Tampilkan postingan dengan label Hotel Lampung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hotel Lampung. Tampilkan semua postingan

Pengalaman Menginap di Granny's Nest Boutique Syariah Hotel Lampung

Mudik Lebaran 2026 kali ini kami jalani tanpa terburu-buru. Niatnya cuma berhenti semalam di Lampung sebelum melanjutkan perjalanan ke Sumatera Selatan. Ternyata, singgah sebentar itu malah melahirkan cerita yang tidak kami rencanakan sejak berangkat dari rumah. 


Mudik Lebaran 2026, Transit Semalam di Lampung

Mudiknya memang direncanakan, tapi singgah semalam di Lampung sama sekali bukan bagian dari rencana. Makanya setelah semuanya kejadian, saya malah sempat mikir, "Kok bisa ya, kami malah nginap di Lampung dulu?"

Kalau diingat-ingat lagi, semuanya bermula karena kali ini saya nggak mau berangkat pagi-pagi banget demi mengejar kapal pagi. Nggak kebayang kalau harus buru-buru dari rumah cuma supaya nggak kepanasan pas nyeberang. Tapi di sisi lain, saya juga nggak mau kami kemalaman tiba di Palembang.

Pokoknya perjalanan kali ini penginnya santai. Nggak pakai gaspol, apalagi ngejar buka puasa di rumah.

Jadi pada dini hari tanggal 17 Maret 2026, saya langsung bilang ke suami, "Berangkat santai aja, ya, Pa." Maksudnya, nunggu selesai salat Subuh, mandi, lalu mobil selesai dicuci dulu. Nggak usah berangkat jam dua pagi terus sahur di jalan sekitar Serang atau Cilegon. Sahur di rumah aja.

Ternyata semua setuju. Rasanya memang lebih enak memulai perjalanan tanpa terburu-buru. 

Anak-anak baru siap sekitar jam delapan, sementara perjalanan benar-benar dimulai sekitar pukul sembilan lewat tiga puluh. Kalau berangkat dari BSD jam segitu, ya jelas nggak mungkin sampai Kabupaten Muara Enim pas buka puasa.

Di situlah muncul ide untuk menginap semalam di Lampung. Besok paginya tinggal melanjutkan perjalanan lagi, dan sebelum tengah hari rasanya kami sudah masuk Sumatera Selatan. Dari sana, Muara Enim tinggal beberapa jam lagi.

Tinggal satu urusan lagi.

Cari hotel.

Nggak perlu yang mewah. Nggak harus berbintang. Buat kami, hotel transit cukup sederhana kriterianya: nyaman, dekat jalur yang akan kami lewati, dan harganya ramah di kantong.  

Saya Yakin Ini Hotel yang Pernah Saya Inapi. Ternyata Salah.

Tiba-tiba saya ingat penginapan milik Mas Iqbal yang dulu pernah saya inapi bareng teman-teman blogger saat diundang meliput sebuah festival wisata. Nama yang langsung muncul di kepala waktu itu cuma satu: Granny's Nest.

Kalau penasaran seperti apa tampilan Granny's Nest Boutique Syariah Hotel Lampung yang saya ceritakan di artikel ini, saya sempat membuat video singkatnya di YouTube Shorts berikut: 

 

Saat itu juga saya langsung mencarinya di Instagram. Akunnya langsung muncul. Begitu melihat nama Mas Iqbal ada di daftar followers, saya makin yakin.

"Wah, nggak salah lagi. Ini hotel yang dulu saya inapi."

Dari DM Instagram, obrolannya lanjut ke WhatsApp. Saya mulai tanya-tanya soal ketersediaan kamar. Sekalian saja saya basa-basi bilang kalau dulu pernah menginap di sana. Bertahun-tahun yang lalu.

Belakangan baru kepikiran.

Waktu itu adminnya pasti bingung.

Saya mengaku pernah menginap hampir satu dekade lalu, padahal hotel ini baru mulai beroperasi pada akhir tahun 2025. Untung adminnya baik. Nggak langsung membalas, "Bu, yakin nggak salah hotel?" Hahaha.

Keyakinan saya mulai goyah ketika kami sudah masuk Lampung dan mencari lokasi hotel. Di kepala saya, tujuan kami adalah hotel yang dulu pernah saya tempati di Bandar Lampung. Padahal alamat yang dikirim admin jelas-jelas tertulis di Jalan Ryacudu, Sukarame. Jelas bukan lokasi yang saya ingat. Tapi entah kenapa, otak saya tetap menghubungkannya dengan hotel yang lama.

Begitu keluar tol dan mengikuti Google Maps menuju lokasi, titik tujuan mulai terlihat dekat. Saya menoleh ke kiri, lalu melihat sebuah bangunan dengan tulisan besar Granny's Nest

"Lho... itu Granny's Nest. Kok udah sampai? Tapi kok beda, ya? Perasaan dulu masuk ke dalam, bukan di pinggir jalan besar begini."

Semakin dilihat, saya malah semakin nggak yakin. Akhirnya saya menelepon pihak hotel.

"Iya, Bu. Sudah sampai kok."

Lho...

Jangan-jangan hotelnya pindah?

Begitu masuk ke lobi, saya langsung menuju meja resepsionis. Dengan wajah antara penasaran dan nahan malu, saya bertanya,

"Mas, ini Granny's Nest? Bukan yang di Bandar Lampung ya? Udah pindah atau gimana?"

Petugasnya tersenyum, lalu menjawab,

"Iya, Bu. Yang Ibu maksud mungkin Omah Akas. Kalau Granny's Nest yang dulu itu memang nama restorannya, bukan hotel. Hotelnya Omah Akas. Kalau hotel Granny's Nest ini baru buka."

Oalah...

Gituuu.

Hahaha.

Baru di situ saya sadar. Yang selama ini saya ingat ternyata nama restonya, bukan nama hotelnya. Bertahun-tahun saya menyimpannya sebagai satu ingatan yang utuh, padahal diam-diam sudah ketuker.

Pantas saja sejak awal rasanya ada yang nggak nyambung.

Ini Omah Akas yang saya ingat sebagai Granny's Nest. Dokumentasi 2016.

Ada saja cara Allah mengingatkan kalau umur memang nggak makin muda. Bahkan ingatan pun mulai suka bercanda.

Tulisan tentang Omah Akas yang saya ingat sebagai Granny Nest itu dapat di baca di postingan lama saya di sini: Omah Akas Lampung.

Pesan Granny's Nest Lewat Agoda, Ternyata Lebih Hemat

Kalau melihat riwayat chat WhatsApp, ternyata saya baru menghubungi admin Granny's Nest sekitar pukul 12.22 WIB. Saat itu mobil kami sudah berada di atas kapal yang akan menyeberang dari Pelabuhan Merak menuju Lampung. Dadakan banget, kan? Makanya saya bilang dari awal, keputusan menginap ini memang benar-benar lahir di tengah perjalanan.

Awalnya saya berniat memesan kamar langsung ke hotel. Pikiran saya sederhana, yang penting masih kebagian kamar dulu. Soal harga belakangan. Lewat WhatsApp saya bilang kalau kami membutuhkan satu kamar untuk empat orang.

Admin lalu menawarkan kamar tipe Deluxe seharga Rp470.000. Kalau menginap berempat tinggal menambah dua extra bed, masing-masing Rp150.000. Saya memang belum sempat melihat seperti apa kamarnya. Tapi begitu admin bilang satu kamar masih cukup untuk queen bed ditambah dua extra bed, saya langsung membayangkan ukurannya.

"Berarti kamarnya lumayan luas."

Soalnya saya paling nggak suka kalau kamar hotel sudah penuh kasur, tapi ruang geraknya jadi sempit. Apalagi ini cuma hotel transit. Yang kami butuhkan sebenarnya sederhana, tempat istirahat yang nyaman sebelum melanjutkan perjalanan mudik keesokan harinya. 


Pas udah tinggal transfer, kok ya kepikiran buka Agoda dulu.

Siapa tahu lebih murah.

Eh... 

ternyata memang lebih murah.

Setelah dipotong diskon, ditambah pajak dan biaya layanan, total yang saya bayar cuma Rp307.127.

Lumayan juga.

Selisihnya hampir dua ratus ribu.

Rezeki orang yang iseng sebelum bayar, ternyata. Hahaha.


Karena waktu itu masih bulan Ramadan, yang pertama saya tanyakan justru bukan soal fasilitas hotel, melainkan sarapan. Kata pihak hotel, sarapan bisa diantar ke kamar saat waktu sahur, lengkap dengan pilihan menunya. Nah, ini pas banget. Nggak perlu turun ke restoran sambil masih setengah melek.

Setelah urusan itu beres, barulah saya mantap memesan satu malam di Granny's Nest. 

Mudik Lewat Lampung, Perjalanan yang Jauh Lebih Lancar dari Perkiraan

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kami sempat kelewatan hotel karena saya masih yakin hotel yang dituju ada di Bandar Lampung. 

Kejadiannya sekitar pukul 15.18 WIB, persis seperti yang terekam di riwayat chat dengan pihak hotel.

Baru setelah semuanya selesai, saya sadar kalau perjalanan hari itu ternyata lancar banget. Berangkat dari BSD sekitar pukul sembilan pagi, lalu sekitar jam tiga sore kami sudah sampai di Lampung.

Yang paling bikin bersyukur justru waktu menyeberang dari Merak. Dari rumah saya sudah siap mental kalau harus antre panjang. 

Namanya juga mudik. Apalagi jalur Merak-Bakauheni hampir selalu identik dengan antrean kendaraan.

Eh, ternyata begitu sampai pelabuhan kami langsung diarahkan masuk kapal.

Rezekinya nggak berhenti di situ.

Kapal yang kami naiki ternyata kapal cepat. Padahal waktu itu sudah nggak ada lagi pilihan kapal express karena semua tiket dijual sebagai kapal reguler. 

Jadi ceritanya kami bayar tarif reguler, tapi yang datang malah kapal cepat. Ya... beginilah rezeki di jalan. Kadang datangnya diam-diam.

Baru malam harinya saya dapat cerita dari Alief, teman yang juga mudik ke Muara Enim dari BSD pada hari yang sama. Bedanya, dia baru tiba di Merak menjelang Magrib. Hasilnya? Antre lebih dari lima jam, lalu tetap menyeberang dengan kapal reguler.

Baru di situ saya benar-benar sadar.

Kalau saja pagi itu kami berangkat sedikit lebih siang, mungkin ceritanya bakal berbeda. Bisa jadi yang saya tulis di artikel ini bukan pengalaman menginap di Granny's Nest, melainkan cerita antre berjam-jam di Pelabuhan Merak.

Masya Allah, kadang keputusan yang awalnya terasa sederhana ternyata membawa kami ke perjalanan yang sama sekali berbeda.

Akhirnya Sampai di Granny's Nest Boutique Syariah Hotel Lampung

Oalah... jadi selama ini saya memang ketuker. Yang saya ingat ternyata nama restonya, sedangkan hotel tempat saya pernah menginap dulu adalah Omah Akas.

Begitu rasa penasaran itu terjawab, saya malah lega. Apalagi setelah tahu Granny's Nest Boutique Syariah Hotel ini memang masih baru karena resmi beroperasi pada Desember 2025. Pantas saja sejak awal rasanya asing.


Begitu membaca nama lengkapnya, Granny's Nest Boutique Hotel & Café, imajinasi saya langsung jalan sendiri. Kalau embel-embelnya sudah boutique hotel, saya biasanya langsung membayangkan kamar-kamar yang desainnya nggak seragam. Ditambah lagi ada kata & Café, makin senanglah saya.

Ingatan saya pun langsung melayang ke Granny's Nest yang dulu pernah saya datangi bareng teman-teman blogger. Kafenya bergaya shabby chic, makanannya enak, dan suasananya nyaman buat ngobrol lama-lama. Tanpa sadar, saya langsung bikin rencana baru.

"Nanti buka puasa di kafe hotel aja, ya. Nggak usah cari tempat lain."

Waktu itu saya benar-benar mengira rencana tersebut bakal berjalan mulus.

Ternyata...

Nggak juga.

 
Kesan Pertama Melihat Granny's Nest Boutique Syariah Hotel Lampung

Begitu turun dari mobil, barulah saya benar-benar memperhatikan bangunan hotel di depan mata.

Kesan pertama yang muncul, tampilannya beda.

Dominasi warna hijau olive dipadukan bata ekspos langsung mencuri perhatian. Bagian tengah bangunan dibuat simetris dengan bingkai putih bergaya klasik, sementara tulisan Granny's Nest berwarna emas berdiri cukup mencolok di atas pintu masuk.

Semakin dilihat, semakin terasa nuansa hotel butik yang ingin dibangun. Jendela-jendela melengkung di sisi kanan, hingga perpaduan warna putih, hijau, dan merah bata membuat tampilannya terasa elegan tanpa terlihat berlebihan.

Saya memang bukan orang yang paham arsitektur. Tapi waktu itu sempat kepikiran, "Hotel ini fotogenik juga, ya." Rasanya baru berdiri di depannya saja sudah pengin motret beberapa sudut bangunannya.

Masuk ke Lobby Granny's Nest, Sederhana tapi Tetap Elegan

Begitu masuk, kami langsung disambut meja resepsionis. 

Saat itu ada dua petugas yang menyambut, satu perempuan dan satu laki-laki. Proses check-in juga cepat. Saya tinggal menyelesaikan pembayaran extra bed, lalu kunci kamar langsung disiapkan.

Yang justru membuat saya memperhatikan adalah area lobbynya. 

Cermin di lobby

Di sana nggak ada sofa besar seperti yang biasa ditemui di hotel-hotel lain. Sempat juga saya melirik kanan-kiri. "Lho, kalau nunggu di mana, ya?"

Nggak lama kemudian baru sadar, ternyata lobby langsung terhubung dengan area kafe yang dipenuhi kursi dan sofa. 

Kalau dipikir-pikir malah lebih enak. Daripada duduk di lobby sambil bengong, sekalian saja ngopi atau pesan camilan. Lobby pun tetap terlihat rapi dan nggak dipenuhi orang yang sedang menunggu.

Kiri: teras depan Granny's Nest Cafe. Kanan: Pintu masuk hotel.

Di sisi kiri lobby ada sebuah kolam kecil dengan dua bangku menghadap ke arahnya. Nah, ini yang bikin saya penasaran.

Kolam renang atau kolam ikan, ya?

Kalau kolam renang, kok mungil banget. Rasanya kalau semua tamu hotel berenang bareng, ya... selesai sudah. Hahaha.

Tapi kalau kolam ikan juga nggak kelihatan ikannya. Airnya biru jernih, isinya kosong. Sampai akhirnya saya menyerah menebak-nebak.

Kalaupun memang itu kolam renang, saya kok langsung minder duluan. Letaknya persis di depan lobby, dekat resepsionis, dan semua tamu yang keluar masuk hotel pasti lewat situ. Rasanya berenang di sana sekalian saja jadi tontonan. Hahaha.

Kolam renang di lobby, dekat resepsionis

Setelah urusan check-in selesai, kami langsung naik ke kamar lewat tangga. Hotel ini memang belum memiliki lift, tapi buat bangunan tiga lantai rasanya masih wajar. Apalagi kalau barang bawaan banyak, pihak hotel juga siap membantu membawakannya.

Sepanjang jalan menuju kamar, mata saya malah sibuk melihat-lihat interiornya. Mulai dari area tangga, mezzanine, sampai lorong kamar, semuanya terasa sederhana tapi manis. 

Nggak banyak ornamen yang mencolok, tapi justru itu yang bikin suasananya terasa hangat dan enak dipandang.

Tangga hotel dan lorong kamar

Kamar Deluxe yang Luas dengan Pemandangan Kota dan Gunung

Begitu pintu kamar dibuka, kesan pertama saya langsung, "Wah, lega juga." 

Ternyata dugaan saya benar. Kamarnya memang cukup luas untuk ditambah dua extra bed

Setelah semua kasur terpasang, masih ada ruang yang cukup buat lalu-lalang tanpa harus jalan menyamping atau saling ngalah. 

Buat keluarga berempat seperti kami, rasanya pas.

Queen Bed dan TV

Di sisi kiri pintu masuk ada wastafel yang menyatu dengan area minibar lengkap dengan ketel listrik, gelas, serta perlengkapan membuat teh dan kopi, lalu lemari pakaian, rak penyimpanan, dan meja memanjang di bawah televisi. 

Queen bed diletakkan menghadap TV, sementara di sampingnya ada jendela besar yang bisa dibuka lebar. 

Kamar mandinya juga terasa lega, bersih, dan masih terlihat baru.

Minibar dan wastafel (bukan di kamar mandi)

Selama menginap, semua fasilitas yang kami gunakan berfungsi dengan baik. 

AC cepat dingin, televisinya tinggal dinyalakan tanpa ribet, air hangat mengalir lancar, dan perabotannya pun masih terlihat baru. 

Sprei serta sarung bantalnya bersih dan wangi. 

Sebagai hotel syariah, di dalam kamar juga sudah tersedia sejadah dan mukena untuk tamu yang ingin beribadah.

Kamar mandi dan cermin di kamar

Ada satu hal kecil yang sempat kami temui. Handle pintu kamar mandi ternyata copot saat digunakan.

Begitu kami melapor, staf hotel langsung datang mengeceknya. Mereka bahkan sempat mencoba memperbaiki saat itu juga. Hanya saja, menurut staf, hasilnya akan lebih baik kalau dikerjakan oleh teknisi.

Kami sebenarnya ditawari untuk langsung diperbaiki. Tapi karena baru saja tiba dan badan sudah lumayan capek setelah perjalanan jauh, saya memilih menundanya dulu. Jujur saja, sore itu rasanya lebih pengin rebahan daripada ditemani suara obeng. Haha.

Masalahnya, habis itu kami malah keluar cari tempat berbuka puasa. Begitu kembali ke hotel, kami sama-sama lupa kalau handle pintu kamar mandi tadi belum jadi diperbaiki. Sampai besok check-out pun akhirnya tetap begitu. Bukan karena pihak hotel mengabaikan, tapi memang kami sendiri yang sudah tidak menghubungi mereka lagi.

Mudah-mudahan handle itu segera diperbaiki, supaya tamu berikutnya bisa menikmati kamar ini dalam kondisi yang lebih baik.

Saya juga nggak menyesal memilih menambah dua extra bed dibanding memesan dua kamar. Kalau dihitung-hitung, biayanya memang sudah mendekati harga satu kamar lagi. Tapi buat kami, tidur dalam satu kamar justru lebih praktis. Apalagi besoknya harus bangun sahur. Kalau sudah urusan membangunkan suami dan dua anak yang masih nyaman bergelung di balik selimut, rasanya lebih enak kalau semuanya masih dalam satu ruangan. Tinggal panggil sekali, yang dengar langsung tiga orang. Efisien. Hahaha.

Masih cukup lapang untuk ekstra bed

Ada satu hal lagi yang benar-benar di luar dugaan saya. Pemandangan di balik jendelanya ternyata bagus.

Dari balik kaca terlihat deretan atap rumah yang memenuhi kota, lalu siluet pegunungan yang berlapis di kejauhan. 

Langit sore waktu itu juga sedang cantik-cantiknya, biru terang dengan awan putih yang bersih. Begitu jendelanya dibuka, angin sore langsung masuk ke dalam kamar. Saya jadi berdiri cukup lama di depan jendela sambil menikmati pemandangan itu.

Pemandangan di balik jendela
 
Tadinya saya sudah membayangkan buka puasa di kafe hotel. Tapi entah kenapa, setelah melihat langit sore dari balik jendela, kok jadi pengin keluar lagi. Rasanya sayang kalau sore seindah itu dilewatkan begitu saja di dalam kamar.

Dan ternyata, keputusan spontan itulah yang membawa kami ke sebuah kafe di atas bukit untuk menikmati waktu berbuka.

Berbuka Puasa di Sky Garden Café Lampung, Sunset yang Tak Jadi Datang

Saya sebenarnya nggak punya daftar kafe yang pengin didatangi kalau sedang ke Lampung. Jadi sebelum berangkat, saya sempat bertanya ke Mbak Alya soal tempat buka puasa yang punya pemandangan dari ketinggian. Kalau bisa sekalian menghadap laut.

Mbak Alya sempat merekomendasikan beberapa tempat di kawasan Bukit Aslan. Tapi entah kenapa, pilihan kami akhirnya justru jatuh ke Sky Garden Café & Resto yang berada di Jalan Batukalam No. 113, Langkapura, Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung. Dari hotel jaraknya sekitar 11 kilometer, dengan perkiraan waktu tempuh kurang lebih 30 menit.

Niatnya cari laut. Yang didapat justru city view Kota Tanjung Karang dari ketinggian.

Tapi ya... ternyata nggak buruk juga.

Kiri: Pemandangan sore. Kanan: City light

Saya memang penasaran sama Sky Garden karena banyak yang bilang pemandangan sunset dan city light dari sana bagus. Makanya kami sengaja berangkat sore. Eh, hari itu malah kebagian hujan.

Sebelum berangkat saya sempat menghubungi pihak Sky Garden lewat WhatsApp. Nomornya saya dapat dari Instagram mereka. Karena waktu itu lagi gerimis, saya tanya apakah ada area indoor. Adminnya bilang semua tempat duduk di sana outdoor.

Saya lanjut tanya lagi, "Kalau hujan gimana, Mbak?"

Jawabannya, "Aman, Bu. Tinggal pindah ke dalam."

Nah, di situ saya langsung bingung.

"Lho... kalau bisa pindah ke dalam, berarti ada area dalam juga dong?"

Ya sudahlah. Nanti lihat sendiri saja pas sampai.

Waktu orang hotel bilang Sky Garden lumayan jauh, saya cuma senyum. Lah, jaraknya cuma sekitar 11 kilometer. 

Buat kami yang biasa tinggal di Jabodetabek, itu masih dekat. Di Jakarta mah, sejam perjalanan kadang belum tentu keluar dari satu wilayah. Hahaha.

Kami berangkat sekitar pukul 15.50 WIB. Google Maps bilang sekitar 30 menit. Nyatanya kami baru sampai pukul 17.40 WIB.

Hampir dua jam.

Hari itu Google Maps benar-benar PHP.

Bilangnya setengah jam, kenyataannya hampir dua jam.

Jalannya makin lama makin sepi, tanjakannya juga makin curam, lalu hujan turun lagi. Untung saja Innova kami tetap kuat sampai atas.

Ngabuburit di Sky Garden Café, lantai 2 berkonsep semi outdoor. Saat hujan (foto kiri), tirai pelindung dipasang agar air tidak tampias. Begitu hujan reda (foto kanan), tirainya dibuka kembali sehingga suasana terasa lebih terbuka.

Begitu sampai, saya baru paham maksud admin tadi. Area yang dimaksud ternyata berada di lantai dua dengan konsep semi outdoor. Tetap beratap, tapi sisi-sisinya terbuka. Jadi aman dipakai waktu hujan, sekaligus tetap bisa menikmati pemandangan dari atas.

Udaranya juga enak banget. Sejuk, bahkan cenderung dingin.

Pas kami datang, gerimis sempat berhenti dan langit mulai agak cerah. Saya sampai sempat berharap, "Wah... jangan-jangan masih kebagian sunset nih."

Eh, nggak lama kemudian mendung datang lagi. Gerimis turun lagi. Matahari pun batal muncul.

Yasudah, gantian city light Kota Tanjung Karang yang pelan-pelan mulai menyala.

Waktu naik ke lantai dua, pengunjungnya masih sepi. Baru ada satu keluarga yang sedang duduk di sana. Kami dipersilakan memilih meja sendiri, kecuali satu meja yang katanya sudah direservasi. Setelah dapat tempat, kami langsung memesan makanan dan minuman karena waktu berbuka sudah tinggal sebentar lagi.

Beberapa menit kemudian datang staf lain yang meminta kami pindah meja karena meja yang kami tempati ternyata juga sudah ada yang reservasi. Saya jelaskan kalau kami juga datang dengan reservasi lewat WhatsApp dan sudah dikonfirmasi sebelumnya. Tetap saja diminta bergeser ke meja lain.

Ya sudah.

Daripada ribut menjelang buka puasa, kami pindah saja.

Menu berbuka.
 
Yang bikin saya sedikit heran, sampai kami pulang ternyata meja yang pertama tadi tetap kosong. Nggak ada juga yang menempatinya. Entahlah, mungkin memang ada miskomunikasi di internal mereka.

Pesanan makanan juga datang lumayan lama. 

Beberapa kali makanan untuk meja lain diantar lebih dulu, padahal kami datang lebih awal dan sudah memesan sejak pertama duduk. 

Akhirnya pas azan Magrib berkumandang, kami berbuka dulu dengan minuman yang sudah datang. Makanannya menyusul satu per satu setelah itu.

Selesai makan, kami turun ke bawah untuk membayar.

Sekalian saya menyampaikan masukan soal perpindahan meja tadi. Bukan buat komplain panjang lebar, cuma menceritakan apa yang kami alami, termasuk fakta kalau meja yang semula kami tempati ternyata sampai kami pulang tetap kosong.

Pihak Sky Garden menerima masukan itu dengan baik dan menyampaikan permintaan maaf.

Waktu kami pulang, hujan masih belum benar-benar berhenti.

Sunset yang kami tunggu sejak berangkat dari hotel akhirnya memang nggak muncul.

Ya sudah.

Mungkin sore itu memang jatahnya menikmati gerimis dan lampu-lampu Kota Tanjung Karang dari atas bukit.


Sahur di Hotel Sebelum Melanjutkan Mudik

Pulang dari Sky Garden, kami sepakat langsung kembali ke hotel. Sempat terlintas ide mampir ke toko oleh-oleh khas Lampung buat bekal pulang. Suami dan anak-anak sih ayo aja. Eh, giliran dipikir-pikir lagi, saya sendiri yang langsung bilang, "Udah deh, pulang aja." 

Saya yang ngide, saya juga yang pertama kali membatalkannya. Hahaha.

Memang badan rasanya sudah capek. Sejak tiba di Lampung belum sempat benar-benar istirahat. 

Check-in, lanjut jalan lagi ke daerah perbukitan Bandar Lampung buat ngabuburit dan berbuka puasa. Begitu kenyang, rasa ngantuk langsung datang. Yang ada di kepala cuma satu, cepat-cepat rebahan.

Granny's Nest Cafe
 
Sebelum tidur, saya sempat menghubungi pihak hotel untuk memastikan sarapan diantar saat waktu sahur. Karena saya dan Aisyah sedang berhalangan puasa, kami hanya memesan dua porsi untuk suami dan anak.

Pilihan menunya ada nasi goreng, nasi ayam teriyaki, dan nasi ayam asam manis. Minumannya bisa pilih kopi atau teh. 

Sarapan dijadwalkan diantar sekitar pukul 03.30 WIB, menyesuaikan waktu imsak hari itu. Saya malah sekalian minta semua varian nasinya. Alhamdulillah, suami dan anak saya bilang rasanya enak dan cocok di lidah mereka.

Saya dan Aisyah memang nggak ikut sahur. Akibatnya, nasi yang sudah diantar sejak dini hari baru kami cicipi beberapa jam kemudian. Ya jelas saja sudah dingin, bahkan mulai agak mengeras. Tapi itu bukan salah makanannya. Salah kami sendiri yang makannya kesiangan. Hehe.

Menu minimalis sahur

Pagi itu suasana hotel masih terasa tenang. Setelah salat Subuh nggak ada lagi yang lanjut tidur. Kami langsung beberes, memasukkan barang-barang ke mobil, lalu bersiap melanjutkan perjalanan mudik ke Palembang. Sekitar pukul tujuh pagi kami check-out, lalu kembali melanjutkan perjalanan.  

Sebelum Berangkat, Belanja Oleh-Oleh Dulu di Toko Citra

Senang juga akhirnya memutuskan menginap di Granny's Nest. Baru sadar ternyata di sekitar hotel ada beberapa pilihan toko oleh-oleh khas Lampung. 

Jadi begitu check-out sekitar pukul tujuh pagi, kami nggak langsung masuk tol, tapi mampir dulu ke Toko Oleh-Oleh Citra yang beralamat di Jl. Ryacudu No. 11, Harapan Jaya, Kecamatan Sukarame, Kota Bandar Lampung. 

Begitu masuk, tujuan saya sudah jelas. Cari banana cake dan kopi Lampung. Alhamdulillah dua-duanya masih ada. 

Banana cake yang saya incar bahkan tinggal sedikit karena memang jadi salah satu oleh-oleh favorit. 

Suami langsung sibuk memilih beberapa varian kopi Lampung. 

Anak-anak nggak ikut masuk. Mereka nunggu di mobil sambil nitip pie susu PISU Factory. Ya sudah... masing-masing punya titipan sendiri. Hahaha.

Pagi itu kami pun melanjutkan perjalanan menuju Palembang dengan bagasi yang bertambah isi. 

Awalnya cuma berniat mencari tempat singgah semalam. Ternyata bonusnya, pagi-pagi masih sempat belanja oleh-oleh tanpa perlu memutar jauh dari jalur mudik. Buat kami, itu sudah lebih dari cukup. 

Hotelnya nyaman, harganya ramah di kantong, lokasinya dekat akses Tol Trans Sumatera, dan di sekitarnya juga mudah mencari oleh-oleh khas Lampung sebelum kembali melanjutkan perjalanan.


Kadang, satu malam singgah di tengah perjalanan ternyata cukup untuk membuat sebuah mudik punya cerita yang berbeda.

Liburan di Lampung Bersama Airy Rooms


Memanfaatkan long weekend minggu ke dua bulan Desember tahun ini, saya berangkat ke Lampung selama tiga hari (11-13 Desember). Sendirian. Hanya ditemani kamera kesayangan dan sebuah koper kecil.

Bertemu beberapa kawan, kulineran, jalan-jalan ke Taman Batu Granit Tanjung Bintang, dan sisanya beristirahat di kamar hotel. Itu saja yang dilakukan selama di Lampung. Siapa saja yang saya temui? Kulineran di mana saja? Sebelum saya ceritakan lebih lanjut, saya mau ceritakan dulu tentang penginapan yang saya tempati selama di Lampung.

Dua malam di Lampung, ada dua hotel yang saya inapi yaitu Hotel Batiqa dan Hotel Airy Tanjung Gading Gatot Subroto. Pilihan saya pada Airy tentu karena harganya yang aman di kantong. Murah tapi tidak murahan. Kamarnya bersih, nyaman untuk beristirahat. 
Hotel Airy Tanjung Gading Gatot Subroto

Terdapat dua Hotel Airy Rooms di Lampung, yaitu Airy Tugu Adipura dan Airy Tanjung Gading. Bulan Oktober lalu saya menginap di Airy Tugu Adipura, Desember ini di Airy Tanjung Gading. Untuk memesan kamar Airy, saya lakukan dengan mudah lewat aplikasi Airy di smartphone.

Hotel Airy Tanjung Gading terletak di Jl. Gatot Subroto No. 63, Tanjung Gading, Bandar Lampung. Tidak jauh dari pusat kota. Di sekitar hotel banyak tempat kuliner. Dilewati angkutan umum. Dapat dijangkau dalam waktu 45 menit dari Bandara Radin Inten II. 

Hotel tidak menyediakan antar jemput dari dan ke bandara, tapi jika kita perlu kendaraan, kita bisa minta nomor taksi ke FO, nanti kita telpon sendiri untuk dijemput dan diantar. Tarif antar/jemput bandara Lampung Rp 125.000,- per taksi. Kalau mau sewa harian Rp 250.000 belum termasuk supir dan bbm.

Baca juga: Taman Batu Granit Tanjung Bintang Lampung Selatan

Hotel dua lantai

Kamar

Kamar double bed yang saya tempati terletak di lantai dasar, paling depan. Kamar Airy lainnya ada juga di lantai 2. Begitu memasuki kamar, disambut nuansa biru khas Airy. Di kamar tersedia 2 botol air mineral dan Airy Sunrise Meal. Komplimen ini ada di setiap kamar Airy di kota manapun. Gratis.

Kamar mandi standing shower dengan keran air panas dan dingin yang berfungsi dengan baik. Toiletries-nya lengkap. Shower jel dalam kemasan botol, samphoo, 2 pasang pasta gigi dan sikat gigi, 2 sisir kecil, serta handuk. AC kamar dingin. Tersedia selimut di dalam lemari penyimpanan. 


Toiletries lengkap

Airy Sunrise Meal - free
Kantin Airy Gatsu

Untuk cek harga kamar Airy tinggal buka website www.airyrooms.com atau lewat aplikasi Airy di Smartphone. Saat kedatangan, kita tinggal tunjukan nomor pesanan yang dikirim lewat email oleh Airy.

Aktivitas selama liburan di Lampung

Kali ini saya lebih banyak di dalam kota, ketemu teman, kulineran, dan santai-santai. Ada satu kali pergi ke luar kota, itu pun tak sampai 3 jam sudah kembali ke Bandar Lampung.

Saya janjian dengan beberapa kawan, di antaranya founder Tapis Blogger, Mbak Naqiyyah. Kebetulan kami berdua berada dalam satu grup L’Oreal di WA, sama-sama blogger yang support promo L’Oreal. Sejak ada di grup tersebut saya mulai kerap berbincang dengannya.

Pertama kali bertemu mbak Naqiyyah di acara Parade Budaya Festival Krakatau 2016. Mbak Naqiyyah temannya mbak Lina Sasmita, blogger Batam yang sudah saya kenal sejak masih ngeblog di Multiply tahun 2009. Sebelum bertemu di Festival Krakatau, saya sudah beberapa kali melihat nama mbak Naqiyyah di postingan mbak Rosita Sihombing, teman saya yang juga asal Lampung tapi berdomisili di Perancis. 



Saya janjian ketemu tidak hanya dengan mbak Naqiyyah, tapi juga dengan Melly, Fajrin, dan Vita Rinda. Ada ajak mas Indra juga, tapi karena beliau sedang ada kesibukan, tidak jadi ketemuan. Saya juga ada janjian dengan Rere di Hotel Batiqa, membicarakan bisnis. Janjian ketemu dengan Mbak Helen, pemilik salah satu travel umroh di Bandar Lampung.


Kopdar di Encim Gendut

Yang namanya ketemuan, paling asyik sambil jalan-jalan atau kulineran. Rencananya mau jalan bareng Melly ke Taman Batu Granit, tapi dia baru balik dari Pulau Pisang Senin malam. Akhirnya kami ketemuan sambil kulineran saja.

Melly sempat tawarkan ajak makan bareng di Seafood Story, rumah makan milik temannya. Tapi kemudian rencana berubah, tempat makannya ganti ke RM Alas Cobek. Nah, pemilik rumah makan ini Mas Zaki Senafal, temannya Melly juga. Saya merasa tidak asing dengan nama tersebut karena pernah beberapa kali melihat namanya dalam komen di status-status FB Melly.


Hari Selasa (13/12) saya, Melly, dan mbak Naqiyyah janjian ketemu di Encim Gendut. Rumah makan ini pernah saya kunjungi pada bulan Oktober lalu. Dekat dengan Hotel Airy Tugu Adipura. Saya sudah di Encim sejak jam 10. Mbak Naqiyyah datang jam 11, Melly datang jam 12. 

Seru ngobrol dengan mbak Naqiyyah. Dari blogger, buku, parenting, sampai jalan-jalan kami bincangkan. Mbak Naqiyyah pernah jadi guru, seorang penulis buku juga. Bukunya sudah banyak. Dia bawa putrinya Aisyah, usia 2 tahun. Sedang lucu-lucunya dan sangat aktif. Sempat kejar-kejaran saking nggak mau diam. Anaknya menggemaskan.

Jajanan kesukaan yang ada di Encim Gendut

Mbak Naqiyyah baru pertama ketemu Melly. Bertiga kami ngobrol sambil makan. Oh ya, Encim Gendut ini rumah makan yang cocok banget buat ketemuan sambil  ngobrol dan bersantap. Dekorasi ruangannya menarik. Banyak menu rumahan yang bisa dicicipi. Jajanan pasarnya enak-enak. 

Siang itu saya nyoba makan jengkol pedas. Olala…gitu deh rasanya :D Melly paling suka sama Choy Pan dan Sun Pan. Ketagihan katanya he he. Mbak Naqiyyah makannya nambah. Dan saya ingin bergegas nyari kopi buat melunturkan bau jengkol di mulut haha
 
Makan siang dengan tempe, tumis bunga pepaya dan jengkol balado! :D

Dari Encim kami lanjut ke Alas Cobek. Sayang mbak Naqiyyah tidak bisa ikut. Dia mesti pulang karena dua anaknya yang lain sudah menunggu di rumah. Waktu mau ke Alas Cobek, kami ditawari oleh Willy (pemilik Encim Gendut) untuk diantar oleh pegawainya. 

Yang antar Yeni (lagi) dan seorang yang lain. Bulan Oktober lalu, Yeni ini pernah antar dan temani saya ke ATM lho. Dianter pakai motor. Ditunggu sampai selesai. Baru kenal tapi baik banget mau antarin sana sini. Terharu!

Temu ceria dalam nuansa ungu :D

Makan Puyuh Goreng di Alas Cobek


Waktu mau berangkat ke Alas Cobek, cuaca mendadak berubah mendung, gerimis pun turun. Karena gerimisnya masih kecil, kami tetap jalan, terabas saja. Di tengah perjalanan hujannya jadi deras. Baju basah. Yeni lebih basah karena di depan, nyupir. Dari pada makin kuyup, kami menepi, berteduh di samping sebuah ruko. Sedangkan Melly tidak singgah, dia terabas hujannya sampai Alas Cobek :))

Hujannya lumayan lama. Saya mendekap helm pinjaman. Kedinginan. Dan hujan tidak benar-benar berhenti ketika kami melanjutkan perjalanan ke Alas Cobek yang terletak di Jl. Wolter Monginsidi. 


Melly sudah lama sampai, sekitar 20 menit. Saya langsung memesan secangkir kopi untuk menghalau dingin, sambil berusaha menghilangkan aroma jengkol yang saya makan di Encim Gendut. 

Buktikan kelezatannya di sini

Rumah makan Alas Cobek memiliki menu andalan Puyuh dan Bebek Goreng. Tapi tak hanya puyuh dan bebek, di sini ada ayam juga. Pilihan cara masak puyuh, bebek, dan ayam sama: Alasan, Sawang, Sajo, Somat, dan Suwir. Harga mulai Rp 19.000,- hingga Rp 25.000,-

Menu andalannya Puyuh. Melly pesan porsi double, saya tidak pesan makan lagi karena sudah makan di Encim Gendut. Meski tidak pesan, saya ikut menikmati puyuh gorengnya. Buat lidah saya, puyuh goreng somat buatan Alas Cobek sangat enak. Gurih dan garing. Bumbunya meresap hingga ke tulang. 

Mantap rasanya!
Ngopi dulu ngilangin bau jengkol :))

Tak berapa lama kami kedatangan Vita Rinda, blogger Lampung, seorang dosen. Saya berteman dengannya di medsos sejak tahun lalu, lewat Melly. Baru hari itu kopdar, gadis yang seru. Suka ngobrol, suka becanda, lucu.

Kami berbincang tentang blog, medsos, dan dunia traveling. Yang menggoda, Rinda dan Melly mengajak untuk jalan-jalan bareng ke Pulau Pisang, suatu hari nanti. Saya mengiyakan, walau entah kapan lagi ke Lampung.

Obrolan makin seru saat mas Zaki Senafal bergabung. Pemilik Alas Cobek ini seseorang yangsSuka ngobrol dan becanda juga. Hangat. Friendly. Bahkan saat hendak ke bandara, dia sendiri yang mengantar kami. 


Senangnya bertemu orang-orang baru, selalu terkesan dengan kebaikan yang mereka berikan. Thanks Melly sudah ajak saya ke Alas Cobek. 


Vita Rinda, Mas Zaki Senafal, Melly, dan saya

Sudah coba menu-menu unggulan Alas Cobek?

Makan Siang Kesorean di Umah Bone

Akhirnya berkesempatan makan di Umah Bone yang terletak di Jalan Way Ngison No. 3, Pahoman, Engal, Kota Bandar Lampung. Bulan Oktober lalu gagal kemari. Padahal waktu itu sudah meluncur ke Umah Bone. Tapi di tengah jalan tiba-tiba hujan, berhubung motoran, akhirnya belok ke rumah makan lain.

Umah Bone ini pernah saya lihat di facebook-nya teman saya. Saya diajak ke sini karena menurutnya tempatnya nyaman buat ngobrol-ngobrol santai sambil makan.
 

Daya tarik Umah Bone memang bukan hanya pada tempatnya yang cozy, tapi juga pada beragam menu Nusantara yang disajikannya. Rumah makan dua lantai ini tak hanya menampilkan tatanan ruang makan yang elegan dan modern, tapi juga pada karya seni lukisan bernilai yang dipajang pada dinding-dinding ruang makannya. Pemiliknya memiliki kecintaan pada seni lukis karya seniman Bali.

Menu yang tersedia terdiri dari makanan pembuka, makanan utama, seafood, sayuran, mie goreng, spaghetti, aneka minuman, teh, kopi, juice, chocolate, smooties & frappe. Banyak pilihan pada masing-masing menu. Begitu juga dengan minumannya. 


Cocok buat makan bareng keluarga, teman, maupun relasi. 



Hanya dua menu yang saya coba. Tapi porsinya banyak, bahkan kebanyakan. Sedang sama-sama tak doyan makan, yang dipesan hanya yang disuka dan bisa dimakan saja. Sedang terburu-buru juga mau berangkat ke Batu Granit Tanjung Bintang. 

Jemputan datang, makan belum selesai. Akhirnya makanan dibungkus, dibawa pergi siapa tahu kalau masih lapar bisa dimakan lagi di jalan. Sampai sore setelah kembali dari Batu Granit, makanannya masih bagus, saya makan juga meski nggak habis.  

Capcay dan udang asam manis




Saya suka Umah Bone. Suka pada suasana di ruang makannya. Asyik buat berlama-lama. Bisa banyak ajak orang kalau ke sini, kapasitasnya banyak. Saya lihat di Instagram Umah Bone, kerap dijadikan tempat acara ulang tahun anak-anak. Acara kumpul-kumpul keluarga, arisan, dan gathering. 


Ada saja cerita yang bisa ditulis dari Lampung, walau hanya di kotanya saja. Cerita kulineran kali ini menambah daftar tempat kuliner di Lampung yang pernah saya datangi. Kulineran tidak melulu di restoran yang ber-AC dan berlantai licin, saya juga mencicipi kulineran tenda pinggir jalan. Jika sebelumnya saya mencicipi sate pikul pinggir jalan, kemarin saya juga mencicipi seafood di warung tenda pinggir jalan. Saya lupa nama tempatnya, lupa untuk foto makanannya. Tapi ceritanya ada dalam ingatan saya.




Desember masih musim hujan. Sejak awal datang sampai pulang, tiap hari hujan. Waktunya tidak tentu. Kadang pagi, siang, sore, dan malam. Sempat merasakan hujan-hujanan di atas motor. Pulang dari Lampung demam 2 hari. Berlanjut beberapa hari kemudian. Jebol juga pertahanan. Jatuh sakit. Tapi tidak menyesal.

Ada yang mau merayakan tutup tahun 2016 dengan liburan ke Lampung?

Di blog saya ini ada beberapa postingan tentang destinasi wisata di Lampung. Mungkin bisa jadi referensi. Coba cari dengan mengetik “Lampung” atau “Wisata Lampung”. Nanti akan ketemu dengan beberapa tulisan tentang wisata alam, kuliner, museum, hingga hotel di Lampung. Semoga ada yang cocok ya.

Selamat berlibur di Lampung ^_^ 


=================

Info buat traveler yang hendak menginap di Airy Rooms:


PROMO AKHIR TAHUN AIRY ROOMS!!

Gunakan kode kupon AIRYMURAH30 untuk mendapatkan potongan harga sebesar 30% khusus untuk hotel Airy di kota Jakarta, Bandung, Bali, Makassar, Surabaya, dan Batam.

Dan gunakan kode kupon AIRYMURAH20 untuk mendapatkan potongan harga sebesar 20% untuk semua hotel Airy di kota lainnya (selain 6 kota di atas).

Syarat dan ketentuan :

• Kupon berlaku tanpa minimum transaksi dalam satu nomor pesanan.
• Berlaku untuk pemesanan melalui Airy App versi terbaru (minimal Android 1.6.1 dan iOS 1.4.2)
• Berlaku untuk semua metode pembayaran yang tersedia di layanan Airy Rooms.
• Promo mengacu pada ketersediaan jumlah kamar setiap harinya.
• Periode booking berlaku hingga 31 Desember 2016.
• Periode inap: kapan pun.
• Airy Rooms berhak sepenuhnya untuk mengubah syarat dan ketentuan promo tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.