Kulineran di Purwokerto Makan Soto dan Mendoan di Raja Soto Lama H Suradi Asli Wong Sokaraja

Akhirnya kesampaian juga makan Mendoan dan Soto Sokaraja di Purwokerto. Makannya di Raja Soto Lama H. Suradi Asli Wong Sokaraja. Senang dan kenyang banget! 😍✨

soto sokaraja purwokerto

Saat hendak ke Purwokerto bulan Juni lalu, beberapa orang teman mengatakan hal ini: "Jangan sampe gak makan mendoan dan soto ya di Purwokerto. Belum afdol sampe Purwokerto kalo belum nyobain makan keduanya!" 

Saking harus nyobain, sampe dibilang belum afdol kalau gak dilakukan 😆

Ya udah tuh, hari terakhir di Purwokerto, sebelum balik ke Jakarta, pesan itu kami laksanakan. Kami mampir ke Raja Soto Lama H. Suradi, sekalian makan siang yang hampir kesorean. 

Tadinya saya memang nggak tahu kuliner khasnya Purwokerto itu apa. Pas ada yang bilang soto dan mendoan, jadi bertanya-tanya sendiri dalam hati, "bukankah daerah lain juga pada punya soto dan mendoan? Apa bedanya? Emang seenak apa? Ciri khasnya apa? Sotonya kayak apa?"

Jadi penasaran banget kan? Iyah! 


Rumah makan soto bernama Raja Soto Lama H. Suradi Asli Wong Sokaraja terletak di Jl. Mayjend Sutoyo No.55, RT. 04/01, Sawangan, Kedungwuluh, Kec. Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53131.

Titik mula saya dan keluarga jadi berangkat ke Raja Soto Lama H. Suradi diawali dari pertemuan dengan Pungky di Menara Teratai. 

"Sudah makan soto belum?" tanya Pungky. Otomatis langsung saya jawab belum. 

"Yang udah sih makan bebek." Pas bilang gini, jadi nyengir sendiri. Karena udah tahu, masakan bebek gak ada dalam daftar makanan khas Purwokerto. Yaiyalah!

"Yah, ke Purwokerto kok makan bebek. Soto dan mendoan dong," ujar Pungky.

Nah, kan! Wkwkw

Perkataan Pungky memantapkan hati untuk ajak keluarga makan soto ke tempat yang direkomendasikan. Yakni di Raja Soto Lama H. Suradi. 

Ternyata, tempatnya dekat dari lokasi Menara Teratai gaes! Yang artinya dekat juga dari hotel yang kami inapi. Gak sampai 2 kilometer.

Apaaah? Dekat hotel? Huhu udah hari ke-2 di Purwokerto kok saya baru tahu. Telat banget. Tahu gitu sejak pertama sampai makan di sana aja. Tapi ya udahlah gak perlu disesali. Duit yang keluar berarti jadi rejekinya bebek Cak Kholiq dan warung nasi Bu Neni. Kedua tempat makan ini akan saya ceritakan di lain tulisan. Walau bukan kuliner khas, tapi makan di sana juga gak kalah enak lho.

Total jarak tempuh dari Menara Pandang ke Raja Soto Lama H. Suradi cuma 1,5KM

Mudah sekali buat mencapai rumah makan soto Raja Soto Lama H. Suradi. Kami tinggal berkendara mobil mengikuti G Maps, gak pake nyasar ke sana kemari, langsung sampai. Kecuali pakai ngesot, mungkin lusa baru sampai.

Letak rumah makannya di pinggir jalan besar. Di antara deretan toko yang saat itu kebanyakan tutup. Kami sampai saat pengunjung sedang ramai. 

Sejak dari depan sampai beberapa puluh meter ke arah kiri dan kanan rumah makan sudah dipenuhi mobil. Kami kebagian parkir agak jauh. Jalan kaki ke rumah makan juga jadi agak jauh, kurang lebih 25 meter. Untung gak sampai 25 kilo. Kalau iya keburu pingsan sebelum sampai 😅

Sampai di rumah makan sudah bisa ditebak gak bakal sepi. Bagusnya rumah makan ini gak sempit. Tapi lebar dan panjang ke belakang dengan banyak meja dan bangku untuk duduk. Cukup untuk memuat banyak orang dalam satu waktu.

Deretan mobil pengunjung Soto Sokaraja yang parkir di pinggi jalan

Masya Allah pelanggannya Raja Soto Lama H. Suradi hari itu membludak! 

Pelanggan yang makan di tempat maupun yang take away sama rame. Mereka datang silih berganti.

Saya bergegas ajak keluarga untuk cari tempat duduk. Alhamdulillah masih kebagian tempat. Setelah dapat, kami bergantian salat Dzuhur. Suami dan Alief salat, Aisyah jaga meja, saya ke depan pesan makanan. 

Mejanya perlu dijagain gaeesss wkwk. Biar gak diambil orang, nanti ga dapat tempat, ga bisa makan haha. Soalnya kami buru-buru mau balik Jakarta lagi. 

Saya mesti ke depan karena gak ada yang nyamperin. Semua pramusaji sibuk melayani pesanan. Beberapa mondar-mandir antar makanan ke meja. Mungkin karena sedang ramai. Jadinya pelanggan harus jemput bola kalau mau cepat. Itu yang saya lakukan.

Saya lalu antri di depan. Tapi ternyata setelah beberapa saat antri saya baru sadar kalau barisan antrian itu untuk yang order take away . Alamaaak!

Kalau buat makan di tempat gak usah antri, langsung bilang aja sama siapa aja yang sedang santai, atau pun yang sedang sibuk, bahwa kita mau order. Langsung dilayani. Abis pesan langsung bayar. Udah bayar baru balik ke meja. Tinggal nunggu pesanan.

Ternyata pesanannya agak lama gaes baru sampai ke meja. Sampai saya kelar solat pun belum ada tuh. Suami dan anak saya orangnya sabar. Pesanan belum diantar diam saja. Sabarnya kadang-kadang kebangetan wkwk. Gak kayak saya yang langsung nyamperin ke depan. Berhasil lho. Abis disamperin, mangkok-mangkok berisi soto berdatangan. 

The power of emak-emak emang warbiyasak! 😂

Yang sotonya belum diantar ke meja pada nengok ke depan, pertanda nungguin. Suami saya mah cuek wkwk. 

Kami mencoba dua macam menu soto. Yakni Daging Sapi Soto dan Babat Iso Soto. Masing-masing saya pesan dua mangkok, untuk berempat.

Dalam semangkok Daging Sapi Soto berisi ketupat dengan topping yang melimpah, terdiri dari taoge pendek, daun bawang, kerupuk warna-warni, bawang goreng, dan tentunya potongan daging.

Isi mangkok Babat Iso Soto pun sama, bedanya cuma pada potongan babat, bukan daging.

Kerupuknya dinamakan Kerupuk Cantir. Terbuat dari ketela pohon. Diwarnai merah, putih, dan hijau. Diremukkan dulu dengan tangan sebelum ditabur di atas mangkok, lalu disiram kuah. Bukan kuah dulu baru ditabur kerupuk. Unik kan?

Meski banyak macam soto di Indonesia, tapi tentu beda pada isian, dan juga pada kuah. Nah, kuah soto di sini pakai kuah kaldu. Kaldunya sesuai dengan daging yang digunakan. Jika soto daging sapi, kaldunya daging sapi. Begitu pun jika soto ayam, maka kuahnya pakai kaldu ayam.

Yang bikin soto Purwokerto beda itu sambalnya. Sambal Kacang Tanah. Tentunya terbuat dari kacang tanah. Mirip sambal nasi uduk Betawi di Jakarta. Mirip sambal bala-bala (bakwan). Enak? Tentu! 

Sambalnya tidak terlalu pedas. Memang agak aneh bagi yang ga biasa makan soto pakai sambal kacang. Tapi harus dicoba. Saya mencicipinya sedikit dulu, dicampur kuah. Setelah merasa nyaman, baru saya tuang ke soto. Dan akhirnya, malah nambah sambal berulang-ulang. 

Rupanya, selain rasa sedap sudah berasal dari soto itu sendiri, menambahkan sambal kacang membuat soto jadi lebih sedap lagi ketika dinikmati.

Babat Iso Soto Sokaraja

Daging Sapi Soto Sokaraja
 

Pendamping soto seperti jeruk nipis yang biasa ada saat makan soto, tidak ditemukan di sini. Hanya tersedia kecap manis di meja. Sedangkan sambal kacang diantar bersama dengan soto. Bebas diambil sebanyak yang diingin.

Sebetulnya, kalau keadaan memungkinkan, saya ingin menemui pemilik rumah makan. Bertanya beberapa hal tentang rumah makan, untuk saya ketahui. Tapi saat itu situasinya tidak tepat. Semua tampak sibuk. 

Saya hanya bisa gugling, dan mendapatkan informasi bahwa pemilik usaha Raja Soto Lama H. Suradi saat ini bernama Ika yang merupakan generasi ke-3 pengelola kuliner Soto Sokaraja. 

Soto Sokaraja termasuk kuliner otentik legendaris dengan resep asli keluarga yang digunakan sejak tahun 1970.


Ada satu makanan yang sangat ingin saya coba di sini. Yakni Mendoan.

1 porsi mendoan yang saya pesan berisi 10 potong. Dihidangkan masih dalam keadaan panas. Dilengkapi beberapa cabe rawit hijau yang rasanya aduhai pedas.

Apa yang membuat saya terkesima?

Pertama harganya. Cuma Rp 2.000 saja per potong. Untuk ukuran yang sama, saya beli di BSD harganya pernah 7.500. Pernah pula ada yang 10.000. Lha di sini 10K dapat 5. Murahnya kebangetan.

Kedua tampilannya. Putih cakep, dengan gelombang tepung yang membuat tempe seperti berambut putih keriting mekar 😁

Ketiga rasa dan teksturnya. Kok lembut? Aiih saya kadang beli mendoan luarnya kayak lembut, pas digigit agak keras. Ini pasti karena perbedaan cara menggoreng. Soal rasa, wah ini sih enak. Saya kalo bikin sendiri meski sudah pakai tepung instant khusus mendoan, kok gagal mulu enaknya ya? Makanya selalu beli jadi saja. 

Anak saya makan 2. Suami saya cukup 1. Suami memang lagi dibatasi makan makanan yang menggunakan tepung, demi kesehatannya. Jadilah sisanya saya makan sendiri. Puas? Enggak hahaha. Belinya kurang banyak. 

Kalau order lagi, lama lagi jadinya. Kami udah harus berangkat. Keburu sore. Ya udahlah, yang penting udah puas nyicipin soto sokaraja Purwokerto.

Mendoan Soto Sokaraja H. Suradi

Nyicipin Soto Sokaraja udah. Mendoannya juga udah. 

Berarti udah afdol dong ya saya ke Purwokerto? Awas aja kalau dianggap belum sah. Saya paksa traktir makan soto di sini selama sebulan tanpa jeda tau rasa😆

Harga soto IDR 25K / porsi

Harga mendoan IDR 2K / potong

Kalo di BSD Tangsel di mana ya ada yang jual soto dan mendoan seenak di Raja Soto ini?

Maaf ya ga ada foto saya. Karena selama di situ saya sibuk makan dan motoin orang 😂

Cerita jalan-jalan di Purwokerto dapat dibaca pada tulisan lainnya. Yakni Wisata Taman Mas Kemambang dan Kondangan Sambil Jalan-Jalan di Purwokerto, Menginap di Hotel Luminor. 

Cerita Naik Menara Teratai Purwokerto akan segera ditulis pada postingan berikutnya.

Enak sekali makan soto Sokaraja

Terima kasih telah membaca 💖

--Pantun yang sederhana sekali 😂😅

Seorang istri. Ibu dari dua anak remaja. Tinggal di BSD City. Gemar jalan-jalan, memotret, dan menulis.

Share this

Previous
Next Post »

24 komentar

  1. Jadi ngiler nih sama sotonya. Seger ya, apalagi toppingnya banyak. Mendoannya beda ya. Kalo di Jakarta tepungnya kuning, ini putih, sepertinya lebih enak. Harganya juga murah

    BalasHapus
  2. Hihi akibat nggak nanya dulu, jadinya salah ngambil jalur antrian deh. Untungnya segera sadar sebelum sampai di paling depan ya mbak.

    Unik ya, sambalnya pakai sambal kacang. Enak juga tuh kalau diolesin di mendoannya.

    BalasHapus
  3. Kalo ke Purwokerto tuh emang wajib mba nyobain Soto Sokaraja, mba. Kerupuk warna warninya juga bikin enak. Aku udah cobain mba. Tapi kaau tempe mendoan tuh emang bisa jadi pilihan cemilannya mbaa :)

    BalasHapus
  4. Kedua kuliner ini makanan wajib kalo ke Purwokerto, mba Rien. Hihihii, ya gak apa juga makan bebek karena enak juga pastinya ya.

    Aku tuh punya kenangan dengan mendoan dan soto Sokaraja ini, karena waktu masih usia SD udah diajakin ke Banyumas, dekat dengan Purwokerto, Di rumah bulikku ini, kami sekeluarga disajikan keduanya. Yang unik tuh, pagi saat nungguin dibuatkan sarapan, mendoan panas-panas udah tersaji di meja ruang tamu dengan teh yang nasgitel. Bulikku (al fatihah untuk beliau) pula yang ngajari aku masak soto Sokaraja ini, jadi kangen beliau.

    BalasHapus
  5. Lagi hujan deras di sini. Bikin saya jadi lapar pas baca postingan Mbak Rien. Jadi pengen Soto Sokaraja. Tapi, di sini gak tau harus cari ke mana. Andai ada pintu Doraemon hihihi

    Saya belum pernah cobain soto pakai sambal kacang. Tetapi, saya tipe yang suka penasaran. Pasti bakal dicoba deh sambal kacangnya

    BalasHapus
  6. Mbak Riennn ini postingannya kok kocak gitu sih, hahaha..
    Emang seenak itu mendoan dan soto Sokaraja. Eh tapi kalau bapak dan saudara-saudara saya (yang mana mereka asli Purwokerto) nyebutnya Sroto, Mbak. Pakai R. Hehehe. Mungkin emang ada dua versi, ya.
    Mendoan asli Purwokerto tuh emang lebarrr dan empuk, gurihhh pula. Tepungnya itu lho kok bisa cantik gitu ya hasil gorengannya. Ahhh jadi kangen makan mendoan dan sroto Sokaraja :)

    BalasHapus
  7. Soto purwokerto enakk bgt. tapi klo mendoan molly kurang suka nih goreng2an. hahaa.. nanti klo ke sana pilih mamam sotonya aja.

    BalasHapus
  8. Sampe sekarang masih misterius kenapa kok hanya orang bagian dialek ngapak yg bisa goreng mendoan dgn ciamik
    Akupun tak bisaaaa, jadinya ya gorengan tempe crispy aja.
    Duh, pan kapan aku mauuuuu kulineran k sini.maknyusss bgt 😁

    BalasHapus
  9. Mendoan Purwokerto memang fenomenal dan nikmatnya tiada tara. Kalau sotonya belum pernah nyobain aku. Penasaran dengan rasanya saat ditambah bumbu kacang. Pasti sedap seger betul..Ah jadi auto ngeces..

    BalasHapus
  10. Aishh samaa to mba q juga gasabaran, apalagi warung makan rame biasanya langsung pesen pas di depan sebelum duduk.
    Kuliner jawa tengah emang murah meriaah endeuss dijamin ramah kantong.

    BalasHapus
  11. sotonya enak itu pasti.. otentik banget dengan kerupuknya hehehe. dan harganya juga murah bangeet yaaa.. jadi pengen cobain juga

    BalasHapus
  12. Aku termasuk pecinta Soto. Tapiiii belum pernah nyobain Soto dengan menggunakan Sambal Kacang Tanah. Wowww bikin penasaran sama rasanya.

    BalasHapus
  13. Enak ini sotonya mbak
    Dulu saat ke Purwokerto aku pernah mampir
    Mendoan Purwokerto memang khas ya mbak
    Wajib beli kalau jalan jalan ke Purwokerto

    BalasHapus
  14. Dekat rumah ada soto sokaraja rasanya enak dan ramai terus, apalagi yang aslinya ya pasti lebih enak hehe mana makannya dengan mendoan dobel kombo pisaan

    BalasHapus
  15. Kalau di kampung saya apalagi, harga mendoan masih seribuan. Besarnya sama aja dengan yg di foto itu. Cuma mungkin beda kualitas. Kalau di kota harga mahal itu dianggap wajar ya. Kalau di kampung, ya gak bakalan laku

    BalasHapus
  16. Sotonya enak ini mbak. Ini termasuk soto populer di Purwokerto. Aku lama banget ga main ke Purwokerto. Jadi kangen soto

    BalasHapus
  17. Salah satu keistimewaan jajan makanan daerah di daerahnya sendiri emang lebih murah yaa, dibandingkan beli2 di sekitaran Jakarta hehe. Ooo baru tau kalau mendoan itu khasnya Purwokerto dan mereka punya soto sendiri. Semoga kapan2 bisa nyicipin. Udah tau nih tempat yang direkomendasikan : D TFS

    BalasHapus
  18. wew meriah yaa tampilan soto sokaraja khas Purwokerto. Beda dengan soto bening.
    ternyata geser kota sedikit, bentuk sotonya udah beda. banyak amat ragam soto di Indonesia.

    oh ya, itu mendoan biasanya aku beli 10rb dapat 3 di Jakarta. Di sana 10rb dapat 5, bungkus buat take away! hihi ...

    BalasHapus
  19. Mba, orang sana ga protes ya sotonya enggak disebut dengan sroto? Temanku ada yang sewot loh klo aku bilang makan Soto Sokaraja. Dia pasti bilang yang bener nyebutnya Sroto hahahahaa... duh lah.

    Mantap emang sambal kacang berpadu dengan soto, terutama yang daging. Ada satu yang tertinggal mba, biasanya ada kerupuk mie sebagai pelengkap. Dibelinya sih terpisah, tapi dimakan bareng dengan sotonya, rasanya jadi juaraaa banget deh.

    BalasHapus
  20. Waah baru tau kalau Soto Purwokerto ada sambal kacangnya. Unik ya. Soalnya kan soto lain nggak ada sambal kacang.

    Kalau kangen Mendoan enak aku biasanya ke Ayam Geprek Istimewa yang di Bogor mbak. Enaak

    BalasHapus
  21. Masa remaja aku beberapa kali ke Purwokerto. Tapi, ya, dulu kalau liburan gitu aku yang penting jalan-jalannya, mau makan apa pun bebas aja haha. Coba dulu aku sudah tahu Raja Soto Lama H. Suradi Asli Wong Sokaraja, ya. Nampak menggiurkan sotonya. Pengunjugnya juga rame banget, pasti menunya enak-enak.

    BalasHapus
  22. Saya paling suka sama mendoan karena pencinta tempe sejak kecil
    Bakalan bahagia kalau bisa mampir dan mencicipi juga kuliner satu ini
    Ah buka pagi pagi bikin lapar saja

    BalasHapus
  23. Soto eh sroto Sokaraja dan sekitarnya memang beda enaknya. Itu juga makanya soto nusantara banyak jenisnya ya. Saya kkalau mudik juga selalu pengen makan sroto. Dan kalau mendoan, pasti deh asik ipar saya bawain tiap malam karena tahu masnya yang sudah jadi wong Jeporo kangen makan mendoan sana. Aslinya tahu sih resepnya tapi eman-eman minyaknya. hehehe

    BalasHapus
  24. aku baru tahu soto Purwokerto ini Mbak, benerang beda. biasanya mentok di Soto Hj. Fatimah atau soto seger sih. kapan-kapan kudu main ke Purwokerto dan icip-icip, ggbisa bayangin rasanya soto dikasih sambal kacang yang biasanya kumakan tanpa kuah.

    BalasHapus

Leave your message here, I will reply it soon!