Memandikan Gajah di CAMP ERU Margahayu

14.51
Ekowisata di Taman Nasional Way Kambas

Taman Nasional Way Kambas (TNWK) sudah lama menjadi magnet bagi para pelancong yang ingin menikmati ekowisata di Lampung Timur. Melihat gajah dari dekat, sekaligus mengenal tentang kehidupan gajah secara lebih detail dapat dilakukan di area Pusat Konservasi Gajah (PKG) yang ada dalam kawasan. Selain di PKG, kegiatan yang sama tapi lebih personal, juga bisa dilakukan di CAMP ERU (Elephant Respon Unit) yang masih berlokasi di kawasan Taman Nasional Way Kambas.

anak gajah di way kambas
Gajah di Taman Nasional Way Kambas

Mungkin sudah banyak yang tahu, program ERU dalam operasionalnya didukung oleh lembaga konservasi (NGO) Komunitas untuk Hutan Sumatera (KHS) melalui Perjanjian Kerjasama dengan TNWK. Kegiatan ERU dilaksanakan di tiga lokasi utama yaitu Camp ERU Tegal Yoso, Camp ERU Bungur, dan Camp ERU Margahayu. Di setiap lokasi ERU terdiri dari satu tim penanganan konflik/Mahout dengan fasilitas camp dan gajah jinak. Di Camp ERU jumlah Mahout ada lima orang dibantu warga sekitar satu orang dan polisi hutan satu orang. 

Camp ERU Margahayu

ERU merupakan program kegiatan yang muncul dari Balai TNWK dalam upaya penanganan konflik gajah liar dengan manusia. Kegiatannya bertujuan untuk menangani gajah liar yang akan keluar dari kawasan TNWK ke lahan pertanian masyarakat yang berbatasan dengan TNWK, dan mengupayakan sedini mungkin agar gajah liar tidak sampai keluar kawasan. 

Baca juga: Bamboo Rafting Seru di Gedung Batin Way Kanan

Berkunjung ke Camp ERU bersama Mas Sunandar, Mas Didit, Dian, Riant, dan mas Ian

Camp ERU bukan tempat wisata tetapi boleh dikunjungi oleh wisatawan untuk tujuan pembelajaran dan pendidikan yang berwawasan lingkungan. Camp yang kami kunjungi adalah Camp ERU Margahayu, berjarak kurang lebih 3 kilometer dari Dusun Margahayu, Desa Labuhan Ratu Tujuh, Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur. Ada dua pilihan cara untuk mencapainya, dengan jalan kaki atau naik motor. Untuk mendapatkan sensasi bertualang di alam bebas, jalan kaki adalah pilihan menyenangkan. Jika tak punya banyak waktu seperti kami saat itu, naik motor bisa menghemat durasi. 

Naik motor 3 km ke Camp ERU Margahayu

Jalur yang dilalui kecil, kering, dan bergelombang. Melewati tanggul yang merupakan pembatas antara desa dengan kawasan hutan TNWK yang juga berfungsi sebagai batas untuk menghalau gajah liar. Di sini, ada titik-titik tertentu yang menjadi lintasan gajah liar, lokasinya tak jauh dari rumah penduduk desa. Dalam perjalanan, kami menjumpai empat ekor gajah sedang mencari makan di pinggir Way Penet. Sebuah keberuntungan buat saya.


Baca juga: Tiada Resah di Pulau Sebesi

Dua ekor gajah sedang mencari makan di pinggir hutan

Dalam perjalanan menuju camp, mata dimanjakan oleh bentang alam Taman Nasional Way Kambas yang menyajikan Way Penet dengan aliran airnya yang tenang, hutan alami, padang savana dengan kerbau-kerbau yang sedang menikmati rumput, serta burung-burung yang bermain lalu terbang menjauh. Sungguh sebuah pertunjukan harmoni alam yang menyihir mata.

Bermotor di bawah indahnya cahaya petang di kawasan TNWK
 
Wefie selepas melewati sungai

Di camp ERU terdapat pusat informasi dimana pengunjung bisa mengenal segala sesuatu tentang gajah, berikut upaya-upaya pelestariannya. Kami bisa melihat berbagai kegiatan di camp lewat foto-foto yang dipajang pada banner besar di pusat informasi. Bisa juga tanya-tanya langsung pada para pawang yang sedang bertugas. 

Bersama Mbak Sari Marlina di pusat informasi Camp ERU Margahayu

Foto kegiatan yang dilakukan di Camp ERU Margahayu

Foto kegiatan yang dilakukan di Camp ERU Margahayu



Foto kegiatan yang dilakukan di Camp ERU Margahayu

Jika memungkinkan, selama di camp bisa ikut memandikan gajah, atau pun kegiatan bermanfaat lainnya seperti safari resort Way Kanan TNWK dan treking Camp ERU Margahayu di jungle track yang sudah tersedia

Lain kali, saya akan coba Elephant Track, menunggang gajah di hutan, siapa tahu beruntung bertemu satwa lindung yang selama ini mendiami hutan Way Kambas. Kalau pun tak bertemu, rasanya tetap seru bersafari masuk hutan, sebuah pengalaman yang tak tiap saat bisa dirasakan oleh orang kota yang tiap hari sibuk dengan rutinitas di luar urusan melancong ke alam. 

Baca juga: To The Scenic of Pulau Pisang

Memandikan gajah Melly dan Amel (anaknya Melly)

Sebuah harapan semoga dapat ke Lampung Timur lagi, mencoba pengalaman berbeda, yakni menginap di homestay di Dusun Margahayu. Katanya, atraksi wisata desa semacam membuat tiwul di rumah warga, menarik untuk dilihat dan diikuti. Hmm…mencicipi kuliner nasi tiwul dan sayur santan ikan rawa suguhan makan masakan warga, tampaknya menggiurkan...

Menara pandang

Jungle track Margahayu
Asrama Gajah di Pusat Konservasi Gajah

Kunjungan ke Camp ERU ini saya lakukan pada tanggal 11 Oktober 2017 bersama Dian Radiata (blogger dari Batam), Riant (blogger dari Jogja), dan Mbak Sari Marlina dari Gading Gajah Art (GGA). Kami juga bersama Yuk Annie Nugraha (blogger dari Cikarang), tapi beliau tidak ikut ke camp karena memilih beristirahat bersama Mbak Ratna Juwita dan Mas Himawan di rumah Mas Sunandar di Dusun Margahayu. Guide kami tiga orang dari Pokdarwis, yaitu Mas Sunandar, Mas Didit, dan Mas Ian.  Terima kasih buat ketiganya yang sudah mengantar pakai motor dan menemani kami selama berada di Camp ERU hingga ke PKG TNWK, tempat di mana kami menikmati indahnya matahari terbenam di antara ratusan gajah yang bersiap menyambut pekatnya malam.



 
Aksesibilitas : 

Taman Nasional Way Kambas, secara administrasi berada di Kabupaten Lampung Timur dan Lampung Tengah, yang berbatasan langsung dengan 3 Kabupaten, yaitu Lampung Timur, Lampung Tengah dan Tulang Bawang. Cara mencapai lokasi Pusat Latihan Gajah (PLG) Way Kambas cukup mudah. PLG berada di dalam kawasan dengan jarak 16 km dari jalan lintas timur, 9 km dari pintu gerbang Plang Ijo. Dengan menempuh waktu lebih kurang 20 menit, PLG mudah dijangkau karena telah dihubungkan dengan jalan aspal hitam yang dapat dilalui oleh kendaraan roda 2 sampai dengan enam termasuk bus besar, di tambah lagi program pemerintah daerah yang membuat rute baru BUS DAMRI dari Bandar lampung (terminal Rajabasa) sampai langsung ke Pusat Latihan Gajah Way Kambas. Angkutan massal tersebut dalam sehari berangkat beberapa kali dengan jadwal pukul 06 WIB, 08 WIB, 10 WIB, 13.30 WIB, dan pukul 16.30 WIB.
.
.
.
 
. . .

Share this

Indonesian Travel Blogger Email: katerinasebelas@gmail.com

Related Posts

Previous
Next Post »

11 comments

Write comments
9 November 2017 13.53 delete

Apa yang ada dipikiran mbak Ket saat memeluk dan memandikan gajah? Gak takut mbak? Hiiii

Reply
avatar
9 November 2017 14.55 delete

Hello Melly, hello Amel :D
Btw kalau pas di kebun binatang gtu aku suka takut ma Gajah gedhe khawatir keinjek mbk hehe.
Tapi kyknya gajah di sana terawat dan mungkin alamnya lbh bebas jd gk terllau stress dan baperan ya (opo seh iki hahaha)
Tengkyu sharing ttg gajah di camp eru margahayunya :D

Reply
avatar
9 November 2017 15.27 delete

Mbak Rien, dik Moudy Ayunda ketemu Hamish Daud saat mandiin gajah. Mbak Rien ketemu siapa? hahaha.

Kangen juga sama Way Kambas ini, apalagi kunjungan pertamaku ke sana gak maksimal gegara ketinggalan saat ke toilet. Aku belom ada foto sama gajah sedekat itu. Walaupun... ya aku gajah juga sih hahahaha

omnduut.com

Reply
avatar
9 November 2017 16.18 delete

Ya Allah anak gajahnya itu imut banget, pelukable ya Mbak.
Kalau aku berada di samping gajah yg besar pasti udah grogi duluan, takut keinjek he3

Reply
avatar
9 November 2017 21.04 delete

Awalnya agak takut. Lalu aku minggir, menjauh, jeda, ambil nafas. Berfikir ulang dalam-dalam, bahwa gajah tidak menakutkan. AKhirnya aku dekati lagi dengan perasaan lebih tenang dan lebih sayang, ternyata berhasil. Malah timbul rasa ingin peluk dan cium. Peluknya berhasil, ciumnya enggak :D

Reply
avatar
9 November 2017 21.07 delete

Iya, gajah gede memang lebih menakutkan, karena kebayang kalau diinjek dan diseruduk bakal tamat riwayat =D Dulu waktu pertama kali ke Way Kambas, aku ketemu dengan jantan dewasa, gadingnya panjang, dan aku berhasil foto sama gajah gede itu. Takut sih iya, tapi ga diapa2-in. Ada pawangnya waktu itu. Kapan mau ke Way Kambas, Pril?

Reply
avatar
9 November 2017 21.09 delete

Ketemu pawangnya =D =D

Hahaha....Yayan gajah? Gajah kok ngeblog :D Iya tuh, tragedi ditinggal gara2 ke toilet dikenang terus =D

Datang lagi yuk Yan. Mas Arif juga minta diajak ke sana. Mau bareng mas Arif nggak?

Reply
avatar
9 November 2017 21.10 delete

Peluk-able lah, kayak Gong Yoo =D =D
Nggaklah Wan, di sini gajahnya baik kok. Ada pawang juga kan.

Reply
avatar
14 November 2017 08.38 delete

Gajahnya kiyuuut bangeeett, seru nih mandiin gajahnya langsung, anakku pasti suka

Reply
avatar
14 November 2017 08.40 delete

Pengen bisa ke Camp ERU ngajak anak-anak,mereka pasti seneng deh bisa belajar langsung dari alam

Reply
avatar
16 November 2017 22.56 delete

Way Kammbas memang tempatnya pemusatan gajah Sumatra, tapi di Bengkulu juga ada lo mbak, namanya PLG Sebelat. disini juga tempat pelatihan gajah, tp gajahnya tidak banyak seperti di Way Kammbas.

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon