Petang Horor di Benteng Torre Tidore

15.48
BENTENG TORRE - TIDORE MALUKU UTARA

Sepenggal cerita horor saat mengunjungi Tidore pada bulan April 2017. Sebuah kejadian yang dialami langsung oleh teman trip, dan saya hanya kebagian cerita saat telah pergi dari tempat itu. Entah kenapa, seringkali seperti itu, tahunya ada sesuatu saat sudah beda waktu dan tempat. Mungkin supaya penakut seperti saya, tidak pingsan ketakutan di tempat kejadian 😂

Ada horor di Benteng Torre dan di penginapan yang kami tempati selama 6 hari tinggal di Tidore. Dari penampakan kakek cebol di benteng, hingga rombongan kunti main perosotan di kolam. Belum terlalu basi untuk diceritakan, bukan? 😁

Oh ya, kenalkan ini teman-teman saya saat 7 hari di Tidore. Yuk Annie Nugraha, Mas Dwi Setijowidodo, Deddy Huang, Haryadi Yansyah Omnduut, Mbak Zulfa EmakMbolang, Rifky Papan Pelangi, Mas Eko Nurhuda, Ayu, Mpok Tati. Tentunya ada Bu Woro dan Ci Ita, dalam foto.

Dengan teman-teman travel blogger, berfoto bersama di depan Kedaton Kesultan Tidore

Tidore, Maluku Utara, 12 April 2017.

Hari itu adalah puncak peringatan hari jadi Tidore ke-909 yang digelar di Kedaton Kesultanan Tidore. Saya dan rekan-rekan blogger undangan dari pihak Sultan, hadir sejak pagi hingga siang, mengikuti acara demi acara, yang berujung dengan makan siang di istana bersama para tokoh masyarakat/adat, pejabat istana dan pemerintahan, dan tamu-tamu penting kesultanan Tidore. 

Sebuah pengalaman istimewa untuk diceritakan di sini, sependek saya menjadi travel blogger, hadir di acara penting Tidore. Kalian bisa baca banyak tulisan saya tentang Tidore di blog ini, dengan mengetik kata Tidore di pencarian.

Kelar dari acara di Kedaton pada siang itu, sorenya saya dan kawan-kawan bepergian mengunjungi tempat-tempat wisata terkenal Tidore, salah duanya Benteng Tahula yang berada tak jauh dari penginapan, dan Benteng Torre yang berada di bagian belakang Kedaton Tidore.

Semua berangkat, semua gembira. Inilah Benteng Torre yang saya maksud:
Bangunan Benteng Torre berdiri sejak 1578. Kalau Katerina, berdiri disitu pada 12/4/2017, hanya beberapa menit saja 😅 

Ada pemandangan gunung yang terlihat dari Benteng Torre

Ada pemandangan laut dan Gunung Gamalama di Ternate yang terlihat dari Benteng Torre

Ada sunset dan sunrise yang bisa disaksikan dari Benteng Torre

Sekilas tentang BENTENG TORRE

Benteng Torre dibangun atas perintah Sancho de Vasconcelos atas ijin dari Sultan Gapi Baguna pada tanggal 6 Januari 1578. Ijin tersebut didapat setelah Portugis diusir dari Ternate oleh Sultan Baabullah karena Portugis telah membunuh Sultan Khairun pada tahun 1570. Nama Torre kemungkinan berhubungan dengan nama kapten Portugis pada saat itu yaitu Hernando De La Torre.

Benteng Torre terletak di ketinggian bukit, tepat di bagian belakang Kedaton Kesultanan Tidore. Secara keseluruhan Benteng Torre telah mengalami kerusakan dan hanya menyisakan kurang lebih 30% dari keseluruhan bangunan. Hanya dinding keliling bagian depan saja yang masih berdiri. Diduga akibat gempa yang seringkali terjadi di masa lalu. Setelah berabad-abad, baru pada tahun 2014 Benteng Torre dipugar. 

Benteng Torre berdiri menghadap ke arah tenggara dan berbentuk persegi empat dengan tambahan bangunan setengah lingkaran di sisi barat daya atau bagian kanan depan. Benteng yang dulu berdiri angkuh tersebut, sekarang hampir tiap hari hanya melamun syahdu menyaksikan angin dan ombak bersabung di lautan. 

Untuk mencapai benteng, kita harus menaiki tangga tinggi dan panjang, cukup untuk bikin nafas ngos-ngosan. Tapi di sini udara tidak terlalu gerah, cenderung sejuk, khas udara di ketinggian. Sesampainya di atas, mata kita akan disambut oleh warna-warni bunga yang tumbuh subur di taman benteng. Bersihnya taman, menambah rasa nyaman.  
Benteng Torre -  Bersih dan nyaman

Benteng Torre - Banyak bunga di taman benteng
 
Jika diperhatikan, tumpukan bebatuan muntahan dari gunung masih ada di sekitar benteng. Selebihnya, adalah pemandangan sekeliling yang amat memukau. Ada gunung yang berdiri gagah, desa-desa yang makmur, laut biru dengan kapal melintas sesekali, bahkan pemandangan Gunung Gamalama di Ternate. Semua itu adalah pemandangan gratis yang bisa kita nikmati dari benteng.

Tidore dikenal minim polusi, langitnya senantiasa biru, dan bila malam, bintang-bintang bertaburan, berkelip indah. Maka sudah tentu, saat duduk-duduk sore di benteng bersama kawan, tak cuma mata, paru-paru pun jadi amat dimanjakan.  

Dari benteng yang kian dilanda uzur dan bermetamorfosis menjadi artefak dari masa silam yang hanya dibanggakan warga sekitarnya ini, kita dapat menyaksikan betapa menawannya matahari terbit maupun terbenam di Tidore.

Tangga yang dikeliling batu-batu muntahan dari gunung


Tangga naik, sebab benteng berada di ketinggian bukit

Pemandangan yang terlihat ketika menaiki tangga

Petang Mistis di Waktu Magrib

Keterangan waktu pada foto yang saya ambil dengan kamera Canon EOS 70D saat tiba di Benteng Torre adalah jam 3.58 sore. Artinya, jam 5.58 sore waktu Tidore. Tentunya, jelang magrib saat itu, jam-jam rawan setan, kata orang tua dulu he he

Namun, langit masih benderang. Suasana di benteng pun belum nampak redup, saya pun tidak merasakan ada aura negatif, ataupun sinyal takut ketika sampai di sana. Itu sebabnya, saya percaya diri memasuki benteng, berfoto, sendiri maupun bersama yang lain. Saya mencoba berbagai sudut, berpose dengan kain yang saya bawa. Kalian bisa lihat dari foto yang sudah saya tampilkan di atas.

Salah seorang yang jadi perhatian saya adalah Yayan, sebab dari awal saya lihat cuma dia yang paling berani dan sering berada di tempat-tempat ekstrem benteng. Maksud saya, di bagian tertinggi dan pinggir benteng dengan berbagai pose, mulai dari berdiri, duduk, bahkan berbaring. Tapi, saya tidak menegurnya, sebab saya sendiri sibuk dengan kain kodian, properti berfoto.

Hingga, sampailah saya pada suatu sudut benteng, ada ruang kecil semi terbuka, saya mulai merasa tidak enak berlama-lama berdiri di sana. Tapi tetap saja saya berdiri di sana, mencoba segala gaya, demi foto. Selepas itu, langit mulai gelap, ada warna kemerahan pertanda langit akan tenggelam, dan kami masih di sana, belum mau pergi.

Sesuatu yang tak kasat mata, berkeliaran, entah. Hanya mereka yang "peka" yang melihat, tetapi Yayan, tiba-tiba diberi "keistimewaan" sesaat. Untuk pertama kali dalam hidupnya, mata Yayan melihat penampakan seram!!!!
Yayan banyak terlihat di sini, sekedar BERDIRI atau berjalan kecil lalu balik lagi

Dari DUDUK dan kemudian berbaring, lalu selfie

Sosok cebol dari balik pohon kelapa

Amati 2 foto yang ada Yayan di atas, ada dua pohon kelapa berdiri tegak di sana, di luar benteng. Dari balik salah satu pohon itulah, sesosok mahluk muncul menampakkan diri pada Yayan.

"Seperti apa Yan rupanya? Anak-anak apa orang tua?" tanya saya penasaran.

"Mukanya sih orang tua, mbak. Tapi badannya kayak anak-anak. Persis kayak setan di Film Anak Ajaib!"

Lalu Yayan menunjukan sebuah foto, saya hampir terjengkang kaget melihatnya. Ngeri sekali lah penampakan sosok itu.

"Bandel, sudah dibilangin jangan lihat-lihat ke situ," kata Yuk Annie.

