Bamboo Rafting Seru Mengarungi Way Besay di Way Kanan

23.02
Travelerien.com

Saat kamu lelah dan kehilangan arah tak tahu hati harus kemana, cobalah ke Way Kanan. Naiklah rakit bambu, hanyutkan diri di Sungai Way Besay. Duduk tenang saja di atas rakit, mengikuti aliran air yang membawa ke hilir, bersama galau yang kamu rasa. Biarkan alam bekerja atas RASA itu. Rasa yang akan diusir dengan cara sehat, yaitu cara menyenangkan yang digemari oleh para petualang.

Percayakan saja semua pada cuaca panas yang akan menyengatnya hingga gosong, atau pada hujan yang akan membuatnya beku kedinginan. Pada arus deras yang akan menggulungnya. Pada bebatuan cadas yang akan meremukkan tulang-tulangnya. Pada rasa lapar dan dahaga yang akan membuatnya terkulai lemah. Pada kayu-kayu di tepian yang akan menghadangnya hingga terjatuh. Lalu setelah itu baru akan kamu temui hadiah di ujung perjalanan; hati yang begitu bebas dengan rasa yang lebih baik, lebih tenang, lebih tentram, lebih ikhlas. 

bambu rafting
Mengusir galau dengan Bamboo Rafting :))

Bagaimana? Mau coba usir galau dengan cara berakit-rakit ke hilir Way Besay? Coba deh, dijamin sukses! :D

Kalau tidak ada galau yang harus diusir, biarkan bamboo rafting menghadirkan rasa lain yang lebih seru untuk dinikmati. Keseruan yang diliputi rasa tegang, membuat jantung berdebar-debar, panik, bahkan ketakutan, tapi super menyenangkan.

Meraup kesenangan dengan cara memacu adrenalin, bukankah itu menarik? 



Aktivitas di alam liar ini harus dicoba, terutama untuk jiwa petualang. Jika kamu seorang wisatawan yang sukanya bermanja-manja dan anti lecet, mending naik kapal pesiar mewah saja (sediakan sendiri kapalnya), sebab bamboo rafting bisa saja membuatmu kapok. Tapi tenang, bamboo rafting sebetulnya aman. Kecuali memang sudah takdir Tuhan harus menjemput maut di Way Besay.

Mengenai keamanan, Lamasik Sinaga yang merupakan ketua bidang kompetisi pengurus provinsi FAJI (Federasi Arung Jeram Indonesia) Lampung menyatakan jalur bamboo rafting Way Besay Kampung Banjar Masin hingga Kampung Banjar Sari, Kecamatan Baradatu, Way Kanan, AMAN. Rute bamboo rafting Way Kanan sudah melalui serangkaian tes dan uji coba. So, tidak usah khawatir. Tim pemandu pun sudah terlatih.

Tonton juga video bamboo rafting saya di sini: Mengarungi Sungai Way Besay

Titik awal keberangkatan bamboo rafting dekat Jembatan Desa Banjarmasin

Saya seorang pejalan yang mau mencoba apa saja, tapi tentu dengan segala persiapan matang. Bamboo rafting pun tak luput dari daftar kegiatan yang tidak boleh dilewatkan. Bukan untuk mengusir galau, apalagi rasa kesepian, tapi untuk sebuah pengalaman penuh tantangan. Kapan lagi main di sungai ramai-ramai bareng banyak orang dari berbagai kalangan? Apalagi ada orang nomor satu di Way Kanan ikut serta. Mantap nian, kan?

Bamboo rafting yang pernah saya tahu ada di Loksado, Kalimantan Selatan. Saya pernah membacanya dalam blog Mariscka Prudence, travel blogger kondang asal Jakarta. Tapi kini bamboo rafting ada di Lampung, tepatnya di Kabupaten Way Kanan. Dekat dari Jakarta, bukan? Wajib coba.

Bupati Raden Adipati Surya.SH.MM dan Wakil Bupati DR.Drs. Edward Antony.MM *Sumber foto : WayKananKab.go.id

Launching Bamboo Rafting

Dalam rangka perayaan HUT ke-18 Way Kanan, Dinas Pariwisata Way Kanan menjadikan bamboo rafting sebagai salah satu kegiatan promosi pariwisata Way Kanan. Bamboo rafting di Way Besay sudah pernah dicoba lebih dulu oleh komunitas Wisata Way Kanan. Tapi baru di-launching pada hari Sabtu tgl. 22 April 2017 dan dilanjut pada hari Minggu tgl. 23 April 2017.

Hari pertama diiikuti oleh peserta dari seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), KNPI, KPU, kakam (kepala kampung) Banjar Negara beserta rombongan, kakam Tiuh Balak beserta rombongan, kakam Kecamatan Blambangan Umpu beserta rombongan, dan kakam dari Kecamatan Baradatu beserta rombongan. Pada hari kedua bamboo rafting diikuti oleh MTMA Jakarta dan sebagian besar mahasiswa dari berbagai kota, di antaranya dari Universitas Brawijaya Malang, Palembang, Jambi, dan Bandar Lampung.
 
Moment yang terlewatkan karena datang telat :D *Sumber foto : Tribun Lampung*

Saya dan rekan-rekan blogger ikut rafting di hari pertama. Ada 42 rakit yang disediakan oleh panitia, salah satunya tentu untuk kami. Dari Desa Gedung Batin (tempat kami menginap), Adjie (salah satu panitia pelaksana event festival Way kanan dari Komunitas Wisata Way Kanan), mengantar ke Banjarmasin, desa yang menjadi titik keberangkatan rakit bambu. Berhubung jaraknya cukup jauh, Adjie menyetir dengan kecepatan penuh. Bak pembalap. Mobil pun seperti terbang. Segala lubang diterabas. Badan pun terguncang-guncang. Sepertinya Adjie perlu ditanya password. Jangan-jangan yang menyetir saat itu adalah…. *lol

Suasana di sekitar jembatan Desa Banjarmasin tampak ramai oleh kerumunan warga yang menonton pelepasan rakit-rakit bambu. Satu persatu peserta berangkat. Rakit yang dinaiki Bapak Bupati Way Kanan sudah jauh memimpin di depan, disusul oleh rombongan lainnya, termasuk humas dan protokol. Rakit terakhir yang saya lihat, berangkat dengan 2 peserta (umumnya 1 rakit muat untuk 4-5 orang) yang entah dinaiki oleh siapa. 

Rakit terakhir yang sempat saya lihat sebelum akhirnya kehabisan :D

Rakit habis, naik speed boat pun jadi

Saking antusiasnya, peserta yang datang di hari H melebihi kuota. Rakit habis, tersisa satu speed boat. Kehabisan rakit, speed boat pun jadilah. Yang penting tetap bisa berangkat, bisa merasakan dan melihat langsung kondisi jalur sungai yang dilalui. Tanpa berharap bakal ada rakit tambahan turun dari langit, kami naiki speed boat itu, menjadi rombongan paling belakang, menyusul mereka yang sudah lebih dulu berakit-rakit ke hilir.

Kapasitas speed boat terbatas, hanya muat untuk 6 orang. Yuk Annie, mbak Sari, dan Oqta memilih menunggu di darat, di batas akhir perjalanan rakit. Sedangkan saya, Ika, mbak Dian dan seorang bapak (saya lupa namanya) memilih berangkat. Dua laki-laki perkasa, Surya dan Samgar Ngantung, jadi ‘pengemudi’ speed boat. Dipundak keduanyalah asa mencapai tujuan diletakkan. 

Laskar Speed Boat Mengarungi Way Besay

Berhubung jumlah life jacket yang disediakan panitia hanya sesuai jumlah peserta yang terdaftar saja, lantas ada yang mendahului padahal di luar kuota, maka kami yang “ketinggalan” jadi tak semua kebagian. Hanya Ika dan bapak berkaca mata hitam yang kebagian. Saya dan Dian pakai jaket pelampung bayangan. Meski bisa berenang, tanpa life jacket mestinya saya tidak boleh berangkat. Saat itu pilihannya cuma 2, tetap berangkat modal nekat, atau tinggal dan kehilangan moment. Saya pilih berangkat. Kalau terjadi apa-apa, jangan salahkan panitia tentunya. Ok. Bismillah.

Persiapan Naik Rakit


Rute Banjarmasin ke Banjar Sari sekitar 12 KM. Menurut informasi, waktu tempuh selama kurang lebih 2,5 jam. Kami sudah diingatkan agar membawa bekal makanan dan minuman. Saya sudah beli, tapi karena terburu-buru turun dari mobil, malah ketinggalan. Nyesel jadinya. Yang ada, sepanjang naik speedboat jadi berhalusinasi, berulang kali seperti melihat nasi rendang dari rumah makan Padang *lol

Saya sudah mengira bakal basah-basahan. Itu sebabnya saya gunakan dry bag untuk mengamankan barang-barang, terutama kamera DSLR. Agak menyesal bawa kamera besar, karena sepanjang menghanyutkan diri di Way Besay justru disimpan rapat-rapat. Tidak aman untuk digunakan memotret. Speed boat berguncang-guncang, berputar-putar, bahkan kemasukan banyak air. Beresiko.  

Mbak Dian masih senyum nih di awal-awal :D

Naik speed boat saja beresiko karam, masuk sungai, dan pastinya basah. Apalagi naik rakit bambu. Sebaiknya memang tinggalkan semua barang bawaan, bikin repot. Kecuali smartphone untuk ambil foto dan video. Itu pun mesti pakai kantong waterproof hp dulu biar aman.

Makanan dan minuman jadi bekal wajib selama naik rakit. Tidak ada warung apalagi supermarket di sepanjang jalur sungai yang dilalui. Yang ada hanya hutan, perkebunan, ladang, dan perkampungan yang mesti dicapai dengan jalan kaki cukup jauh. Kalau mau, kembali ke alam saja. Haus tinggal teguk air sungai. Saat merasa lapar tinggal petik dedaunan di sepanjang tepian buat cemilan he he.

Yang jelas, bawa makanan secukupnya seperti kue-kue atau roti dan snack-snack ringan lainnya. Tidak usah sampai bawa rantang segala. Tidak makan selama 2,5 jam biasa kan ya. Yang penting ada cemilan. Siapa tahu mendadak keroncongan. Masukkan makanan ke dalam kantong tertutup yang tahan air. Bawa cemilan enak-enak kalau basah jadi hilang juga enaknya.

Matahari bersinar terik, tak sedap untuk kulit tentunya. Sebelum berangkat, panitia sudah berpesan agar kami para cewek bawa topi lebar. Ternyata memang berguna, termasuk kaca mata hitam. Walaupun pada kenyataannya topi dan kaca mata masuk tas juga akibat takut terlempar ke sungai karena perjalanan berspeedboat ternyata tak semulus bayangan. 

Awalnya tertawa lebar...akhirnya....? :D

Petualangan Seru Mengarungi Way Besay

Naik speed boat tidak berarti membuat perjalanan kami jadi cepat dan bebas hambatan. Apa yang kami alami tak jauh beda dengan mereka yang naik rakit bambu. Terbanting ke tepian, menerabas dahan dan dedaunan, tersangkut batu-batu sungai, kepanasan, basah, bahkan hampir karam.

Sekali lagi, bamboo rafting ini adalah wisata dengan minat khusus. Kental dengan petualangan. Harus siap mental dan stamina yang kuat. Buat yang gemar bermain dengan tantangan, segala hambatan adalah rasa manis yang bikin ketagihan, ingin dilahap berulang-ulang.

Melewati 6 jembatan gantung, salah satunya jembatan ini

Awalnya kami masih leluasa tertawa-tawa karena sungai yang diarungi masih tenang. Tak lama, ketika perahu sampai pada bagian dangkal dan banyak batu, cerita mulai berubah. Air sungai tak hanya berombak, tapi bergulung-gulung dan bergemuruh. Kondisi seperti ini bukan hanya sekali, tapi berkali-kali sepanjang perjalanan. Tawa pun lenyap, berganti ketegangan. Silih berganti, sesuai kondisi sungai yang dilalui.

Teringat peribahasa, air beriak tanda tak dalam. Tanda inilah yang menjadi petunjuk kapan mesin perahu kami dimatikan dan dihidupkan. Saat mesin dimatikan, beberapa kali mesin diangkat karena dikhawatirkan kipasnya patah menabrak batu-batu. 

Sungai dengan banyak delta

Dua laki-Laki Tangguh Itu bernama Surya dan Sam

 
“Ambil kiri, Sur. Jangan kanan!”


Sam bertindak bagai kapten, ia memerintah Surya dengan ocehan panjang kali lebar. Di suruh dorong ke kiri, putar ke kanan, ambil jalur kiri, ambil jalur kanan. Saya melihat Sam dengan bangga. Dia kapten hebat. Hebat punya lidah yang bergerak dengan kecepatan cahaya! :p

“Terbalik kita Sur, terbalik Sur…!”


Surya bekerja patuh. Mulutnya banyak terkunci, fokus pada apa yang dilakukan. Tangannya mengeras, mengendalikan dayung, mencari jalan. Tapi arus deras tak bisa di ajak kompromi. Sam dan Surya kalah kuat. Perahu justru meluncur ke tempat yang tidak diharapkan. Kami panik. Makin panik saat melihat Sam dan Surya terjun ke sungai. Badan keduanya tenggelam sebatas dada. Lalu mati-matian menahan perahu agar tidak terseret arus.

Surya tampak punggung, tangguh mengemudi :D

Ketegangan meninggi. Wajah mbak Dian, bapak berkaca mata hitam, dan juga Ika, menyiratkan rasa yang sama. Saya bergerak cepat memasukkan semua barang (hp, topi, kaca mata hitam) ke dalam dry bag. Menutup rapat, lalu mengikatnya kencang-kencang. Ada yang istighfar berulang-ulang (eh, itu saya). Bapak berkaca mata tak kalah panik. Tangannya erat memagang tali pengaman di pinggir perahu. Saya cemas melihatnya. Jangan-jangan dipuncak kepanikan dia memilih terjun bebas. Syukurlah tidak.

Surya dan Sam kalah kuat dengan arus air sungai. Perahu gagal ditahan, akhirnya terlepas terbawa arus. Sebelum perahu menjauh, Surya dan Sam bergegas mengejar perahu, naik lewat belakang. Karena naik bareng, beban perahu berpindah ke belakang. Air masuk tak dapat dihindari. Kami berteriak, “karam…karam…”

Perahu berisi air. Ika sibuk membuangnya dengan gelas air mineral bekas. Gelas kecil yang ukurannya tak sebanding dengan volume air yang masuk perahu. Saya lebih kacau lagi, membuang air menggunakan sandal entah punya siapa. Niatnya membantu menyelamatkan perahu, tapi apa daya alat bantu yang diambil sungguh aneh. 

Sam, sang "kapten" dan bapak berkaca mata hitam yang tidak pernah dilepas :D

Baru saja kelar melewati hadangan pertama, nafas belum teratur, badan belum tegak, muncul hadangan berikutnya; akar-akar dan dahan pohon. Teriakan kembali terdengar. Mantap jaya.

Menabrak daun-daun dari pohon yang batangnya menjorok ke sungai, sungguh tak dapat dihindari. Bukan hanya daun, kadang batang-batang bambu, kayu, dan akar pohon. Jika lengah, bisa saja wajah dan badan penuh goresan.

Jika tak handal mengendalikan rakit atau perahu, bisa saja menabrak ini

Kejadian menegangkan seperti itu terjadi beberapa kali dalam perjalanan yang kami tempuh. Memang banyak paniknya, tapi lebih banyak senangnya. Tetap seru. Kadang malah penasaran untuk merasakan hambatan berikutnya.

Pada sesi berikutnya, air yang masuk perahu makin banyak. Kami pun sampai pada puncak kecemasan. Jika tak ambil keputusan untuk  ‘mendarat’, dipastikan perahu akan karam. Tenggelam sih tidak, paling terbalik. Akhirnya, pada sebuah delta yang banyak bebatuan, kami menepi. Sam dan Surya bergegas mengeluarkan air yang mengisi hampir setengah badan perahu. Setelah kosong, kami kembali melanjutkan perjalanan. 

Speed boat penuh air, teraksa singgah di delta untuk mengosongkan perahu

Mumpung di tempat aman, keluarkan hp, welfie dulu....

Bertemu Rakit Kepala Humas

Dalam perjalanan, kami beberapa kali menjumpai orang-orang. Baik peserta launching bamboo rafting (dengan rakit dan ban hitam) itu sendiri, maupun penduduk yang tinggal di sekitar pinggiran sungai. Padahal tak terlihat ada perkampungan dengan rumah-rumah warga. Di pinggiran sungai hanya hutan, ladang, atau kebun saja. Kegiatan yang mereka lakukan macam-macam. Ada yang mandi, mencuci baju, sekedar mengambil air, ataupun menangkap ikan dengan pancing.

Dalam seperempat perjalanan, kami menjumpai 2 remaja menggunakan ban, menghanyutkan diri mengikuti kemana air mengalir. Di tempat berikutnya, ada 4 pria berbaju pelampung oren berjalan di pinggiran sungai, di kebun entah milik siapa. Sam berteriak memanggil mereka, seakan cemas pada 4 orang itu. Apakah mereka peserta yang  menyerah? Tapi kemana rakitnya? Tak nampak pun. 

Rakit yang tersangkut berhasil dilepaskan

Mereka sepertinya lelah

Di separuh perjalanan, kami bertemu lagi dengan 2 pria lain. Peserta bamboo rafting juga. Tampaknya mereka baru saja menepi. Berjalan ke daratan, meninggalkan ban hitam yang tergeletak di antara semak-semak pinggir sungai. Sam kembali berteriak, memanggil dan menyuruh keduanya agar jangan meninggalkan ban hitam tersebut. Mau kemana 2 laki-laki itu?

Kami kembali melanjutkan perjalanan dan kembali bertemu dengan peserta  lainnya. Kali ini kami ketemu bapak kepala Humas Way Kanan. Awalnya kami melihat ada rakit tersangkut di semak-semak pinggir sungai. Ada dua orang pria di atas rakit itu. Tak jauh dari rakit ada 2 orang lainnya sedang mengapung agak ke tengah sungai. Setelah rakit terlepas, dua orang tersebut berusaha naik, tapi rakit malah terbalik. Diulang lagi, gagal lagi. Tampaknya mereka lelah. Akhirnya Surya mengajak salah satu dari mereka untuk naik speed boat. Yang diajak ternyata bapak kahumas Way Kanan. Seorang lainnya protokol Way Kanan juga ikut naik. Surya pindah ke rakit, tukar tempat dengan bapak Humas. Kami melanjutkan perjalanan, beriringan dengan rakit bambu.

Pak Kepala Humas Way Kanan pindah ke speed boat kami, tukaran dengan Surya :D

Tak ada lagi sungai dangkal dengan batu-batu besar yang menghadang laju perahu kami. Berperahu selama 15 menit bersama bapak kahumas lancar jaya. Jembatan gantung ke-6 yang kami lewati sudah menjadi tanda bahwa perjalanan sebentar lagi mencapai garis finish. 

Jelang speed boat merapat ke pantai (batas antara sungai dan daratan), saya diliputi berbagai macam rasa. Haru, senang, bahkan sedih. Entah kenapa perjalanan selama 2 jam (tidak jadi 2,5 jam) itu terasa berkesan sekali. Kebersamaan selama mengarungi sungai dengan segala drama-nya, seperti telah menyatukan kami bagai sebuah keluarga dekat.

Ada rasa senang karena pada akhirnya kami selamat sampai tujuan. Lolos dari segala rintangan dan berhasil menyelesaikan perjalanan berperahu sampai akhir. Di ujung perjalanan itulah kami berpisah dengan Surya dan Sam, dua pahlawan kami selama mengarungi Way Besay.

Akhir perjalanan

Perjalanan Penuh Makna

Berperahu mengikuti aliran air Sungai Way Besay tidak melulu tentang menantang berbagai hambatan. Tapi juga tentang menikmati keindahan yang tersaji sepanjang perjalanan. Ada sentuhan damai dari suguhan hijau yang datang dari hutan lebat di pinggiran sungai. Kealamiannya menentramkan, menghadirkan ketenangan. Bagai obat bagi jiwa-jiwa kalut yang bosan dengan gemerlap hutan beton dan polusi yang tak henti meracuni tubuh. Tidakkah tempat semacam ini layak diperjuangkan agar tetap jadi obat bagi kehidupan banyak mahkluk hidup?

Kami pun tidak melulu merasakan ketegangan. Canda dan tawa tetap hadir mewarnai perjalanan. Beberapa kali menguatkan Surya yang kelelahan. Memberinya semangat kala terjatuh dari speed boat. Menghibur Sam yang pipinya tergores kayu. Mengalihkan perhatian mbak Dian dari kepalanya yang benjol. Saya pun berusaha menepis rasa nyeri pada telapak tangan yang tertusuk kayu. Kami saling menguatkan, bukan melemahkan. Karena dengan demikianlah perjalanan berperahu yang ditempuh selama 2 jam jadi punya makna; kebersamaan. 

semacam rintangan

nggak ada buaya air, adanya buaya darat

di depan sana, kayu pohon siap menyambut :D

Sebanyak apapun ‘halangan’ yang ditemui, saya (dan mungkin juga teman2) memilih untuk mentertawakannya. Tertawa agar rasa sakit tidak berlarut-larut. Menikmatinya sebagai “ujian” yang menyenangkan. Ujian yang membuat kami akhirnya tersenyum di akhir perjalanan.

Susur sungai ini memberi memang memberi makna tersendiri bagi saya. Bagai sebuah kehidupan. Mengalami berbagai tantangan yang menegangkan, sekaligus merasakan berbagai keindahan yang membawa kebahagiaan. Enak dan tidak enak, semuanya sama-sama ujian. Ujian yang tak akan ada habisnya kecuali perjalanan telah berakhir. Mati.

Sesulit apapun rintangan, tetap ceria hingga akhir perjalanan

Bamboo Rafting Way Kanan

Pengalaman mengarungi sungai Way Besay sangat berkesan dan tak terlupakan. Seru dan menyenangkan. Saya memang tidak merasakan langsung bagaimana asyiknya naik rakit bambu. Namun, apa yang dijumpai selama mengarungi sungai Way Besay dengan speed boat adalah sama; Air keruh dan deras, rute panjang dan punya berbagai rintangan.

Melihat langsung rombongan pak kepala humas Way Kanan naik rakit bambu, membuat saya yakin pengalaman naik rakit bambu pasti lebih seru.

Perkiraan awal waktu tempuh sekitar 2,5 jam. Realisasinya kurang lebih 2 jam saja. Berangkat pukul 10.50, sampai pukul 12.55 WIB. Mungkin karena naik speed boat. Naik rakit bambu bisa jadi 2,5 jam. 

Penuh kesan dan tak terlupakan

Kembali ke Way Kanan dan merasakan naik rakit bambu masih jadi keinginan. Mudah-mudahan jika suatu hari nanti kembali, bisa mengarungi Way Besay dengan rakit beneran. Buat yang tertarik bamboo rafting, coba deh ke Way Kanan. Kegiatan ini bisa diikuti tiap Sabtu dan Minggu. Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi teman-teman di Way Kanan yang tergabung dalam komunitas Wisata Way Kanan. Cek IG mereka di @wisata_waykanan dan @waykanan_asyik.

Wisata petualangan di kabupaten yang kini berusia 18 tahun ini tak hanya bamboo rafting, tapi juga trip Air Terjun Puteri Malu. Sudah pernah ke sana naik motor trail selama kurang lebih 2 jam PP? Kalau belum, tunggu cerita saya pada tulisan berikutnya. Pesona Air Terjun Puteri Malu akan memikat para petualang untuk datang.

Way Kanan memang asyik. Yuk ke Way Kanan.

Terima kasih Way Kanan!


Video mengarungi Way Besay:

Share this

Indonesian Blogger | Travel Writer | Email: katerinasebelas@gmail.com |

Related Posts

Previous
Next Post »

20 comments

Write comments
2 Mei 2017 23.17 delete

Sampai pulang dari Way Kanan kepalaku masih benjol hahahaha... Anggap kenang-kenangan dari Way Besay 😂😂
Asli pengalaman yang seru banget! Pengen balik lagi coba bamboo rafting..

Reply
avatar
3 Mei 2017 00.15 delete

Kenang2an berharga dan tak ternilai, meskipun harus benjol :D
Bakal jadi kenangan sepanjang masa dan tak terlupakan, ya, Mbak Dian. Seru dan asyik banget. #WaykananAsyik

Reply
avatar
3 Mei 2017 00.21 delete

Seru banget ya kak, penasaran sama bamboo rafting itu, yang baca aja dag dig dug ser liatnya ����

Reply
avatar
3 Mei 2017 01.26 delete

Keren banget petualangannya, Mbak Rien. Pasti gak kalah ama bamboo rafting yg di negeri gajah putih, nih.

Reply
avatar
3 Mei 2017 08.41 delete

Naik rakit mah biasa, tapi ini 2,5 jam! uwooow haha. Seru kali nampaknya berbasah-basahan di Way Besay ya mbak Rien. Untung cuma ada buaya darat, gak ada buaya sungai hwhw

omnduut.com

Reply
avatar
3 Mei 2017 09.02 delete

Seru nian petualanganya mbak. Aku yg baca ikut larut sama ceritanya yg kdng bikin ketawa, tegang dan semyum2.
Akupun pernah dengar bamboo rafting ada di Loksado Kalsel, tapi jauh itu dr Banjarmasin msh 6 jam perjalanan darat

Reply
avatar
3 Mei 2017 09.26 delete

Mba Rien pemberani banget ya. Meskipun disediakan pelampung, kayaknya aku tetep gak berani. Padahal kepengin loh. #cemen

Reply
avatar
3 Mei 2017 09.50 delete

Seru ya Mbak menyelusurin sungai dengan Bambo Rafting..

Reply
avatar
3 Mei 2017 11.08 delete

Habis baca trus liat videonya makin terasa deh nuansa petualangannya. Itu emang sengaja lewatnya minggir-minggir ya Mbak biar terkena pepohonan he3
Liat sungainya yang sebagian arusnya tenang jadi kebayang berapa dalamnyaa, butuh nyali yang besar untuk ngelakuin bamboo rafting ini. Salut buat Mbak Rien dan Dee.

Reply
avatar
4 Mei 2017 05.26 delete

Aku jadi ikutan tegang mbk Rien hehehehe.
Untung gpp ya krn ada yg memandu :D
Tapi pengalaman berharga tu pastinya TFS :D

Reply
avatar
4 Mei 2017 16.46 delete

Menegangkan tapi asyik dan bikin ketagihan :)

Reply
avatar
4 Mei 2017 16.47 delete

Di Kalimantan juga keren mbak, tapi aku belum pernah coba. Seru naik rakit :)

Reply
avatar
4 Mei 2017 16.53 delete

Seru banget, Fajrin. Apalagi saat ketemu arus derasnya. Kayak mau kebalik :D

Reply
avatar
4 Mei 2017 16.56 delete

Awalnya kayak lama banget 2,5 jam. Sudah sampe garis finish eh kurang :))

Buaya sungai kalo gigit sakitnya sebentar. Gigitan buaya darat sakitnya ga ada obatnya :D

Reply
avatar
4 Mei 2017 16.58 delete

Bamboo rafting di Loksado terkenal, Von. Rutin masuk dalam kegiatan Festival Loksado. Kalau ada rejeki ke Kalsel aku pingin coba. Pasti sama serunya.

Reply
avatar
4 Mei 2017 17.02 delete

Bukan pemberani mbak, tapi mencoba mengalahkan rasa takut. Kalau nggak dicoba, nggak tahu rasanya. Ayo mbak Grace aku temani kalau mau bamboo rafting di Way Kanan.

Reply
avatar
4 Mei 2017 17.04 delete

Haha...ya enggaklah. Masa disengaja. Yang ada kalo bisa menjauh dari pohon. Sakit tahu kalau kena dahan dan ranting2nya :D

Uji nyali yang menyenangkan, bikin ketagihan Wan

Reply
avatar
4 Mei 2017 17.06 delete

Pemandunya jadi hiburan tersendiri buat kami. Lumayan bisa mengurangi ketegangan :D

Sama-sama, April.

Reply
avatar
5 Mei 2017 10.06 delete

Waaahhh seru juga ia Bamboo Refting nya, kayaknya Extme juga ia ...

Reply
avatar
7 Mei 2017 03.13 delete

bambu rafting keren jugaa yaa..
belum pernah nyoba ihh..
kapan ya?!

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon