Sedia Pelampung Sebelum Tenggelam

21.20

Assalamu'alaikum Wr Wb, 

Pagi itu, saya menyusuri jalan kampung di Pulau Harapan. Sendiri saja, karena teman-teman masih sibuk mandi, sarapan, bahkan masih ada yang belum bangun. Saat melintasi rumah-rumah penduduk, saya melihat deretan baju pelampung dijemur di atas tembok pagar.

Seorang bapak yang saya temui bercerita bahwa pelampung-pelampung itu dicuci setelah dipakai oleh penyewa (wisatawan) kapal motor miliknya (paket kapal+pelampung). 

“Jumlah yang dicuci banyak sekali, apakah semuanya habis dipakai, pak?” tanya saya.

“Iya, semuanya terpakai. Alhamdulillah.” 

“Berarti wisatawannya banyak yang tidak bisa berenang dong pak,” ucap saya.

“Iya, banyak. Tapi yang bisa berenang juga pakai, kok.”

Percakapan singkat itu langsung membuat saya mengirim pesan ke seorang teman. “Dear…nih di Pulau Harapan banyak pengunjung yang ga bisa renang, tapi tetap berangkat dan pada berani snorkeling karena pakai ini.” Pesan teks itu saya sertai dengan foto jemuran pelampung. Tak lama, muncul balasan berupa ikon crying.

Mesti dicuci pakai air segar dan dijemur ga boleh terlalu panas
 
Berlibur ke Pulau Harapan, tak sekedar untuk merasakan sensasi berlayar, melihat laut luas terbentang, duduk-duduk di pasir pantai, atau pun berkemah menatap milyaran bintang tanpa gedung menjulang yang jadi penghalang, melainkan juga untuk berenang, snorkeling, dan diving. Tak afdol hopping island tanpa NYEMPLUNG ke laut. Begitu.

Nyemplung? Nyemplung selamat, atau nyemplung tidak selamat?

Melaut. Ini memang tentang kesenangan, tetapi juga tentang resiko. Yang namanya jalan-jalan, entah itu ke gunung, ke hutan, ke lembah, atau pun ke laut, semua beresiko. Boleh waspada tetapi tidak perlu sampai takut, apalagi mundur. Yang penting mau mengenali dengan baik semua faktor resiko dan hal apa saja yang bisa dilakukan untuk menghadapi resiko tersebut.

Ingin mencicipi wisata bahari tapi takut tenggelam karena belum bisa berenang, lantas bagaimana? Tenang, kalau sekedar merasakan naik kapal ikut berlayar di lautan luas dan dalam, tidak harus bisa berenang. Tinggal duduk saja di geladak. Mau sambil selonjoran, atau bahkan tiduran, tidak masalah. Aman. Kecuali kemudian kamu atau kapalnya mengalami kecelakaan, baru gelagapan :D

Pernah naik kapal ferri seperti kapal ferri di Muara Angke, Jakarta Barat? Saya baru 2x bolak balik naik kapal di sana. Kapalnya kecil dan sederhana. Saya lihat pelancong-pelancong muda yang naik kapal itu senang betul duduk/berdiri di luar/di atas kapal dengan posisi terlalu pinggir. Apa tidak takut jatuh ya? Kapal yang dihempas ombak, bisa jadi miring dan oleng, dan mereka bisa terjatuh, lalu byurr tenggelam.
 
Duduk di atap gitu, cari asyik atau cari aman ya?

Jatuh ke laut, kalau tidak bisa berenang, pasti tenggelam. Kecuali ada yang mendadak jadi hero, langsung menolong dan terjun mengejar ke laut. Atau ada yang sigap  melempar pelampung. Itu pun kalau belum keburu tenggelam dan pelampungnya berhasil ditangkap. Atau sebelum keburu ditelan hiu *ada emangnya?*. Kecelakaan seperti ini karena kecerobohan diri sendiri. Maka, resiko tanggung sendiri. Sudah tahu tidak bisa berenang malah tidak hati-hati.

Resiko tenggelam juga bisa datang dari faktor kecelakaan kapal, seperti kapal bocor, hanyut, kandas, ada kerusakan konstruksi, ada kerusakan mesin, meledak, menabrak dermaga, menabrak tiang jembatan, miring,  terbakar, terbalik, dan tubrukan

Semua itu dapat mengakibatkan penumpang jatuh alias nyemplung ke laut. Kecuali sebelum nyemplung sudah sempat memakai baju pelampung yang tersedia dalam kapal. Itupun kalau jumlah pelampungnya mencukupi. Kalau enggak? Sebelum tenggelam bakal ada aksi rebut-rebutan. Ingat Rose di film Titanic gak? Dia hampir tenggelam gara-gara pelampungnya direbut orang lain. Untung ada si Jack ganteng yang menyelamatkannya. 
Semoga saja setiap kapal yang ditumpangi saat berlayar menuju pulau yang dituju, selalu lancar, aman dan selamat sampai tujuan. Naudzubillah min dzalik kalau sampai mengalami kecelakaan.

Berenang atau tidak bisa berenang, semua bisa berlayar menggunakan kapal. Yang penting hati-hati. Ambil dan pegang baik-baik life jacket (baju pelampung) yang tersedia di kapal. Bila perlu pakai sepanjang perjalanan. Tapi, saya sendiri kadang bandel, perangkat keselamatan itu malah saya jadikan alas duduk. Jangan ditiru :D
 
Nenteng life jacket kemana-mana :D
Ohya, satu lagi. Biar ga nyemplung di laut, jangan kebanyakan gaya dengan foto-foto selfie aneh di atas kapal, apalagi di tempat yang terlalu pinggir. Ada pagar pengaman saja masih bisa jatuh, apalagi kalau tidak ada pagarnya. Kemarin, teman saya namanya Tri, mabok laut. Dia muntah, muntahannya dibuang ke laut. Kata Gigih, saat itu berdirinya sangat ke pinggir. Hampir saja jatuh. Untung dipegangin. Nah, kan. Itu aja udah berpeluang bakal nyemplung ke laut. Jadi, mending cari amanlah. Kalau sudah jatuh, mati gaya deh. Mau foto selfie sambil kelelep? haha

Itu tadi tentang nyemplung ga asyik.
Kalau nyemplung asyik itu nyemplung bersenang-senang untuk berenang, snorkeling, dan diving. Yang belum bisa berenang apa bisa ikutan nyemplung juga? BISA. Bisa tenggelem. Haha. Ga deng.

Yang belum bisa berenang bisa ikut nyemplung tralala tetapi hanya snorkeling. Snorkeling tidak dituntut harus bisa berenang. Kegiatan ini sekedar mengapung sambil melihat pemandangan di bawah laut. Sebelum masuk air, badan dipasangi life jacket terlebih dahulu. Nah, selama life jacket berfungsi dan dipasang dengan baik, badan akan ngambang dan tidak akan tenggelam. Paling hanyut di bawa arus hehe. Eh tapi kemarin di Kepulauan Seribu arus spot snorkelingnya  tidak deras. Yang deras itu waktu snorkeling di Derawan. Kebawa hanyut cukup jauh.
 
Pakai life jacket dulu, baru nyemplung :D
Nah, kalau pun ingin menjajal berenang dan diving, bisa saja. Asal tahu syaratnya. Ini nih syaratnya:
Berenang dan menyelamlah di sekitar pantai yang kedalaman airnya tidak melebih pinggangmu :D Selain itu, jangan sendiri. Minta dampingi orang lain. Bila perlu, ajak 10 teman untuk mendampingi. Suruh mereka berdiri membuat lingkaran, dan kamu silakan berenang dan menyelam ria di tengah-tengah mereka. Andai pun kamu kelelep, bakal banyak yang nolongin. Bwahaha. *ngaco*

Sebetulnya, berekreasi di air, entah itu di laut, danau, atau pun sungai, pelampung sudah menjadi perangkat andalan keselamatan yang mesti digunakan dan tidak boleh diabaikan. Tidak terkecuali untuk mereka yang sudah bisa berenang. Kalau ada agent tour yang ngajakin kamu main ke laut tapi tidak mengindahkan keselamatan peserta, alias tidak peduli ada pelampung atau gak, jangan mau ikut, ya!

Pelampung itu penting. Saking pentingnya, dimasukkan sebagai salah satu perangkat keselamatan yang diatur dalam International Convention for the Safety of Life at Sea (SOLAS), 1974. Setiap pelayaran, perangkat ini mesti ada. Kalau tidak ada, tuntut saja. Kalau sudah ada tapi kamu malah abai, ya ke laut aja deh ah :))  

Ada yang pernah menggunakan life jacket yang tersedia di pesawat terbang? Kalau pernah, pasti tahu  kalo desainnya beda dengan yang biasa digunakan saat naik kapal laut. Life jacket memang dirancang berbeda sesuai penggunanya. Ada yang digunakan oleh sipil dalam rekreasi berlayar, pelaut, kayak, kano, dll. Ada yang digunakan oleh penumpang dan awak pesawat (helikopter, pesawat udara) dan kapal komersial (kapal tunda, kapal penumpang, feri, kapal laut). Dan ada pula yang digunakan oleh militer (angkatan udara, pasukan khusus, marinir, angkatan laut, penjaga pantai) dan kepolisian.

Baju pelampung umumnya terbuat dari busa steriofoam yang dibungkus dengan baju berwarna orange yang menyolok, tujuannya agar mempermudah proses evakuasi bila terjadi bencana. Biasanya sudah dilengkapi dengan peluit dan lampu yang tetap hidup meskipun baterainya terendam air. Ingat adegan Rose di film Titanic saat meniup peluit dari baju pelampung? Peluit itu berfungsi untuk minta pertolongan. *Rose lagi Rose lagi* haha
 
Snorkeling aman dengan baju pelampung
Hari gini masih takut nyebur ke laut? Tenang, ada life jacket (baju pelampung). Perangkat keselamatan yang satu ini sudah dirancang untuk membantu pemakai, baik secara sadar atau di bawah sadar, untuk tetap mengapung dengan mulut dan hidung berada di atas permukaan air atau pada saat berada dalam air. 

Dengan pelampung, tidak ada lagi halangan untuk melihat indahnya dunia bawah laut. Ya gak? Ya eyalaaah kakaaak....


Share this

Indonesian Blogger | Travel Writer | Email: katerinasebelas@gmail.com |

Related Posts

Previous
Next Post »

20 comments

Write comments
7 Maret 2015 07.43 delete

Naaaah... benda ini niiih yang bikin aku berani buat nyebur-nyebur cantik.. hahahaha... Kalo gak ada benda ini, ogah ah.. *bilang aja gak bisa berenang :D :D

Reply
avatar
7 Maret 2015 07.55 delete

Waaah toped ada jual baju pelampung juga ya? Udah niat beli buat jaga-jaga kalau island hopping lagi. Cek ah.

Reply
avatar
7 Maret 2015 08.02 delete

I need it! I need it!
Mungkin aku akan bisa berenang kalo berenangnya di... laut mati :p

Reply
avatar
7 Maret 2015 08.12 delete

mb Rien.. saya bisa renang tapi sensasi snorkling di laut beda banget sama renang di kolam.. *alhasil jadi fobia laut ni* btw busway kayaknya perlu trust sama pelampung biar gak ngerasa mau tenggelam, hihihihihi ^_^

Reply
avatar
7 Maret 2015 10.33 delete

Bisa renang tapi tetep pakai pelampung. kecuali pas foto session :) Ceritanya, waktu norak norak gemulai dalam lautan, tiba tiba itu layer busana muslimah kecantol ke terumbu karang, panik minta ampun. sejak itu pakai pelampung, kadang tetep nekad juga, soalnya kalau pakai pelampung nggak bisa puas lihat dalam lautan.

Reply
avatar
7 Maret 2015 10.41 delete

aku keknya butuh tuh pelampung :v :v

Reply
avatar
7 Maret 2015 15.03 delete

Baju pelampung ini berguna banget buat orang yang gak bisa berenang kayaks saya, wkwkwk :p

Reply
avatar
8 Maret 2015 14.36 delete

Aku bisa bereneng. Tapi suka gak pede kalau berenang di tempat yang dalam. Tetep kudu pakai pelambung. jadi merasa diri sendiri aman. ira

Reply
avatar
8 Maret 2015 20.12 delete

*sodorin selusin pelampung ke mbak Dian*

Reply
avatar
8 Maret 2015 20.13 delete

Ada, mbak. Yuk mbak di cek cek di Tokopedia :D

Reply
avatar
8 Maret 2015 20.15 delete

*kirim guru renang cantik ke rumah Cek Yan*

Reply
avatar
8 Maret 2015 20.16 delete

Ada ungkapan hebat buat kita sesama phobia laut nih mbak: "Taklukkan rasa takut dengan melakukan apa yang engkau takutkan" :D

Usul bagus banget itu mbak :))

Reply
avatar
8 Maret 2015 20.17 delete

Iya, ada Zahra. Waktu kita ke Pulau Kakaban *tetiba jadi rindu* :(

Reply
avatar
8 Maret 2015 20.22 delete

Aduh, kebayang paniknya seperti apa. Moga lain waktu ga kejadian nyangkut2 lagi ya mbak.
Kalau lautnya dangkal, ngapung saja sudah cukup. Seperti di perairan Maratua (Kep Derawan), kedalaman 50 cm saja terumbu karang bagus2 sudah bisa kelihatan dan bisa disentuh (sambil ngapung). Motret pun jelas. Mungkin faktor masih perawan yang bikin perairan di sana masih mudah untuk melihat dasar laut.
Kalau di perairan lain, perlu agak dalam kalau mau lihat isi bawah air. Makanya kalau pakai pelampung ga puas. Mesti nyelem.

Reply
avatar
8 Maret 2015 20.26 delete

Aku yang bisa berenang aja butuh kok mbak. Kalo snorkeling, baju pelampungnya ga aku pake. Aku biarkan ngapung sendiri. Abis berenang dan free dive, baru aku kejar dan tangkap. Buat sandaran saat lelah :D

Reply
avatar
8 Maret 2015 20.29 delete

Aku juga sama seperti mbak. Di laut dalam, aku ga bisa lama mengapung tanpa pelampung. Makanya tetap butuh

Reply
avatar
9 Maret 2015 09.03 delete

Iya, Apalgi kalau pas narsis :) kelliatan pakai pelampung kurang keren. Mau Narsis apa mau hidup? hehehe Kangen Snorkling. Biasanya kulit dah eksotis gegara "melaut"

Reply
avatar
13 Maret 2015 15.17 delete

kangen ngetrip bareng lagiii....huhuhuhu....

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon