Travel

Hotel

Culinary

Recent Posts

ROG Zephyrus Duo GX651: Laptop Gaming Dual-Screen OLED Pertama dan Satu-Satunya di Dunia, Duo It All

Dua bulan lalu, tepatnya Rabu, 17 Juni 2026, ASUS ROG resmi meluncurkan ROG Zephyrus Duo (GX651) di Bengkel Space SCBD, Jakarta. Ini bukan laptop gaming biasa, melainkan laptop gaming dual-screen OLED pertama dan satu-satunya di dunia yang hadir dengan dua layar 16 inci identik. 

Saya hadir langsung saat peluncurannya. Dan jujur, dari pertama melihatnya saja saya sudah cukup terkesima dengan pesona si Zephyrus Duo yang mengusung tagline “Duo It All” ini.

Bagaimana tidak? Dari tampilannya yang premium, dua layar OLED-nya, spesifikasinya, jeroannya yang ternyata luar biasa, sampai harganya yang mencapai Rp129.799.000,- semuanya terasa seperti ASUS ROG sedang bilang, “Kalau mau bikin laptop gaming, sekalian saja bikin yang benar-benar beda.”

Dan memang itulah yang terasa dari Zephyrus Duo. ASUS ROG tidak sekadar menyatukan spesifikasi kelas atas ke dalam sebuah laptop gaming, tetapi juga menghadirkan desain eksklusif, pengalaman multi-screen, dan performa tinggi dalam satu perangkat. Hasilnya adalah sebuah laptop yang terasa punya karakter dan kelasnya sendiri.

Apalagi Zephyrus Duo ini hadir sebagai salah satu inovasi unggulan ROG tahun ini, bertepatan dengan 20 tahun perjalanan ROG di dunia gaming. Jadi memang bukan cuma soal laptop gaming dengan spek tinggi. Ada teknologi, engineering, dan hasil R&D yang membuat perangkat ini terasa jauh lebih dari sekadar laptop gaming biasa. 

Nah, saya yakin bukan cuma saya yang kemudian penasaran: seperti apa sih rasanya melihat dan mencoba langsung laptop gaming dengan dua layar OLED seperti ini?

Saya sudah beruntung bisa mencobanya saat launching.

Tapi buat para ROGers yang waktu itu belum sempat datang, tenang, sekarang nggak perlu menunggu ASUS bikin acara lagi. Nggak perlu juga datang ke kantor ASUS.

Tinggal mampir ke ROG Corner Plus Mangga Dua Mall by Agres.

Di sana, ROG Zephyrus Duo bisa dilihat dan di-hands-on langsung mulai 10 Agustus sampai 10 Oktober 2026. Jadi ada waktu yang cukup terbatas buat kamu yang penasaran ingin melihat langsung seperti apa inovasi terbaru ROG ini, mulai dari dua layar OLED-nya sampai berbagai mode penggunaannya.

Dan menurut saya, kesempatan seperti ini sayang untuk dilewatkan. Karena ada produk yang cukup kita lihat dari foto dan membaca spesifikasinya. Tapi untuk Zephyrus Duo, rasanya baru benar-benar bisa paham kenapa laptop ini begitu spesial setelah melihat, memegang, dan mencoba sendiri.

Cerita dari momen launching ROG Zephyrus Duo bulan Juni lalu dapat dilihat pada postingan IG yang saya sematkan berikut: 


Bukan Sekadar Laptop Gaming, Ini Duo It All

Kalau dilihat sekilas, mungkin yang paling gampang membuat orang berhenti dan memperhatikan ROG Zephyrus Duo adalah dua layar yang dimilikinya. Tapi setelah melihat lebih dekat, ternyata bukan cuma jumlah layarnya yang menarik.

Zephyrus Duo hadir dengan dua layar 16 inci identik yang sama-sama menggunakan panel OLED 3K (WQXGA+) touchscreen, dengan refresh rate 120Hz dan response time 0,2ms. Jadi layar keduanya bukan sekadar layar tambahan yang kualitasnya dibuat “seadanya”. ASUS justru membuat kedua layar ini memiliki kualitas yang setara, sehingga bisa digunakan bersama-sama sebagai satu area kerja yang jauh lebih luas.

Buat saya, di sinilah konsep “Duo It All” mulai terasa.

Coba bayangkan sedang mengedit video. Layar utama bisa digunakan untuk melihat hasil editing, sementara layar satunya dipakai untuk timeline dan berbagai tools. Atau saat bekerja sambil browsing, satu layar bisa berisi dokumen yang sedang dikerjakan, sementara layar lainnya menampilkan referensi. Bahkan saat gaming pun layar kedua bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lain tanpa harus menutup permainan yang sedang berjalan.

Jadi, dua layar ini bukan sekadar untuk membuat Zephyrus Duo terlihat berbeda. Memang ada tambahan ruang kerja yang bisa dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Dan buat orang yang terbiasa multitasking, tambahan ruang seperti ini bisa terasa sangat berarti.

Apalagi kedua layarnya sudah menggunakan teknologi Flexible/Bent OLED. ASUS merancang bagian bawah panel dengan sirkuit yang ditekuk ke belakang bodi secara presisi sehingga jarak antara kedua layar dapat dibuat sangat minim. Keduanya juga dilapisi Corning Gorilla Glass DXC, mendukung touchscreen dan stylus, serta memiliki lapisan anti-reflektif untuk membantu mengurangi pantulan cahaya.

Jadi ketika kedua layar ini terbuka, tampilannya bukan seperti laptop yang ditempeli monitor tambahan. Rasanya memang seperti satu perangkat dengan dua bidang kerja yang sengaja dirancang untuk bekerja berdampingan.

Dan ternyata, ASUS tidak berhenti sampai di situ.

Karena kalau dua layar saja sudah menarik, cara menggunakan keduanya juga dibuat fleksibel. Berkat mekanisme engsel yang dapat bergerak hingga 320 derajat dan detachable magnetic keyboard, Zephyrus Duo bisa digunakan dalam lima mode berbeda.

Nah, bagian ini yang menurut saya menarik untuk dilihat langsung ketika hands-on di ROG Corner Plus. Karena dari kelima mode inilah baru kelihatan bahwa Zephyrus Duo memang bukan sekadar laptop gaming dengan layar kedua, tetapi sebuah perangkat yang bisa berubah mengikuti kebutuhan penggunanya.

Sebelum hands-on di ROG Corner Plus Mangga Dua Mall, saya pernah hands-on lebih awal di momen launching, seperti yang terlihat pada foto carousel IG yang saya sematkan berikut: 

 

Laptop Mode

Yang pertama tentu saja Laptop Mode.

Dalam mode ini, Zephyrus Duo tampil seperti laptop pada umumnya. Keyboard magnetiknya terpasang dan perangkat bisa digunakan untuk berbagai aktivitas sehari-hari seperti mengetik, bekerja, browsing, meeting online, atau mengerjakan tugas.

Mode ini mungkin yang paling familiar dan paling gampang digunakan. Tinggal buka laptop, pasang keyboard, lalu bekerja seperti biasa.

Tapi menariknya, ketika kebutuhan berubah dan kita merasa satu layar saja tidak cukup, kita tinggal mengubah konfigurasinya. Jadi tidak harus terus-menerus menggunakan dua layar kalau memang sedang tidak dibutuhkan.

Buat saya, ini justru penting. Karena secanggih apa pun sebuah laptop, kalau pengguna dipaksa mengikuti bentuk dan cara kerja perangkat, lama-lama malah terasa merepotkan. Di Zephyrus Duo, kita yang menentukan mau menggunakannya seperti apa.


Dual-Screen Mode

Kemudian ada Dual-Screen Mode, yang bisa dibilang sebagai mode paling ikonik dari Zephyrus Duo.

Di sinilah kedua layar OLED 16 inci tersebut benar-benar digunakan secara bersamaan. Ruang kerja menjadi lebih luas dan kita bisa menempatkan berbagai aplikasi atau informasi di dua layar sekaligus.

Untuk content creator, misalnya, layar utama bisa digunakan untuk melihat canvas atau preview video, sementara layar kedua menampilkan timeline, tools editing, atau aplikasi pendukung. Untuk pekerjaan kantor, satu layar bisa digunakan untuk dokumen sementara layar lainnya untuk membuka referensi atau melakukan riset.

Bahkan untuk kebutuhan gaming, konsepnya juga menarik. Layar utama bisa digunakan untuk bermain, sementara layar kedua dapat dimanfaatkan untuk melihat chat, streaming, monitoring, atau informasi lain yang ingin tetap terlihat tanpa harus berpindah-pindah window.

Satu laptop, dua layar, lebih banyak yang bisa dilakukan dalam waktu bersamaan.

Dan menurut saya, ini alasan paling sederhana kenapa konsep “See More, Do More” pada Zephyrus Duo memang masuk akal.


Sharing Mode

Berikutnya ada Sharing Mode.

Sesuai namanya, mode ini menarik ketika laptop sedang tidak digunakan sendirian. Misalnya saat sedang berdiskusi dengan teman atau rekan kerja, memperlihatkan hasil desain, presentasi, foto, maupun video kepada orang yang duduk berseberangan.

Dengan konfigurasi layar seperti ini, pengalaman berbagi tampilan menjadi lebih fleksibel. Tidak perlu semua orang berdesakan melihat satu layar dari sisi yang sama.

Saya membayangkan mode seperti ini akan cukup berguna ketika sedang berada dalam situasi kolaboratif. Misalnya dua orang sedang membahas sebuah desain atau presentasi, dan masing-masing ingin melihat tampilan dari posisi duduk yang berbeda.

Jadi, dua layar pada Zephyrus Duo ternyata tidak hanya berguna untuk “saya bisa melihat lebih banyak”, tetapi juga bisa digunakan ketika “kita ingin melihat bersama.”



Book Mode

Selanjutnya ada Book Mode, dengan posisi kedua layar yang menyerupai bentuk buku.

Mode ini terasa menarik untuk aktivitas yang memang membutuhkan dua bidang tampilan yang saling berdampingan. Misalnya membaca sekaligus melihat referensi, membandingkan dua dokumen, atau membuka dua sumber informasi tanpa harus terus berpindah tab.

Buat saya yang banyak berkutat dengan tulisan dan konten, konfigurasi seperti ini cukup menarik. Misalnya ketika sedang menyusun artikel, satu sisi bisa digunakan untuk membaca bahan referensi sementara sisi lainnya untuk menulis atau mencatat poin-poin penting.

Atau kalau sedang melakukan riset perjalanan, satu layar bisa menampilkan informasi destinasi sementara layar lainnya digunakan untuk mencatat itinerary.

Dengan kata lain, Book Mode memberikan cara lain untuk memanfaatkan dua layar tersebut secara lebih natural, terutama untuk aktivitas yang membutuhkan dua tampilan sekaligus.



Tent Mode

Dan terakhir ada Tent Mode.

Pada mode ini, Zephyrus Duo diposisikan menyerupai sebuah tenda. Konfigurasi seperti ini cocok ketika kita lebih membutuhkan layar untuk dilihat daripada keyboard untuk digunakan.

Misalnya saat ingin menikmati video, menampilkan konten kepada orang lain, melihat presentasi, atau ketika laptop diletakkan di meja dengan ruang yang terbatas.

Tent Mode juga menarik ketika kita ingin membuat layar lebih mudah terlihat dari arah tertentu tanpa harus menggunakan laptop dalam posisi terbuka seperti biasanya.

Kelihatannya sederhana, tetapi justru di sini saya merasa fleksibilitas Zephyrus Duo cukup terasa. Laptop tidak selalu harus diperlakukan sebagai laptop. Ketika kebutuhan berubah, bentuknya pun bisa ikut berubah.

Dan kelima mode inilah yang menurut saya membuat tagline “Duo It All” terasa bukan sekadar slogan. Kita mendapatkan satu perangkat yang bisa digunakan dengan cara berbeda sesuai situasi, mulai dari konfigurasi laptop biasa, bekerja dengan dua layar, berbagi tampilan, sampai mengubah posisi perangkat menjadi Book maupun Tent Mode.

Semua itu dimungkinkan oleh mekanisme engsel hingga 320 derajat serta keyboard magnetik yang bisa dilepas-pasang.



Jeroannya Juga Nggak Main-Main

Kalau cuma mengandalkan dua layar, rasanya kurang pantas kalau ROG Zephyrus Duo dibanderol di kelas harga Rp129.799.000. Untungnya, ASUS tidak bermain-main dengan bagian dalamnya. Justru di sinilah kita bisa melihat bahwa konsep Duo It All bukan hanya soal tampilan yang unik, tetapi juga soal performa yang memang disiapkan untuk menangani pekerjaan-pekerjaan berat.

Untuk dapur pacunya, ROG Zephyrus Duo menggunakan Intel Core Ultra 9 386H dengan 16 core dan 16 thread, dipadukan dengan NVIDIA GeForce RTX 5090 Laptop GPU 24GB GDDR7. RAM-nya juga sudah 64GB LPDDR5X 8533, sementara penyimpanannya menggunakan 2TB M.2 NVMe PCIe 5.0 Performance SSD.

Jadi kalau laptop ini diajak bermain game, tentu bukan perkara. Tapi kemampuan Zephyrus Duo sebenarnya jauh lebih luas. Kombinasi prosesor dan GPU kelas atas ini memang disiapkan untuk kebutuhan seperti gaming, content creation, rendering, sampai pekerjaan berbasis AI.


Dan bicara soal AI, ada satu komponen yang menarik perhatian: NPU hingga 50 TOPS yang sudah terintegrasi di Intel Core Ultra 9 386H. NPU ini dirancang untuk menangani beban kerja AI secara lokal dengan lebih efisien, sehingga pekerjaan AI tidak harus selalu dibebankan ke CPU atau GPU.

ASUS bahkan menyebut kombinasi NPU tersebut dengan RTX 5090 Laptop GPU mampu menghasilkan Total Platform Performance hingga 1.874 TOPS. Dalam praktiknya, kemampuan ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai pekerjaan AI lokal, AI-assisted editing, rendering, hingga melakukan scrubbing video 8K secara real-time.

Buat saya, ini yang membuat Zephyrus Duo menarik. Laptop gaming-nya iya, tetapi kemampuannya tidak berhenti di gaming. Kalau sedang tidak bermain game, tenaga sebesar ini bisa dimanfaatkan untuk pekerjaan kreatif maupun berbagai kebutuhan produktivitas yang membutuhkan performa tinggi.

Apalagi dengan dua layar yang tadi sudah kita bahas, rasanya memang ada alasan mengapa ASUS menyebutnya sebagai perangkat untuk “See More, Do More.” Layar yang luas memberikan ruang kerja, sementara hardware di dalamnya menyediakan tenaga untuk mengerjakan berbagai workload berat.


Tapi kemudian muncul pertanyaan berikutnya: kalau performanya segede ini, panasnya bagaimana?

Kencang Boleh, Panas Jangan

Ini bagian yang menurut saya justru menarik dari engineering Zephyrus Duo.

Laptop dengan prosesor dan GPU kelas atas tentu menghasilkan panas. Dan pada Zephyrus Duo, ada tantangan tambahan karena ASUS harus sekaligus menjaga dua panel OLED yang berada dalam satu perangkat. Jangan sampai performa tinggi dari komponen internal malah menjadi masalah bagi layar kedua.

Karena itu ASUS membekali Zephyrus Duo dengan ROG Intelligent Cooling. Sistem ini mengombinasikan Liquid Metal pada prosesor Intel, Vapor Chamber berukuran luas, serta Graphite Nano Insulated Sheet yang menjadi salah satu bagian penting dari sistem pendinginannya.

Graphite Nano Insulated Sheet ini menarik karena fungsinya bukan sekadar membantu membuang panas. Lembaran insulasi nano-grafit tersebut ditempatkan di antara motherboard dan panel OLED bagian bawah sebagai tameng termal dua arah. Panas dari komponen internal disebarkan secara horizontal sehingga tidak terkonsentrasi langsung pada panel OLED yang sensitif terhadap panas.

Jadi di balik desain dua layar yang kelihatannya simpel ketika kita lihat dari luar, ternyata ada persoalan engineering yang cukup rumit di dalamnya.

Bagaimana membuat dua layar 16 inci bisa berada dalam satu laptop? Bagaimana membuatnya bisa dilipat dengan mekanisme engsel hingga 320 derajat? Bagaimana memasukkan prosesor dan GPU kelas flagship? Dan bagaimana semuanya tetap bekerja stabil dalam bodi yang relatif compact?

 

Nah, dari sini saya mulai paham kenapa ROG Zephyrus Duo terasa lebih dari sekadar “laptop gaming yang kebetulan punya dua layar.”

Ada banyak R&D yang bekerja di baliknya.

Dan justru hal-hal seperti inilah yang tidak selalu kelihatan hanya dari foto produknya.

Laptop Premium, Layanan Juga Premium

Kalau sudah bicara laptop dengan harga Rp129.799.000, tentu urusan setelah membeli juga tidak kalah penting. Karena membeli perangkat di kelas ini bukan sekadar soal mendapatkan spesifikasi tinggi, tetapi juga soal rasa aman ketika menggunakannya dalam jangka panjang.

Untuk ROG Zephyrus Duo, ASUS memberikan 2 tahun International Warranty sekaligus 2 tahun ASUS VIP Perfect Warranty yang mencakup perlindungan terhadap kerusakan akibat kelalaian pengguna. Jadi ada perlindungan tambahan yang cukup penting untuk sebuah perangkat yang memang masuk kategori investasi premium.

 

Selain garansi, pengguna ROG juga mendapatkan fasilitas ASUS Premium Service. Ada layanan Free Round-Trip Shipping untuk wilayah yang jauh dari pusat servis, Laptop Spa untuk perawatan dan pembersihan komponen secara berkala, serta FastLane Priority Handling untuk antrean prioritas di ASUS Service Center.

Buat saya, layanan seperti ini cukup penting. Karena secanggih dan sekencang apa pun sebuah laptop, tetap saja kita ingin punya ketenangan ketika menggunakannya sehari-hari. Apalagi kalau perangkat tersebut menjadi andalan untuk bekerja, membuat konten, bermain game, atau mengerjakan berbagai pekerjaan berat.

 

Jadi, kalau dari awal Zephyrus Duo sudah menawarkan hardware kelas flagship dan engineering yang serius, ASUS juga melengkapinya dengan perlindungan dan layanan purnajual yang sepadan.

Promo bundling ROG SLASH Hard-Case Luggage Edition 20

Oh iya, ada satu lagi yang menarik buat yang memang sudah mengincar ROG Zephyrus Duo. Selama persediaan masih ada, setiap pembelian ROG Zephyrus Duo juga mendapatkan promo bundling berupa ROG SLASH Hard-Case Luggage Edition 20

Nilainya sekitar Rp3–4 jutaan dan yang membuatnya semakin menarik, luggage ini tidak dijual untuk umum di Indonesia. Koper ini memang dibawa secara resmi ke Indonesia khusus untuk para pemilik ROG Zephyrus Duo.

Jadi, selain mendapatkan laptop gaming dengan dual-screen OLED yang unik, pembeli juga mendapatkan luggage eksklusif yang memang dibuat untuk melengkapi pengalaman memiliki perangkat flagship ROG ini.

 
Nah, Tinggal Datang dan Coba Sendiri

Setelah melihat semua yang ditawarkan ROG Zephyrus Duo, saya rasa ada satu hal yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh foto, video, maupun membaca spesifikasinya, yakni: mencobanya langsung.

Karena ketika melihat dua layar OLED 16 inci yang identik, mencoba mengubahnya ke berbagai mode, merasakan keyboard magnetiknya, dan melihat sendiri bagaimana perangkat ini bekerja, barulah konsep “Duo It All” terasa lebih nyata.

Dan kabar baiknya, untuk yang penasaran, sekarang tidak perlu menunggu ASUS mengadakan event lagi.

ROG Zephyrus Duo sudah bisa kamu lihat dan hands-on langsung di ROG Corner Plus Mangga Dua Mall by Agres, dalam periode display terbatas mulai 10 Agustus hingga 10 Oktober 2026.




 



Jadi kalau selama ini cuma melihat Zephyrus Duo dari foto atau video dan masih penasaran seperti apa rasanya menggunakan laptop dengan dua layar OLED ini, mumpung masih ada kesempatan, datang saja dan coba sendiri.

Siapa tahu setelah melihat langsung, kamu akan mengerti kenapa ASUS ROG tidak sekadar membuat laptop gaming dengan layar tambahan.

Mereka membuat sebuah perangkat yang memang dirancang untuk Duo It All.

ROG Zephyrus Duo GX651.
See More. Do More. Duo It All.


Untuk informasi dan spesifikasi lengkap ROG Zephyrus Duo GX651, kamu bisa melihatnya di halaman resmi ASUS ROG:

ROG Zephyrus Duo 2026 — Official Product Page


Menginap di Swiss-Belresidences Kalibata Pakai Voucher yang Nyaris Kedaluwarsa

Review Hotel Swiss-Belresidences Kalibata

Staycation di Swiss-Belresidences Kalibata pada akhir April ini awalnya bukan sesuatu yang sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari. Ada dua voucher menginap yang masa berlakunya sama, sampai penghujung April 2026. Sebetulnya lagi enggak pengin nginap, tapi kalau vouchernya sampai hangus kok sayang, ya. Ya udah deh, akhirnya dipakai. Walaupun sudah benar-benar mepet.

Satu malam saja. Tapi ternyata, ada saja hal-hal kecil yang membuat malam itu tidak berjalan persis seperti yang dibayangkan.

 

Sebetulnya saya memang hampir lupa kalau punya voucher menginap di hotel Swiss-Belresidences Kalibata. Kan dapatnya sudah dari akhir Januari. Masuk Februari sudah mulai puasa Ramadan, dan selama Ramadan fokusnya lebih banyak ke ibadah dan keluarga. Ada juga beberapa prioritas lain yang waktunya lumayan menyita. Setelah itu masuk persiapan Lebaran dan mudik.

Pulang mudik, semua orang di rumah sudah ditunggu agenda masing-masing. Anak bungsu juga sedang kelas 12, jadi jadwal sekolah menjelang lulus cukup padat. Jadilah sepanjang Maret sampai April enggak kepikiran mau menginap.

Sampai akhirnya voucher itu teringat lagi gara-gara melihat postingan teman yang baru saja menginap di sana. "Oh iya, aku kan ada voucher nginep di sana?"

Begitu cek masa berlakunya, lah, akhir bulan ini! Langsung buru-buru hubungi hotel untuk booking kamar. 

Ulasan Hotel Swiss-Belresidences Kalibata

Booking di Ujung Masa Berlaku Voucher

Di sinilah mulai deg-degan. Pemesanan kamar menggunakan voucher ternyata tidak bisa dadakan. Setidaknya harus dilakukan sekitar satu minggu sebelum jadwal menginap. Sementara waktu itu booking-nya sudah kurang dari seminggu sebelum tanggal 30 April. Jadi, tidak terlalu berharap banyak. Kalau ternyata tidak bisa dipakai, ya sudah, pasrah aja. Namanya juga voucher yang sudah hampir kedaluwarsa.

Masalahnya, bukan cuma ingin sekadar menggunakan voucher sebelum masa berlakunya habis. Maunya kedua voucher itu dipakai sekaligus di hari yang sama, karena rencananya mau ngajak dua keponakan perempuan menginap bareng Aisyah.

Kalau bisa, kamarnya juga connecting. Kalaupun enggak dapat connecting room, setidaknya masih satu lantai. Nanti di satu kamar ada anak-anak, sementara saya dan suami di kamar sebelah. Jadi dari awal memang ada sedikit permintaan tambahan selain sekadar, "Masih ada kamar enggak?"

Alhamdulillah, ternyata masih ada. Bahkan connecting room yang diinginkan juga masih tersedia. Lumayan lega, karena kalau sudah sampai di tahap voucher hampir kedaluwarsa begini, rasanya dapat kamar saja sudah senang. Dapat dua kamar yang connecting sekaligus? Ya, lebih senang lagi.

Staycation berlima menempati dua kamar tipe Deluxe Room (connecting)

Akhirnya Menginap di Swiss-Belresidences Kalibata

Tepat tanggal 30 April, berangkatlah kami ke Swiss-Belresidences Kalibata. Kali ini yang ikut ada lima orang, yaitu saya, suami, Aisyah, dan dua orang keponakan perempuan. Alief tidak ikut karena sedang kerja di luar kota. 

Dua keponakan berangkat dari rumah di Depok, dianter oleh adik, sementara saya, suami, dan Aisyah berangkat dari BSD. Jadi, janjian ketemunya langsung di hotel.

Sebetulnya Swiss-Belresidences Kalibata bukan tempat yang asing buat kami. Hampir setiap tahun acara kumpul halal bihalal keluarga besar Mas Arif diadakan di salah satu meeting room hotel ini. 

Terakhir, sempat juga diundang ke sini bersama teman-teman komunitas untuk acara Ramadan. Jadi kalau soal lokasi, suasana tempat, sampai makanannya, sudah cukup familiar. Yang belum pernah dilakukan justru menginapnya. Selama ini datang ke hotel, ya untuk acara, makan, lalu pulang. 

Foto kedua dalam artikel ini, yakni tower-tower apartemen Woodland Park Residences, difoto dari jendela kamar yang terletak di lantai 5 ini

Kalau pengalaman menginap di jaringan Swiss-Bel sendiri, sudah beberapa kali juga. Ada Swiss-Belhotel di Serpong dan Pondok Indah, kemudian Swiss-Belinn Modern di Cikande dan Swiss-Belcourt Bogor. 

Pengalaman saya dan keluarga menginap di hotel-hotel tersebut semuanya cukup baik dan berkesan. Makanya kali ini ada sedikit harapan, semoga pengalaman menginap di Swiss-Belresidences Kalibata juga sama baiknya, atau malah lebih baik.

Dari BSD kami berangkat sore dan baru sampai hotel menjelang magrib. Perjalanan hari itu lumayan menguji kesabaran karena macetnya justru terjadi di sekitar rel kereta dekat hotel. Hujan pula. 

Berempat sama anak dan ponakan-ponakan di Swiss-Belresidences Kalibata

Sebelum Check-in, Berburu Bakso Legend yang Ternyata Sudah Tutup

Nah, sebelum sampai hotel tuh tadinya suami ngajak makan bakso di Bakso Rusuk Sunan Giri Kalibata. Kata suami, itu tempat makan bakso legend dan beliau sudah dari dulu jadi pelanggan di sana. Dalam hati, kenapa baru sekarang cerita? Dulu makan sama siapa sih beliau? Apa sama pacarnya zaman SMA? Wkwk.

"Mama inget gak dulu pernah papa ajak makan bakso rusuk di sini (Kalibata)?"

Gubrak! Ternyata saya pernah diajak makan di situ. Tapi kok saya lupa, ya? Kapan dah itu?

"Yaaah, udah tutup, Ma. Ituu..." ucap suami sambil menunjuk tempat yang dimaksud.

Kaget juga saya, tahu-tahu sudah melewati tempatnya. Saya sempat melihat tulisan nama warungnya di salah satu ruko. Di depannya memang sedang ada kegiatan renovasi, jadi kami pikir tempatnya tutup karena sedang direnovasi. Tapi setelah dicek di Google, ternyata tutup permanen.

Alhasil, sore itu enggak jadi makan bakso. Tapi kalau sekiranya jadi pun, kami mungkin sampai lebih lama lagi di hotel. Jadi ya sudah, mungkin memang baksonya belum berjodoh dengan kami sore itu.

Pengalaman menginap di beberapa hotel Swiss-Bel sebelumnya juga pernah saya tulis di blog ini. Kalau mau baca ceritanya, ada beberapa tulisan yang bisa dilihat di sini:




Sementara foto-foto dokumentasi berikut ini merupakan momen halal bihalal keluarga besar suami pada tahun 2023 dan 2025 yang berlangsung di Swiss-Belresidences Kalibata. Foto tahun 2024 tidak ada karena waktu itu kami memang berhalangan hadir. Meski begitu, acara halal bihalal keluarga tetap berlangsung di hotel ini.

 
Berturut-turut mengadakan family gathering dalam rangka halal bihalal Lebaran di hotel ini, rasanya sudah cukup menjelaskan kenapa kami terus kembali ke Swiss-Belresidences Kalibata. Berarti memang ada kecocokan dan kepuasan yang kami dapat selama beberapa kali acara di sini.

Meeting Dadakan di Tengah Waktu Makan

Ada jadwal meeting online lewat Teams pukul 19.00 saat kami menginap. Jadwal ini sebenarnya bukan jadwal semula. Seharusnya meeting berlangsung sehari sebelumnya, tetapi karena ada peristiwa kedukaan, jadwalnya diundur. Jadwal penggantinya ternyata jatuh tepat pada malam kami menginap.

Jam makan malamnya mepet dengan jadwal meeting, sementara kalau sudah lapar, urusan makan enggak bisa ditunda-tunda. Setelah salat Magrib, kami langsung menuju restoran di lantai 2 dengan harapan bisa makan dulu, lalu secepatnya kembali ke kamar sebelum meeting dimulai.

Malam itu ingin pesan tom yum. Tapi kata pelayannya, waktu pembuatannya agak lama, kurang lebih 15–20 menit baru jadi. Buat kondisi biasa mungkin masih oke, tapi saat itu waktunya mepet. Saya pilih soto ayam yang katanya bisa lebih cepat.

Soto ayam dan gado-gado yang kami pesan porsinya ternyata cukup besar. Begitu makanan datang, saya langsung makan buru-buru sambil sesekali lihat jam. Waktu yang tersedia memang enggak banyak karena sebentar lagi harus naik ke kamar untuk meeting. Soal harga, sudah lupa persisnya berapa, tapi total makan bertiga kurang lebih Rp400 ribuan, sudah termasuk minum. Yang masih teringat justru harga air minum kemasan 600 ml, sekitar Rp38 ribuan dan nasgornya Rp148 ribuan.

Soto Ayam

Gado-gado

Sambil makan sebenarnya bisa saja ikut meeting. Tinggal buka HP, matikan kamera, beres. Tapi rasanya kurang pas. 

Kalau sudah menyangkut urusan yang serius, saya lebih nyaman duduk dengan laptop di ruang yang tenang, supaya bisa fokus dan mengikuti pembicaraan dengan baik dari awal sampai selesai.

Waktu makan yang sudah mepet ternyata enggak cukup untuk menghabiskan makanan. Baru separuh soto masuk perut, saya sudah harus meninggalkan meja. 

Aisyah dan papanya tetap lanjut makan, sementara saya buru-buru naik ke lantai 5 menuju kamar, buka laptop, dan bersiap mengikuti meeting. Rencananya sih, nanti setelah meeting selesai mau turun lagi dan melanjutkan makan.




Sementara itu, dua keponakan yang dianter oleh adik akhirnya tiba di hotel. Nah mereka ini ternyata sudah pesan makanan. Jadi setiba di hotel tinggal makan. Gak ketinggalan jajan dulu di Alfamart yang ada di lantai dasar, masih di area hotel dan residence.

Alfamart yang Jadi Penyelamat

Nah, soal Alfamart ini menurut saya memang penyelamat banget. Kalau butuh jajan macam-macam, tinggal turun. Enggak perlu keluar dari kawasan hotel dan residence, apalagi harus mencari minimarket di luar. Buat tamu hotel tentu membantu, apalagi buat yang menginap bareng anak-anak.

Malam itu keberadaan Alfamart jadi sangat berguna karena anak-anak bisa beli makanan dan camilan untuk dibawa ke kamar. Mungkin karena di kawasan ini juga ada residence dengan banyak penghuni, keberadaan minimarket seperti ini memang terasa penting. Buat kami yang cuma menginap semalam, manfaatnya langsung terasa.

Setelah meeting, tadinya mau balik lagi ke resto untuk makan. Tapi begitu lihat jajanan anak-anak, kok jadi kepingin. Dari yang awalnya cuma kepingin, akhirnya ikut nyemil. Eh, lama-lama malah kenyang. Gak jadi makan lagi. Hahaha.

Connecting Room Deluxe untuk Keluarga

Malam itu anak-anak saya taruh di kamar yang satu bed supaya bisa tidur bareng dalam satu kasur. Sementara saya dan suami memilih kamar dengan bed terpisah alias twin bed. Hahaha. 

Ya enggak apa-apa gak satu kasur, cuma semalam ini, kaaan. Masa mesti satu kasur terus. Daripada anak-anak yang tidur di kamar satu bed, nanti malah bingung yang satu tidur di mana. Kasurnya memang besar, tapi mereka bertiga juga enggak gede-gede amat badannya, jadi masih cukup.

Buat yang suatu hari mau pesan connecting room di Swiss-Belresidences Kalibata, ada baiknya sekalian tanyakan konfigurasi tempat tidurnya. Waktu itu saya sempat request supaya kedua kamar sama-sama queen bed, tetapi katanya tidak tersedia kalau connecting. Kalau mau queen bed semua, justru kamarnya tidak connecting. Mungkin memang karena konsep connecting room lebih banyak ditujukan untuk keluarga dengan anak-anak, jadi salah satu kamar dibuat dengan twin bed. Buat kami waktu itu enggak masalah juga. Yang penting dua kamar bisa tersambung dan anak-anak bisa tidur bareng di kamar sebelah.

Deluxe room Swiss-Belresidences Kalibata

Queen bed Deluxe Room Swiss-Belresidences Kalibata

Malam itu, selain ada meeting dadakan, datang juga kabar yang bikin saya gelisah. Alief mengabari kalau dia kurang enak badan dan mungkin besok mau pulang ke BSD. 

Karena sedang tinggal di luar kota untuk bekerja, saya tanya apa dia sanggup nyetir mobil sendiri. Katanya kalau tidak memungkinkan, dia akan disetiri oleh temannya yang kebetulan bekerja di kota yang sama dan orang tuanya juga tinggal di BSD. Teman lama Alief sejak SD sampai SMP, dan kebetulan saya juga kenal.

Agak lega karena berarti ada yang bisa menemani perjalanan pulangnya. Tapi tetap saja hati tidak tenang malam itu. Badan di hotel, pikiran jauh ke luar kota.

View malam tiga tower Swiss-Belresidences Kalibata

Sarapan Pagi di Swiss-Café

Pagi-pagi banget sih enggak. Sarapan di Swiss-Belresidences Kalibata mulai pukul 06.00, tapi kami baru turun sekitar pukul 08.00. Tempatnya di lantai 2, masih di area dining yang sama dengan restoran tempat makan malam sebelumnya. Ada area di dalam ruangan, tapi ada juga pilihan duduk di luar, di area balkon yang menghadap ke taman dan kawasan residence.

Untuk dua kamar yang kami tempati, jatah sarapannya sudah termasuk untuk empat orang. Karena kami berlima, tentu saja ada satu orang tambahan yang harus bayar. 

Soal pilihan sarapan, cukup banyak. Konsepnya buffet dengan pilihan makanan Indonesia, Asia, sampai menu internasional, jadi tinggal pilih sesuai selera. Ada makanan berat, roti, telur, buah, sampai dessert. Pagi itu kami juga enggak berlama-lama karena setelah sarapan mau buru-buru berenang.

Lumayan, Dapat Diskon Sarapan

Nah, pas urusan sarapan ini malah ditawarin daftar SBEC Benefits, program loyalty dari Swiss-Belhotel. Daftarnya gratis dan kalau daftar sebagai tamu hotel bisa mendapatkan level Red Explorer dengan benefit diskon 20% untuk kamar dan dining. Lumayan juga karena keanggotaannya bisa dipakai di hotel-hotel Swiss-Bel lainnya.

Sarapan tambahan yang tadinya sekitar Rp150 ribu per orang, waktu itu saya bayar Rp105 ribu saja. Lumayan, kan. Jika ada tambahan sarapan beberapa orang, diskonnya jadi makin terasa.

Nah, ada satu hal lagi yang baru saya tahu pagi itu. Kalau makanan yang sudah diambil masih belum habis, bisa minta dibawakan ke kamar. 

Bukan tamunya yang membawa sendiri, tapi nanti staf hotel yang mengantarkan. Kebetulan makanan anak dan keponakan masih ada, terutama dessert-nya. 

Bukan karena sengaja mau dibawa ke kamar, tapi karena kami mau buru-buru berenang. Daripada dessert-nya ditinggal jadi mubazir, lebih baik dilanjutkan saja di kamar. Ternyata bisa.


Nyobain Kolam Renang Swiss-Belresidences, Cocok Buat Anak-anak dan Remaja Tanggung

Untuk berenang, kami turun ke lantai 3. Di lantai ini ada kolam renang hotel, spa, dan playground. 

Playground-nya berada di area terbuka dengan lantai beralaskan karet. Jadi kalau anak-anak jatuh, enggak langsung berhadapan dengan lantai keras yang bikin sakit atau bikin lutut baret. 

Ada perosotan juga, sementara orang tua bisa duduk berteduh di teras yang beratap sambil menunggu anak bermain.

Kalau cuaca sedang cerah, area playground ini memang cukup panas. Duduk di sini lumayan bikin keringetan. Tapi pemandangannya enak karena menghadap ke taman yang rimbun di area tengah antara hotel dan residence. Jadi meskipun panas, mata tetap dapat pemandangan hijau.

Playground di lantai 3 dilihat dari kamar kami di lantai 5

Tempat duduk di sebelah playground

Kolam renang hotel letaknya persis di sebelah playground. Kolamnya tidak terlalu dalam, sepertinya memang lebih ditujukan untuk anak-anak dan remaja tanggung. Kalau orang tua mau ikut masuk, paling enak ya berendam atau menemani anak. Buat berenang serius, kurang cocok.

Menariknya, di bawah area taman yang rimbun tadi ada lagi kolam renang khusus residence. Ukurannya lebih luas dan ada bagian untuk orang dewasa. Jadi kawasan ini punya dua pilihan kolam dengan suasana yang berbeda. Kalau menginap di hotel bersama anak-anak, kolam di lantai 3 sudah cukup praktis karena tinggal keluar kamar dan turun sedikit. Sementara kolam residence lebih cocok kalau ingin area yang lebih luas. Tapi, sepertinya tamu hotel nggak boleh deh ke kolam renang residence.

Untuk fasilitasnya juga cukup lengkap. Ada kamar bilas dan handuk bersih sudah disediakan. Jadi enggak perlu repot membawa handuk dari kamar. Tinggal turun, ganti pakaian, lalu berenang.




Pagi di Kalibata, Pikiran ke Luar Kota

Pagi itu anak-anak menghabiskan waktu dengan berenang. Saya enggak ikut masuk ke kolam, lebih banyak berjalan-jalan santai di sekitar area sambil melihat mereka berenang dan menikmati suasana pagi. Kolam renang hotel sendiri memang buka sejak pukul 06.00 sampai malam, dan handuk sudah disediakan di area kolam. Jadi tinggal turun saja, enggak perlu repot bawa handuk dari kamar.

Meski anak-anak asyik berenang, sesekali perhatian tetap tertuju ke HP. Menunggu kabar Alief dan memastikan rencananya pulang ke BSD berjalan aman. Sementara itu, anak-anak tetap menikmati waktu mereka di kolam.

Sambil menunggu mereka, saya bisa melihat suasana Jakarta Selatan dari ketinggian. Dari area hotel juga sesekali terlihat kereta melintas di jalurnya. Pemandangan seperti ini enak diperhatikan sambil menunggu. Kota tetap sibuk di bawah sana, kereta datang dan pergi, sementara di lantai atas anak-anak menikmati pagi di kolam renang.

Playground

View gedung-gedung tinggi Jakarta Selatan dan jalur KRL di balik rimbunnya pepohonan. 

Habis Renang, Waktunya Beberes

Setelah cukup berenang, anak-anak kembali ke kamar. Dilanjutkan dengan mandi, bebersih, beberes pakaian, lalu menghabiskan camilan dan dessert yang tadi dibawa ke kamar dari sarapan. Namanya juga habis berenang, urusannya bukan cuma mandi. Ada baju basah, pakaian yang harus dibereskan, barang-barang yang mulai keluar dari tas, dan sisa makanan yang tadi belum selesai. Waktu pun berjalan tanpa terasa.

Mau Makan atau Jajan, Tinggal Turun

Urusan makan selama menginap di sini juga cukup gampang. Kalau lapar, tinggal pesan ke restoran karena tersedia layanan in-room dining 24 jam. Mau pesan makanan dari luar juga enggak ribet. Waktu itu kalau pesan lewat GoFood, makanan diantar sampai ke satpam di luar. Setelah diberi tahu, tinggal turun mengambil pesanan.

Ditambah staf hotel yang ramah dan cukup membantu selama kami menginap, beberapa urusan kecil jadi terasa lebih praktis. Mau makan enggak harus keluar hotel, mau jajan dan beli berbagai kebutuhan ada minimarket, mau pesan dari luar juga tinggal ambil di bawah. Untuk menginap bersama keluarga, kemudahan-kemudahan seperti ini lumayan terasa.

Tangga ini sering jadi spot foto tamu hotel 😀


Waktunya Pulang

Tahu-tahu sudah mendekati waktu check-out. Padahal rasanya baru saja selesai sarapan, berenang, dan beberes kamar. Tapi memang begitulah kalau menginap cuma semalam. Baru mulai menikmati suasana, sudah waktunya memasukkan barang lagi ke koper.

Alhamdulillah, kondisi Alief ternyata tidak parah. Dia tetap bisa pulang ke BSD dengan mobilnya, meski disetiri temannya. Setelah istirahat dan diperiksa ke dokter, kondisinya membaik. Kebetulan waktu itu sedang long weekend, jadi ada waktu beberapa hari untuk beristirahat sebelum akhirnya kembali bekerja ke luar kota saat hari kerja dimulai.

Sebagai orang tua, mungkin memang begini. Sedang berada di tempat yang menyenangkan, anak-anak menikmati waktu mereka, mestinya suasana hati ikut senang. Tapi begitu ada kabar salah satu anak kurang sehat dan posisinya jauh dari rumah, pikiran langsung terbagi dua. Badan tetap di hotel, sementara sebagian perhatian ikut pergi ke luar kota.

Di taman hotel, 2023.

Di lobby hotel, 2026

Dari Kalibata Lanjut ke Depok Makan Mie Ayam dan Bakso Si Bakso

Siang itu setelah check-out, kami mengantar dua keponakan pulang ke Depok. Karena sudah masuk jam makan siang, sekalian saja cari tempat makan. Dari perjalanan tadi sudah mulai menimbang-nimbang mau makan apa. Pilihan anak-anak jatuh pada bakso dan mi ayam.

Rumah makan Si Bakso ini sebenarnya kami temukan tanpa sengaja. Dalam perjalanan menuju Depok, saya memang sambil memperhatikan tempat-tempat makan di sepanjang jalan. Siapa tahu ada yang cocok, bisa langsung mampir. Banyak yang kelihatan menarik, tapi belum ada satu pun yang membuat anak-anak bilang, "Iya, aku mau ituuu..."

Sampai ketika lewat Lenteng Agung, saya melihat kedai Si Bakso. Dari luar tempat parkirnya kelihatan cukup lapang. Di sebelahnya ada Soto Kudus Menara, masih dalam area yang sama. Begitu melihat tempatnya, anak-anak langsung kompak memilih Si Bakso. Ya sudah, kami belok, parkir, lalu masuk.

Gagal makan bakso rusuk legend di Bakso Rusuk Sunan Giri Kalibata, akhirnya malah makan di Si Bakso di Lenteng Agung.
 

Keputusan yang enggak kami sesali. Bakso dan mi ayamnya ternyata sama-sama enak. Alhamdulillah, pilihan mendadak ini justru menyenangkan.

Kalau dipikir-pikir, lucu juga. Sore sebelumnya kami gagal makan bakso rusuk yang katanya legend di Kalibata karena tempatnya sudah tutup permanen. Besok siangnya malah menemukan Si Bakso di perjalanan menuju Depok. Cabangnya juga ada di Juanda dan Sawangan, Depok.

Cerita soal makan di Si Bakso ini bisa dilihat pada postingan Instagram yang saya sematkan berikut ini:

Dan begitulah cerita satu malam di Swiss-Belresidences Kalibata. Awalnya cuma ingin menyelamatkan dua voucher yang hampir kedaluwarsa. Ternyata malah dapat kesempatan menghabiskan waktu bersama keluarga, tidur di dua kamar yang connecting, makan malam sambil mengejar meeting, sarapan santai, berenang, sampai sibuk memantau anak yang sedang berada jauh di luar kota. Banyak kejadian kecil dalam waktu yang sebenarnya singkat.

Dari pengalaman kali ini, yang paling terasa justru kemudahannya. Mau makan tinggal turun ke restoran atau pesan ke kamar, mau jajan tinggal ke Alfamart, mau berenang ada kolam dan playground, sementara dari beberapa sudut hotel masih bisa menikmati pemandangan kawasan Jakarta Selatan dan kereta yang sesekali melintas. Semuanya cukup mudah dilakukan tanpa harus banyak keluar dari kawasan hotel.

Di Swiss-Belresidences Kalibata dari masa ke masa. Kiri: Foto tahun 2023. Kanan: Foto tahun 2025
 
Swiss-Belresidences Kalibata berada di Jl. Kalibata Raya No. 22, Jakarta, Indonesia. Lokasinya juga dekat dengan Kalibata Plaza dan Stasiun Duren Kalibata.

Kalau nanti ada voucher Swiss-Bel lagi yang hampir kedaluwarsa, mudah-mudahan enggak sampai kejadian lupa seperti yang satu ini. Tapi kalau akhirnya malah membawa kami kembali menginap, ya mungkin bukan masalah juga.