Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri kelas menulis. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri kelas menulis. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan

ROG Zephyrus Duo GX651: Laptop Gaming Dual-Screen OLED Pertama dan Satu-Satunya di Dunia, Duo It All

Dua bulan lalu, tepatnya Rabu, 17 Juni 2026, ASUS ROG resmi meluncurkan ROG Zephyrus Duo (GX651) di Bengkel Space SCBD, Jakarta. Ini bukan laptop gaming biasa, melainkan laptop gaming dual-screen OLED pertama dan satu-satunya di dunia yang hadir dengan dua layar 16 inci identik. 

Saya hadir langsung saat peluncurannya. Dan jujur, dari pertama melihatnya saja saya sudah cukup terkesima dengan pesona si Zephyrus Duo yang mengusung tagline “Duo It All” ini.

Bagaimana tidak? Dari tampilannya yang premium, dua layar OLED-nya, spesifikasinya, jeroannya yang ternyata luar biasa, sampai harganya yang mencapai Rp129.799.000,- semuanya terasa seperti ASUS ROG sedang bilang, “Kalau mau bikin laptop gaming, sekalian saja bikin yang benar-benar beda.”

Dan memang itulah yang terasa dari Zephyrus Duo. ASUS ROG tidak sekadar menyatukan spesifikasi kelas atas ke dalam sebuah laptop gaming, tetapi juga menghadirkan desain eksklusif, pengalaman multi-screen, dan performa tinggi dalam satu perangkat. Hasilnya adalah sebuah laptop yang terasa punya karakter dan kelasnya sendiri.

Apalagi Zephyrus Duo ini hadir sebagai salah satu inovasi unggulan ROG tahun ini, bertepatan dengan 20 tahun perjalanan ROG di dunia gaming. Jadi memang bukan cuma soal laptop gaming dengan spek tinggi. Ada teknologi, engineering, dan hasil R&D yang membuat perangkat ini terasa jauh lebih dari sekadar laptop gaming biasa. 

Nah, saya yakin bukan cuma saya yang kemudian penasaran: seperti apa sih rasanya melihat dan mencoba langsung laptop gaming dengan dua layar OLED seperti ini?

Saya sudah beruntung bisa mencobanya saat launching.

Tapi buat para ROGers yang waktu itu belum sempat datang, tenang, sekarang nggak perlu menunggu ASUS bikin acara lagi. Nggak perlu juga datang ke kantor ASUS.

Tinggal mampir ke ROG Corner Plus Mangga Dua Mall by Agres.

Di sana, ROG Zephyrus Duo bisa dilihat dan di-hands-on langsung mulai 10 Agustus sampai 10 Oktober 2026. Jadi ada waktu yang cukup terbatas buat kamu yang penasaran ingin melihat langsung seperti apa inovasi terbaru ROG ini, mulai dari dua layar OLED-nya sampai berbagai mode penggunaannya.

Dan menurut saya, kesempatan seperti ini sayang untuk dilewatkan. Karena ada produk yang cukup kita lihat dari foto dan membaca spesifikasinya. Tapi untuk Zephyrus Duo, rasanya baru benar-benar bisa paham kenapa laptop ini begitu spesial setelah melihat, memegang, dan mencoba sendiri.

Cerita dari momen launching ROG Zephyrus Duo bulan Juni lalu dapat dilihat pada postingan IG yang saya sematkan berikut: 


Bukan Sekadar Laptop Gaming, Ini Duo It All

Kalau dilihat sekilas, mungkin yang paling gampang membuat orang berhenti dan memperhatikan ROG Zephyrus Duo adalah dua layar yang dimilikinya. Tapi setelah melihat lebih dekat, ternyata bukan cuma jumlah layarnya yang menarik.

Zephyrus Duo hadir dengan dua layar 16 inci identik yang sama-sama menggunakan panel OLED 3K (WQXGA+) touchscreen, dengan refresh rate 120Hz dan response time 0,2ms. Jadi layar keduanya bukan sekadar layar tambahan yang kualitasnya dibuat “seadanya”. ASUS justru membuat kedua layar ini memiliki kualitas yang setara, sehingga bisa digunakan bersama-sama sebagai satu area kerja yang jauh lebih luas.

Buat saya, di sinilah konsep “Duo It All” mulai terasa.

Coba bayangkan sedang mengedit video. Layar utama bisa digunakan untuk melihat hasil editing, sementara layar satunya dipakai untuk timeline dan berbagai tools. Atau saat bekerja sambil browsing, satu layar bisa berisi dokumen yang sedang dikerjakan, sementara layar lainnya menampilkan referensi. Bahkan saat gaming pun layar kedua bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lain tanpa harus menutup permainan yang sedang berjalan.

Jadi, dua layar ini bukan sekadar untuk membuat Zephyrus Duo terlihat berbeda. Memang ada tambahan ruang kerja yang bisa dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Dan buat orang yang terbiasa multitasking, tambahan ruang seperti ini bisa terasa sangat berarti.

Apalagi kedua layarnya sudah menggunakan teknologi Flexible/Bent OLED. ASUS merancang bagian bawah panel dengan sirkuit yang ditekuk ke belakang bodi secara presisi sehingga jarak antara kedua layar dapat dibuat sangat minim. Keduanya juga dilapisi Corning Gorilla Glass DXC, mendukung touchscreen dan stylus, serta memiliki lapisan anti-reflektif untuk membantu mengurangi pantulan cahaya.

Jadi ketika kedua layar ini terbuka, tampilannya bukan seperti laptop yang ditempeli monitor tambahan. Rasanya memang seperti satu perangkat dengan dua bidang kerja yang sengaja dirancang untuk bekerja berdampingan.

Dan ternyata, ASUS tidak berhenti sampai di situ.

Karena kalau dua layar saja sudah menarik, cara menggunakan keduanya juga dibuat fleksibel. Berkat mekanisme engsel yang dapat bergerak hingga 320 derajat dan detachable magnetic keyboard, Zephyrus Duo bisa digunakan dalam lima mode berbeda.

Nah, bagian ini yang menurut saya menarik untuk dilihat langsung ketika hands-on di ROG Corner Plus. Karena dari kelima mode inilah baru kelihatan bahwa Zephyrus Duo memang bukan sekadar laptop gaming dengan layar kedua, tetapi sebuah perangkat yang bisa berubah mengikuti kebutuhan penggunanya.

Sebelum hands-on di ROG Corner Plus Mangga Dua Mall, saya pernah hands-on lebih awal di momen launching, seperti yang terlihat pada foto carousel IG yang saya sematkan berikut: 

 

Laptop Mode

Yang pertama tentu saja Laptop Mode.

Dalam mode ini, Zephyrus Duo tampil seperti laptop pada umumnya. Keyboard magnetiknya terpasang dan perangkat bisa digunakan untuk berbagai aktivitas sehari-hari seperti mengetik, bekerja, browsing, meeting online, atau mengerjakan tugas.

Mode ini mungkin yang paling familiar dan paling gampang digunakan. Tinggal buka laptop, pasang keyboard, lalu bekerja seperti biasa.

Tapi menariknya, ketika kebutuhan berubah dan kita merasa satu layar saja tidak cukup, kita tinggal mengubah konfigurasinya. Jadi tidak harus terus-menerus menggunakan dua layar kalau memang sedang tidak dibutuhkan.

Buat saya, ini justru penting. Karena secanggih apa pun sebuah laptop, kalau pengguna dipaksa mengikuti bentuk dan cara kerja perangkat, lama-lama malah terasa merepotkan. Di Zephyrus Duo, kita yang menentukan mau menggunakannya seperti apa.


Dual-Screen Mode

Kemudian ada Dual-Screen Mode, yang bisa dibilang sebagai mode paling ikonik dari Zephyrus Duo.

Di sinilah kedua layar OLED 16 inci tersebut benar-benar digunakan secara bersamaan. Ruang kerja menjadi lebih luas dan kita bisa menempatkan berbagai aplikasi atau informasi di dua layar sekaligus.

Untuk content creator, misalnya, layar utama bisa digunakan untuk melihat canvas atau preview video, sementara layar kedua menampilkan timeline, tools editing, atau aplikasi pendukung. Untuk pekerjaan kantor, satu layar bisa digunakan untuk dokumen sementara layar lainnya untuk membuka referensi atau melakukan riset.

Bahkan untuk kebutuhan gaming, konsepnya juga menarik. Layar utama bisa digunakan untuk bermain, sementara layar kedua dapat dimanfaatkan untuk melihat chat, streaming, monitoring, atau informasi lain yang ingin tetap terlihat tanpa harus berpindah-pindah window.

Satu laptop, dua layar, lebih banyak yang bisa dilakukan dalam waktu bersamaan.

Dan menurut saya, ini alasan paling sederhana kenapa konsep “See More, Do More” pada Zephyrus Duo memang masuk akal.


Sharing Mode

Berikutnya ada Sharing Mode.

Sesuai namanya, mode ini menarik ketika laptop sedang tidak digunakan sendirian. Misalnya saat sedang berdiskusi dengan teman atau rekan kerja, memperlihatkan hasil desain, presentasi, foto, maupun video kepada orang yang duduk berseberangan.

Dengan konfigurasi layar seperti ini, pengalaman berbagi tampilan menjadi lebih fleksibel. Tidak perlu semua orang berdesakan melihat satu layar dari sisi yang sama.

Saya membayangkan mode seperti ini akan cukup berguna ketika sedang berada dalam situasi kolaboratif. Misalnya dua orang sedang membahas sebuah desain atau presentasi, dan masing-masing ingin melihat tampilan dari posisi duduk yang berbeda.

Jadi, dua layar pada Zephyrus Duo ternyata tidak hanya berguna untuk “saya bisa melihat lebih banyak”, tetapi juga bisa digunakan ketika “kita ingin melihat bersama.”



Book Mode

Selanjutnya ada Book Mode, dengan posisi kedua layar yang menyerupai bentuk buku.

Mode ini terasa menarik untuk aktivitas yang memang membutuhkan dua bidang tampilan yang saling berdampingan. Misalnya membaca sekaligus melihat referensi, membandingkan dua dokumen, atau membuka dua sumber informasi tanpa harus terus berpindah tab.

Buat saya yang banyak berkutat dengan tulisan dan konten, konfigurasi seperti ini cukup menarik. Misalnya ketika sedang menyusun artikel, satu sisi bisa digunakan untuk membaca bahan referensi sementara sisi lainnya untuk menulis atau mencatat poin-poin penting.

Atau kalau sedang melakukan riset perjalanan, satu layar bisa menampilkan informasi destinasi sementara layar lainnya digunakan untuk mencatat itinerary.

Dengan kata lain, Book Mode memberikan cara lain untuk memanfaatkan dua layar tersebut secara lebih natural, terutama untuk aktivitas yang membutuhkan dua tampilan sekaligus.



Tent Mode

Dan terakhir ada Tent Mode.

Pada mode ini, Zephyrus Duo diposisikan menyerupai sebuah tenda. Konfigurasi seperti ini cocok ketika kita lebih membutuhkan layar untuk dilihat daripada keyboard untuk digunakan.

Misalnya saat ingin menikmati video, menampilkan konten kepada orang lain, melihat presentasi, atau ketika laptop diletakkan di meja dengan ruang yang terbatas.

Tent Mode juga menarik ketika kita ingin membuat layar lebih mudah terlihat dari arah tertentu tanpa harus menggunakan laptop dalam posisi terbuka seperti biasanya.

Kelihatannya sederhana, tetapi justru di sini saya merasa fleksibilitas Zephyrus Duo cukup terasa. Laptop tidak selalu harus diperlakukan sebagai laptop. Ketika kebutuhan berubah, bentuknya pun bisa ikut berubah.

Dan kelima mode inilah yang menurut saya membuat tagline “Duo It All” terasa bukan sekadar slogan. Kita mendapatkan satu perangkat yang bisa digunakan dengan cara berbeda sesuai situasi, mulai dari konfigurasi laptop biasa, bekerja dengan dua layar, berbagi tampilan, sampai mengubah posisi perangkat menjadi Book maupun Tent Mode.

Semua itu dimungkinkan oleh mekanisme engsel hingga 320 derajat serta keyboard magnetik yang bisa dilepas-pasang.



Jeroannya Juga Nggak Main-Main

Kalau cuma mengandalkan dua layar, rasanya kurang pantas kalau ROG Zephyrus Duo dibanderol di kelas harga Rp129.799.000. Untungnya, ASUS tidak bermain-main dengan bagian dalamnya. Justru di sinilah kita bisa melihat bahwa konsep Duo It All bukan hanya soal tampilan yang unik, tetapi juga soal performa yang memang disiapkan untuk menangani pekerjaan-pekerjaan berat.

Untuk dapur pacunya, ROG Zephyrus Duo menggunakan Intel Core Ultra 9 386H dengan 16 core dan 16 thread, dipadukan dengan NVIDIA GeForce RTX 5090 Laptop GPU 24GB GDDR7. RAM-nya juga sudah 64GB LPDDR5X 8533, sementara penyimpanannya menggunakan 2TB M.2 NVMe PCIe 5.0 Performance SSD.

Jadi kalau laptop ini diajak bermain game, tentu bukan perkara. Tapi kemampuan Zephyrus Duo sebenarnya jauh lebih luas. Kombinasi prosesor dan GPU kelas atas ini memang disiapkan untuk kebutuhan seperti gaming, content creation, rendering, sampai pekerjaan berbasis AI.


Dan bicara soal AI, ada satu komponen yang menarik perhatian: NPU hingga 50 TOPS yang sudah terintegrasi di Intel Core Ultra 9 386H. NPU ini dirancang untuk menangani beban kerja AI secara lokal dengan lebih efisien, sehingga pekerjaan AI tidak harus selalu dibebankan ke CPU atau GPU.

ASUS bahkan menyebut kombinasi NPU tersebut dengan RTX 5090 Laptop GPU mampu menghasilkan Total Platform Performance hingga 1.874 TOPS. Dalam praktiknya, kemampuan ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai pekerjaan AI lokal, AI-assisted editing, rendering, hingga melakukan scrubbing video 8K secara real-time.

Buat saya, ini yang membuat Zephyrus Duo menarik. Laptop gaming-nya iya, tetapi kemampuannya tidak berhenti di gaming. Kalau sedang tidak bermain game, tenaga sebesar ini bisa dimanfaatkan untuk pekerjaan kreatif maupun berbagai kebutuhan produktivitas yang membutuhkan performa tinggi.

Apalagi dengan dua layar yang tadi sudah kita bahas, rasanya memang ada alasan mengapa ASUS menyebutnya sebagai perangkat untuk “See More, Do More.” Layar yang luas memberikan ruang kerja, sementara hardware di dalamnya menyediakan tenaga untuk mengerjakan berbagai workload berat.


Tapi kemudian muncul pertanyaan berikutnya: kalau performanya segede ini, panasnya bagaimana?

Kencang Boleh, Panas Jangan

Ini bagian yang menurut saya justru menarik dari engineering Zephyrus Duo.

Laptop dengan prosesor dan GPU kelas atas tentu menghasilkan panas. Dan pada Zephyrus Duo, ada tantangan tambahan karena ASUS harus sekaligus menjaga dua panel OLED yang berada dalam satu perangkat. Jangan sampai performa tinggi dari komponen internal malah menjadi masalah bagi layar kedua.

Karena itu ASUS membekali Zephyrus Duo dengan ROG Intelligent Cooling. Sistem ini mengombinasikan Liquid Metal pada prosesor Intel, Vapor Chamber berukuran luas, serta Graphite Nano Insulated Sheet yang menjadi salah satu bagian penting dari sistem pendinginannya.

Graphite Nano Insulated Sheet ini menarik karena fungsinya bukan sekadar membantu membuang panas. Lembaran insulasi nano-grafit tersebut ditempatkan di antara motherboard dan panel OLED bagian bawah sebagai tameng termal dua arah. Panas dari komponen internal disebarkan secara horizontal sehingga tidak terkonsentrasi langsung pada panel OLED yang sensitif terhadap panas.

Jadi di balik desain dua layar yang kelihatannya simpel ketika kita lihat dari luar, ternyata ada persoalan engineering yang cukup rumit di dalamnya.

Bagaimana membuat dua layar 16 inci bisa berada dalam satu laptop? Bagaimana membuatnya bisa dilipat dengan mekanisme engsel hingga 320 derajat? Bagaimana memasukkan prosesor dan GPU kelas flagship? Dan bagaimana semuanya tetap bekerja stabil dalam bodi yang relatif compact?

 

Nah, dari sini saya mulai paham kenapa ROG Zephyrus Duo terasa lebih dari sekadar “laptop gaming yang kebetulan punya dua layar.”

Ada banyak R&D yang bekerja di baliknya.

Dan justru hal-hal seperti inilah yang tidak selalu kelihatan hanya dari foto produknya.

Laptop Premium, Layanan Juga Premium

Kalau sudah bicara laptop dengan harga Rp129.799.000, tentu urusan setelah membeli juga tidak kalah penting. Karena membeli perangkat di kelas ini bukan sekadar soal mendapatkan spesifikasi tinggi, tetapi juga soal rasa aman ketika menggunakannya dalam jangka panjang.

Untuk ROG Zephyrus Duo, ASUS memberikan 2 tahun International Warranty sekaligus 2 tahun ASUS VIP Perfect Warranty yang mencakup perlindungan terhadap kerusakan akibat kelalaian pengguna. Jadi ada perlindungan tambahan yang cukup penting untuk sebuah perangkat yang memang masuk kategori investasi premium.

 

Selain garansi, pengguna ROG juga mendapatkan fasilitas ASUS Premium Service. Ada layanan Free Round-Trip Shipping untuk wilayah yang jauh dari pusat servis, Laptop Spa untuk perawatan dan pembersihan komponen secara berkala, serta FastLane Priority Handling untuk antrean prioritas di ASUS Service Center.

Buat saya, layanan seperti ini cukup penting. Karena secanggih dan sekencang apa pun sebuah laptop, tetap saja kita ingin punya ketenangan ketika menggunakannya sehari-hari. Apalagi kalau perangkat tersebut menjadi andalan untuk bekerja, membuat konten, bermain game, atau mengerjakan berbagai pekerjaan berat.

 

Jadi, kalau dari awal Zephyrus Duo sudah menawarkan hardware kelas flagship dan engineering yang serius, ASUS juga melengkapinya dengan perlindungan dan layanan purnajual yang sepadan.

Promo bundling ROG SLASH Hard-Case Luggage Edition 20

Oh iya, ada satu lagi yang menarik buat yang memang sudah mengincar ROG Zephyrus Duo. Selama persediaan masih ada, setiap pembelian ROG Zephyrus Duo juga mendapatkan promo bundling berupa ROG SLASH Hard-Case Luggage Edition 20

Nilainya sekitar Rp3–4 jutaan dan yang membuatnya semakin menarik, luggage ini tidak dijual untuk umum di Indonesia. Koper ini memang dibawa secara resmi ke Indonesia khusus untuk para pemilik ROG Zephyrus Duo.

Jadi, selain mendapatkan laptop gaming dengan dual-screen OLED yang unik, pembeli juga mendapatkan luggage eksklusif yang memang dibuat untuk melengkapi pengalaman memiliki perangkat flagship ROG ini.

 
Nah, Tinggal Datang dan Coba Sendiri

Setelah melihat semua yang ditawarkan ROG Zephyrus Duo, saya rasa ada satu hal yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh foto, video, maupun membaca spesifikasinya, yakni: mencobanya langsung.

Karena ketika melihat dua layar OLED 16 inci yang identik, mencoba mengubahnya ke berbagai mode, merasakan keyboard magnetiknya, dan melihat sendiri bagaimana perangkat ini bekerja, barulah konsep “Duo It All” terasa lebih nyata.

Dan kabar baiknya, untuk yang penasaran, sekarang tidak perlu menunggu ASUS mengadakan event lagi.

ROG Zephyrus Duo sudah bisa kamu lihat dan hands-on langsung di ROG Corner Plus Mangga Dua Mall by Agres, dalam periode display terbatas mulai 10 Agustus hingga 10 Oktober 2026.




 



Jadi kalau selama ini cuma melihat Zephyrus Duo dari foto atau video dan masih penasaran seperti apa rasanya menggunakan laptop dengan dua layar OLED ini, mumpung masih ada kesempatan, datang saja dan coba sendiri.

Siapa tahu setelah melihat langsung, kamu akan mengerti kenapa ASUS ROG tidak sekadar membuat laptop gaming dengan layar tambahan.

Mereka membuat sebuah perangkat yang memang dirancang untuk Duo It All.

ROG Zephyrus Duo GX651.
See More. Do More. Duo It All.


Untuk informasi dan spesifikasi lengkap ROG Zephyrus Duo GX651, kamu bisa melihatnya di halaman resmi ASUS ROG:

ROG Zephyrus Duo 2026 — Official Product Page


Pertama Kali ke Gresik: Menginap di Hotel Front One, Bertemu Teman, dan Sebuah Kejutan

Penginapan di Gresik

"Maaaaas, kenapa ada alat PERISAI KEJANTANAN di sini???"

Pertanyaan itu spontan keluar dari mulut saya pagi-pagi. Kaget, bingung, dan sedikit bergidik karena sungguh tak pernah terpikir akan menemukan benda yang kemudian, demi kepentingan humor, saya beri berbagai nama: Tameng Hidup, Benteng Intimasi, Armor Cinta, Pelindung Takdir, Penjaga Generasi, sampai Barikade Nafsu. Wkwk.

Silakan pilih mana yang terdengar paling gagah.

Tapi kalau semua nama itu malah bikin bingung, ya sudah, kita sebut saja dengan nama yang dipahami semua orang: KONDOM.

Tepatnya, kemasan kondom bekas. Kosong.

Bagaimana ceritanya benda itu bisa berada di kamar tempat kami menginap?

Nah, sabar.

Ceritanya bermula dari perjalanan pertama saya ke Gresik.  

 
Pertama Kali ke Gresik

Tanggal 27 Februari 2024, saya dan suami berangkat dari BSD, Tangerang Selatan, menggunakan mobil dan menyetir sendiri. Tujuan utama perjalanan ini memang bukan liburan. Suami memiliki agenda kerja, sedangkan saya ikut menemaninya.

Perjalanan dibuat santai karena jadwal suami baru dimulai keesokan harinya. Saking santainya, berangkat pagi dari BSD, kami baru tiba di Gresik pukul 23.30 WIB. Tinggal setengah jam lagi sudah ganti tanggal. Untung hotelnya masih di Gresik, bukan ikut berganti kota.

Malam itu Gresik terasa tenang. Sesekali truk-truk besar melintas, mengingatkan bahwa kami sedang berada di kota industri. Memang bukan kota yang langsung sibuk memamerkan tempat wisata di depan mata. Justru kesan itulah yang saya suka. Rasanya seperti bertemu orang pendiam yang ternyata menyimpan banyak cerita.

Hotel Front One Gresik

Menginap di Hotel Front One Gresik

Selama berada di Gresik, kami menginap di Front One Hotel Gresik yang berada di Jalan Veteran, salah satu ruas jalan utama di Gresik. Hotel ini memiliki beberapa pilihan kamar, mulai dari Superior, Deluxe, hingga Executive. Kami memilih kamar Deluxe Queen.

Tiba menjelang tengah malam membuat standar kebutuhan kami saat itu sebenarnya sederhana saja: kamar bersih, kasur nyaman, mandi, lalu tidur. Tidak ada energi tersisa untuk inspeksi ala hotel reviewer

Kesan pertama cukup baik. Stafnya ramah. Saya juga suka mendengar bahasa dan intonasi Jawa yang mereka gunakan. Halus sekali. Rasanya seperti sedang disambut di lingkungan keraton. Bedanya, tidak ada prajurit membawa tombak. Yang ada resepsionis dengan senyum ramah.

Hotel Front One Gresik

Masuk ke kamar, kondisinya bersih dan cukup nyaman. Kamar Deluxe Queen yang kami tempati luasnya sekitar 20 meter persegi. 

Tempat tidurnya nyaman, kamar mandinya lega, tersedia AC, televisi, air panas, perlengkapan mandi, air mineral, serta teko untuk membuat kopi atau teh. Fasilitas yang sebenarnya standar, tetapi justru itulah yang dibutuhkan setelah seharian di perjalanan.

Ada pula meja kecil di samping tempat tidur. Di atasnya diletakkan hospitality tray berisi air minum kemasan, teh, kopi, gula, dan dilengkapi dengan kettle.

Meja yang kelihatannya biasa saja.

Nampannya juga biasa saja.

Setidaknya, begitulah pikiran saya malam itu.

Besok paginya, pendapat saya tentang nampan itu sedikit berubah.

Tapi nanti kita sampai ke sana. 😄

Kamar hotel front one gresik



Jendela kamar menghadap ke area pabrik Semen Gresik. Memang bukan tipe pemandangan yang membuat orang spontan berkata,  "Mas, jangan tutup gordennya, aku mau foto buat wallpaper." 

Tapi pemandangan itu justru seperti memberi pengingat kecil bahwa kami sedang berada di Gresik, kota yang denyut kehidupannya memang lekat dengan industri.

Dan kesan sebagai kota industri itu makin terasa keesokan paginya.

hotel nyaman di gresik
 

Sarapan di Tengah Para Pekerja

Waktu pertama kali turun untuk sarapan, saya cukup kaget.

Ramai.

Pagi-pagi, area restoran yang menyatu dengan lobi dan resepsionis sudah dipenuhi tamu. Dari pakaian beberapa orang yang mengenakan wearpack, saya menduga sebagian adalah pekerja dari kawasan industri di sekitar Gresik, mungkin juga dari kawasan JIIPE Manyar.

Kebetulan, salah satu perusahaan yang beroperasi di kawasan itulah yang menjadi tujuan suami untuk bertemu dengan beberapa orang selama kunjungan kerja kali ini.

Melihat suasana pagi itu, saya jadi berpikir, jangan-jangan hotel ini memang cukup populer di kalangan tamu perjalanan bisnis dan pekerja industri. Saya datang menemani suami bekerja, lalu turun sarapan dan bertemu banyak orang dengan "seragam tempur" masing-masing. Bedanya, mereka siap berangkat ke lapangan. Saya siap menghadapi piring sarapan. Sama-sama perjuangan, hanya beda medan. 

Nah, soal sarapan ini saya justru menemukan kejutan lain.

Tenang.

Bukan "kejutan" yang ada di bawah nampan itu.

Yang ini bisa dimakan. 🤣

 

Menu sarapannya cukup beragam dan terasa autentik. Ada Nasi Kemangi Teri, Oblok Daun Singkong, dan beberapa hidangan lain yang menjadi pengalaman kuliner baru buat saya. Beberapa bahkan belum pernah saya coba sebelumnya, dan ternyata saya menyukai cita rasanya.

Buat saya, keberanian menyajikan menu seperti ini menarik. Sebab, kadang menginap di hotel dengan kelas lebih tinggi pun sarapan paginya masih berputar-putar di lingkaran pertemanan yang sama: nasi goreng ketemu mi goreng, mi goreng ketemu nasi goreng.

Aman memang.

Tapi hidup juga butuh sedikit variasi, ye kan? 

Makanya, menemukan Nasi Kemangi Teri dan Oblok Daun Singkong di meja sarapan menjadi kejutan kecil yang menyenangkan. Selain mengisi perut sebelum memulai aktivitas, saya sekalian bisa mencicipi rasa yang sebelumnya belum pernah saya kenal.



 
 
Di luar jam sarapan, tamu masih bisa memesan minuman dan makanan sederhana seperti mi instan. Tinggal request kalau mau ditambah telur, cabai rawit, dan daun sawi. Lumayan kan kalau malam-malam perut tiba-tiba protes, sementara badan sudah telanjur mager keluar hotel.

Dalam kondisi begitu, idealisme kuliner biasanya runtuh dengan sendirinya. Tidak perlu fine dining. Semangkuk mi instan panas dengan telur dan cabai rawit sudah cukup membuat hidup kembali terasa punya arah. 🤣

Dekat hotel ada beberapa tempat makan yang bisa dituju, tapi kalau lagi males, andalannya pesen indomie di hotel saja lebih mantep hahaha.

Fasilitas yang Praktis untuk Tamu Bisnis

Semakin lama menginap, saya merasa Front One Hotel Gresik memang menawarkan fasilitas yang lebih mengarah pada kebutuhan praktis tamu. Ada Wi-Fi, area parkir, lift, restoran, layanan resepsionis 24 jam, serta fasilitas pertemuan. Tidak ada kolam renang atau fasilitas rekreasi yang membuat kita tergoda menghabiskan waktu seharian di hotel, tetapi kebutuhan utama untuk beristirahat dan bekerja tersedia.

Buat kami yang datang karena urusan pekerjaan, justru itu yang dibutuhkan.

Kebetulan, tanggal 29 Februari 2024, saya punya jadwal menjadi pembicara melalui Zoom dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh salah satu perguruan tinggi negeri. Saat itu saya diundang untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan seputar dunia blogging, termasuk perjalanan saya menulis tentang travel dan pariwisata. Jadi, di sinilah kualitas Wi-Fi hotel benar-benar saya buktikan. Koneksi internet yang stabil jelas menjadi kebutuhan utama, dan syukurlah selama acara berlangsung semuanya lancar tanpa kendala berarti. Dalam perjalanan kerja, Wi-Fi stabil memang punya kasta tersendiri. View bagus boleh saja, tetapi kalau Zoom putus-putus saat kita sedang bicara, pemandangan secantik apa pun mendadak tidak ada gunanya. 😄

Ada lift juga. Kelihatannya sepele, sampai suatu hari kita harus menyeret koper ke lantai atas lewat tangga. Pada titik itu, keberadaan lift bisa terasa seperti salah satu pencapaian terbaik peradaban manusia.

Secara keseluruhan, pengalaman menginap kami cukup nyaman. Kamar bersih, tidur nyaman, kamar mandi lega, sarapan menyenangkan, dan internet bisa diandalkan. Hal-hal sederhana yang justru paling dibutuhkan ketika sedang bepergian.

Sampai di sini semuanya berjalan normal.

Hotel nyaman. Sarapan enak. Wi-Fi lancar.

Tidak ada yang aneh.

Sampai keesokan paginya, saya mengangkat nampan berisi teko dan gelas yang sejak malam sebelumnya berada di sana.

Dan...

Nah.

Di situlah cerita tentang Perisai Kejantanan yang saya sebut di awal artikel benar-benar dimulai. 🤣


Sebuah Temuan Tak Terduga

Karena tiba larut malam, kami langsung beristirahat.

Esok paginya saya mulai merapikan barang bawaan dan menata perlengkapan kerja suami. Di kamar hanya ada satu meja kecil di samping tempat tidur. Di atasnya diletakkan nampan berisi teko, dua gelas, serta air minum kemasan yang disediakan hotel.

Kebetulan meja itu akan kami gunakan untuk meletakkan laptop dan perlengkapan kerja. Jadi, nampannya saya angkat untuk dipindahkan.

Nah, inilah detik-detik saya menemukan sesuatu yang tak terduga.

Begitu nampan diangkat, ada satu benda tergeletak di bawahnya. Warnanya cukup mencolok sehingga langsung terlihat.

Tiga bungkus kondom! Sebungkus kemasan kondom bekas, dua bungkus belum terpakai. 

Saya langsung melongo.

"Hah... apa itu?"

Awalnya saya pikir mata belum sepenuhnya login karena baru bangun tidur. Saya mendekat lagi. Dilihat sekali. Dua kali.

Ternyata benar.

Suami yang saat itu sedang bersiap mengajak sarapan langsung saya panggil.

"Maaaaas, kenapa ada alat PERISAI KEJANTANAN di sini???"

Suami cuma menjawab kalem, "Ya udah, buang saja. Bersihkan mejanya pakai tisu basah. Terus cuci tangan."

Begitulah suami saya. Bukan tipe orang yang mudah ngegas.

Sedangkan saya beda lagi. Buang, bersihkan, lalu selesai rasanya belum cukup. Bukan karena ingin memperpanjang masalah, tetapi menurut saya kejadian seperti ini perlu disampaikan supaya tidak terulang kepada tamu berikutnya.


Tak lama kemudian saya menghubungi pihak hotel. Respons mereka cepat dan baik. Mereka langsung meminta maaf sekaligus berterima kasih karena sudah diberi tahu.

Setelah dipikir-pikir, mungkin memang ada dua kelalaian yang bertemu di pagi itu. Ada seseorang yang meninggalkan sesuatu di tempat yang bukan semestinya, lalu ada nampan yang terlalu setia berdiri di tempatnya sampai bagian bawahnya luput saat kamar dibersihkan.

Namanya manusia, kelalaian bisa terjadi.

Yang saya apresiasi, pihak hotel menerima laporan tersebut dengan terbuka dan meresponsnya secara profesional. Bagi saya, itu yang penting. Ketika ada sesuatu yang kurang tepat, disampaikan baik-baik, diterima baik-baik, lalu dijadikan evaluasi.

Karena itulah pengalaman ini saya tulis. Bukan untuk menyalahkan atau menjelekkan siapa pun. Setiap perjalanan memang selalu punya cerita yang tidak direncanakan, dan kebetulan perjalanan pertama ke Gresik memberi satu cerita yang level kejutannya agak berbeda.

Untung yang tertinggal cuma kemasannya.

Kalau yang tertinggal masih lengkap isinya....

Sudahlah. Imajinasi punya batas. Saya memilih berhenti di situ.

Di luar kejadian tersebut, pengalaman menginap di Hotel Front One Gresik tetap berjalan nyaman.

Hospitality tray. Masih di posisi semula, sebelum diangkat dan mengungkap sesuatu yang tak terduga di bawahnya.

Bahagia Bertemu Sahabat Lama

Kalau ada bagian yang paling menghangatkan hati selama berada di Gresik, jawabannya adalah bertemu teman-teman sesama blogger.

Salah satunya Mbak Zulfa, pemilik blog Emak Mbolang. Kami sudah saling mengenal cukup lama, bahkan pernah melakukan perjalanan bersama selama sembilan hari di Maluku Utara.

Sudah lama tidak bertemu, tetapi begitu berjumpa rasanya seperti melanjutkan obrolan yang hanya sempat dijeda, bukan diakhiri. Cerita mengalir begitu saja, diselingi tawa dan kenangan perjalanan dulu.

Yang membuat saya semakin senang, Mbak Zulfa datang ke hotel sampai dua kali. Pertama pada 28 Februari, kemudian datang lagi pada 1 Maret, sehari sebelum kami meninggalkan Gresik menuju Surabaya dan lanjut jalan-jalan ke Kediri.

Dibawakan makanan pula.

Masya Allah.

Padahal saya tidak membawa apa-apa untuk Mbak Zulfa. Beliau malah datang berkali-kali membawa makanan. Saya mulai curiga, jangan-jangan wajah saya memang terlihat seperti orang yang belum makan sejak berangkat dari BSD ha ha ha.

Mungkin beginilah bentuk persahabatan yang usianya sudah panjang. Tidak banyak basa-basi, tidak perlu acara yang dibuat-buat. Datang, mengobrol, tertawa, lalu pulang sambil meninggalkan rasa bahagia.

Sederhana, tetapi membahagiakan.

Terima kasih, Mbak Zulfa.

Mbak Zulfa www.emakmbolang.com

Dari Instagram Story, Akhirnya Bertemu Septi

Rasa hangat itu ternyata belum selesai.

Selama di Gresik saya sempat mengunggah beberapa Instagram Story. Rupanya story itu dilihat oleh Septi, seorang blogger yang tinggal di Gresik. Kami sama sekali tidak membuat janji sebelumnya. Tak lama kemudian ia menghubungi dan mengajak bertemu.

Tanggal 29 Februari, Septi datang ke hotel.

Membawa cake dan roti.

Jujur, saya senang sekali.

Kami belum pernah bertemu sebelumnya. Di media sosial pun tidak sering mengobrol. Tapi semangatnya untuk datang menemui saya benar-benar terasa. Septi masih muda, ramah, manis, dan menyenangkan diajak mengobrol.

Yang paling membuat saya tersentuh justru satu hal.

Ternyata dia mengenal saya lebih banyak daripada saya mengenalnya.

Kadang tanpa kita sadari, ada orang yang mengikuti perjalanan kita, membaca tulisan yang kita bagikan, lalu menyimpan kesan tertentu di hatinya. Kita mungkin tidak tahu siapa mereka sampai suatu hari ada kesempatan untuk bertemu.

Begitulah rasanya ketika bertemu Septi.

Dengan Septi


Sementara saya sendiri tidak menyiapkan apa-apa. Lha, memang awalnya nggak ada rencana mau ketemuan. Saya cuma posting Instagram Story kalau sedang berada di Gresik. Eh, yang melihat story malah benar-benar datang ke hotel sambil membawa cake dan roti. Sedangkan yang didatangi? Modal senyum lebar dan ucapan terima kasih. 

Untung setelah duduk dan ngobrol, urusan siapa bawa apa langsung terlupakan. Obrolan kami mengalir ke mana-mana. Padahal ini pertama kalinya kami bertemu langsung dan sebelumnya pun jarang ngobrol di media sosial. Anehnya, pas ketemu malah nggak terasa seperti baru pertama kali.

Saya jadi makin senang karena pertemuan yang tadinya sama sekali nggak direncanakan itu akhirnya benar-benar terjadi. Bermula dari satu Instagram Story, berlanjut dengan sebuah pesan, lalu tahu-tahu kami sudah duduk mengobrol bersama di hotel.

Makasih ya, Septi. Sudah melihat story, menyapa duluan, lalu benar-benar meluangkan waktu untuk datang. Cake dan rotinya tentu dengan senang hati saya terima. Tapi yang paling saya ingat dari hari itu tetap pertemuan kita.

Cake cantik dari Septi

Mencicipi Kuliner Ayam Bakar Pak D di Gresik

Di sela agenda suami, kami sempat keluar untuk mencari makan. Pilihan kami jatuh pada Ayam Bakar Pak D cabang Jalan Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Kebomas, Gresik.

Namanya memang Ayam Bakar Pak D, tetapi pilihan menunya rupanya tidak berhenti pada ayam saja. Ada ayam, bebek, hingga aneka ikan dengan beberapa pilihan olahan. Kami sendiri malah memesan gurami dan bebek bumbu rujak. Ayamnya? Tidak dipesan. Begitulah manusia kalau sudah berhadapan dengan daftar menu. Niat awal kadang tidak punya kekuatan hukum tetap. 😄

Kedua menu yang kami pesan cocok di lidah. Apalagi disantap saat sedang lapar-laparnya. Gurami dan bebek bumbu rujak menjadi teman makan yang menyenangkan sekaligus salah satu pengalaman kuliner yang kami nikmati selama berada di Gresik.




Mampir ke Ayam Bakar Pak D juga menjadi kesempatan untuk menikmati waktu santai berdua di sela urusan pekerjaan. Perjalanan ke Gresik kali ini memang bukan agenda khusus wisata kuliner. Tidak ada daftar panjang tempat makan yang harus didatangi satu per satu, apalagi target lima tempat makan sehari. Perut juga punya jam kerja. 

Buat saya, mengenal sebuah kota memang tidak selalu harus dimulai dari tempat wisatanya. Kadang perkenalan itu terjadi begitu saja di meja makan. Lewat sepiring nasi hangat, lauk yang baru datang, dan obrolan tentang agenda berikutnya yang entah kenapa selalu terasa lebih ringan setelah perut kenyang.

Namanya juga perjalanan sambil menemani suami bekerja. Target utamanya memang bukan berburu kuliner. Tapi kalau di sela-selanya bertemu makanan enak, masa iya harus ditolak? Itu bukan menyimpang dari agenda. Anggap saja bagian dari riset lapangan. 😄

 
Bekerja dari Kamar Hotel

Tanggal 29 Februari, hampir seharian saya berada di kamar hotel karena harus menjadi pembicara dalam sebuah pertemuan melalui Zoom. Sejak pagi sudah bersiap, sementara suami berangkat visit ke site untuk menemui timnya yang sedang bertugas.

Rasanya cukup unik. Baru pertama kali datang ke sebuah kota, tetapi sebagian hari justru dihabiskan bekerja dari kamar hotel.

Untung koneksi Wi-Fi di hotel berjalan lancar. Acara Zoom bisa berlangsung tanpa kendala. Dalam kondisi seperti ini, barulah terasa betapa Wi-Fi yang stabil kadang jauh lebih membahagiakan daripada pemandangan kamar yang Instagramable.

Sempat Mampir ke Hotel ASTON Gresik

Di sela kegiatan, kami juga sempat mampir ke Hotel ASTON Gresik. Tujuannya bukan untuk menginap, melainkan karena suami ingin melihat langsung lokasi sekaligus memesan tempat untuk kegiatan seminar dan pelatihan yang rencananya akan diadakan pada kunjungan berikutnya.

Jadi, kunjungan ke ASTON kali ini semacam survei kecil-kecilan. Lihat tempat, cek kebutuhan acara, sekaligus memastikan semuanya cocok untuk kegiatan nanti. Kalau rencana itu terlaksana, kemungkinan besar kami akan kembali lagi ke Gresik dan mungkin sekalian menginap di sana.

Berarti, boleh jadi perjalanan pertama ini bukan sekaligus yang terakhir. Masih ada kemungkinan datang lagi ke Gresik dengan agenda berbeda dan menginap di tempat yang berbeda pula.

Siapa tahu, pada kunjungan berikutnya saya punya lebih banyak waktu untuk melihat sisi lain Gresik yang belum sempat dijelajahi kali ini. Sebab selama perjalanan pertama ini, waktu kami memang lebih banyak mengikuti agenda pekerjaan. Jadi, rasanya masih banyak bagian dari Gresik yang belum sempat saya kenal.






Oleh-Oleh Terbaik dari Gresik

Tanggal 2 Maret pagi, sekitar pukul enam, kami check out dan meninggalkan Gresik untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya, kemudian ke Pare, Kediri, sebelum akhirnya kembali ke BSD, Tangerang Selatan.

Kalau mengingat perjalanan pertama ini, tentu saya masih ingat kemasan kondom yang sempat membuat bengong di pagi pertama. Bagaimana tidak? Itu pengalaman yang bahkan tidak pernah masuk dalam daftar hal-hal yang mungkin saya temukan di kamar hotel. 😄

Tapi perjalanan ke Gresik tentu bukan hanya tentang kejadian itu. Ada Mbak Zulfa yang sampai dua kali datang menemui saya, Septi yang berawal dari melihat Instagram Story lalu menyempatkan diri datang ke hotel, obrolan-obrolan yang membuat waktu terasa cepat, gurami bakar dan bebek bumbu rujak yang kami nikmati di Ayam Bakar Pak D, serta hari-hari sederhana menemani suami bekerja di kota yang baru pertama kali saya datangi.

Ternyata perjalanan memang seperti membaca sebuah novel. Ada bagian yang mengejutkan, ada yang membuat tertawa, dan ada bagian-bagian sederhana yang justru paling lama tinggal dalam ingatan.

Begitu juga dengan perjalanan pertama saya ke Gresik.

Kejutan itu hanya satu halaman. Selebihnya adalah cerita tentang pertemuan, persahabatan, dan orang-orang baik yang membuat kota yang tadinya asing terasa lebih dekat.

Dan itulah oleh-oleh terbaik yang saya bawa pulang dari Gresik.

Sampai bertemu lagi.