentu akan berbeda. Lagi pula, memotret gajah sambil sibuk menyelamatkan kamera dari hujan bukanlah kombinasi yang terlalu menyenangkan.
Namun, Allah rupanya menyiapkan kejutan yang jauh lebih indah.
Sesaat setelah kendaraan memasuki kawasan konservasi, langit perlahan mulai membuka. Matahari muncul tanpa terasa menyengat. Cahayanya memantul di dedaunan yang masih basah oleh hujan, membuat hijaunya pepohonan terlihat semakin hidup.
Kadang rezeki memang datang bukan dalam bentuk sesuatu yang besar. Cukup langit yang tiba-tiba cerah pada waktu yang tepat, lalu seluruh perjalanan terasa berbeda.
![]() |
| Sesaat setelah memasuki kawasan PKG. Langit mulai membuka setelah hujan menemani perjalanan sejak pagi. |
Saya sempat mendongak beberapa detik. Baru saat itulah saya
merasa bersyukur. Hujan yang sejak pagi menemani perjalanan akhirnya berhenti
tepat ketika kami mulai berkeliling. Mungkin memang sesederhana itu bentuk
rezeki hari itu.
Shuttle terus melaju melewati padang rumput, kolam pemandian
gajah, kandang gajah, rumah sakit gajah, hingga jalur yang menurut Pak Mad
kerap dilintasi gajah liar. Delapan pasang mata di dalam kendaraan nyaris tidak
berhenti melihat ke kanan dan kiri. Bagi teman-teman yang baru pertama kali
datang, semuanya terasa baru. Sementara bagi saya, meski ini bukan kunjungan
pertama, rasa takjub itu rupanya belum juga berkurang.
Semakin jauh shuttle melaju, semakin sedikit suara yang kami
dengar selain angin dan sesekali kicau burung.
Tidak ada musik yang memekakkan telinga. Tidak ada deretan
kios. Tidak ada keramaian yang biasanya identik dengan tempat wisata. Yang ada
justru ruang bagi alam untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Mungkin itu
sebabnya setiap kali meninggalkan Way Kambas, saya selalu merasa ingin kembali.
Fitria, Gajah Pertama yang Menyambut Kami
Shuttle baru saja memasuki area kandang gajah ketika Pak Mad tiba-tiba menunjuk ke arah padang rumput.
"Itu dia..."
Delapan kepala di dalam kendaraan langsung menoleh ke arah yang sama.
Seekor gajah betina berjalan pelan mendekati shuttle. Langkahnya tenang, seolah sudah hafal bahwa kendaraan seperti ini biasanya datang membawa sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar wisatawan.
"Namanya Yulia," kata Pak Mad.
Belum sampai kami mengingat nama itu, beliau langsung tersenyum lalu mengoreksi ucapannya.
"Eh, bukan. Fitria."
Kata Pak Mad, wajah Fitria dan Yulia memang mirip. Bahkan beliau yang sudah puluhan tahun menjadi mahout pun kadang masih tertukar menyebut namanya.
Saya jadi berpikir, ternyata bukan cuma manusia yang pernah salah menyebut nama. Bedanya, kalau kita salah memanggil teman biasanya cukup dibalas tatapan heran. Kalau salah memanggil gajah, untungnya mereka tidak ikut protes.
Saya tidak tahu apakah Fitria mengenali suara shuttle atau memang sudah hafal bahwa kendaraan seperti ini sering membawa pengunjung yang ingin memberinya makan. Yang jelas, begitu jarak kami semakin dekat, belalainya mulai bergerak ke sana kemari, seperti sedang mencari aroma pisang.
Suasana di dalam shuttle langsung berubah riuh.
Enam dari delapan orang dalam rombongan kami baru pertama
kali melihat gajah Sumatera dari jarak sedekat ini. Wajah mereka bergantian
antara kagum, penasaran, dan sedikit gugup.
Awalnya hanya satu orang yang berani menyodorkan pisang.
Setelah melihat semuanya aman, yang lain ikut mendekat. Dalam hitungan detik,
semua ingin mendapat giliran.
Lucu juga melihat perubahan suasana di dalam shuttle. Orang-orang dewasa yang sejak tadi duduk tenang, mendadak sibuk menyodorkan pisang sambil berharap belalai Fitria lebih dulu menghampiri tangannya.
Rasanya tidak jauh berbeda dengan anak-anak yang berebut ingin mengelus kucing tetangga. Bedanya, yang berdiri di depan kami kali ini berbobot beberapa ton.
Selama berinteraksi dengan Fitria, kami tetap berada di dalam shuttle. Hanya Pak Mad yang turun untuk mengarahkan sekaligus mengawasi dari sisi belakang tubuh Fitria hingga belalainya dapat menjangkau tangan-tangan kami yang menyodorkan pisang.
Empat sisir pisang yang kami bawa perlahan mulai berkurang. Untungnya kami tidak langsung menghabiskannya untuk Fitria. Perjalanan masih berlanjut, dan Pak Mad sudah memberi isyarat bahwa kemungkinan masih ada gajah lain yang akan kami temui di sepanjang rute shuttle.
Di sela-sela suasana yang ramai itu, Pak Mad bercerita bahwa pisang yang dijual ibu-ibu di sekitar pintu masuk bukanlah pisang sembarangan. Para pedagang telah diberikan edukasi agar buah yang dijual untuk pakan gajah tidak dipercepat matang menggunakan karbit atau bahan kimia lain yang berpotensi membahayakan satwa.
Saya senang mendengar penjelasan itu.
Informasi sederhana seperti ini mungkin terdengar sepele, tetapi menurut saya penting diketahui pengunjung. Kadang kita begitu bersemangat ingin memberi makan satwa, sampai lupa bahwa makanan yang kita berikan juga harus aman bagi mereka.
Kalau suatu hari Way Kambas kembali dibuka untuk umum, saya
tetap menyarankan membeli pisang dari warga sekitar. Selain membantu
perekonomian masyarakat, kita juga ikut memastikan pakan yang diberikan kepada
gajah memang sudah sesuai dengan arahan pengelola.
Melihat Fitria menikmati pisang-pisang itu, saya jadi berpikir, mungkin kebahagiaan memang sesederhana melihat makhluk lain merasa kenyang.
Rumah Sakit Gajah Prof. Dr. Ir. M. Rubini Atmawidjaja
Shuttle kembali melaju. Setelah melewati kandang gajah,
kawasan hutan, dan jalur yang menurut Pak Mad sering dilintasi gajah liar, kami
sampai di depan Rumah Sakit Gajah Prof. Dr. Ir. M. Rubini Atmawidjaja.
Bangunan itu sudah tidak asing bagi saya. Pada kunjungan
sebelumnya saya bahkan pernah masuk ke dalam area rumah sakit. Kali ini kami
hanya melihat-lihat dari luar karena perjalanan masih harus dilanjutkan.
Sambil menunjuk ke arah bangunan, Pak Mad bercerita kalau
beliau juga sering diperbantukan di rumah sakit tersebut, terutama saat ada
gajah yang sedang sakit.
"Kalau ada yang sakit, ya ikut bantu di sana,"
kata beliau.
![]() |
| Meski berada di tengah kawasan hutan, rumah sakit gajah ini menjadi tempat penanganan gajah yang sakit sekaligus mendukung upaya menjaga kesehatan gajah-gajah di Way Kambas. |
Beliau lalu bercerita bahwa kesehatan gajah dipantau secara
berkala. Berat badannya ditimbang, kondisi fisiknya diperiksa, dan bila
diperlukan akan menjalani penanganan lebih lanjut oleh dokter hewan.
Mendengar cerita itu saya kembali diingatkan bahwa menjadi
mahout ternyata bukan hanya menemani gajah berjalan atau memberi makan. Ketika
ada gajah yang sakit, mereka juga ikut mendampingi proses perawatannya.
Rumah Sakit Gajah Prof. Dr. Ir. M. Rubini Atmawidjaja memang
menjadi pusat perawatan gajah Sumatera di Way Kambas. Selain menangani gajah
yang sakit atau terluka, tempat ini juga digunakan untuk memantau kesehatan
gajah-gajah yang berada di kawasan konservasi.
Kami tidak turun untuk berkeliling. Shuttle hanya berhenti
sebentar sehingga kami melihat-lihat bangunannya dari luar, sempat berfoto
beberapa menit, lalu perjalanan kembali dilanjutkan.
Sepanjang perjalanan itu masih banyak hal yang kami lewati.
Ada bak mandi raksasa yang biasa digunakan gajah untuk mandi sekaligus tempat
mereka minum. Kami juga melintasi jalur yang, menurut Pak Mad, kerap dilalui
gajah liar ketika berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain. Sesaat kemudian
shuttle melaju pelan di atas sebuah jembatan sempit yang lebarnya nyaris pas
dengan badan kendaraan. Di bawahnya mengalir sungai yang siang itu sedang
mengering.
Bagi teman-teman yang baru pertama kali datang, hampir
setiap sudut kawasan memancing rasa penasaran. Sementara Pak Mad tidak pernah
kehabisan cerita. Mulai dari kebiasaan gajah, kehidupan para mahout, hingga
bagaimana kawasan ini dikelola sebagai habitat sekaligus tempat konservasi
gajah Sumatera.
Bertemu Gajah Verdy di Way Kambas, Si Gagah yang Murah Senyum
Perjalanan kami bersama shuttle akhirnya selesai. Namun,
perjumpaan dengan gajah-gajah Way Kambas rupanya belum berakhir.
Selain Fitria, kami juga melihat beberapa gajah lainnya. Ada
Roy, Mbah Kartijah yang merupakan neneknya si gajah "seleb" Nisa,
serta beberapa gajah lain yang namanya tidak sempat disebutkan oleh Pak Mad.
Siang itu kami juga bertemu Verdy dan Yulia. Keduanya berada di kandang yang
letaknya tidak jauh dari area depan Pusat Latihan Gajah.
![]() |
| Gajah Verdy |
Kawasan ini memang menjadi pusat aktivitas wisata di Pusat
Latihan Gajah. Di sekitarnya terdapat area kuliner, musala, toilet, visitor
center, wisma tamu, hingga kolam alami tempat gajah dimandikan.
Pengunjung diperbolehkan masuk ke area kandang, tetapi hanya
sampai batas yang telah ditentukan. Selebihnya menjadi ruang bagi gajah dan
para mahout. Menurut saya, aturan seperti ini memang sudah semestinya ada.
Gajah tetap merasa nyaman di ruangnya, sementara pengunjung pun bisa
berinteraksi dengan aman.
Di dalam kandang terdapat sebuah kolam berukuran cukup
besar. Pada jam-jam tertentu, gajah akan dimandikan di sana. Momen inilah yang
biasanya paling ditunggu pengunjung karena bisa melihat aktivitas gajah dari
dekat, tentu saja dengan pendampingan para mahout.
Kalau membayangkan kandang gajah sebagai bangunan tertutup,
saya juga sempat berpikir begitu dulu.
Padahal kandang di sini justru terbuka. Tanpa dinding. Tanpa
atap. Lantainya hamparan rumput. Atapnya langit.
Yang menjadi penanda hanyalah patok-patok semen tempat
rantai dipasang sebagai pengaman. Rantainya cukup panjang dan kendor sehingga
gajah masih leluasa bergerak di sekitar kandangnya.
Saya spontan tertawa membayangkannya.
"Nah, kalau yang ini Verdy," ujar Pak Mad.
Seekor gajah jantan berdiri tegap di hadapan kami. Salah seorang teman langsung berkomentar,
"Wah, ganteng juga ya."
Saya spontan tertawa.
Rasanya baru kali itu saya mendengar seseorang memuji
ketampanan seekor gajah dengan begitu serius.
Mahout yang mendampingi Verdy ternyata tak kalah menghibur. Saat kami bertanya namanya, ia menjawab singkat,
"Michael."
Kami sempat saling berpandangan. Beberapa detik kemudian ia menambahkan sambil tertawa,
"Michael... Rohman."
"Ya biar keren," katanya lagi.
Obrolan sederhana itu langsung mencairkan suasana.
Ternyata Setiap Gajah Punya Wajah Berbeda
Di sela-sela obrolan, saya mengaku kepada Pak Mad kalau saya
masih kesulitan membedakan satu gajah dengan gajah lainnya.
Buat saya, semuanya sama-sama menggemaskan.
Pak Mad kemudian menjelaskan bagaimana para mahout mengenali
masing-masing gajah. Bukan dari besar kecil tubuhnya, melainkan dari bentuk
wajah, posisi mata, lekuk dahi, bentuk belalai, hingga proporsi gadingnya.
Setelah puluhan tahun mendampingi mereka, para mahout bahkan bisa mengenali
perubahan kecil hanya dari cara seekor gajah berjalan atau ekspresi wajahnya.
Mendengar penjelasan itu, saya jadi paham mengapa hubungan
antara mahout dan gajah terasa begitu dekat.
Mereka bukan sekadar bekerja bersama. Mereka tumbuh bersama.
Saling mengenal. Dan saling menjaga.
| Gajah jantan mungkin lebih mudah untuk dibedakan jika dilihat dari bentuk gadingnya. Kalau muka, keliatannya sama semua 😂 [Dokumentasi pribadi 2016) |
Pak Mad lalu bercerita bahwa di kawasan konservasi ini terdapat sekitar 30 gajah jinak yang dirawat, ditambah sekitar 34 gajah patroli yang membantu menjaga kawasan Taman Nasional Way Kambas. Masing-masing memiliki nama, karakter, dan kisah hidupnya sendiri.
Bayi-bayi gajah tentu lebih mudah dikenali. Misalnya Jeremy yang saat itu baru berusia sekitar satu bulan, atau Nisa yang belakangan lebih sering muncul di media sosial. Namun bagi para mahout, membedakan gajah dewasa juga bukan hal yang sulit. Mereka tidak hanya hafal namanya, tetapi juga mengenali sifat masing-masing.
Hal itu terasa ketika saya memperhatikan cara para mahout berkomunikasi dengan gajahnya. Mahout Rizal berbicara lebih lembut kepada Yulia yang saat itu sedang mengandung. Sementara Mahout Rohman terdengar lebih tegas saat memanggil Verdy. Cara mereka berbicara berbeda, seolah masing-masing sudah tahu bahasa yang paling dipahami oleh gajah yang setiap hari mereka dampingi.
Melihat itu, saya jadi mengerti mengapa Pak Mad sejak awal berkali-kali mengatakan bahwa setiap gajah memiliki karakter yang berbeda. Dari luar mungkin sama-sama tampak seperti gajah Sumatera. Namun bagi para mahout, mereka adalah individu-individu yang sudah sangat akrab, masing-masing dengan kebiasaan dan sifatnya sendiri.
| Ada yang bisa membedakan dua gajah di foto ini? [Dokumentasi pribadi 2016) |
Disemprot Gajah Yulia di Way Kambas, Momen Kocar-Kacir yang Selalu Saya Ingat
Kalau ada satu momen yang paling sering kami ceritakan sepulang dari Way Kambas, jawabannya pasti saat bertemu Gajah Yulia.
Saat itu kami berdiri di dekat Yulia sambil mendengarkan Mahout Rizal bercerita. Sesekali beliau mengajak Yulia berbicara dengan nada pelan. Yulia pun berdiri tenang, seolah benar-benar menyimak.
Tidak ada yang terlihat mencurigakan.
Sampai saya melihat Pak Mad dan Mahout Rizal saling bertukar pandang.
Lalu...
Byur!
Semburan air dari belalai Yulia meluncur tepat ke arah kami.
Suasana di dekat bak air yang tadi tenang seketika berubah ricuh. Ada yang refleks menunduk, ada yang berteriak sambil tertawa, ada pula yang sudah pasrah karena bajunya telanjur basah.
Saya sendiri tidak sempat menghindar. Begitu airnya mengenai badan, yang keluar malah tawa.
Rupanya sejak tadi Pak Mad dan Mahout Rizal sudah bersekongkol. Kami baru menyadarinya setelah semuanya berakhir.
Anehnya, tidak ada yang protes. Justru semburan air dari belalai Yulia itulah yang paling sering muncul setiap kali kami mengenang perjalanan ke Way Kambas.
Foto-foto memang memenuhi galeri ponsel. Namun, kalau ditanya kenangan yang paling melekat, bukan foto yang pertama kali muncul di kepala saya, melainkan suara, "Byur!"
Video disemprot Gajah Yulia dapat ditonton pada Short berikut:
Sebelum meninggalkan kandang, saya melambaikan tangan ke
arah Verdy dan Yulia sambil berkata, "Dadah..."
Entah karena kebetulan atau memang mengikuti arahan mahout,
keduanya mengangkat belalai hampir bersamaan.
Saya terdiam beberapa detik. Pemandangan sederhana itu
terasa begitu hangat.
Beberapa bulan setelah perjalanan ini, tepatnya pada tanggal 4 Desember 2025, saya membaca kabar
bahwa Yulia telah melahirkan anak pertamanya, seekor gajah betina yang diberi
nama Heti. Saya langsung teringat siang itu, ketika Yulia membuat kami semua
basah kuyup sambil tertawa.
Selamat ya, Yulia.
Semoga Heti tumbuh sehat dan kelak menjadi bagian dari
harapan baru bagi kelestarian gajah Sumatera di Way Kambas.
![]() |
| Gajah Yulia sedang mengandung anak pertama. Pada tahun 2025 usianya 12 tahun. |
Peresmian nama Heti anak gajah Yulia dilaksanakan pada 9 Desember 2025.
Nama Heti merupakan pemberian Kapolres Lampung Timur AKBP Heti Patmawati, SH., S.I.K., M.M. Video acara peresemian nama Gajah Heti dapat ditonton pada Reels @btn_waykambas berikut ini:
Visitor Center Way Kambas dan Kerangka Gajah yang Menyimpan Banyak Cerita
Begitu melangkah masuk ke Visitor Center, mata saya langsung
tertuju ke sisi kiri ruangan.
Di sana berdiri sebuah kerangka gajah berukuran besar. Sulit
untuk tidak memperhatikannya. Bahkan sebelum kami sempat melihat-lihat isi
ruangan yang lain, Pak Mad sudah lebih dulu berjalan ke arahnya.
"Nah, ini..." katanya sambil menunjuk kerangka
tersebut.
Visitor Center menjadi tempat yang pas untuk memulai kunjungan ke Pusat Konservasi Gajah Way Kambas. Di dalamnya terdapat berbagai informasi mengenai satwa-satwa yang hidup di taman nasional, mulai dari gajah Sumatera, badak Sumatera, hingga satwa liar lainnya. Ada panel-panel edukasi, foto dokumentasi, koleksi konservasi, serta ruang audiovisual yang membantu pengunjung mengenal Way Kambas sebelum menjelajahi kawasan konservasi.
Namun siang itu, perhatian kami justru berhenti pada kerangka gajah tersebut.
![]() |
| Pak Ahmad Sakhroni dan kerangka gajah dari gajah yang mati di usia 18 tahun |
Pak Mad bercerita bahwa kerangka itu berasal dari seekor gajah berusia 18 tahun yang mati karena sakit. Kini kerangka tersebut dimanfaatkan sebagai media edukasi di Visitor Center agar pengunjung dapat mengenal anatomi gajah sekaligus belajar lebih banyak tentang konservasi.
Ada satu cerita yang menurut saya justru lebih menarik.
Pak Mad ternyata menjadi salah satu orang yang ikut menyusun kerangka gajah itu hingga berdiri seperti sekarang.
Proses penyusunannya
dikerjakan bersama Pak Nazzarudin, Catur Marsudi, Alfian Efendi, serta tiga
orang yang didatangkan dari Bali, yaitu Pak Aan, Saiful, dan Ansori.
Dari sini saya jadi tahu, kerangka sebesar itu tidak datang
begitu saja ke dalam ruangan. Ada orang-orang yang dengan sabar menyusun setiap
bagiannya hingga akhirnya menjadi sarana edukasi bagi ribuan pengunjung yang
datang ke Way Kambas.
Setelah mendengar cerita Pak Mad, saya tidak lagi melihat
kerangka itu sekadar sebagai pajangan di Visitor Center. Di baliknya ada kerja
keras banyak orang agar kisah seekor gajah tetap dapat menjadi bahan
pembelajaran bagi siapa saja yang datang berkunjung.
Sebelum keluar ruangan, saya sempat menoleh sekali lagi ke
arah kerangka itu.
Makan Siang Sebelum Berpisah
Keluar dari Visitor Center, kami akhirnya menyerah pada rasa lapar yang sejak tadi ditunda. Area kuliner di depan Pusat Konservasi Gajah siang itu cukup ramai. Teman-teman langsung mencari tempat duduk. Ada yang memesan pecel lele, pecel ayam, mie ayam, lengkap dengan es kelapa muda untuk melepas dahaga setelah berkeliling sejak siang.
Lucu juga. Sejak tadi kami sibuk memperhatikan gajah makan pisang. Sekarang giliran kami yang sibuk memilih menu makan siang.
Saya dan suami memilih duduk semeja dengan Pak Mad dan Mas Bio, sementara teman-teman yang lain mengobrol di meja sebelah. Obrolannya pun masih belum jauh dari Way Kambas. Dari gajah, lalu bergeser ke badak Sumatera ketika Mas Bio mulai bercerita tentang kesehariannya mendampingi satwa yang jauh lebih jarang ditemui pengunjung.
Saya lebih banyak mendengarkan. Sesekali ikut bertanya ketika ada hal yang membuat penasaran. Makan siangnya mungkin sederhana, tetapi obrolan di meja itu rasanya sulit dicari gantinya.
![]() |
| Pak Mad pelestari gajah dan putranya Mas Bio tim pelestari badak |
Tak terasa waktu terus berjalan. Kami harus segera berpamitan karena perjalanan masih panjang. Tiket kapal menuju Bakauheni sudah dipesan, dan kami tidak boleh terlambat. Setelah berfoto bersama, kami pun masuk ke mobil dan perlahan meninggalkan Way Kambas.
Sepanjang perjalanan menuju Bakauheni, obrolan kami masih sesekali kembali ke Way Kambas. Entah tentang Fitria, semprotan air Yulia, atau cerita-cerita Pak Mad yang sejak siang memenuhi kepala kami. Di antara semuanya, kisah seekor gajah berusia 18 tahun yang mati karena sakit, lalu kerangkanya kini menjadi media edukasi di Visitor Center, menjadi salah satu yang paling sulit saya lupakan.
Bertemu Fitria, Verdy, Yulia, dan gajah-gajah lainnya tentu menjadi bagian yang menyenangkan dari perjalanan ini. Namun, ada hal lain yang diam-diam ikut terbawa pulang: cerita-cerita dari para mahout dan orang-orang yang setiap hari menjaga satwa-satwa langka di Way Kambas.
Way Kambas Hari Ini
Kini, saat tulisan ini diterbitkan, Way Kambas mulai kembali menerima kunjungan wisatawan. Namun konsepnya berbeda. Kawasan ini dibuka secara terbatas sebagai wisata minat khusus yang lebih menekankan pengalaman konservasi dibanding wisata massal.
Rasanya memang cocok dengan cara saya menikmati Way Kambas. Saya datang bukan untuk mengejar satu gajah yang sedang ramai dibicarakan, melainkan untuk mendengar cerita-cerita yang mungkin tidak muncul di media sosial. Cerita tentang para mahout, tentang badak Sumatera, tentang kerangka gajah di Visitor Center, dan tentang banyak hal kecil yang justru membuat perjalanan terasa lengkap.
Sebenarnya ini bukan kali pertama saya merasakan pengalaman seperti itu. Beberapa tahun lalu saya juga pernah mengikuti kegiatan di Camp ERU Margahayu, sebuah camp yang menjadi basis Elephant Response Unit (ERU) di Taman Nasional Way Kambas.
Di sana saya tidak hanya bertemu gajah, tetapi juga melihat bagaimana para mahout dan tim konservasi menjalani keseharian mereka: mendampingi gajah patroli, menjaga kawasan, hingga hidup berdampingan dengan satwa liar. Saya bahkan pernah ikut memandikan gajah dan menyusuri kawasan konservasi bersama mereka. Dua pengalaman itu saya tulis lebih lengkap dalam artikel berikut.
- Lipur Hati di Lampung Timur
- Memandikan Gajah di Camp Eru Margahayu
Barangkali itu sebabnya, setiap kali kembali ke Way Kambas, yang paling saya tunggu bukan hanya pertemuan dengan satwanya, tetapi juga cerita-cerita baru dari orang-orang yang menjaganya setiap hari.
Selama ini, kalau ingin mengikuti cerita-cerita dari Way Kambas, saya biasanya mampir ke akun Instagram @btn_waykambas.
Dari sanalah saya mengenal lebih banyak penghuni taman nasional ini, bukan hanya gajah-gajah Sumatera, tetapi juga Badak Mirah, Delilah, Andatu, dan satwa liar lainnya yang jarang terlihat oleh pengunjung.
Tidak semua orang punya kesempatan sering datang ke Way Kambas. Untungnya, cerita tentang mereka tidak berhenti di dalam hutan. Lewat akun-akun resmi seperti ini, kita tetap bisa mengikuti kabar para satwa sekaligus belajar dari orang-orang yang setiap hari menjaganya. Kalau cerita-cerita itu kemudian dibagikan lagi, mungkin akan semakin banyak orang mengenal Way Kambas lewat sisi yang paling penting: konservasinya.
Saya merasa tidak pernah benar-benar selesai mengenal Way Kambas. Setiap kali sebuah cerita berakhir, selalu ada cerita lain yang ingin saya ikuti.
Mungkin suatu hari nanti saya akan kembali lagi. Bukan untuk mencari gajah yang sedang ramai dibicarakan, melainkan untuk melihat cerita apa yang sedang ditulis Way Kambas pada hari itu.
Di akhir tulisan ini, saya bagikan video kegiatan wisata minat khusus di Way Kambas saat ini. Semoga bisa memberi sedikit gambaran tentang bagaimana wisata dan konservasi berjalan berdampingan di sana.


.jpg)

.jpg)


.jpg)
.jpg)



.png)
.png)









.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

