Tampilkan postingan dengan label gisting tanggamus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gisting tanggamus. Tampilkan semua postingan

Review Hotel 21 Gisting Tanggamus Lampung: Hotel dengan View Gunung Tanggamus

Kadang, yang paling berkesan dari sebuah perjalanan justru bukan tempat wisatanya, bukan juga acaranya, tapi tempat kita berhenti sebentar untuk tidur, mandi, dan diam sejenak dari riuh hidup yang kita bawa dari kota. Dan lucunya, tempat seperti itu sering kali bukan yang paling mahal, bukan yang paling cantik, tapi yang paling… jujur. 


Hotel 21 Gisting Tanggamus Lampung: Penginapan Sederhana dengan View Gunung yang Tidak Terduga

Saya menemukan kejujuran itu di Hotel 21 Gisting, sebuah hotel di kawasan Gisting, Kabupaten Tanggamus yang awalnya saya pilih bukan karena ekspektasi tinggi, tapi justru karena tidak punya cukup alasan untuk menolaknya. Dalam pencarian hotel di Gisting Tanggamus Lampung yang pilihannya tidak terlalu banyak, kadang yang “tidak bermasalah” justru terasa seperti jawaban terbaik.

Tapi sebelum sampai ke sana, perjalanan ini ternyata punya ceritanya sendiri.

Tanggal 20 September 2025, saya dan rombongan kecil berangkat ke Gisting, sebuah kawasan dataran tinggi yang sejuk dan berada sekitar 75 kilometer dari Bandar Lampung. Wilayah ini sebenarnya bukan tempat yang kekurangan destinasi. Justru sebaliknya, Tanggamus dikenal punya bentang wisata yang lengkap, dari pegunungan sampai pesisir.

Nama-nama seperti Teluk Kiluan yang identik dengan lumba-lumba, atau Pantai Gigi Hiu dengan formasi karangnya yang tajam dan dramatis, sering jadi alasan orang datang jauh-jauh ke sini. Belum lagi kawasan Kota Agung yang hidup dengan aktivitas pesisirnya, termasuk pelabuhan ikan yang menjadi denyut ekonomi masyarakat setempat.

Tapi menariknya, Gisting tetap terasa berbeda. Ia seperti bagian dari Tanggamus yang memilih tidak terlalu ramai. Udara yang sejuk, suasana yang lebih pelan, dan lanskap yang tidak terburu-buru membuat tempat ini terasa seperti jeda di antara banyaknya tujuan.

Dan di situlah saya berhenti. Bukan untuk berlibur panjang, tapi untuk singgah.

Baca juga: Jalan-jalan di Gisting Tanggamus Lampung

Mencari Hotel di Gisting: Antara Harapan, Review, dan Sedikit Spekulasi

Tujuan kami datang sebenarnya sederhana, kondangan. Tapi seperti yang sering terjadi, perjalanan menuju acara yang hanya berlangsung beberapa jam itu justru menyimpan cerita yang jauh lebih panjang. Ide ke Gisting ini datang dari suami saya, yang punya prinsip hidup yang cukup konsisten dan sedikit merepotkan secara teknis: kalau ada anggota timnya menikah, sejauh apa pun, selama tidak menyulitkan, pasti datang.

Masalahnya, definisi “tidak menyulitkan” itu sering kali baru terasa setelah semuanya dijalani. Dan dalam perjalanan ini, salah satu bentuk “tidak menyulitkan” itu diterjemahkan menjadi satu tugas yang cukup krusial: mencari hotel yang layak di Gisting.

Tim kondangan Gisting
Dan seperti biasa, tugas itu jatuh ke saya.

Saya mulai dari yang paling umum. Membuka OTA, membaca Google Review, scrolling blog, sampai akhirnya sadar bahwa mencari hotel di Gisting Tanggamus Lampung itu rasanya bukan sekadar mencari tempat untuk tidur.

Tapi seperti bermain tebak-tebakan nasib.

Bukan karena tidak ada pilihan, tapi karena pilihan yang ada tidak selalu memberikan rasa tenang.

Dari sekitar empat hotel yang saya cek, tiga di antaranya punya ulasan yang cukup untuk membuat saya berhenti dan berpikir ulang. Ada yang bercerita soal pengalaman tidak menyenangkan, ada yang mengeluhkan pelayanan, bahkan ada yang memberi kesan tempatnya kurang nyaman. Saya tidak sedang mencari pengalaman tambahan selain perjalanan ini sendiri, jadi pilihan itu langsung saya singkirkan tanpa banyak kompromi.

Di tengah semua itu, hanya satu nama yang terlihat “aman”. Tidak ada puja-puji berlebihan, tapi juga tidak ada keluhan serius. Namanya Hotel 21 Gisting. Dalam situasi seperti ini, netral itu bukan membosankan, justru menenangkan.

Hotel 21 Gisting

Untuk memastikan, saya bertanya ke teman yang bekerja di dinas pariwisata Lampung. Jawabannya sederhana, tanpa dramatisasi. Dia sudah beberapa kali menginap di sana dan selalu memilih hotel itu setiap ada tugas ke Gisting. Tidak ada kalimat promosi, tidak ada penjelasan panjang. Tapi justru karena itu, saya percaya.

Tanpa menunggu lama, saya langsung menghubungi pihak hotel melalui nomor yang tertera. Responsnya cepat, jelas, dan komunikasinya terasa enak. Setiap pertanyaan saya dijawab dengan lancar, tanpa kesan ribet. Di situ saya mulai merasa, mungkin ini pilihan yang tepat.

Informasi hotel ini kemudian saya sampaikan ke suami, karena proses pemesanan akan dilakukan oleh timnya di kantor yang ikut dalam perjalanan. Sistemnya sederhana. Transportasi ditanggung kantor, penginapan masing-masing. Jadi ini semacam perjalanan bersama dengan tanggung jawab pribadi.

Meski begitu, saya tetap berkomunikasi langsung dengan pihak hotel untuk berbagai kebutuhan selama menginap. Dan ternyata, keputusan itu memudahkan banyak hal. Kadang, komunikasi langsung memang menyelesaikan hal-hal kecil yang kalau diwakilkan justru jadi panjang.


Kami berangkat berdelapan. Dua laki-laki, enam perempuan. Saya satu-satunya yang bukan bagian dari kantor suami, jadi secara tidak resmi saya ini seperti “tamu dari tamu”. Tapi dalam perjalanan panjang seperti ini, status cepat sekali melebur. Semua jadi sama, sama capek, sama lapar, dan sama berharap pilihan hotelnya tidak salah.

Kami berangkat dengan satu kendaraan. Muat, jalan, hemat, dan alhamdulillah sampai dengan selamat.

Di titik itu, saya belum tahu apakah Hotel 21 Gisting ini akan jadi bagian dari cerita yang menyenangkan atau justru jadi bahan evaluasi diam-diam sepanjang perjalanan pulang. Bahkan sore harinya, ketika kami sempat turun ke kawasan Pelabuhan Ikan Kota Agung dan melihat sisi lain Tanggamus yang lebih ramai dan dinamis, saya masih belum sepenuhnya tahu apakah pilihan hotel ini akan mengimbangi semua pengalaman itu.

