Tampilkan postingan dengan label Curug Ngumpet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curug Ngumpet. Tampilkan semua postingan

Trekking Curug Cibingbin Sentul: Menyusuri 5 Curug dalam Satu Perjalanan

Trekking Sentul Curug Cibingbin

Alam selalu punya cara untuk menyegarkan jiwa dan menyehatkan raga. Sesekali perlu ganti suasana, dari aroma kopi dan kue di kafe ke aroma hutan dan air terjun. Dua-duanya bikin bahagia. Kalau bisa menikmati kopi dan cemilan di hutan, lebih seru kan? Tapi kali ini saya nggak pake ngopi. 😆

Berdelapan menapaki lima curug, dari Curug Cibingbin yang ramai sampai Curug Ngumpet yang benar-benar ngumpet. Jalurnya menantang, nanjak panjang, basah-basahan dari trek awal, tapi serunya luar biasa!

Suasana alamnya dapet banget pas di Curug Penganten, Curug Tiga Perjaka, Curug Cisalada, dan Curug Ngumpet. Bener-bener di dalam hutan yang nggak ada warung kiri kanannya. Airnya sangat jernih, sejuk, dan bersih. Salut deh sama yang sudah lebih dulu berkunjung tanpa meninggalkan sampah.

Lewat sungai, kebun, sawah, hutan, bebatuan, tanjakan dan turunan curam... semua lengkap. Kelar trekking kali ini, saya kira bakal pegal-pegal kayak sebelumnya. Ternyata enggak sama sekali. Masya Allah.

Yang bikin hati makin senang, kali ini saya bisa trekking bareng suami dan anak lanang, selain tentunya sama teman-teman blogger yang semangat main ke desa dan hutan meski sehari-harinya tinggal di kota. Perihal suami dan anak ikut ini sebenarnya nggak ada dalam rencana.

Awalnya suami cuma niat nganterin saya ke Sentul. Rencananya, setelah itu beliau mau nunggu di sebuah kafe sampai saya selesai trekking. Tapi tiba-tiba beliau malah ngomong, “Ngapain ya aku nungguin lama dari pagi sampai sore di sana? Apa aku ikut trekking saja?”

Otomatis saya jawab, “Ayo, Papa ikut aja trekking!” 😆

Nggak lama kemudian, Alief ikut nyeletuk, “Ngapain Papa laki-laki sendiri di antara ibu-ibu? Aku temani saja.”

Langsung saya jawab lagi, “Ayo, Alief ikut temenin Papa.”

Ya sudah, deal. Akhirnya dua-duanya ikut trekking. Wkwkwk. Jadilah suami dan anak lanang saya ikut bergabung dengan rombongan ibu-ibu blogger. Mereka senang, saya apalagi.

Nggak cuma seru, sederet drama juga ikut menyertai perjalanan trekking kali ini. Naaaah!!

trekking sentul curug cibingbin
Di titik start trekking Cibingbin. Jalan Bojongkoneng, dekat Pos Jati

Trekking ala Food Blogger, Seru dan Ada Dramanya

Trekking Cibingbin di Sentul, Bogor ini terlaksana hari Minggu, 19 Oktober 2025. Kegiatan ini merupakan agenda bersama Food Blogger Indonesia (FBI) dalam rangka HUT ke-3. Karena itu, yang ditawari untuk ikutan memang terbatas untuk member Komunitas Food Blogger saja.

Nah, kenapa pilih trekking? Konsepnya masih sama seperti trekking sebelumnya waktu Food Blogger Trekking Leuwih HejoBiar bergerak dan berkeringat di alam, tapi tetap ada makan-makannya. Bedanya, kali ini petualangannya dulu, baru makan-makan. Kalau biasanya yang dilatih lidah, sekarang gantian kaki. Gitu...

Dari sekian banyak member komunitas yang tinggal di Jabodetabek, hanya enam juta orang saja yang bisa ikutan. Enam juta!!! Jutaaaan, gaeees! Hahaha. Tak apa, biar sedikit asal dramatis hihi. Yang ikut saya, Mbak Nurul, Mbak Nik, Manda, Ria, dan Isti.

Beda dengan trekking sebelumnya yang minim drama, bahkan boleh dibilang nggak ada drama, kali ini malah berlimpah drama. Drama yang sekarang kalau diingat malah jadi bahan ketawaan. Pas kejadian tetap ada ketawanya sih, tapi kan banyak tegangnya juga. Namanya juga kejadian, pas ngalamin belum tentu bisa langsung diketawain. Kadang harus diselesaikan dulu dramanya, baru nanti jadi bahan cerita.

Dan drama kali ini bahkan sudah dimulai sebelum kaki menginjak jalur trekking. 

food blogger trekking sentul
Trekking bareng: Katerina (saya), Nurul, Nik, Isti, Ria Andika, Amanda.

Drama Sebelum Trekking : Salah KRL dan Senggolan Mobil

Mbak Nurul jam 6 pagi sudah di KRL, tapi dia salah naik kereta! KRL yang dinaikinya ternyata nggak berhenti di Stasiun Cilebut, tapi malah terus ke “negara” bernama Nambo. Akhirnya Mbak Nurul ikut terus sampai Stasiun Citayam, lalu ganti KRL arah Jakarta dan turun di Stasiun Cilebut. Jadi sebelum trekking di Sentul dimulai, sudah ada satu orang yang lebih dulu melakukan trekking versi KRL. Hahaha.

Belum selesai urusan per-KRL-an, perjalanan menuju titik kumpul juga sudah memberikan kejutan berikutnya. Jalan menuju titik start trekking, dekat Pos Jati, sempit banget. Saat papasan di jalan yang menanjak, mobil yang saya bawa sampai disenggol mobil lain yang harusnya maju terus, eh malah mundur. Nggak tahu gimana ceritanya, mobil itu sampai nggak terkendali dan akhirnya nyenggol mobil kami. Lecet pula.

Untungnya nggak sampai jadi masalah besar. Kami akhirnya bisa terlepas dari situasi yang nggak aman itu dan sampai di lokasi parkir titik start trekking.

Berikut ini saya sematkan titik parkir kami waktu itu, sekaligus titik start trekking menuju Curug Cibingbin. Siapa tahu suatu saat mau kembali ke sini dengan cara dan gaya perjalanan yang berbeda, tinggal buka lagi map-nya untuk jadi petunjuk arah.

Untuk parkirnya, sebenarnya nggak ada tarif khusus. Mas yang jaga bilang bayar seikhlasnya saja. Dari beberapa ulasan yang saya baca, kebanyakan orang membayar Rp20.000 untuk parkir seharian. Jadi kalau datang pagi dan pulang sore, ya kurang lebih segitu. Kalau ikhlas bayar Rp50.000 ya silakan saja. Ikhlasnya Rp1.000 saja gimana? Duh....

  

Drama Terus hingga Trekking Selesai, dari Aki-Aki Ganjen Hingga Ketinggalan Dompet di Musola SPBU

Drama trekking ini berlanjut sepanjang perjalanan dari curug ke curug, bahkan sampai trekking selesai dan kami dalam perjalanan pulang menuju Jakarta. Mulai dari balon angka HUT yang tertinggal di mobil, sepatu Isti yang mendadak minta pensiun, napas yang ngos-ngosan di tanjakan awal, sampai Mbak Nik yang akhirnya memilih rebahan di tanah.

