Kuliner Pijok-pijok Khas Way Kanan di Kampung Wisata Gedung Batin

13.32
Kuliner Pijok-pijok di Desa Gedung Batin Way Kanan

Kampung wisata “lestari” Gedung Batin menawarkan wisata ekologi dan budaya perkampungan tradisional Lampung Way Kanan. Merupakan satu diantara kampung tua di kabupaten Way Kanan. Di sini masih bisa kita lihat peninggalan budaya nenek moyang dari arsitektur khas Lampung Tempo Doeloe sampai perabotan-antik sebagai penghias ruangan. Keunikan kampung ini menjadi daya tarik wisata yang sayang untuk dilewatkan. Dalam event Gedung Batin Bamboo Rafting yang digelar pada tanggal 8 Oktober 2017, salah satu kegiatannya adalah Kuliner Pijok-Pijok yang dilaksanakan di rumah kepala desa Gedung Batin, salah satu rumah tua berusia ratusan tahun yang masih berdiri kokoh. Kegiatan kuliner ini menjadi satu kesatuan yang utuh dari aktivitas berwisata di Desa Gedung Batin. 

kuliner khas way kanan
Kuliner pijok-pijok Way Kanan

Pengalaman pertama saya kulineran Pijok-pijok pada bulan April 2017 lalu saat event Festival Radin Djambat. Tempatnya di rumah Ibu Devi, kepala desa Gedung Batin. Kesimpulan sementara dari sekilas info yang saya dapat sebelum mencoba adalah pijok-pijok merupakan cara makan, bukan sebutan yang mengacu pada makanannya. Maknanya jadi benderang buat saya kala dipraktekkan langsung oleh Bapak Adipati Surya, Bupati Way Kanan, saat kami makan siang bersamanya. 

Pada prakteknya, pijok-pijok serupa ‘nyeruit’ yang namanya lebih populer digunakan oleh masyarakat Lampung. Secara sederhana, nyeruit adalah aktivitas dari membuat seruit (sambal) dan memakannya secara bersama-sama.  

Baca juga : Trail Adventure Air Terjun Puteri Malu

Pak Bupati asyik menikmati makanannya 😍

Dalam tradisi masyarakat Way Kanan, membuat sambal dari campuran beberapa makanan dengan menggunakan tangan (tidak dibantu alat pengulek/ulekan) dan dilakukan bersama-sama disebut pijok-pijok. Sambal khas dalam tradisi pijok-pijok terdiri dari cabe, terasi, cung kediro (semacam tomat ukuran kecil), tempoyak, kuah pindang ikan (biasanya ikan baung), daging ikan baung, terong rebus/bakar, timun mentah (bagian isinya). Semua makanan tersebut dikumpulkan dalam satu wadah (piring/mangkok), dicampur dan dilumatkan dengan menggunakan tangan hingga menjadi “sambal baru” yang siap dimakan bersama nasi, lauk pauk, sayur, dan aneka lalapan mentah maupun direbus. Biasanya, pijok-pijok yang dilakukan oleh seorang laki-laki dimakan untuk dirinya sendiri. Jika dibuat oleh perempuan, sambalnya untuk dimakan bersama-sama. 

Aneka lalapan

Pindang Ikan Patin

terung rebus bagian terpenting pijok-pijok maupun nyeruit

Hidangan istimewa ala Gedung Batin

Dalam event Gedung Batin Bamboo Rafting baru-baru ini, kuliner pijok-pijok jadi bagian dari kegiatan yang saya tunggu-tunggu. Rasa rindu untuk mengecap ulang racikan sambal khas, dan memaknai filosofi di baliknya, membuat saya tidak ingin ketinggalan. Itu sebabnya seusai bamboo rafting, saya memilih bergegas mandi dan ganti pakaian kering ketimbang berlama-lama berbaur dengan warga yang tumpah ruah di lokasi finish bamboo rafting. Bukan maksud hati untuk menjauh dari keramaian, apalagi menghindar berinteraksi dengan warga, tapi sekedar mengejar jadwal ‘wajib’ agar tak ketinggalan. 


Baca juga: Tiada Resah di Pulau Sebesi

Suasana Desa Gedung Batin hari itu

Rumah kepala desa tempat kulineran pijok-pijok

Di ruang rumah kepala desa yang lapang, makan siang sudah dihidangkan. Ada dua kelompok hidangan yang ditata memanjang. Dilihat dari jumlah tempat duduk yang tersedia di depan hidangan, saya yakin tidak akan mampu memuat seluruh peserta bamboo rafting. Mungkin karena itu jumlah peserta yang ikut pijok-pijok dibatasi. Meski dibatasi, sebenarnya peserta yang belum kebagian masih bisa antri, menunggu kloter pertama selesai dulu. Lain halnya jika makanan disajikan ala buffe, tidak perlu antri. Langsung ambil saja, lalu bawa makanannya pergi menjauh dari hidangan. 

Bapak wakil bupati bergabung dengan para wisman

Di hadapan saya telah duduk rombongan bapak kepala dari dinasnya masing-masing. Di antaranya Bapak Kadarsyah Kadis Perikanan. Beliau salah seorang penyumbang ikan yang digunakan dalam kuliner pijok-pijok. Bapak Hendri Syahri Kepala Badan Pendapatan Daerah. Bapak Pardi Kadis Sosial, dan Staf Ahli Bapak Juanda. Beberapa wisman dan ibu-ibu PNS juga duduk satu hidangan dengan kami. Sedangkan Bapak Wakil Bupati duduk pada hidangan lainnya, bergabung dengan para wisman dan media.

“Ayo langsung makan saja,” ucap Pak Kadarsyah.

Seperti genderang yang ditabuh, ajakan itu menjadi tanda dimulainya acara makan. Meski acara makan ini resmi, tapi dilakukan dalam suasana santai. Bapak-bapak pejabat duduk bersila di lantai rumah, sama rendah dengan kami. Tidak ada acara sambutan sebagai tanda dimulainya pijok-pijok. Tiap yang sudah duduk di depan hidangan, langsung menyendok nasi, menyeruput minuman, dan mulai menyuap makanan. Ada sedikit tanya dalam benak saya mengenai bagian meracik sambal yang tidak diperlihatkan. Tadinya saya berharap semua peserta yang turut makan, khususnya para wisman, memperoleh penjelasan tentang apa itu pijok-pijok, dan apa makna dibalik tradisi pijok-pijok. Saya pikir itu perlu sebagai cara untuk mengenalkan kuliner khas ke wisatawan yang datang ke Gedung Batin. 

Kuliner Way Kanan Asyik

Makanan enak dan kebersamaan, nikmatnya bukan main

Acara makan tidak berlangsung cepat. Makanan enak dan suasana yang menyenangkan memang bikin betah, jadi susah beranjak. Tapi bagaimana pun, masih ada orang lain yang belum makan. Tetap harus minggir dari hadapan hidangan.

Makanan masih banyak, masih bisa dinikmati oleh kloter kedua. Tapi sayang, kloter dua yang ditunggu tak datang-datang. Entah deh kemana, mungkin sudah makan di tempat lain. Mungkin juga sudah pergi karena ngambek nggak bisa makan bareng dengan kloter pertama *kidding 😄


Baca juga: To The Scenic of Pulau Pisang

Lestarilah selalu Pijok-pijok

Makanan akhirnya diangkut ke belakang, khawatir nanti makanan nggak sengaja kena injak, sebab suasana rumah yang tadinya tenang mendadak jadi riuh oleh urusan foto-foto. Ibu-ibu warga desa yang hari itu berkumpul di rumah kepala desa, yang sejak pagi bergotong royong memasak makanan untuk para undangan, sibuk berfoto dengan para wisman. Bukan ibu-ibu saja sih. Beberapa peserta lokal dan anak-anak muda desa yang kebetulan berada di rumah juga jadi ikut berfoto. Acara foto-foto ini tidak sebentar. Agak lama menunggu mereka kelar. Mungkin hal yang langka buat mereka bisa sedekat itu dengan para bule. Walau jelas sekali di mata saya, beberapa bule tampak lelah karena tak henti diajak foto. Saya cuma bisa menikmati suasana saat itu sambil senyum-senyum, terutama melihat keriaan pada wajah-wajah yang berhasil berfoto dengan bule yang diincarnya. 

foto-foto bareng wisman

foto-foto bareng wisman

foto-foto bareng wisman
Wisata Kampung Bali Sadhar

Dengan berakhirnya kuliner pijok-pijok, berarti berakhir pula rangkaian kegiatan Gedung Batin Bamboo Rafting. Namun, masih ada kegiatan lainnya yang kami ikuti bersama para wisman yaitu berkunjung ke Bali Sadhar yang sedang mengadakan upacara Ruwat Bumi. Kami di ajak ke sana untuk melihat-lihat.

Bali Sadhar adalah sebuah desa di Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan, Lampung. Desa ini dihuni oleh para transmigran dari Bali yang mengungsi ke Lampung paska letusan Gunung Agung. Setelah puluhan tahun, akhirnya mereka memilih untuk menetap di Lampung. Bali Sadhar terbagi menjadi tiga wilayah, yaitu Bali Sadhar Utara, Bali Sadhar Tengah, dan Bali Sadhar Selatan. Masing-masih wilayah dipimpin oleh kepala kampung. Bali Sadhar bukanlah satu-satunya perkampungan Bali yang ada di Lampung, bahkan di Way Kanan. Selain Bali Sadhar, ada juga kampung Bali di Sopoyono, Kecamatan Negeri Agung, Kabupaten Way Kanan. 

Nuansa Bali dalam warna-warna cerah khas ornamen Lampung

Ramik Ragom sepertinya bukan sekadar semboyan bagi Kabupaten Way Kanan. Berbagai suku, agama, dan budaya hidup rukun berdampingan di kabupaten ini. Salah satunya adalah komunitas Bali di Bali Sadhar ini. Tak hanya bangunan berarsitektur Bali yang bisa kita lihat di sini, tapi juga kehidupan sehari-hari mereka yang masih teguh memegang adat dan budaya warisan nenek moyang.

Bulan April lalu saat pertama berkunjung ke Bali Sadhar ini, kami disuguhi dodol Bali di kediaman Eyang Resi. Selain disuguhi dodol untuk diicip-icip, kami juga diajak melihat langsung cara pembuatan dodolnya.


Baca juga: Bamboo Rafting Seru di Way Kanan

Dodol Bali produksi warga Desa Bali Sadhar

icip-icip dodol Bali

Melihat cara pembuatan dodol Bali

Sore itu kami berkunjung ke Pura Tangkas Kori Agung. Kami diijinkan masuk, tapi hanya sampai pada area tertentu. Bisa dimaklumi karena saat itu umat Hindu sedang beribadah, khawatir mengganggu kekhusyukan. Tidak banyak yang bisa kami lakukan selain berinteraksi sejenak dengan beberapa wanita Bali yang kami temui. Sisanya hanya berfoto bersama. Setelah itu kami meninggalkan pura, mengejar sunset dari sebuah ladang jagung warga Bali Sadhar. Lewat magrib kami kembali ke Blambangan Umpu, menuju rumah Pak Firdaus Rya Mayu, seorang pegusaha batu terkenal di Way Kanan, untuk menikmati makan malam nan lezat.

Wanita Bali Sadhar selepas beribadah

Perempuan-perempuan cantik

Foto bareng sebelum pulang

Senja di Banjit

Makan malam di rumah pengusaha batu, maka ‘dekorasi’ tempat makan pun dikelilingi oleh tumpukan batu. Bukan sembarang batu, melainkan batu berharga yang bila telah selesai diolah, wujudnya akan menyilaukan para penggemar perhiasan batu. 

Jamuan makan malam istimewa dari tuan rumah disertai dengan hiburan live music dari band lokal. Perut kenyang, telinga senang. Beberapa orang bernyanyi dan berjoget, menghibur diri dan orang lain. Malam berkesan bagi saya sebelum esok hari kami meninggalkan Way Kanan. 

Makan malam enak

Terima kasih suguhannya

Bersama K@wan

Jadi tamu PT. Buay Tumi Lampung

Hiburan

Wan Yazed nyanyi

Happy

Terima kasih kepada segenap rekan-rekan di Way Kanan untuk kebersamaan dan pengalaman tak terlupakan yang akan selalu indah untuk dikenang pada masa yang akan datang. Semoga pariwisata Way Kanan makin maju dan berdaya saing.

Rangkaian kegiatan Gedung Batin Bamboo Rafting dapat dibaca pada tulisan sebelumnya : 

Bersama Bupati Way Kanan Bapak Raden Adipati Surya - Festival Radin Djambat April 2017

Salah satu rumah tua di gedung Batin usia 200 tahun

Rumah tua usia 3 abad, kediaman Pak Ali

Makam tua bertuliskan tahun 1305

Di teras rumah Pak Ali, kan ku kenang selalu (Foto Yopie P)

Ukiran khas Lampung di teras rumah Pak Rajimin (Foto: Yopie P)

Mari berwisata di perkampungan tradisional Gedung Batin


Share this

Indonesian Travel Blogger Email: katerinasebelas@gmail.com

Related Posts

Previous
Next Post »

10 comments

Write comments
18 Oktober 2017 19.38 delete

mungkin pijok-pijok ini semacam diremas-remas sambal lalapan gitu yoo :D

ah seru nih kegiatan di sana yuk rien, lokasi rumah batin emang instagramable.

Reply
avatar
19 Oktober 2017 08.24 delete

Haha yo cak itulah Ded kiro-kiro. Kapan-kapan ikut yuk Rien yok ke Way Kanan. Pasti seneng nian kau foto-foto di rumah tuo itu.

Reply
avatar
19 Oktober 2017 11.14 delete

Jakunku naik turun baca tulisan ini. Udah lama gak ngelalap daun jambu. Ditambah siraman pindang patin, sambal dan kemangi, iler netes! hahaha.

Suka foto mb Rien yang sama anak kecil itu. Baguuus.

omnduut.com

Reply
avatar
19 Oktober 2017 17.25 delete

Rame bangett pasti seru ya mbaa. Makan bareng pak bupati lesehan gt keliatan guyub yaaa

Reply
avatar
19 Oktober 2017 23.46 delete

Seru banget acara makan-makannya
Pastinya asik makan rame2 begitu, sambil ngobrol sambil makan, gak terasa perut penuh hahahahaha

Aku lho penasaran sama Gedung Batin itu, keren banget bisa kokoh meski sudah ratusan tahun

Reply
avatar
20 Oktober 2017 03.51 delete

Rame... Seruu... Ini lanjutan yg rafting kmrin ya mbak. Duh... Kapan ya bs ke Lampung. Kok berasa seru banget ceritanya mbak. Jadi bayangin bikin pijok-pijok tampa ulekan. Trus abis itu tangan panas kena cabe. Haha

Reply
avatar
20 Oktober 2017 06.23 delete

Wah jadi tau banyak ttg kuliner lampung baca tulisan ini, cara makan Pijok Pijok mirip sama dhahar kembul kalau di Jogja nggak ya? kita makan bersama di alas daun. Atau krn ada sambalnya yang membedakan ya? Penasaran juga itu janggel (jagung kecil) dimasak utuh direbus atau diapakan ya mba?

Reply
avatar
20 Oktober 2017 11.33 delete

waahhh asik banget, makannya bareng2
coba pake daun pisang bancakan gitu ya mbak

Reply
avatar
21 Oktober 2017 23.54 delete

Rumah2 adatnya eksotis Mbak rien, apalagi yg usianya 200 tahun itu.
Penasaran apakah kemampuan bertukangnya jg ditularkan ke generasi berikutnya ya?
Wah ternyata ada jg ya kampung Bali di sana :D
Penasaran ceritanya knp bisa hijrah ke sana di zaman dulu :D

Reply
avatar
25 Oktober 2017 09.40 delete

Yang bikin ngiler kalo mampir ke blog mba Rien, pengen nyicip kuliner-kuliner lokalnya hihihi

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon