Tampilkan postingan dengan label TNWK Lampung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNWK Lampung. Tampilkan semua postingan

Road Trip ke Way Kambas Lampung: Dari Gisting ke Pusat Latihan Gajah


Gisting, Minggu 21 September 2025

Saya selalu percaya bahwa hari terakhir saat bepergian adalah momen paling jujur dalam hidup. Tidak ada lagi euforia. Tidak ada lagi ilusi santai. Yang tersisa hanyalah tas terbuka, baju berserakan, dan saya yang mendadak berubah jadi atlet cabang olahraga serba ngebut. 

Ngebut mandi, ngebut packing, ngebut menuntaskan sarapan yang berubah jadi urusan strategis. Karena kami harus berangkat secepatnya menuju Taman Nasional Way Kambas, yang jaraknya itu mesti ditempuh lebih dari empat jam perjalanan.

Pagi itu Gisting menyambut kami dengan hujan. Jenis hujan yang turunnya pelan tapi konsisten, seperti tagihan bulanan yang tidak pernah lupa datang. Tidak heboh, tidak dramatis, tapi cukup untuk membuat suasana pagi terasa sendu sekaligus sedikit panik.

Di Hotel 21 Gisting. Kiri: setelah check-out. Kanan: Persiapan berangkat ke Lampung Timur

Rutinitas pagi pun berubah menjadi kompetisi tak resmi. Siapa paling cepat mandi. Siapa paling cekatan beberes. Siapa paling dramatis mencari charger yang entah sejak kapan seolah punya kaki sendiri. Semua bergerak dengan energi khas hari checkout. 

Hingga akhirnya kami berkumpul di lobi, menyelesaikan proses checkout, lalu berjibaku memasukkan barang ke dalam mobil yang hari itu berisi delapan orang dewasa dengan segala bawaan dan ekspektasinya.

Aneh memang. Saat datang, rasanya santai sekali. Langkah ringan, hati riang, tas dibuka tanpa beban. Tapi saat pulang, atmosfernya berubah total. Ritmenya seperti evakuasi darurat. Cepat, sigap, sedikit tegang, dan entah kenapa selalu diiringi perasaan “kok rasanya baru sebentar?”

Misi utama ke Gisting: Kondangan

Kami memang cuma semalam di Gisting. Tapi seperti biasa, manusia punya bakat alami untuk membangun kenangan bahkan dalam waktu yang singkat. Dari menyeberangi Selat Sunda antara Merak dan Bakauheni, menghadiri kondangan di Gisting, jalan sore ke pelabuhan ikan Kota Agung, makan malam yang hangat, sampai tidur di hotel yang nyaman meskipun tidak mewah.

Kadang kebahagiaan memang sederhana. Tidak perlu bintang lima, cukup kasur empuk, air panas yang bersahabat, dan suasana yang terasa ramah.

Cerita lengkap hari pertama di Gisting pada Sabtu, 20 September 2025 bisa dibaca di postingan sebelumnya. Atau, tinggal klik link berikut : Jalan-Jalan ke Gisting Tanggamus

Perjalanan dari Tanggamus ke Lampung Timur

Empat jam, kata Google Map. Empat jam yang terdengar singkat kalau cuma dibaca, tapi terasa filosofis kalau benar-benar dijalani. 

Perjalanan darat memang punya kemampuan unik mengubah manusia biasa menjadi makhluk penuh refleksi. Terutama saat hujan turun, langit mendung total, dan jalan mulai menunjukkan karakter aslinya tanpa sensor.

Berikut gambaran rute perjalanan dari Gisting, Tanggamus ke Way Kambas beserta estimasi waktu dan jarak tempuh menurut Google Maps:

Rute perjalanan dari Tanggamus menuju Taman Nasional Way Kambas di Lampung Timur umumnya melewati Kabupaten Pesawaran dan Bandar Lampung. 

Secara teori terdengar sederhana. Dari pesisir Tanggamus, lanjut ke Pesawaran, melintasi Kota Bandar Lampung, kemudian masuk Lampung Selatan, dan akhirnya Lampung Timur. Di atas peta semuanya tampak rapi, tertib, dan penuh harapan. Di dunia nyata? Ya… mari kita bicara jujur.

Dari Tanggamus kami melaju menuju Pesawaran. Bisa lewat jalur pesisir arah Teluk Kiluan, bisa juga lewat jalur utara via Pringsewu menuju arah timur. 

Apa pun pilihannya, satu hal terasa konsisten: beberapa ruas jalan di Pesawaran benar-benar memberikan pengalaman yang sulit-dilupakan. Lubang-lubang di jalan bukan lagi sekadar kerusakan, melainkan ujian kepercayaan diri. Setiap genangan air berubah menjadi teka-teki eksistensial. Ini cuma air biasa, atau kejutan mekanik yang siap menguras saldo rekening?

Beberapa kali mobil kami “tertipu”. Kelihatannya genangan biasa. Ternyata lubang. Guncangan datang tanpa aba-aba, sukses bikin badan ikut bergoyang dengan cara yang sama-sekali tidak menyenangkan. Suspensi bekerja keras. Tulang-belulang ikut bekerja sama menahan realita. Jiwa? Sudah mulai masuk mode pasrah.

Drama Jalan Pintas Oleh Navigator Online

Drama bertambah saat Google Map, dengan kepercayaan diri khas teknologi modern, mengarahkan kami masuk ke jalan kecil desa, bukan jalan utama kabupaten. Jalan yang lebarnya membuat saya mempertanyakan definisi kata “akses utama”. Tapi ya sudah lah. Zaman sekarang, suara digital sering terasa lebih meyakinkan dibanding insting manusia.

Ini dia Negeri Katon, tempat kami "dibawa" Google Map lewatin jalan pintas yang jalannya tuh tantangan banget 😁

Barulah setelah keluar dari jalur kecil penuh tanda tanya itu, kami kembali bertemu jalan besar yang lebih ramai dan terasa normal. Di titik itulah kami sadar bahwa tadi kami memang diajak “jalan-jalan tambahan” oleh navigasi. 

Google Map memang kadang begitu. Masih untung kami dibawa keluar dari jalan tembus. Bayangkan kalau malah disuruh lurus ke hutan buntu. Itu bukan lagi perjalanan wisata, tapi reality show survival.

Dan di tengah perjalanan panjang penuh guncangan itu, saya mulai sadar: hidup memang sering terasa seperti navigasi digital. Kita ikuti arahannya, belok ke jalur yang kadang tidak masuk akal, sambil berharap pada satu hal sederhana… semoga di depan jalannya sedikit lebih bersahabat.

Persiapan di Tengah Hujan: Mantel dan Pisang untuk Gajah

Dari Pesawaran, perjalanan kami berlanjut menuju Bandar Lampung. Masuk ke ibu kota provinsi, suasana jalan mulai terasa lebih ramai, lebih hidup, lebih… beradab. 

Dari Bandar Lampung, mobil kembali melaju ke Lampung Selatan, arah Natar dan Rajabasa. Di titik ini, di antara kebutuhan isi BBM dan urusan pertoiletan yang tidak bisa ditunda oleh idealisme perjalanan, saya mengabari Pak Mad, orang Way Kambas yang nantinya akan menemani kami berkeliling.

Sementara itu hujan masih turun tanpa tanda-tanda ingin kompromi. Deras, konsisten, dan sedikit menyebalkan. 

Melihat kondisi langit yang tampaknya belum move on dari mendung, saya pun melontarkan ide yang terdengar cemerlang pada saat itu: bagaimana kalau kita beli jas hujan? Sebuah solusi praktis khas manusia modern. Rasional, sederhana, meskipun secara estetika hasil akhirnya membuat kami tampak seperti rombongan ninja yang gagal tampil misterius.

Akhirnya, dalam perjalanan dari Lampung Selatan menuju Lampung Timur, melalui rute Metro dan Sukadana hingga ke Kecamatan Labuhan Ratu, kami mampir ke minimarket. Belanja jas hujan. Karena bagaimanapun, perjalanan sudah sejauh ini. Rasanya terlalu dramatis kalau harus putar-balik belok ke Bakauheni lalu pulang hanya karena hujan. Jadi ya sudah, lanjut saja ke Way Kambas dengan gaya mantelan.

Namun misi hari itu ternyata tidak berhenti di jas hujan. Saat mulai memasuki wilayah Lampung Timur, kami singgah di lapak penjual pisang di pinggir jalan. Pisang-pisang ini rencananya akan dijadikan oleh-oleh untuk gajah. Ya, oleh-oleh. Karena bahkan dalam hubungan manusia dan satwa pun, kita tetap membawa budaya dasar bangsa ini: datang jangan dengan tangan kosong.

Harga pisangnya sukses membuat saya reflektif sebagai warga BSD. Tiga sisir pisang emas seharga dua puluh ribu rupiah. Dua puluh ribu. Di Pasar Modern BSD, satu sisir saja bisa bermain di kisaran dua puluh sampai dua puluh lima ribu. Jauh sekali. 

Tapi ya masuk akal juga. Di BSD tidak ada kebun pisang. Kalau pisangnya memang dari Lampung, tentu ada ongkos kirim, tenaga, logistik, dan mungkin drama distribusi lainnya.

Ironisnya, keputusan membeli pisang ini kemudian saya sesali. Bukan karena mahal. Justru sebaliknya. Kalau beli di ibu-ibu penjual pisang dekat loket masuk Way Kambas, harganya malah lebih mahal lagi. Satu sisir bisa tembus tiga puluh ribu. Tapi yang membuat saya merasa sedikit bersalah ternyata bukan soal harga, melainkan soal informasi yang datang belakangan.

Gajah Fitria, gajah pertama yang mencicipi oleh-oleh pisang dari kami. Semoga saja pisang yang kami beli aman dari obat-obatan berbahaya (karbit)
 
Ternyata penjual pisang di kawasan Way Kambas sudah diedukasi untuk hanya menjual pisang yang benar-benar alami, tanpa obat-obatan, tanpa zat kimia, tanpa karbit-karbitan demi kematangan instan. 

Mau mentah, mau matang, apa adanya saja. Karena bagi gajah, pisang karbitan bukan cuma soal rasa atau kualitas. Itu bisa berbahaya. Saya baru mengetahui fakta itu setelah bertemu Pak Mad. Dan tentu saja, pada saat itu pisang sudah terlanjur kami beli di luar.

Di situ saya langsung merasa seperti manusia yang tanpa sadar hampir menyuapi junk food kepada makhluk paling bijak di hutan. Ampun Ya Allah, semoga gajahnya tidak kenapa-kenapa. 

Pak Mad, beliau yang kasih penjelasan tentang makanan baik yang sebaiknya diberikan pada gajah.

Tapi sejak momen itu, saya membuat janji kecil pada diri sendiri. Kalau suatu hari kembali ke Way Kambas, saya akan membeli pisang dari ibu-ibu di dalam kawasan, dekat loket tiket itu. Mau dikata mahal pun tidak apa-apa. Ada rasa tenang yang tidak bisa dinegosiasikan dengan selisih harga.

Karena lucu juga ya. Gajah saja begitu diperhatikan makanannya. Begitu dijaga dari zat berbahaya. Sementara ada manusia yang dengan santai memasukkan apa pun ke tubuh sendiri, asal enak, asal murah, asal viral. Kalau gajah saja dijaga dari pisang karbitan, harusnya kita juga sedikit lebih selektif pada apa yang setiap hari kita telan tanpa banyak pertanyaan. Huhu.

Eh btw, waktu di mobil, saya sempat mencicipi pisangnya. Masih ada yang mentah cuy. Iyuuh banget rasanya kelat wkwk. Tahu kelat? Pahit yang ada asem-asemnya gitu hihi

Sukadana dan Benturan yang Membuat Istigfar Massal 

Ada satu hal yang selalu berhasil menyatukan manusia lintas usia, profesi, dan latar-belakang: jalan rusak. Tidak peduli Anda optimis, realistis, atau tipe yang hidupnya penuh afirmasi positif, begitu bertemu aspal penuh lubang, semua langsung kompak. Kompak tegang.

