Kisah Masigit Kareumbi Part 3 (tamat) : Plant A Tree, Save The Planet!




Tulisan ini bagian terakhir dari Kisah Masigit Kareumbi yang saya tulis dalam 3 bagian :

Part 1 : Aksi Perdanaku Bersama Satu Cinta dan
Part 2 : Pantang Pulang Sebelum Menanam


Semoga bermanfaat untuk kita semua ^_^

==================================

MENJADI WALI POHON
17 orang jumlah rombongan kami yang mengikuti program Wali Pohon, mendapatkan penyuluhan terlebih dahulu dari Kang Feby. Didahului dengan sambutan selamat datang, perkenalan, serta informasi kegiatan apa saja yang bisa kami lakukan selama di KW. Dalam sambutannya, Kang Feby mengucap syukur karena kami bisa tiba di lokasi dengan selamat. Katanya, tidak sedikit tamu yang gagal mencapai KW karena tidak sanggup dengan medan yang berat. Banyak yang menyerah dan putus asa di perjalanan, lalu putar balik, pulang. Persis seperti yang tadi sempat kami rasakan. 

Jadi, keberanian dan kekuatan kami menempuh perjalanan penuh resiko tadi, di apresiasi tinggi oleh Kang Feby dan rekan-rekannya. Alhamdulillah, berarti kami termasuk orang-orang yang maju terus pantang mundur. Pantang pulang sebelum menanam. Yes! 

Diangkut menuju Lokasi Penanaman Pohon

Dua jeep telah disiapkan untuk mengangkut kami menuju lokasi penanaman. Efect melihat jeep garang itu sungguh luar biasa, bikin kami para perempuan sibuk bergaya, narsis tralala di depan kamera yang dijeprat-jepret berulang-ulang. Kami bersemangat lagi, bahkan melupakan makan siang yang kuharapkan sudah terhidang. Kera-kera di pohon menonton sambil terpana, pikirnya betapa para artis kota telah tiba di rumah mereka yang semula tenang.

Kami mendaki jalan berbatu dan berlubang menuju lokasi penanaman di atas bukit. Terlonjak-lonjak memandangi hamparan bukit gundul merana yang ditumbuhi ilalang. Ada keprihatinan mendalam kala menyaksikan lahan seluas 750 hektar di kawasan kini  berada dalam kondisi kritis akibat penebangan. Hutan rimba benar-benar hanya tinggal kosa kata dalam bahasa. 

Penebangan liar ulah orang-orang terdahulu yang sebenarnya dipercaya mengelola kawasan ini malah diam-diam menebangi pohon-pohon yang semestinya dilindungi. Pun juga dengan oknum penduduk setempat, dengan menebang pohon kayu di dapat, lahan pertanian terbuka. Yang tersisa hanya tunggul-tunggul tak berguna. Ulah nakal yang bukan sekali dua kali, bukan juga sehari dua hari, tetapi bertahun-tahun oleh puluhan kepala. Di sini, di Masigit Kareumbi, telah nampak bukti kerusakan itu. Aku melihatnya sendiri.

140 bibit pohon yang kami tanam, kami beli dengan harga Rp 50.000,- per pohon. Harga itu sudah termasuk biaya pembuatan lubang tanam, penanda pohon, pemeliharaan selama 3 tahun, penyulaman bibit yang mati, tree tag, dan sertifikat digital yang dikirimkan melalui email. Sangat tak seberapa untuk manfaat luar biasa, bukan? Pekerjaan menanam hanya berlangsung satu jam karena banyak dibantu oleh para pekerja dari MK.  

Ah, bagai simbolis saja penanaman ini. Padahal aku siap banting tulang banting hape untuk menggali lubang. Penanaman berlangsung satu jam. Ada rasa haru yang sangat dalam mengiringi doa di hati, semoga pohon-pohon kecil ini kelak dapat memberi manfaat besar bagi lingkungan sekitar. Memang masih jauh kenyataan dari harapan, tapi tak putus asa selama usaha ini ada dan berkelanjutan.  

Penanaman Pohon


Di siang yang terik, di kawasan konservasi Masigit Kareumbi, komunitas SATU CINTA menebar kasih pada bumi. Menjadi yang ke sekian setelah berbagai kelompok orang dan komunitas bergabung menjadi Wali Pohon. Sudah semestinya usaha dan niat baik orang-orang yang ada di balik Wali Pohon Masigit Kareumbi mendapat dukungan dari berbagai pihak. Mereka tak hanya sekuat tenaga melestarikan hutan alam yang tersisa tetapi juga berjuang memperbaiki kembali sisa-sisa kejahatan ulah manusia tak bertanggung jawab. 

RUMAH PARA PERI
Seusai penanaman, kami kembali ke basecamp. Di perjalanan kami bertemu dengan komunitas sepeda dari Bekasi yang berseragam orange ngejreng. Keberadaan mereka di MK juga untuk menanam pohon. Setibanya di basecamp, kami lekas membersihkan diri, salat, lalu bersantap siang bersama dengan menu ala Sunda. Rasa lelah dan lapar, tuntas di warung bambu. Amboi nikmatnya. Berasa di surga. Surga dunia.
Warung Makan di tengah "pulau"

Setelah makan kami bermain kano menyusuri aliran sungai Ci Tarik yang tepiannya ditumbuhi banyak pohon dan semak belukar. Satu kano hanya memuat tiga orang. Kami bergantian. Tak lama bermain kano, kami lanjut menjelajahi hutan alam Masigit Kareumbi. Kami tidak menuju kandang rusa, tidak juga menuju hutan yang mengarah ke perkampungan enclave Cigumentong dan Cimulu. Kami menuju Rumah Pohon. Rumah para Peri.


Menyusuri Sungai Ci Tarik

Menjelajah Hutan

Pohon-pohon besar, tinggi menjulang dan berdaun lebat, tumbuh rapat di hutan ini. Cahaya matahari pun kesulitan menerobos dedaunan. Daun-daun tua yang jatuh ke bumi, membusuk di permukaan tanah yang basah. Menutupi air sisa hujan yang turun tadi pagi. Suara-suara burung dan kera, juga angin yang berhembus, menjadi melodi alam yang sangat jarang bisa terdengar oleh telinga. Aroma alam pekat menusuk hidung. Ah, sedapnya bumiku jika begini. 


Ratusan meteran telah di jalani, rumah pohon akhirnya kami jumpai. Masha Allah, rumah para peri itu sungguh nyata. Kami menaikinya, duduk-duduk dilantai kayunya. Sebuah kasur teronggok di dalamnya, tempat tidur bagi pengunjung yang ingin menginap. Kami hanya berfoto, lalu diam tanpa banyak suara. Menikmati segalanya dengan hati, dalam hutan lebat nan sunyi. Tak ada yang bermain ponsel karena di sini tak ada sedikitpun sinyal. Tak ada listrik. Tak ada hingar bingar. Sungguh kehidupan yang damai. 




SAMPAI JUMPA LAGI MASIGIT KAREUMBI
Rencana hiking ke pedesaan terdekat yang akan ditempuh 3 jam perjalanan pulang pergi terpaksa dibatalkan. Ada 20-an kepala keluarga yang ingin kami jumpai, termasuk anak-anak mereka yang katanya setiap hari melakukan perjalanan berjam-jam untuk menuju sekolahnya. Kami sungguh ingin ke sana tetapi hari kian petang, kami tak punya waktu lagi. Kami harus bergegas kembali ke Jakarta. Hujan, longsor dan gelap, dapat membahayakan perjalanan.

Pukul empat sore kami berpamitan, meninggalkan KW dengan sepenggal kenangan dan pengalaman. Suatu hari, kami diperbolehkan kembali untuk menengok pohon yang telah ditanam. Ya, semoga kembali ke tempat ini. 

Dan, kini aku mengerti mengapa kawasan hutan alam ini di sisakan, agar orang-orang tahu betapa nyaman tinggal di dalamnya. Betapa kelestariannya sangat perlu dijaga karena hutan bukan sekedar untuk kelangsungan hidup yang aman dan nyaman bagi manusia, tapi juga tempat tinggal yang lapang bagi para flora dan fauna.

Kawan, silahkan traveling ke hutan alam Masigit Kareumbi, tapi jangan lupa untuk peduli pada lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Bantu perbaikan alam di tempat ini dengan menjadi Wali Pohon Masigit Kareumbi. Sekecil apapun aksi nyatamu, itu akan sangat berarti bagi banyak orang. 

Be a Hero. Plant a tree, save the planet!



Manajemen Pengelola Kawasan Konservasi Masigit – Kareumbi :
 
Kantor Pusat

Jl. Arumanis. 25. Bandung, Jawa Barat, 40191 Ph/fax: +62 22 2502085 Email: info@tbmk.org  CP: Darmanto +62 812 213 288. 
Kantor Lapangan
“KW” Kp. Leuwiliang, Ds. Tanjungwangi, Kec. Cicalengka, Kab. Bandung. Webblog: http://kareumbi.wordpress.com

Bukti partisipasi Satu Cinta di Masigit Kareumbi ada dalam galeri foto di weblog http://kareumbi.wordpress.com dalam album : Wali Pohon berikut: https://picasaweb.google.com/106125685406991088015/WaliPohonMasigitKareumbi



Seorang istri. Ibu dari dua anak remaja. Tinggal di BSD City. Gemar jalan-jalan, memotret, dan menulis.

Share this

Previous
Next Post »
Give us your opinion

Leave your message here, I will reply it soon!