Dua Vihara Terbesar di Pontianak Berdiri Berdampingan

13.24

Happy Lunar New Year 2021 buat semua yang merayakan 🎉🎆🎇🎈

Semoga tahun baru menjadi tahun penuh kebahagiaan, kesejahteraan, kesehatan dan mendapat kelancaran untuk segala urusan baik, sertaaaa dilimpahi cuan-cuaaaan! Sekian dan terima angpao!! 😍😂

Jalan-jalan Pontianak - Vihara Vajra Bumi Kertayuga

Pagi ini, Jumat 12/2/2021, saat membuka instagram, berandaku diramaikan oleh postingan ucapan selamat tahun baru imlek. Tak sedikit yang memposting foto bernuansa China, dari busana khas serba merah, hingga foto berlatar bangunan seperti klenteng dan kawasan Pecinan.

Tahun baru China atau yang lebih dikenal dengan perayaan imlek merupakan perayaan penting bagi orang Tionghoa. Perayaan tersebut biasanya dilakukan dengan melaksanakan ibadah di klenteng. Nah, itu sebabnya foto berlatar klenteng bertaburan ya di media sosial, karena memang identik dengan perayaan.

Aku auto latah dong, jadi ikut posting juga haha. Nggak pake mikir lama mau posting apaan, aku langsung teringat foto dua vihara terbesar di Pontianak yang sepertinya belum pernah aku post. Ya udah langsung cari dan ketemu, akhirnya posting.

Vihara yang aku maksud adalah Vihara Vajra Bumi Kertayuga dan Maha Vihara Maitreya. Keduanya berada di Kota Pontianak, tepatnya di Jalan Ahmad Yani II No.12, Sungai Raya, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Kode Pos 42117.

Vihara Vajra Bumi Kertayuga

Maha Vihara Maitreya

Klenteng dan Vihara itu Beda!

Niatnya mau posting foto klenteng, ternyata rumah ibadah yang aku maksud adalah vihara. Kirain klenteng. Lho emang beda ya klenteng sama vihara? Wong aku liat bangunan Vihara Vajra Bumi Kertayuga itu persis seperti klenteng kebanyakan lho.

Setelah aku telusuri, ternyata beda cuy hihi

Klenteng dan Vihara pada dasarnya berbeda dalam arsitektur, umat dan fungsi. 

Klenteng berarsitektur tradisional Tionghoa dan berfungsi sebagai tempat aktivitas sosial masyarakat selain dari pada fungsi spiritual.

Vihara berarsitektur lokal dan biasanya mempunyai fungsi spiritual saja. Namun, Vihara juga ada yang berarsitektur tradisional Tionghoa seperti pada Vihara Buddhis aliran Mahayana yang memang berasal dari China.

Bangunan Klenteng terdiri dari empat bagian, yakni halaman depan, ruang suci dalam, ruang tambahan, dan bangunan samping. Masing-masing tempat memiliki fungsi yang berbeda yang biasanya digunakan sebagai tempat beribadah.

Nah, perbedaan dasarnya itu ya. 

Kalau kalian amati, dua vihara yang aku ceritakan di sini juga beda lho meskipun sama-sama bernama vihara. Pertama dari arsitektur bangunannya. Kedua, dari patung besar yang berdiri tegak di halaman depannya. Perbedaannya ada pada gambar berikut:

Patung Dewi di halaman depan Vihara Vajra Bumi Kertayuga

Patung dewa di halaman depan Maha Vihara Maitreya

Ceritain bagian dalam viharanya dong! Duh, ga bisa!

Iya, ga bisa. Pasalnya, aku gak masuk! haha. Maaf ya kalau kalian kecewa hihi. 

Siang itu panas banget. Aku berada di kota dengan titik khatulistiwa gaes. Panasnya ampun dah. Semenit aja rasanya kayak kebakar. Aku yang saat itu ditemani oleh blogger kawakan asli kalbar, si bang Dwi Wahyudi Blogger Borneo, cuma liat-liat bentar dari depan, ngebut berfoto, nggak pakai lama.

Selama di sana mata terpicing-picing silau. Keringat mengucur. Mau masuk Vihara Vajra Kertayuga ga jadi karena aku pening mencium aroma dupa. Aku buru-buru menyingkir, pindah ke vihara di sebelahnya.

Suasana di Maha Vihara Maitreya saat itu sepi. Meski pagarnya terbuka dan kami bisa masuk, tapi pintu gedungnya rapat. Vihara satu ini terkesan tertutup dibanding vihara di sampingnya. Pun ga ada bau dupa, aku lebih nyaman. Tapi aku ga niat masuk, karena udah ga tahan ama udara panas. Jadi, boro-boro masuk vihara, yang ada buru-buru masuk mobil biar cepat kena AC haha

Datang ke rumah ibadah umat agama lain itu seringkali membuatku mengagumi arsitektur yang ada. Apalagi kalau ada muatan sejarah terkait asal usul pendiriannya. 

Sebenarnya jika aku agak lama di sana, mungkin ada yang bisa kuceritakan lebih lanjut. Sayangnya, beberapa hal menghalangi. Terutama, jadwal pesawat yang harus kukejar. Yak, hari itu terakhir aku berada di Pontianak setelah kegiatan Forest Talk 2019. Aku mesti balik ke Jakarta setelah berkeliling kota mencari oleh-oleh dan mengunjungi beberapa tempat populer yang menjadi objek wisata kota.



Segelintir foto yang aku tampilkan di sini, semoga bisa mewakili cerita kedua vihara. 

Ohya, perlu kalian tahu, tak jauh dari 2 vihara ini ada masjid dan gereja. Jadi, dalam satu kawasan ada 4 rumah ibadah berdiri berdampingan. 

Sebuah pemandangan indah yang menampakan kerukunan umat beragama.

Semoga, kerukunan itu senantiasa terjaga. 

Kita berbeda, tapi kita bisa bersama dengan selalu saling menghormati dan mengasihi sebagai sesama manusia.


Thank you, bang Dwi!


Share this

A mother of two who loves travel and enjoy to share my journey and valuable experiences

Related Posts

Previous
Next Post »

16 Comments

  1. Ga terasa udah lama ga bisa jalan2 lagi karena dampak pandemi. Btw, ma kasih buat publikasinya ya Kak. Sehat selalu buat Kakak dan kita doakan pandemi bisa segera berlalu. Amin Ya Allah...

    BalasHapus
  2. Wahh daebaakk ya mbaa

    Vihara berdampingan dgn masjid dan gereja

    Menunjukkan kalo Bangsa Indonesia tuh aslinya baiiikk dan menjunjung toleransi yg sesungguhnya.


    Semogaaa artikel ini bisa menjangkau banyak netyjen ya mbaa. Salam damaiii selaluu

    BalasHapus
  3. di kota Batu juga ada vihara namun lihat review nya lebih besar yang disana.

    BalasHapus
  4. Haha, dimaklumi kok mba, aku pernah ke Pontianak, dan memang puanasnya luar biasa sih, tapi jadinya bagus ke fotonya yaa mba, dan thanks loh ak jadi tau bedanya vihara dan klenteng yang kukira sama

    BalasHapus
  5. Duh cantik nya, kebayang panas mentrang mentring sewaktu motret ini
    Kelihatan dari awannya
    Akupun semula bingung bedain kelenteng dengan vihara
    Untung vihara dekat sini sekarang dibuka untuk umum jadi paham deh bedanya

    BalasHapus
  6. Lah, saya juga baru tahu bedanya vihara dan kelenteng setelah baca artikel ini.

    Bau dupa itu sebenarnya wangi ya mbak, tapi menurutku terlalu wangi, jadinya malah bikin mual kalau masuk penciumanku.

    Pepotoannya dalam cuaca panas gitu, tapi tetap semangat ya mbak. Hasilnya juga bagus

    BalasHapus
  7. Aq suka berkunjung ke spot spot wisata seperti vihara. Di kalimantan mmg memiliki daya tarik tersendiri seperti klenteng dan vihara yg besar

    BalasHapus
  8. Baik Klenteng maupun Vihara kalau designnya unik dengan warna-warna dominan merah, kuning, dan hijau, biasanya indah banget secara visual. Bahkan Masjid mualaf Tionghoa yang menggunakan konsep design yang sama juga cantik untuk dipotret.

    BalasHapus
  9. Jadi pengen jalan jalan juga ke vihara dekat daerahku. Tapi emang lagi panas cuaca terus lagi pandemi jadi masih mager buat kesana hihi.. setelah aku baca tulisan ini jadi tau juga beda kelenteng dan vihara.

    BalasHapus
  10. aaaaaa aku gak bisa baca doang iniiii, kudu datang langsung
    pengen tahu lebih jelas dan seksama secara real bagaimana wujud vihara yang bersebelahan
    soalnya arsitektur dan desainnya kan unik banget

    BalasHapus
  11. Wah jadi ngerti sekarang bedanya Klenteng sama Vihara. Kalau sekilas lihat emang mirip mirip aja ya kak

    Btw, salfok sama tempatnya yg instagramable bgt

    BalasHapus
  12. Daku juga mikirnya sama awalnya antara klenteng dan vihara, karena pernah berwisata ke Vihara dan baru inget oh iya waktu itu ke sana nggak ada kegiatan masyarakatnya, yang ada pada sedang berdoa jamaahnya.

    Ternyata bukan sinonim ya l, tapi masing-masing memiliki fungsi yang berbeda

    BalasHapus
  13. Berawal dari liat di Instagram kakak, aku jadi mampir ke sini. Hehe... Pengennya foto dengan background Vihara itu. Kece banget.

    BalasHapus
  14. Ternyata beda, ya.
    Baru tahu. Hihihi.
    Di sini, keduanya berada di dekat pasar sih. Tapi berjauhan juga sih.
    Makasih penjelasannya Mbak.
    Saya suka. Kita memang harus mengabarkan hal-hal baik dan budaya di Indonesia

    BalasHapus
  15. Sungguh ulasan yang sangat menarik mengenai wihara di Pontianak. Saya sebagai warga lokal, sedikit enggan untuk berhenti dan berfoto di sana. Dan kurang memahami cerita di baliknya.

    Terima kasih Ibu Katerina

    BalasHapus
  16. pengen banget mampir kesana :D bagus ya

    BalasHapus

Leave your message here, I will reply it soon!