Ternyata, sebelumnya Yayan sudah diperingatkan, tapi masih bandel. Mungkin penasaran ya, akhirnya ditunjukkan wujudnya. Kapok kau Yan!!! hahaha

Magrib, di benteng tua, dan Yayan yang bandel, perpaduan sempurna buat bikin salah seorang dari kami ketakutan. Dan itu, jatuh pada Yayan ha ha 😂

Pantesan, setelah magrib, suasana di benteng mulai nggak enak. Tapi nggak sampai bikin saya merasa ketakutan dan merinding. Mungkin karena banyak temennya, pemberani-pemberani pula he he. Sebetulnya, ada sosok lain di sana, banyak, kata Yuk Annie. Syukurlah saya gak liat apa-apa. Amit-amit jangan sampai, bisa-bisa ga mau bepergian lagi nanti haha.

Kalau diingat lagi, telah magrib saat itu, kami masih di sana, di bagian dalam benteng yang tak beratap. Yang lain masih bernafsu berfoto dengan latar langit jingga, saya sudah menyimpan kamera dan pingin lekas turun. Pingin cepat balik ke penginapan. Penginapan yang ternyata, tak kalah horornya.
Di tempat ini saya agak merinding, tidak berani masuk, padahal disuruh masuk buat foto

Senja, di atas benteng, Ayu.

Ada Horor di Penginapan

Ini bagian terseram yang terjadi selama di penginapan. Tapi lagi-lagi, saya tidak melihat secara langsung, hanya dapat cerita dari sesama teman trip yang menginap di losmen yang sama.

Ohya perlu kalian tahu, pada saat itu belum ada hotel berbintang yang berdiri di Tidore. Hanya ada rumah-rumah yang dijadikan penginapan, atau pun losmen seperti yang kami tempati.

Penginapan kami berada di Kota Tidore, tepat di pinggir jalan utama. Bagian belakangnya amatlah menyenangkan karena langsung menghadap ke laut, tentunya tiap saat punya view terbaik. Tak ada aura angker, atau pun kesan seram pada losmen tersebut. Baik dilihat dari depan, maupun belakang. Kamarnya pun biasa, tidak membuat saya merinding atau merasakan sesuatu. Pada dasarnya, saya memang tidak peka sih, tidak pula bisa melihat atau mendengar sesuatu yang aneh dari dunia lain. Jadi, kesan saya ya selalu sama. Nggak angker he he

Saya menempati kamar yang cukup besar, di dalamnya ada beberapa kasur dan bisa kami tempati berempat, yaitu saya, Yuk Annie, Mbak ZUlfa, dan Mbak Tati. Sedangkan Ayu sendiri di kamar yang lain. Deddy, Mas Eko, Yayan, dan Rifqy, entah di kamar yang mana. Pastinya mereka dapat 1 kamar untuk berdua.

Nah, pada suatu sore jelang magrib, lagi-lagi magrib ya, saya bersama Mas Eko, Deddy, dan Mbak Tati berenang di belakang penginapan. Bukan kolam renanglah pastinya ya, wong langsung laut gitu. Yak, kami berenang di laut, tapi bukan di laut luas, hanya di area terbatas yang diberi pembatas. Kalau kata Rifqy sih, batas antara dunia nyata dan dunia lain wkwk

Di sana ada perosotan, bak kolam bermain anak-anak. Nah, kami berenang-renang di sekitar perosotan itu saja. Kayak gini perosotannya

Area wisata di belakang penginapan

"Kolam Alami" terlihat dari balkon penginapan

Kumpul Main Para Mahluk Halus

Malam itu, suara angin laut begitu ribut. 

Oh ya, tiap malam suara-suara memang terdengar berisik di balik dinding kamar. Entah suara angin, maupun debur ombak. Kadang, saking ributnya, jendela kecil yang menghadap ke laut itu seperti diketok-ketok. 

Ternyata....

Sore selepas kami berenang di belakang penginapan, malamnya ada yang ikutan bermain dan berenang. Ramai sekali, hingga suaranya sangat ribut, bak suara anak-anak yang girang saat bermain bersama teman-temannya. 

Katanya, kata Mas Dwi lho ya, yang pada main itu segerombolan mahluk halus. Dari kunti, sampai pocong juga ada . Hadeuuuh!!!

"Ayu juga liat, Mbak Rien," kata Yayan.

"Jangan-jangan Yuk Annie juga lihat," tebak saya.

"Iya kali mbak."

Alamaaaaak!! Ngeri kali lah. Kenapa pula main di sana malam-malam. Apa karena liat kami main perosotan seru, jadi pingin seru-seruan juga sama rombongan kalian dari alam gaib sana? 😅

Semoga jumpa lagi di trip lainnya tanpa cerita-cerita horor lagi 😃
 
Ada banyak tempat yang saya kunjungi selama di Tidore. Hanya di Benteng Torre saja ada  kejadian horor yang saya tahu. Entah juga kalau yang lain di tempat lain, mungkin ada lagi tapi tak cerita. 

Selama 7 hari 6 malam menginap di Tidore, di penginapan yang sama, hanya satu kali itu saja cerita horor yang ada di penginapan. Itupun bukan terjadi dalam penginapan, tapi di bagian luar, di tempat pemandian terbuka. 

Herannya, saya tidak kapok ke Tidore. Pada bulan Februari 2018, saya kembali ke Tidore, jalan-jalan lagi, dan menginap di penginapan yang sama, tapi beda bangunan, dan di kamar yang berbeda tentunya.

Tak ada cerita horor saat kunjungan kedua di Tidore.

Mungkin juga karena tak ada yang cerita he he.

Video Benteng Torre bisa dilihat pada channel saya berikut ini. Selamat menonton. Jangan lupa like, subscribe, dan komen ya. Terima kasih!


Share this

A mother of two who loves travel and enjoy to share my journey and valuable experiences

Related Posts

Previous
Next Post »

31 Comments

  1. Hahaha. Pengalaman istimewa nian. Tapi dak bikin kapok ye.

    Torre kan memang dekat makam yang idak jauh dari tanggo itu. Mangkonyo rawan nian. Kalo penginapan memang banyak cerito. Kalo dijingok'i berarti wongnyo pemberani. Tapi mun penakut, mato langsung digelapi atau langsung pingsan. Ini cerito rombongan kementrian itu hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dak kapok yuk, walau ada yang seram, di atas itu indah nian pemandangannya.

      Iyo ye, ado makam dekat tangga. Mayan ngeri. Herannya rombongan Yayan tetap ke sana pas pagi-pagi haha

      Hapus
    2. Selamo idak ganggu dan kito tetap jago kelakuan, seharusnyo kito dak perlu takut. Karena sejatinyo kedudukan kito lebih tinggi dibandingkan mereka

      Hapus
  2. Nanggapin komen Yuk annie di atas, alhamdulillah gak liat yang di penginapan. Kami jg beruntung nginep di kamar depan hahaha.

    Ampun penunggu Torre, cuma numpang foto. Nggak ada niat jahat. Sungguh haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ooooh dirimu di kamar depan. Berarti foto yang pada gelimpangan di kamar, yang ada mas Eko tidur dengan kepala masuk kolong ranjang itu, kamar kamu ya Yan? haha enaklah di kamar depan. Kami kamar belakang, viewnyo ke kolam tempat para kunti main perosotan haha

      Hapus
  3. duh mbak Rien, pinginnnnnn kesana
    apalagi semua tersenyum dan fotonya penuh warna
    Mungkin si cebol mahluk gaib pingin ikutan ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pingin ikutan foto2? haha ampuun jangaan

      Hapus
  4. Seru, saya sudah pernah sampai Ambon saja belum ke Tidore. Pasti pemandangan alamnya natural banget. Cerita horornya tidak terlalu menegangkan dibandingkan kemegahan benteng Tidore dan anugrah alam. Indonesia bagus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidore natural banget mas. Saya sampai bercita2 pingin bikin rumah di sana :D

      Saya belum ke Ambon malahan

      Hapus
  5. Nggak bisa merasakan kehadiran "mereka" sebenernya kebahagiaan tersendiri loh, Mbak :) Aku suka benteng-benteng kuno begitu. Sayangnya, "penghuni benteng" juga suka dan pengen kenalan :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak, aku bahagia ga bisa merasakan/melihat/mendengar kehadiran mahluk2 halus itu. Seumur hidup sampai mati, jangan sampai! haha

      Hapus
  6. Bentengnya bersih dan terawat ya, banyak bunga warni warni di bagian depannya. jangan-jangan si cebolnya betah karena lingkungannya asri gitu ya.

    Beruntung ya mbak, nggak bisa lihat yang begituan, jadinya nggak kapok buat ke Tidore lagi

    BalasHapus
  7. Wkwkwkw!
    Sebetulnya kalau rame-rame itu seru kok. Apapun yang kita temuin. Kecuali sendirian dan lagi gak pengen digangguin. Salahnya Yayan, dia gak bilang ke yang lain saat itu juga suoaya bisa kenalan bareng-bareng... Hehe

    BalasHapus
  8. Ya Allah mbaaa... tahu gak aku jadi ga terlalu takut baca ceritanya gegara terhipnotis sama foto-foto liburan mbak dan teman-teman blogger. Bagus banget pemandangannya ya mba Tidore itu. Kalau untuk cerita horornya bisa jadi pelengkap aja nih, hehehe. Ditunggu kisah selanjutnya ya mbak

    BalasHapus
  9. waaah mayan mencekam ceritanya mbak
    tapi jadi kenangan tersendiri ya
    jadi ingat terus,
    cantik sekali benteng tidore ini

    BalasHapus
  10. Ya ampuun... kakek cebol dan rombongan kunti...
    Apa lagi ada acara ya mereka 😅😅😅😅

    BalasHapus
  11. Aku malah kagum sama foto foto pake kainnya mbak Rien loh!

    Idenya dari mana sih? Jadi terlihat lebih jenjang dan tinggi!

    Usul ah sama para desainer kapan-kapan kalo butuh peragawati yang Traveller bisa ke dirimu

    BalasHapus
  12. Kalau liat fotonya, sekilas mirip banget ama benteng Keraton di BauBau Mba, persis banget juga terbuat dari batuan gitu.

    Saya pernah dengar cerita orang-orang tua di sana, katanya dulu para tetua di kesultanan Buton, kalau sholat Jumat ke Maluku sana, ajaib hehehe.
    Entah benar atau enggak, tapi memang sekilas arsitektur kunonya mirip-mirip.

    Kalau ke tempat-tempat baru apalagi di tempat bersejarah gitu, memang selalu ada hal-hal istimewa ya, termasuk yang horor-horor hahaha

    BalasHapus
  13. itu makhluk lainnya iri sama kalian kali mbak, masa manusia aja yang boleh main perosotan dan mandi di laut, mereka juga pengen.

    BalasHapus
  14. Mak Erin lancar sekali yaa liburannya.. trip terooossss😄😄😄 aku yakin kalo gak corona udah beredar kemana-mana pasfi nih hehehe...

    Di bandung kayanya gada benteng yang ada gua belanda dan gua jepang lumayan sama krengkinya ma benteng

    BalasHapus
  15. Kayaknya di hampir semua destinasi wisata PASTI ada makhluk ghoibnya mbaa.
    Ya ALLAH, semogaaa kita tetep ngga bisa lihat hal2 kayak gitu ya.
    Ngeri kaliii :D

    BalasHapus
  16. terpesona dengan kain merah yang menjuntai

    nggak takut kotor? Itu gimana caranya kok bisa sampai sana dengan kain (batik) ya?

    hahaha Mbak Rien selalu aya aya wae

    BalasHapus
  17. Kalau punya teman pemberani dan nggak yang menceritakan horor ya jadinya juga terbawa suasana asik aja menikmati keadaan dan pemandangan di sana haha..

    Yang penting mah alhamdulillah ya mbak, bisa ikutan momen kece bareng travel blogger ke Benteng Torre

    BalasHapus
  18. Benteng Torre ini kalau dari foto-foto mba Rien tampak eksotis dan terawat. Yang berkunjung juga tersenyum gembira, mungkin yang 'tinggal' di sana ikut memberikan sambutan selamat datang. Tapi beruntung yg ga bisa lihat.

    Lha, saya baca semakin ke paragrah akhir, kok rambut2 di tangan malah merinding, ikutan serem.

    BalasHapus
  19. Kalau udh terhipnotis dengan keindahan objek wisatanya maka ingin kembali lagi ya mbak. Walau ada kisah horor yang pernah dialami.

    BalasHapus
  20. Kalau nyata ada, kasihan ya takutnya pada ga mau main ke sana dan nginap di penginapannya. Tapi semua kembali ke pribadinya sih ya. Justru ada yg sengaja mendatangi lokasi yg kata orang ada penghuninya. Mau kenalan kali, hehehe

    BalasHapus
  21. Mbak.. diriku sampe zoom foto yg ada yayannya di atas.. karna penasaran pengen tahu sosoknya kayak apa.

    Tapi berharap juga nggak ngelihat sosok apa2.. takut ggak bisa tidur :D

    BalasHapus
  22. Kalau saya sih yang penting bersama-sama. Kalau sendiri bisa merinding juga, sih hahahaha

    BalasHapus
  23. Wahh, pengin bangett main2 ke sini rame2
    SUnsetnya indaaahhh

    BalasHapus
  24. saya jadi ikut merinding mas :O

    BalasHapus

Leave your message here, I will reply it soon!