Idul Fitri 1443H, Suka dan Duka Lebaran 2022

1 Syawal 1443H - di BSD

Assalamu'alaikum. Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1443H untuk seluruh sahabat muslimku di mana pun berada. Taqobbalallahu minna wa minkum. Barakallahu fikumSemoga Allah menerima amal Ibadah kita, Allah menerima taubatan kita dan Allah pertemukan kita semua dengan Ramadhan berikutnya dalam keadaan sehat wal'afiat. Aamiin Ya Robbal Alamin.

Tulisan ini saya buat pada tgl. 27 Mei 2022, saat hari raya telah 25 hari berlalu. Semoga belum terlambat untuk menyampaikan ucapan hari raya, sekaligus permohonan maaf bila ada salah kata dan sikap selama berinteraksi di dunia maya dan nyata. 

Sejak lebaran hingga hari kemarin, ada banyak hal yang saya lakukan di dunia nyata, membuat saya sangat sibuk, tak sempat duduk santai menulis di blog. Tapi hari ini, kepadatan aktivitas mulai sedikit melonggar, dan saya ingin menorehkan catatan tentang lebaran tahun 2022, lebaran yang dirayakan saat situasi pandemi telah mereda. Ada banyak suka cita, namun terselip juga duka. 

2 Mei 2022. Suasana salad Ied di masjid dalam komplek rumah saya di BSD. Saya dan jamaah perempuan lainnya kebagian saf di lapangan. Hanya 3 baris, biasanya sampai 5 baris dan panjang. Separuh warga komplek sudah pada mudik, makanya jumlah jamaah salat Ied kali ini menurun jauh dibanding 2 lebaran sebelumnya.

2 saf wanita lainnya kebagian di teras belakang masjid. Di saat ramai, teras ini biasanya dipenuhi oleh jamaah laki-laki. 
Pagi yang syahdu di bawah terang matahari pagi yang memberikan kehangatan

Alhamdulillah meski warga komplek sudah banyak yang mudik, masjid tetap penuh oleh jamaah laki-laki.

Kebiasaan bangun jam 3 pagi selama bulan Ramadan, terbawa hingga hari pertama bulan Syawal. Saya hampir bergegas untuk menyiapkan sahur, tapi suara takbiran dari pengeras suara masjid di kampung atas (sebelahan dengan komplek kami) menyadarkan saya bahwa hari itu Senin 2/5/2022 tidak lagi berpuasa ramadan, melainkan waktunya berhari raya.

Saya tak melanjutkan tidur, tetapi beranjak dari kasur, pergi ke dapur untuk memasak nasi, menghangatkan 1 kg rendang Padang asli buatan teman SMA Mas Arif, dan membuat minuman hangat. Sembari menunggu nasi matang, saya menyiapkan pakaian dan perlengkapan untuk salat Ied. Memilih baju untuk dikenakan suami, Alief, dan Aisyah. Tak ada baju baru lebaran, dan itu bukan kebiasaan kami. Hanya baju lama yang ada, itu saja yang akan kami pakai.

Alhamdulillah, jam 6 pagi semua sudah siap. Kami pun berangkat ke masjid dengan agak terburu-buru karena takut terlambat.
Wefie pertama seusai salat Ied, di taman masjid yang asri dan teduh. Alhamdulillah hari itu kami semua dalam keadaan sehat walafiat.

Meskipun jarak dari rumah ke masjid dalam komplek kurang lebih 100 meter saja, terpaksa mobilan, karena tak mau terlambat dan tak mau berkeringat. Matahari sudah menyala terang sejak pagi, dan udara yang hangat bisa berubah jadi panas sekali bila dibawa jalan kaki saat ngebut berburu waktu salat 😁

Seusai salat Ied, kami para tetangga 1 blok punya kebiasaan langsung saling mengunjungi untuk bermaaf-maafan, walau sekadar berdiri di depan rumah, dan sebentar saja. 

