Jalur Rempah di Maluku Utara Masa Lalu dan Pengaruh Kebudayaan Dunia

09.20
Jalur Rempah di Maluku Utara Masa Lalu dan Pengaruh Kebudayaan Dunia
Oleh: M. Amin Faaroeq, S.Ip.
 Jojau Kadato Kie Kesultanan Tidore 

Disampaikan dalam Seminar Nasional dengan tema Tidore Ternate; Titik temu peradaban Timur-Barat pada Senin, 12 Februari 2018.



Pengantar

Pengetahuan tentang sejarah Maluku Utara sangat sedikit sekali bahkan sangat terbatas. Umumnya diketahui bahwa pada abad ke-15 datang bangsa Portugis kemudian Spanyol, satu abad kemudian Belanda dan yang terakhir adalah Inggris. Buku-buku sejarah Indonesia pun sedikit sekali mencatat tentang Maluku Utara. Kisah sejarah hanya membuntuti arah perhatian Belanda. Padahal Mesir kuno dan Cina merahasiakan ribuan tahun lamanya pulau-pulau penghasil rempah-rempah langka dan berkualitas tinggi yang tidak terdapat di mana-mana. 

Cengkih, pala dan kayu manis adalah primadona negeri yang bernama Maluku. Mesir kuno berburu gaharu, Cina berburu cengkih, kedua pendatang baru itu kemudian menyebut pulau-pulau dupa, mereka melabuhkan kapal mereka tak jauh dari kedua pulau ini, dan pada malam hari hembusan angin malam membawa keharuman buah rempah-rempah terutama cengkih yang jatuh berhamburan di atas tanah. Mulanya rempah-rempah ini tumbuh dan hidup secara liar terutama di Tidore, Ternate dan Makian, orang-orang di sekitar pulau-pulau ini baru mengetahui setelah hadir pedagang-pedagang Makasar, Jawa, Cina, dan Arab membeli dengan cara tukar-menukar barang seperti peralatan rumah tangga dan barang kebutuhan lainnya.  

Begitu pun pemahaman tentang pengolahan dan bagaimana cara memetik rempah-rempah tersebut. Diceritakan bahwa bila pada musim rempah-rempah akan dipanen, penduduk negeri beramai-ramai memotong bambu atau batang kayu berukuran sedang dan memukul pada dahan cabang maupun ranting sehingga berjatuhan buah dan bunga rempah-rempah terutama cengkih. Setelah ada petunjuk dari para pedagang atau pembeli cara memetik  dan mengolah sampai pada penjualnya. Di sinilah  penduduk dan orang-orang sekitar pulau-pulau penghasil rempah utama ini mulai merawat dan menanam pohon-pohon rempah tersebut. 



Persaingan ketat bangsa-bangsa Eropa
    
Ketika harga rempah-rempah utama melangit di Eropa terutama cengkih, pala, lada, dan kayu manis dan rempah-rempah ini tidak lagi didistribusikan kedua Negara Eropa yaitu Portugis dan Spanyol yang mempunyai dampak terhadap ekonomi mereka. Perubahan jalur dagang itu juga memicu konflik antara Negara di Eropa, termasuk Portugis dan Spanyol. Itu yang mendasari kerajaan Vatikan membuat perjanjian Tordesillas pada tahun 1494. Yaitu wilayah Timur diberikan kepada Portugis dan Barat menjadi bagian Spanyol. 

Atas dasar perjanjian itu, raja kedua kerajaan memerintahkan agar mereka harus berlayar mencari dan menemukan kepulauan penghasil rempah-rempah utama di timur jauh nusantara yang disebut Maluku. Portugis pun bergerak cepat dan menemukan kepulauan Banda 1512. 

Sementara ekspedisi Magelhaens melakukan pelayaran ke arah barat dengan 5 buah armada yaitu kapal San Antonio, Concepcion, Santiago, Victoria dan Trinidad dengan 270 kru kapal dan mencapai kepulauan Mariana di kawasan samudra pasifik. 

Pada 6 Maret 1521 terjadi sebuah pertikaian antar suku di pulau itu penyebab tewasnya Ferdinand Magelhaens. Termasuk 3 buah kapal pun ikut serta pada peristiwa itu (ketiga kapal dihancurkan). Sisa kru yang ada melanjutkan misi Magelhaens dengan dua kapal yaitu Trinidad dan Victoria, dikomandani Juan Sebastian Elcano, untuk mencari kepulauan rempah-rempah. Ada 5 pulau yang mereka sebut yaitu Tarante, Mathil, Thedori, Mare dan Matehin (Ternate, Moti, Tidore, Mare, dan Makian). 

Kelima pulau itu berjejer dari Utara ke Selatan serta menghasilkan cengkih, pala, dan kayu manis. Baik Portugis maupun Spanyol sangat berharap bahwa kepulauan rempah-rempah akan berada dalam garis demarkasi dan masuk ke dalam kawasan mereka masing-masing. Hanya rute perjalanan ke kepulauan rempah-rempah yang membedakan keduanya, Portugis melalui jalur Timur dan Spanyol lewat jalur Barat. 


Tidore dan Ternate Bermitra dengan Orang Asing

Ketika terbetik berita bahwa Portugis telah tiba di Banda 1512, Sultan Ternate Bayanullah (Boleif) segera mengirimkan juangan (armada perang) untuk menjemput Fransisco Serrao di Ambon. Sultan Tidore Almansyur pun melakukan hal serupa tetapi kalah cepat. Sehingga ketika utusannya tiba di Ambon, Fransisco Serrao telah lebih dulu diboyong ke Ternate. 

Dalam persaingan politik antara Tidore dan Ternate, Bacan lebih dekat pada Tidore. Kerajaan ini juga memainkan peran penting dalam sejarah Maluku. Bagi kerajaan Ternate kedatangan Fransiscco Serrao memiliki makna sangat penting. Sultan Bayanullah adalah salah satu seorang peramal (astrolog), ia telah memberitahu ramalannya kepada rakyat Ternate tentang kedatangan seseorang dari belahan bumi yang jauh serta orang-orang besi yang akan menjadi penduduk kawasan Ternate dan akan memberikan kemenangan dan kemakmuran kepada Maluku.  

Serrao diperlakukan sebagai tamu kerajaan setiba di Ternate. Dan selaku tamu kerajaan, ia memperoleh berbagai kemudahan, termasuk pemberian hak monopoli perdagangan rempah-rempah, juga diberi jabatan kerajaan sebagai penasihat sultan. Kemudian diberikan hak monopoli, dengan pemberian hak monopoli maka untuk pertama kalinya dunia tataniaga cengkih di Maluku dimonopoli oleh Portugis. 

Boleifpun berpesan kepada Serrao, apabila ia tiba kembali di Portugis ia harus berupaya meyakinkan kepada raja Don Manuel untuk membangun sebuah benteng Portugis di Ternate dan tidak di tempat lain, Portugis pun membangun sebuah benteng di Gamlamo dan selesai pada 1522 dan menempatkan Gubernur pertamanya Antonio de Brito, kemudian Boleif Sultan Ternate mengirim surat kepada raja Portugis di Lisboamenyatakan bahwa; negerinya beserta semua isinya dipersembahkan kepada Portugis. Serrao selama berada di Ternate tinggal di Istana Sultan Boleif.  



Pemberian Hak Monopoli 

Ada dua alasan Boleif memberikan hak monopoli kepada Portugis; pertama, untuk meningkatkan kemakmuran rakyat dan pendapatan kerajaan, karena Portugis bersedia membayar dengan harga yang lebih mahal ketimbang dengan para pedagang Jawa, Arab, Cina dan Melayu selama ini. Kedua, membangun power kerajaan Ternate dalam persaingan dengan kerajaan-kerajaan lain di Maluku. Sebab mempunyai mitra asing dipandang lebih kuat dan lebih handal ketimbang mitra lokal karena mitra asing Portugis memiliki persenjataan dan militernya yang kuat dengan senjatanya yang modern seperti bedil, meriam dan kanon.

Kedua alasan yang mendasar itu hanya mampu bertahan 10 tahun pertama, pada tanggal 6 Desember 1521. Kedua kapal Spanyol sisa kapal dari ekspedisi Magelhaens yang berlayar dari Sevila hingga sampai ke kepulauan rempah-rempah ditemukan memakan waktu 26 bulan kurang 2 hari Trinidad dan Victoria lego jangkar di pelabuhan Talangame Bandar kota Ternate yang sultannya bersaing keras dengan sultan Tidore. 

Dalam ekspedisi Magelhaens turut serta seorang  sastrawan Italia Antonio Pigaveta yang banyak menulis tentang ekspedisi ini dua hari penuh berlabuh di pelabuhan Talangame, sambutan sangat dingin karena 10 tahun penduduk Ternate telah melakukan transaksi dagang dengan orang-orang Portugis.  

Sebelum matahari terbenam pada 8 November 1521, Trinidad dan Victoria memasuki perairan Tidore, berlabuh di lepas pantai dan memberikan tembakan 20 kali, sebagai penghormatan keesokan harinya sultan Almansyur mendatangi kapal dengan menaiki sebuah juanga, sebelum naik ke kapal juanga mengelilingi kedua kapal tersebut satu kali dan salah satu sekoci diturunkan dari kapal sebagai penghormatan kepada sultan juanga pun merapat ke lambung kapal di mana anak kapal berada. Sultanpun naik ke kapal bersama beberapa bobato dan salah seorang putranya.Komandan kapal dan kru-krunya berdiri dan memberikan penghormatan, lagu-lagu dan music diperdengarkan, semua kru kapal menyalami dan mencium tangan sultan, seusai menyalami langsung mengantar menuju ke dek utama untuk acara ramah-tamah. 


Sambutan Sultan Almansyur

Sultan Tidore Almansyur menyambut kehadiran dua kapal Spanyol dengan antusias sekali. Terjadi pembicaraan antara kedua belah pihak tentang jual beli perdagangan rempah-rempah. Kemudian sultan meminta kepada nahkoda mengarahkan kapal ke pelabuhan yang aman dan lego jangkar di sana, kemudian semua kru-kru turun dan mendarat dengan aman. Kemudian sultan mengajak para perwira kapal dan kaptennya berkunjung ke istanan Sultan di Mareku. 

Pada keesokan harinya para perwira kapal dan kaptennya diundang ke istana Sultan di Mareku dan sultan mengadakan perjamuan dalam perjamuan makan sekaligus membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan politik dan perdagangan. Maka terjalinlah hubungan kemitraan antara Tidore dengan Spanyol. 

Sultan kemudian mengizinkan orang-orang Spanyol melakukan transaksi perdagangan. Untuk keperluan tersebut, dibangun sebuah pusat perdagangan. Dan inilah pusat perdagangan pertama milik orang Eropa di Maluku. Selama berhari-hari cengkih, kayu manis dikumpulkan, rempah-rempah di isi dalam drum-drum kosong dan ketika di Tidore sendiri telah habis, orang-orang sultan pergi ke Makian bahkan sampai ke Bacan. Karena Spanyol membeli cengkih dan rempah-rempah lainnya dengan harga yang lebih tinggi, maka sebagian besar cengkih Ternate dan Moti lari ke Tidore.  



Banyak transaksi yang terjadi dengan cara tukar-menukar barang yang dibawa oleh ekspedisi, seperti peralatan rumah tangga, cangkir, porselin, kain-kain tekstil dan lainnya. Dalam waktu yang sangat singkat, pada 8 November sampai 18 Desember 1521, palka kedua kapal Victoria dan Trinidad sudah penuh dengan rempah-rempah dan siap berlayar kembali ke Sevilla. 

Kedua kapalpun mengangkat sauh dan berlayar melalui Ambon dan seterusnya ke Flores. Sayang, malang tak dapat diraih, Trinidad mengalami kebocoran di lambung kapal, papan dimakan rayap yang bernama “Tambelo”, Trinidad harus harus putar haluan kembali ke Tidore. Setelah sebagian rempah-rempah dipindahkan ke Victoria, setibanya Trinidad di Tidore langsung ditarik ke darat, sayang sekali di Tidore tidak ada dok kapal. 

Selama berada di Tidore kru-kru kapal kehabisan tepung gandum untuk pembuatan roti, kru-kru kapal kemudian mengajarkan penduduk local memarut singkong, kemudian singkong atau ubi diparut lalu diperas dan dibuat tepung lalu dibakar di forno. Begitu masak dikonsumsi dengan abon pengganti roti, di Tidore disebut sagu kasbi dan masuk dalam kuliner khas.  


Kehadiran dua kapal Spanyol dari sisa lima kapal ekspedisi Magelhaens yang berhasil menemukan kepulauan rempah-rempah banyak menuai protes dari Portugis. Portugis menganggap Spanyol telah melanggar traktat Tordesilas yang telah disepakati bersama. Victoria bersama angin timur yang mengantarnya, setelah menghadapi berbagai rintangan akhirnya pada 6 September 1522, setelah 3 tahun kurang 13 hari, sejak awal ekspedisi sampai menemukan kepulauan rempah-rempah dan membawa pulang rempah-rempah tersebut yaitu cengkih, pala, kayu manis dan jahe. 

Victoria tiba di Sevilla pada sore hari itu juga tanggal 6 September 1522. Raja Spanyol menyambut hangat kedatangan Elcano dengan armadanya. Keuntungan yang diraih lebih dari segalanya, termasuk biaya pembuatan 5 buah kapal, gaji para pegawai dan kru-kru kapal serta logistic. 

Victoria membawa serta 15 orang (laki-laki Tidore) sebagai anak buah kapal. Sepulangnya Victoria dari Tidore dengan muatan rempah-rempah yang berkwalitas tinggi, membuat ekspedisi-ekspedisi Spanyol semakin banyak. Contoh ekspedisi lainnya dengan 7 buah armada lego jangkar di perairan Tidore dan melakukan transaksi perdagangan rempah-rempah.   



Dalam waktu yang tidak lama kapal-kapal tersebut berlayar kembali ke Spanyol dengan muatan yang cukup memuaskan. Hal ini membuat Portugis malakukan protes dan membentuk sebuah tim khusus yang melibatkan pakar-pakar hukum dari kedua belah pihak dan mereka bersidang kurang lebih 1 bulan setengah, tetapi tidak membuahkan suatu keputusan. Masing-masing mempertahankan argumentasinya, petinggi-petinggi Spanyol tidak menyetujui Traktat Tordesilas maupun traktat Zaragoza.
 
Ekpedisi-ekspedisi Spanyol memasuki perairan Tidore dan melakukan transaksi perdagangan rempah-rempah selain di Tidore juga ke Makian bahkan sampai ke Bacan dengan alasan yang sangat sepele dan tidak masuk akal, bahwa karena cuaca dan keganasan laut membawa kapal mereka terdampar di perairan Tidore. 

Dunia perdagangan hanya melalui jalur laut yang menghubungkan dunia barat dan timur. Jalur ini memberikan dampak budaya dan ekonomi yang luar biasa seperti perubahan peradaban hidup, sandang, pangan dan papan, mulai dengan cara berpakaian jauh sebelum kedatangan orang-orang asing seperti Arab, Cina, dan Melayu. 

Penduduk setempat orang-orang pinggiran kota terutama laki-laki masih menggunakan cawat (sabeba), sedangkan kaum perempuan memakai selembar kain hitam diikat di dada tanpa kebaya (matao). Pola makan belum teratur, belum menggunakan meja. Sebuah meja pendek yang dibuat dari bambu atau batangan gaba-gaba (baleang). Tempat tidur dari belahan anyaman bambu (dego-dego/para-para). Belum memiliki lampu, masih menggunakan dammar sebagai alat penerang. Ada sejenis alat penerang yang disebut dede/pelita memakai sumbu dengan minyak kelapa.  

Sejak kehadiran orang-orang Eropa terjadi perubahan peradaban hidup yang cukup memadai. Sudah berpakaian yang rapi walaupun sederhana. Sudah memakai perhiasan seperti anting-anting, gelang, kalung walaupun dari metasi dan perak. Begitupun cara makan sudah menggunakan sendok makan garpu, mangkuk, piring dan lainnya.

Imbas Kehadiran Portugis dan Spanyol di Maluku
 
Negara Eropa yang telah berhasil melakukan pelayanan keliling Afrika menuju Asia sebelum  Negara maritim lainnya. Sementara Spanyol adalah Negara Eropa pertama yang berhasil mengelilingi dunia lewat pengiriman ekspedisi Magelhaens sebelum Negara lain melakukannya. Portugis memulai pelayaran ke Asia pada tahun 1490-an dan mengambil  alih perdagangan rempah-rempah dari pedagang Gujarat, Jawa, Melayu dan Arab.

Baik Portugis maupun Spanyol memberlakukan  sistem monopoli dalam perdagangan rempah-rempah. Dengan sistim ini, para bobato kerajaan, baik Ternate maupun Tidore dan Bacan,merupakan alat mati yang bekerja tanpa pemilik untuk menyerahkan cengkih mereka tanpa dibayar. Praktek seperti ini sering terjadi terutama Portugis, sedangkan spanyol masih ada toleransi tidak ada diskriminasi. 



Dampaknya  Bagi  Rakyat  Maluku
 
Harga rempah-rempah yang dibayar Portugis dan Spanyol berdasarkan sistem-sistem monopoli harus diartikan sebagai sebuah pemerasan yang sangat kejam  terhadap rakyat Maluku. Rempah-rempah bagi rakyat Maluku merupakan monokultur dalam sistem ekonomi mereka yang agraris. Sebelum kehadiran Portugis dan Spanyol perdagangan rempah-rempah dilakukan dengan sistem barter. Rempah-rempah di tukar dengan beras dari Jawa. Barang pecah belah dengan pedagang Cina. Tekstil dari Gujarat. Alat rumah tangga lainnya dari malaka. Bahkan rempah-rempah ditukar dengan barang perhiasan seperti emas dan perak. 

Rakyat setempat juga menjual dengan di bayar tunai oleh pedagang Bugis dan Arab dengan harga yang cukup bersaing. Persaingan para pedagang Bugis, Jawa dan Cina, Arab dan Melayu dan perdagangan rempah-rempah yang cukup sengit itu telah menguntungkan rakyat Maluku dan menambah kemakmuran mereka. Sementara kehadiran Portugis dan spanyol di bumi Maluku justru telah melenyapkan semua itu, mudarat lebih besar ketimbang manfaatnya. 



Politik dan Pemerintahan
 
Ada empat kerajaan besar di Maluku yaitu Jailolo, Bacan, Tidore dan Ternate. Selain itu ada dua  kerajaan kecil yaitu Moro dan Loloda di Halmahera Utara. Dari kerajaan – kerajaan  tersebut, hanya Tidore dan Ternate yang paling berpengaruh. Kedua kerajaan ini memiliki daerah-daerah aneksasi yang disebut daerah seberang laut berupa kerajaan-kerajaan mini yang menjadi vazal-nya. Tidore dan Ternate sejak lama berseteru dan bersaing keras memperebutkan hegemoni politik atas seluruh kepulauan  Maluku dan daerah Jirannya. 

Persaingan memperebutkan hegemoni politik itulah yang mendorong keduanya bermitra dengan kerajaan-kerajaan Eropa. Ternate menggandeng portugis 1512. Tidore menggandeng Spanyol 1521. Sepuluh tahun kemudian di balik kebanggaan dan merasa lebih bergengsi karena bermitra dengan orang asing, Tidore dan Ternate tidak menyadari telah jatuh ke tangan imperialisme dan akan kehilangan kemerdekaannya. 

Dalam kenyataan sejarah nasib dan masa depan Ternate lebih buruk dari pada Tidore. Spanyol menyapa Tidore dengan  “Kawan Kita“ (our friend). Di tidore pengaruh ulama sangat kuat. Spanyol tidak mencampuri urusan pemerintahan, termasuk suksesi dalam pemilihan  sultan. Para Sultan melarang penduduk pribumi melakukan konversi ke agama Kristen. 

Hal  berbeda yang di alami di Ternate yang bermitra dengan Portugis yang para gubernurnya rakus dan tamak dalam kekuasaan dan ada beberapa gubernur yang tangannya tetap berlumur darah. 

Dalam bidang pemerintahan, Ternate kehilangan kebebasannya. Semua Sultan yang naik tahta harus memperoleh restu dan izin Portugis dan dilantik oleh gubernurnya sendiri. Dalam cara semacam itu, berlakulah apa yang di sebut  “Suka  dan Tidak Suka ”(like and dislike). Singkat kata, kehadiran Portugis dan Spanyol di Maluku berdampak pada kehilangan kebebasan, jati diri dan kemerdekaan kedua kerajaan  tersebut. Tragis memang. 



Sosial Budaya
 
Berbeda dengan bidang ekonomi dan politik, kehadiran Portugis selama 57 tahun dan Spanyol 142 tahun di Maluku telah memperkaya kebudayaan  Maluku. Pengaruh kebudayaan yang paling kuat adalah dibidang bahasa yang sampai saat ini masyarakat di Maluku masih dan tetap menggunakan bahasa yang berasal dari Portugis dan Spanyol. Contoh: kadera (kursi), tabako (tembakau), oras(waktu), saldado (tentara), pai (Ayah), Mai (ibu), Pastiu (bosan), Fogado (kepanasan), dan lain sebagainya. 

Dibidang musik, Maluku diperkaya dengan musik keroncong. Dibidang tari-tarian Maluku diperkaya dengan dadansa. Dibidang agama, agama Kristen Khatolik merupakan peninggalan paling signifikan yang di wariskan Portugis dan Spanyol yang eksis di Maluku sampai sekarang. 



Belanda Pendatang Baru
 
Ketika spanyol menyerang Ternate  dan menduduki Ibukota Gamlamo, hanya dua orang bobato yang meloloskan diri yaitu Jogugu Hidayat dan Kapita Laut Kaicil Ali. Sultan Saiduddin bersama keluarga ditangkap dan diasingkan ke Manila.
 
Jogugu Hidayat memerintahkan kepada Kaicil Ali (saat itu baru berumur 20 tahun) dengan ditemani Gimalaha Aja segera berangkat ke Banten untuk meminta bantuan Belanda. Setibanya Kaicil Ali di Banten dan melaporkan hal ikhwal Spanyol yang menyerang Ternate secara tiba-tiba. 

Kaicil Ali harus menunggu enam bulan kemudian. Setelah tiba laksamana Matelief de jonge dari negeri Belanda, Kaicil Ali lalu menyampaikan  permohonan atas nama kerajaan meminta bantuan  kompeni belanda (VOC) agar mengusir Spanyol dari kerajaannya. Permohonan Kaicil Ali di setujui tetapi dengan beberapa persyaratan yaitu: pemberian hak monopoli perdagangan  rempah-rempah, penyediaan sejumlah pasukan tempur, ijin mendirikan benteng dan pemukiman bagi penduduk Belanda, serta tanggungan biaya perang. 

Kaicil Ali menyepakati syarat-syarat tersebut pada 29 Maret 1607. De jonge dan Kaicil Ali bertolak dari Banten menuju Ambon. Pada akhir April 1607 sebuah armada Belanda terdiri dari 7 buah kapal, 2 kapal pemburuh, 530 tentara Belanda, 50 serdadu Ambon bertolak dari Ambon menuju Ternate, tiba di Ternate pada 13 Mei 1607. Kehadiran Belanda di Ternate tidak dapat berbuat apa-apa karena tidak berimbang dengan Spanyol. 

Spanyol memiliki tentara yang cukup banyak. De Jonge lalu berupaya membangun sebuah benteng di perkampungan Melayu. Pada awalnya benteng itu di beri nama “Fort Melayu”. Kemudian diganti namanya oleh Gubernur I Belanda Paulus Van Carden menjadi “Fort Orange”. 

Ternate dibagi dalam tiga blok. Satu meliputi Gamlamo ke arah Selatan milik spanyol. Sari Taboko sampai Kastela milik Belanda. Sisanya milik kerajaan.  

Nasib kerajaan Ternate semakin terpuruk setelah Spanyol meninggalkan Maluku pada 1664. Belanda melakukan menyerangan-penyerangan ke Tidore, Makian, Bacan dan Jailolo. Kemudian ke daerah seberang laut Weda, Patani, bahkan sampai ke Kepulauan Raja Ampat, dan sampai ke Seram. Kehadiran VOC cukup lama di Ternate yakni mulai 1607-1800 dan diikuti masa penjajahan Belanda  1800-1942 yang diselingi masa penjajahan Jepang 1942-1945. Kemudian  dilanjutkan kembali oleh Belanda 1945-1950. 

Belanda, baik VOC secara langsung menjajah Maluku sekitar 431 tahun. Sementara Spanyol dan Portugis bercokol selama 142 tahun. Spanyol dari 1521-1663 dan Portugis 1512-1575. Selama 142 tahun Spanyol dan Portugis menguasai Maluku memang tragis. Mereka membeli, bahkan merampas rempah-rempah hak masyarakat dan kerajaan. Tetapi mereka tidak memusnahkan tanaman rempah-rempah. Contoh seperti seorang Gubernur portugis Antonio Galvao mengajak para masyarakat bahkan para serdadu dan Galvao membuka lahan pertanian dan perkebunan demi menunjang perekonomian dan masa depan masyarakat Maluku, khususnya penduduk Ternate.
 
Lain lagi dengan Bangsa Eropa yang satu ini, merampas, merampok, membumi hanguskan negeri-negeri jiran Tidore, Makian, Bacan, Weda, Patani dan beberapa daerah di Halmahera. Kemudian melakukan pemusnahan dengan menebang dan membakar pohon rempah-rempah diseluruh Maluku. 

Kebiadaban Belanda menghancurkan masa depan penduduk Maluku sangat biadab dan tragis. Tetapi Tuhan tidak buta. Sebuah pulau kecil yang tersembunyi di kawasan kepulauan Raja Ampat yaitu pulau pisang tumbuh subur pohon rempah-rempah yaitu cengkih, pala, dan kayu manis yang rimbun seperti hutan belukar yang tidak terurus. Sepeninggalnya Belanda mengangkat kaki dari Maluku atas perintah Sultan Tidore, orang-orang terpilih menyeberang ke Pulau Pisang dan mengambil bibit-bibit rempah-rempah tersebut dan membawa pulang untuk ditanam di Tidore dan sekitarnya. 

Bangsa Eropa yang satu ini adalah pembunuh berdarah dingin. Kolonial Belanda adalah bangsa yang paling biadab. “Robbin Island” atau kepulauan Robbin sebuah pulau yang terletak kurang lebih 50 mill laut dari kota Cape Town yang menjadi saksi bisu. Terdapat kuburan-kuburan masal di satu areal yang tak jauh dari pelabuhan Robbin. Dari sekian kuburan itu yang terbanyak adalah orang-orang Islam asal Maluku (Ambon) yang dipekerjakan sebagai buruh pada 1780. Orang-orang Ambon Islam ini di bawah ke Afrika Selatan bersama “ Tuan Guru” dari Tidore ( Imam Abdullah Bin Qadhi Abd Salam).  



Kepulauan Robbin adalah tempat pengasingan para ulama-ulama besar seperti Syekh Yusup dari Makassar, Saiyid Abdurrahman Al-Mattoru asal Turki dari Mataram, Raja Tambora dan beberapa ulama lainnya. Syekh Yusup kemudian dipindahkan ke sebuah desa terpencil ratusan kilo meter dari kota Bookap. Saiyid Abdurrahman Al-Mattoru meninggal di kepulauan Robbin dan berkubur di sana. Kuburannya terawat baik dalam sebuah bangunan.

“Tuan Guru Imam Abdullah” setelah menjalani hukuman sebelas tahun di Robbin kemudian dibebaskan. Beliau ke Cape Town dan tinggal di Bookap ibukota dan membangun sebuah masjid yang diberi nama “Masjid Awwal“. Beliau membina para budak berkulit hitam dengan sebuah visi “arti sebuah kebebasan” yang terinspirasi dari lubuk hati yang tertular dari sang ayahnya “ Qadhi Abdussalam yang menentang sahwat kompeni Belanda. Qadhi Abdussalam kemudian bergabung dengan Sultan Jailolo menentang kompeni Belanda dan pada akhirnya keduanya sahid di semenanjung Ngolopopo Patani Halmaherah.

Tuan Guru berkubur sepi di jantung kota Cape Town yaitu di kota Bookap. Arti sebuah kebebasan ini pun terinspirasi kepada Nelson Mandela hanya berukuran 2x2 meter persegi. Ada sebuah meja kecil, kursi dan sebuah tong air kecil. Sedangkan pada zaman Tuan Guru, para ulama lain dan pengikutnya hanya di lepaskan begitu saja di dalam tembok raksasa yang beratap langit. Sungguh tragis, kejam dan biadab. Para tawanan tidak bisa melarikan diri sebab suhu air laut sangat dingin enam derajat dan jarak tempuh 50 mill laut.

Terima kasih dan Syukur dofu
Jabal Tidore, 10 Februari 2018
Oleh: M. Amin Faaroeq, S.Ip. (Perdana Menteri Kesultanan Tidore).
Tahun : 2018 

M. Amin Faaroeq, S.Ip kedua dari kiri berbaju hitam

Seminar Nasional bertemakan Tidore Ternate, Titik Temu Peradaban Timur Barat ini sukses dilaksanakan di Aula Sultan Nuku, Kantor Walikota Tidore Kepulauan pada Senin, 12 Februari 2018. Seminar terselenggara atas kerjasama KSBN (Komite Seni Budaya Nusantara) dengan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan

Mayjend (Purn) Drs. Hendardji Soepandji, SH

 
Komite Seni Budaya Nusantara | Jl. Pejaten Raya No. 33D | Jakarta Selatan | Email: ksbnindonesia@gmail.com | Telepon +62.812.9236.345 | Website: www.ksbnindonesia.org

 

Catatan:
Sumber gambar dari panitia seminar nasional.
Penggunaan gambar dan materi harus dengan seijin pemilik. 

Tulisan terkait seminar nasional ini juga bisa dibaca pada tulisan : Tidore Ternate Sebuah Tinjauan dari Aspek Geo Politik, Geo Strategi, dan Geo Ekonomi. 



Share this

Indonesian Travel Blogger 

Related Posts

Previous
Next Post »

3 comments

Write comments
19 Februari 2018 10.37 delete

Sejarah yg harus dicatat, diabadikan, dan menjadi ilmu pengetahuan

Reply
avatar
30 Agustus 2018 22.10 delete

Syukur Dofu Dofu...
Kini saatnya Maluku Utara bersatu.. melanjutkan apa yang telah diwariskan oleh para ulama besar kita dulu.
Dan membangkitkan kembali jati diri bangsa kesultanan Moloku kie Raha dgn peradaban Melayu.
...Salam anak cucu...

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon