Tampilkan postingan dengan label Lampung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lampung. Tampilkan semua postingan

Wisata Gisting Lampung 2025: Dari RM Kartini Sampai Pelabuhan Kota Agung

Gisting di Kabupaten Tanggamus, Lampung, adalah salah satu destinasi wisata yang menawarkan udara sejuk, pemandangan perbukitan, serta beragam kuliner khas. Dalam artikel ini saya berbagi pengalaman jalan-jalan di Gisting, rekomendasi tempat makan, hotel, hingga spot menarik yang bisa kamu kunjungi. 


Perjalanan ke Gisting Tanggamus Lampung Setelah 10 Tahun

Saya kadang curiga pada perjalanan yang tidak direncanakan. Biasanya, yang tidak direncanakan itu entah berujung pada kisah paling berkesan, atau paling melelahkan. Tidak jarang juga dua-duanya sekaligus. 

Maka ketika suami tiba-tiba bilang, “Kita ke Lampung, ya. Ada undangan nikah,” saya tidak langsung menjawab. Bukan karena tidak mau, tapi karena otak saya sedang menghitung: Lampung itu jauh, Tanggamus itu lebih jauh lagi, dan saya ini manusia yang kalau sudah nyaman di rumah, bisa tiba-tiba merasa semua tempat di luar sana terlalu ambisius. Namun hidup, seperti biasa, punya cara sendiri untuk menyeret saya ke petualangan.

September 2025 menjadi momen kembalinya saya ke Tanggamus, Lampung, untuk kedua kalinya. Sepuluh tahun setelah kunjungan pertama pada 2015. 

Kalau setiap detik dalam satu dekade itu bisa dikonversi menjadi uang seratus ribu rupiah, mungkin saya sudah bisa membangun monumen peringatan: “Di sini berdiri seseorang yang akhirnya kembali ke Tanggamus setelah sepuluh tahun, tanpa jadi triliuner.” Sayangnya tidak. Yang ada hanya saya, sebuah tas kecil, dan satu rombongan manusia kantor yang setengah mengantuk.

Jejak pertama ke Tanggamus saat mengikuti D’Semaka Tour 2015, Alfatihah untuk alm. Elvan (berdiri paling tengah di belakang spanduk, bersyal oranye, memakai topi), staf Dispar Tanggamus yang mengundang para blogger ke Festival Teluk Semaka 2015. 

Undangan Nikah, Alasan Resmi Menjadi Turis Dadakan

Perjalanan ini bukan agenda pribadi saya, melainkan agenda sosial suami. Suami punya satu prinsip hidup yang konsisten: kalau ada anggota timnya menikah, sejauh apa pun lokasinya, ia ingin datang langsung. Katanya, doa dan kehadiran itu terasa berbeda dibanding sekadar transfer dan ucapan di grup WhatsApp. 

Saya tidak membantah. Saya hanya menambahkan dalam hati, semoga suatu hari ada yang menikah di Kanada atau Spanyol. Bukan apa-apa, saya ingin ikut suami menunaikan tugas sosial sambil jalan-jalan.

Dulu kami pernah kondangan ke Purwokerto dan Cilegon, dan waktu itu hanya kami sekeluarga: saya, suami, dan anak-anak. Kali ini berbeda. Rombongan. Satu mobil penuh. Semuanya anak muda, masih single, dan saya otomatis naik pangkat menjadi ibu yang ikut nyempil di antara anak-anak kantor.

Anehnya, saya tidak canggung. Mungkin karena usia akhirnya mengajarkan satu hal penting: tidak semua perbedaan generasi harus jadi tembok. Sebagian bisa jadi jembatan. Sebagian lagi cukup jadi bahan bercanda.

Bonusnya, saya pernah ke Tanggamus. Artinya, saya punya satu modal sosial yang cukup bergengsi: “Saya tahu dikit tempat di sana.” Dikit, tapi cukup untuk sok jadi tour guide. Saya bahagia. Akhirnya ada fungsi nyata dari memori sepuluh tahun lalu.

Rombongan yang berangkat. 1 mobil 8 orang, termasuk saya yang tidak in frame karena bagian yang pegang kamera 😂


Perjalanan Menuju Gisting Tanggamus Lampung via Pelabuhan Merak

Kami berangkat Sabtu dini hari, 20 September 2025. Harapannya, supaya bisa menyaksikan prosesi akad nikah yang akan berlangsung jam 9 pagi. Tapi misalkan gak keburu, hadir di resepsinya saja sudah cukup.

Teman-teman suami berkumpul di kantor lalu menjemput kami di BSD, dan dari situ langsung menuju Merak. Delapan orang ikut dalam perjalanan ini. Dua laki-laki duduk di depan, bergantian menyetir. Enam perempuan mengisi baris tengah dan belakang.

Barang bawaan minimalis, masing-masing satu tas pakaian untuk dua kali ganti. Rencana perjalanan pun sederhana: pergi Sabtu dini hari, pulang Minggu malam.

Saya lupa jam berapa tepatnya tiba di Pelabuhan Merak karena tidak sempat memotret apa pun sebagai penanda waktu. Foto pertama saya justru diambil saat sudah berada di kabin penumpang dek paling atas kapal, pukul 03.30 WIB. Teman-teman suami sudah dalam posisi paling nyaman versi masing-masing, lengkap dengan berbagai camilan di atas meja. 

 
Saya dan suami memilih bangku rebah seperti kursi santai di pinggir kolam. Kabin ini bersih, sofanya empuk, indoor, ber-AC, dan memiliki dinding kaca besar yang menghadap laut. 

Toiletnya juga bersih dan kering. Mushola berada di dek bawah turun satu kali, lengkap dengan tempat wudhu yang nyaman. Hal-hal kecil seperti ini sering luput dari sorotan, padahal justru di sanalah rasa syukur sering bersembunyi.

Selama penyeberangan, saya dan suami sempat tidur, lalu terbangun sekitar pukul lima untuk salat subuh. Tidak ada matahari terbit karena langit mendung. September memang sedang rajin hujan. Dan entah kenapa, semuanya terasa cocok.

Video pendek berikut ini membantu memberi gambaran suasana subuh di kapal yang kami naiki:

 
Sarapan di Gisting Tanggamus Lampung: RM Kartini dan Hotel 21 Gisting

Kami keluar kapal sekitar pukul 05.32 WIB. Saya sempat nyeletuk soal sarapan, tetapi tidak ada yang merespons. Bukan karena jahat, lebih karena semua masih hidup setengah sadar.

Mobil langsung melaju meninggalkan pelabuhan, masuk tol, dan mengikuti arahan Google Maps menuju Tanggamus.

Saya mulai membuka peta, mencari kemungkinan tempat makan, bahkan sempat bertanya ke Mbak Alya soal rekomendasi di Bandar Lampung. Sayangnya, semangat saya tidak menular. Mobil tetap melaju lurus.

Di titik ini, saya mulai bernegosiasi dengan lambung sendiri. Sebagai pemilik maag setia, saya tahu betul tanda-tandanya.

Saya lalu menghubungi Hotel 21 Gisting. Mbak Afi memberi kabar baik: tidak ada kafe pagi, tetapi ada warung makan dekat hotel yang buka 24 jam, namanya RM Kartini. Saya langsung merasa seperti baru dikirimi oksigen.

Kami tiba di Gisting sekitar pukul sembilan pagi. Di titik itu saya sadar, perjalanan ini bukan tentang kembali setelah sekian lama, melainkan tentang diberi kesempatan untuk kembali. Dengan cara yang sederhana. Tanpa pesta. Tanpa rencana besar. Hanya dengan undangan nikah dan satu rombongan ngantuk. 

 
RM Kartini Gisting Tanggamus: Sop Ayam Kampung Enak di Pinggir Jalan Raya

RM Kartini berada di pinggir jalan raya Gisting, dekat pertigaan menuju Hotel 21. Di bagian depan warung tertulis besar RM Kartini, lengkap dengan tulisan Terima Catering dan Sedia Paket Nasi Rp15.000. Entah kenapa, tulisan sederhana seperti itu selalu terasa jujur. Tidak banyak basa-basi. Tidak mencoba terlihat mewah. Hanya memberi tahu apa adanya.

Menu andalannya sop daging sapi dan sop ayam kampung. Tanpa banyak diskusi, semua kompak memesan sop ayam kampung, dengan tambahan terong balado, jengkol, gorengan, dan teh tawar hangat. Di titik ini, demokrasi benar-benar berjalan mulus.

Sop ayam kampungnya bukan sop yang cuma panas. Kuahnya gurih, rasanya sedap, dan ayamnya empuk. Jenis sop yang membuat orang mengangguk pelan sambil berpikir, “Oh, ini serius enak.” Saya benar-benar bahagia. Dan ya, kebahagiaan saya pagi itu bentuknya sangat sederhana.

Saya dan suami makan sekitar tujuh puluh ribuan. Perut kenyang, hati senang. Dan saya pun paham, mungkin hikmah tidak jadi sarapan di pelabuhan, juga tidak jadi mampir ke tempat-tempat yang direferensikan oleh Mbak Alya, adalah agar saya bisa bertemu sop ayam kampung ini. Hidup memang suka bercanda. Kadang juga cukup tahu diri.

Video pendek berikut ini saat kami makan di RM Kartini, Gisting. Penampakan sop ayam kampung yang saya maksud, lebih terlihat di video ini:

 


Review Hotel 21 Gisting Lampung: Pengalaman Menginap dengan View Gunung Tanggamus

Hotel tempat kami menginap saya temukan lewat pencarian Google. Jujur saja, proses memilih hotel di daerah yang tidak terlalu sering saya kunjungi rasanya seperti main tebak-tebakan nasib. 

Dari sekitar empat hotel yang saya cek, tiga di antaranya punya ulasan yang bikin dahi otomatis berkerut. Mulai dari cerita penipuan, staf yang kasar, kesan angker, sampai kamar yang digambarkan seperti gudang. Bukan tipe pengalaman yang ingin saya bawa pulang dari perjalanan singkat ini.  

Di tengah lautan review yang meresahkan itu, hanya satu hotel yang terlihat “aman”. Tidak ada puja-puji berlebihan, tapi juga tidak ada keluhan serius. Namanya Hotel 21 Gisting. 

Hotel 21 Gisting

Kamar type deluxe di lantai 2 yang saya tempati bersama suami

Saya lalu mengonfirmasi ke Mbak Alya, teman saya yang bekerja di Dinas Pariwisata Provinsi Lampung. Ternyata beliau sudah beberapa kali menginap di sana dan selalu menjadikannya pilihan saat ada tugas di Gisting. Dari situ, keraguan saya langsung luruh.

Yang bikin saya makin mantap, respons dari pihak hotel cepat dan jelas. Setiap pertanyaan dijawab dengan lancar, komunikasinya enak, dan tidak ribet.

Saya lalu menyampaikan info hotel ini ke suami, karena proses pemesanan akan dilakukan oleh pihak kantor. Seluruh biaya perjalanan terutama transportasi, memang ditanggung kantor. Kami hanya mengeluarkan uang untuk penginapan dan biaya makan masing-masing. Meski begitu, saya tetap berkomunikasi langsung dengan pihak hotel untuk berbagai keperluan selama menginap.

Kamar type Standar di lantai 2 

Hotel 21 Gisting ternyata cukup besar, berlantai tiga, meski belum dilengkapi lift. Kami mendapatkan kamar di lantai dua, masih dalam batas toleransi napas. 

Stafnya ramah dan membantu, terutama Mbak Afi yang sejak awal komunikasinya terasa hangat. Tidak diminta DP, cukup bayar saat tiba. Bahkan beliau juga yang merekomendasikan RM Kartini sebagai tempat sarapan, yang pada akhirnya benar-benar menyelamatkan pagi kami.

Kamar yang saya tempati bersih dan nyaman. Ada AC, water heater, dan balkon kecil. Saat cuaca cerah, Gunung Tanggamus terlihat jelas dari balkon kamar. Hotel ini bukan tipe hotel mewah ala kota besar, tetapi suasananya tenang dan membuat betah. 

Detail lengkap tentang Hotel 21 Gisting akan saya tulis di postingan terpisah, karena rasanya layak mendapat ruang cerita sendiri.

View Gunung Tanggamus dari balkon kamar

Menghadiri Pernikahan Adat Lampung di Gisting Tanggamus

Setelah sarapan dan check-in, kami langsung bersiap menuju lokasi kondangan. Mandi, berganti pakaian, lalu berangkat. Jarak dari hotel ke tempat acara tidak terlalu jauh, berada di kawasan Gisting Permai, sehingga perjalanan terasa singkat. 

Perjalanan ke lokasi kondangan ini akan melewati objek wisata air terjun Way Lalaan. Salah satu objek wisata yang pernah saya kunjungi 10 tahun yang lalu. Ceritanya dapat dibaca di sini: Air Terjun Way Lalaan Tanggamus.

Cuaca masih hujan gerimis. Sejak keluar hotel, selama di lokasi acara, sampai nanti pulang kembali, hujan seolah setia menemani. Udara pegunungan yang memang sudah dingin bertemu dengan air hujan, membuat suhu terasa semakin menusuk. Namun dingin itu langsung terkalahkan begitu kami tiba di tempat hajatan.

Sambutan ramah, senyum yang tulus, dan sapa yang sopan dari tuan rumah membuat hati terasa hangat. Anggota tim suami yang menikah adalah pihak laki-laki, sementara acara berlangsung di tempat keluarga mempelai perempuan. 

Pengantin pria tampak terkejut melihat kami datang berombongan dari tempat yang cukup jauh. Ekspresi bahagianya terlihat jelas, dan kami dipersilakan duduk di area tamu khusus.

Keluarga pihak perempuan menyuguhkan berbagai hidangan khas Lampung. Meja penuh dengan makanan dan minuman, dan kami diminta mencicipinya. Tak ketinggalan kopi asli Lampung yang dibuat secara tradisional, jadi suguhan paling nikmat di meja tamu kondangan. 

Di sesi hiburan, beberapa teman suami naik ke panggung untuk bernyanyi, menambah suasana meriah dan memberi suka cita bagi kedua mempelai.

Bagi saya, momen ini terasa istimewa. Bisa ikut suami mendoakan langsung pengantin, menyaksikan resepsi pernikahan adat Lampung, sekaligus mencicipi makanan khasnya. 

Di akhir acara, suami dan teman-temannya mengajak pengantin berfoto. Saya ikut berdiri di sana, ikut mengabadikan jejak kecil dari perjalanan ini.

Saat kami pamit, hujan masih turun. Kami bergegas kembali ke mobil, lalu menuju hotel untuk beristirahat. Rencana selanjutnya, sore hari kami akan keluar lagi. Kali ini, bergeser dari suasana hajatan ke suasana laut.

Happy wedding Mas F.

Pelabuhan Perikanan Kota Agung Tanggamus: Menikmati Senja di Teluk Semaka

Sore itu teman-teman mudaku ngajak ke pantai, siapa tahu bisa melihat sunset. Saya langsung curiga. Bukan karena tidak percaya pada konsep senja, tapi karena hujan sejak siang seperti sudah menandatangani kontrak kerja lembur sampai malam. 

Namun manusia, seperti biasa, tetap memelihara harapan, walau tahu harapan itu sering kali hobi menghilang tanpa pamit. Maka ajakan jalan ke Pelabuhan Perikanan Kota Agung itu saya iyakan, meski dengan penuh optimisme palsu. Bukan soal sunset. Lebih ke soal: daripada terdampar di kamar hotel sambil menatap tembok, lebih baik keluar badan sedikit sambil menatap laut.

Pelabuhan Ikan Kota Agung - Sept 2025

Suami memilih tinggal. Bukan karena tidak cinta pantai, melainkan karena cinta yang lebih besar kepada internet stabil. Ada meeting online dengan pak direktur utama, dan di zaman modern ini, hubungan manusia dengan sinyal lebih sakral daripada hubungan jarak jauh. Kamar hotel menyediakan kenyamanan: meja, colokan, WiFi kencang, dan suasana minim drama. 

Sementara saya memilih drama versi jalanan. Maka kami bertujuh berangkat pukul empat sore, di bawah gerimis yang tampak tidak punya niat berhenti.

Pelabuhan Ikan Kota Agung - Sept 2025

Perjalanan dari Hotel 21 Gisting ke Pelabuhan Perikanan Kota Agung sekitar dua puluh tiga kilometer. Kedengarannya sebentar, sampai kamu benar-benar melaluinya. 

Jalanan menanjak, menurun, berkelok, licin, dan dihiasi desa-desa sunyi yang membuat jam biologis merasa sudah magrib sejak sore. Rasanya seperti sedang menyusuri lereng gunung menuju dunia paralel. 

Sesekali papasan dengan motor, mobil, atau truk, dan setiap papasan terasa seperti pengingat lembut dari semesta: “Pelan-pelan saja, hidup ini tidak perlu diburu-buru, kecuali kalau mau celaka.”

Pelabuhan Ikan Kota Agung - November 2015. Dalam jepretan saya : Alm. Mas Elvan. Alfatihah buat beliau.

 
Di tengah perjalanan itu, ingatan saya mendadak meloncat sepuluh tahun ke belakang. Suatu pagi di tempat yang sama, bersama Mbak Evi, Mas Elvan, Mas Banu, Mas Ito, dan Agung. 

Pelabuhan yang ramai, ikan-ikan segar menumpuk ratusan kilogram, orang-orang datang dan pergi dengan mata berbinar, aroma amis menguasai udara seperti parfum resmi kawasan pesisir. Dulu, pelabuhan ini terasa hidup, bising, dan penuh energi. 

Sekarang, saya datang sebagai versi diri yang lebih tua, lebih sering pegal, dan lebih gampang terharu oleh hal-hal sepele.

Seperti inilah suasana pagi di Pelabuhan Ikan Kota Agung yang saya jepret pada 21 November 2015
 

UPTD Pelabuhan Perikanan Kota Agung, yang berada di Kelurahan Pasar Madang, Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Tanggamus, Lampung, adalah pusat kegiatan perikanan utama di kawasan Teluk Semaka. 

Di bawah naungan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung, tempat ini melayani tambat labuh kapal, bongkar muat hasil tangkapan, hingga operasional Tempat Pelelangan Ikan Higienis. 

Informasi ini terdengar sangat resmi, seperti brosur pemerintah. Realitanya, bagi saya sore itu, pelabuhan adalah ruang pertemuan antara laut, manusia, dan harapan yang kadang terlalu tinggi, seperti mimpi melihat sunset di musim hujan.

Kunjungan pertama saya ke pelabuhan ini pada tahun 2015 dapat dibaca di sini: Melihat Lelang Ikan di Pelabuhan Kota Agung

Dulu pas ke sini pagi, dapat sunrise. Kali ini ke sini sore, gak dapat sunset.
 

Kami berjalan di jembatan dermaga, menatap perahu-perahu yang diam, juga nelayan yang sibuk bersiap ke laut. Anak-anak kecil berenang di sekitar dermaga, menunggu koin dilempar seperti sedang bermain undian nasib. 

Saya berdiri, memotret, sambil berpikir betapa sejak dulu sampai sekarang, manusia tetap saja sama: berharap pada lemparan kecil yang mungkin mengubah sore mereka. 

Kami foto-foto, lalu jajan di deretan pedagang pinggir pantai. Dimsum, sate bakso, mochi, dan entah apa lagi, karena perut lebih demokratis daripada pikiran. Semua diterima.

Suasana pinggir pantai Pelabuhan Ikan Kota Agung, Sabtu 20 September 2025

 
Langit sempat memberi sedikit cahaya, seperti teaser film yang ternyata tidak jadi tayang. Sebentar terang, lalu redup lagi. Sunset resmi absen tanpa pemberitahuan. Tidak ada pengumuman, tidak ada permintaan maaf. Hanya langit kelabu yang konsisten dengan pendiriannya. 

Tak lama kemudian, adzan magrib berkumandang. Itu semacam kode halus dari alam semesta bahwa acara mengejar senja sudah selesai, saatnya pulang.

Kami kembali menembus hujan dan jalanan licin. Kali ini terasa lebih horor, mungkin karena gelap, mungkin karena lelah, mungkin karena perasaan bahwa manusia memang suka menantang logika demi sebuah “jalan-jalan sore”. Tujuan kami bukan hotel, melainkan Mauna Café. Tempat untuk salat, makan malam, dan menenangkan diri seolah perjalanan barusan adalah hal yang sepenuhnya normal.

Video Reels berikut memberi gambaran suasana pantai Pelabuhan Ikan Kota Agung sore itu:

Di perjalanan pulang, saya merenung. Kami tidak mendapat sunset. Tidak ada panorama dramatis untuk dipamerkan. Tidak ada langit jingga untuk dijadikan latar foto profil. 

Yang ada hanya hujan, jalan berkelok, jajanan pinggir pantai, bayang hitam puncak Gunung Tanggamus yang tampak mistis, dan tawa kecil di antara lelah. 

Tapi mungkin memang begitu cara perjalanan bekerja. Ia jarang memberi apa yang kita kejar, tapi sering memberi apa yang sebenarnya kita butuhkan. Pertanyaannya, apakah kita bepergian untuk mengoleksi pemandangan, atau untuk mengoleksi versi-versi kecil dari diri kita yang terus berubah di sepanjang jalan?

Dalam video pendek berikut, ada beberapa jajanan yang kami temui di pinggir pantai pelabuhan ikan:



Suasana perjalanan pergi dan pulang dari Gisting menuju Pelabuhan Ikan Kota Agung saya rekam dalam video pendek berikut. Hujan, jalan basah, dan siluet gunung terus hadir mengisi pandang mata:
 

Mauna Café Gisting Lampung: Tempat Nongkrong dan Makan Malam di Tanggamus

Jalan bareng anak-anak muda itu ada efek sampingnya. Bukan bikin kulit ikut kencang, tapi bikin jiwa sok merasa kencang. Sebagai yang paling senior sekaligus berstatus “ibunya rombongan”, saya memilih strategi aman: ikut saja ke mana mereka mau pergi. 

Termasuk ketika urusan makan malam dan mereka menemukan satu nama: Mauna Café. Saya oke saja. Selera makan mereka biasanya tidak ribet dan, jujur saja, saya merasa apa pun pilihannya akan baik-baik saja.

 
Mencari Mauna Café ternyata juga semacam ujian iman kecil. Google Maps mengajak masuk ke kawasan perumahan, belok-belok, lalu muncul rasa ragu khas manusia modern: ini beneran atau sedang dibawa ke jalan buntu kehidupan. Ternyata benar sampai. 

Dan lebih mengejutkan lagi, di tengah perumahan ada kafe yang cukup layak disebut “niat”. Ada area terbuka di tengah, panggung live music, kolam, taman, musala, sampai parkiran. Rasanya seperti menemukan oase kecil yang nyasar ke lingkungan warga.

Menu makanannya variatif. Dari yang kekinian ala barat sampai menu tradisional Indonesia. Saya sendiri sempat blank soal detailnya, sampai akhirnya harus membuka Instagram mereka, @mauna_goodplace, demi mengingat ulang. Dan oh iya, malam itu saya makan ngaliwet. Hangat, sederhana, dan entah kenapa terasa pas setelah seharian pindah lokasi seperti pion catur. Kami salat magrib di sini, menikmati live music yang mengiringi udara malam yang dingin. Lalu saya teringat satu hal penting: suami di hotel.

Video pendek berikut, sedikit dokumentasi suasana Mauna Cafe malam itu:

Demi cinta dan tanggung jawab domestik, saya pun mengingatkan teman-teman suami agar tidak terlalu lama nongkrong. Alasannya mulia: paksu bisa kelaparan. Mereka paham. Kami bergegas pulang, tentu saja dengan ritual wajib mampir minimarket untuk beli camilan. Karena dalam hidup, snack adalah bentuk asuransi kebahagiaan.

Sampai hotel, suami sudah menunggu dengan ekspresi lapar yang masih bisa ditoleransi, berkat stok snack di kamar. Makanan dari Mauna Café pun langsung mendarat dengan selamat. 

Malam ditutup dengan obrolan ringan di chat WA dan konfirmasi sarapan besok pagi. Ternyata bisa diantar ke kamar. Tinggal pilih nasi uduk, nasi kuning, mi goreng, atau nasi goreng. Minumnya teh atau kopi. Dan ya, kopi Lampungnya enak. Ini penting untuk dicatat, demi keadilan rasa. 

Anak-anak cantik dan ganteng

Ibu kucing cantik yang sedang hamil yang menemani selama makan di Mauna Cafe
 

Hari Pertama di Lampung: Dari Gisting Tanggamus hingga Kota Agung

Cerita perjalanan hari pertama di Lampung selesai sampai di sini.

Saya mencoba mengingat ulang hari itu. Sabtu, 20 September 2025. Sejak tengah malam berangkat dari BSD, menyeberang dari Merak ke Bakauheni, pagi tiba di Lampung, lanjut ke Tanggamus, kondangan, istirahat, sore ke Pelabuhan Ikan Kota Agung, malam di Mauna Café, lalu tidur di hotel yang nyaman walau tidak mewah. Padat, melelahkan, tapi entah kenapa terasa cukup.

Mungkin memang begitu cara perjalanan bekerja. Ia tidak selalu memberi apa yang kita rencanakan, tapi sering menghadirkan apa yang diam-diam kita butuhkan.

Minggu pagi, 21 Sept 2025. Siap untuk perjalanan ke TN. Way Kambas di Lampung Timur
 
Besoknya, Minggu 21 September, kami bersiap menuju Way Kambas, Lampung Timur, untuk melihat gajah. Cerita itu akan saya simpan di tulisan lain. 

Untuk sekarang, saya cuma ingin bertanya pelan pada diri sendiri, dan mungkin juga pada kamu yang membaca: sebenarnya, dalam perjalanan seperti ini, yang paling kita cari itu tempat baru, atau versi baru dari diri kita sendiri? 

Terima kasih mas suami dan teman-teman muda yang telah membawa serta saya dalam perjalanan ini. Senang bepergian bersama kalian 💖

Naik Trans Lampung, Bus Bandara yang Nyaman dan Murah di Lampung

Naik Bus Bandara Trans Lampung 

Pada sebuah kesempatan saya kembali berkunjung ke Lampung untuk suatu keperluan. Kunjungan ini merupakan ke-14 kalinya. Hmm...kalau dihitung-hitung, dalam 2 tahun terakhir sering betul saya ke Lampung. Lebih sering dari pada ke Palembang 😃 

Bus Bandara Trans Lampung

Kali ini saya ingin cerita tentang pengalaman naik bus Trans Lampung. Sependek belasan kali ke Lampung, baru belakangan ini merasakan naik bus dari bandara ke kota Bandar Lampung maupun sebaliknya. Dulu nggak pernah. Biasanya selalu dijemput oleh teman, atau naik taksi pribadi yang sudah dipesan oleh si teman. Jadi ini tentang naik bus bandara ya, bus Trans Lampung. Kalau sekedar naik bus di Lampung sih sudah beberapa kali tapi bukan bus bandara, melainkan bus pariwisata saat mengikuti suatu event, misal Festival Krakatau.

Selain cerita tentang bus, saya juga akan cerita tentang hal lainnya. Nggak seru kan kalau cerita tentang bus saja. Buat orang yang baru pertama ke Lampung, barangkali saja perlu informasi tentang hotel, tempat makan, tempat ngopi, tempat masar (ke pasar maksudnya), atau tempat-tempat wajib foto di Bandar Lampung. Ok, cekidot yaw. 


Baca juga: Liburan Lampung di Ujung Tahun

Bus Bandara Trans Lampung
 
Bus Bandara Trans Lampung

Saya sebenarnya nggak berani-berani amat jalan sendirian. Nggak berani bukan berarti nggak mandiri lho ya. Itu dua hal yang berbeda. Selama ini kalau ke Lampung seringnya ramean. Kalau pun pergi sendiri, sampai bandara biasanya selalu ada yang jemput. Tapi kan nggak selamanya orang bisa jemput. Kalau yang jemput tiba-tiba berhalangan, terpaksa deh jalan sendiri ke Bandar Lampung-nya.

Karena nggak mau sendiri, dulu pernah lho saya nebeng mas-mas yang sama-sama mau ke Bandar Lampung (BDL). Untung si masnya baik hati, saya diajak. Sebelum memberanikan diri minta barengan, saya lihat-lihat dulu orangnya, nggak main numpang bareng aja. Kalau feeling udah bilang aman, baru ikut. Kalau nggak, ya enggak jadi. 

Jujur ya, stigma negatif Lampung sebagai daerah rawan begal itu masih susah banget dihilangkan. Sudah jadi stereotif di masyarakat. Dulu kalo mau ke Palembang jalan darat, sering banget diingatkan oleh orang-orang untuk hati-hati jika lewat Lampung. Sering terjadi perampokan di jalan katanya. Bus dilempari batu tengah malam. Rampoknya sadis, sekali rampok bisa dibacok atau didor sampai mati. Ngeri! Alhamdulillah sih selama ini nggak ada mengalami dan ketemu yang begitu. Aman selalu. Jangan sampai terjadi. Tapi tetap harus waspada juga, kan? Gimana pun penjahat bisa ada di mana-mana. 

Bus Trans Lampung di Bandara Radin Inten II

Saya kurang tahu kapan tepatnya bus Trans Lampung mulai beroperasi di bandara Radin Inten II. Sepertinya sejak pertengahan tahun 2016. Saya baru-baru ini saja mencoba. Ternyata banyak juga enaknya. Bisa bareng penumpang lain, jadi nggak takut sendirian. Dan pastinya lebih murah, cuma Rp25.000 ke Kota Bandar Lampung


Kalau mau dibandingkan dengan taksi biasa (mobil Avanza/Xenia) Rp130.000 sekali jalan. Tentunya bus jauh lebih murah. Kalau sedang tidak buru-buru, enak naik bus.
Ngetemnya nggak lama kok. Terakhir saya hanya menunggu sekitar 15 menit saja, bus langsung jalan.

Baca juga: Yang Tanpanya, Trip Pulau Sebesi Terasa Hambarnya

Nyaman

Bus Trans Lampung melewati Kota Kalianda dan Unila-Itera. Di dalam kota Bandar Lampung, bus Trans melewati beberapa titik lokasi yang berada di beberapa jalan utama kota seperti Tugu Gajah, Mall Bumi Kedaton, Tugu Juang, stasiun Kereta Api Tanjung Karang, dan beberapa tempat lainnya yang saya nggak hafal.

Di mana ujung perjalanan bus? Di pool-nya tentunya. Letaknya persis di depan Hotel Batiqa Lampung. Kebetulan sekali waktu naik bus Trans Lampung pertama kali, saya nginapnya di Hotel Batiqa. Jadi enak deh, sekali naik turunnya langsung depan hotel.  


Video naik Bus Trans Lampung bisa ditonton di Channel Youtube saya di sini: 30 Jam di Lampung

Tugu Juang Bandar Lampung, lokasi yang dilewati bus Trans Lampung

Di mana beli tiket bus?

Saya belum pernah diarahkan oleh petugas bandara ke loket penjualan tiket bus. Kalau keluar terminal biasanya langsung saja naik bus. Nanti kalau sudah mulai berangkat, tiket baru diberikan. Saat itulah baru bayar. Begitu juga kalau dari Bandar Lampung ke bandara, bayar tiketnya di bus, saat kita sudah duduk manis. Beda ya dengan bus bandara di Soekarno Hatta. Kalau di Soeta, kita mesti beli tiket dulu di loket, baru naik bus. Hal tersebut berlaku di semua terminal bandara Soeta. Samalah kayak kita mau naik pesawat, beli tiket dulu baru naik. Kayaknya belum pernah kejadian ada yang udah duduk dalam pesawat baru bayar tiket haha.

Oh ya, ngomong-ngomong soal tempat beli tiket perjalanan, kamu biasanya beli di mana? Kalau tiket pesawat sih saya biasanya belanja di situs online booking tiket yang satu itu. Eh tapi, 2 kali belanja tiket yang terakhir, saya belinya ke tempat lain karena pas dapat harga lebih murah. Ga jauh-jauh banget si murahnya, selisih Rp8000-10.000 doang. Tapi kan lumayan. Apalagi pas beli tiketnya banyak (sampai jumlah minimum syarat diskon) bisa dapat diskon sampai lebih dari 100ribu 😍

Bus Trans Lampung lewat Stasiun Tanjung Karang

Nah, kalau tiket kereta antar kota antar propinsi (misal ke Surabaya/Semarang/Jogja dll) saya sangat jarang beli. Dulu pernah tapi hanya sekali, pas mau ke Jakarta dari Semarang. Setelah itu nggak pernah lagi. Selama ini seringnya naik kereta KRL saja, buat bolak-balik dari BSD ke Jakarta. Bayarnya pakai kartu e-money dengan sistem pendebetan langsung di stasiun.

Oh ya, sekilas info nih. Buat kalian yang kerap menggunakan kereta untuk bepergian jauh, kini tiket kereta tersedia di Tokopedia. Tahu kan Tokopedia. Situs marketplace ini nggak cuma jual fashion dan barang-barang elektronik seperti yang biasa kita tahu. Tapi juga bisa bayar tagihan listrik dan tagihan-tagihan lainnya. Bahkan, kalau kamu hobi nonton konser, kamu juga bisa dapatkan di Tokopedia. Nggak percaya? Coba deh cek promo tiket konser di Tokopedia.

Upps…kembali ke cerita tentang Lampung yok 😂

Di dalam Bus Trans Lampung yang sedang melaju menuju bandara

Hotel Amalia Bandar Lampung

Hotel Amalia jadi hotel ke sekian yang pernah saya inapi saat di Lampung. Salah satu hotel bintang empat yang ada di Kota Bandar Lampung ini cukup dekat dari Tugu Gajah, sekitar 200 meter saja. Mencoba menginap di hotel yang berbeda tiap ke Lampung, membuat saya jadi punya pengalaman yang berbeda pula untuk dirasakan dan diceritakan.

Beberapa hotel yang pernah saya inapi antara lain Batiqa Hotel, Pop Hotel, Inna Eight, Airy Room Tugu Adipura, Airy Room Gatot Subroto, Wisma D’green, Whiz Prime, Omah Akas, dan yang terbaru Amelia Hotel ini. Dari semua hotel itu, Batiqa Hotel paling saya suka. View Kota Bandar Lampung berlatar laut yang terlihat dari kamar-kamar yang terletak ketinggian sangat menyenangkan untuk dinikmati kala bersantai di kamar. Hotelnya juga nyaman, sarapannya enak. Pokoknya Batiqa paling sreg di hati. Yang kedua Whiz Hotel. Kamarnya juga bagus. Sarapannya enak. Saya suka restonya yang terletak di lantai 17. Dari balik dinding kacanya yang jernih bisa menyaksikan indahnya Kota Bandar Lampung dari ketinggian.

Hotel Amalia Bandar Lampung

Hotel Amalia terletak di Jalan Radin Intan No. 55, Enggal, Kota Bandar Lampung. Hotelnya besar, kamarnya juga besar. Kemarin saya dapat harga sekitar Rp400 ribuan lewat situs online booking hotel langganan. Di hotel ini, spa dan gym gratis. Jika dibandingkan dengan hotel bintang 4 lain yang pernah saya tempati, menu sarapan di hotel ini tidak tergolong mewah.
Bervariasi, tapi kurang istimewa.

Fasilitas di kamarnya sih ok, standarlah ya. Tapi entah kenapa buat saya suasananya ‘tua’. Saya nggak 100% merasa nyaman berada di kamar. Satu hal yang jadi catatan saya saat baru masuk ada noda kekuningan di spreinya. Bukan hanya itu, noda juga ada di sarung bantalnya yang putih. Itu bikin ilfil. Kamarnya tidak kedap suara. Bunyi-bunyian dari luar kamar seperti
langkah kaki, anak kecil yang berlari, juga suara dari kamar sebelah terdengar jelas. Berisik dan mengganggu ketenangan. 

Baca juga: Tiada Resah di Pulau Sebesi

Hotel Amalia Bandar Lampung

Di lantai dasar hotel ada kafe. Buat nongkrong malam atau jadi tempat ketemu teman sih oke juga. Yang bikin senang, hotel ini berada di pusat kota. Dekat dari Tugu Gajah. Staffnya ramah. Tengah malam saat saya sakit, staffnya mau bantu saya menghubungi dokter. Staff di FO juga informatif. Saat saya tanya tentang tempat kuliner, saya direkomendasikan ke Bakso Sony yang berjarak beberapa puluh meter saja dari hotel. Info sederhana seperti itu sangat berguna buat saya.

Nah, kalau kalian mencari hotel di Bandar Lampung, Hotel Amalia ini bisa jadi pilihan. Soal kekurangan yang saya sebutkan tadi, itu adalah pengalaman saya pada satu waktu, belum tentu akan sama pada waktu lain.  Bisa jadi sekarang sudah ada perubahan dan perbaikan, atau pun sudah ada hal-hal baru lainnya yang bikin senang untuk tinggal dan merasa nyaman. 

Kamar Hotel tipe Superior yang saya tempati

Menu sarapan Hotel Amalia

Kuliner Bakso Sony

Makanan bakso sangatlah umum. Hampir di seluruh daerah di Indonesia ada makanan ini dan mudah sekali dijumpai. Di tiap daerah pasti ada saja warung bakso yang terkenal dan jadi favorit pelanggannya. Nah kalau di Lampung, bakso Sony ini yang namanya kondang. Kalau sedang pingin kulineran tipis-tipis, menyambangi warung bakso Sony bisa jadi pilihan menarik. Katanya belum ke Bandar Lampung kalau belum mencicipi Bakso Sony.

Saya sedang tidak pingin banyak keliling kota untuk kulineran. Pingin yang mudah dan dekat, kalau bisa sambil ketemu teman dan teman juga gak perlu jauh-jauh nyusul saya. Maka, saya pilih Bakso Sony di jalan Radin Intan. Selain dekat dari hotel, Cuma jalan kaki sekitar 50 meter saja dari Amelia Hotel, juga dekat dari Tugu Gajah tempat saya akan menunggu bus Trans Lampung buat balik ke bandara. 

Bakso Sony dan Es Campur Sony

Siang itu, alhamdulillah senang bukan main bisa menikmati bakso Sony bareng Mbak Alya dan Yeni. Keduanya teman baik, asli orang Lampung. Saya sudah kenal agak lama, sudah beberapa kali jumpa dalam beberapa kesempatan saat ke Lampung. 

Kenal mbak Alya sejak tahun 2015 (event FK 2015). Kalau dengan Yeni kenal  tahun 2016. Dulu kenal Yeni di RM. Encim Gendut, tempatnya bekerja. Karena beberapa kali mampir, kami jadi sering ketemu dan kemudian berteman sampai sekarang. Senang rasanya punya teman baik di daerah tempat berkunjung, bisa saling berbagi cerita dan kisah tentang apa saja, terutama sharing tentang pariwisata Lampung.  

Teman Lampungku 😍



Lihat-lihat Pasar Pasir Gintung

Katanya, kalau ingin mengenal budaya dan kehidupan masyarakat setempat, datanglah ke pasar tradisionalnya. Nah, selama beberapa kali main ke Lampung, kayaknya saya belum pernah main ke pasar tradisional.

Tahun lalu pernah sih diajakin ke pasar bareng Tini dan Aji. Waktu itu abis dari Way Kanan, kami mampir ke tempat belanja yang ada di Jalan Kartini sebelum ke bandara. Di situ Tini nyari bahan kain. Gede sih pasarnya, tapi bukan pasar tradisional deh kayaknya. Hmm….apa itu mall ya? Saya lupa. 

Masuk Pasar Gintung bisa lewat Jalan Durian di samping BNI

Saya main ke Pasar Pasir Gintung karena lokasinya dekat dengan Hotel Amalia yang saya inapi. Naik GoCar nggak sampai 10 menit udah sampai. Tapi astaga mobil nggak bisa lewat. Pasarnya luber sampai ke jalan, mana hujan, jalannya becek lagi. Motor parkir sampai ke jalan, bikin sempit, susah lewat. Saat itu suasananya amburadul banget. Entah kalau di lain waktu ya.  

Pasar Pasir Gintung

Saya akhirnya nggak jadi turun buat keliling pasar. Cuma lewat dengan banyak drama. Di depan ada mobil bak sedang nurunin karung berisi buah labu dan sayur-sayuran. Di belakang ada gerobak nggak mau minggir. Driver ngoceh nggak abis-abis, marahin orang-orang yang menghalangi jalan haha. Karena nggak enak, saya bilang ke dia nanti dibayar lebih deh. Eh abis dibilang begitu, drivernya malah mau nganterin kemana aja. Diajak muterin pasar sampai dua kali pun dia mau 😂


Ya udah, akhirnya saya muter dua kali, jalan pelan-pelan. Masuk dari Jalan Durian, keluar di Jalan Pisang, lanjut ke jalan Teuku Umar lagi. Pusing masuk pasar, akhirnya balik ke hotel hehe. 

Pasar Pasir Gintung

Pasar Pasir Gintung di Jalan Pisang

Tugu Gajah


Kenangan saya dari tempat ini adalah saat menyaksikan parade budaya Festival Krakatau 2016. Saat itu, acara budaya dipusatkan di Tugu Gajah. Ribuan warga menyemut di lokasi. Saya dan beberapa rekan blogger turut menyaksikan dan menikmati berbagai persembahan budaya khas Lampung dari masing-masing kabupaten dan kota yang ada di Lampung. Menuliskan kembali kenangan itu, saya jadi kangen jalan bareng Mbak Dian, Mbak Lina, Riant, Arie, Hari, Maman, dan Yayan 😢


Seusai menikmati Bakso Sony, saya dan Yeni berjalan kaki ke arah Tugu Gajah. Tujuan kami minimarket Alfamart yang jadi titik tunggu Bus Trans Lampung. Kami tak terburu-buru, hanya berjalan santai dan pelan di trotoar sambil berbincang banyak hal. Sesekali kami berhenti untuk saling memotret atau pun berfoto bareng. Suasana kampanye pilkada mulai terlihat dari spanduk-spanduk lebar dan besar di beberapa titik strategis. Di bundaran Tugu Gajah bahkan ukurannya lebih besar. Foto pasangan cagub dan cawagub terpampang dalam iklan-iklan kampanye. 

Siapa pilihanmu nanti wahai Warga Lampung?





  

Icip-Icip Dimsum Moresto di Transmart Lampung

Saat itu Transmart masih baru-barunya di Lampung. Seorang teman bilang ke saya kalau mau nyari makan ke sana saja, banyak pilihan di satu tempat. Jangan lupa ke Dimsum Moresto katanya. Aih kenapa dia menyebut satu macam resto saja? Oke lah saya ke sana pakai taksi online. Meluncur gak cepat, banyak macetnya di siang jelang sore yang mulai padat. Hujan pula. Untung pakai mobil. Masih trauma naik ojek di Lampung, pernah jatoh soalnya. Waktu itu pinggang dan pinggul ngilu-ngilu karenanya. Sampai hotel langsung pijit-pijit pakai ilmu badai pengusir keseleo hehe.  




Dimsum Moresto terletak di lantai dasar, satu deretan dengan resto-resto lainnya. Dimsum Moresto ini ada di mana-mana. Yang di Transmart ini hanya salah satunya dan baru buka. Ada juga di MBK. Kata teman, dimsumnya enak. Teman saya itu tukang makan dan tukang jalan-jalan. Kalau dia bilang enak, saya percaya.

Ada banyak menu dimsum yang bisa dipesan. Tinggal pilih mana yang jadi kesukaan. Kalau saya sukanya siomay ayam dan dumpling. Dua itu saja yang saya pesan. Saat sedang makan, tiba-tiba si teman memberitahu lewat pesan WA, katanya saya kudu mencoba Mie Tek Tek. Dia bilang enak dan wajib coba. Huuu….sayangnya saya sudah terlanjur kenyang, perut udah penuh kalau mesti nampung mie tek tek lagi huhu. 

Dimsum Moresto Transmart Lampung
Siomay Ayam dan Dumpling - Dimsum Moresto Transmart Lampung

Dimsum Moresto nggak hanya punya menu dimsum, ada juga menu lainnya seperti nasi goreng, mie goreng, kwetiau, dan makanan-makanan mengenyangkan lainnya yang sudah familiar banget di lidah kita tapi tentu dengan olahan rasa ala Moresto. Kamu sudah coba ke sini? 

Video saya saat makan di Dimsum Moresto dapat ditonton di sini: Icip-Icip Dimsum Moresto di Transmart Lampung

Dimsum Moresto Transmart Lampung

Ngopi di Dr Coffee

Buat kamu yang hobi ngopi, salah satu kedai kopi yang bisa disambangi di Bandar Lampung adalah Dr. Coffee. Terakhir saya ke sini karena ingin silaturahmi dengan owner kafenya, Mas Ali. Yup, saya kenal Mas Ali sejak tahun 2015, saat event Festival Krakatau. Dulu kafenya dekat Unila, trus pindah di  gang PU sampai sekarang.  

Bersama Mas Ali, owner Dr. Coffee

Silaturahmi saya dan Mas Ali masih terjalin sampai sekarang, kami kadang berinteraksi di media sosial. Setiap ke Lampung nggak pernah lupa dengan Dr Coffee. Tahun 2016 pernah mampir dan ketemu Mas Ali lagi. Tahun 2017 juga ketemu lagi. Tiga tahun ketemu terus, tapi setahun sekali haha. Yang penting pertemanannya tetap jalan dan yang pasti selalu ada doa semoga Dr Coffee semakin sukses dengan kopi-kopi andalannya, baik kopi mentah maupun yang sudah diolah jadi minuman yang memanjakan para pecinta kopi di mana pun berada. 

Kopi Robusta Ulu Belu Honey dan Pisang Goreng

Secangkir Kopi Robusta Ulu Belu Honey saya nikmati bersama sepiring pisang goreng hangat pada suatu petang sebelum ngebut menuju bandara buat kembali ke Jakarta. Entahlah ya, saya ini kan bukan penggemar dan penikmat kopi sejati, tapi sore itu kopi yang saya teguk nikmatnya seakan sampai ke ubun-ubun. Faktor apa yang membuat saya saat itu seperti mabuk kopi? Perasaan seperti berbunga-bunga, jadi pingin tersenyum terus, dan nggak merasakan ada beban pikiran apapun.

Ketika pulang, Mas Ali memberi saya oleh-oleh berupa dua bungkus kopi siap seduh. Huaaaa… Terima kasih Mas Ali!

Tonton video ngopi di Dr Coffee di channel youtube saya di sini: Dr. Coffee Make Me Happy. 


Bandara Radin Inten II Lampung Selatan

Keberadaan saya di Lampung tak lebih dari 30 jam. Tapi lumayan, sudah sempat ke beberapa tempat untuk kulineran, liat pasar, ketemu teman, bahkan sempat ngopi. 

Tampilan Bandara Radin Inten II kini kece dan enak dilihat. Ruang check in dan ruang tunggu sudah jauh lebih nyaman. Toiletnya nggak sekucel dulu, kini lebih besar dan kinclong. Bangku di ruang tunggu warna-warni. Ada tempat bermain anak. Resto banyak. Nggak susah kalau butuh makan dan minum. El’s Coffee pun ada. Mau cari oleh-oleh gampang, ada toko yang menjual aneka makanan oleh-oleh khas Lampung seperti keripik pisang dan dodol. 

Tempat bermain anak di ruang tunggu bandara

Ruang tunggu keberangkatan bandara Radin Inten II

Sekali waktu saya nongkrong di El’s Coffee. Di lain waktu di kafe lainnya. Terakhir di Kedai Pempek Selamet. Selain memang pingin makan pempek, juga mau numpang ngecas HP. Ternyata enak juga pempeknya. Nggak rugi juga mampir. Kamu pernah masuk kedai ini? Bisa jadi pilihan tempat nongkrong saat sedang nunggu jadwal keberangkatan. 


Baca juga: To The Scenic of Pulau Pisang

Pempek Selamet

Flight saya balik ke Jakarta jam 6 sore. Jelang matahari terbenam. Entah kenapa tiap ke Lampung saya selalu pilih jam balik ke Jakarta di sore hari. Padahal itu adalah jam-jam rawan. Rawan mellow. 

Saya memang mudah mellow. Melihat matahari turun ke peraduan itu selalu bikin hati jadi sendu. Padahal datangnya malam adalah momen hati bergelimang harapan. Harapan bertemu pagi dengan matahari terbitnya yang tak pernah ingkar janji.

Sampai jumpa lagi Lampung. 


Senja di udara....

Informasi Bus Trans Lampung

Harga Tiket Trayek:
Bandara Radin Inten II - Bandar Lampung Rp25.000,-
Kota Bandar Lampung-Kota Kalianda Rp12.500,-
Unila-Itera Rp2.000,- (mahasiswa) Rp4.000,- (umum

Fasilitas:
Full AC, Asuransi Jasa Raharja, Tepat Waktu

Jadwal keberangkatan rute bus:

Bandara-Kota Bandar Lampung
Bandara: Tiap jam mulai Pukul 07.00WIB-21.00WIB
Shelter LJU Pahoman: Tiap jam mulai Pukul 05.00WIB-19.00WIB

Kota Kalianda-Kota Bandar Lampung
Bandar Lampung: Pukul 06.00WIB, 07.00WIB, dan 12.00WIB
Kalianda: Pukul 09.00WIB, 15.00WIB, dan 16.00WIB

Itera -Unila: Start Pukul 06.00WIB s/d 18.00WIB

Pemesanan hubungi: 0822-37588567 dan 0812-73530261

**** 


Video 30 Jam di Lampung :