Belum lagi ketemu aki-aki ganjen di pondok singgah, badan saya tiba-tiba oleng kayak ada yang dorong sampai nyungsep ke meja lesehan, balon angka HUT FBI yang diletakkan dekat hidangan doyong terus kayak nggak punya pendirian, sampai gunting teteh warung makan yang malah kebawa pulang oleh Ria. Sebelumnya, Ria juga sudah ketinggalan celana di rumah sampai akhirnya dipinjami gamis oleh ibu warung dekat Curug Cibingbin. Paket lengkap: celana ketinggalan, gamis pinjaman, gunting ikut pulang. Hahaha.

Suami saya juga sempat panik gara-gara salah membaca jam terkait urusan salat. Dan drama terakhir sekaligus yang paling bikin deg-degan: tas berisi dompet suami malah tertinggal di musala SPBU.

Drama trekking ini bakal saya ceritakan lengkap. Simak terus ceritanya😆

 
Trekking Bareng Zona Trekking Sentul. Pemandu yang Sama, Trekking yang Berbeda

Untuk pemandu trekking kali ini, kami kembali menggunakan pemandu yang sama seperti saat Food Blogger Trekking Leuwih Hejo sebelumnya. Waktu itu kami sudah cocok dengan Zona Trekking Sentul, terutama dengan Mas Sofyan yang jadi pemandu kami. Jadi daripada coba-coba lagi, ya pakai yang sudah kami kenal saja. Pemandunya memang ada beberapa orang, tapi kalau sudah klik sama Mas Sofyan, ngapain cari yang lain? 

Bedanya, kalau trekking sebelumnya Mas Sofyan mendampingi kami sendirian, kali ini ada satu rekannya yang ikut mendampingi. Namanya Mas Aden. Jadi total ada dua pemandu yang menemani perjalanan kami. Biayanya masih sama, Rp150.000 per orang, sudah termasuk tiket masuk wisata, tiket parkir, guide lokal, foto dokumentasi, tongkat trekking, P3K standar, jas hujan, dan air mineral.

Rutenya sendiri sekitar 3–5 kilometer pulang-pergi dengan durasi kurang lebih 2–3 jam dan masuk kategori medium. Destinasinya bukan cuma Curug Cibingbin, tapi juga Curug Tiga Perjaka, Curug Cisalada, dan Curug Ngumpet. Bonus Curug Penganten. Sepanjang perjalanan kami juga akan melewati sungai, perkebunan, dan persawahan. Jadi bukan sekadar jalan dari satu curug ke curug lain, tapi memang dapat paket lengkap suasana alamnya.

Meeting point-nya waktu itu di Weekend.ers Backyard, dekat Taman Budaya Sentul. Dari sana sebenarnya ada pilihan untuk menyewa mobil pick-up menuju titik start trekking dengan biaya Rp350.000 per mobil pulang-pergi untuk 8–10 orang. Kalau pesertanya lebih dari 10 orang, tinggal dibagi menjadi dua mobil dan biayanya dibagi rata.

Tapi kali ini kami nggak pakai pick-up. Kami membawa mobil sendiri, dan suami yang yang menyetir. Apa ada hubungannya karena nggak pesan pick-up, lalu mobil malah kena senggol di perjalanan? Hehe. Saya nggak mau buruk sangka ah. Semua sudah Tuhan atur, kan? 😆

Untuk makan siang, waktu itu memang belum termasuk dalam biaya trekking. Ada pilihan tambahan paket nasi liwet Rp40.000 per orang, lengkap dengan nasi liwet, ayam goreng, ikan asin, tahu-tempe, sayur asem, lalapan, kerupuk, dan sambal. Perlengkapan pribadi juga tentu harus disiapkan sendiri, seperti baju ganti, sepatu olahraga, topi, tas, obat-obatan pribadi, dan kacamata hitam.

Kalau melihat fasilitasnya, Rp150.000 per orang waktu itu menurut saya cukup worth it. Sudah ada pemandu, dokumentasi, perlengkapan trekking dasar, sampai P3K dan jas hujan. Tinggal siapkan tenaga, perlengkapan pribadi, dan yang paling penting: mental. Karena ternyata yang perlu dipersiapkan bukan cuma kaki untuk trekking, tapi juga mental menghadapi segala dramanya. 😂

 

Perjalanan Dimulai: Lewati Ladang, Sungai, dan Sawah

Kami tiba di titik start trekking sekitar pukul 08.30 WIB. Ada tanah lapang kecil dekat parkiran, beberapa warung di sekitarnya, dan area parkir yang cukup lapang. Di tanah lapang yang kosong itu kami dikumpulkan untuk mendapat arahan dari pemandu, mulai dari jalur yang akan dilewati hingga pesan-pesan yang berhubungan dengan keselamatan dan keamanan selama perjalanan.

Dilanjut dengan pemanasan kecil dan pembagian tongkat trekking. Setiap orang dapat satu tongkat. Tongkat ini hanya dipinjamkan, kelar trekking akan diambil lagi. Yang boleh diambil itu air minum dan jas hujan jika dipakai. Kalau nggak dipakai, tetap dipegang oleh pemandu. Jadi jangan sampai pulang-pulang malah membawa tongkat trekking sebagai oleh-oleh. 😆

Jam 09.02 WIB jadi catatan waktu saat kami berfoto usai briefing, dalam formasi lengkap sebelum perjalanan dimulai. Setelah itu, barulah kaki benar-benar diajak kerja.

Situasi di sekitar area parkir dan tanah kosong tempat kami briefing. Titik awal trekking.

Jalur pertama langsung menurun ke arah sungai dan melewati ladang singkong. Baru sekitar empat menit berjalan, saya baru sadar kalau balon angka HUT ketinggalan di mobil. Langsung deh tuh pada berhenti, dan saya minta tolong Alief kembali ke mobil untuk mengambil balon. Suami ikut ke mobil nemenin Alief. Selagi menunggu, kami berfoto di ladang singkong yang treknya menurun itu.

Oh iya, ternyata bukan cuma kami yang punya urusan barang ketinggalan. Mas Sofyan juga sempat balik ke atas karena ada barangnya yang tertinggal. Saya lupa apa, kayaknya air minum. Entahlah. 😆 Baru mulai trekking saja sudah ada yang bolak-balik. Kayaknya perjalanan kali ini memang sudah kasih tanda-tanda dari awal. 

Jadi, trek awal hingga pondok singgah pertama kami ditemani satu pemandu. Mas Sofyan ternyata nyusul pakai motor, lewat jalur lain. Dalam hati saya waktu itu, Hah, ada jalur yang bisa dilalui motor?”

Nanti di ujung cerita, setelah selesai trekking ke curug-curug, saya baru ngeh. Ternyata di awal itu kami diajak muter lewat jalur yang susah payah, padahal ada jalur mudah dan super cepat. Kalau ada yang susah, ngapain yang mudah? Gitu kali ya. Namanya juga trekking, bukan lagi jalan-jalan ala turis di kota. 😁

Ladang, sungai, sawah.
 

Setelah suami dan Alief kembali dengan drama balon angka yang ketinggalan, kami pun melanjutkan perjalanan. Treknya menurun hingga tiba di sungai. Di situ ada jembatan besi, kelihatan rangkanya kuat dan pijakannya berupa papan tebal. Lebarnya pas buat lewat dua orang yang sedang papasan.

Di bawahnya mengalir air yang sangat jernih. Suaranya gemericik, cukup berisik tapi menenangkan perasaan. Setelah itu kami melewati sawah yang padi-padinya menghijau dan enak banget dilihat.

