Tampilkan postingan dengan label Hotel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hotel. Tampilkan semua postingan

Review Hotel 21 Gisting Tanggamus Lampung: Hotel dengan View Gunung Tanggamus

Kadang, yang paling berkesan dari sebuah perjalanan justru bukan tempat wisatanya, bukan juga acaranya, tapi tempat kita berhenti sebentar untuk tidur, mandi, dan diam sejenak dari riuh hidup yang kita bawa dari kota. Dan lucunya, tempat seperti itu sering kali bukan yang paling mahal, bukan yang paling cantik, tapi yang paling… jujur. 


Hotel 21 Gisting Tanggamus Lampung: Penginapan Sederhana dengan View Gunung yang Tidak Terduga

Saya menemukan kejujuran itu di Hotel 21 Gisting, sebuah hotel di kawasan Gisting, Kabupaten Tanggamus yang awalnya saya pilih bukan karena ekspektasi tinggi, tapi justru karena tidak punya cukup alasan untuk menolaknya. Dalam pencarian hotel di Gisting Tanggamus Lampung yang pilihannya tidak terlalu banyak, kadang yang “tidak bermasalah” justru terasa seperti jawaban terbaik.

Tapi sebelum sampai ke sana, perjalanan ini ternyata punya ceritanya sendiri.

Tanggal 20 September 2025, saya dan rombongan kecil berangkat ke Gisting, sebuah kawasan dataran tinggi yang sejuk dan berada sekitar 75 kilometer dari Bandar Lampung. Wilayah ini sebenarnya bukan tempat yang kekurangan destinasi. Justru sebaliknya, Tanggamus dikenal punya bentang wisata yang lengkap, dari pegunungan sampai pesisir.

Nama-nama seperti Teluk Kiluan yang identik dengan lumba-lumba, atau Pantai Gigi Hiu dengan formasi karangnya yang tajam dan dramatis, sering jadi alasan orang datang jauh-jauh ke sini. Belum lagi kawasan Kota Agung yang hidup dengan aktivitas pesisirnya, termasuk pelabuhan ikan yang menjadi denyut ekonomi masyarakat setempat.

Tapi menariknya, Gisting tetap terasa berbeda. Ia seperti bagian dari Tanggamus yang memilih tidak terlalu ramai. Udara yang sejuk, suasana yang lebih pelan, dan lanskap yang tidak terburu-buru membuat tempat ini terasa seperti jeda di antara banyaknya tujuan.

Dan di situlah saya berhenti. Bukan untuk berlibur panjang, tapi untuk singgah.

Baca juga: Jalan-jalan di Gisting Tanggamus Lampung

Mencari Hotel di Gisting: Antara Harapan, Review, dan Sedikit Spekulasi

Tujuan kami datang sebenarnya sederhana, kondangan. Tapi seperti yang sering terjadi, perjalanan menuju acara yang hanya berlangsung beberapa jam itu justru menyimpan cerita yang jauh lebih panjang. Ide ke Gisting ini datang dari suami saya, yang punya prinsip hidup yang cukup konsisten dan sedikit merepotkan secara teknis: kalau ada anggota timnya menikah, sejauh apa pun, selama tidak menyulitkan, pasti datang.

Masalahnya, definisi “tidak menyulitkan” itu sering kali baru terasa setelah semuanya dijalani. Dan dalam perjalanan ini, salah satu bentuk “tidak menyulitkan” itu diterjemahkan menjadi satu tugas yang cukup krusial: mencari hotel yang layak di Gisting.

Tim kondangan Gisting
Dan seperti biasa, tugas itu jatuh ke saya.

Saya mulai dari yang paling umum. Membuka OTA, membaca Google Review, scrolling blog, sampai akhirnya sadar bahwa mencari hotel di Gisting Tanggamus Lampung itu rasanya bukan sekadar mencari tempat untuk tidur.

Tapi seperti bermain tebak-tebakan nasib.

Bukan karena tidak ada pilihan, tapi karena pilihan yang ada tidak selalu memberikan rasa tenang.

Dari sekitar empat hotel yang saya cek, tiga di antaranya punya ulasan yang cukup untuk membuat saya berhenti dan berpikir ulang. Ada yang bercerita soal pengalaman tidak menyenangkan, ada yang mengeluhkan pelayanan, bahkan ada yang memberi kesan tempatnya kurang nyaman. Saya tidak sedang mencari pengalaman tambahan selain perjalanan ini sendiri, jadi pilihan itu langsung saya singkirkan tanpa banyak kompromi.

Di tengah semua itu, hanya satu nama yang terlihat “aman”. Tidak ada puja-puji berlebihan, tapi juga tidak ada keluhan serius. Namanya Hotel 21 Gisting. Dalam situasi seperti ini, netral itu bukan membosankan, justru menenangkan.

Hotel 21 Gisting

Untuk memastikan, saya bertanya ke teman yang bekerja di dinas pariwisata Lampung. Jawabannya sederhana, tanpa dramatisasi. Dia sudah beberapa kali menginap di sana dan selalu memilih hotel itu setiap ada tugas ke Gisting. Tidak ada kalimat promosi, tidak ada penjelasan panjang. Tapi justru karena itu, saya percaya.

Tanpa menunggu lama, saya langsung menghubungi pihak hotel melalui nomor yang tertera. Responsnya cepat, jelas, dan komunikasinya terasa enak. Setiap pertanyaan saya dijawab dengan lancar, tanpa kesan ribet. Di situ saya mulai merasa, mungkin ini pilihan yang tepat.

Informasi hotel ini kemudian saya sampaikan ke suami, karena proses pemesanan akan dilakukan oleh timnya di kantor yang ikut dalam perjalanan. Sistemnya sederhana. Transportasi ditanggung kantor, penginapan masing-masing. Jadi ini semacam perjalanan bersama dengan tanggung jawab pribadi.

Meski begitu, saya tetap berkomunikasi langsung dengan pihak hotel untuk berbagai kebutuhan selama menginap. Dan ternyata, keputusan itu memudahkan banyak hal. Kadang, komunikasi langsung memang menyelesaikan hal-hal kecil yang kalau diwakilkan justru jadi panjang.


Kami berangkat berdelapan. Dua laki-laki, enam perempuan. Saya satu-satunya yang bukan bagian dari kantor suami, jadi secara tidak resmi saya ini seperti “tamu dari tamu”. Tapi dalam perjalanan panjang seperti ini, status cepat sekali melebur. Semua jadi sama, sama capek, sama lapar, dan sama berharap pilihan hotelnya tidak salah.

Kami berangkat dengan satu kendaraan. Muat, jalan, hemat, dan alhamdulillah sampai dengan selamat.

Di titik itu, saya belum tahu apakah Hotel 21 Gisting ini akan jadi bagian dari cerita yang menyenangkan atau justru jadi bahan evaluasi diam-diam sepanjang perjalanan pulang. Bahkan sore harinya, ketika kami sempat turun ke kawasan Pelabuhan Ikan Kota Agung dan melihat sisi lain Tanggamus yang lebih ramai dan dinamis, saya masih belum sepenuhnya tahu apakah pilihan hotel ini akan mengimbangi semua pengalaman itu.

Tapi satu hal yang saya tahu, dalam perjalanan seperti ini, keputusan kecil seperti memilih hotel sering kali terlihat sepele.

Sampai akhirnya kita benar-benar harus tidur di dalamnya.

Check In Pagi di Hotel 21 Gisting Tanpa DP: Datang Lebih Cepat, Istirahat Lebih Cepat

Kalau ada satu hal yang biasanya pasti dalam dunia perhotelan, itu adalah jam check-in. Dan kalau ada satu hal yang biasanya tidak bisa ditawar, itu juga jam check-in. Jadi ketika kami sampai di Hotel 21 Gisting sekitar pukul 09.30 WIB, saya sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan paling realistis: menunggu.

Duduk di lobi, pura pura santai, sambil sesekali melihat jam dan bertanya dalam hati kenapa waktu berjalan lebih lambat saat kita lelah.

Tapi ternyata, logika itu tidak berlaku di Hotel 21 Gisting Tanggamus Lampung.

Kami justru langsung dipersilakan masuk kamar.

Tidak ada jeda dramatis. Tidak ada kalimat “ditunggu ya Kak”. Tidak ada ekspresi ragu dari staf. Semuanya berjalan seperti hal itu memang wajar terjadi, padahal bagi saya itu sudah masuk kategori kemewahan yang jarang ditemui.

Belakangan saya paham, ada beberapa alasan kenapa kami bisa check-in lebih awal. Kamar yang kami pesan memang kosong dari malam sebelumnya, komunikasi kami dengan pihak hotel sudah cukup intens, dan mereka yakin kami benar-benar akan datang. Kombinasi yang sederhana, tapi jarang sekali terasa semulus ini.

Setelah perjalanan panjang dari BSD sejak dini hari, menyeberangi Selat Sunda, lalu melanjutkan perjalanan darat dari Bakauheni menuju Tanggamus, momen bisa langsung masuk kamar itu rasanya bukan sekadar nyaman.

Itu penyelamatan.

Saya bisa langsung mandi, rebahan, dan mengembalikan sedikit sisa energi sebelum harus bersiap menghadiri acara di jam 11 siang. Capek perjalanan perlahan turun, badan mulai terasa normal lagi, dan untuk pertama kalinya sejak subuh, saya tidak merasa sedang dikejar waktu.

Jam 9.30 WIB abis check-in sudah boleh langsung masuk kamar

Tanpa DP dan Deposit: Ketika Kepercayaan Datang Lebih Dulu

Lalu ada satu hal lagi yang menurut saya cukup menarik, bahkan sedikit tidak biasa.

Kami booking hotel ini via WhatsApp beberapa hari sebelumnya, dan tidak diminta DP sama sekali.

Saya sempat menganggap ini sebagai keberuntungan kecil. Tapi ternyata ceritanya belum selesai. Saat tiba di hotel pun, kami tidak langsung diminta pembayaran. Dan yang lebih mengejutkan, pembayaran baru dilakukan setelah check-out.

Di titik itu saya sempat berpikir, ini bukan sekadar sistem pembayaran, ini sudah masuk ke ranah kepercayaan. 

Apakah ini berlaku untuk semua tamu? Saya tidak tahu. Tapi setidaknya, pengalaman menginap di Hotel 21 Gisting tanpa DP dan dengan pembayaran setelah check out ini jadi salah satu hal yang cukup membekas buat saya.

Karena di tengah dunia yang serba minta jaminan di awal, ada tempat yang memilih untuk percaya dulu.

Dan itu… agak jarang.  

Gerbang Hotel dengan Siger. Jalan ke kanan arah ke jalan raya Gisting

Bangunan Lama Hotel 21 Gisting Tanggamus Lampung: Tidak Modern, Tapi Tidak Bermasalah

Kalau bicara soal tampilan, Hotel 21 Gisting ini bukan tipe hotel yang akan membuat orang berhenti di depan gerbang lalu berkata, “Wah, ini dia.”

Letaknya tidak persis di pinggir jalan utama Gisting, tapi sedikit masuk ke dalam, sekitar 100 meter. Tidak jauh, tapi cukup untuk membuatnya terasa lebih tenang. Di bagian depan ada gerbang dengan bentuk siger khas Lampung, yang seolah memberi tanda bahwa kita sudah masuk ke wilayah yang punya identitas sendiri.

Bangunannya berwarna biru terang, dengan desain yang bisa dibilang… jujur. Model lama, tanpa banyak sentuhan modern, dan tidak berusaha terlihat seperti hotel baru. Teman saya sempat nyeletuk bahwa tampilannya mirip kantor PDAM, dan entah kenapa saya tidak bisa langsung membantah. Tapi di saat yang sama, saya juga tidak merasa itu masalah besar.

Karena tidak semua tempat harus terlihat baru untuk bisa terasa nyaman.

 
Kalau diperhatikan lebih lama, bangunannya justru mengingatkan saya pada sekolah. Struktur yang sederhana, fungsional, dan tidak banyak gimmick. Hotel ini terdiri dari tiga lantai tanpa lift, dan kami mendapat kamar di lantai dua. Masih dalam batas wajar untuk naik turun tanpa harus mengambil napas panjang sambil merenungi hidup.

Ukuran hotel ini ternyata cukup besar, dengan area meeting room di gedung terpisah. Tidak heran kalau tempat ini sering digunakan untuk acara acara pemerintahan atau pertemuan resmi, seperti yang sempat diceritakan oleh teman saya sebelumnya. Ada kesan bahwa hotel ini memang lebih fokus pada fungsi, bukan sekadar tampilan.

Saat pertama datang, kami langsung disambut oleh staf resepsionis yang ramah dan membantu. Tidak berlebihan, tidak dibuat buat, tapi cukup untuk membuat kami merasa diterima.

Salah satu yang paling berkesan buat saya adalah komunikasi dengan Mbak Afi, yang sejak awal sudah terasa hangat dan responsif. Dari proses tanya jawab sebelum datang, sampai saat kami tiba di lokasi, semuanya terasa lancar.

Tidak ada kesan kaku, tidak ada rasa sungkan untuk bertanya, dan yang paling penting, semua terasa dimudahkan.

Bahkan dari beliau juga kami mendapat rekomendasi tempat makan pagi di Rumah Makan Kartini, yang pada akhirnya benar-benar menyelamatkan pagi kami.

Dan di situ saya mulai sadar, kadang pengalaman menginap itu bukan cuma soal kamar atau fasilitas.

Tapi juga soal orang orang di dalamnya.

Karena tempat bisa saja sederhana, tapi kalau orang orangnya tepat, rasanya tetap nyaman.

Tipe Kamar dan Harga Hotel 21 Gisting Tanggamus Lampung: Sederhana, Masuk Akal, dan Tidak Membingungkan

Kalau ada satu hal yang saya syukuri dari Hotel 21 Gisting, itu adalah pilihan kamarnya tidak dibuat rumit. Tidak ada istilah-istilah yang terdengar mewah tapi sebenarnya sama saja, tidak ada juga tipe kamar yang bikin kita harus berpikir keras membedakan satu dengan yang lain. Semuanya sederhana, jelas, dan… masuk akal.


Hotel 21 Gisting Tanggamus Lampung ini punya tiga tipe kamar, dan masing masing punya fungsi yang cukup jujur sesuai kebutuhan tamu. Tidak berusaha terlihat lebih dari yang sebenarnya, tapi juga tidak mengecewakan.

Pilihan tipe kamar di Hotel 21 Gisting:

  • Standar
    Tanpa AC
    Tanpa water heater
    Cocok untuk yang tahan udara dingin Gisting
  • Deluxe
    Menggunakan AC
    Tersedia water heater
    Lebih nyaman untuk yang tidak akrab dengan air dingin
  • Family room
    Ruangan lebih luas
    Cocok untuk keluarga atau rombongan

Kalau bicara soal udara, sebenarnya menginap di Gisting tanpa AC itu bukan masalah besar. Suhunya sejuk sepanjang hari, khas daerah dataran tinggi. Secara teori, saya bisa saja memilih kamar standar dan tetap bertahan.

Tapi teori sering kali kalah dengan realita. Masalahnya bukan di udara, tapi di air.

 
Saya mungkin bisa berdamai dengan dinginnya udara, tapi untuk mandi air dingin di pagi hari, di daerah yang sudah dingin, itu bukan kompromi. Itu ujian. Dan saya tidak sedang mendaftar untuk itu.  

Jadi tanpa banyak diskusi batin, saya dan suami memilih kamar deluxe, sementara teman-teman lain yang lebih berani memilih kamar standar dengan harga yang lebih ekonomis. 


Harga kamar dan fasilitas (update terakhir saat saya cek):

  • Kamar standar sekitar 170 ribu per malam
  • Kamar deluxe sekitar 270 ribu per malam
  • Kamar family sekitar 900 ribu per malam

Fasilitas tambahan:

  • Sarapan untuk dua orang
  • Pilihan menu nasi uduk, nasi kuning, mie goreng, atau nasi goreng
  • Minuman teh atau kopi
  • Sarapan bisa diantar ke kamar atau dinikmati di lantai tiga

 Selain kamar, hotel ini juga menyediakan ruang pertemuan:

  • Aula sekitar 2,5 juta
  • Meeting room sekitar 900 ribu

Melihat harganya, saya sempat berpikir, ini hotel tahu dirinya di mana. Tidak mencoba bersaing dengan hotel kota, tapi juga tidak menjatuhkan kualitas demi murah. 

 
Sarapan Sederhana, Kopi Lampung, dan Pagi yang Tidak Terlalu Buru-Buru

Kami sebenarnya sempat diajak sarapan di lantai atas, tapi karena jadwal cukup padat dan harus lanjut ke Lampung Timur, akhirnya kami memilih sarapan di kamar saja. Keputusan yang ternyata terasa tepat.

Saya memesan nasi uduk, suami memilih menu yang jauh lebih sederhana, dua telur rebus. Untuk minuman, saya pilih teh, dan suami tentu saja memilih kopi.

Kopi Lampung.

Katanya kopi itu diolah secara tradisional, dan menurut suami rasanya enak. Saya percaya saja. Karena saat itu suami menikmatinya sambil melihat pemandangan yang tidak semua orang bisa dapatkan dari balkon kamar hotel.

Dalam kondisi seperti itu, kopi apa pun rasanya mungkin akan naik kelas. 

View Gunung Tanggamus dari Balkon Kamar: Hal Sederhana yang Tidak Bisa Dibeli di Kota

Kamar deluxe yang saya tempati berada di posisi pojok lantai dua, menghadap ke arah jalan besar. Dari tangga lobi, posisinya di sisi kanan, dan entah kenapa posisi itu terasa seperti dapat bonus kecil yang tidak direncanakan.

Begitu masuk kamar, kesannya sederhana tapi bersih. Tidak ada bau rokok (ya, memang bukan smooking room), tidak ada kesan berdebu, dan semua terasa cukup terawat. Kasur dan sprei bersih, ada TV, AC, lemari, dan yang paling penting, ada akses ke balkon.

Kamar mandinya cukup luas, meskipun desainnya masih lama. Tapi bersih dan nyaman digunakan. Satu catatan kecil ada di keran kloset yang airnya sedikit terlalu bersemangat, sampai kadang menyembur ke mana-mana. Tapi di luar itu, water heater berfungsi dengan baik, dan itu sudah cukup membuat saya merasa damai.

Yang menarik, ternyata balkon ini bukan hanya milik kamar deluxe. Semua kamar yang sejajar dengan posisi kami, termasuk tipe standar, juga punya balkon dengan arah yang sama.

Artinya, mau pilih kamar standar atau deluxe, tetap punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan pemandangan yang sama.

Dan di situlah kejutan sebenarnya.


Pagi itu, Gunung Tanggamus terlihat jelas dari balkon kamar kami. Utuh, gagah, dan terasa dekat. Saya yang sudah lama tidak melihat pemandangan gunung seperti ini hanya bisa diam sejenak, memperhatikan tanpa banyak komentar.

Ada rasa yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar senang, tapi juga seperti diingatkan bahwa hal-hal sederhana seperti ini ternyata masih bisa terasa sangat berarti.

Kami sempat berfoto beberapa kali, bergantian, seperti takut momen itu hilang begitu saja.

Dan memang, tidak lama kemudian, perlahan awan datang. Menutup puncaknya sedikit demi sedikit, sampai akhirnya gunung itu benar-benar hilang dari pandangan.

Cepat sekali.

Sampai saya sempat merasa, ini seperti diberi kesempatan melihat sesuatu yang indah sebentar saja, cukup untuk dikenang, tidak untuk dimiliki.

Dan mungkin memang begitu cara kerja banyak hal dalam hidup.

Oh ya, dari balkon itu juga saya sempat melihat sebuah bangunan hotel lain tepat di sebelah Hotel 21, hanya terpisah pagar. Bangunannya terlihat lebih baru, lebih modern, dan sedikit lebih “rapi” secara visual.

Tapi anehnya, saya tidak menemukan informasi tentangnya di Google. Tidak ada review, tidak ada pembahasan. Dari kejauhan terlihat sepi, hanya ada beberapa mobil terparkir tanpa aktivitas yang jelas.

Di situ saya justru merasa, kadang yang terlihat lebih menarik belum tentu yang paling hidup.

Dan yang sederhana, seperti Hotel 21 Gisting ini, justru punya cerita yang lebih nyata.

View dari sisi lain hotel yang berlawanan dengan letak view Gunung Tanggamus

Rumah Makan Kartini di Gisting Tanggamus Lampung: Sarapan Sederhana yang Ternyata Menyentuh

Ada satu hal yang sering saya sadari setiap perjalanan, rencana itu penting, tapi yang benar-benar berkesan justru sering datang dari hal-hal yang tidak direncanakan. Seperti pertemuan saya dengan Rumah Makan Kartini ini.

Sebenarnya saya sudah pernah menyebut tempat ini di tulisan sebelumnya, tapi rasanya tidak adil kalau tidak diceritakan lagi dengan lebih lengkap. Karena jujur saja, sarapan di sini bukan sekadar makan. Ada cerita kecil yang ikut terbentuk di dalamnya.

Semua bermula dari obrolan saya dengan Mbak Afi dari Hotel 21 Gisting saat kami masih di perjalanan dari Bakauheni menuju Tanggamus. Waktu itu pagi, sekitar jam enam, dan seperti biasa, rombongan mulai memikirkan satu hal yang selalu muncul di jam-jam rawan seperti itu: sarapan.

Awalnya kami berencana makan di perjalanan, tapi entah kenapa, keputusan kolektif yang diambil justru menunda sarapan sampai tiba di Gisting. Keputusan yang terdengar sederhana, tapi diam-diam cukup berisiko, karena mencari tempat makan pagi di daerah seperti ini ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Saya sempat mencari sendiri, dan hasilnya cukup konsisten. Banyak tempat makan baru buka sekitar jam sebelas siang. Yang dalam konteks sarapan, itu sudah masuk kategori makan siang yang terlalu dini atau makan siang yang terlambat, tergantung sudut pandang.

Akhirnya saya bertanya ke pihak hotel. Dan di situlah nama Rumah Makan Kartini muncul. Kata Mbak Afi, tempat ini sudah buka sejak pagi, bahkan cenderung sepanjang hari. Lokasinya dekat dari hotel, dan yang paling penting, sop ayam kampungnya enak.

Kalimat terakhir itu cukup untuk membuat kami sepakat tanpa perlu rapat panjang.

Dalam bayangan saya, rumah makan ini akan seperti rumah makan besar yang biasa ditemui di jalur lintas Sumatera. Luas, ramai, dengan deretan lauk yang panjang seperti etalase harapan.

Ternyata saya terlalu optimis.

Bangunannya sederhana, bahkan cenderung kecil. Bagian depannya menggunakan kaca dengan tulisan nama rumah makan dan nomor kontak yang terpampang apa adanya. Tidak ada usaha untuk terlihat mewah, tidak ada desain yang dibuat-buat. Hanya sebuah tempat makan yang jujur dengan fungsinya.

Saat kami datang, tempat itu sudah buka, dan rak hidangan di dalamnya sudah terisi berbagai lauk yang siap dipilih. Tidak ada pengunjung lain saat itu, sampai akhirnya kami datang dan langsung memenuhi satu meja panjang di bagian belakang.

Jumlah mejanya tidak banyak. Dua meja panjang yang bisa menampung beberapa orang, dan beberapa meja kecil lainnya. Tapi entah kenapa, suasananya terasa cukup. Tidak sempit, tidak juga berlebihan.

Kami tidak banyak berdiskusi. Semua langsung sepakat memesan sop ayam kampung.

Dan di titik itu, saya merasa demokrasi berjalan sangat lancar.


Menu andalannya memang sop daging dan sop ayam kampung, dan pilihan kami jatuh pada yang kedua. Ditambah dengan terong balado, jengkol, gorengan, dan teh tawar hangat yang terasa seperti pelengkap wajib dalam situasi seperti ini.

Sop ayam kampungnya bukan tipe sop yang hanya mengandalkan panas. Kuahnya benar-benar gurih, rasanya dalam, dan ayamnya empuk tanpa usaha berlebihan. Jenis makanan yang membuat orang berhenti sejenak, lalu mengangguk pelan tanpa perlu banyak komentar.

Saya jarang bereaksi dramatis terhadap makanan, tapi pagi itu saya cukup yakin bahwa ini bukan sekadar enak. Ini tipe makanan yang membuat perjalanan terasa lebih masuk akal.

Saya dan suami menghabiskan sekitar tujuh puluh ribuan untuk makan berdua. Tidak mahal, tidak juga terlalu murah, tapi terasa sepadan dengan apa yang kami dapatkan.

Perut kenyang, hati senang, dan entah kenapa saya merasa seperti menemukan sesuatu yang memang seharusnya saya temukan.

Di situ saya sempat berpikir, mungkin alasan kami tidak jadi sarapan di pelabuhan, tidak jadi mampir ke tempat lain yang sempat direkomendasikan, adalah karena kami memang diarahkan ke sini. Ke sop ayam kampung ini.

Terdengar berlebihan, tapi perjalanan memang sering bekerja dengan cara seperti itu.

Kalau bicara soal fungsi, Rumah Makan Kartini ini bisa jadi andalan selama menginap di Gisting. Apalagi mengingat Hotel 21 Gisting tidak menyediakan restoran dengan menu lengkap di luar sarapan. Pilihan makan di hotel lebih ke menu sederhana seperti mie atau nasi goreng.

Lokasi rumah makan ini juga cukup dekat, sekitar 100 meter dari hotel, masih dalam jarak jalan kaki yang masuk akal. Jadi untuk sarapan, makan siang, atau bahkan makan malam, tempat ini bisa jadi solusi yang tidak ribet.

Kalau ingin variasi lain, tentu ada pilihan tempat makan lain di sekitar Gisting, mulai dari kafe sampai kedai kecil yang ramai. Tapi kadang, setelah menemukan satu tempat yang terasa pas, keinginan untuk mencari yang lain itu jadi berkurang.

Karena tidak semua yang sederhana bisa terasa cukup.

Dan pagi itu, bagi saya, Rumah Makan Kartini adalah cukup. 

Hotel 21 Gisting Tanggamus Lampung: Pilihan Bijak yang Tidak Menguras Kantong, Tapi Tetap Berkesan

Kadang saya suka heran, kenapa kita sering mengaitkan kenyamanan dengan harga yang tinggi, seolah-olah semakin mahal sebuah hotel, semakin layak ia untuk dikenang. Padahal dalam perjalanan, logika seperti itu sering kali patah di tengah jalan.

Seperti pengalaman saya di Hotel 21 Gisting ini.

Perjalanan ke Tanggamus sebenarnya bukan yang pertama buat saya. Tahun 2015, saya pernah datang ke daerah ini bersama teman teman blogger, diundang oleh Dinas Pariwisata untuk meliput dan meramaikan Festival TelukSemaka. Waktu itu kami menginap di sebuah tempat bernama Penginapan Pelangi. Semacam homestay, sederhana, ramai, dan penuh cerita.

Lucunya, saya masih ingat nama penginapannya, tapi lupa lokasinya.

Di blog lama saya bahkan ada fotonya, tapi tidak ada keterangan alamat yang jelas. Di situ saya baru sadar, mencatat itu bukan cuma soal dokumentasi, tapi juga cara kita menghargai perjalanan. Supaya suatu hari nanti, kalau kita kembali ke tempat yang sama, kita tidak hanya mengingat rasanya, tapi juga tahu ke mana harus melangkah.

Entah sekarang Penginapan Pelangi itu masih ada atau tidak, masih digunakan untuk kegiatan seperti Festival Teluk Semaka atau tidak, saya juga tidak tahu. Waktu berjalan, informasi tertinggal, dan saya pun sudah cukup lama tidak mengikuti perkembangan event di Lampung.

Dan mungkin memang begitu cara perjalanan bekerja.

Kita kembali ke tempat yang sama, tapi dengan cerita yang berbeda.

Kali ini, cerita saya ada di Hotel 21 Gisting.

Kalau dilihat dari luar, hotel ini tidak menawarkan kemewahan. Tidak ada desain yang dibuat untuk menarik perhatian, tidak ada konsep yang sengaja dibentuk untuk terlihat estetik. Tapi justru di situlah letak kejujurannya. Ia tidak mencoba menjadi sesuatu yang bukan dirinya.

Sebagai hotel di Gisting Tanggamus Lampung, tempat ini menawarkan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh banyak orang yang datang ke daerah ini. Tempat istirahat yang bersih, suasana yang cukup nyaman, harga yang masuk akal, dan proses yang tidak menyulitkan.

Untuk perjalanan singkat seperti saya kemarin, satu malam menginap sebelum melanjutkan aktivitas lain, hotel ini terasa lebih dari cukup. Bahkan untuk beberapa malam pun masih sangat layak, terutama kalau sebagian besar waktu dihabiskan di luar.

Secara biaya, hotel ini memang tidak menguras kantong. Tapi kalau bicara pengalaman, saya justru merasa apa yang saya dapatkan lebih dari yang saya bayar. 

Karena di balik harga yang sederhana, ada hal yang tidak semua hotel punya.

Pemandangan.

Dari balkon kamar, saya bisa melihat Gunung Tanggamus berdiri tenang di kejauhan. Dan pemandangan seperti itu, kalau harus diberi nilai, rasanya tidak pernah benar benar murah.

Di kota, kita mungkin bisa membayar mahal untuk mendapatkan view. Tapi di sini, view itu datang sebagai bonus. Tanpa diminta, tanpa dibuat buat, hanya ada begitu saja.

Dan di situ saya mulai berpikir, mungkin yang mahal itu bukan hotelnya. Tapi momen yang kita dapatkan di dalamnya.

Jadi kalau suatu saat kalian punya keperluan di Gisting, entah itu untuk acara, pekerjaan, atau sekadar singgah dalam perjalanan, Hotel 21 Gisting ini bisa jadi pilihan yang cukup bijak.

Bukan karena dia yang paling mewah. Tapi karena dia tidak membuat kalian menyesal sudah memilihnya. Dan kadang, dalam perjalanan, itu sudah lebih dari cukup.

Sandalwood Boutique Hotel Lembang, Rumah Kenangan di Tengah Sejuknya Lembang

Kembali ke Sandalwood

Tujuh tahun lalu saya datang ke Sandalwood Boutique Hotel saat dua anak masih dalam masa transisi antara dunia bocil dan remaja tanggung. Sekarang saya kembali, bersama versi mereka yang telah tumbuh lebih tinggi, lebih tenang, dan mulai berjalan di jalur hidup masing-masing

Waktu memang terus melaju. Tapi Sandalwood? Masih setia. Hotelnya nyaris tak berubah. Hanya kami saja yang datang dalam versi yang berbeda. Versi yang lebih dewasa, lebih banyak cerita, lengkap dengan bonus sendi-sendi yang mulai protes. 

Begitu masuk gerbang, rasanya seperti pulang ke rumah nenek. Bedanya, nenek ini punya selera interior yang lebih estetik dan kolam ikan yang isinya mungkin lebih mahal dari total isi kulkas saya.

Udara sejuk menyambut, rumah bergaya country ala film koboi menyapa, dan hati ini langsung bergumam, “Ya Allah, semoga kali ini saya bisa mandi dua kali sehari. Jangan sampai terulang kayak dulu, tiga hari nginep cuma cuci muka doang karena nggak kuat dinginnya.”

Bangunan paling depan di Sandalwood ini bergaya country. Di sinilah tamu disambut. Ada lobby, kafe, kantor, dan satu kamar di lantai bawah yang jadi tempat kami menginap. Lantai atasnya rumah owner (private).

Staycation Sembari Menyelesaikan Hal Penting

Tujuan kami ke Lembang kali ini? Campuran antara liburan keluarga dan urusan domestik yang tetap harus jalan, meskipun sedang staycation. Namanya juga hidup, kadang harus bisa multitasking antara menikmati udara sejuk dan mengurus hal-hal penting yang gak bisa ditunda.

Bandung memang selalu bisa bikin jatuh hati, meskipun kadang macetnya bikin saya mikir… mungkin saya lebih butuh kesabaran ekstra daripada itinerary healing.

Tapi jarak Bandung Jakarta yang katanya cuma dua setengah sampai tiga jam itu ya tergantung niat, doa, dan jam berangkat. Salah ambil waktu, bisa lebih lama dari hubungan yang cuma jadi HTS dan gak pernah naik level. Tapi tetep, Lembang punya magnet. Udaranya adem, warganya ramah, dan hawanya tuh... bikin saya tiba-tiba pengin beli rumah di Lembang meskipun sebelumnya gak kepikiran sama sekali. Waktu saya cerita soal niat ini ke teman yang juga adik tingkat kuliah, dia langsung nunjukin info penjualan rumah deket tempat tinggalnya sekarang. Katanya, biar jadi tetangga. Oh iya, biar bisa gantian nyiram tanaman atau saling pinjem terasi buat nyambel.

Ini bangunan kedua, terletak di bagian tengah area hotel dan posisinya menghadap langsung ke kolam renang.


Bangunan ketiga ada di ujung area, paling belakang. Posisinya menghadap taman dan pohon-pohon pinus yang bikin suasana jadi sejuk dan tenang.

Mahogany Royal Suite — Kamar Tidur Eks Owner, Tempat Mimpi Ekspektasi

Kamar kami kali ini: Mahogany Royal Suite. Dari namanya aja udah kecium aroma mewah, kayak sabun hotel yang baunya gabungan antara sandalwood dan cita-cita pensiunan pejabat. Lokasinya paling depan, mepet sama lobi dan kafe. 

Ini bukan kamar biasa. Dulu kamar owner-nya langsung, Pak Billy dan Ibu Nila. Iya, beliau berdua adalah pemilik De Ranch, tempat wisata berkuda nan kondang itu. Jadi bisa dibilang, kami tidur di tempat yang dulunya mungkin jadi saksi lahirnya keputusan bisnis besar. Setidaknya, ini bisa jadi tempat beliau rebahan sambil nonton acara televisi yang gak mau diakuin tapi semua orang nonton juga.

Dalam 1 kamar terdiri dari 3 tempat tidur. Ini kasur pertama.

Ini kasur kedua dan ketiga, masih di kamar yang sama.

Kamarnya luas. Terbagi jadi dua ruang tidur, dua dunia yang berbeda. Satu King Bed buat saya dan Aisyah, satu lagi dua single bed buat Alief dan papanya. Interior dan perabotnya bergaya klasik elegan. Banyak sentuhan kayu yang memberi kesan hangat, dipadu dengan lampu-lampu model vintage yang bikin suasana makin cozy, serta meja rias besar yang seolah mengajak untuk bersolek. Rasanya seperti sedang menginap di rumah bangsawan, tapi yang sudah update dengan kenyamanan modern khas staycation keluarga.

Fasilitasnya lengkap: TV, kulkas, pemanas air, teh, kopi, gula—semua tersedia, seperti hidup ideal dalam katalog IKEA. AC memang tidak ada, tapi di tempat ini, rasanya memang tidak butuh. Udara tetap sejuk bahkan di siang hari, membuat saya merasa cukup hanya dengan membuka jendela.

Perabot dan dekorasi kamar Mahogany Royal Suite

Atas: snack gratis di kamar dan minuman. Bawah: handuk untuk 4 orang

Teras depan kamar, menghadap ke kolam ikan. Kamar ini bersebelahan langsung dengan kafe hotel dan area reservasi.

Kolam depan kamar berisi ikan-ikan mahal :D
 
Yang membuat saya merasa istimewa bukan hanya kasurnya yang empuk, tapi juga karena setiap kali melangkah ke teras, saya berada di posisi yang secara harfiah lebih tinggi dari kolam ikan mahal di bawah sana. Bukan sekadar kolam hias biasa. Isinya bukan koi yang bisa diberi sisa nasi, melainkan jenis ikan yang terlihat begitu berkelas, seolah kalau dikasih biskuit sembarangan, bisa-bisa langsung menuntut secara hukum perikanan. 

Staycation Rasa Cuti Premium

Apa yang saya suka dari kamar Mahogany Royal Suite? Tenang. Padahal letaknya mepet banget dengan lobi dan kafe, tapi sama sekali tidak terdengar berisik. Bahkan saya bisa memesan makanan dan minta diantar ke teras. Rasanya seperti… oh, begini ya hidup kalau tidak harus mikirin Google Calendar dan grup WhatsApp kerjaan.

Tapi tetap saja, saat duduk santai sambil makan, kadang pikiran merayap ke kenyataan: bahwa liburan seperti ini tidak bisa saya lakukan setiap minggu. Tapi ya sudahlah. Sesekali tidak apa-apa. Hidup ini kan bukan cuma soal hitung-hitungan untung rugi.

Keseluruhan isi kamar dapat dilihat pada video berikut ini:

Dulu saya pernah menginap di kamar lain, yang posisinya persis di samping kolam renang. Desainnya lebih modern, tanpa sekat, dan cocok untuk keluarga besar yang tidak terlalu memikirkan privasi. Tapi kali ini, kamar Royal Mahogany terasa seperti hadiah kecil dari semesta. 

Tarif Mahogany Royal Suite saat itu (bulan Mei 2025) Rp 2.788.000 per malam sudah termasuk sarapan untuk empat orang.  Bukan masuk kategori hemat, tapi masih jauh untuk sampai taraf sultan. Tapi ya memang sepadan. Pengalaman menginap yang bikin rileks dan berasa istimewa.

Karena dalam hidup ini, kadang kita butuh sesuatu yang terasa seperti pencapaian. Walau cuma duduk di sofa teras, sambil melihat ikan yang hidupnya tampak lebih tenang daripada isi kepala manusia dewasa.

  

Malam Dingin dan Perapian di Kafe

Kami tiba di Sandalwood selepas magrib, dengan kondisi cuaca yang cocok banget buat syuting iklan minyak kayu putih. Hujan turun deras, hawa dingin nempel sampai ke tulang kering, dan jalanan Lembang terasa lembap maksimal. Tapi gerbang hotel terbuka lebar, seolah berkata, “Masuk aja, Bu, dunia luar udah cukup kejam.”

Di parkiran, seorang staf hotel datang nyamperin kami sambil bawa payung. Ramahnya ngalahin satpam perumahan yang sudah saya kenal dari zaman anak masih bocil. Saya duluan turun buat check-in, sementara suami dan Alief sibuk membongkar muatan dari mobil, kegiatan romantis versi keluarga urban: ngangkat tas berisi baju yang kemungkinan besar nggak bakal dipakai semua.

Kamar kami sebelahan banget sama kafe, jadi enak kalau mau makan tinggal selangkah saja.

Check-in nya cepat. Yang agak lama cuma bagian struk pembayaran, tiba-tiba loading lama. Tapi aman. Mungkin sinyalnya ngambek. Maklum, hujan. Siapa tahu sinyal juga punya perasaan. 

Di sini, yang bikin nostalgia mulai merasuk: kuncinya masih manual, bukan kartu digital. Rasanya bagai pulang ke rumah orang tua, yang pintunya masih pakai kunci gembok segede harapan ibu-ibu arisan. Begitu masuk kamar, saya langsung pesan makanan ke kafe yang literally ada di sebelah kamar. Dekat banget, kayak tetangga yang hobi numpang hidup.

Malam itu kami order nasi goreng, sop iga, fish and chips, dan mie tek tek. Aisyah makan di kamar sambil scrolling layar HP. Saya, suami, dan Alief makan di teras, menikmati dinginnya malam sambil memandangi ikan-ikan yang berenang pelan di kolam bawah teras. Remang-remang, tapi masih kelihatan, dan tetep kelihatan mahal. 

Makan malam dengan menu kafe hotel: nasi goreng, sop iga, fish and chips, dan mie tek tek yang ketinggalan difoto

Abis makan, kami nggak langsung tidur. Entah kenapa, badan capek tapi mata tetap nolak diajak kompromi. Suami nonton TV, Alief cek HP, Aisyah senderan sambil scroll TikTok kayak anak sultan yang baru dibebaskan dari karantina Wi-Fi. Saya diam saja, membiarkan mereka larut dalam kebebasan digital. Toh, seharian tadi mereka udah cukup offline. Malam ini biarlah mereka reconnect ke dunia maya. Kita semua butuh pelarian, walau cuma lewat konten daily life orang asing di TikTok.

Cuaca makin menggigit. Dingin kayak sindiran halus dari orang yang nanya, “Udah punya vila di Bali dan Lombok belum?” Jaket, kupluk, dan kaus kaki udah dipakai semua, tapi tetap nggak cukup. Akhirnya suami ngajak pindah ke kafe, duduk di depan perapian. Nggak jauh sih, cuma geser tujuh langkah. Tapi vibes-nya beda. Di situ ada perapian sungguhan. Bukan video api 10 jam di YouTube, tapi beneran api yang bunyi “krek-krek” dan bikin hangat sampai ke jiwa. 

Kami duduk santai, pesan bandrek dan pisang goreng, duo menu sakral yang paling cocok dinikmati saat suhu di bawah 20 derajat dan isi kepala lagi butuh diem. Api unggun menyala tenang, suara kayunya berderak pelan, seolah bisikan semesta yang hendak mengatakan, “Tenang... semua akan baik-baik saja. Kecuali deadline konten kamu yang udah tiga hari lewat.”

Pas saya balik ke kamar sebentar buat ambil jaket, kejadianlah peristiwa kecil yang bikin saya senyum miring. Meja yang tadi kami tempati udah diisi dua bocah berwajah asing. Mereka dari Pakistan. Tahu dari mana? Dari suami saya yang emang hobi banget ngobrol sama siapa pun meski itu orang asing.

Di situ ada perempuan tinggi, cantik, posturnya kayak model katalog baju mahal, dan seorang pria dewasa. Saya kira mereka suami istri. Ternyata mereka kakak-adik. Bocah-bocah tadi anak si perempuan. Bapaknya? Masih misterius kayak password Wi-Fi tetangga. Tapi pagi harinya, pas sarapan, barulah muncul: pria dewasa, lebih tua, tampan, dan langsung ditempelin dua bocil tadi kayak magnet nempel kulkas. Dari situ saya tahu: oh, ini bapaknya. Dunia kembali waras.

Kalau kalian penasaran siapa perempuan Pakistan cantik itu, silakan cek IG nya @safdi (Sadaf Hamid). Kami saling follow di IG. Anak-anaknya cakep dan lucu.

Bandrek hangat dan pisang goreng panas. Teman duduk yang pas di depan perapian, menikmati dinginnya udara malam Lembang
 

Balik ke malam itu. Karena kursi saya udah ditempati, saya otomatis mundur pelan sambil ambil teh dan pisang goreng kayak ninja yang baru sadar spotnya direbut. Si ibu minta maaf berkali-kali, dengan ekspresi tulus khas ibu-ibu yang tahu anaknya barusan bikin onar. Saya senyum santai, “It’s okay.” 

Suami lanjut ngadep perapian. Kami duduk lagi, ngobrol ngalor-ngidul, bahas hal penting kayak kenapa bandrek lebih nikmat di gelas kaca daripada mug keramik fancy. Jam sepuluh malam akhirnya kami masuk kamar. Mata mulai berat, badan mulai lengket, dan Sandalwood terasa seperti tempat pulang yang nggak perlu banyak basa-basi.

Semua tidur lelap malam itu. Istirahat yang tenang, tanpa notifikasi, tanpa alarm, tanpa email jam sebelas malam dari bos yang katanya “urgent.” Malam sederhana, dengan perapian, bandrek, dan sedikit kesadaran bahwa kadang, nikmat hidup itu sesimpel tempat duduk yang hangat dan teh yang nggak hambar.

Video di perapian kafe bisa ditonton di sini: 


Kabut di Pagi Hari

Saya terbangun pas adzan Subuh, karena mendengar suara air mengalir dari kamar mandi. Rupanya suami sudah bangun lebih dulu. Memang biasanya kalau lagi di rumah, beliau selalu bangun lebih pagi supaya bisa berangkat subuh berjamaah ke masjid. Saya? Kadang masih tim snooze tiga kali. Tapi ini bukan soal siapa yang lebih rajin, cuma tentang ritme yang berbeda. Ada yang bisa bangun tanpa drama, ada juga yang perlu negosiasi sama alarm.

Setelah semua ritual ibadah rampung, kami keluar kamar. Bukan ke mana-mana, cuma ke teras sejengkal dari pintu, demi satu tarikan napas udara segar yang katanya bisa memperpanjang usia dan mengurangi kerutan wajah. Tapi yang menyambut justru kabut. Tebal. Memburamkan pemandangan, membuat yang jauh tak terlihat dan yang dekat pun terasa enggan didekati. Seperti suasana hati yang lagi ngambek, semuanya diselimuti emosi pasif-agresif.


Tapi ya begitulah kabut. Dia nggak ribut, nggak banyak gaya, tapi langsung ambil alih panggung. Rasanya kayak hidup sedang disuruh pelan pelan. Jalanin aja. Nggak usah buru buru. Bahkan cahaya pun dia suruh nunggu. Sumpah, kabut ini lebih disiplin dari beberapa manajer HR yang saya kenal.

Anak-anak masih rebahan di kasur masing-masing, kayak sepasang nugget yang ogah digoreng. Libur sekolah membuat Aisyah merasa punya royalti atas kasur empuk dan bantal dingin, sebuah hak istimewa yang bahkan presiden pun belum tentu dapet. Sementara Alief? Dia lagi pura-pura lupa kalau mandi pagi itu bagian dari akhlak mulia. Katanya, "Tunggu mood-nya nyala dulu." Lah, bro, itu mood apa rice cooker?

Masih pagi, kabut tipis menyelimuti. Suasananya sunyi, tapi syahdu. Bangunan ketiga ini menyimpan deretan kamar yang cantik-cantik. Setiap kamar punya nuansa berbeda, karena memang didesain dengan tema yang tak sama. Semuanya menarik, rasanya ingin mencoba satu per satu.

Pagi itu terlalu damai. Bahkan alarm pun menyerah. Suara burung pun sopan, nggak berani nyaring-nyaring. Angin hotel semilir kayak bisikan Brad Pitt yang nyesel jadiin saya mantan, bikin kasur makin lengket sama badan. Dan saya? Sedang berdiri di antara dua anak yang udah upgrade diri jadi kayak koala rebahan.

Tapi ya, begitulah… kadang staycation bukan tentang jalan-jalan, tapi tentang menunda kenyataan. Menunda mandi, menunda gosok gigi, menunda jadi manusia. Karena toh, dunia nggak akan kiamat cuma gara-gara bangun jam sepuluh saat staycation, kan? Wkwk.

Suami ngajak jalan pagi. Kami menyusuri jalan setapak menuju kolam renang, lalu ke bawah pohon pinus. Tempat ini hening. Sepi. Kalau pun ada suara, itu pasti dari dalam hati, atau dari perut yang belum sarapan. Tapi mostly dari hati. 

Kami jalan pelan-pelan, nggak ngomong banyak. Ini bukan jalan pagi biasa. Ini semacam meditasi low budget. Nggak perlu aplikasi mindfulness atau retreat mahal ke Ubud. Cukup kabut, pohon pinus, dan seseorang yang mau diajak jalan tanpa nanya “Kita mau ke mana sih?”

Tamu-tamu lain mungkin masih tidur, bersembunyi di balik selimut dan keputusan hidup yang belum selesai. Saya ngerti. Nggak semua orang bisa bangun pagi lalu sok menikmati alam, karena kadang kabut luar cuma pengalihan dari kabut batin. Tapi saya beruntung pagi itu. Punya waktu 45 menit sebelum jam sarapan. Cuma 45 menit, tapi rasanya kayak nemu celengan ayam yang isinya masih utuh. 

Cahaya yang dinanti mulai tajam menyinari

Menjelang jam tujuh, cahaya matahari mulai menyusup pelan menerobos dedaunan. Kabut pun pamit, mungkin dia juga harus kerja. Gantian terang yang datang, hangatnya pelan pelan menjilat batang pohon, tanah, rumput dan segala yang mampu digapai. Tapi momen sunyi kayak gini? Nggak datang dua kali. Kadang hidup cuma kasih satu take. Nggak ada tombol replay. Nggak ada filter.

Video kabut pagi di Sandalwood Hotel dapat ditonton pada video berikut:

Sarapan Bermandikan Cahaya

Sarapan di Pine Resto, Sandalwood Hotel. Nama restonya mengandung unsur pinus, suasananya mengandung unsur healing, dan makanannya mengandung unsur keikhlasan ibu-ibu yang masak tiap hari tapi nggak pernah libur.

Kami duduk di spot favorit tujuh tahun lalu. Sofa pojokan dekat jendela yang terang benderang tanpa penghalang, cahaya matahari tumpah ruah ke atas meja makan. Disinari hangatnya matahari pagi yang sanggup ngusir dingin Lembang, dan juga dingin yang biasa datang saat notifikasi masuk... tapi isinya tagihan, bukan transferan.

Pagi itu saya dan keluarga tidak hanya duduk untuk makan. Kami duduk untuk mengenang. Karena bangku yang sama, cahaya yang sama, ditemani orang-orang yang sama, dan perasaan yang hampir sama kadang bisa mengingatkan bahwa waktu memang jalan terus, tapi rasa bisa nangkring di tempat. 


Menu sarapan sebenarnya lengkap, pilihan makanan berat dan ringan sangat banyak. Tapi pagi itu kami sarapan dengan yang paling menarik di mata dan perut kami. 

Ada roti tawar tebal tapi empuk yang bisa dikukus kalau diminta, roti yang lebih lama jadi objek foto daripada saat dikunyah dan ditelan.

Ada pula bubur ayam, siomay, mie bakso, sereal, salad, omelet, dan sedikit menu berat buat yang percaya kalau sarapan itu cuma makan siang versi lebih santai. 




Sarapan kami

Semua tersaji dalam gaya buffet. Tinggal pilih, tinggal ambil, terus overthinking setelahnya karena tiba-tiba meja yang ditempati jadi meriah. Bukan karena lapar luar biasa, tapi karena semuanya kelihatan, “kok enak ya dicobain?” Haha. Tapi alhamdulillah semua dimakan, nggak ada yang mubazir. Senang. Kenyang.

Video kami sarapan di Pine Resto Sandalwood Hotel dapat ditonton pada video berikut:



Jumpa Pak Billy Mamola

Di luar sana, Lembang sudah mulai menggeliat. Long weekend dan macet kayak jodoh dan utang, selalu datang beriringan. Jadi kami putuskan buat nggak ke mana mana. Cukup staycation. Nikmatin hotel. Duduk. Sarapan. Nggak pakai target. Karena di dunia yang makin sibuk ini, kadang kita butuh satu hari buat ngerasa kayak manusia biasa, bukan sekadar objek algoritma dan deadline.

Yang bikin momen makin berkesan adalah kehadiran Pak Billy. Owner Sandalwood Hotel sekaligus pemilik De Ranch. Beliau datang menyapa tamu. Ramah banget. Hangat. Tipikal orang yang kalau kita lihat langsung pengen ngomong, “Pak, saya boleh nggak kerja di sini aja?”

Beliau bukan sekadar pemilik tempat, tapi penjaga atmosfer. Karena nggak semua orang kaya bisa ramah. Dan nggak semua orang yang senyum itu tulus. Tapi Pak Billy berhasil bikin kami ngerasa disambut. Nggak cuma secara layanan, tapi secara rasa.

Feels like home? Totally. Tapi ini versi rumah yang nggak perlu nyuci piring abis makan.

Dan satu hal yang bikin hati saya nyes, Pak Billy ini seusia dengan almarhum bapak saya. Pertemuan kami ini adalah yang kedua setelah tujuh tahun berlalu, dan rasanya tetap sama: hangat dan membekas. Saat beliau menyapa, mengajak kami duduk, ngobrol, bahkan memberi nasihat baik buat Alief, saya seolah sedang duduk bersama bapak sendiri. Seperti mengajak anak-anak bertemu kakeknya.

Mungkin ini halu, tapi terasa nyata. Bahkan jika boleh jujur, raut wajah Pak Billy hari ini tak jauh beda dengan bayangan saya tentang bapak jika beliau masih hidup. Saya jadi rindu bapak 😭

Video ngobrol dengan Pak Billy dapat ditonton pada YouTube Short berikut: Billy Mamola, Master of Indonesian Horsemanship

 

Nyebur Demi Eksistensi (dan Imun Tubuh)

Jam 10 pagi di Lembang. Langit biru secerah niat awal tahun yang biasanya kandas di minggu kedua. Matahari bersinar hangat, cukup untuk mengusir kabut sisa subuh, tapi belum cukup buat bikin kolam renang terasa ramah. Udara segar semriwing, tipikal Lembang yang kalau dilabelin bisa masuk kategori AC alami yang hemat listrik, tapi tetap sukses bikin menggigil.

Di tengah semua itu, kolam renang tampak tenang. Terlalu tenang, malah. Airnya jernih, diam, seperti sedang menunggu siapa yang berani mengusik. Lalu datanglah Alief yang tampaknya nggak punya rasa takut terhadap suhu. Tanpa banyak pikir, dia langsung nyebur. Byuur. Reaksi? Biasa aja. Seolah airnya cuma satu dua derajat lebih dingin dari air minum galon. Mungkin bagi dia, ini masih masuk kategori "lumayan seger". Bagi saya? Cuma dari suara cipratannya saja sudah bisa bikin bulu kuduk berdiri.


Nggak lama kemudian, suami saya nyusul. Santai banget, kayak nyebur ke jacuzzi, bukan ke kolam yang airnya bisa bikin pipi keram. Saya sendiri sedang duduk ngobrol dengan teman, dan karena terlalu seru bercerita, tiba-tiba sadar mereka sudah selesai berenang. Saya sempat bengong, merasa seperti penonton konser yang datang pas encore: telat, tapi masih berharap dapat pengalaman spiritual.

Anak dan suami saya ini memang terbiasa mandi air dingin setiap pagi. Bukan karena tidak ada akses air hangat. Justru kami punya, tapi mereka percaya mandi air dingin itu salah satu cara untuk membuat tubuh lebih kuat. Katanya ini latihan. Latihan tahan banting, latihan biar sehat, sekaligus ikut sunnah Rasul. Sementara saya, yang tiap pagi bisa saja debat sama air yang suhunya kurang anget dikit, rasanya langsung merenung soal ketahanan mental saya yang ternyata lebih cocok hidup di negara tropis.

Kolam renang hotel dilihat dari Pine Resto, tempat sarapan di Sandalwood Hotel

Konon, mandi air dingin punya banyak manfaat: melancarkan sirkulasi darah, memperkuat imunitas, menurunkan stres, menjaga vitalitas, dan yang paling penting untuk melatih kesabaran. Kesabaran menerima kenyataan bahwa pagi-pagi belum ngopi, tapi sudah harus menyatu dengan air yang seolah menyimpan dendam terhadap umat manusia.

Berenang di sini seolah ajang pembuktian siapa paling tahan air dingin. Kalau menurut suami saya, ini justru momen yang pas: udara segar, waktu luang, fasilitas oke, kenapa nggak dimanfaatkan buat memperkuat fisik? Saya mengangguk, sambil menyembunyikan diri di balik jaket tebal, dan mengiyakan dari jauh.

Mungkin memang dunia ini dibagi dua: antara mereka yang bisa nyebur ke air dingin tanpa keraguan, dan mereka yang butuh sepuluh menit untuk berdiri di pinggir kolam sambil mikir, “Ini air atau tantangan hidup?” Saya jelas golongan kedua. Tapi bukan berarti kalah. Karena justru di titik itu, saya sadar bahwa keberanian nggak selalu soal aksi dramatis. Kadang, cukup dengan mau duduk diam, memperhatikan, lalu menuliskannya dengan jujur. Itu juga bentuk keberanian. Wkwk.

Cahaya menari lewat celah-celah daun, menempel di punggung Alief seperti lukisan alam yang diam-diam hadir.

Hari itu di Sandalwood, kolam renang bukan cuma tempat buat berenang. Tapi jadi pengingat: bahwa tubuh punya batas, dan pilihan kita untuk menghormati batas itu juga penting. Anak saya berenang dengan semangat, suami saya ikut menikmati, dan saya? Duduk manis, mengamati, lalu mengabadikannya dalam cerita. Semua orang punya cara menikmati liburan. Ada yang nyebur, ada yang nyeruput teh sambil menghindari angin.

Saya, sudah sangat bahagia dengan peran saya hari itu. Karena meski tidak nyemplung, saya tetap ikut basah oleh rasa syukur.

Video saat berenang dapat ditonton di sini: 


Mie Tek-Tek yang Wajib Dicoba

Sebelum sampai ke Sandalwood, seorang teman sudah menitipkan satu pesan penting, dengan semangat yang nyaris menyerupai misi hidup: “Pokoknya cobain mie tek-teknya, ya. Sekali cicip... beuuuuh, nagih banget!”

Saya tidak langsung terbawa suasana. Tapi dalam hati sempat bertanya, dari sekian banyak menu hotel, kenapa mie tek-tek yang jadi andalannya? Apakah ini semacam simbol kejayaan kuliner lokal? Atau hanya karena ia punya kenangan manis dengan semangkuk mie hangat di tengah udara Lembang yang dingin? Entahlah. Tapi semangatnya cukup membuat saya penasaran.

Pertama kali mencicipi mie tek-tek ini adalah saat kami baru tiba di hotel. Malam sudah larut, badan lelah, perut keroncongan. Tanpa banyak pertimbangan, saya langsung memesan satu porsi mie tek-tek. Anak-anak dan suami, seperti yang sudah saya ceritakan di awal, memilih menu masing-masing. Tidak ada ekspektasi muluk. Saya membayangkan semangkuk mie goreng basah ala abang-abang gerobak, tapi versi hotel bintang tiga.

Ternyata saya keliru. Mie tek-tek ini bukan mie biasa. Rasanya seperti pertemuan manis antara kecap yang lembut, kaldu yang gurih dan penuh rasa, serta aroma bawang putih yang tajam tapi menyenangkan. Kuahnya hangat dan ringan, tapi punya kepribadian yang kuat. Bukan sekadar air rebusan bumbu instan. Mienya kenyal, tidak lembek, dan menyerap bumbu dengan sempurna. Seperti generasi muda yang tahu cara belajar sungguhan tanpa bergantung sepenuhnya pada konten lima belas detik.

 

Anak-anak yang awalnya menikmati pesanan mereka masing-masing, mulai melirik mie tek-tek saya. Mereka minta sedikit, lalu keesokan harinya tanpa perlu dibujuk, semua kompak memesan mie tek-tek. Satu porsi untuk satu orang. Tidak ada yang mau berbagi. Demokrasi kuliner pun tercapai dengan tenang dan damai.

Tapi kejutan terbesar datang dari suami dan Alief. Mereka makan mie tek-tek itu dengan nasi. Katanya, “Biar afdol.” Saya sempat bengong. Mie itu sudah karbohidrat. Kenapa masih harus disandingkan dengan nasi putih? Tapi inilah realita. Di negeri ini, makan mie tanpa nasi bisa dianggap sebagai keputusan yang kurang bertanggung jawab secara emosional. Filsafat “belum makan kalau belum ketemu nasi” memang nyata adanya. Ia diturunkan dari generasi ke generasi, lebih kuat dari hukum logika nutrisi, dan lebih kokoh dari niat diet.

Saya jadi berpikir. Di Indonesia, makanan bukan hanya soal rasa, tapi juga keyakinan. Ada yang merasa bersalah makan bakso tanpa lontong, ada yang panik kalau menyantap sate tanpa nasi atau lontong. Bahkan salad pun bisa dijadikan lauk, asal disandingkan dengan nasi hangat. Semua sah, selama ada nasi di piring.

Rasanya seperti sedang menyaksikan pertunjukan kebudayaan, tapi panggungnya adalah meja makan. Sepiring mie bisa memicu diskusi panjang soal identitas, kebiasaan keluarga, hingga cara kita memandang hidup. Dan kalau pertunjukan itu berlangsung di tempat sehangat dan seasyik Savannah in Woodland, resto hotel @sandalwood.hotel, pengalaman kuliner itu terasa seperti catatan antropologis yang bisa dimakan.

Mungkin memang benar, kadang menu yang direkomendasikan dengan penuh keyakinan menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar rasa. Ada cerita di baliknya. Ada kebiasaan, ada perasaan nyaman, dan sedikit ironi tentang bagaimana kita makan bukan hanya karena lapar, tapi juga karena tradisi, kebanggaan, dan... kepercayaan.

Video makan mie tek-tek di Sandalwood Hotel dapat ditonton berikut:

 

Sandalwood, Cinta, dan Helai Uban 

Tujuh tahun lalu, saat kami sekeluarga pertama menginap, hotel kece di Lembang ini masih terasa seperti hidden gem. Sekarang sih, lebih ke hidden memories. Tapi ya, mau gimana, nostalgia memang jarang datang dengan harga diskon.

Waktu itu kami jelas lebih muda dari sekarang. Rambut suami saya masih banyak hitamnya, belum penuh highlight alami dari alam semesta. Sekarang? Sudah dipenuhi helai-helai putih yang katanya sih tanda kebijaksanaan. Walau saya curiga, itu hasil kombinasi antara begadang, kerja keras, dan terlalu sering mikir PR anak yang kayak soal olimpiade.

Kami pun memutuskan untuk foto lagi di spot yang sama. Tempatnya masih estetik, vibes-nya tetap cozy, dan keramahan orang-orangnya tetap hangat. Tapi kali ini, bukan cuma wajah yang berubah. Dulu pakai hape tiga jutaan yang kalau malam hasil fotonya lebih cocok buat laporan paranormal. Sekarang, kameranya lebih canggih, tapi tetap... nggak bisa menyembunyikan kantung mata.

Foto kami bulan Mei 2025

Saat berfoto di tahun 2018
 
Namun, perubahan paling besar justru ada di dalam kepala. Dulu kami mikir liburan itu soal destinasi. Sekarang? Lebih soal kebersamaan. Tentang siapa yang ikut, siapa yang ngurus itinerary, dan siapa yang siap motret tanpa ngeluh tangan pegal. Karena liburan keluarga zaman now tuh kadang kayak shooting iklan: lebih banyak take foto daripada take nap.

Sandalwood tetap sebagus dulu. Tapi sekarang, dia terasa seperti panggung kecil buat refleksi hidup. Dulu datang ke sini saya bawa semangat dan aroma parfum mahal. Sekarang? Lebih ke semangat yang dicampur minyak kayu putih dan koyo aroma menthol. Soalnya, jalan nanjak satu hari, efek pegalnya bisa bertahan sampai Jumat. Itu pun kalau nggak bonus encok.

Betapa waktu melaju cepat, seperti alarm pagi yang nggak pernah ditunda, tahu-tahu saya dan suami sudah setua ini. Tapi dari semua perubahan itu, kami sepakat satu hal: yang paling penting bukan siapa yang paling romantis, tapi siapa yang mau tetap duduk bareng saat semua terasa nggak manis. 

Foto tahun 2018 di Sandalwood.


Foto kami di tahun 2025

Itulah kenapa kami kembali ke sini. Bukan untuk mengulang masa lalu, tapi untuk menghargai perjalanan. Karena cinta, kalau terus dipelihara insyaAllah tetap tumbuh. Tumbuh itu nggak harus selalu estetik seperti di Pinterest. Kadang tumbuhnya sambil ngambek, sambil diam-diam beli cemilan padahal lagi diet, atau sambil saling nyindir pakai nada manis. Tapi tetap aja... ujung-ujungnya tidur di kasur yang sama.

Akhirnya, kami berdiri lagi di titik yang sama, ambil foto dengan senyum yang lebih tulus (dan pipi yang lebih montok). Saya pun nyeletuk ke suami, "Lihat deh, dulu aku masih tirus." Dia jawab, “Dulu aku belum sebijak sekarang.” Jawaban aman, ya kan?

Sama-sama berubah, tapi masih di sini. Kadang masih saling nyebelin. Masih saling nemenin.

Beberapa foto before & after dari 2018 ke 2025 dapat dilihat pada postingan berikut: 

Sandalwood tak berkata apa-apa. Tapi saya tahu dia paham. Dia saksi, bahwa perjalanan bukan hanya tentang tempat yang dituju, tapi tentang siapa yang setia di tanjakan, meski napas tinggal separuh.

Sampai jumpa lagi, Sandalwood. Saat rambut kami semakin memutih, dan cerita kami bertambah bab baru.