Makan Seafood di Kampung Ujung, Tempat Wisata Kuliner di Labuan Bajo

20.15

kampung ujung labuan bajo
Spot Kuliner Kampung Ujung - Labuan Bajo

Kampung Ujung Labuan Bajo

Namanya Kampung Ujung, terkesan jauh dan terpencil, padahal spot kuliner di pinggir pantai ini berada di keramaian kampung Labuan Bajo. 

Berlokasi tak jauh dari Pelabuhan Labuan Bajo, Kampung Ujung cukup dekat dari penginapan kami di Escape Bajo. 

Aneka seafood seperti ikan, cumi, lobster, kepiting, dan kerang tersedia. Tinggal pilih mana yang kita sukai. Jika sudah dipesan, baru dimasak sesuai dengan menu yang kita inginkan. Harganya nggak mahal-mahal amat. 

Soal rasa? Ok mari saya ceritakan ...

Sebelum belanja makan, belanja kupon dulu buat pembayaran

Ini kuponnya, beli sesuai kebutuhan saja, ga usah lebay kayak bakal makan buat orang sekampung 😂

Warung Tenda Pinggir Jalan dan Pinggir Pantai

Kita mungkin sudah pernah dan biasa makan di warung-warung tenda pinggir jalan. Tapi di Kampung Ujung, warungnya bukan hanya di pinggir jalan, melainkan juga di pinggir laut. Nah, biasa nggak tuh? Ya enggaklah. Tempat tinggalku di BSD jauh dari laut, mesti ke Anyer atau ke Ancol dulu kalau mau merasakan sensasi makan di pinggir laut. Dekat rumah sih adanya pinggir parit/ kali / sungai, bukan laut 😂

Karena berlokasi persis di pinggir laut, air lautnya terlihat sangat dekat dengan kita. Tapi tenang, nggak bakal kena air saat duduk makan di tenda. Trotoarnya tinggi. Sapuan ombak nggak akan sampai atas, air nggak bakal mengenai badan. Kecuali bila ombaknya tiba-tiba tinggi dan kencang, dipastikan bakal menghantam tembok trotoar dengan keras. Kita mungkin saja bakal kena cipratan. Tapi kan seru. Kapan lagi makan sambil dicipratin air laut wk-wk-wk. 

Meskipun di pinggir jalan, nggak berarti rawan debu dan asap kendaraan. Jalan lebar di kawasan ini memang bisa dilalui mobil, tapi saya malah nggak ada liat tuh mobil lewat. Hanya segelintir motor, itu pun jarang sekali. Lebih banyak orang lalu lalang jalan kaki saja. 

Di sini nggak ada suara berisik knalpot motor atau deru mesin mobil. Yang ada justru suara debur ombak dan berisiknya suara angin malam. Paling ramai suara sapaan para bapak/ibu penjual seafood mengajak singgah makan di tenda. Juga celoteh dan senda gurau pengunjung di tengah kesibukan mengunyah aneka masakan seafood. Itu saja.

Pertama kali datang ke sini malam hari, bareng Celly, Bayu, Kohar, dan Jeffry

Datang lagi kedua kali di waktu sore, bareng rombongan trip Komodo

Seafood Segar, Apa Iya Segar?

Setahu saya, bahan seafood disebut segar bila masih hidup dan berada dalam air. Misal disimpan dalam drum, atau masih di kolam. Seperti ketika saya makan di Jamal Portal BSD, aneka ikan, udang, cumi, kepitingnya masih dalam wadah besar berisi air. Baru diambil / dikeluarkan bila ada yang pesan. Setelah itu baru deh diolah sesuai menu yang diinginkan. 

Saya lumayan sering makan seafood segar. Salah satu tempat favorit makan seafood adalah di Belitung. Seafood di sana selalu terenak. Rahasianya ada pada bahan ikan, kepiting, cumi, dan kerang yang memang masih hidup sebelum dimasak. Oh tapi itu baru di beberapa resto yang pernah saya kunjungi saja, entah juga yang lain yang belum pernah saya datangi. Mudah-mudahan sama saja. 

Nah, dari beberapa artikel online tentang Kampung Ujung yang saya baca, rata-rata menyebut seafood di tempat ini segar. Mungkin saja ada, tapi selama 2 kali makan di sini, saya tidak menemukan penjual yang menjajakan ikan, cumi, kepiting masih dalam keadaan hidup. Adanya ikan-ikan yang telah dijejer telentang di atas meja kayu. Mata ikan-ikan itu ada yang masih bening berwarna hitam (pertanda belum lama mati), ada pula yang sudah merah dan keruh (pertanda sudah lama mati). 

Rombongan kepiting dan lobster juga dipajang di atas meja. Tak ada yang bergerak. Semuanya mematung. Bagaimana mungkin bisa bergerak wong badannya dililit tali. Mungkin biar tidak kabur kali ya. 

Begitulah penampakan bahan-bahan seafood di Kampung Ujung. Kalau kata saya sih, bukan seafood segar lagi. Meskipun mungkin belum lama dikirim oleh nelayan di sana.

Ohya, sekedar info. Rumah pelelangan ikan di Labuan Bajo ada di pinggir pantai, di bawah Escape Bajo Hotel yang saya inapi. Cukup dekat dengan Kampung Ujung. Saya pernah tahu soal itu ketika sedang berada di balkon kafe hotel dan melihatnya dari atas. Mengenai Escape Bajo bisa baca pada artikel saya sebelumnya --> Escape Bajo Labuan Bajo (klik). 
Jejeran ikan pasrah menunggu pembeli

Para lobster pun tak berdaya. Tak bisa lagi lari karena sudah dililit tali. Hanya pasrah menanti ajal dalam wajan berisi minyak panas 

Cumi, ikan, lobster, tinggal pilih mana suka

Bahagia banget lihat ginian, jadi semangat buat makan enak

Makan Seafood Enak Bareng Kawan

Menurut saya, makanan terenak itu bila bisa dinikmati sambil banyak bersyukur. Makanan terenak itu, bila rasa enaknya bisa dirasakan rame-rame. 

Makan enak tapi sendirian, mana enak?

Nah, yang bikin seafood di Kampung Ujung itu enak karena saya tidak sendirian menikmatinya, tetapi bareng teman-teman rombongan trip Komodo. Ada suasana menyenangkan ketika makan bersama. Ada senda gurau, ada obrolan ngalor ngidul, ada gelak tawa. Ada pemandangan malam di tepian Labuan Bajo yang nggak mungkin tiap hari bisa disaksikan bila sudah berada di rumah.

Mengenai rasa makanan, sebetulnya menurut saya biasa saja. Tidak terlalu istimewa. Tidak pula membuat saya jadi ketagihan untuk segera datang dan makan lagi. Meksipun begitu, bukan berarti saya akan menolak dan berhenti untuk makan di sana.

Kali pertama ke Kampung Ujung pada malam hari (13/3/2019), hanya bersama Celly, Bayu, dan Kohar. Kali kedua saya datang bersama seluruh rombongan trip Komodo (11 orang) pada keesokan hari (14/3/2019). 

Kami menginap di Escape Bajo yang berjarak cukup dekat dengan Kampung Ujung. Untuk sampai di lokasi kami hanya perlu jalan kaki kurang lebih 200 meter lewat jalan yang menurun. Jalan pas turun enak, bisa ngebut karena perut masih kosong. Giliran balik perut udah penuh, nanjak jadi berat euy. Nafas ngos-ngosan haha. Sampai hotel lapar lagi wk-wk-wk



yang kayak gini, mana rela dibagi-bagi 😂

Belanja, Makan, Menikmati Suasana

Di Kampung Ujung kita nggak sekadar bisa mengatasi urusan perut, tapi juga urusan belanja bermacam keperluan buat dibawa selama sailing komodo.

Di sini ada beberapa minimarket lokal yang cukup lengkap menjual berbagai kebutuhan. Saya sempat datang beberapa kali untuk belanja pembalut, minuman susu (beruang), mie instan buat iseng makan saat di kapal, biskuit, wafer, buah, bahkan beberapa obat dan suplemen.

Jika butuh uang cash, di sini juga ada mesin ATM seperti BNI, BRI, Mandiri. Saya lupa ada BCA apa tidak. Rasanya sih tidak ada. Tapi saya tidak yakin ya. Perlu dicek lagi. 

Ohya, buat yang butuh souvenir khas, beberapa minimarket menyediakannya. 

Di sini juga ada beberapa pria yang menjajakan kain tenun Flores. Mereka cukup aktif berpromosi, tapi sopan dan tidak memaksa. Saya yang memang ingin punya kain tenun dari daerah ini, tidak ragu untuk membeli selembar kain lengkap dengan syal/selendang. 

Kain dan syal itulah yang saya bawa selama sailing komodo. Saya jadikan properti berfoto dari pulau ke pulau.  Teman-teman bisa melihat kecantikan kain itu dalam foto yang saya bagikan dalam tulisan Pulau Padar. Baca dan klik tautan Pesona Pulau Padar.

Jajan kain tenun Flores di Kampung Ujung

Nah ini kain tenun yang saya beli. Cantik kan?

Ramean belanja di minimarket di Kampung Ujung

Ini sih tenda kulinernya bukan di atas trotoar lagi, tapi di tengah jalan. Untungnya jalan di sini bukan untuk dilewati mobil. Amanlah buat yang jualan maupun yang mau jajan makan

Ke Labuan Bajo Bareng Kohar

Ini trip pertama saya ke Labuan Bajo. Nggak nyangka perginya bareng orang-orang yang bikin sreg di hati. Beberapa dari mereka punya usaha travel, dan lainnya para traveler yang udah biasa traveling ke mana-mana. 

Dengan Celly, Jeffry, Bayu, dan Kohar saya sudah beberapa kali ketemu dan jalan bareng. Dengan Jeffry beberapa kali di Jakarta, pernah di Bali, paling sering di Belitung. Sama Kohar jalan bareng waktu di Lampung. Kalau Celly waktu di Bali.

Yang lain, memang baru pertama kali ketemu, tapi rasanya seperti sudah pernah kenal sebelumnya. Nggak berasa asing. 

Mereka tuh masih pada muda-muda, lincah, gesit, berani, ceria, dan lucu-lucu. Orang-orang yang menurut saya seru dan asyik. Cocok banget dengan kriteria teman jalan yang saya sukai. 

Pasti males lah ya kalau punya teman jalan yang pendiem, penakut, plonga-plongo, banyak melamun, malesan, baperan, cengeng, de el el.....iiih ga seru amat 😂

Yang biasa jalan emang beda dengan yang enggak. Kalau mereka ini memang intens traveling-nya,  dari satu daerah ke daerah lain, dari satu negara ke negara lain. Masih pada single sih ya. Coba kayak saya yang udah mama-mama anak dua, mana bisa intens bepergian. Sungguh banyak urusan di rumah yang harus diselesaikan ha-ha-ha.

Ohya, di antara teman jalan tadi, juga ada Kohar (bosnya Dimsum Morresto Lampung). Saya pernah liburan di Lampung sama suami, Kohar inilah yang menjamu kami di Lampung. Saya juga penah diundang makan dimsum di restorannya. Baik banget deh pokoknya adek bujang satu ini.

Nah, waktu berangkat ke Labuan Bajo saya bareng dia. Kami janjian ketemu di bandara. Nunggu di Blue Sky, premier lounge yang ada di terminal 3. Numpang nampang dulu ya sama Kohar ha-ha-ha. Apa coba 😛

Ketika bos Kohar bersandal jepit di Blue Sky 😁

otw pesawat, berasa kayak kakak mengawal adek 😁

Difoto dulu kata Kohar, biar jadi kenangan pertama kali ke Labuan Bajo 😁


Cerita Kampung Ujung nya segitu dulu, ya teman-teman. Saya nggak bahas harga karena saya lupa berapa saja harga makanan yang saya makan. Lagipula saya nggak bayar waktu itu, ditraktir oleh Celly. Tapi seingat saya, dengan kupon 20, 25, dan 50 itu, udah bisa makan seafood enak sampai kenyang.

Saya punya cerita lain makan seafood yang benar-benar enak. Masih di Labuan Bajo juga. Bukan di tenda pinggir pantai, tapi di restoran ternama. Nanti saya tulis. Tunggu di postingan berikutnya ya.

Saya jamin, seafood yang bakal saya ceritakan itu, bisa membuat para pemburu seafood enak bakal ketagihan bila makan di sana. Nantikan ya!

Terima kasih sudah membaca.

Cerita sailing komodo ini juga bisa dibaca pada tulisan saya yang lainnya:



Share this

A mother of two who loves travel and enjoy to share my journey and valuable experiences

Related Posts

Previous
Next Post »

32 Comments

  1. Ya Allah nikmat banget ini yaa.. Makan dipinggir pantai dengan suara deburan ombak. Ramenya kayak di muara karang gitu ga sih mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Weekend rame, weekdays biasa. Tapi dimusim liburan weekdaysnya rame kayak di Muara Karang :D

      Hapus
  2. Langsung gagal fokus begitu melihat cumi bakar, duh enak banget itu ya mbak Rien, pake nasi panas. Ah ingin cobain juga kuliner seafood di Labuan Bajo, semoga bisa ke Labuan Bajo, aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nasi panas pakai cumi bakar aja udah nikmat banget Tian. Ga rela dibagi-bagi haha

      Hapus
  3. Seyu ya, traveling sama treveler2 begini. Meskipun baru kenal, mereka tetap bisa asik. Ga ada prasangka satu sama lain. Malah saling dukung & menolong.

    Kalo Soal Sea Food, emang bener mba, di Belitung itu Seafood-nya seger2 banget. Makan sampe nambah.

    BalasHapus
  4. All in 1 ini namanya :) Kulineran seafood yang bisa kena cipratan air, segar2 makhluk hidupnya hihihi, trus shopping dan macam2 di Kampung Ujung Labuan Bajo adalah kenikmatan luar biasa ya. Kapan yach aku bisa kayak mbak Rien, menjelajah ke banyak destinasi wisata? Semoga ya aamiin :)

    Motif kain tenun Floresnya cakep2, mbak. Itu memang dijajakan kayak gitu di sana biasa yach? Udah gitu tenda2 jualan seafood dll sampai ke tengah jalan segala tapi ga apa2 tuh ya? Justru bikin pemandangan yang unik di sepanjang jalan kelihatan gerobaknya, tendanya, tempat bakarannya duuuh pas bener momen bahagianya deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kepo deh, itu syal / selendang yang dijual babang2 berapaan, mbak Rien? Cakep2 ya kayaknya sih ga bisa dibilang murah juga. Btw apakah kategori seafood segar itu kudu masih joged2 makhluk hidupnya? hihihihi...udah diem aja pada capek di jalan kayaknya, dari laut, ditangkep, dikekeup nelayan trus dibawa ke mana2 :D

      Hapus
    2. iya mbak, udah biasa kain tenun dijajakan seperti itu. Harga tergantung kualitas. Yang dijajakan gitu dijual harga traveler, masuk bujetlah pokoknya. Tapi memang bukan yang kualitas nomor 1 dan nggak mahal sampai berjuta juta haha

      Hapus
  5. Wah klo melihat belanja dengan voucher seperti ini, aku jadi ingat beli jajanan di food festival.
    Bayarnya juga pakai kupon seperti ini.
    Makan seafood di labuan bajo seperti ini memang sebuah kenikmatan tiada tara ya mbak. Seafoodnya terbuat dari bahan bahan yang segar, pastinya saat diolah rasanya enak pakai banget.
    Habis makan bisa lanjut shopping aneka produk khas labuan bajo ya,, komplit pengalaman jalan jalan nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. pokoknya datang ke sini bisa membantu perekonomian masyarakat setempat. Dari kuliner, oleh-oleh dan kebutuhan sehari-hari selama di sana.

      Hapus
  6. klo baca artikel ini, aku jadi ingat saat ikutan Sueger Farm Trip bareng teman teman blogger
    Kami juga makan seafood di pinggir pantai papuma Jember
    Memang paling enak makan seafood segar seperti ini ya mbak, sehat
    aku paling suka sama lobster😍😍😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyak orang suka lobster karena paling enak tapi harganya paling mahal :))

      Hapus
  7. Aduh Labuan Bajo udah bikin ngeces, sekarang Mbak Rien cerita seafoodnya

    Eniwei keren banget Mbak Rien dalam bertutur, satu kunjungan bisa jadi banyak tulisan

    huhuhu tahun lalu saya ke Ponorogo dan stuck, gak bisa nulis, hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyak yang dialami dan ditemui ketika jalan-jalan, makanya banyak yang ingin dituturkan. Kalau sekaligus nanti yang nulis dan baca ga sempat makan dan tidur karena kepanjangan haha
      Ini kucicil aja ambu. Trip 2019 baru jadi tulisannya sekarang haha

      Hapus
  8. Sebuah trip perjalanan kuliner semakin lengkap dengan seafoodnya. Terakhir ditutup dengan foto di bandara komodo. Menyenangkan!

    BalasHapus
  9. travelling ke labuan bajo memang banyak kuliner yang mesti dicicipi, waduh itu lobsternya gede-gede banget dan ikan-ikannya banyak seger-seger pula, hmm ... nikmatnya ber-travelling

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bu, traveling sebelum pandemi, nikmat sekali. Sekarang cuma bisa mengenang trip lama bu :D

      Hapus
  10. Aku kangen banget makan seafood. Kalau di pasar dekt rumah ikan ikan yg dijual terbatas banget. Kuliner ikan ini ga ada bosannya kalau saya, mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, sama. Saya juga kangen makan seafood di tempat wisata.

      Hapus
  11. Wah ngiler aku mbak hasrat ke Labuan bajo dan Pulau komodo menggelora. Rekomendasi tempat makan Seafood nya oke nih buat list kalau pandemi sudah berakhir. Hiks kangen jalan2 aku tuh. Terakhir makan Seafood enak banget di Belitung. Resto kaki lima pinggir pantai. Mantap rasa dan view nya

    BalasHapus
  12. Endingnya ngeselin.
    Padahal aku nunggu tulisan deretan angka nol lho, pengen tahu harga seafood di sana. Untuk ukuran daerah yang mepel laut, tapi kawasan wisata. Pengen tahu seberapa harganya.

    Ya walaupun bayarnya pakai kupon, senadainya suatu saat berkesempatan ke sana kan, bisa memperkirakan beli kupon seberapa banyak

    BalasHapus
  13. Di sini juga kak, di Lombok. Aku kalau makan seafood di pinggir pantai juga gitu. Ikannya bukan segar banget. Udah disimpan di boks gitu. Tapi makasih kak informasinya, kalau bisa main ke Labuan Bajo jadi tahu tempat kuliner seafood. Ditunggu review seafood di restorannya hehe

    BalasHapus
  14. Dua tahun lalu tapi masih sangat membekas ya, Mbak Rien jalan-jalannya.
    Asyiknya lihat banyak seafood begitu ... saya mungkin bisa makan banyak lihat seafood sebanyak itu. :)

    BalasHapus
  15. Huaaa... Seafoodnya menggoda banget mam... Aku udah lama ngga makan seafood segar, maklum, anak gunung. Lohat kainnya juga cakep banget ya... Btw kmrn lihat ig PUPR jalanan ke Labuan Bajo makin bagus dan pedestrian friendly. Pasti makin nyaman jalan2 di sana ya

    BalasHapus
  16. aku langsung jatuh cintaaa dengan kainnya. Tenun Flores cantik ya.. aku udah punya juga, plus Tais, Morotai, Buna, dan teman - temannya. Indahnya Indonesia memang lengkap ya mba.. makanan, alam, budaya, seni, kerajinan tangan... you name it!

    BalasHapus
  17. Labuan Bajo ternyata asik ya. Kulinernya seafood pula. Aku tu kalo seafood no problem asal bukan udang & kepiting, alergi masalahnya. Kalo ikan & kerang wuuu siaaap makaan. Kapan ya aku bisa ke Labuan Bajo. Semoga kesampean menikmati travelling ke sana.

    BalasHapus
  18. Seafood segar emang ga pernah fail :) duh, nyamnyam banget Mba semuanya. Di rumah suka seafood karena ga ada alergi cuma kotaku di tengah2 pulau Kalimantan jadi ga bisa dapatin seafood sesegar ini kapanwaktu.

    Labuan Bajo keren bangett. Dan aku auto cari IG nya Mba biar bisa liat2 foto traveling nya :)

    BalasHapus
  19. mba ulasannya bikin iri banget sih. AKu pernah ke Bajo tapi belum menjamah daratannya eh ternyata ada kuliner seafoodnya ya mba. Bisa jadi referensi kalau ke Bajo lagi

    BalasHapus
  20. Ya ampun mbak, jejeran ikan pasrah menunggu pembeli, aku kira tuh namanya memang "ikan pasrah" hahaha sampe aku pikir lagi, oh maksudnya ikannya pasrah menunggu di beli gitu ya. Pikiranku. Hahaha... pengen ke labuan bajooooo, semoga segera

    BalasHapus
  21. Aku suka seafood banget banget...
    Rasanya kalau segar memang beda yaa...manis-manis gimanaaa gitu... ((bukan dari bumbunya, tapi bawaan si ikannya))

    Kak Rien nikmaat banget yaah..di Labuan Bajo.
    Menikmati surganya makan seafood bersama teman.

    BalasHapus

Leave your message here, I will reply it soon!