Sekotak Asa Dalam Kiriman Doa, Semangat Bertahan di Tengah Wabah

14.59
“Pakeeet…!!”

Suara teriakan kurir pengantar paket terdengar kencang dan berulang. Ia tidak berhenti memanggil hingga si pemilik rumah keluar, lalu bergegas pergi dengan seuntai senyuman ketika barang telah diterima dengan aman. Sebuah rutinitas yang sangat biasa saya saksikan. Baik untuk paket yang datang kepada saya, maupun ke tetangga sekeliling rumah. Yang tidak biasa adalah kini dalam satu kali kedatangan kurir menghampiri beberapa rumah sekaligus, dan dalam satu hari bisa lebih dari 10 kali mondar-mandir mengantar paket, entah oleh kurir yang sama, atau kurir yang berbeda. Apa pasal?
Tetap ekspress dan terpercaya di tengah wabah

Di era disrupsi pandemi Covid-19 saat ini, di mana wabah berdampak pada semua lini kehidupan, banyak hal terjadi di luar kebiasaan, termasuk perubahan cara berbelanja masyarakat dari sistem offline menjadi online. Jika pada situasi normal kegiatan membeli sayur dan lauk dalam jumlah banyak dilakukan sendiri ke pasar, supermarket terdekat, atau ke tukang sayur depan komplek, kini seikat kangkung dan sekilo ikan mentah pun dipesan online pakai layanan antar.

Ketika aktivitas belanja meroket, maka aktivitas pengantaran dan penerimaan pesanan / barang ke rumah meningkat. Tak heran bila hampir tiap jam suara kurir teriak “pakeeet” muncul di depan rumah.

Kreativitas di Tengah Pembatasan

Himbauan untuk bekerja, belajar, dan beribadah di rumah saja, ditambah pemberlakuan PSBB, membuat siapa pun mencari cara agar kebiasaan pada era normal bisa tetap berlangsung di tengah keterbatasan, termasuk dalam urusan perut. Pedagang harus tetap jualan. Pelanggan harus tetap belanja. Bagaimana cara? Pakai cara online memang paling mudah. Belanja online, bayar online. Beres.

Di grup chat warga komplek saya, sudah sejak awal wabah merebak di Indonesia jadi ajang buka lapak pada jam tertentu. Siapa saja yang punya jualan boleh menggelar dagangan. Nggak disangka pasar online warga ramai oleh jualan makanan siap santap, sisanya bahan makanan seperti aneka lauk mentah, buah-buahan, sayur, masker, bumbu masak, dan lain-lain. 

Mereka yang berjualan adalah para pemilik rumah makan atau toko yang selama pandemi terpaksa tutup dulu, lalu berjualan online. Bagi mereka, berjualan secara online dengan mengikuti segala tata caranya bisa jadi sebuah keterpaksaan atas keadaan saat ini, demi karyawan yang harus tetap dipertahankan agar tidak merasakan betapa sedihnya kehilangan pekerjaan dan pendapatan.

Bila pembeli adalah kami para tetangga satu komplek, si tetangga yang jualan langsung antar sendiri ke rumah-rumah, dibantu oleh karyawannya yang kini berubah jadi delivery man. Lain halnya bila sudah keluar komplek, bahkan keluar BSD, baru pakai jasa kurir. 

Kurir mana dengan jenis kiriman apa tergantung dari pesanan. Bila yang dipesan adalah makanan cepat rusak, sudah pasti pakai pengiriman cepat yang proses pengantarannya dalam hitungan satu hingga 2 jam saja. Bila produk makanan kering yang awet beberapa minggu hingga beberapa bulan, atau non makanan, pengiriman dengan durasi antar minimal 2-3 hari biasanya akan jadi pilihan hemat dari segi biaya. Saya cukup hafal produk yang dijual oleh para tetangga karena beberapa kali pernah membeli dan membuatkan testimoni/ulasa gratis di channel digital saya seperti IG dan FB.

Lapak online warga komplekku di IG, digelar juga tiap hari di Whatsapp Group Warga

Mengecap Manisnya Belanja dan Jualan Online

Belanja online memang bukan hal baru. Namun sejak pandemi, belanja online kini dilakukan oleh lebih banyak orang, lebih sering, dan jadi prioritas, utamanya produk kebutuhan makan. Bahkan kini bukan kepada marketplace yang punya nama besar saja, ke toko di pasar dan warung di pinggir jalan pun orang-orang melakukan pesanan melalui jalur chat pribadi di Whatsapp. Saya pernah mengamati abang tukang sayur keliling pakai mobil yang mangkal di depan komplek, 2 orang kru nya selalu sibuk melayani pesanan yang masuk lewat Whatsapp. Katanya, pesanan itu berasal dari ibu-ibu di komplek saya. Lha, saya baru tahu kalau si abang sayur melayani pesan antar he he. Sejak itu, saya ikut cara tetangga belanja via Whatsapp.

Nomor telpon para pedagang kecil hingga menengah bertebaran di grup RT, dibagikan oleh ibu RT. Mulai dari nomor telpon toko sembako di Pasar Modern BSD, para tukang sayur, buah, daging dan para pedagang lainnya yang berada di sekitar komplek. Para ibu yang berbulan-bulan mendekam di rumah saja jelas girang. Katanya, kalau bisa pesan online dan diantar, ngapain keluar rumah dan pergi belanja sendiri? Iya juga ya.

Sebuah perubahan nyata yang dulu tak pernah terjadi kini jadi kebiasaan baru. Dengan begini, para pedagang bisa tetap berjualan, para pelanggan tetap bisa berbelanja.

Bagaimana dengan saya, sibuk jadi pembeli saja, atau ikut berjualan? Paling banyak jadi pembeli, sekali dua kali saja merasakan manisnya berjualan. Pertama, jualan pakaian, alhamdulillah laris manis nggak ada sisa semua stok terjual. Kedua, jualan buah, Masha Allah terjual sampai ratusan pak dalam sehari orderan pelanggan se-Jabodetabek. 

Senangnya berjualan, bisa membantu orang-orang mendapatkan barang yang dibutuhkan, pun ikut andil memberi pekerjaan pada setiap orang yang terlibat sejak produksi barang hingga proses pengiriman. Di tiap transaksi yang terjadi, ada kehidupan orang-orang yang terus berlanjut di tengah masa sulit pandemi. Hal yang sama juga terjadi ketika saya jadi pembeli. 


Berkat Teknologi Komunikasi dan Jasa Pengiriman

Aktivitas belanja online sangatlah mudah dilakukan. Cukup tinggal di rumah untuk mendapatkan barang-barang kebutuhan, lalu gunakan saluran telpon, email, media sosial  untuk membuat pesanan, selanjutnya tinggal manfaatkan jasa pengiriman langganan agar barang sampai di rumah dengan aman.

Tentu saja, aktivitas saya belanja online selama pandemi tidak sebatas pada lingkup kecil di sekitar komplek tempat tinggal, tapi menembus batas wilayah provinsi. Saya tinggal di BSD City (Provinsi Banten), selama pandemi saya cukup sering belanja produk makanan ke penjual yang berlokasi di wilayah Provinsi Jawa Barat dan Provinsi DKI Jakarta. Di lain waktu saya melakukan pengiriman hadiah Giveaway channel Onedoxx anak saya ke kota Balikpapan, Lampung, Bengkulu, dan Tangerang.



Bersyukur sekali meski banyak terjadi pembatasan, bisnis jasa pengiriman barang menjadi salah satu bidang usaha yang dikecualikan dari pembatasan sosial atas rekomendasi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sehingga tetap bisa beroperasi mengantar kiriman ke seluruh wilayah di Indonesia memenuhi kebutuhan kita dari rumah.

Kita pun jadi aman. Cukup memanfaatkan jasa pengiriman yang terpercaya seperti JNE yang selalu hadir 24/7. Kamu juga kan?

Share this

A mother of two who loves travel and enjoy to share my journey and valuable experiences

Related Posts

Previous
Next Post »

17 Comments

  1. Udah lama ga ngirim pake JNE, sejak pembatasan Covid beberapa waktu lalu. Ada rencana besok mau nyoba kirim Bakso BorneoFood ke rumah Kakak, semoga tidak ada kendala.

    BalasHapus
  2. tetap jaga kesehatan mbak Rien.. kalau mau belanja, beli online aja yaa biar nanti dikirim sama JNE.

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah yah meski banyak terjadi pembatasan, bisnis jasa pengiriman barang tetap hidup dan membantu banyak orang.

    BalasHapus
  4. Saya sering banget pakai JNE, terutama paket-paket yg One Day Service. Kurirnya komitmen abis. Sampai jam 12 malam pun pernah barang saya tetap diantarkan. Salut.

    BalasHapus
  5. Saya termasuk yang selalu menggunakan jasa pengiriman dan sebagai pelaku bisnisnya dan juga konsumen nya. Kalo biasanya ngecek2 produk yang sedang dijahit itu langsung ke workshop, selama PSBB kemaren hanya berkomunikasi via WA dan jika produk sudah selesai.. tinggal ppakai pengiriman.

    BalasHapus
  6. Andalan banget JNE kak di masa2 seperti sekarang ini. Terutama yang jarak jauh yang gak bisa dilayani ojek online.. Semoga layanan JNE lebih baik lagi ya...

    BalasHapus
  7. Terbaik banget sih ini JNE. Jasa antar paket dan barang sangat membantu, apalagi kondisi seperti sekarang hihi.. Belanja jadi lebih banyak online nih

    BalasHapus
  8. Bright side of pandemic nih ya mbak katerina... Akhirnya rakyat Indonesia kebagian kue jd pedagang. Selama ini dikondisikan cm jd pembeli dr para pemilik modal besar, huhuu

    BalasHapus
  9. Memang saya rasakan sendiri semasa pandemi ini semua serba online. Bahkan saya dan suami memolih berjualan online. Jasa pengiriman ini tetap berjalan dan begitu dirasakan manfaatnya bagi banyak orang.

    BalasHapus
  10. Akuuuu juga sering bgt manfaatin jasa pedagang online.
    Pas masa corona gini beneran ogah ke mana2 Mba
    Kuatir terpapar virus.
    Thanks GOD ada JNE yak

    BalasHapus
  11. Jualan dan belanja online cukup jadi solusi ya di kondisi pagebluk sekarang ini.

    BalasHapus
  12. Jadinya bisa saling membantu ya. Buat yang dirumah aja maupun jasa pengiriman. Tetep tak lepas doa, semoga keadaan kembali kondusif dan JNE terus meningkatkan pelayanan terbaiknya

    BalasHapus
  13. iya jasa pengiriman sedang jaya-jaya nya karena semua bisnis beralih ke online, sedikit asah bagi penjual yang bisa menawarkan jasa dan produk nya melalui online

    BalasHapus
  14. Aku suka banget kata ini:

    "... kreativitas di tengah pembatasan"

    Sederhana namun dalam maknanya!

    Setuju, jualan dan belanja online memang solusi di masa pandemi

    BalasHapus
  15. MasyaAllah, ada rasa haru gitu ya Mbak kalau jualan kita laris manis. Kita bisa bantu sesama juga yang butuh barang yg dicari apalagi jika bisa mempekerjakan orang lain.
    Di kompleksku juga WAG itu jadi ajang jualan online sesama warga :)

    BalasHapus
  16. akhir akhir ini kebanyakan tamu saya juga dari jasa pengiriman. sampai sampai ada tamu datang dikira tukang paket :-D

    BalasHapus
  17. setelah sekian lama ndak singgah dirumah mbak rien, akhirnya bisa singgah. Tulisannya mengalir dari hati seperti tak berbeda dengan tulisan 2008 di multiply. Salut

    BalasHapus

Leave your message here, I will reply it soon!