Menikmati Keindahan Pantai di Bangka, Negeri Pencinta Seafood

14.01 2 Comments
Pulau Bangka - Di samping identik dengan kekayaan kulinernya, Pulau Bangka secara visual menawan dipandang. Lihat saja garis pantainya, bertabur pasir putih dengan godaan momen fajar maupun senja yang impresif. Kemolekan pantai demi pantai menjerat waktu siapa saja untuk berlama-lama. Tak hanya itu, dalam lautnya pun berisikan hayati luar biasa. 
Pantai Penyusuk, Salah Satu Pantai di Bangka (Foto: Martyno Edo)

Kepulauan Bangka Belitung

Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu provinsi di Indonesia. Letaknya berdekatan dengan Sumatera Selatan dan mempunyai dua pulau besar yaitu Bangka dan Belitung. Pulau Bangka jauh lebih luas dan terkenal dengan kekayaan kulinernya. Sementara tetangganya, Pulau Belitung terkenal dengan keindahan pantainya. 

Dalam empat tahun terakhir, saya telah beberapa kali menyaksikan keindahan Belitung, tetapi belum pernah ke Bangka. Setelah sekian lama hanya menjadi cita-cita, akhirnya kesempatan itu datang pada bulan Januari tahun ini. 

Berempat dengan anak-anak dan ibu, kami berangkat liburan ke Bangka untuk menikmati beragam kuliner khas, serta melakukan banyak aktivitas di pantai. 
Liburan keluarga di Bangka Januari 2019

Wisata Kuliner

Tak sulit untuk mencapai Pulau Bangka. Sejumlah maskapai mempunyai beberapa jadwal terbang untuk datang dan pergi dari sana. Kami tinggal pilih waktu yang disukai yakni berangkat siang hari dari Jakarta. Hanya dalam 1 jam 10 menit penerbangan, kami sudah sampai di Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang. 

Aktivitas pertama kami di Pangkal Pinang adalah kulineran. Bukan tanpa alasan hal ini kami dahulukan. Selain tanda waktu makan siang sudah tiba, saya juga ingin langsung membuktikan apakah benar kuliner menjadi daya tarik paling juara bagi pengunjung yang baru datang ke Bangka. 

Sejatinya, Pangkal Pinang memang identik dengan kuliner. Kota ini memiliki segudang kuliner yang wajib dicicipi, di antaranya seafood, pempek, mie, otak-otak, kopi, martabak, dan masih banyak kuliner lainnya. Petualangan kuliner kami di Kota Pangkal Pinang dimulai dari sebuah rumah makan seafood terkenal seantero Bangka, namanya Restoran Mr. Asui.
Kuline seafood, Kopi Tungtau, Otak-otak & Empek-empek, Mie Koba

Bangka Surganya Pecinta Seafood

Seafood merupakan kuliner yang wajib dicoba bila berkunjung ke Bangka. Di Kota Pangkal Pinang terdapat beberapa restoran seafood terkenal, salah satunya Restoran Mr. Asui. Restoran ini beralamat di Jl. Yang Zubaidah No.242, Bintang, Kec. Rangkui, Kota Pangkal Pinang. 

Nama Restoran Mr. Asui berasal dari nama pemiliknya, Hew Men Sui. Pengunjung yang datang sering memanggilnya Mr. Asui. Nama itu akhirnya melekat jadi nama resto. 

Restoran Asui berada di sebuah gang kecil, tapi bangunannya cukup besar sehingga bisa menampung banyak orang dalam satu waktu. Testimoni dari teman dekat yang membuat saya penasaran untuk mencicipi seafood Mr Asui.
Menu Seafood Restoran Asui

Beragam olahan seafood bisa dinikmati di sini. Signature dish-nya adalah Ekor Ikan Tenggiri Bakar. Menu ikan, udang, cumi, kepiting, kerang, dan ayam tersedia dalam berbagai pilihan cara masak. Jika tak menahan diri, rasanya semua menu ingin saya pesan. 

Saya hanya memesan apa yang menjadi kesukaan ibu dan anak-anak, yaitu Kerang Saus Tiram, Udang Goreng, Ayam Bakar, dan beberapa sayuran yang dilengkapi dengan sambal terasi udang dicampur cabe merah, bawang putih dan perasan jeruk limo sesuai selera.

Benar kata orang, citarasa seafood Bangka memang juara. Sekali mencicipi, jadi ketagihan berkali-kali. Ramai pengunjung yang datang, baik masyarakat yang tinggal di Pangkal Pinang maupun para pendatang, membuktikan seafood Bangka begitu digemari. 

Kunci kelezatan hidangan ada pada cara masak dan seafood yang digunakan. Seafood dimasak seasli mungkin tanpa bumbu dan bahan yang dimasak hanya seafood segar. Untuk kelezatan citarasa, harga yang dibanderol cukup reasonable. 
Lempah kuning dan kecambah tumis Ikan asin Khas resto Seafood Asui (Foto: Martyno Edo)
Makan seafood di Resto Asui bersama keluarga

Pantai Tongaci Sungailiat

Sungailiat merupakan ibukota Kabupaten Bangka. Kota ini berjarak kurang lebih 35 kilometer dari Kota Pangkal Pinang dan dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit berkendara mobil. Sungailiat terkenal dengan wisata pantai yang menawan. Pantai-pantainya bersih berpasir putih, serta memiliki hamparan batu granit yang menambah keindahan pantai. 

Anak-anak sudah tak sabar ingin segera beraktivitas di pantai. Karena itu, setelah makan siang seafood di Pangkal Pinang, kami langsung berangkat ke Sungailiat. Dalam perjalanan kami menjumpai banyak penjual buah durian, buah musiman di Bangka pada bulan Januari. 

Sebagai keluarga penggemar durian, sayang untuk melewatkannya begitu saja, kami mampir untuk membeli. Singgah makan buah durian membuat kami kesorean tiba di Sungailiat. Beruntung masih bisa mengejar matahari terbenam di Pantai Tongaci.

"De Locomotief" Pantai Tongaci (Foto: Martyno Edo)



Sebagai kota tujuan wisata, Sungailiat memiliki banyak pilihan penginapan bagus dengan harga terjangkau. Salah satunya Hotel Sunjaya, tempat saya menginap bersama keluarga selama dua hari di Sungailiat. Lokasinya di kota, berjarak kurang lebih 5 kilometer dengan Pantai Tongaci. 

Pantai Tongaci merupakan pantai yang berlokasi di Jalan Laut, Sungailiat, Kabupaten Bangka. Lokasinya berdekatan dengan kawasan wisata Pantai Parai. Tiket masuk kawasan pantai Rp 10.000/orang. 

Pantai Tongaci (Foto: Martyno Edo)

Selain memiliki keindahan pantai pasir putih, Pantai Tongaci juga menyuguhkan hiburan, kuliner, belanja, bahkan beberapa pilihan destinasi seperti penangkaran Penyu Hijau dan Penyu Sisik. Anak-anak saya jadi punya kegiatan memberi makan penyu dengan makanan yang dijual disekitar pantai. 

Selain itu terdapat Museum Garuda yang mengoleksi foto-foto tua dari masa kolonial Belanda, galeri buku dan sebuah Lokomotif yang menjadi icon sehingga kawasan ini dinamakan "De Locomotief". Ornamen-ornamen untuk berfoto membuat Pantai Tongaci jadi tempat menyenangkan untuk hiburan keluarga di kala senja.

Senja di Pantai Tongaci (Foto: Martyno Edo)

Pantai Penyusuk di Belinyu

Pantai Penyusuk berada di bagian utara Pulau Bangka. Keindahan pantai pasir putih yang dimilikinya berpadu dengan hamparan batu granit raksasa, mengingatkan saya pada pantai-pantai jelita di Belitung. Untuk menjangkau Panti Penyusuk kami harus berkendara mobil selama kurang lebih 1 jam perjalanan dari kota Sungailiat. 

Jalan datar menuju Belinyu nyaris tanpa kelok, hal yang jarang saya jumpai bila sedang jalan darat di daerah di Sumatera. Setelah melewati banyak kampung, sesekali ladang, lubang bekas galian tambang, dan padang ilalang, akhirnya kami sampai di Pantai Penyusuk. Untuk masuk kawasan pantai dikenakan tarif Rp 10.000/orang untuk seharian. Harga tersebut tidak termasuk pemakaian kamar mandi dan toilet. 

Panyai Pensyusuk, Belinyu, Bangka

Pantai Penyusuk memiliki karakter serupa dengan pantai-pantai di Belitung, dengan pasir putih lembut, pesisir pantai yang landai, spot-spot diving yang memukau, serta kumpulan batu granit ukuran raksasa yang menjadi ciri khasnya. Selain landai, pantainya lebar sehingga anak-anak cukup aman bila bermain dan berendam air. 

Sayangnya kami datang saat Bangka sedang musim hujan. Meskipun hari itu dianugerahi cuaca cerah, tapi gelombang tetap tinggi, dan ombak tetap kencang. Rencana untuk snorkeling di Pulau Puteri otomatis batal. Tekong perahu menyatakan laut tidak aman. Daripada mendekati bahaya, kami memilih batal. 

Di musim cuaca baik, menyeberang ke Pulau Puteri akan menjadi pengalaman seru tak terlupakan. Di sana, pantainya sangat cantik dan bawah lautnya memiliki kekayaan hayati yang tinggi.

Pantai Penyusuk Belinyu, Bangka (Foto: Martyno Edo)

Pantai Penyusuk memiliki dua karakter yang berbeda. Pada satu sisi memiliki garis pantai yang panjang, berpasir putih, dan ombak sangat kencang. Sementara pada sisi lainnya pantai pasir agak kecoklatan, lebar, dipenuhi batu granit, dan ombaknya lebih pelan sehingga cukup aman buat berenang. Di pantai yang kedua inilah anak-anak saya bermain pasir, berendam, dan berlarian mengejar ombak. 

Pantai Penyusuk cukup jauh dari perkampungan. Tetapi, penjual makanan dan minuman di kawasan pantai terbilang banyak. Mereka datang dari kampung nan jauh untuk berjualan di tenda-tenda sederhana. Keberadaan mereka cukup berarti untuk membantu mengatasi lapar dan haus setelah seharian beraktivitas di pantai. 

Bagi penggemar fotografi, hamparan batu granit raksasa di Pantai Penyusuk menawarkan pemandangan pantai yang spektakuler. Sayang bila dilewatkan oleh lensa kamera.

Pantai Penyusuk, Belinyu, Bangka (Foto: Martyno Edo)

Pantai Tanjung Pesona

Tanjung Pesona dapat dikatakan sebagai salah satu objek wisata unggulan di Pulau Bangka. Bukan hanya jadi favorit bagi wisatawan domestik, tetapi juga primadona wisatawan mancanegara. 

Fasilitas penginapan dan restoran berdiri megah di tepi pantai, memanjakan wisatawan yang ingin bersantai menikmati suasana pantai. Suara ombak dan angin pantai Tanjung Pesona bisa langsung kami rasakan ketika menginap di Resort Tanjung Pesona.

Tanjung Pesona berjarak kurang lebih 9 kilometer dari Kota Sungailiat. Jika dari Pangkal Pinang dapat dicapai dalam waktu 45 menit berkendara mobil. Perjalanan kami menuju Pantai Tanjung Pesona melewati Pantai Pasir Panjang dan Pantai Tikus, dua pantai yang tak kalah menarik untuk disaksikan keindahannya. Kami juga melintasi kebun lada yang merupakan komoditi unggul di kabupaten Bangka serta jalan-jalan yang relatif sepi dan bersih.

Tanjung Pesona, Bangka

Tanjung Pesona membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Pemandangan pasir putih dengan butiran yang lembut berpadu dengan air laut jernih kebiruan yang seketika menghipnotis saya, menjadi penanda jika lokasi ini luar biasa indahnya. 

Di sekitaran pantai banyak sekali hamparan bebatuan granit berukuran besar, sebagian terendam di dasar laut. Keindahannya kian lengkap dengan 3 tingkatan pantai. 

Struktur pantai paling bawah merupakan pantai landai dengan pasir lembut, kemudian ditingkat kedua terdapat gazebo yang menjorok ke laut dan tingkat paling atas merupakan susunan bebatuan besar nan eksotik. Di tingkat manapun saya berdiri, saya dapat melihat ombak menyapa pantai dan merasakan angin semilir yang menghadirkan rasa damai. Tempat yang tepat untuk mengistirahatkan badan dan pikiran dari segala rutinitas dan pekerjaan.

Tanjung Pesona Bangka (Foto: Martyno Edo)

Pantai Tanjung Pesona Bangka (Foto: Martyno Edo)

Banyak aktifitas yang kami lakukan di sini. Anak-anak riang bermain di pantai membuat istana pasir, asyik berlarian mengejar ombak, dan main air sambil berendam di laut. Sementara itu, ibu dan saya banyak bersantai di restoran yang menghadap ke laut, menikmati panorama sembari mencicipi beragam makanan dan minuman yang menggugah selera. Selama dua hari di Tanjung Pesona, liburan kami sangat menyenangkan. 

Mie Koba Bangka

Bangka terkenal dengan makanan khas berbahan mie. Di Jakarta dan Tangerang penjual Mie Bangka sangat mudah saya jumpai dan biasanya tak pernah sepi pengunjung. Namun, tak semua kedai Mie Bangka bisa saya datangi karena ada yang non halal. Begitu pula di Bangka, saya sebagai umat muslim harus sedikit hati-hati jika ingin menikmati Mie Bangka. Namun, saya tidak perlu khawatir karena mie halal mudah ditemukan di Bangka, salah satunya Mie Koba Bangka.

Mie Koba merupakan salah satu kuliner mie asli Bangka. Kami mendapatkan rekomendasi Mie Koba halal dari guide yang menemani kami selama di Pangkal Pinang. Dinamakan Mie Koba karena sesuai dengan nama tempat asalnya dibuat, yaitu di Koba Bangka Tengah. Mie Koba didirikan lebih dari 20 tahun yang lalu oleh Bapak Iskandar, di Koba, Bangka Tengah. 

Setelah berpuluh tahun, Mie Koba masih eksis melayani penggemarnya. Saat ini ada dua warung Mie Koba yang berlokasi di Koba dan di Pangkal Pinang. Saya dan keluarga mengunjungi Mie Koba di Pangkal Pinang. Warungnya tampak sederhana, tapi mienya sedap luar biasa.  
Mie Koba Bangka (Foto: Martyno Edo)

Mie Koba terbuat dari mie yang dibuat sendiri oleh pemiliknya. Mie buatan Pak Iskandar memiliki tekstur tipis, lembut dan tidak kenyal. Kuah Mie Koba terbuat dari kaldu ikan tenggiri. Daging ikan tenggiri ditumbuk pakai alat tumbuk tradisional yang terbuat dari kayu, lalu dimasukkan dalam kuah yang telah diberi bumbu. 

Mie Koba dibuat dengan resep asli Pak Iskandar, menggunakan rempah asli seperti cengkeh, pala, kayu manis, ketumbar dan gula jawa sebagai pemanis alami. Mie Koba disajikan dengan bawang merah goreng, irisan daun seledri serta telur rebus. Ukuran porsinya sedang dan saya perlu makan dua porsi baru merasa kenyang. Saya yakin sekali rasa gurih ikan tenggiri yang membuat saya ketagihan. 

Satu piring Mie Koba dapat dinikmati dengan harga Rp 13.000,-/porsi. 

