Tampilkan postingan dengan label tanggamus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tanggamus. Tampilkan semua postingan

Wisata Gisting Lampung 2025: Dari RM Kartini Sampai Pelabuhan Kota Agung

Gisting di Kabupaten Tanggamus, Lampung, adalah salah satu destinasi wisata yang menawarkan udara sejuk, pemandangan perbukitan, serta beragam kuliner khas. Dalam artikel ini saya berbagi pengalaman jalan-jalan di Gisting, rekomendasi tempat makan, hotel, hingga spot menarik yang bisa kamu kunjungi. 


Perjalanan ke Gisting Tanggamus Lampung Setelah 10 Tahun

Saya kadang curiga pada perjalanan yang tidak direncanakan. Biasanya, yang tidak direncanakan itu entah berujung pada kisah paling berkesan, atau paling melelahkan. Tidak jarang juga dua-duanya sekaligus. 

Maka ketika suami tiba-tiba bilang, “Kita ke Lampung, ya. Ada undangan nikah,” saya tidak langsung menjawab. Bukan karena tidak mau, tapi karena otak saya sedang menghitung: Lampung itu jauh, Tanggamus itu lebih jauh lagi, dan saya ini manusia yang kalau sudah nyaman di rumah, bisa tiba-tiba merasa semua tempat di luar sana terlalu ambisius. Namun hidup, seperti biasa, punya cara sendiri untuk menyeret saya ke petualangan.

September 2025 menjadi momen kembalinya saya ke Tanggamus, Lampung, untuk kedua kalinya. Sepuluh tahun setelah kunjungan pertama pada 2015. 

Kalau setiap detik dalam satu dekade itu bisa dikonversi menjadi uang seratus ribu rupiah, mungkin saya sudah bisa membangun monumen peringatan: “Di sini berdiri seseorang yang akhirnya kembali ke Tanggamus setelah sepuluh tahun, tanpa jadi triliuner.” Sayangnya tidak. Yang ada hanya saya, sebuah tas kecil, dan satu rombongan manusia kantor yang setengah mengantuk.

Jejak pertama ke Tanggamus saat mengikuti D’Semaka Tour 2015, Alfatihah untuk alm. Elvan (berdiri paling tengah di belakang spanduk, bersyal oranye, memakai topi), staf Dispar Tanggamus yang mengundang para blogger ke Festival Teluk Semaka 2015. 

Undangan Nikah, Alasan Resmi Menjadi Turis Dadakan

Perjalanan ini bukan agenda pribadi saya, melainkan agenda sosial suami. Suami punya satu prinsip hidup yang konsisten: kalau ada anggota timnya menikah, sejauh apa pun lokasinya, ia ingin datang langsung. Katanya, doa dan kehadiran itu terasa berbeda dibanding sekadar transfer dan ucapan di grup WhatsApp. 

Saya tidak membantah. Saya hanya menambahkan dalam hati, semoga suatu hari ada yang menikah di Kanada atau Spanyol. Bukan apa-apa, saya ingin ikut suami menunaikan tugas sosial sambil jalan-jalan.

Dulu kami pernah kondangan ke Purwokerto dan Cilegon, dan waktu itu hanya kami sekeluarga: saya, suami, dan anak-anak. Kali ini berbeda. Rombongan. Satu mobil penuh. Semuanya anak muda, masih single, dan saya otomatis naik pangkat menjadi ibu yang ikut nyempil di antara anak-anak kantor.

Anehnya, saya tidak canggung. Mungkin karena usia akhirnya mengajarkan satu hal penting: tidak semua perbedaan generasi harus jadi tembok. Sebagian bisa jadi jembatan. Sebagian lagi cukup jadi bahan bercanda.

Bonusnya, saya pernah ke Tanggamus. Artinya, saya punya satu modal sosial yang cukup bergengsi: “Saya tahu dikit tempat di sana.” Dikit, tapi cukup untuk sok jadi tour guide. Saya bahagia. Akhirnya ada fungsi nyata dari memori sepuluh tahun lalu.

Rombongan yang berangkat. 1 mobil 8 orang, termasuk saya yang tidak in frame karena bagian yang pegang kamera 😂


Perjalanan Menuju Gisting Tanggamus Lampung via Pelabuhan Merak

Kami berangkat Sabtu dini hari, 20 September 2025. Harapannya, supaya bisa menyaksikan prosesi akad nikah yang akan berlangsung jam 9 pagi. Tapi misalkan gak keburu, hadir di resepsinya saja sudah cukup.

Teman-teman suami berkumpul di kantor lalu menjemput kami di BSD, dan dari situ langsung menuju Merak. Delapan orang ikut dalam perjalanan ini. Dua laki-laki duduk di depan, bergantian menyetir. Enam perempuan mengisi baris tengah dan belakang.

Barang bawaan minimalis, masing-masing satu tas pakaian untuk dua kali ganti. Rencana perjalanan pun sederhana: pergi Sabtu dini hari, pulang Minggu malam.

Saya lupa jam berapa tepatnya tiba di Pelabuhan Merak karena tidak sempat memotret apa pun sebagai penanda waktu. Foto pertama saya justru diambil saat sudah berada di kabin penumpang dek paling atas kapal, pukul 03.30 WIB. Teman-teman suami sudah dalam posisi paling nyaman versi masing-masing, lengkap dengan berbagai camilan di atas meja. 

 
Saya dan suami memilih bangku rebah seperti kursi santai di pinggir kolam. Kabin ini bersih, sofanya empuk, indoor, ber-AC, dan memiliki dinding kaca besar yang menghadap laut. 

Toiletnya juga bersih dan kering. Mushola berada di dek bawah turun satu kali, lengkap dengan tempat wudhu yang nyaman. Hal-hal kecil seperti ini sering luput dari sorotan, padahal justru di sanalah rasa syukur sering bersembunyi.

Selama penyeberangan, saya dan suami sempat tidur, lalu terbangun sekitar pukul lima untuk salat subuh. Tidak ada matahari terbit karena langit mendung. September memang sedang rajin hujan. Dan entah kenapa, semuanya terasa cocok.

Video pendek berikut ini membantu memberi gambaran suasana subuh di kapal yang kami naiki:

 
Sarapan di Gisting Tanggamus Lampung: RM Kartini dan Hotel 21 Gisting

Kami keluar kapal sekitar pukul 05.32 WIB. Saya sempat nyeletuk soal sarapan, tetapi tidak ada yang merespons. Bukan karena jahat, lebih karena semua masih hidup setengah sadar.

Mobil langsung melaju meninggalkan pelabuhan, masuk tol, dan mengikuti arahan Google Maps menuju Tanggamus.

Saya mulai membuka peta, mencari kemungkinan tempat makan, bahkan sempat bertanya ke Mbak Alya soal rekomendasi di Bandar Lampung. Sayangnya, semangat saya tidak menular. Mobil tetap melaju lurus.

Di titik ini, saya mulai bernegosiasi dengan lambung sendiri. Sebagai pemilik maag setia, saya tahu betul tanda-tandanya.

Saya lalu menghubungi Hotel 21 Gisting. Mbak Afi memberi kabar baik: tidak ada kafe pagi, tetapi ada warung makan dekat hotel yang buka 24 jam, namanya RM Kartini. Saya langsung merasa seperti baru dikirimi oksigen.

Kami tiba di Gisting sekitar pukul sembilan pagi. Di titik itu saya sadar, perjalanan ini bukan tentang kembali setelah sekian lama, melainkan tentang diberi kesempatan untuk kembali. Dengan cara yang sederhana. Tanpa pesta. Tanpa rencana besar. Hanya dengan undangan nikah dan satu rombongan ngantuk. 

 
RM Kartini Gisting Tanggamus: Sop Ayam Kampung Enak di Pinggir Jalan Raya

RM Kartini berada di pinggir jalan raya Gisting, dekat pertigaan menuju Hotel 21. Di bagian depan warung tertulis besar RM Kartini, lengkap dengan tulisan Terima Catering dan Sedia Paket Nasi Rp15.000. Entah kenapa, tulisan sederhana seperti itu selalu terasa jujur. Tidak banyak basa-basi. Tidak mencoba terlihat mewah. Hanya memberi tahu apa adanya.

Menu andalannya sop daging sapi dan sop ayam kampung. Tanpa banyak diskusi, semua kompak memesan sop ayam kampung, dengan tambahan terong balado, jengkol, gorengan, dan teh tawar hangat. Di titik ini, demokrasi benar-benar berjalan mulus.

Sop ayam kampungnya bukan sop yang cuma panas. Kuahnya gurih, rasanya sedap, dan ayamnya empuk. Jenis sop yang membuat orang mengangguk pelan sambil berpikir, “Oh, ini serius enak.” Saya benar-benar bahagia. Dan ya, kebahagiaan saya pagi itu bentuknya sangat sederhana.

Saya dan suami makan sekitar tujuh puluh ribuan. Perut kenyang, hati senang. Dan saya pun paham, mungkin hikmah tidak jadi sarapan di pelabuhan, juga tidak jadi mampir ke tempat-tempat yang direferensikan oleh Mbak Alya, adalah agar saya bisa bertemu sop ayam kampung ini. Hidup memang suka bercanda. Kadang juga cukup tahu diri.

Video pendek berikut ini saat kami makan di RM Kartini, Gisting. Penampakan sop ayam kampung yang saya maksud, lebih terlihat di video ini:

 


Review Hotel 21 Gisting Lampung: Pengalaman Menginap dengan View Gunung Tanggamus

Hotel tempat kami menginap saya temukan lewat pencarian Google. Jujur saja, proses memilih hotel di daerah yang tidak terlalu sering saya kunjungi rasanya seperti main tebak-tebakan nasib. 

Dari sekitar empat hotel yang saya cek, tiga di antaranya punya ulasan yang bikin dahi otomatis berkerut. Mulai dari cerita penipuan, staf yang kasar, kesan angker, sampai kamar yang digambarkan seperti gudang. Bukan tipe pengalaman yang ingin saya bawa pulang dari perjalanan singkat ini.  

Di tengah lautan review yang meresahkan itu, hanya satu hotel yang terlihat “aman”. Tidak ada puja-puji berlebihan, tapi juga tidak ada keluhan serius. Namanya Hotel 21 Gisting. 

Hotel 21 Gisting

Kamar type deluxe di lantai 2 yang saya tempati bersama suami

Saya lalu mengonfirmasi ke Mbak Alya, teman saya yang bekerja di Dinas Pariwisata Provinsi Lampung. Ternyata beliau sudah beberapa kali menginap di sana dan selalu menjadikannya pilihan saat ada tugas di Gisting. Dari situ, keraguan saya langsung luruh.

Yang bikin saya makin mantap, respons dari pihak hotel cepat dan jelas. Setiap pertanyaan dijawab dengan lancar, komunikasinya enak, dan tidak ribet.

Saya lalu menyampaikan info hotel ini ke suami, karena proses pemesanan akan dilakukan oleh pihak kantor. Seluruh biaya perjalanan terutama transportasi, memang ditanggung kantor. Kami hanya mengeluarkan uang untuk penginapan dan biaya makan masing-masing. Meski begitu, saya tetap berkomunikasi langsung dengan pihak hotel untuk berbagai keperluan selama menginap.

Kamar type Standar di lantai 2 

Hotel 21 Gisting ternyata cukup besar, berlantai tiga, meski belum dilengkapi lift. Kami mendapatkan kamar di lantai dua, masih dalam batas toleransi napas. 

Stafnya ramah dan membantu, terutama Mbak Afi yang sejak awal komunikasinya terasa hangat. Tidak diminta DP, cukup bayar saat tiba. Bahkan beliau juga yang merekomendasikan RM Kartini sebagai tempat sarapan, yang pada akhirnya benar-benar menyelamatkan pagi kami.

Kamar yang saya tempati bersih dan nyaman. Ada AC, water heater, dan balkon kecil. Saat cuaca cerah, Gunung Tanggamus terlihat jelas dari balkon kamar. Hotel ini bukan tipe hotel mewah ala kota besar, tetapi suasananya tenang dan membuat betah. 

Detail lengkap tentang Hotel 21 Gisting akan saya tulis di postingan terpisah, karena rasanya layak mendapat ruang cerita sendiri.

View Gunung Tanggamus dari balkon kamar

Menghadiri Pernikahan Adat Lampung di Gisting Tanggamus

Setelah sarapan dan check-in, kami langsung bersiap menuju lokasi kondangan. Mandi, berganti pakaian, lalu berangkat. Jarak dari hotel ke tempat acara tidak terlalu jauh, berada di kawasan Gisting Permai, sehingga perjalanan terasa singkat. 

Perjalanan ke lokasi kondangan ini akan melewati objek wisata air terjun Way Lalaan. Salah satu objek wisata yang pernah saya kunjungi 10 tahun yang lalu. Ceritanya dapat dibaca di sini: Air Terjun Way Lalaan Tanggamus.

Cuaca masih hujan gerimis. Sejak keluar hotel, selama di lokasi acara, sampai nanti pulang kembali, hujan seolah setia menemani. Udara pegunungan yang memang sudah dingin bertemu dengan air hujan, membuat suhu terasa semakin menusuk. Namun dingin itu langsung terkalahkan begitu kami tiba di tempat hajatan.

Sambutan ramah, senyum yang tulus, dan sapa yang sopan dari tuan rumah membuat hati terasa hangat. Anggota tim suami yang menikah adalah pihak laki-laki, sementara acara berlangsung di tempat keluarga mempelai perempuan. 

Pengantin pria tampak terkejut melihat kami datang berombongan dari tempat yang cukup jauh. Ekspresi bahagianya terlihat jelas, dan kami dipersilakan duduk di area tamu khusus.

Keluarga pihak perempuan menyuguhkan berbagai hidangan khas Lampung. Meja penuh dengan makanan dan minuman, dan kami diminta mencicipinya. Tak ketinggalan kopi asli Lampung yang dibuat secara tradisional, jadi suguhan paling nikmat di meja tamu kondangan. 

Di sesi hiburan, beberapa teman suami naik ke panggung untuk bernyanyi, menambah suasana meriah dan memberi suka cita bagi kedua mempelai.

Bagi saya, momen ini terasa istimewa. Bisa ikut suami mendoakan langsung pengantin, menyaksikan resepsi pernikahan adat Lampung, sekaligus mencicipi makanan khasnya. 

Di akhir acara, suami dan teman-temannya mengajak pengantin berfoto. Saya ikut berdiri di sana, ikut mengabadikan jejak kecil dari perjalanan ini.

Saat kami pamit, hujan masih turun. Kami bergegas kembali ke mobil, lalu menuju hotel untuk beristirahat. Rencana selanjutnya, sore hari kami akan keluar lagi. Kali ini, bergeser dari suasana hajatan ke suasana laut.

Happy wedding Mas F.

Pelabuhan Perikanan Kota Agung Tanggamus: Menikmati Senja di Teluk Semaka

Sore itu teman-teman mudaku ngajak ke pantai, siapa tahu bisa melihat sunset. Saya langsung curiga. Bukan karena tidak percaya pada konsep senja, tapi karena hujan sejak siang seperti sudah menandatangani kontrak kerja lembur sampai malam. 

Namun manusia, seperti biasa, tetap memelihara harapan, walau tahu harapan itu sering kali hobi menghilang tanpa pamit. Maka ajakan jalan ke Pelabuhan Perikanan Kota Agung itu saya iyakan, meski dengan penuh optimisme palsu. Bukan soal sunset. Lebih ke soal: daripada terdampar di kamar hotel sambil menatap tembok, lebih baik keluar badan sedikit sambil menatap laut.

Pelabuhan Ikan Kota Agung - Sept 2025

Suami memilih tinggal. Bukan karena tidak cinta pantai, melainkan karena cinta yang lebih besar kepada internet stabil. Ada meeting online dengan pak direktur utama, dan di zaman modern ini, hubungan manusia dengan sinyal lebih sakral daripada hubungan jarak jauh. Kamar hotel menyediakan kenyamanan: meja, colokan, WiFi kencang, dan suasana minim drama. 

Sementara saya memilih drama versi jalanan. Maka kami bertujuh berangkat pukul empat sore, di bawah gerimis yang tampak tidak punya niat berhenti.

Pelabuhan Ikan Kota Agung - Sept 2025

Perjalanan dari Hotel 21 Gisting ke Pelabuhan Perikanan Kota Agung sekitar dua puluh tiga kilometer. Kedengarannya sebentar, sampai kamu benar-benar melaluinya. 

Jalanan menanjak, menurun, berkelok, licin, dan dihiasi desa-desa sunyi yang membuat jam biologis merasa sudah magrib sejak sore. Rasanya seperti sedang menyusuri lereng gunung menuju dunia paralel. 

Sesekali papasan dengan motor, mobil, atau truk, dan setiap papasan terasa seperti pengingat lembut dari semesta: “Pelan-pelan saja, hidup ini tidak perlu diburu-buru, kecuali kalau mau celaka.”

Pelabuhan Ikan Kota Agung - November 2015. Dalam jepretan saya : Alm. Mas Elvan. Alfatihah buat beliau.

 
Di tengah perjalanan itu, ingatan saya mendadak meloncat sepuluh tahun ke belakang. Suatu pagi di tempat yang sama, bersama Mbak Evi, Mas Elvan, Mas Banu, Mas Ito, dan Agung. 

Pelabuhan yang ramai, ikan-ikan segar menumpuk ratusan kilogram, orang-orang datang dan pergi dengan mata berbinar, aroma amis menguasai udara seperti parfum resmi kawasan pesisir. Dulu, pelabuhan ini terasa hidup, bising, dan penuh energi. 

Sekarang, saya datang sebagai versi diri yang lebih tua, lebih sering pegal, dan lebih gampang terharu oleh hal-hal sepele.

Seperti inilah suasana pagi di Pelabuhan Ikan Kota Agung yang saya jepret pada 21 November 2015
 

UPTD Pelabuhan Perikanan Kota Agung, yang berada di Kelurahan Pasar Madang, Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Tanggamus, Lampung, adalah pusat kegiatan perikanan utama di kawasan Teluk Semaka. 

Di bawah naungan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung, tempat ini melayani tambat labuh kapal, bongkar muat hasil tangkapan, hingga operasional Tempat Pelelangan Ikan Higienis. 

Informasi ini terdengar sangat resmi, seperti brosur pemerintah. Realitanya, bagi saya sore itu, pelabuhan adalah ruang pertemuan antara laut, manusia, dan harapan yang kadang terlalu tinggi, seperti mimpi melihat sunset di musim hujan.

Kunjungan pertama saya ke pelabuhan ini pada tahun 2015 dapat dibaca di sini: Melihat Lelang Ikan di Pelabuhan Kota Agung

Dulu pas ke sini pagi, dapat sunrise. Kali ini ke sini sore, gak dapat sunset.
 

Kami berjalan di jembatan dermaga, menatap perahu-perahu yang diam, juga nelayan yang sibuk bersiap ke laut. Anak-anak kecil berenang di sekitar dermaga, menunggu koin dilempar seperti sedang bermain undian nasib. 

Saya berdiri, memotret, sambil berpikir betapa sejak dulu sampai sekarang, manusia tetap saja sama: berharap pada lemparan kecil yang mungkin mengubah sore mereka. 

Kami foto-foto, lalu jajan di deretan pedagang pinggir pantai. Dimsum, sate bakso, mochi, dan entah apa lagi, karena perut lebih demokratis daripada pikiran. Semua diterima.

Suasana pinggir pantai Pelabuhan Ikan Kota Agung, Sabtu 20 September 2025

 
Langit sempat memberi sedikit cahaya, seperti teaser film yang ternyata tidak jadi tayang. Sebentar terang, lalu redup lagi. Sunset resmi absen tanpa pemberitahuan. Tidak ada pengumuman, tidak ada permintaan maaf. Hanya langit kelabu yang konsisten dengan pendiriannya. 

Tak lama kemudian, adzan magrib berkumandang. Itu semacam kode halus dari alam semesta bahwa acara mengejar senja sudah selesai, saatnya pulang.

Kami kembali menembus hujan dan jalanan licin. Kali ini terasa lebih horor, mungkin karena gelap, mungkin karena lelah, mungkin karena perasaan bahwa manusia memang suka menantang logika demi sebuah “jalan-jalan sore”. Tujuan kami bukan hotel, melainkan Mauna Café. Tempat untuk salat, makan malam, dan menenangkan diri seolah perjalanan barusan adalah hal yang sepenuhnya normal.

Video Reels berikut memberi gambaran suasana pantai Pelabuhan Ikan Kota Agung sore itu:

Di perjalanan pulang, saya merenung. Kami tidak mendapat sunset. Tidak ada panorama dramatis untuk dipamerkan. Tidak ada langit jingga untuk dijadikan latar foto profil. 

Yang ada hanya hujan, jalan berkelok, jajanan pinggir pantai, bayang hitam puncak Gunung Tanggamus yang tampak mistis, dan tawa kecil di antara lelah. 

Tapi mungkin memang begitu cara perjalanan bekerja. Ia jarang memberi apa yang kita kejar, tapi sering memberi apa yang sebenarnya kita butuhkan. Pertanyaannya, apakah kita bepergian untuk mengoleksi pemandangan, atau untuk mengoleksi versi-versi kecil dari diri kita yang terus berubah di sepanjang jalan?

Dalam video pendek berikut, ada beberapa jajanan yang kami temui di pinggir pantai pelabuhan ikan:



Suasana perjalanan pergi dan pulang dari Gisting menuju Pelabuhan Ikan Kota Agung saya rekam dalam video pendek berikut. Hujan, jalan basah, dan siluet gunung terus hadir mengisi pandang mata:
 

Mauna Café Gisting Lampung: Tempat Nongkrong dan Makan Malam di Tanggamus

Jalan bareng anak-anak muda itu ada efek sampingnya. Bukan bikin kulit ikut kencang, tapi bikin jiwa sok merasa kencang. Sebagai yang paling senior sekaligus berstatus “ibunya rombongan”, saya memilih strategi aman: ikut saja ke mana mereka mau pergi. 

Termasuk ketika urusan makan malam dan mereka menemukan satu nama: Mauna Café. Saya oke saja. Selera makan mereka biasanya tidak ribet dan, jujur saja, saya merasa apa pun pilihannya akan baik-baik saja.

 
Mencari Mauna Café ternyata juga semacam ujian iman kecil. Google Maps mengajak masuk ke kawasan perumahan, belok-belok, lalu muncul rasa ragu khas manusia modern: ini beneran atau sedang dibawa ke jalan buntu kehidupan. Ternyata benar sampai. 

Dan lebih mengejutkan lagi, di tengah perumahan ada kafe yang cukup layak disebut “niat”. Ada area terbuka di tengah, panggung live music, kolam, taman, musala, sampai parkiran. Rasanya seperti menemukan oase kecil yang nyasar ke lingkungan warga.

Menu makanannya variatif. Dari yang kekinian ala barat sampai menu tradisional Indonesia. Saya sendiri sempat blank soal detailnya, sampai akhirnya harus membuka Instagram mereka, @mauna_goodplace, demi mengingat ulang. Dan oh iya, malam itu saya makan ngaliwet. Hangat, sederhana, dan entah kenapa terasa pas setelah seharian pindah lokasi seperti pion catur. Kami salat magrib di sini, menikmati live music yang mengiringi udara malam yang dingin. Lalu saya teringat satu hal penting: suami di hotel.

Video pendek berikut, sedikit dokumentasi suasana Mauna Cafe malam itu:

Demi cinta dan tanggung jawab domestik, saya pun mengingatkan teman-teman suami agar tidak terlalu lama nongkrong. Alasannya mulia: paksu bisa kelaparan. Mereka paham. Kami bergegas pulang, tentu saja dengan ritual wajib mampir minimarket untuk beli camilan. Karena dalam hidup, snack adalah bentuk asuransi kebahagiaan.

Sampai hotel, suami sudah menunggu dengan ekspresi lapar yang masih bisa ditoleransi, berkat stok snack di kamar. Makanan dari Mauna Café pun langsung mendarat dengan selamat. 

Malam ditutup dengan obrolan ringan di chat WA dan konfirmasi sarapan besok pagi. Ternyata bisa diantar ke kamar. Tinggal pilih nasi uduk, nasi kuning, mi goreng, atau nasi goreng. Minumnya teh atau kopi. Dan ya, kopi Lampungnya enak. Ini penting untuk dicatat, demi keadilan rasa. 

Anak-anak cantik dan ganteng

Ibu kucing cantik yang sedang hamil yang menemani selama makan di Mauna Cafe
 

Hari Pertama di Lampung: Dari Gisting Tanggamus hingga Kota Agung

Cerita perjalanan hari pertama di Lampung selesai sampai di sini.

Saya mencoba mengingat ulang hari itu. Sabtu, 20 September 2025. Sejak tengah malam berangkat dari BSD, menyeberang dari Merak ke Bakauheni, pagi tiba di Lampung, lanjut ke Tanggamus, kondangan, istirahat, sore ke Pelabuhan Ikan Kota Agung, malam di Mauna Café, lalu tidur di hotel yang nyaman walau tidak mewah. Padat, melelahkan, tapi entah kenapa terasa cukup.

Mungkin memang begitu cara perjalanan bekerja. Ia tidak selalu memberi apa yang kita rencanakan, tapi sering menghadirkan apa yang diam-diam kita butuhkan.

Minggu pagi, 21 Sept 2025. Siap untuk perjalanan ke TN. Way Kambas di Lampung Timur
 
Besoknya, Minggu 21 September, kami bersiap menuju Way Kambas, Lampung Timur, untuk melihat gajah. Cerita itu akan saya simpan di tulisan lain. 

Untuk sekarang, saya cuma ingin bertanya pelan pada diri sendiri, dan mungkin juga pada kamu yang membaca: sebenarnya, dalam perjalanan seperti ini, yang paling kita cari itu tempat baru, atau versi baru dari diri kita sendiri? 

Terima kasih mas suami dan teman-teman muda yang telah membawa serta saya dalam perjalanan ini. Senang bepergian bersama kalian 💖

Melihat Aktivitas Pelabuhan Kota Agung


Rasa penasaran ingin melihat suasana tempat pelelangan ikan di Pelabuhan Kota Agung membuat saya tidak cukup sekali mengingatkan Mas Elvan agar tidak lupa dengan rencana untuk ke sana. Meski telah di-iyakan pada malam harinya, esok paginya sebelum waktu Subuh saya kembali bertanya, “Jadi ke dermaga, kan mas?” Jawaban ‘iya’ yang diberikan kemudian membuat saya seperti diburu-buru untuk segera bersiap. Ada yang ingin saya kejar; matahari terbit. Andai bisa.

Berenam bersama Mbak Evi, Mas Elvan, Mas Ito, Banu, dan Agoenk kami pergi ke dermaga. Penginapan Pelangi dan mereka yang tak ikut serta, mungkin nanti akan kebagian cerita saja. Cerita versi saya tentunya. Ya, ya…setidaknya itu yang terlintas di pikiran ketika mobil mulai berangkat menembus pagi yang sedikit kesiangan.

Jalan menuju pelabuhan tak terlalu jauh, kami melewati jalan yang sama seperti saat hendak makan pecel lele di sebuah warung tenda pinggir jalan. Mobil berbelok ke kiri, melewati terminal Kota Agung. Suasana terminal masih sepi, hanya ada sebuah bus, tanpa seliweran orang-orang. Di depan terminal inilah mobil kami berhenti. Mas Elvan turun. Apa urusannya? Memesan sarapan. Ah, ya, syukurlah. Berarti ada sarapan seusai jalan-jalan melihat pasar ikan nanti. #memang semua dikasih sarapan kok Rien! Hadeeh. 

Di penginapan Pelangi, sebelum berangkat ke pelabuhan


Terminal Kec. Kota Agung, Tanggamus


Sebuah bus di terminal

Dari terminal, mobil kembali meluncur menuju dermaga. Hanya 2 menit saja,  kami pun sampai. Suasana khas pasar ikan mulai terlihat. Mengingatkan saya pada pasar ikan di Pelabuhan Muara Angke, tetapi yang ini lebih kecil. Sesuatu yang sangat kentara bagi indra adalah aroma amis ikan yang menyeruak masuk hidung. Jika saat itu saya sedang hamil muda, niscaya akan hoeks hoeks begitu turun dari mobil. 

Penyambut kami pagi itu tak cuma bau amis ikan, tapi juga tanah becek yang bikin saya harus menghindar sana sini. Asoy pagi-pagi main kotor dan bau tak sedap. Kapan lagi begini? Ditemani kawan-kawan kece, bawa kamera pula, sudah berasa kayak turis nyasar. Diliatin, diheranin… yaaaah GR deh gue. 

Selamat pagi Tanggamus!
 
Mas Elvan, juragan ikan dari Tanggamus :D
Suasana pelabuhan di pagi hari

Baiklah, mari jumpai orang-orang tangguh di pelabuhan ini. Mereka yang bangun sangat pagi menanti kapal nelayan kembali ke daratan. Menyiapkan otot bak Samson untuk mengangkat dan memikul, juga mendorong gerobak penuh bakul-bakul ikan. Dan mereka yang pergi melaut entah berangkat sejak kapan, berteman udara dingin dan hempasan angin, bahkan gelombang yang entah tingginya seperti apa, lalu kembali ke darat membawa berkilo-kilo ikan yang jumlah kilonya saya tak tahu berapa ratus.

Masyarakat pesisir dengan kesehariannya, untuk kehidupan yang terus berjalan dan mesti dilalui. Dermaga ini memperlihatkan denyutnya. Saya merasakannya, sangat dekat. 

ikan segar nih


menawar sisa


ikan kembung tergolek, kehilangan nyawa


Cumi lebay, eh cumi lunglai :))


Bang Zainudin.......Hayati lelah digantung, :)))

Matahari terus naik, sementara langit masih menebarkan warna jingga yang memancing saya untuk menangkapnya. Setelah itu, perhatian saya beralih pada orang-orang yang lalu lalang di dermaga. Wanita bertopi dengan syal di leher, jongkok di dekat meja kayu berisi beberapa ekor ikan yang lesu. Lelaki tua mendorong gerobak. Perahu-perahu tertambat lelah. Kotak-kotak pendingin dekil untuk menjaga kesegaran ikan. Ikan tongkol. Ikan kembung. Cumi-cumi. Bau amis. Kucing kurus mencuri ikan, lari terbirit-birit dihalau perempuan berkupluk.

Kehidupan.

Saat perahu-perahu nelayan merapat di dermaga, saat itu juga terjadi kerumunan. Maka…

Ikan
Ikan
Ikan berlimpah di dermaga.



tertambat lelah


Nelayan kembali dari laut membawa ratusan kilo ikan


Ikan berlimpah


Hanya dua jenis ikan; tongkol dan kembung

Berbakul-bakul ikan segar tiba. Bakulnya disusun dalam gerobak, lalu di dorong ke daratan, ke tempat pelelangan. Di sana, puluhan pria telah berkerumun. Lalu, terjadilah lelang ikan. Ada seseorang yang menyebutkan angka sekian dan sekian. Namun sayang saya tak dapat mendengar dengan jelas berapa saja angka yang disebutkan. Toak yang digunakannya membuat suaranya pecah, atau mungkin kosentrasi saya yang pecah karena tak tahan bau amis? Yang jelas, ikan-ikan itu dilelang tanpa pakai timbang-timbang segala. Sepertinya harga ditakar berdasarkan isi bakul-bakul. Satu bakul sekian. Sekian bakul, maka sekian harganya.

Ke mana saja ikan-ikan itu pergi? Ke rumah-rumah masyarakat Tanggamus, hingga keluar kota. Soal kesegarannya silakan terka, makin jauh melanglang ke luar Kota Agung, akan tetap segar atau justru makin ‘kuyu’? Tapi sudahlah, yang penting si ikan 'menghidupkan' orang-orang :)

Suasana di tempat pelelangan
Seorang laki-laki memunguti ikan yang tumpah
 
Tak sampai lama kami di dermaga, karena beberapa jam ke depannya harus sudah berada di Lapangan Merdeka Kota Agung untuk menyaksikan acara pengetahan adok dan festival budaya Tanggamus. Jadi, cukup sesaat saja menyaksikan lelang ikannya.

Ketika hendak meninggalkan dermaga, terbit tanya dalam hati? Saya sudah makan ikan hasil tangkapan nelayan Kota Agung belum ya? Sudah makan bakso ikan tongkol Teluk Semaka belum ya? Uupsss....

Sempat dapat ini
 
Ini bukti kita sedang di dermaga! :D  *w/ mbak Evi, Mas Elvan, & Banu


Sampai jumpa lagi Teluk Semaka

Sambang Air Terjun Way Lalaan Sambil Makan Durian


Bagaimana jika judulnya makan durian saja tanpa embel-embel air terjun Way Lalaan? Sepertinya lebih cocok, karena acara makan duriannya lebih banyak ketimbang melihat air terjunnya :D

Baiklah, saya awali saja cerita ini dengan perjalanan berkendara mobil dari Talang Padang ke Pekon Kampung Baru. Talang Padang itu perhentian terakhir kami sebelum lanjut makan durian. Di sana kami bertandang ke Rumah Batik Tanggamus. Di sana pula kami berjumpa mas Elvan, koordinator tim medsos selama acara FTS 2015. Nah, Mas Elvan inilah yang mengajak kami makan durian.

Wow Mas Elvan tajir yaaa..
Haha…bukan Mas Elvan sih yang bayarin, tapi atasannya he he 



Waktu tempuh menuju Pekon Kampung Baru sekitar 30 menit saja, tapi seakan berjam-jam lamanya. Sejak diberitahu bahwa kami akan makan durian sepuasnya, kepala saya isinya langsung dipenuhi tentang durian. Jadi banyak membayangkan rasa durian manis dengan aroma khas menggigit. Bayangan-bayangan tentang durian inilah yang bikin saya ingin lekas sampai di Way Lalaan. Makanya perjalanan jadi terasa lama :D

Di mana Way Lalaan?

Menurut keterangan yang saya dapat, objek wisata Tanggamus yang satu ini berjarak sekitar 80 Km dari Kota Bandar Lampung. Sekitar 2 jam waktu tempuhnya kalau tidak pakai acara mampir-mampir segala. Jika dari Kota Agung, ibukota Pemerintahan Kabupaten Tanggamus, jarak Way Lalaan sekitar 8 Km. Air terjunnya sendiri tidak jauh dari jalan raya lintas barat Sumatra (Jalinbarsum) yang menghubungkan Bandar Lampung dan Kota Agung. Letak air terjunnya di sisi kiri jalan, jaraknya sekitar 300 meter. Dari pintu gerbang tinggal masuk, parkir (jika bawa kendaraan), lalu  dilanjutkan dengan berjalan kaki menuruni anak tangga sepanjang 75m.

Kami sampai di lokasi sekitar pukul 17.25 saat petang sudah mendekati tua. Matahari tak lama lagi tenggelam. Alam raya sebentar lagi dirundung gelap. Tak mungkin sepetang itu ada acara main-main air terjun, trekking, apalagi pakai mandi-mandi segala. Jadi acara intinya ya makan durian saja.

Duriaaaaan neeeng

Durian maaaang

Mas Elvan dan teman-temannya langsung belah-belah durian. Satu-satu di belah, satu-satu disuguhkan, satu-satu dicoba. Siapa yang nggak senang melihat buah-buah berduri itu terhampar di hadapan, bukan? Ayo makan duriaaaan.

Eits…ternyata ada yang nggak ikut makan. Siapa dia? Siapa lagi kalau bukan si tampan dari Palembang, Yayan Ruhian! Bwaahahaa…bukan Ruhian, tapi Yayan Haryadi alias omnduut. Saya curiga si Yayan sedang kesambet. Masa iya dia tidak doyan durian? Ya sudahlah Yan, lebih baik kamu tidak ikut makan durian, biar tidak mengurangi jatah #halah :p

Mas Elvan bilang harga-harga durian itu 10 ribuan saja. Murah meriah katanya. Ciyuuuus? 10 ribu itu murah? Weeeks itu mahal tahu. Durian di Lematang kalau sedang musim buah harganya cuma 2-3ribuan haha. #ya sudah Rien sono ke Lematang :p

Duriannya banyak yang manis, sisanya hambar dan anyep. Yang anyep itu mungkin saat makan sambil memandang seseorang yang wajahnya anyep hahaha. Iya kamu yang anyep :D
 
Dari sini 'icip ujungnya' bermula :D


manis


anyep

Kelar makan durian, saya turun ke air terjun. Suasana sudah mulai agak gelap. Sedikit ragu juga mau ke bawah. Syukurlah ada Fajrin yang baik hati mau menemani. Blogger lain tak ikut turun karena tahun lalu saat mereka ikut FTS 2014 sudah pernah melihat. Bukan hanya Way Lalaan 1 yang pernah mereka sambangi, tapi juga Way Lalaan 2. Yup, di sini memang ada dua air terjun. Pada FTS 2014, kedua air terjun ini memang menjadi tujuan kunjung tim media, blogger dan jurnalis. 

Air Terjun Way Lalaan terletak di kaki Gunung Tanggamus dan merupakan air terjun bertingkat dengan jarak satu sama lainnya lebih kurang 200 m.  Air Terjun Way Lalaan 1 terletak di sebelah atas dan Air Terjun Way Lalaan 2 terletak di sebelah bawah. Menurut cerita, akses jalan menuju Way Lalaan 2 lebih sulit, harus menuruni bukit cukup terjal dan saat pulang juga harus melewati jalan itu kembali. Terdengar menantang sih sebenarnya, tapi apa iya harus menghadapi tantangan itu saat suasana mulai gelap? Duh….yang ada kemarin saya malah bergidik. Suasananya mulai terasa seram. Jelang waktu magrib sih hehe.. 

Rasanya pingin nyebur

O ya, konon air terjun yang berasal dari aliran Way Lalaan yang bermuara ke Teluk Semaka ini telah di kenal sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda. Sekitar tahun 1937. Dan tangga batu menuju lembah air terjun yang saya titi petang itu dibuat pada masa itu. Hmm…pantas kelihatan tua. Tua tapi gagah #halah…orang kali gagah :p

Ternyata, air terjunnya cakep. Meski nggak tinggi-tinggi amat. Kurang lebih 11-13 meter (entah berapa tepatnya). Kolamnya enak buat berendam. Nggak takut sakit ketimpa tumpahan air. Terbayang segarnya badan kalau mandi di situ. Tapi magrib begitu, berasa mau mandi kembang kalau jadi mandi. Trus nanti ada yang datang menemani mandi, ada suara kecipak air, tapi nggak ada wujudnya. Hii…sereeem. Fajrin! Ayo kita pulang! Haha. Si penakut mulai membayangkan yang enggak-enggak. Ternyata, naik tangganya capek juga. Saya mesti berhenti beberapa kali sambil ngos-ngosan.

Ditemani Fajrin yang baik hati dan tidak sombong


Tangga batu sepanjang 75 meter


Asri dan nyaman


Ada pondok-pondok buat duduk-duduk patjaran #eh


Meski capek naik, dan hanya sebentar saja, saya bisa tangkap keindahan Air Terjun Way Lalaan dalam ingatan dan lensa kamera saya.


INFO:
Air Terjun Way Lalaan terletak di Desa Pekon Kampungbaru, Kecamatan Kotaagung Timur, Kabupaten Tanggamus, Propinsi Lampung.
Fasilitas yang tersedia di sini berupa shelter, mushola, kamar ganti pakaian dan pelataran parkir yang cukup luas. 
  
Nasibmu kulit durian, sungguh merana :D


Sampai jumpa lagi Way Lalaan





Festival Teluk Semaka 2015 

w/ @Yopiefranz @KelilingLampung @elephunx25_85 @Duniaindra @Halim_san @Omnduut @Fajrinherris @Donnaimelda @Eviindrawanto @kikianvirrr @Agoenk_001 @ito07aja @FestTelukSemaka