Staycation di Swiss-Belresidences Kalibata pada akhir April ini awalnya bukan sesuatu yang sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari. Ada dua voucher menginap yang masa berlakunya sama, sampai penghujung April 2026. Sebetulnya lagi enggak pengin nginap, tapi kalau vouchernya sampai hangus kok sayang, ya. Ya udah deh, akhirnya dipakai. Walaupun sudah benar-benar mepet.
Satu malam saja. Tapi ternyata, ada saja hal-hal kecil yang membuat malam itu tidak berjalan persis seperti yang dibayangkan.
Sebetulnya saya memang hampir lupa kalau punya voucher menginap di hotel Swiss-Belresidences Kalibata. Kan dapatnya sudah dari akhir Januari. Masuk Februari sudah mulai puasa Ramadan, dan selama Ramadan fokusnya lebih banyak ke ibadah dan keluarga. Ada juga beberapa prioritas lain yang waktunya lumayan menyita. Setelah itu masuk persiapan Lebaran dan mudik.
Pulang mudik, semua orang di rumah sudah ditunggu agenda masing-masing. Anak bungsu juga sedang kelas 12, jadi jadwal sekolah menjelang lulus cukup padat. Jadilah sepanjang Maret sampai April enggak kepikiran mau menginap.
Sampai akhirnya voucher itu teringat lagi gara-gara melihat postingan teman yang baru saja menginap di sana. "Oh iya, aku kan ada voucher nginep di sana?"
Booking di Ujung Masa Berlaku Voucher
Di sinilah mulai deg-degan. Pemesanan kamar menggunakan voucher ternyata tidak bisa dadakan. Setidaknya harus dilakukan sekitar satu minggu sebelum jadwal menginap. Sementara waktu itu booking-nya sudah kurang dari seminggu sebelum tanggal 30 April. Jadi, tidak terlalu berharap banyak. Kalau ternyata tidak bisa dipakai, ya sudah, pasrah aja. Namanya juga voucher yang sudah hampir kedaluwarsa.
Masalahnya, bukan cuma ingin sekadar menggunakan voucher sebelum masa berlakunya habis. Maunya kedua voucher itu dipakai sekaligus di hari yang sama, karena rencananya mau ngajak dua keponakan perempuan menginap bareng Aisyah.
Kalau bisa, kamarnya juga connecting. Kalaupun enggak dapat connecting room, setidaknya masih satu lantai. Nanti di satu kamar ada anak-anak, sementara saya dan suami di kamar sebelah. Jadi dari awal memang ada sedikit permintaan tambahan selain sekadar, "Masih ada kamar enggak?"
Akhirnya Menginap di Swiss-Belresidences Kalibata
Tepat tanggal 30 April, berangkatlah kami ke Swiss-Belresidences Kalibata. Kali ini yang ikut ada lima orang, yaitu saya, suami, Aisyah, dan dua orang keponakan perempuan. Alief tidak ikut karena sedang kerja di luar kota.
Dua keponakan berangkat dari rumah di Depok, dianter oleh adik, sementara saya, suami, dan Aisyah berangkat dari BSD. Jadi, janjian ketemunya langsung di hotel.
Sebetulnya Swiss-Belresidences Kalibata bukan tempat yang asing buat kami. Hampir setiap tahun acara kumpul halal bihalal keluarga besar Mas Arif diadakan di salah satu meeting room hotel ini.
Terakhir, sempat juga diundang ke sini bersama teman-teman komunitas untuk acara Ramadan. Jadi kalau soal lokasi, suasana tempat, sampai makanannya, sudah cukup familiar. Yang belum pernah dilakukan justru menginapnya. Selama ini datang ke hotel, ya untuk acara, makan, lalu pulang.
![]() |
| Foto kedua dalam artikel ini, dijepret dari jendela kamar yang terletak di lantai 5 ini |
Kalau pengalaman menginap di jaringan Swiss-Bel sendiri, sudah beberapa kali juga. Ada Swiss-Belhotel di Serpong dan Pondok Indah, kemudian Swiss-Belinn Modern di Cikande dan Swiss-Belcourt Bogor.
Pengalaman saya dan keluarga menginap di hotel-hotel tersebut semuanya cukup baik dan berkesan. Makanya kali ini ada sedikit harapan, semoga pengalaman menginap di Swiss-Belresidences Kalibata juga sama baiknya, atau malah lebih baik.
Dari BSD kami berangkat sore dan baru sampai hotel menjelang magrib. Perjalanan hari itu lumayan menguji kesabaran karena macetnya justru terjadi di sekitar rel kereta dekat hotel. Hujan pula.
![]() |
| Berempat sama anak dan ponakan-ponakan di Swiss-Belresidences Kalibata |
Sebelum Check-in, Berburu Bakso Legend yang Ternyata Sudah Tutup
Nah, sebelum sampai hotel tuh tadinya suami ngajak makan bakso di Bakso Rusuk Sunan Giri Kalibata. Kata suami, itu tempat makan bakso legend dan beliau sudah dari dulu jadi pelanggan di sana. Dalam hati, kenapa baru sekarang cerita? Dulu makan sama siapa sih beliau? Apa sama pacarnya zaman SMA? Wkwk.
"Mama inget gak dulu pernah papa ajak makan bakso rusuk di sini (Kalibata)?"
Gubrak! Ternyata saya pernah diajak makan di situ. Tapi kok saya lupa, ya? Kapan dah itu?
"Yaaah, udah tutup, Ma. Ituu..." ucap suami sambil menunjuk tempat yang dimaksud.
Kaget juga saya, tahu-tahu sudah melewati tempatnya. Saya sempat melihat tulisan nama warungnya di salah satu ruko. Di depannya memang sedang ada kegiatan renovasi, jadi kami pikir tempatnya tutup karena sedang direnovasi. Tapi setelah dicek di Google, ternyata tutup permanen.
Alhasil, sore itu enggak jadi makan bakso. Tapi kalau sekiranya jadi pun, kami mungkin sampai lebih lama lagi di hotel. Jadi ya sudah, mungkin memang baksonya belum berjodoh dengan kami sore itu.
Pengalaman menginap di beberapa hotel Swiss-Bel sebelumnya juga pernah saya tulis di blog ini. Kalau mau baca ceritanya, ada beberapa tulisan yang bisa dilihat di sini:
Sementara foto-foto dokumentasi berikut ini merupakan momen halal bihalal keluarga besar suami pada tahun 2023 dan 2025 yang berlangsung di Swiss-Belresidences Kalibata. Foto tahun 2024 tidak ada karena waktu itu kami memang berhalangan hadir. Meski begitu, acara halal bihalal keluarga tetap berlangsung di hotel ini.
Berturut-turut mengadakan family gathering dalam rangka halal bihalal Lebaran di hotel ini, rasanya sudah cukup menjelaskan kenapa kami terus kembali ke Swiss-Belresidences Kalibata. Berarti memang ada kecocokan dan kepuasan yang kami dapat selama beberapa kali acara di sini.
Meeting Dadakan di Tengah Waktu Makan
Ada jadwal meeting online lewat Teams pukul 19.00 saat kami menginap. Jadwal ini sebenarnya bukan jadwal semula. Seharusnya meeting berlangsung sehari sebelumnya, tetapi karena ada peristiwa kedukaan, jadwalnya diundur. Jadwal penggantinya ternyata jatuh tepat pada malam kami menginap.
Jam makan malamnya mepet dengan jadwal meeting, sementara kalau sudah lapar, urusan makan enggak bisa ditunda-tunda. Setelah salat Magrib, kami langsung menuju restoran di lantai 2 dengan harapan bisa makan dulu, lalu secepatnya kembali ke kamar sebelum meeting dimulai.
Malam itu ingin pesan tom yum. Tapi kata pelayannya, waktu pembuatannya agak lama, kurang lebih 15–20 menit baru jadi. Buat kondisi biasa mungkin masih oke, tapi saat itu waktunya mepet. Saya pilih soto ayam yang katanya bisa lebih cepat.
Soto ayam dan gado-gado yang kami pesan porsinya ternyata cukup besar. Begitu makanan datang, saya langsung makan buru-buru sambil sesekali lihat jam. Waktu yang tersedia memang enggak banyak karena sebentar lagi harus naik ke kamar untuk meeting. Soal harga, sudah lupa persisnya berapa, tapi total makan bertiga kurang lebih Rp400 ribuan, sudah termasuk minum. Yang masih teringat justru harga air minum kemasan 600 ml, sekitar Rp38 ribuan dan nasgornya Rp148 ribuan.
![]() |
| Soto Ayam |
![]() |
| Gado-gado |
Sambil makan sebenarnya bisa saja ikut meeting. Tinggal buka HP, matikan kamera, beres. Tapi rasanya kurang pas.
Kalau sudah menyangkut urusan yang serius, saya lebih nyaman duduk dengan laptop di ruang yang tenang, supaya bisa fokus dan mengikuti pembicaraan dengan baik dari awal sampai selesai.
Waktu makan yang sudah mepet ternyata enggak cukup untuk menghabiskan makanan. Baru separuh soto masuk perut, saya sudah harus meninggalkan meja.
Aisyah dan papanya tetap lanjut makan, sementara saya buru-buru naik ke lantai 5 menuju kamar, buka laptop, dan bersiap mengikuti meeting. Rencananya sih, nanti setelah meeting selesai mau turun lagi dan melanjutkan makan.
Alfamart yang Jadi Penyelamat
Nah, soal Alfamart ini menurut saya memang penyelamat banget. Kalau butuh jajan macam-macam, tinggal turun. Enggak perlu keluar dari kawasan hotel dan residence, apalagi harus mencari minimarket di luar. Buat tamu hotel tentu membantu, apalagi buat yang menginap bareng anak-anak.
Malam itu keberadaan Alfamart jadi sangat berguna karena anak-anak bisa beli makanan dan camilan untuk dibawa ke kamar. Mungkin karena di kawasan ini juga ada residence dengan banyak penghuni, keberadaan minimarket seperti ini memang terasa penting. Buat kami yang cuma menginap semalam, manfaatnya langsung terasa.
Setelah meeting, tadinya mau balik lagi ke resto untuk makan. Tapi begitu lihat jajanan anak-anak, kok jadi kepingin. Dari yang awalnya cuma kepingin, akhirnya ikut nyemil. Eh, lama-lama malah kenyang. Gak jadi makan lagi. Hahaha.
Connecting Room Deluxe untuk Keluarga
Malam itu anak-anak saya taruh di kamar yang satu bed supaya bisa tidur bareng dalam satu kasur. Sementara saya dan suami memilih kamar dengan bed terpisah alias twin bed. Hahaha.
Ya enggak apa-apa gak satu kasur, cuma semalam ini, kaaan. Masa mesti satu kasur terus. Daripada anak-anak yang tidur di kamar satu bed, nanti malah bingung yang satu tidur di mana. Kasurnya memang besar, tapi mereka bertiga juga enggak gede-gede amat badannya, jadi masih cukup.
Buat yang suatu hari mau pesan connecting room di Swiss-Belresidences Kalibata, ada baiknya sekalian tanyakan konfigurasi tempat tidurnya. Waktu itu saya sempat request supaya kedua kamar sama-sama queen bed, tetapi katanya tidak tersedia kalau connecting. Kalau mau queen bed semua, justru kamarnya tidak connecting. Mungkin memang karena konsep connecting room lebih banyak ditujukan untuk keluarga dengan anak-anak, jadi salah satu kamar dibuat dengan twin bed. Buat kami waktu itu enggak masalah juga. Yang penting dua kamar bisa tersambung dan anak-anak bisa tidur bareng di kamar sebelah.
![]() |
| Deluxe room Swiss-Belresidences Kalibata |
![]() |
| Queen bed Deluxe Room Swiss-Belresidences Kalibata |
Malam itu, selain ada meeting dadakan, datang juga kabar yang bikin saya gelisah. Alief mengabari kalau dia kurang enak badan dan mungkin besok mau pulang ke BSD.
Karena sedang tinggal di luar kota untuk bekerja, saya tanya apa dia sanggup nyetir sendiri. Katanya kalau tidak memungkinkan, dia akan disetiri oleh temannya yang kebetulan bekerja di kota yang sama dan orang tuanya juga tinggal di BSD. Teman lama Alief sejak SD sampai SMP, dan kebetulan saya juga kenal.
Agak lega karena berarti ada yang bisa menemani perjalanan pulangnya. Tapi tetap saja hati tidak tenang malam itu. Badan di hotel, pikiran jauh ke luar kota.
![]() |
| View malam tiga tower Swiss-Belresidences Kalibata |
Sarapan Pagi di Swiss-Café
Pagi-pagi banget sih enggak. Sarapan di Swiss-Belresidences Kalibata mulai pukul 06.00, tapi kami baru turun sekitar pukul 08.00. Tempatnya di lantai 2, masih di area dining yang sama dengan restoran tempat makan malam sebelumnya. Ada area di dalam ruangan, tapi ada juga pilihan duduk di luar, di area balkon yang menghadap ke taman dan kawasan residence.
Untuk dua kamar yang kami tempati, jatah sarapannya sudah termasuk untuk empat orang. Karena kami berlima, tentu saja ada satu orang tambahan yang harus bayar.
Soal pilihan sarapan, cukup banyak. Konsepnya buffet dengan pilihan makanan Indonesia, Asia, sampai menu internasional, jadi tinggal pilih sesuai selera. Ada makanan berat, roti, telur, buah, sampai dessert. Pagi itu kami juga enggak berlama-lama karena setelah sarapan mau buru-buru berenang.
Lumayan, Dapat Diskon Sarapan
Nah, pas urusan sarapan ini malah ditawarin daftar SBEC Benefits, program loyalty dari Swiss-Belhotel. Daftarnya gratis dan kalau daftar sebagai tamu hotel bisa mendapatkan level Red Explorer dengan benefit diskon 20% untuk kamar dan dining. Lumayan juga karena keanggotaannya bisa dipakai di hotel-hotel Swiss-Bel lainnya.
Sarapan tambahan yang tadinya sekitar Rp150 ribu per orang, waktu itu saya bayar Rp105 ribu saja. Lumayan, kan. Jika ada tambahan sarapan beberapa orang, diskonnya jadi makin terasa.
Nah, ada satu hal lagi yang baru saya tahu pagi itu. Kalau makanan yang sudah diambil masih belum habis, bisa minta dibawakan ke kamar.
Bukan tamunya yang membawa sendiri, tapi nanti staf hotel yang mengantarkan. Kebetulan makanan anak dan keponakan masih ada, terutama dessert-nya.
Bukan karena sengaja mau dibawa ke kamar, tapi karena kami mau buru-buru berenang. Daripada dessert-nya ditinggal jadi mubazir, lebih baik dilanjutkan saja di kamar. Ternyata bisa.
Nyobain Kolam Renang Swiss-Belresidences, Cocok Buat Anak-anak dan Remaja Tanggung
Untuk berenang, kami turun ke lantai 3. Di lantai ini ada kolam renang hotel, spa, dan playground.
Playground-nya berada di area terbuka dengan lantai beralaskan karet. Jadi kalau anak-anak jatuh, enggak langsung berhadapan dengan lantai keras yang bikin sakit atau bikin lutut baret.
Ada perosotan juga, sementara orang tua bisa duduk berteduh di teras yang beratap sambil menunggu anak bermain.
Kalau cuaca sedang cerah, area playground ini memang cukup panas. Duduk di sini lumayan bikin keringetan. Tapi pemandangannya enak karena menghadap ke taman yang rimbun di area tengah antara hotel dan residence. Jadi meskipun panas, mata tetap dapat pemandangan hijau.
![]() |
| Playground di lantai 3 dilihat dari kamar kami di lantai 5 |
![]() |
| Tempat duduk di sebelah playground |
Kolam renang hotel letaknya persis di sebelah playground. Kolamnya tidak terlalu dalam, sepertinya memang lebih ditujukan untuk anak-anak dan remaja tanggung. Kalau orang tua mau ikut masuk, paling enak ya berendam atau menemani anak. Buat berenang serius, kurang cocok.
Menariknya, di bawah area taman yang rimbun tadi ada lagi kolam renang khusus residence. Ukurannya lebih luas dan ada bagian untuk orang dewasa. Jadi kawasan ini punya dua pilihan kolam dengan suasana yang berbeda. Kalau menginap di hotel bersama anak-anak, kolam di lantai 3 sudah cukup praktis karena tinggal keluar kamar dan turun sedikit. Sementara kolam residence lebih cocok kalau ingin area yang lebih luas. Tapi, sepertinya tamu hotel nggak boleh deh ke kolam renang residence.
Untuk fasilitasnya juga cukup lengkap. Ada kamar bilas dan handuk bersih sudah disediakan. Jadi enggak perlu repot membawa handuk dari kamar. Tinggal turun, ganti pakaian, lalu berenang.
Pagi di Kalibata, Pikiran ke Luar Kota
Pagi itu anak-anak menghabiskan waktu dengan berenang. Saya enggak ikut masuk ke kolam, lebih banyak berjalan-jalan santai di sekitar area sambil melihat mereka berenang dan menikmati suasana pagi. Kolam renang hotel sendiri memang buka sejak pukul 06.00 sampai malam, dan handuk sudah disediakan di area kolam. Jadi tinggal turun saja, enggak perlu repot bawa handuk dari kamar.
Meski anak-anak asyik berenang, sesekali perhatian tetap tertuju ke HP. Menunggu kabar Alief dan memastikan rencananya pulang ke BSD berjalan aman. Sementara itu, anak-anak tetap menikmati waktu mereka di kolam.
Sambil menunggu mereka, saya bisa melihat suasana Jakarta Selatan dari ketinggian. Dari area hotel juga sesekali terlihat kereta melintas di jalurnya. Pemandangan seperti ini enak diperhatikan sambil menunggu. Kota tetap sibuk di bawah sana, kereta datang dan pergi, sementara di lantai atas anak-anak menikmati pagi di kolam renang.
![]() |
| Playground |
![]() |
| View gedung-gedung tinggi Jakarta Selatan dan jalur KRL di balik rimbunnya pepohonan. |
Habis Renang, Waktunya Beberes
Setelah cukup berenang, anak-anak kembali ke kamar. Dilanjutkan dengan mandi, bebersih, beberes pakaian, lalu menghabiskan camilan dan dessert yang tadi dibawa ke kamar dari sarapan. Namanya juga habis berenang, urusannya bukan cuma mandi. Ada baju basah, pakaian yang harus dibereskan, barang-barang yang mulai keluar dari tas, dan sisa makanan yang tadi belum selesai. Waktu pun berjalan tanpa terasa.
Mau Makan atau Jajan, Tinggal Turun
Urusan makan selama menginap di sini juga cukup gampang. Kalau lapar, tinggal pesan ke restoran karena tersedia layanan in-room dining 24 jam. Mau pesan makanan dari luar juga enggak ribet. Waktu itu kalau pesan lewat GoFood, makanan diantar sampai ke satpam di luar. Setelah diberi tahu, tinggal turun mengambil pesanan.
Ditambah staf hotel yang ramah dan cukup membantu selama kami menginap, beberapa urusan kecil jadi terasa lebih praktis. Mau makan enggak harus keluar hotel, mau jajan dan beli berbagai kebutuhan ada minimarket, mau pesan dari luar juga tinggal ambil di bawah. Untuk menginap bersama keluarga, kemudahan-kemudahan seperti ini lumayan terasa.
![]() |
| Tangga ini sering jadi spot foto tamu hotel 😀 |
Waktunya Pulang
Tahu-tahu sudah mendekati waktu check-out. Padahal rasanya baru saja selesai sarapan, berenang, dan beberes kamar. Tapi memang begitulah kalau menginap cuma semalam. Baru mulai menikmati suasana, sudah waktunya memasukkan barang lagi ke koper.
Alhamdulillah, kondisi Alief ternyata tidak parah. Dia tetap bisa pulang ke BSD dengan mobilnya, meski disetiri temannya. Setelah istirahat dan diperiksa ke dokter, kondisinya membaik. Kebetulan waktu itu sedang long weekend, jadi ada waktu beberapa hari untuk beristirahat sebelum akhirnya kembali bekerja ke luar kota saat hari kerja dimulai.
Sebagai orang tua, mungkin memang begini. Sedang berada di tempat yang menyenangkan, anak-anak menikmati waktu mereka, mestinya suasana hati ikut senang. Tapi begitu ada kabar salah satu anak kurang sehat dan posisinya jauh dari rumah, pikiran langsung terbagi dua. Badan tetap di hotel, sementara sebagian perhatian ikut pergi ke luar kota.
![]() |
| Di taman hotel, 2023. |
![]() |
| Di lobby hotel, 2026 |
Dari Kalibata Lanjut ke Depok Makan Mie Ayam dan Bakso Si Bakso
Siang itu setelah check-out, kami mengantar dua keponakan pulang ke Depok. Karena sudah masuk jam makan siang, sekalian saja cari tempat makan. Dari perjalanan tadi sudah mulai menimbang-nimbang mau makan apa. Pilihan anak-anak jatuh pada bakso dan mi ayam.
Rumah makan Si Bakso ini sebenarnya kami temukan tanpa sengaja. Dalam perjalanan menuju Depok, saya memang sambil memperhatikan tempat-tempat makan di sepanjang jalan. Siapa tahu ada yang cocok, bisa langsung mampir. Banyak yang kelihatan menarik, tapi belum ada satu pun yang membuat anak-anak bilang, "Iya, aku mau ituuu..."
Sampai ketika lewat Lenteng Agung, saya melihat kedai Si Bakso. Dari luar tempat parkirnya kelihatan cukup lapang. Di sebelahnya ada Soto Kudus Menara, masih dalam area yang sama. Begitu melihat tempatnya, anak-anak langsung kompak memilih Si Bakso. Ya sudah, kami belok, parkir, lalu masuk.
![]() |
| Gagal makan bakso rusuk legend di Bakso Rusuk Sunan Giri Kalibata, akhirnya malah makan di Si Bakso di Lenteng Agung. |
Keputusan yang enggak kami sesali. Bakso dan mi ayamnya ternyata sama-sama enak. Alhamdulillah, pilihan mendadak ini justru menyenangkan.
Kalau dipikir-pikir, lucu juga. Sore sebelumnya kami gagal makan bakso rusuk yang katanya legend di Kalibata karena tempatnya sudah tutup permanen. Besok siangnya malah menemukan Si Bakso di perjalanan menuju Depok. Cabangnya juga ada di Juanda dan Sawangan, Depok.
Cerita soal makan di Si Bakso ini bisa dilihat pada postingan Instagram yang saya sematkan berikut ini:
Dan begitulah cerita satu malam di Swiss-Belresidences Kalibata. Awalnya cuma ingin menyelamatkan dua voucher yang hampir kedaluwarsa. Ternyata malah dapat kesempatan menghabiskan waktu bersama keluarga, tidur di dua kamar yang connecting, makan malam sambil mengejar meeting, sarapan santai, berenang, sampai sibuk memantau anak yang sedang berada jauh di luar kota. Banyak kejadian kecil dalam waktu yang sebenarnya singkat.
Dari pengalaman kali ini, yang paling terasa justru kemudahannya. Mau makan tinggal turun ke restoran atau pesan ke kamar, mau jajan tinggal ke Alfamart, mau berenang ada kolam dan playground, sementara dari beberapa sudut hotel masih bisa menikmati pemandangan kawasan Jakarta Selatan dan kereta yang sesekali melintas. Semuanya cukup mudah dilakukan tanpa harus banyak keluar dari kawasan hotel.
![]() |
| Di Swiss-Belresidences Kalibata dari masa ke masa. Kiri: Foto tahun 2023. Kanan: Foto tahun 2025 |
Kalau nanti ada voucher Swiss-Bel lagi yang hampir kedaluwarsa, mudah-mudahan enggak sampai kejadian lupa seperti yang satu ini. Tapi kalau akhirnya malah membawa kami kembali menginap, ya mungkin bukan masalah juga.


.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)



.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)