Jam 11.29 kami melintasi Sukadana, Lampung Timur. Dan di situlah drama kecil perjalanan kami mencapai titik klimaks. Pada satu ruas jalan sepanjang kurang-lebih 500 meter, kondisi jalan berubah dari sekadar tidak mulus menjadi ujian mental tingkat lanjut. Lubang-besar menganga lebar, tersebar merata, diisi genangan air hujan yang tampak polos tapi menyimpan niat jahat.

Kami pun “terjebak kejutan”. Mobil menghantam salah satu lubang yang tidak sempat teridentifikasi dengan baik. Benturannya keras. Jenis benturan yang refleks memicu istigfar massal di dalam mobil. Untuk sepersekian detik, jantung berhenti berdebat dengan logika. Pikiran langsung lompat ke kemungkinan terburuk. Kejeblos? Ban aman? Suspensi masih bernapas?

Masalahnya, lubang itu nyaris mustahil dihindari. Untuk berkelit dibutuhkan ruang lebar dan jalan kosong. 

Sementara saat itu hujan, kendaraan ramai, mobil berjejer di depan-belakang seperti sedang ikut konvoi tak resmi bertema “pasrah bersama”. Tidak ada ruang manuver elegan. Pilihannya sederhana: maju dengan hati-hati, atau mundur dengan rasa frustasi.

Di momen seperti itu saya selalu punya pertanyaan absurd tapi jujur: apakah ada teknologi tersembunyi yang memungkinkan mobil terbang rendah khusus di wilayah-wilayah tertentu? Karena kalau harus mengandalkan refleks sopir semata, rasanya ini bukan lagi perjalanan wisata, tapi simulasi survival otomotif.

Namun begitulah hidup, eh perjalanan. Jalan boleh rusak, hati boleh dongkol, tapi roda harus tetap berputar. Tidak mungkin berhenti lama-lama hanya untuk meratapi aspal yang kehilangan integritas strukturalnya.

Langit Cerah di Gerbang Way Kambas

Sesuai arahan Pak Mad, kami diminta mengabari saat sudah mendekati kawasan Way Kambas. Strateginya sederhana dan efisien. Supaya saat kami tiba, beliau sudah siap di lokasi. Dan benar saja, tepat pukul 12.05 WIB, kami akhirnya sampai di kawasan TNWK.

Yang mengejutkan bukan hanya keberhasilan mencapai tujuan tanpa drama lanjutan, melainkan perubahan suasana yang nyaris terasa sinematik. 

Hujan yang sejak pagi setia menemani perjalanan mendadak lenyap. Langit cerah. Matahari bersinar dengan percaya-diri. Udara terasa hangat, bersahabat, seolah alam semesta berkata, “Nah, ini baru pemandangan yang layak dinikmati.”

Mantel hujan yang sebelumnya terasa seperti investasi penting langsung kembali masuk tas. Nasibnya berubah cepat. Dari benda krusial menjadi properti cadangan. Disimpan rapi, tak perlu ikut menjadi saksi kunjungan kami hari itu. 

Hidup memang kadang ironis. Kita panik bersiap menghadapi badai, lalu semesta memberi matahari.

Gak nyangka cuaca berubah cerah setiba di Way kambas!

Tanda kami benar-benar memasuki kawasan TNWK adalah saat terlihat beberapa bangunan bercat hijau dengan plang besar bertuliskan TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS. Ada portal dengan palang buka-tutup yang sempat membuat saya mengira, “Oh, ini gerbangnya.” Ternyata bukan. Itu adalah portal menuju SRS, tempat pelestarian badak Sumatera.

Jadi kalau mau lihat gajah di Pusat Latihan Gajah (PLG), kami masih harus belok kanan, lalu menempuh sekitar sembilan kilometer lagi menuju gerbang tiket masuk Pusat Pelatihan Gajah Way Kambas.

Ini adalah kunjungan ketiga saya ke Way Kambas. Terakhir kali, kalau ingatan tidak berkhianat, sekitar tahun 2017 bersama Yuk Annie, Atanasia Rian, dan Dian Radiata. Dulu kami sampai ke Camp ERU, area khusus yang tidak semua orang bisa masuk. 

Cerita eksplore Way Kambas pada 2017 dapat di baca pada tulisan berikut: Lipur Hati di Lampung Timur.

Delapan tahun berlalu, dan saya kembali. Anehnya, beberapa potongan memori terasa buram. Loket tiketnya dulu di sini ya? Atau di sana? Atau sebenarnya ingatan saya saja yang mulai mengalami renovasi internal?

Tahun 2017. Kala memandikan gajah di Camp ERU Margahayu, Way Kambas
Memori: Kunjungan saya ke Way Kambas pada tahun 2017 saya tulis dan dimuat di inflight magazine Trans Nusa edisi Januari 2018.
Memori: Foto saya memeluk Yekti, bayi gajah yang dulu diselamatkan karena terjebak di lubang dan kini telah tiada, dimuat di majalah sebagai pelengkap tulisan yang saya buat.

Selagi mobil menyusuri jalan masuk yang sepi, kiri-kanan masih hutan, suasana terasa tenang dengan sentuhan liar yang elegan. 

Sesekali terlihat monyet bergelayutan di pohon, seperti penonton alami yang diam-diam mengamati manusia-manusia kota datang dengan kamera dan rasa kagum. Beberapa burung cantik bertengger santai di dahan pohon. Tak terusik oleh kehadiran kami yang numpang melintas.

Tak lama kemudian, Pak Mad menelepon. Memastikan apakah mobil hitam dengan pelat nomor tertentu adalah kendaraan kami. Ternyata beliau berada tepat di belakang. Kami pun memelankan mobil, memberi jalan, lalu mengikuti dari belakang.

Sebuah momen kecil yang terasa lucu. Bahkan di tengah hutan, manusia tetap bermain peran dalam koreografi lalu-lintas.

Dari gerbang awal hingga loket tiket di dalam kawasan, jaraknya ternyata tidak bisa dibilang dekat. Tapi anehnya, kali ini tidak ada rasa lelah yang dominan. Ada rasa lega. Ada rasa senang sekaligus tenang. Barangkali udara segar di tempat banyak pohon ini yang mengubah segalanya menjadi lebih damai. Lalu ada rasa yang sulit dijelaskan selain dengan kalimat sederhana: akhirnya sampai juga.

Jalan masuk objek wisata TN Way Kambas. Kurang lebih 9 km dari gerbang hijau di depan

Perjalanan empat jam yang dalam praktiknya menjadi lima jam itu pun resmi berakhir. Kami tiba. Kami selamat. Kami siap bertemu gajah. Dan di titik itu saya kembali berpikir, dengan sedikit senyum dan sedikit heran: Kenapa ya, justru bagian perjalanan yang bikin capek, pegal, dan hampir emosi itu yang nantinya paling semangat kita ceritakan?

Berwisata dan bertemu Gajah!

Lucu juga, kami menempuh lima jam perjalanan penuh guncangan hanya untuk berdiri tenang menatap seekor gajah yang bahkan tidak peduli kami datang dari BSD, Bekasi, atau Bulan.

Soal detail pengalaman di Way Kambas ini nanti akan saya ceritakan khusus di tulisan terpisah. Karena kalau semua saya bongkar sekarang, tulisan ini bisa berubah fungsi jadi skripsi konservasi dengan bumbu drama keluarga. Jadi anggap saja ini teaser. Trailer sebelum filmnya tayang panjang. Tapi sebelum filmnya benar benar diputar, ada baiknya kita kenalan dulu dengan panggung besarnya.

Lampung itu bukan cuma soal pantai dan kopi. Di balik hutan yang tadi kami masuki dengan penuh rasa lega itu, hidup tapir, gajah Sumatera, enam jenis primata, rusa sambar, kijang, harimau Sumatera, sampai beruang madu. Daftarnya terdengar seperti absensi rapat alam raya. 

Dan sejak 1936, kawasan ini sudah ditetapkan sebagai Taman Nasional Way Kambas. Tahun segitu manusia mungkin belum kenal skincare, tapi sudah ada kesadaran melindungi satwa. Sebuah ironi manis yang bikin saya mikir, kadang kita maju teknologi tapi mundur empati.


Nah, dari panggung besar itu, fokus kami mengerucut ke salah satu titik paling terkenal, yaitu Pusat Latihan Gajah. Fasilitasnya cukup lengkap. Ada area gajah, kolam, lapangan, guest house, visitor center yang merangkap pusat informasi dan museum, ruang terbuka yang rindang, musola, dan toilet. Secara fisik tertata. Secara batin? Ya tergantung pengunjungnya. Mau datang sekadar foto atau benar benar belajar, itu pilihan masing masing.

Menuju ke sana pun tidak sesulit bayangan orang kota yang alergi jalan tanah. Aksesnya surprisingly mudah. Dari Jalan Lintas Timur sekitar 16 kilometer, dan 9 kilometer dari Plang Ijo. Jalannya sudah aspal bagus, bisa dilalui kendaraan roda dua sampai enam, bahkan bus besar. 

Bahkan sekarang ada Bus Damri dari Terminal Rajabasa langsung ke PLG. Jadi kalau niatnya kuat, alasan jauh sudah makin tipis. Kadang yang jauh itu memang bukan jaraknya, tapi kemauan meninggalkan kenyamanan.

Setelah sampai, barulah terasa perubahan pendekatan yang cukup signifikan dibanding masa lalu. Dulu di sini ada atraksi gajah. Ada tunggang gajah juga. Sekarang tidak ada lagi. Gajahnya tidak lagi jadi properti hiburan. 

Saya pribadi merasa ini kemajuan. Karena jujur saja, melihat makhluk sebesar itu disuruh melakukan trik demi tepuk tangan manusia selalu terasa agak tidak adil. Sekarang kalau mau interaksi, ada paket memandikan atau memberi makan gajah. Lebih masuk akal. Walau tetap saja, pada akhirnya manusia tetap beli pengalaman.

Keliling naik shuttle, ketemu gajah boleh kasih makan

Perubahan itu ternyata bukan cuma soal atraksi, tapi juga soal cara berkunjung. 

Yang menurut saya menarik adalah aturan kendaraan. Pengunjung tidak boleh membawa mobil sampai ke lokasi gajah. Semua parkir di rest area, lalu lanjut naik shuttle atau jeep yang dikelola masyarakat sekitar.

Alasannya jelas, mengurangi polusi dan sekaligus memberdayakan warga. Konservasi yang tidak cuma bicara hewan, tapi juga ekonomi. Saya suka konsep ini. Karena menjaga alam tanpa menjaga manusia di sekitarnya itu seperti diet tanpa olahraga. Setengah hati.

Karena bicara kunjungan rasanya tidak lengkap tanpa bicara angka, mari kita realistis sedikit. Tahun 2025, wisatawan nusantara membayar Rp20.000 saat hari biasa dan Rp30.000 saat akhir pekan. Wisatawan mancanegara Rp200.000 per orang. 

Pelajar rombongan lebih hemat, Rp10.000 sampai Rp15.000. Kendaraan roda dua Rp5.000, roda empat sekitar Rp10.000 sampai Rp20.000, roda enam Rp50.000. Ada juga denda lima kali lipat untuk pengunjung ilegal. 

Semua mengacu pada PP Nomor 36 Tahun 2024. Belum termasuk paket jungle track, memandikan, memberi makan gajah, atau pemanduan yang dikelola koperasi desa. Intinya, mau pengalaman lebih dalam, ya ada konsekuensi finansialnya. Bahkan untuk belajar rendah hati di depan gajah pun tetap harus antre loket.

Pak Mad dan kerangka asli tubuh gajah yang mati karena sakit. Pak Mad adalah salah satu saksi atas kematian gajah tersebut, dan turut menyusun ulang tulang belulangnya hingga bisa dilihat oleh siapa saja yang berkunjung ke visitor centre TNWK

Namun Way Kambas tidak berhenti di gajah saja. Selain gajah, kawasan ini punya Suaka Rhino Sumatera atau SRS. Satu satunya di dunia. 

Kalimat itu terdengar megah sekaligus menyedihkan. Megah karena eksklusif. Menyedihkan karena artinya jumlah badaknya memang sesedikit itu. 

Lokasinya sekitar 9 kilometer dari Plang Ijo, di tengah hutan, di antara ruas jalan Plang Ijo dan Way Kanan. Dibangun untuk menyelamatkan badak Sumatera yang di alam liar terdesak, di kebun binatang pun rentan.

Di sanalah cerita berubah jadi lebih personal. Saya bertemu Edo, mahout badak. Anak muda yang memilih mengabdi menjaga hewan yang mungkin tidak pernah ia unggah di Instagram dengan caption estetik. 

Edo, mahout badak TNWK

Ia putra Pak Mad, meneruskan pengabdian ayahnya. Saya selalu diam beberapa detik kalau bertemu orang seperti ini. Karena di tengah dunia yang sibuk mengejar validasi digital, ada yang memilih menjaga makhluk yang bahkan tidak tahu apa itu like dan share.

Kunjungan hari itu sendiri berjalan cukup sederhana. Kami tiba sudah masuk waktu Zuhur, jadi salat dulu di musola yang tersedia. Sederhana, bersih, cukup. Setelah itu keliling naik shuttle, melihat rumah sakit gajah, kandang terbuka, dan dua gajah yang berdiri cukup dekat dengan area pengunjung. Besar. Tenang. Tidak terburu buru. 

Saya berdiri memandang sambil berpikir, kenapa makhluk yang disebut liar justru terlihat lebih stabil daripada kita yang mengaku paling rasional?

Akhirnya, seperti semua perjalanan singkat, momen itu pun ditutup dengan hal yang sangat manusiawi. Kami ke visitor area, makan siang, lalu bersiap pulang. Kunjungannya memang tidak lama. Tapi berdiri di hadapan gajah dan mendengar cerita tentang badak yang populasinya bisa dihitung dengan jari membuat perjalanan tadi terasa lebih dari sekadar agenda wisata.

Saya datang membawa pisang, jas hujan, dan ekspektasi sederhana ingin melihat satwa. Saya pulang dengan kepala yang sedikit lebih ramai. Tentang bagaimana manusia bisa merusak sekaligus menyelamatkan. Tentang bagaimana kita rela membayar tiket untuk masuk ke kawasan konservasi, tapi sering lupa menjaga habitat paling dekat yang kita punya, yaitu diri sendiri.

Dan di tengah hutan itu, pertanyaan itu muncul pelan pelan, sebenarnya siapa yang sedang dilatih di Pusat Latihan Gajah ini. Gajahnya, atau kita yang diam diam sedang diajari cara hidup lebih tenang dan tidak rakus?

Jajan Bakso Sony di Lampung Timur

Setelah menuntaskan misi bertemu gajah yang lebih tenang dari timeline media sosial, kenyataan kembali mengetuk. Jam sudah mendekati pukul 16. Artinya sesi kontemplasi harus ditutup, dan mode manusia dikebut jadwal kembali diaktifkan. 

Kapal berangkat pukul 19, dan idealnya pukul 18 sudah harus tiba di Bakauheni. Dari situ perjalanan berubah status, dari wisata reflektif menjadi lomba presisi melawan waktu.

Keinginan mampir santai jelas gugur satu per satu. Tidak ada ruang untuk duduk manis di kafe, apalagi berburu oleh oleh. Bahkan rencana kuliner pun harus beradaptasi.  

Maka ketika nama Bakso Sony disebut, solusinya sederhana dan realistis, pesan take away. Bukan karena tidak ingin menikmati suasana warungnya, tetapi karena hidup kadang menuntut efisiensi. Romantisnya nanti dimakan di kapal. Praktisnya supaya tidak ketinggalan kapal. 

Sebelum benar benar meninggalkan Way Kambas, Pak Mad memberi saran yang terdengar sederhana tapi menentukan, lewat jalur pesisir saja. Katanya lebih cepat. 

Dalam kondisi seperti itu, saran orang lokal terasa seperti kompas moral. Jalur ini berbeda dari rute saat datang, dan ternyata jauh lebih bersahabat. Tidak ada lubang ekstrem seperti di Sukadana. Jalannya naik turun dengan pemandangan laut dan gunung di kejauhan, seolah memberi bonus visual bagi rombongan yang sedang menahan hasrat untuk mampir.

 

Bakso akhirnya disantap bukan di daratan Lampung, melainkan nanti di atas kapal. Hangat, gurih, dan terasa seperti hadiah kecil setelah perjalanan ngebut. 

Ada ironi tipis ketika kuliner khas justru dinikmati saat sudah meninggalkan wilayah asalnya. Tapi mungkin memang begitu cara perjalanan bekerja, rasa tidak selalu harus dimakan di tempat ia lahir, yang penting dimakan dengan lega.

Pulang Naik Kapal

Langit sore sempat memberi harapan. Cahaya tipis menggantung di ufuk barat, cukup untuk membuat kami berharap ada senja kemerahan dramatis sebagai penutup perjalanan. Sayangnya langit memilih biasa saja. Tidak ada semburat jingga yang bisa dijadikan latar foto reflektif. Tapi setidaknya tidak ada hujan. Itu sudah lebih dari cukup.

 

Di atas kapal, suasananya justru terasa lebih hidup dibanding penyeberangan sebelumnya. Tidak ada yang mencari sudut untuk rebahan. Tidak ada wajah setengah tertidur. Semua duduk santai di dek kuliner, memesan minuman, membuka bungkus bakso, dan bercerita ulang potongan potongan perjalanan dua hari terakhir. 

Dari Gisting Tanggamus sampai Way Kambas Lampung Timur, dari jalan berlubang sampai jalur pesisir yang menenangkan.

Penyeberangan malam itu terasa cepat. Entah karena ombak bersahabat atau karena perut sudah kenyang dan hati cukup penuh. 

Sebelum pukul 21 kami sudah kembali menginjak Tanah Jawa. Perjalanan singkat, padat, dengan rasa yang campur aduk. Ada lelah, ada tawa, ada hening di depan gajah, ada ngebut demi kapal.

Dan di antara bunyi mesin kapal dan sisa kuah bakso di mangkuk kertas, pertanyaan itu muncul lagi pelan pelan, sebenarnya yang membuat perjalanan ini berkesan jaraknya, tempatnya, atau cara kami memaknainya?

CATATAN SEBELUM BENAR-BENAR PULANG

Sebagai penutup perjalanan ini, saya cuma ingin bilang terima kasih. Terima kasih mas suami dan teman teman muda yang sudah membawa saya ikut dalam ritme dua hari yang padat ini. 

Dari jalan berguncang sampai dek kapal, dari pisang untuk gajah sampai bakso dalam mangkuk kertas. Kadang yang membuat perjalanan terasa utuh bukan hanya tempatnya, tapi orang orang yang berjalan bersama kita di dalamnya.

Buat yang membaca tulisan ini dan mulai tergoda menyusun rencana sendiri, sebenarnya ke Way Kambas itu tidak serumit yang dibayangkan.

Datang mandiri pun sangat mungkin, seperti yang kami lakukan. Tinggal ikuti petunjuk arah di Google Map, siapkan biaya masuk dan kebutuhan lain secara pribadi, lalu jalan. Tidak ribet. Cukup niat dan sedikit keberanian untuk tidak selalu menunggu diajak. 

Tapi kalau merasa lebih nyaman semuanya sudah diatur, ikut travel atau tur Way Kambas juga pilihan yang masuk akal. Tidak semua orang menikmati sensasi menyusun itinerary sambil deg degan mengejar kapal.

Hanya saja, ada satu hal penting yang perlu diperhatikan. Saat tulisan ini dibuat, wisata Way Kambas sedang ditutup sampai waktu yang belum bisa ditentukan. 

Jadi sebelum semangat berangkat mengalahkan logika, pastikan dulu informasinya. Pantau pembaruan resmi lewat akun Instagram mereka di @btn_waykambas. Karena kadang yang lebih penting dari rencana perjalanan adalah memastikan pintunya memang sedang terbuka.

Kisah lengkap kunjungan kami ke Taman Nasional Way Kambas, termasuk momen bertemu dan berinteraksi dengan gajah, akan saya ceritakan di tulisan terpisah setelah ini.