Empat kali berkunjung ke Way Kambas membuat saya sadar bahwa yang paling membekas bukan hanya pertemuan dengan gajah-gajah Sumatera, tetapi juga cerita para mahout yang menjaganya setiap hari.
"Saya justru lega ketika Way Kambas
ditutup."
Kalimat itu mungkin terdengar aneh. Selama ini banyak orang
berharap kawasan wisata tetap dibuka agar roda ekonomi masyarakat sekitar terus
berputar. Semakin banyak orang datang, semakin banyak pula yang mengenal
pentingnya konservasi.
Saya pun pernah berpikir demikian.
Namun, setelah pulang dari perjalanan ke Taman Nasional Way
Kambas pada September 2025, ada perasaan yang terus mengendap. Bukan rasa
kecewa, bukan pula penyesalan. Lebih seperti kegelisahan yang tumbuh pelan
setiap kali saya melihat konten tentang anak gajah Way Kambas bermunculan di
media sosial.
Sayangnya, yang paling sering lewat di beranda saya bukan
konten edukasi dari tim lapangan BTN Way Kambas, melainkan video wisatawan atau
agen perjalanan. Ada yang bercanda sambil berinteraksi berlebihan dengan anak
gajah, seolah itu sesuatu yang lucu. Saya justru tidak bisa ikut tertawa.
Interaksi seperti itu, menurut saya, tidak perlu
dipertontonkan. Kalau memang terjadi tanpa sengaja, cukup dijadikan pelajaran.
Kalaupun diunggah, semestinya menjadi bahan edukasi, bukan contoh yang
mengundang orang lain melakukan hal yang sama.
Suatu hari saya berhenti menggulir layar ketika melihat
seseorang memberi pisang kepada gajah lengkap dengan tali plastiknya.
Pikiran saya langsung ke mana-mana. Kalau plastiknya ikut
termakan bagaimana?
Sejak saat itu saya semakin sering merasa khawatir. Bukan
hanya terhadap keselamatan gajah-gajah jinak di sana, tetapi juga terhadap
tumbuh kembang mereka jika interaksi seperti itu terus dianggap wajar.
Perasaan itulah yang akhirnya membuat saya memandang kabar
penutupan kawasan wisata alam BTN Way Kambas pada 15 Januari 2026 dengan cara
yang berbeda. Seakan kekhawatiran saya didengar dan dirasakan semesta, hingga
Allah memberikan jalannya.
Saya tentu berharap penutupan itu hanya sementara. Saya juga
ingin masyarakat sekitar tetap mendapatkan manfaat ekonomi dari pariwisata.
Namun, diam-diam saya merasa ada hikmah yang mungkin tidak disadari banyak
orang.
Sebelum saya jelaskan alasannya, izinkan saya mengajak
teman-teman mundur beberapa bulan ke belakang.
21 September 2025.
Saat itu Way Kambas masih menerima kunjungan wisatawan. Saya
datang bersama suami dan beberapa teman suami. Sebagian besar dari mereka baru
pertama kali menginjakkan kaki di kawasan konservasi ini. Melihat antusiasme
mereka, saya ikut bersemangat. Rasanya seperti mengajak seseorang bertemu teman
lama yang selama ini hanya dikenal lewat cerita.
Seluruh kegiatan wisata yang kami ikuti hari itu berlangsung
di kawasan Pusat Latihan Gajah (PLG) Way Kambas yang kini dikenal sebagai Pusat
Konservasi Gajah. Di sinilah sebagian besar aktivitas edukasi dan interaksi
pengunjung dengan gajah dilakukan di bawah pendampingan para mahout.
Ini adalah kunjungan keempat saya ke Way Kambas. Anehnya,
setiap kali datang saya selalu pulang dengan pengalaman yang berbeda. Bukan
karena tempatnya berubah, melainkan karena setiap gajah yang saya temui
memiliki karakter yang berbeda. Ada yang kalem, ada yang usil, ada yang cuek,
ada pula yang begitu ekspresif.
Mungkin karena itulah saya tidak pernah merasa perlu datang
ke Way Kambas demi mencari satu gajah tertentu.
Belakangan saya melihat fenomena yang menurut saya cukup
mengganggu. Saya merasa media sosial perlahan membuat satu nama jauh lebih
dikenal dibanding gajah-gajah lainnya. Banyak orang datang dengan harapan
bertemu gajah yang sedang viral.
Saya bahkan sempat menemukan promosi perjalanan yang kurang
lebih berbunyi,
"Kalau tidak ikut trip kami, kamu tidak akan bisa
bertemu Gajah Nisa."
Saya membaca kalimat itu dua kali. Entah kenapa terasa
mengganjal.
Bukan karena saya tidak menyukai Nisa. Sebaliknya, saya ikut
senang melihat seekor gajah bisa membuat banyak orang tertarik mengenal Way
Kambas. Yang mengganjal justru cara promosi seperti itu seolah memberi kesan
bahwa pengalaman bertemu gajah tertentu hanya bisa diperoleh melalui satu pihak
saja. Padahal, perjumpaan dengan satwa di kawasan konservasi tetap dipengaruhi
banyak hal, mulai dari kondisi di lapangan, aktivitas satwa pada hari itu,
hingga pertimbangan para mahout dan pengelola kawasan.
Saya khawatir pesan seperti itu justru membentuk ekspektasi
yang kurang tepat. Fokusnya bergeser dari menikmati pengalaman mengenal Way
Kambas menjadi mengejar satu gajah tertentu. Padahal justru keberagaman
gajah-gajah yang ada di Way Kambas itulah yang membuat setiap kunjungan terasa
istimewa bagi saya.
Saya memang sempat bertanya kepada Pak Mad apakah hari itu
Nisa berada di sekitar area pemandian dekat pengunjung.
"Enggak tentu."
Jawabannya sesingkat itu.
Dan bagi saya, jawaban itu sudah lebih dari cukup.
Kalau bertemu, alhamdulillah. Kalau tidak, tidak masalah.
![]() |
| Pak Ahmad Rokhani telah lebih dari 30 tahun mengbadi di TN Way Kambas sebagai bagian dari tim pelestari Gajah Sumatera. |
Saya datang bukan untuk mengejar satu nama. Saya datang untuk kembali menikmati suasana Way Kambas, menyapa para mahout, dan mengenal lebih banyak penghuni hutan yang selama ini hanya saya lihat sesekali.
Dulu saya sendiri mengira Way Kambas hanya identik dengan
gajah.
Padahal di sana juga ada badak Sumatera.
Lucunya, saya baru benar-benar menyadari hal itu setelah
beberapa kali berkunjung. Di akhir tulisan ini nanti, saya akan bercerita
tentang pertemuan saya dengan Mas Bio, putra Pak Mad, yang menjadi salah satu
tim mahout badak di Way Kambas.
Saya juga baru tahu bahwa badak ternyata memiliki mahout
yang merawat dan mendampinginya. Selama ini saya sering melihat cerita tentang
mahout gajah, tetapi hampir tidak pernah melihat bagaimana mahout mengasuh
badak.
Dari situ saya mulai sadar bahwa Way Kambas menyimpan jauh
lebih banyak cerita daripada sekadar bertemu seekor gajah yang sedang viral.
Pikiran saya kemudian melayang ke satwa-satwa lain di Lampung. Belum lama ini publik dihebohkan dengan kasus tapir yang dibunuh warga di Mesuji. Peristiwa itu membuat saya berpikir bahwa persoalan konservasi tidak selalu sesederhana yang terlihat.
Bisa jadi masih ada orang yang benar-benar belum mengetahui
bahwa tapir merupakan satwa yang dilindungi, sehingga ketika bertemu di alam
mereka menganggapnya sama seperti satwa liar lainnya. Namun, bisa juga ada yang
sebenarnya sudah mengetahui statusnya sebagai satwa langka, tetapi tetap
memilih untuk membunuhnya. Apa pun alasannya, kejadian seperti ini mengingatkan
saya bahwa upaya melindungi satwa tidak cukup hanya mengandalkan penegakan
hukum, tetapi juga membutuhkan edukasi yang terus-menerus agar semakin banyak
orang mengenali dan menghargai satwa-satwa langka yang hidup di sekitar mereka.
![]() |
| Sumber: IG @natgeoindonesia |
Mungkin karena itu saya tidak terlalu tertarik ketika media sosial hanya ramai membicarakan satu gajah yang sedang viral. Rasanya akan lebih menyenangkan jika semakin banyak orang juga bercerita tentang badak, tapir, dan satwa liar lainnya yang hidup di Way Kambas maupun di Lampung. Semakin banyak orang mengenal mereka, semakin besar pula harapan bahwa ketika suatu hari bertemu di alam, yang muncul bukan keinginan untuk menyakiti, melainkan kesadaran untuk menjaga.
Belakangan saya baru menyadari, mungkin karena cara pandang
itulah setiap kunjungan ke Way Kambas selalu terasa menyenangkan. Saya tidak
pernah pulang dengan rasa kecewa hanya karena tidak bertemu gajah tertentu.
Sebaliknya, saya justru selalu membawa pulang cerita baru
dari gajah yang berbeda-beda.
Dan cerita itu dimulai tepat pukul 12.05 WIB. Sesampainya di
kawasan Pusat Latihan Gajah Way Kambas, saya langsung melihat sosok yang tidak
asing lagi.
Pak Achmad Rokhani. Atau yang lebih akrab dipanggil Pak Mad.
Beliau sudah lebih dari tiga puluh tahun menjadi mahout.
Pengalamannya bahkan lebih panjang dibanding usia sebagian pengunjung yang
datang hari itu.
![]() |
| Pak Ahmad Rokhani (pakai baju kaos biru) |
"Mau langsung keliling, atau lihat-lihat dulu?"
Belum sempat ada yang menjawab, teman-teman kompak berkata,
"Salat Zuhur dulu ya, Pak."
Saya hanya tersenyum.
Gajah tidak akan ke mana-mana hanya karena kami berhenti salat beberapa menit. Justru perjalanan yang baik memang tidak selalu dimulai dengan terburu-buru.
Musala di kawasan Pusat Latihan Gajah Way Kambas ukurannya
cukup besar. Air wudhunya melimpah, jernih, dan terasa segar setelah perjalanan
panjang dari Gisting menuju Lampung Timur yang sejak awal ditemani hujan.
Menyentuhkan air dingin ke wajah saat itu benar-benar terasa menyegarkan.
Meski demikian, saya juga mencatat beberapa hal yang menurut
saya masih bisa ditingkatkan. Area dalam maupun luar musala terlihat agak
berdebu, dan beberapa sudut tempat wudhu mulai ditumbuhi lumut.
Yang paling mengganggu justru aroma pesing dari toilet yang
sudah tercium bahkan sebelum kami benar-benar mendekat.
![]() |
| Toilet dan tempat wudhu |
Saya percaya fasilitas umum adalah tanggung jawab bersama.
Pengelola tentu memiliki peran untuk merawatnya, tetapi pengunjung juga
memegang peranan yang sama penting. Air di sini sangat melimpah. Rasanya tidak
sulit untuk menyiram toilet hingga benar-benar bersih sebelum meninggalkannya.
Hal kecil seperti itu mungkin terdengar sepele, tetapi sangat berpengaruh pada
kenyamanan pengunjung berikutnya.
Selesai salat, sempat muncul diskusi kecil.
"Makan dulu apa nanti?"
Perut sebenarnya mulai mengingatkan bahwa waktu makan siang
sudah lewat. Namun rasa penasaran bertemu gajah rupanya jauh lebih besar
daripada rasa lapar.
Akhirnya kami sepakat menunda makan siang. Keputusan yang
belakangan sama sekali tidak kami sesali.
![]() |
| Musola |
Keliling Way Kambas Naik Shuttle, Cara Menjelajahi Pusat
Latihan Gajah
Pak Mad kemudian mengajak kami menuju area kendaraan wisata.
Di sanalah beliau menjelaskan bahwa kendaraan pribadi memang tidak
diperbolehkan masuk ke kawasan inti taman nasional. Semua pengunjung harus
memarkir kendaraannya di area yang telah disediakan, lalu melanjutkan
perjalanan menggunakan kendaraan wisata.
Awalnya saya hanya mengangguk mendengar penjelasan itu.
Namun semakin dipikirkan, aturan tersebut memang masuk akal. Jalan di dalam
kawasan menjadi lebih tertib, suara kendaraan tidak saling bersahutan, dan
habitat gajah tetap terasa tenang.
Bagaimanapun juga, kami sedang memasuki rumah mereka, bukan
sebaliknya.
Saat itu tersedia dua pilihan transportasi. Shuttle bus
dengan tarif Rp20.000 per orang berkapasitas sekitar sepuluh penumpang, atau
jeep adventure seharga Rp400.000 yang dapat dinaiki maksimal tiga orang.
Karena rombongan kami berjumlah delapan orang, shuttle
menjadi pilihan paling praktis.
Video naik shuttle keliling Pusat Latihan Gajah (PLG) Taman Nasional Way Kambas dapat ditonton pada Reels berikut ini:
Kendaraan yang kami gunakan ternyata bukan model odong-odong
seperti yang sering saya lihat di media sosial, melainkan mobil pickup yang
telah dimodifikasi. Bagian belakangnya dipasangi bangku empuk lengkap dengan
atap, sehingga perjalanan tetap nyaman meski harus melewati jalan tanah dan
padang rumput.
Begitu kendaraan mulai bergerak, angin langsung masuk dari
sisi kanan dan kiri yang terbuka. Sesekali roda melewati jalan yang
bergelombang sehingga kami spontan berpegangan pada sandaran bangku. Justru
sensasi seperti itulah yang membuat perjalanan terasa menyenangkan.
Pak Mad ikut duduk bersama kami. Kehadirannya membuat
perjalanan ini tidak sekadar menjadi wisata berkeliling, tetapi lebih seperti
mengikuti tur bersama seseorang yang mengenal hampir setiap sudut kawasan dan
para penghuni yang tinggal di dalamnya.
Sebelum kendaraan benar-benar melaju, saya memastikan empat
sisir pisang yang kami beli dari ibu-ibu di dekat pintu masuk sudah ikut
terbawa.
"Jangan sampai ketinggalan," celetuk salah seorang
teman.
Kami pun tertawa.
Hari itu, empat sisir pisang tersebut bukan sekadar bekal. Beberapa menit lagi, benda sederhana itu akan menjadi cara pertama kami berkenalan dengan para gajah Way Kambas.
![]() |
| Jalur shuttle bus di kandang gajah |
Rezeki yang Datang dalam Bentuk Langit Cerah
Kalau ada satu hal yang paling saya syukuri siang itu,
jawabannya adalah cuaca.
Sepanjang perjalanan menuju Way Kambas hujan nyaris tidak
berhenti. Dari Gisting hingga memasuki wilayah Lampung Timur, langit terus
dipenuhi awan kelabu. Berkali-kali saya membayangkan bagaimana kalau nanti kami
harus berkeliling di bawah hujan deras. Bukan berarti tidak bisa, hanya saja
suasananya tentu akan berbeda.
Ternyata Allah menyiapkan kejutan yang indah.
Sesaat setelah mobil memasuki kawasan konservasi, langit
perlahan mulai membuka. Matahari muncul tanpa terasa menyengat. Cahayanya
hangat, memantul di dedaunan yang masih basah oleh hujan dan membuat warna
hijau di sepanjang jalan terlihat semakin segar.
![]() |
| Sudah di Taman Nasional Way Kambas, tetapi belum masuk ke kawasan PLG. Hujan sudah berhenti, meski langit masih belum benar-benar cerah. |
Saya sempat mendongak beberapa detik. Baru saat itulah saya
merasa bersyukur. Hujan yang sejak pagi menemani perjalanan akhirnya berhenti
tepat ketika kami mulai berkeliling. Mungkin memang sesederhana itu bentuk
rezeki hari itu.
Shuttle terus melaju melewati padang rumput, kolam pemandian
gajah, kandang gajah, rumah sakit gajah, hingga jalur yang menurut Pak Mad
kerap dilintasi gajah liar. Delapan pasang mata di dalam kendaraan nyaris tidak
berhenti melihat ke kanan dan kiri. Bagi teman-teman yang baru pertama kali
datang, semuanya terasa baru. Sementara bagi saya, meski ini bukan kunjungan
pertama, rasa takjub itu rupanya belum juga berkurang.
Semakin jauh shuttle melaju, semakin sedikit suara yang kami
dengar selain angin dan sesekali kicau burung.
Tidak ada musik yang memekakkan telinga. Tidak ada deretan
kios. Tidak ada keramaian yang biasanya identik dengan tempat wisata. Yang ada
justru ruang bagi alam untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Mungkin itu
sebabnya setiap kali meninggalkan Way Kambas, saya selalu merasa ingin kembali.
Fitria, Gajah Pertama yang Menyambut Kami
Pertemuan dengan Fitria terjadi saat shuttle telah memasuki
area kandang gajah. Ada beberapa gajah yang terlihat sedang merumput. Namun,
yang jaraknya paling dekat dengan jalur shuttle melintas adalah seekor gajah
betina.
"Itu dia..."
Semua kepala spontan menoleh ke arah yang sama.
Seekor gajah tampak berjalan pelan mendekati kendaraan kami.
Langkahnya mantap, seolah sudah tahu akan ada tamu yang datang membawa sesuatu.
"Namanya Yulia," kata Pak Mad.
Beliau kemudian langsung meralat ucapannya.
"Eh, bukan. Fitria."
Kata Pak Mad, Fitria dan Yulia memang mirip-mirip, jadi
kadang beliau sendiri masih keliru menyebut namanya.
Saya tidak tahu apakah Fitria mengenali suara shuttle atau memang sudah hafal bahwa kendaraan seperti ini sering membawa pengunjung yang ingin memberinya makan. Yang jelas, begitu jarak kami semakin dekat, belalainya mulai bergerak ke sana kemari, seperti sedang mencari aroma pisang.
Suasana di dalam shuttle langsung berubah riuh.
Enam dari delapan orang dalam rombongan kami baru pertama
kali melihat gajah Sumatera dari jarak sedekat ini. Wajah mereka bergantian
antara kagum, penasaran, dan sedikit gugup.
Awalnya hanya satu orang yang berani menyodorkan pisang.
Setelah melihat semuanya aman, yang lain ikut mendekat. Dalam hitungan detik,
semua ingin mendapat giliran.
Lucu juga. Orang-orang dewasa yang sehari-harinya terlihat
tenang, tiba-tiba berubah seperti anak kecil yang berebut memberi makan hewan
kesayangan.
Kami tetap berada di dalam shuttle selama berinteraksi
dengan Fitria. Hanya Pak Mad yang turun untuk membantu mengarahkan sekaligus
mengawasi dari sisi belakang tubuh Fitria yang mulai mendekat hingga belalainya
dapat menjangkau tangan-tangan kami yang menyodorkan pisang.
Empat sisir pisang yang kami bawa perlahan mulai berkurang.
Tentu tidak semuanya diberikan kepada Fitria. Perjalanan keliling dengan
shuttle masih berlanjut. Mungkin masih ada gajah lain yang akan kami jumpai
untuk diberi makan.
Di sela-sela suasana yang ramai itu, Pak Mad bercerita bahwa
pisang yang dijual ibu-ibu di sekitar pintu masuk bukanlah pisang sembarangan.
Para pedagang telah diberikan edukasi agar buah yang dijual untuk pakan gajah
tidak dipercepat matang menggunakan karbit atau bahan kimia lain yang
berpotensi membahayakan satwa.
Saya senang mendengar penjelasan itu.
Informasi sederhana seperti ini mungkin terdengar sepele,
tetapi menurut saya penting diketahui pengunjung. Kadang kita begitu
bersemangat ingin memberi makan satwa, sampai lupa bahwa makanan yang kita
berikan juga harus aman bagi mereka.
Kalau suatu hari Way Kambas kembali dibuka untuk umum, saya
tetap menyarankan membeli pisang dari warga sekitar. Selain membantu
perekonomian masyarakat, kita juga ikut memastikan pakan yang diberikan kepada
gajah memang sudah sesuai dengan arahan pengelola.
Melihat Fitria menikmati pisang-pisang itu, saya jadi berpikir, mungkin kebahagiaan memang sesederhana melihat makhluk lain merasa kenyang.
Rumah Sakit Gajah Prof. Dr. Ir. M. Rubini Atmawidjaja
Shuttle kembali melaju. Setelah melewati kandang gajah,
kawasan hutan, dan jalur yang menurut Pak Mad sering dilintasi gajah liar, kami
sampai di depan Rumah Sakit Gajah Prof. Dr. Ir. M. Rubini Atmawidjaja.
Bangunan itu sudah tidak asing bagi saya. Pada kunjungan
sebelumnya saya bahkan pernah masuk ke dalam area rumah sakit. Kali ini kami
hanya melihat-lihat dari luar karena perjalanan masih harus dilanjutkan.
Sambil menunjuk ke arah bangunan, Pak Mad bercerita kalau
beliau juga sering diperbantukan di rumah sakit tersebut, terutama saat ada
gajah yang sedang sakit.
"Kalau ada yang sakit, ya ikut bantu di sana,"
kata beliau.
![]() |
| Meski berada di tengah kawasan hutan, rumah sakit gajah ini menjadi tempat penanganan gajah yang sakit sekaligus mendukung upaya menjaga kesehatan gajah-gajah di Way Kambas. |
Beliau lalu bercerita bahwa kesehatan gajah dipantau secara
berkala. Berat badannya ditimbang, kondisi fisiknya diperiksa, dan bila
diperlukan akan menjalani penanganan lebih lanjut oleh dokter hewan.
Mendengar cerita itu saya kembali diingatkan bahwa menjadi
mahout ternyata bukan hanya menemani gajah berjalan atau memberi makan. Ketika
ada gajah yang sakit, mereka juga ikut mendampingi proses perawatannya.
Rumah Sakit Gajah Prof. Dr. Ir. M. Rubini Atmawidjaja memang
menjadi pusat perawatan gajah Sumatera di Way Kambas. Selain menangani gajah
yang sakit atau terluka, tempat ini juga digunakan untuk memantau kesehatan
gajah-gajah yang berada di kawasan konservasi.
Kami tidak turun untuk berkeliling. Shuttle hanya berhenti
sebentar sehingga kami melihat-lihat bangunannya dari luar, sempat berfoto
beberapa menit, lalu perjalanan kembali dilanjutkan.
Sepanjang perjalanan itu masih banyak hal yang kami lewati.
Ada bak mandi raksasa yang biasa digunakan gajah untuk mandi sekaligus tempat
mereka minum. Kami juga melintasi jalur yang, menurut Pak Mad, kerap dilalui
gajah liar ketika berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain. Sesaat kemudian
shuttle melaju pelan di atas sebuah jembatan sempit yang lebarnya nyaris pas
dengan badan kendaraan. Di bawahnya mengalir sungai yang siang itu sedang
mengering.
Bagi teman-teman yang baru pertama kali datang, hampir
setiap sudut kawasan memancing rasa penasaran. Sementara Pak Mad tidak pernah
kehabisan cerita. Mulai dari kebiasaan gajah, kehidupan para mahout, hingga
bagaimana kawasan ini dikelola sebagai habitat sekaligus tempat konservasi
gajah Sumatera.
Bertemu Gajah Verdy di Way Kambas, Si Gagah yang Murah Senyum
Perjalanan kami bersama shuttle akhirnya selesai. Namun,
perjumpaan dengan gajah-gajah Way Kambas rupanya belum berakhir.
Selain Fitria, kami juga melihat beberapa gajah lainnya. Ada
Roy, Mbah Kartijah yang merupakan neneknya si gajah "seleb" Nisa,
serta beberapa gajah lain yang namanya tidak sempat disebutkan oleh Pak Mad.
Siang itu kami juga bertemu Verdy dan Yulia. Keduanya berada di kandang yang
letaknya tidak jauh dari area depan Pusat Latihan Gajah.
![]() |
| Gajah Verdy |
Kawasan ini memang menjadi pusat aktivitas wisata di Pusat
Latihan Gajah. Di sekitarnya terdapat area kuliner, musala, toilet, visitor
center, wisma tamu, hingga kolam alami tempat gajah dimandikan.
Pengunjung diperbolehkan masuk ke area kandang, tetapi hanya
sampai batas yang telah ditentukan. Selebihnya menjadi ruang bagi gajah dan
para mahout. Menurut saya, aturan seperti ini memang sudah semestinya ada.
Gajah tetap merasa nyaman di ruangnya, sementara pengunjung pun bisa
berinteraksi dengan aman.
Di dalam kandang terdapat sebuah kolam berukuran cukup
besar. Pada jam-jam tertentu, gajah akan dimandikan di sana. Momen inilah yang
biasanya paling ditunggu pengunjung karena bisa melihat aktivitas gajah dari
dekat, tentu saja dengan pendampingan para mahout.
Kalau membayangkan kandang gajah sebagai bangunan tertutup,
saya juga sempat berpikir begitu dulu.
Padahal kandang di sini justru terbuka. Tanpa dinding. Tanpa
atap. Lantainya hamparan rumput. Atapnya langit.
Yang menjadi penanda hanyalah patok-patok semen tempat
rantai dipasang sebagai pengaman. Rantainya cukup panjang dan kendor sehingga
gajah masih leluasa bergerak di sekitar kandangnya.
Saya spontan tertawa membayangkannya.
"Nah, kalau yang ini Verdy," ujar Pak Mad.
Seekor gajah jantan berdiri tegap di hadapan kami.
Salah seorang teman langsung berkomentar,
"Wah, ganteng juga ya."
Saya spontan tertawa.
Rasanya baru kali itu saya mendengar seseorang memuji
ketampanan seekor gajah dengan begitu serius.
Mahout yang mendampingi Verdy ternyata tak kalah menghibur.
Saat kami bertanya namanya, ia menjawab singkat,
"Michael."
Kami sempat saling berpandangan.
Beberapa detik kemudian ia menambahkan sambil tertawa,
"Michael... Rohman."
"Ya biar keren," katanya lagi.
Obrolan sederhana itu langsung mencairkan suasana.
Ternyata Semua Gajah Punya Wajah Berbeda
Di sela-sela obrolan, saya mengaku kepada Pak Mad kalau saya
masih kesulitan membedakan satu gajah dengan gajah lainnya.
Buat saya, semuanya sama-sama menggemaskan.
Pak Mad kemudian menjelaskan bagaimana para mahout mengenali
masing-masing gajah. Bukan dari besar kecil tubuhnya, melainkan dari bentuk
wajah, posisi mata, lekuk dahi, bentuk belalai, hingga proporsi gadingnya.
Setelah puluhan tahun mendampingi mereka, para mahout bahkan bisa mengenali
perubahan kecil hanya dari cara seekor gajah berjalan atau ekspresi wajahnya.
Mendengar penjelasan itu, saya jadi paham mengapa hubungan
antara mahout dan gajah terasa begitu dekat.
Mereka bukan sekadar bekerja bersama. Mereka tumbuh bersama.
Saling mengenal. Dan saling menjaga.
| Gajah jantan mungkin lebih mudah untuk dibedakan jika dilihat dari bentuk gadingnya. Kalau muka, keliatannya sama semua 😂 [Dokumentasi pribadi 2016) |
Bayi-bayi gajah tentu lebih mudah dikenali. Misalnya Jeremy
yang saat itu baru berusia sekitar satu bulan, atau Nisa yang belakangan lebih
sering muncul di media sosial. Sementara bagi para mahout, mengenali gajah
dewasa bukan perkara sulit. Mereka tahu persis siapa yang sedang mereka hadapi.
Saya juga memperhatikan bahwa setiap mahout memiliki cara
berkomunikasi yang berbeda dengan gajahnya. Mahout Rizal terdengar lebih lembut
ketika berbicara dengan Yulia yang saat itu sedang mengandung. Sementara Mahout
Rohman terdengar lebih tegas kepada Verdy. Mungkin karena karakter Verdy memang
berbeda.
Di situlah saya kembali teringat pada pembahasan di awal
tulisan. Berdiri di depan Verdy membuat saya semakin yakin bahwa setiap gajah
di Way Kambas memiliki cerita yang layak dikenal, meski tidak semuanya akrab di
telinga pengunjung.
| Ada yang bisa membedakan dua gajah di foto ini? |
Disemprot Gajah Yulia di Way Kambas, Momen Kocar-Kacir yang Selalu Saya Ingat
Kalau ada satu momen yang paling sering kami ceritakan
sepulang dari Way Kambas, jawabannya pasti saat bertemu Gajah Yulia.
Awalnya tidak ada yang terasa istimewa. Kami berdiri di
dekat Yulia sambil mendengarkan cerita Mahout Rizal. Cara beliau berbicara
kepada Yulia terdengar lembut, hampir seperti seseorang yang sedang berbicara
dengan sahabat lamanya.
Saya sempat memperhatikan perbedaan itu. Tadi Mahout Rohman
terdengar lebih tegas kepada Verdy, sementara kepada Yulia, Mahout Rizal
berbicara dengan nada yang jauh lebih halus. Saya jadi berpikir, mungkin memang
setiap mahout memiliki cara komunikasi yang berbeda, menyesuaikan karakter
gajah yang mereka dampingi.
Di tengah keasyikan mengamati itu, rupanya ada sesuatu yang
luput dari perhatian kami. Pak Mad dan Mahout Rizal saling memberi kode.
Lalu...
Byur!
Semburan air dari belalai Yulia meluncur tepat ke arah kami.
Suasana di dekat bak air yang tadinya tenang langsung berubah ricuh. Ada yang spontan menunduk, ada yang berteriak sambil tertawa, ada pula yang pasrah karena bajunya sudah telanjur basah.
Saya sendiri tidak
sempat menghindar. Yang bisa saya lakukan hanya tertawa sejadi-jadinya.
Belakangan barulah kami sadar kalau sejak awal kami memang sedang "dikerjai". Lucunya, tidak ada seorang pun yang kesal. Sebaliknya, momen itulah yang paling sering kami kenang sepulang dari Way Kambas.
Foto-foto memang memenuhi galeri ponsel, tetapi justru kejadian yang
tidak direncanakan seperti inilah yang paling lama tinggal di ingatan.
Video disemprot Gajah Yulia dapat ditonton pada Short berikut:
Sebelum meninggalkan kandang, saya melambaikan tangan ke
arah Verdy dan Yulia sambil berkata, "Dadah..."
Entah karena kebetulan atau memang mengikuti arahan mahout,
keduanya mengangkat belalai hampir bersamaan.
Saya terdiam beberapa detik. Pemandangan sederhana itu
terasa begitu hangat.
Beberapa bulan setelah perjalanan ini, tepatnya pada tanggal 4 Desember 2025, saya membaca kabar
bahwa Yulia telah melahirkan anak pertamanya, seekor gajah betina yang diberi
nama Heti. Saya langsung teringat siang itu, ketika Yulia membuat kami semua
basah kuyup sambil tertawa.
Selamat ya, Yulia.
Semoga Heti tumbuh sehat dan kelak menjadi bagian dari
harapan baru bagi kelestarian gajah Sumatera di Way Kambas.
![]() |
| Gajah Yulia sedang mengandung anak pertama. Pada tahun 2025 usianya 12 tahun. |
Peresmian nama Heti anak gajah Yulia dilaksanakan pada 9 Desember 2025.
Nama Heti merupakan pemberian Kapolres Lampung Timur AKBP Heti Patmawati, SH., S.I.K., M.M. Video acara peresemian nama Gajah Heti dapat ditonton pada Reels @btn_waykambas berikut ini:
Visitor Center Way Kambas dan Kerangka Gajah yang Menyimpan Banyak Cerita
Begitu melangkah masuk ke Visitor Center, mata saya langsung
tertuju ke sisi kiri ruangan.
Di sana berdiri sebuah kerangka gajah berukuran besar. Sulit
untuk tidak memperhatikannya. Bahkan sebelum kami sempat melihat-lihat isi
ruangan yang lain, Pak Mad sudah lebih dulu berjalan ke arahnya.
"Nah, ini..." katanya sambil menunjuk kerangka
tersebut.
Visitor Center menjadi tempat yang pas untuk memulai kunjungan ke Pusat Konservasi Gajah Way Kambas. Di dalamnya terdapat berbagai informasi mengenai satwa-satwa yang hidup di taman nasional, mulai dari gajah Sumatera, badak Sumatera, hingga satwa liar lainnya. Ada panel-panel edukasi, foto dokumentasi, koleksi konservasi, serta ruang audiovisual yang membantu pengunjung mengenal Way Kambas sebelum menjelajahi kawasan konservasi.
Namun siang itu, perhatian kami justru berhenti pada kerangka gajah tersebut.
![]() |
| Pak Ahmad Sakhroni dan kerangka gajah dari gajah yang mati di usia 18 tahun |
Pak Mad bercerita bahwa kerangka itu berasal dari seekor gajah berusia 18 tahun yang mati karena sakit. Kini kerangka tersebut dimanfaatkan sebagai media edukasi di Visitor Center agar pengunjung dapat mengenal anatomi gajah sekaligus belajar lebih banyak tentang konservasi.
Ada satu cerita yang menurut saya justru lebih menarik.
Pak Mad ternyata menjadi salah satu orang yang ikut menyusun kerangka gajah itu hingga berdiri seperti sekarang.
Proses penyusunannya
dikerjakan bersama Pak Nazzarudin, Catur Marsudi, Alfian Efendi, serta tiga
orang yang didatangkan dari Bali, yaitu Pak Aan, Saiful, dan Ansori.
Saya baru tahu bahwa kerangka sebesar itu tidak datang
begitu saja ke dalam ruangan. Ada orang-orang yang dengan sabar menyusun setiap
bagiannya hingga akhirnya menjadi sarana edukasi bagi ribuan pengunjung yang
datang ke Way Kambas.
Setelah mendengar cerita Pak Mad, saya tidak lagi melihat
kerangka itu sekadar sebagai pajangan di Visitor Center. Di baliknya ada kerja
keras banyak orang agar kisah seekor gajah tetap dapat menjadi bahan
pembelajaran bagi siapa saja yang datang berkunjung.
Sebelum keluar ruangan, saya sempat menoleh sekali lagi ke
arah kerangka itu.
Makan Siang Sebelum Berpisah
Keluar dari Visitor Center, kami akhirnya menyerah pada rasa
lapar yang sejak tadi ditunda. Area kuliner di depan Pusat Konservasi Gajah
siang itu cukup ramai. Teman-teman langsung mencari tempat duduk. Ada yang
memesan pecel lele, pecel ayam, mie ayam, lengkap dengan es kelapa muda untuk
melepas dahaga setelah berkeliling sejak siang.
Saya dan suami memilih duduk semeja dengan Pak Mad dan Mas Bio. Sementara teman-teman yang lain mengobrol di meja sebelah. Suasananya santai. Obrolan kami pun masih seputar Way Kambas, mulai dari gajah-gajah yang dirawat di sana hingga cerita Mas Bio yang sehari-hari mendampingi badak Sumatera.
Saya lebih banyak mendengarkan. Rasanya menyenangkan bisa menutup kunjungan dengan makan siang sederhana sambil berbincang bersama orang-orang yang selama ini hanya saya kenal lewat cerita.
![]() |
| Pak Mad pelestari gajah dan putranya Mas Bio tim pelestari badak |
Tak terasa waktu terus berjalan. Kami harus segera berpamitan karena perjalanan masih panjang. Tiket kapal menuju Bakauheni sudah dipesan dan kami tidak boleh terlambat. Setelah berfoto bersama, kami pun masuk ke mobil dan meninggalkan Way Kambas.
Di tengah perjalanan menuju Bakauheni, pikiran saya justru masih tertinggal di Visitor Center. Mendengar langsung cerita Pak Mad tentang seekor gajah berusia 18 tahun yang mati karena sakit, lalu melihat kerangkanya yang kini menjadi media edukasi, menjadi salah satu pengalaman yang paling membekas bagi saya hari itu.
Mungkin itu juga yang membuat kunjungan kali ini terasa
berbeda. Saya tetap senang bisa bertemu Fitria, Verdy, Yulia, dan gajah-gajah
lainnya. Namun, saya pulang bukan hanya membawa foto atau video. Saya juga
membawa cerita baru, cerita yang membuat saya semakin menghargai orang-orang
yang setiap hari bekerja menjaga satwa-satwa langka di Way Kambas.
Way Kambas Hari Ini
Kini, saat tulisan ini diterbitkan, Way Kambas mulai kembali
menerima kunjungan wisatawan. Namun konsepnya berbeda. Kawasan ini dibuka
secara terbatas sebagai wisata minat khusus yang lebih menekankan pengalaman
konservasi dibanding wisata massal.
Setelah mengingat kembali perjalanan pada September 2025 itu, saya justru merasa konsep tersebut sangat sejalan dengan cara saya menikmati Way Kambas. Yang paling membekas bukan hanya pertemuan dengan gajah-gajah Sumatera, tetapi juga obrolan bersama Pak Mad dan Mas Bio, cerita di Visitor Center, serta banyak hal kecil yang mungkin tidak akan saya temukan di media sosial.
- Lipur Hati di Lampung Timur
- Memandikan Gajah di Camp Eru Margahayu
Kalau dipikir-pikir, mungkin memang seperti itulah cara saya menikmati Way Kambas. Bukan sekadar datang untuk melihat gajah, melainkan memahami kehidupan yang berlangsung di baliknya. Semakin sering datang, semakin saya sadar bahwa Way Kambas bukan hanya tentang gajah. Di taman nasional ini juga ada badak Sumatera, tapir, dan berbagai satwa liar lain yang sama pentingnya untuk dikenal.
Mungkin itulah alasan saya selalu ingin kembali ke Way Kambas.
Setiap kunjungan menghadirkan cerita yang berbeda. Selalu ada hal baru untuk dipelajari, orang-orang yang bekerja dengan sepenuh hati menjaga satwa, dan pengingat bahwa taman nasional ini jauh lebih luas daripada apa yang sempat saya lihat dalam satu kali perjalanan.


.jpg)

.jpg)


.jpg)
.jpg)



.png)
.png)
.png)
.png)







.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

