Bagi saya, kebahagiaan itu bisa datang dari hal-hal sederhana yang kita sukai. Salah satunya, jalan-jalan di alam! Ada sensasi menyenangkan saat melangkah masuk ke hutan, menghirup udara segar, dan mendengar suara burung bersahutan di antara pepohonan.
Saya juga suka sensasi saat kaki mulai menapaki bebatuan di
sepanjang aliran sungai, apalagi ketika perjalanan itu akhirnya membawa saya
berhadapan dengan curug yang airnya bergemuruh. Duh, rasanya seperti mendapat
suntikan bahagia langsung dari alam! Memang sih, badan bisa capek dan kaki bisa
pegal. Tapi kalau hati sudah senang, lelah pun rasanya ikut menjadi bagian dari
petualangan!
Kali ini, saya kembali mewujudkan hobi itu bersama teman-teman Komunitas Food BloggerIndonesia. Senang? Ya iyalah! Gimana nggak senang coba? Teman jalan sesama food blogger, tujuan trekking-nya di Bogor pula! Ini salah satu privilege yang saya syukuri sebagai warga Tangerang Selatan. Mau main ke alam nggak harus pergi jauh-jauh. Cukup sekitar satu jam perjalanan, suasana sudah berganti dari hiruk-pikuk perkotaan menjadi hijaunya pepohonan dan segarnya udara pegunungan. Lumayan banget, kan? Belum jauh-jauh amat, sudah berasa diajak healing!
Tapi, buat saya, petualangan yang menyenangkan bukan cuma soal tempat yang dituju. Teman seperjalanan juga punya peran besar. Mereka itu ibarat vitamin: semangatnya menular, tawanya bikin suasana makin hidup, dan tanjakan yang tadinya bikin ngos-ngosan bisa berubah jadi bahan cerita seru setelahnya.
Terus,
ada satu hal lagi yang pantang dilupakan: urusan perut! Setelah trekking dan
menguras tenaga, masa iya pulangnya cuma bawa cerita dan pegal-pegal? Tenaga
juga harus diisi ulang, dong! Nah, kali ini, perjalanan trekking sampai urusan
makan setelahnya kami percayakan pada Lenirra Villa & Resto. Jadi, saya tinggal menikmati petualangan, seru-seruan bareng teman, lalu duduk manis
menikmati makanan setelah berjuang menaklukkan jalur trekking. Praktis, kan?
![]() |
| Lenirra Resto & Villa |
Menariknya, Lenirra bukan cuma punya restoran untuk mengisi perut. Ada pilihan glamping dan vila juga. Jadi, kalau setelah trekking masih ingin leyeh-leyeh menikmati suasana Bogor, kenapa nggak sekalian menginap?
Mau makan, bersih-bersih, lalu pulang juga bisa. Tinggal sesuaikan dengan kebutuhan dan waktu yang kita punya. Intinya, petualangan boleh menguras tenaga, tapi jangan lupa memberi diri sendiri kesempatan untuk menikmati hasil perjuangannya. Apalagi kalau urusan perjalanan dan tempat singgah sudah dibantu atur. Kita tinggal fokus menikmati momen! 😁
Baca juga: Trekking Curug Cibingbin Sentul Bogor
Lenirra Villa & Resto di Cijeruk, Bogor: Titik Awal Trekking dan Kuliner
Sebelum masuk ke cerita trekking, kenalan dulu dengan Lenirra Villa & Resto. Berada di kawasan Cijeruk, Kabupaten Bogor, tempat ini memadukan restoran dengan pilihan penginapan berupa vila dan glamping.
Alamatnya di Jl. Raya Cijeruk, Jl. Kawung Luwuk, Kecamatan
Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16740. Informasi tempat dan fasilitasnya
juga bisa dilihat melalui Instagram @lenirra_resto.
![]() |
| Lenirra Villa & Glamping |
![]() |
| Lenirra Resto |
Anniversary Food Blogger Indonesia: Trekking Lenirra, Jelajah Alam, dan Nikmati Rasa
Kegiatan trekking dan makan bersama ini
menjadi bagian dari perayaan anniversary ke-4 Komunitas Food Blogger Indonesia.
Temanya masih sama seperti tahun lalu: Jelajah Alam, Nikmati Rasa, Rajut
Cerita. Buat saya, tema ini bukan sekadar rangkaian kata yang terdengar
manis untuk sebuah acara. Ada makna yang lebih dalam di baliknya.
Coba deh, pernah terpikir nggak, makanan yang setiap hari kita nikmati itu berasal dari mana? Banyak yang kita konsumsi berasal dari alam. Ada tanah yang menumbuhkan tanaman, air yang menghidupi makhluk hidup, dan lingkungan yang mendukung proses tumbuhnya berbagai sumber pangan.
Jadi, alam dan makanan itu bukan dua hal yang berjalan sendiri-sendiri.
Kita menikmati hasil alam, tetapi jangan sampai lupa bahwa alam juga perlu
dijaga. Jangan cuma jago menikmati hasilnya, tapi giliran menjaga malah lupa! 😉
Harapan saya, perayaan anniversary lewat
kegiatan seperti ini bisa ikut menumbuhkan kesadaran bahwa lingkungan yang
sehat dan pangan yang baik saling berkaitan. Sebab, kalau alam rusak, sumber
pangan ikut terancam. Padahal, kita tentu ingin terus menikmati makanan yang
enak, sehat, dan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Artinya, menjaga alam
bukan cuma soal menyelamatkan pepohonan atau sungai, tetapi juga menjaga
keberlanjutan makanan yang sampai ke meja kita.
Ada satu hal lagi yang membuat perayaan Oktober kali ini terasa istimewa. Selain menjadi momen ulang tahun komunitas, tanggal 16 Oktober 2026 juga bertepatan dengan World Food Day atau Hari Pangan Sedunia.
Pas sekali dengan semangat yang ingin kami bawa melalui
kegiatan ini: menjelajahi alam, menikmati rasa, dan merajut cerita sambil
mengingat bahwa alam dan pangan saling terhubung. Semoga setelah seru-seruan
trekking dan makan bersama, ada juga kesadaran kecil yang ikut terbawa pulang:
kalau ingin terus menikmati makanan yang baik, kita juga perlu ikut menjaga
alam.
Trekking Lenirra Dimulai: Titik Kumpul Pagi, Jangan Sampai Kesiangan!
Oke, mari mulai cerita petualangan kami hari itu!
Sabtu pagi, 10 Oktober 2026, rombongan kami berjumlah 13 orang.
Sedikit banget, ya, untuk komunitas yang anggotanya ratusan. Tapi namanya juga
mengatur jadwal, belum tentu semua orang bisa ikut. Ada urusan jarak, agenda
masing-masing, dan tentu saja kesibukan yang berbeda-beda.
Dari 13 orang itu, 11 adalah anggota Food Blogger Indonesia, sementara dua lainnya adalah suami saya dan suami Yesi.
Seperti tahun lalu, suami kembali menemani saya trekking. Padahal,
hari itu ia juga punya agenda trekking ke Bukit Kuta, Bogor, bersama teman-teman
kantornya yang jumlahnya hampir 30 orang! Saya sih santai kalau beliau memilih
ikut rombongan kantor. Biar sama-sama happy, kan? Eh, ternyata beliau memilih
menemani saya. Katanya, sekalian memastikan saya aman selama perjalanan,
sekaligus mengantar dan menjemput. Duh, pengawal pribadi! 😂 💚
![]() |
| Rombongan trekking: Fajar, Bowo, Isti, Katerina (+suami), Yesi, Amanda, Bayu Fitri, Rahma Ahmad, Mei, Lala, Temmy. |
Pagi itu, kami janjian berkumpul di
Lenirra pukul 07.00 WIB. Saya berangkat dari BSD bersama Mbak Bayu, Temmy, dan
Bowo. Mereka saya jemput di Stasiun Rawa Buntu, lalu kami melanjutkan
perjalanan melalui Tol Cinere, tersambung ke Jagorawi, dan keluar di Cijeruk.
Sementara itu, Yesi dan suaminya berangkat naik motor dari Tangerang. Jauh juga
perjuangannya. Salut buat Yesi dan suami 💪
Anggota lainnya, yaitu Isti, Mei,
Amanda, Mbak Rahma, dan Fajar, berangkat bersama dari Stasiun Depok. Isti
membawa mobil, jadi mereka janjian di stasiun tersebut sebelum melanjutkan
perjalanan bersama. Sementara Lala, yang tinggal di Bogor, memilih berangkat
langsung dari rumahnya.
Kalau soal siapa yang datang duluan,
Lala menjadi yang pertama tiba, disusul rombongan saya, kemudian rombongan
Isti, dan terakhir Yesi. Alhamdulillah, semuanya sampai dengan selamat. Cerita
perjalanannya beda-beda, tetapi tujuan akhirnya sama: trekking bareng dan
bersenang-senang!
Yang sudah tiba lebih dulu langsung memanfaatkan waktu untuk bersiap-siap. Ada yang ke toilet, ada juga yang menikmati suasana pagi Lenirra sambil foto-foto. Maklum, sebelum masuk hutan, dokumentasi harus diamankan dulu. Nanti kalau sudah ngos-ngosan di jalur trekking, belum tentu sempat bergaya lagi.
Nah, video Reels yang sematkan berikut ini, beberapa diambil sebelum trekking dimulai. Saat masih seger-segernya, sebelum kaki pegal semua 😆
Dari Lenirra ke Titik Start Trekking Curug Cibadak
Dari Lenirra, kami berkendara sekitar
2,6 km atau kurang lebih 11 menit menuju titik awal trekking. Jalurnya melewati
Jalan Kawung Luwuk, jalan beraspal yang kondisinya cukup baik, meski tidak
terlalu lebar dan memiliki kontur menanjak. Lokasinya berada di kawasan
pedesaan. Kebetulan, saya sempat menyimpan titik lokasinya, jadi ketika saya
cek kembali di Google Maps, rutenya melewati Pertanian Ibu Suri dan Pondok Alam
Nasri, hingga area dekat Oke’s Home Villa.
Sesampainya di titik start, Mas Kidal memberikan briefing singkat tentang perjalanan yang akan kami tempuh. Setelah itu, kami melakukan pemanasan agar otot-otot tubuh lebih siap diajak bekerja. Jangan sampai baru mulai trekking, kaki sudah protes duluan! 😆
Thanks Bowo udah pimpin pemanasannya. Maafin saya kurang serius pas pemanasan hehe. Dan akhirnya mereguk yang namanya sakit kaki setelah trekking haha. Ini gak usah diceritain ajalah ya haha. Tenang, tetep aman aja kok haha.
![]() |
| Lokasi start trekking Suaka Elang & Curug Cibadak |
Pukul 08.45, petualangan resmi dimulai! Setiap peserta mendapat pinjaman trekking pole untuk membantu melangkah. Mobil yang mengantar kami kemudian kembali ke Lenirra dan akan menjemput setelah trekking selesai.
Oh iya, kali ini yang ikut trekking hanya 12 orang. Suami Yesi memutuskan beristirahat di Lenirra. Wajar saja, perjalanan naik motor dari Sepatan, Tangerang, cukup jauh juga, sementara siangnya ia masih harus berkendara pulang. Jadi, daripada memaksakan diri, lebih baik istirahat dulu dan mengumpulkan tenaga.
Dalam perjalanan, semangat
itu penting, tetapi tahu kapan harus beristirahat juga tak kalah penting!
![]() |
| Perjalanan awal trekking, belum lewatin pohon-pohon. Masih semak-semak dan ilalang saja. |
Jalur Trekking Suaka Elang Loji: Tanjakan Terus Gak Pake Jeda
Saya semangat sekali memulai perjalanan
ini. Bagaimana tidak? Ada suami yang menemani, ada teman-teman yang sama
antusiasnya. Rasanya makin mantap saja melangkahkan kaki!
Dari awal, jalurnya sudah menanjak. Dan
ternyata, ini bukan tipe tanjakan yang sebentar lalu memberi kesempatan kita
bernapas lega di jalan datar. Rasanya, dari bawah sampai atas, nanjak terus. Ini berbeda dari pengalaman trekking saya sebelumnya. Biasanya, masih ada
selingan jalan datar di sawah, turun ke ladang, menanjak di sisi bukit, lalu
kembali landai. Di sini? Baru mulai saja kaki sudah diajak kerja keras. 😂
Awalnya, jalur masih didominasi
semak-semak yang tingginya bahkan melebihi badan saya. Lumayan, ada sedikit
naungan untuk menghalau matahari. Kami juga melewati jalur pipa air. Sesekali
terdengar suara mendesis yang bikin penasaran. Rupanya, suara itu berasal dari
air yang mengalir melalui pipa itu mungkin ada bagian yang bocor atau
sambungannya kurang rapat. Untung trekking dilakukan pagi sampai siang. Kalau
malam-malam lewat sini sendirian, bisa-bisa saya lari tunggang langgang!
Hahaha.
![]() |
| Jembatan pertama jalur trekking Suaka Elang. Di atas setelah jembatan ada pos pembayaran tiket masuk kawasan Suaka Satwa Elang Loji |
![]() |
| Sungai di bawah jembatan masih ada airnya. Seminggu kemudian kata guide kami sungai ini kering. Tak ada air sama sekali. |
Belum terlalu jauh berjalan, kami tiba di sebuah jembatan kecil. Di bawahnya, sungai berbatu dialiri air yang tampak bersih dan jernih. Menurut Lala, kondisi ini lebih baik dibandingkan saat ia trekking ke sini sebelumnya, ketika sungainya justru kering.
Saya pun merasa beruntung bisa melihat
sungai ini masih berair. Apalagi, seminggu kemudian, guide kami bercerita bahwa
saat kembali membawa rombongan lain ke tempat yang sama, sungainya sudah
benar-benar kering. Tak ada lagi suara gemericik air yang menemani perjalanan,
apalagi aliran air di antara bebatuan. Mendengar cerita itu, saya makin
bersyukur karena kami datang di waktu yang tepat!
Selepas jembatan, tanjakan kembali
menyambut. Kali ini jalurnya berbatu dan dibuat berundak menyerupai tangga,
dengan lebar sekitar satu meter. Lumayan membantu langkah kaki, meskipun betis
tetap harus bekerja ekstra!
Sampai di atas, kami menemukan bangunan bercat kuning dengan tulisan yang sebagian hurufnya sudah hilang. Untung masih bisa dibaca:
Selamat
Datang
Di Taman Nasional Gunung Halimun Salak
Suaka Satwa Elang Jawa
Bumi Perkemahan
Oh, ternyata kami sudah memasuki kawasan Suaka Elang Loji!
Di sini terdapat pos masuk dengan bangunan yang cukup bagus,
lengkap dengan teras dan ruangan berkaca di bagian depan untuk pendaftaran
sekaligus pembayaran tiket. Ada juga toilet umum yang saat itu tampak bersih.
Saya melihat seorang ibu sedang menyapu, sepertinya petugas di pos tersebut.
Karena tiket masuk kami sudah diurus oleh Mas Kidal, kami tinggal melanjutkan
perjalanan.
![]() |
| Pos Pembayaran Tiket Masuk Suaka Elang |
Ada rasa lega tersendiri melihat bangunan permanen di tengah kawasan yang dikelilingi pepohonan. Bukan berarti tempat ini menakutkan, ya. Hanya saja, buat saya yang agak penakut, keberadaan bangunan dan petugas di kawasan seperti ini memberi rasa nyaman. Rasanya tidak benar-benar berada jauh dari peradaban.
Selepas bangunan tersebut, jalurnya
masih berbatu dan berundak. Jalan setapak ini kemudian membawa kami menuju
kawasan hutan pinus Suaka Elang. Dari titik awal trekking, jaraknya berdasarkan
pengukuran saya di Google Maps sekitar 500 meter. Tapi, entah kenapa, rasanya
lebih jauh dari itu. Mungkin mendekati 600 meter. Maklum, kalau jalannya
menanjak terus, jarak pendek pun bisa terasa panjang!
Baca juga: Trekking Leuwih Hejo Sentul Bogor
![]() |
| Pos pembayaran tiket masuk Kawasan Suaka Satwa Elang Loji |
Hutan Pinus Suaka Elang Loji, Jembatan Gantung, dan Kantor Perhutani
Begitu tiba di kawasan hutan pinus,
suasananya terasa berbeda. Pepohonan tinggi menjulang, udara sejuk menyelimuti
area, dan suasananya jauh lebih tenang. Kami pun agak lama singgah di sini.
Bukan cuma untuk istirahat, tentu saja, tetapi juga untuk menikmati suasana dan
mengabadikan momen.
Di kawasan ini terdapat jembatan gantung
yang menjadi salah satu spot foto menarik. Kami tidak menyeberang, hanya
berfoto dari jembatan. Itu pun tidak beramai-ramai. Orang-orang yang menaiki jembatan gantung ini harus mau membatasi diri sekitar
lima orang sekali waktu karena jembatannya terlihat cukup bergoyang.
Nah, daripada
memaksakan foto bersama lalu semuanya ikut bergoyang, lebih baik bergantian
saja! 😆
Di seberang jembatan terlihat dua bangunan besar bercat hijau. Belakangan saya mendapat informasi bahwa bangunan itu merupakan kantor Perhutani. Di depan salah satunya ada area terbuka dengan pelataran yang menjorok ke arah sungai. Awalnya saya sempat mengira bentuknya seperti helipad. Hahaha, ternyata bukan!
Saat trekking, rupanya pikiran saya
bukan cuma sibuk menikmati pemandangan, tetapi juga gemar menebak-nebak hal
yang bikin penasaran. 😆
Setelah mencari tahu lebih jauh tentang
Suaka Elang Loji, saya baru memahami bahwa kawasan ini bukan sekadar tempat
untuk menikmati hutan pinus dan berfoto. Di sini terdapat Pusat Suaka Satwa
Elang Jawa yang berkaitan dengan upaya konservasi dan rehabilitasi burung
pemangsa atau raptor, termasuk elang Jawa. Jadi, ada misi pelestarian satwa
liar di balik kawasan yang terlihat begitu tenang ini.
![]() |
| Suaka Elang Loji, kawasan konservasi satwa elang Jawa. Foto bareng tanpa Mbak Rahma dan Temmy. |
Di kawasan Suaka Elang Loji juga
terdapat fasilitas pendukung konservasi. Saya sempat melihat visitor center
dari area patung elang, tetapi tidak mendekat. Jadi, masih ada hal yang ingin
saya cari tahu kalau suatu saat kembali ke sini.
Yang menarik, kawasan konservasi dan area perkemahan di Loji memang memiliki fungsi yang berbeda, meskipun lokasinya berdekatan. Artinya, tempat ini bukan hanya menjadi tujuan bagi pencinta alam yang ingin trekking atau berkemah, tetapi juga berkaitan dengan edukasi dan pelestarian satwa.
Ternyata, sambil jalan-jalan, kita bisa mendapatkan cerita
baru tentang alam yang selama ini mungkin hanya kita nikmati pemandangannya.
![]() |
| Camping ground di hutan pinus di kawasan suaka elang |
Tak jauh dari situ, berdiri patung elang
berukuran besar yang terlihat gagah. Meski hanya patung, tampilannya cukup
mencuri perhatian. Saya sempat duduk-duduk di area ini, menikmati suasana yang
hening, sejuk, dan adem berkat pepohonan pinus yang tinggi dan rindang.
Di sebelahnya terdapat camping ground dengan permukaan tanah yang relatif datar. Saya melihat bekas kayu yang tampaknya pernah digunakan untuk api unggun. Area seperti ini memang terlihat cocok untuk mendirikan tenda.
Fasilitas seperti toilet dan musala juga tersedia
di kawasan perkemahan.
![]() |
| Hutan Pinus |
Saya langsung membayangkan betapa menariknya camping di kawasan hutan pinus ini: tidur di tengah alam, bangun pagi dengan udara sejuk, lalu menikmati suasana yang tenang. Meski begitu, buat saya yang agak penakut, bermalam di tengah hutan tentu punya tantangan tersendiri. Setidaknya, keberadaan fasilitas permanen di sekitar area membuat suasananya terasa lebih bersahabat. Tetap menyatu dengan alam, tetapi tidak merasa benar-benar sendirian.
Wah, kalau cuma singgah sebentar saja
sudah senyaman ini, bagaimana rasanya kalau benar-benar mendirikan tenda dan
bermalam? Tapi, itu cerita lain. Kali ini, kami masih punya tujuan utama yang
menunggu: Curug Cibadak! Perjalanan masih berlanjut, dan kaki kami belum boleh
menyerah duluan. 😁
Ohya, di hutan pinus itu kami singgah agak lama. Selain melepas lelah setelah menanjak, juga mengabadikan momen bersama. Pada IG post yang saya sematkan berikut ini, ketika memeluk pohon pinus dan rebahan di bawah pohonnya hehe... grounding ceritanya.
Trekking Suaka Elang Loji ke Curug Cibadak: Tinggal 900 Meter Lagi!
Selepas hutan pinus, suasana trekking
berubah drastis. Tak ada lagi jalan setapak berbatu yang tertata rapi atau
deretan pohon pinus yang menjulang. Jalur berganti menjadi semak-semak dan
pepohonan liar, dengan medan yang semakin menantang.
Di peta, jarak menuju Curug
Cibadak hanya sekitar 900 meter. Kelihatannya dekat, ya? Namun, kami mulai
berjalan dari kawasan hutan pinus pukul 09.53 dan baru tiba di area curug pukul
10.54. Totalnya 1 jam 1 menit! Pendek di angka, panjang di perjuangan. 😆
Pukul 10.15, kami singgah di sebuah pos. Dari sana, Curug Cibadak tinggal sekitar 100 meter lagi. Saya berhenti untuk minum karena tenggorokan mulai terasa haus. Stok air tinggal separuh, jadi saya menyeruputnya sedikit demi sedikit supaya cukup sampai tujuan. Kalau sampai kehabisan, jangan-jangan saya tergoda mengisi botol dari aliran curug. Hahaha!
Video Youtube Short yang saya sematkan berikut ini saat masih di hutan pinus. Footage-nya dari Mas Kidal. Semoga teman pembaca dapat membayangkan suasana di sana.
Ternyata, 100 meter terakhir
bukan berarti tinggal jalan santai. Beberapa bagian jalur berada tepat di tepi
jurang, sementara bebatuan besar mengharuskan kami memilih pijakan dengan
cermat. Ada pula bagian longsor sepanjang kira-kira dua hingga tiga meter tanpa
tali pengaman. Kami harus melangkah bergantian dan saling menjaga. Di sini,
fokus itu wajib. Salah pijak sedikit saja, urusannya bisa panjang!
Pukul 10.49, kami tiba di tebing dekat
curug. Air terjunnya sudah terlihat, tetapi kami masih berada di atas dan harus
turun lagi. Lima menit kemudian, pukul 10.54, akhirnya kami sampai di area
curug. Alhamdulillah!
Jujur, sepanjang perjalanan saya banyak beristigfar. Semangat boleh sebesar gedung MPR, tetapi kondisi tubuh dan medan tetap harus diperhitungkan. Saya juga berusaha tidak jauh dari suami. Beliau memang berpengalaman pernah mendaki beberapa gunung berapi di Sumatera dan Jawa, tetapi sekarang kami sama-sama perlu menyesuaikan langkah. Saling menjaga itu penting, apalagi di jalur seperti ini.
Menurut saya, jalur menuju Curug
Cibadak membutuhkan kehati-hatian ekstra dan sebaiknya ditempuh bersama pemandu
lokal yang mengenal medan. Pertimbangkan kondisi jalur sebelum mengajak
anak-anak, lansia, atau orang yang belum terbiasa trekking. Jangan sampai
tergoda foto curug yang cantik, tetapi lupa memperhitungkan perjuangan untuk
mencapainya.
Alhamdulillah, kami semua tiba dengan
selamat. Isti, Lala, dan Fajar sampai lebih dulu, disusul saya bersama Mas
Arif, Mei, dan Mbak Bayu. Terakhir, rombongan Yesi, Manda, dan Bowo. Mereka
bukan kelelahan, kok, tetapi masih asyik berfoto di hutan pinus saat yang lain
sudah berjalan duluan. Hahaha! Namanya juga content creator, pemandangan bagus
sedikit, dokumentasi harus jalan!
![]() |
| 900M lagi ke Curug Cibadak |
![]() |
| Jembatan kedua sepanjang jalur trekking, sebelum jalur longsor |
Curug Cibadak: Dua Air Terjun, Dua Karakter
Begitu tiba di Curug Cibadak, rasa lelah setelah trekking langsung terbayar. Di hadapan kami terbentang tebing batu dengan dua aliran air terjun yang berdampingan.
Curug bagian atas
tampak melebar, airnya menyebar dan merayap di permukaan tebing. Sementara itu,
curug bagian bawah lebih ramping, dengan aliran yang jatuh melalui celah
bebatuan menuju kolam alami. Sekilas seperti saudara kembar, tetapi
masing-masing punya karakter sendiri.
Dibandingkan dengan Curug Cisalada,
Curug Penganten, Curug Perjaka, dan Curug Ngumpet yang saya kunjungi di Sentul
tahun lalu, Curug Cibadak terasa berbeda. Bentuk tebingnya terbuka lebar,
dengan aliran air yang langsung meluncur di permukaan batu. Tidak banyak
tingkatan yang terlihat, tetapi justru bentangan tebing dan dua aliran air
inilah yang membuat pemandangannya menarik.
![]() |
| Dari sini samar mulai terlihat Curug Cibadak. Jalur trekking pinggir tebing sepanjang jalan |
![]() |
| Curug Cibadak dengan dua air terjun yang berjarak. Yang satu agak ke bawah, satunya di atas |
Dua curug ini juga menawarkan pengalaman
bermain air yang berbeda. Di bagian bawah, ada kolam yang ternyata cukup dalam.
Saat Mas Arif mencoba masuk, air sudah mencapai dadanya, tetapi kakinya belum
juga menyentuh dasar. Wah, ternyata bukan kolam yang bisa diterabas begitu
saja! Akhirnya, suami dan teman-teman memilih bermain di bagian yang lebih
dangkal. Meski kolamnya tidak terlalu luas, setidaknya masih cukup untuk
berendam dan berenang sebentar. Lumayan, setelah betis diajak bekerja keras
saat trekking, sekarang giliran badan menikmati kesegaran air!
Berbeda dengan bagian bawah, curug yang
lebih ke atas memiliki aliran yang menyebar di permukaan tebing. Kami bisa
mendekat dan duduk di bebatuan yang dialiri air. Tidak ada kolam dalam seperti
di sebelahnya, tetapi ketika duduk, badan tetap terendam air. Rasanya segar
sekali! Kalau yang satu cocok untuk bermain di kolam, yang ini menawarkan
sensasi duduk langsung di bawah aliran air. Tinggal pilih, mau berendam atau
menikmati pijatan alami dari air yang meluncur di atas batu.
![]() |
| Curug bawah (gambara kiri) ada kolamnya, bisa berendam dan berenang. Curug atas (gambar kanan), bisa duduk-duduk di tebingnya. |
Saat kami datang, air di curug masih cukup untuk dinikmati meskipun sedang musim kemarau. Ini tentu menjadi keberuntungan tersendiri. Lala dan Isti pernah datang ketika kolamnya tidak terisi cukup air untuk berendam. Air terjunnya memang masih mengalir, tetapi air yang terkumpul di kolam tidak cukup untuk bermain. Bahkan, menurut cerita pemandu, sekitar seminggu setelah kunjungan kami, debit air di curug ini sudah mulai sedikit.
Wah, beda waktu kunjungan, beda pula pengalaman yang didapat! Kami datang ketika airnya masih cukup untuk bermain, sehingga bisa menikmati kedua curug dengan lebih leluasa. Cerita dari Lala, Isti, dan pemandu membuat saya semakin sadar bahwa kondisi curug sangat bergantung pada ketersediaan air saat itu. Alam memang punya jadwalnya sendiri, tidak bisa dipesan seperti meja restoran. Untung saja, kali ini kami kebagian momen yang pas! Alhamdulillah.
Bisa jadi, berkurangnya debit air ini berkaitan dengan hujan yang belum sering turun selama musim kemarau. Sebaliknya, ketika musim hujan tiba dan curah hujan meningkat, bukan tidak mungkin aliran air terjun menjadi lebih deras, kolamnya kembali terisi, dan aliran air menuju sungai-sungai di bawahnya pun semakin melimpah. Tentu saja, semuanya bergantung pada kondisi cuaca dan keadaan alam saat itu.
Video YouTube Short yang saya sematkan berikut menampakan kondisi real air terjun Curug Cibadak hari itu.
Curug Cibadak Sepi Pengunjung: Serasa Punya Curug Sendiri!
Mungkin belum banyak orang yang datang
ke sini, atau bisa juga karena untuk mencapainya perlu usaha ekstra. Maklum,
sebelum bisa menikmati air terjun, kami harus melewati jalur trekking yang
menanjak. Jadi, ada perjuangan yang harus dibayar di muka. Namun, justru itu
yang membuat pengalaman ini terasa menyenangkan. Kami bisa menikmati
pemandangan, berfoto, membuat video, dan bermain air tanpa harus berdesakan
dengan pengunjung lain.
Rasanya seperti punya curug pribadi! Tentu saja bukan benar-benar milik sendiri, ya. Hahaha. Setidaknya, kami bisa menikmati suasananya dengan lebih leluasa. Udara sejuk, suara air yang jatuh di atas bebatuan membuat saya betah berlama-lama. Setelah perjalanan menanjak yang cukup menguras tenaga, duduk menikmati suasana seperti ini terasa sebagai hadiah yang pantas.
![]() |
| Mas Arif sedang mencoba rock balancing kayak yang udah jadi di pojok kiri atas😁 |
Ada satu cerita kecil yang cukup berkesan. Karena beberapa teman kehabisan air minum, mereka mengisi ulang botol dari aliran air di sisi tebing yang tidak digunakan pengunjung untuk bermain. Airnya tampak jernih dan mengalir di antara bebatuan. Meski terlihat menyegarkan, air jernih belum tentu aman diminum langsung tanpa pengolahan. Jadi, jangan mengandalkan air alam sebagai persediaan minum. Tetep ya harus bawa air yang cukup dan isi ulang hanya dari sumber yang terjamin aman.
Buat saya, Curug Cibadak menawarkan
lebih dari sekadar pemandangan air terjun. Ada dua aliran dengan karakter
berbeda, kesempatan bermain air, suasana yang relatif sepi, dan kejutan kecil
dari kondisi alam yang bisa berubah sewaktu-waktu. Perjalanan menanjak tadi pun
terasa sepadan dengan apa yang kami nikmati di sini.
Sayangnya, petualangan belum selesai.
Setelah puas bermain air, kami masih harus kembali melewati jalur trekking.
Jadi, meskipun hati sudah senang dan badan sudah segar, kaki tetap harus siap
bekerja lagi. Namanya juga trekking, bukan naik lift menuju curug! 😂
![]() |
| Kompak selalu Food Blogger. Jelajah alam untuk menikmati keindahan sembari menjaganya. Jika ingin terus menikmati makanan yang baik, kita juga perlu ikut menjaga alam, bukan? |
Perjalanan Pulang dari Curug Cibadak ke Lenirra
Pukul 11.46, kami mulai
meninggalkan Curug Cibadak setelah hampir satu jam menikmati suasananya.
Duduk-duduk, bermain air, berfoto, dan membuat video untuk mengabadikan
kebersamaan semuanya sudah. Rasanya cukup, meskipun sebenarnya saya bisa saja
duduk lebih lama hanya untuk menikmati suasana.
Bagi saya, kepuasan menikmati
alam tidak selalu diukur dari banyaknya aktivitas. Bisa sampai ke sana,
menjejakkan kaki, dan menyaksikan keindahan alam secara langsung saja sudah
menjadi kebahagiaan tersendiri. Tidak semua perjalanan harus penuh agenda. Kadang,
cukup hadir dan menikmati apa yang ada sudah lebih dari cukup.
Namun, ada alasan lain mengapa kami memutuskan segera pergi. Langit yang sejak pagi cerah mulai terlihat mendung. Kami khawatir hujan turun ketika masih berada di jalur, apalagi tadi kami melewati bagian yang longsor dan berada di tepi tebing. Daripada mengambil risiko, lebih baik bergegas. Untungnya, mendung itu hanya singgah sebentar dan hujan tidak jadi turun. Alhamdulillah!
Keputusan untuk tidak berlama-lama
tetaplah tepat. Dalam urusan bertualang, tahu kapan harus berhenti dan kembali
juga bagian dari keberanian.
Anehnya, perjalanan pulang terasa
lebih mudah dan cepat. Mungkin karena jalurnya sudah tidak asing, mungkin juga
karena pikiran mulai membayangkan makan siang di Lenirra. Hahaha! Entah mana
yang lebih berpengaruh, pengalaman melewati jalur tadi atau bayangan makanan
yang menanti. Yang jelas, langkah kami masih mantap.
Pukul 12.37, kami kembali tiba di
kawasan Suaka Elang Loji. Kami sempat berhenti sebentar untuk berfoto bersama.
Maklum, saat berangkat tadi belum sempat mengabadikan foto rombongan secara
lengkap. Masa sudah trekking sejauh itu, tetapi foto bersama malah tidak ada?
Bisa-bisa bukti petualangannya cuma kaki pegal dan cerita panjang! 😂
Setelah beristirahat sejenak, kami
melanjutkan perjalanan menuju titik awal trekking. Pukul 13.02, kami akhirnya
tiba di sana. Mobil dari Lenirra sudah menunggu, jadi kami tinggal naik dan
bersiap kembali ke tempat yang sejak pagi menjadi titik kumpul sekaligus tempat
menanti makan siang.
![]() |
| Jalur pulang melewati jalur yang sama saat berangkat. Foto kanan: Suami bersama kantong berisi sampah yang kami pungut sepanjang jalur trekking. Semoga setiap orang yang trekking ke Curug Cibadak selalu membawa kembali sampahnya dan tidak meninggalkan apa pun selain jejak langkah. |
Selesailah petualangan trekking
kami hari itu, tetapi ceritanya tentu tidak ikut selesai. Pengalaman ini akan
terus hidup dalam kenangan, tulisan blog, foto, dan video yang kami bagikan di media
sosial.
Terima kasih untuk Mas Kidal yang sudah
memandu perjalanan kami. Jalur yang menantang terasa lebih terarah karena ada
pemandu yang mengenal medan. Kalau suatu saat kembali ke Lenirra dan ingin
trekking lagi, rasanya saya dan teman-teman tidak keberatan ditemani Mas Kidal
sekali lagi.
Sebab, petualangan yang menyenangkan bukan hanya tentang tempat indah yang berhasil dicapai, tetapi juga tentang perjalanan yang dijalani bersama orang-orang yang tepat. Dan tentu saja, pulang dengan selamat supaya masih bisa merencanakan petualangan berikutnya!
Restoran Lenirra: Makan Siang Setelah Trekking yang Penuh Rasa dan Cerita
Trekking selesai, foto-foto aman,
dan cerita seru sudah terkumpul. Sekarang, waktunya beralih ke agenda yang tak
kalah penting: mengisi perut! Setelah lebih dari dua jam berpetualang di jalur
trekking, tubuh pantas mendapat hadiah. Hidangan apa yang sudah menunggu kami
di Lenirra? 😋
Sekitar pukul 13.00, kami tiba kembali
di titik akhir trekking. Perjalanan menuju Lenirra memakan waktu kurang lebih
15 menit. Namun, kami belum langsung duduk manis di meja makan. Kami berpindah
kendaraan menuju restoran yang berada di bagian bawah kawasan Lenirra, lalu
bersiap mandi, berganti pakaian, salat, dan akhirnya makan siang.
Lenirra memiliki area restoran di
bagian atas yang terbuka untuk umum, sementara restoran di bagian bawah
digunakan untuk sarapan tamu yang menginap. Untuk peserta trekking yang memesan
makan, kami diarahkan ke restoran bawah. Jaraknya lumayan juga kalau harus
ditempuh dengan berjalan kaki. Dalam kondisi masih pegal dan perut sudah
mengirim sinyal darurat, naik jet pribadi rasanya bukan ide buruk! Hahaha.
Sayangnya, fasilitas itu belum termasuk paket trekking kami. 😂
![]() |
| Resto Lenirra. Terletak di area terdepan Lenirra. |
![]() |
| Resto Lenirra juga, yang ini terletak di bagian bawah kawasan Lenirra. Dekat sawah-sawah. Kami makan di sini. |
![]() |
| Tampak atas restoran tempat kami makan. Difoto dari musola. (Dokumentasi Isti) |
Fasilitas Lenirra: Mandi, Salat, dan Menyegarkan Diri Sebelum Makan
Salah satu hal yang menyenangkan dari paket trekking kami adalah kesempatan menggunakan kamar mandi di dekat kolam renang Lenirra. Dengan izin pengelola, peserta boleh mandi dan berganti pakaian sebelum makan. Jadi, setelah berpeluh-peluh di jalur trekking, kami bisa menyegarkan diri terlebih dahulu. Area kolam renangnya pun bisa menjadi tempat bersantai sambil menunggu giliran mandi, sesuai izin yang diberikan.
Setelah bersih-bersih, kami melanjutkan
dengan salat. Musala berada di bangunan tersendiri di lantai atas, yang dapat
dicapai melalui tangga luar. Lokasinya menarik karena dari sini kami bisa melihat
area sekitar Lenirra. Rasanya seperti berada di menara pandang kecil. Bahkan,
masih ada rooftop di lantai paling atas yang menawarkan pemandangan persawahan
dan gunung. Tempat seperti ini tentu menarik untuk menikmati perubahan warna
langit saat matahari terbit atau terbenam, jika cuaca mendukung.
Selesai urusan bersih-bersih dan ibadah,
barulah kami bersiap menikmati agenda utama berikutnya. Perut sudah menunggu,
tetapi ada satu urusan komunitas yang perlu diselesaikan lebih dahulu.
![]() |
| Kolam renang dekat resto tempat kami makan siang |
![]() |
| Kolam renang dekat glamping. (Dokumentasi Temmy) |
![]() |
| Kamar bilas dekat resto tempat kami makan. (Dokumentasi Temmy) |
![]() |
| Musola dekat resto tempat kami makan. Rooftop-nya jadi kayak menara pandang buat menikmati pemandangan kawasan Lenirra dan sekitarnya |
Menu Restoran Lenirra: Nasi Liwet, Gurame, Ayam Bakar, dan Sambal
Sekitar pukul 14.30, kami mulai
berkumpul untuk menyiapkan perayaan sederhana anniversary ke-4 Food Blogger
Indonesia. Persiapannya tidak neko-neko. Kami hanya meniup balon angka sebagai
penanda momen istimewa ini. Sederhana, tetapi tetap harus ada dokumentasi.
Namanya juga komunitas blogger, kalau tidak ada foto, nanti bagaimana ceritanya
mau ditulis? Hahaha! 😁
Nasi liwet dengan taburan bawang goreng disajikan dalam wadah anyaman bambu beralas daun pisang. Di sekelilingnya, aneka lauk tertata menggoda: gurame goreng, ayam bakar, tahu dan tempe goreng, karedok dengan siraman bumbu kacang, serta lalapan segar. Sentuhan penyajian tradisional ini membuat meja makan terlihat menarik. Sederhana, tetapi bikin selera makan makin sulit diajak kompromi, apalagi setelah trekking!
Pelengkapnya pun tak kalah menarik. Ada sambal merah dan sambal hijau yang siap menemani setiap suapan. Kalau suka pedas, kenapa harus memilih salah satu? Ambil dua-duanya saja, urusan kepedasan dipikirkan belakangan! Hehehe. Untuk minuman, tersedia es teh manis dan air kelapa utuh yang cocok dinikmati setelah perjalanan menguras tenaga.
Buat yang tertarik menikmati hidangan serupa bersama keluarga atau teman-teman, Lenirra menyediakan paket nasi liwet seharga Rp499.000 untuk 5–7 orang. Isinya cukup lengkap, mulai dari ayam bakar, gurame goreng, karedok, tahu dan tempe, lalapan, hingga dua jenis sambal. Cocok untuk makan bersama setelah beraktivitas di alam atau sekadar berkumpul sambil menikmati suasana Bogor.
Karena rombongan kami berjumlah 13 orang, kami memesan dua paket nasi liwet. Nah, seperti inilah penampakan paketnya. Menggugah selera, kan? 😁
![]() |
| Paket nasi liwet Lenirra Resto. |
Satu lagi yang membuat makan
siang kami terasa istimewa adalah suasana restoran Lenirra yang terbuka,
menghadap persawahan dengan latar pegunungan. Jadi, bukan cuma perut yang
dimanjakan, mata pun ikut mendapat suguhan. Paket lengkap, bukan? Tinggal jangan
sampai terlalu asyik memandangi pemandangan sampai lupa menyendok nasi! 😂
Sebelum mulai makan, kami berfoto bersama dan berdoa.
Kami sama-sama berharap Food Blogger Indonesia terus berkembang,
semakin solid, dan semakin banyak menghadirkan cerita kuliner yang bermanfaat.
Semoga komunitas ini menjadi ruang untuk saling belajar, memperluas jejaring,
mendukung pelaku usaha kuliner, serta menyebarkan cerita tentang kekayaan
pangan dan budaya Indonesia.
![]() |
| HUT ke-4 Food Blogger Indonesia |
Momen foto dan doa itu tidak berlangsung
lama. Maklum, waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore. Sebelumnya,
saya memang sempat ajak teman-teman mengganjal perut dengan brownies yang saya bawa dari BSD.
Namun, brownies tetaplah brownies. Setelah trekking, rasanya nasi dan lauk-pauk
lebih sulit ditolak! Hahaha. Akhirnya, kami pun menikmati makan siang yang agak
kesorean ini bersama-sama.
Bagi saya, momen seperti ini bukan sekadar urusan mengisi perut. Ada kebahagiaan sederhana saat duduk satu meja dengan teman-teman, berbagi cerita perjalanan, tertawa bersama, dan menikmati hidangan yang sama.
Makanan menjadi penghubung yang membuat kebersamaan terasa
lebih dekat. Kadang, cerita paling berkesan justru lahir di sela-sela makan,
ketika obrolan mengalir tanpa perlu direncanakan.
Pukul 16.25, kami berkumpul untuk berfoto bersama sebagai penutup kegiatan hari itu. Lalu, pukul 16.53, kendaraan terakhir meninggalkan Lenirra. Kami pun kembali ke rumah masing-masing, menuju Bogor, Jakarta Selatan, Depok, Tangerang Selatan, hingga Bekasi.
Alhamdulillah, semua pulang dengan
selamat. Badan memang lelah, kaki masih pegal, tetapi hati penuh bahagia. Hari
itu kami bukan hanya menjelajah alam dan menikmati hidangan, melainkan juga
merajut cerita bersama. Sebuah perjalanan yang berakhir dengan tenang,
meninggalkan kenangan manis yang akan selalu menyenangkan untuk dikenang. ❤️
![]() |
| Foto bersama di Lenirra, berlatar gunung dan sawah |
Trekking Lenirra dan Restoran Lenirra: Menjelajah Alam, Menikmati Rasa, Merajut Cerita
Rasanya, pilihan kegiatan
anniversary Food Blogger Indonesia kali ini memang pas. Kami memulai hari
dengan trekking di alam terbuka, menyaksikan hutan dan aliran air, lalu
menutupnya dengan makan bersama di tengah pemandangan persawahan dan
pegunungan. Dua pengalaman berbeda, tetapi saling terhubung: menikmati alam dan
menikmati makanan.
Bukankah bahan pangan yang tersaji di
meja kita juga berasal dari alam? Padi membutuhkan tanah dan air untuk tumbuh.
Sayuran memerlukan lingkungan yang mendukung. Ikan dan hewan ternak pun
bergantung pada ekosistem serta sumber daya yang tersedia. Di balik sepiring
nasi dan lauk yang terlihat sederhana, ada proses panjang yang melibatkan alam,
petani, peternak, nelayan, pedagang, juru masak, dan banyak orang lainnya.
Karena itu, menikmati makanan seharusnya
tidak berhenti pada urusan rasa kenyang dan lidah yang dimanjakan. Ada
kesempatan untuk lebih menghargai proses di baliknya, termasuk sumber daya alam
yang memungkinkan semua itu tersedia. Ketika lingkungan rusak, sumber pangan
juga bisa terancam. Ketika sumber pangan terganggu, kehidupan manusia ikut
terdampak.
![]() |
| Happy anniversary Komunitas Food Blogger Indonesia |
Di sinilah makna tema Jelajah Alam, Nikmati Rasa, Rajut Cerita terasa semakin nyata bagi saya.
Menjelajahi alam membantu kita melihat langsung lingkungan yang perlu dijaga. Menikmati rasa mengingatkan kita pada hasil alam yang selama ini hadir di meja makan. Sementara merajut cerita memberi kesempatan untuk membagikan pengalaman dan menumbuhkan kesadaran kepada lebih banyak orang.
Sebagai food blogger, kami memang banyak bercerita tentang makanan. Namun, cerita tentang makanan juga bisa menjadi pintu untuk membicarakan hal yang lebih luas: asal-usul bahan pangan, orang-orang di balik hidangan, budaya kuliner, hingga pentingnya menjaga lingkungan.
Tulisan dan konten yang kami buat mungkin terlihat sederhana,
tetapi jika mampu mengajak seseorang lebih menghargai makanan dan alam,
bukankah itu sudah menjadi langkah yang berarti?
![]() |
| Paket nasi liwet yang kami pesan. Nasi liwet, gurame goreng, ayam bakar, tempe goreng, tahu goreng, dan 2 macam sambal |
Saya pun kembali bersyukur. Hari itu, kami bukan hanya mendapat pengalaman trekking yang menantang dan menikmati hidangan lezat, tetapi juga kesempatan untuk merayakan kebersamaan sambil mengingat hubungan erat antara alam dan pangan.
Ternyata, perjalanan yang
menyenangkan bisa meninggalkan lebih dari sekadar foto bagus dan perut kenyang.
Ada pelajaran yang ikut dibawa pulang.
Untuk teman-teman Food Blogger Indonesia
yang belum pernah bergabung dalam kegiatan komunitas, semoga suatu saat bisa
ikut meramaikan perjalanan berikutnya. Sebab, ketika para pencinta makanan
berkumpul, yang dibagikan bukan hanya rekomendasi tempat makan atau foto
hidangan menggoda, tetapi juga pengalaman, pengetahuan, dan kepedulian.
![]() |
Merayakan kebersamaan, merajut cerita, dan menciptakan kenangan di anniversary ke-4 Food Blogger Indonesia. Terima kasih, Lenirra! ❤️ |
Mari terus menjelajah, menikmati rasa, dan merajut cerita. Semoga dari langkah-langkah kecil seperti ini, semakin banyak orang yang tergerak untuk menghargai makanan, mendukung keberlanjutan pangan, dan menjaga alam yang menjadi sumber kehidupan kita. Sebab, makanan yang lezat memang membahagiakan, tetapi memastikan generasi berikutnya masih bisa menikmati pangan yang baik tentu jauh lebih bermakna.







.jpg)
.jpg)

.jpg)




.jpg)


.jpg)
.jpg)
.jpg)




.jpg)


.jpg)
.jpg)
.jpg)



.jpg)


.jpg)


.jpg)
.jpg)
.jpg)





.jpg)