"Effortless and Convenient Getaway in Bogor"
Begitu slogan Swiss-Belcourt Bogor. Dan memang kurang lebih begitu alasan kami menginap di sini. Gak ada rencana liburan yang disusun jauh-jauh hari, gak ada tempat wisata yang sedang kami kejar, bahkan gak ada keperluan khusus. Niatnya cuma mau pindah tidur, makan enak, lalu pulang. Tapi ternyata yang nyaris tanpa agenda begini pun tetap aja ada dramanya.
Ini pengalaman pertama keluarga kami menginap di Swiss-Belcourt Bogor. Kalau Swiss-Belcourt di kota lain sih sudah pernah, tepatnya Swiss-Belcourt Cikande. Pengalaman menginap di sana cukup bagus, jadi nama Swiss-Belcourt sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru buat kami.
Tapi kalau yang di Bogor, ini pertama kalinya. Dan
sebenarnya gabut banget nginep di sini, karena cuma mau numpang pindah tidur
aja, nyobain menu sarapannya, sekalian kulineran di Bogor dan sekitarnya. Gak
ada keperluan khusus, gak ada pula agenda wisata yang sudah disiapkan.
Mungkin memang ada masanya pergi itu gak harus punya agenda.
Rumah lagi baik-baik saja, kami juga gak sedang butuh healing dari
apa-apa. Cuma pingin keluar rumah, makan di tempat lain, lalu tidur di tempat
lain.
Gak pula ada rencana mau review hotel.
Kalau sampai akhirnya saya tulis, ya karena pingin nulis
aja. Walau fotonya seadanya dan banyakan bukan foto landscape,
sebagaimana idealnya foto untuk blog. Jadi kalau nanti fotonya ada yang berdiri
tegak sendirian di tengah tulisan, harap maklum. Waktu motret memang belum tahu
kalau mereka bakal dapat pekerjaan tambahan jadi ilustrasi artikel.
![]() |
| Swiss-Belcourt Bogor Foto: swiss-belhotel.com |
Libur Sekolah, tapi Gak Punya Rencana Liburan
Kami menginap saat musim libur sekolah. Tapi liburnya
sendiri waktu itu sudah berjalan lebih dari seminggu. Aisyah masih sekolah dan
ini adalah libur kenaikan kelasnya menuju kelas 12, tahun lalu, 2025.
Nah, kami tuh memang gak pergi ke mana-mana. Sama sekali gak
bikin rencana mau liburan ke mana.
Soalnya udah hafal banget kalau pergi berwisata di musim
libur itu banyak dramanya, terutama drama macet yang banyakan capeknya daripada
menikmati wisatanya. Tempat wisatanya mungkin cuma dinikmati beberapa jam,
perjuangan pergi dan pulangnya bisa jadi acara utama.
Jadi, gak ke mana-mana saat liburan bukan hal menyedihkan
buat kami. Malah momen terenak buat di rumah aja. Dalam kota pun biasanya lebih
lengang, rasanya santai dan tenang.
Toh liburan gak selalu harus dibuktikan dengan pergi jauh.
Kadang bisa bangun tanpa buru-buru, gak terjebak macet, dan menikmati kota yang
mendadak lebih sepi saja sudah enak.
Tapi rupanya setelah lebih dari seminggu menikmati
ketenangan itu, muncul juga keinginan keluar rumah.
Bukan mau liburan jauh.
Mau makan. 😄
Dari Mau Kulineran Seharian, Malah Cari Hotel
Dari Mau Kulineran Seharian, Malah Cari Hotel
Ide menginap di Swiss-Belcourt Bogor ini sebenarnya dadakan
aja.
Awalnya cuma mau ngajak keluarga nyari tempat makan di Bogor
yang belum pernah kami coba. Bogor ya, bukan Puncak. Bisa ke Sentul, bisa juga
di Kota Bogornya.
Apalagi dari BSD sekarang gampang banget ke sana sejak ada
Tol Cinere yang tembus ke Jagorawi. Kalau dulu ke Bogor bisa 2 jam lebih, sekarang sekitar
55 menit aja udah sampai.
Rencana awalnya kami mau kulineran seharian. Makan dari
pagi, siang, sore, sampai malam, lalu pulang.
Kedengarannya menyenangkan sampai kami mulai menghitung
waktunya.
Kalau pergi pagi dan pulang setelah makan malam, waktunya
mungkin bakal banyak habis di jalan. Belum lagi kalau ketemu macet. Niatnya mau
santai nyobain beberapa tempat makan, malah bisa jadi seharian sibuk mengejar
waktu supaya berangkat cukup pagi dan pulang gak terlalu malam.
Makanya muncul ide, gimana kalau nginep aja?
Akhirnya semua setuju.
Begitulah rencana yang awalnya cuma mau makan-makan di Bogor
mendadak punya biaya kamar hotel.
![]() |
| Swiss-Belcourt Bogor Foto: swiss-belhotel.com |
Ternyata Ada Tiga Swiss-Bel di Bogor
Saya pun mulai nyari hotel. Pastinya cari yang bukan ke
Bogor atas alias naik-naik terus ke Puncak yang selalu macet itu.
Lalu saya keinget Swiss-Bel yang hotelnya ada di berbagai
kota, termasuk Bogor. Nah, ajaibnya nih, ternyata ada tiga jaringan Swiss-Bel
di Bogor, tapi beda-beda merek. Ada Swiss-Belinn Bogor si hotel bintang tiga,
Swiss-Belhotel Bogor yang bintang empat, dan Swiss-Belcourt Bogor yang budget
friendly.
Pilihan saya jatuh ke Swiss-Belcourt Bogor yang beralamat
lengkap di Jl. Raya Baru No. 1, Bukit Cimanggu City, Bogor, Indonesia 16320.
Hotel ini memiliki 220 kamar dengan sejumlah fasilitas
seperti Sky Ballroom, ruang pertemuan, Swiss-Bistro, bar & lounge,
kolam renang, dan gym. Lumayan lengkap untuk hotel yang membawa konsep budget
friendly, walaupun selama dua malam menginap kami gak sampai mencoba
semuanya. Wong tujuan awalnya aja cuma pindah tidur dan cari makan.
![]() |
| Swiss-Belcourt Bogor Foto: swiss-belhotel.com |
Slogannya Effortless and Convenient Getaway in Bogor.
Sementara konsepnya budget friendly.
Tapi kamarnya gak budget tuh. Haha.
Saya pesan dua malam family room, totalnya sekitar
Rp1,6 jutaan lewat Agoda, gak ada diskonnya. Kalau lewat hotel langsung malah
lebih mahal lagi.
Ya sudah. Mungkin definisi budget friendly kami
memang sedang tidak berada di rapat yang sama.
![]() |
| Pesan lewat Agoda dapat harga 1,6 jutaan untuk 2 malam |
Jarak yang saat itu kelihatannya gak penting-penting amat.
Toh saya sudah tahu hotel mana yang saya pesan. Saya tahu namanya, saya tahu
alamatnya, saya bahkan sudah bayar.
Apa yang mungkin salah?
Ternyata, pengetahuan itu hanya berlaku sampai saya pesan
makanan lewat GrabFood.
Nanti saya ceritain.
![]() |
| Swiss-Belcourt Bogor Foto: swiss-belhotel.com |
Dua Malam di Family Suite Swiss-Belcourt Bogor
Kami menginap dua malam, mulai tanggal 3 sampai 5 Juli 2025.
Karena semua mau ikut, saya pesan Family Suite seluas 47 meter persegi
dengan dua kamar tidur.
Saya kan pesennya yang pemandangan kota. Ternyata dikasihnya
pemandangan kolam renang.
Mau lihat cowok-cowok mandi? Ya kali dari lantai 11 bisa
kelihatan. 😂
Family Suite-nya cukup luas. Ada living room
dengan sofa two-seater, meja, TV, meja makan, dan dapur kecil. Ada
balkon juga, serta pintu dan jendela kaca menghadap keluar sehingga ruangan
terasa lebih terbuka.
Meski ya, pemandangan dari kamar kami sebagian besarnya ke tower
residence Swiss-Bel.
![]() |
| Pemandangan gedung Swiss-Belcourt Bogor dari jendela kamar yang kami tempati di lantai 11 Foto: dokumentasi pribadi. |
Saya dan suami di kamar utama, Aisyah di kamar satunya.
Alief nantinya bisa tidur di sofa.
Malam pertama Alief gak ikut menginap karena masih ada
kegiatan di kampus sampai malam. Katanya udah capek kalau harus nyusul ke Bogor
malam-malam. Jadi kami baru komplet berempat di malam kedua.
Dengan dua kamar tidur dan ruang tengah yang cukup lega,
ukuran 47 meter persegi ini terasa pas buat kami. Ada ruang untuk kumpul, tapi
kalau masing-masing mau masuk kamar dan punya ruang sendiri juga bisa.
Apalagi tujuan menginap kami memang sesederhana itu: punya
tempat buat tidur setelah keliling cari makan.
Walaupun pada akhirnya, malam pertama kami bahkan belum
sempat keliling ke mana-mana.
![]() |
| Family Suite Room Swiss-Belcourt Bogor Foto: swiss-belhotel.com |
![]() |
| Kamar utama family suite yang kami tempati di Swiss-Belcourt Bogor Foto: dokumentasi pribadi |
![]() |
| Kamar kedua family suite yang kami tempati di Swiss-Belcourt Bogor Foto: dokumentasi pribadi |
![]() |
| Living room di family suite Swiss-Belcourt Bogor yang kami tempati Foto: dokumentasi pribadi |
Check-in Jam 9 Malam, Besok Suami Malah Kerja
Sebetulnya gabutnya saya mesen hotel ini mayan parah sih.
Sampai hotel tuh udah jam 9 malam. Haha.
Kami nungguin suami pulang kerja dulu baru berangkat. Udah
gitu, di jalan ternyata macet karena memang masih weekdays dan kami
jalan pas jam pulang kerja.
Karena sudah masuk jam makan malam, kami akhirnya makan dulu
di luar. Setelah itu baru ke hotel.
Sampai hotel udah capek. Masuk kamar, terus tidur.
Selesai.
![]() |
| Family suite dengan 2 kamar |
Malam pertama dari dua malam menginap sudah terpakai hanya untuk pindah lokasi tidur. Jadi kalau dari awal saya bilang tujuan menginap ini memang cuma “pindah tidur”, saya gak sedang merendah. Memang kejadian. 😂
Besok paginya saya nemenin suami sarapan lebih awal karena beliau mau berangkat kerja.
Iya, kerja.
Kami lagi nginep di hotel, beliau tetap berangkat kerja. Mungkin inilah bentuk effortless getaway versi keluarga kami: istrinya staycation, suaminya stay sebentar lalu berangkat kerja.
Setelah nemenin suami sarapan, saya balik ke kamar jemput Aisyah buat ngajak sarapan.
![]() |
| Laptopan di meja makan |
![]() |
| Laptopan di living room |
![]() |
| Laptopan terossss |
Sarapan yang Memang Sudah Saya Incar
Nah, kalau yang satu ini memang sudah saya niatin dari awal. Saya pengen nyobain sarapan Swiss-Belcourt Bogor, pengen tahu ada apa aja dan kayak mana rasanya.
Buat saya, salah satu bagian paling menyenangkan dari staycation memang sarapannya. Apalagi kalau niatnya santai dan menikmati fasilitas hotel, bagian ini hampir selalu masuk agenda utama. Tinggal turun ke restoran dan melihat ada makanan apa saja yang bisa dicoba tanpa perlu mikirin mau masak atau pesan dari mana.
Waktu menginap tiga hari dua malam di Swiss-Belcourt Bogor, saya pilih kamar family yang sudah termasuk sarapan untuk tiga orang. Sementara kami datang berempat, jadi saya putuskan untuk tambah satu porsi lagi. Harganya Rp100 ribu per orang.
Menurut saya masih tergolong ekonomis, apalagi yang ikut tambahan ini makannya memang sudah setara porsi dewasa. Jadi rasanya juga gak mungkin lagi pura-pura dihitung sebagai anak kecil demi harga lebih murah. 😄
![]() |
| Paling menarik perhatian |
![]() |
| Gemblong Pekalongan |
![]() |
| Bakery & pastry station. Foto: dokumentasi pribadi |
Dari segi pilihan menu, cukup beragam. Ada beberapa makanan
tradisional khas Indonesia yang langsung menarik perhatian saya seperti
gemblong Pekalongan, ketoprak, nasi liwet, pukis laba-laba, sampai cake
tape ketan pisang.
Nah, yang terakhir ini jadi favorit saya. Teksturnya lembut,
rasa manis-asinnya pas, gak terlalu kuat, tapi justru itu yang bikin enak. Tipe
makanan yang awalnya cuma mau dicicip sedikit, lalu beberapa menit kemudian
kepikiran lagi.
Gemblong Pekalongan dan cake tape ketan pisang juga
termasuk makanan yang jarang saya temui di Pasar Modern BSD. Jadi senang aja
bisa nemu dan nyobain di sini.
Secara keseluruhan, pilihan menu sarapan Swiss-Belcourt
Bogor cukup mewakili berbagai selera. Mau yang berat ada, yang tradisional ada,
yang manis juga ada. Tapi kalau bicara soal rasa, saya kasih nilai 7,5 dari 10.
Masih tergolong enak, hanya belum sampai tahap yang bikin
saya otomatis ambil piring kedua karena takut keburu habis. Ini tentu penilaian
pribadi ya, karena urusan rasa memang wilayah yang susah diajak musyawarah.
Lidah orang beda-beda.
Suasana di tempat sarapan dan menu-menu dalam hidangan sarapan saya dokumentasikan dalam bentuk video, dapat ditonton pada reels berikut:
Ada Jamu, Saya Langsung Senang
Satu hal yang selalu saya cari saat sarapan di hotel
berbintang adalah jamu. Untungnya di sini ada. Jamunya diracik sendiri oleh
resto dan disajikan dalam keadaan segar. Rasanya ringan dan enak diminum
pagi-pagi, apalagi suasana Bogor waktu itu cukup adem.
Buat saya, keberadaan jamu kecil-kecilan seperti ini justru
bikin meja sarapan terasa lebih dekat dengan keseharian kita. Di tengah deretan
roti, telur, kopi, dan berbagai menu hotel, ada sesuatu yang rasanya familiar.
Dan ya, saya senang kalau hotel berbintang masih memberi
ruang untuk minuman tradisional seperti ini.
Menu Sarapannya Hampir Sama di Hari Kedua
Menu yang saya temui saat sarapan pertama ternyata kurang
lebih tetap sama ketika kami sarapan lagi di hari kedua. Saya yang sudah jatuh
suka pada cake tape ketan pisang tentu saja nyoba lagi.
Gak perlu sok eksploratif kalau sudah ketemu yang enak.
Sarapan kedua ini kami sudah lengkap berempat. Hari itu
Sabtu dan suami juga libur kerja, jadi gak ada lagi adegan habis sarapan
langsung berangkat kerja. Akhirnya formasi keluarga lengkap benar-benar terjadi
di meja sarapan, justru menjelang kami pulang.
Kalau dipikir-pikir, memang begitulah menginap kami kali
ini. Dua malam, tapi ritmenya tetap mengikuti kehidupan biasa. Ada yang kerja,
ada yang punya kegiatan kampus, ada yang di hotel saja. Bukan liburan yang
semua orang mendadak bebas dari urusan masing-masing.
Mungkin itu juga yang membuat pengalaman ini terasa santai.
Gak ada agenda yang harus dituntaskan. Siapa yang ada, ya makan bareng. Siapa
yang punya urusan, ya jalan dulu.
![]() |
| Swiss-Bistro di Swiss-Belcourt Bogor Foto: swiss-belhotel.com |
![]() |
| Play Ground di Swiss-Belcourt Bogor Foto: swiss-belhotel.com |
Seharian di Hotel, Akhirnya Pesan Makan ke Kamar
Cerita soal makan belum selesai. Di hari kedua kami kan gak
ke mana-mana. Suami kerja, Alief pun belum ke hotel. Jadi saya sama Aisyah saja
yang tinggal di hotel. Mau keluar juga males.
Akhirnya untuk makan siang kami pesan makanan lewat layanan
kamar. Di Swiss-Belcourt Bogor ada restoran bernama Swiss-Bistro. Sebenarnya
bisa makan langsung di sana, tapi waktu itu kami pilih pesan ke kamar saja.
Lebih praktis, tinggal duduk dan nunggu makanan datang.
Nah, menunya ternyata banyak banget. Ada hidangan pembuka
dan camilan seperti salad, lumpia, dan gado-gado. Ada aneka sup mulai dari sup
buntut, soto kuning Bogor, laksa Singapura, sup krim jamur, sup pangsit, sup
asparagus, sampai tom yum. Pilihan pasta dan burger juga ada.
Lalu ada menu Warisan Nusantara seperti ayam geprek sambal
bawang, nasi goreng, gurame saus asam manis, sate ayam, mie goreng Djawa, dan
tongseng kambing. Makanan pendampingnya juga panjang daftarnya: kentang goreng,
tahu pedas, tempe mendoan, pangsit goreng, tahu telur asin, tahu lada garam,
sampai jamur lada garam.
Belum lagi menu Asia seperti mie kuah pangsit, sapi lada
hitam, fuyung hai, dan masih banyak lagi.
Panjang deh kalau disebutin semua. Intinya, pilihan
makanannya banyak. Dan yang lebih penting, setelah nyobain sendiri, saya justru
merasa rasa makanan dari Swiss-Bistro ini jauh lebih berkesan dibanding
sarapannya.
Kalau gak pesan dan nyobain, saya mungkin gak akan tahu
kalau makanan dari restonya ternyata seenak itu.
Mencoba Menu Swiss Bistro
Waktu itu saya pesan nasi sapi lada hitam, nasi goreng, tahu
telur, dan minumannya saya sudah lupa apa. Jujur, saya gak sempat foto. Bukan
karena tampilannya gak bagus, tapi karena saat makanan datang, saya sudah lapar
banget.
Masalahnya, durasi antara pesan dan makanan diantar lumayan
lama. Saya sampai dua kali reminder ke resto. Kesalahan saya juga
sebenarnya sederhana: saya pesan makanan saat kondisi sudah lapar.
Harusnya jangan.
Karena kalau pesan makanan ketika masih santai, menunggu 30
menit mungkin terasa biasa. Tapi kalau perut sudah protes, lima menit bisa
terasa seperti layanan sedang menjalani proses tender nasional.
Saya pun sempat ngegas karena makanannya lama diantar.
Untunglah begitu makanan datang dan mulai dicoba, emosinya ikut turun.
Nasi sapi lada hitamnya enak. Nasi gorengnya juga enak. Tahu
telurnya pun saya suka. Jelas terasa beda jauh dengan sarapan hotel yang
menurut saya cenderung lebih aman rasanya. Makanan dari Swiss-Bistro justru
lebih kuat dan lebih nendang.
Porsinya memang gak sebesar dan sebanyak yang saya
bayangkan, tapi sebenarnya pas. Mungkin karena waktu itu saya sudah lapar, jadi
makanan yang porsinya harusnya cukup terasa kurang.
Kalau lapar memang cara mikir bisa berubah ya. Haha.
Yang jelas, pengalaman makan siang itu menyelamatkan kesan
saya soal makanan di hotel ini. Sarapan boleh saya kasih 7,5. Tapi Swiss-Bistro
berhasil bikin saya berpikir, “Oh, ternyata dapurnya bisa juga nih.”
Gara-Gara Ada Tiga Hotel Swiss-Bel di Bogor
Nah, malam harinya kami pesan makanan lewat GrabFood. Ini
dia nih yang ternyata jadi akibat dari adanya tiga hotel Swiss-Bel di Bogor.
Waktu memilih lokasi penerima, saya cari
"Swiss-Bel". Tanpa sadar saya cuma melihat nama depannya saja, gak
memperhatikan ujungnya itu Swiss-Belcourt, Swiss-Belinn, atau Swiss-Belhotel.
Padahal sebelumnya saya sendiri sudah tahu kalau di Bogor
ada tiga hotel Swiss-Bel. Ironis ya. Udah tahu, eh tetap aja kena. 😄
Beberapa saat kemudian saya mulai heran. Kok drivernya gak
nyampe-nyampe? Di aplikasi kelihatan sudah dekat, tapi makanan gak datang juga.
Saya tunggu beberapa menit lagi, tetap gak muncul.
Akhirnya kami teleponan. Saya sendiri waktu itu sudah mulai
kepikiran mau protes karena kok lama banget. Eh, ternyata kata drivernya,
makanan sudah sampai dan sudah dititipkan ke satpam hotel.
Lho?
Saya langsung cek ke satpam. Saya tanya, gak ada.
Bolak-balik saya cek, tetap gak ada. Saya balik lagi memastikan ke driver
sampai akhirnya setelah sama-sama cek, baru ketahuan penyebabnya.
Ternyata makanannya diantar ke hotel Swiss yang lain.
Astaga... 😂
Akhirnya saya minta tolong sama drivernya supaya makanannya
diambil lagi lalu diantar ke hotel yang benar. Saya bilang nanti saya ganti
bensinnya dan saya kasih tip. Untunglah drivernya mau.
Di tengah urusan itu, beliau sempat minta tambah lagi buat
rokok. Nah, yang ini saya gak langsung iyakan. Bukan pelit ya, tapi saya juga
gak mau niat ngasih tip malah berubah jadi ikut nyumbang kerusakan kesehatan
orang lain.
Saya bilang nanti saya tambahin ongkos jalannya aja. Dah,
gitu aja.
Alhamdulillah, setelah drama salah antar itu, pesanan
akhirnya sampai juga ke Swiss-Belcourt Bogor.
![]() |
| View malam dan siang dari jendela kamar Swiss-Belcourt Bogor Foto: dokumentasi pribadi |
Dua Kali Kelaparan dalam Sehari
Kalau dipikir-pikir, hari itu saya dua kali diuji kesabaran
oleh urusan makan. Siang harinya makanan dari layanan kamar lama diantar sampai
saya dua kali reminder. Malamnya, giliran makanan dari GrabFood yang
malah jalan-jalan dulu ke hotel lain.
Tentunya ini jadi kisah kedua kelaparan karena kelamaan
nunggu pesanan. Udah makan siangnya lama diantar, makan malam pun pakai salah
antar sehingga telat makan pula.
Padahal niat menginap ini sesederhana pindah tidur dan
pindah tempat makan siang dan malam. Tidurnya sih pindah. Makannya juga dapat.
Cuma ternyata untuk sampai ke makanannya butuh perjuangan.
Untungnya semua berakhir baik. Makanan sampai, perut
kenyang, emosi turun lagi. Memang ada beberapa kejadian yang baru terasa lucu
setelah semuanya selesai. Waktu kejadian sih gak ada lucu-lucunya. Yang ada
cuma lapar.
![]() |
| Kiri: Kolam renang anak. Foto kanan: Gedung residence yang bagian paling bawahnya adalah kolan renang anak itu. Foto: dokumentasi pribadi |
Check-out, Lalu Makan Lagi
Sabtu, 5 Juli 2025, kami check-out dari
Swiss-Belcourt Bogor. Tapi tentu saja perjalanan ini belum selesai sebelum
makan lagi.
Kami meluncur ke Bumi Aki Signature di Sentul. Tadinya mau ke
yang di Bogor saja, tapi karena sudah pernah, kami cari tempat lain. Ya, ke
Sentul itu.
Alhamdulillah suka sih sama tempatnya. Bagus dan nyaman
banget. Kalau makanannya ya gak usah ditanya lagi kualitas dan cita rasanya.
Buat kami, juara lah.
Setelah dua hari sebelumnya urusan makan sempat diwarnai
acara menunggu dan salah alamat, setidaknya makan terakhir sebelum pulang
berlangsung damai. Gak ada reminder, gak ada makanan nyasar ke hotel
lain. Tinggal duduk dan makan.
![]() |
| Pemandangan Kota Bogor dilihat dari lantai 11 Swiss-Belcourt Bogor Foto: dokumentasi pribadi |
Niatnya Cuma Pindah Tidur
Kalau diingat-ingat lagi, sebenarnya tujuan menginap ini
sederhana banget. Cuma pengen pindah tidur, sekalian pindah tempat makan siang
dan makan malam.
Tapi dari rencana yang sesederhana itu, ternyata tetap ada
ceritanya. Ada suami yang tetap berangkat kerja meski lagi menginap di hotel.
Ada saya yang jatuh cinta sama cake tape ketan pisang. Ada makan siang
yang datangnya bikin saya mulai kehilangan kesabaran. Ada juga drama salah
pilih hotel sampai makanan nyasar beberapa kilometer dari tempat saya menunggu.
Kalau semuanya berjalan mulus, mungkin kami cuma pulang
dengan cerita pernah menginap dua malam di Swiss-Belcourt Bogor. Selesai.
Tapi perjalanan memang sering begitu. Yang paling lama
diingat justru bukan bagian yang sudah direncanakan, melainkan
kejadian-kejadian kecil di sela-selanya. Waktu kejadian mungkin bikin kesel,
begitu sudah lewat malah jadi bahan ketawa.
Jadi ya sudah, misi pindah tidur dan pindah tempat makan di
Bogor sudah terlaksana. Dapat bonus latihan sabar nunggu makanan dan pelajaran
penting untuk selalu membaca nama hotel sampai huruf terakhir.
Lumayan. Pulang gak cuma bawa cucian kotor, tapi juga bawa cerita.

.png)
.png)
.png)

.png)
.png)
.png)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.png)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.png)
.png)




.png)
.png)
.jpg)