Operasi Batu Empedu Ditunda Melulu, Ini Penyebabnya

16.14
Saya mau lanjut cerita tentang sakit batu empedu yang dialami oleh suami. Bukan untuk berbagi penderitaan agar mengundang simpati atau semacamnya, tapi untuk berbagi pengalaman atas apa yang terjadi supaya siapa saja bisa mengambil hikmah tentang bagaimana menjaga pola makan yang baik agar bisa tetap sehat di berapa pun usia.

Saya selalu mendampingi suami selama ia sakit dan dirawat. Karena itu saya tahu apa yang terjadi selama ia mendapatkan perawatan dan berbagai tindakan medis dari para dokter spesialis di Eka Hospital, rumah sakit tempat suami berobat. Di sini saya juga akan berbagi info biaya selama perawatan pra operasi. Silakan simak, semoga bermanfaat.

Topik ini saya tulis dalam beberapa bagian. Silakan klik link berikut jika ingin mengetahui lebih banyak:
- Salah Duga Maag Ternyata Batu Empedu

Cholelithiasis & Dyspepsia

09 Mei 2020 suami masuk UGD Eka Hospital karena nyeri hebat di perut. Serangkaian pemeriksaan lab dan USG abdomen atas dan bawah hasilnya menunjukan adanya batu empedu berukuran 0,9cm. Dari sini didapat diagnosa awal untuk suami adalah Cholelithiasis (batu empedu) dan Dyspepsia (gangguan pencernaan).

Pada saat itu bilirubin, amilase, dan lipase suami sangat tinggi. Dokter spesialis penyakit dalam yang menangani suami Dr. Ratna J. Soewardi, Sp. PD KGH mulai melakukan pengobatan dan diet makan yaitu dengan berpuasa penuh selama 24 jam selama 3 hari. Semua makanan dan minuman masuk lewat infus. Infus apa saja? Ada futrolit, Asering, Nacl, Smof Kabiven dll saya nggak hafal. Dari cairan bening, hingga putih pekat seperti susu, yang kata perawatnya adalah cairan nutrisi, semua masuk lewat infus. Obat  mah jangan ditanya, bejibun. Ada yang ditelan, dimasukkan lewat infus, hingga disuntik langsung ke pembuluh darah di lengan.

Sudah tahu apa penyebab batu empedu?
Silakan klik di sini --> Penyebab Batu Empedu dan di sini --> Gejala Batu Empedu


Pantangan Makan

Setelah 3 hari puasa penuh suami di-lab lagi dan hasilnya membaik. Bilirubin, amilase, dan lipase turun. Dokter bedah yang menangani suami yaitu Dr. dr. Heber Bombang Sapan, SpB (K) BD selanjutnya melakukan challenge dengan membiarkan suami makan makanan seperti yang dimakan orang sehat kecuali yang mengandung santan, lemak, dan goreng-gorengan. Suami saya girang bukan main boleh makan lagi setelah 3 hari puasa tanpa jeda 😂

Beberapa makanan yang saat itu "diharamkan" buat suami:
- Santan

- Kulit ayam, jeroan, semua daging berlemak, ikan darat seperti patin, keju, susu, coklat
- Makanan / minuman kaleng (berpengawet)
Salah satu menu diet suami, serba sayur/buah, tanpa protein hewani dan nabati. Tentunya dilarang makan makanan berlemak dan mengandung santan serta pengawet

Cholelithiasis & Pancreatitis

Hari ke-3 (11/5), kelar puasa 24 jam selama 3 hari itu, dokter bedah minta agar dilakukan MRCP untuk mengetahui lebih detail semua kondisi pencernaan. MRCP Kontras berbiaya Rp 6 juta ini memberikan hasil sebagai berikut:
"Batu multiple kecil di CBD dan kandung empedu disertai cholecystitis akut. Saat ini saluran bilier tampak tidak melebar. Ductus pancreticus tidak melebar, pancreas dalam batas normal, belum tampak gambaran pancretitis pada MRI. Tidak tampak massa di hepar. Organ Abdomen atas lainnya dalam batas normal."


Hasil lab pada hari ke-3 membaik. Selanjutnya dokter bedah melakukan challenge. Jika dengan puasa keadaan hati dan pankreas membaik, lantas bagaimana jika dengan makan?  Apakah "mengamuk" atau tidak. Alhamdulillah hasilnya tetap bagus. Namanya manusia, normalnya makan, masa harus puasa seumur hidup demi menjaga pankreas? Saya rasa itu alasan challenge makan dari dokter bedah. 

Berikut hasil 3 kali lab, khusus untuk 3 item berikut:
1. Tgl. 9/5 Amilase 159 (nilai normal 13-53), Lipase 686 (nilai normal <60), Bilirubin total 2.26 (nilai normal <1.0)

2. Tgl. 11/5 Amilase 42 (nilai normal 13-53), Lipase 92 (nilai normal <60), Bilirubin total 4.71 (nilai normal <1.0)

3. Tgl. 13/5 Amilase 36 (nilai normal 13-53), Lipase 78 (nilai normal <60), Bilirubin total 3.25 (nilai normal <1.0)

Dari hasil lab terbaru tersebut didapat diagnosa baru yaitu Cholelithiasis dan Pancreatitis.

Dokter bedah menjelaskan seperti ini kepada saya dan suami:
"Batu empedu kecil (0,9cm), tetapi keluar kantong (jatoh), masuk saluran, dan ini mengganggu saluran bersama (antara hati dan pankreas), itu sebabnya terjadi sakit di hati dan pankreas yang ditandai dengan nyeri ulu hati, bilirubin tinggi, nyeri perut, kembung, mual, dan muntah. Perlu tindakan operasi yang disebut dengan Laparatomi dan by pass."

Operasi Laparatomi dan By Pass

Terkait dua tindakan operasi yang akan dilakukan terhadap suami, kami mendapat penjelasan lanjutan bahwa operasi yang akan dilakukan adalah operasi konvensional yaitu bedah besar. Selama pandemi ini, laparaskopi sementara dihentikan. Kalau saya tak salah dengar hal ini terkait penggunaan aerosol pada saat laparaskopi, dan ini tidak aman. Aerosol biasanya digunakan dalam pelayanan kedokteran gigi. Mungkin karena itu banyak klinik dan poli gigi stop beroperasi selama pandemi. 

Lanjut lagi soal metode laparaskopi, kata dokter bedah terakhir ia lakukan pada bulan Maret 2020, setelah itu stop dulu sampai nanti keadaan aman. 

Noted: Belakangan saya diinfo bahwa Juni ini laparaskopi sudah bisa dilakukan lagi.

Nah, selain untuk alasan itu, operasi by pass membutuhkan bedah besar, itu kenapa harus bedah metode konvensional. Operasi by pass adalah tindakan membuat saluran baru dalam sistem pencernaan. Saya kurang paham detailnya seperti apa, intinya ketika kantong empedu diangkat, batu empedu dalam saluran dibuang, maka perlu saluran baru supaya hati dan pankreas tetap saling terhubung.

Tindakan pertama meliputi operasi Laparatomi Choledochotomy + Eksplorasi CBD + IOC Open. Tindakan kedua berupa By Pass Choledocoduodenostomy.

Estimasi biaya untuk kedua operasi tersebut Rp 71.540.000


Tunda Operasi demi Lebaran

Hasil lab ke-3 pada hari ke-5 di bulan Mei menunjukan hasil yang positif. Itu artinya dengan berpuasa dan makan seperti biasa kondisi perut membaik. Lipase dan Amilase turun jauh, sedangkan Bilirubin diharapkan bisa kembali normal dengan terapi obat dari dokter internis.

Pada saat kondisi sudah membaik, suami dinyatakan aman untuk tindakan operasi. Dokter bedah tinggal menunggu keputusan kami, apakah siap operasi atau belum. Tapi yang pasti, batu empedu itu memang harus dioperasi agar nyeri hebat di perut tak terulang lagi. Jika belum dioperasi, sakitnya akan terulang kapan saja. Apalagi bila tak jaga makan.

Setelah pikir-pikir, kami pilih menunda operasi. Suami ingin berlebaran dulu di rumah, ia ingin menjadi imam kami salat Ied di rumah dalam keadaan normal meski di situasi tak normal. Maksudnya begini, jika operasi sebelum lebaran, maka keadaan setelah operasi tentu belum pulih betul. Otomatis saat jadi imam salat tidak bisa dalam keadaan seperti saat sehat. Keceriaan lebaran pun akan tertahan.

Pilihan pulang dan menunda operasi kami konsultasikan ke dokter yang menangani. Keduanya mengijinkan untuk rawat jalan dan minta suami untuk taat kontrol. Kami setuju untuk minum obat dan melakukan cek lab sesuai jadwal yang ditentukan.

Biaya Rawat Pra Operasi Bagian Pertama

Biaya yang akan saya sebutkan berikut bukan biaya patokan untuk semua orang di semua rumah sakit. Beda rumah sakit bisa jadi beda pula kebijakan dan biaya yang dikenakan. Saya menerangkan dalam rangka berbagi informasi, siapa tahu ada yang punya masalah kesehatan yang sama, lalu ingin berobat dan melakukan perawatan di Eka Hospital, bisa jadi pertimbangan.

Biaya rawat inap sejak tgl. 9 Mei hingga 13 Mei 2020 untuk kasus yang saya ceritakan di atas, terdiri dari:
1. Accomodation Service (ruang IGD dan tarif kamar standar) Rp 3.105.000
2. Adm fee Rp 2.382.855
3. Konsultasi dokter (umum, jaga, spesialis) Rp 2.880.000
4. Drugs (obat-obatan) Rp 13.006.800
5. Laboratory Rp 4.633.580
6. Medical Supplies Rp 1.235.250

7. Radiology Rp 10.551.185

Total Rp 38.244.185

Selanjutnya rawat jalan untuk cek lab, obat, dan konsul ke dokter spesialis bedah dan spesialis penyakit dalam sebanyak 3 kali dengan total Rp 5.600.150

Total keseluruhan sejak rawat inap sampai rawat jalan paska rawat inap Rp 43.844.335

Alhamdulillah sebagian besar biaya tersebut dicover asuransi, segelintir item lainnya tidak, seperti biaya tes covid untuk keperluan prosedur rawat inap.

Bagaimana selanjutnya? Jadi operasi? Keluar biaya berapa lagi? Yuk simak terus ya.
Jamu dan Salad, Biar Kuat dan Sehat selama Jaga Suami di Eka Hospital

Nyeri Hebat Lagi, Masuk UGD lagi

Dua hari sebelum lebaran suami melakukan cek lab lagi dan kontrol ke dokter spesialis penyakit dalam. Hasil lab sangat baik, semua sudah kembali normal, baik hati maupun pankreas. Dokter juga mengatakan suami berada pada kondisi sangat aman jika hendak melakukan operasi. Kami merasa lega dengan pernyataan itu. 

Namun tak disangka tengah malam di malam takbiran terjadi nyeri hebat lagi sehingga suami harus saya bawa lagi ke UGD. Minggu pagi (24/5) keadaan suami membaik dan bisa pulang untuk berlebaran di rumah. Tapi malamnya nyeri hebat lagi dan kembali saya bawa ke UGD Eka Hospital.

Hari-hari selanjutnya suami kembali rawat jalan dengan minum obat, istirahat, jaga makan, dan menunggu waktu yang tepat untuk operasi. Tgl. 31 Mei mulai masuk RS lagi dengan rencana operasi pada tanggal 1 Juni 2020. Namun, hasil cek lab sangat buruk. Amilase dan Lipase berada pada nilai tertinggi dari yang pernah terjadi sebelumnya yaitu:

Amilase 332 (nilai normal 13-53), Lipase 1390 (nilai normal <60).

Saking tingginya, hasil Lipase tersebut diberi kode HH (high high), yang artinya tinggi banget!

Amilase & Lipase Tak Kunjung Normal

Rencana akan adanya operasi sudah diberitahukan sejak pertama kali dinyatakan punya gangguan Batu Empedu. Namun jadwal operasi terus berubah karena kondisi Amilase dan Lipase tidak normal (tinggi). Sebagai informasi, Nilai Normal Amilase 13-53, Nilai Normal Lipase <60.

Berikut jadwal operasi yang ditetapkan namun akhirnya ditunda terus karena nilai lipase dan amilase tidak normal:

1. Cek 24/5:  Amilase 61, Lipase 154. Jadwal operasi tunda ke 27/5

2. Cek 1/6: Amilase 332, Lipase 1390. Jadwal operasi tunda ke 3/6
3. Cek 3/6: Amilase 224, Lipase 880Jadwal operasi tunda ke 5/6
4. Cek 5/6: Amilase 245, Lipase 835Jadwal operasi tunda ke 7/6
5. Cek 7/6: Amilase 209, Lipase 826Jadwal operasi tunda ke 9/6
6. Cek 7/6: Amilase 179, Lipase 683Jadwal operasi tunda ke 11/6
7. Cek 11/6: Amilase 165, Lipase 568Jadwal operasi kami hentikan 😂

Operasi Ditunda Berulangkali

Bukan mau kami menunda operasi. Yang ada malah mau secepatnya operasi supaya suami tidak lagi mengalami nyeri hebat. Tetapi, ada kronologi yang membuat operasi tak kunjung terjadi. Seperti yang saya tulis di atas, 7 kali cek lab, nilai amilase dan lipase tak juga normal. Kondisi ini tidak aman bagi pasien, itu yang dikatakan oleh dokter.

Bila dipaksakan, kondisi paska operasi tidak ada yang tahu akan seperti apa. Yang jelas, dalam keadaan pankreas meradang, bisa saja terjadi perdarahan hebat. 

Sejak dirawat sampai tgl 12 Juni, semua rasa sakit yang dialami suami sudah tidak ada lagi. Secara fisik luar ia terlihat sehat dan normal. Bisa duduk, berjalan, dan pergi ke kamar mandi. Untuk salat sementara hanya bisa duduk karena infus tidak pernah lepas dari tangannya. Kalau berdiri, gerakannya terbatas. Makan pun normal. 3 kali sehari makan makanan yang disajikan oleh RS, sesuai menu yang disarankan oleh dokter penyakit dalam dan dokter gastro.

Simple-nya begini: Pankreas sakit, tapi tidak menimbulkan gejala pada pasien, sehingga pasien tak terlihat seperti orang sedang sakit. Nah, dengan kondisi seperti ini, tingkat urgensi untuk operasi menurun, sehingga dokter bedah menyatakan TIDAK PERLU BURU-BURU OPERASI.

OK SETUJU! 
Kamar Standard ini tidak terlalu luas tapi tenang karena hanya sendirian tanpa pasien lain

Pendapat dari 3 Dokter Spesialis

Obat nyeri saat pankreas sakit itu ada, tetapi obat untuk menurunkan lipase dan amilase itu tidak ada. Satu cara yang sudah dilalui dengan puasa 24 jam selama 3 hari, cukup drastis bisa turun 500 dari 1300 ke 800-an. Tapi saat kembali makan, tidak mengalami banyak penurunan, malah stag di 800 selama beberapa hari. Lipase dan Amilase suami  harus dalam normal lagi, terlebih untuk operasi.

Untuk mendapatkan tambahan opini, dokter bedah meminta agar Dokter spesialis Gastroenterologi-Hepatologi yaitu Dr.dr Nella Suhuyanly, Sp.PD-KGEH turut memeriksa suami untuk keperluan tindakan operasi dalam kondisi amilase dan lipase tinggi. Ternyata, pendapat beliau sama, suami belum aman dioperasi. 

Tiga dokter spesialis sudah memberikan pendapat yang seragam: Belum aman untuk operasi, tetapi aman bila ditunda

OK. Kami fix memilih pulang dan lanjut rawat jalan. 

Biaya Rawat Inap Bagian Kedua

Kali ini biaya rumah sakit lebih besar dari yang pertama karena durasi rawat inap lebih panjang. Totalnya mencapai Rp 47.970.637 

Lumayan berkeringat melihat angkanya. Memang ada asuransi, tapi beberapa item tidak tercover dan akhirnya harus dibayar sendiri. Biaya pribadi selama mendampingi suami juga tidak sedikit. Tapi sungguh, berapapun biaya yang keluar jadi tidak penting ketimbang kesembuhannya. Insha Allah saya ikhlas.

Biaya rawat inap sejak tgl. 1 Juni hingga 12 Juni 2020 untuk kasus Pankreatitis Akut yang diderita suami terdiri dari:
1. Accomodation Service (tarif kamar standard) Rp 6.900.000
2. Adm fee Rp 3.553.290
3. Konsultasi dokter (umum dan spesialis) Rp 6.400.000
4. Drugs (obat-obatan) Rp 16.192.960
5. Laboratory Rp 8.761.965
6. Medical Supplies Rp 1.653.720

7. Radiology Rp 6.698.002

Total Rp 47.970.637 

Pankreatitis Akut & Kolelitiasis

Sejak masuk rumah sakit, dirawat selama 12 hari dan akhirnya keluar, diagnosa awal dan akhir sama-sama menyebutkan Pankreatitis Akut dan Kolelitiasis. 

Ya, karena batu empedu, terbitlah pankreatitis.

