Tampilkan postingan dengan label Wisata Lampung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Lampung. Tampilkan semua postingan

Road Trip ke Way Kambas Lampung: Dari Gisting ke Pusat Latihan Gajah


Gisting, Minggu 21 September 2025

Saya selalu percaya bahwa hari terakhir saat bepergian adalah momen paling jujur dalam hidup. Tidak ada lagi euforia. Tidak ada lagi ilusi santai. Yang tersisa hanyalah tas terbuka, baju berserakan, dan saya yang mendadak berubah jadi atlet cabang olahraga serba ngebut. 

Ngebut mandi, ngebut packing, ngebut menuntaskan sarapan yang berubah jadi urusan strategis. Karena kami harus berangkat secepatnya menuju Taman Nasional Way Kambas, yang jaraknya itu mesti ditempuh lebih dari empat jam perjalanan.

Pagi itu Gisting menyambut kami dengan hujan. Jenis hujan yang turunnya pelan tapi konsisten, seperti tagihan bulanan yang tidak pernah lupa datang. Tidak heboh, tidak dramatis, tapi cukup untuk membuat suasana pagi terasa sendu sekaligus sedikit panik.

Di Hotel 21 Gisting. 21 September 2025.
Kiri: setelah check-out. Kanan: Persiapan berangkat ke Lampung Timur

Rutinitas pagi pun berubah menjadi kompetisi tak resmi. Siapa paling cepat mandi. Siapa paling cekatan beberes. Siapa paling dramatis mencari charger yang entah sejak kapan seolah punya kaki sendiri. Semua bergerak dengan energi khas hari checkout

Hingga akhirnya kami berkumpul di lobi, menyelesaikan proses checkout, lalu berjibaku memasukkan barang ke dalam mobil yang hari itu berisi delapan orang dewasa dengan segala bawaan dan ekspektasinya.

Aneh memang. Saat datang, rasanya santai sekali. Langkah ringan, hati riang, tas dibuka tanpa beban. Tapi saat pulang, atmosfernya berubah total. Ritmenya seperti evakuasi darurat. Cepat, sigap, sedikit tegang, dan entah kenapa selalu diiringi perasaan “kok rasanya baru sebentar?”

Misi utama ke Gisting: Kondangan

Kami memang cuma semalam di Gisting. Tapi seperti biasa, manusia punya bakat alami untuk membangun kenangan bahkan dalam waktu yang singkat. Dari menyeberangi Selat Sunda antara Merak dan Bakauheni, menghadiri kondangan di Gisting, jalan sore ke pelabuhan ikan Kota Agung, makan malam yang hangat, sampai tidur di hotel yang nyaman meskipun tidak mewah.

Kadang kebahagiaan memang sederhana. Tidak perlu bintang lima, cukup kasur empuk, air panas yang bersahabat, dan suasana yang terasa ramah.

Cerita lengkap hari pertama di Gisting pada Sabtu, 20 September 2025 bisa dibaca di postingan sebelumnya. Atau, tinggal klik link berikut : Jalan-Jalan ke Gisting Tanggamus

Perjalanan dari Tanggamus ke Lampung Timur

Empat jam, kata Google Map. Empat jam yang terdengar singkat kalau cuma dibaca, tapi terasa filosofis kalau benar-benar dijalani. 

Perjalanan darat memang punya kemampuan unik mengubah manusia biasa menjadi makhluk penuh refleksi. Terutama saat hujan turun, langit mendung total, dan jalan mulai menunjukkan karakter aslinya tanpa sensor.

Berikut gambaran rute perjalanan dari Gisting, Tanggamus, ke Way Kambas beserta estimasi waktu dan jarak tempuh menurut Google Maps:

Rute perjalanan dari Tanggamus menuju Taman Nasional Way Kambas di Lampung Timur umumnya melewati Kabupaten Pesawaran dan Bandar Lampung. 

Secara teori terdengar sederhana. Dari pesisir Tanggamus, lanjut ke Pesawaran, melintasi Kota Bandar Lampung, kemudian masuk Lampung Selatan, dan akhirnya Lampung Timur. 

Di atas peta semuanya tampak rapi, tertib, dan penuh harapan. Di dunia nyata? Ya… mari kita bicara jujur.

Dari Tanggamus kami melaju menuju Pesawaran. Bisa lewat jalur pesisir arah Teluk Kiluan, bisa juga lewat jalur utara via Pringsewu menuju arah timur. 

Suasana perjalanan saat melintas di daerah Pesawaran terekam dalam video berikut ini:

Apa pun pilihannya, satu hal terasa konsisten: beberapa ruas jalan di Pesawaran benar-benar memberikan pengalaman yang sulit-dilupakan. 

Lubang-lubang di jalan bukan lagi sekadar kerusakan, melainkan ujian kepercayaan diri. Setiap genangan air berubah menjadi teka-teki eksistensial. Ini cuma air biasa, atau kejutan mekanik yang siap menguras saldo rekening?

Beberapa kali mobil kami “tertipu”. Kelihatannya genangan biasa. Ternyata lubang. 

Guncangan datang tanpa aba-aba, sukses bikin badan ikut bergoyang dengan cara yang sama-sekali tidak menyenangkan. Suspensi bekerja keras. Tulang-belulang ikut bekerja sama menahan realita. Jiwa? Sudah mulai masuk mode pasrah.

Drama Jalan Pintas Oleh Navigator Online

Drama bertambah saat Google Map, dengan kepercayaan diri khas teknologi modern, mengarahkan kami masuk ke jalan kecil desa, bukan jalan utama kabupaten. Jalan yang lebarnya membuat saya mempertanyakan definisi kata “akses utama”. Tapi ya sudah lah. Zaman sekarang, suara digital sering terasa lebih meyakinkan dibanding insting manusia.

Inilah Negeri Katon, titik ketika Google Maps dengan percaya diri mengarahkan kami ke jalur yang katanya lebih cepat, meski kondisi jalannya ternyata penuh tantangan. 😁

Barulah setelah keluar dari jalur kecil penuh tanda tanya itu, kami kembali bertemu jalan besar yang lebih ramai dan terasa normal. Di titik itulah kami sadar bahwa tadi kami memang diajak “jalan-jalan tambahan” oleh navigasi. 

Google Map memang kadang begitu. Masih untung kami dibawa keluar dari jalan tembus. Bayangkan kalau malah disuruh lurus ke hutan buntu. Itu bukan lagi perjalanan wisata, tapi reality show survival.

Dan di tengah perjalanan panjang penuh guncangan itu, saya mulai sadar: hidup memang sering terasa seperti navigasi digital. Kita ikuti arahannya, belok ke jalur yang kadang tidak masuk akal, sambil berharap pada satu hal sederhana… semoga di depan jalannya sedikit lebih bersahabat.

Persiapan di Tengah Hujan: Mantel dan Pisang untuk Gajah

Dari Pesawaran, perjalanan kami berlanjut menuju Bandar Lampung. Masuk ke ibu kota provinsi, suasana jalan mulai terasa lebih ramai, lebih hidup, lebih… beradab. 

Dari Bandar Lampung, mobil kembali melaju ke Lampung Selatan, arah Natar dan Rajabasa. Di titik ini, di antara kebutuhan isi BBM dan urusan pertoiletan yang tidak bisa ditunda oleh idealisme perjalanan, saya mengabari Pak Mad, orang Way Kambas yang nantinya akan menemani kami berkeliling.

Sementara itu hujan masih turun tanpa tanda-tanda ingin kompromi. Deras, konsisten, dan sedikit menyebalkan. 

Ngide beli jas hujan karena sejak pagi dari Tanggamus sampai Sukadana Lampung Timur hujan terus, teryata sampai Way Kambas secerah ini

Melihat kondisi langit yang tampaknya belum move on dari mendung, saya pun melontarkan ide yang terdengar cemerlang pada saat itu: bagaimana kalau kita beli jas hujan? Sebuah solusi praktis khas manusia modern. Rasional, sederhana, meskipun secara estetika hasil akhirnya membuat kami tampak seperti rombongan ninja yang gagal tampil misterius.

Akhirnya, dalam perjalanan dari Lampung Selatan menuju Lampung Timur, melalui rute Metro dan Sukadana hingga ke Kecamatan Labuhan Ratu, kami mampir ke minimarket. Belanja jas hujan. Karena bagaimanapun, perjalanan sudah sejauh ini. Rasanya terlalu dramatis kalau harus putar-balik belok ke Bakauheni lalu pulang hanya karena hujan. Jadi ya sudah, lanjut saja ke Way Kambas dengan gaya mantelan.

Namun misi hari itu ternyata tidak berhenti di jas hujan. Saat mulai memasuki wilayah Lampung Timur, kami singgah di lapak penjual pisang di pinggir jalan. Pisang-pisang ini rencananya akan dijadikan oleh-oleh untuk gajah. Ya, oleh-oleh. Karena bahkan dalam hubungan manusia dan satwa pun, kita tetap membawa budaya dasar bangsa ini: datang jangan dengan tangan kosong.

Pisang yang kami beli ada di video berikut:

Harga pisangnya sukses membuat saya reflektif sebagai warga BSD. Tiga sisir pisang emas seharga dua puluh ribu rupiah. Dua puluh ribu. Di Pasar Modern BSD, satu sisir saja bisa bermain di kisaran dua puluh sampai dua puluh lima ribu. Jauh sekali. 

Tapi ya masuk akal juga. Di BSD tidak ada kebun pisang. Kalau pisangnya memang dari Lampung, tentu ada ongkos kirim, tenaga, logistik, dan mungkin drama distribusi lainnya.

Ironisnya, keputusan membeli pisang ini kemudian saya sesali. Bukan karena mahal. Justru sebaliknya. Kalau beli di ibu-ibu penjual pisang dekat loket masuk Way Kambas, harganya malah lebih mahal lagi. Satu sisir bisa tembus tiga puluh ribu. Tapi yang membuat saya merasa sedikit bersalah ternyata bukan soal harga, melainkan soal informasi yang datang belakangan.

Gajah Fitria, gajah pertama yang mencicipi oleh-oleh pisang dari kami. Semoga saja pisang yang kami beli aman buat gajah-gajah yang kami kasih makan.
 
Ternyata penjual pisang di kawasan Way Kambas sudah diedukasi untuk hanya menjual pisang yang benar-benar alami, tanpa obat-obatan, tanpa zat kimia, tanpa karbit-karbitan demi kematangan instan. 

Mau mentah, mau matang, apa adanya saja. Karena bagi gajah, pisang karbitan bukan cuma soal rasa atau kualitas. Itu bisa berbahaya. Saya baru mengetahui fakta itu setelah bertemu Pak Mad. Dan tentu saja, pada saat itu pisang sudah terlanjur kami beli di luar. Meskipun mungkin saja pisangnya aman, tapi cemas itu tetap ada.

Di situ saya langsung merasa seperti manusia yang tanpa sadar hampir menyuapi junk food kepada makhluk paling bijak di hutan. Ampun Ya Allah, semoga gajahnya tidak kenapa-kenapa. 

Pak Mad, beliau yang kasih penjelasan tentang makanan baik yang sebaiknya diberikan pada gajah.

Tapi sejak momen itu, saya membuat janji kecil pada diri sendiri. Kalau suatu hari kembali ke Way Kambas, saya akan membeli pisang dari ibu-ibu di dalam kawasan, dekat loket tiket itu. Mau dikata mahal pun tidak apa-apa. Ada rasa tenang yang tidak bisa dinegosiasikan dengan selisih harga.

Karena lucu juga ya. Gajah saja begitu diperhatikan makanannya. Begitu dijaga dari zat berbahaya. Sementara ada manusia yang dengan santai memasukkan apa pun ke tubuh sendiri, asal enak, asal murah, asal viral. Kalau gajah saja dijaga dari pisang karbitan, harusnya kita juga sedikit lebih selektif pada apa yang setiap hari kita telan tanpa banyak pertanyaan. Huhu.

Eh btw, waktu di mobil, saya sempat mencicipi pisangnya. Masih agak mentah cuy. Iyuuh banget rasanya kelat wkwk. Tahu kelat? Pahit yang ada asem-asemnya gitu hihi.

Sukadana dan Benturan yang Membuat Istigfar Massal 

Ada satu hal yang selalu berhasil menyatukan manusia lintas usia, profesi, dan latar-belakang: jalan rusak. Tidak peduli Anda optimis, realistis, atau tipe yang hidupnya penuh afirmasi positif, begitu bertemu aspal penuh lubang, semua langsung kompak. Kompak tegang.

Jam 11.29 WIB kami melintasi Sukadana, Lampung Timur. Dan di situlah drama kecil perjalanan kami mencapai titik klimaks. Pada satu ruas jalan sepanjang kurang-lebih 500 meter, kondisi jalan berubah dari sekadar tidak mulus menjadi ujian mental tingkat lanjut. Lubang-besar menganga lebar, tersebar merata, diisi genangan air hujan yang tampak polos tapi menyimpan niat jahat.

Jalan rusak yang bikin istighfar itu ada di video berikut:

Kami pun “terjebak kejutan”. Mobil menghantam salah satu lubang yang tidak sempat teridentifikasi dengan baik. Benturannya keras. Jenis benturan yang refleks memicu istigfar massal di dalam mobil. Untuk sepersekian detik, jantung berhenti berdebat dengan logika. Pikiran langsung lompat ke kemungkinan terburuk. Kejeblos? Ban aman? Suspensi masih bernapas?

Masalahnya, lubang itu nyaris mustahil dihindari. Untuk berkelit dibutuhkan ruang lebar dan jalan kosong. 

Sementara saat itu hujan, kendaraan ramai, mobil berjejer di depan-belakang seperti sedang ikut konvoi tak resmi bertema “pasrah bersama”. Tidak ada ruang manuver elegan. Pilihannya sederhana: maju dengan hati-hati, atau mundur dengan rasa frustasi.

Di momen seperti itu saya selalu punya pertanyaan absurd tapi jujur: apakah ada teknologi tersembunyi yang memungkinkan mobil terbang rendah khusus di wilayah-wilayah tertentu? Karena kalau harus mengandalkan refleks sopir semata, rasanya ini bukan lagi perjalanan wisata, tapi simulasi survival otomotif.

Namun begitulah hidup, eh perjalanan. Jalan boleh rusak, hati boleh dongkol, tapi roda harus tetap berputar. Tidak mungkin berhenti lama-lama hanya untuk meratapi aspal yang kehilangan integritas strukturalnya.

Langit Cerah di Gerbang Way Kambas

Sesuai arahan Pak Mad, kami diminta mengabari saat sudah mendekati kawasan Way Kambas. Strateginya sederhana dan efisien. Supaya saat kami tiba, beliau sudah siap di lokasi. Dan benar saja, tepat pukul 12.05 WIB, kami akhirnya sampai di kawasan TNWK.

Secerah apa cuaca saat kami tiba di gerbang Taman Nasional Way Kambas? Terlihat di video berikut:

Yang mengejutkan bukan hanya keberhasilan mencapai tujuan tanpa drama lanjutan, melainkan perubahan suasana yang nyaris terasa sinematik. 

Hujan yang sejak pagi setia menemani perjalanan mendadak lenyap. Langit cerah. Matahari bersinar dengan percaya-diri. Udara terasa hangat, bersahabat, seolah alam semesta berkata, “Nah, ini baru pemandangan yang layak dinikmati.”

Mantel hujan yang sebelumnya terasa seperti investasi penting langsung kembali masuk tas. Nasibnya berubah cepat. Dari benda krusial menjadi properti cadangan. Disimpan rapi, tak perlu ikut menjadi saksi kunjungan kami hari itu. 

Hidup memang kadang ironis. Kita panik bersiap menghadapi badai, lalu semesta memberi matahari.

Gak nyangka cuaca berubah cerah setiba di Way kambas!

Tanda kami benar-benar memasuki kawasan TNWK adalah saat terlihat beberapa bangunan bercat hijau dengan plang besar bertuliskan TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS. Ada portal dengan palang buka-tutup yang sempat membuat saya mengira, “Oh, ini gerbangnya.” Ternyata bukan. Itu adalah portal menuju SRS, tempat pelestarian badak Sumatera.

Jadi kalau mau lihat gajah di Pusat Latihan Gajah (PLG), kami masih harus belok kanan, lalu menempuh sekitar sembilan kilometer lagi menuju gerbang tiket masuk Pusat Pelatihan Gajah Way Kambas.

Ini adalah kunjungan ketiga saya ke TNWK. Pertama berkunjung ke Way Kambas tahun 2016, dan yang kedua tahun 2017 bersama Yuk Annie, Atanasia Rian, dan Dian Radiata. Dulu kami sampai ke Camp ERU segala, area khusus yang tidak sembarang orang boleh masuk. 

Cerita eksplore Way Kambas pada 2017 dapat di baca pada tulisan berikut: Lipur Hati di Lampung Timur.

Delapan tahun berlalu, dan saya kembali. Anehnya, beberapa potongan memori terasa buram. Loket tiketnya dulu di sini ya? Atau di sana? Atau sebenarnya ingatan saya saja yang mulai mengalami renovasi internal?

Tahun 2017. Kala memandikan gajah di Camp ERU Margahayu, Way Kambas
Memori: Kunjungan saya ke Way Kambas pada tahun 2017 saya tulis dan dimuat di inflight magazine Trans Nusa edisi Januari 2018.
Memori: Foto saya memeluk Yekti, bayi gajah yang dulu diselamatkan karena terjebak di lubang dan kini telah tiada, dimuat di majalah sebagai pelengkap tulisan yang saya buat.

Selagi mobil menyusuri jalan masuk yang sepi, kiri-kanan masih hutan, suasana terasa tenang dengan sentuhan liar yang elegan. 

Sesekali terlihat monyet bergelayutan di pohon, seperti penonton alami yang diam-diam mengamati manusia-manusia kota datang dengan kamera dan rasa kagum. Beberapa burung cantik bertengger santai di dahan pohon. Tak terusik oleh kehadiran kami yang numpang melintas.

Tak lama kemudian, Pak Mad menelepon. Memastikan apakah mobil hitam dengan pelat nomor tertentu adalah kendaraan kami. Ternyata beliau berada tepat di belakang. Kami pun memelankan mobil, memberi jalan, lalu mengikuti dari belakang.

Sebuah momen kecil yang terasa lucu. Bahkan di tengah hutan, manusia tetap bermain peran dalam koreografi lalu-lintas.

Dari gerbang awal hingga loket tiket di dalam kawasan, jaraknya ternyata tidak bisa dibilang dekat. Tapi anehnya, kali ini tidak ada rasa lelah yang dominan. Ada rasa lega. Ada rasa senang sekaligus tenang. Barangkali udara segar di tempat banyak pohon ini yang mengubah segalanya menjadi lebih damai. Lalu ada rasa yang sulit dijelaskan selain dengan kalimat sederhana: akhirnya sampai juga.

Jalan masuk objek wisata TN Way Kambas. Kurang lebih 9 km dari gerbang hijau di depan

Perjalanan empat jam yang dalam praktiknya menjadi lima jam itu pun resmi berakhir. Kami tiba. Kami selamat. Kami siap bertemu gajah. Dan di titik itu saya kembali berpikir, dengan sedikit senyum dan sedikit heran: Kenapa ya, justru bagian perjalanan yang bikin capek, pegal, dan hampir emosi itu yang nantinya paling semangat kita ceritakan?

Berwisata dan bertemu Gajah!

Lucu juga, kami menempuh lima jam perjalanan penuh guncangan hanya untuk berdiri tenang menatap seekor gajah yang bahkan tidak peduli kami datang dari BSD, Bekasi, atau Bulan.

Soal detail pengalaman di Way Kambas ini nanti akan saya ceritakan khusus di tulisan terpisah. Karena kalau semua saya bongkar sekarang, tulisan ini bisa berubah fungsi jadi skripsi konservasi dengan bumbu drama keluarga. Jadi anggap saja ini teaser. Trailer sebelum filmnya tayang panjang. Tapi sebelum filmnya benar benar diputar, ada baiknya kita kenalan dulu dengan panggung besarnya.

Lampung itu bukan cuma soal pantai dan kopi. Di balik hutan yang tadi kami masuki dengan penuh rasa lega itu, hidup tapir, gajah Sumatera, enam jenis primata, rusa sambar, kijang, harimau Sumatera, sampai beruang madu. Daftarnya terdengar seperti absensi rapat alam raya. 

Dan sejak 1936, kawasan ini sudah ditetapkan sebagai Taman Nasional Way Kambas. Tahun segitu manusia mungkin belum kenal skincare, tapi sudah ada kesadaran melindungi satwa. Sebuah ironi manis yang bikin saya mikir, kadang kita maju teknologi tapi mundur empati.

Nah, dari panggung besar itu, fokus kami mengerucut ke salah satu titik paling terkenal, yaitu Pusat Latihan Gajah. Fasilitasnya cukup lengkap. Ada area gajah, kolam, lapangan, guest house, visitor center yang merangkap pusat informasi dan museum, ruang terbuka yang rindang, musola, dan toilet. Secara fisik tertata. Secara batin? Ya tergantung pengunjungnya. Mau datang sekadar foto atau benar benar belajar, itu pilihan masing masing.

Menuju ke sana pun tidak sesulit bayangan orang kota yang alergi jalan tanah. Aksesnya surprisingly mudah. Dari Jalan Lintas Timur sekitar 16 kilometer, dan 9 kilometer dari Plang Ijo. Jalannya sudah aspal bagus, bisa dilalui kendaraan roda dua sampai enam, bahkan bus besar. 

Bahkan sekarang ada Bus Damri dari Terminal Rajabasa langsung ke PLG. Jadi kalau niatnya kuat, alasan jauh sudah makin tipis. Kadang yang jauh itu memang bukan jaraknya, tapi kemauan meninggalkan kenyamanan.

Setelah sampai, barulah terasa perubahan pendekatan yang cukup signifikan dibanding masa lalu. Dulu di sini ada atraksi gajah. Ada tunggang gajah juga. Sekarang tidak ada lagi. Gajahnya tidak lagi jadi properti hiburan. 

Saya pribadi merasa ini kemajuan. Karena jujur saja, melihat makhluk sebesar itu disuruh melakukan trik demi tepuk tangan manusia selalu terasa agak tidak adil. Sekarang kalau mau interaksi, ada paket memandikan atau memberi makan gajah. Lebih masuk akal. Walau tetap saja, pada akhirnya manusia tetap beli pengalaman.

Keliling naik shuttle, ketemu gajah boleh kasih makan

Perubahan itu ternyata bukan cuma soal atraksi, tapi juga soal cara berkunjung.

Yang menurut saya menarik adalah aturan kendaraan. Pengunjung tidak boleh membawa mobil sampai ke lokasi gajah. Semua parkir di rest area, lalu lanjut naik shuttle atau jeep yang dikelola masyarakat sekitar.

Alasannya jelas, mengurangi polusi dan sekaligus memberdayakan warga. Konservasi yang tidak cuma bicara hewan, tapi juga ekonomi. Saya suka konsep ini. Karena menjaga alam tanpa menjaga manusia di sekitarnya itu seperti diet tanpa olahraga. Setengah hati.

Karena bicara kunjungan rasanya tidak lengkap tanpa bicara angka, mari kita realistis sedikit. Tahun 2025, wisatawan nusantara membayar Rp20.000 saat hari biasa dan Rp30.000 saat akhir pekan. Wisatawan mancanegara Rp200.000 per orang. 

Pelajar rombongan lebih hemat, Rp10.000 sampai Rp15.000. Kendaraan roda dua Rp5.000, roda empat sekitar Rp10.000 sampai Rp20.000, roda enam Rp50.000. Ada juga denda lima kali lipat untuk pengunjung ilegal. 

Semua biaya mengacu pada PP Nomor 36 Tahun 2024. Belum termasuk paket jungle track, memandikan, memberi makan gajah, atau pemanduan yang dikelola koperasi desa. Intinya, mau pengalaman lebih dalam, ya ada konsekuensi finansialnya. Bahkan untuk belajar rendah hati di depan gajah pun tetap harus antre loket.

Pak Mad dan kerangka asli tubuh gajah yang mati karena sakit. Pak Mad adalah salah satu saksi atas kematian gajah tersebut, dan turut menyusun ulang tulang belulangnya hingga bisa dilihat oleh siapa saja yang berkunjung ke visitor centre TNWK

Namun Way Kambas tidak berhenti di gajah saja. Selain gajah, kawasan ini punya Suaka Rhino Sumatera atau SRS. Satu satunya di dunia. 

Kalimat itu terdengar megah sekaligus menyedihkan. Megah karena eksklusif. Menyedihkan karena artinya jumlah badaknya memang sesedikit itu. 

Lokasinya sekitar 9 kilometer dari Plang Ijo, di tengah hutan, di antara ruas jalan Plang Ijo dan Way Kanan. Dibangun untuk menyelamatkan badak Sumatera yang di alam liar terdesak, di kebun binatang pun rentan.

Di sanalah cerita berubah jadi lebih personal. Saya bertemu Edo, mahout badak. Anak muda yang memilih mengabdi menjaga hewan yang mungkin tidak pernah ia unggah di Instagram dengan caption estetik. 

Edo, mahout badak TNWK

Ia putra Pak Mad, meneruskan pengabdian ayahnya. Saya selalu diam beberapa detik kalau bertemu orang seperti ini. Karena di tengah dunia yang sibuk mengejar validasi digital, ada yang memilih menjaga makhluk yang bahkan tidak tahu apa itu like dan share.

Kunjungan hari itu sendiri berjalan cukup sederhana. Kami tiba sudah masuk waktu Zuhur, jadi salat dulu di musola yang tersedia. Sederhana, bersih, cukup. Setelah itu keliling naik shuttle, melihat rumah sakit gajah, kandang terbuka, dan dua gajah yang berdiri cukup dekat dengan area pengunjung. Besar. Tenang. Tidak terburu buru. 

Saya berdiri memandang sambil berpikir, kenapa makhluk yang disebut liar justru terlihat lebih stabil daripada kita yang mengaku paling rasional?

Akhirnya, seperti semua perjalanan singkat, momen itu pun ditutup dengan hal yang sangat manusiawi. Kami ke visitor area, makan siang, lalu bersiap pulang. Kunjungannya memang tidak lama. Tapi berdiri di hadapan gajah dan mendengar cerita tentang badak yang populasinya bisa dihitung dengan jari membuat perjalanan tadi terasa lebih dari sekadar agenda wisata.

Saya datang membawa pisang, jas hujan, dan ekspektasi sederhana ingin melihat satwa. Saya pulang dengan kepala yang sedikit lebih ramai. Tentang bagaimana manusia bisa merusak sekaligus menyelamatkan. Tentang bagaimana kita rela membayar tiket untuk masuk ke kawasan konservasi, tapi sering lupa menjaga habitat paling dekat yang kita punya, yaitu diri sendiri.

Dan di tengah hutan itu, pertanyaan itu muncul pelan pelan, sebenarnya siapa yang sedang dilatih di Pusat Latihan Gajah ini. Gajahnya, atau kita yang diam diam sedang diajari cara hidup lebih tenang dan tidak rakus?

Jajan Bakso Sony di Lampung Timur

Setelah menuntaskan misi bertemu gajah yang lebih tenang dari timeline media sosial, kenyataan kembali mengetuk. Jam sudah mendekati pukul 16. Artinya sesi kontemplasi harus ditutup, dan mode manusia dikebut jadwal kembali diaktifkan. 

Kapal berangkat pukul 19, dan idealnya pukul 18 sudah harus tiba di Bakauheni. Dari situ perjalanan berubah status, dari wisata reflektif menjadi lomba presisi melawan waktu.

Keinginan mampir santai jelas gugur satu per satu. Tidak ada ruang untuk duduk manis di kafe, apalagi berburu oleh oleh. Bahkan rencana kuliner pun harus beradaptasi.  

Maka ketika nama Bakso Sony disebut, solusinya sederhana dan realistis, pesan take away. Bukan karena tidak ingin menikmati suasana warungnya, tetapi karena hidup kadang menuntut efisiensi. Romantisnya nanti dimakan di kapal. Praktisnya supaya tidak ketinggalan kapal. 

Sebelum benar benar meninggalkan Way Kambas, Pak Mad memberi saran yang terdengar sederhana tapi menentukan, lewat jalur pesisir saja. Katanya lebih cepat. 

Dalam kondisi seperti itu, saran orang lokal terasa seperti kompas moral. Jalur ini berbeda dari rute saat datang, dan ternyata jauh lebih bersahabat. Tidak ada lubang ekstrem seperti di Sukadana. Jalannya naik turun dengan pemandangan laut dan gunung di kejauhan, seolah memberi bonus visual bagi rombongan yang sedang menahan hasrat untuk mampir.


Bakso akhirnya disantap bukan di daratan Lampung, melainkan nanti di atas kapal. Hangat, gurih, dan terasa seperti hadiah kecil setelah perjalanan ngebut. 

Ada ironi tipis ketika kuliner khas justru dinikmati saat sudah meninggalkan wilayah asalnya. Tapi mungkin memang begitu cara perjalanan bekerja, rasa tidak selalu harus dimakan di tempat ia lahir, yang penting dimakan dengan lega. 

Pukul 17.35 WIB. Pemandangan yang terlihat dalam perjalanan menuju Pelabuhan Bakauheni

Langit sore sempat memberi harapan. Cahaya tipis menggantung di ufuk barat, cukup untuk membuat kami berharap ada senja kemerahan dramatis sebagai penutup perjalanan. 

Sayangnya langit memilih biasa saja. Tidak ada semburat jingga yang bisa dijadikan latar foto reflektif. Tapi setidaknya tidak ada hujan. Itu sudah lebih dari cukup.

Di atas kapal, suasananya justru terasa lebih hidup dibanding penyeberangan sebelumnya. Tidak ada yang mencari sudut untuk rebahan. Tidak ada wajah setengah tertidur. Semua duduk santai di dek kuliner, memesan minuman, membuka bungkus bakso, dan bercerita ulang potongan-potongan perjalanan dua hari terakhir. 

Pelabuhan Bakauheni sore itu, dan suasana di kapal menuju Merak, ada di video berikut:

Dari Gisting Tanggamus sampai Way Kambas Lampung Timur, dari jalan berlubang sampai jalur pesisir yang menenangkan.

Penyeberangan malam itu terasa cepat. Entah karena ombak bersahabat atau karena perut sudah kenyang dan hati cukup penuh. 

Sebelum pukul 21 kami sudah kembali menginjak Tanah Jawa. Perjalanan singkat, padat, dengan rasa yang campur aduk. Ada lelah, ada tawa, ada hening di depan gajah, ada ngebut demi kapal.

Dan di antara bunyi mesin kapal dan sisa kuah bakso di mangkuk kertas, pertanyaan itu muncul lagi pelan pelan, sebenarnya yang membuat perjalanan ini berkesan jaraknya, tempatnya, atau cara kami memaknainya?

Alhamdulillah dan Terima Kasih

Sebagai penutup perjalanan ini, saya cuma ingin bilang terima kasih. Terima kasih mas suami dan teman teman muda yang sudah membawa saya ikut dalam ritme dua hari yang padat ini. 

Dari jalan berguncang sampai dek kapal, dari pisang untuk gajah sampai bakso dalam mangkuk kertas. Kadang yang membuat perjalanan terasa utuh bukan hanya tempatnya, tapi orang orang yang berjalan bersama kita di dalamnya.

Buat yang membaca tulisan ini dan mulai tergoda menyusun rencana sendiri, sebenarnya ke Way Kambas itu tidak serumit yang dibayangkan.

Datang mandiri pun sangat mungkin, seperti yang kami lakukan. Tinggal ikuti petunjuk arah di Google Map, siapkan biaya masuk dan kebutuhan lain secara pribadi, lalu jalan. Tidak ribet. Cukup niat dan sedikit keberanian untuk tidak selalu menunggu diajak. 

Tapi kalau merasa lebih nyaman semuanya sudah diatur, ikut travel atau tur Way Kambas juga pilihan yang masuk akal. Tidak semua orang menikmati sensasi menyusun itinerary sambil deg degan mengejar kapal.


Saat ini Way Kambas Ditutup !

Ada satu hal penting yang tidak boleh dilewatkan. Saat tulisan ini dibuat, kawasan wisata Way Kambas sedang ditutup untuk kunjungan wisatawan sampai waktu yang belum dapat ditentukan. Jadi, sekuat apa pun niat dan seantusias apa pun rencana disusun, tetap saja semuanya bergantung pada satu hal sederhana: pintunya sedang dibuka atau tidak.

Maka, sebelum semangat berangkat mengalahkan logika, pastikan dulu informasinya. Pantau pembaruan resmi lewat akun Instagram mereka di @btn_waykambas. Dalam urusan perjalanan, memastikan aksesnya tersedia sering kali jauh lebih penting daripada sekadar memesan tiket dan menyusun itinerary dengan penuh percaya diri.

Alhamdulillah, saya, suami, dan teman teman muda sempat berkunjung dan bertemu gajah Sumatera sebelum penutupan ini diberlakukan. Ada banyak momen yang membekas saat kami berinteraksi langsung dengan mereka di Taman Nasional Way Kambas. Kisah lengkap tentang pertemuan itu akan saya ceritakan secara terpisah setelah tulisan ini.

Yang Tanpanya, Trip Pulau Sebesi Terasa Hambarnya

Open Trip Pulau Sebesi, Puasnya Sampai ke Hati

Jalan-jalan ke Lampung, biasanya saya trip mandiri. Tapi kali ini ikut open trip, diajak Nurul Noe. Biayanya murah, Rp 400.000,- / orang selama 2 hari 1 malam (tgl. 25-26 Maret 2017) dengan destinasi Pulau Sebuku Besar, Pulau Sebuku Kecil, Pulau Sebesi, Pulau Umang-Umang, Cagar Alam Krakatau (#tripedukasikonservasi), dan Pulau Rakata. Ikut open trip ini membuat jalan-jalan ke Lampung jadi beda dari biasanya. Inilah ceritanya. 

Gunung Anak Krakatau #TripEdukasiKonservasi

Saya pergi berdua suami. Mengajaknya menjejakkan kaki di Gunung Anak Krakatau (GAK) adalah sebuah cita-cita yang lama saya pendam sejak pertama kali ke GAK pada Agustus 2015. Kemudian, cita-cita itu semakin membesar seusai ke GAK kedua kali pada Agustus 2016. Pada Februari 2017, ajakan dari Nurul Noe datang bagai angin segar. Jalan menuju cita-cita terbuka lebar, tanpa ragu saya sambar. Kapan lagi berdua suami menapaki anak gunung legendaris yang pernah menggemparkan dunia itu, ya kan?

Pelabuhan Merak Banten

Meeting point di Pelabuhan Merak. Menurut rencana, kami akan berangkat jam 12 malam (24/3/2017). Biar agak santai, saya dan suami bawa mobil dari BSD. Berangkat jam 8 malam, sampai pelabuhan jam 10 lewat. Tempat parkir di pelabuhan bagus, luas, dan aman. Jaminan aman ini yang membuat kami tidak khawatir menginapkan mobil di pelabuhan. Meski begitu, mobil tetap dikunci ganda, biar lebih aman. Sementara itu, rombongan dari Jakarta masih di perjalanan, berkutat dengan kemacetan di beberapa titik di ibukota negara. Kondisi lazim, apalagi jelang weekend.

Di pelabuhan terdapat fasilitas publik seperti toilet, kamar mandi, dan masjid. Restoran seperti KFC, CFC, Dunkin Donuts, rumah makan Padang, minimarket, dan kafe lainnya sangat mudah ditemui. Semua berada dalam satu area dekat pintu keberangkatan penumpang kapal. Selama menunggu jadwal keberangkatan, juga menunggu para rombongan, kami duduk-duduk ngantuk di Dunkin Donuts. Minum kopi, coklat, dan beberapa donat kesukaan sampai bosan, sebab rombongan dari Jakarta lama sekali baru tiba. Jadwal berangkat jam 12 jadi molor ke jam berikutnya. Tidak ada yang harus disalahkan, karena kondisi jalan di Jakarta sering di luar kendali dan prediksi. Macetnya Jakarta memang enak buat diomeli 😆 Kami baru berangkat jam 2.30 dini hari. Ulala 🎶🎶



Tidur Nyaman di Kapal Feri

Sistem masuk dan keluar penumpang di pelabuhan tidak sejadul yang saya bayangkan. Mereka yang punya tiket (berupa kartu) saja yang bisa masuk. Kartu itu di-tap terlebih dahulu, seperti mau naik KRL. Kondisi di area keberangkatan pun bersih dan nyaman. Meskipun ramai, arus penumpang yang berjalan di atas jembatan panjang menuju ke pintu masuk kapal tetap tertib dan tenang. Petugas tampak berjaga dibanyak tempat, lumayan bikin hilang was-was meski jalan malam-malam.

Saya tersenyum sumringah ketika melihat ruangan dalam kapal yang kami naiki. Bersih bersinar, terasa nyaman dan benderang. Ada kafe modern, sofa-sofa empuk, musala besar, toilet yang banyak, dan tempat wudhu dengan air bersih yang mengalir lancar. Tiap beberapa belas menit ada petugas yang menyapu, membersihkan sampah, dan menyemprot ruangan dengan pewangi. Yang bikin saya terkejut (namanya juga baru pertama) ada ruang tidur besar buat ramean yang dipetak-petak, beralas karpet hangat, dan ber-AC dingin! Meski bukan beralas kasur empuk, tapi sudah lumayan ada tempat private untuk membaringkan badan. Dengan petak-petak itu, tiap penumpang jadi punya ‘wilayah’ sendiri. Jejeran tempat tidur pun bertingkat, sangat cukup untuk menampung banyak penumpang. Malam itu, untuk pertama kalinya saya merasakan tidur di dalam kamar kapal bersama mas Arif, berbantal ransel, ala-ala backpacker


Ruang tidur dalam kapal
Musola yang lapang dan bersih
Tempat wudhu, airnya banyak dan mengalir lancar

Pelabuhan Bakauheni Lampung

Selama tiga jam di atas kapal, dua jam saya tidur nyenyak, sisanya bangun dalam keadaan bersiap menemui tanah Lampung. Pengumuman bahwa kapal tak lama lagi akan merapat di Pelabuhan Bakauheni, membuat saya terbangun lebih cepat dari yang lain. Selagi orang-orang masih berkemul, saya dan suami bergantian ke toilet dan musola. Baru setelah itu kami keluar sambil memanggul ransel masing-masing, menjumpai keindahan matahari terbit. Pagi yang tak biasa, ada syahdu yang terasa.

Angkot-angkot yang disewa untuk mengantar kami ke Dermaga Canti sudah disiapkan. Mobilnya kecil, kalau tak salah mobil Suzuki Carry jadul yang beberapa diantaranya sudah rombeng. Kami memadati angkot, mengisi sesuai kapasitas. Orang dan ransel jadi satu, sama-sama berangkat. Supir kami berteriak dengan suara besar, bukan marah, bukan kasar, mungkin dia hanya terbiasa menandingi suara mesin mobil dan berisiknya jalanan.


Jalan-jalan bareng Nurul dan Mas Tiko 😍

Di Pelabuhan Bakauheni

Berangkat ke Pulau Sebesi dari Dermaga Canti Kalianda

Jam 7.30 kami tiba di Dermaga Canti. Dermaga yang pernah saya lewati pada bulan Agustus 2016 (seusai Festival Krakatau 2016 bersama om-om tukang potret) saat dalam perjalanan menuju Kahai Beach (ceritanya waktu itu jalan-jalan ke Pulau Mengkudu cuy). Dermaga Canti sering disebut-sebut oleh para traveler yang akan melakukan perjalanan ke Gunung Anak Krakatau. Saya tidak asing dengan namanya. Sebelum berangkat, kami sarapan dulu di warung dekat dermaga. Warung sederhana, tapi menunya bervariasi. Nasi putih sayur rebung muda, tempe goreng, telur dadar, pergedel kentang, dan teh manis panas, jadi pengisi perut yang sedari subuh sudah menjerit lebay minta diisi.

Dermaga Canti tidak punya tempat parkir yang lapang. Keadaannya agak semrawut dengan warung-warung sederhana dan jembatan dermaga kayu yang juga sederhana. Tapi, di sinilah kapal-kapal berlayar pergi dan datang ke Pulau Sebesi, mengangkut orang-orang, hasil bumi, dan barang-barang belanjaan. Juga tempat berangkat para pelancong yang terpikat keindahan bawah laut Pulau Sebuku dan Pulau Rakata, atau pun yang ingin melihat keperkasaan si anak Krakatau yang melegenda.

Ada kapal reguler menuju Pulau Sebesi, hanya satu kali berangkat, siang hari, tiap hari. Ongkosnya Rp 20.000/orang. Jika ingin melancong dengan banyak orang, idealnya sewa satu kapal. Jadi murah, berangkat kapan saja, bisa diajak belok ke mana saja, asal jangan ke neraka 😝 Katanya, harga sewa kapal 3 juta per hari. Bisa mengangkut sekitar 30-40 orang. Dalam open trip ini, harga Rp 400 ribu/pax itu sudah termasuk biaya kapal. 

Sarapan di warung dekat Dermag Canti

Dermaga Canti

Tuju Bahagia
Liburan bareng kawan-kawan baru

Snorkeling di Pulau Sebuku Besar dan Sebuku Kecil

Perjalanan naik kapal dari Dermaga Canti ke Pulau Sebuku Kecil kami tempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam. Gelombang saat itu tenang, cuaca cerah. Kalau dalam kondisi hujan dan angin, mungkin nggak sama. Semua orang turun ke Pulau Sebuku Kecil, kecuali saya dan suami. Kami memang belum berminat untuk berbasah-basahan. Di Pulau Sebuku Kecil ini ada yang berenang, main di pantai, snorkeling, dan ada pula yang berjalan menyusuri pinggiran pulau, menjelajah kecil-kecilan. Judulnya sih menjelajah kecil-kecilan, tapi kebablasan. Sampai cari-carian, akhirnya kapal harus menyusuri pulau dari laut biar mudah ditemukan. Ketemu sih akhirnya.

Setelah puas snorkeling di Pulau Sebuku Kecil, kami lanjut ke Pulau Sebuku Besar yang letaknya tidak berjauhan. Saya suka dengan pemandangan di kedua pulau ini. Airnya tenang, biru jernih, dan terumbu karangnya (kata mereka yang snorkeling) cukup bagus. Dari atas kapal saja bisa kelihatan, kok. Pulau Sebuku Besar memiliki pantai pasir putih yang bersih. Daratannya berupa perbukitan yang ditumbuhi pohon-pohon. Keindahan yang masih alami. Apalagi hari itu langit sangat cerah, warna-warni indah di bumi jadi terlihat menawan. Di sini agak lama, setelah puas perjalanan ke Pulau Sebesi kembali dilanjutkan.


Tiga pulau dalam satu frame: Sebuku Kecil, Sebuku Besar, Sebesi di kejauhan

Happy family di Sebuku Kecil

Snorkeling di Sebuku Besar

Warna warni

Pulau Sebuku Besar di latar belakang, indah.

Snorkeling di Pulau Sebesi


Waktu menunjukkan pukul 12.21 WIB saat kami tiba di Spot Snorkeling Cemara Pulau Sebesi. Mereka yang sejak dari Pulau Sebuku Kecil sudah berbasahan-basahan, kembali melanjutkan kegiatan snorkeling. Saya dan mas Arif masih setia jadi penonton. Kami memang benar-benar masih memilih kering. Sejak awal hanya memperhatikan saja, sembari ambil foto. Snorkeling di spot Cemara ini tak lama. Pukul 13.00 selesai, perjalanan dilanjutkan. Karena sudah berada di perairan Pulau Sebesi, kapal hanya menyusuri pinggiran pulau sampai bertemu dermaga. 

Spot Cemara Pulau Sebesi

Loncat


Menginap di Pulau Sebesi

Kami menginap di villa yang namanya lupa saya catat. Kalau keluar dari dermaga langsung belok kiri, lokasi villa berjarak kurang lebih 100 meter dari dermaga. Untuk mencapai villa cukup jalan kaki, lewat pantai, pasti sampai. Di situ ada beberapa villa yang masing-masing villa berkapasitas 10-12 orang. Fasilitasnya kipas angin (tidak ada AC), satu kamar mandi dalam, dan hanya ada 2 stop kontak listrik. Kasurnya kasur busa tanpa ranjang. Karena ini ramean, jadi seru aja sih nginap bareng-bareng gitu. Paling kudu sabar saat pakai kamar mandi. Oh  ya, laki-laki dan perempuan beda villa, tidak campur.

Semua villa yang kami tempati menghadap ke laut. Jaraknya dengan pantai hanya 20 meter. Di depan villa ada gubug-gubug kayu dengan bangku untuk bersantai. Di gubug itu pula makanan dihidangkan. Ada juga rumah pengurus villa, sekaligus warung jajan yang berguna sekali ketika ada yang butuh sesuatu, entah itu minuman dingin, cemilan, atau pun peralatan mandi dan kebutuhan wanita seperti pembalut dan lainnya.

Untuk makan siang dan makan malam, pengurus villa menyajikan menu berupa nasi dengan lauk-lauk seperti ikan goreng, tempe dan tahu goreng, sayur sop atau sayur asem, sambal dan lalap-lalapan, serta kerupuk. Sederhana tapi nikmat. Saya perhatikan semua orang makan dengan lahap, apalagi dalam kondisi usai berlelah-lelah snorkeling di tiga pulau, makan jadi nambah-nambah. Saya yang tidak snorkeling saja nambah lho he he

Dermaga Pulau Sebesi

Welcome

Makan siang di villa


Suguhan makan siang, nikmat.

Teman, pantai, makan siang, dan es kelapa.....

Senja di Pulau Umang-Umang

Kesenangan di hari pertama belum berakhir. Ada senja romantis yang kami nikmati di Pulau Umang-Umang. Pulau kecil tak berpenghuni sangat dekat dari Pulau Sebesi. Kami naik kapal ke sana, sesaat saja, lalu ganti naik perahu karena kapal tidak boleh terlalu merapat ke pulau, nanti merusak terumbu karang. Yup, perairan di sekitar pulau ini memang memiliki spot snorkeling. Saya dan suami tidak snorkeling. Hanya jalan-jalan pendek sambil menikmati suasana pulau. Kemudian duduk-duduk sambil foto-foto asyik berdua. Begitu saja. 

Sore-sore di Pulau Umang-Umang

Sama-sama nunggu sunset

Senja di Pulau Umang-Umang


Malam Di Pulau Sebesi

Ketika magrib tiba, kami kembali ke Pulau Sebesi. Malamnya, setelah makan langsung masuk villa, mendaratkan badan di atas kasur. Tak ada lagi yang ingin dilakukan selain menyiapkan tenaga baru untuk naik gunung keesokan hari. Baterai gawai dicas. Tapi di villa hanya ada dua stop kontak. Sedangkan kami berduabelas. Jika tiap orang ngecas hp dan kamera, alamat tak kebagian semua. Untunglah Nurul membawa tambahan stop kontak dengan banyak lubang steker. Oya, ada kecemasan baterai-baterai itu tidak penuh. Karena konon kabarnya, listrik akan dimatikan saat tengah malam. Kabar yang membuat panik, tapi ternyata sampai terbangun jam 3 pagi listrik tetap menyala dan baterai-baterai telah terisi penuh. Tenang rasa hati. Hari gini, apalah arti jalan-jalan jika gadget mati, mati gaya.

Kamar dalam villa

Butuh daya

Mengejar Sunrise di Gunung Anak Krakatau

Kami sudah dijadwal meninggalkan villa jam 3 pagi. Jadwal yang kemudian ditaati untuk bangun saja, sedangkan berangkatnya satu jam kemudian. Yah, namanya orang banyak, mesti gantian ke kamar mandi dululah, dan lain-lain. Langit masih gelap, tapi indah bertabur milyaran bintang. Saya terpesona, sampai lupa lautan. Iya, kaki-kaki menjadi basah kala berjalan menuju dermaga. Rupanya air pasang memenuhi pantai. Untunglah ada suami yang bersedia menggendong saya saat melewati genangan air. Hmm…semacam romantis dalam film asmara subuh. Apalah, apalah.

Perjalanan menuju Gunung Anak Krakatau kami tempuh selama 2 jam. Kapal melaju di atas gelombang tinggi, terayun-ayun, perut seperti diaduk-aduk. Sebelum berangkat, awak kapal menyuruh semua orang masuk kapal. Dilarang keras duduk di atas atap, nanti terlempar ke laut katanya. Di bawah sinar lampu yang tak cukup terang, orang-orang duduk dalam diam, beberapa melanjutkan tidur. Sesampainya di pelataran Gunung Anak Krakatau, yang muslim bergegas menuju sumur dekat rumah petugas BKSDA, mengambil wudhu lalu solat. Setelah itu langsung sarapan. Hari makin benderang, menuju siang. Lalu lupa, di manakah sunrise yang dikejar? 

Jam 4 pagi dalam kapal menuju Gunung Anak Krakatau

Solat itu wajib

Rumah petugas Cagar Alam Krakatau - Sarapan sebelum nanjak gunung
Kawasan Cagar Alam, Bukan Tempat Wisata

Kawasan Gunung Anak Krakatau statusnya cagar alam, bukan tempat wisata. Untuk memasuki kawasan ini harus punya Surat Ijin Memasuki Kawasan Konservasi (Simaksi) dari BKSDA Provinsi Lampung. Koordinator trip kami telah mengurus Simaksi tersebut dan memberikan kontribusi (wajib) yang disetor ke rekening atas nama negara yang telah diatur berdasarkan PP tentang penerimaan negara bukan pajak bidang kehutanan. Sekali lagi, bertandang ke Gunung Anak Krakatau merupakan #TripEdukasiKonservasi yang bertujuan untuk pendidikan mengenai konservasi alam dan lingkungan. Tidak mengambil apapun yang ada di dalam kawasan, meskipun itu selembar daun yang gugur, atau sebuah ranting patah yang telah mati dan jatuh ke bumi. Tidak meninggalkan apapun, meskipun itu sebutir abu rokok. Bisa?

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, saya sudah pernah dua kali ke Gunung Anak Krakatau. Pertama Agustus 2015, kedua Agustus 2016. Dua-duanya dalam rangka Festival Krakatau, gratis. Ya, dalam tiap gelaran festival tahunan tersebut, tur ke Gunung Anak Krakatau memang menjadi salah satu kegiatan festival. Masyarakat bisa ikut serta, tapi dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Nah, jika ingin berkunjung di luar acara festival, bisa juga. Seperti kami ini. Tapi tentu saja tidak sembarang kunjung, ada prosedurnya. Harus ada ijin, harus bayar, dan harus ikut peraturan sebagaimana biasanya sebuah kawasan berstatus Cagar Alam. 

#TripEdukasiKonservasi Cagar Alam Krakatu

Flora dan Fauna di Gunung Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau memiliki suhu yang tinggi, maka jangan heran kalau di sini lebih banyak “gundul’nya dari pada hijaunya. Namun kita masih bisa menjumpai keanekaragaman tumbuhan dan keindahan alam yang ada di sekitar cagar alam Krakatau. Dari jenis flora ada tumbuhan pioner seperti gelagah yang bersimbiosis dengan tumbuhan lainnya seperti jenis Azoapirillum lippoferrum. Terdapat 13 jenis paku-pakuan dan 267 jenis spermatpohyta. Sedangkan jenis flona ada tikus, ular, kalong, biawak, hingga penyu.

Oya, satu lagi. Pernah ada pelancong yang bertanya pada saya mengenai camping di Cagar Alam Krakatau. Untuk diketahui, di sini dilarang camping. Kalau pun pernah ada yang camping, biasanya untuk tujuan penelitian dan atas ijin BKSDA. Jika sudah berkunjung dan melihat-lihat, silakan langsung pulang dan menginap di tempat lain seperti Pulau Sebesi, atau langsung balik ke daratan Pulau Sumatera. Masuk cagar alam juga ada batas waktunya, lama atau sebentar tergantung kondisi saat berkunjung. Pokoknya ikuti saja petunjuk yang diberikan petugas.

Pohon pinus dan alang-alang

Bunga liar di gunung

Hutan pinus di pelataran gunung
Lava yang telah mengeras

Mendaki Gunung Anak Krakatau bersama Kekasih!

Boleh senang nggak? Boleh ya. Kali ini saya nanjak dengan mudah. Banyak faktor penyebabnya, di antaranya: hari masih pagi, udara masih sejuk, matahari pun belum terlalu tinggi. Tambahannya: Hati bahagia dan ada kekasih yang menemani perjalanan! Yes, pendakian kecil-kecilan ini jadi terasa indah bersamanya. Bagai punya 1000 kekuatan. Kaki jadi lebih kuat, nafas jadi lebih teratur, bahkan gunung tampak datar saja di mata. Masih kurang? Nih saya tambahin lagi kenapa nanjak terasa ringan: Karena tidak mikirin mau nulis berita (liputan), tidak ada ‘hutang”, atau pun live post buat ngejar viral :D Bebasssss lepas tanpa beban.

Pengalaman banyak merosot saat nanjak pada tahun-tahun sebelumnya, bikin saya menjauh dari rute terjal yang dulu pernah saya lalui. Kali ini naik pelan-pelan dengan memutari gunung (nggak mutar jauh-jauh amat), melewati tanjakan yang lebih landai. Saya dan suami tidak memasang target harus sampai atas dalam waktu sekian puluh menit, sama sekali tidak. Kami naik dengan santai, malah kerap berhenti. Entah sekedar untuk berdua-duaan menikmati pemandangan, atau untuk ambil foto. Ketika yang lain sudah di atas, kami masih di setengah pendakian. Kadang sengaja berlama-lama untuk mengamati pemandangan sekitar yang kami temukan dari titik tempat kami berdiri.

Puncak Gunung Anak Krakatau dilarang didaki. Berbahaya. Pendaki hanya boleh nanjak sampai batas aman, orang menyebutnya ‘sadel’. Menurut keterangan guide yang berasal dari Pulau Sebesi, dua minggu sebelum kedatangan kami, Gunung Anak Krakatau ditutup dari kunjungan wisatawan karena sempat terjadi erupsi kecil. Kemudian guide menunjuk lava yang telah mengeras di sebagian besar permukaan gunung bagian atas. 

Matahari pagi sedang indah-indahnya, fotonya sedang blur-blurnya 😛
Puncak gunung menyembul lurus di atas kepala. Mau lewat mana? Jalan terjal di sisi kanan atau jalan memutar dan landai di sisi kiri?
Kemiringan sekian

di batas aman pendakian


Pulau Panjang di seberang sana

Snorkeling di Pulau Rakata

Sependek pernah berkunjung ke Cagar Alam Krakatau, Pulau Rakata hanya dapat saya pandangi dari kejauhan (dari atas Gunung Anak Krakatau). Bentuknya seperti gunung kecil dengan puncak yang kerap bertudung awan. Memandangnya menghadirkan rasa penasaran. Sebagai sisa gunung purba yang pernah meletus sangat dahsyat, penampakan Rakata terlihat indah di mata. Tak nampak keganasannya sebagai gunung yang pernah menggelegar membangunkan penduduk planet. Banyak orang tahu, 134 tahun silam ledakan Krakatau setara 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki pada akhir Perang Dunia II. Getarannya terasa sampai Eropa dan letusannya terdengar hingga sejauh 4.653 kilometer sampai Australia dan Afrika. Mengakibatkan Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan lenyap, setengah kerucut Gunung Rakata hilang. Terjadi gelombang tsunami setinggi 40 meter yang mengakibatkan puluhan ribuan penduduk tewas. Langit separuh bumi gelap gulita selama dua hari. Debu vulkanisnya menutupi atmosfer bumi, menyebabkan perubahan iklim global sampai setahun berikutnya.

Pulau Rakata di kejauhan

Rakata nan Memesona

Kini lihatlah, Rakata begitu tenang. Daratannya hijau, ditumbuhi hutan alami yang membuatnya terlihat sangat asri. Lautnya sangat jernih dan kaya akan keragaman biota laut. Para pelancong terkagum-kagum dibuatnya. Mereka sudi datang dari jauh, melewati kondisi laut yang kadang tidak bersahabat, demi menyaksikan sisa Krakatau yang pernah menjadi bencana besar yang merubah sebagian wajah bumi.

Gentar? Tak bisa dipungkiri rasa itu menyelimuti hati selama 30 menit perjalanan naik kapal menuju Rakata. Iya, banyak cemasnya. Pikiran-pikiran liar pun berseliweran, “Bagaimana jika tiba-tiba pulau itu bergemuruh, lalu meledak lagi?”  Tapi sungguh, ketika sudah sampai di sana, segala ketakutan itu, segala kecemasan itu, berganti pekik gembira saat air sejernih kristal dengan warna-warni terumbu karang yang terlihat jelas dari atas kapal, menyambut kedatangan kami. Terkagum-kagum saya dibuatnya. Orang-orang di kapal, satu persatu terjun ke laut, termasuk suami. Mereka berenang, menyelam, dan mengapung. Berlama-lama, lebih lama dari snorkeling di hari sebelumnya. Saya tahu tempat ini spesial, keindahan panorama bawah lautnya tak terbantahkan. Daratannya pun sangat menawan. Semua masih serba alami. Membuat para pelancong bersuka hati.

Spot snorkeling kece di Pulau Rakata

Airnya dangkal, hangat dan jernih. Ikannya banyak. Menyenangkan!

Singgah lalu bergaya

Happy sekali 😍

Kembali ke Daratan Pulau Sumatera

Dalam open trip Pulau Sebesi, Gunung Anak Krakatau bukanlah destinasi utama. Cagar Alam Krakatau hanyalah bagian dari destinasi yang MUNGKIN bisa dikunjungi. Sedangkan Pulau Umang-Umang, Pulau Sebuku Kecil, Pulau Sebuku Besar, dan Pulau Rakata adalah destinasi pasti yang ada dalam daftar kunjung. Satu hal lagi, meskipun bermalam di Pulau Sebesi, tidak berarti ada kegiatan jelajah pulau, karena kegiatan banyak dilakukan di laut, yaitu Snorkeling. Jika ingin mengeksplore Pulau Sebesi lebih dalam, tambahlah 1-2 hari lagi. Biar puas.

Pulau Rakata menutup kegiatan kami di hari kedua. Setelah dari sana, kami kembali ke Pulau Sebesi untuk makan siang, membersihkan badan, berkemas, lalu pulang. Jam 5 sore kami sudah di dermaga Canti, Kalianda. Saat itu, awan kelabu tebal menggantung di langit, bersiap tumpah dalam sekali hempasan angin. Benar saja, tak lama setelah perjalanan naik angkot sewaan dimulai, hujan deras mengguyur Kalianda hingga Pelabuhan Bakauheni. 

Sampai jumpa lagi Pulau Sebesi

Pulang

Sebentar lagi hujan - Dermaga Pulau Sebesi

Oleh-oleh Lampung di Pelabuhan Bakauheni

Salam metal 😆

Mari pulang ke Tanah Jawa

Kapal siap membawa pulang

Dalam gigil dan lelah, kami mengayun langkah bersama para pejalan yang bersiap kembali ke Pulau Jawa. Sungguh malam yang dingin untuk jiwa yang hangat. Tiada yang lebih berharga untuk dibawa pulang selain pengalaman dan kenangan manis.

Lima bulan kemudian, saya kembali ke Pulau Sebesi dengan cerita baru dan pengalaman baru: Tiada Gundah di Pulau Sebesi.

Info:
Open Trip ini dikoordinir oleh Nurul. Biaya per orang Rp 400.000 adalah untuk saat itu, belum tentu berlaku untuk lain waktu. Meeting point di Pelabuhan Merak, Banten. Harga tersebut sudah termasuk: Biaya kapal PP Merak-Bakauheni, biaya sewa mobil Bakauheni-Dermaga Canti, sewa kapal dari Dermaga Canti ke Pulau Sebuku, Pulau Umang-Umang- Pulau Sebesi, Gunung Anak Krakatau, dan Pulau Rakata. Sudah termasuk makan 4 kali di Pulau Sebesi. 



Video Trip Pulau Sebesi: