Ramadan 2021 dan Cerita Rindu di Baliknya

16.50
Ramadan 2021 dan Cerita Rindu di Baliknya


Aku Kangen

"Mas aku kangen...," tulisku kepada suami, di ruang chat WA. 

"Iya, sabar ya, sayang," jawabnya. 

Udah kayak pasangan masih penganten baru belum? 😂 Nggak mesti penganten baru ya buat ngomong saling kangen. Penganten lawas kayak kami pun tetap akan terang-terangan mengatakan kangen bila memang sedang kangen. Baik lewat tulisan maupun langsung lewat ucapan.

Gimana nggak kangen coba, selama Ramadan tahun ini, bojoku kumpul bersamaku dan anak-anak hanya 6 hari. Sisanya banyak tinggal di hotel dan di luar kota (bahkan luar pulau). Sejak jelang puasa, pekerjaannya di kantor makin banyak, bahkan harus ke luar kota bolak-balik. Setiap hendak keluar kota, harus karantina dulu di hotel, mengikuti protokol kesehatan dari perusahaan. Lama karantina minimal 1 minggu. Selama di hotel tidak boleh keluar sama sekali, juga tidak boleh dikunjungi. Makan minum semua di kamar, diantar sampai depan pintu karena pegawai hotel pun tidak boleh bertemu dengannya. H-1 sebelum terbang, SWAB PCR dulu (disediakan oleh perusahaan). Bila negatif, baru boleh pergi. Saat keluar hotel menuju bandara dijaga ketat, tidak boleh mampir-mampir, bahkan untuk buang air kecil harus ditahan sampai tiba bandara. Di bandara juga tidak boleh jajan dan belanja sembarangan. Semua demi menjaga kesehatan dan keselamatan suamiku dan orang-orang di tempat tujuan. 

Lama di luar kota bisa seminggu, kadang sampai 2 minggu. Total di luar rumah bisa sampai 3 minggu. Makanya, gimana nggak sedikit waktu ketemu di rumah. Kangen nggak, kangen nggak? Kangenlah! Masa enggak haha
Karantina 1 minggu di hotel tiap sebelum traveling. Selama Ramadan buka puasa dan sahur sendirian. 

Jadwal traveling keluar kota (pulau) padat selama Ramadan.
  
Bekerja dari hotel - WFH (work from hotel) selama Ramadan 😁

Pemandangan dari kamar hotel selama suami work from hotel

Aku minta ini dan itu, Allah beri yang terbaik

Siapa yang nggak ingin selama bulan puasa suami ada di rumah? Aku sih ingin sekali. Kebiasaan yang terjadi saat ia di rumah, hal-hal seperti membangunkannya di waktu sahur, atau justru saat aku yang dibangunkan untuk menyiapkan makan sahur. Pergi ke dapur membuat makanan dan minuman kesukaannya, adalah hal menyenangkan lainnya. Atau, saat subuh menyaksikannya tadarusan dengan anak, mendengar suaranya membaca ayat-ayat suci Quran, adalah waktu-waktu terindah yang aku rindukan. Menikmati pagi hari motoran berdua menyusuri jalan komplek yang masih sepi, pergi belanja ke pasar, juga jadi kebiasaan kami di bulan puasa. Masih banyak lagi hal-hal yang bakal kulewatkan saat ia tak di rumah. Ingin ku berkata: "Duh, kok sibuk banget sih mas Ramadan ini. Apa gak bisa stop dulu kek kerja keluar kotanya."

Astagfirullah. Hampir saja berkata begitu. "Stop dulu?" Kalau sampai jadi doa, bisa stop beneran tuh kerja (alias berhenti). Duh! Untung langsung sadar betapa kata-kata itu sama sekali nggak mencerminkan pribadi yang bersyukur. Keluh yang melintas dalam pikiran langsung kuenyahkan jauh-jauh, urung keluar menjadi kata-kata. Alangkah ngeri bila terlontar diiringi amarah. Sama saja seperti marah pada Tuhan. Dulu aku nggak sehati-hati ini dalam berkata. Perjalanan waktu dan adanya pengalaman membuatku berubah. Apapun kini harus hati-hati, bahkan walau sekedar melintas sedetik dalam pikiran.

Bulan puasa tahun lalu suamiku banyak di rumah, tapi sakit. Beberapa kali harus kularikan ke IGD karena menderita sakit perut parah. Bila ingat itu, aku jadi merenung lagi. Mungkin dulu aku pernah berkali-kali berkata, atau meminta pada Tuhan, secara sadar maupun tidak, agar selama puasa banyak bersama suami. "Ya Allah, semoga bulan puasa ini suamiku banyak di sisiku dan anak-anak". Lalu Allah kabulkan: Suamiku nggak kemana-mana, tapi dalam keadaan sakit parah. Nah!

Entah kejadian sakit itu jawaban Allah atas doaku atau bukan, wallahu a'lam. Yang jelas Ramadan 2020 kami diberi ujian, suamiku tersayang terbaring di rumah sakit berminggu-minggu hingga setelah lebaran (hampir sebulan).

Alhamdulillah setelah menjalani perawatan dan pengobatan herbal berbulan-bulan, suamiku dinyatakan sembuh dan telah bebas dari batu empedu (tanpa operasi). Aku sudah pernah menceritakan secara rinci mengenai hal tersebut di blog ini, bisa dibaca dengan cara klik di sini, sana, dan sana

Ramadan tahun ini suamiku berada dalam keadaan sehat walafiat. Tubuhnya segar bugar, padat berisi dan kuat, tenaganya prima, alhamdulillah sehat luar dalam. Tapiiiiiii...ia tidak banyak di rumah! Arrghhh. 

(Saat ada yang kamu dapat, ada yang kamu lepas)

Lagi-lagi aku merenung. Mungkin ini juga adalah jawaban atas doaku tahun lalu. "Ya Allah, sehatkanlah suamiku, jangan sakit lagi, lancarkan urusan dan pekerjaannya, mudahkan ibadahnya, dan limpahkan rejeki yang baik lagi halal kepada kami. Aamiin"

Lalu Allah kabulkan dengan keadaan yang aku dapati di Ramadan kali ini. Suami sehat, pekerjaan lancar, rejeki mengalir deras tapi...nggak ada di rumah. Nah! Aku merenung lagi.

Di saat perusahaan lain ada yang oleng terkena dampak pandemi, omset turun, keuangan macet, karyawan dipecat-pecatin, dll, perusahaan tempat suami bekerja justru sebaliknya. Karenanya, semua orang di perusahaan jadi sibuk, termasuk suamiku sampai harus banyak ke luar kota, mengurus ini dan itu. Alhamdulillah yaaa. (Suamiku seorang analyst, tentang pekerjaannya pernah kuceritakan di sini ).

Ucapan biasa yang bukan doa saja Allah dengar. Apalagi kalimat doa. Ingin suami banyak di rumah, eh jadi doa, tapi dikasih sakit. Ingin suami sehat, pekerjaan lancar, rejeki bagus, eh dikasih sibuk dan nggak bisa kumpul di rumah selama Ramadan. Itu kenapa aku hampir mengeluh. Untung lekas sadar.

Diberi sakit atau pun sehat, selalu ada hikmah dan tujuan di baliknya. Aku harus sabar dan tetap bersyukur atas setiap hal yang Allah berikan dalam hidup ini. 

Perhaps you dislike something which is good for you and like something which is bad for you. Allah knows and you do not know. (Quran verse 2:216) 
💜💛💙💚

Menyambut suami pulang, aku bersih-bersih! Tak lupa sedia alat kontrasepsi wkwk

Dengan banyaknya waktu berpisah, membuat kami begitu menghargai waktu bertemu. 

Suamiku jarang di rumah bukan hanya karena sedang kerja keluar kota saja, sedang di dalam kota saja pun beberapa hari tidak di rumah karena bermalam di rumah ibu mertuaku. Hal ini sudah terjadi sejak bapak mertuaku tiada. Ibu mertuaku sudah tua. Rumah besar bertingkat punya ibu jadi kurang terurus. Sebagai anak tertua dan laki-laki satu-satunya, suamiku bertanggung jawab atas ibu. Lagipula kantor suami lebih dekat dari rumah ibu. Jadi aku pun setuju weekdays suamiku menginap di rumah ibu. Biar nggak capek juga di jalan. Aku nggak tega lihat suami bolak-balik jauh ke BSD. Lebih baik rindu dari pada suami lelah. Kadang 3 hari saja di rumah ibu, sisanya di BSD. Kadang full 5 hari, nanti hari Jumat malam, Sabtu dan Minggu baru di BSD. 

Sedikit tinggal bersama, membuatku selalu menantikan suami pulang. Bila ia pulang, aku menyambutnya dengan spesial, seperti menyambut raja. Bojoku memang raja toh, raja di hatiku #yaelah haha. 

Persiapanku menyambut suami adalah dengan sibuk berdandan! Dandan muka? Bukan muka saja, tapi semua, termasuk hati wkwk. Mendandani kamar tidur, meja makan, keseluruhan rumah, dan penampilan diriku dong ah 😂

Aku ingin saat di rumah suamiku banyak bersantai, istirahat, makan enak, nonton film bareng-bareng, pesan online makanan kesukaan, dan leyeh-leyeh saja gitu. Saat ada yang pengen suaminya di rumah banyak bantu-bantu urusan rumah, mengerjakan ini itu di rumah, aku justru ingin sebaliknya. Jadi, kalau ada hal-hal yang nggak beres di rumah, aku beresin dulu semuanya. Jangan sampai suamiku yang kerjakan. Bukan apa-apa, suamiku itu kerajinan hihi. Dia sangat tidak pemalas. Apa aja ingin dikerjakan. Nah, kalau dia ingin rajin, mending dipakai buat rajin-rajin meluk dan cium-cium kami haha

Bulan puasa kemarin, suamiku pulang di hari ke-3 puasa. Tapi nggak lama, cuma 4 hari. Hari ke -5 sudah harus menginap di hotel, karantina lagi sebelum terbang ke luar kota lagi. Aku nggak mau sia-siakan waktu, kusiapkan segala sesuatu buat kebersamaan selama 4 hari.

2 hari sebelum suamiku pulang, aku merapikan rumah, dari dalam sampai luar, bahkan sampai atap wkwk. Maksudku, aku bersiin genteng dari daun dan bunga-bunga yang gugur. Rumahku sebetulnya nggak pernah berantakin sih, cuma dibuat lebih rapi dari biasanya. Bila perlu lebih wangi dan kinclong dari biasanya. Biar suamiku nyamaaan.

Tanaman di depan rumah kuperiksa. Kalau ada yang udah ketinggian, harus segera panggil tukang potong pohon. Kalau dilihat suamiku, bisa-bisa baru sampai rumah dia langsung cari golok buat motongin itu pohon haha. Kerajinan emang.

Hal-hal sepele seperti letak baju di rak lemari, aku cek lagi, supaya baju rumah yang suka dia pakai telah berada disusunan paling atas. Suamiku kalau cari baju ribet, susunan baju bisa berubah bahkan rubuh dan jadi acak-acakan haha. Makanya biar mudah, aku atur susunannya. Hal begini pun aku lakukan dalam rangka menyambut kepulangannya ke rumah. Saking pengen manjain dia di rumah dan nggak pengen melihat dia merasa bersalah karena telah memporak-porandakan baju dalam lemari wkwk

Setiap pulang ke rumah, biasanya kami punya jadwal keluar. Entah itu untuk belanja atau pun sekedar jalan cuci mata, kulinern, lalu pepotoan gembira (ini mah akuuu haha). Nah, biasanya aku sudah cek dulu tuh mau kemana. Kalau sudah dapat yang cocok, nanti pas suamiku udah di rumah, kami tinggal jalan. Kan kasihan kalau suami udah di rumah malah dianggurin gara-gara sibuk liat hape ngecek tempat jalan dan jajan. Mending dipake buat pijit-pijitan wkwkw

Yang gak kalah penting dalam menyambut suami pulang adalah bersih-bersih diri dariujung kaki sampai ujung rambut. H-1 aku pasti ke salon buat keramas sekalian creambath atau hair spa. Kalau lagi banyak waktu sekalian deh bersiin badan (luluran) dan kaki tangan (meni pedi). Kalau nggak sempat di salon, kukerjakan sendiri di rumah. Kan banyak produk bodycare di rumah hasil endors hihi. Potong kuku tangan dan kaki, bersih-bersih kulit pakai body scrub, sampai cukur segala bulu wkwk (bulu ketek dan area kewanitaan). Harus banget bersih. Soalnya udah pasti kalau ketemu itu bakal tidur berdua, bercumbu, dan ituuuu haha. Ya namanya suami istri kangen, masa enggak sih wkwk. 

Ohiyaaa satu lagi, tak lupa cek kondom, masih ada apa enggak stocknya di kotak rahasia dalam lemari penyimpanan wkwkw. Kudu sediaaaa wkwk. Iyaaah untuk urusan satu itu kami mengandalkan kondom karena suamiku nggak mau aku disuntik-suntik KB atau dipasangi alat pencegah kehamilan di rahim hihi

Pokoknya, banyak yang aku lakukan dalam rangka menyambut suami pulang. Bukan cuma penampilan fisik diriku maupun keadaan rumah, tapi juga emosi. Kujaga banget jangan sampai ada hal-hal yang tak penting mempengaruhi emosi saat di dekat suami. Anak-anak juga kukasih tahu. Kalau ada hal-hal yang sedang tak menyenangkan, tahan, atau cepat selesaikan sebelum papa pulang. Kalau biasanya gak ada papanya pada sibuk main sama gadget, entah itu sibuk editing, sibuk gaming, sibuk chating, saat papanya di rumah harus kurangi atau tinggalkan dulu. Mereka kuminta banyakin ngobrol dan bercengkerama sama papanya. Sebetulnya tanpa aku beritahu pun, anak-anak sudah paham. Tapi tetap perlu aku ingatkan.
Melepas rindu dengan jalan-jalan berdua

Melepas rindu dengan kulineran berdua

Melepas rindu dengan jalan dan kulineran sekeluarga

Tiga Minggu Tak Bertemu

Setiap detik aku rindu, tapi hidup ini tidak melulu tentang rindu. Ada anak-anak dan rumah yang juga butuh perhatian. Memberi perhatian pada mereka inilah yang membuatku tidak mau mati karena rindu wkwk. Cuma ada di lagu ada rindu yang bikin semaput, Rindu Setengah Mati kata D'masive ha ha.

Hari-hari tanpa suami yang sedang jauh, kupakai untuk banyak hal selama di rumah. Mengurus anak, merawat tanaman, belanja, memasak, mengerjakan aktivitas online seperti ngeblog, bermedia sosial, bikin konten, melakukan hobi dan hal-hal menyenangkan seperti mendengar musik atau menonton film/drakor.

Coba kalau rindu bikin setengah mati, bisa-bisa aktivitas sehari-hari yang bejibun itu terbengkalai haha.

Malam hari, biasanya aku sama suamiku video call'an. Ngobrolin macam-macam. Tentang anak-anak ngapain aja, aku nulis apa aja, dapat endorsan apa aja wkwk itu juga dibahas. Trus gantian aku yang bahas jenggotnya yang makin panjang (karena belum dicukur), rambutnya yang makin putih cemerlang, perutnya yang makin maju (alias menggendut) hahaha. Dahlah, pokoknya obrolan emak bapak seenteng itu, tapi bikin bahagia.

"Maaf ya papa ga bisa mijit dan elus-elus mama malam ini."

Malam hari, ketika aku hendak tidur, suamiku biasa memijat punggungku, sampai aku tertidur. Kebiasaan itu sudah dari dulu. Makanya kalau lagi nggak dekatan, berasa ada yang kurang. Suamiku kangen melakukannya. Aku kangen merasakan pijatan dan elusan tangannya.

Anakku Alief saat ini sudah lulus SMA. Tgl 4 Mei lalu aku diundang wali kelasnya untuk ambil raport dan pengumuman kelulusan. Siswa tidak boleh hadir, hanya orang tua. Karena masih pandemi, proses pengambilan raport diatur menjadi beberapa waktu supaya tidak serentak. Saat datang ke sekolah Alief, aku malah jadi sedih melihat suasananya sangat sepi. Biasanya, momen kelulusan jadi moment terindah, ramai, dan mereka "berpesta" di lapangan. Tapi kini tidak.

Rasanya baru kemarin liat Alief dan teman-temannya masuk SMA, tahu-tahu sudah tamat. Aku saja sedih, gimana anaknya ya? Ternyata lebih sedih lagi. Katanya, baru juga 1,5 tahun merasakan berada di SMA, sisanya di rumah saja akibat pandemi. Baju seragam dan peralatan sekolah seperti masih baru. Belum ada yang sobek dan jebol katanya. Mencium aroma sekolah saja seperti baru diujung hidung, belum sampai menyusup ke paru-paru. Saking terasa singkatnya di sekolah.

Alief di rumah mengisi waktu dengan bermain game, editing video, sesekali keluar untuk membeli sesuatu, atau cukur rambut di barbershop langganannya. Sesekali juga dia ketemu temannya, dan kemana pun dia pergi selalu terpantau olehku. Nggak usah diminta, biasanya dia pasti share loc ke aku. Walaupun sekedar di rumah temannya yang jaraknya masih dekat dari rumah kami. Dia nggak mau aku khawatir. 

Untuk pertama kalinya pula ramadan tahun ini Alief yang mengantarkan beras ke masjid untuk membayar kewajiban zakat fitrah. Alief yang serah terima dengan petugas di masjid. Biasanya papanya. Dan ini jadi pengalaman pertama yang sangat baru bagi Alief. Aku senang melihatnya, dia sudah bisa diandalkan menggantikan tugas papanya. 

Alief menggantikan tugas papanya, pergi ke masjid membayar zakat fitrah dan lain-lainnya

Di rumah saja selama Ramadan, mengisi waktu dengan membuat konten berguna

Di rumah saja selama Ramadan, menikmati indahnya kedatangan paket-paket kece 😍😁 Thanks ASUS!

Di rumah saja selama Ramadan, terima kasih atas hampers enak-enak dan cakep bener 😍

Pergi ke SMA Alief, hari ambil raport dan pengumuman kelulusan. Biasanya berdua suami kalau urusan sekolah anak, kali ini sendiri. Suasananya sepi, akibat pandemi, aku jadi sedih 😢

Suamiku Pulang Jelang Lebaran. Nggak Jadi Sedih!

"Aku belum tahu ma pulang kapan. Belum ada jadwal pesawat."

Pada tahu kan, pemerintah membuat kebijakan larang mudik sejak tanggal 6 Mei sampai 18 Mei 2021. Nah, aku dan suamiku terpaku pada larangan itu. Suamiku yang sedang di luar kota terancam nggak bisa pulang. Bisa-bisa abis lebaran baru ada di rumah.

Sedih? Sedih dong. Sejak hidup bersamanya, aku tidak pernah lebaran sendiri tanpanya. Jika kali ini benaran nggak bisa pulang, berarti jadi lebaran pertama tanpa suamiku.

Ternyata, ada hal lain yang kami sama-sama lupa. Suamiku bukan bekerja untuk perusahaan biasa. Selama ini  urusan terbang, tidak pakai pesawat komersil, tapi pesawat sewa yang diperuntukan mengangkut karyawan perusahaan dari segala level (baik level direktur, manager, engineer, bahkan hingga seorang chef). Jadwal terbang bisa kapan saja, tidak seperti pesawat sipil. Karena itu, suamiku bisa pulang. 

Nah, di awal aku sudah cerita kenapa untuk terbang saja mesti karantina dulu 1 minggu di hotel yang sudah disiapkan perusahaan, lalu tes Swab PCR, tujuannya untuk menjamin semua yang dibawa pakai pesawat sewaan itu memang benar-benar dalam kondisi sehat.

Alhamdulillah tgl. 11 Mei terbang ke Jakarta dengan pesawat "pribadi". Hari itu, pesawat yang dinaiki suami menjadi satu-satunya pesawat yang boleh mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma. Diperbolehkan mendarat karena memang dengan ijin khusus untuk perusahaan tempat suamiku bekerja.

Situasi di bandara HPK hari itu sangat sepi. Kata suami, sebuah pemandangan langka di H-2 lebaran. Biasanya berjubel orang mudik, tapi kali ini kosong melompong. 

"Kita memang sedang berada di tengah sejarah dunia, mas," ucapku.
Situasi di area pengambilan barang di bandara Halim Perdana  Kusuma tgl. 11 Mei 2021

Situasi di terminal kedatangan Bandara Halim Perdana Kusuma tgl. 11 Mei 2021

Selepas waktu Isya, suamiku sudah di rumah. Bukan main senang rasa hati. Rindu yang menggunung akhirnya runtuh berganti oleh kebahagiaan. 

Esoknya, Rabu pagi tgl. 12/5 aku dan suami belanja beberapa keperluan lebaran. Siangnya kami ke Depok, mengunjungi ibu mertua, membawa keperluan lebaran. Malamnya kami balik ke BSD, menikmati malam takbir lebaran yang ternyata tak sepi. Mungkin karena orang-orang tak bisa mudik, jadinya keluar keliling kota saja.

Tgl 13 Mei 2021 Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1442H. Cerita lebaran, akan ku tulis di postingan berikutnya. 



Alhamdulillah

Ramadan 2021 aku dikepung rindu. Hampir ada keluh, tapi akhirnya aku bersyukur, karena di balik itu semua, banyak rahmat dan kasih sayang Allah pada kami. 

Alhamdulillah suamiku dan anak-anaku sehat jiwa raga, pekerjaan baik dan HALAL, rejeki lancar, dan ibadah terus diupayakan baik. Aku sedang sangat menikmati kebahagiaan saat ini. 

Apa yang aku rasakan atas apa yang aku punya saat ini, bukan karena aku atau suamiku hebat, tapi karena Allah SWT selalu memudahkan urusan kami.


Alhamdulillah


Share this

A mother of two who loves travel and enjoy to share my journey and valuable experiences

Related Posts

Previous
Next Post »

39 Comments

  1. Ughh 3 minggu gak jumpa pasti sekali ketemu langsung tempuuur. BUAHAHAHA. *ini si jomlo bisaaaa aja komennya.

    Nah, walau jomlo aku juga harus aware soal alat kontrasepsi. Jadi kan kalau nanti sudah tepat guna *uhuk, jadi gak kagok lagi dan gak bego-bego amat dalam penggunaannya hwhwhw.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jomblo satu ini komen pertamax, sudah ngerti pula apa itu tempur, pakai bahas alat kontrasepsi pula ckckk haha. Tolong dipelajari, ya Yan! #lho :))

      Hapus
  2. uwuwuwuw... kak Arif balik ayuk langsung siap-siap... :p

    aku mupeng sama alat tempur Alief buat bikin konten. Terlihat udah pro bener yaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ealah yang komen kedua bujang lagi haha

      Alat tempur Alief masih yang biasa ini Ded. Mau beli yang pro kayak yang biasa Deddy pakai saat foto-foto makanan belum cukup tabungannya. Doain semoga bisa punya alat tempur yang lengkap dan bagus ya Ded.

      Hapus
  3. Ah pertama saya jarang sekali menemukan tulisan blogger keseharian yang sangat menghibur bagi para pembacanya. Sangat apresiasi sekali sebelumnya.

    Sangat hangat dan romantis sekali mbak, aku bacanya ikutan hanyut (kecuali pas bagian kondom ya). Semoga tetap sehat ya suaminya dan sekeluarga. Dan selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Aamiin YRA.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah membaca, dan juga atas apresiasinya, ya Raja. Senang sekali bisa jumpa lagi di sini setelah 2 tahun lalu ketemu langsung di acara Asus di Bandung :D

      Aamiin YRA. Sehat memang jadi harapan tertinggi di situasi saat ini. Dengan sehat kita bisa melakukan banyak aktivitas, terutama ibadah, bekerja, dan semua hal baik lainnya. Semoga kesehatan dan perlindungan dari Allah juga terlimpah untuk Raja. Aamiin YRA

      Hapus
  4. baca tulisan ini, aku diingatkan sekali tetang 'berhati-hati dalam berkeinginan'.
    aku jadi memikirkan ulang, flash back ke belakang, dan bertanya dalam hati, apakah aku termasuk orang yang suka asal berucap? asal meminta?
    makasih ya mbak, udah diingetin.
    harus belajar lagi perihal ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali, Ria. Tulisan ini pun utamanya mengingatkan diriku sendiri, untuk ga mengulangi ketidakhati-hatian dalam berkata.

      Aku jadi ingat cerita orang-orang di twitter yang pernah kubaca: "dulu pada minta libur panjang setahun, tanggal merah yang banyak, eeeeh dikasih covid, jadi beneran libur panjaaaang setahun lebih.."

      Percaya nggak percaya ya, tapi aku percaya sih, kata-kata bisa jadi doa. Minta libur panjang kesannya bukan sesuatu yang buruk tapi kita nggak tahu bagaimana cara doa bekerja dan dikabulkan dalam bentuk apa. Kayak aku minta suamiku banyak disisiku, taunya dikasih sakit.

      Hapus
  5. saya pernah menjalani ldr selama 8 tahun, Mba, jadi tahu banget perasaan Mba ketika akan bertemu suami karena itu juga yang saya rasakan dan lakukan , hehehe

    Sehat selalu buat Mba sekeluarga, tulisannya enak dibaca, walau panjang tapi gak membosankan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku jadi malu, LDR 3 mingguan saja udah kayak bertahun-tahun, dan berat hihi. Padahal, Mbak Ira sangat lama (dibanding aku) sampe 8 tahun hiks. Tentu lebih pengalaman dalam hal menahan rindu dan punya lebih banyak cerita di balik LDR an selama itu.

      Aamiin mbak. Terima kasih doanya. Doa yang sama juga buat Mbak Ira ya, semoga selalu diberi kesehatan, kekuatan, dan kesabaran, dan kebahagiaan. Aamiin.

      Hapus
  6. Betul banget, kadang apa yang kita pikir terbaik buat kita dan pengen banget, belum tentu untuk Allah itu yang terbaik. Kalo nggak gitu kan cerita kontennya namti jadi beda, mbak. Hehehe. Semoga langgeng dan mesra kayak manten anyar selalu, mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. he he iya mbak, betul sekali. Seperti yang dikatakan orang-orang, selama hidup, kita ini adalah mahasiswi abadi di universitas kehidupan. Banyak yang dijumpai dan dipelajari dari apapun yang ditemui sepanjang perjalanan hidup.

      Aamiin, terima kasih banyak doanya, ya mbak. Barakallah.

      Hapus
  7. Mba Rien mah manten anyar teroooosss :D
    beneran ini mbaaa, kita kudu hati2 dgn lintasan pikiran dan ucapan, ya.
    Karena boleh jadi itu adalah doa

    Intinya you win some, you lose some. kita memang ga bisa dapat SEMUA HAL yg kita inginkan, but it's okay, selama bisa bersyukur.
    tetep semangaatttt

    BalasHapus
  8. Mbak Kate, Aku juga kangeeeennnn (padamu). LoL. Huft, makasiiiii ya, Mbak. Tulisan ini mengingatkan Aku untuk bersyukur Aja, udah. Susah amat! Karena di Masa pandemi ini aku kebanyakan ngeluh Dan berandai-andai. Padahal dikasih kesehatan juga udah amat sangat berkah Tak terhingga dari Tuhan. Sehat2 selalu ya, Mbak Kate sekeluarga

    BalasHapus
  9. perasaan baru kemarin saya baca cerita alif yang kecelakaan dan suami mbak rien yang sakit eh ternyata sekarang alhamdulillah sudah sembuh yaa. waktu memang cepat banget berlalu ya, mbak rien

    BalasHapus
  10. Masya Allah, ibu mertua sendirian yaaaa.. alhamdulillah juga sehat semua ya mba. Aku bacanya ikut deg-degaaaan, iya rasanya nggak ada suami saat ramadhan apalagi yaaa, sepi walau ada anak2 seperti ada yg hampa. Aku juga merasakan kalau pas suami balik malam nggak selalu buka bersama di rumah..
    Alhamdulillah mbaaa, semua berjalan dengan baik ya. Semoga selalu sehat bahagia dunia akhirat bersamaaa

    BalasHapus
  11. Aduh, baca cerita ini jadi kebayang hidupnya 4-5 tahun ke depan. Memang sekarang aku belum halal sih tapi sedang menuju tahap itu sambil nabung untuk biaya pernikahan dan ke depannya, sejak pacaran aja udah jalanin LDR karena pekerjaan, dan kemungkinan ketika menikah juga akan tetap seperti itu. Semangat terus mbak buat kerjaan suaminya dan semoga setelah lebaran juga tetap sehat-sehat dan pekerjaannya bisa sukses terus.

    BalasHapus
  12. Ya kangeenlah! Jngnkan 3 minggu ditinggal kerja 1 hari sja udah pengen ketemu mulu tuh.Gak usahlah penganten baru, yang udah dpt medali Emas (50 tahun) married anniv aja ada tuh rasa kangen.

    BalasHapus
  13. Aku belum pernah punya hubungan romantis yang kaya gini, apalagi kalau soal LDR jadinha ga bisa relate hehehe. Tapi emang sih rasanya lebaran tahun ini segalanya terasa jauh bahkan dengan komunikasi via telfon/chat. Semoga mba dan keluarga tetap sehat dan awet terus :)

    BalasHapus
  14. Aah....kak Rien so sweet~
    Aku kaya baca novel yaa...awalnya dibuka dengan kisah, konflik dan berakhir bahagia. Alhamdulillah.
    Aku terharu terutama bagian kak Rien menuliskan anak-anak yang sudah gak terasa beranjak dewasa.

    Semoga Allah senantiasa berikan keberkahan di setiap kesabaran kak Rien.
    Huhuu...ujiannya pisah sama suami gini terasa beratnya yaa...

    BalasHapus
  15. rasanya pasti sangat rindu ya mba, dulu aku juga sering ditinggal dinas sama suami ke luar kota, minimal 7 hari pernah hampir sebulan..

    BalasHapus
  16. Alhamdulillah saat ini udah hampir 2 tahun akhirnya aku yang harus merasakan LDR mbak Rien...

    Pandemi benar benar mengubah segalanya. Aku masih bersyukur bang Dho selama ini PP setiap minggu - jadi kadang 5/2 kadang 4/3 tapi ya pernah juga 10/3 gitu

    Bersyukur? Aku malah bersyukur karena tadinya selama 20 tahun sudah merasakan pahit manisnya, dan ini salah satu doa kami juga kali ya, mau usaha di luar kota, mau punya rumah di pinggiran kota.

    Berucap - berdoa bahkan berpikir,
    sekarang kurasakan semua terbukti benar. Tuhan kadang tidak mengabulkannya dengan cara yang kita minta, itu sebabnya aku sekarang berhati-hati sekali "meminta"

    Suka bangeeeet sama kisah ini,
    dan selalu deh aku terpaku di artikel artikel lainnya hahahaha

    BalasHapus
  17. Baca tulisan ini saya sambil senyum-senyum sendiri. Duh, romantis banget sih mba... Semoga romantis terus sampai akhir hayat ya mba...

    BalasHapus
  18. Samaa mbaaa. Aku sampai skarang selalu blang kangen ke suami. Padahal baru pagi ketemu dan ntar sore pulang kerja ketemu lagi. Hahaha. Kebayang yang kangennya karna LDR. Alhamdulillah bisa kumpul bareng ya dalam keadaan sehat. Kondom wajib ada nggak hanya yang LDR saja tapi buat aku yang setiap hari ketemu. Hahha

    BalasHapus
  19. halo Mba, kalo anak udah gede emang jadi banyak fokus ama diri sendiri dan pasangan ya Mba, sebab anak2 sudah mandiri, banyak hal receh yang dilakukan tapi malah bisa saling mneguatkan, semoga selalu sehat dan akur. aamiin

    BalasHapus
  20. alhamdulillah seneng banget ini baca cerita ramadan dan paket rindunya Mba Rien...
    Waah anak2 udah gede malah makin bisa roromantisan yaa kalau lagi berdua suamik. klo masih krucils mah susssaah beet buat duduaan hahaha #eh kok malah curcol ndiri

    BalasHapus
  21. I feel you, Mbak...aku pernah LDM-an, bahkan selama puasa dan lebaran pernah ga pulang, suamiku di camp, shift balik Jakarta dua minggu pasca lebaran...Tapi dah lewat sekarang dah ngumpul lagi
    Benar memang kalau segala kita keluhkan kuatir jadi kenyataan...suami di rumah tapi sakit kan enggak banget yak
    Btw, pantesan begitu suami pulang langsung masak banyak ya, Mbak Rien...Ternyata dirapel masaknya...haha
    Salam bahagia bersama keluarga

    BalasHapus
  22. Alhamdulillah kak akhirnya bisa hepi-hepi melepas Rindu saat lebaran ya... Sabar itu memang hadiahnya istimewa ..Sehat selalu bersama keluarga ya kak..

    BalasHapus
  23. Duh, kaya apa rasanya aku dan anakku kalau 3 Minggu gak ketemu ayahnya ..
    Lah wong, kalau pulang telat aja anakku udah rewel (kebalik ya bukan aku yang rewel) hahaha

    BalasHapus
  24. Mbk Rien, aku baca ini sambil senyum senyum sendiri wkwkwk.. Masya Allah, Alhamdulilah ya mbk untuk semuanya.
    Aku udah nggak LDR mbk, cukup 9 bulanan aja LDR ahahaha. Penting banget ya mbk bilang sayang, kangen lewat chat. Akupun gitu ahahaha
    Baarokallah mbk Rien dan mas Arif

    BalasHapus
  25. Duh kebayang nih romantis bulan madu ke dua. Rasa pengenten baru. Langgeng terus ya

    BalasHapus
  26. Wah, Mbak. Emang kita harus hati-hati dengan keinginan ya. Dulu juga pernah ngebatin minta supaya suami lebih banyak di rumah. Eh, dikasih dong, setahun lebih nganggur. Trus minta lagi supaya dikasih rezeki cepat dapat kerja, alhamdulillah dikasih juga dengan konsekuensi LDR sudah 7 bulan dan entah sampai kapan karena pandemi jadi nggak bisa leluasa untuk pulang pergi ke Indonesia.

    BalasHapus
  27. Di masa pandemi pekerjaannya masih stabil ya mbak walaupun harus sering keluar kota dan menahan rindu. Bener banget ucapan juga harus hati-hati ya karena bisa jadi doa. Alhamdulillah diberikan kesehatan dan kelancaran dalam pekerjaannya ya. Suaminya mbak Rien WFH nya beda ya Work From Hotel :)
    Senangnya akhirnya bisa pulang ya lebaran

    BalasHapus
  28. Aku beberapa kali ngalamin LDR tapi enggak suasana pandemi. Karena suami kerjanya tergantung sedang dapat proyek di kota mana, merasakan hal sama kayak Mbak Rien. Gimana rasanya kangen sekangen-kangennya. Dan dari awal udah melow, ketambahan baca kalimat ini:
    "Kita memang sedang berada di tengah sejarah dunia, Mas"
    LAngsung deh nyesek dadaku, mengingat pandemi yang telah mengubah wajah dunia secara global. SEmoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT

    BalasHapus
  29. ah pasti berat ya mbak, ldr an saat pandemi
    tapi sebenarnya banyak juga hal hal baik yang patut disyukuri selama ramadan ini ya mbak

    BalasHapus
  30. Akhirnya aku komeng juga di postingan ini wkwkw, pas itu dah baca tapi cepet dan blm ninggalin komeng, trus kelupaan kalau janji mau mampir lg wkwkw maaaaff
    Howalaaah ternayta LDR selama Ramadan huhu

    Ahahaha tooosss pengabdi kondom (walah aku tuh gak tahu kondom itu apaan sih #17tahunmodeon)

    Keren kakak Alief akhirnya punya pengalaman bayar zakat mewakili keluarga ya.

    Jd ikutan mikir poster terakhir yang dishare, alhamdulillah yaaa :D

    BalasHapus
  31. tetap harus banyak bersyukur ya mbak. alhamdulillah di sini aku bareng terus cuma ya gitu keuangan pelan hehehe mba itu yakin cek kondom masih wkwkwkw *part terngakak

    BalasHapus
  32. Mbaaa riennn.... Tau ga, saat baca tulisan ini saya malah jadi bayangin kehidupan kami di 10-15 tahun lagi saat si sulung Bintang segede Mas Alif. Pasti senang sekali bisa menjalani hari2 penuh rindu.. eciee.... Semoga kebahagiaan Mba Rien dan keluarga menular ke kami juga..

    But aniwei, tentang doa dan kekuatan kata, sudah sering lihat hal2 yang bermula dari kata dan doa.. Makanya suka ngingetin diri sendiri untuk selalu bicara yang baik-baik saja, biar energi yang mengalir juga yang baik. Selalu bilang ke anak2 juga, "berkata baik atau diam..."

    Sehat-sehat selalu ya Mba Rien dan keluarga, semoga selalu dilimpahi kebahagiaan...

    BalasHapus
  33. Dari mba Rien aku belajar harus perhatian banget sama suami. Sampe sedetail itu perhatiannya. So cwitt
    Apalagi yang suaminya sering dinas luar kota.
    Ngga enak juga pulang-pulang bukannya istirahat, tapi malah dipakai untuk ngurusin rumah. Balada emak-emak yang punya anak krucils. Wkwk

    BalasHapus

Leave your message here, I will reply it soon!