Tampilkan postingan dengan label Lenirra Villa & Resto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lenirra Villa & Resto. Tampilkan semua postingan

Trekking Lenirra ke Curug Cibadak via Suaka Elang Loji: Jelajah Alam, Lalu Makan Enak di Lenirra Resto

Trekking Lenirra ke Curug Cibadak via Suaka Elang Loji

Bagi saya, kebahagiaan itu bisa datang dari hal-hal sederhana yang kita sukai. Salah satunya, jalan-jalan di alam! Ada sensasi menyenangkan saat melangkah masuk ke hutan, menghirup udara segar, dan mendengar suara burung bersahutan di antara pepohonan. 

Saya juga suka sensasi saat kaki mulai menapaki bebatuan di sepanjang aliran sungai, apalagi ketika perjalanan itu akhirnya membawa saya berhadapan dengan curug yang airnya bergemuruh. Duh, rasanya seperti mendapat suntikan bahagia langsung dari alam! Memang sih, badan bisa capek dan kaki bisa pegal. Tapi kalau hati sudah senang, lelah pun rasanya ikut menjadi bagian dari petualangan!

Kali ini, saya kembali mewujudkan hobi itu bersama teman-teman Komunitas Food BloggerIndonesia. Senang? Ya iyalah! Gimana nggak senang coba? Teman jalan sesama food blogger, tujuan trekking-nya di Bogor pula! Ini salah satu privilege yang saya syukuri sebagai warga Tangerang Selatan. Mau main ke alam nggak harus pergi jauh-jauh. Cukup sekitar satu jam perjalanan, suasana sudah berganti dari hiruk-pikuk perkotaan menjadi hijaunya pepohonan dan segarnya udara pegunungan. Lumayan banget, kan? Belum jauh-jauh amat, sudah berasa diajak healing!

Trekking Curug Cibadak
 
Tapi, buat saya, petualangan yang menyenangkan bukan cuma soal tempat yang dituju. Teman seperjalanan juga punya peran besar. Mereka itu ibarat vitamin: semangatnya menular, tawanya bikin suasana makin hidup, dan tanjakan yang tadinya bikin ngos-ngosan bisa berubah jadi bahan cerita seru setelahnya. 

Satu lagi yang nggak kalah penting: siapa yang mengatur dan mendampingi perjalanan. Bukan berarti saya nggak bisa mandiri, ya. Hanya saja, di usia yang makin matang ini, saya ingin tetap menikmati petualangan dengan nyaman dan aman. Pokoknya, seru boleh, nekat jangan!

Terus, ada satu hal lagi yang pantang dilupakan: urusan perut! Setelah trekking dan menguras tenaga, masa iya pulangnya cuma bawa cerita dan pegal-pegal? Tenaga juga harus diisi ulang, dong! Nah, kali ini, perjalanan trekking sampai urusan makan setelahnya kami percayakan pada Lenirra Villa & Resto. Jadi, saya tinggal menikmati petualangan, seru-seruan bareng teman, lalu duduk manis menikmati makanan setelah berjuang menaklukkan jalur trekking. Praktis, kan?

Lenirra Resto & Villa
Lenirra Resto & Villa

Menariknya, Lenirra bukan cuma punya restoran untuk mengisi perut. Ada pilihan glamping dan vila juga. Jadi, kalau setelah trekking masih ingin leyeh-leyeh menikmati suasana Bogor, kenapa nggak sekalian menginap? 

Mau makan, bersih-bersih, lalu pulang juga bisa. Tinggal sesuaikan dengan kebutuhan dan waktu yang kita punya. Intinya, petualangan boleh menguras tenaga, tapi jangan lupa memberi diri sendiri kesempatan untuk menikmati hasil perjuangannya. Apalagi kalau urusan perjalanan dan tempat singgah sudah dibantu atur. Kita tinggal fokus menikmati momen! 😁 

Baca juga: Trekking Curug Cibingbin Sentul Bogor


Lenirra Villa & Resto di Cijeruk, Bogor: Titik Awal Trekking dan Kuliner

Sebelum masuk ke cerita trekking, kenalan dulu dengan Lenirra Villa & Resto. Berada di kawasan Cijeruk, Kabupaten Bogor, tempat ini memadukan restoran dengan pilihan penginapan berupa vila dan glamping. 

Alamatnya di Jl. Raya Cijeruk, Jl. Kawung Luwuk, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16740. Informasi tempat dan fasilitasnya juga bisa dilihat melalui Instagram @lenirra_resto.

Lenirra villa & glamping
Lenirra Villa & Glamping


lenirra resto
Lenirra Resto

Anniversary Food Blogger Indonesia: Trekking Lenirra, Jelajah Alam, dan Nikmati Rasa

Kegiatan trekking dan makan bersama ini menjadi bagian dari perayaan anniversary ke-4 Komunitas Food Blogger Indonesia. Temanya masih sama seperti tahun lalu: Jelajah Alam, Nikmati Rasa, Rajut Cerita. Buat saya, tema ini bukan sekadar rangkaian kata yang terdengar manis untuk sebuah acara. Ada makna yang lebih dalam di baliknya.

Coba deh, pernah terpikir nggak, makanan yang setiap hari kita nikmati itu berasal dari mana? Banyak yang kita konsumsi berasal dari alam. Ada tanah yang menumbuhkan tanaman, air yang menghidupi makhluk hidup, dan lingkungan yang mendukung proses tumbuhnya berbagai sumber pangan. 

Jadi, alam dan makanan itu bukan dua hal yang berjalan sendiri-sendiri. Kita menikmati hasil alam, tetapi jangan sampai lupa bahwa alam juga perlu dijaga. Jangan cuma jago menikmati hasilnya, tapi giliran menjaga malah lupa! 😉

Harapan saya, perayaan anniversary lewat kegiatan seperti ini bisa ikut menumbuhkan kesadaran bahwa lingkungan yang sehat dan pangan yang baik saling berkaitan. Sebab, kalau alam rusak, sumber pangan ikut terancam. Padahal, kita tentu ingin terus menikmati makanan yang enak, sehat, dan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Artinya, menjaga alam bukan cuma soal menyelamatkan pepohonan atau sungai, tetapi juga menjaga keberlanjutan makanan yang sampai ke meja kita.

