Kenangan Dari Negeri Seribu Warung Kopi



Dengungan tasbih dan tahmid menghiasi langit yang mulai gelap. Semburat-semburat senja hanya terlihat remang. Hujan gerimis mulai turun perlahan. Membasahi rumput-rumput di perkarangan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Magrib hampir selesai. Satu persatu jamaah magrib mulai meninggalkan Masjid Raya. 

Perlahan tapi pasti, geliat kota syariat Islam ini mulai terlihat hidup kembali. Dulu saya pernah mengira, Aceh di malam hari akan menjadi sebuah kota mati. Namun, sebuah pemandangan yang tak biasa membuktikan kalau prediksi saya salah besar. Ternyata, semakin malam, geliat kota semakin hidup dan bervariatif.  

Warung Kopi Zakir - Banda Aceh
Kota kecil yang mempunyai julukan negeri seribu warung kopi ini memang sesuai dengan julukannya. Warung kopi dimana-mana! Ada yang berjejer, bersebelahan, berseberangan, dan berhadap-hadapan. Ramai sekali. 

Saya jadi teringat pulau Babel yang diceritakan Andrea Hirata, tentang kebiasaan orang Melayu yang hobby ngopi di warung-warung. Ngopi sambil ngumpul. Ngopi sebagai gaya hidup. Kata teman, orang Aceh juga demikian. Gaya hidup orang Melayu, dimana warung kopi menjadi sebuah budaya yang ikut mempengaruhi pola tingkah kehidupan bermasyarakat di Aceh.

Menurut kabar yang saya dengar, di Aceh juga tersedia kopi dengan campuran ganja, hmm… Apa benar? Yang jelas, saya jadi tertarik untuk merasakan sensasi minum Kopi Aceh, kopi yang katanya begitu nikmat. Kapan lagi, toh? Mumpung masih di Banda Aceh, mesti mencoba.  




Tak jauh dari Masjid Raya, ada sebuah warung kopi yang cukup besar. Di dalamnya,  terlihat muda-mudi bersantai dengan gelas-gelas kopi yang tersaji di depan mereka. Saya masuk.

“Bang, Kopi Aceh, ya.” Si abang hanya tersenyum. Sesaat kemudian saya tersadar. Bukankah saya sedang berada di Aceh. Kenapa memesan Kopi Aceh? Alamak…

Secangkir kopi tersaji. Aromanya menguar di udara, menyelusup masuk ke hidung, membuat saya semakin penasaran. Inilah saatnya untuk menuntaskan rasa penasaran itu. Saya menyeruputnya pelan. Sedikit demi sedikit.
 

Secangkir kopi yang nikmat

Bagaimana rasanya?

Saya orang asing di daerah ini, baru pertama kali mencoba kopi Aceh, namun bisa langsung memuji: Ini kopi enak sekali! Cita rasa kopi yang sempurna dari rasa kopi yang kuat, bercampur dengan sedikit rasa legit dan manis yang pas.

Wajar bila orang Aceh begitu mencintai kopi mereka. Bahkan salah satu varian kopi aceh yang dikenal dengan kopi Gayo, telah menjadi komoditi ekspor dan di pakai oleh Starbuck. Wow!

Secangkir kopi yang melenakan, tanpa sadar membawa sang waktu ke pukul 22.00 WIB. Waktunya kembali ke Hotel Pade yang terletak di pinggir kota. Sebelum benar-benar pulang, saya menyempatkan untuk membeli bubuk kopi Aceh di warung kopi tersebut. Namun sayang, mereka tidak menjualnya. Saya disarankan agar membelinya di toko-toko souvenir lainnya yang terdapat di sekitar Masjid Raya Baiturrahman. 




“Kalau pergi ke toko-toko souvenir, adik bisa menemukan berbagai macam kopi bubuk seperti Kopi Ulee Kareng, Kopi Gayo, Kopi Tgk Aceh, dan lain-lain,” terang si abang pramusaji.

“Di antara kopi bubuk yang disebutkan tersebut, mana yang rasa kopinya paling mirip dengan kopi yang baru saya minum?” tanya saya penasaran.

Kopi Ulee Kareng. Inilah kopi bubuk instan yang paling sering di jadikan oleh-oleh dari Banda Aceh,” jawab si abang dengan mantap.

Malam itu, 10 kotak Kopi Ulee Kareng saya beli, untuk dibawa pulang ke Jakarta pada keesokan hari.


--Aceh dalam kenangan



(*)

Seorang istri. Ibu dari dua anak remaja. Tinggal di BSD City. Gemar jalan-jalan, memotret, dan menulis.

Share this

Previous
Next Post »

18 komentar

  1. Penasaran aku ingin mencicipi rasanya juga. In shaa Allah aku gak lama lagi mau mengunjungi warkop khusus kopi Sumatra di jerman. ira

    BalasHapus
    Balasan
    1. Senangnya ada warkop khusus kopi Sumatera di Jerman ya mbak, kalau penasaran tinggal datang bisa mencoba di sana. Nanti cerita ya mbak kalau sudah mencicipi :)

      Hapus
  2. Waaa.. aku pernah ngincipin kopi Ulee Kareng. Tapi belum pernah minum langsung di daerah asalnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau Kopi Ulee Karengnya berasal dari Aceh, tentu rasanya akan sama saja mbak. Yang membedakan mungkin pada sensasi minum di daerahnya langsung. Akan lebih berkesan :)

      Hapus
  3. Dicampur ganja? Iya kah? Malah bikin penasaran nh. Kalau kopi hitam, nggak bisa nyruput. Kalau yang campur krim sama susu, enak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih jadi pertanyaanku juga apakah benar dicampur ganja atau tidak :D Perlu investigasi lebih lanjut kayaknya mbak. Ayo mbak ke Aceh, kan lama nih mudiknya di Indonesia kali ini :)

      Kenapa nggak bisa nyeruput, mbak? Takut pahit kah?

      Hapus
  4. Blm pernah ke Aceh, tp penasaran pgn nyoba kopinya.. ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau sekedar ingin mencicipi rasa kopi Aceh, mungkin bisa beli/pesen dengan teman yang tinggal di Aceh. Mbak tinggal di mana? Kalau tidak salah, kopi asli dari berbagai daerah di Indonesia ada dijual di toko-toko tertentu, kafe kopi, dan bahkan supermarket juga ada. Mungkin bisa coba di cek mbak :)

      Main ke Aceh, mbak. Banyak tempat wisata menarik di sana, sekalian nyoba kopinya :)

      Hapus
  5. suka cium-cium bubuk kopi, kepingin bikin dan kalau sudah bikin efeknya di badan yang langsung terasa.. kopi jenis ini diseduh sama dimasukkan ke coffee maker apakah sama mba rasanya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. biasanya, setahu saya, Kopi aceh itu ada baiknya di seduh dengan air mendidih mbak. atau di masak Langsung dalam air mendidih. aroma dan rasanya akan lebih kuat. Tapi, untuk coffee maker, saya sedikit kurang paham mbak. mungkin bisa di coba, mengingat kopi bubuk ulekareng ini sudah mirip2 dengan nescafe lainnya.

      Hapus
    2. Terima kasih, Yudi, sudah bantu jawab.

      Hapus
  6. Selain bubuk kopi yang dicampur ganja, bahan makanan lain juga mba, salah satunya soto. Mereka seringkali mencamputkan bunga ganja di makanan mereka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya justru baru dengar dari teteh klo di aceh ada soto ganja. :D
      padahal sedari kecil saya di aceh loh teh hihihi

      Hapus
    2. Mungkin maksud Zahra itu bukan Soto Ganja, tapi soto yang dicampur bunga ganja. Buat variasi bumbu penyedapnya. Semacam itu. Adakah, Yud?

      Hapus
    3. Oh iya bang hehe. Maaf jika ada kesalahan. Zahra agak lupa apakah itu soto ataukah mie aceh. Namun teman zahra yg di aceh pernah mengatakan demikian, makanan dicampur bunga ganja dengan kadar yg sedikit dan tdk memabukan. Mohon maaf bila ada kesalahan ucap. Trims koreksinya bang :)

      Hapus
    4. Memang ada maskan Aceh yang dicampur ganja, tapi bukan soto Zahra, melainkan gulai daging masak Aceh (kari Aceh atau kari kambing masak Aceh), nah itu baru dicampur ganja. Memang gak semua siih, keluarga saya sih iya, xixixiii... karena, ganja itu fungsinya untuk membuat daging empuk, jadi dalam hal ini, ditaroh ganja dalam masakan karena 'butuh' ganjanya tapi lebih untuk mengempukkan dagingnya.
      Kalau dalam mie Aceh, ada juga beberapa warung yang mencampur ganja, tapi sedikiiiiit saja :D

      Hapus
    5. Terima kasih mbak Eki sudah menambahkan. Jadi pengetahuan buatku :)

      Hapus

Leave your message here, I will reply it soon!