Tampilkan postingan dengan label Culinary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Culinary. Tampilkan semua postingan

RicheeseGPT Garlic Parmesan Temptation Resmi Diluncurkan, Menu Baru Richeese Factory Non Pedas yang Gurih dan Crispy

Review RicheeseGPT Garlic Parmesan, Menu Baru Richeese Factory Non Pedas

RicheeseGPT Garlic Parmesan Temptation resmi diluncurkan sebagai menu baru Richeese Factory 2026. Varian ayam crispy non pedas dengan seasoning keju Parmesan dan aroma garlic ini menjadi alternatif bagi pecinta Richeese yang ingin rasa gurih tanpa sensasi pedas ekstrem. Peluncuran menu terbaru Richeese ini digelar di Richeese Factory Veteran pada 14 Februari 2026 dan dihadiri media serta food blogger.

Saya dan Ayam Pedas yang Tidak Selalu Akur

Saya ini suka ayam. Tapi hubungan saya dengan ayam itu seperti hubungan saya dengan notifikasi promo di ponsel. Tidak semuanya bisa langsung saya terima. Ayam bersantan yang bumbunya terlalu pekat kadang bikin saya mikir dua kali. Ayam yang pedasnya kelewatan juga pernah membuat kepala saya pening dan tingkah saya tidak jauh beda dari anak kecil yang kehabisan kuota internet. Jadi jelas ya, bukan ayamnya yang salah. Hanya saja, saya dan rasa kadang perlu negosiasi.

Kalau ayam goreng, itu lain cerita. Digoreng garing, masih hangat, kriuknya terdengar sebelum digigit, itu definisi bahagia yang sederhana. Tapi tetap ada syaratnya. Harus hangat. Karena ayam goreng yang sudah dingin itu seperti semangat olahraga hari Senin pagi. Niatnya ada, tapi rasanya tidak lagi sama.

Soal pedas pun saya punya prinsip. Saya suka pedas, tapi pedas yang tahu diri. Yang masih bisa diajak kompromi. Bukan pedas yang membuat saya mempertanyakan keputusan hidup dalam satu gigitan. Jadi biasanya kalau ke restoran ayam, saya pilih yang aman. Ayamnya tidak pedas, sausnya saja yang ditambah sesuai kemampuan iman.

Karena itu, ketika saya mendapat undangan peluncuran menu baru dari brand yang identik dengan pedas, jujur saja saya penasaran. Sekaligus waspada.


Peluncuran RicheeseGPT di Richeese Factory Veteran: Datang dengan Rasa Ingin Tahu

Sabtu siang, 14 Februari 2026, suasana di Richeese Factory Veteran tampak lebih ramai dari biasanya. Area restoran ditata khusus untuk acara. Di atas panggung kecil, terdapat backdrop besar bertuliskan RicheeseGPT: Garlic Parmesan Temptation.

Media, food blogger, dan KOL sudah duduk rapi. Musik mengalun pelan. Suasananya hangat, tidak terlalu formal, tapi tetap terasa sebagai momen penting.

Nama menunya membuat saya sempat tersenyum. RicheeseGPT. Ternyata GPT di sini adalah Garlic Parmesan Temptation. Oke, ini bukan soal teknologi, tapi soal rasa.

Dan sebagai seseorang yang sering memilih menu aman, saya langsung bertanya dalam hati: apakah ini akhirnya pilihan yang lebih bersahabat untuk saya?


Welcome Speech dan Peluncuran RicheeseGPT Garlic Parmesan

Acara dibuka oleh MC yang interaktif dan penuh energi. Ia langsung mencairkan suasana dengan melempar pertanyaan tentang level pedas favorit para tamu. Ada yang menjawab mantap tanpa ragu, ada juga yang tertawa sambil mengaku sering kalap memilih level tertinggi lalu menyesal di tengah jalan.

Sejak awal, atmosfernya terasa santai. Bukan tipe konferensi pers yang kaku dan penuh formalitas, tapi lebih seperti kumpul seru yang tetap terarah.

Sambutan dari pihak Richeese Factory pun disampaikan dengan gaya ringan dan mengalir. Tidak bertele-tele, langsung mengantar kami ke inti acara.

Setelah itu, masuk ke sesi utama. Kami diajak menyaksikan penayangan perdana DVC Richeese Chicken. Visualnya dinamis, dengan tone yang menggugah selera dan menonjolkan karakter gurih serta sensasi pedasnya.

Begitu video selesai, suasana dibuat sedikit lebih dramatis. Produk kemudian ditampilkan dan diperkenalkan secara simbolis.

RicheeseGPT adalah varian terbaru Richeese Chicken dengan seasoning Garlic Parmesan yang menghadirkan kombinasi gurih keju dan aroma bawang putih yang hangat. Berbeda dengan Fire Chicken yang identik dengan level pedas, menu ini hadir sebagai pilihan non pedas dengan karakter rasa yang tetap bold dan khas Richeese.

Momen Product Reveal dan Gigitan Pertama

Tak lama, setiap undangan mendapatkan sajian di meja masing-masing untuk dicicipi langsung. Dari momen itulah rasa penasaran berubah menjadi pengalaman nyata.

Aroma garlic yang hangat langsung terasa saat RicheeseGPT berada di hadapan saya. Taburan keju Parmesan terlihat cukup melimpah. Wangi garlic yang hangat berpadu dengan keju Parmesan yang khas.

Saya mengambil satu potong.

Gigitan pertama langsung memberi jawaban atas rasa penasaran saya. Kulitnya crispy dengan tekstur yang konsisten. Renyahnya terdengar jelas. Begitu masuk ke bagian dalam, dagingnya tetap juicy.

Seasoning keju Parmesan terasa cukup bold, tapi tidak berlebihan. Gurihnya bersih. Garlic hadir sebagai lapisan rasa yang memperkaya, bukan mendominasi.

Yang paling penting bagi saya, tidak ada sensasi pedas yang membuat saya panik. Ini tipe rasa yang bisa dinikmati tanpa drama.

Beberapa teman food blogger mengangguk setuju. Ada yang bahkan berkata, ini cocok buat yang tidak kuat pedas.

Saya hanya tersenyum. Dalam hati, ini termasuk saya.


Inovasi yang Lahir dari Masukan Cheesemate

Chandrataruna selaku Perwakilan Corporate Communication dari Richeese Factory menjelaskan bahwa menu ini bukan sekadar eksperimen dapur.

Inovasi ini berasal dari masukan para Cheesemate.

Banyak pelanggan yang mencintai Richeese, tetapi tidak selalu ingin pedas. Ada yang ingin variasi rasa baru. Ada yang ingin tetap menikmati ayam crispy khas Richeese tanpa harus berhadapan dengan sensasi pedas ekstrem.

Richeese mendengar setiap masukan tersebut. Dan bukan hanya mendengar, tapi benar benar menindaklanjutinya dengan inovasi nyata. Dari proses itulah lahir Richeese Chicken dengan Garlic Parmesan, atau yang diperkenalkan sebagai RicheeseGPT.

“Kami selalu ingin membangun kedekatan emosional dengan Cheesemate. Dengan begitu, kami bisa memberikan pilihan yang lebih dekat. Melalui Richeese Chicken dengan Garlic Parmesan atau RicheeseGPT ini, kami mengajak siapa pun untuk Berani Explore Rasa dan merasakan harmoni antara kelezatan keju Parmesan dan keharuman garlic yang otentik,” jelasnya.

Kalimat Berani Explore Rasa terasa konsisten disampaikan sepanjang acara.

Perjalanan Brand dan Komitmen pada Kualitas

Dalam sesi berikutnya, dipaparkan perjalanan PT Richeese Kuliner Indonesia atau RKI sebagai perusahaan di balik Richeese Factory.

RKI memulai langkahnya pada tahun 2011 dengan membuka gerai pertama di Paris Van Java Mall Bandung. Sejak itu, Richeese Factory menjadi pelopor bisnis Quick Service Restaurant di bawah Nabati Group dan mampu bersaing dengan merek restoran cepat saji global.

Dengan menghadirkan menu halal yang inovatif dan lezat, Richeese Factory meraih berbagai penghargaan seperti Youth Choice Awards 2023, Shopee Super Award Top Favorite F&B Merchant, Marketing Award, dan WOW Brand.

Hingga tahun 2025, jaringan Richeese Factory telah mencapai 422 titik lokasi di seluruh Indonesia. Ekspansi juga dilakukan ke Malaysia pada tahun 2023, dan dalam waktu kurang dari dua tahun telah berkembang hingga lebih dari 93 gerai di sana.

Melalui penerapan sistem pengelolaan keamanan pangan dan perbaikan berkelanjutan, RKI terus berinovasi menghadirkan produk yang aman, bergizi, berkualitas, dan halal sesuai regulasi serta kebutuhan konsumen.


Rangkaian Acara yang Seru dan Interaktif

Setelah reveal dan sesi pemaparan, acara berlanjut ke ice breaking. Ini benar benar sesi pencair suasana.

Ada pertanyaan ringan seputar produk, challenge kecil yang masih relevan dengan menu baru, serta interaksi singkat dengan audiens. Suasananya jadi santai. Tamu tidak hanya duduk mendengarkan, tapi ikut terlibat.

Lalu ada permainan singkat berupa kuis tentang produk dengan hadiah voucher makan di Richeese. Dari grup food blogger, Amanda dan Novita berhasil menjawab pertanyaan dengan tepat dan langsung mendapatkan voucher. Lumayan banget ya, makan enak plus dapat hadiah.

Energinya terasa hidup. Tidak kaku sama sekali.


Testing Session dan First Bite Experience

Masuk ke sesi testing session. Ini momen di mana semua peserta benar benar mencicipi menu baru tersebut secara langsung. Bukan simbolis. Bukan sekadar lihat. Tapi benar benar makan.

Sesi ini disebut sebagai first bite experience.

Kami diminta memberi pendapat jujur tentang rasa, tekstur, aroma, dan overall experience. Ada yang sharing langsung di tempat, ada juga wawancara singkat yang direkam untuk konten.

Dari grup food blogger, Amanda dan Bowo diminta mewakili untuk memberikan honest review. Seru juga melihat bagaimana setiap orang punya kesan berbeda saat gigitan pertama.

Untuk momen pertama saya mencicipi RicheeseGPT, bisa ditonton pada video dalam IG post berikut ini pada slide ke-4 :

Media Q&A Seputar RicheeseGPT Garlic Parmesan

Acara berlanjut ke sesi Media Q&A dan interaction. Ini sesi yang lebih serius, tapi tetap santai. Media, KOL, dan blogger diberi kesempatan bertanya langsung kepada perwakilan brand.

Topik yang dibahas cukup lengkap, mulai dari konsep produk, target market, strategi launching, hingga rencana ke depan.

Dari grup food blogger, rekan saya Mei dan Salman juga ikut bertanya.

Mei menanyakan bagaimana profil rasa dari menu Richeese Parmesan Chicken ini. Pertanyaan yang sangat relevan, karena rasa adalah kunci.

Salman bertanya tentang pesan utama yang ingin disampaikan Richeese Factory melalui kampanye menu baru ini.

Jawaban yang diberikan menegaskan kembali bahwa menu ini hadir sebagai pilihan non pedas yang tetap berkarakter, sekaligus mengajak konsumen untuk Berani Explore Rasa dengan cara yang lebih inklusif.


Interaksi dan Percakapan Setelah Sesi Cicip

Setelah sesi mencicipi dan diskusi, acara berlanjut dengan tanya jawab tambahan dan sesi foto. Para undangan saling bertukar kesan. Ada yang membandingkan dengan Fire Chicken, ada yang menyebut ini akan jadi favorit baru karena lebih ramah untuk semua kalangan.

Suasananya santai. Tidak terburu buru. Ada ruang untuk benar benar menikmati dan berdiskusi. 

 

Keseruan Peluncuran RicheeseGPT Garlic Parmesan

Kalau dirangkum, rangkaian acaranya benar-benar lengkap.

Dimulai dari welcome speech, peluncuran resmi, penayangan perdana DVC, momen reveal produk, sesi testing, ice breaking, games berhadiah, Media Q&A, hingga honest review langsung dari para undangan.

Ada momen nanya-nanya, ada momen ditanya balik, ada momen ketawa karena kuis, dan tentu saja momen menikmati ayam hangat dengan seasoning keju dan aroma garlic yang menggoda.

Buat saya pribadi, ini bukan sekadar peluncuran menu. Tapi pengalaman yang dirancang supaya kami benar benar merasakan perjalanan produk dari cerita sampai ke gigitan pertama.



Harga dan Ketersediaan RicheeseGPT

Menu RicheeseGPT Garlic Parmesan sudah tersedia di seluruh gerai Richeese Factory Indonesia.

Untuk harga, RicheeseGPT dibanderol mulai dari Rp22.000 tergantung paket dan pilihan menu. Konsumen juga bisa memilih paket combo atau pembelian satuan sesuai selera. Informasi promo terbaru dapat dicek langsung melalui aplikasi resmi atau gerai terdekat.

 
Ketika Tidak Pedas Justru Jadi Keberanian

Bagi saya pribadi, langkah ini menarik. Brand yang dikenal dengan pedasnya berani menghadirkan varian non pedas dengan karakter kuat. Itu bukan keputusan kecil.

Keberanian ternyata tidak selalu soal seberapa ekstrem rasa yang ditawarkan. Kadang justru tentang menghadirkan keseimbangan yang bisa diterima lebih banyak orang.

Menu ini sudah tersedia di seluruh gerai Richeese Factory di Indonesia dan bisa dinikmati langsung di restoran, drive thru, maupun melalui aplikasi pemesanan online.

Kalau kamu selama ini selalu memilih level pedas tertinggi, mungkin ini bisa jadi jeda yang menyenangkan.

Dan kalau kamu seperti saya, yang suka pedas tapi tetap butuh opsi aman, mungkin ini saatnya ikut Berani Explore Rasa dengan cara yang lebih nyaman.

Berbeda dengan Fire Chicken yang terkenal dengan level pedasnya, RicheeseGPT menawarkan pengalaman rasa yang lebih ramah untuk semua kalangan, termasuk anak anak dan konsumen yang tidak terlalu kuat pedas.

Saya pribadi melihat RicheeseGPT sebagai jawaban untuk yang ingin tetap menikmati ayam crispy khas Richeese tanpa harus berhadapan dengan level pedas ekstrem. Dengan harga mulai Rp22.000, menu Garlic Parmesan ini terasa lebih inklusif.

Tidak semua keberanian harus pedas. Kadang cukup memilih rasa yang paling sesuai dengan diri sendiri.

Liburan di Bogor, Tapi Lidah Nyasar ke Sentul, di Bumi Aki Signature

Review Bumi Aki Signature Sentul
 
Jadi ceritanya kami sedang staycation santai di Kota Bogor. Nggak ada itinerary ambisius. Niat awal cuma satu: makan enak, rebahan panjang, dan pura-pura lupa cucian di rumah belum dijemur. Tapi seperti biasa, hidup tuh suka random. Suami tiba-tiba nyeletuk, “Ma, ke Sentul yuk.

Ya sudah, kami gas ke Sentul. Mobil melaju tanpa GPS, cuma bermodal feeling dan harapan ketemu masakan Sunda yang bisa meluluhkan perut. Di tengah perjalanan yang masih ngawang-ngawang, muncul sebuah bangunan kalem di balik aneka tumbuhan tropis. Dari luar sih, vibe-nya kayak taman pribadi milik sosialita yang doyan yoga tapi tetap jago bikin sambel terasi.

Plangnya: Bumi Aki Signature Sentul.

Saya langsung senyum. Ini yang sempat saya sebut-sebut waktu masih di hotel, tapi niat awalnya yang di Bogor, bukan yang ini. Ternyata semesta emang hobi ngasih plot twist, dan Google Maps kadang lebih tajam dari intuisi ibu-ibu.

Dan ya, “Signature.” Di zaman sekarang, semua berlomba kelihatan premium. Bahkan gorengan kalau ditata cantik di atas piring keramik bisa naik kasta jadi Assorted Golden Crunchies. Tapi Bumi Aki Signature ini bukan sekadar gaya-gayaan. Dia hadir sebagai bukti kalau tradisi bisa tampil elegan tanpa kehilangan rasa. Ini tuh memang Bumi Aki dengan paket lengkap: suasana, pelayanan, dan rasa yang serius tapi tetap bisa diajak santai.

Bagian depan Bumi Aki Signature Sentul. Area parkirnya luas, dan ini baru kelihatan sepertiganya

Masuk ke Dalam: Estetika yang Nggak Kaku

Interiornya rapi dan manis. Jauh lebih mewah dibanding cabang-cabang Bumi Aki lain yang pernah saya datangi. Mungkin memang didesain buat jadi versi upgrade-nya. Tanaman hijau di mana-mana, kolam air kecil mengalir pelan, suasananya kayak ngajak meditasi tapi sambil ngunyah tahu goreng. Adem, teduh, dan bisa bikin lupa kalau sebenernya ini tempat makan, bukan tempat healing

Baca juga: Staycation di Sandalwood Boutique Hotel Lembang

Kolam dalam vs kolam luar. Yang kiri di dalam resto, yang kanan di luar, sebelah kiri bangunan

Saat kami datang, jam masih menunjukkan pukul 11. Resto belum rame. Kami langsung naik ke lantai atas, ambil posisi di teras belakang yang semi-outdoor. Baru ada dua orang di sana. 

Kami duduk di area teras belakang yang menghadap ke pondok-pondok lesehan dengan tirai putih dan bantal empuk. Tampaknya seperti hasil kawin silang antara gazebo dan ruang tamu pernikahan Sunda versi Pinterest. 

Kalau nggak inget tujuan awal, bisa-bisa saya leha-leha seharian di situ sambil nungguin disuapi. Tapi ternyata duduk di pondok itu tidak disarankan oleh stafnya. Katanya, panas. Memang sih, ini hampir tengah hari, cukup terik, dan panasnya tetap terasa meski tiap pondok dilengkapi kipas angin mahal. Jadi kami memilih duduk di teras saja, di sofa empuk berkapasitas 6 sampai 8 orang. Buat kami yang cuma berempat, ini jelas lega banget. 

Pondok lesehan di area belakang lantai 2

View dari tempat kami duduk. Terlihat ada 4 pondok lesehan.

Teras belakang lantai 2, tempat kami duduk makan siang. Jam 11, masih lengang.
 

Dihampiri dengan Gaya Hotel Bintang Lima

Rasanya, setiap belokan di resto ini ada staf. Semua tampil rapi berseragam, lengkap dengan rompi formal dan senyum default yang seolah sudah dikalibrasi sejak hari pertama pelatihan. Tiap papasan, mereka menyapa. Badan sedikit membungkuk, tangan kanan ke dada, seolah berkata, "Ibu, saya siap bahkan sebelum Ibu sadar butuh bantuan."

Di sekitar meja kami, ada tiga orang yang standby. Salah satunya langsung mendekat, penuh senyum dan sigapnya sudah level bodyguard. Dari awal sampai selesai, dia yang layani. Tidak perlu dipanggil. Tidak sempat menghilang. Dia berdiri sekitar lima meter dari meja, mengamati tanpa mengganggu, tapi langsung bergerak kalau ada yang perlu dibantu. Misalnya saat air minum habis, dia langsung datang dan isi ulang. Tanpa diminta. Tanpa drama.

Mungkin ini yang bikin versi Signature terasa beda. Bukan cuma makanannya yang niat, tapi cara mereka memperlakukan tamu juga tidak setengah-setengah. Di tempat lain, kita harus angkat tangan tinggi-tinggi dulu, seperti nelayan yang minta ditolong kapal. Di sini, pelayannya lebih peka dari sinyal Wi-Fi.

Bumi Aki lain yang pernah saya kunjungi, jujur saja, belum pernah nemu servis segini niatnya.

Drama Nasi Liwet: Satu Paket, Banyak Realita

Kami pesan Paket Nasi Liwet Signature. Namanya aja udah bikin jiper. “Signature.” Kayak ada tanda tangan chef-nya di bawah daftar harga. Isinya? Nah meski Paket 1 resminya buat dua orang tapi lauknya terbilang melimpah kalau buat berdua saja. Ini menurut saya yang makannya masih beradab lho ya 😆

Paket 1 terdiri dari dua ayam goreng, dua empal, dua tahu, dua mendoan, pencok kacang, sambal terasi, lalapan, ikan peda (yang tampilannya seperti minta validasi), kerupuk, cemilan, buah potong lima macam, dua es teh tawar, dan satu bakul nasi yang seakan bilang: “Saya cukup banyak untuk dua orang biasa atau tiga orang yang sedang insyaf.”

Total lauk sembilan. Sedangkan kami berempat. Secara matematika dan spiritual, ini sah. Satu orang dapat dua lauk, sisanya si ikan peda bisa dimakan rame-rame. Simbol kebersamaan dalam bentuk lauk asin.



Kami sengaja nggak pesan paket empat orang. Soalnya dari deskripsinya aja udah kayak pesta panen. Mas Arif dan Alief sih makannya banyak, tapi nggak berarti tiap orang sampai butuh lima lauk juga kali. Kami masih punya logika dan batas kolesterol.

Tambahan kami? Aisyah pesan jus alpukat. Alief, demi tampil edgy dan tetap halal, pilih beer pletok sparkling. Katanya ini cara aman menikmati sensasi minuman bir tanpa risiko penuh penyesalan. Sebuah usaha mencari sensasi dalam batas halal. Kita doakan istiqamah.

Waktu makanan datang, nggak ada rebutan lauk, nggak ada air mata karena tahu terakhir, dan yang paling penting: nggak ada yang merasa kurang. Sebuah pencapaian keluarga yang layak didaftarkan ke UNESCO sebagai warisan budaya makan cukup.

Suami saya, seperti biasa, punya prinsip hidup yang mulia: tidak membiarkan makanan tersisa. Bukan karena hemat, tapi karena dia yakin dosa membuang makanan lebih besar dari telat bayar listrik. Tapi karena porsinya pas, nggak ada yang dikorbankan demi kesalehan sosial hari itu.

Video makan siang di Bumi Aki di IG saya @travelerien :

Total tagihan? Tepatnya Rp 781.122. 

Paket nasi liwetnya sendiri hanya Rp 450 ribu. Sisanya tagihan untuk tambahan 2 nasi liwet Rp40.120, 2 nasi putih Rp31.000, 2 minuman di luar paket yakni Beer Pletok Sparkling Rp65.000 dan Avocado Juice Rp40.535, Ice Tea TW Rp37.000. Service charge tax nya 7% Rp46.456 dan ada PBI 10% Rp71.011.

Bagi seseorang, harga per item dan totalnya mungkin tergolong masih wajar, mungkin juga terasa agak mahal bagi yang lain.

Dua-duanya nggak salah. Namanya juga perspektif.

Murah atau mahal, semua itu bagian dari pengalaman. Pengalaman makan enak, duduk nyaman, dan ngerasain momen bareng keluarga di Bumi Aki Signature.

Nggak semua tagihan harus ditangisi... atau diketawai dengan santai. Kadang cukup dikenang sambil senyum. Terutama karena... ya rasanya enak, porsinya mantep, dan perut pulang dalam keadaan damai sentosa. 

Suami saya? Beliau sungguh sumringah. Keinginannya makan di Sentul tercapai tanpa hambatan dan drama😀

Mas pelayannya nawarin motret kami, oke siapa nolak 😁

Sedikit Observasi dan Saran Moral

Kami datang di jam yang pas. Suasana masih adem, belum terlalu ramai. Tapi itu ternyata cuma teaser sebelum… ya bukan badai sih, lebih tepatnya keramaian yang tetap tertib. Nggak ada yang saling sikut, tapi ritme gerak mulai berubah. Yang tadinya bisa duduk sambil pilih-pilih spot kece, sekarang harus sedikit lebih lincah.

Lantai dasar dan atas sudah penuh. Sisanya tinggal pondokan di samping, yang posisinya dekat dengan kolam-kolam biru. Dari jauh tampak seperti kolam renang. Tapi bukan, dan tidak perlu ditanya bedanya. Pokoknya bukan tempat buat nyebur-nyebur.

Pondokan ini dikelilingi tanaman dan elemen air. Secara teori, harusnya bikin suasana adem. Tapi siang bolong adalah musuh alami teori kenyamanan. Matahari sedang semangat, pantulan dari air dan keramik ikut berkontribusi. Suasananya jadi mirip oven yang dikasih sentuhan alam.

Baca juga: Staycation Keluarga di Lembang Asri Resort

Elemen air dan tanaman di area luar emang bikin adem di mata, tapi nggak cukup ngelawan panasnya matahari siang. Untung pelayan-pelayannya pengertian banget. Daripada nyuruh tamu duduk di luar, mereka minta nunggu saja sampai ada meja kosong di dalam.

Buat yang perfeksionis urusan tempat duduk dan pemandangan, sebaiknya ambil jalan aman. Rencana. Jangan sok-sokan mengandalkan spontanitas. Hidup boleh penuh kejutan, tapi berebut meja saat perut sudah berisik itu bukan kejutan, itu bagian dari ujian spiritual.

Apalagi datang dalam rombongan. Jalan sambil celingukan, berharap ada meja kosong, sambil menahan emosi tiap kali lihat orang mulai berdiri dari kursi. Itu bukan momen kulineran. Itu semacam kompetisi tersembunyi. Siapa cepat, dia kenyang. Siapa kurang cepat, dia jadi penonton.

Intinya, kalau bisa disusun dengan rapi, kenapa harus pilih jalur drama. Reservasi!

Area favorit buat foto. Siang itu gak ada yang makan di area ini karena masih panas.  

Penutup yang Bukan Basa-Basi

Bumi Aki Signature ini bukan cuma soal branding. Ia tempat yang berhasil meramu suasana tradisional dan kenyamanan modern tanpa kehilangan jati diri. Dari makanan, pelayanan, sampai suasananya, semuanya punya kualitas yang bikin pulang bawa rasa puas.

Awalnya kami cuma pengin makan di Sentul. Udah gitu aja. Tapi ternyata malah pulang bawa cerita gak sengaja ketemu Bumi Aki versi Signature. Jujur aja, saya masih pengin balik lagi ke sini, buat cobain menu-menu lainnya tanpa drama pilihan menu paket. Haha.

Kalau ada yang penasaran sama Bumi Aki Signature Sentul, silakan cek IG mereka di @bumiaki.signature. Menunya bisa kamu lihat lewat link yang ada di bio, biasanya tertulis MENU. Atau kalau link di drive Menu Bumi Aki Signature masih aktif, bisa juga kamu akses lewat sana.


Sentul, 05 Juli 2025.