Batu empedu masih dalam kriteria kecil ternyata berdampak tidak kecil pada organ pencernaan. Karena ukurannya yang kecil, ia keluar kantong, jatuh masuk saluran, menyebabkan sumbatan. Meski ringan tapi pankreas jadi ngamuk. Hati pun kena gangguan fungsi. Maka jangan heran bila nyeri datang, rasa sakitnya luar biasa, mirip orang mau sakaratul maut. 

Alhamdulillah suami kini masih baik-baik saja. 
Momen langka, berulang tahun di Rumah Sakit di saat pandemi 

Pengobatan Herbal, Sebuah Ikhtiar Untuk Sembuh

Masa tunggu operasi tidak tentu karena ada lipase dan amilase yang harus kami upayakan sembuh. Tak ada obat dari dokter untuk itu. Karena itu, saya terus berjuang mencari jalan agar suami bisa sembuh. Upaya saya saat ini adalah membawa suami berobat herbal ke herbalis yang sudah saya kenal lama. Beliau seorang herbalis lulusan S2 Parmasi UI. Siapa beliau? Sabar, saya akan ceritakan segera.

Ada alasan kuat kenapa saya menempuh pengobatan herbal, karena hasil baiknya sudah terbukti pada anak saya Alief saat menderita cerebral atrofi di usia 7 bulan dan saat itu dokter bedah bilang pada usia 3 tahun nanti Alief harus dioperasi kepala untuk pemasangan selang dalam kepala hingga badan. Saya juga pernah punya kista besar di rahim yang menyebabkan haid selalu sakit. Dokter kandungan sudah bilang kista itu akan dioperasi jika sudah mencapai 5-7 cm. Tetapi, berkat pertolongan Allah SWT melalui kegigihan saya berobat herbal secara rutin dan taat pada saran kesehatan yang diberikan, alhamdulillah  saya dan Alief sembuh tanpa operasi.

Saya sudah melakukan pengobatan kedokteran, dan kini pengobatan herbal. Saya hanya berusaha, tidak tahu jalan mana yang akan membawa suami saya pada kesembuhan. Semoga saja salah satunya, atau keduanya. Sebisa mungkin bisa sembuh tanpa operasi. Insha Allah bisa....bisa...bisa.

Saya suka menjadi seseorang yang tetap optimis, semangat, dan tidak pernah putus asa.

Setiap orang, seharusnya demikian bukan?

Saya akan ceritakan di mana dan bagaimana pengobatan herbal yang sedang kami tempuh saat ini. Tunggu pada tulisan berikutnya ya. 


Terima kasih telah membaca.

Salam sehat selalu.




Share this

A mother of two who loves travel and enjoy to share my journey and valuable experiences

Related Posts

Previous
Next Post »

8 Comments

  1. Banyak sekali istilah yang gak kupahami tapi sedikit banyak tercerahkan dari tulisan mbak Rien yang lugas ini. Kerasa banget kalau orang yang disayang harus dirawat. Dan, benarlah bahwa sehat itu mahal :( semoga mas Arif segera sehat dan kita semua sehat selalu. Amin.

    BalasHapus
  2. Semoga ikhtiar sehat utk suaminya dimudahkan ya mba Rien. Jaga kesehatan juga dan terima kasih tulisan pengalamannya.

    BalasHapus
  3. Moga dengan herbal bisa lekas sembuh y mbak mas arif

    BalasHapus
  4. Semoga ikhtiarnya berhasil ya mbak dan suaminya segera sembuh 👍

    BalasHapus
  5. Aduh mba sampai berhari-hari di rs pasti berat banget secara fisik dan mental benar-benar harus sabar. Jaga kesehatan juga mba semoga mas Arif cepat diangkat penyakitnya. Aamiin

    BalasHapus
  6. Aku baru tau klo penggunaan aerosol untuk laparoscopy kurang aman. Aku udah dua kalu laparoscopy soalnya

    Semoga proses pengobatannya berjalan lancar mbak, yang manapun yang memberi kesembuhan nantinya, pasti semua jalan adalah yang terbaik yang ditempuh keluarga

    Aku nunggu cerita pengobatan herbalnya ya, mbak

    BalasHapus
  7. Ditunggu cerita berikutnya bu, karena saya punya batu empedu juga.

    BalasHapus
  8. Di tunggu mbk,, cerita obat herbal nya saya juga divonis batu empedu dan ini dah mulai sakit sakitan

    BalasHapus

Leave your message here, I will reply it soon!