Petang Romantis di Desa Braja Harjosari, Berkuda di Padang Savana, Berperahu di Way Penet

10.59
Wisata Desa Braja Harjosari, Lampung Timur

Menghabiskan petang di Desa Braja Harjosari, berkuda di padang savana, naik perahu menyusuri Way Penet, dan menikmati kuliner lokal masakan warga. Sebuah cerita dari Lampung Timur, Oktober lalu. 

wisata desa braja harjosari lampung timur
Berkuda di padang savana Desa Braja Harjosari

Desa Braja Harjosari, Kecamatan Braja Slebah, memaparkan rentang padang savana yang luas. Sebuah tempat lapang yang menjanjikan suasana berbeda dari Gua Pandan di Desa Girimulyo, Kecamatan Marga Sekampung, objek wisata yang kami kunjungi sebelum menuju Braja Harjosari. Dari tempat sempit dan gelap, menuju luas dan benderang, mewarnai cerita dalam sehari.

Berjarak kurang lebih 33 kilometer dari Sukadana ibukota Lampung Timur, menghabiskan waktu tempuh sekitar satu jam perjalanan bermobil untuk mencapainya. Durasi perjalanan jadi lama, karena jalan tidak sepenuhnya mulus. Kami datang di musim kering, sedikit lebih baik daripada di musim hujan yang mungkin akan menyuguhkan lubang-lubang berisi genangan, dan tanah liat yang licin. 


Baca juga: Memandikan Gajah di Camp ERU Margahayu

Wisata Desa, bukan Desa Wisata

Kemungkinan Melihat Gajah

 
Letak Desa Braja Harjosari dengan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) hanya dipisahkan oleh sungai Way Penet. Hal ini memungkinkan untuk melihat langsung rombongan gajah liar yang jumlahnya dapat mencapai puluhan ekor, sedang mencari makan di rawa-rawa perbatasan TNWK. 


Namun, jangan tinggikan harapan untuk hal itu, sebab gajah-gajah liar bukan manusia yang bisa diajak janjian. Hanya jika beruntung, maka bisa melihatnya. Perlu cek musim migrasi para gajah pada warga yang kita kenal agar datang di saat gajah-gajah memang sedang berada di sekitar Braja Harjosari.

Indah meski dihiasi beberapa sampah, hmm...

Berkuda di Padang Savana


Tak melihat gajah, kuda pun jadi. Bahkan bisa menunggangnya, jika mau. Kuda adalah pasangan serasi untuk padang savana. Bayangkanlah sebuah tempat seperti di Sumba, di mana rumput dan ilalang berwarna kuning keemasan pada suatu senja, sungguh romantis. Dan kamu berada di antara semua itu, menunggang kuda, sambil memandang ke barat, tempat sang surya kembali ke peraduan. 

Di Braja Harjosari ini juga begitu? Tidak sama. Tapi setidaknya, atmosper sebuah savana yang didamba seperti di Sumba, bisa dirasakan di sini. Tergantung hati dan mata ingin merasakan dan melihatnya seperti apa. Kalau saya, setiap tempat bisa saya bikin seindah yang saya bayangkan. 

Baca juga : Berwisata di Way Kanan Kini Semakin Asyik

Matahari terbenam di sini langsung di balik hutan yang memagari padang savana,  sempurna untuk menghantar senja.

Saya menyukai padang savana. Tempat terbuka nan lapang, di mana hidup sejenak terasa seperti begitu ringan. Seakan tiada siapa-siapa dan apa-apa, hanya ada diri sendiri dengan jiwa yang tenang, dalam pelukan alam yang mendekap tanpa syarat. Kamu merasa begitu nggak kalau berada di padang savana? 


Ini kemesraanku dengan Kuda Boy.
 


Berperahu di Way Penet

Tingginya keragaman hayati membuat Braja Harjosari istimewa. Keistimewaan yang mungkin saja salah satunya atau beberapa, bisa dijumpai dengan mudah kala menyusuri Way Penet. Tempat di mana burung-burung air seperti blekok, trinil, kuntul, dan cangak ungu, dapat terlihat dengan mudah. Saya mendengar tentang itu sebelumnya, itu sebabnya tawaran berperahu sayang sekali untuk ditolak.

Di sungai Way Penet, atraksi dari burung pemangsa seperti elang dan raja udang, memberikan atraksi alam yang memesona. Sayangnya kami terlalu sore di sana, jelang magrib saat terang perlahan mulai meremang, temuan kami hampa. Atau mata saya yang kurang jeli saat itu? Entahlah. Meski keberuntungan tak menghampiri, saya tetap menikmati keadaan tanpa harus menuntut harapan sesuai kenyataan. Meresapi keheningan yang pecah oleh suara berisik mesin perahu, dan menjadikannya sebuah pengalaman baru dalam mengenal sisi elok Lampung Timur yang masih alami.


Bisa berperahu menyusuri Way Penet

Sungai di tengah padang savana


way penet lampung timur
Jalan-jalan bahagia, semua jadi terasa indah 😗

Mencicipi Kuliner Lokal yang Mengayakan Rasa

Daya tarik wisata berupa nilai kearifan lokal yang tinggi dan potensi yang besar yang dimiliki, baik dari segi landscape maupun hasil bumi, membuat Braja Harjosari berkilau. Intensifikasi lahan pertanian yang dilakukan oleh masyarakat desa ini membuat hasil buminya melimpah dan memberikan warna tersendiri. Beberapa hasil pertanian seperti beras organik, sayuran dan buah-buahan menjadi komoditi unggulan.

Wisata Desa Braja Harjosari kini ramah wisatawan. Fasilitas akomodasi telah tersedia dalam bentuk homestay. Merasakan tinggal di desa, berinteraksi dengan warga lokal, dan makan makanan khas yang dimasak oleh warga, benar-benar akan memberikan pengalaman yang unik sekaligus berkesan. Kuliner khas seperti nasi tiwul, pindang ikan baung, dan gulai ikan lais, merupakan kekayaan kuliner yang sempat saya cicipi di sini. 


Nasi tiwul, pindang ikan baung, gulai ikan lais, aneka sayur yang diolah menjadi lalapan dan tumisan

orang-orang yang bersahabat

Kaos Lampung Timur Yay by Yay Lampung

Mengenal Braja Harjosari adalah mengenal rasa syukur melalui kesederhanaan, tentang kebersahajaan dalam hidup, serta tentang tingginya nilai luhur dan kearifan lokal yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. 



Informasi lain-lain:

- Tidak ada angkutan umum ke Desa Braja Harjosari. Sewalah mobil untuk ke sana. Harga sewa per hari Rp 250.000 belum termasuk supir dan BBM. 
- Hubungi pengelola tempat wisata agar dibantu untuk dipandu ke beberapa tempat selain yang saya sebutkan di atas.
- Kegiatan yang bisa dilakukan di lokasi wisata: Berkuda, berperahu, dan trekking ke beberapa tempat untuk melakukan pengamatan gajah liar.
- Kegiatan lainnya: wisata agro dan dan wisata budaya.
- Kuliner khas yang kami cicipi hanya tersedia jika dipesan terlebih dahulu kepada warga melalui pengelola. Bukan tersedia tiap saat.
- Saat cuaca cerah, berkunjunglah di waktu sore agar bisa menikmati keindahan matahari terbenam. 
- Bawa bekal sendiri karena di sini tidak ada warung yang menjual makanan dan minuman.
- Bawa kantong plastik sendiri untuk menyimpan sampah.


Nungguin kamu berwisata ke Desa Braja Harjosari 😆

Keliling Lampung Timur bersama Rinto Macho (Way Kanan), Sari Marlina (GGA Lampung Timur), Dian Radiata (blogger Batam, Yuk Annie (blogger Cikarang), Riant (blogger Jogja), dan Ika (Blogger Bandar Lampung).


Share this

Indonesian Travel Blogger Email: katerinasebelas@gmail.com

Related Posts

Previous
Next Post »

20 comments

Write comments
10 November 2017 14.56 delete

Foto yang sama kuda itu PERPEK banget mbak Rien. Savananya pun mendukung, sangat instagramable.

@omnduut

Reply
avatar
10 November 2017 17.17 delete

Pengen nyoba berkuda. Sepertinya seru banget...

Reply
avatar
10 November 2017 21.49 delete

Keren banget foto yang sama kuda , Mbak :)

Reply
avatar
11 November 2017 10.48 delete

Aku belum pernah ke savana Mbak, paling mentok lapangan he3.
Kalau aku pas berada di tengah laut itu berasa kecil banget sebagai manusia. Sekali dihempas ombak, tamatlah riwayatt kita.

Reply
avatar
11 November 2017 22.02 delete

Huaaaaaaa nasi tiwul ama gulai ikan lais ituu. Tidaaaaaak! Huhuhu itu favoritku banget. Sampe nambah-nambah makannya

Reply
avatar
12 November 2017 06.01 delete

Hahahaha gak kebayang janjian ma gajah, ntr meet up di sini yuukk wkwkwk :D
Tapi jadinya untung2an gtu ya mbak :P
BTW kalau gajah liar ketemu manusia apakah respon mereka akan reaktif krn takut, terkejut, dll atau sebalinya slow aja gtu?
TFS

Reply
avatar
13 November 2017 10.24 delete

Pada komen tentang fotonya mbak rien, emang setiap traveling foto mbak rien kece-kece ah, didukung suasana yang instagrameble

Reply
avatar
13 November 2017 17.49 delete

Mba Katerinaaaaaa, jagoo beneerrrr euy nunggang kudanyaaa. Aku liyak liyuk gitu berasa mau jatuh dan akhirnya pusing. Mau diajak jalan jalan lagi melihat bumiNya dan difoto cantiiikk juga seperti yg moto. Emuuuaaachhh mba Rien 😘😘😘

Reply
avatar
13 November 2017 20.15 delete

Andai tanpa kuda, mungkin foto savananya hampa :D
Thanks Yayan.

Reply
avatar
13 November 2017 20.19 delete

Seru selama nggak dibawa lari kencang mbak =D

Reply
avatar
13 November 2017 20.21 delete

Ihwan bisa coba ke padang savana yang ada di komplek Gunung Bromo. Lumayan luas, ada kuda juga, bisa dibawa ke bukit teletubies, di situ pemandangannya indah dan hijau.
Di manapun di alam semesta ini selalu merasa kecil sebagai manusia, tak terkecuali laut. Semoga Allah selalu melindungi dan menyelamatkan kita dimanapun berada.

Reply
avatar
13 November 2017 20.22 delete

Iya, kita sampe nambah-nambah makannya ya haha. TERENAK! Sekarang saja aku masih kebayang nasi tiwulnya, antara berasa aneh saat makannya, sama berasa enak dan ketagihan.

Reply
avatar
13 November 2017 20.26 delete

Iya, kalau mau yakin pasti bertemu, langsung ke TN Way Kambas saja. Pasti jumpa sama gajah. Kalau di alam bebas, semua liar. Tapi di kawasan TN Way Kambas, gajah liar tetap dalam pengawasan. Ada pawang yang akan menggiring gajah2 itu jika memasuki pemukiman penduduk atau pun perkebunan.

Pada postingan sebelum ini (Judul : Memandikan Gajah di Camp ERU), aku bertemu gajah liar sedang mencari makan di pinggir hutan. Reaksi mereka biasa saja. Tidak lari atau menjauh. Tapi jarakku waktu itu sekitar 15 meter dan dipisah oleh sungai kecil. Entah kalau sangat dekat. Mungkin yang kaget dan lari adalah aku :D

Reply
avatar
13 November 2017 20.28 delete

Masih belajar. Yang bagus-bagus, hanya kebetulan saja. Terima kasih mbak Eni ^_^

Reply
avatar
13 November 2017 20.29 delete

Belum jago, hanya sedikit berani saja. Kalo dibawa lari kencang juga bakal keder minta tolong tolong =D Semoga ada kesempatan jalan-jalan bareng lagi, biar kita foto2 cantik lagi di BumiNYA. Aamiin :ng

Reply
avatar
14 November 2017 01.06 delete

Mbak Rien, itu beneran ada tiwul di Lampung? Terus nama desanya juga jawa banget. Kebalikannya daerahku, Sariharjo, hehe. Anyway adanya kuda emang bikin jadi pusat perhatian ya du di savana ini. Gajah liar? Dududu, serem. Gajah di Ragunan aja pernah ngamuk lari2, apalagi kalau gajah liar ada yg merasa terganggu atau ga nyaman. hmm

Reply
avatar
14 November 2017 08.15 delete

Dulu, beberapa tahun lalu, saya pernah ke Lampung, bukan buat wisata, tapi mengunjungi kerabat, tinggalnya di tengah perkebunan sawit,pengalaman yang terlupakan

Reply
avatar
14 November 2017 08.16 delete

Pengen banget bisa ajak anak-anak traveling, mengunjungi tempat-tempat indah di nusantara agar mereka semakin bangga dengan negerinya

Reply
avatar
16 November 2017 22.58 delete

Padang Savananya keren mbak, keren hunting untuk berfoto di sana, weding juga bagus kyaknya.

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon