Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

ROG Zephyrus Duo GX651: Laptop Gaming Dual-Screen OLED Pertama dan Satu-Satunya di Dunia, Duo It All

Dua bulan lalu, tepatnya Rabu, 17 Juni 2026, ASUS ROG resmi meluncurkan ROG Zephyrus Duo (GX651) di Bengkel Space SCBD, Jakarta. Ini bukan laptop gaming biasa, melainkan laptop gaming dual-screen OLED pertama dan satu-satunya di dunia yang hadir dengan dua layar 16 inci identik. 

Saya hadir langsung saat peluncurannya. Dan jujur, dari pertama melihatnya saja saya sudah cukup terkesima dengan pesona si Zephyrus Duo yang mengusung tagline “Duo It All” ini.

Bagaimana tidak? Dari tampilannya yang premium, dua layar OLED-nya, spesifikasinya, jeroannya yang ternyata luar biasa, sampai harganya yang mencapai Rp129.799.000,-semuanya terasa seperti ASUS ROG sedang bilang, “Kalau mau bikin laptop gaming, sekalian saja bikin yang benar-benar beda.”

Dan memang itulah yang terasa dari Zephyrus Duo. ASUS ROG tidak sekadar menyatukan spesifikasi kelas atas ke dalam sebuah laptop gaming, tetapi juga menghadirkan desain eksklusif, pengalaman multi-screen, dan performa tinggi dalam satu perangkat. Hasilnya adalah sebuah laptop yang terasa punya karakter dan kelasnya sendiri.

Apalagi Zephyrus Duo ini hadir sebagai salah satu inovasi unggulan ROG tahun ini, bertepatan dengan 20 tahun perjalanan ROG di dunia gaming. Jadi memang bukan cuma soal laptop gaming dengan spek tinggi. Ada teknologi, engineering, dan hasil R&D yang membuat perangkat ini terasa jauh lebih dari sekadar laptop gaming biasa. 

Nah, saya yakin bukan cuma saya yang kemudian penasaran: seperti apa sih rasanya melihat dan mencoba langsung laptop gaming dengan dua layar OLED seperti ini?

Saya sudah beruntung bisa mencobanya saat launching.

Tapi buat para ROGers yang waktu itu belum sempat datang, tenang, sekarang nggak perlu menunggu ASUS bikin acara lagi. Nggak perlu juga datang ke kantor ASUS.

Tinggal mampir ke ROG Corner Plus Mangga Dua Mall by Agres.

Di sana, ROG Zephyrus Duo bisa dilihat dan di-hands-on langsung mulai 10 Agustus sampai 10 Oktober 2026. Jadi ada waktu yang cukup terbatas buat kamu yang penasaran ingin melihat langsung seperti apa inovasi terbaru ROG ini, mulai dari dua layar OLED-nya sampai berbagai mode penggunaannya.

Dan menurut saya, kesempatan seperti ini sayang untuk dilewatkan. Karena ada produk yang cukup kita lihat dari foto dan membaca spesifikasinya. Tapi untuk Zephyrus Duo, rasanya baru benar-benar bisa paham kenapa laptop ini begitu spesial setelah melihat, memegang, dan mencoba sendiri.

Cerita dari momen launching ROG Zephyrus Duo bulan Juni lalu dapat dilihat pada postingan IG yang saya sematkan berikut: 


Bukan Sekadar Laptop Gaming, Ini Duo It All

Kalau dilihat sekilas, mungkin yang paling gampang membuat orang berhenti dan memperhatikan ROG Zephyrus Duo adalah dua layar yang dimilikinya. Tapi setelah melihat lebih dekat, ternyata bukan cuma jumlah layarnya yang menarik.

Zephyrus Duo hadir dengan dua layar 16 inci identik yang sama-sama menggunakan panel OLED 3K (WQXGA+) touchscreen, dengan refresh rate 120Hz dan response time 0,2ms. Jadi layar keduanya bukan sekadar layar tambahan yang kualitasnya dibuat “seadanya”. ASUS justru membuat kedua layar ini memiliki kualitas yang setara, sehingga bisa digunakan bersama-sama sebagai satu area kerja yang jauh lebih luas.

Buat saya, di sinilah konsep “Duo It All” mulai terasa.

Coba bayangkan sedang mengedit video. Layar utama bisa digunakan untuk melihat hasil editing, sementara layar satunya dipakai untuk timeline dan berbagai tools. Atau saat bekerja sambil browsing, satu layar bisa berisi dokumen yang sedang dikerjakan, sementara layar lainnya menampilkan referensi. Bahkan saat gaming pun layar kedua bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lain tanpa harus menutup permainan yang sedang berjalan.

Jadi, dua layar ini bukan sekadar untuk membuat Zephyrus Duo terlihat berbeda. Memang ada tambahan ruang kerja yang bisa dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Dan buat orang yang terbiasa multitasking, tambahan ruang seperti ini bisa terasa sangat berarti.

Apalagi kedua layarnya sudah menggunakan teknologi Flexible/Bent OLED. ASUS merancang bagian bawah panel dengan sirkuit yang ditekuk ke belakang bodi secara presisi sehingga jarak antara kedua layar dapat dibuat sangat minim. Keduanya juga dilapisi Corning Gorilla Glass DXC, mendukung touchscreen dan stylus, serta memiliki lapisan anti-reflektif untuk membantu mengurangi pantulan cahaya.

Jadi ketika kedua layar ini terbuka, tampilannya bukan seperti laptop yang ditempeli monitor tambahan. Rasanya memang seperti satu perangkat dengan dua bidang kerja yang sengaja dirancang untuk bekerja berdampingan.

Dan ternyata, ASUS tidak berhenti sampai di situ.

Karena kalau dua layar saja sudah menarik, cara menggunakan keduanya juga dibuat fleksibel. Berkat mekanisme engsel yang dapat bergerak hingga 320 derajat dan detachable magnetic keyboard, Zephyrus Duo bisa digunakan dalam lima mode berbeda.

Nah, bagian ini yang menurut saya menarik untuk dilihat langsung ketika hands-on di ROG Corner Plus. Karena dari kelima mode inilah baru kelihatan bahwa Zephyrus Duo memang bukan sekadar laptop gaming dengan layar kedua, tetapi sebuah perangkat yang bisa berubah mengikuti kebutuhan penggunanya.

Sebelum hands-on di ROG Corner Plus Mangga Dua Mall, saya pernah hands-on lebih awal di momen launching, seperti yang terlihat pada foto carousel IG yang saya sematkan berikut: 

 

Laptop Mode

Yang pertama tentu saja Laptop Mode.

Dalam mode ini, Zephyrus Duo tampil seperti laptop pada umumnya. Keyboard magnetiknya terpasang dan perangkat bisa digunakan untuk berbagai aktivitas sehari-hari seperti mengetik, bekerja, browsing, meeting online, atau mengerjakan tugas.

Mode ini mungkin yang paling familiar dan paling gampang digunakan. Tinggal buka laptop, pasang keyboard, lalu bekerja seperti biasa.

Tapi menariknya, ketika kebutuhan berubah dan kita merasa satu layar saja tidak cukup, kita tinggal mengubah konfigurasinya. Jadi tidak harus terus-menerus menggunakan dua layar kalau memang sedang tidak dibutuhkan.

Buat saya, ini justru penting. Karena secanggih apa pun sebuah laptop, kalau pengguna dipaksa mengikuti bentuk dan cara kerja perangkat, lama-lama malah terasa merepotkan. Di Zephyrus Duo, kita yang menentukan mau menggunakannya seperti apa.


Dual-Screen Mode

Kemudian ada Dual-Screen Mode, yang bisa dibilang sebagai mode paling ikonik dari Zephyrus Duo.

Di sinilah kedua layar OLED 16 inci tersebut benar-benar digunakan secara bersamaan. Ruang kerja menjadi lebih luas dan kita bisa menempatkan berbagai aplikasi atau informasi di dua layar sekaligus.

Untuk content creator, misalnya, layar utama bisa digunakan untuk melihat canvas atau preview video, sementara layar kedua menampilkan timeline, tools editing, atau aplikasi pendukung. Untuk pekerjaan kantor, satu layar bisa digunakan untuk dokumen sementara layar lainnya untuk membuka referensi atau melakukan riset.

Bahkan untuk kebutuhan gaming, konsepnya juga menarik. Layar utama bisa digunakan untuk bermain, sementara layar kedua dapat dimanfaatkan untuk melihat chat, streaming, monitoring, atau informasi lain yang ingin tetap terlihat tanpa harus berpindah-pindah window.

Satu laptop, dua layar, lebih banyak yang bisa dilakukan dalam waktu bersamaan.

Dan menurut saya, ini alasan paling sederhana kenapa konsep “See More, Do More” pada Zephyrus Duo memang masuk akal.


Sharing Mode

Berikutnya ada Sharing Mode.

Sesuai namanya, mode ini menarik ketika laptop sedang tidak digunakan sendirian. Misalnya saat sedang berdiskusi dengan teman atau rekan kerja, memperlihatkan hasil desain, presentasi, foto, maupun video kepada orang yang duduk berseberangan.

Dengan konfigurasi layar seperti ini, pengalaman berbagi tampilan menjadi lebih fleksibel. Tidak perlu semua orang berdesakan melihat satu layar dari sisi yang sama.

Saya membayangkan mode seperti ini akan cukup berguna ketika sedang berada dalam situasi kolaboratif. Misalnya dua orang sedang membahas sebuah desain atau presentasi, dan masing-masing ingin melihat tampilan dari posisi duduk yang berbeda.

Jadi, dua layar pada Zephyrus Duo ternyata tidak hanya berguna untuk “saya bisa melihat lebih banyak”, tetapi juga bisa digunakan ketika “kita ingin melihat bersama.”



Book Mode

Selanjutnya ada Book Mode, dengan posisi kedua layar yang menyerupai bentuk buku.

Mode ini terasa menarik untuk aktivitas yang memang membutuhkan dua bidang tampilan yang saling berdampingan. Misalnya membaca sekaligus melihat referensi, membandingkan dua dokumen, atau membuka dua sumber informasi tanpa harus terus berpindah tab.

Buat saya yang banyak berkutat dengan tulisan dan konten, konfigurasi seperti ini cukup menarik. Misalnya ketika sedang menyusun artikel, satu sisi bisa digunakan untuk membaca bahan referensi sementara sisi lainnya untuk menulis atau mencatat poin-poin penting.

Atau kalau sedang melakukan riset perjalanan, satu layar bisa menampilkan informasi destinasi sementara layar lainnya digunakan untuk mencatat itinerary.

Dengan kata lain, Book Mode memberikan cara lain untuk memanfaatkan dua layar tersebut secara lebih natural, terutama untuk aktivitas yang membutuhkan dua tampilan sekaligus.



Tent Mode

Dan terakhir ada Tent Mode.

Pada mode ini, Zephyrus Duo diposisikan menyerupai sebuah tenda. Konfigurasi seperti ini cocok ketika kita lebih membutuhkan layar untuk dilihat daripada keyboard untuk digunakan.

Misalnya saat ingin menikmati video, menampilkan konten kepada orang lain, melihat presentasi, atau ketika laptop diletakkan di meja dengan ruang yang terbatas.

Tent Mode juga menarik ketika kita ingin membuat layar lebih mudah terlihat dari arah tertentu tanpa harus menggunakan laptop dalam posisi terbuka seperti biasanya.

Kelihatannya sederhana, tetapi justru di sini saya merasa fleksibilitas Zephyrus Duo cukup terasa. Laptop tidak selalu harus diperlakukan sebagai laptop. Ketika kebutuhan berubah, bentuknya pun bisa ikut berubah.

Dan kelima mode inilah yang menurut saya membuat tagline “Duo It All” terasa bukan sekadar slogan. Kita mendapatkan satu perangkat yang bisa digunakan dengan cara berbeda sesuai situasi, mulai dari konfigurasi laptop biasa, bekerja dengan dua layar, berbagi tampilan, sampai mengubah posisi perangkat menjadi Book maupun Tent Mode.

Semua itu dimungkinkan oleh mekanisme engsel hingga 320 derajat serta keyboard magnetik yang bisa dilepas-pasang.



Jeroannya Juga Nggak Main-Main

Kalau cuma mengandalkan dua layar, rasanya kurang pantas kalau ROG Zephyrus Duo dibanderol di kelas harga Rp129.799.000. Untungnya, ASUS tidak bermain-main dengan bagian dalamnya. Justru di sinilah kita bisa melihat bahwa konsep Duo It All bukan hanya soal tampilan yang unik, tetapi juga soal performa yang memang disiapkan untuk menangani pekerjaan-pekerjaan berat.

Untuk dapur pacunya, ROG Zephyrus Duo menggunakan Intel Core Ultra 9 386H dengan 16 core dan 16 thread, dipadukan dengan NVIDIA GeForce RTX 5090 Laptop GPU 24GB GDDR7. RAM-nya juga sudah 64GB LPDDR5X 8533, sementara penyimpanannya menggunakan 2TB M.2 NVMe PCIe 5.0 Performance SSD.

Jadi kalau laptop ini diajak bermain game, tentu bukan perkara. Tapi kemampuan Zephyrus Duo sebenarnya jauh lebih luas. Kombinasi prosesor dan GPU kelas atas ini memang disiapkan untuk kebutuhan seperti gaming, content creation, rendering, sampai pekerjaan berbasis AI.


Dan bicara soal AI, ada satu komponen yang menarik perhatian: NPU hingga 50 TOPS yang sudah terintegrasi di Intel Core Ultra 9 386H. NPU ini dirancang untuk menangani beban kerja AI secara lokal dengan lebih efisien, sehingga pekerjaan AI tidak harus selalu dibebankan ke CPU atau GPU.

ASUS bahkan menyebut kombinasi NPU tersebut dengan RTX 5090 Laptop GPU mampu menghasilkan Total Platform Performance hingga 1.874 TOPS. Dalam praktiknya, kemampuan ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai pekerjaan AI lokal, AI-assisted editing, rendering, hingga melakukan scrubbing video 8K secara real-time.

Buat saya, ini yang membuat Zephyrus Duo menarik. Laptop gaming-nya iya, tetapi kemampuannya tidak berhenti di gaming. Kalau sedang tidak bermain game, tenaga sebesar ini bisa dimanfaatkan untuk pekerjaan kreatif maupun berbagai kebutuhan produktivitas yang membutuhkan performa tinggi.

Apalagi dengan dua layar yang tadi sudah kita bahas, rasanya memang ada alasan mengapa ASUS menyebutnya sebagai perangkat untuk “See More, Do More.” Layar yang luas memberikan ruang kerja, sementara hardware di dalamnya menyediakan tenaga untuk mengerjakan berbagai workload berat.


Tapi kemudian muncul pertanyaan berikutnya: kalau performanya segede ini, panasnya bagaimana?

Kencang Boleh, Panas Jangan

Ini bagian yang menurut saya justru menarik dari engineering Zephyrus Duo.

Laptop dengan prosesor dan GPU kelas atas tentu menghasilkan panas. Dan pada Zephyrus Duo, ada tantangan tambahan karena ASUS harus sekaligus menjaga dua panel OLED yang berada dalam satu perangkat. Jangan sampai performa tinggi dari komponen internal malah menjadi masalah bagi layar kedua.

Karena itu ASUS membekali Zephyrus Duo dengan ROG Intelligent Cooling. Sistem ini mengombinasikan Liquid Metal pada prosesor Intel, Vapor Chamber berukuran luas, serta Graphite Nano Insulated Sheet yang menjadi salah satu bagian penting dari sistem pendinginannya.

Graphite Nano Insulated Sheet ini menarik karena fungsinya bukan sekadar membantu membuang panas. Lembaran insulasi nano-grafit tersebut ditempatkan di antara motherboard dan panel OLED bagian bawah sebagai tameng termal dua arah. Panas dari komponen internal disebarkan secara horizontal sehingga tidak terkonsentrasi langsung pada panel OLED yang sensitif terhadap panas.

Jadi di balik desain dua layar yang kelihatannya simpel ketika kita lihat dari luar, ternyata ada persoalan engineering yang cukup rumit di dalamnya.

Bagaimana membuat dua layar 16 inci bisa berada dalam satu laptop? Bagaimana membuatnya bisa dilipat dengan mekanisme engsel hingga 320 derajat? Bagaimana memasukkan prosesor dan GPU kelas flagship? Dan bagaimana semuanya tetap bekerja stabil dalam bodi yang relatif compact?

 

Nah, dari sini saya mulai paham kenapa ROG Zephyrus Duo terasa lebih dari sekadar “laptop gaming yang kebetulan punya dua layar.”

Ada banyak R&D yang bekerja di baliknya.

Dan justru hal-hal seperti inilah yang tidak selalu kelihatan hanya dari foto produknya.

Laptop Premium, Layanan Juga Premium

Kalau sudah bicara laptop dengan harga Rp129.799.000, tentu urusan setelah membeli juga tidak kalah penting. Karena membeli perangkat di kelas ini bukan sekadar soal mendapatkan spesifikasi tinggi, tetapi juga soal rasa aman ketika menggunakannya dalam jangka panjang.

Untuk ROG Zephyrus Duo, ASUS memberikan 2 tahun International Warranty sekaligus 2 tahun ASUS VIP Perfect Warranty yang mencakup perlindungan terhadap kerusakan akibat kelalaian pengguna. Jadi ada perlindungan tambahan yang cukup penting untuk sebuah perangkat yang memang masuk kategori investasi premium.

 

Selain garansi, pengguna ROG juga mendapatkan fasilitas ASUS Premium Service. Ada layanan Free Round-Trip Shipping untuk wilayah yang jauh dari pusat servis, Laptop Spa untuk perawatan dan pembersihan komponen secara berkala, serta FastLane Priority Handling untuk antrean prioritas di ASUS Service Center.

Buat saya, layanan seperti ini cukup penting. Karena secanggih dan sekencang apa pun sebuah laptop, tetap saja kita ingin punya ketenangan ketika menggunakannya sehari-hari. Apalagi kalau perangkat tersebut menjadi andalan untuk bekerja, membuat konten, bermain game, atau mengerjakan berbagai pekerjaan berat.

 

Jadi, kalau dari awal Zephyrus Duo sudah menawarkan hardware kelas flagship dan engineering yang serius, ASUS juga melengkapinya dengan perlindungan dan layanan purnajual yang sepadan.

Promo bundling ROG SLASH Hard-Case Luggage Edition 20

Oh iya, ada satu lagi yang menarik buat yang memang sudah mengincar ROG Zephyrus Duo. Selama persediaan masih ada, setiap pembelian ROG Zephyrus Duo juga mendapatkan promo bundling berupa ROG SLASH Hard-Case Luggage Edition 20

Nilainya sekitar Rp3–4 jutaan dan yang membuatnya semakin menarik, luggage ini tidak dijual untuk umum di Indonesia. Koper ini memang dibawa secara resmi ke Indonesia khusus untuk para pemilik ROG Zephyrus Duo.

Jadi, selain mendapatkan laptop gaming dengan dual-screen OLED yang unik, pembeli juga mendapatkan luggage eksklusif yang memang dibuat untuk melengkapi pengalaman memiliki perangkat flagship ROG ini.

 
Nah, Tinggal Datang dan Coba Sendiri

Setelah melihat semua yang ditawarkan ROG Zephyrus Duo, saya rasa ada satu hal yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh foto, video, maupun membaca spesifikasinya, yakni: mencobanya langsung.

Karena ketika melihat dua layar OLED 16 inci yang identik, mencoba mengubahnya ke berbagai mode, merasakan keyboard magnetiknya, dan melihat sendiri bagaimana perangkat ini bekerja, barulah konsep “Duo It All” terasa lebih nyata.

Dan kabar baiknya, untuk yang penasaran, sekarang tidak perlu menunggu ASUS mengadakan event lagi.

ROG Zephyrus Duo sudah bisa kamu lihat dan hands-on langsung di ROG Corner Plus Mangga Dua Mall by Agres, dalam periode display terbatas mulai 10 Agustus hingga 10 Oktober 2026.




 



Jadi kalau selama ini cuma melihat Zephyrus Duo dari foto atau video dan masih penasaran seperti apa rasanya menggunakan laptop dengan dua layar OLED ini, mumpung masih ada kesempatan, datang saja dan coba sendiri.

Siapa tahu setelah melihat langsung, kamu akan mengerti kenapa ASUS ROG tidak sekadar membuat laptop gaming dengan layar tambahan.

Mereka membuat sebuah perangkat yang memang dirancang untuk Duo It All.

ROG Zephyrus Duo GX651.
See More. Do More. Duo It All.


Untuk informasi dan spesifikasi lengkap ROG Zephyrus Duo GX651, kamu bisa melihatnya di halaman resmi ASUS ROG:

ROG Zephyrus Duo 2026 — Official Product Page


Tes Ekstrem Laptop ASUS dan Perlindungan Total dari ASUS Premium Service

Uji Nyata Ketangguhan ASUS dan Ekosistem Perlindungan Total dari ASUS Premium Service
 
Sebagian besar orang memperlakukan laptop seperti benda rapuh yang harus dijaga sepenuh hati. Ditaruh pelan-pelan di meja, dimasukkan hati-hati ke dalam tas, dan dijauhkan sejauh mungkin dari potensi bencana seperti air minum atau siku teman yang terlalu aktif bergerak. Saya juga biasanya begitu. Laptop buat saya bukan sekadar alat kerja, tetapi semacam partner hidup yang ikut menemani menulis, mengedit foto, sampai menyelesaikan deadline yang kadang datang tanpa ampun.

Karena itu ketika saya datang ke kantor ASUS di Kensington Office Tower dan mendengar bahwa hari itu saya akan diajak menjatuhkan, menginjak, mengguncang, bahkan menyiram laptop, reaksi pertama saya cukup sederhana.

Deg-deg-an.

Uji Nyata Ketangguhan ASUS dan Ekosistem Perlindungan Total dari ASUS Premium Service

Bukan karena saya tidak percaya dengan klaim ketangguhan laptop ASUS. Justru karena saya terlalu terbiasa memperlakukan laptop dengan penuh kehati-hatian. Tetapi di acara ini, ketangguhan laptop ASUS memang tidak hanya diceritakan lewat slide presentasi atau jargon marketing. Semua dibuktikan lewat pengujian ekstrem secara langsung. Laptop benar-benar dibanting, diinjak, disiram air, diguncang-guncang, dan dimasukkan ke suhu ekstrem.

Dan yang membuat pengalaman ini semakin menarik adalah satu hal sederhana. Saya tidak hanya menonton. Saya ikut melakukannya. 

Tes Guncangan: Menjatuhkan Laptop ke Lantai

Pengujian pertama yang saya lakukan adalah tes guncangan. Di sini kami diminta menjatuhkan laptop dari ketinggian sekitar delapan puluh sentimeter ke lantai. Ada dua jenis permukaan yang disediakan, lantai dengan alas dan lantai keramik langsung. Artinya kalau ingin benar-benar menguji mental, kita boleh menjatuhkannya ke permukaan keras.

Sebelum menjatuhkan laptop itu, saya sempat memeriksanya terlebih dahulu. Layarnya utuh, bodinya mulus, dan sistemnya menyala normal. Rasanya seperti sedang memeriksa kondisi pasien sebelum melakukan eksperimen yang cukup nekat.

Uji Nyata Ketangguhan ASUS dan Ekosistem Perlindungan Total dari ASUS Premium Service

Ketika akhirnya saya menjatuhkan laptop itu, suara benturannya terdengar cukup jelas. Anehnya, saya yang menjatuhkan tetapi saya juga yang kaget sendiri. Refleks saya langsung memungutnya kembali dan menekan tombol power untuk memastikan semuanya masih bekerja.

Dan ternyata memang masih bekerja.

Ketangguhan Laptop ASUS dan Layanan Purna Jualnya yang Istimewa

Laptop ASUS yang diuji ini telah mengantongi sertifikasi MIL-STD 810H yang berarti perangkat tersebut telah melalui 26 prosedur pengujian ketat. Salah satunya adalah kemampuan menoleransi benturan hingga 40G serta lolos uji jatuh sebanyak delapan belas kali dari ketinggian delapan puluh sentimeter.

Tetapi mendengar angka tentu berbeda dengan menjatuhkannya sendiri. Ketika melihat laptop itu tetap menyala seolah tidak terjadi apa-apa, saya hanya bisa tertawa kecil sambil berpikir bahwa perangkat ini tampaknya memang diciptakan untuk menghadapi benturan-benturan kehidupan. 

Tes Tekanan: Menginjak dan Menindih Laptop

Setelah tes guncangan, pengujian berikutnya terasa lebih dramatis. Laptop diletakkan di lantai untuk menjalani pressure test atau tes tekanan. Cara pengujiannya sederhana tetapi cukup membuat alis saya terangkat.

Laptop itu diinjak!

 
Bukan sekadar diinjak ringan, tetapi benar-benar ditindih dengan beban berat hingga mencapai sekitar seratus kilogram. Dalam demonstrasi tersebut bahkan digunakan barbel untuk memastikan total tekanannya sesuai standar pengujian.

Saya sempat mencoba berdiri di atas laptop tersebut, meskipun berat badan saya tidak sampai seratus kilogram. Untuk mencapai angka itu biasanya penguji ditambahkan beban tambahan berupa barbel.

Kontrasnya cukup lucu. Laptop dengan berat kurang dari satu kilogram harus menahan tekanan seratus kilogram tanpa mengeluh. 

 
Tetapi hasilnya tetap sama. Laptopnya tidak retak-retak, tidak melengkung, dan tetap bekerja dengan normal. Sasisnya memang dirancang untuk melindungi panel layar dari tekanan eksternal yang berat sehingga komponen di dalamnya tetap aman.

Melihat pengujian ini saya sempat berpikir bahwa laptop ini memiliki satu sifat yang cukup langka di dunia manusia.

Ia menerima tekanan tanpa drama. 

Tes Getaran: Diguncang-Guncang Tanpa Henti

Pengujian berikutnya adalah tes getaran. Laptop diletakkan di atas mesin yang mampu menghasilkan getaran dengan frekuensi tertentu untuk mensimulasikan kondisi transportasi yang penuh guncangan.

Mesin tersebut kemudian dijalankan dengan frekuensi antara 5 hingga 500 Hz selama sekitar enam puluh menit. Tujuannya memastikan bahwa baut-baut tidak kendur, engsel-engsel tidak melemah, dan konektor internal tetap stabil meskipun perangkat mengalami getaran berulang-ulang.

Dari apa yang saya lihat sendiri, laptop bergetar cukup hebat di atas mesin tersebut.

 
Ketika mesin akhirnya dimatikan, laptop diperiksa kembali. Tidak ada bagian yang lepas-lepas, tidak ada komponen yang bergeser, dan sistemnya tetap berjalan normal.

Saya bahkan sempat bercanda bahwa kalau misal saya masih belum yakin, laptop itu boleh gak diguncang-guncang lagi sampai saya dan yang lain benar-benar percaya. Ternyata sangat boleh! 

Tes Suhu Ekstrem:
Dari Dingin Membeku hingga Panas Seperti Oven

Pengujian lain yang tidak kalah menarik adalah tes ketahanan terhadap suhu ekstrem. Laptop dimasukkan ke dalam ruang bersuhu sangat dingin maupun sangat panas.

Secara standar pengujian, perangkat diuji pada suhu panas hingga sekitar 71 derajat Celcius dan suhu dingin hingga minus 33 derajat Celcius. Ketika saya melihat alat pengukur suhunya secara langsung, angka yang muncul bahkan sempat menunjukkan sekitar delapan puluh derajat pada ruang panas dan minus 38 derajat pada tempat bersuhu dingin. 

Tampak suhu pada alat ukur menunjukkan minus 32,9 derajat celcius
 
Karena penasaran, saya sempat membuka pintu ruang panas itu sebentar. Belum sampai satu menit saya sudah mundur lagi karena rasanya seperti berdiri di depan oven yang menyala penuh.

Sementara saya sudah menyerah dalam waktu singkat, laptop itu tetap berada di dalam ruangan tersebut tanpa masalah.

Disekap di ruang bersuhu 80 derajat celcius, untung gak jadi kebab haha
 
Pengujian ini memastikan material perangkat tidak melengkung akibat panas ekstrem dan baterai tetap aman digunakan. Pada suhu rendah pun layar tetap mampu menampilkan visual dengan respons cepat tanpa gangguan. 

Tes Ketahanan Air: Ketika Laptop Disiram

Pengujian berikutnya mungkin terdengar sederhana tetapi sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, yaitu tes ketahanan terhadap air. Laptop disiram untuk mensimulasikan kejadian ketika minuman tidak sengaja tumpah ke keyboard saat kita sedang bekerja.

Keyboard laptop ASUS dirancang dengan fitur spill-resistant yang mengarahkan cairan menjauh dari komponen-komponen vital. Ketika terjadi tumpahan, langkah pertama yang tetap harus dilakukan adalah mematikan laptop dan memiringkannya agar cairan tidak menggenang. Tetapi desain ini membantu meminimalkan risiko kerusakan fatal pada komponen internal.

Melihat pengujian ini membuat saya teringat berapa banyak laptop yang mungkin “wafat” hanya karena segelas kopi yang tersenggol.

Semua laptop yang diuji merupakan seri laptop Vivobook dan Zenbook, dengan bobot mulai dari 0,9kg - 1,5kg. Artinya, laptop-laptop tangguh itu bukan lagi laptop tebal dan berat. Zaman now, laptop tipis dan ringan pun kuat luar biasa! ASUS sudah buktikan itu.

Bayangkan, sudah berapa kali laptop-laptop itu "dianiaya", tapi semua tetap utuh dan berfungsi. Kalaupun nanti tiba saatnya ada yang sekarat, maka ASUS pun dapat data baru, bahwa si laptop tewas setelah sekian ratus kali tes. Kalau kamu punya laptop, paling berapa kali sih kena air, jatuh, kena panas, kena getaran, ketindih, dan kena suhu dingin sungguhan? Saya gak percaya sampai ratusan kali, apalgi tiap saat. Jadi gak perlu khawatirlah ya akan ketahanannya. Insha Allah bertahun-tahun sampai kamu bosan pakai laptopnya. 

Ketika Laptop Kuat Didukung Layanan Premium

Banyak brand teknologi berbicara tentang spesifikasi. Mereka berlomba-lomba menyebut prosesor paling cepat, layar paling tajam, atau desain paling tipis. Semua itu memang menarik, tetapi satu hal sering terlupakan: apa yang terjadi setelah kita membelinya.

Di acara ini, Adrian Pradipta, Technical Public Relations ASUS Indonesia menjelaskan bahwa ketangguhan produk hanyalah sebagian dari cerita. Sisanya adalah bagaimana brand mendukung pengguna setelah perangkat digunakan. Filosofi inilah yang dirangkum dalam konsep ASUS No.1 Quality & Service, kombinasi produk berkualitas tinggi dan layanan lengkap untuk melindungi pengguna.

 
Kalau bagian sebelumnya saya menyaksikan langsung bagaimana laptop diuji dalam berbagai kondisi ekstrem, maka di bagian ini saya mulai melihat bagaimana ASUS mencoba memastikan bahwa pengguna tetap merasa aman bahkan setelah laptop itu dibawa pulang. 

Garansi Global dan Upgrade Terbaru

Ketika Mas Adrian menyampaikan daftar upgrade garansi terbaru ASUS, rasanya seperti menemukan cheat code rahasia buat laptop saya sendiri. Bayangkan, beberapa jam sebelumnya perangkat itu saya banting, injak, dan guncang-guncang, sekarang ia justru mendapat perlindungan ekstra yang bikin hati lega. Ternyata ketangguhan fisik bukan satu-satunya hal yang dijaga, ASUS juga benar-benar peduli soal ketenangan penggunanya. 


Berikut rincian upgrade garansi terbaru:

  • Zenbook, Vivobook S, Vivobook Flip, Vivobook Pro, dan ProArt: Kini mendapatkan 3 tahun Garansi Internasional dan 3 tahun ADP, naik dari sebelumnya hanya 1 tahun ADP.
  • ROG, TUF Gaming, ASUS Gaming, dan Vivobook Classic/Go: Mendapatkan 2 tahun Garansi Internasional dan 2 tahun ADP, naik dari 1 tahun sebelumnya.
  • Aksesoris: Tetap dilindungi dengan 1 tahun garansi, dan penggantian 100% untuk kendala fungsional (kecuali backpack).
  • Lini Desktop & All-in-One (AiO):
    • ROG Desktop: 3 Tahun On-Site Service lokal + 1 Tahun ADP
    • TUF Desktop: 2 Tahun On-Site Service lokal + 1 Tahun ADP
    • AiO: 2 Tahun On-Site Service lokal + 1 Tahun ADP

Angka-angka tersebut mungkin terdengar seperti statistik membosankan kalau hanya dibaca begitu saja. Tapi buat pengguna yang pernah laptopnya tiba-tiba mogok di tengah tenggat, semua itu terasa seperti superhero yang siap menolong kapan saja.

Dan ASUS tidak berhenti di situ. Dengan 141 titik service center di seluruh Indonesia dan jangkauan global di 113 negara, rasa aman benar-benar dijaga. Khusus untuk seri high-end seperti ROG, Zenbook, dan ProArt, ASUS menghadirkan Layanan Premium Eksklusif, yang bikin pengalaman memakai laptop terasa seperti punya bodyguard pribadi. Tidak ada drama, tidak ada panik, hanya ketenangan pikiran yang bisa benar-benar kita rasakan.

ASUS VIP Perfect Warranty: Perlindungan dari Kecerobohan Manusia

Bagian yang menurut saya paling bikin happy adalah program ASUS VIP Perfect Warranty yang disampaikan oleh Brama Setyadi, Head of Public Relations and Digital ASUS Indonesia. 

Bayangkan, laptop yang tadi saya banting, injak, dan guncang-guncang, kini mendapatkan perlindungan terhadap kelalaian manusia. Ya, manusia, makhluk yang lebih sering bikin kerusakan daripada mesin ekstrem. 

Program ini mencakup kerusakan akibat kelalaian, termasuk laptop jatuh, tersiram cairan, atau insiden sehari-hari yang biasanya bikin pengguna panik. ASUS menanggung 100% biaya perbaikan dan penggantian spare part.

Saya sempat tertawa kecil saat mendengar ini. Ironis memang. Setelah menyaksikan laptop diuji ekstrem, ternyata kerusakan nyata justru datang dari hal-hal paling sederhana. Seperti gelas kopi yang tersenggol. Manusia memang kadang lebih berbahaya daripada mesin uji ekstrem. 

ASUS Premium Service: Ketika Perbaikan Tidak Lagi Merepotkan

Selain garansi dan perlindungan kerusakan, ASUS memperkenalkan konsep ASUS Premium Service, layanan eksklusif yang bikin pengalaman perbaikan laptop terasa gampang, cepat, dan nyaman. 

 

Fitur utama ASUS Premium Service antara lain:

  • Free Round-Trip Shipping atau biaya pengiriman laptop ditanggung ASUS : antar ke service center dan kembali ke pengguna tanpa biaya tambahan.
  • Laptop Spa: perawatan ringan gratis untuk membersihkan debu, ventilasi, dan bagian kecil yang sering terlewat.
  • Fastlane Service: jalur prioritas untuk pengecekan dan perbaikan, tanpa harus menunggu lama.

Melihat layanan ini, saya kembali menyadari filosofi ASUS: laptop tangguh harus didukung layanan tangguh agar pengguna tetap merasa aman. Kalau sebelumnya laptop diperlakukan seperti atlet militer dalam uji ekstrem, di bagian ini suasananya berubah total. Tidak ada benturan, tekanan, atau suhu ekstrem. Di sinilah sisi lain dari filosofi ASUS mulai terasa nyata. 

Laptop Spa: Ketika Laptop Ikut Perawatan

Setelah melihat laptop diperlakukan ekstrem, saya sempat berpikir, hidup jadi laptop ASUS pasti berat banget. Tapi di booth Laptop Spa, suasananya berubah drastis. Tidak ada suara benturan, tidak ada mesin bergetar, dan tidak ada suhu ekstrem.

ASUS Premium Service

Laptop dibersihkan teliti oleh teknisi, debu di sela keyboard diangkat, ventilasi dicek, dan bagian-bagian kecil yang sering luput diperiksa satu per satu. Bagi pengguna yang memakai laptop hampir setiap hari, debu dan kotoran bisa perlahan memengaruhi performa.

Bahkan, bila kondisi laptopnya sudah waktunya penggantian thermal paste, maka akan diganti dengan yang baru, dan itu free

Dengan layanan ini, laptop tidak hanya kuat menghadapi kondisi ekstrem, tetapi juga tetap bekerja optimal dalam jangka panjang. Ketangguhan memang penting, tetapi ketangguhan saja tidak cukup. Service yang baik membuatnya tetap aman dan nyaman digunakan. 

Fast Lane: Jalur Prioritas

Layanan berikutnya adalah Fast Lane, jalur prioritas untuk pengecekan dan perbaikan laptop. Waktu sering menjadi faktor penting. Laptop bukan sekadar hiburan, tetapi alat kerja sehari-hari. Menunggu lama tentu tidak menyenangkan.

Dengan Fast Lane, proses pengecekan dan penanganan diprioritaskan sehingga waktu tunggu lebih singkat. Kalau laptop ASUS mampu bertahan dari pengujian ekstrem, Fast Lane memastikan ketika perangkat membutuhkan bantuan, prosesnya juga tidak bertele-tele. 

Laptop Tahan Banting yang Tetap Menenangkan

Setelah berkeliling booth demi booth, saya mulai melihat gambaran utuh. Ketangguhan laptop ASUS nyata. Dijatuhkan, diinjak, diguncang, disiram air, bahkan dimasukkan ke suhu ekstrem.

Tetapi cerita tidak berhenti di sana. Ketangguhan itu juga dilengkapi ekosistem layanan yang dirancang melindungi pengguna jangka panjang. Garansi internasional, perlindungan kerusakan akibat kelalaian, perawatan rutin, dan layanan prioritas memastikan pengguna tetap merasa aman.

Dengan kombinasi ini, ASUS tidak hanya menghadirkan Laptop Terbaik dari sisi kualitas produk, tetapi juga memberikan ketenangan bagi pengguna yang mengandalkan perangkatnya sehari-hari. 

Dan setelah melihat semuanya secara langsung, saya pulang dengan satu kesimpulan sederhana: kadang kita membeli laptop berharap kuat menghadapi berbagai situasi, tetapi yang sebenarnya kita cari mungkin bukan sekadar kekuatan. Melainkan ketenangan. Ketenangan bahwa ketika sesuatu terjadi pada laptop, masih ada sistem layanan yang siap membantu memperbaikinya.

Di dunia yang penuh ketidakpastian, rasa tenang seperti itu ternyata cukup berharga.

Momen Maret: Saat Tepat Upgrade Laptop

Davina Larissa, Country Marketing Manager ASUS Indonesia, sempat menekankan satu hal yang bikin saya mikir, “Maret ini waktu yang pas buat move-on ke teknologi ASUS.”

Dan memang masuk akal. Di tengah dinamika global, perang sana-sini, rantai pasok yang naik turun, harga barang elektronik cenderung melonjak. Jadi kalau menunda, besok bisa kena harga lebih tinggi. 

Nah kebetulan juga sebentar lagi Lebaran, THR mulai masuk kan, dan ini bisa jadi momen tepat buat upgrade laptop. Bayangkan saja, dengan timing yang pas, pilihan perangkat yang sudah terjamin ketangguhannya, plus layanan premium, membeli laptop ASUS sekarang bukan sekadar belanja gadget baru, tapi investasi yang bikin kita tenang sekaligus siap menghadapi pekerjaan, hiburan, dan segala kekacauan digital sehari-hari.

Jadi, kalau kamu tipe orang yang suka drama tapi nggak mau drama soal laptop, Maret ini adalah bulanmu. Jangan tunggu besok, karena besok bisa saja harga naik, stok menipis, dan kopi yang tumpah pun nggak sabar menunggu.

Kunjungi ASUS Store terdekat, atau belinya online melalui ASUS Online Store untuk cek harga dan stock laptop yang kamu incar. 

ASUS Blogger Squad