Tapi satu hal yang saya tahu, dalam perjalanan seperti ini, keputusan kecil seperti memilih hotel sering kali terlihat sepele.

Sampai akhirnya kita benar-benar harus tidur di dalamnya.

Check In Pagi di Hotel 21 Gisting Tanpa DP: Datang Lebih Cepat, Istirahat Lebih Cepat

Kalau ada satu hal yang biasanya pasti dalam dunia perhotelan, itu adalah jam check-in. Dan kalau ada satu hal yang biasanya tidak bisa ditawar, itu juga jam check-in. Jadi ketika kami sampai di Hotel 21 Gisting sekitar pukul 09.30 WIB, saya sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan paling realistis: menunggu.

Duduk di lobi, pura pura santai, sambil sesekali melihat jam dan bertanya dalam hati kenapa waktu berjalan lebih lambat saat kita lelah.

Tapi ternyata, logika itu tidak berlaku di Hotel 21 Gisting Tanggamus Lampung.

Kami justru langsung dipersilakan masuk kamar.

Tidak ada jeda dramatis. Tidak ada kalimat “ditunggu ya Kak”. Tidak ada ekspresi ragu dari staf. Semuanya berjalan seperti hal itu memang wajar terjadi, padahal bagi saya itu sudah masuk kategori kemewahan yang jarang ditemui.

Belakangan saya paham, ada beberapa alasan kenapa kami bisa check-in lebih awal. Kamar yang kami pesan memang kosong dari malam sebelumnya, komunikasi kami dengan pihak hotel sudah cukup intens, dan mereka yakin kami benar-benar akan datang. Kombinasi yang sederhana, tapi jarang sekali terasa semulus ini.

Setelah perjalanan panjang dari BSD sejak dini hari, menyeberangi Selat Sunda, lalu melanjutkan perjalanan darat dari Bakauheni menuju Tanggamus, momen bisa langsung masuk kamar itu rasanya bukan sekadar nyaman.

Itu penyelamatan.

Saya bisa langsung mandi, rebahan, dan mengembalikan sedikit sisa energi sebelum harus bersiap menghadiri acara di jam 11 siang. Capek perjalanan perlahan turun, badan mulai terasa normal lagi, dan untuk pertama kalinya sejak subuh, saya tidak merasa sedang dikejar waktu.

Jam 9.30 WIB abis check-in sudah boleh langsung masuk kamar

Tanpa DP dan Deposit: Ketika Kepercayaan Datang Lebih Dulu

Lalu ada satu hal lagi yang menurut saya cukup menarik, bahkan sedikit tidak biasa.

Kami booking hotel ini via WhatsApp beberapa hari sebelumnya, dan tidak diminta DP sama sekali.

Saya sempat menganggap ini sebagai keberuntungan kecil. Tapi ternyata ceritanya belum selesai. Saat tiba di hotel pun, kami tidak langsung diminta pembayaran. Dan yang lebih mengejutkan, pembayaran baru dilakukan setelah check-out.

Di titik itu saya sempat berpikir, ini bukan sekadar sistem pembayaran, ini sudah masuk ke ranah kepercayaan. 

Apakah ini berlaku untuk semua tamu? Saya tidak tahu. Tapi setidaknya, pengalaman menginap di Hotel 21 Gisting tanpa DP dan dengan pembayaran setelah check out ini jadi salah satu hal yang cukup membekas buat saya.

Karena di tengah dunia yang serba minta jaminan di awal, ada tempat yang memilih untuk percaya dulu.

Dan itu… agak jarang.  

Gerbang Hotel dengan Siger. Jalan ke kanan arah ke jalan raya Gisting

Bangunan Lama Hotel 21 Gisting Tanggamus Lampung: Tidak Modern, Tapi Tidak Bermasalah

Kalau bicara soal tampilan, Hotel 21 Gisting ini bukan tipe hotel yang akan membuat orang berhenti di depan gerbang lalu berkata, “Wah, ini dia.”

Letaknya tidak persis di pinggir jalan utama Gisting, tapi sedikit masuk ke dalam, sekitar 100 meter. Tidak jauh, tapi cukup untuk membuatnya terasa lebih tenang. Di bagian depan ada gerbang dengan bentuk siger khas Lampung, yang seolah memberi tanda bahwa kita sudah masuk ke wilayah yang punya identitas sendiri.

Bangunannya berwarna biru terang, dengan desain yang bisa dibilang… jujur. Model lama, tanpa banyak sentuhan modern, dan tidak berusaha terlihat seperti hotel baru. Teman saya sempat nyeletuk bahwa tampilannya mirip kantor PDAM, dan entah kenapa saya tidak bisa langsung membantah. Tapi di saat yang sama, saya juga tidak merasa itu masalah besar.

Karena tidak semua tempat harus terlihat baru untuk bisa terasa nyaman.

 
Kalau diperhatikan lebih lama, bangunannya justru mengingatkan saya pada sekolah. Struktur yang sederhana, fungsional, dan tidak banyak gimmick. Hotel ini terdiri dari tiga lantai tanpa lift, dan kami mendapat kamar di lantai dua. Masih dalam batas wajar untuk naik turun tanpa harus mengambil napas panjang sambil merenungi hidup.

Ukuran hotel ini ternyata cukup besar, dengan area meeting room di gedung terpisah. Tidak heran kalau tempat ini sering digunakan untuk acara acara pemerintahan atau pertemuan resmi, seperti yang sempat diceritakan oleh teman saya sebelumnya. Ada kesan bahwa hotel ini memang lebih fokus pada fungsi, bukan sekadar tampilan.

Saat pertama datang, kami langsung disambut oleh staf resepsionis yang ramah dan membantu. Tidak berlebihan, tidak dibuat buat, tapi cukup untuk membuat kami merasa diterima.

Salah satu yang paling berkesan buat saya adalah komunikasi dengan Mbak Afi, yang sejak awal sudah terasa hangat dan responsif. Dari proses tanya jawab sebelum datang, sampai saat kami tiba di lokasi, semuanya terasa lancar.

Tidak ada kesan kaku, tidak ada rasa sungkan untuk bertanya, dan yang paling penting, semua terasa dimudahkan.

Bahkan dari beliau juga kami mendapat rekomendasi tempat makan pagi di Rumah Makan Kartini, yang pada akhirnya benar-benar menyelamatkan pagi kami.

Dan di situ saya mulai sadar, kadang pengalaman menginap itu bukan cuma soal kamar atau fasilitas.

Tapi juga soal orang orang di dalamnya.

Karena tempat bisa saja sederhana, tapi kalau orang orangnya tepat, rasanya tetap nyaman.

Tipe Kamar dan Harga Hotel 21 Gisting Tanggamus Lampung: Sederhana, Masuk Akal, dan Tidak Membingungkan

Kalau ada satu hal yang saya syukuri dari Hotel 21 Gisting, itu adalah pilihan kamarnya tidak dibuat rumit. Tidak ada istilah-istilah yang terdengar mewah tapi sebenarnya sama saja, tidak ada juga tipe kamar yang bikin kita harus berpikir keras membedakan satu dengan yang lain. Semuanya sederhana, jelas, dan… masuk akal.


Hotel 21 Gisting Tanggamus Lampung ini punya tiga tipe kamar, dan masing masing punya fungsi yang cukup jujur sesuai kebutuhan tamu. Tidak berusaha terlihat lebih dari yang sebenarnya, tapi juga tidak mengecewakan.

Pilihan tipe kamar di Hotel 21 Gisting:

  • Standar
    Tanpa AC
    Tanpa water heater
    Cocok untuk yang tahan udara dingin Gisting
  • Deluxe
    Menggunakan AC
    Tersedia water heater
    Lebih nyaman untuk yang tidak akrab dengan air dingin
  • Family room
    Ruangan lebih luas
    Cocok untuk keluarga atau rombongan

Kalau bicara soal udara, sebenarnya menginap di Gisting tanpa AC itu bukan masalah besar. Suhunya sejuk sepanjang hari, khas daerah dataran tinggi. Secara teori, saya bisa saja memilih kamar standar dan tetap bertahan.

Tapi teori sering kali kalah dengan realita. Masalahnya bukan di udara, tapi di air.

 
Saya mungkin bisa berdamai dengan dinginnya udara, tapi untuk mandi air dingin di pagi hari, di daerah yang sudah dingin, itu bukan kompromi. Itu ujian. Dan saya tidak sedang mendaftar untuk itu.  

Jadi tanpa banyak diskusi batin, saya dan suami memilih kamar deluxe, sementara teman-teman lain yang lebih berani memilih kamar standar dengan harga yang lebih ekonomis. 


Harga kamar dan fasilitas (update terakhir saat saya cek):

  • Kamar standar sekitar 170 ribu per malam
  • Kamar deluxe sekitar 270 ribu per malam
  • Kamar family sekitar 900 ribu per malam

Fasilitas tambahan:

  • Sarapan untuk dua orang
  • Pilihan menu nasi uduk, nasi kuning, mie goreng, atau nasi goreng
  • Minuman teh atau kopi
  • Sarapan bisa diantar ke kamar atau dinikmati di lantai tiga

 Selain kamar, hotel ini juga menyediakan ruang pertemuan:

  • Aula sekitar 2,5 juta
  • Meeting room sekitar 900 ribu

Melihat harganya, saya sempat berpikir, ini hotel tahu dirinya di mana. Tidak mencoba bersaing dengan hotel kota, tapi juga tidak menjatuhkan kualitas demi murah. 

 
Sarapan Sederhana, Kopi Lampung, dan Pagi yang Tidak Terlalu Buru-Buru

Kami sebenarnya sempat diajak sarapan di lantai atas, tapi karena jadwal cukup padat dan harus lanjut ke Lampung Timur, akhirnya kami memilih sarapan di kamar saja. Keputusan yang ternyata terasa tepat.

Saya memesan nasi uduk, suami memilih menu yang jauh lebih sederhana, dua telur rebus. Untuk minuman, saya pilih teh, dan suami tentu saja memilih kopi.

Kopi Lampung.

Katanya kopi itu diolah secara tradisional, dan menurut suami rasanya enak. Saya percaya saja. Karena saat itu suami menikmatinya sambil melihat pemandangan yang tidak semua orang bisa dapatkan dari balkon kamar hotel.

Dalam kondisi seperti itu, kopi apa pun rasanya mungkin akan naik kelas. 

View Gunung Tanggamus dari Balkon Kamar: Hal Sederhana yang Tidak Bisa Dibeli di Kota

Kamar deluxe yang saya tempati berada di posisi pojok lantai dua, menghadap ke arah jalan besar. Dari tangga lobi, posisinya di sisi kanan, dan entah kenapa posisi itu terasa seperti dapat bonus kecil yang tidak direncanakan.

Begitu masuk kamar, kesannya sederhana tapi bersih. Tidak ada bau rokok (ya, memang bukan smooking room), tidak ada kesan berdebu, dan semua terasa cukup terawat. Kasur dan sprei bersih, ada TV, AC, lemari, dan yang paling penting, ada akses ke balkon.

Kamar mandinya cukup luas, meskipun desainnya masih lama. Tapi bersih dan nyaman digunakan. Satu catatan kecil ada di keran kloset yang airnya sedikit terlalu bersemangat, sampai kadang menyembur ke mana-mana. Tapi di luar itu, water heater berfungsi dengan baik, dan itu sudah cukup membuat saya merasa damai.

Yang menarik, ternyata balkon ini bukan hanya milik kamar deluxe. Semua kamar yang sejajar dengan posisi kami, termasuk tipe standar, juga punya balkon dengan arah yang sama.

Artinya, mau pilih kamar standar atau deluxe, tetap punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan pemandangan yang sama.

Dan di situlah kejutan sebenarnya.


Pagi itu, Gunung Tanggamus terlihat jelas dari balkon kamar kami. Utuh, gagah, dan terasa dekat. Saya yang sudah lama tidak melihat pemandangan gunung seperti ini hanya bisa diam sejenak, memperhatikan tanpa banyak komentar.

Ada rasa yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar senang, tapi juga seperti diingatkan bahwa hal-hal sederhana seperti ini ternyata masih bisa terasa sangat berarti.

Kami sempat berfoto beberapa kali, bergantian, seperti takut momen itu hilang begitu saja.

Dan memang, tidak lama kemudian, perlahan awan datang. Menutup puncaknya sedikit demi sedikit, sampai akhirnya gunung itu benar-benar hilang dari pandangan.

Cepat sekali.

Sampai saya sempat merasa, ini seperti diberi kesempatan melihat sesuatu yang indah sebentar saja, cukup untuk dikenang, tidak untuk dimiliki.

Dan mungkin memang begitu cara kerja banyak hal dalam hidup.

Oh ya, dari balkon itu juga saya sempat melihat sebuah bangunan hotel lain tepat di sebelah Hotel 21, hanya terpisah pagar. Bangunannya terlihat lebih baru, lebih modern, dan sedikit lebih “rapi” secara visual.

Tapi anehnya, saya tidak menemukan informasi tentangnya di Google. Tidak ada review, tidak ada pembahasan. Dari kejauhan terlihat sepi, hanya ada beberapa mobil terparkir tanpa aktivitas yang jelas.

Di situ saya justru merasa, kadang yang terlihat lebih menarik belum tentu yang paling hidup.

Dan yang sederhana, seperti Hotel 21 Gisting ini, justru punya cerita yang lebih nyata.

View dari sisi lain hotel yang berlawanan dengan letak view Gunung Tanggamus

Rumah Makan Kartini di Gisting Tanggamus Lampung: Sarapan Sederhana yang Ternyata Menyentuh

Ada satu hal yang sering saya sadari setiap perjalanan, rencana itu penting, tapi yang benar-benar berkesan justru sering datang dari hal-hal yang tidak direncanakan. Seperti pertemuan saya dengan Rumah Makan Kartini ini.

Sebenarnya saya sudah pernah menyebut tempat ini di tulisan sebelumnya, tapi rasanya tidak adil kalau tidak diceritakan lagi dengan lebih lengkap. Karena jujur saja, sarapan di sini bukan sekadar makan. Ada cerita kecil yang ikut terbentuk di dalamnya.

Semua bermula dari obrolan saya dengan Mbak Afi dari Hotel 21 Gisting saat kami masih di perjalanan dari Bakauheni menuju Tanggamus. Waktu itu pagi, sekitar jam enam, dan seperti biasa, rombongan mulai memikirkan satu hal yang selalu muncul di jam-jam rawan seperti itu: sarapan.

Awalnya kami berencana makan di perjalanan, tapi entah kenapa, keputusan kolektif yang diambil justru menunda sarapan sampai tiba di Gisting. Keputusan yang terdengar sederhana, tapi diam-diam cukup berisiko, karena mencari tempat makan pagi di daerah seperti ini ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Saya sempat mencari sendiri, dan hasilnya cukup konsisten. Banyak tempat makan baru buka sekitar jam sebelas siang. Yang dalam konteks sarapan, itu sudah masuk kategori makan siang yang terlalu dini atau makan siang yang terlambat, tergantung sudut pandang.

Akhirnya saya bertanya ke pihak hotel. Dan di situlah nama Rumah Makan Kartini muncul. Kata Mbak Afi, tempat ini sudah buka sejak pagi, bahkan cenderung sepanjang hari. Lokasinya dekat dari hotel, dan yang paling penting, sop ayam kampungnya enak.

Kalimat terakhir itu cukup untuk membuat kami sepakat tanpa perlu rapat panjang.

Dalam bayangan saya, rumah makan ini akan seperti rumah makan besar yang biasa ditemui di jalur lintas Sumatera. Luas, ramai, dengan deretan lauk yang panjang seperti etalase harapan.

Ternyata saya terlalu optimis.

Bangunannya sederhana, bahkan cenderung kecil. Bagian depannya menggunakan kaca dengan tulisan nama rumah makan dan nomor kontak yang terpampang apa adanya. Tidak ada usaha untuk terlihat mewah, tidak ada desain yang dibuat-buat. Hanya sebuah tempat makan yang jujur dengan fungsinya.

Saat kami datang, tempat itu sudah buka, dan rak hidangan di dalamnya sudah terisi berbagai lauk yang siap dipilih. Tidak ada pengunjung lain saat itu, sampai akhirnya kami datang dan langsung memenuhi satu meja panjang di bagian belakang.

Jumlah mejanya tidak banyak. Dua meja panjang yang bisa menampung beberapa orang, dan beberapa meja kecil lainnya. Tapi entah kenapa, suasananya terasa cukup. Tidak sempit, tidak juga berlebihan.

Kami tidak banyak berdiskusi. Semua langsung sepakat memesan sop ayam kampung.

Dan di titik itu, saya merasa demokrasi berjalan sangat lancar.


Menu andalannya memang sop daging dan sop ayam kampung, dan pilihan kami jatuh pada yang kedua. Ditambah dengan terong balado, jengkol, gorengan, dan teh tawar hangat yang terasa seperti pelengkap wajib dalam situasi seperti ini.

Sop ayam kampungnya bukan tipe sop yang hanya mengandalkan panas. Kuahnya benar-benar gurih, rasanya dalam, dan ayamnya empuk tanpa usaha berlebihan. Jenis makanan yang membuat orang berhenti sejenak, lalu mengangguk pelan tanpa perlu banyak komentar.

Saya jarang bereaksi dramatis terhadap makanan, tapi pagi itu saya cukup yakin bahwa ini bukan sekadar enak. Ini tipe makanan yang membuat perjalanan terasa lebih masuk akal.

Saya dan suami menghabiskan sekitar tujuh puluh ribuan untuk makan berdua. Tidak mahal, tidak juga terlalu murah, tapi terasa sepadan dengan apa yang kami dapatkan.

Perut kenyang, hati senang, dan entah kenapa saya merasa seperti menemukan sesuatu yang memang seharusnya saya temukan.

Di situ saya sempat berpikir, mungkin alasan kami tidak jadi sarapan di pelabuhan, tidak jadi mampir ke tempat lain yang sempat direkomendasikan, adalah karena kami memang diarahkan ke sini. Ke sop ayam kampung ini.

Terdengar berlebihan, tapi perjalanan memang sering bekerja dengan cara seperti itu.

Kalau bicara soal fungsi, Rumah Makan Kartini ini bisa jadi andalan selama menginap di Gisting. Apalagi mengingat Hotel 21 Gisting tidak menyediakan restoran dengan menu lengkap di luar sarapan. Pilihan makan di hotel lebih ke menu sederhana seperti mie atau nasi goreng.

Lokasi rumah makan ini juga cukup dekat, sekitar 100 meter dari hotel, masih dalam jarak jalan kaki yang masuk akal. Jadi untuk sarapan, makan siang, atau bahkan makan malam, tempat ini bisa jadi solusi yang tidak ribet.

Kalau ingin variasi lain, tentu ada pilihan tempat makan lain di sekitar Gisting, mulai dari kafe sampai kedai kecil yang ramai. Tapi kadang, setelah menemukan satu tempat yang terasa pas, keinginan untuk mencari yang lain itu jadi berkurang.

Karena tidak semua yang sederhana bisa terasa cukup.

Dan pagi itu, bagi saya, Rumah Makan Kartini adalah cukup. 

Hotel 21 Gisting Tanggamus Lampung: Pilihan Bijak yang Tidak Menguras Kantong, Tapi Tetap Berkesan

Kadang saya suka heran, kenapa kita sering mengaitkan kenyamanan dengan harga yang tinggi, seolah-olah semakin mahal sebuah hotel, semakin layak ia untuk dikenang. Padahal dalam perjalanan, logika seperti itu sering kali patah di tengah jalan.

Seperti pengalaman saya di Hotel 21 Gisting ini.

Perjalanan ke Tanggamus sebenarnya bukan yang pertama buat saya. Tahun 2015, saya pernah datang ke daerah ini bersama teman teman blogger, diundang oleh Dinas Pariwisata untuk meliput dan meramaikan Festival TelukSemaka. Waktu itu kami menginap di sebuah tempat bernama Penginapan Pelangi. Semacam homestay, sederhana, ramai, dan penuh cerita.

Lucunya, saya masih ingat nama penginapannya, tapi lupa lokasinya.

Di blog lama saya bahkan ada fotonya, tapi tidak ada keterangan alamat yang jelas. Di situ saya baru sadar, mencatat itu bukan cuma soal dokumentasi, tapi juga cara kita menghargai perjalanan. Supaya suatu hari nanti, kalau kita kembali ke tempat yang sama, kita tidak hanya mengingat rasanya, tapi juga tahu ke mana harus melangkah.

Entah sekarang Penginapan Pelangi itu masih ada atau tidak, masih digunakan untuk kegiatan seperti Festival Teluk Semaka atau tidak, saya juga tidak tahu. Waktu berjalan, informasi tertinggal, dan saya pun sudah cukup lama tidak mengikuti perkembangan event di Lampung.

Dan mungkin memang begitu cara perjalanan bekerja.

Kita kembali ke tempat yang sama, tapi dengan cerita yang berbeda.

Kali ini, cerita saya ada di Hotel 21 Gisting.

Kalau dilihat dari luar, hotel ini tidak menawarkan kemewahan. Tidak ada desain yang dibuat untuk menarik perhatian, tidak ada konsep yang sengaja dibentuk untuk terlihat estetik. Tapi justru di situlah letak kejujurannya. Ia tidak mencoba menjadi sesuatu yang bukan dirinya.

Sebagai hotel di Gisting Tanggamus Lampung, tempat ini menawarkan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh banyak orang yang datang ke daerah ini. Tempat istirahat yang bersih, suasana yang cukup nyaman, harga yang masuk akal, dan proses yang tidak menyulitkan.

Untuk perjalanan singkat seperti saya kemarin, satu malam menginap sebelum melanjutkan aktivitas lain, hotel ini terasa lebih dari cukup. Bahkan untuk beberapa malam pun masih sangat layak, terutama kalau sebagian besar waktu dihabiskan di luar.

Secara biaya, hotel ini memang tidak menguras kantong. Tapi kalau bicara pengalaman, saya justru merasa apa yang saya dapatkan lebih dari yang saya bayar. 

Karena di balik harga yang sederhana, ada hal yang tidak semua hotel punya.

Pemandangan.

Dari balkon kamar, saya bisa melihat Gunung Tanggamus berdiri tenang di kejauhan. Dan pemandangan seperti itu, kalau harus diberi nilai, rasanya tidak pernah benar benar murah.

Di kota, kita mungkin bisa membayar mahal untuk mendapatkan view. Tapi di sini, view itu datang sebagai bonus. Tanpa diminta, tanpa dibuat buat, hanya ada begitu saja.

Dan di situ saya mulai berpikir, mungkin yang mahal itu bukan hotelnya. Tapi momen yang kita dapatkan di dalamnya.

Jadi kalau suatu saat kalian punya keperluan di Gisting, entah itu untuk acara, pekerjaan, atau sekadar singgah dalam perjalanan, Hotel 21 Gisting ini bisa jadi pilihan yang cukup bijak.

Bukan karena dia yang paling mewah. Tapi karena dia tidak membuat kalian menyesal sudah memilihnya. Dan kadang, dalam perjalanan, itu sudah lebih dari cukup.

Wisata Gisting Lampung 2025: Dari RM Kartini Sampai Pelabuhan Kota Agung

Gisting di Kabupaten Tanggamus, Lampung, adalah salah satu destinasi wisata yang menawarkan udara sejuk, pemandangan perbukitan, serta beragam kuliner khas. Dalam artikel ini saya berbagi pengalaman jalan-jalan di Gisting, rekomendasi tempat makan, hotel, hingga spot menarik yang bisa kamu kunjungi. 


Perjalanan ke Gisting Tanggamus Lampung Setelah 10 Tahun

Saya kadang curiga pada perjalanan yang tidak direncanakan. Biasanya, yang tidak direncanakan itu entah berujung pada kisah paling berkesan, atau paling melelahkan. Tidak jarang juga dua-duanya sekaligus. 

Maka ketika suami tiba-tiba bilang, “Kita ke Lampung, ya. Ada undangan nikah,” saya tidak langsung menjawab. Bukan karena tidak mau, tapi karena otak saya sedang menghitung: Lampung itu jauh, Tanggamus itu lebih jauh lagi, dan saya ini manusia yang kalau sudah nyaman di rumah, bisa tiba-tiba merasa semua tempat di luar sana terlalu ambisius. Namun hidup, seperti biasa, punya cara sendiri untuk menyeret saya ke petualangan.

September 2025 menjadi momen kembalinya saya ke Tanggamus, Lampung, untuk kedua kalinya. Sepuluh tahun setelah kunjungan pertama pada 2015. 

Kalau setiap detik dalam satu dekade itu bisa dikonversi menjadi uang seratus ribu rupiah, mungkin saya sudah bisa membangun monumen peringatan: “Di sini berdiri seseorang yang akhirnya kembali ke Tanggamus setelah sepuluh tahun, tanpa jadi triliuner.” Sayangnya tidak. Yang ada hanya saya, sebuah tas kecil, dan satu rombongan manusia kantor yang setengah mengantuk.

Jejak pertama ke Tanggamus saat mengikuti D’Semaka Tour 2015, Alfatihah untuk alm. Elvan (berdiri paling tengah di belakang spanduk, bersyal oranye, memakai topi), staf Dispar Tanggamus yang mengundang para blogger ke Festival Teluk Semaka 2015. 

Undangan Nikah, Alasan Resmi Menjadi Turis Dadakan

Perjalanan ini bukan agenda pribadi saya, melainkan agenda sosial suami. Suami punya satu prinsip hidup yang konsisten: kalau ada anggota timnya menikah, sejauh apa pun lokasinya, ia ingin datang langsung. Katanya, doa dan kehadiran itu terasa berbeda dibanding sekadar transfer dan ucapan di grup WhatsApp. 

Saya tidak membantah. Saya hanya menambahkan dalam hati, semoga suatu hari ada yang menikah di Kanada atau Spanyol. Bukan apa-apa, saya ingin ikut suami menunaikan tugas sosial sambil jalan-jalan.

Dulu kami pernah kondangan ke Purwokerto dan Cilegon, dan waktu itu hanya kami sekeluarga: saya, suami, dan anak-anak. Kali ini berbeda. Rombongan. Satu mobil penuh. Semuanya anak muda, masih single, dan saya otomatis naik pangkat menjadi ibu yang ikut nyempil di antara anak-anak kantor.

Anehnya, saya tidak canggung. Mungkin karena usia akhirnya mengajarkan satu hal penting: tidak semua perbedaan generasi harus jadi tembok. Sebagian bisa jadi jembatan. Sebagian lagi cukup jadi bahan bercanda.

Bonusnya, saya pernah ke Tanggamus. Artinya, saya punya satu modal sosial yang cukup bergengsi: “Saya tahu dikit tempat di sana.” Dikit, tapi cukup untuk sok jadi tour guide. Saya bahagia. Akhirnya ada fungsi nyata dari memori sepuluh tahun lalu.

Rombongan yang berangkat. 1 mobil 8 orang, termasuk saya yang tidak in frame karena bagian yang pegang kamera 😂


Perjalanan Menuju Gisting Tanggamus Lampung via Pelabuhan Merak

Kami berangkat Sabtu dini hari, 20 September 2025. Harapannya, supaya bisa menyaksikan prosesi akad nikah yang akan berlangsung jam 9 pagi. Tapi misalkan gak keburu, hadir di resepsinya saja sudah cukup.

Teman-teman suami berkumpul di kantor lalu menjemput kami di BSD, dan dari situ langsung menuju Merak. Delapan orang ikut dalam perjalanan ini. Dua laki-laki duduk di depan, bergantian menyetir. Enam perempuan mengisi baris tengah dan belakang.

Barang bawaan minimalis, masing-masing satu tas pakaian untuk dua kali ganti. Rencana perjalanan pun sederhana: pergi Sabtu dini hari, pulang Minggu malam.

Saya lupa jam berapa tepatnya tiba di Pelabuhan Merak karena tidak sempat memotret apa pun sebagai penanda waktu. Foto pertama saya justru diambil saat sudah berada di kabin penumpang dek paling atas kapal, pukul 03.30 WIB. Teman-teman suami sudah dalam posisi paling nyaman versi masing-masing, lengkap dengan berbagai camilan di atas meja. 

 
Saya dan suami memilih bangku rebah seperti kursi santai di pinggir kolam. Kabin ini bersih, sofanya empuk, indoor, ber-AC, dan memiliki dinding kaca besar yang menghadap laut. 

Toiletnya juga bersih dan kering. Mushola berada di dek bawah turun satu kali, lengkap dengan tempat wudhu yang nyaman. Hal-hal kecil seperti ini sering luput dari sorotan, padahal justru di sanalah rasa syukur sering bersembunyi.

Selama penyeberangan, saya dan suami sempat tidur, lalu terbangun sekitar pukul lima untuk salat subuh. Tidak ada matahari terbit karena langit mendung. September memang sedang rajin hujan. Dan entah kenapa, semuanya terasa cocok.

Video pendek berikut ini membantu memberi gambaran suasana subuh di kapal yang kami naiki:

 
Sarapan di Gisting Tanggamus Lampung: RM Kartini dan Hotel 21 Gisting

Kami keluar kapal sekitar pukul 05.32 WIB. Saya sempat nyeletuk soal sarapan, tetapi tidak ada yang merespons. Bukan karena jahat, lebih karena semua masih hidup setengah sadar.

Mobil langsung melaju meninggalkan pelabuhan, masuk tol, dan mengikuti arahan Google Maps menuju Tanggamus.

Saya mulai membuka peta, mencari kemungkinan tempat makan, bahkan sempat bertanya ke Mbak Alya soal rekomendasi di Bandar Lampung. Sayangnya, semangat saya tidak menular. Mobil tetap melaju lurus.

Di titik ini, saya mulai bernegosiasi dengan lambung sendiri. Sebagai pemilik maag setia, saya tahu betul tanda-tandanya.

Saya lalu menghubungi Hotel 21 Gisting. Mbak Afi memberi kabar baik: tidak ada kafe pagi, tetapi ada warung makan dekat hotel yang buka 24 jam, namanya RM Kartini. Saya langsung merasa seperti baru dikirimi oksigen.

Kami tiba di Gisting sekitar pukul sembilan pagi. Di titik itu saya sadar, perjalanan ini bukan tentang kembali setelah sekian lama, melainkan tentang diberi kesempatan untuk kembali. Dengan cara yang sederhana. Tanpa pesta. Tanpa rencana besar. Hanya dengan undangan nikah dan satu rombongan ngantuk. 

 
RM Kartini Gisting Tanggamus: Sop Ayam Kampung Enak di Pinggir Jalan Raya

RM Kartini berada di pinggir jalan raya Gisting, dekat pertigaan menuju Hotel 21. Di bagian depan warung tertulis besar RM Kartini, lengkap dengan tulisan Terima Catering dan Sedia Paket Nasi Rp15.000. Entah kenapa, tulisan sederhana seperti itu selalu terasa jujur. Tidak banyak basa-basi. Tidak mencoba terlihat mewah. Hanya memberi tahu apa adanya.

Menu andalannya sop daging sapi dan sop ayam kampung. Tanpa banyak diskusi, semua kompak memesan sop ayam kampung, dengan tambahan terong balado, jengkol, gorengan, dan teh tawar hangat. Di titik ini, demokrasi benar-benar berjalan mulus.

Sop ayam kampungnya bukan sop yang cuma panas. Kuahnya gurih, rasanya sedap, dan ayamnya empuk. Jenis sop yang membuat orang mengangguk pelan sambil berpikir, “Oh, ini serius enak.” Saya benar-benar bahagia. Dan ya, kebahagiaan saya pagi itu bentuknya sangat sederhana.

Saya dan suami makan sekitar tujuh puluh ribuan. Perut kenyang, hati senang. Dan saya pun paham, mungkin hikmah tidak jadi sarapan di pelabuhan, juga tidak jadi mampir ke tempat-tempat yang direferensikan oleh Mbak Alya, adalah agar saya bisa bertemu sop ayam kampung ini. Hidup memang suka bercanda. Kadang juga cukup tahu diri.

Video pendek berikut ini saat kami makan di RM Kartini, Gisting. Penampakan sop ayam kampung yang saya maksud, lebih terlihat di video ini:

 


Review Hotel 21 Gisting Lampung: Pengalaman Menginap dengan View Gunung Tanggamus

Hotel tempat kami menginap saya temukan lewat pencarian Google. Jujur saja, proses memilih hotel di daerah yang tidak terlalu sering saya kunjungi rasanya seperti main tebak-tebakan nasib. 

Dari sekitar empat hotel yang saya cek, tiga di antaranya punya ulasan yang bikin dahi otomatis berkerut. Mulai dari cerita penipuan, staf yang kasar, kesan angker, sampai kamar yang digambarkan seperti gudang. Bukan tipe pengalaman yang ingin saya bawa pulang dari perjalanan singkat ini.  

Di tengah lautan review yang meresahkan itu, hanya satu hotel yang terlihat “aman”. Tidak ada puja-puji berlebihan, tapi juga tidak ada keluhan serius. Namanya Hotel 21 Gisting. 

Hotel 21 Gisting

Kamar type deluxe di lantai 2 yang saya tempati bersama suami

Saya lalu mengonfirmasi ke Mbak Alya, teman saya yang bekerja di Dinas Pariwisata Provinsi Lampung. Ternyata beliau sudah beberapa kali menginap di sana dan selalu menjadikannya pilihan saat ada tugas di Gisting. Dari situ, keraguan saya langsung luruh.

Yang bikin saya makin mantap, respons dari pihak hotel cepat dan jelas. Setiap pertanyaan dijawab dengan lancar, komunikasinya enak, dan tidak ribet.

Saya lalu menyampaikan info hotel ini ke suami, karena proses pemesanan akan dilakukan oleh pihak kantor. Seluruh biaya perjalanan terutama transportasi, memang ditanggung kantor. Kami hanya mengeluarkan uang untuk penginapan dan biaya makan masing-masing. Meski begitu, saya tetap berkomunikasi langsung dengan pihak hotel untuk berbagai keperluan selama menginap.

Kamar type Standar di lantai 2 

Hotel 21 Gisting ternyata cukup besar, berlantai tiga, meski belum dilengkapi lift. Kami mendapatkan kamar di lantai dua, masih dalam batas toleransi napas. 

Stafnya ramah dan membantu, terutama Mbak Afi yang sejak awal komunikasinya terasa hangat. Tidak diminta DP, cukup bayar saat tiba. Bahkan beliau juga yang merekomendasikan RM Kartini sebagai tempat sarapan, yang pada akhirnya benar-benar menyelamatkan pagi kami.

Kamar yang saya tempati bersih dan nyaman. Ada AC, water heater, dan balkon kecil. Saat cuaca cerah, Gunung Tanggamus terlihat jelas dari balkon kamar. Hotel ini bukan tipe hotel mewah ala kota besar, tetapi suasananya tenang dan membuat betah. 

Detail lengkap tentang Hotel 21 Gisting akan saya tulis di postingan terpisah, karena rasanya layak mendapat ruang cerita sendiri.

View Gunung Tanggamus dari balkon kamar

Menghadiri Pernikahan Adat Lampung di Gisting Tanggamus

Setelah sarapan dan check-in, kami langsung bersiap menuju lokasi kondangan. Mandi, berganti pakaian, lalu berangkat. Jarak dari hotel ke tempat acara tidak terlalu jauh, berada di kawasan Gisting Permai, sehingga perjalanan terasa singkat. 

Perjalanan ke lokasi kondangan ini akan melewati objek wisata air terjun Way Lalaan. Salah satu objek wisata yang pernah saya kunjungi 10 tahun yang lalu. Ceritanya dapat dibaca di sini: Air Terjun Way Lalaan Tanggamus.

Cuaca masih hujan gerimis. Sejak keluar hotel, selama di lokasi acara, sampai nanti pulang kembali, hujan seolah setia menemani. Udara pegunungan yang memang sudah dingin bertemu dengan air hujan, membuat suhu terasa semakin menusuk. Namun dingin itu langsung terkalahkan begitu kami tiba di tempat hajatan.

Sambutan ramah, senyum yang tulus, dan sapa yang sopan dari tuan rumah membuat hati terasa hangat. Anggota tim suami yang menikah adalah pihak laki-laki, sementara acara berlangsung di tempat keluarga mempelai perempuan. 

Pengantin pria tampak terkejut melihat kami datang berombongan dari tempat yang cukup jauh. Ekspresi bahagianya terlihat jelas, dan kami dipersilakan duduk di area tamu khusus.

Keluarga pihak perempuan menyuguhkan berbagai hidangan khas Lampung. Meja penuh dengan makanan dan minuman, dan kami diminta mencicipinya. Tak ketinggalan kopi asli Lampung yang dibuat secara tradisional, jadi suguhan paling nikmat di meja tamu kondangan. 

Di sesi hiburan, beberapa teman suami naik ke panggung untuk bernyanyi, menambah suasana meriah dan memberi suka cita bagi kedua mempelai.

Bagi saya, momen ini terasa istimewa. Bisa ikut suami mendoakan langsung pengantin, menyaksikan resepsi pernikahan adat Lampung, sekaligus mencicipi makanan khasnya. 

Di akhir acara, suami dan teman-temannya mengajak pengantin berfoto. Saya ikut berdiri di sana, ikut mengabadikan jejak kecil dari perjalanan ini.

Saat kami pamit, hujan masih turun. Kami bergegas kembali ke mobil, lalu menuju hotel untuk beristirahat. Rencana selanjutnya, sore hari kami akan keluar lagi. Kali ini, bergeser dari suasana hajatan ke suasana laut.

Happy wedding Mas F.

Pelabuhan Perikanan Kota Agung Tanggamus: Menikmati Senja di Teluk Semaka

Sore itu teman-teman mudaku ngajak ke pantai, siapa tahu bisa melihat sunset. Saya langsung curiga. Bukan karena tidak percaya pada konsep senja, tapi karena hujan sejak siang seperti sudah menandatangani kontrak kerja lembur sampai malam. 

Namun manusia, seperti biasa, tetap memelihara harapan, walau tahu harapan itu sering kali hobi menghilang tanpa pamit. Maka ajakan jalan ke Pelabuhan Perikanan Kota Agung itu saya iyakan, meski dengan penuh optimisme palsu. Bukan soal sunset. Lebih ke soal: daripada terdampar di kamar hotel sambil menatap tembok, lebih baik keluar badan sedikit sambil menatap laut.

Pelabuhan Ikan Kota Agung - Sept 2025

Suami memilih tinggal. Bukan karena tidak cinta pantai, melainkan karena cinta yang lebih besar kepada internet stabil. Ada meeting online dengan pak direktur utama, dan di zaman modern ini, hubungan manusia dengan sinyal lebih sakral daripada hubungan jarak jauh. Kamar hotel menyediakan kenyamanan: meja, colokan, WiFi kencang, dan suasana minim drama. 

Sementara saya memilih drama versi jalanan. Maka kami bertujuh berangkat pukul empat sore, di bawah gerimis yang tampak tidak punya niat berhenti.

Pelabuhan Ikan Kota Agung - Sept 2025

Perjalanan dari Hotel 21 Gisting ke Pelabuhan Perikanan Kota Agung sekitar dua puluh tiga kilometer. Kedengarannya sebentar, sampai kamu benar-benar melaluinya. 

Jalanan menanjak, menurun, berkelok, licin, dan dihiasi desa-desa sunyi yang membuat jam biologis merasa sudah magrib sejak sore. Rasanya seperti sedang menyusuri lereng gunung menuju dunia paralel. 

Sesekali papasan dengan motor, mobil, atau truk, dan setiap papasan terasa seperti pengingat lembut dari semesta: “Pelan-pelan saja, hidup ini tidak perlu diburu-buru, kecuali kalau mau celaka.”

Pelabuhan Ikan Kota Agung - November 2015. Dalam jepretan saya : Alm. Mas Elvan. Alfatihah buat beliau.

 
Di tengah perjalanan itu, ingatan saya mendadak meloncat sepuluh tahun ke belakang. Suatu pagi di tempat yang sama, bersama Mbak Evi, Mas Elvan, Mas Banu, Mas Ito, dan Agung. 

Pelabuhan yang ramai, ikan-ikan segar menumpuk ratusan kilogram, orang-orang datang dan pergi dengan mata berbinar, aroma amis menguasai udara seperti parfum resmi kawasan pesisir. Dulu, pelabuhan ini terasa hidup, bising, dan penuh energi. 

Sekarang, saya datang sebagai versi diri yang lebih tua, lebih sering pegal, dan lebih gampang terharu oleh hal-hal sepele.

Seperti inilah suasana pagi di Pelabuhan Ikan Kota Agung yang saya jepret pada 21 November 2015
 

UPTD Pelabuhan Perikanan Kota Agung, yang berada di Kelurahan Pasar Madang, Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Tanggamus, Lampung, adalah pusat kegiatan perikanan utama di kawasan Teluk Semaka. 

Di bawah naungan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung, tempat ini melayani tambat labuh kapal, bongkar muat hasil tangkapan, hingga operasional Tempat Pelelangan Ikan Higienis. 

Informasi ini terdengar sangat resmi, seperti brosur pemerintah. Realitanya, bagi saya sore itu, pelabuhan adalah ruang pertemuan antara laut, manusia, dan harapan yang kadang terlalu tinggi, seperti mimpi melihat sunset di musim hujan.

Kunjungan pertama saya ke pelabuhan ini pada tahun 2015 dapat dibaca di sini: Melihat Lelang Ikan di Pelabuhan Kota Agung

Dulu pas ke sini pagi, dapat sunrise. Kali ini ke sini sore, gak dapat sunset.
 

Kami berjalan di jembatan dermaga, menatap perahu-perahu yang diam, juga nelayan yang sibuk bersiap ke laut. Anak-anak kecil berenang di sekitar dermaga, menunggu koin dilempar seperti sedang bermain undian nasib. 

Saya berdiri, memotret, sambil berpikir betapa sejak dulu sampai sekarang, manusia tetap saja sama: berharap pada lemparan kecil yang mungkin mengubah sore mereka. 

Kami foto-foto, lalu jajan di deretan pedagang pinggir pantai. Dimsum, sate bakso, mochi, dan entah apa lagi, karena perut lebih demokratis daripada pikiran. Semua diterima.

Suasana pinggir pantai Pelabuhan Ikan Kota Agung, Sabtu 20 September 2025

 
Langit sempat memberi sedikit cahaya, seperti teaser film yang ternyata tidak jadi tayang. Sebentar terang, lalu redup lagi. Sunset resmi absen tanpa pemberitahuan. Tidak ada pengumuman, tidak ada permintaan maaf. Hanya langit kelabu yang konsisten dengan pendiriannya. 

Tak lama kemudian, adzan magrib berkumandang. Itu semacam kode halus dari alam semesta bahwa acara mengejar senja sudah selesai, saatnya pulang.

Kami kembali menembus hujan dan jalanan licin. Kali ini terasa lebih horor, mungkin karena gelap, mungkin karena lelah, mungkin karena perasaan bahwa manusia memang suka menantang logika demi sebuah “jalan-jalan sore”. Tujuan kami bukan hotel, melainkan Mauna Café. Tempat untuk salat, makan malam, dan menenangkan diri seolah perjalanan barusan adalah hal yang sepenuhnya normal.

Video Reels berikut memberi gambaran suasana pantai Pelabuhan Ikan Kota Agung sore itu:

Di perjalanan pulang, saya merenung. Kami tidak mendapat sunset. Tidak ada panorama dramatis untuk dipamerkan. Tidak ada langit jingga untuk dijadikan latar foto profil. 

Yang ada hanya hujan, jalan berkelok, jajanan pinggir pantai, bayang hitam puncak Gunung Tanggamus yang tampak mistis, dan tawa kecil di antara lelah. 

Tapi mungkin memang begitu cara perjalanan bekerja. Ia jarang memberi apa yang kita kejar, tapi sering memberi apa yang sebenarnya kita butuhkan. Pertanyaannya, apakah kita bepergian untuk mengoleksi pemandangan, atau untuk mengoleksi versi-versi kecil dari diri kita yang terus berubah di sepanjang jalan?

Dalam video pendek berikut, ada beberapa jajanan yang kami temui di pinggir pantai pelabuhan ikan:



Suasana perjalanan pergi dan pulang dari Gisting menuju Pelabuhan Ikan Kota Agung saya rekam dalam video pendek berikut. Hujan, jalan basah, dan siluet gunung terus hadir mengisi pandang mata:
 

Mauna Café Gisting Lampung: Tempat Nongkrong dan Makan Malam di Tanggamus

Jalan bareng anak-anak muda itu ada efek sampingnya. Bukan bikin kulit ikut kencang, tapi bikin jiwa sok merasa kencang. Sebagai yang paling senior sekaligus berstatus “ibunya rombongan”, saya memilih strategi aman: ikut saja ke mana mereka mau pergi. 

Termasuk ketika urusan makan malam dan mereka menemukan satu nama: Mauna Café. Saya oke saja. Selera makan mereka biasanya tidak ribet dan, jujur saja, saya merasa apa pun pilihannya akan baik-baik saja.

 
Mencari Mauna Café ternyata juga semacam ujian iman kecil. Google Maps mengajak masuk ke kawasan perumahan, belok-belok, lalu muncul rasa ragu khas manusia modern: ini beneran atau sedang dibawa ke jalan buntu kehidupan. Ternyata benar sampai. 

Dan lebih mengejutkan lagi, di tengah perumahan ada kafe yang cukup layak disebut “niat”. Ada area terbuka di tengah, panggung live music, kolam, taman, musala, sampai parkiran. Rasanya seperti menemukan oase kecil yang nyasar ke lingkungan warga.

Menu makanannya variatif. Dari yang kekinian ala barat sampai menu tradisional Indonesia. Saya sendiri sempat blank soal detailnya, sampai akhirnya harus membuka Instagram mereka, @mauna_goodplace, demi mengingat ulang. Dan oh iya, malam itu saya makan ngaliwet. Hangat, sederhana, dan entah kenapa terasa pas setelah seharian pindah lokasi seperti pion catur. Kami salat magrib di sini, menikmati live music yang mengiringi udara malam yang dingin. Lalu saya teringat satu hal penting: suami di hotel.

Video pendek berikut, sedikit dokumentasi suasana Mauna Cafe malam itu:

Demi cinta dan tanggung jawab domestik, saya pun mengingatkan teman-teman suami agar tidak terlalu lama nongkrong. Alasannya mulia: paksu bisa kelaparan. Mereka paham. Kami bergegas pulang, tentu saja dengan ritual wajib mampir minimarket untuk beli camilan. Karena dalam hidup, snack adalah bentuk asuransi kebahagiaan.

Sampai hotel, suami sudah menunggu dengan ekspresi lapar yang masih bisa ditoleransi, berkat stok snack di kamar. Makanan dari Mauna Café pun langsung mendarat dengan selamat. 

Malam ditutup dengan obrolan ringan di chat WA dan konfirmasi sarapan besok pagi. Ternyata bisa diantar ke kamar. Tinggal pilih nasi uduk, nasi kuning, mi goreng, atau nasi goreng. Minumnya teh atau kopi. Dan ya, kopi Lampungnya enak. Ini penting untuk dicatat, demi keadilan rasa. 

Anak-anak cantik dan ganteng

Ibu kucing cantik yang sedang hamil yang menemani selama makan di Mauna Cafe
 

Hari Pertama di Lampung: Dari Gisting Tanggamus hingga Kota Agung

Cerita perjalanan hari pertama di Lampung selesai sampai di sini.

Saya mencoba mengingat ulang hari itu. Sabtu, 20 September 2025. Sejak tengah malam berangkat dari BSD, menyeberang dari Merak ke Bakauheni, pagi tiba di Lampung, lanjut ke Tanggamus, kondangan, istirahat, sore ke Pelabuhan Ikan Kota Agung, malam di Mauna Café, lalu tidur di hotel yang nyaman walau tidak mewah. Padat, melelahkan, tapi entah kenapa terasa cukup.

Mungkin memang begitu cara perjalanan bekerja. Ia tidak selalu memberi apa yang kita rencanakan, tapi sering menghadirkan apa yang diam-diam kita butuhkan.

Minggu pagi, 21 Sept 2025. Siap untuk perjalanan ke TN. Way Kambas di Lampung Timur
 
Besoknya, Minggu 21 September, kami bersiap menuju Way Kambas, Lampung Timur, untuk melihat gajah. Cerita itu akan saya simpan di tulisan lain. 

Untuk sekarang, saya cuma ingin bertanya pelan pada diri sendiri, dan mungkin juga pada kamu yang membaca: sebenarnya, dalam perjalanan seperti ini, yang paling kita cari itu tempat baru, atau versi baru dari diri kita sendiri? 

Terima kasih mas suami dan teman-teman muda yang telah membawa serta saya dalam perjalanan ini. Senang bepergian bersama kalian 💖