Tampilkan postingan dengan label climate reality indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label climate reality indonesia. Tampilkan semua postingan

World Food Travel Day: Jelajah Alam dan Kuliner Wallacea

Ekspedisi Wallacea  (Aris Prasetyo/Blog)

Menurut World Food Travel Association, wisata kuliner adalah kegiatan bepergian untuk mencicipi rasa di suatu tempat sehingga dapat memahami berbagai hal tentang tempat tersebut. 

Wisata Kuliner memiliki peran penting dalam melestarikan warisan lokal sambil membangun aset pariwisata yang ada dan mendorong inovasi. Dengan meningkatkan permintaan pengunjung akan makanan dan minuman lokal, wisata kuliner dapat berkontribusi pada keberlanjutan jangka panjang pertanian lokal, sistem pangan, komunitas, dan budaya.

 
Konsumsi produk yang ditanam secara lokal membantu meningkatkan ekonomi suatu daerah, mendukung para petani dan mengurangi gas rumah kaca serta sumber daya yang digunakan dalam mengangkut makanan. 

Membeli produk lokal berarti ada permintaan, sehingga membantu petani mempertahankan mata pencaharian. Juga konsumsi produk untuk meningkatkan kesehatan.

Penelitian terakhir menunjukkan bahwa wisata kuliner menambah manfaat ekonomi sebesar 25% untuk suatu destinasi, 53% pelancong rekreasi adalah pelancong gastronomi, dan 63% Generasi Y mencari restoran yang bertanggung jawab secara sosial.

WFTA melakukan kajian terhadap wisata kuliner di era pandemi. Di antara kesimpulannya, kecintaan pelancong pada makanan dan minuman yang enak tidak akan berubah dan perhatian pada budaya serta keberlanjutan kuliner lokal akan meningkat. Selain itu, kesehatan dan keselamatan akan menjadi perhatian utama, sehingga dapat menciptakan peluang baru seperti “contactless products.”

Adapun industri wisata kuliner, menurut organisasi tersebut, meliputi ragam kegiatan yang memiliki nilai ekonomi, yaitu:

1. Travel & Hospitality – kegiatan kuliner, organisasi manajemen tujuan (destination management organization), operator wisata, pemandu wisata, makanan, penginapan, transportasi

2. Food & Beverage – pertanian dan peternakan, pasar, produsen dan pembuat, kelas dan sekolah memasak, acara makanan dan minuman, retail & grosir, restoran/bar/ kafe, distributor/importer/eksportir

3. Lain-lain – pemerintah, akademisi, media, platform teknologi, kelompok dagang, LSM, pemasok, kosumen.

WFTA juga menggagas World Food Travel Day yang diperingati setiap 18 April untuk mengangkat berbagai aspek perjalanan dan pengalaman budaya kuliner di dunia.

Ragam Kuliner Wallacea (Mei Batubara/File)

Keanekaragaman Hayati dan Pangan Wallacea

Salah satu area di Indonesia yang dapat menjadi tujuan utawa wisata kuliner dengan mengangkat pangan lokal berkelanjutan adalah daerah Wallacea

Alfred Russel Wallace, seorang naturalis Inggris yang berkelana di Kepulauan Nusantara dari 1854 sampai 1862 mengamati flora dan fauna di sejumlah daerah itu selama beberapa tahun. Ia menyimpulkan adanya satu garis imajiner yaitu Garis Wallace yang membentang antara Australia dan Asia. Di sebelah barat garis, terlihat spesies (jenis) yang ditemukan di daratan Asia seperti gajah, badak dan harimau. Di sebelah timur garis, banyak spesies asal Australia seperti marsupial, dan monyet berwajah unik. Sedangkan di sepanjang garis imajiner itu terdapat campuran dari spesies Asia yang khas dengan spesies Australia yang lebih terisolasi.

Area sekitar Garis Wallace kemudian disebut sebagai Wallacea, zona transisi antara Asia dan Australia yang meliputi Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, pulau-pulau Nusa Tenggara, dan pulau-pulau kecil sekitarnya.

Alfred Russel Wallace "Melacak Harta Karun Wallace" - Aris Prasetyo

Dokumen Wallacea Biodiversity Hotspot dari Critical Ecosystem Partnership Fund mencatat bahwa ribuan pulau di Wallacea mendukung komunitas biologis yang sangat beragam. Lebih dari separuh mamalia, 40 persen burung dan 65 persen amfibi di Wallacea hanya ada di daerah itu, tidak di tempat lain. 

Laporan itu juga menyimpulkan bahwa masyarakat adat di seluruh Wallacea telah lama menggunakan produk hewan dan tumbuhan sebagai makanan, obat-obatan dan untuk berbagai keperluan rumah tangga dan budaya. Berbagai keperluan itu dapat diperoleh di hutan, sungai, danau, daerah pesisir dan laut sekitar.  

The map of Indonesia. The imaginary Wallace Line is the faunal divide that is drawn between Borneo and Sulawesi as well as Bali and Lombok. (Shutterstock/File)

Harian Kompas bersama The British Council pernah melaksanakan Ekspedisi Wallacea, yaitu perjalanan jurnalistik untuk memaknai kembali ”The Malay Archipelago” buku Wallace yang terbit lebih dari 150 tahun lalu. 

Mencoba menguraikan Kuliner Wallacea cukup menantang, khususnya mencari ciri khas yang dapat menggambarkan makanan di daerah ini. 

Biogeografi Wallacea membuat makanan dan minuman di daerah dengan luas lahan 33,8 juta hektar ini sangat beragam. 

Meskipun makanan di Wallacea beraneka macam, ada juga persamaan karena bagaimanapun kuliner satu daerah merupakan hasil akulturasi penduduk dan pendatang.

Buku The Malay Archipelago karya Alfred Russel Wallacea

Webinar Jelajah Alam dan Kuliner Wallacea

Mengamati uniknya ekosistem Wallacea serta potensi wisata kuliner yang dapat dikembangkan di daerah Sulawesi maka Climate Reality Indonesia bersama Omar Niode Foundation dan para mitranya menyelenggarakan webinar Jelajah Alam dan Kuliner Wallacea yang telah diselenggarakan pada hari Minggu tgl. 18 April 2021. 

Webinar digelar melalui Zoom, dihadiri oleh para undangan yang terdiri dari masyarakat umum (netizen), media, dan blogger. Acara disiarkan secara langsung melalui channel Youtube Climate Reality Indonesia dan bisa disaksikan ulang pada link berikut ini: Webinar Jelajah Alam dan Kuliner Wallacea (klik). 


Tujuan Webinar dan Agenda

Acara webinar berlangsung mulai pukul 15.00 WIB, dibuka oleh Ibu Amanda Katili Niode sebagai Host yang juga merupakan Ambassador World Food Travel Association – Wallacea. Dalam keterangannya Ibu Amanda menyebutkan tujuan dari acara webinar hari itu, yaitu sbb:

  • Mengenal ekosistem alami Wallacea
  • Mengangkat potensi wisata kuliner Wallacea
  • Mengenal pelaku wisata kuliner ramah Bumi
  • Merayakan World Food Travel Day dan budaya kuliner dunia

Webinar Jelajah Alam dan Kuliner Wallacea menghadirkan para pembicara di antaranya :

  • Mas Aris Prasetyo dari Harian Kompas dengan topik Ekspedisi Wallacea
  • Mbak Fitria Chaerani Campa Tour selaku Anggota Triptrus.com menyampaikan informasi mengenai Bepergian Hemat ke Wallacea. 
  • Pak Mohammad Firdaus dari ASPUKK/ Pangan Bijak Nusantara yang memaparkan tentang Sistem Pangan Berkelanjutan. 
  • Terakhir ada Mbak Meilati Batubara dari Nusa Indonesian Gastronomy yang hadir dengan informasi menarik mengenai Ragam Kuliner Wallacea.

Amanda Katili Niode - Ambassador World Food Travel Association – Wallacea

Omar Niode Foundation Angkat Kuliner Wallacea

Dalam rangka merayakan World Food Travel Day, yang jatuh tiap tanggal 18 April, Omar Niode Foundation  mencoba mengangkat keunikan ekosistem alam, budaya dan potensi  wisata kuliner dari kawasan Wallacea.

“Kawasan Wallacea yang meliputi Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, Nusa Tenggara dan pulau-pulau kecil sekitarnya, selain kaya akan ekosistem biologis juga punya daya tarik dari sisi kuliner. Hal itu membuat Omar Niode Foundation bersama The Climate Reality Project Indonesia tertarik untuk mengekspose kembali kawasan ini bertepatan dengan World Food Travel Day,” ujar Amanda Katili Niode.

Amanda menambahkan, meskipun makanan di Kawasan Wallacea beraneka macam, tetap ada persamaan karena kuliner di satu daerah merupakan hasil akulturasi penduduk dan pendatang. Amanda mencontohkan, beberapa daerah di Sulawesi mempunyai Sup Hitam sebagai makanan tradisional dengan kluwak sebagai salah satu bahannya, ditambah berbagai jenis bumbu dan rempah. 

Pantollo'Pamarasan dari Toraja dengan 13 jenis bahan, daging pilihan, bumbu rempah dan kluwak. Pallu Kaloa dari Makassar menggunakan 16 jenis bahan, termasuk ikan, kelapa sangrai dan kluwak. Serta Sop Konro juga dari makassar yang terdiri dari 23 jenis bahan, termasuk bumbu rempah dan kluwak, masih punya kemiripan dengan Tabu Moltomo dari Gorontalo yang menggunakan 30 jenis bahan termasuk bumbu dan rempah.  Bedanya dengan sup hitam daerah lain, warna hitam Tabu Moitomo diperoleh dari kelapa sangrai.

Erik Wolf - Direktur Eksekutif World Food Travel Association

Remarks by Erik Wolf on Wallacea – Nature & Food Travel Executive Director, World Food Travel Association

Erik Wolf Direktur Eksekutif World Food Travel Association dalam video sambutannya menceritakan kesannya saat berkunjung ke Indonesia. “Ketika perjalanan saya ke Indonesia beberapa tahun yang lalu, saya menikmati kuliner yang luar biasa, dan bertemu dengan orang-orang yang luar biasa juga,” ungkap Erik 

Erik menjelaskan, World Food Travel Association, yang didirikannya  pada tahun 2003. Kini merupakan organisasi tertua dan terbesar di dunia dalam bidang ini.  Sedangkan World Food Travel Day yang dirayakan setiap tanggal 18 April, adalah hari yang dirancang untuk merayakan budaya kuliner dunia dan kegembiraan kita bepergian untuk menikmati makanan dan minuman. 

“Kami memulai hari peringatan ini beberapa tahun yang lalu, yang kini menjadi sangat populer. Setiap tahun ada puluhan ribu posting yang diberi tagar, untuk merayakan hari itu di seluruh dunia."

Erik juga mengajak pelaku usaha maupun pelancong wisata kuliner dari seluruh dunia berpartisipasi dan berbagi cerita dan pengalaman mereka tentang kuliner. “Kami berharap dapat melihat kiriman Anda yang di tag ke @worldfoodtravelassn di instagram dan @worldfoodtravelassociation  di facebook, dengan tagar #worldfoodtravelday. Kami akan dengan senang hati menyukai (like) dan membalas pesan Anda,” ajaknya

Mengakhiri sambutannya, Erik menyampaikan harapannya untuk dapat segera berkunjung kembali ke Indonesia untuk mencoba lagi makanan dan kopi Indonesia, selepas pandemi berakhir.

Jelajah Kompas.id - Ekspedisi Wallacea

Pengalaman ekspedisi Wallacea dari jurnalis kompas Aris Prasetyo

Setelah dua hari perjalanan dari Ambon dengan kapal uap Belanda, Alfred Russel Wallace, naturalis berkebangsaan Inggris, tiba di Ternate, Maluku Utara, 8 Januari 1858 pagi. Wallace tidak menduga dirinya akan mendapat momen ”eureka” dari ide awal teori seleksi alam ketika sedang dilanda demam tinggi di Desa Dodinga, Halmahera, yang berada di seberang Ternate.

Selama delapan tahun menjelajahi Nusantara (kini Indonesia), Ternate menjadi tempat tinggal dan transit yang terlama Wallace. Awal Februari 2019 pagi, 161 tahun kemudian, tim Ekspedisi Wallacea Harian Kompas juga tiba di Ternate. Pemandangan yang dilihat Wallace juga masih sama dengan yang kami lihat, Gunung Gamalama yang masih tertutup kabut dan Tidore, di seberang Ternate. Hanya saja, sekarang lebih banyak terlihat bangunan. Untuk bisa mendapat pemandangan indah nan luas, harus lebih mendekat ke kaki Gunung Gamalama.

Setibanya di Ternate, kami pun mencari tempat penginapan. Wallace juga waktu itu menemui Duivenboden, saudagar kaya Ternate keturunan Belanda yang menguasai separuh kota dan ratusan budak. Dari Duivenboden, Wallace menyewa rumah selama tiga tahun sejak Januari 1858 hingga Januari 1861. Rumah itu tak hanya menjadi tempatnya beristirahat dan transit, tetapi juga tempat menulis, menyempurnakan, dan mengirim makalah berjudul ”On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type” berisi ide teori seleksi alam kepada Charles Darwin di London, Inggris, dengan bantuan kapal uap Belanda, pada Maret 1858.

Selengkapnya baca di Menelusuri Jejak Warisan Wallace (klik). 

Suasana hutan Gunung Sibela di Pulau Bacan, Maluku Utara, 24 April 2019. Di tempat itu, tim Ekspedisi Wallacea harian Kompas yang dibantu pemandu lokal, menginap selama semalam. (KOMPAS/Aris Praseyo)

Burung bidadari halmahera (Semioptera wallacii) yang masih bisa disaksikan di hutan Aketajawe Lolobatan, Halmahera, Maluku Utara. Ini adalah salah satu spesies endemik yang sangat dikagumi Alfred Russel Wallace, naturalis asal Inggris. (KOMPAS/Lucky Pransisca)

Senang sekali saya hadir di webinar ini, jadi kenal Mas Aris Prasetyo, jurnalis Kompas yang menulis dan membagikan foto-foto dari ekspedisi Wallacea yang dilakukannya pada tahun 2019. Saya membuka banyak artikel, dan membacanya satu persatu. Terkagum-kagum saya dibuatnya.

Artikel-artikel Mas Aris sangat menarik untuk dibaca, sarat informasi dan pengalaman, menambah wawasan dan pengetahuan bagi saya pribadi, yang jujur saja baru pertama kali tahu tentang sebutan Wallacea. Tahu tempat-tempatnya, tapi baru tahu disebut kawasan Wallacea.

Membaca tulisan Mas Aris, membuat saya semakin merasa sebagai seorang travel blogger  yang miskin pengalaman menjelajah Indonesia bagian timur. 

Sewaktu webinar ini akan digelar, saya membuka blog saya sendiri, dan mencari tulisan yang pernah saya buat, terkait alam dan kuliner Tidore. Sengaja saya baca lagi, biar nanti nyambung saat pembicara sebut-sebut kuliner Wallacea. Tulisan yang saya maksud berjudul "Mengenal Kuliner Tidore Lewat Festival Gurabunga" (klik).

Tips bepergian hemat ke Wallacea oleh Fitria Chaerani dari Campa Tour

Siapa yang tak tertarik jalan-jalan ke Wallacea, menjelajah alam dan kuliner dari Sulawesi, Maluku, hingga NTT. Sependek pernah keliling Indonesia, baru Maluku Utara (Tidore & Ternate) serta NTT saja yang pernah saya sambangi. Di NTT pun baru seujung kuku, di Labuan Bajo dan pulau-pulau sekitarnya saja seperti Padar, Rinca, Komodo, Kalong, Kanawa. Saya belum melihat Sumba yang terkenal dengan padang rumput dan bukit-bukitnya yang indah, Wakatobi dan tempat-tempat menakjubkan lainnya.

Jujur, kalau dilihat dari segi biaya, sewaktu pernah 2 kali ke Maluku Utara, biayanya memang tidak sedikit. Untuk tiket pesawat PP saja dari Jakarta ke Ternate sudah 3 jutaan (termurah) di tahun 2017 dan 2018. Entah sekarang jadi berapa. Itu baru pesawat, belum makan, tempat tinggal dan biaya kegiatan. Sungguh harus berhitung.

Nah, kebetulan sekali dalam webinar ini ada tips bepergian hemat ke Wallacea dari Mbak Fitria Chaerani dari Campa Tour. Wajib banget disimak!

Tips bepergian hemat ke Wallacea oleh Fitria Chaerani dari Campa Tour

Menurut Mbak Fitria, sebelum bepergian, ini yang seharusnya dilakukan oleh traveler:

  1. Buat Skala Prioritas, Kesukaanmu yang mana: Alam, Budaya/Sejarah
  2. Pilih vendor/guide local untuk menemanimu. Cari Referensi di forum forum travel
  3. Buat perkiraan budget: Do some research
  4. Prepare for unexpected things!

Banyak destinasi di Kawasan Wallacea yang harus ditempuh dengan beragam moda transportasi, dari pesawat besar, pesawat kecil (baling-baling), kapal, perahu, angkot, hingga ojek motor, maka harus siapkan beberapa hal berikut:

  • Siapkan waktu yang tidak ketat
  • Obat Mual/Mabuk/Masuk Angin
  • Bawa/Siapkan Cemilan
  • Alat pengusir kebosanan (mp3 player, buku, dll).

Dan, inilah beberapa tempat wisata di kawasan Wallacea yang bisa dikunjungi oleh traveler:






Total biaya perjalanan wisata Wallacea +/- Rp 6,6 juta perorang

Sistem Pangan Berkelanjutan

Menurut Pak M. Firdaus dari ASPUKK/ Pangan Bijak Nusantara, pangan berkelanjutan memerhatikan krisis iklim, budaya dan masyarakat setempat.

Sistem pangan di Indonesia di masa pandemi memperlihatkan pola produksi dan konsumsi yang seragam ditambah kesenjangan kesejahteraan warga, menyebabkan rendahnya ketahanan imunitas tubuh.
Badan Ketahanan Pangan, Kementan, mencatat sumber daya pangan Indonesia terdiri dari 100 jenis sumber karbohidrat, 100 jenis kacang-kacangan, 250 jenis sayuran, 450 jenis buah-buahan. Perlu penguatan sistim pangan khususnya di lokal meliputi; produksi, distribusi (pasar lokal), hingga konsumsi.

Pangan Bijak Sebagai Tawaran

Penduduk Indonesia memiliki tradisi pola produksi dan konsumsi pangan yang beranekaragam, sesuai kekayaan sumber daya daerahnya. Keanekaragaman pangan dan kearifannya berbasis sumber daya lokal menjadi faktor kunci untuk tercapainya kemandirian, kedaulatan, dan ketahanan pangan, sehingga nutrisi terjamin sembari memberi peluang ekonomi melalui usaha kuliner.

Produk pangan bijak adalah produk yang tidak mengalami perubahan secara kimiawi, kaya gizi dan protein, produk bernilai budaya, diolah secara sehat, dan berkelanjutan, dsb.

Contoh produk pangan bijak, di antaranya: Gula Aren, VCO (dari kelapa), Aren, Garam Grosok, Camilan Sagu, Beras Merah, Ikan, dll.

Pangan Bijak Sarat Nilai
  1. ADIL - Adil untuk lingkungan, dapat diakses konsumen, produsen sejahtera, harga pasar adil bagi pasar dan konsumen.
  2. LESTARI - Varietas lokal, alami (termasuk organik), ramah lingkungan, berkelanjutan (memperhatikan keanekaragaman hayati, ketahanan ekosistem, dan kesejahteraan produsen, serta menghormati hak asasi manusia)
  3. LOKAL - Bukan impor, diproduksi di daerah dan sekitarnya, mencantumkan identitas daerahnya termasuk identitas komunitas, bagian dari budaya dan kearifan masyarakat lokal.
  4. SEHAT - Dari pangan alami, tidak mengandung pengawet buatan, bersih, bernutrisi.

Garam Grosok untuk Kesehatan, Kecantikan, dan Makanan

Olahan Gula Aren untuk Makanan, Minuman, dan Kecantikan

Ragam kuliner Wallacea oleh Meillati Batubara dari Nusa Indonesia Gastronomy

On the spiritual theory, man consists essentially of a spiritual nature or mind intimately associated with a spiritual body or soul, both of which are developed in and by means of a material organism. [ALFRED RUSSEL WALLACE]

Quote tersebut mengawali topik Ragam Kuliner Wallacea yang disampaikan oleh Mbak Mei dari Nusa Indonesia Gastronomy. Menurut Mbak Mei, dalam konteks makanan, makanan adalah penentu kesehatan kita.  Jadi kita harus memilih dengan baik makanan yang akan kita makan dan hidangkan untuk keluarga.

Nah, makanan seperti apa yang dibuat dan dikonsumsi oleh masyarakat yang tinggal di Wallacea? 
MAP Kawasan Wallacea

Bahan-bahan yang terkandung dalam kuliner Wallacea umumnya terdiri dari bahan-bahan khas yang ada di wilayah tersebut, di antaranya:
1. Sagu
2. Jagung Pulut
3. Rempah-rempah
4. Kacang Kenari
5. Asam Patikala
6. Ketam Kenari

Kekhasan pangan Wallacea meliputi:
1. UMBI. Menggunakan berbagai umbi-umbian seperti singkong, ubi, talas atau ubi jalar sebagai
bahan utamanya. Disajikan dengan dicampur di dalam sup, dikukus, maupun digoreng.

2. IKAN/BABI/KERBAU. Sebagai negara kepulauan, masyarakat di zona Wallacea terutama menyantap ikan dan anekahasil laut lainnya. Sementara warga dipedalaman lebih banyak menyantap daging babi. Kerbau/sapi umumnya dihidangkan dalam acara-acara adat.

3. JAGUNG. Jagung khususnya di daerah Nusa Tenggara digunakan sebagai hidangan utama di berbagai resep. Namun jagung juga disajikan sebagai staple food seperti jagung titi.

4. PISANG. Seluruh bagian pisang, dari buah, bunga serta batang pohon pisang digunakan sebagai bahan makanan. Sedangkan daunnya selalu digunakan sebagai bagian dari proses masak

Mbak Mei juga menampilkan beberapa kuliner khas Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Berikut ragam kuliner Wallacea tersebut:





Bepergian ke suatu daerah, melakukan kegiatan wisata kuliner, tentu ada hal pokok yang kita cari yakni sesuatu yang khas dan hanya bisa dijumpai di tempat tersebut, tentunya disertai unsur-unsur baik lainnya. Karena bukan cuma mulut dan perut yang hendak dimanjakan, kesehatan diri dan lingkungan juga harus diperhatikan.

1. BAHAN LOKAL. Menggunakan berbagai bahan-bahan lokal yang tersedia di masing-masing daerah.

2. PRODUK ARTISAN. Daripada menyajikan aneka minuman dari sachet, lebih baik menyajikan aneka minuman tradisional lokal. --- mengurangi pemakaian plastik dan sachet.

3. RESEP LOKAL. Mengangkat resep-resep lokal sehingga setiap daerah menyajikan kuliner yang khas dan menjadi daya tarik wisata.

4. STANDAR HIGIENIS. Menggunakan standar-standar protokol kesehatan dan higienis sehingga menjamin kesehatan bagi turis yang datang.

Nama-nama kuliner dari ragam kuliner Wallacea yang dibagikan oleh Mbak Mei di atas, belum satupun pernah saya lihat dan coba, walaupun sudah pernah menjejakkan kaki di Maluku Utara, tepatnya di Tidore dan Ternate. Dalam pengalaman saya pernah ke Tidore, pada suatu acara festival, pernah ditampilkan belasan kuliner lokal yang sudah tergolong langka. Dilihat dari bahannya, ada kesamaan bahan dengan kuliner dari daerah lain di Wallacea, seperti singkong, ikan, sagu, rempah, kenari, dan lainnya. Hanya pengolahannya saja yang berbeda. 

Berikut adalah ragam kuliner asli Tidore yang pernah saya foto saat berkunjung ke Tidore pada tahun 2017. Semoga sedikit informasi ini bisa menambah daftar kuliner yang bisa dicoba di Wallacea. Nama-namanya bisa dibaca pada artikel saya di sini : Mengenal Kuliner Tidore (klik)

Ragam kuliner Tidore berbahan dasar singkong, jagung, ikan, sagu. (Katerina/Travelerien.com)

Proses pembuatan buah kenari menjadi bahan kue lapis Tidore. Tulisan mengenai buah kenari kuliner Tidore dapat dibaca di https://www.travelerien.com/2017/06/nikmati-kuliner-khas-tidore-ini-di-safira-beach-restaurant.html

Kuliner Tidore: Kasbi (roti sagu singkong), Gohu Ikan, Kakap Dabu-Dabu. (Katerina/Travelerien.com)

Saya dan rekan-rekan blogger saat  kegiatan Jelajah Kuliner Tidore (Maluku Utara) di Festival Gurabunga.  (tutup plastiknya ganggu banget ya!) 😅

Kunjungan saya dkk blogger ke tempat pembuatan Kue Lapis Tidore (kuliner berbahan buah kenari)

Pangan bijak adalah aspek tak terpisahkan di wisata kuliner

Sistem pangan lokal yang adil, sehat dan lestari menjamin sasaran status gizi dan kesehatan masyarakat dalam hidupnya, selain menggerakan ekonomi kuliner. 

Daerah di Wallacea memiliki sistem pangan berbasis keanekaragaman sumber pangan lokal yang  mendukung ketahanan pangan daerahnya. 

Nilai-nilai sistem pangan yang baik layak dilestarikan. Seperti konsep produksi yang bertanggung jawab pada pengambilan, budidaya, pemrosesan dan pengolahan, penyimpanan dan pencadangan, serta logistik dan distribusi pangan. 

Diversifikasi produksi pangan yang lebih memperhatikan potensi, tradisi, selera, dan budaya setempat, serta menjamin mutu dan kesehatannya saat dikonsumsi.

Dengan World Food Travel Day yang mempromosikan KEANAKARAGAMAN HAYATI DAN PANGAN WALLACEA, ikut mengkampanyekan kesadaran konsumen pada jenis pangan lokal (unsur kesehatan dan alam) serta menjadikan konsumsi pangan adil dan lestari sebagai top-of-mind dan gaya hidup dlm berkuliner.

Punya pengalaman wisata kuliner? Yuk bagikan dan tag ke @worldfoodtravelassn di instagram dan @worldfoodtravelassociation  di facebook, dengan tagar #worldfoodtravelday.

Omar Niode Foundation Ajak Jaga Bumi dengan Memilih Makanan Ramah Iklim

Virtual Talkshow & Peluncuran e-Book Memilih Makanan Ramah Iklim +39 Resep Gorontolo, Minggu 14/2/2021. (Katerina)

Saya baru saja selesai menonton film Space Sweepers di Netflix ketika Ibu Amanda Katili, Manager Climate Reality Indonesia menghubungi saya via Whatsapp (8/2) perihal acara Talkshow & Peluncuran e-Book Memilih Makanan Ramah Iklim +39 Resep Gorontolo yang akan diselenggarakan pada hari Minggu tgl. 14 Februari 2021.

Mengenai Space Sweepers adalah salah satu film yang saya tunggu-tunggu di tahun 2021. Film ini merupakan film epik luar angkasa bergenre fiksi ilmiah pertama yang dibuat oleh Korea yang memiliki muatan politik tentang lingkungan hidup

Sebuah kebetulan ketika film dan event yang menghampiri saya di waktu bersamaan memiliki tema yang berkaitan. Ada titik temu antara isu kerusakan Bumi dalam film dengan tujuan yang hendak dicapai oleh gelaran event talkshow, tak lain dan tak bukan yaitu ajakan untuk menjaga bumi.

Oleh karena itu, ketika hendak menulis liputan acara virtual talkshow yang digelar melalui video Zoom tersebut, saya langsung teringat pada Space Sweepers, membuat saya ingin memulai tulisan ini dengan membahas sekilas tentang apa yang saya simak dari film tersebut. 

Perlu dicatat bahwa film Space Sweepers tidak memusatkan narasi pada tema lingkungan hidup, tapi di sana ada latar belakang kerusakan Planet Bumi yang menjadi andil perginya orang-orang dari Bumi karena tak lagi bisa bernafas, sehingga pindah dan hidup di luar angkasa menjadi sebuah solusi. 

SPACE SWEEPERS (2021)

Space Sweepers menceritakan kondisi dunia pada tahun 2092, di mana Planet Bumi sudah menjadi sebuah planet yang hampir tidak bisa dihuni, dengan polusi yang membuat udara menjadi sangat coklat layaknya sedang terjadi badai lumpur.

Dengan masalah yang mengancam seluruh umat manusia, sebuah perusahaan canggih bernama UTS telah membuat sebuah tempat tinggal bagaikan surga di luar angkasa tetapi ada syaratnya: hanya orang terpilih saja yang diajak untuk tinggal di tempat tersebut. 

Adalah sosok James Sullivan seorang pemimpin UTS menggarap kehidupan di Mars dengan hati-hati, mengubah Planet Mars yang gersang menjadi "Bumi Baru" yang memiliki hutan belantara amat subur, air bersih yang terus mengalir, udara segar nan sehat, dan langit yang selalu biru. 

Bagi James, kebanyakan manusia di Bumi adalah penjahat perusak alam. Kebenciannya pada ulah manusia membuatnya menjadi licik, dan ia menjamin golongan penjahat lingkungan tak akan pernah diterima di lingkungan baru yang dibangun di Mars.

Dalam salah satu scene terlihat James menanam pohon kehidupan Schefflera Arboricola, super plant yang dimodifikasi secara genetik sehingga menghasilkan oksigen 8 kali lebih banyak dan bisa merespon pupuk alami dengan cukup baik dan memiliki tingkat pertumbuhan luar biasa. Tak heran UTS berhasil menyulap Mars menjadi begitu hijau dan subur. Sungguh gemah ripah loh jinawi, kata orang Nusantara. Sayangnya, "surga" nan indah ciptaan UTS hanya ada dalam ruang imajinasi bernama film.

Kehidupan di Planet Mars, "bumi baru" ciptaan UTS, dalam film Space Sweepers

Film Space Sweepers menampilkan kerusakan Bumi pada tahun 2092. Padahal sesungguhnya saat ini saja Bumi sudah SAKIT parah dan manusia sudah merasakan dampaknya. Jika kerusakan tak berhenti, memang bukan tidak mungkin 71 tahun kemudian Bumi benar-benar akan ditinggal pergi. Iya kalau ada tempat yang bisa dituju selain Bumi. Kalau tidak ada? Tinggal menanti ambyar, pudar, dan modar. Mau??

Space Sweepers memang tidak lebih dari hiburan yang dipenuhi pesawat angkasa luar dan laser, namun berusaha hadir dengan pesan lingkungan.

Saya pribadi menikmati sembari menangkap kritik dan pesan lewat latar belakang cerita terhadap era kontemporer. Ada pesan tentang merawat planet Bumi dengan lebih baik dan tidak “mengisi” dengan sampah, fokus pada kelompok minoritas, sindiran terhadap militerisme dan fasisme, serta betapa bahaya penggunaan kekuatan senjata nuklir dan radiasi. 

Kritik terhadap sampah di bumi, menjadi sorotan yang kemudian mempertemukan saya pada tema sejalan dengan gerakan jaga bumi yang sudah sejak lama digaungkan oleh banyak orang/kelompok/organisasi pencinta lingkungan. Satu di antaranya, Climate Reality Indonesia. Melalui gerakan jaga bumi lewat gelaran berbagai event, salah satunya Forest Talk, di mana saya pernah terlibat sebagai salah satu tim acara (sepanjang tahun 2019), membawa saya pada beragam pengalaman untuk langkah-langkah nyata yang bisa dilakukan sebagai individu maupun bagian dari suatu kelompok.

Maka, Memilih Makanan Ramah Iklim adalah tema menarik dalam rangka menjaga bumi. Seperti apa dan bagaimana makanan ramah iklim ala Omar Niode Foundation?


Melalui Film mau pun Webinar bertema lingkungan, terkandung ajakan untuk JAGA BUMI. Keduanya sama-sama memiliki pesan penting. Jika dalam film pindah ke planet lain adalah solusi, maka Omar Niode Foundation mengajak memilih makanan ramah iklim sebagai solusi dari banyak solusi lainnya.

Mana yang lebih nyata? Ya webinar lah 😂

Apakah semangat saya nonton Space Sweeper sama tinggi dengan nonton Webinar? Oh itu pasti. Jika tidak, lempar saja saya ke luar angkasa, biar bergabung dengan geng Tae Hoo (diperankan oleh Song Jong Ki) jadi pemungut sampah di angkasa. Wuiih mau banget! lol. 

Tujuan Webinar 

Seperti yang disampaikan oleh penyelenggara, tujuan webinar untuk memahami krisis iklim, dan mengetahui adanya peran pertanian, pangan, dan kuliner sebagai salah satu solusi, lalu mengikuti pemetaan puluhan ribu makanan dan minuman tradisional Nusantara dan bagaimana berkontribusi untuk data kuliner pada perpustakaan digital budaya Indonesia. 

Tujuan lainnya untuk mengangkat kuliner lokal sebagai pilihan kita, dengan ragam kuliner Gorontalo tentunya sebagai contoh semasa dan pasca pandemi covid-19, serta membuka diskusi dan mencanangkan call to action untuk memilih makanan ramah iklim sebagai salah satu solusi dari krisis global.

Agenda Acara dan Para Pembicara

Talkshow & Peluncuran e-Book Memilih Makanan Ramah Iklim +39 Resep Gorontolo digelar secara virtual melalui video Zoom, hari Minggu tgl. 14/2/2021. Acara yang diselenggarakan oleh Omar Niode Foundation ini terbuka untuk umum, dan mengundang secara khusus media dan bloggers, serta menghadirkan para pembicara yang berkompeten di bidangnya dengan agenda sbb:

1. Pembacaan Sambutan dari Rachmat Gobel Wakil Ketua DPR RI

2. Video Sambutan oleh Claudia Laricchia dari Future Food Institute

3. Krisis Iklim dan Pertanian, Pangan dan Kuliner sebagai Solusi oleh Amanda Katili dari Climate Reality Indonesia 

4. Pemetaan 30.000 Kuliner Tradisional Nusantara oleh Nicky Ria dari Sobat Budaya

5. Ragam Kuliner Gorontalo oleh Zahra Khan, seorang ahli Teknologi Pangan, Pelaku UMKM, dan juga Penyusun Resep 

6. Mengangkat Citra Kuliner Nusantara oleh William Wongso seoranf Chef legendaris, Pakar Kuliner, dan Penulis buku "Flavors of Indonesia"

7. Display Masakan Gorontalo oleh Ihsan Averroes Wumu dari Olamita Resto (kuliner Gorontalo)

8. Peluncuran Buku dan Call to Action

Acara berlangsung tepat waktu sejak Pukul 14.00 - 16.00 WIB, dipandu oleh Noni Zara, seorang Culinary Host dan Food Traveler yang saat ini berdomisili di Bali. Saking on time-nya acara ini, saya sampai ketinggalan beberapa menit lho. Tanya kenapa? Karena sudah biasa mengikuti webinar molor 10-15 menit. Makanya saya masuk santai mengira nggak bakal telat, tapi ternyata malah ketinggalan haha. Untunglah ada video rekamannya di FB pages ONF 😆

Noni Zara, Culinary Host, Food Traveler

Mengenal OMAR NIODE FOUNDATION

Sebelum membahas satu persatu materi yang disampaikan oleh para panelis, mari sama-sama mengenal penyelenggara dari acara ini.

Omar Niode Foundation merupakan sebuah organisasi nirlaba kecil yang turut berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, citra budaya, dan kuliner Nusantara, khususnya Gorontalo, di Indonesia dan mancanegara.

Hingga saat ini, Omar Niode Foundation  telah menerbitkan 15 buku, di antaranya Trailing the Taste of Gorontalo yang meraih Gourmand World Cookbook Award, Best of the Best 1995-2020 kategori Food Heritage dan menjadi kontributor Bab Indonesia pada buku At the Table. Food and Family around the World, yang juga memperoleh Gourmand Award.

Dalam melaksanakan berbagai kegiatannya, Omar Niode Foundation bekerja sama dengan individu maupun organisasi di dalam dan di luar negeri. Omar Niode Foundation aktif dalam organisasi food bloggers nasional maupun internasional, juga di Future Food Institute, Indonesia Bergizi, Jamie Oliver Food Revolution Day, Slow Food International, dan World Food Travel Association.

Untuk informasi selengkapnya mengenai Omar Niode Foundation silakan mengunjungi website resmi ONF di www.omarniode.org Kontak: Amanda Katili Niode – amanda@omarniode.org - 082112934285


Dukungan Rachmat Gobel Untuk Jaga Lingkungan

Sosok Rachmat Gobel saat ini dikenal sebagai Wakil Ketua DPR RI, beliau adalah pria asal Gorontalo, Sulawesi. Nama besarnya sebagai pengusaha tercatat sebagai pemilik perusahaan National Gobel Group yang telah berganti nama menjadi Panasonic Gobel Group. 

Saya cukup surprise membaca nama beliau berada dalam deretan nama panelis, meskipun akhirnya absen karena suatu halangan. Tadinya saya berharap ada diskusi secara langsung, dan mungkin bisa menyampaikan beberapa hal, sebab sebagai orang yang berada di pemerintahan, dukungan besar dari beliau bisa lahir dalam bentuk kebijakan. 

“Saya menyambut baik diterbitkannya e-book “Memilih Makanan Ramah Iklim + 39 Resep Gorontalo” dengan harapan agar lebih banyak lagi upaya serupa untuk melestarikan resep dan tradisi kuliner Nusantara guna melindungi warisan budaya dan alam Indonesia,” ujar Rachmat Gobel. 

Rachmat Gobel mendorong masyarakat agar melestarikan tradisi kuliner dengan memilih makanan lokal ramah iklim. Menurutnya, selain bisa menyelamatkan lingkungan memilih makanan lokal juga bisa membantu perekonomian daerah. 

“Membeli produk lokal berarti ada permintaan, sehingga membantu petani mempertahankan mata pencaharian,” kata Rachmat Gobel. 

Mimpi Restoran Masa Depan dari Claudia Laricchia, Head of Institutional Relations Future Food Institute

Sebuah video menampilkan sambutan dari Claudia Laricchia dari Future Food Institute di Italia merupakan bentuk dukungan dari lembaga internasional terhadap langkah baik yang akan diberitakan ke banyak orang, .membuat acara webinar ini tampil bergengsi.  

Future Food Institute adalah ekosistem internasional yang menangani inovasi pangan melalui pengetahuan. Future Food Institute memiliki Future Food Academy, Departemen Penelitian dan Pengembangan yang berinovasi melalui proses dan produk, serta validasi dan prototipe produk baru untuk industri pangan. 

"Kami juga memiliki living labs di San Fransisco, Tokyo, Bologna. Saya sangat percaya dengan pola makan cerdas iklim dan makanan ramah iklim, juga pada pangan lokal, khususnya peningkatan kepedulian, tentang jejak air maupun jejak karbon dari pangan. Saya bermimpi adanya restoran masa depan dengan menu yang menampilkan dampak lingkungan dan juga harga makanan," ujar Claudia Laricchia, Head of Institutional Relations Future, Food Institute.

"Selamat kepada Omar Niode Foundation, Amanda Katili dan Zahra Khan yang telah menerbitkan buku "Memilih Makanan Ramah Iklim +39 Resep Gorontolo". Congratulation! Saya tidak sabar untuk membacanya. Salam dari Italia," tutup Claudia Laricchia.

Claudia Laricchia, Head of Institutional Relations Future Food Institute

Terzian Ayuba Ajak Kurangi Makan Daging

Terzian Ayuba Niode yang akrab dipanggil Terzian merupakan seketaris Omar Niode Foundation yang berkerja di sebuah bank sebagai vice president.

Terzian menuturkan sistem pangan berkontribusi besar terhadap krisis iklim yang sedang berlangsung di Bumi. Sistem pangan saat ini menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati dan menyebabkan sepertiga dari semua emisi gas rumah kaca penyebab krisis iklim.

“Terlebih dengan terjadinya Pandemi COVID-19 semakin membuktikan adanya kebutuhan mendesak untuk mengubah sistem pangan dunia, karena pandemi sekarang terjadi akibat menularnya penyakit dari hewan ke manusia (zoonosis),” tutur Terzian.

Untuk itu, menurut Terzian, makanan perlu diubah guna masa depan yang sehat bagi manusia maupun Planet Bumi. “Idealnya dengan mengurangi konsumsi daging serta makanan yang diproses, untuk kemudian mengarah ke makanan yang lebih berbasis nabati,” kata Terzian.

Nah, perlu dicatat di sini KURANGI DAGING, bukan STOP DAGING. Kurangi dan stop adalah dua hal berbeda. Saya setuju dengan hal tersebut, bagaimanapun manusia perlu protein hewani karena diperlukan oleh tubuh. Jumlahnya yang diatur menjadi minimalis. 

Selain itu menurut Terzian, diperlukan Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan (Sustainable Consumption & Production) oleh semua pemangku kepentingan secara global termasuk konsumen dan produsen, dengan perubahan secara terpadu dan sistematis.

Terzian Ayuba, Sekretaris Omar Niode Foundation

Krisis Iklim dan Pertanian, Pangan dan Kuliner sebagai Solusi

Dr Amanda Katili Niode adalah Manager Climate Reality Indonesia, seorang pejuang iklim yang memiliki cinta bersahaja untuk kelestarian dunia.

Pada tahun 2019, saya terlibat dalam acara Forest Talk dan pergi ke beberapa kota (Palembang, Pontianak, Pekanbaru, Jambi) bersama tim panitia dari Yayasan Dr Sjahrir dan Climate Reality Indonesia, termasuk bersama Bu Amanda. Nah, di tiap acara saya ikut menyimak penjelasan beliau mengenai krisis iklim. Materinya selalu sama, meskipun data dan angka kadang berubah tergantung situasi terkini saat itu, dan saya sampai hafal. Lama-lama, semua pemaparan beliau tentang krisis iklim melekat kuat di benak saya, kadang seperti menghantui, apalagi berita bencana begitu banyak tersiar, semua nyata terjadi, bikin ngeri. 

Topik pola makan cerdas iklim mencuat di kanal-kanal digital saya pada tahun 2020, saat bumi dilanda pandemi, Climate Reality Indonesia menggelar lomba "Climate Smart Recipe Contest", sebuah event yang membuat saya kembali belajar mengenai krisis iklim, namun kali ini tentang solusi, yakni lewat makanan ramah lingkungan.

Saya bukan ahli lingkungan, tapi terlibat dalam beberapa kegiatan yang dibuat oleh para ahli lingkungan, membuat saya jadi belajar banyak hal. Bu Amanda adalah inspirasi saya.  


Dalam penjelasannya, Bu Amanda mengatakan bahwa pangan dari hulu ke hilir, mulai dari produksi sampai konsumsi dan menjadi limbah menjadi salah satu penyebab krisis iklim yang sedang terjadi. Dampaknya berbagai bencana yang kita lihat akhir-akhir ini. 

Berdasarkan data dari Badan PBB tahun 2020, ada 51,6 juta orang di seluruh dunia terkena dampak banjir, kekeringan, atau badai, dan COVID-19. 

Segudang kegiatan manusia yang berlebihan merusak bumi menjadi penyebab, di antaranya tambang batu bara, transportasi, industri pertanian, pabrik batu bara, pemupukan, proses industri, produksi minyak, kebakaran hutan, dan lainnya. Semua kegiatan tersebut mengeluarkan gas yang banyak, memenuhi atmosfer bumi, sehingga matahari yang masuk melewati atmosfer tidak bisa keluar lagi ke luar angkasa. Bumi jadi semakin panas, iklim berubah dan timbullah bencana. 

Ragam kegiatan manusia berlebihan merusak bumi

Sistem Pangan Bisa Menyebabkan Krisis Iklim

Sistem pangan yang tidak benar dapat menyebabkan krisis kelaparan dan krisis pandemi. Karena untuk mendapatkan daerah perkebunan, daerah persawahan, dan lain sebagainya di mana lahan alami ditebangi, maka virus-virus keluar. Yang tadinya inang-inang virus aman saja di hutan, saat ditebang mencari manusia sebagai inang barunya. Hewan-hewan liar yang dikonsumsi untuk kebutuhan manusia juga menyebabkan terjangkitnya virus-virus tersebut kepada manusia. 

Kita melihat bagaimana sistem pangan dari hulu sampai hilir, dari produksi sampai konsumsi telah menyebabkan berbagai krisis tadi.

"Tetapi, pangan juga merupakan solusi dari krisis iklim. Seperti dua sisi dari mata uang. Bagaimana cara kita memproduksi pangan maupun cara konsumsi pangan sangat mempengaruhi krisis iklim," ujar Bu Amanda.



Menyikapi krisis iklim dari sisi makanan akan mudah diterima oleh banyak orang.

Contohnya Sekjen PBB Antonio Guteres akan mengadakan KTT Sistem Pangan bulan September 2021 karena dia merasa bahwa pangan itu adalah benang merah. Makanan adalah benang merah yang bisa mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. 

Jadi, bagaimana supaya masyarakat bisa hidup lebih layak, bagaimana mengurangi kemiskinan, dan bagaimana mengurangi krisis iklim, semuanya bisa ditinjau dari segi makanan.


Bagaimana kita menyikapi krisis iklim?

Siapa pun bisa menyikapi krisis. Bisa sebagai individu, sebagai organisasi, atau pun sebagai pemerintah melalui kebijakan-kebijakan.

Berikut adalah pilihan yang bisa dilakukan dalam menyikapi krisis iklim guna mencegah terjadi banyak bencana:
1. Hemat air dan energi
2. Menanam tanaman tahan krisis
3. Perbanyak nabati
4. Kurangi daging
5. Masakan rumahan
6. Jaga tradisi kuliner lokal
7. Hindari limbah pangan
8. Dukung petani dan nelayan
9. Hindari plastik
10. Lakukan daur ulang 

Mengenai limbah makanan, banyak contoh yang sering terjadi di depan mata. Entah saat berada di suatu acara yang ada makan-makannya atau saat berada di sebuah rumah makan, ada saja makanan tak dihabiskan, akhirnya terbuang begitu saja. Ulah orang-orang lapar mata, bukan perutnya. Padahal, sangat mudah mengendalikan diri, ambil makanan secukupnya, jika kurang tinggal nambah. Daripada ambil banyak tapi tak habis.

Ketika seseorang tidak menghabiskan makanan, maka 30% dari bahan pangan akan terbuang percuma. Padahal proses produksi pangan memerlukan energi dan air. Dukung petani, peternak, dan nelayan lokal dengan menghabiskan makanan yang kita makan. Dengan begitu, kita tak hanya mendukung kelestarian lingkungan hidup, tetapi juga ekonomi petani dan nelayan. 

Terkait penggunaan plastik, problem satu ini juga berangkat dari makanan. Contohnya, ketika memesan makanan secara online melalui layanan pesan antar, seringkali penjual membungkus pesanan pakai kantong plastik. Pembeli macam saya, boleh jadi sudah tidak pakai kantong plastik lagi untuk keperluan apapun, tapi penjual justru masih banyak yang pakai. Jika seperti ini, seolah berjuang sepihak membasmi pemakaian kantong plastik. 

Tahun 2019 saya ke Jambi, pernah belanja keperluan di minimarket biru dan kuning. Saya mengambil beberapa barang, lalu kasir meletakannya begitu saja setelah dibayar. Saya menunggu belanjaan saya dikantongi, tapi tidak terjadi, sebab kasir tidak memberikan kantong. Ternyata larangan penggunaan plastik di sana benar-benar berjalan. Saya sampai kerepotan membawa belanjaan ke hotel karena tidak bawa tas. Beda dengan minimarket di tempat tinggal saya di BSD, bila tak bawa tas, kantong plastik tetap ditawarkan dengan cara dijual. Ya percuma. 



Sobat Budaya Tunjukkan Pemetaan 30.000 Kuliner Tradisional Nusantara 

Pernah tahu nggak kalau kuliner tradisional kita jumlahnya sebanyak 30.000? Saya baru tahu kali ini lho. Ternyata sebanyak itu. Lalu kenapa perlu dilakukan pemetaan segala? Bagaimana caranya? 

Mbak Nicky Ria ketua Sobat Budaya memberikan penjelasannya.

"Dengan melakukan pemetaan kita bisa mengetahui kira-kira ketersediaan kuliner kita apa saja sehingga diversifikasi kita menjadi lebih luas. Ada 30 ribu kuliner. Kalau 1 kuliner kita habiskan 1 hari, maka kita butuh 80 tahun untuk mencobanya," ujar Nicky. Saking banyaknya ya, perlu umur sepanjang itu buat mencicipinya. Iya kalau umur sampai 80 haha.

 
 
Menurut Nicky, basic dari pemetaan kuliner adalah biologi evolusioner yaitu melihat kekerabatan yang mengadopsi genetika. Dalam budaya disebut memetika, yaitu pendekatan untuk model evolusi terhadap transfer informasi budaya. Meme merupakan satuan terkecil informasi dalam kebudayaan kita. Jadi, dengan cara itu kita melihat bagaimana sebenarnya kekerabatan dari 1 kuliner dengan kuliner lain.

Nah, buat yang ingin tahu kuliner tradisional apa saja yang telah dipetakan, silakan kunjungi website berikut www.budaya-indonesia.org 

Ada kurang lebih 70 ribu data budaya yang dikumpulkan sejak tahun 2007. Selain makanan, ada pula minuman, musik, cerita rakyat, dan lainnya. 

Asal tahu saja, kata Mbak Nicky 30.000 itu belum mewakili seluruh kuliner tradisional yang ada di Indonesia. Nah, lho! 😅 Lalu, saya punya pertanyaan, apakah 30 ribu sudah didaftarkan HAK CIPTA? Jangan sampai diakui oleh negara lain he he.

Perpustakaan Digital Budaya Indonesia www.budaya-indonesia.org

Peta Kekerabatan Kuliner. Bisa dilihat dalam aplikasi Nusa Kuliner.

Hal menarik lainnya yang diceritakan oleh Nicky tentang pelepah pinang sebagai pengganti sterofoam yang biasa digunakan oleh masyarakat di Sumatera. Bahkan katanya, pelepah pinang dari Jambi dan Kalimantan sudah dikomersialisasi di Malaysia, dibuat jadi mangkok, piring, sendok, dan garpu. 

Duh, apa yang sudah lama jadi tradisi kita, kenapa akhirnya malah tenar dan berharga tinggi di negara tetangga ya? Silakan tanya pada Inul yang bergoyang 😂

Kalau bicara bahan alami pembungkus makanan, di Sumatera masih mudah dijumpai. Di Belitung misalnya, penjual makanan mie khas Belitung menggunakan daun simpor untuk membungkus makanan. Padahal mie lho, ada kuahnya. Tidak peduli di kota atau di pinggiran, di restoran besar atau warung kecil, daun simpor akan dipakai untuk membungkus makanan, bukan hanya mie. 

Tapi entah juga, mungkin saja saya kebetulan bertemu dengan penjual-penjual makanan yang memakai daun sebagai pembungkus. Perlu dicek lagi di tempat lain. Oh ya tapi, mungkin ada hubungannya kenapa Belitung itu bersih. Pantai, pulau dan lautannya bebas sampah. Sebanyak 6 kali selama 6 tahun berturut-turut main ke Belitung, saya betah karena kebersihannya juara. Beda dengan pulau-pulau di tempat lain, Bajo misalnya, kampung di pinggir laut itu sudah kotor oleh sampah plastik, baik yang mengapung di laut, maupun yang berserakan di tepian. Padahal berada di kawasan wisata bahari paling terkenal di timur Indonesia. Apa karena masyarakat Belitung minim penggunaan plastik? Mari amati 😁
DAUN SIMPOR PEMBUNGKUS MAKANAN - Mie Belitung ini saya beli di warung kecil seberang hotel BW Inn Belitung. Mie dibungkus daun simpor, sesampai di hotel saya pindahkan ke dalam mangkok. (Belitung, November 2020)

Sekadar info, masyarakat Belitung tidak hanya menaikkan pamor daun simpor sebagai pembungkus makanan lho, tapi juga sebagai motif batik dengan teknik eco print, namanya Batik Simpor.

Duh, kok saya malah bahas Belitung ya 😂

Zahra Khan Perkenalkan Ragam Kuliner Gorontalo

Webinar sore itu semakin menarik dan sarat gizi, dari krisis iklim hingga pangan yang menggugah selera. Lalu sampailah pada sesi Ragam Kuliner Gorontalo oleh Zahra Khan, seorang Ahli Teknologi Pangan, praktisi UMKM dan penyusun resep.


Sesi Zahra diawali dengan video penampilan 3 kuliner Gorontalo yaitu Bilenthango, Gohu Putungo, dan Ilepa'o. Bilenthango terbuat dari ikan, Gohu Putungo adalah sayur kembang pepaya campur jantung pisang, dan Ilepa'o adalah cemilan berbahan dasar larva ikan dicampur sagu. Mana yang pernah saya coba? BELUM SEMUA! haha

Ya, jangankan pernah makan dan melihatnya, tahu namanya saja baru sekarang. Pertanda mainnya saya tuh kurang jauh. Sependek saya keliling Indonesia, belum pernah sampai ke Gorontolo. Kasihan ya haha. Btw, nama makanan Gorontolo agak susah disebut dan dihafal, ya. Kalau ada yang tanya, sepertinya saya mesti buka kamus dulu 😃

Melihat Bilenthango saya teringat masakan ikan dabu-dabu Tidore, dan nama GOHU mengingatkan saya pada makanan GOHU ala Tidore. Bahan dan cara masak Bilenthango persis ikan dabu-dabu Tidore, diolah dengan cara dipanggang atau dibakar, lalu disiram dengan cabe, bawang, tomat yang diiris atau ditumbuk kasar. Beda dengan GOHU, jika di Tidore adalah masakan ikan tuna yang disiram irisan cabe, bawang, tomat dan lemon cui, maka GOHU ala Gorontalo adalah masakan sayur kembang pepaya dicampur jantung pisang. Jauh banget bedanya! 😂

Betapa manisnya "takdir" berjumpa kuliner Gorontalo di webinar kali ini, jadi pembangkit kenangan indah pada suatu masa ketika berada di Tidore selama 7 hari, menjelajah alam, hingga kekayaan kuliner. 

Mengenai dua kuliner Tidore yang saya maksud, bisa dibaca dalam tulisan saya pada link berikut Kuliner Khas Tidore.  

BILENTHANGO Kuliner Gorontalo

E-Book Memilih Makanan Ramah Iklim +39 Resep Gorontalo

Provinsi Gorontalo yang terletak di Zona Wallacea, daerah transisi antara benua, Asia dan Australia, memiliki pemandangan permai dengan hutan, sawah, dan laut. Penelitian tentang Makanan Tradisional Gorontalo oleh Dr. Arifasno Napu, SSiT.,Mkes menyimpulkan bahwa proses dan semua bumbu yang digunakan adalah alami karena tanpa pengawet, pewarna buatan, cita rasa maupun aroma sintetik.

Pertemuan antar budaya, baik dari hasil pernikahan, hubungan politik, penguasaan wilayah hingga hubungan niaga, telah menyisakan banyak jejak dalam peradaban Gorontalo. termasuk cita rasa. Pada kuliner Gorontalo, dapat ditemukan pengaruh Ternate, Tidore, Bugis, Makasar, Gowa, Cina dan Arab.

Menurut DR. Arifasno Napu, ada ratusan makanan tradisional Gorontalo, namun dari penelitiannya baru ada 80 jenis yang teridentifikasi dengan baik dan dibagi dalam 4 kelompok yaitu: makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan snack/kue.

Ada 15 makanan pokok dengan bahan utama jagung, sagu, singkong, ubi jalar dan beras, serta 20 lauk pauk yang bahan dasarnya dari perairan. Sebanyak 10 jenis masakan berbahan dasar sayuran segar seperti terong, daun pepaya, daun singkong, kangkung, pakis, kacang panjang, bunga pepaya, ketimun suri, labu, dan jantung pisang. Juga 35 jenis snack/kue yang pada menggunakan jagung, singkong, ubi jalar, pisang, dan beras.


Jelajah Cita Rasa Gorontalo

“Jelajah Citarasa Gorontalo – Jalur Rempah” oleh Yayasan Negeri Rempah & Omar Niode Foundation dilaksanakan pada 2018. Kegiatan tersebut dirancang khusus bagi pencinta alam dan budaya Nusantara. 

Mini Gorontalo Food Festival dan Obrolan tentang Rempah, sebagai rangkaian acara, diadakan pada sebuah rumah kuno di Gorontalo, dengan sajian 10 makanan utama berempah 22 kudapan, dan minuman.

E-Book Memilih Makanan Ramah Iklim +39 Resep Gorontalo mencoba mengenalkan konsep makanan ramah bumi dari berbagai aspek terkait dan peranannya dalam menyikapi krisis lingkungan. Buku ini juga menampilkan resep-resep makanan ramah bumi yang dapat dicoba, khususnya makanan tradisional Gorontalo. 

Melalui buku tersebut Omar Niode Foundation ingin mengajak masyarakat memilih makanan ramah iklim.

E-Book Memilih Makanan Ramah Iklim +39 Resep Gorontalo dapat dibaca dan diunduh melalui link berikut : bit.ly/e-bookmakananramahiklim


William Wongso Ajak Masyarakat Angkat Citra Kuliner Nusantara sebagai Identitas Budaya 

Akhirnya, sampailah webinar ini pada sesi Pak William Wongso, Legendary Chef, Pakar Kuliner, Penulis buku “Flavors of Indonesia”. 

Dalam keterangannya, Pak William Wongso mengatakan bahwa beliau sangat mendukung upaya-upaya pelestarian budaya kuliner Nusantara seperti yang dilakukan Omar Niode Foundation. 

“Di era sosial media dan internet seperti saat ini, satu hal yang tidak dapat kita lakukan adalah meng-googling rasa, experience itu harus dicoba langsung. Tapi kita dapat menginformasikan budaya kuliner bangsa Indonesia yang beragam ini lewat internet, dan menarik orang untuk mencoba,” ujarnya

KULINER ADALAH IDENTITAS BUDAYA

Rasa itu hasil dari budaya. Tanpa budaya tidak akan terjadi suatu menu.

William menambahkan, “Dengan makin majunya peradaban  kita tidak boleh mengabaikan budaya kuliner Bangsa Indonesia. Selain melestarikan, kita wajib utk meningkatkan citra Tradisi Kuliner Indonesia, agar bisa masuk dan dikenal dalam peta kuliner dunia.”

Sepanjang Pak William berbicara, saya gelisah, sebab beliau banyak bercerita tentang makanan-makanan Indonesia yang pernah dibuatnya tampil di acara-acara istimewa dan penting, di dalam maupun di luar negeri, dalam bentuk foto-foto menarik dan menggoda. Gelisahnya saya karena yang tampil cuma gambar yang tidak bisa dimakan! 😂

Buat yang ingin ikut menonton Pak William, silakan tonton video rekaman live talkshow pada FB Pages Omar Niode Foundation melalui link berikut: Live Talkshow Makanan Ramah Iklim

Pada sesi Pak William Wongso bertabur foto makanan menggugah selera 

Ihsan Averroes Wumu dari Olamita Resto Suguhkan Penampakan Ragam Kuliner Gorontalo

Pembahasan Kuliner Gorontalo membuat saya memasukkan Gorontalo dalam daftar tempat yang harus saya kunjungi jika nanti sudah tidak pandemi lagi. Saya ingin menjelajah melihat alamnya, juga kekayaan kulinernya. 

Pastinya, jadi ingin sekali mencicipi kuliner Gorontalo dalam waktu dekat. Apakah bisa terealisasi? Ternyata sangat bisa. Sebab, di Jakarta ada restoran khusus hidangan Gorontalo, namanya Olamita Ikan Bakar Gorontalo.

Adalah Ihsan Averroes, seorang pengusaha muda yang membuka restoran khusus menu Gorontalo di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Di restoran inilah para petualang rasa bisa memanjakan lidahnya dengan menu Gorontolo. 

Olamita Resto sudah berdiri sejak Mei 2016 sampai sekarang. Meskipun bukan berada di tempat asalnya, masakan Gorontolo di Alomita Resto dijamin tetap otentik, sebab bahan ikan dan bumbu didatangkan langsung dari Maluku dan Gorontalo, sehingga rasanya tetap seperti di tempat asalnya.

Jika tak bisa datang ke restoran, jangan kecil hati, kuliner yang kita inginkan di Alomita Resto bisa dipesan melalui GO-FOOD.  


Makanan adalah benang merah yang bisa mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. 

Bagaimana supaya masyarakat bisa hidup lebih layak, bagaimana mengurangi kemiskinan, dan bagaimana mengurangi krisis iklim, semuanya bisa ditinjau dari segi makanan.

Setiap masalah ada solusinya. 
Makanan itu sungguh dapat menyatukan, maka selesaikan solusi iklim pakai MANGAN.
"Memahami sumberdaya yang digunakan untuk produksi makanan akan membuat konsumen lebih peduli terhadap hubungan antara makanan dan perubahan iklim sehingga pilihan yang diambil akan lebih ramah bumi."

Selamat atas peluncuran e-book “Memilih Makanan Ramah Iklim + 39 Resep Gorontalo”. Semoga melalui buku tersebut, resep dan tradisi kuliner Nusantara bisa dilindungi sebagai warisan budaya dan alam Indonesia.

Asinan Sayur Betawi (Photo Katerina)


Untuk menutup tulisan ini, saya akan menyuguhkan penampakan Asinan Sayur Betawi favorit saya. Kuliner khas Betawi ini saya nikmati berdua suami. Kedua anak saya kurang suka. Bukan tidak suka sayur, tapi belum suka asinan sayur.

Asinan sayur ini adalah versi sederhana dari saya dengan menggunakan bahan yang ada di kulkas saja.

Resep Asinan Sayur Betawi:

Sayuran: Selada (iris), Kol (iris), Tauge.
Tahu (kukus dan potong-potong).
Pelengkap: Kerupuk Pink, Kerupuk Mie, Kacang Tanah Goreng

Bumbu kacang:
250gram kacang tanah, goreng
5 cabe merah keriting
5 cabe rawit merah
2 siung bawang putih
250 ml air

Bumbu lain:
1 sdm garam
3 sdm gula
1 sdm ebi sangrai
1 sdm cuka
150 ml air asam jawa
500 ml air matang

Cara membuat:
Haluskan seluruh bumbu kacang. Sisakan kacang untuk taburan asinan.
Masak dengan api sedang, tambahkan air matang, lalu masukkan garam, gula, ebi, cuka, air asam jawa.

Cara penyajian:
Tata seluruh sayur dan tahu dalam mangkok, taburi dengan kerupuk mie yang diremukkan, lalu siram dengan bumbu kacang. 
Terakhir, taburi dengan kacang goreng dan kerupuk pink.
Asinan sayur siap dimakan.