Langkah Kecilku dari Rumah Untuk Dukung Gerakan Jaga Bumi

11.26 2 Comments
Jaga bumi dari rumah saja, memangnya bisa? Bisa dong. Jika belum tahu caranya, coba deh baca E-Book “Kiat 50 Instagramer Jaga Bumi #DirumahSaja”. E-Book ini berisi kiat-kiat yang bisa banget dipraktekkan langsung di rumah. Kiat-kiatnya dikategorikan menjadi: Berkebun untuk Bumi dan Manusia; Manfaat Keanekaragaman Hayati; Hemat Sumber Daya Alam; Konsumsi Pangan Lokal; Reduce, Reuse, Recycle; Anak Cinta Lingkungan; serta Menuju Aktivitas Digital.
E-book Kiat 50 Instagramers Jaga Bumi #DiRumahSaja

Pada tulisan ini saya mau cerita cara saya jaga bumi dari rumah. Tapi sebelum itu saya bahas dulu soal e-book nya ya. Yuk simak.


Dari Lomba Menjadi E-Book


E-book “Kiat 50 Instagramer Jaga Bumi #DirumahSaja” dengan Nomor ISBN 978-602-51240-1-3 diluncurkan pada tanggal 19 Mei 2020 merupakan kumpulan kiat 50 instagramer terpilih dari 360 unggahan Lomba Instagram Hari Bumi 2020 yang diselenggarakan oleh The Climate Reality Project Indonesia. Yang berminat membacanya dapat unduh dari situs web Climate Reality Indonesia di sini.


Manager Climate Reality Indonesia, DR Amanda Katili Niode mengungkapkan bahwa lomba Instagram dilaksanakan untuk memperingati 50 tahun Hari Bumi, 22 April 2020. 


"Kegiatan ini diharapkan memberikan inspirasi positif bagi masyarakat tentang upaya-upaya ringan, bersahaja, namun kreatif dalam menjaga kelestarian bumi dengan di rumah saja selama masa pandemi. Berbagai upaya tersebut, baik berbasis internet maupun tidak, dapat dilakukan masyarakat umum," terang Amanda melalui keterangan tertulisnya, Rabu (19/5). 





Dari Juri Hingga Jadi Kurator & Koordinator Foto E-Book


Momen Hari Bumi 2020 memberi saya pengalaman sekaligus inspirasi yang baik. Selain turut serta mengajak orang berperilaku baik terhadap bumi di masa pandemi, saya pun mendapat kehormatan dari Climate Reality Indonesia menjadi salah satu juri dalam Lomba Instagram Hari Bumi 2020. 


Pengalaman menjadi juri dalam lomba sarat pesan positif dan penuh manfaat ini mempertemukan saya pada banyak ide baik yang bisa dilakukan oleh orang-orang selama pandemi. Bahkan, saya tercerahkan oleh salah satu kiat yang belum pernah terpikirkan sebelumnya oleh saya. Apa itu? Baca deh e-booknya, saya rasa kamu pun akan menemukannya sebagai sesuatu yang ngena banget di dirimu.


Ibu Amanda Katili Niode selaku Manager Climate Reality Indonesia tak hanya menunjuk Mas Amril T Gobel dan saya sebagai juri, kami berdua juga dilibatkan dalam pembuatan e-book.  Nah, siapa sangka saya dapat pengalaman tambahan lagi dari gelaran peringatan hari Bumi 2020, jadi kurator dan koordinator foto! 


Terima kasih Climate Reality Indonesia atas kepercayaannya!


Baca juga: Tetap Sehat di Tengah Pandemi

Jadi Juri Lomba Instagram Hari Bumi 2020 - Climate Reality Indonesia
Jadi Kurator dan Koordinator Foto E-Book Kiat 50 Instagramer Jaga Bumi #DiRumahSaja - Climate Reality Indonesia

Kiat Jaga Bumi ala Travelerien

Bagaimana dengan saya sendiri, apa yang saya lakukan dalam mendukung gerakan #JagaBumi dari rumah saja selama pandemi? Silakan baca E-Book Kiat 50 Instagramer Jaga Bumi #DiRumahSaja, semua kiat di dalamnya sudah saya lakukan, bahkan jauh sebelum pandemi. Kecuali satu hal saja, hemat listrik dengan mencuci baju pakai tangan πŸ˜‚ 


Ya, inilah misteri yang sejak tadi belum saya ungkap, sebuah kiat yang "mencerahkan" karena hampir tidak terpikirkan sebelumnya. Mungkin karena selama ini saya sungguh butuh mesin buat menggantikan tenaga dan waktu yang kerap tiada (atau memang ditiada-tiadakan karena mencuci pakai tangan itu melelahkan, lama, dan bikin tangan jadi kering akibat kelamaan kena deterjen?). Semoga saja ada solusi ya, mesin cuci tanpa listrik πŸ˜ƒ


Sependek ini, ada sejumlah dukungan baik saya pada bumi yang saya lakukan dari rumah seperti berkebun, yakni menanam pohon buah dan sejumlah tanaman hias untuk menghijaukan halaman maupun ruangan dalam rumah. Saya juga menata sistem pencahayaan di rumah untuk meminimalisir penggunaan lampu listrik, mengatur penggunaan air agar dipakai seperlunya, sesering mungkin mengkonsumsi pangan lokal, serta menerapkan perilaku 3R (Reduce, Reuse, Recycle).


Langkah kecil begitu, emang ada dampaknya bagi bumi?

Ya, memang hanya langkah kecil, tetapi jika dilakukan oleh jutaan bahkan milyaran orang di dunia secara rutin dan terus menerus, tentu akan berdampak besar, bukan? 


Mau lihat apa yang saya lakukan di rumah dalam rangka jaga bumi? Yuk simak terus ya.

Salah dua tanaman di rumahku, pohon jambu biji di halaman dan bougenvile yang saya biarkan menjalar di atap teras🌳🌺

Berkebun di Rumah


Pada foto di atas (atap rumah saya), tampak salah dua tanaman yang ada di rumah saya yaitu pohon jambu biji dan bougenvile dengan bunga berwarna ungu.


Saya tinggal di salah satu cluster paling jadul dan tua di BSD. Rumah saya mungil, punya pekarangan kecil, tapi kata orang-orang rumah saya segar dan cantik berkat tanaman. So, rumah saya itu sebelas dua belas dengan pemiliknya, kecil mungil cantik dan ngademin *gubraks


Tuhan menciptakan saya sebagai perempuan yang suka berkebun, sebuah hobi warisan dari  kakek dan nenek saya (ada ya warisan hobi?) hihi. Bedanya, kakek nenek saya berkebun di lahan luas berhektar-hektar, saya di lahan 7S : sangat sempit sekali sehingga selonjor saja susah 😁


Kakek nenek punya tanah sangat luas di Sumsel sana yang sejak dulu dijadikan kebun, kemudian diwariskan ke anak-anaknya, salah satunya bapak saya. Berhubung bapak saya sudah tiada sejak saya bayi, maka langsung turun ke saya sebagai pemiliknya. Tanah-tanah itu dari dulu sudah jadi kebun duku, durian, manggis, rambai, pisang, rempah-rempahan, sampai karet pun ada. Hasilnya melimpah, dan saya bersama keluarga bisa menikmatinya dengan bahagia, sampai kini.


Tentunya, saya sudah sangat puas berkebun di lahan luas. Lalu bagaimana rasanya ketika berkebun di rumah berlahan mungil dan sempit di BSD? Tetap bisa kok meskipun tak seleluasa berkebun di areal yang luas. Ya, setidaknya saya bisa menanam pohon jambu biji yang kini tumbuh tinggi dan telah lama rutin berbuah, membuat saya dan burung-burung seringkali berebut. Di depan rumah juga ada bougenvile kesukaan, serta aneka tanaman hias kecil-kecil yang saya tanam dan rawat sendiri.


Lahan sempit bukan penghalang untuk bertanam, bukan?

Panen Jambu Biji di depan rumah
Memetik apa yang ditanam

Tanaman Hias, Untuk Keindahan dan Kesegaran

Sampai saat ini saya belum pernah menggunakan tukang kebun panggilan untuk menata tanaman di rumah. Saya masih bisa kerjakan sendiri. Mulai dari membeli tanah, pupuk, pot, memilih tanaman, hingga melakukan perawatan. Untuk urusan gali-gali lubang atau tebang-tebang dahan yang terlalu liar, biasanya saya serahkan ke suami. 


Tanaman yang saya pilih menyesuaikan lahan, kecil-kecil dan pendek. Yang penting bisa hidup, terawat, dan membuat suasana rumah jadi asri dan segar. Kebanyakan yang saya beli adalah tanaman murah. Tak soal murah dan biasa, yang penting bisa bertanggung jawab terhadap apa yang harus dirawat. Bukan begitu, mom?


Baca juga: Madu Persada, Madu Murni Sarat Khasiat

Pakai pot gantung biar hemat tempat
Digantung di dinding juga bisa
Satu-satunya yang tinggi dan rindang adalah pohon jambu biji
Indah dipandang mata dan menyerap CO2
Dari halaman, tanamanku telah menambah pasokan oksigen dan mengurangi gas rumah kaca

Pangan Lokal, Sehat dan Hemat

Jika seorang ibu dianggap sempurna karena jago masak, maka selama ini saya gak bakal dapat predikat sempurna hehe. Tapi yang pasti, naluri saya sebagai seorang istri dan ibu sudah tentu membuat saya hanya akan memilih makanan terbaik untuk dikonsumsi oleh keluarga, baik saat beli di luar di tempat yang saya anggap aman dan sehat, maupun dimasak sendiri dengan keahlian ala kadarnya. 


Masa pandemi memberi hikmah tersendiri. Perintah untuk stay at home dan social distancing otomatis membuat saya harus banyak di rumah, termasuk mengurus kebutuhan makan keluarga. Saya kini jadi lebih suka baca resep di internet dan nonton video masak-masak di youtube. Efek lanjutannya, saya jadi rajin membuat detail menu harian, belanja ke tukang sayur, hingga mengolah sendiri semua bahan untuk dimasak di dapur kesayangan. 


Abang tukang sayur di depan komplek menjual aneka sayur, buah, dan lauk segar yang bisa saya dapatkan dengan harga bervariasi. Saya belanja di sana untuk stock beberapa hari agar tak tiap hari keluar rumah. Darinya, saya mendapat banyak bahan untuk membuat menu pokok, ataupun kudapan disaat bersantai. Buah lokal dan rempah-rempah seringkali saya jadikan minuman, dalam bentuk jus maupun jamu. 


Pandemi ternyata nggak cuma bikin saya jadi rajin masak sendiri dan pergi belanja sendiri, tapi juga jadi tambah tahu cara berhemat saat akan membuat makanan sehat. Harapan saya sih semoga para petani, peternak, dan semua orang yang terlibat dalam pendistribusian bahan pangan lokal ini jadi senang hatinya. Hasil kerjanya tak sia-sia, meski pandemi tetap ada orang belanja.

Sayur, lauk, dan buah lokal, belanjaan untuk stock beberapa hari
Pangan lokal sedap, tumis bunga pepaya teri
Labu parang, buah lokal sebagai bahan bolu
Bolu labu parang buatan sendiri
Minuman dari rempah: Jahe, gula aren, kayu manis, cengkih

Meniadakan Penggunaan Kantong Plastik 

Kantong plastik yang masuk rumah paling banyak didapat saat belanja, ke tukang sayur salah satunya. Kalau sedang beli bahan makan di tukang sayur, coba deh amati abangnya saat menyimpan apa yang kita beli. Misal nih, kita ambil wortel, tarok di timbangan, lalu dimasukkan ke kantong plastik. Lalu kita ambil cabe, ditimbang, dimasukkan ke kantong plastik yang lain lagi. Kita ambil jamur, ditimbang, dimasukkan ke kantong plastik lainnya lagi. Semakin banyak yang kita beli, semakin banyak kantong yang digunakan. Terakhir, setelah semua ditimbang dan dibayar, masing-masing kantong tadi dimasukkan lagi ke dalam kantong plastik ukuran besar. 


Saya sudah lama sekali mengamati hal tersebut, dan setiap kali lembaran kantong itu ditarik dan dipakai, tiap kali pula saya seperti ingin teriak "stop....stop..." Jadi, saya kalau ke tukang sayur, selalu bawa tas besar sendiri. Biasanya kantong-kantong bekas belanja sebelumnya yang masih bisa digunakan sampai beberapa kali. 


Nah, buat mengakali supaya nggak tiap belanjaan dikantongi, biasanya saya begini: Setiap sayur/lauk/buah yang saya pilih untuk saya beli, saya kumpulkan dulu di satu tempat. Kalau sudah selesai, baru dihitung tuh, sambil ditimbang. Nah, setiap kelar ditimbang, saya bilang abangnya supaya langsung dimasukkan saja ke tas besar yang saya bawa dari rumah. Tidak usah dikantongi satu-satu lagi.


Buat saya tidak masalah wortel, kentang, cabe, dan semua belanjaan tercampur jadi satu. Yang penting benar susunan dalam tasnya. Misal, yang berat-berat seperti kentang, wortel, timun, ditarok di bawah. Nanti sayur-mayur paling atas biar nggak lecet dan patah-patah.


Biasanya sampai di rumah semua belanjaan tadi saya bersihkan dulu sebelum di simpan. Nah, pada saat dibersihkan itulah saya pisahkan bahan-bahan sesuai kelompoknya. Dengan cara begini saya tak perlu membawa pulang banyak plastik, ya kan?


Untuk lauk-pauk seperti ikan, daging, tahu, tempe, dll, biasanya saya bawa kotak sendiri dari rumah, biar nggak perlu dikantongin plastik lagi. 

Bawa kantong belanja sendiri dari rumah 


Hemat Listrik

Senangnya punya rumah mungil, mudah ditata dan dirapikan. 


Saat saya mendekorasi ruangan, tanaman dan nuansa serba putih adalah dua unsur penting yang membuat perbedaan besar. Penambahan tanaman membuat ruangan terasa segar dan sejuk. Penggunaan warna putih membuat ruangan lebih bersih cemerlang dan terang meski tanpa lampu. Warna putih juga membuat kesan ruangan jadi lebih luas. Cocok dengan rumah saya yang mungil, ya kan? 


Saya menempatkan beberapa perabot di tempat yang berlimpah cahaya alami dari luar, misal tempat biasa berkumpul, bersantai, dan sering dijadikan tempat untuk membaca, supaya bisa meminimalkan penggunaan lampu. 


Untuk mengurangi penggunaan AC di dalam kamar tidur, bisa dengan meletakkan ranjang di dekat jendela supaya udara/angin segar bisa lebih mudah mengenai badan saat berbaring di kasur. Kalau di ruang tamu/keluarga, saya pastikan membuka jendela/pintu lebar-lebar supaya angin dari luar bisa keluar masuk dengan mudah. Pakai AC hanya benar-benar bila udara sudah sangat panas.


Dalam hal menyeterika pakaian, selama di rumah saja sudah lama tidak saya lakukan karena baju buat pergi sangat jarang dipakai keluar. Kalaupun keluar ke tukang sayur, hanya pakai baju biasa, luarnya pakai jaket. Jadi tidak ada yang perlu disetrika. Baju sehari-hari kadang dilipat saja, toh dipakai dalam rumah ini, lagipula nggak kusut-kusut amat. Tetap pegang setrikaan sih, tapi beberapa hari sekali saja. Kalau sedang sibuk dan nggak sempat banget, ya tinggal kirim ke jasa setrika saja biasanya he he


Ohya satu lagi nih, saya suka banget meletakan beberapa tanaman hidup dalam rumah. Selain menjadi dekorasi paling alami, ruangan jadi tampil asri dan segar dengan tambahan udara alami. Salah satunya tanaman Lidah Mertua, selain membuat tampilan ruangan menjadi cantik, tanaman ini juga bisa menyaring zat-zat oksida berbahaya, seperti karbondioksida, formalin, dan benzena.

Beberapa orang mengatakan, mendekorasi rumah butuh biaya besar. Beli barang dan bayar jasa orang untuk melakukan penataan dan pemasangan, bukanlah perkara murah dan mudah. Masa iya? Kalau kata saya sih enggak ya. Ini biaya dekorasi ruangan saya murah banget malah. Pakai cat yang awetnya lebih dari 5 tahun, nggak mengelupas dan luntur. Hemat banget. Tanaman yang dipajang dalam ruangan pun merupakan tanaman murah meriah, bisa dibeli dengan harga 10 ribuan saja per pot.

Salah satu sudut ruangan di rumah saya, serba putih namun asri dan segar dengan tanaman hidup

TULISAN INI BELUM SELESAI. ORANGNYA MAU MASAK KETUPAT, OPOR DAN RENDANG DULUUUU.
DARIPADA DISIMPAN DALAM DRAFT SAJA, MENDING POSTING DULU BIAR ADA YANG BACA. NANTI DISAMBUNG LAGI ABIS LEBARAN YAAA πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚




Tertarik Membuat Travel Blog? Begini Caranya

12.54 2 Comments
Kamu suka traveling? Kalau iya, kamu adalah satu dari sekian banyak orang yang gemar traveling. Aktivitas traveling-mu akan lebih bermanfaat kalau kamu juga membagikan pengalamanmu ke penggemar traveling yang lain. Hal itu bisa kamu lakukan dengan membuat blog traveling dan menjadi seorang travel blogger. Tidak hanya memberikan manfaat kepada traveler yang lain, kamu juga memiliki keuntungan untuk diri sendiri.
travel blogger indonesia
Travel Blogger

Jika blogmu memiliki banyak pengunjung dan kemudian membuatmu terkenal, kamu bisa mendapatkan uang dari iklan. Kamu juga bisa mendapatkan tawaran kerja sama dengan agen travel yang siap memberikanmu paket wisata gratis ke berbagai destinasi. Singkat kata, dibayar untuk traveling. Menarik bukan?

Lalu, bagaimana cara membuat travel blog? Simak tips berikut ini.

1.Tentukan Segmen
Apakah untuk penggemar wisata dalam negeri, luar negeri, atau keduanya? Apakah untuk pembaca dari Indonesia atau internasional. Jika segmenmu orang Indonesia, pakailah Bahasa Indonesia. Jika targetmu pembaca internasional, pakailah Bahasa Inggris.

2.Memilih Domain
Pilihlah domain yang mencerminkan dirimu atau segmen pilihanmu. Pilihlah nama domain yang mudah dibaca dan diingat. Kamu bisa memilih TLD website .COM yang populer dan terjangkau untuk membuat travel blog.

3.Membeli Hosting
Pilihlah hosting terpercaya sebagai tempat penyimpanan data untuk blog travelmu. Ada beberapa jenis hosting, di antaranya shared hosting, VPS hosting, dan cloud hosting.

Shared hosting cocok untukmu yang membuat website pertama kali. Shared hosting digunakan oleh banyak pengguna sekaligus. Para pengguna layanan shared hosting tersebut berbagi resource dan kapasitas server bersama-sama.

Sementara itu, Virtual Private Server (VPS) mirip dengan shared hosting. Bedanya terletak pada pembagian sumber daya yang tersedia. Pada layanan VPS, sumber daya tersedia hanya untuk seorang pengguna sehingga tidak terpengaruh pengguna lainnya. Dengan begitu, kamu lebih leluasa mengatur konfigurasi sesuai yang diinginkan. Jika VPS adalah pilihanmu, pastikan memilih penyedia VPS Indonesia termurah

Terakhir, Cloud hosting adalah hosting dengan sumber daya yang berasal dari beberapa server fisik terpusat yang berjalan secara bersamaan. Kalau sewaktu-waktu bermasalah, ada server yang mem-backup. Apabila hosting ini adalah pilihanmu, pilihlah cloud hosting terbaik.

4.Pilih CMS yang Praktis
Install CMS yang mudah dikelola, misalnya Wordpress atau Blogspot. Kedua CMS ini populer bagi kalangan blogger karena penggunaannya cukup praktis, tanpa harus menguasai coding yang rumit.

5.Install Plugin yang Dibutuhkan
Plugin pada CMS berguna untuk memberikan fungsi tambahan. Ada yang berguna untuk menyaring spam seperti Akismet, untuk meningkatkan performa seperti W3 Total Cache, untuk mengoptimasi peringkat di Google seperti Yoast SEO, dan masih ada banyak lagi.

6.Buat Halaman Tentang dan Kontak
Kedua halaman tersebut penting dibuat untuk menunjukkan identitas dan kredibilitas blog. 

7.Buat Kategori secara Terstruktur
Buatlah kategori yang merupakan topik turunan dari kegiatan traveling. Misalnya Destinasi Domestik. Kategori ini masih bisa dibagi lagi ke beberapa subkategori, misalnya Pula Jawa, Sumatera, Bali, dan sebagainya. Hal ini penting untuk membuat website lebih terstruktur dan disukai algoritma Google Search.

Jika tips di atas sudah dilakukan, saatnya menulis pengalaman seru saat mengunjungi suatu destinasi wisata. Ceritakan mulai dari transportasi yang dipilih berikut ongkosnya, perlengkapan yang dibawa, jumlah uang tunai yang dibawa, hal menarik apa yang kamu temui di tempat tersebut, berapa harga tiket masuknya, dan lain-lain.

Pastikan travel blog-mu selalu aktif dengan membagikan konten-konten baru secara rutin, setidaknya sepekan sekali membagikan link artikel ke halaman media sosial yang kamu punya, seperti bio Instagram, Twit, atau status Facebook. Cara ini perlu kamu lakukan agar mendapatkan pengunjung organik dari pengguna media sosial lainnya.

Itulah cara membuat travel blog yang bisa kamu terapkan. Semoga kamu bisa segera membuat travel blog secara profesional, mendapatkan banyak trafik, sekaligus memberikan banyak manfaat untuk pengunjung dan dirimu sendiri.

Pengalaman Sakit dan Dirawat di Rumah Sakit di Saat Pandemi

16.27 5 Comments
Sakit dan dirawat di Rumah Sakit di saat pandemi, bukan hal yang enak untuk dialami. Dalam situasi normal saja tak nyaman, apalagi saat wabah. Rasa cemas berlipat-lipat, ketakutan menggunung. Jika bisa meminta, tolong jangan sakit dulu, apalagi sampai dirawat. Namun, bila sudah jadi kehendak Tuhan, tak mungkin menghindar, mau tak mau dihadapi dan berjuang untuk meraih kesembuhan. Lantas, pengalaman seperti apa yang saya dapat ketika berada di pusatnya orang-orang sakit? 

Minggu lalu, suami saya mengeluh nyeri di ulu hati. Tanda-tanda yang tampak persis seperti menderita sakit maag. Perut kembung, susah buang angin, ulu hati sakit, dan berbagai rasa tidak nyaman di perut. Saya dan suami sama-sama mengira maag, lalu minum obat maag yang memang selalu sedia di rumah, namun tak jua sembuh meski 1 jam berlalu. Karena kondisi tak kunjung baik, saya bawa ke UGD di Eka Hospital BSD. 

Pemeriksaan pertama: LAB dan USG

Sampai di UGD seluruh petugas medis yang saya temui mengenakan APD lengkap. Saya senang melihatnya namun di sisi lain membuat saya diselimuti cemas. Kecemasan pertama, ini adalah tempat pertama di mana orang-orang sakit datang dalam kondisi darurat, bisa saja di antara yang pernah datang adalah pasien pengidap Covid-19. Berarti saya memasuki area berbahaya bukan? Kedua, jawaban dokter K atas pertanyaan apakah di RS ada pasien Covid, membuat saya seperti sedang terjebak di sarang penyakit yang sedang mendunia itu!

Di ruang UGD hari itu, sekitar pukul 10 pagi, masih sepi. Hanya ada 1 pasien lain selain suami, deretan ranjang tampak kosong. Meski demikian, saya tak berani menyentuh apapun, kalau pun menyentuh dokumen yang harus ditanda tangan saat masuk, saya langsung cuci tangan, berkali-kali. 

Suami langsung mendapat penanganan dari dokter dan perawat. Pertanyaan berkaitan Covid-19 sudah tentu ada, dan untuk gejala yang dialami, suami langsung diperiksa lab dan mesti USG.


Pemeriksaan kedua: Rapid Test dan CT Scan Low Dose

Perlu waktu sekitar 2 jam bagi saya untuk menunggu hasil pemeriksaan Lab dan USG. Hasil lab menjelaskan beberapa item pemeriksaan terhadap suami saya dikategorikan parah. Begitu juga dengan hasil USG, ternyata ada batu di kantong empedu. Dari dua hasil pemeriksaan inilah suami dinyatakan harus dirawat.

Nah, di sinilah kemelut itu terjadi.

Sudah jadi aturan pemerintah agar diterapkan oleh seluruh Rumah Sakit baik pemerintah maupun swasta bila ada pasien dirawat wajib Rapid test dan Swab. Penjelasan ini saya terima dari dokter yang saat itu bertugas di UGD. Saya diberi rincian tertulis mengenai pemeriksaan apa saja yang harus dilakukan;

- Lab
- USG
- Rapid Test
- CT Scan Low Dose

Sesuai prosedur rawat inap sudah tentu suami wajib menjalani pemeriksaan Rapid Test dan CT Scan Low Dose. Kedua pemeriksaan tersebut terkait Covid-19. Penting bagi RS tahu pasien negatif atau positif karena akan menentukan di mana nanti pasien dirawat dan bagaimana cara perawatan. 
Jangan sampai sakit, jangan sampai dirawat saat pandemi

Ketakutan yang Membuncah

Sembari menunggu hasil Rapid Test dan CT Scan Low Dose, pikiran saya tidak tenang, bahkan dilanda kesedihan mendalam. Kami merasa selama ini sudah sangat taat terhadap langkah-langkah pencegahan Covid-19, tapi bagaimana bila nanti hasil tes suami positif? Apakah di UGD ini akan jadi momen terakhir saya membersamainya? Bukankah bila positif, pasien tak boleh dijaga dan dikunjungi oleh siapapun? Memikirkan itu, mata saya memanas, dan akhirnya basah. Perasaan sedih itu tak terkendali, saya sungguh tidak mau berpisah dari suami dengan cara seperti ini. 

Seorang teman dokter melalui Whatsapp menenangkan saya. Katanya, Insha Allah suami saya negatif, dan nanti bisa fokus menjalani pengobatan pada perutnya. Lagipula, kalau misal Rapid Test positif, jangan langsung panik dan stres, bisa jadi tidak akurat, dan masih bisa dibuktikan dengan Swab. Karena, bisa saja saat Swab malah negatif. Membaca pesan itu, kecemasan saya mulai berkurang. Saya lanjut berdoa semoga pemeriksaan covid-19 suami saya negatif.

Saat hasil Rapid Test keluar, dokter di UGD sudah berganti, tadinya Dr K (laki-laki), sekarang dokter S (perempuan). Alhamdulillah Rapid Test hasilnya Non Reaktif. Bagaimana dengan CT Scan Low Dose? Pemeriksaan satu ini biayanya lebih mahal dari SWAB. Kenapa lebih mahal? Mungkin saja hasilnya lebih akurat. Ya, hasil panorama menunjukkan Mas Arif bebas corona. Paru-parunya bersih dan aman. ALHAMDULILLAH.

Biaya Pemeriksaan Covid-19 Tidak Ditanggung Asuransi dan Pemerintah!

Segala biaya perawatan suami selama di RS ditanggung oleh pihak asuransi (swasta), namun untuk biaya pemeriksaan terkait Covid-19 ditanggung pribadi. Hal tersebut berlaku untuk pasien manapun dengan asuransi apapun, baik asuransi swasta maupun pemerintah (BPJS). Nah, bila positif Covid-19, maka seluruh biaya perawatan ditanggung oleh pemerintah. 

Jadi, buat yang ingin Rapid Test maupun swab, bisa saja dilakukan tapi bayar sendiri. Biaya Rapid Test masih termasuk murah, hanya 400ribuan saja. Yang mahal Swab. Lebih mahal lagi jika dengan CT Scan Low Dose. Kemarin suami hanya menggunakan cara Rapid Test dan CT Scan Low Dose. Total keduanya 4,3 jutaan.

Dengan biaya tidak murah itu, apa iya masyarakat yang secara ekonomi lemah mau tes dan periksa? Dalam kondisi seperti sekarang, urusan makan saja sedang banyak yang susah, bagaimana mau mengurus tes covid-19 segala?

Suami pun, jika bukan karena sakit (batu empedu) dan harus dirawat, mungkin tidak akan menjalani pemeriksaan macam ini. Selama ini, saya dan suami hanya berpikir positif bahwa kami bebas dari Covid-19, jadi belum pernah merasa perlu untuk tes covid-19. Jika pun ingin, yang ada malah takut jika harus periksa, nanti malah kepikiran. Lagian, takut juga mendatangi RS buat periksa, seakan kalau datang ke RS malah menjemput penyakit.

Saya jadi berpikir begini, mungkinkah jika di suatu wilayah no case karena no test? Hmm...
Lift ini lebih sering kosong saat saya turun dan naik. Sesekali saja berpapasan dengan petugas medis atau pun pekerja dan pengunjung lainnya di RS. Kamu tahu? Lift adalah bagian yang paling saya takuti selama di RS, meskipun tiap 1 jam lift ini dibersihkan dengan desinfektan

SUPER HATI-HATI

Berada di rumah saja saya sangat hati-hati, apalagi berada di luar rumah misal saat ke tukang sayur, atau ke minimarket depan komplek, sudah pasti saya pakai masker, cuci tangan di manapun air dan sabun tersedia, pakai hand sanitizer bila tak ada sabun dan air, dan selalu menjaga jarak bila bertemu siapa pun.

Bagaimana bila di rumah sakit? Sudah pasti melakukan hal yang sama namun dengan kehati-hatian yang ekstra. Sebagai pasien, suami saya sudah pasti wajib pakai masker selama berada di kamar perawatan, terutama bila dokter dan perawat visit. Dokter dan perawat jangan ditanya, mereka selalu pakai seragam APD lengkap, berjam-jam. Kebayang panasnya.

Sebelum masuk kamar perawatan, kamar disteril ulang, setelah siap, suami baru masuk. Oh ya, kami masuk UGD sekitar jam 10 pagi, setelah melewati berbagai pemeriksaan yang panjang, pendaftaran rawat inap, dan lain-lain, jam 8 malam baru masuk kamar perawatan. Lama ya :))

Saya mondar mandir dari UGD, ruang tunggu radiology, ruang admin rawat inap mengurus dokumen, hingga ke lantai 7 kamar perawatan, bertemu beberapa orang, dan pastinya berkali-kali memegang gagang setiap pintu yang dimasuki, tombol lift, pulpen buat tanda tangan. 

Apa yang saya rasakan?? Seakan diserbu Covid-19 dimana-mana. Berada di RS bikin saya jadi sangat parnoan. Tiap bebeberapa belas menit saya cuci tangan, kulit tangan sampai kering dan terasa panas. Belum 24 jam di RS, kulit tangan sudah mengeriput :))
Tanda bulat warna orange yang ditempel di baju adalah tanda sudah discreening oleh petugas RS sebelum masuk RS. Tiap hari diperiksa dan warnanya tiap hari ganti. 

Prosedur Pencegahan Covid-19 Untuk Pasien Rawat Inap

Di saat pandemi, Rumah Sakit menerapkan aturan ketat demi pencegahan penularan Covid-19. Ini yang terjadi di EKA Hospital tempat suami saya dirawat:

- Pasien hanya dijaga/ditemani oleh satu orang saja
- Tidak diperbolehkan dikunjungi oleh siapa pun
- Tidak ada jam besuk
- Setiap keluar kamar harus pakai masker
- Tetap pakai masker di kamar bila dokter/perawat visit
- Semua aturan tersebut disampaikan beberapa kali dalam sehari lewat pengumuman ke seluruh area RS

Saya sebagai satu-satunya orang yang menemani suami selama dirawat, tidak bisa bebas keluar masuk, selalu harus melalui pemeriksaan ketat. Pintu keluar dan masuk kini hanya dibuat satu pintu. Masuk dari pintu utama di depan, keluar hanya melalui pintu belakang. Akses lainnya ditutup guna pengetatan aturan masuk. 

Tiap petang anak saya Alief mengantar makanan untuk saya berbuka. Saya tidak perkenankan dia masuk kawasan RS. Saya hanya minta dia mengantar di depan gerbang, dan saya menemuinya di luar. Setelah itu saya suruh dia cepat pulang ke rumah. Hal ini terjadi setiap hari selama saya menemani suami dirawat. 

Saya tidak berani memesan makanan dari luar lewat aplikasi online, atau ke restoran yang ada di area lobi RS. Selain khawatir pada pembuatnya, juga pada pengantarnya. Maafkan saya ya para resto dan pengemudi layanan pesan antar. Di kondisi saya harus sehat demi menjaga yang sakit, saya harus hati-hati terhadap apa yang saya makan dan siapa yang saya temui. Semoga rejeki kalian tetap hadir dari arah manapun meski tidak lewat saya.

Alief tiap hari terpaksa harus keluar rumah pakai motor ke RS, mengantar makanan dan pakaian buat saya. Saya perintahkan hanya di luar saja, tidak perlu masuk dan parkir di dalam. Biar dia aman dan tidak ketemu orang-orang di RS.

Pagi hari mengambil pakaian kotor dan mengantar pakaian bersih, sore jelang buka mengantar makanan buat saya berbuka. Saya foto dia buat kenang-kenangan, bahwa selama pandemi, pernah terjadi hal seperti ini πŸ˜ƒ 

Jaga Kesehatan, Jaga Keuangan

Hampir satu minggu suami dirawat, alhamdulillah dari hari ke hari kondisinya membaik. Rangkaian pemeriksaan tidak hanya sebatas 1 kali lab, USG, Rapid Test, dan CT Scan Low Dose. Namun, dilanjut dengan MRCP dan 2 kali lab lagi.

Pemeriksaan dan pengobatan batu empedu memang tidak simple. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui dan itu tidak selesai hanya dalam hitungan 1 atau 2 hari. Bukan hanya badan yang harus sabar, kantong juga harus sabar karena pengobatan dan rangkaian pemeriksaan memakan biaya tidak sedikit. 

Di masa-masa sulit di mana semua sektor terdampak, oang-orang mencemaskan kondisi keuangan. Saat ini, bila dalam keadaan berpunya, duit harus dijaga baik-baik supaya bisa bertahan untuk waktu yang lama, karena kita tidak tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Masuk RS tidak murah, apalagi bila sakit parah. Memang masih bisa lega bila ada asuransi seperti kami, tidak pusing memikirkan biaya karena ada yang menanggung. Bagaimana bila tak punya asuransi? Atau bagaimana bila ada asuransi tapi limitnya kecil, biaya-biaya tak bisa ditanggung penuh oleh asuransi, otomatis keluar biaya pribadi.

Ada BPJS kan? Iya, itu bisa dipakai di rumah sakit rujukan sesuai ketentuan per wilayah. Tapi biaya Rapid Test dan Swab, tetap harus ditanggung pribadi. Masuk RS pun ada tahapannya, mesti ke faskes 1 dulu, dirujuk ke RS tipe berikutnya, baru ke RS yang dinyatakan bisa melakukan tindakan dalam rangka penanganan penyakit, misal untuk operasi. Kalau asuransi swasta mah bebas, bisa masuk RS mana saja asal bekerja sama dengan asuransi yang dipegang.

Jangankan orang susah, orang kaya pun saat ini sudah ada beberapa yang mulai kelimpungan dengan keuangan. Pernah baca kan ada artis yang cicilan rumahnya 250 juta perbulan mulai mengeluh ga bisa mencicil? Duh! Ada pula pengusaha yang harus jual mobil-mobil mewahnya demi membayar gaji dan THR karyawannya. 

Jadi, penting sekali jaga baik-baik kesehatan dan keuangan supaya bisa selamat di masa-masa sulit seperti sekarang.
Yakinlah, setelah gelap pasti ada terang

Alhamdulillah

Alhamdulillah kini suami sudah pulang ke rumah, kondisinya sudah sangat baik. Tak ada keluhan nyeri seperti yang terjadi saat masuk UGD. Minggu depan masih balik ke RS lagi buat kontrol, semoga sudah benar-benar baik.

Ohya terkait batu empedu suami, berdasarkan hasil MRCP dan penjelasan dokter internis, ukuran batu kecil-kecil seperti beras. Memang sempat ada gangguan sedikit karena sempat menyumbat, dan itu sudah diatasi. 

Saya suka dengan dokter internis yang menangani suami, penjelasannya selalu positif dan membuat kami optimis. Karena itu pula saya bisa membawa suami pulang dengan perasaan lega.

Selanjutnya, suami wajib jaga makan. Menghindari makanan berlemak dan hanya makan-makanan yang sehat buat tubuh, termasuk yang aman buat lambung. Saat ini suami sedang menjalani terapi jus apel hijau. Selama di RS, menu jus apel hijau selalu hadir di tiap jam makan suami. Dan ini saya teruskan setelah di rumah.

Dari pengalaman teman-teman suami maupun teman saya yang pernah punya batu empedu, jus apel hijau sering berhasil menghilangkan batu empedu yang masih bisa ditolerir, dalam artian untuk ukuran batu masih kecil dan belum membahayakan, masih bisa disembuhkan. Saya baca dan dengar, terapi apel hijau plus minyak zaitun dan garam inggris, dapat membantu mengeluarkan batu empedu lewat kotoran. Beberapa teman saya yang berprofesi sebagai dokter pun menganjurkan hal yang sama.

Kami sedang berusaha, semoga saja cara itu berhasil. 
Menuliskan pengalaman merawat suami di RS selama pandemi

Kita memang tidak bisa mengendalikan apa yang akan terjadi dalam hidup ini, namun kita bisa memilih bagaimana cara kita meresponnya ketika hal itu terjadi. Dengan menerima bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa kita kendalikan, kita bisa tetap positif dan tenang, serta mengandalkan kekuatan doa untuk perlindungan dan kedamaian hati.

Allah SWT akan bersama orang² yang berdoa, berusaha, dan tak putus asa. Tetap semangat dan optimis πŸ’ͺ

Terima kasih untuk semua sahabat, saudara, dan kenalan yang telah memberikan dukungan dalam bentuk doa dan support tiada henti, semoga semua yang mendoakan diberikan balasan yang baik, berupa kesehatan dan keuangan yang baik, serta hidup sehat sepanjang usia.

Aamiin YRA πŸ™


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷



Semua foto dokumentasi pribadi.

Untuk teman-teman yang ingin mendokumentasikan aktivitas di RS, harap hati-hati ya. Ada yang boleh dan tidak boleh difoto/video. Umumnya seperti saat terjadi tindakan dokter terhadap pasien, perawat yang sedang bertugas, pasien itu sendiri, aktivitas di dalam rumah sakit yang menampakan wajah-wajah pasien, perawat, dokter, bahkan pengunjung bukan pasien. Foto dalam kamar rawat seperti punya saya di atas, sebisa mungkin tidak ada wajah pasien, dan obat-obatan pun (seperti infus yang tergantung) tidak perlu ditampakan. Jika terfoto, bisa ditutupi dengan sticker. Meskipun untuk yang satu ini ada yang tidak dilarang, tapi lebih baik tidak.

Terima kasih.