Hal-Hal yang Membuat Berhenti Terlalu Dekat

09.55

Haruskah dijauhi? Kapan harus menjauh? (gambar dari FB)

Hidup adalah perjalanan

Perjalanan yang membuat kita melalui serangkaian peristiwa. Ada peristiwa menyenangkan yang membuat bahagia, ada pula yang menyedihkan dan membuat kecewa.

Sepanjang berjalan kita mendapatkan berbagai pengalaman baru, melihat tempat-tempat baru, dan bertemu orang-orang baru. Ada orang baru yang kemudian menjadi teman baik, sahabat sejati, bahkan jadi saudara (walau tak ada hubungan darah). Ada pula yang sekedar untuk berpapasan saja, tanpa ada yang tertinggal di hidup kita, apapun darinya. 

Adakah di antara orang-orang yang kita temui itu kemudian jadi lawan bahkan bermusuhan? Ada saja. Bedanya, ada yang bermusuhan sebentar, lalu bermaafan. Ada pula yang selamanya, bahkan sampai mati. Tak baik memang, tapi ada yang seperti itu. Banyak contohnya di luar sana.

Adakah yang tadinya teman baik, sahabat sejati, bahkan telah dianggap saudara, tapi kemudian jalinan hubungan itu berubah menjadi sebaliknya? Ada. Ini pun tak sedikit contohnya. 

Berhenti terlalu dekat

Orang yang memusuhi berubah jadi teman baik, ada. 
Teman baik atau sahabat sejati berubah jadi racun, ada. 8 ciri-ciri racun ada pada gambar di atas.

Racun itu menyakiti. Dan, diri sendirilah yang harus memutuskan kapan berhenti terlalu dekat dari racun. Berhenti terlalu dekat bukan berhenti menjalin silaturahmi. Lebih tepat disebut menjaga jarak. Membuat jarak dari racun akan membebaskan diri dari energi negatif. 

Memutuskan berhenti terlalu dekat dengan teman dekat atau sahabat sejati bukanlah hal mudah. Apalagi telah berteman lama, pernah berkegiatan bersama, bepergian bersama, bercanda dan tertawa bersama, dan mengalami hal-hal menyenangkan bersama. Tapi ya itu tadi, pada satu titik, setelah berkali-kali disakiti tapi tak berdarah, harus ada sikap yang diambil. 

Sabar yang benar itu sejatinya tak ada batas. Namun, karena banyak hal dalam hidup ini yang harus dilakukan dengan energi positif. Maka, tegakkan sabar tapi jangan pernah biarkan racun bertahta.

Apakah racun harus diberi pelajaran? Tidak selalu harus begitu. Selama masih jadi manusia yang punya hati dan percaya bahwa Allah itu maha pembolak balik hati, biarlah diri sendiri yang MENGAMBIL PELAJARAN TANPA PERLU MEMBERI PELAJARAN. 

Buatku, itu yang terbaik. 

Membalas dendam atau mendoakan yang baik-baik? Jika mau bahagia menjalani hidup ini, ternyata mendoakan lebih menenangkan jiwa. 

Kapan berhenti terlalu dekat?

Ada banyak macam sifat yang dimiliki orang lain yang bisa jadi racun pada kita. Sayangnya, aku termasuk orang yang, kalau kata temanku, terlalu baik pada racun. Tetap disenyumin, tanpa berpikir itu bahaya. 

Apakah madu, bila punya teman gemar melihat, tapi bila melihat selalu pakai kaca mata negatif. 
Pandai bicara, tapi setiap bicara, baik secara pribadi maupun di depan publik, selalu membicarakan hal-hal dengan bahasa yang negatif, mengomentari apa saja yang orang lain lakukan pakai sudut pandang negatif, baik saat ngobrol dengan kita berdua saja, maupun lewat status-status di media sosial. 

"Lucu ya, baru punya 3 buku antologi aja dibangga-banggakan dalam portofolio. Saya aja punya buku solo 1 lusin biasa saja. Bahkan, saya berteman dengan penulis novel dan penulis travel nomor 1 se-Indonesia lho."

"Baru punya mobil murah, pamer jalan-jalan kek keluarga bahagia. Aku dong punya mobil seharga 1 miliar, diem-diem aja."

"Yaelah baru jalan-jalan ke Timor Leste (sebut saja TL, bukan negara sebenarnya hehe) aja udah kayak punya pengalaman jalan-jalan paling hebat. Aku udah sejak muda keliling Eropa, Amerika, Afrika, dan negara-negara lain santai wae."

"Iya lho, di WAG Soto Betawi itu dia ceria dan riang gembira banget kalau chat, giliran di WAG Soto Bogor dia banyak diem aja kalau aku share macem-macem. Itu kenapa ya orang?"

"Caption udah kayak ustadzah, biar dipuji dan dihargai, pencitraan banget."  

dan lain-lain...

Apakah madu...apakah madu bila punya teman begini yang suka ngomongin teman kita yang lain? 
Itu kenapa aku selalu skip postingan status yang isinya seperti itu. Nggak mau baca, nggak mau komen. Kalau pun tiba-tiba muncul gak sengaja di beranda, langsung aku lewatin. 

Aku sudah sibuk di dunia nyata, jadi kalau masuk ke dunia maya, aku lebih suka liat postingan yang ringan dan bikin happy seperti postingan tentang masakan, kulineran, jalan-jalan, foto-foto tanaman, ngobrolin drakor yang sedang hitz, musik, lagu, buku, dan hal-hal lain serupa itu. Namun, bukan berarti aku abai pada berita duka, musibah, bencana, dan semacamnya juga. Tetap peduli kok.

Jika ada yang bilang: "suka-suka gue nulis apaan, wong ini akun gue." Nah kalau gitu "suka-suka orang lain dong kalau ada yang pingin posting hal bahagia-bahagia saja, yang enak-enak saja, yang baik-baik saja. Kenapa situ yang repot sampe apapun yang orang lain lakukan lu jadiin status negatif mulu" 😂

Setiap kita punya pilihan
 
"Kalau ingin memahami orang lain, tempatkan diri pada posisi mereka."

Saat aku tak suka melihat orang lain jadi racun buat diriku, maka orang lain pun tak kan suka bila aku jadi racun buat dirinya. Berarti, tebas semua sifat-sifat yang berpotensi menjadikan kita racun bagi orang lain. 

Contoh. Kalau ada yang gak berkenan di hatiku atas sikap dari teman kenal dekatku, aku punya pilihan buat menyuarakan ketidak berkenanku padanya:
1. karena aku aktif bermain media sosial, lalu aku membuat status sindiran, pakai kata-kata tajam dan sinis, biar semua orang tahu, biar yang aku sindir baca dan sakit hati (iya kalau dibaca, dan ternyata dia tidak sakit hati, elu yang rugi!)
2. atau, aku japri / hubungi dia langsung, dan ngomong langsung. Hati lega, dan nggak perlu bikin "keributan" di dunia maya. Dunia tidak perlu tahu kekurangan/kesalahan teman kita! Jangan jadi tukang hasut.

Setiap orang punya punya cara sendiri dalam menyelesaikan masalahnya. Cara yang dipilih akan mencerminkan tingkat kedewasaan masing-masing.

Ada yang diganggu, lalu menyelesaikannya dengan cara memberi pelajaran.
Ada yang diganggu, lalu menyelesaikannya dengan cara cukup mengambil pelajaran. 

Ada yang memilih berpikir positif terhadap apapun yang orang lain lakukan, kendati ada yang negatif, ia memilih cara bijaksana dalam menyikapi hal negatif tersebut.

Orang beribadah, ada yang diam-diam saja cukup hanya ia dan Allah yang tahu. 
Ada pula yang terang-terangan dengan menunjukannya kepada orang lain. 
Seseorang punya 2 pilihan untuk menilai dan berkomentar akan hal tersebut:
1. Ibadah kok dipamerin, riya!
2. Masya Allah, soleh/soleha ya dia. Sungguh menginpirasi. Saya juga mau seperti dia.

Teman yang kita kenal, ada yang suka berbagi hal-hal baik saja di blog/medsosnya. Postingannya selalu ceria, berisi kebahagiaan dan aktivitas menyenangkan bersama keluarga/teman/sahabatnya saja.
Ada 2 hal yang bisa dipilih dalam mengomentari hal tersebut:
1. Hah! Pencitraan banget! Gak apa adanya! Palsu! Minta dipuji!
2. Masya Allah, bawa vibes positif banget sih kak postingannya. Sehat dan bahagia selalu, ya kak.

Rambut boleh sama hitam, tapi isi kepala bisa beda-beda. Mulut sama-sama punya satu, tapi isi yang keluar bisa beda-beda. Beda tapi positif, bukan masalah. Yang masalah, sudah beda, negatif  pula. 

Kita bisa saling menghargai dan menghormati selama kita bisa mengendalikan perbedaan itu menjadi sesuatu yang positif. 

Seperti apa kita di akhir usia?

Ada orang pernah salah dan terjerumus maksiat, tapi karena hatinya terbuka menyambut tiap nasihat, ia lalu menyesal dan mengambil pelajaran, bertobat, berubah, kemudian menjalani sisa hidupnya dengan baik dan terus berperilaku positif di tiap detik kehidupannya.

Ada orang yang tampaknya selalu Allah mudahkan hidupnya, fine fine saja...tapi punya sifat dan sikap yang selalu negatif ke orang lain yang sulit dilepaskan walau sudah dinasihati ribuan kali. Mulut, mata, hidung, telinga, dan jari-jarinya sibuk mengurusi hal-hal tak penting, menggunjing orang lain tiada henti, suka berprasangka buruk, gemar menghujat, menuduh, memfitnah, dan semua hal buruk yang bikin ia tidak bisa tidur kalau tidak berbuat jahat dengan anggota tubuhnya. Begitu terus dari waktu ke waktu... 

Aku pribadi, ingin mati dengan akhir yang baik. Tidak dalam keadaan sakit dan berpenyakit, baik badan maupun hati. 

Tulislah yang baik-baik saja

Menulis hal-hal begini, tidak afdol jika tidak ditambahkan kalimat: Aku bukan manusia suci. Bukan pula ahli agama. Aku menulis begini karena aku ingin menulis. Aku ingin menulis yang baik-baik saja, meski aku belum baik 😅😂

Dalam WAG Masjid Komplek yang aku ikuti, aku pernah mendapat nasihat baik (sudah pernah aku posting di FB ku) tentang Tulislah Yang Baik-Baik Saja! 

TULISLAH YANG BAIK-BAIK SAJA

Akan tiba saatnya nanti, semua temanmu akan melihat namamu offline.
Mereka mengirim pesan lewat WhatsApp, tapi kamu tak menjawabnya.
Mereka chat di Messenger, tapi kamupun tak mampu membalasnya.
Pada hari itu, postinganmu tiba-tiba saja terhenti, tidak lagi update.
Kamu tidak akan pernah online lagi, tidak mampu reply chat, ataupun berkomentar pada postingan teman temanmu.
Postinganmu yang telah lalu bisa jadi telah di share berkali-kali tanpa kamu mampu mengeditnya. Dibaca dan direspon orang lain tanpa kamu dapat membendungnya.
Kamu tidak mampu meminta maaf kepada orang yang tersakiti karena postinganmu.
Kamu tidak mampu membendung orang lain yang berprasangka buruk, mengeluarkan statement buruk akibat postinganmu yang telah lalu.
Semua sudah  terlambat ketika kamu telah pergi meninggalkan dunia ini. 
Yang tertinggal hanyalah huruf - huruf di postinganmu.
Postinganmu akan menjadi pembelamu atau akan membinasakanmu di alam sana.
Maka dari itu, tulislah yang baik-baik saja, walaupun kita belum baik.
Sekurang-kurangnya kita terselamatkan dari dosa akibat menulis yang buruk.
Ikatlah dirimu dengan lisan yang baik, dan dengan tulisan yang baik sebagai usaha dan do'a menjadi insan yang baik.
Berusahalah menjadi orang yg bermanfaat bagi orang lain, meski cuma sebatas tulisan sederhanamu.
Jangan menjadi penyebab orang lain bertambah lebih buruk, karena ketikan jari jemarimu.

Tulis saja yang baik-baik, berkomentar yang baik, berkata yang baik, meski belum baik, meski disangka sok baik, meski dituduh pencitraan, meski dianggap minta dipuji, dan meski-meski lainnya. 

Menulis itu adalah DOA. Menulislah untuk kebaikan.

Share this

A mother of two who loves travel and enjoy to share my journey and valuable experiences

Related Posts

Previous
Next Post »

20 Comments

  1. saat seseorang sudah membuatmu tidak nyaman. Boleh-boleh saja untuk menjauh. Demi menjaga kewarasan kita juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mbak Tikha. Saat tetap waras, kita bisa menghindarkan diri dari membuat orang lain tidak nyaman.

      Hapus
  2. Terlalu dekat dengan kawan, mungkin akan menyulitkan untuk menjauhinya, jika kawan itu tidak sengaja menyakiti kita.

    Tapi kalau kita mau rela untuk menjaga jarak, pribadi kita akan punya ruangan cukup untuk tumbuh dan berkembang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali, dengan tumbuh dan berkembang, kita bisa mencapai banyak hal baik untuk kehidupan kita.

      Hapus
  3. Aku pernah jadi orang nggak enakan. Jadi, ya kayak mau menjauh tapi takut orangnya marah, nggak mau jauh rasanya stress nggak karuan.

    Pada akhirnya, saya belajar untuk mendahulukan ketenangan batin sendiri. Kalau dirasa nggak nyaman, ya udah menjauh dulu dari orang-orang tersebut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang sulit menjauh dari orang yang sudah kita kenal dekat, bahkan kita pun sebenarnya sayang padanya. Apalagi memikirkan nanti dia gimana, apa marah, apa sakit hati, apa makin mikir enggak-engggak.

      Caranya tentu saja dengan tidak membenci orangnya, benci saja sifatnya. Lalu pergi, tanpa perlu menyakiti dengan kata-kata. Kalau papasan ya tetap senyum, ditegur balas tegur. Tapi ya itu tadi, jangan terlalu dekat.

      Hapus
  4. Duuh..merasuk sekali kubaca tulisan mba Rin ini. Aku pun ingin berakhir baik, mba..itu sebabnya terus belajar untuk menulis yang baik2 saja. Meski terus rerang kadangkala itu suliit saaat hati.kita terbakar emosi..hehe.. Sekali lagi terima kasib sdh diingatkan melalui artilel ini mba.. Semoga berkah Allah terlimpah selalu untukmu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pastinya setiap orang baik ingin memiliki akhir hidup yang baik, ya mbak Tanti. Tak peduli seburuk apa masa lalu, sebanyak apa dosa pernah diperbuat, yang penting saat ingin bertobat, yakin bahwa hidup baik, masa depan baik, akhir yang baik bisa diraih bila mau mulai mengupayakan perbuatan, sikap, dan pikiran yang baik, secara terus menerus sampai akhir hayat. Tulisan merupakan salah satu cerminan dari hal-hal baik yang diupayakan.

      Semoga Allah juga melimpahkan berkah untuk hidupmu mbak.

      Hapus
  5. dari delapan jenis daftar orang-orang yang disebutkan di atas, sayangnya banyak sifat-sifat tersebut yang ada kepada orang-orang terdekat. Bukan satu orang ada 8 jenis sifat itu, tetapi beberapa jenis pasti selalu ada. Agak susah sih ya, kalau saya boleh berpendapat memang gak usah terlalu akrab tapi gak juga dijauhi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, ga semua dari 8 itu ada pada seseorang, mungkin beberapa saja. Kalau kita mendapatinya sesekali, mungkin sedang khilaf ya. Tapi kalau terus menerus, habit namanya. Nggak nyaman banget. Meskipun misalnya, 8 hal itu bukan ditujukan pada diri kita, tapi orang lain, tetap saja di mataku itu nggak nyaman.

      Hapus
  6. Yes, aku pernah berada dalam posisi yang sekarang jaga jarak sama orang yang dulu katanya dekat sama aku.

    Ya bukan karena aku mau memutus silahturahmi sih tapi lebih tepatnya menjaga jarak.

    Daripada nanti tidak terkontrol terus kata-kataku jadi menyakitkan. Apalagi aku masih belajar menahan tulisan yg bisa membawa mudharat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak, menjaga jarak bukan memutus silaturahmi. Kita juga bermaksud menjaga diri, agar tak menyakiti. Karena kalau dekat, bisa saja khilaf kita marah, ngomong yang enggak2.

      Hapus
  7. terima kasih mbak atas tulisan muhasabahnya. Iya, Molly masih belajar how to be a human. Kepleset sesekali nggak papa kan? Kadang molly nyebelin orang, kadang juga orang lain yang nyebelin. That's life mbak sebenarnya. Tapi asal kita tetep mesti belajar tentang kehidupan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Molly sayang, rasanya ga ada orang yang gak kepleset. Itu sebabnya kita perlu menjaga diri kita sendiri dari hal-hal yang bisa memicu kita kepleset.

      Sekolah terlama dan terpanjang adalah universitas kehidupan. Mari belajar terus supaya jadi lulusan terbaik :)

      Hapus
  8. Memang sejatinya, teman itu akan tersaring dengan sendirinya seiring dengan pertumbuhan usia.
    Kalau aku tetap berpatokan, teman baik itu selalu ada dan berani mengingatkan dengan cara yang santun untuk kebaikan. Mengingatkan ada solusinya, bukan asal nyinyir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak L, setuju sekali. Teman baik mengingatkan hal benar, bukan membenarkan.
      Sekalipun kita tidak kenal, bila ada yang perlu dibenarkan, sampaikan dengan benar. Bukan nyinyir ga ada ujung. Apalagi menggunakan medsos untuk nyinyir, sangat kekanakan.

      Hapus
  9. Memang harusnya seperti itu ya mbak menjaga jarak tidak terlalu dekat. Bukan apa-apa memang harus waspada terhadap orang terdekat kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. demi menjaga kewarasan kita sendiri :D

      Hapus
  10. Aku sendiri merasa nggak punya teman yang amat sekali dekat. Setiap teman punya irisan dari sebagian peran atau paet hidupku yang aku jalani. Karena terlalu dekat juga rawan untuk saling menyakiti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes mbak, kadar rawan dan enggak nya memang berat di rawan. Mungkin itu sebabnya ada prinsip terlalu cinta jangan, terlalu benci jangan. Biasa saja.

      Hapus

Leave your message here, I will reply it soon!