Tampilkan postingan dengan label wisata bogor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata bogor. Tampilkan semua postingan

Menginap di Swiss-Belcourt Bogor, Niatnya Cuma Pindah Tidur dan Kulineran

"Effortless and Convenient Getaway in Bogor"

Begitu slogan Swiss-Belcourt Bogor. Dan memang kurang lebih begitu alasan kami menginap di sini. Gak ada rencana liburan yang disusun jauh-jauh hari, gak ada tempat wisata yang sedang kami kejar, bahkan gak ada keperluan khusus. Niatnya cuma mau pindah tidur, makan enak, lalu pulang. Tapi ternyata yang nyaris tanpa agenda begini pun tetap aja ada dramanya. 

Menginap di Swiss-Belcourt Bogor

Ini pengalaman pertama keluarga kami menginap di Swiss-Belcourt Bogor. Kalau Swiss-Belcourt di kota lain sih sudah pernah, tepatnya Swiss-Belcourt Cikande. Pengalaman menginap di sana cukup bagus, jadi nama Swiss-Belcourt sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru buat kami.

Tapi kalau yang di Bogor, ini pertama kalinya. Dan sebenarnya gabut banget nginep di sini, karena cuma mau numpang pindah tidur aja, nyobain menu sarapannya, sekalian kulineran di Bogor dan sekitarnya. Gak ada keperluan khusus, gak ada pula agenda wisata yang sudah disiapkan.

Mungkin memang ada masanya pergi itu gak harus punya agenda. Rumah lagi baik-baik saja, kami juga gak sedang butuh healing dari apa-apa. Cuma pingin keluar rumah, makan di tempat lain, lalu tidur di tempat lain. 

Gak pula ada rencana mau review hotel.

Kalau sampai akhirnya saya tulis, ya karena pingin nulis aja. Walau fotonya seadanya dan banyakan bukan foto landscape, sebagaimana idealnya foto untuk blog. Jadi kalau nanti fotonya ada yang berdiri tegak sendirian di tengah tulisan, harap maklum. Waktu motret memang belum tahu kalau mereka bakal dapat pekerjaan tambahan jadi ilustrasi artikel. 

Review hotel Swiss-Belcourt Bogor
Swiss-Belcourt Bogor
Foto: swiss-belhotel.com
 

Libur Sekolah, tapi Gak Punya Rencana Liburan

Kami menginap saat musim libur sekolah. Tapi liburnya sendiri waktu itu sudah berjalan lebih dari seminggu. Aisyah masih sekolah dan ini adalah libur kenaikan kelasnya menuju kelas 12, tahun lalu, 2025.

Nah, kami tuh memang gak pergi ke mana-mana. Sama sekali gak bikin rencana mau liburan ke mana.

Soalnya udah hafal banget kalau pergi berwisata di musim libur itu banyak dramanya, terutama drama macet yang banyakan capeknya daripada menikmati wisatanya. Tempat wisatanya mungkin cuma dinikmati beberapa jam, perjuangan pergi dan pulangnya bisa jadi acara utama. 

Jadi, gak ke mana-mana saat liburan bukan hal menyedihkan buat kami. Malah momen terenak buat di rumah aja. Dalam kota pun biasanya lebih lengang, rasanya santai dan tenang.

Toh liburan gak selalu harus dibuktikan dengan pergi jauh. Kadang bisa bangun tanpa buru-buru, gak terjebak macet, dan menikmati kota yang mendadak lebih sepi saja sudah enak.

Tapi rupanya setelah lebih dari seminggu menikmati ketenangan itu, muncul juga keinginan keluar rumah.

Bukan mau liburan jauh.

Mau makan. 😄

 
Dari Mau Kulineran Seharian, Malah Cari Hotel

Ide menginap di Swiss-Belcourt Bogor ini sebenarnya dadakan aja.

Awalnya cuma mau ngajak keluarga nyari tempat makan di Bogor yang belum pernah kami coba. Bogor ya, bukan Puncak. Bisa ke Sentul, bisa juga di Kota Bogornya.

Apalagi dari BSD sekarang gampang banget ke sana sejak ada Tol Cinere yang tembus ke Jagorawi. Kalau dulu ke Bogor bisa 2 jam lebih, sekarang sekitar 55 menit aja udah sampai.

Rencana awalnya kami mau kulineran seharian. Makan dari pagi, siang, sore, sampai malam, lalu pulang.

Kedengarannya menyenangkan sampai kami mulai menghitung waktunya.

Kalau pergi pagi dan pulang setelah makan malam, waktunya mungkin bakal banyak habis di jalan. Belum lagi kalau ketemu macet. Niatnya mau santai nyobain beberapa tempat makan, malah bisa jadi seharian sibuk mengejar waktu supaya berangkat cukup pagi dan pulang gak terlalu malam.

Makanya muncul ide, gimana kalau nginep aja?

Akhirnya semua setuju.

Begitulah rencana yang awalnya cuma mau makan-makan di Bogor mendadak punya biaya kamar hotel. 

Swiss-Belcourt Bogor
Foto: swiss-belhotel.com

Ternyata Ada Tiga Swiss-Bel di Bogor

Saya pun mulai nyari hotel. Pastinya cari yang bukan ke Bogor atas alias naik-naik terus ke Puncak yang selalu macet itu.

Lalu saya keinget Swiss-Bel yang hotelnya ada di berbagai kota, termasuk Bogor. Nah, ajaibnya nih, ternyata ada tiga jaringan Swiss-Bel di Bogor, tapi beda-beda merek. Ada Swiss-Belinn Bogor si hotel bintang tiga, Swiss-Belhotel Bogor yang bintang empat, dan Swiss-Belcourt Bogor yang budget friendly.

Pilihan saya jatuh ke Swiss-Belcourt Bogor yang beralamat lengkap di Jl. Raya Baru No. 1, Bukit Cimanggu City, Bogor, Indonesia 16320.

Hotel ini memiliki 220 kamar dengan sejumlah fasilitas seperti Sky Ballroom, ruang pertemuan, Swiss-Bistro, bar & lounge, kolam renang, dan gym. Lumayan lengkap untuk hotel yang membawa konsep budget friendly, walaupun selama dua malam menginap kami gak sampai mencoba semuanya. Wong tujuan awalnya aja cuma pindah tidur dan cari makan. 

Swiss-Belcourt Bogor
Foto: swiss-belhotel.com

Slogannya Effortless and Convenient Getaway in Bogor. Sementara konsepnya budget friendly.

Tapi kamarnya gak budget tuh. Haha.

Saya pesan dua malam family room, totalnya sekitar Rp1,6 jutaan lewat Agoda, gak ada diskonnya. Kalau lewat hotel langsung malah lebih mahal lagi.

Ya sudah. Mungkin definisi budget friendly kami memang sedang tidak berada di rapat yang sama. 

Pesan lewat Agoda dapat harga 1,6 jutaan untuk 2 malam
 
Sebetulnya tiga hotel Swiss-Bel yang beda merek itu lokasinya masih cukup dekat. Jarak Swiss-Belcourt ke Swiss-Belinn sekitar 5,2–5,7 kilometer, sedangkan ke Swiss-Belhotel sekitar 6,6 kilometer.

Jarak yang saat itu kelihatannya gak penting-penting amat. Toh saya sudah tahu hotel mana yang saya pesan. Saya tahu namanya, saya tahu alamatnya, saya bahkan sudah bayar.

Apa yang mungkin salah?

Ternyata, pengetahuan itu hanya berlaku sampai saya pesan makanan lewat GrabFood. 

Nanti saya ceritain.

Lobby Hotel Swiss-Belcourt Bogor
Foto: swiss-belhotel.com

Dua Malam di Family Suite Swiss-Belcourt Bogor

Kami menginap dua malam, mulai tanggal 3 sampai 5 Juli 2025. Karena semua mau ikut, saya pesan Family Suite seluas 47 meter persegi dengan dua kamar tidur.

Saya kan pesennya yang pemandangan kota. Ternyata dikasihnya pemandangan kolam renang.

Mau lihat cowok-cowok mandi? Ya kali dari lantai 11 bisa kelihatan. 😂

Family Suite-nya cukup luas. Ada living room dengan sofa two-seater, meja, TV, meja makan, dan dapur kecil. Ada balkon juga, serta pintu dan jendela kaca menghadap keluar sehingga ruangan terasa lebih terbuka.

Meski ya, pemandangan dari kamar kami sebagian besarnya ke tower residence Swiss-Bel.

View ke tower residence yang saya maksud bisa dilihat lebih jelas dalam video yang saya unggah di YouTube pribadi berikut ini:

 
 
Masing-masing kamar tidur punya TV, lemari baju, dan meja kerja. Kamar utama menggunakan
queen bed dan punya jendela menghadap keluar, sedangkan kamar satunya menggunakan single bed dan gak ada jendela.

Saya dan suami di kamar utama, Aisyah di kamar satunya. Alief nantinya bisa tidur di sofa.

Malam pertama Alief gak ikut menginap karena masih ada kegiatan di kampus sampai malam. Katanya udah capek kalau harus nyusul ke Bogor malam-malam. Jadi kami baru komplet berempat di malam kedua.

Dengan dua kamar tidur dan ruang tengah yang cukup lega, ukuran 47 meter persegi ini terasa pas buat kami. Ada ruang untuk kumpul, tapi kalau masing-masing mau masuk kamar dan punya ruang sendiri juga bisa.

Apalagi tujuan menginap kami memang sesederhana itu: punya tempat buat tidur setelah keliling cari makan.

Walaupun pada akhirnya, malam pertama kami bahkan belum sempat keliling ke mana-mana.

Family Suite Room Swiss-Belcourt Bogor
Foto: swiss-belhotel.com

Kamar utama family suite yang kami tempati di Swiss-Belcourt Bogor
Foto: dokumentasi pribadi

Kamar kedua family suite Swiss-Belcourt Bogor
Foto: dokumentasi pribadi

Living room di family suite Swiss-Belcourt Bogor
Foto: dokumentasi pribadi

Check-in Jam 9 Malam, Besok Suami Malah Kerja

Sebetulnya gabutnya saya mesen hotel ini mayan parah sih. Kami pesan dua malam, tapi hari pertama bukannya datang pas jam check-in atau sore kek, supaya agak lama menikmati hotel, malah baru sampai sekitar jam 9 malam. Haha.

Coba, ngapain pesen dua malam kalau malam pertamanya cuma kebagian datang, masuk kamar, terus tidur? 

Tapi ya begitulah. Kami memang gak ngejar apa-apa. Nungguin suami pulang kerja dulu baru berangkat, terus di jalan kena macet karena masih weekdays dan pas pula jam pulang kerja. Karena sudah waktunya makan malam, kami makan dulu di luar. Jadi makin malam deh sampainya.

Sampai hotel udah capek. Masuk kamar, terus tidur.

Selesai. 

Family suite dengan 2 kamar

Malam pertama dari dua malam menginap sudah terpakai hanya untuk pindah lokasi tidur. Jadi kalau dari awal saya bilang tujuan menginap ini memang cuma “pindah tidur”, saya gak sedang merendah. Memang kejadian. 😂

Besok paginya saya nemenin suami sarapan lebih awal karena beliau mau berangkat kerja.

Iya, kerja.

Kami lagi nginep di hotel, beliau tetap berangkat kerja. Mungkin inilah bentuk effortless getaway versi keluarga kami: istrinya staycation, suaminya stay sebentar lalu berangkat kerja. 

Setelah nemenin suami sarapan, saya balik ke kamar jemput Aisyah buat ngajak sarapan.

Laptopan di meja makan


Laptopan di living room

Laptopan terossss

Sarapan yang Memang Sudah Saya Incar

Nah, kalau yang satu ini memang sudah saya niatin dari awal. Saya pengen nyobain sarapan Swiss-Belcourt Bogor, pengen tahu ada apa aja dan kayak mana rasanya.

Buat saya, salah satu bagian paling menyenangkan dari staycation memang sarapannya. Apalagi kalau niatnya santai dan menikmati fasilitas hotel, bagian ini hampir selalu masuk agenda utama. Tinggal turun ke restoran dan melihat ada makanan apa saja yang bisa dicoba tanpa perlu mikirin mau masak atau pesan dari mana.

Waktu menginap tiga hari dua malam di Swiss-Belcourt Bogor, saya pilih kamar family yang sudah termasuk sarapan untuk tiga orang. Sementara kami datang berempat, jadi saya putuskan untuk tambah satu porsi lagi. Harganya Rp100 ribu per orang.

Menurut saya masih tergolong ekonomis, apalagi yang ikut tambahan ini makannya memang sudah setara porsi dewasa. Jadi rasanya juga gak mungkin lagi pura-pura dihitung sebagai anak kecil demi harga lebih murah. 😄

Paling menarik perhatian

Gemblong Pekalongan

Dari segi pilihan menu, cukup beragam. Ada beberapa makanan tradisional khas Indonesia yang langsung menarik perhatian saya seperti gemblong Pekalongan, ketoprak, nasi liwet, pukis laba-laba, sampai cake tape ketan pisang.

Nah, yang terakhir ini jadi favorit saya. Teksturnya lembut, rasa manis-asinnya pas, gak terlalu kuat, tapi justru itu yang bikin enak. Tipe makanan yang awalnya cuma mau dicicip sedikit, lalu beberapa menit kemudian kepikiran lagi.

Gemblong Pekalongan dan cake tape ketan pisang juga termasuk makanan yang jarang saya temui di Pasar Modern BSD. Jadi senang aja bisa nemu dan nyobain di sini.

Secara keseluruhan, pilihan menu sarapan Swiss-Belcourt Bogor cukup mewakili berbagai selera. Mau yang berat ada, yang tradisional ada, yang manis juga ada. Tapi kalau bicara soal rasa, saya kasih nilai 7,5 dari 10.

Masih tergolong enak, hanya belum sampai tahap yang bikin saya otomatis ambil piring kedua karena takut keburu habis. Ini tentu penilaian pribadi ya, karena urusan rasa memang wilayah yang susah diajak musyawarah. Lidah orang beda-beda. 

Suasana di tempat sarapan dan menu-menu dalam hidangan sarapan saya dokumentasikan dalam bentuk video, dapat ditonton pada reels berikut: 

Ada Jamu, Saya Langsung Senang

Satu hal yang selalu saya cari saat sarapan di hotel adalah jamu. Untungnya di sini ada. Jamunya diracik sendiri oleh resto dan disajikan dalam keadaan segar. Rasanya ringan dan enak diminum pagi-pagi, apalagi suasana Bogor waktu itu cukup adem.

Buat saya, keberadaan jamu kecil-kecilan seperti ini justru bikin meja sarapan terasa lebih dekat dengan keseharian kita. Di tengah deretan roti, telur, kopi, dan berbagai menu hotel, ada sesuatu yang rasanya familiar.

Dan ya, saya senang kalau hotel berbintang masih memberi ruang untuk minuman tradisional seperti ini.

Bakery & Pastry Swiss-Belcourt Bogor
Foto: dokumentasi pribadi

Menu Sarapannya Hampir Sama di Hari Kedua

Menu yang saya temui saat sarapan pertama ternyata kurang lebih tetap sama ketika kami sarapan lagi di hari kedua. Saya yang sudah jatuh suka pada cake tape ketan pisang tentu saja nyoba lagi.

Gak perlu sok eksploratif kalau sudah ketemu yang enak. 

Sarapan kedua ini kami sudah lengkap berempat. Hari itu Sabtu dan suami juga libur kerja, jadi gak ada lagi adegan habis sarapan langsung berangkat kerja. Akhirnya formasi keluarga lengkap benar-benar terjadi di meja sarapan, justru menjelang kami pulang.

Kalau dipikir-pikir, memang begitulah menginap kami kali ini. Dua malam, tapi ritmenya tetap mengikuti kehidupan biasa. Ada yang kerja, ada yang punya kegiatan kampus, ada yang di hotel saja. Bukan liburan yang semua orang mendadak bebas dari urusan masing-masing.

Mungkin itu juga yang membuat pengalaman ini terasa santai. Gak ada agenda yang harus dituntaskan. Siapa yang ada, ya makan bareng. Siapa yang punya urusan, ya jalan dulu.

Swiss-Bistro di Swiss-Belcourt Bogor
Foto: swiss-belhotel.com


Play Ground di Swiss-Belcourt Bogor
Foto: swiss-belhotel.com

Seharian di Hotel, Akhirnya Pesan Makan ke Kamar

Cerita soal makan belum selesai. Di hari kedua kami kan gak ke mana-mana. Suami kerja, Alief pun belum ke hotel. Jadi saya sama Aisyah saja yang tinggal di hotel. Mau keluar juga males.

Akhirnya untuk makan siang kami pesan makanan lewat layanan kamar. Di Swiss-Belcourt Bogor ada restoran bernama Swiss-Bistro. Sebenarnya bisa makan langsung di sana, tapi waktu itu kami pilih pesan ke kamar saja. Lebih praktis, tinggal duduk dan nunggu makanan datang.

Nah, menunya ternyata banyak banget. Ada hidangan pembuka dan camilan seperti salad, lumpia, dan gado-gado. Ada aneka sup mulai dari sup buntut, soto kuning Bogor, laksa Singapura, sup krim jamur, sup pangsit, sup asparagus, sampai tom yum. Pilihan pasta dan burger juga ada.

Lalu ada menu Warisan Nusantara seperti ayam geprek sambal bawang, nasi goreng, gurame saus asam manis, sate ayam, mie goreng Djawa, dan tongseng kambing. Makanan pendampingnya juga panjang daftarnya: kentang goreng, tahu pedas, tempe mendoan, pangsit goreng, tahu telur asin, tahu lada garam, sampai jamur lada garam.

Belum lagi menu Asia seperti mie kuah pangsit, sapi lada hitam, fuyung hai, dan masih banyak lagi.

Panjang deh kalau disebutin semua. Intinya, pilihan makanannya banyak. Dan yang lebih penting, setelah nyobain sendiri, saya justru merasa rasa makanan dari Swiss-Bistro ini jauh lebih berkesan dibanding sarapannya.

Kalau gak pesan dan nyobain, saya mungkin gak akan tahu kalau makanan dari restonya ternyata seenak itu.



Mencoba Menu Swiss Bistro

Waktu itu saya pesan nasi sapi lada hitam, nasi goreng, tahu telur, dan minumannya saya sudah lupa apa. Jujur, saya gak sempat foto. Bukan karena tampilannya gak bagus, tapi karena saat makanan datang, saya sudah lapar banget. 

Masalahnya, durasi antara pesan dan makanan diantar lumayan lama. Saya sampai dua kali reminder ke resto. Kesalahan saya juga sebenarnya sederhana: saya pesan makanan saat kondisi sudah lapar.

Harusnya jangan. 

Karena kalau pesan makanan ketika masih santai, menunggu 30 menit mungkin terasa biasa. Tapi kalau perut sudah protes, lima menit bisa terasa seperti layanan sedang menjalani proses tender nasional. 

Saya pun sempat ngegas karena makanannya lama diantar. Untunglah begitu makanan datang dan mulai dicoba, emosinya ikut turun.

Nasi sapi lada hitamnya enak. Nasi gorengnya juga enak. Tahu telurnya pun saya suka. Jelas terasa beda jauh dengan sarapan hotel yang menurut saya cenderung lebih aman rasanya. Makanan dari Swiss-Bistro justru lebih kuat dan lebih nendang.

Porsinya memang gak sebesar dan sebanyak yang saya bayangkan, tapi sebenarnya pas. Mungkin karena waktu itu saya sudah lapar, jadi makanan yang porsinya harusnya cukup terasa kurang.

Kalau lapar memang cara mikir bisa berubah ya. Haha.

Yang jelas, pengalaman makan siang itu menyelamatkan kesan saya soal makanan di hotel ini. Sarapan boleh saya kasih 7,5. Tapi Swiss-Bistro berhasil bikin saya berpikir, “Oh, ternyata dapurnya bisa juga nih.”


Gara-Gara Ada Tiga Hotel Swiss-Bel di Bogor

Nah, malam harinya kami pesan makanan lewat GrabFood. Ini dia nih yang ternyata jadi akibat dari adanya tiga hotel Swiss-Bel di Bogor.

Waktu memilih lokasi penerima, saya cari "Swiss-Bel". Tanpa sadar saya cuma melihat nama depannya saja, gak memperhatikan ujungnya itu Swiss-Belcourt, Swiss-Belinn, atau Swiss-Belhotel.

Padahal sebelumnya saya sendiri sudah tahu kalau di Bogor ada tiga hotel Swiss-Bel. Ironis ya. Udah tahu, eh tetap aja kena. 😄

Beberapa saat kemudian saya mulai heran. Kok drivernya gak nyampe-nyampe? Di aplikasi kelihatan sudah dekat, tapi makanan gak datang juga. Saya tunggu beberapa menit lagi, tetap gak muncul.

Akhirnya kami teleponan. Saya sendiri waktu itu sudah mulai kepikiran mau protes karena kok lama banget. Eh, ternyata kata drivernya, makanan sudah sampai dan sudah dititipkan ke satpam hotel.

Lho?

Saya langsung cek ke satpam. Saya tanya, gak ada. Bolak-balik saya cek, tetap gak ada. Saya balik lagi memastikan ke driver sampai akhirnya setelah sama-sama cek, baru ketahuan penyebabnya.

Ternyata makanannya diantar ke hotel Swiss yang lain.

Astaga... 😂


Jadi ini memang murni salah saya. Waktu memilih lokasi penerima di aplikasi, saya salah pilih hotel. Drivernya justru sudah mengantar ke alamat yang memang saya kirim. Mau protes juga salah alamat. Secara harfiah. 

Akhirnya saya minta tolong sama drivernya supaya makanannya diambil lagi lalu diantar ke hotel yang benar. Saya bilang nanti saya ganti bensinnya dan saya kasih tip. Untunglah drivernya mau.

Di tengah urusan itu, beliau sempat minta tambah lagi buat rokok. Nah, yang ini saya gak langsung iyakan. Bukan pelit ya, tapi saya juga gak mau niat ngasih tip malah berubah jadi ikut nyumbang kerusakan kesehatan orang lain. 

Saya bilang nanti saya tambahin ongkos jalannya aja. Dah, gitu aja.

Alhamdulillah, setelah drama salah antar itu, pesanan akhirnya sampai juga ke Swiss-Belcourt Bogor.

Family Suite Swiss-Belcourt Bogor. Menurut informasi yang saya baca, tipe kamar ini cukup banyak dipilih keluarga, termasuk untuk menginap sampai seminggu.
Foto: swiss-belhotel.com

Family Suite Swiss-Belcourt Bogor. Ulasan tamu di Google cukup beragam, meski saya lihat banyak juga yang memberikan pengalaman positif. Kalau dari pengalaman kami sendiri, menginap di sini juga menyenangkan.
Foto: swiss-belhotel.com


Dua Kali Kelaparan dalam Sehari

Kalau dipikir-pikir, hari itu saya dua kali diuji kesabaran oleh urusan makan. Siang harinya makanan dari layanan kamar lama diantar sampai saya dua kali reminder. Malamnya, giliran makanan dari GrabFood yang malah jalan-jalan dulu ke hotel lain. 

Tentunya ini jadi kisah kedua kelaparan karena kelamaan nunggu pesanan. Udah makan siangnya lama diantar, makan malam pun pakai salah antar sehingga telat makan pula.

Padahal niat menginap ini sesederhana pindah tidur dan pindah tempat makan siang dan malam. Tidurnya sih pindah. Makannya juga dapat.

Cuma ternyata untuk sampai ke makanannya butuh perjuangan. 

Untungnya semua berakhir baik. Makanan sampai, perut kenyang, emosi turun lagi. Memang ada beberapa kejadian yang baru terasa lucu setelah semuanya selesai. Waktu kejadian sih gak ada lucu-lucunya. Yang ada cuma lapar.

Kiri: Kolam renang anak. Foto kanan: Gedung residence yang bagian paling bawahnya adalah kolan renang anak itu. 
Foto: dokumentasi pribadi

Check-out, Lalu Makan Lagi

Sabtu, 5 Juli 2025, kami check-out dari Swiss-Belcourt Bogor. Tapi tentu saja perjalanan ini belum selesai sebelum makan lagi. 

Kami meluncur ke Bumi Aki Signature di Sentul. Tadinya mau ke yang di Bogor saja, tapi karena sudah pernah, kami cari tempat lain. Ya, ke Sentul itu.

Alhamdulillah suka sih sama tempatnya. Bagus dan nyaman banget. Kalau makanannya ya gak usah ditanya lagi kualitas dan cita rasanya. Buat kami, juara lah.

Setelah dua hari sebelumnya urusan makan sempat diwarnai acara menunggu dan salah alamat, setidaknya makan terakhir sebelum pulang berlangsung damai. Gak ada reminder, gak ada makanan nyasar ke hotel lain. Tinggal duduk dan makan. 

Pemandangan Kota Bogor dilihat dari lantai 11 Swiss-Belcourt Bogor
Foto: dokumentasi pribadi

Niatnya Cuma Pindah Tidur

Seperti yang saya ceritakan di awal, sebenarnya tujuan menginap ini sederhana banget. Cuma pengen pindah tidur, sekalian pindah tempat makan siang dan makan malam. 

Tapi dari rencana yang sesederhana itu, ternyata  ada ceritanya. Ada suami yang tetap berangkat kerja meski lagi menginap di hotel. Ada saya yang jatuh cinta sama cake tape ketan pisang. Ada makan siang yang datangnya bikin saya hampir kehilangan kesabaran. Ada juga drama salah pilih hotel sampai makanan nyasar beberapa kilometer dari tempat saya menunggu.

Kalau semuanya berjalan mulus, mungkin kami cuma pulang dengan cerita pernah menginap dua malam di Swiss-Belcourt Bogor. Selesai.

Perjalanan memang begitu. Seringnya yang paling lama diingat justru bukan bagian yang sudah direncanakan, melainkan kejadian-kejadian kecil di sela-selanya. Waktu kejadian mungkin bikin kesel, begitu sudah lewat malah jadi bahan ketawa.

Jadi ya sudah, misi pindah tidur dan pindah tempat makan di Bogor sudah terlaksana. Dapat bonus latihan sabar nunggu makanan dan pelajaran penting untuk selalu membaca nama hotel sampai huruf terakhir. 

Lumayan. Pulang gak cuma bawa cucian kotor, tapi juga bawa cerita. 

Jalan-Jalan di Bogor, Bermain dan Berbelanja di SKI, Kulineran di Bumi Aki

 
Akhir pekan adalah hari di mana suamiku libur kerja, Aisyah libur sekolah, Alief libur kuliah. Dan aku, libur dari sendirian di rumah 😂

Kalau biasanya weekend kami liburan berempat saja, entah itu kumpul di rumah saja, atau pergi jalan ke mana, kulineran di mana, kali ini untuk pertama kalinya setelah pandemi, aku dan keluarga pergi liburan ramean dengan orang-orang yang aku sebut sebagai SAUDARA TERDEKAT ✨🥰 

Yak, Minggu tgl. 30 Oktober 2022 aku dan keluarga piknik rombongan ke Bogor, seharian! Buatku, piknik rombongan gini istimewa, karena bukan sesuatu yang biasa terjadi. Apalagi, rombongannya keluarga besar saudara terdekat. Bikin semangat untuk ikutan jadi menggelora. Kapan lagi ye kaaan?

Aku ikut bersama suami dan Aisyah saja. Alief enggak, dia lagi ada tugas kuliah yang harus diselesaikan segera sebelum hari Senin. Katanya, kalau ikut nanti ga ada waktu buat mengerjakan. Bisa sih pas pulang piknik, tapi kan udah capek. Kalau lagi capek, nanti gak bisa nugas dengan benar. Ok setuju dia tinggal aja di rumah 😁

Kami berangkat bareng dari BSD naik bis Blue Bird. Bisnya besar tapi ga penuh. Ada beberapa yang mendadak cancel karena beragam alasan. Kurang lebih ada 15 bangku kosong. Akhirnya dipakai buat narok barang dan bekal snack makanan selama perjalanan. Dipakai juga buat duduk santai sambil selonjoran 😂

 

Rombongan keluarga yang berangkat ada yang paket lengkap. Yakni suami, istri dan anaknya. Tapi ada ibu dengan anak-anaknya saja karena suaminya masih ada pekerjaan. Ada suami saja tanpa istri dan anaknya, serasa kayak jomblo wkwk. 

Ada pula ART nya saja yang berangkat, majikannya malah enggak 😂 ART juga bagian dari keluarga, tentu saja boleh ikutan. Makin rame makin seru.

Jam 7 pagi bus berangkat. Dalam perjalanan diadakan hiburan, biar ga bosan. Dari games berhadiah hingga karokean. Yang menang games dapat hadiah, jadi senang. Yang nyanyi dan yang dengerin juga sama senang. 

Dari acara karaoke inilah aku jadi tahu, ternyata dalam keluarga besar kami ini terdapat seorang remaja bersuara emas. Sekalinya dia nyanyi, semua terlena, terdiam takjub mendengarkan. Lalu bertepuk tangan dan memuji.

Perjalanan terasa sangat lancar. Cuaca pun cerah ceria. Tahu-tahu sudah di Bogor, sampai di tujuan pertama, SKI Bogor!


Sejujurnya aku merasa baru pertama mendengar nama SKI, singkatan dari Sumber Karya Indah. "Mbak Isti, SKI itu apa?" tanyaku pada ibu ketua rombongan 😁

SKI adalah tempat wisata di Bogor berkonsep One Stop for Shopping and Recreation. Kok aku baru dengar ya? Padahal, SKI sudah berdiri sejak tahun 20 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 23 Februari 2002. 

Setelah melihat langsung, aku dan suami jadi sama terkejut, ternyata kami pernah datang ke tempat ini, tepat 20 tahun yang lalu. Ngapain coba?

Ceritanya, tahun 2002 itu aku baru aja pacaran sama calon suami. Aku diajak kencan, tapi kencannya bertiga, sama ibunya, calon ibu mertuaku, haha. Nah, kami bertiga perginya beli tas ke Tajur, dan ternyata toko yang kami datangi kala itu adalah toko tas yang ada di SKI ini! 😱

Aku masih ingat calon ibu mertua saat itu belanja tas, dan aku dibeliin juga. "Pilih aja yang Rina suka," kata ibu. Kurang dari 3 bulan abis dari toko tas itu aku dilamar, dan menikah hingga sekarang punya dua anak 💖

Kenangan indah itu terasa nyata di depan mata, seolah baru kemarin  terjadi. Kini setelah 20 tahun aku datang lagi. Tapi berdua suami dan anak saja, tanpa ibu 😭 Saat ini ibu sedang banyak di rumah saja, sedang pemulihan paska jatuh di rumah yang bikin lengan kirinya patah😭

Ibu, 20 tahun yang lalu. Masih kuat dan sehat. Kini, sudah 70an, tua dan lemah. Semoga lekas sehat lagi, ibu. 


Toko tas SKI adalah pioner tas Tajur yang terkenal pada masanya, bahkan masih hingga sekarang. Walau tak sepopuler dulu lagi, namun tas Tajur masih diproduksi. Jadi produk andalan untuk memikat para wisatawan yang hobi berbelanja produk fashion.

Aku dan rombongan, khususnya para perempuan, begitu sampai di SKI bukannya langsung meluncur menuju wahana permainan, malah masuk toko tas duluan 😂 

Aku ajak suami dan anak keliling toko, muterin rak-rak berisi tas wanita beraneka model dan warna. Beli? Enggak wkwk. Belum ada yang cocok aja sih. Tapi bisa juga karena bingung mau beli yang mana haha.

Yang belanja tas akhirnya malah anak dan suamiku. Alhamdulillah ya, judulnya tetep belanja haha.

 

Aku tuh ya, tiap masuk toko tas buatan lokal gini, sering merasa terharu dan bangga! Bangga karena produk lokal bisa sebagus ini. Bagus buat dipakai sendiri, buat dijadikan hadiah, maupun dijadikan oleh-oleh. Dan lebih jauh lagi, ketika membeli produk mereka, berarti ada roda perekonomian yang berputar. 

Meskipun aku ga beli buat diri sendiri, aku beli buat anak dan suamiku, itu sudah cukup. Bakal bermanfaat buat kami yang pakai, dan bermanfaat pula buat penjual. 

Soal tas branded buatan luar negeri seharga puluhan hingga ratusan juta, jujur aja aku ga merasa ada perasaan istimewa terhadap itu. Bukan ga suka. Aku punya kok tas buatan luar dan belinya di luar. Pernah dibeliin suami pas ke luar negeri. Ada yang belinya pas di Singapore dan Malaysia, sampai sekarang awet, modelnya ga ketinggalan zaman biarpun udah belasan tahun. Ada pula dikasih orang, tapi jarang dipakai. Malah ada yang pernah aku jual hahaha. 

Liat keluarga pakai tas mahal? Sering! Nenekku (yang di Ciputat), malahan pernah pakai tas seharga ratusan juta, beliau punya banyak tas seharga berpuluh-puluh juta. Makanya udah ga heran dan takjub lagi liat orang lain pakai tas mahal😂

Ada yang punya perasaan sama kayak aku, yang kebanggaannya melejit tinggi jika belanja tas buatan lokal? Aku yakin banyak.


Abis belanja tas aku merasa pengen ke toilet buat pipis. Tapi mendadak terasa lapar, ditandai dengan suhu badan yang dingin, bahkan aku sampai gemetar. Otomatis bikin langkahku bukan bergerak menuju toilet, tapi bergegas masuk food court yang ada di depan toko tas. 

"Apa-apaan nih jam segini udah lapar?" tanyaku pada diri sendiri. 

"Akibat kelamaan keliling toko tas kali," canda suamiku. Hahaha

Di food court ada bakso, laksa, batagor, dimsum, toge goreng, dan lainnya. Entah setrum apa yang ada di toge goreng, bikin aku langsung pengen dan pesan ga pake mikir lagi.

Mungkiiiin setrum kuliner khas Bogor kali ya. Kalo makanan lain kan udah biasa, mudah ditemukan di mana-mana. Kalau toge goreng jarang-jarang, kalau bukan di tempat asalnya. Ya udah tuh akhirnya makan toge goreng dulu, lupa mau pipis. Kelar makan baru ingat wkwk.


Sepiring toge goreng berhasil bikin badan jadi kuat dan semangat lagi buat lanjut belanja, eh bermain, haha. Masa belanja mulu, waktunya bermain dong. 

Aku liat keluarga yang lain udah pada mencar ke mana-mana, menemani anaknya bermain. Aku dan suami juga ngajak Aisyah ke tempat bermain. Karena Aisyah udah remaja, jadi mainnya yang sesuai umur. Di antara banyak wahana bermain, Aisyah cuma pengen berkuda (kuda beneran, bukan kuda-kudaan haha), main gokart, dan main bola air. 

Nah, tempat bermain di SKI ini ternyata dekatan, ga ada yang bikin pengunjung kudu jalan jauh muter sana sini berkilo-kilo meter. Semua terkumpul di satu tempat yang buat mencapainya ga pake ribet. 

Kayak tempat berkuda, dekat dengan tempat main bola air, gokart, dan flying fox.

Berkuda jadi pilihan pertama. Kudanya berbadan sedang, bukan tinggi besar dan gagah kayak kuda Sumbawa. Malah terkesan feminin, karena berambut terurai rapi. Kata mbak yang jaga, itu rambut si kuda abis di salon. Entah beneran atau bercanda, aku iyain aja.

Sewaktu mau sewa, ada dua kuda yang nganggur. Tapi keduanya sedang makan. Si mas yang jaga minta Aisyah nunggu sebentar sampai kudanya kenyang dulu. Wah bagus ya, si masnya ga maksain kuda harus cepet-cepet kerja. 

Biaya berkuda Rp 30.000. Kukira dengan biaya segitu bakal jalan jauh, ternyata dekat saja. Perasaan baru juga jalan, eh udah puter balik lagi wkwkw.

Aisyah baru kali ini berkuda. Kebayang kan excited banget dia. Selama naik kuda teriak aneh, antara seneng dan takut. Takut tapi tertawa. Senang tapi cemas wkwkw. yang jelas dia happy sih. Ada videonya di IG ku @travelerien. Bisa ditonton di sana buat lihat.

Setelah selesai, kuda kembali diberi makan.

Melihat cara kuda diperlakukan, aku suka. Durasi jalan pendek, biar kuda ga capek. Yang boleh naik hanya anak-anak dan remaja, tapi remajanya yang mungil aja, bukan yang bongsor. Trus, abis dibawa jalan, kudanya langsung dikasih makan lagi. 

Bagus kalau gini, berarti si kuda ga disuruh kerja keras bagai kuda 😂


Abis berkuda, aku ngajak Aisyah main gokart. Iya lho, aku yang ngajak. Berarti ini yang mau main si emak-emak haha.

Kayaknya aku belum pernah main gokart gini. Pernahnya main bom bom car di Dufan, di mall, dan di mana lagi lupa. Tapi dulu, pas masih gadis. Dulu, gara-gara main bom bom car inilah jadi cepet bisa nyetir mobil. 

Main mobil-mobilan lainnya paling ATV, pas di pantai Anyer, dan di Lembang Bandung. Jadi, main gokart ini memang pertama. Ternyata bisa naik berdua, pas banget bisa barengan sama Aisyah.

Biaya main gokart di SKI Rp 40.000 / gokart. Mainnya dapat dua putaran. Kayaknya panjang dua putaran itu sekitar 1 kilo meter. Lumayan lah.

Seru sih, seru liat Aisyah jerit-jerit hahaha. Jadi awalnya, dia yang nyetir. Berhubung pas kecilnya memang belum pernah aku ajak main bom bom car, pengalaman nyetirnya ya nol. Gokart bukannya maju jalan, malah belok kiri kanan bahkan berhenti ga maju-maju wkwkw.

Akhirnya aku ambil alih, kubawa ngebut, Aisyah makin teriak wkwkwk. Videonya ada di IG @travelerien, bisa ditonton di sana buat liat.

Ohya, bangku gokartnya ini pas kalau diduduki oleh orang dewasa yang badannya kecil seperti aku. Kalau lebih gede, aku ga jamin bisa nyaman ya. Soalnya, Mas Yuzet pas naik bilang bangkunya kecil, pantatnya jadi gak nyaman wkwkw


Abis main gokart, berikutnya Aisyah main bola air. Biaya main bola air di SKI ini Rp 30.000 / bola dengan durasi 10 menit.

Tadinya Aisyah mau main sama aku, tapi pas Nasywa bilang di dalamnya panas, dia gerah keringetan, karena terkurung rapat, aku jadi ragu. Ya meskipun bolanya transparan, phobiaku pada ruang sempit mendadak muncul. Aku deg-degan. Kebayang yang enggak, takut mati lemas lah, dan lainnya wkwkw. Aku ga jadi, takut haha

Akhirnya Nasywa yang nemenin Aisyah. Kebetulan dia masih mau main lagi, padahal tadi abis bilang gerah wkwk. Tetep ya di balik gerah ada rasa happy, makanya masih mau main lagi.

Alhamdulillah Aisyah jadi ada teman masuk bola. Senang lihat mereka heboh di dalam bola. Berarti memang lebih seru berdua kalau main bola gini. Ada temen gedubrakan dan tertawa bareng. 

Dari sini aku jadi tahu cara masuk bola. Orangnya masuk dulu ke dalam bola yang kempes. Setelah di dalam, baru bola diisi udara sampai menggelembung bulat kencang. Pengisian udara dilakukan bukan di atas air, tapi di luar. Setelah bola yang berisi orang sudah kencang dan tertutup rapat, baru didorong ke air, sambil tetap terikat pada tali. Tali itu buat narik bola saat durasi permainan selesai.

Semisal ada yang ga tahan kelamaan dalam bola, walau cuma 10 menit aja maksimal, bisa titip pesan ke mas-mas yang jaga. Aku sih ngajarin Aisyah dan Nasywa kasih kode melambaikan tangan sambil digerakin menyilang. Buat tanda minta udahan.

Walau keliatannya asyik, harus liat kondisi anak ya main bola gini. Bukan karena aku lebay dan punya phobia ruang sempit, buat jaga-jaga aja karena di dalam bola itu panas. Kalau punya masalah dengan pernafasan, jangan sampai lemas di dalamnya. 

Tapi aku percaya, masalah keselamatan sudah diperhitungkan saat main gini. Makanya durasinya sebentar cuma 10 menit. Tapi kita orang tua tetap harus waspada. Jangan tinggalkan anak main sendirian. Aisyah yang udah remaja aja masih aku temani.



Awalnya, aku gak punya ekspektasi tinggi berwisata di SKI ini, tapi nyatanya pas udah di sana, bener-bener di luar dugaan. Aku suka, puas, dan merasa senang beraktivitas di tempat ini.

Walau tampilannya gak semegah, semodern, dan seramai tempat wisata lain yang pernah aku kunjungi, tapi di sini anakku, bahkan aku bisa bermain dan berbelanja dengan nyaman. Tempatnya bersih, dan kebersihannya itu terjaga.

Banyak pohon yang bikin suasana di tempat ini terlihat sangat asri. Di tengah cuaca terik, aku sama sekali ga merasa gerah, bahkan gak keringatan. Mungkin karena banyak pohon ya, bikin teduh. Angin pun berhembus semilir, bikin duduk-duduk istirahat di bawah tenda jadi betah dan nyaman. Ada masjid, toilet, dan area parkir yang memadai. 

Masuknya aja ga bayar. Mainnya saja yang bayar. Trus, ada banyak jajanan dari UMKM yang diperbolehkan jualan. Ga liar sih, teratur kok. Semua harga makanan dan minuman sangat bersahabat. Minuman es podeng mulai Rp 10.000. Es Putri Salju yang aku beli gede banget, harganya cuma 20.000. Bener-bener murah.

Tiket permainan di SKI ini juga murah. Bahkan palign mahalnya gak sampe Rp 50.000. Spot foto juga lumayan banyak pilihan. Harga makanan pun bener-bener ramah di kantong. Kayak toge goreng itu hanya Rp 15.000 per porsinya.

Main ke SKI gak bikin kantong jebol. Dan aku berterima kasih banget sama panitia piknik ini, karena udah milih SKI yang sama sekali gak mengecewakan. Malahan, aku jadi ketemu kenangan 20 tahun lalu, di sini, saat sama calon suami dan calon ibu mertua.





Setelah puas bermain di SKI, selanjutnya kami pergi ke Restoran Bumi Aki untuk makan siang dengan menu-menu pilihan. Karena orangnya banyak, makanannya udah dipesan dari jauh hari, jadi pas datang kami tinggal makan.

Tempat juga sudah dipesan, supaya kami bisa kumpul di satu area, dan semua kebagian meja. Kalau ga pesan dulu, kebayang susah buat cari tempat duduk yang bisa dekatan. Soalnya, tamu restoran ini di hari itu tuh rame banget. Pengunjungnya fuuuuullll.

Menu disajikan prasmanan. Dihidangkan lengkap. Dari minuman es kelapa, aneka buah potong, puding, nasi timbel, nasi biasa (bukan dibungkus daun), sop daging, fuyung hai, mie goreng, karedok, mendoan, ikan bakar, sate ayam, dan lainnya, dilengkapi sambal dan lalapan, serta kerupuk. Di akhir sesi makan juga dihidangkan minuman sekoteng.

Hari itu banyak tamu yang ultah. Tahunya pas penyanyi resto beberapa kali menyanyikan lagu Jamrud yang berjudul Selamat Ulang Tahun. Dari bapak-bapak muda, tua, sampai nenek-nenek usia 80 tahun dikasih lagu ultah dan disebut namanya. Nenek usia 80 tahun tersebut bahkan nyanyi segala lho di panggung live musik resto. Mantap neeek! hahaha



Setelah makan enak dan kenyang, kegiatan berikutnya belanja oleh-oleh. Kami dibawa menuju sentra oleh-oleh Bogor di Jalan Siliwangi Bogor. Di situ ada roti unyil, asinan Gedung Dalam, toge goreng, dan lainnya. 

Siapa pun bebas mau belanja apa. Soalnya bayar sendiri-sendiri hehe. Aku sendiri ga beli roti unyil, tapi beli asinan buah dan sayur. Kebetulan stock roti di rumah masih ada, jadi yang dicari selain roti saja.

Di pinggir jalan depan komplek ruko oleh-oleh, ada penjual aneka kuliner pakai gerobak. Pas aku lewat ada yang nawarin gini: "Mbak beli asinannya di sini aja, cuma 25 ribu, kalau di dalam udah 35 ribuan."

Bener sih, Asinan Gedung Dalam itu harga asinan buah Rp33.000, asinan sayur Rp35.000,- Memang lebih mahal, tapi soal rasa? Aku ga nyicipin yang versi warung seharga Rp25.000 itu. Jadi gak bisa bandingin 😁




Belanja oleh-oleh jadi kegiatan penutup acara piknik Bogor. 30 menit sebelum waktu magrib, bus bergerak membawa kami pulang ke BSD.

Alhamdulillah, sama seperti saat berangkat, perjalanan pulang juga lancar jaya, dan kami selamat. Pukul 7 malam kami sudah tiba di BSD. Tepat 12 jam sejak berangkat pukul 7 pagi.

Senang bisa ikut di acara piknik kali ini. Meskipun cuma ke Bogor, tapi berkesan. Jadi pengalaman yang menyenangkan. Karena, memang bukan ke Bogornya, tapi sama siapanya. Sama saudara terdekat 💖💕

Aku sendiri sangat menikmati kebersamaan selama piknik. Pegang HP iya, tapi buat motret. Ga kepikiran mau update IG story segala, karena fokus aja liburan, ngobrol sama anak dan suami, sama yang lainnya juga. Sesekali buka WA jawabin hal-hal yang urgent. Itu aja.

Sampai rumah baru update story, itu pun cuma 1 aja, dan ngasih tahu: "baru sampe rumah, besok kita pengumuman pemenang lomba blog ROG Phone 6 ya..." 😂 Besoknya, aku memang beneran posting pengumuman Pemenang Lomba Blog ROG Phone 6


WISATA SKI BOGOR
Jalan Pengairan RT.06/RW.01, Katulampa, Kec. Bogor Tim., Kota Bogor, Jawa Barat 16143
Buka tiap hari jam 06.00-18.00 WIB
TELP: 0253-8353685
HTM: FREE
Biaya Parkir: Motor Rp 3ribu, Mobil Rp 5.000, Bus Rp 10.000
Fasilitas: Factory outlet (tas, sepatu, baju), food court, toilet, masjid, tempat parkir, water park, arena bermain, mini zoo, restoran.

RESTORAN BUMI AKI

Tempat makan khas Sunda & lainnya yang bernuansa alam dan nyaman, plus area parkir & tempat bermain anak.
Opsi layanan: Makan di tempat · Drive-through · Antar tanpa bertemu
Alamat: Jl. Pajajaran No.51, RT.04/RW.13, Bantarjati, Kec. Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat 16153
Jam Buka 08.00-21.00WIB
Menu: buminini.co.id
Telepon: 0811-1558-518