"Maaaaas, kenapa ada alat PERISAI KEJANTANAN di sini???"
Pertanyaan itu spontan keluar dari mulut saya pagi-pagi.
Kaget, bingung, dan sedikit bergidik karena sungguh tak pernah terpikir akan
menemukan benda yang kemudian, demi kepentingan humor, saya beri berbagai nama:
Tameng Hidup, Benteng Intimasi, Armor Cinta, Pelindung Takdir, Penjaga
Generasi, sampai Barikade Nafsu. Wkwk.
Silakan pilih mana yang terdengar paling gagah.
Tapi kalau semua nama itu malah bikin bingung, ya sudah,
kita sebut saja dengan nama yang dipahami semua orang: KONDOM.
Tepatnya, kemasan kondom bekas. Kosong.
Bagaimana ceritanya benda itu bisa berada di kamar tempat
kami menginap?
Nah, sabar.
Pertama Kali ke Gresik
Tanggal 27 Februari 2024, saya dan suami berangkat dari BSD,
Tangerang Selatan, menggunakan mobil dan menyetir sendiri. Tujuan utama
perjalanan ini memang bukan liburan. Suami memiliki agenda kerja, sedangkan saya ikut menemaninya.
Perjalanan dibuat santai karena jadwal suami baru dimulai
keesokan harinya. Saking santainya, berangkat pagi dari BSD, kami baru tiba di
Gresik pukul 23.30 WIB. Tinggal setengah jam lagi sudah ganti tanggal. Untung
hotelnya masih di Gresik, bukan ikut berganti kota.
Malam itu Gresik terasa tenang. Sesekali truk-truk besar
melintas, mengingatkan bahwa kami sedang berada di kota industri. Memang bukan
kota yang langsung sibuk memamerkan tempat wisata di depan mata. Justru kesan
itulah yang saya suka. Rasanya seperti bertemu orang pendiam yang ternyata
menyimpan banyak cerita.
Menginap di Hotel Front One Gresik
Selama berada di Gresik, kami menginap di Front One Hotel Gresik yang berada di Jalan Veteran, salah satu ruas jalan utama di Gresik. Hotel ini memiliki beberapa pilihan kamar, mulai dari Superior, Deluxe, hingga Executive. Kami memilih kamar Deluxe Queen.
Tiba menjelang tengah malam membuat standar kebutuhan kami saat itu sebenarnya sederhana saja: kamar bersih, kasur nyaman, mandi, lalu tidur. Tidak ada energi tersisa untuk inspeksi ala hotel reviewer.
Kesan pertama cukup baik. Stafnya ramah. Saya juga suka mendengar bahasa dan intonasi Jawa yang mereka gunakan. Halus sekali. Rasanya seperti sedang disambut di lingkungan keraton. Bedanya, tidak ada prajurit membawa tombak. Yang ada resepsionis dengan senyum ramah.
Masuk ke kamar, kondisinya bersih dan cukup nyaman. Kamar Deluxe Queen yang kami tempati luasnya sekitar 20 meter persegi.
Tempat tidurnya nyaman, kamar mandinya lega, tersedia AC, televisi, air panas, perlengkapan mandi, air mineral, serta teko untuk membuat kopi atau teh. Fasilitas yang sebenarnya standar, tetapi justru itulah yang dibutuhkan setelah seharian di perjalanan.
Ada pula meja kecil di samping tempat tidur. Di atasnya diletakkan hospitality tray berisi air minum kemasan, teh, kopi, gula, dan dilengkapi dengan kettle.
Meja yang kelihatannya biasa saja.
Nampannya juga biasa saja.
Setidaknya, begitulah pikiran saya malam itu.
Besok paginya, pendapat saya tentang nampan itu sedikit berubah.
Tapi nanti kita sampai ke sana. 😄
Sarapan di Tengah Para Pekerja
Waktu pertama kali turun untuk sarapan, saya cukup kaget.
Ramai.
Pagi-pagi, area restoran yang menyatu dengan lobi dan resepsionis sudah dipenuhi tamu. Dari pakaian beberapa orang yang mengenakan wearpack, saya menduga sebagian adalah pekerja dari kawasan industri di sekitar Gresik, mungkin juga dari kawasan JIIPE Manyar.
Kebetulan, salah satu perusahaan yang beroperasi di kawasan itulah yang menjadi tujuan suami untuk bertemu dengan beberapa orang selama kunjungan kerja kali ini.
Melihat suasana pagi itu, saya jadi berpikir, jangan-jangan hotel ini memang cukup populer di kalangan tamu perjalanan bisnis dan pekerja industri. Saya datang menemani suami bekerja, lalu turun sarapan dan bertemu banyak orang dengan "seragam tempur" masing-masing. Bedanya, mereka siap berangkat ke lapangan. Saya siap menghadapi piring sarapan. Sama-sama perjuangan, hanya beda medan.
Nah, soal sarapan ini saya justru menemukan kejutan lain.
Tenang.
Bukan "kejutan" yang ada di bawah nampan itu.
Yang ini bisa dimakan. 🤣
Menu sarapannya cukup beragam dan terasa autentik. Ada Nasi Kemangi Teri, Oblok Daun Singkong, dan beberapa hidangan lain yang menjadi pengalaman kuliner baru buat saya. Beberapa bahkan belum pernah saya coba sebelumnya, dan ternyata saya menyukai cita rasanya.
Buat saya, keberanian menyajikan menu seperti ini menarik. Sebab, kadang menginap di hotel dengan kelas lebih tinggi pun sarapan paginya masih berputar-putar di lingkaran pertemanan yang sama: nasi goreng ketemu mi goreng, mi goreng ketemu nasi goreng.
Aman memang.
Tapi hidup juga butuh sedikit variasi, ye kan?
Makanya, menemukan Nasi Kemangi Teri dan Oblok Daun Singkong di meja sarapan menjadi kejutan kecil yang menyenangkan. Selain mengisi perut sebelum memulai aktivitas, saya sekalian bisa mencicipi rasa yang sebelumnya belum pernah saya kenal.
Dalam kondisi begitu, idealisme kuliner biasanya runtuh dengan sendirinya. Tidak perlu fine dining. Semangkuk mi instan panas dengan telur dan cabai rawit sudah cukup membuat hidup kembali terasa punya arah. 🤣
Fasilitas yang Praktis untuk Tamu Bisnis
Semakin lama menginap, saya merasa Front One Hotel Gresik memang menawarkan fasilitas yang lebih mengarah pada kebutuhan praktis tamu. Ada Wi-Fi, area parkir, lift, restoran, layanan resepsionis 24 jam, serta fasilitas pertemuan. Tidak ada kolam renang atau fasilitas rekreasi yang membuat kita tergoda menghabiskan waktu seharian di hotel, tetapi kebutuhan utama untuk beristirahat dan bekerja tersedia.
Buat kami yang datang karena urusan pekerjaan, justru itu yang dibutuhkan.
Ada lift juga. Kelihatannya sepele, sampai suatu hari kita harus menyeret koper ke lantai atas lewat tangga. Pada titik itu, keberadaan lift bisa terasa seperti salah satu pencapaian terbaik peradaban manusia.
Secara keseluruhan, pengalaman menginap kami cukup nyaman. Kamar bersih, tidur nyaman, kamar mandi lega, sarapan menyenangkan, dan internet bisa diandalkan. Hal-hal sederhana yang justru paling dibutuhkan ketika sedang bepergian.
Sampai di sini semuanya berjalan normal.
Hotel nyaman. Sarapan enak. Wi-Fi lancar.
Tidak ada yang aneh.
Sampai keesokan paginya, saya mengangkat nampan berisi teko dan gelas yang sejak malam sebelumnya berada di sana.
Dan...
Nah.
Di situlah cerita tentang Perisai Kejantanan yang saya sebut di awal artikel benar-benar dimulai. 🤣
Sebuah Temuan Tak Terduga
Karena tiba larut malam, kami langsung beristirahat.
Esok paginya saya mulai merapikan barang bawaan dan menata
perlengkapan kerja suami. Di kamar hanya ada satu meja kecil di samping tempat
tidur. Di atasnya diletakkan nampan berisi teko, dua gelas, serta air minum
kemasan yang disediakan hotel.
Kebetulan meja itu akan kami gunakan untuk meletakkan laptop
dan perlengkapan kerja. Jadi, nampannya saya angkat untuk dipindahkan.
Nah, inilah detik-detik saya menemukan sesuatu yang tak
terduga.
Begitu nampan diangkat, ada satu benda tergeletak di bawahnya. Warnanya cukup mencolok sehingga langsung terlihat.
Tiga bungkus kondom! Sebungkus kemasan kondom bekas, dua bungkus belum terpakai.
Saya langsung melongo.
"Hah... apa itu?"
Awalnya saya pikir mata belum sepenuhnya login karena
baru bangun tidur. Saya mendekat lagi. Dilihat sekali. Dua kali.
Ternyata benar.
Suami yang saat itu sedang bersiap mengajak sarapan langsung
saya panggil.
"Maaaaas, kenapa ada alat PERISAI KEJANTANAN di
sini???"
Suami cuma menjawab kalem, "Ya udah, buang saja.
Bersihkan mejanya pakai tisu basah. Terus cuci tangan."
Begitulah suami saya. Bukan tipe orang yang mudah ngegas.
Sedangkan saya beda lagi. Buang, bersihkan, lalu selesai
rasanya belum cukup. Bukan karena ingin memperpanjang masalah, tetapi menurut
saya kejadian seperti ini perlu disampaikan supaya tidak terulang kepada tamu
berikutnya.
Tak lama kemudian saya menghubungi pihak hotel. Respons
mereka cepat dan baik. Mereka langsung meminta maaf sekaligus berterima kasih
karena sudah diberi tahu.
Setelah dipikir-pikir, mungkin memang ada dua kelalaian yang
bertemu di pagi itu. Ada seseorang yang meninggalkan sesuatu di tempat yang
bukan semestinya, lalu ada nampan yang terlalu setia berdiri di tempatnya
sampai bagian bawahnya luput saat kamar dibersihkan.
Namanya manusia, kelalaian bisa terjadi.
Yang saya apresiasi, pihak hotel menerima laporan tersebut
dengan terbuka dan meresponsnya secara profesional. Bagi saya, itu yang
penting. Ketika ada sesuatu yang kurang tepat, disampaikan baik-baik, diterima
baik-baik, lalu dijadikan evaluasi.
Karena itulah pengalaman ini saya tulis. Bukan untuk
menyalahkan atau menjelekkan siapa pun. Setiap perjalanan memang selalu punya
cerita yang tidak direncanakan, dan kebetulan perjalanan pertama ke Gresik
memberi satu cerita yang level kejutannya agak berbeda.
Untung yang tertinggal cuma kemasannya.
Kalau yang tertinggal masih lengkap isinya....
Sudahlah. Imajinasi punya batas. Saya memilih berhenti di
situ.
Di luar kejadian tersebut, pengalaman menginap di Hotel
Front One Gresik tetap berjalan nyaman.
![]() |
| Hospitality tray. Masih di posisi semula, sebelum diangkat dan mengungkap sesuatu yang tak terduga di bawahnya. |
Bahagia Bertemu Sahabat Lama
Kalau ada bagian yang paling menghangatkan hati selama
berada di Gresik, jawabannya adalah bertemu teman-teman sesama blogger.
Salah satunya Mbak Zulfa, pemilik blog Emak Mbolang. Kami
sudah saling mengenal cukup lama, bahkan pernah melakukan perjalanan bersama
selama sembilan hari di Maluku Utara.
Sudah lama tidak bertemu, tetapi begitu berjumpa rasanya
seperti melanjutkan obrolan yang hanya sempat dijeda, bukan diakhiri. Cerita
mengalir begitu saja, diselingi tawa dan kenangan perjalanan dulu.
Yang membuat saya semakin senang, Mbak Zulfa datang ke hotel
sampai dua kali. Pertama pada 28 Februari, kemudian datang lagi pada 1 Maret,
sehari sebelum kami meninggalkan Gresik menuju Surabaya dan lanjut ke Kediri.
Dibawakan makanan pula.
Masya Allah.
Padahal saya tidak membawa apa-apa untuk Mbak Zulfa. Beliau
malah datang berkali-kali membawa makanan. Saya mulai curiga, jangan-jangan
wajah saya memang terlihat seperti orang yang belum makan sejak berangkat dari
BSD ha ha ha.
Mungkin beginilah bentuk persahabatan yang usianya sudah
panjang. Tidak banyak basa-basi, tidak perlu acara yang dibuat-buat. Datang,
mengobrol, tertawa, lalu pulang sambil meninggalkan rasa bahagia.
Sederhana, tetapi membahagiakan.
Terima kasih, Mbak Zulfa.
![]() |
| Blogger Gresik. Kiri: Septi. Kanan: Mbak Zulfa |
Dari Instagram Story, Akhirnya Bertemu Septi
Rasa hangat itu ternyata belum selesai.
Selama di Gresik saya sempat mengunggah beberapa Instagram Story. Rupanya story itu dilihat oleh Septi, seorang blogger yang tinggal di Gresik. Kami sama sekali tidak membuat janji sebelumnya. Tak lama kemudian ia menghubungi dan mengajak bertemu.
Tanggal 29 Februari, Septi datang ke hotel.
Membawa cake dan roti.
Jujur, saya senang sekali.
Kami belum pernah bertemu sebelumnya. Di media sosial pun tidak sering mengobrol. Tapi semangatnya untuk datang menemui saya benar-benar terasa. Septi masih muda, ramah, manis, dan menyenangkan diajak mengobrol.
Yang paling membuat saya tersentuh justru satu hal.
Ternyata dia mengenal saya lebih banyak daripada saya mengenalnya.
Kadang tanpa kita sadari, ada orang yang mengikuti perjalanan kita, membaca tulisan yang kita bagikan, lalu menyimpan kesan tertentu di hatinya. Kita mungkin tidak tahu siapa mereka sampai suatu hari ada kesempatan untuk bertemu.
Begitulah rasanya ketika bertemu Septi.
![]() |
| Cake cantik dari Septi |
Mencicipi Kuliner Ayam Bakar Pak D di Gresik
Di sela agenda suami, kami sempat keluar untuk mencari makan. Pilihan kami jatuh pada Ayam Bakar Pak D cabang Jalan Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Kebomas, Gresik.
Namanya memang Ayam Bakar Pak D, tetapi pilihan menunya rupanya tidak berhenti pada ayam saja. Ada ayam, bebek, hingga aneka ikan dengan beberapa pilihan olahan. Kami sendiri malah memesan gurami dan bebek bumbu rujak. Ayamnya? Tidak dipesan. Begitulah manusia kalau sudah berhadapan dengan daftar menu. Niat awal kadang tidak punya kekuatan hukum tetap. 😄
Kedua menu yang kami pesan cocok di lidah. Apalagi disantap saat sedang lapar-laparnya. Gurami dan bebek bumbu rujak menjadi teman makan yang menyenangkan sekaligus salah satu pengalaman kuliner yang kami nikmati selama berada di Gresik.
Mampir ke Ayam Bakar Pak D juga menjadi kesempatan untuk menikmati waktu santai berdua di sela urusan pekerjaan. Perjalanan ke Gresik kali ini memang bukan agenda khusus wisata kuliner. Tidak ada daftar panjang tempat makan yang harus didatangi satu per satu, apalagi target lima tempat makan sehari. Perut juga punya jam kerja.
Buat saya, mengenal sebuah kota memang tidak selalu harus dimulai dari tempat wisatanya. Kadang perkenalan itu terjadi begitu saja di meja makan. Lewat sepiring nasi hangat, lauk yang baru datang, dan obrolan tentang agenda berikutnya yang entah kenapa selalu terasa lebih ringan setelah perut kenyang.
Namanya juga perjalanan sambil menemani suami bekerja. Target utamanya memang bukan berburu kuliner. Tapi kalau di sela-selanya bertemu makanan enak, masa iya harus ditolak? Itu bukan menyimpang dari agenda. Anggap saja bagian dari riset lapangan. 😄
Bekerja dari Kamar Hotel
Tanggal 29 Februari, hampir seharian saya berada di kamar
hotel karena harus menjadi pembicara dalam sebuah pertemuan melalui Zoom. Sejak
pagi sudah bersiap, sementara suami berangkat visit ke site untuk
menemui timnya yang sedang bertugas.
Rasanya cukup unik. Baru pertama kali datang ke sebuah kota,
tetapi sebagian hari justru dihabiskan bekerja dari kamar hotel.
Untung koneksi Wi-Fi di hotel berjalan lancar. Acara Zoom
bisa berlangsung tanpa kendala. Dalam kondisi seperti ini, barulah terasa
betapa Wi-Fi yang stabil kadang jauh lebih membahagiakan daripada pemandangan
kamar yang Instagramable.
Sempat Mampir ke Hotel ASTON Gresik
Di sela kegiatan, kami juga sempat mampir ke Hotel ASTON Gresik. Tujuannya bukan untuk menginap, melainkan karena suami ingin melihat langsung lokasi sekaligus memesan tempat untuk kegiatan seminar dan pelatihan yang rencananya akan diadakan pada kunjungan berikutnya.
Jadi, kunjungan ke ASTON kali ini semacam survei kecil-kecilan. Lihat tempat, cek kebutuhan acara, sekaligus memastikan semuanya cocok untuk kegiatan nanti. Kalau rencana itu terlaksana, kemungkinan besar kami akan kembali lagi ke Gresik dan mungkin sekalian menginap di sana.
Berarti, boleh jadi perjalanan pertama ini bukan sekaligus yang terakhir. Masih ada kemungkinan datang lagi ke Gresik dengan agenda berbeda dan menginap di tempat yang berbeda pula.
Siapa tahu, pada kunjungan berikutnya saya punya lebih banyak waktu untuk melihat sisi lain Gresik yang belum sempat dijelajahi kali ini. Sebab selama perjalanan pertama ini, waktu kami memang lebih banyak mengikuti agenda pekerjaan. Jadi, rasanya masih banyak bagian dari Gresik yang belum sempat saya kenal.
Oleh-Oleh Terbaik dari Gresik
Tanggal 2 Maret pagi, sekitar pukul enam, kami check out dan meninggalkan Gresik untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya, kemudian ke Pare, Kediri, sebelum akhirnya kembali ke BSD, Tangerang Selatan.
Kalau mengingat perjalanan pertama ini, tentu saya masih ingat kemasan kondom yang sempat membuat bengong di pagi pertama. Bagaimana tidak? Itu pengalaman yang bahkan tidak pernah masuk dalam daftar hal-hal yang mungkin saya temukan di kamar hotel. 😄
Tapi perjalanan ke Gresik tentu bukan hanya tentang kejadian itu. Ada Mbak Zulfa yang sampai dua kali datang menemui saya, Septi yang berawal dari melihat Instagram Story lalu menyempatkan diri datang ke hotel, obrolan-obrolan yang membuat waktu terasa cepat, gurami bakar dan bebek bumbu rujak yang kami nikmati di Ayam Bakar Pak D, serta hari-hari sederhana menemani suami bekerja di kota yang baru pertama kali saya datangi.
Ternyata perjalanan memang seperti membaca sebuah novel. Ada bagian yang mengejutkan, ada yang membuat tertawa, dan ada bagian-bagian sederhana yang justru paling lama tinggal dalam ingatan.
Begitu juga dengan perjalanan pertama saya ke Gresik.
Kejutan itu hanya satu halaman. Selebihnya adalah cerita tentang pertemuan, persahabatan, dan orang-orang baik yang membuat kota yang tadinya asing terasa lebih dekat.
Dan itulah oleh-oleh terbaik yang saya bawa pulang dari Gresik.
Sampai bertemu lagi.

.png)


.png)

.png)
.jpg)

.jpg)
.png)


.png)



.png)


.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)









.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)

.png)
.png)
.jpg)
.png)
.png)
.jpg)

.jpg)

.png)
.png)
.png)