Kami saling mengerti, biasanya abis salat langsung pada pergi. Entah untuk silaturahmi ke keluarga inti, sodara, kerabat, atau siapa saja yang patut dikunjungi. Maka itu, sebelum berangkat, sejenak saya menemui tetangga kiri kanan. Setelahnya, bersiap berangkat.

Rumah orang tua kami (orang tua suami) di Cimanggis Depok, ke sanalah kami akan pergi. Tujuannya tentu untuk sungkem pada ibu, menyampaikan segala maaf dari hati terdalam, berharap beliau maafkan dan ridho. 

Bapak mertua telah 2 tahun tiada. 2 lebaran tanpa beliau, rumah memang mulai sepi, tapi beliau selalu ada di hati kami, selamanya. Usai makan siang bersama, menikmati masakan ibu tercinta, kami berencana ziarah ke makam bapak, namun hujan turun dan tak mau reda bahkan selepas salat ashar. Akhirnya, hari itu batal ziarah, dan diundur besok pagi, hari Selasa 3/5/2022.

Malam itu anak-anak menginap di rumah ibu, sedangkan saya dan suami kembali ke BSD karena ada yang hendak diambil. Malam hari, berkendara berdua di hari lebaran, suasana jalan bukan tol dan tol sama normal. Tak ada kepadatan, tidak pula lengang. 

Hari kedua lebaran, saya dan suami berkemas membawa pakaian, untuk baju ganti anak-anak, dan baju ganti kami bila kotor setelah berziarah. Perjalanan hari itu kami lakukan sepagi mungkin, sebab ada orang tua di Ciputat yang akan kami singgahi terlebih dahulu.

Rumah di Ciputat adalah rumah di mana saya pernah tinggal lama semasa gadis. Di sini kakek dari bapak saya tinggal. Di masa kejayaannya, rumah megah sangat luas ini pernah sangat indah berseri, dipenuhi gelak tawa, canda ria, penuh kebahagiaan. Bila lebaran, ratusan parsel berdatangan, 2 kamar kosong di lantai atas tak muat menampung parsel bermacam isi, saking banyaknya. Biasanya, abis lebaran parsel-parsel itu baru dibagi-bagikan.

Halaman depan ditumbuhi banyak pohon buah, pohonnya masih ada tapi kini agak semrawut. Lapangan mini golf sudah tak nampak lagi rupanya, berganti area foodcourt. Kolam renang besar sudah ditutup jadi tempat bermain dan tempat jemur pakaian 😅 Ruang keluarga besar berukuran 10x10 meter sudah disulap menjadi kamar kos. Kamar-kamar di lantai atas yang dulu dijadikan tempat tamu, para ponakan, dan kerabat menginap, kini ditempati anak-anak kos. Deretan kamar di sisi kiri rumah pun sudah jadi kamar kos. Hampir 20 kamar semua jadi kamar kos. Rumah ini kini seringkali tampak asing bagi saya, padahal tidak asing.  

Nenek seolah sendirian di rumahnya yang besar, meskipun ada Om O dan keluarganya yang membuat rumah ini tidak terlalu sepi, namun mereka tinggal terpisah, di paviliun yang ada di sisi kanan rumah.

Orang tua yang telah ditinggal mati oleh pasangan hidupnya, memang masih bisa merasakan kebahagiaan di sisa hidupnya, tapi tak kan pernah sama bila kekasih jiwanya telah tiada. Demikian lah ibu saya, ibu mertua saya, dan nenek.
Di rumah Ciputat


Saya dan suami meninggalkan rumah Ciputat setelah menyantap ketupat, opor, dan rendang buatan nenek, alhamdulillah jadi kenyang. Perjalanan menuju Cimanggis pun jadi tenang dan senang. Suami memilih "jalan tikus", sebab mengira jalan tol akan ramai seperti hari lebaran pertama.

Sepanjang jalan sejak dari Ciputat - Cinere - Ciganjur - Cisalak - Cimanggis jalanan memang cukup lengang. Kami tak menjumpai kemacetan, malah menikmati suasana jalan yang tidak biasa kami lalui. Saat masih di daerah Cinere, jalanan yang kami lalui kadang menanjak, kadang menurun, seakan sedang melintasi daerah perbukitan. Ditambah banyak pohon tinggi di kiri kanan jalan, menambah asri suasana, semakin berasa seolah sedang di pedesaan di puncak. Tapi itu tak berlangsung lama. Sebab selepas Ciganjur suasana sudah berubah, tampak pemukiman yang padat, dan tak lagi asri. Kami kemudian memasuki tol Cisalak, tol yang baru pertama kali saya lewati. Dari tol inilah kami cepat sampai ke Cimanggis.

Berikut adalah video perjalanan berkendara mobil dari Ciputat melintasi Cinere, Ciganjur dan seterusnya:

 

Alhamdulillah niat ziarah ke makam bapak kali ini terlaksana dengan mudah. Semesta mendukung, cuaca cerah sepanjang hari, kami pun bisa berangkat tanpa kendala lagi. 

Anak-anak dan ponakan turut serta, hanya ponakan saya W (ibunya adalah ipar saya/adiknya suami) saja yang tidak, karena sedang berada di Kota Gottingen Jerman. 

Ponakan saya tak berlebaran di Indonesia karena baru Desember 2021 kemarin berangkat ke Jerman untuk kuliah di Universitas Georg August Goettingen.

Selamat hari raya Idul Fitri 1443H dari kami sekeluarga. Alhamdulillah bisa kumpul bersama keluarga inti suamiku.

3 perempuan cantik di sampingku adalah ibu mertuaku, dan adik-adiknya suamiku. Mertuaku memiliki 3 anak, 3 cucu perempuan dan 3 cucu laki-laki. Masya Allah. Alhamdulillah 😍

Ziarah ke makam alm. bapak di hari lebaran ke-2

Foto lebaran tahun 2019 saat alm bapak mertua masih ada. Lebaran 2022 ini, selain bapak, ponakan saya W juga tak ikut foto bersama karena kini tinggal dan kuliah di Universitas Georg August Goettingen di Kota Gottingen, Jerman. Itu kenapa tiap lebaran saya mengajak keluarga foto bersama, karena kami sama-sama tidak pernah tahu, di lebaran yang mana tak lagi ikut foto bersama :( 

Alhamdulillah tunai sudah kegiatan "wajib" di hari lebaran. Bertemu dan berkumpul dengan orang tua dan saudara, serta ziarah. Kegiatan ini sebetulnya bisa dilakukan kapan saja, kami sering melakukan itu, tak harus saat lebaran. Namun ketika dilakukan saat lebaran, rasanya memang lebih istimewa. 

Selanjutnya, kami tinggal ketemu dan kumpul dengan keluarga di Sumatera Selatan. Rencananya memang sehabis lebaran baru jalan ke Palembang, yakni saat arus mudik sudah berkurang, agar tak riweuh oleh keramaian.

Tahun ini memang menggembirakan banyak orang karena tak ada lagi larangan mudik. Makanya, orang-orang yang bergerak ke kampung halaman membludak. 
Sore di hari lebaran ke-2, saya dan suami sempat berkunjung ke rumah Ci Anita dan Kak Gathmir di Cibubur. Lokasinya cukup dekat dari rumah mertua saya di Cimanggis. Setelah dari sini, rencananya mau ke rumah Yuk Annie di Cikarang, tetapi batal sebab hasil pantauan jalan tol ke Cikarang tidak begitu nyaman untuk ditempuh, masih macet dan ada beberapa titik kejadian kecelakaan. Dan rupanya, ada hikmahnya, malamnya suami saya sakit, dilarikan ke IGD, dan kemudian dirawat selama 6 hari. Seandainya tetap nekat ke Cikarang, saya tidak tahu bagaimana cara mudah menyelamatkan suami saya yang kesakitan di tengah macetnya perjalanan. Allah Maha Mengatur segalanya. 

Malam hari di rumah ibu Cimanggis, selepas suami dan anak salat Isya di masjid, kami berencana pulang ke BSD. Namun tak disangka suami tiba-tiba mengeluh sakit di perut. Duduk sakit, berbaring sakit, bergerak sakit. Awalnya sesekali, makin lama makin sering, dan akhirnya semakin tak tertahankan.

Saya teringat lebaran 2020, hal serupa pernah terjadi, menyebabkan suami saya berkali-kali dilarikan ke IGD. Apakah ini penyakit yang sama?

Tak ada pilihan lain selain bersegera membawa suami ke rumah sakit terdekat. Adik saya menyetir, ibu ikut serta, dan suami duduk kesakitan di bangku depan. Saya duduk di samping ibu dengan resah.

Singkat cerita, suami masuk IGD RS Bunda Margonda Depok, dirawat selama 6 hari menjalani berbagai pemeriksaan dan pengobatan. Kondisi tak baik ini otomatis membuat saya membatalkan segala rencana bepergian dalam rangka lebaran. 

Cerita sakitnya suami, pengobatan herbal yang kembali kami jalani, dan kemudian kami jadi mudik ke Sumsel, akan saya ceritakan lebih detail pada tulisan selanjutnya.

Tas mudik lebaran, mudik ke RS 😂 Foto ini saya ambil di hari suami sudah diperbolehkan pulang dari RS. 

Pemandangan dari kamar rawat suami di RS Bunda Margonda Depok


Saya juga ingin menyampaikan kata terima kasih atas ucapan selamat hari raya untuk saya dan keluarga, serta doa tulus untuk kesembuhan suami saya.

Terima kasih juga atas hadiah-hadiah lebaran berupa hampers yang dikirim sebagai tanda kasih atas hubungan kerja dengan saya sebagai blogger. Karena atas nama blogger, maka saya tampilkan di blog. Terima kasih!

Hampers dari ASUS Indonesia @asusid

Hampers dari realme Indonesia @realmeindonesia

Hampers dari rumah tenun Tidore @putadinokayangan

Hampers dari Inke Maris Associates (kiri) dan dari Anne founder Indonesian Food Blogger (kanan)

Hampers dari Nai Bake House @naibakehouse (kiri) dan Cilok Djoedes @cilokdjoedes (kanan)
Kalau ini waktu beli 2 Daster Cantik Manda by @mandastore saya dapat bonus 1 hampers Daster Batik 😍

Alhamdulillah. 
Masya Allah.
Barakallah.

Terima kasih telah membaca 💞💜




A mother of two who loves travel and enjoy to share my journey and valuable experiences

Share this

Previous
Next Post »

18 komentar

  1. Taqabbal ya Karim. Masya Allah, lebaran yang sarat dengan pengalaman dan silaturahmi. Semoga bisa bertemu lagi dengan Ramadhan berikut dan bersilaturahmi dengan keluarga lagi.

    BalasHapus
  2. lebaran memang moment yang sangat istimewa ya mbak, senangnya bisa berkumpul dengan keluarga yang dekat dan yang jauh. dan semoga suaminya mbak Rien selalu dalam keadaan sehat ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya robbal'alamin. Alhamdulillah sekarang sudah sehat lagi 😇

      Hapus
  3. Seru banget ya momen lebarannya, senang bisa sholat ied bersama sampai tumpah ruah ke lapangan.
    Kami sholat di masjid kompleks, nggak banyak yang datang, bahkan nggak ada yang sampai di halaman masjid, kayaknya pada mudik.

    Senang ya bisa silaturahmi bersama :)

    BalasHapus
  4. Dennise Sihombing29 Mei 2022 21.54

    Wow bahagia sekali kak selama Lebaran kumpul dengan keluarga besar. Moment ini memang selalu ditunggu tiap tahunnya. Btw rumah kakek di Ciputat adem ya, terus aku jadi salfok dengan koleksi piring-piring di belakang. Itu punya nenek ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar kak, itu koleksi nenek, selain guci-guci antik 😊

      Hapus
  5. Selalu ada keceriaan saat berlebaran meski ada juga cerita sedih tidak terlupakan bersama keluarga yang kembali pada Illahi. Keseruan silaturahmi bersama sausara, kerabat, tetangga dan beragam hampers pun melengkapi idul fitri.

    BalasHapus
  6. Syahdu - senang - rindu tapi ada mengharu birunya selama Lebaran ya mbak Rien, yah begitulah hidup... kadang manusia berencana Allah lebih Maha Tahu memberikan jalanNYA

    btw di vlog Youtube ada yang tanya tentang batu empedu tuh mbak Rien, sepertinya butuh jawaban :)

    BalasHapus
  7. Senang sekali bacanya, tau-tau selesai
    Terasa hangat dan ikut Lebaran bareng Mbak Rien sekeluarga
    jadi penasaran dengan penyebab suami Mbak Rien masuk rumah sakit
    Apakah karena melanggar pantangan?

    BalasHapus
  8. Seru mbak, acara kumpul-kumpul keluarganya. Memang tahun ini lebaran kembali berkesan indah karena bisa berkumpul bersama lagi setelah 2 tahun terpisah, ini sih, yang saya rasakan

    BalasHapus
  9. Suasana lebaran yang selalu meriah dan penuh tawa, selalu menjadi saat yang ditunggu-tunggu. Apalagi setelah 2 kali lebaran dalam suasana mencekam akibat pandemi. Lebaran tahun ini alhamdulillah sangat memorable... Semoga kita semua senantiasa diberikan anugerah kesehatan dan umur panjang hingga dipertemukan dengan ramadan dan lebaran tahun depan

    BalasHapus
  10. Alhamdulillah tabarakallah ya mbak lebaran tahun ini sarat makna dan penuh kebahagiaan hmm senangnya 🥰😍

    BalasHapus
  11. Asri banget lingkungan rumahnya ya mbak, MAsjidnya juga hijau-hijau gitu di seklilingnya sampai aku gak fokus nih jadinya baruan.
    Memang kadang kita harus mengerjakan pekerjaan di dunia nyata & meninggalkan sesaat dunia maya ya.
    Lebih enak gitu mbak selesai salat ied maaf-maafan baru dhe kita pergi ke tempat keluarga

    BalasHapus
  12. Ahihi...daku pun juga tuh mbak, karena terbiasa bangun sahur lah pas hari pertama lebaran bukan hanya ke dapur, tapi juga buat makan, karena kan perutnya udah terbiasa di jam segitu sarapannya haha..

    Alhamdulillah selalu berbahagia ya mbak Rien dan keluarga. Semoga kita bisa bertemu kembali dengan Ramadhan berikutnya dan dalam keadaan sehat, aamiin

    BalasHapus
  13. Mba Rieeenn , aura hepi terpancaaarr banget! Tahun ini in my humble opinion, adaah Lebaran yang paling bikin bahagia jiwa raga ya mbaaaa
    Super senaaangg karena Alhamdulillah kita sudah boleh berkegiatan dgn enjoy,
    beneran aku blm bs move on juga dgn suasana Ramadan dan Lebaran
    semoga ALLAH beri kita kesehatan, keselamatan, rezeki dan usia yang berkah ya

    BalasHapus
  14. Senang banget baca cerita mbak Rin dan keluarga berlebaran ke rumah orangtua, aura bahagia terpancar dari wajah semuanya. Oiya, Cimanggisnya dimananya nih? Saya kalau ke Cibubur lewatnya Cimanggis Mekarsari, jangan-jangan deketan nih hehe.

    BalasHapus
  15. Serunya bisa ngumpul bareng keluarga ya. Walopun iya, terselip duka. Huhu sama mbak, aku pun begitu. Ada banyak suka, tapi ada juga beberapa duka yang membuat hati rasanya dingin. Semoga kita semua selalu sehat, ya.

    BalasHapus

Leave your message here, I will reply it soon!