Ketika GenPI Banten Mengirimku ke Lampung

14.16
Lampung Krakatau Festival 2017

Cuaca cerah yang menghiasi wajah baru Bandara Radin Inten sore itu mengundang rasa sukacita. Membuat saya tak buru-buru menuju terminal kedatangan. Berjalan santai di antara para penumpang yang bergegas, menikmati suasana sore di bandara yang kini lebih rapi dan lebih bagus dari 4 bulan sebelumnya. Mata pun berpapasan dengan baliho Festival Krakatau 2017 yang terpampang besar di pinggir bandara, menampakkan event wisata yang menjadi tujuan saya menginjakkan kaki ke-4 kali di Lampung di tahun 2017. 

Bandara Radin Inten Lampung (in frame: Mbak Terry)

Perjalanan ke Lampung ini bermula dari pesan via Whatsapp yang dikirim pada satu hari sebelumnya (23/8 jam 3.29 pagi) dari Ketua Koordinator GenPI Banten. Sebuah permintaan mendadak yang saya sambut dengan setengah ragu. Keraguan yang membuat saya menghubungi Mas OnoSembungLango, barangkali bisa berangkat menemani atau menggantikan saya. Tapi ia tak bisa, maka akhirnya saya yang pergi, sendiri. Jam 4.43 sore tiket ke Lampung sudah jadi, dikirim oleh Ayu via Whatsapp. Seperti tak percaya. Begitu cepat semua terjadi,dan esoknya (24/8) saya pun berangkat. Di Lampung saya sore itu, datang atas nama Genpi Banten, di tempat yang tak asing lagi bagi saya. 

Genpi Banten di Gedung Sapta Pesona Kemenpar RI Jakarta

“Mohon potret kegiatan Lampung untuk referensi di Banten,” pesan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten Ibu Eneng Nurcahyati kepada saya.

Pesan yang dikirim melalui Whatsapp grup Genpi Banten itu saya ingat baik-baik. Ada harapan dan kepercayaan di dalamnya. Saya berjanji dalam hati untuk memberikan yang terbaik buat beliau.

“Siap bu, mulai besok saya foto-foto kegiatannya,” jawab saya saat itu.  

Bersama rekan-rekan Genpi Banten dan Kadispar Banten Ibu Eneng Nurchayati

El's Coffee bandara Radin Inten, tempat pertama kalinya jumpa dengan Mbak Molly dari Medan dan Ahmad dari Kepri. Kami sudah beberapa kali saling berinteraksi di dunia maya, dan akhirnya bersua di dunia nyata. Makin sukacita rasanya, meski sesaat saja kumpulnya, karena kemudian saya dan Genpi Jateng (Mas Shafiq & Yudi) menuju hotel dengan taksi online, tidak bersama mereka. Secangkir kopi yang belum saya pesan, terlambat untuk dijadikan ingin.  

El's Coffee Bandara - in frame: Terry

Bersua di bandara dengan Mbak Molly, Ahmad, Mbak Terry, dan Mbak Vika

Whiz Hotel jadi tempat menginap selama di Lampung. Saya satu kamar dengan Eca, GenPI Sumbar. Selain Eca, juga ada Robby GenPI Sumsel. Jadi, ada 4 GenPI yang hadir di Festival Krakatau tahun ini. Mereka pentolan-pentolan GenPI dari daerahnya masing-masing, dan sudah lama menjadi GenPI. Sedangkan saya hanya anak baru di GenPI. Itu sebabnya sebelum tiba di Lampung saya berkomunikasi terlebih dahulu dengan Mas Shafiq, minta petunjuk dan arahannya agar selama di Lampung bisa menunaikan kewajiban dengan semestinya.  

Whiz Hotel

Whiz Hotel

Sependek saya bertandang ke Lampung, baru kali ini menginap di Whiz. Hotelnya di kota, dekat dari mana-mana. Kamarnya nyaman dan bersih. Sarapannya bisa saya nikmati tanpa ada penolakan dari lidah dan perut :D Oh ya, malam pertama di Lampung, semua kawan Genpi yang laki-laki menginap di Wisma D’Green. Sabtu malam, mereka baru menginap di Whiz.

Dari kamar di lantai 6 yang saya tempati bersama Eca, saya bisa menyaksikan view malam Lampung dari ketinggian. Sebuah kota di balik jendela kaca dengan jutaan cerita, dan malam menyelimutinya dengan banyak rahasia.  

view dari lantai 6 Hotel Whiz

view dari lantai 17 Hotel Whiz

Malam itu kami makan di Warung Bakso Sony di Jalan Wolter Monginsidi. Bakso ini, namanya kondang di Lampung, bahkan di luar Lampung. Katanya, belum kulineran di Lampung kalau belum mencicipi Bakso Sony. Hmm…berasa dejavu. Sepertinya pernah kemari. Diingat-ingat.....ah, iya. Saya pernah makan di sini dengan para blogger. Agustus tahun lalu, di tempat yang sama, saat event FK juga. 

Usai makan bakso bareng, Mas Shafiq, Yudi, dan Robby lalu pergi. Mereka bergabung dengan Genpi Lampung dan para blogger di tempat lain. Saya bersama Ayu kembali ke hotel, menyiapkan diri untuk esok hari menuju Pulau Sebesi. 

Baksonya enak....

Tapi malam itu saya makan mie ayam

Robby juga makan mie ayam

Ada yang baru pada Festival Krakatau tahun ini. Peserta Tur Krakatau menginap di Pulau Sebesi terlebih dahulu. Baru pada esoknya mendaki Gunung Anak Krakatau. Karena bakal menginap, persiapan yang dibawa pun jadi lebih banyak. Sebuah ransel penuh perlengkapan dan sebuah tas kamera dengan dua lensa, cukup berat buat saya yang berbadan mungil. Tapi Bismillah, semoga aman dan kuat, nggak pakai sakit dan kelelahan. 

Pagi hari kami sudah meninggalkan Hotel Whiz tanpa sempat sarapan. Dengan menggunakan taksi online kami pergi ke Wisma D'Green, lalu berangkat bareng para peserta lain pakai bus menuju lapangan Korpri. Di sana ada acara pelepasan Tur Krakatau oleh Pak Kadis Pariwisata Provinsi Lampung. Baru setelah itu berangkat sama-sama dengan rombongan lain menuju Dermaga Bom Kalianda. Saya senang acara pelepasan berlangsung cepat, tidak pakai menunggu lama dan berpanjang-panjang kata. Yang agak lama itu nanti, saat di Dermaga Bom.

Baca juga: Blogger Festival Krakatau 2016 

Pelepasan tur Krakatau oleh Kadispar Lampung
 
Oh ya, Wisma D'Green itu dulunya juga dipilih panitia FK tahun 2015 sebagai tempat bermalam media dan para blogger undangan. Saya pernah menginap di sana, saat pertama kali ikut FK tahun 2015. Pada tahun 2016, saat diundang lagi ikut FK, para blogger diinapkan di hotel yang lebih besar dan bagus, Inna Eight Hotel :) Kalau tahun ini, hotel Whiz yang saya tempati disiapkan oleh kemenpar (lewat EO), karena saya datang sebagai GenPI.

Setelah acara pelepasan oleh Pak Kadis, rombongan pun berangkat menuju Kalianda dengan menggunakan beberapa bus. Sempat gerimis saat dalam perjalanan. Tapi alhamdulilah setibanya di Dermaga Bom (jam 8 lebih 15 menit), cuaca sudah membaik. 

Baca juga: Blogger Festival Krakatau 2016 Menginap di Hotel Inna Eight

Bersama di bus, berpisah di kapal

Pertama kalinya bagi saya menginjakkan kaki di Dermaga Bom, di lokasi Amphiteater. Tempat di mana terdapat dua payung raksasa dan lampu-lampu hias yang berdiri tegak. Saya membayangkan tempat ini di malam hari, pasti cantik sekali dengan cahaya lampu malamnya. Apalagi di tepi laut, dengan deretan kapal-kapal yang bersandar, menambah keindahan.  

Di Dermaga BOM

Sebelum berangkat, para peserta didaftar ulang. Sementara di panggung, ada penampilan seni daerah setempat. Panitia juga membagikan kotak-kotak makanan, buat sarapan. Saya memaksa diri untuk makan, meski belum ingin. Suasana pagi yang mulai panas, keringat tak henti menetes, membuat selera makan tidak terlalu baik. Pun perasaan tidak enak mulai menghinggapi. Entah apa. Tapi saya tetap makan. Ada lambung mudah sakit yang harus saya pikirkan. 

Keberadaannya mempercantik dermaga

Saya jadi teringat dua tempat lainnya yang pernah dijadikan titik keberangkatan tur Krakatau pada tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2015 di dermaga Grand Elty Krakatoa Kalianda. Tahun 2016 di Sari Ringgung Pesawaran. Dari 2 tempat tersebut, saya lebih suka di Dermaga BOM ini. Jarak tempuh dari BDL terasa lebih dekat (rasanya sih begitu). Dermaganya juga lebih nyaman. Selain itu, para peserta juga terlihat lebih tertib dan tenang. Saya melihat dan merasakannya seperti itu.   

Bersiap menaiki kapal

Setelah satu jam berlalu dengan menunggu, akhirnya waktu keberangkatan tiba. Orang-orang mulai bergerak menuju kapal. Saya dan kawan-kawan Genpi juga demikian. Rasa sukacita kembali menyeruak, tak lama lagi berlayar, ke Pulau Sebesi lagi untuk kedua kali. Ah, senangnya. Mood memotret kembali naik, saya pun merekam suasana saat itu dengan kamera ponsel, menjadikannya foto dan video. Namun, di tengah suasana sukacita itulah sesuatu tak terduga datang....

Mendung

Bersambung ke cerita selanjutnya: Jelajah Pulau Sebesi.

Baca juga: To The Scenic of Pulau Pisang

Kapal berangkat kapten...


"Kamu tidak tahu apa yang akan kamu temui dalam perjalanan. Jika itu rintangan, hadapi, lalu tetaplah tegak dan lanjutkan berjalan. Rintangan datang untuk membuatmu makin kuat dan kaya dengan pengalaman hidup."


Share this

Indonesian Travel Blogger Email: katerinasebelas@gmail.com

Related Posts

Previous
Next Post »

37 comments

Write comments
8 September 2017 15.02 delete

Ceritanya ngalir.. senagai yang sering bolak balik Lampung udah katam betul mbak rien dengan medan festival.

Reply
avatar
8 September 2017 16.08 delete

Berasa ikut jd peserta baca ini hehe.

Reply
avatar
8 September 2017 19.12 delete

hello kakak cantik, nice to meet you 😘

Reply
avatar
9 September 2017 10.33 delete

Selalu suka baca tulisan mbak Rien...menunggu cerita berikutnya :)

Reply
avatar
9 September 2017 12.24 delete

serunya, someday saya juga ingin ke fes krakatau=)

Reply
avatar
9 September 2017 16.15 delete

Suasananya pas banget, makanan sampai penginapan dan pantai cukup membuat hati gembira melihatnya :)

Reply
avatar
9 September 2017 20.37 delete

Asyik baca ceritanya, Mbak Rien. Eh tapi masih bersambung. Hehehe.. pengin baca kisah selanjutnya :)

Reply
avatar
10 September 2017 07.40 delete

kalau rezeki emang gak kemana. kadang datang tanpa kita duga dan sangka-sangka. seperti halnya cerita Mba Rin yang tiba2 datang ke sini. baca gini, juga bisa rasakan momen yang mbak rasakan. ya walau gak mendalam seperti mengalami sendiri, hehe

Reply
avatar
10 September 2017 11.59 delete

Wow! Undangannya mendadak banget ya mbak? Tapi gak salah sih GenPI Banten mengirim mbak Rien buat meliput FK, aku pribadi yang cuma melihat dari jauh serasa 'ikut melihat langsung' jalannya acara lewat semua info yang diposting mbak Rien di medsos. Lengkap dan detail, as usual.

Gak sabar nunggu lanjutannya...

Reply
avatar
10 September 2017 12.57 delete

wah seru sekali, keren. Baksonya... gagal fokus

Reply
avatar
10 September 2017 13.09 delete

Selamat ya kak, bisa berangkat juga, sayang sekali sy gak bisa ikut. Gak bisa menziarahi lampung, terlebih krakataonya. Semoga ada kesempatan lagi di lain waktu.

Reply
avatar
11 September 2017 11.38 delete

Selamat ya Mbak udah dipercaya sama Genpi Banten, emang yang namanya usaha tidak akan menghianati hasil. Publik tahu kok mana yang berkarya dengan sepenuh hati, jadi wajar jika mendapatkan banyak apresiasi dan kesempatan-kesempatan bagus seperti Mbak Rien. Tetep semangat dan berkarya dimanapun dan bagaimanapun medan yg dihadapi, aamiin.

Reply
avatar
11 September 2017 11.49 delete

Keliatan bolak balik ya Ded, padahal belum banyak yang dikunjungi. Tapi senang karena selalu ada yang ngajakin ke sana, atau teman2 yang pingin di ajak ke sana. Jadinya ya kayak ke Lampung lagi, Lampung lagi :D

Reply
avatar
11 September 2017 11.52 delete

Dulu kita sama-sama pernah jadi peserta tur Krakatau di Festival Krakatau 2015 ya Mel...

Reply
avatar
11 September 2017 11.53 delete

Hello Ahmad, nice to meet you too :ng

Reply
avatar
11 September 2017 11.54 delete

Terima kasih Mbak Ika. Insha Allah :-bd

Reply
avatar
11 September 2017 11.57 delete

Baru cerita pembuka saja nih Bai :D Keindahan laut dan pantai Pulau Sebesi akan aku tampilkan dipostingan berikutnya ^_^

Reply
avatar
11 September 2017 11.59 delete

Terima kasih Mbak Diah. Sambungannya sedang disusun, ditunggu ya ^_^

Reply
avatar
11 September 2017 12.10 delete

Iya, rejeki tergantung Tuhan mau kasihnya kapan dan dalam bentuk apa. Kita hanya berdoa. Minta ini dikabulkan itu, minta itu dikabulkan ini. Minta besok dikasih sekarang, minta sekarang dikasihnya bulan depan. Minta ke Raja Ampat dikasihnya malah ke Lampung =D

Seperti ke Lampung ini, nggak nyangka datang sebagai Genpi, padahal awalnya pingin datang sebagai penonton saja bareng kawan2 traveler :D

Reply
avatar
11 September 2017 12.20 delete

Aamiin. Terima kasih. Lain waktu semoga mas Ono yang ke Lampung ^_^

Reply
avatar
11 September 2017 12.21 delete

Mendadak banget Untunglah aku siap, meski ragu. Sempat hubungi mas Ono juga sih (orangnya komen di bawah) siapa tahu dia bisa pergi ke Lampung.

Wah iya seru banget di Pulau Sebesi. Aku seneng di sana kenal sama Bang Jek, diajakin blusukan bareng Cindar dan Lia. Sore2 sibuk ngabisin waktu main ke kampung dan pantai2. Maret lalu ke Pulau Sebesi bareng Mas Arif malah nggak sempat kelayapan karena nyebrang ke Pulau Umang buat sunsetan. Aku seneng akhirnya bisa menikmati Pulau Sebesi bareng orang2 yang baru aku kenal. Berkesan.

Reply
avatar
11 September 2017 12.24 delete

Aamiin. Thanks Ihwan. Semangat! :-bd

Reply
avatar
12 September 2017 09.06 delete

GenPI Jatim mana suaranya, hehehe aku Anggota Genpi Jatim yangbjarang aktif

Tegak berdiri mesti badai datng menghampiri, ..... Selalu respek dengan kesungghan mbakmRien menjalani semua kegiatan dengan profesionalime. Itunggu cerita yang dipulau sebesi ...

Reply
avatar
12 September 2017 15.52 delete

selalu suka dengan tulisan Mbak Rin.. membacanya serasa ikut di dalamnya..

Reply
avatar
12 September 2017 17.36 delete

Kapan hari ada yg ngajakin aku ke Lampung Mbak Rien, emak mbolang gtu, cuma sehari di waktu wiken, tapi mungkin di kotanya aja kali ya :D pas aku blm bisa heuheuheu

Reply
avatar
13 September 2017 15.38 delete

Seruuu ceritanya, nggak sabar nunggu sambungannya Mbak Rien.

Reply
avatar
15 September 2017 03.02 delete

Nggak nyangka di Lampung kuliner ngehitsnya bakso tho. Jadi pengen ngebakso nih mbak :D.

Salut dah ama mbak Rien, selalu semangat dan profesional.

Reply
avatar
15 September 2017 12.07 delete

Nah aku padahal pengen banget ke Pulau Sebesi. Serasa nostalgia bareng rombongan pendaki Jakarta. Ada kisah di balik itu. Ada cerita yang tak terungkap. Haha. Aku malah pengen mendaki gunung di Pulau Sebesinya Mbak.

Reply
avatar
15 September 2017 14.29 delete

Salam ya buat member Genpi Jatim yang produktif bikin video CJ itu, juga buat Alid sang koordinator 😁😂

Terima kasih mbak Zulfa. Cerita lanjutan di Pulau Sebesi sudah diposting. Selamat membaca 😘

Reply
avatar
15 September 2017 14.30 delete

Thanks Fauziah, sama dengan sukanya aku membaca tulisanmu 😊

Reply
avatar
15 September 2017 14.35 delete

Iya, keliling kota puas sehari. Belanja2 dan kulineran. Sehari bisa juga main ke pantai, tapi yang dekat, bisa dicapai dalam waktu kurang dari 2 jam. Caranya ambil flight paling pagi ke Lampung, dan flight paling sore ke Jkt. Lumayan ada 5 jam buat main2 di pantai.

Reply
avatar
15 September 2017 14.36 delete

Thanks Dewi. Sambungannya sudah dibuat. Cek postingan selanjutnya 😊

Reply
avatar
15 September 2017 14.38 delete

Bakso salah satunya saja. Masih banyak yang ngehitz2 lainnya mbak. Kalau mau yang khas Lampung ada lagi. Aku rekomen Resto CikWo. Banyak menu tradisonal Lampung di sana. Kulinernya patut dicoba.

Reply
avatar
15 September 2017 14.40 delete

Ayo mbak kita jalan sendiri. Ajak beberapa kawan. Banyak juga nih yang mau melancong ke Sebesi.

Yang rahasia2 simpen aja mbak. Buka pada tempat, waktu, dan orang yang tepat 😂

Reply
avatar
16 September 2017 20.52 delete

Selalu ada cerita yang menarik meski pergi ke tempat yang audah pernah dikunjungi ya mbak.
Seru bacanya mengenai Festival Krakatau ini

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon