Tampilkan postingan dengan label Hotel 21 Gisting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hotel 21 Gisting. Tampilkan semua postingan

Review Hotel 21 Gisting Tanggamus Lampung: Hotel dengan View Gunung Tanggamus

Kadang, yang paling berkesan dari sebuah perjalanan justru bukan tempat wisatanya, bukan juga acaranya, tapi tempat kita berhenti sebentar untuk tidur, mandi, dan diam sejenak dari riuh hidup yang kita bawa dari kota. Dan lucunya, tempat seperti itu sering kali bukan yang paling mahal, bukan yang paling cantik, tapi yang paling… jujur. 


Hotel 21 Gisting Tanggamus Lampung: Penginapan Sederhana dengan View Gunung yang Tidak Terduga

Saya menemukan kejujuran itu di Hotel 21 Gisting, sebuah hotel di kawasan Gisting, Kabupaten Tanggamus yang awalnya saya pilih bukan karena ekspektasi tinggi, tapi justru karena tidak punya cukup alasan untuk menolaknya. Dalam pencarian hotel di Gisting Tanggamus Lampung yang pilihannya tidak terlalu banyak, kadang yang “tidak bermasalah” justru terasa seperti jawaban terbaik.

Tapi sebelum sampai ke sana, perjalanan ini ternyata punya ceritanya sendiri.

Tanggal 20 September 2025, saya dan rombongan kecil berangkat ke Gisting, sebuah kawasan dataran tinggi yang sejuk dan berada sekitar 75 kilometer dari Bandar Lampung. Wilayah ini sebenarnya bukan tempat yang kekurangan destinasi. Justru sebaliknya, Tanggamus dikenal punya bentang wisata yang lengkap, dari pegunungan sampai pesisir.

Nama nama seperti Teluk Kiluan yang identik dengan lumba lumba, atau Pantai Gigi Hiu dengan formasi karangnya yang tajam dan dramatis, sering jadi alasan orang datang jauh-jauh ke sini. Belum lagi kawasan Kota Agung yang hidup dengan aktivitas pesisirnya, termasuk pelabuhan ikan yang menjadi denyut ekonomi masyarakat setempat.

Tapi menariknya, Gisting tetap terasa berbeda. Ia seperti bagian dari Tanggamus yang memilih tidak terlalu ramai. Udara yang sejuk, suasana yang lebih pelan, dan lanskap yang tidak terburu-buru membuat tempat ini terasa seperti jeda di antara banyaknya tujuan.

Dan di situlah saya berhenti. Bukan untuk berlibur panjang, tapi untuk singgah.

Baca juga: Jalan-jalan di Gisting Tanggamus Lampung

Mencari Hotel di Gisting: Antara Harapan, Review, dan Sedikit Spekulasi

Tujuan kami datang sebenarnya sederhana, kondangan. Tapi seperti yang sering terjadi, perjalanan menuju acara yang hanya berlangsung beberapa jam itu justru menyimpan cerita yang jauh lebih panjang. Ide ke Gisting ini datang dari suami saya, yang punya prinsip hidup yang cukup konsisten dan sedikit merepotkan secara teknis: kalau ada anggota timnya menikah, sejauh apa pun, selama tidak menyulitkan, pasti datang.

Masalahnya, definisi “tidak menyulitkan” itu sering kali baru terasa setelah semuanya dijalani. Dan dalam perjalanan ini, salah satu bentuk “tidak menyulitkan” itu diterjemahkan menjadi satu tugas yang cukup krusial: mencari hotel yang layak di Gisting.

Tim kondangan Gisting
Dan seperti biasa, tugas itu jatuh ke saya.

Saya mulai dari yang paling umum. Membuka OTA, membaca Google Review, scrolling blog, sampai akhirnya sadar bahwa mencari hotel di Gisting Tanggamus Lampung itu rasanya bukan sekadar mencari tempat untuk tidur.

Tapi seperti bermain tebak-tebakan nasib.

Bukan karena tidak ada pilihan, tapi karena pilihan yang ada tidak selalu memberikan rasa tenang.

Dari sekitar empat hotel yang saya cek, tiga di antaranya punya ulasan yang cukup untuk membuat saya berhenti dan berpikir ulang. Ada yang bercerita soal pengalaman tidak menyenangkan, ada yang mengeluhkan pelayanan, bahkan ada yang memberi kesan tempatnya kurang nyaman. Saya tidak sedang mencari pengalaman tambahan selain perjalanan ini sendiri, jadi pilihan itu langsung saya singkirkan tanpa banyak kompromi.

Di tengah semua itu, hanya satu nama yang terlihat “aman”. Tidak ada puja-puji berlebihan, tapi juga tidak ada keluhan serius. Namanya Hotel 21 Gisting. Dalam situasi seperti ini, netral itu bukan membosankan, justru menenangkan.

Hotel 21 Gisting

Untuk memastikan, saya bertanya ke teman yang bekerja di dinas pariwisata Lampung. Jawabannya sederhana, tanpa dramatisasi. Dia sudah beberapa kali menginap di sana dan selalu memilih hotel itu setiap ada tugas ke Gisting. Tidak ada kalimat promosi, tidak ada penjelasan panjang. Tapi justru karena itu, saya percaya.

Tanpa menunggu lama, saya langsung menghubungi pihak hotel melalui nomor yang tertera. Responsnya cepat, jelas, dan komunikasinya terasa enak. Setiap pertanyaan saya dijawab dengan lancar, tanpa kesan ribet. Di situ saya mulai merasa, mungkin ini pilihan yang tepat.

Informasi hotel ini kemudian saya sampaikan ke suami, karena proses pemesanan akan dilakukan oleh timnya di kantor yang ikut dalam perjalanan. Sistemnya sederhana. Transportasi ditanggung kantor, penginapan masing-masing. Jadi ini semacam perjalanan bersama dengan tanggung jawab pribadi.

Meski begitu, saya tetap berkomunikasi langsung dengan pihak hotel untuk berbagai kebutuhan selama menginap. Dan ternyata, keputusan itu memudahkan banyak hal. Kadang, komunikasi langsung memang menyelesaikan hal-hal kecil yang kalau diwakilkan justru jadi panjang.


Kami berangkat berdelapan. Dua laki-laki, enam perempuan. Saya satu-satunya yang bukan bagian dari kantor suami, jadi secara tidak resmi saya ini seperti “tamu dari tamu”. Tapi dalam perjalanan panjang seperti ini, status cepat sekali melebur. Semua jadi sama, sama capek, sama lapar, dan sama berharap pilihan hotelnya tidak salah.

Kami berangkat dengan satu kendaraan. Muat, jalan, hemat, dan alhamdulillah sampai dengan selamat.

Di titik itu, saya belum tahu apakah Hotel 21 Gisting ini akan jadi bagian dari cerita yang menyenangkan atau justru jadi bahan evaluasi diam-diam sepanjang perjalanan pulang. Bahkan sore harinya, ketika kami sempat turun ke kawasan Pelabuhan Ikan Kota Agung dan melihat sisi lain Tanggamus yang lebih ramai dan dinamis, saya masih belum sepenuhnya tahu apakah pilihan hotel ini akan mengimbangi semua pengalaman itu.

Tapi satu hal yang saya tahu, dalam perjalanan seperti ini, keputusan kecil seperti memilih hotel sering kali terlihat sepele.

Sampai akhirnya kita benar-benar harus tidur di dalamnya.

Check In Pagi di Hotel 21 Gisting Tanpa DP: Datang Lebih Cepat, Istirahat Lebih Cepat

Kalau ada satu hal yang biasanya pasti dalam dunia perhotelan, itu adalah jam check-in. Dan kalau ada satu hal yang biasanya tidak bisa ditawar, itu juga jam check-in. Jadi ketika kami sampai di Hotel 21 Gisting sekitar pukul 09.30 WIB, saya sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan paling realistis: menunggu.

Duduk di lobi, pura pura santai, sambil sesekali melihat jam dan bertanya dalam hati kenapa waktu berjalan lebih lambat saat kita lelah.

Tapi ternyata, logika itu tidak berlaku di Hotel 21 Gisting Tanggamus Lampung.

Kami justru langsung dipersilakan masuk kamar.

Tidak ada jeda dramatis. Tidak ada kalimat “ditunggu ya Kak”. Tidak ada ekspresi ragu dari staf. Semuanya berjalan seperti hal itu memang wajar terjadi, padahal bagi saya itu sudah masuk kategori kemewahan yang jarang ditemui.

Belakangan saya paham, ada beberapa alasan kenapa kami bisa check-in lebih awal. Kamar yang kami pesan memang kosong dari malam sebelumnya, komunikasi kami dengan pihak hotel sudah cukup intens, dan mereka yakin kami benar-benar akan datang. Kombinasi yang sederhana, tapi jarang sekali terasa semulus ini.

Setelah perjalanan panjang dari BSD sejak dini hari, menyeberangi Selat Sunda, lalu melanjutkan perjalanan darat dari Bakauheni menuju Tanggamus, momen bisa langsung masuk kamar itu rasanya bukan sekadar nyaman.

Itu penyelamatan.

Saya bisa langsung mandi, rebahan, dan mengembalikan sedikit sisa energi sebelum harus bersiap menghadiri acara di jam 11 siang. Capek perjalanan perlahan turun, badan mulai terasa normal lagi, dan untuk pertama kalinya sejak subuh, saya tidak merasa sedang dikejar waktu.

Jam 9.30 WIB abis check-in sudah boleh langsung masuk kamar

Tanpa DP dan Deposit: Ketika Kepercayaan Datang Lebih Dulu

Lalu ada satu hal lagi yang menurut saya cukup menarik, bahkan sedikit tidak biasa.

Kami booking hotel ini via WhatsApp beberapa hari sebelumnya, dan tidak diminta DP sama sekali.

Saya sempat menganggap ini sebagai keberuntungan kecil. Tapi ternyata ceritanya belum selesai. Saat tiba di hotel pun, kami tidak langsung diminta pembayaran. Dan yang lebih mengejutkan, pembayaran baru dilakukan setelah check-out.

Di titik itu saya sempat berpikir, ini bukan sekadar sistem pembayaran, ini sudah masuk ke ranah kepercayaan. 

Apakah ini berlaku untuk semua tamu? Saya tidak tahu. Tapi setidaknya, pengalaman menginap di Hotel 21 Gisting tanpa DP dan dengan pembayaran setelah check out ini jadi salah satu hal yang cukup membekas buat saya.

Karena di tengah dunia yang serba minta jaminan di awal, ada tempat yang memilih untuk percaya dulu.

Dan itu… agak jarang.  

Gerbang Hotel dengan Siger. Jalan ke kanan arah ke jalan raya Gisting

Bangunan Lama Hotel 21 Gisting Tanggamus Lampung: Tidak Modern, Tapi Tidak Bermasalah

Kalau bicara soal tampilan, Hotel 21 Gisting ini bukan tipe hotel yang akan membuat orang berhenti di depan gerbang lalu berkata, “Wah, ini dia.”

Letaknya tidak persis di pinggir jalan utama Gisting, tapi sedikit masuk ke dalam, sekitar 100 meter. Tidak jauh, tapi cukup untuk membuatnya terasa lebih tenang. Di bagian depan ada gerbang dengan bentuk siger khas Lampung, yang seolah memberi tanda bahwa kita sudah masuk ke wilayah yang punya identitas sendiri.

Bangunannya berwarna biru terang, dengan desain yang bisa dibilang… jujur. Model lama, tanpa banyak sentuhan modern, dan tidak berusaha terlihat seperti hotel baru. Teman saya sempat nyeletuk bahwa tampilannya mirip kantor PDAM, dan entah kenapa saya tidak bisa langsung membantah. Tapi di saat yang sama, saya juga tidak merasa itu masalah besar.

Karena tidak semua tempat harus terlihat baru untuk bisa terasa nyaman.

 
Kalau diperhatikan lebih lama, bangunannya justru mengingatkan saya pada sekolah. Struktur yang sederhana, fungsional, dan tidak banyak gimmick. Hotel ini terdiri dari tiga lantai tanpa lift, dan kami mendapat kamar di lantai dua. Masih dalam batas wajar untuk naik turun tanpa harus mengambil napas panjang sambil merenungi hidup.

Ukuran hotel ini ternyata cukup besar, dengan area meeting room di gedung terpisah. Tidak heran kalau tempat ini sering digunakan untuk acara acara pemerintahan atau pertemuan resmi, seperti yang sempat diceritakan oleh teman saya sebelumnya. Ada kesan bahwa hotel ini memang lebih fokus pada fungsi, bukan sekadar tampilan.

Saat pertama datang, kami langsung disambut oleh staf resepsionis yang ramah dan membantu. Tidak berlebihan, tidak dibuat buat, tapi cukup untuk membuat kami merasa diterima.

Salah satu yang paling berkesan buat saya adalah komunikasi dengan Mbak Afi, yang sejak awal sudah terasa hangat dan responsif. Dari proses tanya jawab sebelum datang, sampai saat kami tiba di lokasi, semuanya terasa lancar.

Tidak ada kesan kaku, tidak ada rasa sungkan untuk bertanya, dan yang paling penting, semua terasa dimudahkan.

Bahkan dari beliau juga kami mendapat rekomendasi tempat makan pagi di Rumah Makan Kartini, yang pada akhirnya benar-benar menyelamatkan pagi kami.

Dan di situ saya mulai sadar, kadang pengalaman menginap itu bukan cuma soal kamar atau fasilitas.

Tapi juga soal orang orang di dalamnya.

Karena tempat bisa saja sederhana, tapi kalau orang orangnya tepat, rasanya tetap nyaman.

Tipe Kamar dan Harga Hotel 21 Gisting Tanggamus Lampung: Sederhana, Masuk Akal, dan Tidak Membingungkan

Kalau ada satu hal yang saya syukuri dari Hotel 21 Gisting, itu adalah pilihan kamarnya tidak dibuat rumit. Tidak ada istilah-istilah yang terdengar mewah tapi sebenarnya sama saja, tidak ada juga tipe kamar yang bikin kita harus berpikir keras membedakan satu dengan yang lain. Semuanya sederhana, jelas, dan… masuk akal.


Hotel 21 Gisting Tanggamus Lampung ini punya tiga tipe kamar, dan masing masing punya fungsi yang cukup jujur sesuai kebutuhan tamu. Tidak berusaha terlihat lebih dari yang sebenarnya, tapi juga tidak mengecewakan.

Pilihan tipe kamar di Hotel 21 Gisting:

  • Standar
    Tanpa AC
    Tanpa water heater
    Cocok untuk yang tahan udara dingin Gisting
  • Deluxe
    Menggunakan AC
    Tersedia water heater
    Lebih nyaman untuk yang tidak akrab dengan air dingin
  • Family room
    Ruangan lebih luas
    Cocok untuk keluarga atau rombongan

Kalau bicara soal udara, sebenarnya menginap di Gisting tanpa AC itu bukan masalah besar. Suhunya sejuk sepanjang hari, khas daerah dataran tinggi. Secara teori, saya bisa saja memilih kamar standar dan tetap bertahan.

Tapi teori sering kali kalah dengan realita. Masalahnya bukan di udara, tapi di air.

 
Saya mungkin bisa berdamai dengan dinginnya udara, tapi untuk mandi air dingin di pagi hari, di daerah yang sudah dingin, itu bukan kompromi. Itu ujian. Dan saya tidak sedang mendaftar untuk itu.  

Jadi tanpa banyak diskusi batin, saya dan suami memilih kamar deluxe, sementara teman-teman lain yang lebih berani memilih kamar standar dengan harga yang lebih ekonomis. 


Harga kamar dan fasilitas (update terakhir saat saya cek):

  • Kamar standar sekitar 170 ribu per malam
  • Kamar deluxe sekitar 270 ribu per malam
  • Kamar family sekitar 900 ribu per malam

Fasilitas tambahan:

  • Sarapan untuk dua orang
  • Pilihan menu nasi uduk, nasi kuning, mie goreng, atau nasi goreng
  • Minuman teh atau kopi
  • Sarapan bisa diantar ke kamar atau dinikmati di lantai tiga

 Selain kamar, hotel ini juga menyediakan ruang pertemuan:

  • Aula sekitar 2,5 juta
  • Meeting room sekitar 900 ribu

Melihat harganya, saya sempat berpikir, ini hotel tahu dirinya di mana. Tidak mencoba bersaing dengan hotel kota, tapi juga tidak menjatuhkan kualitas demi murah. 

 
Sarapan Sederhana, Kopi Lampung, dan Pagi yang Tidak Terlalu Buru-Buru

Kami sebenarnya sempat diajak sarapan di lantai atas, tapi karena jadwal cukup padat dan harus lanjut ke Lampung Timur, akhirnya kami memilih sarapan di kamar saja. Keputusan yang ternyata terasa tepat.

Saya memesan nasi uduk, suami memilih menu yang jauh lebih sederhana, dua telur rebus. Untuk minuman, saya pilih teh, dan suami tentu saja memilih kopi.

Kopi Lampung.

Katanya kopi itu diolah secara tradisional, dan menurut suami rasanya enak. Saya percaya saja. Karena saat itu suami menikmatinya sambil melihat pemandangan yang tidak semua orang bisa dapatkan dari balkon kamar hotel.

Dalam kondisi seperti itu, kopi apa pun rasanya mungkin akan naik kelas. 

View Gunung Tanggamus dari Balkon Kamar: Hal Sederhana yang Tidak Bisa Dibeli di Kota

Kamar deluxe yang saya tempati berada di posisi pojok lantai dua, menghadap ke arah jalan besar. Dari tangga lobi, posisinya di sisi kanan, dan entah kenapa posisi itu terasa seperti dapat bonus kecil yang tidak direncanakan.

Begitu masuk kamar, kesannya sederhana tapi bersih. Tidak ada bau rokok (ya, memang bukan smooking room), tidak ada kesan berdebu, dan semua terasa cukup terawat. Kasur dan sprei bersih, ada TV, AC, lemari, dan yang paling penting, ada akses ke balkon.

Kamar mandinya cukup luas, meskipun desainnya masih lama. Tapi bersih dan nyaman digunakan. Satu catatan kecil ada di keran kloset yang airnya sedikit terlalu bersemangat, sampai kadang menyembur ke mana-mana. Tapi di luar itu, water heater berfungsi dengan baik, dan itu sudah cukup membuat saya merasa damai.

Yang menarik, ternyata balkon ini bukan hanya milik kamar deluxe. Semua kamar yang sejajar dengan posisi kami, termasuk tipe standar, juga punya balkon dengan arah yang sama.

Artinya, mau pilih kamar standar atau deluxe, tetap punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan pemandangan yang sama.

Dan di situlah kejutan sebenarnya.


Pagi itu, Gunung Tanggamus terlihat jelas dari balkon kamar kami. Utuh, gagah, dan terasa dekat. Saya yang sudah lama tidak melihat pemandangan gunung seperti ini hanya bisa diam sejenak, memperhatikan tanpa banyak komentar.

Ada rasa yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar senang, tapi juga seperti diingatkan bahwa hal-hal sederhana seperti ini ternyata masih bisa terasa sangat berarti.

Kami sempat berfoto beberapa kali, bergantian, seperti takut momen itu hilang begitu saja.

Dan memang, tidak lama kemudian, perlahan awan datang. Menutup puncaknya sedikit demi sedikit, sampai akhirnya gunung itu benar-benar hilang dari pandangan.

Cepat sekali.

Sampai saya sempat merasa, ini seperti diberi kesempatan melihat sesuatu yang indah sebentar saja, cukup untuk dikenang, tidak untuk dimiliki.

Dan mungkin memang begitu cara kerja banyak hal dalam hidup.

Oh ya, dari balkon itu juga saya sempat melihat sebuah bangunan hotel lain tepat di sebelah Hotel 21, hanya terpisah pagar. Bangunannya terlihat lebih baru, lebih modern, dan sedikit lebih “rapi” secara visual.

Tapi anehnya, saya tidak menemukan informasi tentangnya di Google. Tidak ada review, tidak ada pembahasan. Dari kejauhan terlihat sepi, hanya ada beberapa mobil terparkir tanpa aktivitas yang jelas.

Di situ saya justru merasa, kadang yang terlihat lebih menarik belum tentu yang paling hidup.

Dan yang sederhana, seperti Hotel 21 Gisting ini, justru punya cerita yang lebih nyata.

View dari sisi lain hotel yang berlawanan dengan letak view Gunung Tanggamus

Rumah Makan Kartini di Gisting Tanggamus Lampung: Sarapan Sederhana yang Ternyata Menyentuh

Ada satu hal yang sering saya sadari setiap perjalanan, rencana itu penting, tapi yang benar-benar berkesan justru sering datang dari hal-hal yang tidak direncanakan. Seperti pertemuan saya dengan Rumah Makan Kartini ini.

Sebenarnya saya sudah pernah menyebut tempat ini di tulisan sebelumnya, tapi rasanya tidak adil kalau tidak diceritakan lagi dengan lebih lengkap. Karena jujur saja, sarapan di sini bukan sekadar makan. Ada cerita kecil yang ikut terbentuk di dalamnya.

Semua bermula dari obrolan saya dengan Mbak Afi dari Hotel 21 Gisting saat kami masih di perjalanan dari Bakauheni menuju Tanggamus. Waktu itu pagi, sekitar jam enam, dan seperti biasa, rombongan mulai memikirkan satu hal yang selalu muncul di jam-jam rawan seperti itu: sarapan.

Awalnya kami berencana makan di perjalanan, tapi entah kenapa, keputusan kolektif yang diambil justru menunda sarapan sampai tiba di Gisting. Keputusan yang terdengar sederhana, tapi diam-diam cukup berisiko, karena mencari tempat makan pagi di daerah seperti ini ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Saya sempat mencari sendiri, dan hasilnya cukup konsisten. Banyak tempat makan baru buka sekitar jam sebelas siang. Yang dalam konteks sarapan, itu sudah masuk kategori makan siang yang terlalu dini atau makan siang yang terlambat, tergantung sudut pandang.

Akhirnya saya bertanya ke pihak hotel. Dan di situlah nama Rumah Makan Kartini muncul. Kata Mbak Afi, tempat ini sudah buka sejak pagi, bahkan cenderung sepanjang hari. Lokasinya dekat dari hotel, dan yang paling penting, sop ayam kampungnya enak.

Kalimat terakhir itu cukup untuk membuat kami sepakat tanpa perlu rapat panjang.

Dalam bayangan saya, rumah makan ini akan seperti rumah makan besar yang biasa ditemui di jalur lintas Sumatera. Luas, ramai, dengan deretan lauk yang panjang seperti etalase harapan.

Ternyata saya terlalu optimis.

Bangunannya sederhana, bahkan cenderung kecil. Bagian depannya menggunakan kaca dengan tulisan nama rumah makan dan nomor kontak yang terpampang apa adanya. Tidak ada usaha untuk terlihat mewah, tidak ada desain yang dibuat-buat. Hanya sebuah tempat makan yang jujur dengan fungsinya.

Saat kami datang, tempat itu sudah buka, dan rak hidangan di dalamnya sudah terisi berbagai lauk yang siap dipilih. Tidak ada pengunjung lain saat itu, sampai akhirnya kami datang dan langsung memenuhi satu meja panjang di bagian belakang.

Jumlah mejanya tidak banyak. Dua meja panjang yang bisa menampung beberapa orang, dan beberapa meja kecil lainnya. Tapi entah kenapa, suasananya terasa cukup. Tidak sempit, tidak juga berlebihan.

Kami tidak banyak berdiskusi. Semua langsung sepakat memesan sop ayam kampung.

Dan di titik itu, saya merasa demokrasi berjalan sangat lancar.


Menu andalannya memang sop daging dan sop ayam kampung, dan pilihan kami jatuh pada yang kedua. Ditambah dengan terong balado, jengkol, gorengan, dan teh tawar hangat yang terasa seperti pelengkap wajib dalam situasi seperti ini.

Sop ayam kampungnya bukan tipe sop yang hanya mengandalkan panas. Kuahnya benar-benar gurih, rasanya dalam, dan ayamnya empuk tanpa usaha berlebihan. Jenis makanan yang membuat orang berhenti sejenak, lalu mengangguk pelan tanpa perlu banyak komentar.

Saya jarang bereaksi dramatis terhadap makanan, tapi pagi itu saya cukup yakin bahwa ini bukan sekadar enak. Ini tipe makanan yang membuat perjalanan terasa lebih masuk akal.

Saya dan suami menghabiskan sekitar tujuh puluh ribuan untuk makan berdua. Tidak mahal, tidak juga terlalu murah, tapi terasa sepadan dengan apa yang kami dapatkan.

Perut kenyang, hati senang, dan entah kenapa saya merasa seperti menemukan sesuatu yang memang seharusnya saya temukan.

Di situ saya sempat berpikir, mungkin alasan kami tidak jadi sarapan di pelabuhan, tidak jadi mampir ke tempat lain yang sempat direkomendasikan, adalah karena kami memang diarahkan ke sini. Ke sop ayam kampung ini.

Terdengar berlebihan, tapi perjalanan memang sering bekerja dengan cara seperti itu.

Kalau bicara soal fungsi, Rumah Makan Kartini ini bisa jadi andalan selama menginap di Gisting. Apalagi mengingat Hotel 21 Gisting tidak menyediakan restoran dengan menu lengkap di luar sarapan. Pilihan makan di hotel lebih ke menu sederhana seperti mie atau nasi goreng.

Lokasi rumah makan ini juga cukup dekat, sekitar 100 meter dari hotel, masih dalam jarak jalan kaki yang masuk akal. Jadi untuk sarapan, makan siang, atau bahkan makan malam, tempat ini bisa jadi solusi yang tidak ribet.

Kalau ingin variasi lain, tentu ada pilihan tempat makan lain di sekitar Gisting, mulai dari kafe sampai kedai kecil yang ramai. Tapi kadang, setelah menemukan satu tempat yang terasa pas, keinginan untuk mencari yang lain itu jadi berkurang.

Karena tidak semua yang sederhana bisa terasa cukup.

Dan pagi itu, bagi saya, Rumah Makan Kartini adalah cukup. 

Hotel 21 Gisting Tanggamus Lampung: Pilihan Bijak yang Tidak Menguras Kantong, Tapi Tetap Berkesan

Kadang saya suka heran, kenapa kita sering mengaitkan kenyamanan dengan harga yang tinggi, seolah-olah semakin mahal sebuah hotel, semakin layak ia untuk dikenang. Padahal dalam perjalanan, logika seperti itu sering kali patah di tengah jalan.

Seperti pengalaman saya di Hotel 21 Gisting ini.

Perjalanan ke Tanggamus sebenarnya bukan yang pertama buat saya. Tahun 2015, saya pernah datang ke daerah ini bersama teman teman blogger, diundang oleh Dinas Pariwisata untuk meliput dan meramaikan Festival TelukSemaka. Waktu itu kami menginap di sebuah tempat bernama Penginapan Pelangi. Semacam homestay, sederhana, ramai, dan penuh cerita.

Lucunya, saya masih ingat nama penginapannya, tapi lupa lokasinya.

Di blog lama saya bahkan ada fotonya, tapi tidak ada keterangan alamat yang jelas. Di situ saya baru sadar, mencatat itu bukan cuma soal dokumentasi, tapi juga cara kita menghargai perjalanan. Supaya suatu hari nanti, kalau kita kembali ke tempat yang sama, kita tidak hanya mengingat rasanya, tapi juga tahu ke mana harus melangkah.

Entah sekarang Penginapan Pelangi itu masih ada atau tidak, masih digunakan untuk kegiatan seperti Festival Teluk Semaka atau tidak, saya juga tidak tahu. Waktu berjalan, informasi tertinggal, dan saya pun sudah cukup lama tidak mengikuti perkembangan event di Lampung.

Dan mungkin memang begitu cara perjalanan bekerja.

Kita kembali ke tempat yang sama, tapi dengan cerita yang berbeda.

Kali ini, cerita saya ada di Hotel 21 Gisting.

Kalau dilihat dari luar, hotel ini tidak menawarkan kemewahan. Tidak ada desain yang dibuat untuk menarik perhatian, tidak ada konsep yang sengaja dibentuk untuk terlihat estetik. Tapi justru di situlah letak kejujurannya. Ia tidak mencoba menjadi sesuatu yang bukan dirinya.

Sebagai hotel di Gisting Tanggamus Lampung, tempat ini menawarkan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh banyak orang yang datang ke daerah ini. Tempat istirahat yang bersih, suasana yang cukup nyaman, harga yang masuk akal, dan proses yang tidak menyulitkan.

Untuk perjalanan singkat seperti saya kemarin, satu malam menginap sebelum melanjutkan aktivitas lain, hotel ini terasa lebih dari cukup. Bahkan untuk beberapa malam pun masih sangat layak, terutama kalau sebagian besar waktu dihabiskan di luar.

Secara biaya, hotel ini memang tidak menguras kantong. Tapi kalau bicara pengalaman, saya justru merasa apa yang saya dapatkan lebih dari yang saya bayar. 

Karena di balik harga yang sederhana, ada hal yang tidak semua hotel punya.

Pemandangan.

Dari balkon kamar, saya bisa melihat Gunung Tanggamus berdiri tenang di kejauhan. Dan pemandangan seperti itu, kalau harus diberi nilai, rasanya tidak pernah benar benar murah.

Di kota, kita mungkin bisa membayar mahal untuk mendapatkan view. Tapi di sini, view itu datang sebagai bonus. Tanpa diminta, tanpa dibuat buat, hanya ada begitu saja.

Dan di situ saya mulai berpikir, mungkin yang mahal itu bukan hotelnya. Tapi momen yang kita dapatkan di dalamnya.

Jadi kalau suatu saat kalian punya keperluan di Gisting, entah itu untuk acara, pekerjaan, atau sekadar singgah dalam perjalanan, Hotel 21 Gisting ini bisa jadi pilihan yang cukup bijak.

Bukan karena dia yang paling mewah. Tapi karena dia tidak membuat kalian menyesal sudah memilihnya. Dan kadang, dalam perjalanan, itu sudah lebih dari cukup.