Diserang Gatal di Tengah Indahnya Pulau Padar

13.43

Wisata pulau padar flores NTT
Pulau Padar, Flores NTT

Ada dua hal yang saya khawatirkan ketika sedang pergi berwisata alam. Pertama, mendadak haid. Kedua, mendadak kegatalan (alergi). Lebih mengkhawatirkan lagi jika keduanya datang serentak. Deritanya bukan main.

Jadi, di antara serunya cerita perjalanan, dibalik foto-foto indah yang mengundang decak kagum, kadang ada perjuangan melawan sakit dan gatal yang tak terceritakan. Meskipun sifatnya sementara, tapi sukses membuat mood jadi berantakan. 

Dua hal tersebut pernah saya alami serentak ketika mengunjungi Pulau Padar di Taman Nasional Komodo, Flores NTT pada bulan Maret 2019 lalu. Apa rasanya kegatalan di tengah indahnya pesona Pulau Padar? 😁

Pulau Padar, Flores NTT (dari kameranya Rio Motret lho) 😎

Turun Kapal Jam 5 pagi

Selama live on board 3 hari 2 malam di perairan Taman Nasional Komodo, saya (bersama 11 teman trip dari Jakarta) berlayar menggunakan kapal semi phinisi bernama KLM Lamborajo.

Meskipun telah berada di Labuan Bajo sejak tgl. 13-03-2021, tetapi sailing komodo baru dimulai tgl. 15-03-2019. Hari pertama mengunjungi Pulau Kenawa. Di sana berenang, snorkeling, diving (berburu penampakan manta/ikan pari raksasa), serta menghabiskan senja di gusung Makasar. Malamnya menginap di Pulau Padar. Bukan di daratan Pulau Padar, tapi di lautnya. Kapal mengapung di laut semalaman, berjarak kurang lebih 200 meter dari daratan. Apa rasanya tidur di dalam kapal? Oleng gaes ha-ha-ha, tapi seru.

Pukul 4 pagi (16-03-2019), Pak Deddy (tour guide) memanggil kami untuk bangun. Katanya, jam 5 harus turun. Yak, pagi itu jadwal menjejak Pulau Padar. Semua orang harus berangkat. Rugi kalau sampai enggak ikut eksplor Pulau Padar yang merupakan salah satu ikon wisata di Taman Nasional Komodo.

Dini hari yang tenang jadi riuh. Ada yang bergegas mandi, ada yang cuci muka dan gosok gigi saja, ada yang nggak cuci apapun tapi langsung dandan ha-ha-ha. Saya nggak mandi dong, cuma cuci muka dan ganti pakaian dalam (hari itu saya masih haid hari ke-3). Mandinya nanti saja setelah jelajah pulau.

Lalu, ngapain turun kapal pagi-pagi amat? Ya buat liat sunrise-lah buk! 

Sunrise di Pulau Padar terkenal indah gaes 😍

Kapal semi phinisi yang saya tumpangi saat sailing komodo 2019

Dandan dan Barang Bawaan

"Nggak usah banyak bawaan, nanti berat di jalan. Kita mendaki lho...." ucap pak Deddy.

"Ok, pak. Kalau begitu saya titip kamera ya." 

Lalu DSLR seberat 1,8kg itu saya serahkan ke Pak Deddy yang menerima dengan senang hati. Ulala bisa banget deh ya ngerepotin tour guide . Tapi tenang, saya punya tip khusus buat beliau, gak gratis kok 😃

Berkat Pak Deddy, ransel jadi ringan. Isinya tinggal 1 botol air minum, 2 handphone, 2 powerbank, minyak kayu putih (buat jaga-jaga kalau mendadak ga enak perut atau digigit serangga), tolak angin (siapa tahu mendadak meriang ), dan 1 bungkus biskuit buat jaga-jaga bila mendadak lapar (kami baru dikasih sarapan setelah balik ke kapal).

Saya juga bawa mantel tebal dan panjang, biar hangat! Udara pagi itu dingin. Di tambah angin laut yang bertiup, bikin menggigil. Saya belum mau flu gara-gara itu. 1 jam pertama, mantel itu memang berguna, tapi setelahnya....(simak cerita selanjutnya pas mendaki bukit di pulau) 😂

Sebelum turun kapal, tak lupa dandan. Biarpun belum mandi, yang penting muka paripurna! Padahal nantinya semua itu luntur kena keringat haha. Di foto juga nggak bakal jadi perhatian, kalah cantik sama pemandangan!

Cahaya dari kapal-kapal wisata yang bermalam di perairan Pulau Padar

Penampakan kapal-kapal wisata (salah satunya kapal kami) dilihat dari bukit di Pulau Padar

Penampakan jetty di Pulau Padar

Melaju Kencang di Atas Sekoci

Ada 1 sekoci yang selalu dibawa kemanapun kapal berlayar. Sekoci itu diikat di buritan kapal. Hanya dipakai jika hendak mengangkut kami ke daratan. Dengan sekoci itulah kami menyeberang dari kapal ke Pulau Padar. Kapal-kapal memang tidak bisa merapat karena makin dekat ke pantai airnya makin surut. 

Alam raya masih gelap ketika kami mulai menaiki sekoci. Bintang gemintang masih bertaburan di angkasa. Cahaya lain yang terlihat hanya lampu dari kapal-kapal lain yang juga menginap di perairan Pulau Padar. Kami mengandalkan senter masing-masing untuk melihat keadaan terdekat. 

Sekoci melaju kencang, hembusan angin pun tak kalah kencang. Dingin? Pasti. Untunglah mantel tebal yang saya pakai, kaos yang membungkus kaki, kerudung yang menutup kepala dan leher, serta celoteh teman-teman dalam sekoci, ampuh menghalau serangan dingin yang datang tak diundang.

Sementara teman saya ada yang berpakaian minim. Kulitnya ditampar angin, rambutnya berkibar-kibar ngalahin bendera, dia santai wae.  Hebat kalilah anak muda. Dulu waktu masih zaman zahiliyah saya juga santai di tengah udara dingin, walau berpakaian minim. Sekarang udah emak-emak zaman tobatiyah, udah beda 😂

Kostumku di Pulau Padar dan make-up yang nggak keliatan 😆

Gatal Menyerang

Sekoci merapat di jetty, kami bergantian turun, lalu berjalan bersama beriringan. Saya berjalan dekat Pak Deddy. Selain karena kamera saya berada di tangannya, juga buat berjaga dari kemungkinan diserang komodo. Hohoho saya takut komodo gaes. Lhooo, emang ada komodo di Pulau Padar?? 

Pulau Padar memang tak berpenghuni. Manusia boleh berkunjung tapi tidak untuk tinggal. Menurut informasi, kemungkinan adanya komodo 1 : 1000. Bagaimana pun pulau ini berada di kawasan Taman Nasional Komodo, habitatnya Komodo. Jadi, meski tampak aman, tetap harus waspada. Itu kenapa saya tak mau menjauh dari Pak Deddy, biar bisa diandalkan jika ada apa-apa. Saya lagi haid lho, mudah jadi incaran komodo. Apalagi saat itu masih gelap, tak mudah melihat apa yang ada di sekitar. 

Selepas meniti jetty, kami menaiki tangga kayu yang langsung mengantar ke atas bukit. Pulau ini memang dipenuhi bukit, tak heran bila sampai di pantainya langsung disuguhi jalan menanjak. Bagusnya, tangga dan jalan sudah dibuat bagus, jadi bisa dilalui dengan mudah. 

Perjalanan yang terus menanjak, memutar, lalu menanjak lagi, membuat badan berkeringat. Udara yang tadinya dingin, perlahan mulai menghilang, berganti hangat dan akhirnya membuat gerah. Saat itu saya berada di barisan paling depan, persis di belakang Pak Deddy. Teman-teman di belakang. Sempat salah seorang bertanya:

"Mbak Rien gak kepanasan tuh pakai mantel? Saya yang pakai tank top saja gerah banget..."

Benar sekali, saya gerah! Tapi mantel tidak saya lepas. Saya khawatir akan alergi gatal yang biasanya timbul dari perpaduan keringat, angin, dan gerakan yang tidak berhenti (dalam hal ini jalan kaki menanjak).

Baru juga melintas dalam pikiran, eeeh beneran gatalnya muncul!

Alamaaak, khawatir diserang komodo, malah diserang gatal. 

Tangga kayu buat nanjak bukit. Perjalanan kami masih dikelilingi gelap. Pak Deddy di depan, memimpin rombongan

Penampakan tanjakan batu. Tanjakan bagus ini belum separuh perjalanan menanjak. Sisanya adalah jalan tanah biasa. Kecil dan terjal.

Bergelut dengan Gatal

Awalnya rasa gatal itu muncul di paha, lalu betis, pinggang, dan perut. Kedua tangan saya ingin sekali menggaruk bagian-bagian itu, tapi resikonya adalah semakin gatal. Terpaksa ditahan.

"Masih jauh nggak ya naiknya?" tanya saya ke orang-orang.

"Paling 20 menit lagi sampai," jawab seseorang, entah siapa. Saya lupa.

20 menit itu lama, berarti masih jauh. Apa yang harus saya lakukan? Berhenti bergerak adalah solusi mengurangi gatal. Lalu dengan mengelap bagian gatal pakai tisu basah, supaya keringatnya bisa dihilangkan. Tapi hal itu tidak memungkinkan.

  • Jika berhenti jalan, otomatis saya menghalangi orang-orang di bawah yang sedang bergegas naik mengejar matahari terbit dari ketinggian bukit. Lereng bukit itu beneran terjal, nggak bisa sembarang pindah jalan buat naik. Satu-satunya jalan hanya yang sedang kami lewati saat itu. 
  • Mengelap badan dengan tisu basah juga nggak mudah. Agak sulit untuk berdiri tegap di tanjakan. Lagipula tidak mungkin buka baju supaya bagian-bagian yang gatal bisa dilap. Masa iya telanjang depan orang-orang haha. Saya pakai celana panjang yang ditutup rok, juga pakai mantel. Kalaupun terpaksa dibuka, perlu durasi buat membuka semua itu. Lagian repot lah ngelap-ngelap di tanjakan. 
 
Berhenti gak bisa, ngelap badan pakai tisu basah juga gak bisa. Demi melancarkan orang-orang, saya memutuskan untuk terus nanjak sambil sesekali mengusap bagian yang gatal. Mengusap ya, bukan menggaruk. Saya terus nanjak, terus, terus, dan terus, sambil nangis (diam-diam). 

Fokus nanjak bikin saya tidak sadar telah terpisah jauh dari kawan-kawan yang berada di belakang. Entah pada berhenti di mana. Hanya saya dan Pak Deddy di atas, di tempat paling puncak.

Sadar perjalanan sudah bisa dihentikan, saya langsung duduk di atas rerumputan yang masih basah. Meluruskan kaki, menahan kedua tangan, dan kemudian memejamkan mata. Bukan mau tidur ya gaes haha, tapi menahan gatal. 

"Pak Deddy, saya mau istirahat sebentar."

Di tengah rasa gatal yang amat menggila itu, sejenak saya melupakan keinginan untuk melihat matahari terbit. Mood saya sudah berantakan.

Ternyata.....

Tak ada pemandangan matahari terbit, tapi saya sangat menikmati suasana pagi di sini.
 
Sampai puncak juga meski kegatalan haha

Awan Kelabu Menggantung di Langit Pagi

"Mbak Rien cepat amat jalannya, kami sampai ketinggalan," suara seseorang membuat saya membuka mata. Ternyata Alief dan beberapa yang lainnya. Sisanya masih di bawah, tidak lanjut sampai atas.

Saya gembira melihat kedatangan Alief. Jadi semangat lagi berburu pemandangan matahari terbit. Tapi sayang, alam semesta seperti tidak mendukung. Di hadirkannya awan kelabu. Penampakan sunrise tak sedikitpun muncul dalam pandangan. Bahkan, sempat turun gerimis kecil. Untunglah hanya sesaat.

Ada setitik kecewa, tapi kemudian langsung berganti syukur. Bagaimanapun, saya berhasil melewati kesakitan (gatal) dalam perjalanan ke puncak bukit. Toh pada akhirnya saya juga tetap bisa menyaksikan pemandangan indah di tempat ini, walau tanpa matahari terbit. 

Pak Deddy sangat baik. Beliau lah yang membantu perjalanan saya menanjaki bukit, termasuk menjadi fotografer selama saya di  Pulau Padar. Hal yang tak saya sangka ternyata Pak Deddy ini kenal dan bersahabat dengan Pak Andry Garu, pengusaha hotel terkenal di Labuan Bajo. Ketika saya bercerita bahwa saya adalah kenalan Pak Andry, tampak Pak Deddy hormat pada Pak Andry. 

Mood saya perlahan membaik, rasa gatal semakin berkurang. Seiring dengan itu awan kelabu perlahan menyingkir, berganti putih berlatar langit yang mulai terlihat biru. 

Dalam keadaan tenang, alergi itu memang pergi. Tetapi, hanya sementara.....

Awan kelabu pergi, pemandangan indah tersaji

Kain tenun NTT yang saya beli di Labuan Bajo jadi properti terbaik ketika berfoto di sini

Berada di antara rumput dan bunga-bunga liar ini malah nggak gatal 😁

Gatal Pergi Untuk Kembali

Saya hanyut dalam pesona Pulau Padar. 

Semua yang saya lihat, rasa, dan dengar di tempat ini, membuat saya merasa sangat bahagia. Pantai-pantai nan elok, deretan pulau dengan berbagai bentuk dan pola, lautan dengan airnya yang berwarna hijau kebiruan, rumput liar yang menyelimuti seluruh permukaan bukit, udara yang teramat bersih, debur ombak yang terdengar di kejauhan, pasir yang begitu lembut, dan sinar matahari yang memeluk dengan begitu hangat, semuanya membuat saya tertawan.

Padar menyenangkan hati, menenangkan jiwa. 

Rasanya, tak mau berhenti menekan tombol shutter kamera. Seolah semua harus saya abadikan agar apa yang saya lihat langsung saat itu bisa jadi foto untuk saya lihat lagi di kemudian hari. 

Selama mengambil foto dan difoto, rasa gatal itu sudah hilang. Namun tak disangka kembali datang saat dalam perjalanan pulang. Seluruh kegembiraan dan kebahagiaan kembali diambil alih oleh alergi. Dan saya mulai meringis lagi, diam-diam. Ya kali teriak-teriak, bisa-bisa gempar se-Padar 😂

Yang terpikirkan kemudian adalah secepatnya pulang ke kapal. MANDI! 
Pak Deddy, tour guide kami

Teman trip 1 rombongan 

Hal-Hal yang Membuat Gatal

Saya tahu apa pemicunya, tapi saya tidak tahu kapan gatal bakal datang, sebab dengan pemicu yang sama, tidak selalu menimbulkan gatal.

  • Jalan kaki
  • Lari
  • Naik sepeda
  • Naik motor
 
Kalau sekedar jalan, lari, naik sepeda, atau naik motor saja, belum tentu kegatalan. Biasanya ada faktor penyerta, seperti:

  • Keringatan
  • Kena sinar matahari
  • Kena angin
  • Jarak jalan kaki kejauhan (1 kilo pun buat saya sudah kejauhan)
  • Kondisi tertentu pada jalan yang dilalui saat bersepeda / bermotor. Misalnya berbatu atau berlubang. Getaran maupun lonjakan yang terjadi menyebabkan gatal
 
Hal-hal yang saya lakukan bila sudah mulai terasa gatal:

  • Berhenti jalan / lari
  • Berhenti sepedaan / motoran
  • Mengelap badan dengan tisu basah, khususnya bagian yang gatal dan paling banyak keringat
  • Segera mandi
 
Tidak terjadi gatal bila: 
  • Jalan pelan dan dekat
  • Naik motor di jalan mulus
  • Naik sepeda tidak terlalu lama
  • Tidak keringatan dan tidak kena hembusan angin
Bule-bule kepanasan dan keringatan bisa buka baju. Kalau emak-emak? Bisa-bisa gempar se-Padar😂


Sembuh !

Pukul 9 kami sudah di jetty, naik sekoci, kembali ke kapal. Selama dalam perjalanan naik sekoci saya masih merasakan gatal meskipun sudah tidak separah sewaktu masih di bukit. Keringat dan angin yang menerpa di antara kencangnya laju sekoci, membuat rasa gatal itu masih bertahan. Namun saya masih menahan untuk tidak garuk-garuk badan.

Sesampainya di kapal, saya minta ijin sama yang lain untuk duluan mandi. Di kapal hanya ada 2 kamar mandi, jadi kami harus bergantian. Setelah mandi, berganti pakaian, barulah saya merasa tenang kembali. Semua rasa gatal telah pergi bersama air yang mengalir membasahi tubuh. Alhamdulillah.

Perjalanan wisata masih panjang. Kapal akan terus berlayar. Kegiatan yang akan kembali membuat saya berjalan, kena angin, keringatan, masih akan terjadi. Tapi saya tidak berhenti. Tak ingin dikalahkan oleh alergi.
Nikmatnya makan di kapal bersama kawan, nikmatnya perjalanan


Jadi, bagaimana menurutmu kawan? 

Apakah setiap yang indah-indah dari cerita perjalanan adalah tanpa kesakitan atau pun ketakutan di baliknya?

Saya mengalami hal-hal tak enak dalam melakukan hobi. Takut hantu di hotel, takut gatal di jalan, itu sudah biasa. Tapi saya tidak menyerah. Karena,

Sedikit gatalnya, banyak serunya.  
Sedikit saja gak enaknya, lebih banyak senangnya 😃


-----------------------
Cerita sailing komodo ini juga bisa dibaca pada tulisan saya yang lainnya:

Share this

A mother of two who loves travel and enjoy to share my journey and valuable experiences

Related Posts

Previous
Next Post »

39 Comments

  1. Bener, kalau lagi traveling paling takut kalo sakit. Pernah beberapa kali kena diare, ya ampun, kesiksanya luar biasa haaa gak mau lagi dah. Sejak itu selalu bawa obat ajaib kalau jalan-jalan (karbon aktif) hwhw.

    Mbak Rien kameranya boleh titip ke guide, tapi kain tetep gak boleh sampe kelupaan yaa hahaha udah jadi ciri khas itu :D kalau gak ada, terasa kurang mbak Rien-nya :D

    BalasHapus
  2. Mba Rieeen, Masya Allah perjuangannya ya, tapi melihat hasil foto-fotonya, kayaknya aku pun bakal niat sekuat tenaga hingga sampai ke Puncak, Indaaah. Mba Rien sama seperti teman SMA-ku dulu alerginya, kalau aku lebih ke batuk2 kalau alergi, cukup ganggu aktivitas memang kalau sedang kambuh, makanya obat semprot gak boleh kelupaan, huhu. Btw salut ke Pak Deddy, skill fotonya juga cakeeep.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, perjuangan menuju Pulau Padar, meski harus kena alergi tapi lihat view sekelilingnya pasti takjub. Seneng banget ya, ini perjalanan ke Puncak Padar bareng-bareng, pasti seru kalau ketemu temen terus cerita tentang perjalanannya kemarin

      Hapus
  3. Sepanjang membaca ini saya disuguhi humor yg sungguh menghibur. Wkwk. Auto senyum2 bahagia gitu napa yak. Apa saking lucunya ngebayangin mau buka baju segala. XD

    Tp serius, sy ini tipikal yg kalo kena udara dingiin bisa banget gatal. Apa ya penyakitnya, liman kalo gak salah namanya disini.

    Terus sebenarnya, yg bikin males jalan2 itu sy ini masuk aginnya parah banget. Bs sepanjang jalan muntah. Duh malu2in banget kadang.

    Sy jg tipe yg takut banget Mens mendadak pas jalan. Sering diketawain waktu SMA. XD.. Apalagi kalo di pulau komodo.. Horor dibanding liat hantu kali ya.. Haha

    BalasHapus
  4. Huaaahh seru jalannya. Eh aku kadang kalau jalan suka kayak gitu juga lho mbak, tpi kalau jalan kaki ama naik sepeda jarak jauh doang...kalau naik mobil nggak kenapa2. Kok bs gitu ya. Ntar kalau diistirahatin bentar, gatalnya reda. Aneh bgt.

    BalasHapus
  5. Walau diserang gatal, aku nggak melihatnya mba Rien kegatalan dalam foto. Teteup cakeeep. Aku ikut deg-degan haha. Masya Allah cakepnya tapi aku bayangin juga pas nanjak ada gatal, pasti campur aduk ya rasanya. Tapi hikmahnya jadi fokus ke gatal ya mbaa hihi, tau2 udah nyampe duluan sama guidenya.. ahzeeeeg. Ikuta lega gatalnya hilang ya mbaaaa. Btw, lumayan nitip kamera yaa, berat soalnya

    BalasHapus
  6. Ini cerita traveling yang keren dengan foto foto yang luar biasa top jepretannya. Saking asyiknya baca dan menikmati keindahan fotografinya, Sampai saya lupa kalau yang menulis sedang didera gatal. Terima kasih info traveling yang bagus Bu.

    BalasHapus
  7. Masyaallah...meskipun ga dapet sunrise view tapi aku tetep bisa menikmati indahnya pulau Padar dari foto2 mbak Rien..kebayang bakalan secantik apa klo emang dapet sunrise ya mbak. Btw klo alergiku tu bersin2 setiap bangun pagi mbak. Cukup mengganggu si apalagi klo pas lg traveling. Pernah pas mo naik bukit sikunir pagi buta dan harus nanjak sama bersin2 nyebelin banget si. Boro2 mikirin cantik kan di tengah jalan tissue abis pulak hahaha... pengalaman2 lucu gini jd bikin kangen traveling ya mbak

    BalasHapus
  8. Mak Rien keren euy, masih bisa ingat dengan jelas perjalanan 2 tahun lalu. Dan yang lebih luar biasa lagi, alergi sama sekali tidak menghalangi hobi. Meski tahu bakal berkeringat dan ada kemungkinan alergi gatal datang, tapi Mak Rien tetap semangat jalan-jalan.

    Terima kasih untuk ceritanya, Mak.. Semoga kelak saya bisa menginjakkan kaki di sana juga. Beginilah kalau keinginan untuk keliling Indonesia terbentur oleh keterbatasan dana. Hihi...

    BalasHapus
  9. Wah Mba seru sebenernya perjalanannya ya andaikata kegatalan nggak menyerang. Apa tiap jalan jalan Mba suka kegatalan kayak gitukah? Soalnya Mba kan suka jalan jalan. Ada kream khusus dari dokter gitu ga Mba untuk kegatalan. Jadi sebelum jalan jalan pakai salep khusus dulu gitu

    BalasHapus
  10. Mba, aku ikut garuk2 pas baca part naik ke atas sambil menahan gatal dan menangis diam saking gatalnya kerasa banget sama aku kalau gatal gitu rasanya tuh pengen garuk2 terus tapi buah perjuangan ya mba sampe juga paling duluan..btw Pak Dedy keren nih motoinnya mana mau juga ya mba bawain kamera 1,8 kg baik bener tour guidenya

    BalasHapus
  11. Yaa Allah mbak Rieeen, tambah tambah kekagumanku padamu!
    Gak salah, dari pertama liat dan kenal aku punya feeling kuat, di balik sosok mungil ini, ada;lah orang berjiwa BESAAAAARRRRRR dan KUAAAATTTTTTTTTTTT!

    AKu juga penderita alergi gatal - jalan cepat - lari dan panas adalah musuh terbesarku.

    Mungkin... mungkin mbak Rien bisa coba saranku, seandainya cocok alhamdulillah. Jadi kalau tahu aku akan mengalami perjalanan panjang, sebelum berangkat, aku membalurkan bedak Prickly Heat lavender ke seluruh lipatan dalam (siku, lutut dalam, paha, kalau perlu ke seluruh permukaan paha dan kaki!)

    Untuk darurat aku selalu punya ... minyak kayu putih! Andalan ter-bhaique pada saat gatal menyerang, aku siram aja bagian gatal itu, walau kena baju gapapa karena dia mudah menguap!

    Gunakan kaos katun dengan warna gelap - menjaga kalau keringetan dan gerah aku harus buka baju mendadak. Dulu, aku memilih menggunakan singlet daripada bra, karena sering mendadak gelisah dan garuk garuk ga jelas.. hihi tapi sekarang ada sport bra katun panjang yang di bagian perutnya longgar, jadi aku pake itu.

    Aku juga selalu bawa baju super tipis dan super longgar cadangan, ga makan tempat kok, paling sedia kantong plastik pas ganti baju kilat. Good luck selalu mbake!

    BalasHapus
  12. Perjuangan yang luar biasa untuk melihat tempat yang kece ya Maba Rien.meskipun ga bisa lihat sunrise masih ada yang lebih indaaaah.
    Btw kbayang tuh pas gatel2, aku sering rasain juga, terutama kalo pas mendaki gunung atau olah raga, luaar biasaa gereyem2 mulai darii paha menjalar kmana mana deh.
    Pokonya tetep seruuuu, kek di bawa jalan2 beneraaan ke Pulau padar.
    Trus ngeceeng tenunnyaaaaa.

    BalasHapus
  13. saya juga punya penyakit yang sama Mbak Rien, alergi dingin dan bakal gatal luar biasa

    terkadang muncul bersamaan dengan keringat

    tapi gak selalu muncul, jadi gak bisa dipastikan cuaca dingin pasti saya alergi

    sehingga sering lupa bawa obat alergi

    padahal tersiksanya ya ampun, prsis seperti kata Mbak Rien, berkurang atau sembuh sesudah mandi hangat

    BalasHapus
  14. Seru banget petualangannya di Pulau Padar. Seru pemandangan plus gatel-gatel. Wiih...kalo aku dah nyerah deh pake ada acara alergi kumat. Keren kamu mah bisa tetep melanjutkan perjalanan.

    BalasHapus
  15. MasyaAllah, pemandangan alam Indonesia Timur itu luar biasa. Senang sekali mbak, bisa mendapatkan pengalaman menjelajahi Indonesia Timur. Cuma memang enggak enak banget kalau gatel-gatel saat jalan-jalan. Mungkin karena perubahan cuaca dan udara, bisa membuat kulit jadi lebih sensitif. Saya termasuk yang akan bersin-bersin kalau di tempat baru. Semoga di jalan-jalan yang lain enggak gatal-gatal lagi ya, mbak. Semoga segera bisa jalan-jalan lagi. Saya juga mau ikutan, hehehe.

    BalasHapus
  16. Saya punya alergi yang kalau lagi kambuh gatalnya minta ampun. Jadi kayaknya saya bisa membayangkan seperti apa gak nyamannya.

    Tapi, Mbak Rien hebat, uy! Terserang gatal tetap aja gak terlihat ekspresinya. Foto-fotonya pun gak ada yang gagal. Cakep semuaaaa :D

    BalasHapus
  17. Mungkin karena gak mandi terus berjalan jauh, keringet yang deras bikin kulit jadi terasa gatal. Apalagi kalau pakai baju dan celana yang tidak gampang menyerap keringat. Tambahlah jadi-jadi itu gatalnya.

    Foto-fotonya bagus-bagus seperti biasa. Footnote nya juga ditulis dengan font yang cantik dan nyeni. Font apa itu Rien? Tampilan blog nya juga jadi lebih berkarakter

    BalasHapus
  18. Wah, beneran deh ternyata kalau lagi datang bulan dan urusan kulit, itu bikin perjalanan jadi kurang mood ya. Tapi karena mbak Rien orangnya tawakal hihihi bisa kuat nahannya demi naik ke puncak dan tetap pepotoan. Hasilnya luar biasa bangeeeeet, pasti bahagia tersenyum lebar deh hehehe :) Cantik sekali Pulau Padar ini. Apaka memang jarang dikunjungi wisatawan atau aku yang kurang tau ya tentang pulau itu? Kayak masih natural banget.

    Kepengen banget aku bisa berkunjung ke Taman Nasional Komodo. Memang butuh effort segala2 ya demi ke sana. Aku ngebayangi naik kapal lama banget, trus bisa dandan maksimal juga, paling penting sikat gigi dan serba cuci2 meskipun agak sulit sikonnya untuk mandi hahaha. Aku naik ferry cuma PP Bali-Lombok total 10 jam sih, belum jauh2. Maybe next time pengen kayak mbak jalan2nya jauhan aamiin.

    Kalau aku sih ribet eksim, karena suhu dan soal hati. Bisa kumat dan sembuh, kumat lagi tergantung sikon hehehe..... Keren ceritanya.

    BalasHapus
  19. Nah iya mbaaa, aku kalo traveling tuh jg beberapa kali mendadak gatal.
    Biasanya karena perubahan cuaca yg mayan extreme.

    Contoh kalo umroh d Mekkah kan puanaasss, lalu pindah Madinah yg dingiinn. Nah itu, aku biasanya alergi dingin kumat.... Bs gatal² bahkan mimisan juga


    Enihooo, traveling mah selalu seruuuuuu

    BalasHapus
  20. Meski diserang gatal karena alergi, lihat pemandangan pagi di atas Pulau Padar Indah banget ya Mba. Ternyata pas Mba Rien berfoto di antara ilalang dan rumput malah engga gatal, ya?

    Saya juga pernah sih pas perjalanan muntah, bikin mood turun. Terakhir staycation lagi sakit gigi. Ngilu rasanya, nyut-nyutan sampai harus minum pondstan dan tidur dulu. Padahal niatnya mau jalan-jalan bareng anak dan suami. Semua ini jadi cerita yang engga terlupakan sih selama traveling

    BalasHapus
  21. Biasanya sih bahan yg ga nyerep keringat itu bisa bisa pada numpuk dan akibatnya gatel gatel. Apalagi pada dasarnya sudah alergi otomatis gatal gatal muncul

    BalasHapus
  22. Mba Rien atuhlah keindahan padar jd pengobat pedihnya menahan rasa gatal yaaa...
    Btw aku waktu ke pulau rinca jg lagi menstruasi tp sdh tinggal sedikit jd agak tenang. Dan sepanjang explore stay di belakang ranger nya krn khawatir sm si Komo yg penciuman super tajam sm bau darah.
    Soalnya waktu itu blom lama ada kasus 2 orang wisman cewek ilang dan pas ditemukan tinggal tas sm bajunya katanya pak ranger mrk kmgkn lg menstruasi dan ga mau pakai ranger gt. Jdlah cerita tragis kayak gt

    BalasHapus
  23. Diserang gatal tapi masih bisa menikmati pemandangan indah ya mbak Rien, masya allah pemandangannya indah banget nih.

    BalasHapus
  24. Aku fokus ama fotonya mba Rien yang selalu memikat. Tajam penuh warna dengan komposisi yang pas tanpa cela. Keren. Aku pribadi belum pernah alami gatal seperti yang mba alami. Tapi suamiku dan anak yang kulit sensitif muncul gatal lebih pada faktor cuaca panas

    BalasHapus
  25. Sudah pernah ke NTB, Makasar, Ambon, Bali namun ke NTT belum. Semoga ke pulau Padar kesampaian.

    BalasHapus
  26. Subhanallah indanya ya Pulau Padar ini, dengan tanaman2nya yang hijau tentu saja membuat badan semakin fresh, pikiran pun jadi lebih tenang.

    Diberi kesempatan untuk berlibur di PUlau Padar ini tentu menjadi sebuah perjalanan yang berkesan. Terimakasih ulasannya kak sudah kubaca dan mengalir enak.

    BalasHapus
  27. Seru sekali cerita perjalanannya mbak
    memang Indonesia itu bagus ya, banyak tempat bagus yang bisa kita kunjungi, salah satunya ya Pulau Padar ini
    Btw makan di kapal nggak mual mbak? kan bergoyang goyang, hehe

    BalasHapus
  28. waaahh seru banget tripnya mbak! rasanya pengen nyobain juga deh..
    alergi itu emang gak enak ya kalau pas kambuh, untung bisa reda juga ya mbak walau saya pas baca kok ikutan panik nahan rasa gatal

    BalasHapus
  29. Pemandangannya sungguh indah sekali Mba. Memang buat tergoda mau kesana nih. Btw,kalo gatal-gatal a.k.a alergi memang bisa aja terjadi ya Mba. Saya pun saat ke Turki kemaren alami gatal-gatal seluruh kaki.

    BalasHapus
  30. Saat nanjak bukit, langsung daku bayangkan itu. Di saat normal aja daku nggak kuat nanjak karena badan kecil harus melawan angin haha.

    Apalagi mbak Rien yang sedang merasakan Gatal alergi seperti itu memang suatu hal tak terduga. Meski pas ditanjakan bisa melupakan rasa yang tak menyenangkan, terjawab dengan pemandangan indah ya mbak

    BalasHapus
  31. Kak Rieen...
    Aku juga suka gatel kalo kena gojlakan ((apa ini bahasanya? Pokoknya kalau kaya naik sepeda, kan goyang-goyang tuh...nah itu langsung gatel-gatel tak terkira)).

    Dan ternyata itu gak aneh yaa..?
    Aku pikir aku satu-satunya manusia yang mengalami ini ((sok special ceritanya, hahhaaa))

    Melihat Pulau Padar ini aku jadi inget Al, El, Dul dan Maya Estianty.
    Salah satu vlognya ada yang sekeluarga berlibur ke Pulau Padar.

    Berasa banget yaa..perjuangan buat mendapatkan foto-foto estetika.
    Sunggingan senyum memang bisa membuat yang melihatnya bahagia.
    Tapi gak tau bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan spot terbaik seperti ini.

    Kak Rien juara..
    Berasa pengen nyanyi lagunya Raisa yaak..

    **Ato lagunya NCT 127 "Highway to Heaven".

    BalasHapus
  32. Mbak Rien, cerita perjalanannha di Pulau Padar ini sangat menarik
    meski sempat terkena gatal gatal ya mbak
    klo aku biasanya gatal gatal saat jalan jalan itu klo nggak cocok sama airnya mbak
    suka sensitif kulitku klo kena air yg perbedaan terlalu ekstrim dari yg biasanya di rumah

    BalasHapus
  33. Benar mbak, foto foto yang cantik dan menakjubkan, selalunya ada cerita suka dukanya yaa. Kebayang banget mbak gimana rasanya gatal tapi susah menggaruknya, tersiksa banget kan.

    Kalau saya pernah waktu hamil gede, jalan jalan ke sentosa singapura. Pas banget sering ke kamar mandi huhu susah banget kan bolak balik pipis di tempat umum begitu, mana ga disediakan air juga kan, jadi pas jalan jalan beneran gak nyaman, alhamdulillah spot fotonya bagus bagus ya, jadi tertolong meaki mood turun naik

    BalasHapus
  34. Beberapa waktu yang lalu temenku ada yang remote working dari Lombok, Mak. Rasanya jadi pengen buru2 packing dan cuss ke sana tapi apa daya PPKM dan case yang semakin hari semakin banyak masih belum merestui untuk pergi-pergi. Semoga suatu saat nanti ada kesempatan untuk pergi ke Indonesia Timur dan siapa tau bisa berkunjung juga ke Pulau Padar :))

    BalasHapus
  35. Aku kok salfok sama foto2nya kece bingit. Belum sampe traveling aku ke sana, mupenggg..
    Kalo traveling emang kudu jejaga sambil bawa obat2an

    BalasHapus
  36. Salfok sama foto2nya cakep banget mbak

    BalasHapus
  37. Bener-bener tulisan tentang gatal ya Mba selama perjalanan. Saya bukan yg suka traveling jadi belum kebayang rasanya gatal. Argh bukan, saya gatalnya di rumah kalo kelembaban super tinggi.. dan itu bikin saya uring2an, muka udah pasti ga karuan.

    Tapi Mba tetap cakep banget di foto. Kereeen Mbaa.

    Mudahan gatal2nya segera terobati yaa. Katanya sih ada pengaruh dari flora gut yg ada di dalam

    BalasHapus
  38. Aku sering banget liat orang-orang foto disiniii. Tapi baru sekarang tau kalo namanya pulau pandar.. ehehehe. Indah banget ya maaaak, kayany destinasi wisata impian banget nih dari NTT..

    BalasHapus

Leave your message here, I will reply it soon!