Polusi Berkurang Hikmah di Balik Musibah Corona

polusi berkurang berkat corona
Langit Biru di BSD City, Serpong 01.04.2020

Viral di media sosial postingan perbandingan tingkat polusi udara sebelum dan saat lockdown di China (www.earthobservatory.nasa.gov). Kanal-kanal dan pantai Italia jadi lebih jernih sejak kapal motor dan gondola absen beroperasi. Ikan-ikan dan lumba-lumba bermunculan. 

Bahkan, sejak kebijakan #SocialDistancing (selama 10 hari kedua), udara di Jakarta berhasil menjadi bersih dengan kategori baik yaitu PM2,5 rata² sebesar 18,46 µg/m³. Kualitas udara kota Jakarta menjadi baik ini pertama kali terjadi setelah 28 tahun.  (Mongabay.co.id 6/4/2020 Setelah 28 Tahun Kualitas Udara di Jakarta Membaik).

Langit biru di Tiongkok, beningnya air di Venesia, dan membaiknya kualitas udara di Jakarta, menandakan berkurangnya polusi. Sadar nggak kalau ini tuh merupakan hikmah di balik musibah yang terjadi saat ini? Yak, seiring dengan pembatasan perjalanan domestik dan internasional di berbagai negara, tingkat polusi udara telah menurun signifikan. 
udara jakarta membaik
Kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat yang sepi dan lengang pada Sabtu (4/4/2020). Foto : Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
Kawasan Jalan Jenderal Soedirman Jakarta yang sepi dan lengang pada awal April 2020 karena kebijakan pembatasan sosial mencegah penyebaran COVID-19. Foto : Andreas Harsono/Mongabay Indonesia
Kawasan Jalan Jenderal Soedirman, Dukuh Atas, Jakarta Pusat yang sepi dan lengang pada Sabtu (4/4/2020). Foto : Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

Bagaimana dengan lapisan salju di Antartika? Apakah pengaruh menurunnya polusi global membuat es di sana ikut berhenti mencair? 

Seperti yang diberitakan oleh CNN Indonesia pada Rabu 26/2/2020, gelombang panas akibat suhu global telah mengakibatkan seperempat es di Antartika mencair. 
Earth Observatory NASA menyampaikan suhu gelombang panas yang terjadi selama sembilan hari di Antartika mencapai 64,9 derajat Fahrenheit. Akibatnya, 4 inci lapisan salju Pulau Elang meleleh atau sekitar 20 persen dari total akumulasi salju musiman di pulau itu.
"Saya belum melihat kolam lelehan berkembang dengan cepat di Antartika. Anda melihat peristiwa mencair semacam ini di Alaska dan Greenland, tetapi tidak biasanya di Antartika," kata Mauri Pelto, seorang ahli geologi di Nichols College, Massachusetts.
(www.cnnindonesia.com)

Betapa besar dampak meningkatnya suhu global pada bumi. Es di benua terdingin sampai meleleh, padahal sejak dulu hingga abad 21 saat ini, fenomena tersebut sangat jarang terjadi, bahkan saat musim panas. 



Lantas, apakah berkurangnya polusi berkat corona membuat suhu global menurun, dan akhirnya es di Antartika berhenti mencair? Harapannya tentu seperti itu. Ancaman bahaya akibat mencairnya es di Greenland akan sangat mengerikan bagi penghuni bumi. Permukaan air laut dipastikan naik tiga kali lipat dari yang pernah terjadi sepanjang abad sebelumnya, bahkan pulau-pulau di Indonesia terancam tenggelam.


Para ilmuwan meyakini Antarktika saat ini akan menjadi faktor terbesar dalam kenaikan permukaan air laut, menurut studi yang diterbitkan dalam jurnal Earth System Dynamics dari European Geosciences Union (EGU).
"Faktor Antartika ternyata menjadi risiko terbesar, dan juga ketidakpastian terbesar, untuk permukaan laut di seluruh dunia," kata Levermann, seperti dikutip dari Xinhua, Minggu (16/2/2020).
Liputan6.com Ancaman Mengerikan Bila Es di Antartika Terus Mencair
Pecahan Es di Antartika. (Liputan6/AP/Andrew Shepherd)

Tentu, siapa pun tidak ingin menukar keselamatan nyawanya dengan apa yang menjadi hikmah di balik musibah. Kalau bisa, tidak usah ada COVID-19 segala buat memetik hikmah. Tapi, virus corona sudah menyerbu dunia, mau tidak mau harus dihadapi, dan ambil hikmahnya.

Buat saya pribadi, di tengah kecemasan global saat ini, memilih berpikir positive tentang apa yang terjadi di balik musibah, membantu diri jadi lebih rileks. Mengeluh dan mencari-cari kesalahan tidak akan membuat keadaan jadi lebih baik. Hanya menguras energi, malah melemahkan diri, bahkan bisa berakibat buruk menurunkan sistem imun tubuh.

Di saat seperti sekarang, sebisa mungkin pikiran dibuat ringan, dan hati menjadi tenang. Walau memang, terasa sulit untuk itu, tapi kita bisa memperjuangkannya agar bisa bertahan dan melanjutkan hidup.

Perihal hikmah berkurangnya polusi udara, dari sisi lain, bukankah dengan menurunnya pencemaran udara, cenderung dapat membantu meringankan risiko bagi penderita terinfeksi Covid-19? Sejak #WFH dan Social Distancing, stres karena bermacet-macetan pun jadi tiada. 

Perbandingan tingkat polusi di Negeri Tirai Bambu

Saya membaca artikel di CNN Indonesia yang dimuat pada tgl. 20/2/2020 mengenai Riset: Polusi Udara Bunuh Lebih Banyak Orang Dibanding Corona. Dalam artikel dijelaskan:
CEO aplikasi pemantau kualitas udara, IQAir Frank Hammes mengungkapkan adanya sebuah penelitian yang memastikan bahwa polusi udara jauh lebih mematikan dibanding wabah virus corona yang berasal dari China. 
Data terbaru yang dikumpulkan oleh IQAir mengungkap peringkat kota-kota di dunia yang paling tercemar, serta membeberkan perubahan konsentrasi partikulat PM 2.5 di seluruh dunia sepanjang 2019.
Dalam laporan global itu, IQAir menyoroti bahwa tingkat polusi udara yang meningkat sepanjang tahun 2019 sebagai akibat dari perubahan iklim seperti badai pasir, kebakaran hutan, dan polusi akibat urbanisasi kota yang sangat cepat seperti yang terjadi di wilayah Asia Tenggara.
Menurut Frank, data kualitas udara 2019 tersebut menunjukkan indikasi yang jelas bahwa perubahan iklim dapat secara langsung meningkatkan risiko paparan polusi udara, melalui peningkatan frekuensi dan intensitas kebakaran hutan dan badai pasir.

Fakta bahwa polusi udara yang kini sangat parah jauh lebih berbahaya bagi kelangsungan mahluk hidup di bumi sesungguhnya membuat saya bisa melihat hikmah di balik corona cirus pandemi yang saat ini melanda dunia. 

Bila mengingat kembali Jakarta pernah dilaporkan sebagai kota dengan udara terburuk di Asia Tenggara, menurunnya tingkat polusi udara adalah kabar baik. Kompas.com bahkan menulis: Berkat Virus Corona, Udara Dunia Terbukti Lebih Bersih dan Minim Polusi.  

Sejak social distancing dan work from home diberlakukan, karbondioksida yang dihasilkan dari kendaraan dan emisi karbondioksida yang dihasilkan oleh industri menurun drastis. 

Wabah Virus Corona membuat banyak orang khawatir. Banyak yang takut mati dan akhirnya patuh memilih #DiRumahAja. Apalagi perjalanan domestik dan internasional dengan pesawat banyak ditunda, bahkan di-stop / ditiadakan. Para ilmuwan mengatakan, jika keadaan ini terus berlangsung setidaknya hingga tiga atau empat bulan mendatang, dampak baiknya akan cukup besar.

Penyebab polusi udara Jakarta (Foto ww.megapolitan.kompas.com)
Pemandangan di sekitar Jakarta Selatan dari ketinggian, tampak asap menyelimuti sekelilng pemukiman. Riset Greenpeace memperlihatkan udara Jabodetabek, buruk dan membahayakan. Foto: Sapariah Saturi/ Mongabay Indonesia

Berkurangnya polusi udara hanya salah satu hikmah saja. Masih ada hikmah baik lainnya yang bisa didapatkan, di antaranya perhatian dan kepedulian jadi meningkat, rasa solidaritas dan kebersamaan menebal, jadi punya waktu jeda bagi diri dan keluarga, dan bahkan ajang buat refleksi diri. Saya sudah merasakannya sendiri. Kamu? 

Resolusi tahun ini mungkin ambyar, rencana-rencana kegiatan amburadul. Di luar sana, banyak orang yang pendapatannya menurun, bahkan hilang pekerjaan. Sedih, pasti. Yang berada bisa menyelamatkan diri dan keluarganya, dan masih bisa bantu orang lain. Yang pas-pasan ada, syukur alhamdulillah bisa terus hidup dengan baik bersama keluarganya. Yang diada-adain, mungkin harus bekerja lebih kreatif untuk menambah pemasukan. Yang tidak ada, entah apa kabarnya. Membayangkannya pun tak sanggup. 

Saya berdoa, semoga semua orang terus dimampukan untuk tetap kuat, sehat, berdiri tegak, berpikir baik, dan mau #bersatulawancorona dengan tetap #DiRumahAja. #TetapSemangat ya! Badai Insha Allah berlalu 💪

#Travelerien
#CoronaVirusIndonesia
#CoronaVirusPandemic

Instagram post @travelerien 07042020

Seorang istri. Ibu dari dua anak remaja. Tinggal di BSD City. Gemar jalan-jalan, memotret, dan menulis.

Share this

Previous
Next Post »
Give us your opinion

Leave your message here, I will reply it soon!