Kuliner Mie Koba Bangka

Otak-Otak Kuliner Paling Dicari di Bangka

Pangkal Pinang dikenal sebagai surganya kuliner Otak-Otak. Jika berkunjung ke Bangka, kuliner khas berbahan ikan laut ini juga wajib dicoba. Ada banyak warung otak-otak di Pangkal Pinang, mulai warung kecil nan sederhana, hingga warung besar dan ternama. Dikalangan wisatawan lokal maupun nasional, ada satu warung otak-otak yang terkenal seantero Bangka dan tersebar di beberapa sudut Kota Pangkal Pinang, namanya Warung Otak-Otak ASE.

Otak-otak ASE tidak hanya menyediakan menu otak-otak, ada juga empek-empek, baso, bujan, dan engpiang. Semua makanan tersebut berbahan dasar ikan dan udang. Uniknya nih, jika ada wisatawan warung empek-empek, maka tempat yang ditunjukan adalah warung otak-otak. Jadi kalau ingin makan empek-empek di Bangka, pergilah ke Warung Otak-Otak, dijamin ada.

Kuliner ASE, otak-otak dan empek-empek

Makan otak-otak enak sampai puas di Pangkal Pinang tidak membuat kantong jebol. Meskipun dibuat dari bahan ikan asli dan segar harganya sangat terjangkau. 

Otak-otak, empek-empek kulit ikan, baso ikan, empek-empek udang, Bujan (gorengan terbuat dari ikan dicampur talas), dan engpiang dijual dengan harga Rp2.500 per buah, kecuali empek-empek udang Rp5.000. Semua jenis makanan tersebut dimakan dengan sambal khas Otak-otak Ase termasuk empek-empek. Bukan pakai cuko seperti lazimnya empek-empek di Palembang. 

Warung Otak-Otak Ase sudah berdiri sejak tahun 2011. Di sini kami bisa membeli otak-otak dan empek-empek sebagai oleh-oleh. Untuk otak-otak ada tiga variant yaitu otak-otak bakar bungkus daun pisang, otak-otak goreng, dan otak-otak rebus. 

Kami juga bisa membeli oleh-oleh Bangka lainnya seperti kerupuk, terasi, sambal, dll. Harga paket otak-otak dan empek-empek untuk oleh-oleh mulai Rp100.000 / 40 butir, Rp200.000 / 80 butir, dan Rp250.000/100 butir. 

Kuliner di Kedai ASE: Otak-otak & Empek-empek (Foto: Martyno Edo)

Museum Timah Indonesia

Museum Teknologi Pertimahan atau lebih dikenal dengan Museum Timah Indonesia yang berada di Pangkalpinang merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Bangka. Museum ini tercatat sebagai satu-satunya di Asia, tentunya wajib dikunjungi bila sedang berwisata di Bangka.

Tidak ada tiket yang harus dibayar untuk masuk Museum Timah Indonesia. Meskipun gratis, museum ini tampil bersih, rapi, dan terawat. Terasa sangat nyaman ketika berkeliling melihat-lihat koleksi yang ada. 

Museum Timah Indonesia menempati rumah dinas Hoofdt Administrateur Banka Tin Winning (BTW) di Jalan Ahmad Yani no 179 Pangkalpinang. Rumah ini memiliki nilai sejarah tinggi bagi kemerdekaan Republik Indonesia.  

Museum Timah Indonesia di Bangka (Foto: Martyno Edo)

Museum Timah Indonesia menyimpan catatan perjalanan panjang sejarah pertimahan di Bangka Belitung khususnya dan dunia pada umumnya. Museum Timah Indonesia didirikan pada tahun 1958 dengan tujuan mencatat sejarah pertimahan di Bangka Belitung dan memperkenalkannya pada masyarakat luas. 

Mengunjungi Museum Timah membuat saya bisa mengetahui sejarah pertimahan di Bangka Belitung, dan perkembangan teknologi pertambangan sejak zaman Belanda hingga masa kini.  Beragam koleksi berupa benda-benda tradisional yang digunakan oleh penambang jaman dahulu, utamanya zaman Belanda, bisa kami lihat di sini. 



TUNG TAU Warung Kopi & Roti Panggang Legendaris di Bangka

Inilah warung kopi sekaligus warung roti panggang tertua di Bangka. Sejak pertama berdiri tahun 1938 menu andalannya meliputi roti panggang, kopi, teh, dan beberapa menu lainnya yang cukup familiar kita temui bila ke warung kopi. Berpusat di Sungailiat, Tung Tau kini memiliki beberapa cabang yang sudah lama berdiri, termasuk di Bandara Depati Amir Pangkal Pinang dan di Koba Bangka Tengah. 

Saya dan keluarga singgah minum kopi di Tung Tau cabang Koba saat dalam perjalanan menuju bandara. Letaknya memang dekat dengan bandara. Karena itu ia sering jadi tempat persinggahan orang-orang yang baru datang maupun hendak pergi dari Bangka. 

Menariknya, selain kopi dan roti, Tung Tau punya menu yang cocok buat anak-anak yaitu es krim Brunie. Es kirim inilah yang membuat anak perempuan saya jadi betah menemani saya menghabiskan secangkir kopi susu yang saya seruput dengan santai.

Kopi Tung Tau

Kulineran di warkop Tung Tau

Masjid Jami Pangkal Pinang

Kami menutup liburan Bangka dengan berkeliling Kota Pangkal Pinang. Setelah berwisata kuliner sejak pagi, siangnya kami singgah salat dzuhur di Masjid Jami Pangkal Pinang. Masjid yang terletak di tengah kota ini merupakan masjid tertua dan terbesar di Pangkalpinang yang dibangun pada tanggal 3 Syawal 1355 H atau bertepatan dengan tanggal 18 Desember 1936 M. 

Tak nampak ada kesan tua pada bangunan masjid yang berstatus cagar budaya tersebut. Bangunannya terlihat tegap, kondisinya pun sangat nyaman dan bersih. Dengan cat warna hijau yang melapisi seluruh permukaan bangunan, membuat masjid terlihat muda dan segar. Jendelanya besar-besar dengan atap yang tinggi, sehingga meskipun tidak dipasang AC, kami dapat beribadah tanpa kepanasan. 

Masjid Jami Bangka (Foto: Martyno Edo)

Masjid Jami merupakan situs budaya masyarakat Pangkal Pinang dan sekaligus menjadi salah satu ikon religi Bangka Belitung. Sebagai masjid terbesar, Masjid Jami mampu menampung hingga 2.500 jamaah. 

Dari lantai dasar tempat saya salat, saya bisa melihat tingkatan bangunan terdiri dari 3 lantai, dengan lantai dasar digunakan sebagai tempat salat dan pengajian, lantai kedua atau tengah digunakan untuk menyimpan kitab kuning, buku-buku agama, tikar dan perlengkapan masjid lainnya. Sedangkan lantai tertinggi difungsikan sebagai menara tempat muazin mengumandangkan azan. Jumlah tiang-tiang masjid melambangkan unsur keislaman, seperti tiang depan yang berjumlah 6 melambangkan rukun iman dan tiang utama yang berjumlah 4 yang melambangkan jumlah khulafaur rasyidin. 

Menurut sejarahnya, masjid dibangun oleh warga Kampung Dalam dan Kampung Tengah Tuatunu yang baru masuk ke wilayah Pangkalpinang. Kemudian pada tahun 1950, masjid ini direnovasi dengan uang yang berasal dari iuran masyarakat setempat. Wapres Mohammad Hatta saat itu turut membantu biaya pembangunan masjid dengan sumbangan Rp 1.000. Renovasi masjid selesai pada tahun 1954 dan baru diresmikan kembali pada tahun 1961. Dengan sejarah dan budaya yang dimilikinya, kini Masjid Jamik telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemkot Pangkalpinang.

Masjid Jami Bangka

Bangka dan Kenangan

Kota ini seperti kebanyakan kota lainnya di Indonesia, ramai dan tak luput dari padatnya kendaraan yang lalu lalang di jalan raya. Hanya saja, kepadatannya masih tergolong biasa, bukan separah Jakarta.

Saya jadi menyandingkan Bangka dengan Belitung, dan saya mendapati perbedaan suasana di mana Belitung relatif lebih tenang dan lengang. Wajar, karena Pangkal Pinang adalah ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Untuk wisata kuliner Bangka memang lebih kaya dan beragam, tapi untuk wisata pantai, saya lebih terpikat pada Belitung.

Sunset Pantai Penyusuk, Bangka

Bangka sangat mengesankan dengan apapun yang dimilikinya. Saya terhibur berlibur di sini. Menikmati kuliner-kuliner enak dan bikin kenyang, serta merasakan kegembiraan anak-anak menikmati liburannya di daerah yang baru pertama kali mereka kunjungi. Di masjid Jami saya berdoa, semoga diberi kesehatan dan umur panjang supaya bisa kembali lagi mengunjungi Bangka di lain waktu dengan masa yang lebih lama. 


Keterangan:
Foto-foto sebagian dokumentasi pribadi, lainnya foto milik Bang Martyno Edo. 

Tulisan saya tentang Bangka pernah dimuat di Majalah Colours Middle East edisi Oktober - Desember 2019. Garuda inflight magazine rute Timur Tengah terkadang rute London dan Amsterdam.

Seluruh foto yang dimuat dalam majalah menggunakan foto Bang Edo. Foto yang saya tampilkan di blog sudah atas persetujuan Bang Edo. 

Tulisan tentang Bangka juga bisa dibaca di sini: Ini Tempat Wisata di Bangka yang Wajib Dikunjungi

Artikel Bangka di Majalah Colours, Garuda inflight mag edisi Oktober - Desember 2019

Colours Garuda Inflight Magazine


Kim Teng, Warung Kopi Tradisional & Legendaris di Pekanbaru

14.38 4 Comments
Warung Kopi Kim Teng Pekanbaru merupakan warung kopi lawas yang telah berdiri sejak tahun 1950. Namanya kondang di kalangan warga lokal maupun wisatawan. Meskipun demikian, ketenaran nama Kim Teng baru sampai di telinga saya ketika berkunjung ke Pekanbaru pada bulan Juli 2019 lalu. Seperti apa warkop berusia lebih dari separuh abad ini?
Kopi Kim Teng Pekanbaru

Kopi Kimteng Senapelan

Nama Kim Teng saya dengar pertama kali dari Ibu Titi, beliau adalah salah satu pembicara dalam Talkshow Forest Talk yang digelar di Pekanbaru pada tgl. 20 Juli 2019 lalu. Jelang keberangkatan kami ke Pekanbaru, obrolan tentang kopi muncul mengisi WAG panitia Forest Talk. Bu Titi bercerita tentang kopi yang biasa dibeli oleh temannya jika sedang berkunjung ke Pekanbaru. Dari temannya tersebut bu Titi mendapatkan Kopi Kim Teng dan menjadi suka setelah mencicipinya. Nah, pas banget mau acara di Pekanbaru, bu Titi ingin beli. Namun, karena berhalangan hadir di Pekanbaru, Bu Titi lantas titip beli lewat saya.  

Warkop Kopi Kim Teng beralamat di Jalan Senapelan Blok C, Kp. Bandar, Kec. Senapelan, Kota Pekanbaru. Meskipun baru pertama kali ke Pekanbaru, saya cukup familiar dengan nama Senapelan karena nama tersebut menjadi nama belakang Bang Putra (rekan blogger Pekanbaru) dalam blog dan akun media sosialnya. Rumah Bang Putra pun berada di Jalan Senapelan, letaknya dekat dari Warkop Kim Teng. Saya dan Bang Putra janjian bertemu di sana.

Lokasi warkop Kim Teng cukup dekat dari Hotel Grand Zuri Pekanbaru yang kami inapi. Mudah dan cepat bila dijangkau dengan kendaraan. Karena itu, seusai check-in, saya dan Hendika (rekan tim panitia FT) langsung pergi ke Kim Teng menggunakan mobil sewa. Oh ya, di Pekanbaru mudah mendapatkan mobil sewa buat jalan-jalan keliling kota. Bisa melalui travel rekanan hotel tempat menginap, maupun melalui OTA langganan. Jika ingin tahu tarif sewa mobil, bisa cek dulu harga rental mobil di berbagai kota lewat Traveloka
Warung Kopi Kim Teng di Senapelan Pekanbaru

Warung Kopi Tradisional

Warung kopi tradisional memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh kedai kopi kekinian. Ia lebih sederhana, "merakyat", dan friendly. Tampilan luar dan dalam pun tidak mencolok, jauh dari kesan wah. Bagi saya di situlah menariknya. 

Ada suasana lebih hangat di warkop tanpa AC, tempat di mana saya merasa, melihat, dan mendengar gelak tawa yang begitu bebas, berisik suara obrolan ngalor ngidul, bualan para lelaki pengangguran yang nongkrong tak kenal waktu, umpatan si tukang kuli berkaos dekil hingga pejabat berkemeja necis yang membicarakan bisnis naik turun. Tak ada yang sibuk buka laptop untuk bekerja, atau menatap hp memanfaatkan internet gratis. Tak ada pula yang duduk sendiri menatap cangkir kopi dalam hening. Di warkop tradisional orang-orang tak saling kenal berkumpul dan berbaur, saling berbahasa tanpa basa-basi. Mereka dipersatukan oleh kopi, lengkap dengan rasa pahit dan aromanya yang wangi. 


Ah, ini jadi mengingatkan saya kala mencicipi romantika warung kopi Ake dan Kong Djie di Belitung. Sederhana tetapi mengakrabkan. Entah ya, saya lebih kangen pada suasana minum kopi di warkop seperti itu. Sama seperti Warkop Asiang di Pontianak, atau Warkop Nam Min di Balikpapan yang pernah saya kunjungi. Unik dan khas. 

Lantas, seperti apa Warkop Kim Teng? Tentu ia bukan seperti coffee shop mentereng yang kerap saya singgahi di Jakarta. Tidak wangi, sejuk, apalagi mewah, tetapi tidak pula sesederhana yang dibayangkan. Ruang tempat minum kopi luas, ada banyak meja dengan kursi yang bisa diduduki oleh ratusan orang. Langit-langitnya tinggi dengan bagian depan terbuka lebar sehingga udara segar masuk sepanjang waktu. Bila ada yang merokok asapnya tak berkumpul lama di ruangan. Dengan pelayan yang banyak dan gesit, pengunjung tidak dibuat lama menunggu pesanan. Ok, warkop ini sudah keluar dari kategori sederhana, tapi tentu saja masih jauh untuk disebut senyaman kedai kopi kekinian.
Minum kopi bersama keluarga 
Minum Kopi berdua, ada pula yang sendirian

Minum Kopi Kim Teng

Rasa penasaran saya pada Kim Teng bukan pada rasa kopi yang disajikan, melainkan pada nama Kim Teng itu sendiri. Siapa kah dia, bagaimana mula ia mendirikan warkop, kisah apa saja yang ia punya selama lebih dari 60 tahun berjualan minuman kopi, semua itu bikin saya kepo maksimal. Perihal rasa kopi, lidah saya biasanya mengikuti suasana hati dan suasana tempat minum kopi. Bila enak, enak pula kopi yang saya minum.

Bang Putera tiba lebih dulu di Kim Teng. Saya dan Hendika menyusul kemudian. Sebagai warkop kebanggaan Senapelan, saya senang bertemu Bang Putra di sini. Bahkan berterima kasih berkat info Bang Putra kami bisa sampai ke Kim Teng. Bang Putra sebetulnya nggak ada menawarkan atau merekomendasikan Kim Teng untuk saya datangi. Entah apa alasannya. Apakah mungkin bagi beberapa warga lokal Kim Teng biasa-biasa saja sehingga nggak perlu direkomendasikan ke pendatang seperti saya? 😄

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, saya ke Kim Teng untuk membeli bubuk kopi titipan Bu Titi, bukan untuk minum kopi. Setelah membeli bubuk kopi, saya akan langsung pergi ke Sanggar Batik Semat Tembaga, bersama Bang Putra. Faktanya, begitu saya melangkah masuk warkop dan bertemu Bang Putra, saya berubah pikiran, mendadak jadi ingin minum kopi. Entah apa yang merasuki saya?? *nyanyik 😂 
Minum Kopi Kim Teng bersama Bang Putra dan Hendika

Berawal dari Singapura


Minum kopi Kim Teng bareng Bang Putra dan Hendika membuat kekepoan saya pada Kim Teng jadi terlupakan. Apakah sihir kopi sedang bekerja? 😂

Suasana, kadang bisa mengubah rencana. Perasaan senang bertemu Bang Putra di warkop legendaris bisa jadi salah satu alasannya. Semua mengalir begitu saja. Bisa jadi juga karena rasa kagum pada pembuat kopi yang bergerak lincah.

Ya, di dalam warung saya mengamati laki-laki berseragam hijau muda yang membuat minuman kopi. Tangannya lincah bekerja. Ia menuang air panas ke dalam teko besar berisi kopi, memindahkannya ke dalam gelas, menambahkan susu kental pada sebagian cangkir, dan menatanya ke atas nampan, itu sungguh menyenangkan dilihat. Sepertinya, inilah sihir yang membuat saya akhirnya duduk dulu memesan kopi, bukan buru-buru pergi setelah bubuk kopi pesanan bu Titi didapatkan.

Saya tak menanyakan apapun pada orang-orang di warung, bahkan pada wanita di meja kasir, yang ternyata adalah keluarga Kim Teng, menantu dari cucu sang pendiri. Arrrgh...

Jadi, saya melakukan pencarian di Google, mencari tahu sejarah warkop Kim Teng, dan saya menemukannya...

"Nama Kim Teng diambil dari seorang warga Singapura bernama Tang Kimteng. Ia adalah seorang turunan etnis Tionghoa yang sempat menjadi tentara Indonesia di Sumatra Utara pada era 40-an. 20 tahun berselang, ia memutuskan untuk membuka kedai kopi usai sebelumnya membantu kakaknya berjualan. Kedai bernama ‘Kopi Segar’ tersebut terletak di gang kecil dan terus bertahan hingga beliau menghembuskan napas terakhir.

Usaha Kimteng kemudian diteruskan oleh cucunya, Awai. Pria bernama asli Mulyadi Tenggana itu sempat menimba ilmu selama enam tahun di Kanada, sebelum akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia dan melanjutkan usaha kedai kopi milik sang kakek. Di tangan Awai, kedai Kim Teng berkembang pesat dan sudah memiliki banyak cabang." (Sumber: www.travelingyuk.com)
Asal kamu tahu, saya suka mengamati barista yang sedang bekerja membuat minuman kopi 😃

Oleh-Oleh Bubuk Kopi Kim Teng 

Saya bukan penggemar minuman kopi. Saya hanya gemar datang ke warung kopi untuk menikmati suasana, sambil sesekali minum kopi, bila lambung sedang aman. Jika sedang tak aman, saya pasti akan memesan minuman lainnya seperti teh, rempah, atau buah, bila ada. Aneh memang, ke warung kopi minumnya jus atau wedang, tapi begitulah saya. Jadi, sebut saja saya "datang ke kedai kopi buat gaya doang" 😂

Saya menyukai minuman kopi tetapi saya lebih suka bila saya tidak sakit kepala, mual, dan muntah karena kopi. Bila lambung sedang aman, saya akan memesan kopi dengan susu. Kadang saya suka menikmati es kopi susu, di lain waktu saya ingin menyeruputnya dalam keadaaan panas. Usai minum, biasanya ada nyeri-nyeri sedikit di kepala. Begitulah rasanya minum kopi bila penderita maag seperti saya banyak gaya haha

Saya sangat jarang membeli kopi untuk dinikmati di rumah, sebab keluarga saya bukan penggemar kopi. Kami hanya minum sesekali, paling sebulan sekali, atau pada saat ada tamu di rumah saja. Di luar itu, kopi bukan minuman yang harus tersaji di meja. Stock buat tamu lebih sering tersimpan sampai kadaluarsa. Lalu dibuang sia-sia. Karena itu, saya menghindari membawa kopi ke rumah. Bila tahu bakal ada tamu datang ke rumah, baru buru-buru beli kopi.

Jika saya bepergian ke daerah lain membeli kopi, biasanya titipan orang. Seperti bubuk kopi yang saya beli di Kim Teng, itu pesanan Bu Titi. 

Bubuk Kopi Kim Teng hanya tersedia dalam kemasan 250 gram yang dijual dengan harga Rp 40.000. Tidak ada dalam ukuran berat lainnya. Kopi yang digunakan adalah jenis kopi robusta yang didatangkan dari Sumatera Barat. Saya dengar, kopi yang digunakan Kim Teng kadang didapat dari Kedai Kopi Laris yang berada di kawasan Pecinan Pekanbaru.
"Seruput dan rasakan nikmatnya Kopi Susu Kim Teng"

Kopi Bubuk Kim Teng @IDR 40K / kemasan 250 gram

Aneka Jajanan Teman Minum Kopi Kim Teng

Banyak orang sepakat bahwa kopi dan roti selalu jadi kombinasi yang paling serasi ketika dinikmati di warung kopi. Kapan pun waktunya, keduanya akan dinikmati dengan suka hati. 

Kopi dan roti srikaya merupakan menu andalan di warkop Kim Teng. Menu seperti ini kerap saya jumpai di warung-warung kopi legendaris yang pernah saya kunjungi di kota lain seperti Warkop Tung Tau di Bangka dan Warkop Nam Min di Balikpapan. 

Kim Teng hanya mempunyai 2 pilihan menu kopi yaitu Kopi O (kopi hitam) dan Kopi Susu. Nah, saya sangat jarang memesan Kopi O, karena saya paling tahu akibatnya bisa panjang buat saya. Apalagi kalau sedang bepergian, saya tidak mau ambil resiko sakit di tempat orang. 

Untuk teman minum kopi, selain roti ada menu pisang goreng. Saya percaya, ini adalah kudapan kesukaan banyak orang.

Makan apa di Kim Teng? Saya tidak memesan makanan apapun. Alasan pertama tentu saja karena saya terburu-buru untuk pergi ke Sanggar Batik Semat Tembaga bersama Bang Putra. Jika pakai pesan makanan segala, alamat bakal lama. Kopi susu yang saya pesan harus saya minum buru-buru, padahal masih panas. Aneh juga sih kok bisa habis. Entah apa yang merasuki 😜

Di sini banyak pilihan makanan yang bisa dipesan. Mulai dari pempek, martabak, roti canai, bubur ayam, nasi goreng, dan masih banyak lagi. Aneka jajanan tersebut dijual oleh pedagang lain yang bermitra dengan Kim Teng. Mereka berjualan di area depan warung.
Kunjungan kedua ke Kim Teng bersama Mas Amril T Gobel
Oleh-oleh Kopi Kim Teng

Tetap Berdiri Membuat Kopi

Jumat sore (19/7), usai mengunjungi Sanggar Batik Semat Tembaga dan Toko Bolu Kemojo Al Mahdi, saya minta Bang Putra untuk mengantar saya kembali ke warkop Kim Teng. Sayangnya, warkop sudah tutup sejak jam 5 sore. Saya tak percaya ada warkop tutup secepat itu. Akhirnya, saya menelpon untuk memastikan, dan ternyata benar sudah tutup.

Yak, warkop Kim Teng ternyata tidak seperti warkop kebanyakan yang buka sampai malam. Seperti Warkop Asiang di Pontianak, ia buka sejak jam 3 pagi sampai lewat tengah malam. Hampir 24 jam, dan tetap ramai pengunjung. Beda warkop beda jam buka ya. Okelah kalau begitu he he

Besoknya, saya balik lagi ke Kim Teng, bareng Mas Amril. Jika Mas Amril datang untuk membeli bubuk kopi, saya justru untuk minum kopi susu lagi. Padahal, akibat minum kopi susu di kunjungan pertama, saya tidak bisa tidur sampai jam 2 pagi, melek hampir 12 jam. Sungguh dahsyat kekuatan kopi Kim Teng. Setelah dibuat tak bisa tidur, dibuatnya pula saya kecanduan  😂 

Selama lebih dari separuh abad berdiri, ribuan cangkir berisi minuman kopi telah dibuat dan diminum oleh pengunjung. Selama itu pula beragam kisah hadir mengisi umur warung. Ada pahit dan manis, ada pasang dan surut. Namun, warung kopi Kim Teng tetap berdiri dan banyak disukai oleh kaum urban masa kini.

Dulu, Warkop Kim Teng berada di tepi Sungai Siak, dekat Pelabuhan Pelindo. Setelah dibakar oleh Jepang, warkop pindah ke ruko dekat tembok belakang Pelabuhan Pelindo. Terakhir, warkop pindah ke ruko di Jalan Senapelan, sampai sekarang. 



Filosofi Kopi

Di internet saya menemukan banyak quote menarik dan penuh makna yang dibuat oleh para peminum kopi. Ada yang lucu, puitis, romantis, dan penuh harapan. Ada pula yang berisi kemarahan, kekecewaan, kesedihan, bahkan kehilangan. 

"Barangkali, Tuhan menciptakan kopi di bumi ini, agar kita semua tidak sendirian dalam menikmati kepahitan". - Ilham Gunawan

Begitulah secangkir kopi, ia bisa menghadirkan berbagai ungkapan rasa, dan seringkali bermakna sangat dalam. 

Bagaimana dengan pembaca, apa yang bisa kamu katakan tentang kopi? 😀

Jika berkunjung ke Pekanbaru, silakan mampir ke Warkop Kim Teng :)


Warung Kopi Kim Teng

Dasa Ekatama UD, Jalan Senapelan Block C

Kp. Bandar, Kec. Senapelan

Kota Pekanbaru, Riau 28153

Telepon: (0761) 853300