Setelah itu barulah kami ketemu sungai lagi. Di sini saya tetap bersepatu, sementara beberapa yang lain memilih melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal. Suami dan Alief termasuk yang memilih begitu. Katanya, sayang basah. Wkwkwk. Ini mereka gak pernah trekking atau gimana dah. Kalau Alief sih iya, kalau suami? Mantan pendaki gunung-gunung tinggi di Sumatera saat dulu muda, kok melepas sepatu? 😭

Airnya sejuk banget, adem di kaki. Sampai pengin lama-lama di situ, tapi kan nanti jadi nggak sampai-sampai ke curug. Sayang kalau sudah main air di awal, biar mainnya puas-puasin di curug saja.

Meski nggak ikut main air, di sini kami tetap foto-foto-foto. Namanya juga blogger. Ada pemandangan bagus, kamera dulu yang bekerja. 😆 

Sungai kedua. Di sini mulai basahin kaki. 

Lewatin Sawah, Ladang, dan Sungai Lagi

Setelah nyebur menyeberangi sungai dengan kaki, perjalanan dilanjut dengan sepatu yang basah. Saya sendiri sambil menantang sepatu trekking seharga 100 ribuan yang sedang saya pakai. Pada trekking sebelumnya, sepatu murah itu lolos uji coba tanpa terluka, apalagi sekarat. Dia tetap tampil kokoh dan kuat. Maka di trekking kali ini, apakah dia akan tahan banting? Saya akan lihat.

Sementara suami dan Alief memilih pakai sandal, sepatunya malah ditenteng. Memang bukan sepatu trekking sih, tapi sepatu lari. Hahaha. Seingat saya Ria juga lepas sepatu deh. Maklum, kalau sudah berhadapan dengan air, masing-masing punya strategi sendiri. Ada yang rela sepatunya basah, ada yang memilih melepasnya. 

Nah, soal sepatu ternyata jadi drama tersendiri buat Isti. Nggak disangka, sepatunya rusak, jadi mangap alias kebuka. Otomatis nggak bisa dipakai lagi. Saya kurang ingat di mana persisnya kejadian itu. Dalam ingatan saya, akhirnya Isti pinjam sandal suami saya karena suami akhirnya balik pakai sepatu lagi. Kebesaran sih sandalnya, tapi daripada nyeker dan sakit ya kan..

Tapi kalau melihat jalurnya, sebenarnya nggak heran juga kalau sepatu mulai menyerah. Meski di awal-awal masih mendatar, kaki dan sepatu sudah kena basah dua kali. Setelah itu treknya makin gak nyaman, lalu perlahan makin nanjak dan membuat si alas kaki mulai kerja keras menaklukkan medan. Mungkin sepatu Isti merasa tugasnya sudah cukup sampai di situ. 😆

Sawah lagi, ladang lagi, sungai lagi

Jalur selanjutnya kami ketemu sawah lagi, sungai lagi, dan ladang lagi. Sampai sini total sudah ada tiga sungai yang kami lewati. Satu dilewati dari jembatan, dua dilewati pakai kaki, alias nyebur.

Setelah itu kami masuk area yang bukan hutan, tapi penuh semak dan sepi dari penampakan orang, pondok, apalagi kendaraan. Jalur ini akan membawa kami ke warung di atas bukit, tempat kami janjian ketemu Mas Sofyan yang menyusul lewat jalan lain.

Jalur di bagian ini terasa agak nggak mudah buat saya. Sangat ngos-ngosan. Saking harus mengatur napas dan langkah, urusan foto dan video benar-benar nggak kepikiran. HP saya simpan dulu, fokus menyelesaikan jalurnya. Makanya, foto-foto di bagian ini malah saya dapat dari rekaman Ria dan Mbak Nurul.

Jujur, baru kali ini di awal trekking saya sudah harus berhadapan dengan jalur nanjak yang panjaaang dan terjal. Teman-teman yang lain ternyata juga merasakan jalur ini cukup menguras tenaga. Kekuatan kaki dan pernapasan memang terasa mulai diuji sejak awal.

Jalur gak mudah sebelum sampai di warung singgah. Ini foto dokumentasi Ria. 
 

Lalu bagaimana dengan sepatu murah saya? Alamak, dia santai sekali. Bergeming. Nggak nampak ada tanda-tanda mau menyerah. Masih anteng menemani kaki yang sudah mulai protes. 😆

Hingga akhirnya kami pun sampai di atas, ketemu jalan besar dan pondok yang nantinya akan menjadi spot makan siang kami.

Hah? Jadi di atas itu ada jalan besar yang bisa dilewati motor, yang menghubungkan tempat parkir tadi ke pondok ini hingga ke Curug Cibingbin?

Wkwk... kayak kena prank.

Tapi nggak bikin marah. Karena ini kan trekking. Memang yang dicari trekking-nya, bukan mudah dan cepat sampainya. Kalau mau mudah dan cepat, ya tinggal naik motor. 😂 

Tanjakan panjang yang sukses bikin ngos-ngosan sepanjang perjalanan di jalur ini.

Akhirnya Sampai di Warung, Singgah Minum dan Digodain Pria Tak Dikenal

Lega bukan main saat akhirnya sampai di atas. Perjalanan di jalur pertama itu selesai juga. Saking terasa beratnya buat saya, sekali lagi saya katakan bahwa saya sampai lebih banyak melepas kamera dan nggak motret apa-apa. Fokus saya cuma satu: jalan terus.

Jadi ketika kemudian ingin melihat sebenarnya jam berapa saya mulai kesusahan dan kapan akhirnya lepas dari jalur yang bikin ngos-ngosan itu, nggak ada catatan waktunya. Biasanya masih sempat-sempatnya lihat jam atau ambil foto di tengah perjalanan. Kali ini boro-boro. HP saya simpan dulu.

Saya mulai pakai kamera lagi setelah sampai di warung, duduk dan minum. Di situ tercatat pukul 10.19 WIB. Berarti sudah sekitar satu jam lebih sejak kami mulai jalan dari parkiran. Mayan juga waktu tempuhnya.

Baru satu jam-an saja, tapi rasanya sudah kayak habis menjalani satu episode trekking sendiri. Hahaha.

Setidaknya sekarang sudah bisa duduk sebentar, minum, dan mengembalikan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan. Apalagi ternyata warung ini punya pemandangan yang lumayan bikin mata ikut segar setelah tadi lebih banyak melihat jalur di depan kaki.

Warung tempat kami singgah di awal trekking sekaligus tempat makan siang setelah trekking selesai. Foto ini diambil setelah makan siang.

Kalau dilihat-lihat, kami tadi memang seperti baru keluar dari lembah bagian bawaaah banget. Di bawah tadi jalurnya masih datar, ada sungai, sementara air mengalir dari tempat yang lebih tinggi. Makin dipikir, pantas saja setelah itu kami harus nanjak panjang. Ternyata memang dari bawah sedang dibawa naik.

Warung tempat kami singgah itu ternyata juga belum benar-benar di bagian atas. Untuk sampai ke curug terakhir, Curug Ngumpet, kami masih harus nanjak jalan kaki lebih jauh lagi.

Jadi sudah kebayang kan? Kami tadi dibawa ke bawah dulu, baru kemudian dibawa naik. Wkwkwk. Makanya begitu sampai warung, rasanya lega bukan main. Setidaknya sudah sampai di tempat yang bisa dipakai duduk dan istirahat sebentar.

Mbak Nik dan Ria jadi dua orang terakhir yang sampai di atas. Baru setelah mereka tiba saya tahu kalau di tanjakan terjal tadi Mbak Nik sempat berhenti cukup lama, lalu rebahan di tanah untuk mengistirahatkan kaki.

Saya nggak tahu soal itu karena memang sudah jalan lebih dulu di depan mereka. Untung guide kami membantu mendampingi, jadi nggak terlalu khawatir. Walaupun ya... tetap khawatir banget lah mikirin Mbak Nik. 😆

Di Warung Dua Putra

Warung bernama Dua Putra yang kami singgahi itu nantinya juga menjadi tempat kami makan siang. Kalau dibandingkan dengan warung makan saat trekking Leuwih Hejo, bentukannya jauh berbeda. 

Kalau soal pemandangan, warung ini justru punya daya tarik sendiri. Letaknya di ketinggian, menghadap ke lembah dengan bukit-bukit hijau yang terbentang di depan mata. Duduk sambil minum air kelapa, melihat hamparan hijau setelah sebelumnya ngos-ngosan di tanjakan, rasanya seperti alam sedang bilang, “Tuh, capeknya tadi ada hasilnya.”

Istirahat sambil menikmati segarnya air kelapa muda murni di sini rasanya melegakan sekali. Sempat jajan makanan juga buat tambahan energi. Biar yang kerja bukan cuma kaki, perut juga harus dikasih bagian. Tak ketinggalan, foto-foto juga tetap jalan. Soalnya foto-foto itu bikin senang. Dan kalau sudah senang, tenaga rasanya ikut balik lagi. Hehe.

Yang singgah di warung ini bukan cuma kami. Ada beberapa rombongan trekking lain yang juga sedang mampir istirahat. Nah, di sinilah muncul satu kejadian yang bikin teman-teman saya nggak nyaman.

Singgah minum air kelapa di Warung Dua Putra
 

Ada bapak-bapak lansia yang cukup caper ke teman-teman saya. Mulai dari nanya-nanya nama, menawarkan diri untuk memotret, sampai sempat memotret diam-diam. Teman-teman saya tentu risih. Karena dicuekin, akhirnya bapak-bapak tersebut menjauh sendiri dan berhenti.

Mungkin kode cueknya sudah cukup jelas. 😅

Di depan warung ini ada jalan yang bisa dilewati motor. Ada juga beberapa kamar mandi untuk bilas. Tak jauh dari warung terdapat gerbang pertama dengan pos jaga yang menjadi penanda kawasan wisata Curug Cibingbin.

Jadi, secara lokasi, tempat ini sebenarnya bisa dibilang sudah menjadi salah satu titik awal menuju Curug Cibingbin. Tapi buat kami, ini bukan awal lagi. Kami sudah semaput duluan demi sampai ke sini. Hahaha.

Petunjuk jalan menuju Curug Cibingbin. Gerbang masuk menuju Curug Cibingbin. Aliran air di pinggir jalan jalur Curug Cibingbin

Pesona Curug Cibingbin

Pukul 10.34 WIB adalah waktu yang tercatat saat saya memotret pos masuk jalur Curug Cibingbin. Tidak ada tiket yang kami bayar karena biaya pemandu sudah termasuk dengan tiket masuk kawasan.

Dari sini jalurnya masih relatif datar. Pohon-pohon tumbuh di kiri kanan jalan, tapi belum sampai rimbun yang membuat suasana menjadi gelap. Suasananya masih seperti kawasan desa yang dihuni warga. Sesekali ada motor lewat, suara deru mesinnya memecah keheningan alam perbukitan yang udaranya masih segar dan bersih.

Video jalur trekking Curug Cibingbin

Pengunjung lain juga sudah mulai terlihat berjalan di jalur yang sama. Kadang kami berpapasan dengan orang yang berjalan ke arah berlawanan, alias sedang pulang. 

Di beberapa bagian, saya melihat aliran air di sisi kanan jalan yang menuruni kemiringan bukit. Di sisi kiri, ada sungai yang mengalir turun menuju lembah.

Perjalanan kali ini terasa jauh lebih ringan dibanding jalur sebelumnya. Mungkin karena belum ada adegan nanjak dan turun yang bikin kaki sibuk bernegosiasi dengan medan. 

Makin jauh berjalan, mulai terlihat warung, musala, dan beberapa fasilitas lain milik pribadi. Ternyata lokasi curug memang sudah semakin dekat.

Warung-warung di kawasan wisata Curug Cibingbin

Benar saja, dari warung tempat kami singgah sebelumnya hanya perlu sekitar 12 menit berjalan kaki untuk sampai ke kawasan Curug Cibingbin. Saya sempat mengira bakal masuk hutan lagi, ternyata malah masuk ke area yang cukup ramai.

Di sini sudah ada berbagai fasilitas untuk pengunjung, mulai dari kamar mandi, toilet, dan musala, sampai tempat makan dan minum. Bahkan ada yang jual baju dan sandal. 

Pengunjungnya juga lumayan banyak. Jadi suasananya sudah beda jauh dengan jalur sebelumnya yang sepi dari manusia, pondok, apalagi kendaraan. 

Ohya, di sini jasa ojek pun ada. Jadi, kalau mau kembali ke parkiran mobil tapi kaki sudah tak kuat melangkah, tinggal pesan ojek saja. 

Curug Cibingbin

Sebelum benar-benar sampai ke bagian utama curug, ada papan nama bertuliskan “Selamat Datang di Curug Cibingbin”. Bentuknya mirip gapura, hanya ukurannya lebih kecil. Semua pengunjung akan melewati papan ini untuk melanjutkan langkah mendekati curug.

Dan begitu melihat Curug Cibingbin, baru terasa kenapa curug ini jadi salah satu tujuan utama di perjalanan kami. 

Airnya jatuh dari ketinggian melewati bebatuan yang lebar dan bertingkat, membentuk aliran putih yang terlihat cukup deras. 

Di sekelilingnya, pepohonan hijau tumbuh rapat dan membuat air terjun ini terasa menyatu dengan alam di sekitarnya. Dari bawah, bentangan curugnya juga terlihat cukup besar dan megah.

Curug Cibingbin

Menurut saya, Curug Cibingbin memang lebih tinggi dan lebih lebar dibanding curug-curug yang kami kunjungi saat Food Blogger Trekking Leuwih Hejo sebelumnya. 

Di bagian bawahnya terdapat kolam yang cukup lebar dan dalam. Sebelum airnya tumpah lagi menuju sungai, ada kolam buatan yang dibuat oleh pengelola dan bisa digunakan untuk berenang anak-anak dengan tetap dalam pengawasan.

Di sini Isti terlihat paling semangat. Dia langsung berenang dan berendam di kolam curug, berpindah-pindah ke beberapa sudut yang menurutnya ideal untuk menikmati sejuknya air. Saya sendiri belum mau masuk air saat itu, jadi cuma melihat-lihat. 

Alief juga belum mau. Katanya nanti saja kalau sudah sampai curug berikutnya. Mungkin karena di sini masih ramai, jadi dia masih menyimpan niat nyeburnya untuk tempat yang lebih sepi. 

Kalau nggak salah, di sinilah Ria dikasih gamis oleh ibu warung. 

Dan kalau nggak salah juga, di sinilah Isti mulai pinjam sandal suami saya. Soalnya kalau melihat foto-foto di lokasi ini, ada foto suami dan Alief yang sedang memasang sepatu. Mungkin sejak itulah urusan sandal berpindah tangan. 😆

Oh iya, di sini saya nggak jajan apa-apa meski warungnya cukup banyak. Tadi sudah minum dan jajan camilan di warung Putera Dua, tempat kami singgah sebelumnya. Jadi kali ini cukup menikmati curug, foto-foto sendiri dan bareng-bareng, lalu melanjutkan perjalanan ke curug berikutnya.

Kiri: Musala di kawasan wisata Curug Cibingbin. Kanan: Tanjakan di belakang Ria merupakan jalur trekking ke curug-curug berikutnya.

Curug Penganten, Bonus yang Nggak Ada di Dalam Daftar Trek

Kurang lebih 20 menit saja kami berada di Curug Cibingbin. Isti sudah basah-basahan, sementara yang lain masih anteng dengan pakaian masing-masing. Saya senang melihat Isti happy bermain air. Kelihatan banget kalau dia memang niat menikmati sensasi main air di setiap curug yang menjadi tujuan trekking kali ini.

Kalau saya? Cukup lihat-lihat saja. Bukan karena nggak mau main air, tapi kulit saya punya semacam alarm sendiri. Kalau badan basah, lalu masih harus jalan, kena keringat, kena udara dingin dan hembusan angin, biasanya kulit mulai gatal. Bukan gatal yang masih bisa diajak kompromi. Sekali muncul, rasanya pengin digaruk terus.

Kalau cuma basah lalu diam, biasanya aman. Tapi basah + jalan + angin + dingin, itu kombinasi yang biasanya bikin kulit saya protes. Makanya kalau trekking saya lebih memilih jangan cari perkara. Sempat juga alerginya muncul di trekking kali ini, tapi masih saya tahan. Baru setelah perjalanan pulang menuju warung makan siang saya buru-buru bilas dan ganti baju. Jadi kalau waktu itu kelihatannya saya seperti paling nggak sabar mau masuk kamar mandi, sebenarnya ada misi penyelamatan kulit di baliknya. Hehe.

Oke, lanjut lagi ke cerita berikutnya. Ini dia video jalur trekking dari Curug Cibingbin menuju Curug Tiga Perjaka. Di tengah perjalanan, kami sempat mampir ke Curug Penganten yang ternyata jadi bonus di luar daftar trek. 😆

Dari kawasan Curug Cibingbin, kami ternyata langsung disambut tanjakan. Bukan tanjakan yang bisa dilewati sambil ngobrol santai sambil sesekali menoleh ke belakang. Ada bagian yang kemiringannya membuat kami harus lebih hati-hati dan mulai rajin mencari pegangan.

Untung kiri-kanannya sudah dipasang bambu. Makin ke atas, ada tali panjang di sisi kanan yang juga bisa dipakai buat berpegangan. Tongkat trekking pun mendadak naik pangkat. Yang tadinya cuma dianggap aksesori tambahan, sekarang berubah jadi alat bantu menjaga keseimbangan.

Apalagi sisi kirinya jurang. Dan di bawah sana adalah Curug Cibingbin yang tadi baru saja kami nikmati. Jadi kalau biasanya melihat curug dari bawah itu menyenangkan, di sini jangan sampai malah melihat curug dari sudut pandang yang salah. Bisa berabe. 😆

Syukurnya waktu itu nggak hujan. Jalurnya jadi masih bisa dipijak dengan cukup aman. Kalau hujan, saya nggak mau membayangkan bagaimana licinnya. Pegangan sudah ada, tongkat sudah ada, tinggal mentalnya saja yang harus ikut dipasang.

Makin ke atas, udara terasa semakin sejuk dan suasana hutannya juga makin terasa. Kami terus berjalan menuju Curug Tiga Perjaka.

Jalur trekking berupa tanjakan panjang menuju Curug Penganten dan curug-curug lainnya.

 
Naaaah, di tengah perjalanan kami ketemu sungai lagi.

Awalnya saya kira, “Oh, paling nyebrang sungai lagi.” Ternyata kali ini sungainya punya bonus. Di situ ada curug kecil yang tetap diberi nama curug. Namanya Curug Penganten.

Jadi ini memang bonus yang nggak ada di daftar tujuan trekking kami. Sudah bayar paket lima curug, eh dapat satu tambahan. 😆

Curugnya memang kecil, tapi suasananya enak banget. Adem, cukup datar, dan ada tempat yang nyaman buat duduk sebentar. Akhirnya kami berhenti dan foto-foto bersama.

Kalau area di kiri-kanannya lebih lapang, tempat seperti ini sebenarnya enak juga buat camping. Tapi setelah melihat kondisinya, saya malah berpikir, jangan terlalu banyak diutak-atiklah. Biarkan saja jadi tempat yang dilewati, lalu disinggahi sebentar oleh orang-orang yang kebetulan menemukannya. Kadang tempat seperti ini justru menarik karena masih terasa apa adanya.

Curug Penganten

Ohya, di sini tuh sepi. Gak ada warung dan keramaian. Bebas dari suara berisik orang-orang. Jadi suasananya tuh sangat tenang. Rasanya benar-benar berada dalam pelukan alam.

Sesaat kami menikmati suasana, sembari berfoto bersama. Setelah itu lanjut melangkah lagi. Jalurnya kembali agak menanjak. Kami bertemu dua pohon yang dipasangi kain bermotif seperti papan catur. Saya nggak tahu itu memang sengaja dipasang sebagai penanda atau bagaimana. Tapi dari posisi kami berjalan, dua pohon itu kelihatan seperti gerbang.

Saya sampai mikir, “Wah, ini gerbang menuju level berikutnya kali ya?” Hehe.

Dan benar saja, nggak lama setelah melewati dua pohon itu, kami ketemu sungai lagi. Nyebrang lagi. Pakai kaki lagi.

Pohon berkain dan jalur sungai yang lebih sulit dari sebelumnya

Tapi sungai yang satu ini nggak bisa diperlakukan seperti sungai sebelumnya. Airnya lebih deras, suara gemuruh airnya lebih kencang, dan pijakannya bikin kami harus lebih hati-hati. 

Kalau tadi bisa nyebrang sambil santai, yang ini mesti pelan-pelan mencari batu yang paling aman untuk diinjak.

Tongkat trekking kembali menunjukkan jasanya. Kaki juga harus kuat menahan badan supaya nggak goyah. Karena kalau sampai kehilangan keseimbangan, urusannya bukan lagi sekadar kaki dengan sepatu basah. Malah bisa sekalian mandi sebelum waktunya. 😆

Video jalur sungai dari Curug Penganten ke Curug Tiga Perjaka:

Berhasil melewati sungai, kami lanjut nanjak sedikit. Mulai menginjak batu-batu besar, mengikuti jalur ke atas, dan kemudian...

Tarraaaaaa!

Sampailah kami di Curug Tiga Perjaka.

Pesona Curug Tiga Perjaka

Akhirnya sampailah kami di Curug Tiga Perjaka. Batu besar tempat kami dinyatakan sudah tiba menjadi tempat berpijak yang cukup kokoh untuk melihat curug dari atas. Dari sini kelihatan ada tiga aliran air yang jatuh ke tempat yang sama.

Saya langsung menghubung-hubungkan sendiri. Mungkin karena ada tiga curug, makanya namanya Tiga Perjaka. Kalau kata “tiga” sudah jelas. Nah, “perjaka”-nya ini yang belum ketemu hubungannya. Kenapa harus perjaka? Ada apa dengan para perjaka? Hehe. Tapi ya sudah, nggak usah dipikirin juga. Namanya sudah begitu, tinggal dinikmati pesonanya.

Curug Tiga Perjaka Sentul Bogoro
Curug Tiga Perjaka

Dari atas, curug ini kelihatan cukup tinggi. Saya jadi mikir, kalau orang meluncur dari atas lalu jatuh ke kolam di bawah, kayaknya lumayan sakit. Soalnya kolamnya ternyata nggak dalam-dalam amat. Untuk orang dewasa dengan tinggi sekitar 160 cm, airnya bisa sampai leher.

Mau turun ke kolam, tentu harus melewati turunan dulu. Dari batu tempat kami berdiri ada bagian yang bisa dilalui dengan cukup aman, tapi tetap harus hati-hati. Jalurnya sempit, dan untuk sampai ke kolam di bawah curug ini jelas harus basah-basahan.

Buat saya yang nggak tinggi ini, bahkan bisa kelelep. Hahaha.

Saya sempat melihat Alief berdiri di air dan kelihatannya cuma dangkal. “Ah, segini mah aman,” pikir saya. Begitu saya ikut masuk, lha kok hampir seleher?! Oalah... lupa. Alief kan tinggi. 😆

Kalau sepinggang masih oke. Tapi kalau sampai leher, saya belum siap. Selain nggak mau basah sampai leher, udara di sini juga terasa lebih dingin. Akhirnya saya minta digendong suami sampai ke bagian yang lebih dangkal. Begitu airnya sudah cukup aman buat ukuran saya, baru deh bisa turun dan berdiri sendiri tanpa takut tenggelam. Hahaha.

Curug Tiga Perjaka

Sementara itu saya lihat Isti dan Mbak Nurul sudah sampai di bagian jatuhan air. Airnya langsung jatuh ke punggung mereka. Katanya nggak sakit, malah rasanya seperti dipijat-pijat.

Wah, enak dong. Tapi saya nggak berani. Hahaha.

Air terjun ini memang nggak tinggi-tinggi banget, jadi jatuhan airnya masih cukup aman. Kalau yang tinggi seperti Air Terjun Putri Malu di Way Kanan, Lampung, atau Tiu Kelep di Lombok, saya sih nggak berani membayangkan berdiri tepat di bawah jatuhannya. Yang tinggi begitu kalau airnya menghantam kepala, bisa-bisa bukan cuma rambut yang berantakan. Kepalanya sekalian minta pertanggungjawaban. 😆

Alief justru happy banget. Bisa mendekati jatuhan air, nyelem, dan berendam di sini. Dan untuk pertama kalinya selama trekking ini, saya melihat Alief dan Mas Arif ikut nyebur. Mungkin karena tempatnya memang sudah memungkinkan untuk bermain air seperti itu.

Tapi Mas Arif ternyata nggak cuma dapat pengalaman berendam. Kacamatanya sempat jatuh. Kacamatanya berhasil diamankan, tapi satu nose pad-nya copot dan hilang.

Padahal airnya jernih dan dasar sungainya kelihatan. Tapi barang sekecil nose pad kalau sudah jatuh ke air dan ikut terbawa arus, ya tetap saja susah dicari. Bentuknya kecil, warnanya juga nggak mencolok. Mencari nose pad di antara batu-batu sungai itu kurang lebih seperti mencari jarum ditumpukan jerami. Hahaha.

Video Curug Tiga Perjaka:

Oh iya, waktu pertama sampai di sini, yang sudah lebih dulu tiba baru saya, Mas Arif, Alief, Isti, Mbak Nurul, dan Manda. Ria dan Mbak Nik belum kelihatan. Kami mengira mereka masih istirahat di pondok-pondok sekitar Curug Cibingbin.

Eh, pas kami sudah selesai main air dan mau keluar dari Curug Tiga Perjaka, baru deh mereka muncul. Yang bikin senang, Mbak Nik tiba dengan wajah sumringah, jalannya pun mantap, jauh beda sama sebelumnya yang sempat tepar. Ternyata baterainya cuma butuh waktu buat ngecas ulang, dan sekarang sudah balik ke 100%. 😆

Terbukti setelah dari Curug Tiga Perjaka, Mbak Nik masih lanjut terus sampai curug terakhir, Curug Ngumpet. Jadi rebahan di tanjakan tadi bukan tanda menyerah. Cuma ambil jeda sebelum lanjut berjuang lagi. Hahaha.

Video berikut ini menunjukkan kondisi jalur sungai yang merupakan jalur di atas Curug Tiga Perjaka. Jadi, untuk lanjut ke Curug Silada, naiknya dari sisi Curug Tiga Perjaka. Datang dan perginya lewat jalur yang sama. Boleh dibilang ini memang cukup sulit karena curam, jadi tingkat kehati-hatiannya memang harus tinggi... 



Curug Cisalada, Kecil tapi Panjang dan Landai. Kolamnya Lebar

Curug Cisalada ini curug ke-4 sebelum Curug Ngumpet yang jadi pamungkas perjalanan. Letaknya berdekatan dengan Curug Tiga Perjaka. Hampir nggak ada jarak. Dari atas Curug Tiga Perjaka, Curug Cisalada sudah langsung tersambung, jaraknya kurang lebih cuma 20 meteran.

Tapi untuk naik dari Curug Tiga Perjaka ke Curug Cisalada, tetap ada tantangannya. Jalurnya curam, berbatu, dan basah, jadi harus benar-benar hati-hati menapakkan kaki. Letaknya di sisi kanan Curug Tiga Perjaka. Untungnya pendek, paling sekitar 3 meter sudah sampai atas.

Begitu sampai atas, langsung terpampang bentangan sungai yang lebih lebar dari sungai-sungai sebelumnya. Bagian sungainya dangkal dan dipenuhi batu. Airnya mengalir cukup deras, suara gemuruhnya juga lebih kencang. Udara di sini pun terasa semakin dingin.

Curug Cisalada

Dari sini terlihat Curug Cisalada yang bentuknya berbeda dari Curug Tiga Perjaka. Airnya nggak jatuh dari ketinggian yang menjulang, tapi mengalir memanjang dan landai mengikuti bentuk bebatuan. Dari atas, air turun melewati beberapa undakan batu, lalu mengalir ke kolam yang cukup lebar di bawahnya.

Saya yang badan sudah basah dari beberapa kali menyeberangi sungai mulai merasa kedinginan. Akhirnya nggak sanggup lagi berendam di kolam curug. Padahal kolamnya nggak dalam-dalam amat. Saya lihat Alief yang tingginya 174 cm, airnya kira-kira cuma sampai sedada. Lumayan, masih bisa berenang dan bermain air.

Saya sempat lihat Alief berdiri di air dan kelihatannya dangkal. Saya pun ikut masuk dengan pede. Begitu airnya sudah hampir sampai leher, baru sadar: oh iya, Alief tingginya 174 cm. Saya mah bukan. Hahaha.

Kalau sepinggang masih oke. Tapi kalau sudah hampir seleher, saya belum mau. Udara di sini juga semakin dingin, sementara badan sudah basah. Bisa-bisa niatnya mau menikmati curug, malah sibuk menahan dingin. Hahaha.

CURUG CISALADA

 
Nah, kalau yang jebar-jebur di sini ada Mbak Nik dan Isti. Isti malah paling lincah. Dia pindah-pindah terus ke berbagai sudut. Mulai dari naik ke batu di atas curug, masuk ke celah-celah batu, sampai akhirnya ke kolam. Kayaknya semua bagian mau dicoba. Hehe.

Melihat mereka yang kesenangan bermain air, saya juga ikut senang. Rasanya kayak ikut merasakan serunya main air, walaupun saya sendiri cuma kebagian melihat dari pinggir. 

Curug Cisalada memang nggak tinggi-tinggi amat, tapi aliran airnya panjang dan landai, melewati bebatuan sebelum sampai ke kolam yang cukup lebar. 

Di sekelilingnya masih dipenuhi pepohonan dan batu-batu besar, dengan suara air yang terus mengalir deras. Ukurannya memang tidak sebesar Curug Cibingbin, tapi bentuk aliran dan kolamnya membuat curug ini tetap ideal untuk berendam dan berenang.

Yang saya suka, sejak Curug Penganten, Curug Tiga Perjaka, hingga Curug Cisalada nggak ada warung atau fasilitas lain yang membuat suasana alaminya jadi berkurang. Benar-benar cuma hutan, bebatuan, curug, dan air yang sejuk mengalir bebas.

Nggak ada suara orang jualan, nggak ada suara kendaraan, nggak ada teriakan-teriakan. Yang terdengar ya suara kami sendiri yang malah kalah oleh suara deru air.

Hari itu kami sempat berpapasan dengan beberapa pengunjung yang sedang berjalan kembali karena mereka sudah lebih dulu selesai. Jadi jelas bukan cuma kami yang pernah sampai ke sini. 

Air mengalir di antara bebatuan, di Curug Cisalada

Saya rasa, nggak terlalu banyak orang yang sampai ke curug-curug setelah Curug Cibingbin karena jalurnya memang sudah nggak semudah di bagian awal. Selain terus menanjak, di beberapa bagian sisi jalurnya juga berupa tebing yang cukup curam. Apalagi dari Curug Tiga Perjaka menuju Curug Cisalada. Meski jaraknya dekat, jalurnya menanjak cukup tegak karena berada tepat di sisi curug.

Kemungkinan karena medan seperti ini juga, keluarga yang membawa anak-anak nggak banyak terlihat sampai ke sini. Jalur yang paling aman dan ramah untuk anak memang sampai Curug Cibingbin. Setelah itu, jalurnya mulai lebih menantang. Mungkin ini pula yang membuat Curug Penganten, Curug Tiga Perjaka, dan Curug Cisalada terasa lebih sepi.

Dan justru karena itulah suasananya terasa damai dan tentram. Nggak banyak orang, nggak ada bangunan atau aktivitas macam-macam. Yang ada cuma pepohonan, bebatuan, air yang mengalir, dan sesekali kami yang sibuk foto-foto. Hehe.

Buat saya, suasana seperti ini malah menyenangkan. Setelah dari tadi berjalan, naik, turun, dan menyeberangi sungai, bisa berhenti di tempat yang tenang seperti ini rasanya pas banget. Nggak perlu banyak apa-apa. Curugnya ada, airnya sejuk, hutannya masih terasa, dan kita bisa menikmatinya tanpa harus berebut tempat dengan terlalu banyak orang. 

Video di Curug Cisalada:


Curug Ngumpet, Pamungkas Perjalanan ke Curug

Curug Ngumpet jadi tujuan terakhir dalam trekking dari curug ke curug kali ini. Letaknya ternyata makin tinggi, jadi dari Curug Cisalada kami masih harus nanjak lagi. Jaraknya sih nggak jauh. Katanya, curug ini malah lebih bagus dibanding semua curug yang kami jumpai hari itu. Penasaran, iya. Tapi waktu itu hati dan badan sudah sepakat untuk cukup sampai Curug Cisalada saja. Hahaha.

Dari Curug Cisalada, jalurnya tinggal naik sedikit lewat sisi kiri curug. Saya sempat melihat ada jembatan kecil dari susunan bambu dan kayu yang menjadi akses untuk naik ke atas. Dari situlah jalur menuju Curug Ngumpet.

Yang naik hanya Mas Arif, Alief, Mbak Nik, dan Isti, didampingi Mas Sofyan. Sementara Mas Aden, pemandu satunya, tetap menemani kami yang memilih tinggal di Cisalada.

Jadilah kami berempat yakni saya, Mbak Nurul, Ria, dan Manda duduk-duduk di bebatuan Curug Cisalada. Badan sudah mulai kedinginan karena dari tadi basah, sementara berendam atau berenang rasanya sudah bukan pilihan. Akhirnya kami mengeluarkan  biskuit dari ransel. Lumayan, sambil duduk menikmati curug, perut juga dikasih kerjaan. Sudah jamnya makan siang juga saat itu. Biskuit bisa buat ganjel laper sebelum ketemu makan siang.

Kemasan bekas makanan kami masukkan lagi ke dalam ransel. Nanti dibuang di tempat yang semestinya. Masa datang ke alam buat menikmati pemandangan, pulangnya malah ninggalin sampah? 

Video di Curug Cisalada ini memperlihatkan suasana saat itu. Sepi, tenang, dan damai sekali rasanya...

Justru momen duduk-duduk di Curug Cisalada ini yang paling saya ingat. Nggak ada agenda apa-apa. Kami cuma duduk di bebatuan, ngemil sedikit, menikmati udara yang sejuk, dan mendengarkan suara air yang terus mengalir. Nggak berendam, nggak berenang, nggak sibuk cari spot foto ke sana kemari. 

Mas Aden yang menjaga kami malah mulai terkantuk-kantuk. Mungkin suara air dan burung di sekitar sini memang cukup ampuh jadi ninabobo. Tapi tidur beneran juga nggak mungkin, kan? Bagaimanapun, pemandu tetap harus siaga. Hehe.

Sambil menunggu teman-teman yang naik ke Curug Ngumpet, kami sempat melihat beberapa perempuan dengan outfit hampir seragam, lengkap dengan helm pengaman dan beberapa tali yang terpasang di badan mereka. Saya tanya ke Mas Aden, ternyata mereka adalah peserta canyoning. Kegiatannya memang dilakukan di bagian atas, tidak jauh dari Curug Ngumpet.

Dari informasi yang pernah saya baca, beberapa lokasi di Sentul seperti Curug Aren dan Curug Dempet memang digunakan untuk aktivitas petualangan seperti rappelling, jumping, sampai shower climbing. Ada yang turun dari tebing air terjun menggunakan tali pengaman, melompat ke kolam alami, sampai menyusuri alur sungai atau ngarai air terjun dengan teknik dan perlengkapan khusus. Saya baru tahu kalau aktivitas seperti ini juga ada di kawasan yang sedang kami jelajahi.

Selain mereka, kami nggak bertemu banyak orang lagi. Sepi. Sampai rasanya waktu itu seperti punya curug sendiri. Bedanya, nggak perlu bayar sewa. Hahaha. 

Di Curug Ngumpet

Dari catatan waktu di foto, pukul 12.24 WIB kami masih berada di Curug Cisalada. Setelah itu Mas Arif, Alief, Mbak Nik, dan Isti naik ke Curug Ngumpet. Foto-foto mereka di sana menggunakan HP Mas Arif. Sepertinya mereka berada di atas sekitar 15–20 menit.

Sementara mereka naik, kami yang tetap di Cisalada masih duduk-duduk menikmati curug sampai akhirnya memutuskan untuk mengakhiri waktu di sana. Setelah rombongan lengkap, kami bergerak kembali menuju Warung Dua Putra untuk makan siang.

Perjalanan pulang ini sudah nggak saya rekam lagi. HP baru saya keluarkan lagi setelah sampai di warung, selesai mandi, dan kami mulai bersiap makan. Foto pertama saya setelah itu tercatat pukul 13.47 WIB.

Jadi, dari pukul 12.24 sampai 13.47 WIB, kurang lebih begitulah rangkaian waktunya: sebagian rombongan naik ke Curug Ngumpet, kembali ke Cisalada, lalu kami berjalan menuju warung, mandi, dan bersiap makan siang.

Selesailah perjalanan kami menjelajah lima curug. Setelah dari pagi berkutat dengan sungai, tanjakan, bebatuan, dan air terjun, akhirnya ada satu hal yang sudah layak ditunggu-tunggu: makan siang. 😆

Trekking selesai, mandi pun sudah, dan bersiap untuk makan siang 😄

Drama Gatal di Tengah Jalan Pulang

Dalam perjalanan kembali ke warung untuk mandi dan makan siang, alergi gatal tiba-tiba menyergap badan saya. Gatalnya lumayan bikin nggak nyaman dan harus ditahan sekuat mungkin. Suami ikut membantu dengan mengusap-usap bagian yang terasa gatal, sementara di kepala saya cuma ada satu tujuan: secepatnya sampai warung dan masuk kamar mandi.

Satu-satunya cara supaya gatalnya reda memang harus segera mandi dan ganti baju kering. Niat ini tentu saja cuma saya simpan dalam hati, nggak diumumkan ke teman-teman. 

Alhamdulillah, ternyata ada kemudahan. Begitu sampai di warung, saya mendapat kesempatan masuk kamar mandi lebih dulu. Tanpa banyak basa-basi, langsung beres-beres, mandi, dan ganti baju kering. 

Alhamdulillah, setelah itu rasa gatal perlahan pergi dan badan kembali normal. Saya pun siap menghadapi satu agenda yang sejak tadi sebenarnya sudah ditunggu-tunggu: makan siang.

Makan Siang, Syukuran, dan Sederet Drama Kecil

Makan siang kali ini sekaligus menjadi bentuk syukur karena komunitas Food Blogger Indonesia sudah mencapai usia tiga tahun pada Oktober 2025. Jadi meskipun makanan ini tetap kami bayar masing-masing sesuai paket yang ditawarkan, doa dan rasa syukurnya tentu untuk kebersamaan.

Namanya juga FBI, komunitas yang belum masuk kategori kaya raya sampai bisa bikin pesta tujuh hari tujuh malam dengan hidangan daging onta. Hahaha. Jadi, di tengah makan siang yang sederhana tapi nikmat itu, kami menyelipkan doa agar FBI terus bisa memberi manfaat bagi dunia kuliner Indonesia. Nggak muluk-muluk. Semoga tetap menjadi tempat untuk berbagi cerita kuliner yang bermakna, memperluas pertemanan, dan kalau bisa memberi dampak yang baik. Aamiin.

Tapi makan siang pun ternyata nggak langsung berjalan mulus. Belum mulai makan, saya malah tiba-tiba oleng dan badan hampir terhempas ke meja lesehan. Untung badan saya ringan, jadi mejanya masih selamat. Saya pun masih aman.

 
Belum selesai urusan itu, balon angka 3 HUT FBI yang diletakkan dekat hidangan ikut menyemarakkan drama. Balonnya doyong ke kiri, doyong ke kanan, seperti orang yang nggak punya pendirian. Susah sekali dibuat tegak. Mungkin karena angin di tempat yang cukup terbuka ini, baru dibenerin sebentar sudah miring lagi.

Tapi akhirnya semua drama itu lewat juga. Kami pun mulai makan siang dengan tenang. 

Nasi liwet, ayam goreng, ikan asin, tahu-tempe, sayur asem, lalapan, kerupuk, dan sambal terasa nikmat bukan main setelah dari pagi diajak melewati sungai, tanjakan, bebatuan, sampai lima curug. 

Perut akhirnya mendapat haknya setelah kaki bekerja cukup keras sejak pagi. Hahaha.

Sederhana, tapi nikmat

Jalan Kaki Terakhir Menuju Parkiran

Selesai makan, kegiatan kami di Sentul pun benar-benar mendekati akhir. Sekitar pukul 15.00 WIB kami mulai meninggalkan Warung Dua Putra dan berjalan kaki kembali menuju parkiran. Jalurnya berbeda dengan jalur ketika kami datang. Kali ini kami melewati jalan yang bisa dilalui motor dan sepeda, jadi jalannya lebih lapang, lurus, dan tentu saja jauh lebih mudah.

Kami berjalan beriringan sambil membawa bungkusan baju basah. Lumayan juga, barang bawaan jadi bertambah berat setelah trekking selesai. Sepanjang jalan kami melewati penginapan, musala, kafe, rumah penduduk, dan beberapa bagian permukiman sampai akhirnya tiba di area parkir. Jaraknya memang nggak terlalu dekat, mungkin sekitar satu kilometer. Apalagi saat itu cuaca cukup cerah dan mulai terasa panas, jadi jalan santai pun tetap menghasilkan keringat.

tentengan pulang

jalur pulang ke parkiran

melewati beberapa tempat singgah untuk makan, mandi dan salat

Kelewatan Belokan dan Drama Waktu Salat

Setelah membayar parkir dan memberikan makanan yang masih berlebih kepada Mas Sofyan, kami pun meninggalkan Bojong Koneng. Tujuan berikutnya adalah Weekend.ers Backyard untuk mengantar Isti ke suaminya yang sudah menunggu di sana.

Tapi tentu saja, namanya juga perjalanan yang dari awal sudah penuh drama, bagian pulangnya pun nggak mau kalah. Kami malah kelewatan belokan menuju Weekend.ers Backyard. Baru sadar setelah lewat, sementara mencari putaran ternyata lumayan jauh. Hahaha.

Setelah urusan itu selesai, perjalanan dilanjutkan. Suami saya beberapa kali melihat jam dan mulai cemas karena merasa waktu Asar sudah mepet. Saya bilang, "Nanti salat di SPBU saja, sudah dekat." Tapi beliau masih kelihatan panik. Rupanya beliau salah lihat jam dan mengira waktu sudah hampir pukul enam sore.

Astaga. Pantesan panik. Padahal waktu itu jam lima saja masih beberapa belas menit lagi. Wkwkwk.

Akhirnya kami memang berhenti di musala SPBU dan menunaikan salat Asar di sana. Rasanya lega juga karena urusan perjalanan sudah hampir selesai. Tapi ternyata belum.

Singgah salat di SPBU dan di sinilah tas berisi dompet dan HP Mas Arif ketinggalan 😅

Tas Ketinggalan, Jantung Ikut Trekking Lagi

Setelah mobil kembali melaju cukup jauh meninggalkan SPBU, suami tiba-tiba sadar kalau tas berisi dompet dan HP-nya ketinggalan. Nah, ini baru bikin jantung ikut trekking lagi. Kami nggak tahu persis tas itu tertinggal di mana, tapi tempat yang paling mungkin tentu saja musala SPBU tadi.

Mobil pun diputar balik. Sepanjang jalan cuma bisa berharap tasnya masih ada. Alhamdulillah, ternyata benar. Tasnya masih berada di sana, lengkap dengan isinya.

Ya Allah, lega banget. Alhamdulillah. Rasanya seperti mendapat bonus penutup setelah seharian dikasih berbagai macam drama. Hahaha.

Cerita yang Nggak Ikut Basah

Bener-bener ya, perjalanan hari itu. Dari sebelum trekking dimulai sampai setelah trekking selesai, dramanya berderet. Ada salah kereta, mobil disenggol, balon ketinggalan, sepatu mangap, tanjakan yang bikin ngos-ngosan, aki-aki ganjen, kacamata jatuh, badan oleng, balon doyong, salah jalan, salah lihat jam, sampai tas ketinggalan di musala.

Waktu kejadian, tentu ada tegangnya. Tapi sekarang kalau diingat-ingat malah jadi bahan ketawaan. Mungkin memang begitu cara sebuah perjalanan meninggalkan kenangan. Bukan cuma lewat tempat yang didatangi, tapi juga lewat kejadian-kejadian kecil yang waktu itu bikin deg-degan, lalu beberapa waktu kemudian justru bikin kita tertawa.

Lima curug sudah kami lewati. Kaki sudah diajak naik-turun, badan sudah basah, perut sudah kenyang, dan drama juga sudah dituntaskan satu per satu. Tinggal satu yang tersisa dari perjalanan ini: ceritanya.

Dan untungnya, cerita seperti ini nggak ikut basah waktu kami nyebur sungai. Ia pulang bersama kami, lalu sekarang saya tuliskan di sini.