Coba CILOK DJOEDES, Cilok Enak dari BSD Lain dari yang Lain

18.28

Cilok Djoedes BSD - Tahun 2020 ini, banyak bermunculan makanan yang menjadi viral di media sosial. Korean Garlic dan Dalgona adalah salah dua makanan dan minuman, yang kala pandemi, merajai pengalaman kuliner dan membuat terkesan. Tren makanan ini bahkan jadi acuan bagi mereka yang berniat membuka usaha kuliner. 

Meski demikian, yang tidak viral bukan berarti tenggelam, makanan lokal seperti bakso, cilok, martabak, dan lainnya tetap ramai peminat meski sepi dari pembicaraan. Saya pribadi, dalam diam tanpa berkoar di dunia maya, rutin menikmati tiga macam makanan yang saya sebut tadi sebagai kudapan keluarga selama di rumah saja. Kebetulan, lokasi gerai ketiga kuliner tersebut berlokasi tak jauh dari rumah, semakin jadi andalan.

cilok djoedes BSD
Cilok Djoedes - Djawara Pedes

Mengenal Cilok Djoedes

Penamaan Cilok berasal dari kata aci (nama bahan) dan dicolok, aci dicolok, digabung maka jadi Cilok. Dulu, pertama saya mengenal cilok dari jajanan dekat stasiun kereta. Bentuknya mirip bakso, bulat kecil dan licin, dicolok pakai tusuk sate, lalu dimakan dengan saos. Bagi saya saat itu, tak ada yang istimewa dari Cilok, baik dari segi rasa maupun tampilan, membuat saya tak punya keinginan untuk mencobanya lagi, di tempat manapun saya menemukannya.

Hingga suatu hari, saya diajak mencicipi Cilok Djoedes, lalu semua berubah. Kala itu, Cilok Djoedes mengundang saya untuk bekerja sama mempromosikan produk mereka melalui media sosial. Untuk melakukan promosi, saya tentu harus melihat, mencicipi, dan merasakan langsung supaya bisa bercerita tentang produk yang saya makan. Nah, di sinilah saya menemukan perbedaan besar dari cilok lain yang pernah saya makan. 

cilok halal tanpa MSG
Cilok kaya daging sapi, tanpa MSG dan Pengawet


Menjadi Berbeda dan Menjual Kualitas

Perbedaan paling nyata Cilok Djoedes dengan cilok lain adalah tekstur dan bahan tambahan yang digunakan, serta kualitas penjualannya. Dari segi bentuk sama bulat, tetapi Cilok Djoedes punya permukaan kasar, bukan halus dan licin seperti umumnya cilok. Sekilas tampilannya mirip bakso urat. Tapi jelas bukan bakso karena ia tetap cilok terbuat dari aci namun dengan tambahan daging sebagai campuran, sehingga rasanya lebih gurih.

Selain itu, Cilok Djoedes memproduksi cilok dalam 5 varian yang membuatnya jadi lebih disukai, di antaranya Cilok Ori, Cilok Moza, Cilok Tahu, Cilok Jamur, dan Cilok Unyil.

Keistimewaan Cilok Djoedes semakin bertambah karena dijamin HALAL. Ruang produksi yang bersih serta proses pengerjaan hingga pengemasan berkualitas, menjamin produk Cilok higienis. Satu hal lagi yang membuatnya sehat untuk dinikmati karena dibuat tanpa MSG dan tanpa bahan pengawet!

Bagaimana saya tidak jatuh cinta pada Cilok Djoedes? Jelas jatuh cinta. Itu sebabnya kegiatan promosi cilok yang ditawarkan saya pada saat itu, saya lakukan dengan senang hati, bahkan saya mengajak serta rekan-rekan blogger untuk mencicipinya. Satu komentar: Ciloknya beda, endes nggak ada obat!!

Satu bulan lagi genap tahun sejak pertama saya mencicipi Cilok Djoedes di awal penjualannya, kini Cilok Djoedes meraih banyak kemajuan, bahkan di tengah pandemi begini, ia tak turut jatuh meski bisnis kuliner banyak yang terpuruk. 

Varian Cilok Djoedes
 

Kiat Sukses Bisnis Kuliner ala Cilok Djoedes

Kuliner merupakan jenis usaha yang tak pernah redup eksistensinya karena semua orang pasti membutuhkan makanan untuk bertahan hidup. Tak heran bila bisnis kuliner merebak, tumbuh di mana-mana bak jamur di musim hujan, apalagi saat pandemi seperti sekarang, bisnis ini dijadikan penyambung ekonomi keluarga.

Bisnis kuliner adalah salah satu bisnis yang trennya paling dinamis. Tren-tren baru akan datang lalu tergantikan oleh tren yang lebih baru lagi. Namun, kuliner yang berhasil singgah di hati, bukan di mulut saja, akan bertahan lama bagi penggemarnya. Ia tak redup sekalipun tren terus berganti. Inilah yang terjadi pada bisnis Cilok Djoedes, tetap kuat di tengah pandemi. Apa rahasianya?

Saya bertemu dengan Mika Riandita, pemilik Cilok Djoedes. Ibu dari  tiga orang anak ini berbagi cerita tentang bisnisnya, tentang awal mula dibuat, hingga berhasil punya branding yang kuat seperti sekarang.

Mika dan Benny, Owner Cilok Djoedes
 

🌻Boleh minta diceritakan awal-awal memutuskan usaha kuliner dan kenapa memilih kuliner cilok, bukan kuliner yang lain?

Pada awalnya karena saya suka pentol yang ada di Surabaya. Tapi di sini tidak ada penjual pentol seperti yang dijual di Surabaya. Akhirnya saya coba-coba minta resep ke ibu saya. Setelah beberapa kali trial error agar bisa membuat pentol yang seperti di Surabaya, saya pun memutuskan untuk membuka PO di kantor. Mulai dari situ saya menjual Cilok Djoedes Frozen.

🌻 Karena ini usaha keluarga, siapa yang pertama kali punya ide untuk membuat cilok?

Ide awalnya dari saya, didukung oleh ibu dan suami saya.  

🌻 Kenapa dinamakan Cilok Djoedes? 

Cilok Djoedes artinya Djoewara Pedes. Pada awalnya ingin menonjolkan kuliner pedasnya. Namun ternyata, kuliner yang hanya mengutamakan pedas, kurang terasa betul enaknya dan kurang bisa diterima di semua kalangan. Kebanyakan customer minta yang tidak terlalu pedas sekali. Rencana akan dibuat level-level sambalnya.

🌻 Nah, dalam setiap usaha yang dibangun, biasanya pasti ada niat dan tujuan besar yang ingin dicapai, boleh diceritakan?

Cilok Djoedes bertujuan mengangkat kuliner asli nusantara yaitu Cilok yang dikenal sebagai jajanan pinggir jalan menjadi naik kelas. Menjadi pelopor cilok modern yang inovatif dan dikemas higienis. Agar cilok djoedes mempunyai daya saing dengan jajanan internasional yang sekarang sudah mulai masuk ke Indonesia seperti tobokki dll. Selain itu, kami mempunyai visi menjadi franchise jajanan Indonesia yang dikenal dunia.

🌻 Resep yang digunakan apakah resep asli atau sudah modifikasi?

Resepnya sudah modifikasi karena pada dasarnya kalau cilok asal katanya dari aci dicolok, sehingga penggunaan aci harusnya lebih dominan. Namun Cilok Djoedes juga menggunakan campuran daging sapi, namun bukan seperti bakso.

🌻 Sejak kapan cilok mulai dipasarkan?

Sejak November 2019

🌻 Cara apa saja yang sudah ditempuh dalam pemasaran cilok?

Pemasaran dilakukan dengan cara offline dan online. Kami juga menggunakan jalur distribusi melalui distributor dan reseller. Juga membuka toko online di beberapa marketplace dan menerima kemitraan.

🌻 Media apa saja yang digunakan untuk memasarkan cilok?

Tentunya saat ini yang paling tepat menggunakan digital marketing. Kami menggunakan media social seperti Facebook, Instagram, Tiktok, dll.



🌻 Saat ini berapa jumlah karyawan yang mengerjakan produksi cilok?

Saat ini sudah 9 orang karyawan yang bergabung menjadi tim cilok djoedes.

🌻 Sudah ada berapa cabang/reseller/agen Cilok Djoedes?

Alhamdulillah, saat ini Cilok Djoedes memiliki 30 reseller, 5 outlet, dan 2 distributor. 

🌻 Cilok Djoedes ada di marketplace apa saja?

Cilok djoedes hadir di Tokopedia, Shopee, Bukalapak, Blibli, Lazada dan menyusul JD.ID.

🌻 Selama ini, kurir apa saja yang sering dipilih pembeli saat melakukan pemesanan?

Cilok Djoedes hanya bisa dikirim menggunakan pengiriman same day dan next day. Untuk luar kota, kami sering sarankan menggunakan JNE YES untuk menjaga kualitas Cilok Djoedes sampai di tangan pelanggan.

🌻 Wah berarti sudah sering dong ya pengiriman pakai JNE. Biasanya ada kendala nggak?

Kami sangat terbantu dengan adanya JNE YES. Kendalanya kalau di kota tujuan tidak ada layanan JNE YES. Akhirnya kami menggunakan JNE-Reguler untuk kota-kota lain dan ditambahkan ice gel. Karena produk kami tidak menggunakan bahan pengawet.

JNE - Kurir terpercaya
 

🌻 Apakah saat ini Cilok Djoedes sudah jadi member JLC?

Cilok Djoedes sudah menjadi member JLC. Meskipun kami belum lama bergabung tapi tentu kami belum terlambat untuk mendapatkan berbagai keuntungan dengan menjadi anggota JNE Loyalty Card (JLC) seperti kecepatan layanan, potongan harga pada saat periode promo, dan hadiah undian yang sangat menarik.

Sebagai member JLC, ternyata kita bisa mendapatkan nomor resi JNE dengan cepat. Sehingga kita bisa langsung meng-input nomor tersebut di marketplace atau kita berikan kepada pelanggan.

Selain itu, dengan menjadi member JLC kami juga bisa mendapatkan reward point yang bisa ditukarkan dengan hadiah atau diskon khusus di berbagai merchant. Tadinya sempat kaget lho, pendaftaran JLC ternyata gratis, bebas biaya bulanan dan sangat mudah. Untuk bergabung dalam program JNE Loyalty Card, saya  hanya perlu mengisi formulir secara online di situs resmi JLC (jlc.jne.co.id), lalu ikuti petunjuk yang tersedia.

Konsisten dan Terus Berinovasi Kunci Sukses Cilok Djoedes

🌻 Wah, ternyata banyak untungnya ya mbak jadi member JLC. Syukurlah kalau begitu. Ok selanjutnya boleh dong diceritakan kiat-kiat atau tips membangun usaha kuliner sehingga Cilok Djoedes bisa berkembang pesat dan punya banyak agen seperti sekarang?

Konsisten dan terus berinovasi. Dan tentunya produk kita harus sudah merupakan market fit yang dibutuhkan konsumen.


Cilok Djoedes 

Instagram: @cilokdjoedes

Facebook: CilokDjoedes

Website: www.cilokdjoedes.com

Share this

A mother of two who loves travel and enjoy to share my journey and valuable experiences

Related Posts

Previous
Next Post »

21 Comments

  1. sayang tempo lalu pas dibawa cilok ini aku nggak bisa makan karena pakai daging sapi. coba nanti ada produknya pakai daging ayam atau aci. hehe... cuma saus sambal ciloknya emang pedes banget, aku suka pas cicip tempo lalu.

    semoga usahanya makin rame ya apalagi pake JNE buat kirim ke konsumen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya, Deddy nggak makan daging sapi ya, aku lupa. Hmm...pakai ayam ya, beda rasa lagi nanti ya. Iya sambalnya memang nampol Ded hihi. Aamiin

      Hapus
    2. Kenapa KohDed ga makan daging sapi?
      Alergi atau gimaa?

      Hapus
  2. Wah, umurnya baru setahun, tapi Cilok Djoedes sudah memiliki 30 reseller, 5 outlet, dan 2 distributor. Semoga usahanya terus berkembang, pelanggannya makin banyak

    BalasHapus
  3. Hihihi kirain Cilok Djoedes artinya judes alias jutek , ternyata Djoewara pedes
    Eniwei saya beberapa kali Pakai JNE Express, pelayanannya OK banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bu, DJoedes kepanjangan Djoewara Pedes haha
      Trus bisa juga diartikan, saking pedesnya sampe jadi judes haha

      Setuju, JNE OK banget!

      Hapus
  4. Woww daging sapinya menal menul ya mbak....
    Tanpa msg lagi, sehat ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Dian, itulah bedanya Cilok Djoedes dengan yang lain :)

      Hapus
  5. Benar-benar bikin ngiler banget sih ini cilok 🤭 Harganya berapaan ya? Kira-kira waktu wawancara kemarin ada rencana buka cabang di luar pulau seperti Banjarmasin?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harga bervariasi mbak, tergantung varian pack nya. Kalau yang kemasan isi 9, harga Rp 26.000. Bisa cek di IG mereka di @cilokdjoedes mbak. Oh soal cabang di Banjarmasin, saya tidak tanya. Setahu saya saat ini yang ada bukan cabang ya, tapi gerai dan reseller.

      Hapus
  6. Wah, cilook! Memang bener Mbaaa, pentol khas Surabaya itu endeuss :D
    Aku pernah coba makan cilok, dan menurutku "kopong" alias ga ada sensasi rasa dagingnya. Makanya, daku saluuutt ama owner cilok DJOEDES ini.

    Pastinya Lebih endolitaaa, kandungan daging mayan banyak, dan variannya beragam, aselik bikin mupeng! Pan kapan daku mau coba aahhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener Cilok Djoedes ini beda karena berisi. ADa lamur, jamur, keju, tahu, macem-macem. Padat gak kopong haha Monggo mbak kapan-kapan dicoba :)

      Hapus
  7. Kalau kemasan bagus, cilok juga bisa naik kelas ya. Saya jadi pengen belajar terkait packaging kuliner nih. Siapa tahu jualan cilok di kampung pun kalau kemasan dan marketing bagus, bisa menghasilkan juga...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kuliner biasa jadi terasa luar biasa kalau dibuat luar biasa, mulai dari citarasa sampai packaging. Makanan berkualitas ada pasarnya, sekalipun harganya mahal.

      Hapus
  8. Mau juga Cilok Djoedes nya, ternyata dibalik nama Cilok Djoedes karena sang pemilik pengen nonjolin rasa pedes nya ya.
    Tapi perlu juga bih diberi varian rasa pedesnya, jadi tiap costumer bisa memilih level sesuai selera.karena kan gak semua costumer suka sama pedes jeletotnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk saosnya ada variannya mbak, varian ori ya yang pedes banget itu. Ada juga saos padang dan saos kacang. Saos kacangnya kusuka, nggak terlalu pedes, jadi kayak bumbu siomay, mirip. Nanti saosnya bakal ada levelnya kayaknya

      Hapus
  9. Keren ya, Cilok Djoedes sudah berkembang dan memiliki 9 karyawan, 30 reseller, 5 outlet dan 2 distributor...Senang membaca pemilik usaha yang inspiring begini. Saya tahunya pentol karena di Jatim disebut itu, dan kalau dibikin pedes kayak Djoewara Pedes begini memang kekinian tanpa meninggalkan keotentikan.
    Dan setuju jika ada rencana level pedasnya dibedakan. Karena kalau saya beli level pedes saya, kadang anak-anak merasa kepedasan. Kalau level berbeda kan bisa disesuaikan. Bisa nih coba pesen via ecommerce

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Cilok Djoedes maju pesat karena mampu memberikan kualitas kuliner yang nggak biasa-biasa saja. Betul mbak, semoga pedas saosnya nanti ada levelnya ya. Kalau ciloknya sih nggak pedes mbak. Saosnya yang pedes :D

      Hapus
  10. Memang TOP betol lah Cilok Djoedes ini. Kualitasnya jempolan dan servicenya juga mantab. Baca ini jadi tau sejarah perjuangan Mbak Mika dalam membangun jenama ciloknya. Plus ngeliat foto orangnya hahahaha.

    Bisikin Rien, kapan aku diajak buat endorse ((maksud terselubung)) hahahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha jadi kenal wajah Mbak Mika ya yuk. Ga usah dibisikin deh, nanti diteriakin aja hahaha

      Hapus

Leave your message here, I will reply it soon!