Ada satu hal lagi yang membuat perayaan Oktober kali ini terasa istimewa. Selain menjadi momen ulang tahun komunitas, tanggal 16 Oktober 2026 juga bertepatan dengan World Food Day atau Hari Pangan Sedunia. 

Pas sekali dengan semangat yang ingin kami bawa melalui kegiatan ini: menjelajahi alam, menikmati rasa, dan merajut cerita sambil mengingat bahwa alam dan pangan saling terhubung. Semoga setelah seru-seruan trekking dan makan bersama, ada juga kesadaran kecil yang ikut terbawa pulang: kalau ingin terus menikmati makanan yang baik, kita juga perlu ikut menjaga alam.


Trekking Lenirra Dimulai: Titik Kumpul Pagi, Jangan Sampai Kesiangan!

Oke, mari mulai cerita petualangan kami hari itu! 

Sabtu pagi, 10 Oktober 2026, rombongan kami berjumlah 13 orang. Sedikit banget, ya, untuk komunitas yang anggotanya ratusan. Tapi namanya juga mengatur jadwal, belum tentu semua orang bisa ikut. Ada urusan jarak, agenda masing-masing, dan tentu saja kesibukan yang berbeda-beda.

Dari 13 orang itu, 11 adalah anggota Food Blogger Indonesia, sementara dua lainnya adalah suami saya dan suami Yesi. 

Seperti tahun lalu, suami kembali menemani saya trekking. Padahal, hari itu ia juga punya agenda trekking ke Bukit Kuta, Bogor, bersama teman-teman kantornya yang jumlahnya hampir 30 orang! Saya sih santai kalau beliau memilih ikut rombongan kantor. Biar sama-sama happy, kan? Eh, ternyata beliau memilih menemani saya. Katanya, sekalian memastikan saya aman selama perjalanan, sekaligus mengantar dan menjemput. Duh, pengawal pribadi! 😂 💚

Rombongan trekking: Fajar, Bowo, Isti, Katerina (+suami), Yesi, Amanda, Bayu Fitri, Rahma Ahmad, Mei, Lala, Temmy.

Pagi itu, kami janjian berkumpul di Lenirra pukul 07.00 WIB. Saya berangkat dari BSD bersama Mbak Bayu, Temmy, dan Bowo. Mereka saya jemput di Stasiun Rawa Buntu, lalu kami melanjutkan perjalanan melalui Tol Cinere, tersambung ke Jagorawi, dan keluar di Cijeruk. Sementara itu, Yesi dan suaminya berangkat naik motor dari Tangerang. Jauh juga perjuangannya. Salut buat Yesi dan suami 💪

Anggota lainnya, yaitu Isti, Mei, Amanda, Mbak Rahma, dan Fajar, berangkat bersama dari Stasiun Depok. Isti membawa mobil, jadi mereka janjian di stasiun tersebut sebelum melanjutkan perjalanan bersama. Sementara Lala, yang tinggal di Bogor, memilih berangkat langsung dari rumahnya.

Kalau soal siapa yang datang duluan, Lala menjadi yang pertama tiba, disusul rombongan saya, kemudian rombongan Isti, dan terakhir Yesi. Alhamdulillah, semuanya sampai dengan selamat. Cerita perjalanannya beda-beda, tetapi tujuan akhirnya sama: trekking bareng dan bersenang-senang!

Yang sudah tiba lebih dulu langsung memanfaatkan waktu untuk bersiap-siap. Ada yang ke toilet, ada juga yang menikmati suasana pagi Lenirra sambil foto-foto. Maklum, sebelum masuk hutan, dokumentasi harus diamankan dulu. Nanti kalau sudah ngos-ngosan di jalur trekking, belum tentu sempat bergaya lagi.

Nah, video Reels yang sematkan berikut ini, beberapa diambil sebelum trekking dimulai. Saat masih seger-segernya, sebelum kaki pegal semua 😆

 
Pukul 08.15, seluruh rombongan sudah berkumpul lengkap bersama pemandu trekking kami, Mas Kidal. Mas Kidal ini guide andalan Lenirra. Jadi, kalau kalian trekking sama Lenirra, Mas Kidal inilah yang akan mendampingi tamu. Insha Allah aman ya. Beliau ini sudah pro. Cek deh di akun IG-nya @qidsh17.

Dua menit kemudian, tepat pukul 08.17, kami berangkat menuju titik awal trekking menggunakan mobil yang disediakan Lenirra. Semua naik mobil, kecuali Mei yang berangkat bersama Mas Kidal menggunakan motor. 

Paket trekking Lenirra ke Curug Cibadak yang kami ikuti seharga Rp150.000 per orang sudah mencakup transportasi menuju titik awal, pemandu, roti untuk camilan, air minum kemasan, dan pinjaman trekking pole alias tongkat trekking. Lumayan, kan? Kami tinggal menyiapkan tenaga, alas kaki yang nyaman, dan semangat berpetualang.

Ohya sebagai info saja nih ya. Kegiatan bertualang dari Lenirra bukan hanya trekking, tersedia juga paket rafting, off road, dan lainnya. Sekarang kami cobain trekkingnya dulu, kapan-kapan semoga bisa cobain raftingnya juga. Aamiin!

Di lokasi start trekking. Briefing dan pemasanan dulu sebelum trekking.

Dari Lenirra ke Titik Start Trekking Curug Cibadak

Dari Lenirra, kami berkendara sekitar 2,6 km atau kurang lebih 11 menit menuju titik awal trekking. Jalurnya melewati Jalan Kawung Luwuk, jalan beraspal yang kondisinya cukup baik, meski tidak terlalu lebar dan memiliki kontur menanjak. Lokasinya berada di kawasan pedesaan. Kebetulan, saya sempat menyimpan titik lokasinya, jadi ketika saya cek kembali di Google Maps, rutenya melewati Pertanian Ibu Suri dan Pondok Alam Nasri, hingga area dekat Oke’s Home Villa.

Sesampainya di titik start, Mas Kidal memberikan briefing singkat tentang perjalanan yang akan kami tempuh. Setelah itu, kami melakukan pemanasan agar otot-otot tubuh lebih siap diajak bekerja. Jangan sampai baru mulai trekking, kaki sudah protes duluan! 😆 

Thanks Bowo udah pimpin pemanasannya. Maafin saya kurang serius pas pemanasan hehe. Dan akhirnya mereguk yang namanya sakit kaki setelah trekking haha. Ini gak usah diceritain ajalah ya haha. Tenang, tetep aman aja kok haha.

Lokasi start trekking Suaka Elang & Curug Cibadak

Pukul 08.45, petualangan resmi dimulai! Setiap peserta mendapat pinjaman trekking pole untuk membantu melangkah. Mobil yang mengantar kami kemudian kembali ke Lenirra dan akan menjemput setelah trekking selesai.

Oh iya, kali ini yang ikut trekking hanya 12 orang. Suami Yesi memutuskan beristirahat di Lenirra. Wajar saja, perjalanan naik motor dari Sepatan, Tangerang, cukup jauh juga, sementara siangnya ia masih harus berkendara pulang. Jadi, daripada memaksakan diri, lebih baik istirahat dulu dan mengumpulkan tenaga. 

Dalam perjalanan, semangat itu penting, tetapi tahu kapan harus beristirahat juga tak kalah penting!

Perjalanan awal trekking, belum lewatin pohon-pohon. Masih semak-semak dan ilalang saja.

Jalur Trekking Suaka Elang Loji: Tanjakan Terus Gak Pake Jeda

Saya semangat sekali memulai perjalanan ini. Bagaimana tidak? Ada suami yang menemani, ada teman-teman yang sama antusiasnya. Rasanya makin mantap saja melangkahkan kaki!

Dari awal, jalurnya sudah menanjak. Dan ternyata, ini bukan tipe tanjakan yang sebentar lalu memberi kesempatan kita bernapas lega di jalan datar. Rasanya, dari bawah sampai atas, nanjak terus. Ini berbeda dari pengalaman trekking saya sebelumnya. Biasanya, masih ada selingan jalan datar di sawah, turun ke ladang, menanjak di sisi bukit, lalu kembali landai. Di sini? Baru mulai saja kaki sudah diajak kerja keras. 😂

Awalnya, jalur masih didominasi semak-semak yang tingginya bahkan melebihi badan saya. Lumayan, ada sedikit naungan untuk menghalau matahari. Kami juga melewati jalur pipa air. Sesekali terdengar suara mendesis yang bikin penasaran. Rupanya, suara itu berasal dari air yang mengalir melalui pipa itu mungkin ada bagian yang bocor atau sambungannya kurang rapat. Untung trekking dilakukan pagi sampai siang. Kalau malam-malam lewat sini sendirian, bisa-bisa saya lari tunggang langgang! Hahaha.

Jembatan pertama jalur trekking Suaka Elang. Di atas setelah jembatan ada pos pembayaran tiket masuk kawasan Suaka Satwa Elang Loji 


Sungai di bawah jembatan masih ada airnya. Seminggu kemudian kata guide kami sungai ini kering. Tak ada air sama sekali.

Belum terlalu jauh berjalan, kami tiba di sebuah jembatan kecil. Di bawahnya, sungai berbatu dialiri air yang tampak bersih dan jernih. Menurut Lala, kondisi ini lebih baik dibandingkan saat ia trekking ke sini sebelumnya, ketika sungainya justru kering.

Saya pun merasa beruntung bisa melihat sungai ini masih berair. Apalagi, seminggu kemudian, guide kami bercerita bahwa saat kembali membawa rombongan lain ke tempat yang sama, sungainya sudah benar-benar kering. Tak ada lagi suara gemericik air yang menemani perjalanan, apalagi aliran air di antara bebatuan. Mendengar cerita itu, saya makin bersyukur karena kami datang di waktu yang tepat!

Selepas jembatan, tanjakan kembali menyambut. Kali ini jalurnya berbatu dan dibuat berundak menyerupai tangga, dengan lebar sekitar satu meter. Lumayan membantu langkah kaki, meskipun betis tetap harus bekerja ekstra!

Sampai di atas, kami menemukan bangunan bercat kuning dengan tulisan yang sebagian hurufnya sudah hilang. Untung masih bisa dibaca:

Selamat Datang
Di Taman Nasional Gunung Halimun Salak
Suaka Satwa Elang Jawa
Bumi Perkemahan

Oh, ternyata kami sudah memasuki kawasan Suaka Elang Loji! 

Di sini terdapat pos masuk dengan bangunan yang cukup bagus, lengkap dengan teras dan ruangan berkaca di bagian depan untuk pendaftaran sekaligus pembayaran tiket. Ada juga toilet umum yang saat itu tampak bersih. Saya melihat seorang ibu sedang menyapu, sepertinya petugas di pos tersebut. Karena tiket masuk kami sudah diurus oleh Mas Kidal, kami tinggal melanjutkan perjalanan.

Pos Pembayaran Tiket Masuk Suaka Elang
 
Ada rasa lega tersendiri melihat bangunan permanen di tengah kawasan yang dikelilingi pepohonan. Bukan berarti tempat ini menakutkan, ya. Hanya saja, buat saya yang agak penakut, keberadaan bangunan dan petugas di kawasan seperti ini memberi rasa nyaman. Rasanya tidak benar-benar berada jauh dari peradaban.

Selepas bangunan tersebut, jalurnya masih berbatu dan berundak. Jalan setapak ini kemudian membawa kami menuju kawasan hutan pinus Suaka Elang. Dari titik awal trekking, jaraknya berdasarkan pengukuran saya di Google Maps sekitar 500 meter. Tapi, entah kenapa, rasanya lebih jauh dari itu. Mungkin mendekati 600 meter. Maklum, kalau jalannya menanjak terus, jarak pendek pun bisa terasa panjang!

Baca juga: Trekking Leuwih Hejo Sentul Bogor

Pos pembayaran tiket masuk Kawasan Suaka Satwa Elang Loji

Hutan Pinus Suaka Elang Loji, Jembatan Gantung, dan Kantor Perhutani

Begitu tiba di kawasan hutan pinus, suasananya terasa berbeda. Pepohonan tinggi menjulang, udara sejuk menyelimuti area, dan suasananya jauh lebih tenang. Kami pun agak lama singgah di sini. Bukan cuma untuk istirahat, tentu saja, tetapi juga untuk menikmati suasana dan mengabadikan momen.

Di kawasan ini terdapat jembatan gantung yang menjadi salah satu spot foto menarik. Kami tidak menyeberang, hanya berfoto dari jembatan. Itu pun tidak beramai-ramai. Orang-orang yang menaiki jembatan gantung ini harus mau membatasi diri sekitar lima orang sekali waktu karena jembatannya terlihat cukup bergoyang.

Nah, daripada memaksakan foto bersama lalu semuanya ikut bergoyang, lebih baik bergantian saja! 😆

Foto bareng di jembatan gantung, tanpa Temmy.
Jembatan Gantung Suaka Elang Loji

Di seberang jembatan terlihat dua bangunan besar bercat hijau. Belakangan saya mendapat informasi bahwa bangunan itu merupakan kantor Perhutani. Di depan salah satunya ada area terbuka dengan pelataran yang menjorok ke arah sungai. Awalnya saya sempat mengira bentuknya seperti helipad. Hahaha, ternyata bukan! 

Saat trekking, rupanya pikiran saya bukan cuma sibuk menikmati pemandangan, tetapi juga gemar menebak-nebak hal yang bikin penasaran. 😆

Setelah mencari tahu lebih jauh tentang Suaka Elang Loji, saya baru memahami bahwa kawasan ini bukan sekadar tempat untuk menikmati hutan pinus dan berfoto. Di sini terdapat Pusat Suaka Satwa Elang Jawa yang berkaitan dengan upaya konservasi dan rehabilitasi burung pemangsa atau raptor, termasuk elang Jawa. Jadi, ada misi pelestarian satwa liar di balik kawasan yang terlihat begitu tenang ini.

Suaka Elang Loji, kawasan konservasi satwa elang Jawa. Foto bareng tanpa Mbak Rahma dan Temmy.

Di kawasan Suaka Elang Loji juga terdapat fasilitas pendukung konservasi. Saya sempat melihat visitor center dari area patung elang, tetapi tidak mendekat. Jadi, masih ada hal yang ingin saya cari tahu kalau suatu saat kembali ke sini.

Yang menarik, kawasan konservasi dan area perkemahan di Loji memang memiliki fungsi yang berbeda, meskipun lokasinya berdekatan. Artinya, tempat ini bukan hanya menjadi tujuan bagi pencinta alam yang ingin trekking atau berkemah, tetapi juga berkaitan dengan edukasi dan pelestarian satwa. 

Ternyata, sambil jalan-jalan, kita bisa mendapatkan cerita baru tentang alam yang selama ini mungkin hanya kita nikmati pemandangannya.

Camping ground di hutan pinus di kawasan suaka elang

Tak jauh dari situ, berdiri patung elang berukuran besar yang terlihat gagah. Meski hanya patung, tampilannya cukup mencuri perhatian. Saya sempat duduk-duduk di area ini, menikmati suasana yang hening, sejuk, dan adem berkat pepohonan pinus yang tinggi dan rindang.

Di sebelahnya terdapat camping ground dengan permukaan tanah yang relatif datar. Saya melihat bekas kayu yang tampaknya pernah digunakan untuk api unggun. Area seperti ini memang terlihat cocok untuk mendirikan tenda. 

Fasilitas seperti toilet dan musala juga tersedia di kawasan perkemahan.

Hutan Pinus
 
Saya langsung membayangkan betapa menariknya camping di kawasan hutan pinus ini: tidur di tengah alam, bangun pagi dengan udara sejuk, lalu menikmati suasana yang tenang. Meski begitu, buat saya yang agak penakut, bermalam di tengah hutan tentu punya tantangan tersendiri. Setidaknya, keberadaan fasilitas permanen di sekitar area membuat suasananya terasa lebih bersahabat. Tetap menyatu dengan alam, tetapi tidak merasa benar-benar sendirian.

Wah, kalau cuma singgah sebentar saja sudah senyaman ini, bagaimana rasanya kalau benar-benar mendirikan tenda dan bermalam? Tapi, itu cerita lain. Kali ini, kami masih punya tujuan utama yang menunggu: Curug Cibadak! Perjalanan masih berlanjut, dan kaki kami belum boleh menyerah duluan. 😁

Ohya, di hutan pinus itu kami singgah agak lama. Selain melepas lelah setelah menanjak, juga mengabadikan momen bersama. Pada IG post yang saya sematkan berikut ini, ketika memeluk pohon pinus dan rebahan di bawah pohonnya hehe... grounding ceritanya. 


Trekking Suaka Elang Loji ke Curug Cibadak: Tinggal 900 Meter Lagi!

Selepas hutan pinus, suasana trekking berubah drastis. Tak ada lagi jalan setapak berbatu yang tertata rapi atau deretan pohon pinus yang menjulang. Jalur berganti menjadi semak-semak dan pepohonan liar, dengan medan yang semakin menantang.

Di peta, jarak menuju Curug Cibadak hanya sekitar 900 meter. Kelihatannya dekat, ya? Namun, kami mulai berjalan dari kawasan hutan pinus pukul 09.53 dan baru tiba di area curug pukul 10.54. Totalnya 1 jam 1 menit! Pendek di angka, panjang di perjuangan. 😆

Pukul 10.15, kami singgah di sebuah pos. Dari sana, Curug Cibadak tinggal sekitar 100 meter lagi. Saya berhenti untuk minum karena tenggorokan mulai terasa haus. Stok air tinggal separuh, jadi saya menyeruputnya sedikit demi sedikit supaya cukup sampai tujuan. Kalau sampai kehabisan, jangan-jangan saya tergoda mengisi botol dari aliran curug. Hahaha!

Video Youtube Short yang saya sematkan berikut ini saat masih di hutan pinus. Footage-nya dari Mas Kidal. Semoga teman pembaca dapat membayangkan suasana di sana.

 


Ternyata, 100 meter terakhir bukan berarti tinggal jalan santai. Beberapa bagian jalur berada tepat di tepi jurang, sementara bebatuan besar mengharuskan kami memilih pijakan dengan cermat. Ada pula bagian longsor sepanjang kira-kira dua hingga tiga meter tanpa tali pengaman. Kami harus melangkah bergantian dan saling menjaga. Di sini, fokus itu wajib. Salah pijak sedikit saja, urusannya bisa panjang!

Pukul 10.49, kami tiba di tebing dekat curug. Air terjunnya sudah terlihat, tetapi kami masih berada di atas dan harus turun lagi. Lima menit kemudian, pukul 10.54, akhirnya kami sampai di area curug. Alhamdulillah!

Jujur, sepanjang perjalanan saya banyak beristigfar. Semangat boleh sebesar gedung MPR, tetapi kondisi tubuh dan medan tetap harus diperhitungkan. Saya juga berusaha tidak jauh dari suami. Beliau memang berpengalaman pernah mendaki beberapa gunung berapi di Sumatera dan Jawa, tetapi sekarang kami sama-sama perlu menyesuaikan langkah. Saling menjaga itu penting, apalagi di jalur seperti ini. 

Video YouTube Short yang saya sematkan berikut memperlihatkan kondisi jalur yang kami lalui saat menuju Curug Cibadak. Buat saya ini bukan kategori easy, medium pun agak lewat. Footage video oleh Mas Kidal.

Menurut saya, jalur menuju Curug Cibadak membutuhkan kehati-hatian ekstra dan sebaiknya ditempuh bersama pemandu lokal yang mengenal medan. Pertimbangkan kondisi jalur sebelum mengajak anak-anak, lansia, atau orang yang belum terbiasa trekking. Jangan sampai tergoda foto curug yang cantik, tetapi lupa memperhitungkan perjuangan untuk mencapainya.

Alhamdulillah, kami semua tiba dengan selamat. Isti, Lala, dan Fajar sampai lebih dulu, disusul saya bersama Mas Arif, Mei, dan Mbak Bayu. Terakhir, rombongan Yesi, Manda, dan Bowo. Mereka bukan kelelahan, kok, tetapi masih asyik berfoto di hutan pinus saat yang lain sudah berjalan duluan. Hahaha! Namanya juga content creator, pemandangan bagus sedikit, dokumentasi harus jalan!

Toh, ini fun trekking, bukan lomba lari. Sampai duluan boleh, belakangan juga tidak masalah. Yang penting menikmati perjalanan, saling menjaga, dan semuanya tiba dengan selamat. Pulangnya membawa cerita seru, bukan cedera! 😁

900M lagi ke Curug Cibadak

Jembatan kedua sepanjang jalur trekking, sebelum jalur longsor


Curug Cibadak: Dua Air Terjun, Dua Karakter

Begitu tiba di Curug Cibadak, rasa lelah setelah trekking langsung terbayar. Di hadapan kami terbentang tebing batu dengan dua aliran air terjun yang berdampingan. 

Curug bagian atas tampak melebar, airnya menyebar dan merayap di permukaan tebing. Sementara itu, curug bagian bawah lebih ramping, dengan aliran yang jatuh melalui celah bebatuan menuju kolam alami. Sekilas seperti saudara kembar, tetapi masing-masing punya karakter sendiri.

Dibandingkan dengan Curug Cisalada, Curug Penganten, Curug Perjaka, dan Curug Ngumpet yang saya kunjungi di Sentul tahun lalu, Curug Cibadak terasa berbeda. Bentuk tebingnya terbuka lebar, dengan aliran air yang langsung meluncur di permukaan batu. Tidak banyak tingkatan yang terlihat, tetapi justru bentangan tebing dan dua aliran air inilah yang membuat pemandangannya menarik.

Dari sini samar mulai terlihat Curug Cibadak. Jalur trekking pinggir tebing sepanjang jalan

Curug Cibadak dengan dua air terjun yang berjarak. Yang satu agak ke bawah, satunya di atas

Dua curug ini juga menawarkan pengalaman bermain air yang berbeda. Di bagian bawah, ada kolam yang ternyata cukup dalam. Saat Mas Arif mencoba masuk, air sudah mencapai dadanya, tetapi kakinya belum juga menyentuh dasar. Wah, ternyata bukan kolam yang bisa diterabas begitu saja! Akhirnya, suami dan teman-teman memilih bermain di bagian yang lebih dangkal. Meski kolamnya tidak terlalu luas, setidaknya masih cukup untuk berendam dan berenang sebentar. Lumayan, setelah betis diajak bekerja keras saat trekking, sekarang giliran badan menikmati kesegaran air!

Berbeda dengan bagian bawah, curug yang lebih ke atas memiliki aliran yang menyebar di permukaan tebing. Kami bisa mendekat dan duduk di bebatuan yang dialiri air. Tidak ada kolam dalam seperti di sebelahnya, tetapi ketika duduk, badan tetap terendam air. Rasanya segar sekali! Kalau yang satu cocok untuk bermain di kolam, yang ini menawarkan sensasi duduk langsung di bawah aliran air. Tinggal pilih, mau berendam atau menikmati pijatan alami dari air yang meluncur di atas batu.

Curug bawah (gambara kiri) ada kolamnya, bisa berendam dan berenang. Curug atas (gambar kanan), bisa duduk-duduk di tebingnya.

Saat kami datang, air di curug masih cukup untuk dinikmati meskipun sedang musim kemarau. Ini tentu menjadi keberuntungan tersendiri. Lala dan Isti pernah datang ketika kolamnya tidak terisi cukup air untuk berendam. Air terjunnya memang masih mengalir, tetapi air yang terkumpul di kolam tidak cukup untuk bermain. Bahkan, menurut cerita pemandu, sekitar seminggu setelah kunjungan kami, debit air di curug ini sudah mulai sedikit.

Wah, beda waktu kunjungan, beda pula pengalaman yang didapat! Kami datang ketika airnya masih cukup untuk bermain, sehingga bisa menikmati kedua curug dengan lebih leluasa. Cerita dari Lala, Isti, dan pemandu membuat saya semakin sadar bahwa kondisi curug sangat bergantung pada ketersediaan air saat itu. Alam memang punya jadwalnya sendiri, tidak bisa dipesan seperti meja restoran. Untung saja, kali ini kami kebagian momen yang pas! Alhamdulillah.

Bisa jadi, berkurangnya debit air ini berkaitan dengan hujan yang belum sering turun selama musim kemarau. Sebaliknya, ketika musim hujan tiba dan curah hujan meningkat, bukan tidak mungkin aliran air terjun menjadi lebih deras, kolamnya kembali terisi, dan aliran air menuju sungai-sungai di bawahnya pun semakin melimpah. Tentu saja, semuanya bergantung pada kondisi cuaca dan keadaan alam saat itu.

Video YouTube Short yang saya sematkan berikut menampakan kondisi real air terjun Curug Cibadak hari itu. 

Curug Cibadak Sepi Pengunjung: Serasa Punya Curug Sendiri!

Selain pemandangannya, suasana Curug Cibadak juga menjadi nilai tambah. Saat kami tiba, hanya ada tiga pengunjung lain di area curug. Padahal, hari itu akhir pekan. Dalam perjalanan, kami sempat berpapasan dengan dua wisatawan asal Jepang yang didampingi seorang pemandu. Selebihnya, suasana relatif lengang.

Mungkin belum banyak orang yang datang ke sini, atau bisa juga karena untuk mencapainya perlu usaha ekstra. Maklum, sebelum bisa menikmati air terjun, kami harus melewati jalur trekking yang menanjak. Jadi, ada perjuangan yang harus dibayar di muka. Namun, justru itu yang membuat pengalaman ini terasa menyenangkan. Kami bisa menikmati pemandangan, berfoto, membuat video, dan bermain air tanpa harus berdesakan dengan pengunjung lain.

Rasanya seperti punya curug pribadi! Tentu saja bukan benar-benar milik sendiri, ya. Hahaha. Setidaknya, kami bisa menikmati suasananya dengan lebih leluasa. Udara sejuk, suara air yang jatuh di atas bebatuan membuat saya betah berlama-lama. Setelah perjalanan menanjak yang cukup menguras tenaga, duduk menikmati suasana seperti ini terasa sebagai hadiah yang pantas.

Mas Arif sedang mencoba rock balancing  kayak yang udah jadi di pojok kiri atas😁 

Ada satu cerita kecil yang cukup berkesan. Karena beberapa teman kehabisan air minum, mereka mengisi ulang botol dari aliran air di sisi tebing yang tidak digunakan pengunjung untuk bermain. Airnya tampak jernih dan mengalir di antara bebatuan. Meski terlihat menyegarkan, air jernih belum tentu aman diminum langsung tanpa pengolahan. Jadi, jangan mengandalkan air alam sebagai persediaan minum. Tetep ya harus bawa air yang cukup dan isi ulang hanya dari sumber yang terjamin aman.

Buat saya, Curug Cibadak menawarkan lebih dari sekadar pemandangan air terjun. Ada dua aliran dengan karakter berbeda, kesempatan bermain air, suasana yang relatif sepi, dan kejutan kecil dari kondisi alam yang bisa berubah sewaktu-waktu. Perjalanan menanjak tadi pun terasa sepadan dengan apa yang kami nikmati di sini.

Sayangnya, petualangan belum selesai. Setelah puas bermain air, kami masih harus kembali melewati jalur trekking. Jadi, meskipun hati sudah senang dan badan sudah segar, kaki tetap harus siap bekerja lagi. Namanya juga trekking, bukan naik lift menuju curug! 😂

Kompak selalu Food Blogger. Jelajah alam untuk menikmati keindahan sembari menjaganya. Jika ingin terus menikmati makanan yang baik, kita juga perlu ikut menjaga alam, bukan?

Perjalanan Pulang dari Curug Cibadak ke Lenirra

Pukul 11.46, kami mulai meninggalkan Curug Cibadak setelah hampir satu jam menikmati suasananya. Duduk-duduk, bermain air, berfoto, dan membuat video untuk mengabadikan kebersamaan semuanya sudah. Rasanya cukup, meskipun sebenarnya saya bisa saja duduk lebih lama hanya untuk menikmati suasana.

Bagi saya, kepuasan menikmati alam tidak selalu diukur dari banyaknya aktivitas. Bisa sampai ke sana, menjejakkan kaki, dan menyaksikan keindahan alam secara langsung saja sudah menjadi kebahagiaan tersendiri. Tidak semua perjalanan harus penuh agenda. Kadang, cukup hadir dan menikmati apa yang ada sudah lebih dari cukup.

Namun, ada alasan lain mengapa kami memutuskan segera pergi. Langit yang sejak pagi cerah mulai terlihat mendung. Kami khawatir hujan turun ketika masih berada di jalur, apalagi tadi kami melewati bagian yang longsor dan berada di tepi tebing. Daripada mengambil risiko, lebih baik bergegas. Untungnya, mendung itu hanya singgah sebentar dan hujan tidak jadi turun. Alhamdulillah! 

Keputusan untuk tidak berlama-lama tetaplah tepat. Dalam urusan bertualang, tahu kapan harus berhenti dan kembali juga bagian dari keberanian.


Anehnya, perjalanan pulang terasa lebih mudah dan cepat. Mungkin karena jalurnya sudah tidak asing, mungkin juga karena pikiran mulai membayangkan makan siang di Lenirra. Hahaha! Entah mana yang lebih berpengaruh, pengalaman melewati jalur tadi atau bayangan makanan yang menanti. Yang jelas, langkah kami masih mantap.

Pukul 12.37, kami kembali tiba di kawasan Suaka Elang Loji. Kami sempat berhenti sebentar untuk berfoto bersama. Maklum, saat berangkat tadi belum sempat mengabadikan foto rombongan secara lengkap. Masa sudah trekking sejauh itu, tetapi foto bersama malah tidak ada? Bisa-bisa bukti petualangannya cuma kaki pegal dan cerita panjang! 😂

Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan menuju titik awal trekking. Pukul 13.02, kami akhirnya tiba di sana. Mobil dari Lenirra sudah menunggu, jadi kami tinggal naik dan bersiap kembali ke tempat yang sejak pagi menjadi titik kumpul sekaligus tempat menanti makan siang.

Jalur pulang melewati jalur yang sama saat berangkat. Foto kanan: Suami bersama kantong berisi sampah yang kami pungut sepanjang jalur trekking. Semoga setiap orang yang trekking ke Curug Cibadak selalu membawa kembali sampahnya dan tidak meninggalkan apa pun selain jejak langkah.  

Selesailah petualangan trekking kami hari itu, tetapi ceritanya tentu tidak ikut selesai. Pengalaman ini akan terus hidup dalam kenangan, tulisan blog, foto, dan video yang kami bagikan di media sosial. 

Terima kasih untuk Mas Kidal yang sudah memandu perjalanan kami. Jalur yang menantang terasa lebih terarah karena ada pemandu yang mengenal medan. Kalau suatu saat kembali ke Lenirra dan ingin trekking lagi, rasanya saya dan teman-teman tidak keberatan ditemani Mas Kidal sekali lagi.

Sebab, petualangan yang menyenangkan bukan hanya tentang tempat indah yang berhasil dicapai, tetapi juga tentang perjalanan yang dijalani bersama orang-orang yang tepat. Dan tentu saja, pulang dengan selamat supaya masih bisa merencanakan petualangan berikutnya! 

Tugu elang di Suaka Satwa Elang Jawa Loji

grounding di hutan pinus

Restoran Lenirra: Makan Siang Setelah Trekking yang Penuh Rasa dan Cerita

Trekking selesai, foto-foto aman, dan cerita seru sudah terkumpul. Sekarang, waktunya beralih ke agenda yang tak kalah penting: mengisi perut! Setelah lebih dari dua jam berpetualang di jalur trekking, tubuh pantas mendapat hadiah. Hidangan apa yang sudah menunggu kami di Lenirra? 😋

Sekitar pukul 13.00, kami tiba kembali di titik akhir trekking. Perjalanan menuju Lenirra memakan waktu kurang lebih 15 menit. Namun, kami belum langsung duduk manis di meja makan. Kami berpindah kendaraan menuju restoran yang berada di bagian bawah kawasan Lenirra, lalu bersiap mandi, berganti pakaian, salat, dan akhirnya makan siang.

Lenirra memiliki area restoran di bagian atas yang terbuka untuk umum, sementara restoran di bagian bawah digunakan untuk sarapan tamu yang menginap. Untuk peserta trekking yang memesan makan, kami diarahkan ke restoran bawah. Jaraknya lumayan juga kalau harus ditempuh dengan berjalan kaki. Dalam kondisi masih pegal dan perut sudah mengirim sinyal darurat, naik jet pribadi rasanya bukan ide buruk! Hahaha. Sayangnya, fasilitas itu belum termasuk paket trekking kami. 😂

Resto Lenirra. Terletak di area terdepan Lenirra.

Resto Lenirra juga, yang ini terletak di bagian bawah kawasan Lenirra. Dekat sawah-sawah. Kami makan di sini.

 
Tampak atas restoran tempat kami makan. Difoto dari musola. (Dokumentasi Isti)

 
Fasilitas Lenirra: Mandi, Salat, dan Menyegarkan Diri Sebelum Makan

Salah satu hal yang menyenangkan dari paket trekking kami adalah kesempatan menggunakan kamar mandi di dekat kolam renang Lenirra. Dengan izin pengelola, peserta boleh mandi dan berganti pakaian sebelum makan. Jadi, setelah berpeluh-peluh di jalur trekking, kami bisa menyegarkan diri terlebih dahulu. Area kolam renangnya pun bisa menjadi tempat bersantai sambil menunggu giliran mandi, sesuai izin yang diberikan.

Setelah bersih-bersih, kami melanjutkan dengan salat. Musala berada di bangunan tersendiri di lantai atas, yang dapat dicapai melalui tangga luar. Lokasinya menarik karena dari sini kami bisa melihat area sekitar Lenirra. Rasanya seperti berada di menara pandang kecil. Bahkan, masih ada rooftop di lantai paling atas yang menawarkan pemandangan persawahan dan gunung. Tempat seperti ini tentu menarik untuk menikmati perubahan warna langit saat matahari terbit atau terbenam, jika cuaca mendukung.

Selesai urusan bersih-bersih dan ibadah, barulah kami bersiap menikmati agenda utama berikutnya. Perut sudah menunggu, tetapi ada satu urusan komunitas yang perlu diselesaikan lebih dahulu.

Kolam renang dekat resto tempat kami makan siang


Kolam renang dekat glamping. (Dokumentasi Temmy)

Kamar bilas dekat resto tempat kami makan. (Dokumentasi Temmy)

Musola dekat resto tempat kami makan. Rooftop-nya jadi kayak menara pandang buat menikmati pemandangan kawasan Lenirra dan sekitarnya

Menu Restoran Lenirra: Nasi Liwet, Gurame, Ayam Bakar, dan Sambal

Sekitar pukul 14.30, kami mulai berkumpul untuk menyiapkan perayaan sederhana anniversary ke-4 Food Blogger Indonesia. Persiapannya tidak neko-neko. Kami hanya meniup balon angka sebagai penanda momen istimewa ini. Sederhana, tetapi tetap harus ada dokumentasi. Namanya juga komunitas blogger, kalau tidak ada foto, nanti bagaimana ceritanya mau ditulis? Hahaha! 😁

Nasi liwet dengan taburan bawang goreng disajikan dalam wadah anyaman bambu beralas daun pisang. Di sekelilingnya, aneka lauk tertata menggoda: gurame goreng, ayam bakar, tahu dan tempe goreng, karedok dengan siraman bumbu kacang, serta lalapan segar. Sentuhan penyajian tradisional ini membuat meja makan terlihat menarik. Sederhana, tetapi bikin selera makan makin sulit diajak kompromi, apalagi setelah trekking!

Pelengkapnya pun tak kalah menarik. Ada sambal merah dan sambal hijau yang siap menemani setiap suapan. Kalau suka pedas, kenapa harus memilih salah satu? Ambil dua-duanya saja, urusan kepedasan dipikirkan belakangan! Hehehe. Untuk minuman, tersedia es teh manis dan air kelapa utuh yang cocok dinikmati setelah perjalanan menguras tenaga.

Buat yang tertarik menikmati hidangan serupa bersama keluarga atau teman-teman, Lenirra menyediakan paket nasi liwet seharga Rp499.000 untuk 5–7 orang. Isinya cukup lengkap, mulai dari ayam bakar, gurame goreng, karedok, tahu dan tempe, lalapan, hingga dua jenis sambal. Cocok untuk makan bersama setelah beraktivitas di alam atau sekadar berkumpul sambil menikmati suasana Bogor.

Karena rombongan kami berjumlah 13 orang, kami memesan dua paket nasi liwet. Nah, seperti inilah penampakan paketnya. Menggugah selera, kan? 😁

lenirra resto cijeruk bogor
Paket nasi liwet Lenirra Resto. 

Satu lagi yang membuat makan siang kami terasa istimewa adalah suasana restoran Lenirra yang terbuka, menghadap persawahan dengan latar pegunungan. Jadi, bukan cuma perut yang dimanjakan, mata pun ikut mendapat suguhan. Paket lengkap, bukan? Tinggal jangan sampai terlalu asyik memandangi pemandangan sampai lupa menyendok nasi! 😂

Sebelum mulai makan, kami berfoto bersama dan berdoa. 

Kami sama-sama berharap Food Blogger Indonesia terus berkembang, semakin solid, dan semakin banyak menghadirkan cerita kuliner yang bermanfaat. Semoga komunitas ini menjadi ruang untuk saling belajar, memperluas jejaring, mendukung pelaku usaha kuliner, serta menyebarkan cerita tentang kekayaan pangan dan budaya Indonesia.

HUT ke-4 Food Blogger Indonesia

Momen foto dan doa itu tidak berlangsung lama. Maklum, waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore. Sebelumnya, saya memang sempat ajak teman-teman mengganjal perut dengan brownies yang saya bawa dari BSD. Namun, brownies tetaplah brownies. Setelah trekking, rasanya nasi dan lauk-pauk lebih sulit ditolak! Hahaha. Akhirnya, kami pun menikmati makan siang yang agak kesorean ini bersama-sama.

Bagi saya, momen seperti ini bukan sekadar urusan mengisi perut. Ada kebahagiaan sederhana saat duduk satu meja dengan teman-teman, berbagi cerita perjalanan, tertawa bersama, dan menikmati hidangan yang sama. 

Makanan menjadi penghubung yang membuat kebersamaan terasa lebih dekat. Kadang, cerita paling berkesan justru lahir di sela-sela makan, ketika obrolan mengalir tanpa perlu direncanakan. 



 
Acara makan siang yang kesorean itu berlangsung santai. Tak terasa, sore pun tiba. Usai waktu Asar, hari semakin petang dan saatnya kami berpamitan. 

Pukul 16.25, kami berkumpul untuk berfoto bersama sebagai penutup kegiatan hari itu. Lalu, pukul 16.53, kendaraan terakhir meninggalkan Lenirra. Kami pun kembali ke rumah masing-masing, menuju Bogor, Jakarta Selatan, Depok, Tangerang Selatan, hingga Bekasi.

Alhamdulillah, semua pulang dengan selamat. Badan memang lelah, kaki masih pegal, tetapi hati penuh bahagia. Hari itu kami bukan hanya menjelajah alam dan menikmati hidangan, melainkan juga merajut cerita bersama. Sebuah perjalanan yang berakhir dengan tenang, meninggalkan kenangan manis yang akan selalu menyenangkan untuk dikenang. ❤️

Foto bersama di Lenirra, berlatar gunung dan sawah

Trekking Lenirra dan Restoran Lenirra: Menjelajah Alam, Menikmati Rasa, Merajut Cerita

Rasanya, pilihan kegiatan anniversary Food Blogger Indonesia kali ini memang pas. Kami memulai hari dengan trekking di alam terbuka, menyaksikan hutan dan aliran air, lalu menutupnya dengan makan bersama di tengah pemandangan persawahan dan pegunungan. Dua pengalaman berbeda, tetapi saling terhubung: menikmati alam dan menikmati makanan.

Bukankah bahan pangan yang tersaji di meja kita juga berasal dari alam? Padi membutuhkan tanah dan air untuk tumbuh. Sayuran memerlukan lingkungan yang mendukung. Ikan dan hewan ternak pun bergantung pada ekosistem serta sumber daya yang tersedia. Di balik sepiring nasi dan lauk yang terlihat sederhana, ada proses panjang yang melibatkan alam, petani, peternak, nelayan, pedagang, juru masak, dan banyak orang lainnya.

Karena itu, menikmati makanan seharusnya tidak berhenti pada urusan rasa kenyang dan lidah yang dimanjakan. Ada kesempatan untuk lebih menghargai proses di baliknya, termasuk sumber daya alam yang memungkinkan semua itu tersedia. Ketika lingkungan rusak, sumber pangan juga bisa terancam. Ketika sumber pangan terganggu, kehidupan manusia ikut terdampak.

Happy anniversary Komunitas Food Blogger Indonesia

Di sinilah makna tema Jelajah Alam, Nikmati Rasa, Rajut Cerita terasa semakin nyata bagi saya. 

Menjelajahi alam membantu kita melihat langsung lingkungan yang perlu dijaga. Menikmati rasa mengingatkan kita pada hasil alam yang selama ini hadir di meja makan. Sementara merajut cerita memberi kesempatan untuk membagikan pengalaman dan menumbuhkan kesadaran kepada lebih banyak orang.

Sebagai food blogger, kami memang banyak bercerita tentang makanan. Namun, cerita tentang makanan juga bisa menjadi pintu untuk membicarakan hal yang lebih luas: asal-usul bahan pangan, orang-orang di balik hidangan, budaya kuliner, hingga pentingnya menjaga lingkungan. 

Tulisan dan konten yang kami buat mungkin terlihat sederhana, tetapi jika mampu mengajak seseorang lebih menghargai makanan dan alam, bukankah itu sudah menjadi langkah yang berarti?

Paket nasi liwet yang kami pesan. Nasi liwet, gurame goreng, ayam bakar, tempe goreng, tahu goreng, dan 2 macam sambal

Gurame goreng tepung

Lalapan segar
 

Saya pun kembali bersyukur. Hari itu, kami bukan hanya mendapat pengalaman trekking yang menantang dan menikmati hidangan lezat, tetapi juga kesempatan untuk merayakan kebersamaan sambil mengingat hubungan erat antara alam dan pangan. 

Ternyata, perjalanan yang menyenangkan bisa meninggalkan lebih dari sekadar foto bagus dan perut kenyang. Ada pelajaran yang ikut dibawa pulang.

Untuk teman-teman Food Blogger Indonesia yang belum pernah bergabung dalam kegiatan komunitas, semoga suatu saat bisa ikut meramaikan perjalanan berikutnya. Sebab, ketika para pencinta makanan berkumpul, yang dibagikan bukan hanya rekomendasi tempat makan atau foto hidangan menggoda, tetapi juga pengalaman, pengetahuan, dan kepedulian.

Merayakan kebersamaan, merajut cerita, dan menciptakan kenangan di anniversary ke-4 Food Blogger Indonesia. Terima kasih, Lenirra! ❤️

Mari terus menjelajah, menikmati rasa, dan merajut cerita. Semoga dari langkah-langkah kecil seperti ini, semakin banyak orang yang tergerak untuk menghargai makanan, mendukung keberlanjutan pangan, dan menjaga alam yang menjadi sumber kehidupan kita. Sebab, makanan yang lezat memang membahagiakan, tetapi memastikan generasi berikutnya masih bisa menikmati pangan yang baik tentu jauh lebih bermakna.