Travel

Hotel

Culinary

Recent Posts

Tiada Resah di Pulau Sebesi

16.10 31 Comments
Pesona Pulau Sebesi
 
Pulau Sebesi Lampung
Amuk Krakatau di Selat Sunda pada 27 Agustus 1883 turut menghabisi kehidupan di Pulau Sebesi. Sebuah pulau yang berjarak dua jam perjalanan dari Gunung Krakatau. Saat ini, setelah 134 tahun prahara yang mengguncang bumi tersebut, Pulau Sebesi menjelma menjadi pulau yang subur, banyak dikunjungi pelancong, dan menjadi gerbang ke cagar alam Gunung Anak Krakatau.

Hari Kamis (25/8/2017), dua hari jelang peringatan letusan dahsyat Krakatau, tujuh kapal menyeberang ke Pulau Sebesi, melakukan perjalanan selama 2 jam dari Dermaga Bom, membawa sekitar 180 peserta tur Krakatau 2017, salah satunya saya. Tur ini merupakan rangkaian kegiatan Festival Krakatau 2017 yang ke-27, event akbar yang rutin digelar tiap tahunnya. 


Bagaimana saya bisa ikut serta dalam tur ini, ceritanya dapat di baca pada tulisan sebelumnya : Ketika Genpi Banten Mengirimku ke Lampung.
Dermaga Pulau Sebesi

Selamat Datang di Pulau Sebesi

Pukul 11.45 WIB kami tiba di Pulau Sebesi. Siang sedang panas-panasnya. Di dekat gerbang masuk pulau, drum band anak-anak Pulau Sebesi menyambut kedatangan. Melodi riang dan penuh semangat terdengar nyaring, mengiringi ratusan langkah kaki yang berjalan meninggalkan dermaga, menuju Dusun Inpres. Saya tak bergegas menuju home stay seperti yang lain, sengaja memelankan langkah, mengamati suasana. Ada dermaga baru sedang dibangun, anak-anak berenang dekat pantai, dan perahu-perahu nelayan yang menepi. Saya mengikuti kawan-kawan Genpi luar Lampung, belok ke warung, tak melewati barisan drum band dan para penyambut.

Para pemain drum band bubar setelah rombongan terakhir lewat. Yudi (Genpi Jateng) meminta mereka berkumpul untuk difoto. Ide bagus, saya jadi bisa ikut memotret anak-anak itu dalam kondisi tidak sibuk. Setelah itu, kami kembali ke warung, memesan minuman. Secangkir teh panas meluruh pahit di mulut, sisa muntah saat mabok kapal. Lima bulan sebelumnya saya pernah berada di warung ini, bersama suami, membeli minuman. Ah iya, ini kedua kalinya saya menjejak Pulau Sebesi.


Drum band anak-anak menyambut kedatangan peserta tur Krakatau

Terima kasih adik-adik :)

Pulau Sebesi Dulu, Gunung Anak Krakatau Kemudian

Beberapa tahun lalu, pertama kali saya mendengar nama Pulau Sebesi dari Nurul Noe (travel blogger). Ternyata, bersama Nurul pula pertama kali saya melancong ke Pulau Sebesi. Dan itu telah terlaksana pada bulan Maret 2017, lima bulan yang lalu. Sekarang saya kembali dalam acara dan dengan rombongan yang berbeda. Bagaimana dengan rasa? Agak beda, karena saya berangkat bersama orang-orang yang baru saya kenal. Tapi ini menarik, saya mendapat pengalaman baru.

Tur Krakatau di Festival Krakatau tahun ini memang beda dari gelaran tahun-tahun sebelumnya. Peserta diajak menginap di Pulau Sebesi terlebih dahulu, baru mendaki Gunung Anak Krakatau pada keesokan hari.

Pulau Sebesi terletak di wilayah Desa Tejang, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan. Luas pulau ini 2.620 hektare dengan daratan tertinggi 884 meter di atas permukaan laut. Panjang garis pantainya 19,55 kilometer. Di sekitar Pulau Sebesi terdapat pulau-pulau kecil, di antaranya Pulau Sebuku, Serdang, Legundi, dan Laut Gugusan Krakatau. Menurut informasi yang saya baca, penduduk Sebesi berasal dari Jawa (Jawa Tengah dan Banten). 32,2 persen berasal dari Lampung, dan sisanya berasal dari Batak, Betawi, Padang, Palembang, dan Bima. Secara otomatis budaya Jawa Serang (Banten) dan Lampung menjadi budaya yang dipakai di Pulau Sebesi.


Mewakili Genpi Banten bersama Genpi Jateng, Genpi Sumbar, Genpi Sumsel

Villa Pemda di Tepi Pantai

Selama di Pulau Sebesi, peserta tur Krakatau diinapkan di villa milik Pemda dan rumah milik warga yang disulap menjadi homestay. Kami para wanita ditempatkan di villa Pemda. Di sini ada 6 villa. Tiga villa disediakan untuk wanita, 3 villa lain campur (cewek cowok). Masing-masing villa bisa ditempati sekitar 8-10 orang. Berhubung kami (saya, Ayu, Eca) tiba belakangan, masing-masing villa untuk wanita hanya tersisa untuk 1 orang saja. Otomatis kami bertiga tidak bisa bersama dalam 1 villa. Tapi rejeki itu datang ketika seseorang memanggil dari kamar yang menghadap pantai, yang isinya campur. Katanya, kamar mereka masih bisa muat untuk 3 orang lagi. Alhamdulilah akhirnya bisa bertiga dalam 1 villa.

Villa yang kami tempati memang lebih besar. Ada 8 tempat tidur. Kasur-kasurnya tebal dan hangat. Kami satu villa dengan sepasang orang tua (suami istri) yang datang bersama anak bujangnya. Yang lainnya dari media, TV, dan netizen Lampung. Total ada 3 laki-laki dan 6 perempuan. Ayu dan Eca satu kasur, saya sendiri. Ada 6 kipas angin terpasang di dinding, semua berfungsi dengan baik. Jendela dan pintu kaca villa menghadap ke laut, menyuguhkan pemandangan keluar yang menyegarkan. Kamar mandinya hanya satu, menggunakan kloset duduk. Air bersihnya banyak. Halaman villa bersih hingga ke pantai, dilengkapi bangku-bangku untuk duduk. Cukup nyaman.


1 villa 8 tempat tidur

Cottage No. 3

Pantai depan villa

Acara Bebas

Makan siang terhidang, menunya masakan rumahan ala penduduk Pulau Sebesi. Sederhana, tapi nikmat. Soal rasa, ada yang bilang rasanya biasa banget, ada yang bilang cukup, ada yang bilang jumlahnya kurang banyak. Hmm…saya tak bisa komentar banyak, hanya berucap Alhamdulillah disediakan makan. Dalam keadaan lapar dan tak ada pilihan, citarasa tak lagi saya pedulikan. Terima kasih buat warga desa yang sudah masak untuk kami.

Sore tak ada acara dari panitia. Peserta bebas mau lakukan apa. Mau keliling pulau dengan jalan kaki atau pun motoran, menyeberang ke Pulau Umang untuk snorkeling, main-main di pantai atau kebun, bebas saja. Teman satu villa, Bang Jek (akun medsosnya kakak zack) mengajak keluar. Katanya mau lihat-lihat suasana dusun sambil hunting foto. Ikut serta Lia dan Cindar. Saya tertarik, langsung gabung. Ayu dan Eca tidak, mereka istirahat. Jadilah sore itu saya menghabiskan waktu bersama 3 orang itu. Kawan baru, yeay!

Menu makan siang: Sayur asem, ikan goreng, teri pedas, sambal, lalapan, kerupuk

Keliling Dusun Inpres

Lima bulan lalu (Maret 2017) saat berkunjung ke Pulau Sebesi, saya sama sekali tidak menjelajah daratan Sebesi. Kami banyak di laut, snorkeling, dan main di sekitaran pantai saja. Masuk villa langsung istirahat, tidak kelayapan. Dan sekarang, waktunya melihat pedalaman, menyaksikan keindahan hidup masyarakat pulau, untuk sebuah pengalaman yang ternyata tak akan pernah disesali.

Ada empat dusun di pulau ini, yaitu Dusun Inpres, Regahan Lada, Segenom, dan Bangunan. Dusun Inpres adalah dusun yang menjadi tempat kami bermalam. Kami berkeliling di Dusun Inpres, jalan kaki hingga ke areal perkebunan. Di dusun ini penduduknya ramai, banyak rumah yang sebagian besar sudah permanen, berbahan beton, tapi ada pula yang masih berbahan kayu. Tak jarang di depan rumah terhampar jemuran kakao yang sudah mengeriput dan berwarna kecoklatan. Terdapat fasilitas pendidikan, seperti TK Swadipha, SD Negeri Tejang, SMP Swadipha, dan SMA Kelautan Swadipha. Untuk fasilitas kesehatan, saya tidak melihat adanya bangunan rumah sakit. Dengan jumlah penduduknya yang ramai, serta adanya fasilitas tersebut, dusun ini cocok disebut sebagai "kotanya" Sebesi.

Anjing-anjing kerap melintas, berkeliaran dalam jumlah yang tidak sedikit. Hewan tersebut dipelihara untuk menjaga ternak dan warga. Hewan ternak lainnya seperti kerbau, kambing, dan ayam, juga banyak dijumpai. Kondisi alam di pulau ini ternyata sangat subur. Sejauh memandang, mata dijejali perkebunan penduduk. Berbagai tanaman memenuhi area perkebunan, mulai dari petai, pisang, kelapa, kakao, hingga jagung. 


Jalan-jalan keliling dusun, jumpa ibu-ibu sedang kumpul sore di pondok depan rumahnya

Rumah-rumah penduduk Pulau Sebesi kebanyakan seperti ini

Fasilitas pendidikan

Jalan dusun
Kebun kakao

Tempat Pembuatan Gula Kelapa

Kami menjumpai jalan berbatu yang mempunyai pola segilima, dan sedikit aspal. Pada bagian lain ada yang sedang dipasangi conbloc, sebagian lagi belum. Semakin jalan ke ujung, jalan hanya tanah. Kami tak tahu tujuan, ikut saja kemana arah jalan. Hingga sampai pada sebuah rumah, di perkebunan yang sepi. Di depannya terhampar kakao yang sedang dijemur.

Asap yang muncul dari balik susunan kulit kelapa mengundang perhatian. Ternyata tempat pembuatan gula kelapa. Api dari potongan-potongan kayu menyala, memasak air nira dalam 3 wajan raksasa. Seorang pria bernama Thohir, sedang sibuk mengaduk gula yang masih cair. Kami mendekatinya, berbincang, dan melihatnya bekerja. Pak Thohir mungkin hanya salah satu dari pembuat gula kelapa yang ada di Pulau Sebesi. Kami tak bertanya siapa lagi pembuat gula selain dia. Menurut Pak Thohir, gula merah buatannya dijual seharga Rp 10.000 per kg. Harga tersebut berlaku di Sebesi, jika sudah dibawa keluar pulau, tentu beda lagi harganya. Terlalu murah kah? Lia membeli 1 kilo. Kami tidak.

Jemuran Kakao, punya Pak Thohir, pembuat gula kelapa di Pulau Sebesi

Air nira pohon kelapa sedang dibuat menjadi gula
 
Masih berupa cairan kental
Bentuknya setelah jadi gula kelapa

Bekas Tempat Pembuatan Minyak Kelapa

Kami melanjutkan berkeliling, keluar dari jalan besar, memasuki area perkebunan. Sampai beberapa puluh meter kami menemukan pabrik tua, bekas pabrik pembuatan minyak kelapa. Ada sumur tua dan sisa bangunan-bangunan, semua tak lagi digunakan. Ada semacam tempat tinggal, tapi sudah lama tak dihuni. Ada seseorang sedang di sana, bapak tua, mengijinkan kami melihat-lihat. Di kelilingi oleh pohon-pohon, tempat ini seperti tersembunyi. Tapi, saya menyukai keheningan yang ada. Angin yang berhembus, daun-daun kering yang melayang jatuh, dan sinar matahari yang menerobos dedaunan, menciptakan magis. Menyentuh rasa. 

Bang Jek dengan modelnya: Cindar Bumi - Lokasi: Bekas pabrik minyak kelapa

Sumur tua

Semacam tempat tinggal/kantor pegawai bekas pabrik gula kelapa yang sudah tak ditempati

Di Keheningan Petang

Tak jauh dari bekas pabrik minyak, ada sebuah rumah panggung tinggi, terbuat dari kayu, sendirian dikepung pohon-pohon liar. Tampak telah tua, sendiri merenda hari dalam sepi. Saya membayangkan alangkah mudahnya inspirasi menulis muncul jika berada di tempat ini. Sekitar beberapa meter dari rumah kayu, kami menemukan pantai. Gemuruh ombak terdengar seperti melodi indah yang memanggil-manggil untuk mendekat. Lantas, tatkala mata telah teralihkan dari rumah kayu, birunya laut menyambut.

Ombak. Matahari. Angin. Rumah pohon. Semua bersekongkol mengajak bergelut dalam indahnya petang. Sungguh, kami seperti tersesat di secuil surga yang tersembunyi.

Rumah pohon, tersembunyi di antara pohon-pohon

Ada sebuah villa lagi, tak jauh dari pantai. Berbentuk rumah panggung terbuat dari kayu. Tapi tak ada siapa-siapa di sana. Kami kembali ke pantai. Tampak sebuah pulau kecil di lautan, tak begitu jauh dari Pulau Sebesi. Pulau Umang-Umang namanya. Saya ingat, pulau itu adalah pulau yang pernah saya kunjungi pada bulan Maret lalu, bersama suami. Kami pernah sunset-an di sana. Main air, bergembira. Dan ternyata, sore itu kawan-kawan Genpi (Sumsel, Sumbar, Jateng) ke sana. Mereka berenang dan snorkling. Saya tidak. Tapi saya tidak sedih, karena sudah pernah. Kalau saya ikut mereka, saya justru kehilangan kesempatan berkeliling pulau.

Bang Jek @kakak_zack, Cindar, dan Lia @Nur_lia1 di villa entah milik siapa. Kosong. Dekat pantai.

Buat pelancong yang akan berkunjung ke Pulau Sebesi, cobalah susuri pinggiran pantai mulai dari depan villa Pemda ke arah utara. Pinggiran pantainya sangat indah, masih alami. Hamparan batu karang, pohon tua, dan pasir putihnya menarik untuk dinikmati. Matahari yang terbit dan tenggelam juga menjadi pemandangan yang menawan. Jika punya bujet lebih, bisa minta nelayan setempat untuk mengantar mengelilingi pulau dengan harga sewa perahu Rp 300 ribu.


Dan percayalah, dengan banyaknya hal-hal menarik yang bisa dijumpai di pulau ini, kamu tak akan sibuk dengan hal lain selain menikmati keindahan yang ada. Keindahan hidup masyarakat pulau dan keindahan alam Pulau Sebesi. 

Sebesi terlalu indah untuk dilewatkan dengan mengurusi hal-hal tidak berfaedah.

Tour leader andalan kami nih...Bang Jek.

Di seberang itu Pulau Umang-Umang

Bahagia bisa menikmati keindahan Pulau Sebesi. Kamu juga kan? 😍
Pulau Umang-Umang (Maret 2017)

Malam Banyak Cerita 

 
Sebelum magrib kami sudah kembali ke villa. Ada rasa puas tercipta. Walau tak menjelajah sampai jauh, tetap riang bisa menemukan sebagian kecil ‘isi’ dari pulau ini. Mulai dari penduduknya yang ramah, tempat pembuatan gula kelapa, rumah-rumah kosong di tengah kebun, hingga pantai dengan air lautnya yang jernih dan berwarna biru. Lia memesan buah kelapa, dan kami menikmati kesegaran airnya di teras villa sambil ngobrol santai, menceritakan ulang temuan-temuan selama berkeliling. Petang yang menyenangkan.

Minum air kelapa seusai jalan-jalan jelajah pulau

Waktu berlalu begitu cepat, magrib tiba, malam pun merapat. Esok hari, perjalanan ke Gunung Anak Krakatau akan di mulai. Setelah siang dan sorenya berpencar, malam itu semua kumpul di pendopo villa pemda. Ada acara kecil berupa penampilan seni tari dan pemberitahuan dari panitia dan pihak BKSDA terkait tur GAK keesokan hari. Setelahnya, baru makan malam bersama. Saya senang malam itu, usai makan ada waktu buat kumpul dengan teman-teman dari Lampung. Ada Aries dari Krui, Dwi Rino, dan masih banyak yang lainnya yang selama ini hanya saya kenal di IG, akhirnya bisa jumpa. Ternyata saya sudah lama saling follow2an dengan beberapa dari mereka di IG, pernah berinteraksi juga. Mereka anak-anak muda yang aktif menjelajah keindahan wisata daerahnya, dan rajin mengangkatnya lewat media sosial. Begitulah saya mengenal mereka. Hobi yang sama yang membuat kami bisa saling kenal, dan tur Krakatau membuat kami bisa kopdar. 

Suguhan sebelum makan malam

Tari-tarian

Malam itu, ada dua hal yang saya ingat sebelum naik ranjang untuk istirahat. Pertama, kepastian untuk tidak ikut ke GAK (kembali ke BDL) dari Mas Shafiq (koordinator para Genpi luar Lampung), khusus untuk kami ber-enam. Kedua, “keramaian” terkait ketidakpastian menjejak GAK bagi seluruh peserta tur. Saya fokus pada yang pertama. Yang kedua, hmm… 

Kumpul, makan bareng, ngobrol banyak hal :) (Ki-ka : Bang Jek, Dwi Rino, Lia Aries, dkk)

Sampai Jumpa Lagi Pulau Sebesi

Dusun Inpres Pulau Sebesi kembali sepi. Rombongan tur Krakatau sudah berangkat sejak jam 3 pagi. Mereka mengejar sunrise di Gunung Anak Krakatau. Tak ada kapal yang tersisa, termasuk kapal nomor 2 yang kami tumpangi saat berangkat ke Sebesi. Menurut keterangan, bagi pelancong biasa (bukan tur dalam rangka festival) yang ingin menyeberang ke Gunung Anak Krakatau, harus membayar sewa perahu sebesar Rp 2 juta dan mengeluarkan Rp 2 juta untuk mengurus surat izin masuk ke kawasan Gunung Anak Krakatau. Mahal? Tentu.

Saya berterima kasih pada panitia festival Krakatau pernah mengundang saya jadi peserta tur Krakatau tahun 2015 dan 2016, sehingga bisa mengecap naik GAK tanpa membayar. Baru pada tahun 2017 (bulan Maret) saya membayar sendiri, tapi justru menjadi momen paling berharga, karena saya berhasil menjejak GAK yang ke-3 kalinya bersama suami, orang yang paling ingin saya ajak melihat anak gunung purba yang pernah menggemparkan dunia itu. Bersama suami saya bukan hanya sukses nanjak GAK sampai batas aman, tapi juga snorkeling melihat keindahan bawah laut Pulau Rakata, ‘emak’ Krakatau yang tersisa. Tak terlupakan.

Saat mengikuti Tur Krakatau 2015 - Photo by Yopie Pangkey (In frame: Melly, Encip, Kiki)

Saat mengikuti Tur Krakatau 2016

Trip Krakatau #edukasikonservasi - Maret 2017

Jam 6 kami meninggalkan villa, kumpul di warung dekat dermaga. Warung andalan kami selama di Sebesi. Semangkuk mie goreng dan segelas teh manis, menjadi pengisi perut sebelum perahu membawa kami kembali ke Kalianda. Kami tidak harus menyewa satu kapal karena ada perahu yang berangkat tiap hari membawa penumpang dan barang ke Dermaga Canti di Kalianda. Perahu jam reguler ini biayanya Rp 20 ribu per orang. 

"Sampai jumpa lagi Pulau Sebesi" ^_^

Pagi itu, perahu berkapasitas 35 orang penuh oleh pisang, hasil bumi Pulau Sebesi yang akan dijual ke pemborong di Kalianda.
Pisang-pisang diletakkan dalam perahu, sebagian lagi di atas atap. Ruang untuk duduk di kabin jadi sempit, itu sebabnya teman-teman duduk di atas. Perahu bukan hanya bisa mengangkut penumpang dan hasil bumi, tapi juga sepeda motor. Biasanya ditaruh di atap perahu. Ditegakkan dan diikat dengan tali. 

Saya sendirian, berusaha untuk tidur. Tapi tak bisa tidur, sebab kejadian saat berangkat ke Pulau Sebesi kembali terulang. Saya mabok lagi. Mie goreng dan teh manis keluar semua, perut pun kembali kosong. Dan lagi-lagi, saya melewatkan panorama keindahan laut dan pulau-pulau cantik yang dilewati.

Kabin kapal yang saya naiki saat Tur Krakatau 2016 ini lebih lapang dari kabin kapal yang saya naiki saat Tur Krakatau 2017 (In frame: Omnduut, Riant, Rosanna, Arie, Maman, Yopie Pangkey, Farchan) - Foto by @omnduut
 
Perjalanan 2 jam yang melelahkan. Tapi, 30 menit sebelum sampai di Dermaga Canti saya pulih. Alhamdulillah di waktu yang tersisa saya masih bisa menikmati deburan ombak, angin sepoi-sepoi, dan pemandangan menawan dari jendela kapal yang terbuka. Perjalanan penuh warna ini berakhir. Selanjutnya kami menuju Bandar Lampung, bersiap menyaksikan Parade Budaya Lampung.

Setangkup cerita dari Pulau Sebesi terbawa pulang, tersimpan rapi di hati. Begitu juga sebuah rekaman video dan foto, terangkut dalam hp, jadi "oleh-oleh" penuh kejutan untuk... (bersambung: Parade Budaya Lampung FK 2017).
 
Pesona Pulau Sebesi itu ada.
Resah itu tiada...

Happy traveling 😗 (Gunung Anak Krakatau Maret 2017)



Video di tempat pembuatan gula kelapa: