Tidore Ternate Sebuah Tinjauan dari Aspek Geo Politik, Geo Strategi dan Geo Ekonomi

18.14
Seminar Nasional bertemakan Tidore Ternate, Titik Temu Peradaban Timur Barat, sukses dilaksanakan di Aula Sultan Nuku, Kantor Walikota Tidore Kepulauan pada Senin, 12 Februari 2018. 

Seminar berkualitas ini terselenggara atas kerjasama KSBN (Komite Seni Budaya Nusantara) di bawah komando Mayjend (Purn) Drs. Hendardji Soepandji, SH sebagai Ketua Umum dengan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan

Mayjend (Purn) Drs. Hendardji Soepandji, SH
Kurang lebih 200 peserta dari berbagai kalangan hadir dalam seminar yang berlangsung sejak Pukul 09.30 -16.00 WIT. Peserta yang hadir di antaranya adalah para akademisi, pengamat budaya, pecinta seni, penggiat wisata, berbagai lapisan aparat pemerintahan, serta sejumlah masyarakat yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pengembangan pariwisata Tidore untuk Indonesia. Seminar budaya ini merupakan yang pertama kalinya diadakan di Tidore. Tak heran bila kemudian disambut dengan antusias sehingga menjadi subyek pembicaraan semua lapisan masyarakat. 

Tujuan dari seminar nasional ini adalah memberikan gambaran tentang  sejarah keberadaan Tidore-Ternate dan korelasinya dengan teori Heliosentris Copernicus sebagai titik awal revolusi ilmiah modern, serta membahas permasalahan Kota Tidore sebagai Titik Nol batas timur dan barat dunia dan bagian dari Suma Oriental. 

Seminar Nasional Tidore-Ternate

Seminar Nasional Tidore Ternate

KSBN bersama Pemerintah Kota Tidore Kepulauan menghadirkan sekaligus memfasilitasi beberapa akademisi dan praktisi untuk terlibat aktif dalam pelaksanaan Seminar Nasional. Mereka adalah:

Hilmar Farid, PHd (Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI).  Pak Hilmar tampil sebagai Key Note Speaker (Pembicara Utama) dengan topik bahasan “Tidore – Ternate, Titik Temu Peradaban Timur Barat” 

Hilmar Farid, PHd (Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI)

Taufik Rahzen (Staf Ahli Menteri Pariwisata Bidang Destinasi Prioritas Nasional). Speaker di sesi ke-2 yang membawakan makalah berjudul “Kesultanan Tidore, Potensi Warisan Budaya dan Pengembangannya”

Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M.Hum (Guru Besar Sejarah Universitas Indonesia), Speaker di sesi ke-1 dengan makalah berjudul “Kesultanan Tidore Dalam Dunia Maluku Kie Raha, Sebuah Prespektif Historis”

Wuri Handoko, MSi (Peneliti Madya Bidang Sejarah Balai Arkeologi Maluku), Speaker sesi ke-2 memaparkan “Jejak Arkeologis Kesultanan Tidore dan Wilayah Periferinya” 

Taufik Rahzen, Wuri Handoko MSi, M. Amin Faroek, Idris Sudin, SP, M.Si

Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M.Hum

Wuri Handoko, MSi (Peneliti Madya Bidang Sejarah Balai Arkeologi Maluku)

Jou Lamo/Sultan Tidore ke-37, H. Husain Sjah dan M. Amin Faroek, Perdana Mentri/Jojau Kesultanan Tidore yang merupakan tuan rumah, juga hadir dalam seminar. 

Sultan mengangkat topik “Kesultanan Tidore Masa Lalu, Kini dan Yang Akan Datang”. Sedangkan Perdana mentri tampil penuh semangat memaparkan pemikiran beliau yang bertemakan “Jalur Rempah Maluku Utara di Masa Lalu dan Pengaruhnya Terhadap Kebudayaan Dunia”.

Sultan Tidore ke-37, H. Husain Sjah

Dua orang moderator yang tampil dalam proses seminar yang berlangsung dalam dua sesi ini yaitu Prof. Dr. Njaju Jenny Malik Tomi Hardjanto, SS, MA (Guru Besar UI dan Dosen Lemhanas) serta Idris Sudin, SP, M.Si (Rektor Universitas Nuku Tidore). 

Walikota Tidore Kepulauan, Bpk. Capt. Ali Ibrahim SH




Dalam sambutannya, Ketua KSBN Hendardji Soepandji mengajak pemerintah dan masyarakat Kota Tidore untuk bersiap menyambut tapak tilas 500 tahun perjalanan Magelhaens yang akan digelar pada 8 November hingga 18 November 2021. Salah satunya dengan menggelar kegiatan Sails Tidore yang melibatkan jaringan GNMC. 

“Kegiatan ini harus bermanfaat bagi pemerintah dan rakyat setempat sehingga modernisasi Tidore perlu dilakukan dengan melibatkan masyarakat,” ujar Hendardji.  

Mayjend (Purn) Drs. Hendardji Soepandji, SH
Sebagai Pemateri Awal di Sesi ke-1, Bapak Hendardji Soepandji menyampaikan ide-ide, pandangan ilmiah, dan evaluasi beliau atas peranan Tidore bagi pengembangan wisata dan budaya dunia. 

Berikut adalah materi lengkap yang disampaikan oleh Bapak Hendardjie yang berjudul: Tidore Ternate, Sebuah Tinjauan dari Aspek Geo Politik, Geo Strategi dan Geo Ekonomi.

 

TIDORE - TERNATE
 Sebuah Tinjauan dari Aspek Geo Politik, Geo Strategi dan Geo Ekonomi

Siklus kehidupan negara–negara di dunia akan mengalami pasang surut seiring dengan dinamika perkembangan lingkungan strategis karena situasi, kondisi dan potensi wilayah serta kepemimpinan Nasionalnya. Sebagai contoh Romawi yang pernah sangat berkuasa pada abad 5 SM akhirnya terpecah menjadi beberapa negara, demikian juga Mongolia yang pernah sangat berpengaruh di dunia pada abad ke-13 akhirnya kehilangan eksistensinya pada era setelah itu.

Pengalaman yang melanda negara-negara tersebut seharusnya menjadi perhatian bagi Indonesia. Oleh karena Indonesia yang terletak di antara 2 Benua besar yaitu Benua Asia dan Benua Australia serta diantara 2 Samudera besar yaitu Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, selain merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam dan sumber daya laut (17.504 pulau), juga negara yang sangat majemuk dengan 1.128 suku di dalamnya. 



Kondisi tersebut merupakan suatu karunia dari Allah SWT yang merupakan hal yang tidak dapat kita ingkari. Hal ini dipertegas dalam pembukaan UUD NRI 1945 alinea ke 3 yang berbunyi :

“Atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa dan dengan didorongkan dengan keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini Kemerdekaannya”.

Maka jelaslah disini bahwa kemerdekaan yang kita peroleh adalah dari Rahmat Allah SWT, ini semua yang membedakan bangsa Indonesia dengan semua bangsa – bangsa di dunia terlebih dengan Ideologi negara yang dimilikinya yaitu Pancasila sebagai landasan Kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. 


  
Indonesia ditengah peradaban bangsa – bangsa di dunia
 

Secara historia Indonesia (Nusantara) punya sejarah panjang di tengah peradaban bangsa–bangsa di dunia. Keberadaan Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 sebagai sebuah kerajaan maritim yang sangat berpengaruh pada era itu telah mempersatukan Nusantara lewat bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan dan menjadikan kawasan ini berpengaruh kuat di sektor perdagangan pada bangsa bangsa–bangsa di dunia. Dilanjutkan dengan munculnya Kerajaan Majapahit pada abad ke-14, sebagai sebuah kerajaan maritim memperkokoh pengaruh tersebut. Pada akhir abad ke-15 (tahun 1490) pasca runtuhnya Kerajaan Majapahit distribusi rempah–rempah di Nusantara ke berbagai negara–negara di dunia terhenti, terutama ke Eropa.
   
Terhentinya distribusi rempah–rempah ke Eropa yang menjadi komoditas andalan di sektor perdagangan menyebabkan ketegangan hubungan antara Spanyol dan Portugis yang diselesaikan oleh Paus di Vatikan lewat perjanjian Tordesilas pada tahun 1494 yang membagi wilayah perdagangan dalam mencari rempah–rempah, Portugis ke arah timur dan Spanyol ke arah barat. Pada waktu itu rempah–rempah menjadi komoditas andalan dan sumber rempah–rempah dirahasiakan karena persaingan antar negara yang sangat ketat dalam mendapatkan rempah–rempah.


Setelah pembagian tentang arah timur dan barat oleh Vatikan untuk Portugis dan Spanyol munculah tulisan TOME PIRES bangsa Portugis 1512-1515 Tentang SUMA ORIENTAL.

Tulisan Tome Pires intinya menyangkut kekuatan ekonomi di Asia terutama China, Jepang, India, dan Hindia Timur (Asia Tenggara) terutama  Indonesia. Tulisan ini telah mendorong raja Spanyol untuk membentuk ekspedisi laut terbesar di dunia yang melibatkan 9 negara anggota yang dipimpin oleh Magelhans (Portugis) untuk melanjutkan mencari rempah-rempah ke arah barat. Ekspedisi laut terbesar dunia ini melibatkan 5 kapal, 265 orang yang berasal dari 9 negara anggota di tahun 1519-1522.


Pada tanggal 08 November 1521 s/d 18 Desember 1521 ekspedisi singgah di Tidore namun ketika tiba di Tidore Magelhans telah terbunuh di Philiphina pada tahun yang sama dan ekspedisi tinggal 2 kapal yaitu Victoria dan Trinidad dengan awak kapal sejumlah 70 orang sisanya meninggal di perjalanan. Ketika ekspedisi Magelhans tiba di Tidore 08 November s/d 18 Desember 1521 pada awal 1512 bangsa Portugis sudah ada di Ternate yang sebelumnya tiba di Banda Maluku. Selama Portugis dan Spanyol di Tidore dan Ternate pada tahun 1521 memunculkan ketegangan kembali antara 2 negara yang mendorong munculnya Perjanjian SARAGOSA tahun 1529 di Vatikan dan menarik Spanyol dari Tidore ke Philiphina. 



Indonesia ditengah persaingan global di abad XXI

Era abad ke-21 merupakan era persaingan antar bangsa-bangsa di dunia yang semakin ketat, seiring dengan ledakan jumlah penduduk dunia sementara sumber daya alam semakin terbatas. Selain itu juga, perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih menyebabkan setiap orang dengan mudah memperoleh informasi  tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.

Dengan jumlah penduduk bumi saat ini yang telah mencapai 8 Miliar dan dengan berkurangnya sumber daya alam dapat diperkirakan 60 tahun ke depan akan terjadi krisis yang dapat menyebabkan pergeseran penduduk dunia dari yang tinggal di daerah nonekuator ke daerah ekuator untuk mendapatkan sumber energi dunia. 



Sebagaimana kita ketahui, krisis ekonomi yang terjadi di Eropa yang hingga saat ini belum sepenuhnya teratasi dan juga situasi politik di AS yang tidak menentu menyebabkan terjadinya pergeseran geopolitik, geostrategi, dan geoekonomi baru, terutama dengan bangkitnya kekuatan ekonomi negara- negara Asia yang meliputi China, Korea Selatan, India, Jepang dan Indonesia. Dengan bangkitnya kekuatan ekonomi baru di Asia ini mengingatkan kembali kepada tulisan TOME PIRES (Portugis) 1512-1515 (500 tahun lalu) yang menguraikan bahwa kekuatan ekonomi dunia ada di Asia. Perubahan geo politik, geo strategi dan geo ekonomi bangsa-bangsa di dunia ini justru memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan global, sepanjang potensi yang besar ini dikelola dengan berlandaskan pada nilai-nilai budaya yang berakar pada kearifan lokal.

Untuk itulah diperlukan keterlibatan peran pemerintah dan peran aktif seluruh masyarakat untuk memberdayakan dan menggunakan sumber daya yang ada demi kemaslahatan bersama sehingga dapat bersaing di era global. Dengan demikian, kita harus memanfaatkan kekayaan budaya yang kita miliki atau dengan perkataan lain pembangunan dilakukan berbasis budaya. Hal ini sangat penting karena kita dapat  menarik pelajaran dari pengalaman bangsa lain di dunia yang melakukan hal tersebut. Misalnya, pada 150 tahun yang lalu Jepang melakukan modernisasi negaranya dan gagal mencapai kesejahteraannya karena meninggalkan akar budaya setempat. Akhirnya Jepang melakukan modernisasi dengan mempertahankan  nilai-nilai tradisi yang dijunjung tinggi, yang kita kenal dengan RESTORASI MEIJI yang pada gilirannya memberikan kesejahteraan pada masyarakatnya. 



Peran Tidore dalam Ekspedisi Laut Terbesar Dunia

Pada tanggal 08 November s/d 18 Desember 2021 Tidore akan menjadi tuan rumah Napak Tilas Exspedisi Laut Terbesar Dunia. Peristiwa ini merupakan kegiatan 500 tahun memperingati peristiwa bersejarah ekspedisi Magelhans, yang pelaksanaannya akan didukung oleh Pemerintah Daerah dan juga Pemerintah pusat dalam bentuk Sail Tidore yang melibatkan jaringan GNMC yang terdiri dari 23 kota dari 15 negara. Kegiatan ini harus bermanfaat bagi pemerintah dan rakyat setempat, sehingga modernisasi Tidore perlu dilakukan dengan melibatkan masyarakat. 

Saat ini kita sudah mempunyai UU No. 5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan dimana pemerintah berkewajiban mencukupi  pembangunan yang berbasis budaya untuk mempersiapkan masa depan dan peradaban bangsa, kondisi ini menjadi peluang besar untuk melakukan modernisasi di Tidore. Masih ada waktu 4 tahun untuk menyiapkan diri dalam menghadapi peristiwa besar ini.  


 
UNCLOS 1982 memperkuat Posisi Maluku Utara (Ternate Tidore)

Pada saat Republik Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, kekayaan lautan Indonesia merupakan lautan bebas yang dapat dilewati oleh semua kapal-kapal asing. Hal ini menjadi kerawanan maritim kita, laut akan menjadi ancaman bagi wilayah Nusantara kita, karena batas wilayah laut kurang lebih 3 mil dari pantai tetapi sejak deklarasi juanda pada tahun 1957 di mana Indonesia menetapkan batas laut, dari nilai ZEE dihitung dari pulau terluar dan laut Indonesia bukan laut bebas. Deklarasi ini diakui oleh PBB lewat UNCLOS Tahun  1982 maka yang sebelumnya luas laut indonesia hanya 30% di luar wilayah seluruhnya, menjadi 70%  di seluruh wilayah Indonesia.

Terkait dengan wacana Napak Tilas yang akan singgah di Tidore 08 November s/d 18 Desember 2021 dan UNCLOS 1982 perlunya pemberdayaan ekonomi kerakyatan berorientasi pada budaya dan kearifan lokal kuat sebagai berikut: 


- Pengembangan wisata bahari di Maluku utara yang bisa segera dimulai. 

 
- Pengolahan potensi laut di Maluku utara yang bisa memberikan  kesejahteraan bagi masyarakat nelayan

 
- Peningkatan peran kuliner yang berbasis pada potensi laut sehingga pengembangan potensi laut dilakukan di hulu s/d hilir dimana masyarakat ikut berperan aktif. 



Dari berbagai hal tersebut di atas diharapkan Tidore akan lebih siap untuk menghadapi perhelatan besar dunia, yang akan berdampak pada pengembangan kota Tidore dan juga kesejahteraan masyarakatnya.

Tidore, 12 Februari 2018
Drs. Hendardji Soepandji, SH 


Mayjend (Purn) Drs. Hendardji Soepandji, SH


Komite Seni Budaya Nusantara | Jl. Pejaten Raya No. 33D | Jakarta Selatan | Email: ksbnindonesia@gmail.com | Telepon +62.812.9236.345 | Website: www.ksbnindonesia.org 




********


Berita terkait juga dapat dibaca di :
Pemerintah Diminta Support Napak Tilas Ekspedisi Magelhans
KSBN dan Bakti Untuk Negeri - Seminar Nasional Tidore-Ternate

Share this

Indonesian Travel Blogger Email: katerinasebelas@gmail.com

Related Posts

Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
17 Februari 2018 20.09 delete

Keren banget Rien. Kupasan yg sangat rinci dan berbobot

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon